Jangan meny erah atas impianmu, impian memberimu
tujuan hidup.
Ingatlah, sukses bukan kunci kebahagiaan, tapi
kebahagiaan kunci kesuksesan.
S emangat!
ABSTRAK
RENI INDRIYANI, NIM. 6661111705. Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2014 Di Untirta. Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pembimbing I : Gandung Ismanto, M.M. Pembimbing II: Drs. Hasuri Waseh, M.Si.
Kata Kunci : Kinerja, Pengelolaan dan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA).
ABSTRACT
RENI INDRIYANI. NIM. 6661111705. The Performance of Management and Cost Education Aid Program of Academic Achievement Upgrading (BBP-PPA) year 2014 at Untirta. Program Study Administration State of Science. Faculty Science of Social and Politic. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Advisor I: Ganduh Ismanto, M. M. Advisor II: Drs. Hasuri Waseh, M. Si.
Keywords: Performance, Management and Cost Education Aid Program of Academic Achievement Upgrading (BBP-PPA).
The Performance of management and cost education aid program of academic achievement upgrading (BBP-PPA) year 2014 at Untirta. In this research there are several problems such as: there are PPAs’ students receiver who
unappropriate with the requirement and certainment, beside that the manager of PPAs’ students receiver candidates are less selective. The aim of this research is to find out the Performance of management and cost education aid program of academic achievement upgrading (BBP-PPA) year 2014 at Untirta. Observed from input, process, output, outcome, benefit and impact indicator. The method used in this research is quantitative descriptive method. The data was collected by using questionnaire distibuting, the sampling technique used in this research is simple random sampling. The result of this research is the Performance of
KATA PENGANTAR
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT, sumber suara-suara hati, sumber ilmu pengetahuan, sumber segala kebenaran, sumber segala kesuksesan, Sang Kekasih tercinta yang tak terbatas pencahayaan cinta-Nya. Berkat hidayah, taufiq dan inayah-Nya, akhirnya skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik meskipun tidak sempurna, karena kesempurnaan hanya milik sang Pencipta. Tak lupa shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga berserta sahabatnya.
Hasil penelitian yang dinamakan “SKRIPSI” ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan judul “Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2014 Di UNTIRTA”.
Maka dengan ketulusan hati, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Yth. Bapak Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd., Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Yth. Bapak Dr. Agus Sjafari, M.Si., Dekan FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3. Yth. Ibu Rahmawati, S.Sos, M.Si sebagai Dekan I FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
4. Yth. Bapak Imam Mukhroman S.Sos, M.Si sebagai Wakil Dekan II FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Yth. Bapak Kandung Sapto Nugroho, S.Sos, M.Si, Wakil Dekan III FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, sekaligus Dosen penguji Seminar Proposal Skripsi yang telah membantu dan memberikan masukan untuk skripsi ini kepada peneliti.
6. Yth. Ibu Listyaningsih, S.Sos, M.Si, sebagai Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
7. Yth. Bapak Riswanda, S.Sos, P.hd , sebagai Sekretaris Jurusan Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 8. Yth. Bapak Gandung Ismanto, S.Sos., M.M., sebagai Pembimbing I skripsi,
9. Yth. Bapak Drs. Hasuri Waseh, SE., M.Si., Pembimbing II skripsi, terima kasih untuk nasihat dan motivasinya kepada peneliti, semoga menjadi modal awal menuju kesuksesan.
10. Yth. Bapak Maulana Yusuf, M.Si, sebagai penguji sidang skripsi, terimakasih atas kritik dan saran kepada peneliti.
11. Yth. Ibu Listyaningsih, S.Sos, M.Si., Dosen Pembimbing MPA peneliti, mengucapkan terima kasih atas nasihat, pelajaran dan bimbingan dalam menyusun sebuah penelitian.
12. Yth. Ibu Titi Stiawati, S.Sos., M.Si., Dosen Pembimbing Akademik peneliti, mengucapkan terima kasih atas nasihat, pelajaran dan bimbingannya dalam perkuliahan, serta motivasi dalam penyusunan skripsi yang dilakukan oleh peneliti.
13. Kepada seluruh Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, semoga ilmu yang telah disampaikan dapat bermanfaat.
14. Para Staf Tata Usaha (TU) Program Studi Ilmu Administrasi Negara atas segala sumbangsihnya.
15. Pengelola Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atas segala fasilitas yang telah diberikan kepada peneliti.
17. Terimakasih kepada penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2014 di Untirta, yang telah membantu dan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.
18. Dukungan dan motivasi terbesar tentulah dari keluarga tercinta peneliti, yaitu keluarga besar Wowo Suherman. Terima kasih untuk selalu memberi dukungan dan semangat dalam bentuk apapun untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
19. Mahasiswa ANE Non Reguler dan ANE Reguler angkatan tahun 2011, terima kasih untuk saling berbagi cerita mengenai perkuliahan, saling mensupport untuk segera menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu.
20. Terima kasih untuk teman-teman tercinta, Amelia Indrayani, Amelia Rizky, Cikita Rahmawati, Hasanahtun, Ida Komala, Indri dwi putri, Jelita Amalia, Khairinnisa, Verayana, Wida Riandani dalam bantuan yang sama-sama berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir mata perkuliahan, saling mensupport, memberi masukan-masukan dan nasihat serta saling berbagi cerita selama kurang lebih beberapa tahun ini. Untuk Nita Soraya L (Mamih) terima kasih yang selalu menemani di kampus tercinta ini, perpustakaan, penelitian, dan bimbingan skripsi, saling memberi nasihat dan memberi motivasi satu sama lain. Dan untuk Randi Apriandi (om ran), terima kasih banyak yang selalu mau direpotkan oleh penulis, yang saling memberi motivasi satu sama lain dan memberi nasihat.
kasih untuk motivasi kalian yang tiada hentinya agar peneliti segera menyelesaikan tugas akhirnya ini dengan penuh semangat tanpa mengeluh dan putus asa, semoga kita bersama-sama maju dengan kesuksesan yang kita tempuh selama ini.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih terdapat kekurang sempurnaan. Oleh karena itu peneliti sangat berharap adanya saran dan kritik yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini lebih lanjut.
Serang, Januari 2016
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS LEMBAR PERSETUJUAN
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ABSTRAK
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR DIAGRAM ... xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 14
1.3 Batasan Masalah ... 15
1.4 Rumusan Masalah ... 15
1.5 Tujuan Penelitian ... 15
1.6 Manfaat Penelitian ... 16
1.7 Sistematika Penulisan ... 16
BAB II DESKRIPSI TEORI PENELITIAN 2.1 Landasan Teori ... 19
2.1.1.1 Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja 23
2.1.1.2 Manfaat penilaian kinerja……… 25
2.1.2 Pengertian Organisasi……... 27
2.1.2.1 Prinsip-prinsip organisasi………... 29
2.1.3 Pengertian Kinerja Organisasi……….. 30
2.1.4 Definisi Pengelolaan……… 32
2.1.4.1 Fungsi Manajemen………... 34
2.1.4.1.1 Planning……… 34
2.1.4.1.2 Organizing………. 35
2.1.4.1.3 Actuating……… 36
2.1.4.1.4 Controlling………. 37
2.2 Penelitian Terdahulu ... 38
2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 39
2.4 Hipotesis Penelitian ... 42
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian ... 44
3.2 Ruang Lingkup dan Fokus Penelitian ... 45
3.3 Lokasi Penelitian ... 45
3.4 Variabel Penelitian ... 46
3.4.1 Definisi Konsep ... 46
3.4.2 Definisi Operasional ... 46
3.5 Instrument Penelitian ... 48
3.5.1.1 Jenis Data……….. 51
3.5.1.2 Sumber Data………. 52
3.5.1.3 Teknik Pengumpulan Data……… 52
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian ... 53
3.6.1 Populasi Penelitian ... 53
3.6.2 Sampel Penelitian ... 54
3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 55
3.7.1 Uji Validitas... 56
3.7.2 Uji Reliabilitas……….. 57
3.7.3 Uji Normalitas………. 58
3.7.4 Uji t-Test………. 59
3.7.5 Uji Pihak Kanan……….. 60
3.8 Jadwal Penelitian ... 62
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Objek Penelitian……….. ….. 64
4.1.1 Gambaran Umum Untirta.………. 64
4.1.2 Visi-Misi Untirta……….……… 68
4.1.3 Tugas Pokok dan Fungsi……… 71
4.1.4 Struktur Organisasi Untirta………. 72
4.1.5 Uraian Tugas……….. 73
4.2 Deskripsi Data………. 86
4.2.1 Validitas Insrumen……….. 86
4.2.3 Analisis Data………. 92
4.3 Pengujian Persyaratan Statistik……….. 109
4.3.1 Uji Reliabilitas Instrumen………. 109
4.3.2 Uji Normalitas……… 110
4.4 Pengujian Hipotesis……… 111
4.5 Interprestasi Hasil Penelitian……….. 114
4.6 Pembahasan……… 116
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan………. 123
DAFTAR TABEL
TABEL 1.1 Jumlah penerima beasiswa PPA dan BBM 2012-2014... 9
TABEL 1.2 Jumlah penerima BBP-PPA 2014……… 10
TABEL 1.3 Daftar nama penerima PPA yang menjadi BBP-PPA….. 12
TABEL 3.1 Skoring item instrument……….. 49
TABEL 3.2 Kisi-kisi instrument penelitian……… 50
TABEL 3.3 Jadwal penelitian……….. 63
TABEL 4.1 Hasil uji validitas instrument……… 87
TABEL 4.2 Uji reliabilitas data……… 109
TABEL 4.3 Uji normalitas……….. 110
TABEL 4.4 Kategori hasil penelitian………. 116
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR DIAGRAM
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia termasuk negara berkembang dengan sebuah negara dengan
rata-rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relatif terbelakang dan indeks
perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang dibandingkan dengan
norma global. Sumber Daya Manusia atau human recources mengandung dua
pengertian. Pertama adalah usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam proses
produksi. Dalam hal lain sumber daya manusia mencerminkan kualitas usaha yang
diberikan oleh seseorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa.
Pengertian kedua adalah menyangkut manusia yang mampu bekerja untuk
memberikan jasa atau usaha kerja tersebut. Mampu bekerja berarti mampu melakukan
kegiatan yang mempunyai kegiatan ekonomis, yaitu bahwa kegiatan tersebut
menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu, sumber daya
manusia merupakan faktor sentral dalam pengelolaan suatu organisasi. Dimana
menjadi penggerak roda organisasi dalam mencapai dan mewujudkan tujuan dan
sasaran yang ditetapkan. Oleh karena itu, produktivitas organisasi sangat ditentukan
sumber daya manusia yang bermutu agar tidak menjadi beban, melainkan jadi modal
perusahaan atau organisasi diperlukan dua kriteria, yakni sumber daya manusia yang
mempunyai motivasi kerja tinggi dan kemampuan unggul. Sumber daya manusia
yang mampu bekerja dan berkualitas didasari dengan tingkat pendidikan yang tinggi,
selain itu sumber daya manusia mempunyai peranan yang sangat penting dalam
pembangunan bangsa, sehingga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia
diperlukan pendidikan.
Pendidikan merupakan salah satu faktor dalam memajukan sebuah negara,
untuk itu pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan kita, ini berarti
bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam
pendidikan, mulai dari sejak dini. Pendidikan adalah proses kehidupan dalam
mengembangkan diri setiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan
kehidupan, sehingga pendidikan disebut sebagai prioritas utama. Sesuai dengan yang
tertera dalam pasal 31 UUD 1945 yang menegaskan bahwa setiap warga negara
berhak mendapatkan pendidikan, sehingga Warga Negara Indonesia berhak untuk
mengenyam pendidikan. Selain itu, arah kebijakan pendidikan bangsa Indonesia
dirumuskan sebagai salah satu tujuan dibentuknya Negara Indonesia merdeka, seperti
yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yakni sebagai berikut:
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh
perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan
Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa
mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara
Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rahmat
Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk
dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat”.
Terutama dalam pembukaan UUD 1945 aline ke empat yaitu: “mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Pola kebijakan pendidikan di
Indonesia telah didasarkan pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seperti yang
tertuang pada Pancasila.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Bab V pasal 12 (1.c), menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan
tidak mampu membiayai pendidikannya. Pasal 12 (1.d), menyebutkan bahwa setiap
peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan
bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.
Masyarakat memiliki tingkat ekonomi yang berbeda, karena tingkat ekonomi
sangat berpengaruh besar terhadap pendidikan. Tidak semua masyarakat mampu
menempuh pendidikan yang diinginkan terutama untuk menempuh jenjang
pendidikan yang tinggi seperti Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta. Oleh sebab itu
pemerintah memberikan solusi bagi masyarakat yang tidak bisa melanjutkan dalam
menempuh pendidikan, salah satunya yaitu dalam bentuk beasiswa. Beasiswa
merupakan pemberian berupa bantuan keuangan yang bertujuan untuk digunakan
demi keberlangsungannya pendidikan yang ditempuh. Beasiswa dapat diberikan oleh
lembaga pemerintah, perusahaan ataupun yayasan.
Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan,
bagian kelima, Pasal 27 ayat (1), menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah
daerah sesuai kewenangannya memberi bantuan biaya pendidikan atau beasiswa
kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu membiayai
pendidikannya. Pasal 27 ayat (2), menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah
daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberi beasiswa kepada peserta didik
yang berprestasti. Menurut UU 2 tahun 1989, pasal 16, ayat 1: Perguruan tinggi
mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademis dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan
menciptakan ilmu pengethauan, teknologi dan kesenian
Perguruan tinggi merupakan wahana tenaga ahli yang diharapkan mampu
mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas dan memberi
sumbangan kepada pembangunan. Sebagai usaha sistematis untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia, maka Depdiknas (Departemen pendidikan nasional)
selama ini telah menetapkan empat kebijakan pokok di bidang pendidikan, yaitu:
pemerataan dan kesempatan belajar, relevansi pendidikan dengan pembangunan,
kualitas pendidikan dan efisiensi pendidikan. Khusus untuk perguruan tinggi akan
lebih mengutamakan membahas mengenai relevansi pendidikan dengan
pembangunan yang dalam langkah pelaksanaannya dikenal dengan istilah keterkaitan
dan kesepadaman.
Peraturan Menteri nomor 30 tahun 2010 tentang pemberian bantuan biaya
pendidikan kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu
membiayai pendidikan. Banten merupakan Provinsi yang memiliki beberapa
perguruan tinggi negeri dan swasta, salah satunya ialah (UNTIRTA) Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa. UNTIRTA (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) terdiri dari
ketiga khusus hanya untuk 1 (satu) fakultas yakni, Fakultas Teknik yang berlokasi di
Cilegon dan berada di pusat Kawasan Industri.
Kebijakan pendidikan wajib belajar, diharapkan bahwa setiap warga negara
Indonesia minimal berpendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)
atau sederajat. Selain program Wajib Belajar 12 tahun, pemerintah memberikan
upaya meningkatkan angka partisipasi pendidikan yang terus dikembangkan. Upaya
yang dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan memberikan bantuan kepada siswa dan
sekolah, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Beasiswa Siswa Miskin
(BSM), Beasiswa Khusus Murid Miskin (BKMM). Sedangkan, di tingkat perguruan
tinggi pemerintah juga memberikan beasiswa berupa bantuan beasiswa terhadap
mahasiswa yang kurang mampu di perguruan tinggi, salah satunya termasuk Bantuan
Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) yang diprioritaskan
untuk golongan mahasiswa yang kurang mampu dalam segi ekonomi.
Beasiswa di Untirta terbagi menjadi beberapa macam beasiswa, yaitu
beasiswa yang bersumber dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (DIKTI) dan beasiswa yang bersumber dari yayasan
atau perusahaan. Beasiswa yang bersumber dari Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (DIKTI) terbagi menjadi 3 (tiga),
yang pertama yaitu beasiswa (BIDIK MISI), yang kedua yaitu Beasiswa Peningkatan
Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA). Selain itu adapula beasiswa yang
bersumber dari yayasan atau perusahaan, misalnya seperti Supersemar (Supersemar
Regular dan Supersemar Unggulan), Bank Mandiri, Chandra Asri Petrochemical
(CAP) , Perusahaan Gas Negara (PGN), Djarum, Baznas Provinsi Banten (Regular
dan Prestasi), Bank Indonesia (BI) dan Krakatau Steel (KS).
Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA),
merupakan bantuan beasiswa terhadap mahasiswa yang kurang mampu dan memiliki
prestasi. Beasiswa ini merupakan program beasiswa yang diberikan oleh pemerintah
melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan berupaya mengalokasikan dana untuk memberikan bantuan biaya
pendidikan kepada mahasiswa yang orang tuanya tidak mampu, dan untuk membiayai
pendidikannya dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang mempunyai
prestasi tinggi, baik kurikuler maupun ekstrakulikuler. program bantuan biaya
pendidikan dan beasiswa dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip 3T, yaitu: Tepat
sasaran, Tepat Jumlah dan Tepat waktu.
Tahun 2012 istilah Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dan
Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) disesuaikan dengan istilah yang sejalan dengan
ketentuan yang ada yaitu menjadi Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik
(Beasiswa-PPA) dan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik
Sultan Ageng Tirtayasa) yang menjalankan program beasiswa tersebut. Bantuan
Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) diperuntukkan kepada
mahasiswa yang kurang mampu dengan memenuhi persyaratan yang sudah
ditentukan, diantaranya seperti: surat keterangan tidak mampu atau layak mendapat
bantuan yang dikeluarkan oleh Lurah/Kepala Desa, fotokopi transkrip nilai dengan
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) paling rendah 2,50 yang disahkan oleh pimpinan
perguruan tinggi dan fotokopi piagam atau bukti berprestasi lainnya (kurikuler dan
atau ekstra kurikuler) yang diselenggarakan oleh Kemdiknas dan atau organisasi lain
baik pada tingkat Nasional, Regional maupun Internasional. Selain itu ada pula
persyaratan lain seperti slip pembayaran terakhir, slip listrik, slip gaji orang tua, serta
fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), Kartu Hasil Studi (KHS) dan Kartu
Tabel 1.1
Perkembangan Jumlah Penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2012-2014
No Tahun Angkatan Jumlah Penerima
1 2012 649
2 2013 579
3 2014 475
Sumber: Data penerima Beasiswa PPA dan BBM tahun 2012-2014 Untirta
Tabel 1.1 di atas menjelaskan bahwa Untirta mendapat kuota penerima
Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) dari tahun
2012-2014 sebanyak 1.701 mahasiswa penerima., terdiri dari angkatan tahun 2012
sebanyak 649 mahasiswa penerima, angkatan tahun 2013 sebanyak 579 mahasiswa
penerima dan tahun 2014 sebanyak 475 mahasiswa penerima. Jika dilihat dari jumlah
penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) di
setiap tahunnya, jumlah tersebut mengalami penurunan kuota penerima. Hal ini tentu
mempermudah bagi para pengelola Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi
Akademik (BBP-PPA) dalam melaksanakan penyeleksian terhadap calon penerima
beasiswa tersebut. Selain itu, hal ini menyimpulkan bahwa adanya perubahan yang
Table 1.2
Jumlah mahasiswa penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tahun 2014 di Untirta
No Fakultas Jumlah Penerima
1 Ilmu Hukum 29
2 FKIP 143
3 Teknik 51
4 Pertanian 53
5 Ekonomi 139
6 Fisip 60
Sumber: Data penerima Beasiswa PPA dan BBM tahun 2014 Untirta
Tabel 1.2 di atas menjelaskan bahwa Untirta mendapat jumlah penerima
Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) dari tahun
2014 sebanyak 475 mahasiswa penerima.. Terdiri dari fakultas ilmu hukum sebanyak
29 penerima, FKIP sebanyak 143 penerima, fakultas teknik sebanyak 51 penerima,
fakultas pertanian sebanyak 53 penerima, fakultas ekonomi sebanyak 139 penerima
dan Fisip sebanyak 60 penerima.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan (observasi) peneliti menemukan
beberapa masalah dan kendala dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan
(BBP-PPA) di kampus Untirta. Pertama, tidak tepat sasaran pada penerima Bantuan
Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) di kampus Untirta.
Dalam hal ini ditemukan adanya mahasiswa penerima Bantuan Biaya Pendidikan
Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) yang berasal dari kalangan menengah
atas, padahal berdasarkan syarat dari program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan
Prestasi Akademik (BBP-PPA) ini diperuntukkan bagi kalangan tidak mampu.
Berikut hasil wawancara dengan salah satu mahasiswa Untirta angkatan 2011 jurusan
Ilmu Hukum yang mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi
Akademik (BBP-PPA), 2 November 2014, pukul 12.00 WIB.
“Saya emang ngerasa mampu dalam hal ekonomi, apalagi buat bayaran kuliah. Awalnya saya dapet info dari senior saya kalo pembukaan beasiswa BBM lebih banyak kuotanya dibanding beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). Jadi saya coba masukin pendaftaran beasiswa itu dan akhirnya dapet.”
Kedua, kurang selektifnya para pengelola dalam memilih calon mahasiswa
yang berhak mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik
(BBP-PPA). Terlihat dari hasil observasi peneliti sebagai berikut:
“Kalo saya sih karena ngerasa ga punya surat keterangan tidak mampu, jadi coba-coba aja daftar beasiswa BBM. Akhirnya tembus juga.” (Hasil wawancara dengan mahasiswa Untirta jurusan Ilmu Hukum, 4 November 2014, pukul 20.00 WIB).
Ketiga yaitu, tidak tegasnya para pengelola Bantuan Biaya Pendidikan
Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) dalam penentuan pemberian beasiswa
Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tetapi pada
kenyataannya mendapatkan beasiswa tersebut
Tabel 1.3
Nama mahasiswa Untirta yang mendaftarkan dalam Beasiswa-PPA berubah mendapatkan BBP-PPA
No Nama NIM Fakultas Program Studi IPK
1 Nurlita Amaniyah 6661111919 FISIP Ilmu Adm.Negara 3.49
2 Rijqi Nurjanah 6661111897 FISIP Ilmu Adm.Negara 3.51
3 Silvia Rahma Haninda 5552110042 Ekonomi Akuntansi 3.37
4 Ismayanti Aditya 5552112016 Ekonomi Akuntansi 3.35
5 Anindia Dwi Pratiwi 5552111743 Ekonomi Akuntansi 3.32
6 Siti Haryanti 5552110121 Ekonomi Akuntansi 3.4
7 Bobby Aditya. D 3334110021 Teknik Metalurgi 3.18
Sumber: Peneliti, 2015
Keempat, kurangnya angka kesadaran mahasiswa dalam pencalonan dirinya
mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA)
karena dari hasil pengamatan peneliti di lapangan, terdapat beberapa mahasiswa yang
memang dengan sendirinya mencalonkan sebagai penerima beasiswa Bantuan Biaya
Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) yang sebenarnya tergolong
keterangan tidak mampu. Dimana dari hasil observasi peneliti di lapangan, peneliti
menemukan beberapa mahasiswa penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan
Prestasi Akademik (BBP-PPA) di Untirta yang memang tergolong dalam mahasiswa
tidak layak menjadi penerima. Peneliti menyimpulkan bahwa banyaknya mahasiswa
yang tergolong tidak layak sebagai penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan
Prestasi Akademik (BBP-PPA) sebesar 20.6%.
Kelima, tidak tepatnya waktu dalam pemberian Bantuan Biaya Pendidikan
Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) yang seharusnya diberikan dalam tiap
semester atau 6 (enam) bulan sekali sesuai dengan pedoman. Akan tetapi pada
kenyataannya tekadang tidak tepat waktu. Dilihat dari pemberian Bantuan Biaya
Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) pada semester genap tahun
2014, sehingga hal ini berpengaruh bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan
perkuliahan karena keterbatasan ekonomi yang hanya mengandalkan Bantuan Biaya
Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) untuk membayar uang
perkuliahan.
Jika dilihat dari beberapa masalah di atas, tentu diperlukan kinerja yang baik
dalam proses pengelolaan program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi
Akademik (BBP-PPA). Sebab efektivitas program ini akan dapat dirasakan apabaila
adanya kierja yang optimal. Dengan demikian peran kinerja yang baik adalah hal
judul skripsi “Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan
Prestasi Akademik (BBP-PPA) di Untirta.”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, peneliti mengidentifikasi
masalah-masalah penelitian sebagai berikut:
1. Tidak tepat sasaran pada penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan
Prestasi Akademik (BBP-PPA) 2014 di kampus Untirta.
2. Kurang selektifnya para pengelola dalam memilih calon mahasiswa yang
berhak mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi
Akademik (BBP-PPA).
3. Kurang tegasnya para pengelola Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan
Prestasi Akademik (BBP-PPA) dalam penentuan pemberian beasiswa
tersebut.
4. Banyaknya mahasiswa yang memanipulasi data diri untuk mendapatkan
Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA).
5. Tidak tepatnya waktu dalam pemberian Bantuan Biaya Pendidikan
1.3 Batasan Masalah
Dari uraian-uraian yang ada dalam latar belakang dan identifikasi masalah,
peneliti mempunyai keterbatasan kemampuan dan berfikir secara menyeluruh. Untuk
itu peneliti mencoba membatasi penelitiannya, dimana hasil dari Kinerja Pengelolaan
Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA)
Tahun 2014 di Untirta di lihat berdasarkan hasil penilaian penerima BBP-PPA.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dengan
demikian perumusan masalahnya yaitu Bagaimana Kinerja Pengelolaan Program
Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tahun 2014 di
Untirta?
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan peneliti dalam penelitian ini akan mendeskripsikan kondisi objektif
mengenai Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan
1.6 Manfaat Penelitian
1. Manfaat penelitian teoritis:
1) Dapat mengembangkan teori yang sudah ada sebelumnya.
2) Dapat menemukan atau menambah teori baru.
2. Manfaat penelitian praktis:
1) Dapat memecahkan masalah terhadap program Bantuan Biaya
Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tahun 2014
di Untirta.
2) Bagi pihak yang terkait yang berada di Kampus UNTIRTA
diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan dalam upaya
penanganan permasalahan program Bantuan Biaya Pendidikan
Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tahun 2014 di Untirta.
1.7 Sistematika Penulisan
BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, identifikasi
masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,
BAB II: DESKRIPSI TEORI PENELITIAN
Bab ini mengkaji beberapa teori dan konsep-konsep yang
berkaitan dengan penelitian. Selain itu terdapat pula penelitian
terdahulu, kerangka berfikir dan hipotesis penelitian yang
menggambarkan arah penelitian nantinya.
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang metode apa yang akan digunakan
dalam penelitian. Selain itu dalam bab ini juga akan dijelaskan
tentang pendekatan dan metode penelitian,, ruang lingkup atau
fokus penelitian, lokasi penelitian, variabel penelitian,
instrument penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik
pengelolaan dan analisis data dan jadual penelitian.
BAB IV: HASIL PENELTIAN
Hasil penelitian mencangkup deskripsi objek penelitian yang
meliputi lokasi penelitian secara jelas, struktur dari objek yang
diteiti, serta hal lain yang berhubungan dengan objek
penelitian. Selain itu juga mencangkup deskripsi data yang
menjelaskan hasil penelitian yang telah diolah dengan
dalam bab ini juga terdapat interpretasi hasil penelitian dan
pembahasan lebih lanjut terhadap hasil analisis data.
BAB V: PENUTUP
Bab ini terbagi ke dalam dua bagian yaitu bagian kesimpulan
dan saran. Dalam bab ini akan dikemukakan kesimpulan dari
analisis dan pembahasan yang dikemukakan sebelumnya.
Sedangkan pada bagian saran akan dikemukakan saran demi
perbaikan dan pengembangan Program Beasiswa Bantuan
Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA)
Tahun 2014 Di UNTIRTA.
DAFTAR PUSTAKA
19
BAB II
DESKRIPSI TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Landasan Teori
Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang
berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan
antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan
fenomena. (Neumen dalam Sugiyono, 2009:80).
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang
teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian
yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu
dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis
tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat 3
(tiga) variabel independen dan 1 (satu) dependen, maka kelompok teori yang perlu
dideskripsikan ada 4 (empat) kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan
dengan variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak
variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang dikemukakan.
2.1.1 Konsep Kinerja
Menurut Miner (1992) dalam Umam (2010:187), mengatakan bahwa kinerja
sebagai perluasan dari bertemunya individu dan harapan tentang apa yang seharusnya
dilakukan individu terkait dengan suatu peran dan kinerja tersebut merupakan
evaluasi terhadap berbagai kebiasaan dalam organisasi yang membutuhkan
standardisasi yang jelas.
Menurut Hadipranata (1996) dalam Umam (2010:187), kinerja merupakan
suatu yang lazim digunakan untuk memantau produktivitas kerja sumber daya
manusia, baik yang berorientasi pada produksi barang, jasa maupun pelayanan.
Demikian pula, perwujudan kinerja yang membanggakan juga sebagai imbalan
intrinsik. Hal ini akan terus berlanjut dalam bentuk kinerja berikutnya dan seterusnya.
Agar dicapai kinerja yang professional, hal-hal seperti kesukarelaan, pengembangan
diri pribadi, pengembangan kerja sama yang saling menguntungkan, serta partisipasi
seutuhnya perlu dikembangkan.
Menurut Bastian (2001:329), kinerja ( performance ) sudah menjadi kata
popular yang sangat menarik dalam pembicaraan manajemen publik. Konsep kinerja
pada dasarnya dapat dilihat dari dua segi, yaitu kinerja pegawai (per-individu) dan
kinerja organisasi. Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian
pelaksanaan tugas dalam suatu organisasi, dalam upaya mewujudkan sasaran, tujuan,
Menurut Rue dan Byars (1980:376), diartikan sebagai tingkat pencapaian
hasil atau “the degree of accomplishmen atau dengan kata lain kinerja merupakan
tingkat pencapaian tujuan organisasi”. Definisi tersebut mengandung pengertian
bahwa melalui kinerja, tingkat pencapaian organisasi dapat diketahui. Pencapaian atas
tujuan-tujuan organisasi tersebut kemudian dijadikan sebagi tolak ukur untuk menilai
baik atau buruknya kinerja organisasi.
Konsep kinerja menurut Osborne dalam Quade (1990:1), berpendapat bahwa:
“Kinerja sebagai tingkat pencapaian misi organisasi. Dapat dikatakan bahwa misi organisasi merupakan langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi (visi). Semakin banyak misi yang dilakukan, maka semakin bagus kinerja dari organisasi yang bersangkutan. Begitu juga sebaliknya, kinerja organisasi dikatakan buruk apabila hanya sedikit misi yang dilakukan oleh organisasi tersebut”.
Konsep kinerja berdasarkan Inpres RI No.7 Tahun 1999 berdasarkan Instruksi
Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah, yang dalam pelaksanaannya ditindak lanjuti dengan Keputusan
Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 589/IX/6/1999 tentang Pedoman
Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, kinerja adalah
gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program atau
kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang
dalam perumusan perencanaan strategis (strategic planning) suatu organisasi.
Menurut Amstrong dan Baron (1998:15) dalam Wibowo (2011:7), kinerja
organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada ekonomi. August
W. Smith dalam suwanto dan Donni (2011:196), juga mengatakan bahwa
performance is output derives from processes, human otherwise (kinerja merupakan
hasil dari suatu proses yang dilakukan manusia).
Konsep kinerja merupakan singkatan dari “kinetika energi kerja” yang
padanannya dalam bahasa inggris adalah performance. Arti kata performance
merupakan kata benda dimana salah satu artinya “thing done” (sesuatu hasil yang
telah dikerjakan). Istilah performance sering diindonesiakan sebagai perform.
Menurut The Scribner Bantam English Dictionary tahun 1979, dalam Sedarmayanti
(2010:259) kinerja berasal dari kata “to perform” yang mempunyai beberapa
pengertian:
1. To do or carry out execute, melakukan, menjalankan dan melaksanakan. 2. To discharge of fulfill as a vow, memenuhi atau menjalankan suatu kewajiban
suatu nazar.
3. To portray, as character in a play, menggambarkan suatu karakter dalam suatu permainan.
4. To render by the voice or musical instrument, menggambarkan dengan suatu alat music.
5. To execute or complete an undertaking, melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab.
6. To act a part in a play, melakukan suatu kegiatan dalam suatu permainan. 7. To perform music, memainkan/pertunjukan music.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diartikan bahwa kinerja merupakan
sesuatu hasil yang dikerjakan oleh seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi
sesuai dengan tangggung jawab masing-masing. Secara terpisah Harmani Pasolong
dalam Irham Fahmi (2011:5), mengatakan bahwa kinerja mempunyai beberapa
elemen, yaitu:
1. Hasil kerja secara individual atau secara institusi yang berarti kinerja tersebut adalah hasil akhir yang diperoleh secara sendiri-sendiri atau kelompok.
2. Dalam melaksanakan tugas, orang atau lembaga diberikan wewenang dan tanggung jawab yang berarti orang atau lembaga diberikan hak dan kekuasaan untuk ditindaklanjuti, sehingga pekerjaannya dapat dilakukan dengan baik.
3. Pekerjaan haruslah dilakukan secara legal yang berarti dalam melaksanakan tugas individu atau lembaga saja harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
4. Pekerjaan tidaklah bertentangan dengan moral atau etika, artinya selain mengikuti aturan yang telah diteapkan tentu saja pekerjaan tersebut haruslah sesuai moral dan etika yang berlaku umum.
2.1.1.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
Menurut McMann, Nanni dalam tangkilisan (2005:179) faktor yang
mempengaruhi kinerja organisasi yaitu:
1. Menelusuri kinerja organisasi terhadap harapan pelanggan sehingga akan membawa organisasi dekat dengan pelanggannya dan membuat seluruh anggota organisasi terlibat dalam upaya memberi kepuasan kepada pelanggan.
2. Memotivasi pegawai untuk melakukan pelayanan kepada para pelanggan secara maksimal.
3. Mengidentifikasi berbagai faktor yang ada, yang secara langsung mempengaruhi hasil kinerja organisasi yang dapat dicapai.
5. Membangun kosensus bagi intervensi terencana untuk pengembangan organisasi.
Menurut Robert L. Mathis dan John G. Jackson dalam Umam (2010:189),
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu:
1. Kemampuan 2. Motivasi
3. Dukungan yang diterima
4. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan 5. Hubungan mereka dengan organisasi.
Berdasarkan pengertian di atas, kami menarik kesimpulan bahwa kinerja
merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun
kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami
atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keinginan untuk berprestasi.
Sedangkan menurut Mangkunegara dalam Umam (2010:186), menyatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja, antara lain sebagai berikut:
1. Faktor kemampuan. Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri atas kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan). Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
2. Faktor motivasi. Faktor ini terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakan pegawai ke arah pencapaian tujuan kerja.
Soesilo (2000) dalam tangkilisan (2005:180-181), bahwa faktor yang
mempengaruhi kinerja organisasi yaitu:
1. Struktur organisasi sebagai hubungan internal yang berkaitan dengan fungsi yang menjalankan aktivitas organisasi.
2. Kebijakan pengelola berupa visi dan misi organisasi.
3. Sumber daya manusia yang berkaitan dengan kualitas karyawan untuk bekerja dan berkarya secara optimal.
4. System informasi manajemen yang berhubungan dengan pengelolaan data base untuk digunakan dalm mempertinggi kinerja organisasi.
5. Sarana dan prasarana yang dimiliki yang berubungan dengan penggunaan teknologi bagi penyelenggaraan organisasi pada setiap aktivitas organisasi.
Berdasarkan uraian di atas dari pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kinerja atau pencapaian kinerja yaitu,
kualitas dan kuantitas pekerjaan, sistem informasi manajemen, sarana dan prasarana
serta sumber daya manusia yang baik guna mencapai tujuan organisasi yang
diinginkan sesuai dengan ketentuan yang ada.
2.1.1.2 Manfaat penilaian kinerja
Menurut Bastian dalam tangkilisan (2005:173), manfaat dari penilaian kinerja
organisasi yaitu akan mendorong pencapaian tujuan organisasi dan akan memberikan
umpan balik untuk upaya perbaikan secara terus menerus. Berikut peranan penilaian
kinerja organisasi:
1. Memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan untuk pencapaian prestasi.
3. Memonitor dan mengevaluasi kinerja dengan perbandingan antara skema kerja dan pelaksanaannya.
4. Memberikan penghargaan maupun hukuman yang objektif atas perprestasi pelaksanaan yang telah diukur, sesuai dengan system pengukuran yang telah disepakati.
5. Menjadikannya sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki kinerja organisasi.
6. Mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi. 7. Membantu proses kegiatan organisasi.
8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan telah dilakukan secara objektif.
9. Menunjukan peningkatan yang perlu dilakukan. 10.Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.
Menurut Larry D.Stout dalam Tangkilisan (2005:174), penilaian kinerja
merupakan proses mencatat dan mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam
arah pencapaian misi melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk, jasa
ataupun suatu proses. Sedangkan menurut James B. Whitaker dalam Tangkilisan
(2005:174), bahwa penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk
meningkatkan kualitas penegmbalian keputusan dan akuntabilitas. Menurut Ihyaul
(2009:21-22), manfaat penilaian kinerja yaitu:
1. Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja manajemen.
2. Memberikan arah untuk mencapai target kinerja yang telah ditetapkan.
3. Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian kinerja dengan membandingkannya dengan target kinerja serta melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja.
4. Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan hukuman secara objektif atas pencapaian prestasti yang diukur sesuai dengan system pengukuran kinerja yang telah disepakati.
6. Membantu mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi. 7. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.
8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakkan secara objektif.
Berdasarkan uraian di atas, maka manfaat penilaian kinerja yaitu
mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi dengan baik, selain itu
mendorong pencapaian tujuan organisasi. Dengan adanya penilaian kinerja
diharapkan Pengelola Program Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik
(BBP-PPA) di UNTIRTA dapat mengidentifikasi masalah dan hambatan kinerja dari
pengelola beasiswa tersebut dalam proses pengelolaan terhadap program beasiswa
Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) agar berjalan dengan
baik.
2.1.2 Pengertian Organisasi
Organisasi merupakan suatu struktur pembagian kerja dan struktur tata
hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara
tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu. Menurut Pradjudi Armosudiro
organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara
sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk
bersama-sama mencapai tujuan tertentu.
Menurut Armosudiro (2006:12), organisasi ialah setiap bentuk persekutuan
rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana
terdapat seseorang/beberapa orang yang disebut atasan dan seorang/sekelompok
orang yang disebut dengan bawahan.” Menurut Dimock dalam Umam (2010:22),
“organization is the systematic bringing together of interdependent part to form a
unified whole through which authority, coordination and control may be exercised to
achive a given purpose”. (Organisasi adalah perpaduan secara sistematis
bagian-bagian yang saling bergantung/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat
melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang
telah ditentukan).
Menurut Robbins, S.P (1986) dalam Umam (2010:22), “organization is a conciously coordinated social units, composed of two or more people, that function on a relatively continuous basis to achieve a common goal or set of goals”. Organisasi adalah suatu system yang terdiri dari pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek
seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi
sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik
adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya,
karena memberikan kontribusi seperti pengambilan sumber daya manusia dalam
2.1.2.1 Prinsip-Prinsip Organisasi
Menurut A.M. Williams dalam bukunya “Organization of Canadian
Governtment Administration” (1965)dalam Umam (2010:24-26), yang menyebutkan
bahwa prinsip-prinsip organisasi meliputi hal berikut:
1) Organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas
Organisasi dibentuk atas dasar adanya tujuan yang ingin dicapai, dan tidak ada satu organisasi pun yang tidak memiliki tujuan.
2) Prinsip skala hierarki
Dalam suatu organisasi harus ada garis kewenangan yang jelas dari pimpinan, pembantu pimpinan sampai pelaksana, sehingga mempertegas pendelegasian wewenang dan pertanggungjawaban dan menunjang efektivitas jalannya organisasi secara keseluruhan.
3) Prinsip kesatuan perintah
Dalam hal ini, seseorang hanya menerima perintah atau bertanggung jawab kepada seorang atasan saja.
4) Prinsip pendelegasian wewenang
Seorang pemimpin mempunyai kemampuan terbatas dalam menjalankan pekerjaannya, sehingga perlu dilakukan pendelegasian wewenang kepada bawahannya. Pejabat yang diberi wewenang harus dapat menjamin tercapainya hasil yang diharapkan. Dalam pendelegasian, wewenang yang dilimpahkan meliputi wewenang dalam pengambilan keputusan, melakukan hubungan dengan orang lain dan mengadakan tindakan tanpa minta persetujuan lebih dahulu kepada atasannya lagi.
5) Prinsip pertanggungjawaban
Dalam menjalankan tugasnya, setiap pegawai harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada atasan.
6) Prinsip pembagian pekerjaan
Suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya melaukn berbagai aktivitas atau kegiatan. Agar kegiatan tersebut berjalan optimal. Dilakukan pembagian tugas/pekerjaan yang didasarkan pada kemampuan dan keahlian masing-masing pegawai. Adanya kejelasan dalam pembagian tugas akan memperjelas dalam pendelegasian wewenang, pertanggung jawaban, serta menunjang efektivitas jalannya organisasi.
7) Prinsip rentang pengendalian
dengan bentuk dan tipe organisasi. Semakin besar suatu organisasi dengan jumlah pegawai yang cukup banyak, semakin kompleks rentang pengendaliannya.
8) Prinsip fungsional
Seorang pegawai, dalam suatu organisasi secara fungsional, harus jelas tugas dan wewenangnya, kegiatannya, hubungan kerja serta tanggung jawab dari pekerjaannya.
9) Prinsip pemisahan
Beban tugas pekerjaan seseorang tidak dapat dibebankan kepada orang lain. 10)Prinsip keseimbangan
Keseimbangan antara struktur organisasi yang efektif dengan tujuan organisasi. Dalam hal ini, penyusunan struktur organisasi harus sesuai dengan tujuan dari organisasi tersebut. Tujuan organisasi tersebut akan diwujudkan melalui aktivitas/kegiatan yang akan dilakukan.
11)Prinsip fleksibilitas
Organisasi harus senantiasa melakukan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan dinamika organisasi sendiri (internal factor) dan karena adanya pengaruh di luar organisasi (external factor), sehingga organisasi mampu menjalankan fungsi dalam mencapai tujuannya.
12)Prinsip kepemimpinan
Dalam organisasi apapun bentuknyadiperlukan kepemimpin, atau dengan kata lain organisasi mampu menjalankan aktivitasnya karena adanya proses kepemimpinan yang digerakkan oleh pemimpin organisasi tersebut.
2.1.3 Pengertian Kinerja Organisasi
Kinerja organisasi merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai
dan mencerminkan keberhasilan suatu organisasi, serta merupakan hasil yang dicapai
dari anggota organisasi. Kinerja bisa juga dikatakan sebagai sebuah hasil (output) dari
suatu proses tertentu yang dilakukan oleh seluruh komponen organisasi terhadap
sumber-sumber tertentu yang digunakan (input). Kinerja juga merupakan hasil dari
serangkaian proses kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu
Menurut Surjadi (2009:7), kinerja organisasi adalah totalitas hasil kerja yang
dicapai suatu organisasi tercapainya tujuan organisasi berarti bahwa, kinerja suatu
organisasi itu dapat dilihat dari tingkatan sejauh mana organisasi dapat mencapai
tujuan yang didasarkan pada tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Menurut
Nawawi (2013:243-244), ada beberapa jenis indikator kinerja yang sering digunakan
dalam pelaksanaan pengukuran kinerja organisasi, yaitu: indikator masukan (input),
indikator proses (process),indikator keluaran (output), indikator hasil (outcome),
indikator manfaat (benefit) dan indikator dampak (impact).
1. Indikator masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar
pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran.
Indikator ini dapat berupa dana, sumber daya manusia, informasi,
kebijakan/peraturan perundang-undangan dan sebagainya.
2. Indikator proses adalah segala besaran yang menunjukkan upaya yang
dilakukan dalam rangka mengolah masukan menjadi keluaran. Indikator
proses menggambarkan perkembangan atau aktivitas yang terjadi atau
dilakukan selama pelaksanaan kegiatan berlangsung, khususnya dalam
proses mengolah masukan menjadi keluaran.
3. Indikator keluaran adalah sesuatu yang diharapkan lansgung dicapai dan
sesuatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan/atau nonfisik,
4. Indikator hasil adalah segala sesuau yang mencerminkan berfunsginya
5. Indikator manfaat adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari
pelaksanaan kegiatan.
6. Indikator dampak adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun
negatif pada setiap tingktan indikator berdasarkan asumsi yang telah
ditetapkan.
2.1.4 Definisi Pengelolaan
Kata “pengelolaan” dapat disamakan dengan manajemen, yang berarti pula
pengaturan atau pengurusan (Suharsimi Arikunto, 1933:31). Banyak orang yang
mengartikan manajemen sebagai pengaturan, pengelolaan, pengadministrasian, dan
memang itulah pengertian yang populer saat ini. Pengelolaan diartikan sebagai suatu
rangakian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk
melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu.
Handoko menyatakan bahwa, “Manajemen merupakan proses perencanan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi
dan pengguna sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang
telah ditetapkan”. Stoner menekankan bahwa, manajemen dititik beratkan pada proses
dan sistem. Oleh karena itu, apabila dalam sistem dan proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, penganggaran, dan sistem pengawasan tidak baik,
proses manajemen secara keseluruhan tidak lancar sehingga proses pencapaian tujuan
Menurut Andrew F.Sikula dalam Hasibuan (2007:2), “Management is general refers to planning, organizing, controlling, staffing, leading, motivating, communicating and decision making activities performed by any organization in order to coordinate the varied resources of the enterprise so as to bring an efficient creation of some product or service”. (manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien.
Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel dalam Hasibuan (2007:3), “Management is getting things done through people. In bringing about this coordinating of group activity, the manager, as a manager plans, organizes, staffs, direct and control the activities other people”. (manajemen adalah usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dengan demikian manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.
Sedangkan menurut Terry dalam Hasibuan (2007:2), management is a distinct process consisting of plsnning, organizing, actuating and controlling performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources”. Manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.
Menurut Luther Gulick manajemen didefinisikan sebagai suatu bidang ilmu
pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa
dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem
(manajemen personalia dan sumber daya manusia: 1985) menunjukan bahwa para
manajer menggunakan semua sumber daya organisasi-keuangan, peralatan dan
informasi seperti halnya orang dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Orang (atau sumber daya manusia) adalah sumber daya terpenting bagi setiap
organisasi.
2.1.4.1 Fungsi Manajemen
Menurut Terry (2008:17), manajemen dalam sebuah organisasi pada dasarnya
dimaksudkan sebagai suatu proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan
organisasi melalui pelaksanaan empat fungsi dasar: planning, organizing, actuating
dan controlling dalam penggunaan suberdaya organisasi.
1) Planning (perencanaan)
Planning ialah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh
kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Planning mencakup
kegiatan pengambilan keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan
visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan
tindakan untuk masa mendatang. Menurut Hasibuan (2007:40), perencanaan
adalah proses penentuan tujuan dan pedoman pelaksanaan dengan memilih
menurut Harold Koontz and Cyril O’Donnel dalam Hasibuan (2007:40),
adalah :
“planning is the function of a manager which the selection from alternatives of objectives policies, procedures and programs”. (Perencanaan adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan memilih tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan program-program dari alternatif-alternatif yang ada).
2) Organizing (Pengorganisasian)
Organizing yaitu proses pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk
mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada
seorang manajer. Tujuan pengorganisasi adalah mencapai usaha
dengan cara menerapkan tugas dan hubungan wewenang.
Pengorganisasian fungsi manajemen dapat dilihat terdiri dari tiga
aktivitas berurutan, seperti membagi-bagi tugas menjadi pekerjaan
yang lebih sempit (spesialisasi pekerjaan), menggabungkan pekerjaan
untuk membentuk departemen (departementalisasi) dan
mendelegasikan wewenang.
Hasibuan (2007:40) mendefinisikan bahwa pengorganisasian yaitu:
Sedangkan menurut G. R. terry dalam Hasibuan (2007:40) adalah:
“organizing is the establishing of effective behavioral relationship among persons so that they may work together efficiently and again personal satisfactions for the purpose of achieving some goal or objective”. (Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien dan dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran).
3) Actuating (Pelaksanaan)
Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota
kelompok sedemikian rupa, hingga berkeinginan dan berusaha untuk
mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama. Dalam pembahasan
fungsi actuating, aspek kepemimpinan merupakan salah satu aspek yang
sangat penting. Sehingga definisi fungsi actuating selalu dimulai dan
dinilai cukup hanya dengan mendefinisikan kepemimpinan itu sendiri.
Artinya seorang pemimpin itu bertugas untuk memotivasi, mendorong dan
memberi keyakinan kepada orang yang dipimpinnya dalam suatu entitas
atau kelompok, baik itu individu sebagai entitas terkecil sebuah komunitas
ataupun hingga skala besar, untuk mencapai tujuan sesuai dengan kapasitas
kemampuan yang dimiliki. Pemimpin juga harus dapat memfasilitasi
anggotanya dalam mencapai tujuannya. Ketika pemimpin telah berhasil
dianalogikan bahwa ia telah berhasil menggerakkan organisasinya dalam
arah yang sama tanpa paksaan.
Hasibuan (2007:41) mendefinisikan pengarahan adalah
mengarahkan semua bawahan agar mau bekerja sama dan bekerja efektif
untuk mencapai tujuan. Sedangkan pengarahan menurut G. R. Terry
adalah:
“actuating is setting all members of the group to want to achieve and to strike to achieve the objective willingly and keeping with the managerial planning and organizing efforts”. (pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok agar mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian).
4) Controlling (Pegendalian)
Controlling mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah
kegiatan-kegiatan dilaksanakan sesuai rencana. Di aktualisasikan dengan
pelaksanaan kegiatan evaluasi. Sehingga penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi dapat diperbaiki agar tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Pengendalian menurut Earl P.Strong dalam Hasibuan (2007:41) adalah:
Menurut Harold Koontz dalam Hasibuan (2007:41) adalah:
“control is th measurement and correcting of the performance of subordinates in order to make sure that enterprise objectives and the plans devised to attain then are accomplished”. (Pengendalian adalah pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan dapat terselenggara).
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu berfungsi sebagai pendukung untuk melakukan penelitian
serta menjadi acuan dan pedoman bagi peneliti, dan peneliti menemukan jurnal
ilmiah yang serupa dengan judul peneliti. Sebagaimana dengan penelitian yang
dilakukan oleh Amala Nursyaamsi (2014) dengan judul skripsi : Manajemen Program
Beasiswa Bidik Misi (Studi Kasus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa).
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa masalah yang ditemukan
dilapangan antara lain seperti, penetapan penerima beasiswa Bidik Misi yang tidak
tepat sasaran, misalnya adanya mahasiswa penerima Bidik Misi yang berasal dari
kalangan menengah ke atas, keterlambatan penyaluran dana beasiswa dalam batasan
waktu yang tidak bias ditentukan dan dipastikan, adanya mahasiswa Bidik Misi
pengganti yang tidak menerima hak living cost sepenuhnya, banyaknya penerima
Bidik Misi yang tidak lulus tepat waktu dan kurang berfungsinya peran pembinaan
UNTIRTA. Skripsi dengan judul Manajemen program beasiswa bidik misi (studi
kasus di UNTIRTA) ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan indicator
dalam teori manajemen George R Terry (2008:17) yaitu Planning, Organizing,
Actuating dan Controlling.
Peneliti terdahulu selanjutnya adalah sebagaimana yang dilakukan oleh
Khadijah (2011) dengan judul skripsi: Pengembangan Sistem Informasi Seleksi
Beasiswa Unggulan P3SWOT Kemdiknas Online menggunakan Unified Proccess, di
Universitas Diponegoro.
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa rumusan masalah yang
ditemukan dilapangan adalah, bagaimana mengembangkan Sistem Informasi Seleksi
Beasiswa Unggulan P3SWOT Kemdiknas Online menggunakan Unified Proccess?.
Skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teori Sistem Informasi.
2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian
Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
hubungan antara berbagai faktor yang telah didefinisikan sebagai masalah yang
penting. Berdasarkan judul penelitian, maka kerangka dalam penelitian ini membahas
mengenai kinerja pengelolaan program Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi
yang terdapat pada latar belakang masalah, yaitu: (1) Tidak tepat sasaran pada
penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA)
tahun 2014 di Untirta; (2) Kurang selektifnya para pengelola dalam memilih calon
mahasiswa yang berhak mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan
Prestasi Akademik (BBP-PPA); (3) Kurang tegasnya para pengelola Bantuan Biaya
Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) dalam penentuan pemberian
beasiswa tersebut; (4) Banyaknya mahasiswa yang manipulasi data diri untuk
mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik
(BBP-PPA); (5) Tidak tepatnya waktu dalam pemberian Bantuan Biaya Pendidikan
Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA).
Untuk mengukur bagaimana Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi
Akademik (BBP-PPA) tahun 2014 di Untirta, peneliti menggunakan teori kinerja
organisasi menurut Nawawi (2013: 243-244), yaitu terbagi menjadi 6 indikator yang
terdiri dari Indikator masukan (Input), Indikator proses (Process), Indikator keluaran
(Output), Indikator hasil (Outcome), Indikator manfaat (Benefit) dan Indikator
dampak (Impact).
Maka untuk mempermudah memahami alur berfikir, peneliti menggambarkan