• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan minum obat pasien rawat jalan di Poli Geriatri RSUP DR Sardjito Yogyakarta periode Februari-Maret 2010 - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan minum obat pasien rawat jalan di Poli Geriatri RSUP DR Sardjito Yogyakarta periode Februari-Maret 2010 - USD Repository"

Copied!
0
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH JUMLAH PEMBERIAN OBAT TERHADAP KETAATAN

MINUM OBAT PASIEN RAWAT JALAN DI POLI GERIATRI

RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA PERIODE FEBRUARI-MARET

2010

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

Maria Mudengsia Gaguk

NIM : 068114157

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

ii

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

Maria Mudengsia Gaguk

NIM : 068114157

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)

iii

THE EFFECT OF DOSES MEDICATION GIVING TO TOWARD THE

OUTPATIENTS COMPLIANCE AT POLI GERIATRI OF RSUP DR

SARDJITO YOGYAKARTA PERIOD FEBRUARY-MARCH 2010

SKRIPSI

Presented as Partitial Fulfilment of the Requirement

to Obtain Sarjana Farmasi (S.Farm)

In Faculty of Pharmacy

By:

Maria Mudengsia Gaguk

NIM : 068114157

FACULTY OF PHARMACY

SANATA DHARMA UNIVERSITY

(4)
(5)
(6)

vi

Alunan merdu di setiap helaan nafas..

Berkat di setiap cobaan..

Dan jawaban indah di setiap doa.

Karya ini Kupersembahkan untuk:

Tuhan Yesus dan Bunda Maria sebagai ungkapan Syukur

Bapa n Mama sebagai wujud hormat dan bhaktiku

K’Vina, k’Mbeik, k’Tian n Adik An

Seseorang yang istimewah yang sudah membuat hari-hariku indah

Sahabat-sahabatku

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama

: Maria Mudengsia Gaguk

Nomor Mahasiswa

: 068114157

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya dengan judul :

PENGARUH JUMLAH PEMBERIAN OBAT TERHADAP KETAATAN

MINUM OBAT PASIEN RAWAT JALAN DI POLI GERIATRI

RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA PERIODE FEBRUARI-MARET 2010

Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan

data, mendistribusikannya secara terbatas dan mempublikasikannya di Internet

atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya

maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya

sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 20 Agustus 2010

(8)

viii

dan Bunda Maria, atas segala berkat dan kasih kepada penulis selama

menyelesaikan skripsi dengan judul ”Pengaruh Jumlah Pemberian Obat Terhadap

Ketaatan Minum Obat Pasien Rawat Jalan di Poli Geriatri RSUP Dr Sardjito

Yogyakarta periode Februari-Maret 2010”. Skripsi ini disusun guna memenuhi

salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Ilmu

Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Jumlah lanjut usia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Lanjut usia

mengalami penurunan fisik dan psikis dan penyakitnya bersifat multipatologis

sehingga dalam terapi diberikan obat dalam jumlah yang cukup banyak. Salah

satu faktor penentu keberhasilan terapi adalah ketaatan minum obat pasien.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan selesai tanpa

saran, kritik, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan

ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Farmasi Bapak Ipang Djunarko,M.Sc.,Apt. yang telah

memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

2. Drs. Mulyono, Apt

. Selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu

untuk memberi bimbingan, saran, kritik dan semangat dalam proses

penyusunan skripsi.

3. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. Selaku dosen penguji yang telah

(9)

ix

4. Rita Suhadi, M.Si., Apt. Selaku dosen penguji yang telah memberikan

masukan kepada penulis

5. Kepala Bagian Divisi pendidikan dan Penelitian RSUP Dr Sardjito

Yogyakarta yang berkenan memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan

penelitian di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

6. Kepala Poliklinik geriatri dr. I Dewa Putu Ramantara S,Sp, PD yang berkenan

memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di poli geriatri,

Pak Heru, Bu Nanik, Bu Sera dan seluruh karyawan RSUP Dr Sardjito

Yogyakarta atas bantuan, saran dan kritik yang diberikan selama proses

pengambilan data di Poli geriatri RSUP Dr Sardjito Yogyakarta

7. Seluruh pasien rawat jalan di Poli geriatri RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yang

secara tidak langsung mendukung proses pengambilan data di Poli geriatri

RSUP Dr Sardjito Yogyakarta

8. Kedua orang tua terkasih Bapak Mikhael Kashadi Gaguk dan Ibu Yustina

Hibur atas semua doa, kasih sayang dan dukungan yang telah diberikan

kepada penulis.

9. Kakak Vina sekeluarga, Kakak Beben, Kakak Tian, dan adik An atas

dukungan yang diberikan kepada penulis.

10. Seseorang yang telah banyak memberi dukungan dan semangat dan cinta

kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi.

11. Kakak Thomas, Kakak Puji, Adik Ria, Brian, Aldo, Kakak Minus, Kakak

Hendra, dan Kakak Hendri atas semua bantuan dan dukungannya.

(10)
(11)
(12)

xii

penentu keberhasilan terapi. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketaatan

minum obat pasien adalah faktor obat yaitu jumlah obat yang diberikan kepada

pasien. Ketaatan minum obat pasien rawat jalan tidak dapat dikontrol secara

langsung oleh pihak rumah sakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

bagaimana jumlah pemberian obat mempengaruhi ketaatan minum obat pasien.

Penelitian ini termasuk penelitian non-Eksperimental dengan rancangan

analitik dan pengumpulan data dilakukan secara prospektif, menggunakan bahan

berupa rekam medis, lembar kerja yang mencatat jumlah total obat, jumlah

golongan obat dan jumlah jenis obat yang diterima pasien, dan lembar kerja yang

mencatat sisa obat pasien. Data juga dikumpulkan dari hasil wawancara

terstruktur dengan pasien. Data dianalisis menggunakan statistik dengan taraf

kepercayaan 95 % (p>0,05).

Penelitian melibatkan 93 pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara jumlah jenis

obat, jumlah golongan obat dan jumlah keseluruhan obat yang diberikan kepada

pasien dengan ketaatan pasien adalah signifikan. Pengaruh jumlah pemberian obat

terhadap ketaatan pasien adalah signifikan.

(13)

xiii

ABSTRACT

The number of elderly increases every year. Diseases of elderly patient’s

usually have various characteristics which are treated by using in the significant

amount drug theraphy. Patient compliance of taking medicine is one of the

determinants of successful therapy. One of the factors affecting patient’s

compliance of taking medication is drug factor, which the number of drug

medication is given to the patients. Outpatients compliance of taking medicine is

not controlled directly by the hospital. This study is aim to know how are number

of giving medication to affect for patient’s compliance to taking medication.

This study included non-experimental research that is analytic system

and collect of data prospective, data used materials, such as: medical records, job

sheets that recorded the total number of drugs, the number of drug classes, and the

number of drugs received by the patients, and worksheets that recorded patient of

remaining drugs. The data was also collected from structured interviews with

patients. The data were analyzed use by statistically in accuracy of 95% (p> 0.05).

(14)

xiv

PAGE TITLE ...iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iv

HALAMAN PENGESAHAN... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ...vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...vii

PRAKATA...viii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...xi

INTISARI...xii

ABSTRACT

...xiii

DAFTAR ISI...xiv

DAFTAR TABEL...xvii

DAFTAR GAMBAR ...xviii

DAFTAR LAMPIRAN...xix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

1. Permasalahan... 5

2. Keaslian Penelitian... 5

3. Manfaat Penelitian ... 6

B. Tujuan Penelitian ... 6

(15)

xv

2. Tujuan Khusus ... 7

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA... 8

A.

Pharmaceutical Care

... 8

B. Lanjut Usia………9

C. Ketaatan Minum Obat Pasien (

Patient Compliance

) ... 18

D. Pasien Rawat Jalan... 20

E. Landasan Teori... 21

F. Hipotesis... 22

BAB III. METODE PENELITIAN... 23

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 23

B. Variabel Penelitian ... 23

C. Definisi Operasional... 23

D. Tempat dan Waktu Penelitian ... 24

E. Subjek Penelitian... 24

F. Bahan Penelitian... 26

G. Instrumen Penelitian... 26

H. Jalannya Penelitian... 26

1. Tahap Persiapan ... 26

2. Tahap Pengambilan Data ... 26

3. Tahap Pengolahan Data... 27

I.

Tata Cara Analisis Hasil... 27

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30

(16)

xvi

Obat Pasien Rawat Jalan di Poli Geriatri RSUP Dr. Sardjito………36

D. Pengaruh Jumlah

Total Obat Yang Diberikan Terhadap Ketaatan Minum

Obat Pasien Rawat Jalan di Poli Geriatri RSUP Dr. Sardjito……….38

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 41

A. Kesimpulan ... 41

B. Saran... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 44

LAMPIRAN... 47

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel I.

Profil Umur Pasien...

31

Tabel II.

Profil Jenis Kelamin Pasien...

32

Tabel III.

Data Pasien Yang Memiliki Sisa Obat …………...

32

Tabel IV.

Faktor Yang Menyebabkan Sisa Obat …...

32

Tabel V.

Profil Ketaatan dan ketidaktaatan pasien ………

33

(18)
(19)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Panduan Wawancara………...

47

Lampiran 2.

Data Karakteristik Pasien...………...

48

Lampiran 3.

Data Jumlah Total Obat yang Diberikan kepada Pasien dan

sisanya pada akhir bulan……….

51

Lampiran 4.

Data Jumlah Jenis Obat yang Diberikan kepada Pasien dan

sisanya pada akhir bulan...……….

55

Lampiran 5.

Lampiran 6.

Data Jumlah Golongan Obat yang Diberikan kepada Pasien

dan sisanya pada akhir bulan ………...

Data obat yang diberikan kepada pasien………..

59

(20)

1

A. Latar Belakang

Masalah lanjut usia (lansia) perlu mendapat perhatian karena jumlahnya

yang terus bertambah setiap tahunnya. Meningkatnya jumlah orang lanjut usia tidak

lepas dari keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional terutama dalam

bidang medis atau bidang kesehatan seperti majunya pelayanan kesehatan,

menurunnya angka kematian bayi dan anak, perbaikan gizi dan sanitasi, dan

meningkatnya pengawasan terhadap penyakit infeksi (Nugroho, 2000).

Data BPS menunjukkan bahwa jumlah lanjut usia terus meningkat dari 5,3

jiwa (1971), meningkat menjadi 14,4 juta (2000) dan diperkirakan pada tahun 2020

mencapai 28,8 juta jiwa. Selain itu data lain juga menunjukkan pada tahun 1990

jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia adalah sekitar 16 juta dan pada tahun 2005

diperkirakan mencapai 19,9 juta atau 8,48% dari total penduduk saat itu. Kesehatan

para lanjut usia semakin menurun sehingga perlu mendapat perhatian khusus (Tapan,

2009 dan Kuntari, 2002).

(21)

2

Meningkatnya populasi lanjut usia membuat kita perlu mengantisipasi

terjadinya peningkatan jumlah pasien lanjut usia yang memerlukan bantuan dan

perawatan medis. Dengan bertambahnya usia tidak dapat dihindari terjadinya

penurunan kondisi fisik, baik berupa berkurangnya kekuatan fisik yang menyebabkan

individu

menjadi

cepat lelah

maupun

menurunnya

kecepatan

reaksi

yang

menyebabkan gerak-geriknya menjadi lamban (Anonim, 2009).

Lanjut usia mengalami penurunan kesehatan fisik dan psikis. Penurunan

fisik ditandai dengan serangan penyakit dan munculnya keluhan mudah letih, mudah

lupa, gangguan saluran pencernaan, saluran kencing, fungsi indera dan menurunnya

konsentrasi. Menurunnya fungsi psikis ditandai dengan penurunan fungsi kognitif dan

psikomotorik. Fungsi kognitif meliputi meliputi proses belajar, persepsi pemahaman,

pengertian, perhatian dan lain-lain yang menyebabkan reaksi dan perilaku lanjut usia

menjadi semakin lambat, sedangkan fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang

berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, dan koordinasi

yang menyebabkan lanjut usia menjadi kurang cekatan ( Anonim, 2009).

Sepuluh penyakit terbanyak yang diderita lansia adalah: Stroke (15,10%),

hipertropi prostat (11,83%), diabetes melitus (9,79%), kanker (9,39%), penyakit

jantung (7,76%), hipertensi (6,53%), pneumonia (5,71%), asma bronkhial (3,67%),

gagal ginjal (2,86%) dan gastritis (2,48%) ( Jamal, Hestining, dan Raharni, 2000).

(22)

diresepkan dan 40 % obat bebas. Masalah biasanya timbul ketika terjadi interaksi

obat, efek obat multipel, polifarmasi dan ketidakpatuhan.

Diagnosa dan pemilihan obat yang benar dari tenaga kesehatan belum

menjadi jaminan keberhasilan suatu terapi jika tidak diikuti dengan kepatuhan pasien

dalam mengkonsumsi obat. Menurut laporan WHO pada tahun 2003, kepatuhan

rata-rata pasien pada terapi jangka panjang terhadap penyakit kronis di negara maju hanya

50% sedangkan di negara berkembang, jumlah tersebut bahkan lebih rendah

(Anonim, 2006).

Pasien lanjut usia identik dengan menurunnya daya tahan tubuh dan

menderita berbagai macam penyakit. Lansia akan memerlukan obat dengan jumlah

dan macamnya tergantung dari penyakit yang diderita. Semakin banyak penyakit

pada lansia, semakin banyak jenis obat yang diperlukan. Banyaknya jenis obat akan

menimbulkan masalah antara lain kemungkinan terjadinya ketidaktaatan atau

menimbulkan kebingungan dalam menggunakan obat. Di samping itu dapat

meningkatkan resiko efek samping obat atau interaksi obat (Akhmadi, 2010).

(23)

4

memiliki kemampuan kognitif dan fisik yang sudah menurun menjadi tidak taat

terhadap rejimen pengobatan yang telah ditetapkan (Trisna, 2009).

Ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi kataatan minum obat

pasien geriatri seperti faktor dari luar pasien misalnya faktor lingkungan, faktor sosial

ekonomi dan faktor kompleksitas rejimen pengobatan dan faktor dari dalam diri

pasien misalnya sering timbul rasa tidak yakin akan khasiat obat, lupa, bosan karena

obat diberikan dalam jumlah banyak, gejala penyakit sudah hilang, adanya efek

samping, takut ketergantungan, rasa obat yang tidak enak, adanya keterbatasan

kemampuan fisik, gangguan kesehatan jiwa, atau kurangnya pemahaman tentang

penyakit dan obat yang digunakannya ( Anonim, 2006 dan Trisna, 2009).

RSUP Dr. Sardjito merupakan rumah sakit pendidikan yang berorentasi di

bidang kesehatan dan pendidikan. Sebagai rumah sakit pendidikan, RS Dr. Sardjito

sering digunakan sebagai tempat pelatihan dokter-dokter muda, uji coba berbagai

macam obat dan teknik pengobatan baru. Di sana tersedia segala fasilitas dan tenaga

ahli yang kompeten di bidangnya. Rumah sakit umum pemerintah Dr. Sardjito

memiliki Poli geriatri yaitu unit pelayanan yang khusus melayani pengobatan pasien

usia lanjut yang menjalani pengobatan rawat jalan.

Pasien rawat jalan adalah pasien yang tidak dirawat secara intensif di rumah

sakit, secara berkala datang ke rumah sakit untuk menerima pengobatan, atau pasien

rawat inap yang telah keluar dari rumah sakit namun masih harus menjalani

pemeriksaan dan pengobatan secara berkala. Ketaatan minum obat pasien rawat jalan

(24)

1. Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:

a.

Apakah ada hubungan antara jumlah

pemberian obat dengan ketaatan minum

obat pasien rawat jalan di poli geriatri?

b.

Apakah jumlah pemberian obat mempengaruhi

ketaatan minum obat pada

pasien rawat jalan di poli geriatri?

c.

Apakah ada hubungan antara jumlah jenis

obat yang diberikan kepada pasien

dengan ketaatan minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri?

d.

Apakah jumlah jenis obat yang diberikan mempengaruhi ketaatan minum obat

pasien rawat jalan di poli geriatri?

e.

Apakah ada hubungan antara jumlah golongan

obat yang diberikan kepada

pasien dengan ketaatan minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri?

f.

Apakah jumlah golongan obat yang diberikan kepada pasien mempengaruhi

ketaatan minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri?

2. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan

minum obat pada pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr. Sardjito sebelumnya

pernah dilakukan oleh Perwitasari (2002) dengan judul hubungan antara jumlah

pemberian obat terhadap kepatuhan minum obat pasien rawat jalan usia lanjut peserta

asuransi kesehatan di poli geriatri RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Yang membedakan

(25)

6

Penelitian sebelumnya mengkaji jumlah total obat dan jumlah golongan obat pada

sistem kardiovaskular, sedangkan penelitian ini mengkaji jumlah total obat, jumlah

jenis obat dan jumlah golongan obat yang digunakan pasien di poli geriatri RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta. Perbedaan lainnya adalah waktu penelitian dan pendekatan teori

dalam memecahkan masalah. Penelitian tentang kepatuhan yang juga pernah

dilakukan adalah Sirait (2003) penelitian kepatuhan penggunaan obat DM tipe-2 di

instalasi rawat inap RS Panti Rapih Yogyakarta.

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat praktis

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam proses

terapi oleh farmasis terutama dalam hal pemberian obat terhadap pasien rawat jalan di

poli geriatri RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta sehingga dapat meningkatkan kualitas

pelayanan terapi obat.

b. Manfaat teoritis

Penelitian

ini

dapat

digunakan

sebagai

sumber

referensi

untuk

mendeskripsikan pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan minum obat

pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Secara umum, penelitian ini bertujuan mengamati pengaruh jumlah

pemberian obat terhadap ketaatan minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri

(26)

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

a. Mengetahui hubungan antara jumlah pemberian obat dengan

ketaatan minum

obat pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.

b. Mengetahui pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan minum obat

pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.

c. Mengetahui hubungan antara jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien

dengan ketaatan minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr.Sardjito

Yogyakarta.

d. Mengetahui pengaruh jumlah jenis pemberian obat terhadap ketaatan minum obat

pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.

e. Mengetahui hubungan antara jumlah golongan obat yang diberikan kepada pasien

dengan ketaatan minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr.Sardjito

Yogyakarta

f.

Mengetahui pengaruh jumlah golongan obat terhadap ketaatan minum obat pasien

(27)

8

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Pharmaceutical Care

Menurut

International Pharmaceutical Federation

(

FIP

),

Pharmaceutical

care

adalah tanggung jawab pemberi pelayanan obat sampai timbulnya dampak yang

jelas atau terjaganya kualitas hidup pasien. Asuhan kefarmasian yang sering disebut

Pharmaceutical care

berdampak pada keadaan kesehatan pasien, meningkatkan

kualitas kesehatan dan ketepatan biaya dalam sistem kesehatan. Apoteker memiliki

tangung jawab terhadap obat yang diberikan sekaligus memberikan jaminan bahwa

obat yang diberikan itu telah sesuai dengan standar pengobatan (Anonim, 2010 a).

Tujuan akhir dari

pharmaceutical care

adalah meningkatkan kualitas hidup

pasien melalui pencapaian hasil terapi yang diinginkan secara optimal ( Trisna, 2010).

Hasil terapi yang diharapkan seperti sembuh dari penyakit, hilangnya gejala penyakit,

diperlambatnya proses penyakit dan pencegahan terhadap suatu penyakit. Apoteker

memiliki peranan dalam

pharmaceutical care

yaitu mengidentifikasi masalah yang

berkaitan dengan penggunaan obat (DRP=

Drug related problem

), mengatasi DRP

yang terjadi dan mencegah DRP.

(28)

farmakokinetik dan farmakodinamik obat terkait proses penuaan. Resiko terjadinya

reaksi yang tidak diharapkan (

adverse drug reactions

) dan interaksi obat akan

meningkat seiring bertambahnya jumlah obat yang dikonsumsi. Banyaknya jenis obat

dan rumitnya rejimen pengobatan membuat pasien lanjut usia, yang kemampuan

kognitif dan fisiknya sudah mengalami penurunan, menjadi tidak patuh terhadap

rejimen pengobatan yang telah ditetapkan. Selain itu, kondisi psikososial pasien

lanjut usia sangat potensial memperburuk status kesehatannya ( Trisna, 2010).

B. Lanjut Usia

1. Definisi Lanjut Usia

Geriatri berasal dari kata

geros

yang berarti usia lanjut dan

iatreia

yang

berarti mengobati. Jadi geriatri merupakan pengobatan yang dilakukan pada usia

lanjut (Suryono, 2001). Geriatri merupakan bagian dari gerontologi yang mengkaji

aspek-aspek klinis, preventif dan teraupetis pada lanjut usia. Nugroho (2000)

menjelaskan tujuan keberadaan geriatri adalah mempertahankan derajat kesehatan

para lanjut usia sehingga terhindar dari penyakit, memelihara kesehatan lanjut usia

dengan aktivitas fisik dan mental, dan merangsang petugas kesehatan untuk

menegakkan diagnosa yang tepat dan dini sehingga dapat memberikan pelayanan

kesehatan yang baik kepada para lanjut usia.

Menurut

undang-undang No. 13/1998 tentang kesejahteraan lanjut usia,

(29)

10

WHO, pembagian kategori usia lanjut adalah

Elderly

(60-74 tahun),

old

(75-90

tahun), dan

very old

(>90 tahun) (Nugroho, 2000).

Lanjut usia merupakan golongan umur yang paling banyak mengkonsumsi

obat. Obat yang sering dikonsumsi adalah obat-obat kardiovaskular, antihipertensi,

analgesik dan anti-inflamasi. Meningkatnya jumlah obat yang harus diminum

mengurangi kepatuhan pasien sehingga terjadi

medication error

( Info POM, 2009

dan Suryono, 2001).

2. Proses Penuaan

Menurut

(Tambayong,

2000)

Penuaan

merupakan

suatu

proses

multidimensional, yakni mekanisme perusakan dan perbaikkan di dalam tubuh yang

terjadi secara bergantian pada kecepatan dan saat yang berbeda-beda. Ada beberapa

teori penuaan yaitu:

a. Teori Radikal Bebas

Radikal bebas merupakan bagian dari molekul yang tidak utuh lagi karena

sebagian telah lepas. Bagian yang telah lepas akan melekat pada molekul lain

kemudian merusak dan mengubah fungsi molekul yang bersangkutan. Dalam proses

menua, kecepatan pembentukan radikal bebas semakin cepat sehingga semakin

banyak molekul yang rusak.

b.

Teori Imun

Teori imun menganggap proses penuaan itu sebagai proses autoimun artinya

sistem imun tubuh tidak dapat lagi mengenali sel-selnya sendiri. Respon autoimun

(30)

menurun dan mudah terkena berbagai penyakit infeksi, kanker, penyakit degeneratif,

dan penyakit auto-imun.

c.

Teori hubungan silang

Teori silang juga sering disebut teori kolagen. Hubungan silang terjadi di

antara struktur yang biasanya terpisah yang ditandai dengan terjadinya perubahan

dalam jaringan ikat sehingga kolagen tua menjadi kurang larut, lebih kaku, dan

mengakibatkan turunnya permeabilitas sel. Turunnya permeabilitas sel mengahambat

penghantaran nutrien.

3. Perubahan Sistem Tubuh akibat Penuaan

(Smeltzer dan Bare, 2002) mendeskripsikan perubahan sistem tubuh terkait

dengan pertambahan usia sebagai berikut:

a. Perubahan sistem kardiovaskular

(31)

12

b. Perubahan sistem pernafasan

Pertambahan usia mempengaruhi kapasitas dan fungsional paru seperti

peningkatan rigiditas paru, pengurangan luas permukaan alveoli, dan berkurangnya

elastisitas otot pernafasan yang menyebabkan peningkatan volume residual paru,

penurunan kapasitas pertukaran gas, dan kapasitas difusi. Aktivitas siliaris berkurang

sehingga terjadi penurunan efisiensi batuk yang menyebabkan lansia rentan terhadap

infeksi respirasi.

c. Perubahan integumen

Integumen merupakan organ yang membatasi tubuh dengan lingkungan

luar. Kulit memiliki fungsi yang penting seperti sebagai pelindung bagian dalam

tubuh, melindungi tubuh dari perubahan suhu, indera peraba dan sebagai alat

ekskresi. Dengan bertambahnya usia, terjadi perubahan intrinsik dan ekstrinsik yang

mempengaruhi fungsi dan penampilan kulit. Lapisan epidermis dan dermis kulit

menjadi lebih tipis, serat elastik berkurang jumlahnya sehingga kolagen menjadi

kaku. Kapiler di kulit berkurang mengakibatkan penurunan suplai darah.

Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan hilangnya kekenyalan kulit, kulit menjadi keriput

dan bergelambir dan kulit akan kering sehingga rentan terhadap gatal-gatal dan iritasi.

d. Perubahan sistem reproduksi

(32)

penurunan keasaman vagina. Perubahan tersebut menyebabkan nyeri dan pendarahan

vagina saat bersenggama. Pada pria lansia, ukuran penis dan testis berkurang dan

kadar androgen juga berkurang.

e. Perubahan genitourinaria

Sistem genitourinaria tetap berfungsi pada individu lansia, meskipun terjadi

penurunan massa ginjal akibat kehilangan beberapa nefron sehingga terjadi

penurunan fungsi ginjal. Penurunan fungsi ginjal meliputi penurunan laju filtrasi,

penurunan fungsi tubuler dengan penurunan efisiensi dalam resorbsi dan pemekatan

urin, dan perlambatan restorasi keseimbangan asam basa terhadap stress. Ureter,

kandung kemih dan uretra kehilangan otot tonus ototnya. Kapasitas kandung kemih

berkurang dan individu lansia tidak mampu lagi megosongkan kandung kemihnya

dengan sempurna. Retensi urin yang terjadi akan meningkatkan resiko infeksi.

f.

Perubahan gastrointestinal

(33)

14

.

g.

Perubahan Muskulosletal

Individu lansia mengalami pengurangan kepadatan tulang, kehilangan

ukuran dan kekuatan otot, dan degenerasi tulang rawan sendi.

h.

Perubahan sistem saraf

Struktur dan fungsi sistem saraf berubah dengan bertambahnya usia.

Berkurangnya massa otak progresif akibat berkurangnya sel saraf yang tidak bisa

diganti. Terjadi penurunan sintesis dan metabolisme neurotransmiter utama. Implus

saraf dihantarkan lebih lambat, sehingga lansia memerlukan waktu lebih lama untuk

merespon dan bereaksi. Kinerja sistem saraf otonom berkurang efisiensinya. Individu

lansia cepat bingung saat sakit fisik, kehilangan orientasi lingkungan sering pingsan

dan kehilangan keseimbangan.

i.

Perubahan sensorik

Organ sensorik penglihatan, pendengaran, pengecap, peraba dan penciuman

membantu kita berkomunikas dengan lingkungan. Pada lansia terjadi penurunan

fungsi sensorik yang mengenai semua organ sensorik sehingga mengganggu

hubungan mereka dengan lingkungan.

Menurut Nugroho (2000), perubahan-perubahan lain yang terjadi pada

lanjut usia adalah:

a. Perubahan Sel

Jumlah sel berkurang, ukuran selnya lebih besar, berkurangnya jumlah

(34)

otak, otot, ginjal, darah dan hati, jumlah sel otak menurun, dan terganggunya

mekanisme perbaikan sel.

b. Perubahan sistem Endokrin

Produksi hampir semua hormon menurun, menurunnya aktivitas tiroid,

menurunnya BMR= Basal Metabolic Rate,

menurunnya produksi aldosteron, dan

menurunya sekresi hormon kelamin, seperti progesteron, estrogen dan testeron.

c. Perubahan yang berhubungan dengan pemakaian obat

Usia lanjut mengalami perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik.

Perubahan farmakokinetik seperti perubahan

absorbsi obat, distribusi obat,

metabolisme dan perubahan ekskresi obat. Sedangkan perubahan farmakodinamik

terjadi karena penurunan respon homeostatis tubuh terhadap obat (Anonim, 2010).

4. Penyakit Pada Lanjut Usia

Menurut Nugroho (2000),

penyakit-penyakit yang sering dijumpai pada

lanjut usia adalah:

a. Penyakit sistem Paru

Fungsi paru-paru mengalami kemunduran yang disebabkan berkurangnya

elastisitas jaringan paru-paru dan dinding dada. Berkurangnya fungsi paru-paru pada

lanjut usia menyebabkan menurunnya pasokan oksigen. Penyakit yang mengganggu

sistem paru seperti

Pnemonia,

Tuberkolosis,

Bronkitis

dan kanker paru.

b. Penyakit Jantung dan pembuluh Darah

Pada lanjut usia, terjasi arteriesklerosis yang dapat menghambat aliran darah

(35)

16

penghambatan aliran darah, pasokan oksigen ke jaringan juga terhambat. Kejadian ini

dapat menyebabkan Stroke,

infark miokard akut,

prinzmetal angina

dan

angina

pektoris.

c.

Penyakit pencernaan makanan

Penyakit pencernaan makanan yang sering dijumpai adalah gastritis dan

Ulkus peptikum. Gastritis merupakan suatu proses inflansi pada lapisan mukosa dan

sub mukosa lambung. Insidensi gastritis meningkat dengan lanjutnya proses menua.

d.

Penyakit pada sistem Urogenital

Perandangan pada sistem urogenital terutama dijumpai pada wanita lanjut

usia berupa peradangan pada kandung kemih karena adanya sisa air seni. Pada pria

lanjut usia, sisa air seni dalam kandung kemih dapat disebabkan pembesaran kelenjar

prostat.

e.

Penyakit gangguan endokrin

Penyakit metabolik pada lanjut usia pada umumnya karena menurunnya

produksi hormon. Penyakit metabolik tersebut adalah DM dan osteoporosis.

f.

Penyakit pada persendian dan tulang

Penyakit pada sendi timbul akibat degenerasi atau kerusakan pada

permukaan sendi-sendi tulang yang banyak dialami oleh lanjut usia. Hampir 8 %

orang-orang berusia 50 tahun ke atas mempunyai keluhan pada sendi-sendi, biasanya

persendian pada jari-jari, sendi-sendi penahan berat tubuh (lutut dan panggul) dan

tulang punggung. Nyeri akut pada persendian disebabkan oleh gout (pirai) karena

(36)

5. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemberian obat untuk lanjut

usia

Prinsip pengobatan pada pasien lanjut usia adalah selalu mengutamakan

pengobatan non farmakologis apabila memungkinkan, karena dengan cara ini dapat

mengurangi terjadinya efek samping. Apabila perlu diberikan obat, maka pemberian

obat harus memperhatikan hal tertentu untuk mencegah terjadinya efek samping atau

hal lain yang tidak diinginkan dalam proses terapi. Menurut Suryono (2001), hal-hal

yang harus diperhatikan pada pemberian obat pasien lanjut usia adalah:

a. Alasan pemberian obat harus kuat

Tidak semua penyakit memerlukan obat. Pada pasien usia lanjut, obat

diberikan kepada mereka yang menderita penyakit yang benar-benar membutuhkan

obat. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping.

b. Sebelum memberi obat, hal lain yang harus dilakukan adalah anamnesis terhadap

kebiasaan pasien.

Perlu dipertimbangkan apakah pasien sebelumnya sering merokok, minum

alkohol atau kofein, karena kebiasaan tersebut sering mempengaruhi obat-obatan.

c. Mengetahui efek farmakologi obat yang diberikan

d. Pemberian dimulai dengan dosis kecil

Dosis yang dianjurkan oleh produsen sering terlalu tinggi untuk pasien

lanjut usia. Hal tersebut dapat memberikan efek samping, mengingat organ-organ

eliminasi lanjut usia mengalami penurunan fungsi.

(37)

18

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien.

f.

Evaluasi secara berkala

Apabila pasien mendapat pengobatan jangka panjang, secara teratur

dilakukan evaluasi kembali. Jika ada obat yang tidak diperlukan lagi, jangan

diteruskan karena dapat menimbulkan efek yang tidak dinginkan. Obat-obat dengan

rentang teraupetik sempit perlu diukur kadarnya dalam serum secara berkala.

g. Tidak melakukan pengobatan yang berlebihan

h. Jika kondisi pasien memburuk setelah mengkonsumsi obat, ditanyakan terlebih

dahulu obat apa yang dikonsumsi pasien sebelumnya.

C. Ketaatan Minum Obat Pasien

Ketaatan pasien merupakan tingkat ketepatan perilaku seorang individu

dengan nasihat medis atau kesehatan. Masalah Ketaatan minum obat sering terjadi di

antara pasien lanjut usia karena dari mereka banyak yang memperoleh regimen terapi

yang rumit, khususnya berkaitan dengan penggunaan jumlah obat dan banyaknya

jenis obat dan juga pada pasien rawat jalan yang penggunaan obatnya tidak dikontrol

secara langsung oleh pihak rumah sakit (Siregar, 2004).

Ada beberapa jenis ketidaktaatan pasien seperti kegagalan menebus resep,

melalaikan aturan dosis yang ada, kesalahan dosis, kesalahan waktu konsumsi obat

dan penghentian minum obat sebelum waktunya. Kegagalan menebus resep terjadi

karena pasien merasa tidak memerlukan obat tersebut atau karena pasien tidak

(38)

obat sesudah atau sebelum makan. Ketidakpatuhan pasien dalam menggunakan obat

dapat memperburuk kesehatan pasien yaitu dapat menyebabkab resisten terhadap

obat-obat tertentu, kesalahan dosis, dan keracunan (Siregar, 2004).

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ketidaktaatan

penggunaan obat, yaitu:

1. Bertanya kepada pasien

apakah ada kesulitan untuk memakai obat, atau untuk

mengikuti petunjuk-petunjuk pemakaian.

2. Pengamatan terhadap sisa obat, cara ini sangat mudah dilakukan terutama untuk

obat-obat yang gampang dihitung, misalnya tablet dan sirup, sedangkan untuk

jenis aerosol mungkin sulit.

3. Penilaian terhadap efek farmakologik yaitu dengan melihat apakah obat yang

diberikan bermanfaat atau tidak (beberapa obat mudah dicek karena mempunyai

hubungan yang kuat antara dosis dengan timbulnya respons farmakologik).

4. Pengukuran kadar obat, cara ini lebih pasti namun memerlukan biaya karena

pengukuran kadar secara kuatitatif harus dilakukan di laboratorium (Reid, Rubin,

dan Whiting, 1985).

Faktor-faktor yang berhubungan dengan ketaatan minum obat pasien:

1. Penyakit; pasien yang menderita penyakit kronis biasanya mendapat pengobatan

dalam waktu yang cukup lama, hal ini dapat menurunkan kepatuhan pasien.

2. Regimen terapi seperti terapi yang menggunakan obat dalam jenis dan jumlah

yang banyak dapat menurunkan kepatuhan pasien, frekuensi pemberian obat yang

(39)

20

jika terapi yang diberikan dalam waktu lama dan memberikan efek samping,

harga obat yang mahal dan rasa obat yang tidak enak.

3. Interaksi pasien dengan tenaga kesehatan (Siregar, 2004).

Meningkatnya usia disertai dengan meningkatnya jumlah obat yang harus

dikonsumsi. Pada dasarnya, semakin banyak obat yang dikonsumsi semakin besar

besar juga resiko yang akan ditimbulkannya misalnya meningkatnya risiko efek

samping obat. Hal lain yang juga terjadi dengan meningkatnya jumlah obat yang

dikonsumsi adalah berkurang kepatuhan pasien untuk minum obat sehingga terjadi

kesalahan penggunaan obat (Anonim, 2009).

D. Pasien Rawat Jalan

Menurut Anonim (2010b), alur pasien rawat jalan peserta askes adalah

sebagai berikut:

(40)

Keterangan:

1. Pasien datang ke bagian Askes untuk di verifikasi lalu mengambil no.antrian

2. Pasien melakukan Pendaftaran atau Registrasi

3. Pasien menuju Poliklinik

4. Pasien perlu layanan penunjang (Laboratorium dan Radiologi)

5. Pasien kembali ke verifikasi Askes

6. Pasien ke Poliklinik untuk dibacakan hasilnya

7. Pasien dirujuk ke Poli Spesialis dan melakukan verifikasi kembali

8. Pasien menuju ke Poli Spesialis

9. Pasien ke Apotek untuk pengesahan obat

10. Pasien ke bagian Askes untuk melakukan verifikasi obat

11. Pasien ke Apotek untuk mengambil obat

12. Pasien di rujuk Rawat Inap

13. Pasien pulang

E. Landasan teori

Pasien dikatakan taat bila tingkat ketaatannya lebih besar atau sama dengan

80%. Nilai ini dihitung berdasar jumlah obat yang dikonsumsi selama periode waktu

tertentu, dibagi dengan jumlah obat yang diresepkan untuk periode waktu tertentu

(Saman

et al,

2007

).

(41)

22

menerima obat dengan jumlah yang banyak, pasien yang mengalami disfungsi

kognitif dan pasien yang hidup sendiri (Alexa, dkk, 2006).

F. Hipotesis

(42)

23

Penelitian tentang pengaruh jumlah pemberian obat terhadap

ketaatan

minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan analitik dan pengumpulan

data dilakukan secara prospektif. Sumber data penelitian ini adalah jumlah obat yang

diberikan kepada pasien berupa jumlah jenis obat, jumlah golongan dan jumlah

totalnya, dan sisa obat pasien. Selain itu data juga diperoleh dari hasil wawancara

terstruktur dengan pasien.

B. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas (

Indipendent

) adalah jumlah total obat, jumlah golongan dan

jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien

2. Variabel tergantung (

dependent

) adalah ketaatan minum obat pasien

C.

Definisi Operasional

1. Jumlah obat yang diberikan kepada pasien adalah jumlah jenis obat, jumlah

golongan dan jumlah keseluruhan obat yang diterima pasien dari resep dokter

setelah pemeriksaan rutin di poli geriatri RSUPDr. Sardjito Yogyakarta

(43)

24

3.

Pasien di poli Geriatri adalah semua pasien yang berusia

60 tahun yang

mengunjungi poli geriatri RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta yang mendapat resep

dokter dan rutin memeriksakan diri sebulan sekali.

4. Pasien rawat jalan adalah pasien yang tidak dirawat secara intensif di rumah sakit,

secara berkala datang ke rumah sakit untuk menerima pengobatan, atau pasien

rawat inap yang telah keluar dari rumah sakit namun masih harus menjalani

pemeriksaan dan pengobatan secara berkala.

5.

Poli geriatri rumah sakit Dr. Sardjito Yogyakarta adalah poli khusus untuk pasien

usia lanjut dalam mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit Dr. Sardjito

Yogyakarta.

D. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian Pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan minum obat

pasien rawat jalan di poli geriatri

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode

Februari-Maret 2010 dilakukan di Poli Geriatri RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

Penelitian

dilakukan setiap hari Senin sampai Sabtu, pada pukul 07.00-12.00 WIB, dari tanggal

3 Februari 2010- 28 Maret 2010.

E. Subyek Penelitian

Populasi penelitian ini adalah pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr.

Sardjito dengan kriteria inklusi sebagai berikut:

1.

Pasien yang berusia

60 tahun

(44)

3.

Pasien peserta Askes ( Askes pensiunan PNS dan Askes Purnawirawan)

4.

Pasien

yang

menerima

obat

golongan

antihipertensi,

diuretik,

antihiperlipidemia, antitrombotik,

anti diabetik oral, antipirai,

Antiangina,

Anti bakteri sistemik

Kriteria eksklusinya adalah:

1. Pasien yang menerima obat dengan aturan minum diminum saat diperlukan

2. Pasien yang menerima obat dengan bentuk sediaan salep, krim, syrup dan

inhaler.

Metode sampling dilakukan secara non random dengan metode

judgment

sampling

yaitu memilih sampel dari populasi berdasarkan informasi yang ingin

diperoleh (Narimawati dan Munandar, 2008).

Besar sampel ditentukan dengan rumus

N =

2

2

d

xPxQ

Z

Keterangan:

N = Jumlah sampel

P= proporsi kategori variabel yang diteliti

d = Presisi

Q = 1-P

Z

α

= derivat alfa ( Dahlan, 2009)

N=

(1,96)

2

x 0,5x0,5

(0,1)

2

N= 96

(45)

26

F. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar rekam medis

pasien

yang memeriksakan diri di poli geriatri RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

periode Februari-Maret 2010, lembar kerja yang mencatat jumlah total obat, jumlah

golongan obat dan jumlah jenis obat yang diterima pasien, dan lembar kerja yang

mencatat sisa obat pasien.

G. Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan lembar wawancara. Wawancara dilakukan pada

setiap pasien saat melakukan kontrol bulan maret

H. Jalannya penelitian

1. Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan, dilakukan analisis situasi dan perijinan penelitian di

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Dari hasil analisis diketahui bahwa unit yang khusus

menangani pasien lanjut usia adalah Poli geriatri. Tahap persiapan dilanjutkan dengan

pembuatan wawancara terstruktur untuk mengetahui alasan sisa obat pasien.

2. Tahap pengambilan data

(46)

Informasi yang ingin dicari pada saat w

awancara adalah nama; usia, jumlah obat

(jumlah jenis, golongan dan total) di awal kontrol Bulan Februari, jumlah sisa obat

saat kontrol bulan Maret, alasan penyebab ketidaktaatan dengan pilihan aturan minum

terlalu rumit, bosan, takut efek samping obat (disebutkan), ukuran obat, lupa dan

pasien menilai obat

tidak memberi manfaat bagi perbaikan kondisi kesehatan

mereka.

3. Tahap

pengolahan Data

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel. Karakteristik pasien

diolah dengan menghitung persentasenya. Data jumlah obat yang diberikan kepada

pasien dan data sisa obat kemudian diolah secara statistik

dengan uji regresi-korelasi

dengan taraf kepercayaan 95%.

I. Tata Cara Analisis Hasil

1)

Subyek uji dibagi menjadi 2 kelompok umur yaitu:

-

Usia 60-74 tahun

-

Usia 75- 90 tahun

2)

Persentase jumlah pasien geriatri dari kedua kelompok umur dihitung dengan

rumus : % pasien =

x

100

%

pasien

n

keseluruha

jumlah

umur

kelompok

pada

pasien

Jumlah

3) Persentase jenis kelamin pasien dihitung dengan rumus

% Pasien =

min

/

x

100

%

pasien

n

keseluruha

Jumlah

P

L

kela

jenis

dengan

pasien

Jumlah

(47)

28

% Pasien =

%

100

/

/

(

x

obat

n

keseluruha

jumlah

golongan

jumlah

jenis

jumlah

total

jumlah

obat

sisa

Jumlah

5) Uji normalitas jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien

6) Untuk mengetahui bagaimana korelasi antara dua variabel, masing-masing

kelompok umur diuji statistik dengan uji korelasi dengan taraf kepercayaan 95%

antara jumlah obat yang diberikan kepada pasien (variable bebas) dengan sisa

obat ( Variable tergantung). Jika data yang diperoleh memiliki distribusi yang

normal, diuji dengan uji Korelasi Person. Dan sebaliknya jika distribusi data tidak

normal, diuji dengan uji Korelasi Spearman (Wahyono, 2009).

(48)

8) Untuk mengetahui bagaimana pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan

minum pasien dilakukan uji statistik menggunakan regresi linier dengan taraf

kepercayaan 95%. Jika nilai probabilitasnya < 0,05 maka pengaruh jumlah

pemberian obat terhadap ketaatan minum obat pasien adalah signifikan, H

i

diterima (H

i

== Jumlah pemberian obat mempengaruhi ketaatan minum obat

pasien rawat jalan di Poli Geriatri RSUP Dr Sardjito Yogyakarta periode

Februari-Maret 2010), sebaliknya jika nilai probabilitas > 0,05 maka pengaruh

jumlah pemberian obat terhadap ketaatan minum obat pasien adalah tidak

signifikan, H

0

diterima (H

0

= Jumlah pemberian obat tidak berhubungan ketaatan

minum obat pasien rawat jalan di Poli Geriatri RSUP Dr Sardjito Yogyakarta

periode Februari-Maret 2010). Besarnya pengaruh jumlah pemberian obat

terhadap ketaatan minum pasien dilihat dari nilai

R square

, semakin mendekati

100% maka pengaruhnya semakin kuat. Nilai koefisien a dan b ditentukan untuk

membuat persamaan Y = a + bx.

9) Analisis faktor yang menyebabkan terjadinya sisa obat secara deskriptif melalui

wawancara dengan pasien.

10) Persentase faktor penyebab sisa obat dihitung dengan rumus

% pasien =

x

100

%

obat

sisa

memiliki

yang

pasien

n

keseluruha

jumlah

obat

sisa

penyebab

faktor

dengan

pasien

(49)

30

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ketaatan minum obat pasien merupakan salah satu faktor penentu

keberhasilan terapi. Ada dua faktor utama yang mempengaruhi ketaataan minum obat

pasien yaitu faktor pasien dan faktor obat. Penelitian mengenai pengaruh jumlah

pemberian obat terhadap ketaatan minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri

RSUP Dr Sardjito meneliti bagaimana faktor obat yaitu jumlah obat (jumlah total

obat, jumlah jenis dan jumlah golongan obat) mempengaruhi ketaatan minum obat

pasien. Ketidaktaatan pasien dapat menyebabkan gagalnya terapi dan meningkatnya

biaya kesehatan. Ketidaktaataan pasien diketahui dengan menghitung jumlah sisa

obat pasien dan kemudian menghitung persentasenya terhadap jumlah obat yang

diberikan kepada pasien.

(50)

A. Karakteristik Pasien Rawat Jalan di Poli Geriatri RSUP Dr. Sardjito

Dari hasil perhitungan, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah 96 pasien, selama proses penelitian tiga pasien tidak memenuhi kriteria inklusi

sehingga jumlah sampel yang diambil adalah 93 pasien. Karakteristik pasien yang

akan dibahas adalah umur, jenis kelamin, jumlah pasien dengan sisa obat, alasan

pasien memiliki sisa obat dan tingkat ketaatan pasien. Karakteristik pasien

dideskripsikan untuk menjelaskan keadaan pasien yang menjadi subyek penelitian.

Karakteristik pasien akan dideskripsikan dalam tabel I, II , III ,IV, dan V.

Berdasarkan umur, pasien dibagi dalam 2 kelompok umur yang ditampilkan

pada tabel berikut:

Tabel I. Profil Umur Pasien

No

Kelompok Umur

Jumlah

Prosentase (%)

1.

60- 74 Tahun

52

55,9

2.

75-90 Tahun

41

44,1

Jumlah

93

100

WHO membagi lanjut usia dalam tiga kategori yaitu

Elderly

(60-74 tahun),

old

(75-90 tahun), dan

very old

(>90 tahun). Dari hasil penelitian hanya terdapat dua

kategori yaitu

Elderly

(60-74 tahun),

old

(75-90 tahun). Hal tersebut terjadi karena

pasien yang dipakai sebagai subyek penelitian adalah pasien rawat jalan dan pasien

yang berusia >90 tahun mengalami penurunan kemampuan psikomotorik termasuk

(51)

32

60-74 tahun yaitu 55,9 %, kemudian diikuti dengan kelompok umur 75-90 tahun

yaitu 44,1 %.

Tabel II. Profil Jenis Kelamin Pasien

No

Jenis kelamin

Jumlah

Prosentase (%)

1.

Laki-laki

53

57,0

2.

Perempuan

40

43,0

Jumlah

93

100

Tabel III menunjukkan bahwa jumlah pasien dengan jenis kelamin laki-laki

adalah sebesar 57,3 % dan perempuan sebesar 43,7 %.

Tabel III. Data Pasien Yang Memiliki Sisa Obat

Pasien dengan sisa obat

31

Persentase ( %)

33,3

Parameter untuk mengetahui ketaatan pasien adalah dengan menghitung sisa

obat pasien pada akhir bulan (30 hari setelah menerima obat). Dari tabel III dapat

dilihat bahwa pasien yang memiliki sisa obat pada akhir bulan sebanyak 31 pasien

dengan persentasenya terhadap jumlah seluruh pasien adalah 33,3 %.

Dari hasil wawancara dengan pasien, diketahui ada faktor lain yang

menyebabkan sisa obat yaitu pasien merasa bosan, pasien lupa dan pasien takut efek

samping.

Tabel IV. Faktor Yang Menyebabkan Sisa Obat

No

Faktor yang menyebabkan sisa

obat

Jumlah pasien

Prosentase (%)

1.

Bosan

11

35,5

2.

Lupa

18

58,0

3

Takut Efek samping Obat

2

6,5

(52)

Berdasarkan tabel IV jumlah pasien yang merasa bosan adalah 11 pasien

dengan persentase 35,5 %, pasien yang lupa minum obat sebanyak 18 pasien dengan

persentase 63,64 % dan pasien yang takut akan efek samping adalah 2 pasien dengan

persentase 6,5 %. Sebagian besar pasien memiliki sisa obat karena faktor lupa. Hal ini

bisa terjadi karena pasien merupakan pasien lanjut usia yang sudah mengalami

penurunan fungsi kognitif yaitu meliputi proses belajar, pemahaman, pengertian dan

perhatian.

Pasien dikatakan taat jika tingkat ketaatannya lebih besar atau sama dengan

80 % (Saman

et al,

2007

)

. Persentase tersebut merupakan persentase jumlah obat

yang dihabiskan pasien terhadap jumlah keseluruhan obat yang diberikan kepada

pasien. Pasien dikatakan tidak taat jika persentase sisa obat pasien > 20 %. Persentase

sisa obat dihitung dari jumlah sisa obat pada akhir bulan dibagi jumlah obat yang

diberikan kepada pasien pada awal bulan, kemudian dikali 100%.

Tabel V. Profil Ketaatan dan ketidaktaatan pasien

Pasien Yang Taat

Pasien yang tidak taat

No

Jumlah obat

Jumlah

pasien

% pasien

Jumlah

Pasien

% Pasien

1.

Jumlah total obat

85

91,4

8

8,6

2.

Jumlah Jenis Obat

62

66,7

31

33,3

3.

Jumlah Golongan Obat

62

66,7

31

33,3

(53)

34

persentase 8,6 %. Berdasarkan jumlah jenis obat, pasien yang taat adalah sebesar 62

pasien dengan persentase 66,7 dan yang tidak taat 31 pasien dengan persentase 33, 3

%. Dari sisi jumlah golongan obat, pasien yang taat adalah 62 pasien dengan

persentase 33,3 % sedangkan yang tidak taat sebesar 33,3 %.

Analisis tentang pengaruh jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien

terhadap ketaatan minum obat pasien diawali dengan uji normalitas.Uji normalitas

adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi data sesuai dengan

kurva Gaussian dimana 68 % data berada pada simpangan baku -1-1 dan 95 % data

berada pada simpangan baku -2-2. Data yang digunakan dalam uji normalitas adalah

jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien dan data sisa obat pasien, yang diuji

dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Dari hasil uji normalitas diperoleh

nilai probabilitasnya adalah 0.000 yang menunjukkan data tidak terdistribusi normal.

Karena data hasil penelitian tidak terdistribusi normal, maka untuk mengetahui

korelasi antara jumlah obat yang diberikan kepada pasien dengan persentase sisa obat

menggunakan uji non parametrik yaitu uji Spearman.

B. Pengaruh Jumlah Jenis Obat Yang Diberikan Terhadap Ketaatan

Minum Obat Pasien Rawat Jalan di Poli Geriatri RSUP Dr. Sardjito

(54)

kepada pasien sebagai variabel bebas (X) dan sisa jenis obat sebagai variabel

tergantung (Y).

Dari hasil uji korelasi diperoleh nilai probabilitas 0,002 < 0,05 yang berarti

korelasi antara

jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien dengan ketaatan

minum obat pasien adalah signifikan.

Korelasi menunjukkan arah positif yaitu

semakin banyak jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien semakin banyak pula

sisa obat pasien (ketaatan pasien semakin rendah). Dahlan (2008) membagi kekuatan

korelasi dalam 5 kategori yaitu kategori sangat lemah (0,00-0,199),

lemah(0,20-0,399), sedang (0,40-0,599), kuat (0,60-0,799)dan sangat kuat(0,80-1,000). Nilai

koefisien korelasi yang diperoleh adalah 0,324 berarti termasuk dalam kategori lemah

yang berarti hubungan antara jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien dengan

sisa obat lemah sehingga tidak dapat mewakili hubungan antara hubungan antara

jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien dengan ketaatan pasien.

(55)

36

merupakan pengaruh dari faktor lain. Koefisien a = -0,484 dan koefisien b = 0,475,

jadi diperoleh persamaan Y= 0,475x – 0,484 yang berarti besar atau kecilnya nilai Y

(Ketaatan minum obat pasien) tidak hanya dipengaruhi oleh nilai X ( Jumlah obat

yang diberikan kepada pasien) tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain (Konstanta

yang bernilai negatif).

C. Pengaruh Jumlah Golongan Obat yang Diberikan Terhadap Ketaatan

Minum Obat Pasien Rawat Jalan di Poli Geriatri RSUP Dr. Sardjito

Dalam terapi, pasien lanjut usia menerima beberapa macam golongan obat.

Penggolongan obat dilakukan berdasarkan kelas terapi obat (Menurut Formularium

Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta edisi tahun 2002). Dari hasil penelitian pasien

diberikan golongan obat sebanyak 1-5 golongan. Deskripsi mengenai golongan obat

yang diberikan kepada pasien disajikan dalam tabel VI.

Tabel VI. Gambaran Golongan obat yang diberikan kepada pasien

No

Golongan Obat

Jumlah

pasien

% jumlah

pasien

1

Antihipertensi

80

86

2

Antitrombotik

18

19,4

3

Anti diabetik oral

19

20,4

4

Diuretik

41

44,1

5

Antipirai

11

11,8

6

Antihiperlipidemia

25

26,9

7

Antiangina

2

2,15

8

Anti bakteri sistemik

4

4,3

(56)

Norvask, Adalat oros, Dexacap, klonidine, Noperten, Hytrin, Amdixal, amilodipine,

Herbesser CD, captopril, dan Calcigard. Pasien yang diberi obat antitrombotik

sebanyak 18 orang dengan persentase 19,4 %. Obat antitrombotik yang diberikan

adalah aspirin, Aspilet, Citaz, dan Aptor. Anti diabetik oral diberikan kepada 19

orang pasien dengan jenis anti diabetik oral yang diberikan adalah glucobay.

glibenclamida, Glucodex, Glucophage, Novomix, metformin, Glidiab, Glurenorm,

dan Glumin. Golongan obat diuretik diberikan kepada 41 pasien dengan persentase

44,1 %. Jenis obat diuretik yang diberikan adalah HCT dan furosemid. Golongan obat

antipirai diberikan kepada pasien 11 pasien. Jenis obat antipirai yang diberikan adalah

alopurinol. Golongan obat antihiperlipidemia diberikan kepada 25 pasien dengan

persentase 26,9 %. Jenis obat antihiperlipidemia yang diberikan adalah simvastatin,

Crestor, Lipitor, dan gemfibrosol. Pasien yang diberi golongan obat antiangina

sebanyak 2 orang dengan jenis golongan antiangina yang diberikan adalah ISDN.

Anti bakteri sistemik diberikan kepada 4 pasien dengan persentase 4,3 %. Jenis Anti

bakteri sistemik yang diberikan adalah ciprofloksasin, cefadrosil dan eritromisin.

(57)

38

mewakili hubungan antara jumlah golongan obat yang diberikan kepada pasien

dengan ketaatan minum obat pasien. Arah korelasi positif yang menunjukkan

hubungan yang searah antara jumlah golongan obat yang diberikan kepada pasien

dengan sisa golongan obat, semakin banyak golongan obat yang diberikan semakin

banyak pula sisa obat ( ketaatan minum obat pasien rendah).

Dari hasil analisis regresi linier antara jumlah golongan obat yang diberikan

kepada pasien dengan sisa golongan obat pasien, diperoleh nilai probabilitasnya

adalah 0,000 < 0,05 berarti pengaruh jumlah golongan obat yang diberikan kepada

pasien terhadap ketaatan minum obat pasien adalah signifikan. Besarnya pengaruh

jumlah golongan obat yang diberikan ditunjukkan dengan nilai R

square

yaitu

sebesar 12,8 % sedangkan 87,2 % merupakan pengaruh dari faktor lain. Koefisien a =

- 0,216 dan koefisien b = 0,399, jadi persamaan yang diperoleh adalah

Y= 0,399x -0,216. Hal tersebut berarti besar atau kecilnya jumlah sisa golongan obat

(Y) dipengaruhi oleh besar atau kecilnya nilai jumlah golongan obat yang diberikan

kepada pasien (X) dan factor lain (nilai konstanta negatif), jadi ketaatan minum obat

pasien tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh jumlah golongan obat yang diberikan

kepada pasien tetapi juga dipengaruhi oleh factor lain.

D. Pengaruh Jumlah Total Obat Yang Diberikan Kepada Pasien Terhadap

Ketaatan Minum Obat Pasien Rawat Jalan di Poli Geriatri RSUP Dr.

Sardjito

(58)

mengkonsumsi obat dalam jumlah besar. Hal tersebut terjadi karena mereka memiliki

daya tahan tubuh yang rendah sehingga rentan diserang banyak penyakit. Data yang

digunakan dalam uji korelasi adalah jumlah total obat yang diberikan kepada pasien

(X) dengan sisa obat pasien(Y).

Dari hasil uji korelasi Spearman diperoleh nilai probabilitasnya sebesar

0,016 < 0,05 yang berarti hubungan antara jumlah keseluruhan obat yang diberikan

kepada pasien dengan ketaatan minum obat pasien adalah signifikan. Nilai koefisien

korelasi yang diperoleh adalah 0,249 menunjukkan kekuatan korelasi yang lemah,

berarti hubungan antara jumlah keseluruhan obat yang diberikan kepada pasien

dengan sisa obat lemah sehingga tidak dapat mewakili hubungan antara jumlah

keseluruhan obat yang diberikan kepada pasien dengan ketaatan minum obat pasien.

Korelasi bernilai positif menunjukkan hubungan antara jumlah keseluruhan obat yang

diberikan kepada pasien dengan sisa obat pasien searah, semakin besar jumlah obat

yang diberikan, semakin besar pula sisa obat berarti ketaatan pasien juga rendah dan

begitu juga sebaliknya semakin kecil jumlah obat yang diberikan, semakin kecil pula

sisa obat pasien berarti ketaatan pasien semakin tinggi.

(59)

40

(60)

41

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh jumlah pemberian obat

terhadap ketaatan minum obat pasien rawat jalan di poli geriatri RSUP Dr Sardjito

Yogyakarta periode Februari-Maret 2010, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai

berikut:

1. Hubungan antara jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien dengan

ketaatan pasien adalah signifikan dengan arah positif dan kekuatan korelasi

lemah yang berarti hubungan antara jumlah jenis obat yang diberikan kepada

pasien dengan sisa obat pasien tidak mewakili hubungan antara jumlah jenis

obat yang diberikan kepada pasien dengan ketaatan minum obat pasien

2. Hubungan antara jumlah golongan obat yang diberikan kepada pasien dengan

ketaatan pasien adalah signifikan dengan arah positif dan kekuatan korelasi

lemah yang berarti hubungan antara jumlah golongan obat yang diberikan

kepada pasien dengan sisa obat pasien tidak mewakili

hubungan antara

jumlah golongan obat yang diberikan kepada pasien dengan ketaatan minum

obat pasien.

(61)

42

pasien dengan sisa obat pasien tidak mewakili hubungan antara jumlah total

obat yang diberikan kepada pasien dengan ketaatan minum obat pasien.

4. Pengaruh jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien terhadap ketaatan

minum obat pasien adalah signifikan dengan persamaan yang diperoleh

Y=0,475x– 0,484 berarti ketaatan minum obat pasien tidak hanya dipengaruhi

oleh jumlah jenis obat yang diberikan kepada pasien tetapi juga dipengaruhi

oleh faktor lain.

5. Pengaruh

jumlah golongan obat yang diberikan kepada pasien

terhadap

ketaatan minum obat pasien adalah signifikan dengan persamaan yang

diperoleh Y= 0,399x -0,216 berarti ketaatan minum obat pasien tidak hanya

dipengaruhi oleh jumlah golongan obat yang diberikan kepada pasien tetapi

juga dipengaruhi oleh faktor lain.

6. Pengaruh jumlah total obat yang diberikan kepada pasien terhadap ketaatan

minum obat pasien adalah signifikan dengan persamaan yang diperoleh

Y = 0,475x – 0,484 berarti ketaatan minum obat pasien tidak hanya

dipengaruhi oleh jumlah total obat yang diberikan kepada pasien tetapi juga

dipengaruhi oleh faktor lain.

B. Saran

Dari hasil penelitian, beberapa saran yang dapat diajukan adalah sebagai

berikut:

1. Penelitian mengenai pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan

minum obat pasien rawat jalan di poli geriatric RSUP Dr Sardjito Yogyakarta

(62)

meneliti faktor lain yang mempengaruhi ketaatan minum obat pasien lanjut

usia seperti faktor penurunan kemampuan kognitif dan psikomotorik.

(63)

44

DAFTAR PUSTAKA

Akhmadi, 2010,

Permasalahan Lanjut Usia,

http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/326-permasalahan-lanjut-usia-lansia.html, diakses tanggal 15 April 2010

Alexa, I.D., Stoica, S., Burca, P., Obreja, L., Rusu, R.I., Ungureanu, G.,

et al

., 2006,

Non-Compliance in a Large Population of Elderly Patients with

Cardiovascular Disease

,

http://www.maedica.ro/articole/nr3/02_Non-compliance.pdf, diakses tanggal 6 April 2010

Anonim, 2006,

kepatuhan Pasien Faktor penting Dalam Keberhasilan Terapi

,

http://perpustakaan.pom.go.id/KoleksiLainnya/InfoPOM/0506.pdf, diakses

tanggal 28 Agustus 2009

Anonim, 2009,

Pedoman Pembinaan Kesehatan Jiwa Usia Lanjut bagi Petugas

Kesehatan,

http://www.depkes.go.id/downloads/Keswa_Lansia.pdf, diakses

tanggal 3 September 2009.

Anonim, 2010 a,

Phamaceutical Care

,

http://pharmacyrspuriindah.blogspot.com/2009/02/pharmaceutical-care.html, diakses tanggal 30 Maret 2010.

Anonim, 2010 b,

Alur Pasien Rawat Jalan Paserta Askes

, http://www.

alur-rawat-jalan-pasien-askes-jamkesmas-jamsoskes.htm, diakses tanggal 26 April

2010.

Cholowski & Cantwell, 2007

, Predictors of medication compliance among older

heart failure patients

,

http://www3.interscience.wiley.com/journal/118501003/abstract?CRET

RY=1&SRETRY=0 , diakses tanggal 2 November 2009

Dahlan, M. S., 2008,

Statistik Untuk kedokteran dan Kesehatan

, 45,163, 195,

Salemba Medika, Jakarta

Dahlan, M. S., 2009,

Besar Sampel dan Pengambilan Sampel dalam Penelitian

Kedokteran dan Kesehatan

, 21-22 Salemba Medika, Jakarta

InfoPOM, 2006,

Kepatuhan Pasien Faktor penting dalam terapi

,

(64)

Jamal, S.,Hestining, P., Raharni, 2000, Karakteristik Lansia Yang Dirawat di Rumah Sakit Kelas A dan B,

www.diqilib.litbang.go.id/files/disk1/1/jkpkbppk-qdl-grey-2000-sarjaini-21-age-sarjaini.pdf, diakses tanggal 3 Mei 2010

Kuntari, T., 2009,

Pelayanan Kesehatan Lansia

,

http://images.titikuntari.multiply.com, diakses tanggal 28 Agustus 2009.

Narimawati, U. Dan Munandar, D., 2008,

Teknik Sampling: Teori dan Praktik

Menggunakan SPSS 15

, Gava Media, Yogyakarta

Nugroho,W., 2000,

Keperawatan Gerontik

, 1-11, Penerbit Buku Kedokteran EGC,

Jakarta.

Reid, J.L., Rubin, P.C, dan Whiting, B., 1985,

Lecture Notes on Clinical

Pharmacology

, 2nd edition, Blackwell Scientific Publications, Oxford.

Saman, K., Afridi, B.M., Abbas, K., Sajwani, A. R., Saleheen, D., Frossardz, M. P,

et al, 2007,

Factors Associated with Adherence to Anti-Hypertensive

Treatment in Pakistan

, http://www.plosone.orgs.htm, diakses tanggal 2

Oktober 2009

Siregar, J.P.C., 2004,

Farmasi Klinik Teori dan Penerapan

, 326-321, Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Jakarta

Smeltzer, S. C. Dan Bare, B.G., 2002,

Buku Ajar keperawatan Medikal-Bedah

, ed 8,

vol 2, 805-813, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Soelistiono, 2009,

Jumlah lansia di Indonesia Meninggi

,

http://www.mediaindonesia.com/read/2009/12/20/112568/92/14/Jumlah

-Lansia-di-Indonesia-Meninggi, diakses tanggal 4 juni 2010.

Stromberg, A., 2005,

Patient-Related Factors of Compliance in heart failure: some

new insights into an old problem

,

http://eurheartj.oxfordjournals.org/cgi/content/full/27/4/379, diakses

tanggal 2 November 2009

Suryono, S.,2001,

Ilmu penyakit dalam

, 249-255, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Tambayong, J., 2000,

Patofisiologi Untuk Keperawatan

, 201-203, Penerbit Buku

kedokteran, Jakarta.

Tapan, E.,2002

, Geriatri dan Usia Lanjut

,

(65)

46

Trisna, Y., 2009,Perkembangan Dan Penerapan Pharmaceutical Care,

http://andisuryaamal.multiply.com/journal/item/9, diakses tanggal 28

Agustus 2009

(66)
<

Gambar

Gambar 1. Alur pasien Rawat Jalan Peserta Askes
Tabel I. Profil Umur Pasien
Tabel II. Profil Jenis Kelamin Pasien
Tabel V. Profil Ketaatan dan ketidaktaatan pasien
+2

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Pada karya Aan Ibrahim, teknik sulam usus digunakan untuk membentuk pola kebaya secara keseluruhan, sedang pada kebaya sulam usus yang dibuat teknik sulam usus digunakan

Bagi Formulir Penjualan Kembali Unit Penyertaan MANDIRI INVESTA SYARIAH BERIMBANG yang telah dipenuhi sesuai dengan syarat dan ketentuan yang tercantum dalam Kontrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh antara partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial dengan pelimpahan

Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah normatif dan empiris yang dengan kata lain adalah jenis penelitian hukum sosiologis, yaitu mengkaji ketentuan hukum yang

Sehingga dibutuhkan pemeriksaan (marker) non-invasive yang berhubungan dengan hipertensi portal, yang dapat mengidentifikasi adanya varises oesofagus pada penderita sirosis

ـايقلا ةيلمعب سيردتلا لمتشلدا ىلع مهفلا ؾتًشبد ،ملعتلا طيطتخك سيردتلا ،وقيبطتك مييقتك ةجيتن ،سيردتلا ريوطتك ؾتًشم ملعتلا راهظلإ وناكمإ ( Mulyasa, 2007, p. 75 .) تناك ةردق

Ada pengaruh yang signifikan antara sertifikasi guru dalam jabatan melalui penilaian portofolio terhadap kinerja guru bersertifikat SMA Negeri se-Kabupaten Magelang