• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2014 Di Untirta. - FISIP Untirta Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2014 Di Untirta. - FISIP Untirta Repository"

Copied!
210
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Jangan meny erah atas impianmu, impian memberimu

tujuan hidup.

Ingatlah, sukses bukan kunci kebahagiaan, tapi

kebahagiaan kunci kesuksesan.

S emangat!

(6)

ABSTRAK

RENI INDRIYANI, NIM. 6661111705. Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2014 Di Untirta. Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pembimbing I : Gandung Ismanto, M.M. Pembimbing II: Drs. Hasuri Waseh, M.Si.

Kata Kunci : Kinerja, Pengelolaan dan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA).

(7)

ABSTRACT

RENI INDRIYANI. NIM. 6661111705. The Performance of Management and Cost Education Aid Program of Academic Achievement Upgrading (BBP-PPA) year 2014 at Untirta. Program Study Administration State of Science. Faculty Science of Social and Politic. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Advisor I: Ganduh Ismanto, M. M. Advisor II: Drs. Hasuri Waseh, M. Si.

Keywords: Performance, Management and Cost Education Aid Program of Academic Achievement Upgrading (BBP-PPA).

The Performance of management and cost education aid program of academic achievement upgrading (BBP-PPA) year 2014 at Untirta. In this research there are several problems such as: there are PPAs’ students receiver who

unappropriate with the requirement and certainment, beside that the manager of PPAs’ students receiver candidates are less selective. The aim of this research is to find out the Performance of management and cost education aid program of academic achievement upgrading (BBP-PPA) year 2014 at Untirta. Observed from input, process, output, outcome, benefit and impact indicator. The method used in this research is quantitative descriptive method. The data was collected by using questionnaire distibuting, the sampling technique used in this research is simple random sampling. The result of this research is the Performance of

(8)

KATA PENGANTAR

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT, sumber suara-suara hati, sumber ilmu pengetahuan, sumber segala kebenaran, sumber segala kesuksesan, Sang Kekasih tercinta yang tak terbatas pencahayaan cinta-Nya. Berkat hidayah, taufiq dan inayah-Nya, akhirnya skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik meskipun tidak sempurna, karena kesempurnaan hanya milik sang Pencipta. Tak lupa shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga berserta sahabatnya.

Hasil penelitian yang dinamakan “SKRIPSI” ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan judul “Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2014 Di UNTIRTA”.

(9)

Maka dengan ketulusan hati, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Yth. Bapak Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd., Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

2. Yth. Bapak Dr. Agus Sjafari, M.Si., Dekan FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3. Yth. Ibu Rahmawati, S.Sos, M.Si sebagai Dekan I FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

4. Yth. Bapak Imam Mukhroman S.Sos, M.Si sebagai Wakil Dekan II FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

5. Yth. Bapak Kandung Sapto Nugroho, S.Sos, M.Si, Wakil Dekan III FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, sekaligus Dosen penguji Seminar Proposal Skripsi yang telah membantu dan memberikan masukan untuk skripsi ini kepada peneliti.

6. Yth. Ibu Listyaningsih, S.Sos, M.Si, sebagai Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

7. Yth. Bapak Riswanda, S.Sos, P.hd , sebagai Sekretaris Jurusan Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 8. Yth. Bapak Gandung Ismanto, S.Sos., M.M., sebagai Pembimbing I skripsi,

(10)

9. Yth. Bapak Drs. Hasuri Waseh, SE., M.Si., Pembimbing II skripsi, terima kasih untuk nasihat dan motivasinya kepada peneliti, semoga menjadi modal awal menuju kesuksesan.

10. Yth. Bapak Maulana Yusuf, M.Si, sebagai penguji sidang skripsi, terimakasih atas kritik dan saran kepada peneliti.

11. Yth. Ibu Listyaningsih, S.Sos, M.Si., Dosen Pembimbing MPA peneliti, mengucapkan terima kasih atas nasihat, pelajaran dan bimbingan dalam menyusun sebuah penelitian.

12. Yth. Ibu Titi Stiawati, S.Sos., M.Si., Dosen Pembimbing Akademik peneliti, mengucapkan terima kasih atas nasihat, pelajaran dan bimbingannya dalam perkuliahan, serta motivasi dalam penyusunan skripsi yang dilakukan oleh peneliti.

13. Kepada seluruh Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, semoga ilmu yang telah disampaikan dapat bermanfaat.

14. Para Staf Tata Usaha (TU) Program Studi Ilmu Administrasi Negara atas segala sumbangsihnya.

15. Pengelola Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atas segala fasilitas yang telah diberikan kepada peneliti.

(11)

17. Terimakasih kepada penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2014 di Untirta, yang telah membantu dan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

18. Dukungan dan motivasi terbesar tentulah dari keluarga tercinta peneliti, yaitu keluarga besar Wowo Suherman. Terima kasih untuk selalu memberi dukungan dan semangat dalam bentuk apapun untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

19. Mahasiswa ANE Non Reguler dan ANE Reguler angkatan tahun 2011, terima kasih untuk saling berbagi cerita mengenai perkuliahan, saling mensupport untuk segera menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu.

20. Terima kasih untuk teman-teman tercinta, Amelia Indrayani, Amelia Rizky, Cikita Rahmawati, Hasanahtun, Ida Komala, Indri dwi putri, Jelita Amalia, Khairinnisa, Verayana, Wida Riandani dalam bantuan yang sama-sama berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir mata perkuliahan, saling mensupport, memberi masukan-masukan dan nasihat serta saling berbagi cerita selama kurang lebih beberapa tahun ini. Untuk Nita Soraya L (Mamih) terima kasih yang selalu menemani di kampus tercinta ini, perpustakaan, penelitian, dan bimbingan skripsi, saling memberi nasihat dan memberi motivasi satu sama lain. Dan untuk Randi Apriandi (om ran), terima kasih banyak yang selalu mau direpotkan oleh penulis, yang saling memberi motivasi satu sama lain dan memberi nasihat.

(12)

kasih untuk motivasi kalian yang tiada hentinya agar peneliti segera menyelesaikan tugas akhirnya ini dengan penuh semangat tanpa mengeluh dan putus asa, semoga kita bersama-sama maju dengan kesuksesan yang kita tempuh selama ini.

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih terdapat kekurang sempurnaan. Oleh karena itu peneliti sangat berharap adanya saran dan kritik yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini lebih lanjut.

Serang, Januari 2016

(13)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS LEMBAR PERSETUJUAN

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ABSTRAK

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR DIAGRAM ... xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 14

1.3 Batasan Masalah ... 15

1.4 Rumusan Masalah ... 15

1.5 Tujuan Penelitian ... 15

1.6 Manfaat Penelitian ... 16

1.7 Sistematika Penulisan ... 16

BAB II DESKRIPSI TEORI PENELITIAN 2.1 Landasan Teori ... 19

(14)

2.1.1.1 Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja 23

2.1.1.2 Manfaat penilaian kinerja……… 25

2.1.2 Pengertian Organisasi……... 27

2.1.2.1 Prinsip-prinsip organisasi………... 29

2.1.3 Pengertian Kinerja Organisasi……….. 30

2.1.4 Definisi Pengelolaan……… 32

2.1.4.1 Fungsi Manajemen………... 34

2.1.4.1.1 Planning……… 34

2.1.4.1.2 Organizing………. 35

2.1.4.1.3 Actuating……… 36

2.1.4.1.4 Controlling………. 37

2.2 Penelitian Terdahulu ... 38

2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 39

2.4 Hipotesis Penelitian ... 42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian ... 44

3.2 Ruang Lingkup dan Fokus Penelitian ... 45

3.3 Lokasi Penelitian ... 45

3.4 Variabel Penelitian ... 46

3.4.1 Definisi Konsep ... 46

3.4.2 Definisi Operasional ... 46

3.5 Instrument Penelitian ... 48

(15)

3.5.1.1 Jenis Data……….. 51

3.5.1.2 Sumber Data………. 52

3.5.1.3 Teknik Pengumpulan Data……… 52

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian ... 53

3.6.1 Populasi Penelitian ... 53

3.6.2 Sampel Penelitian ... 54

3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 55

3.7.1 Uji Validitas... 56

3.7.2 Uji Reliabilitas……….. 57

3.7.3 Uji Normalitas………. 58

3.7.4 Uji t-Test………. 59

3.7.5 Uji Pihak Kanan……….. 60

3.8 Jadwal Penelitian ... 62

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Objek Penelitian……….. ….. 64

4.1.1 Gambaran Umum Untirta.………. 64

4.1.2 Visi-Misi Untirta……….……… 68

4.1.3 Tugas Pokok dan Fungsi……… 71

4.1.4 Struktur Organisasi Untirta………. 72

4.1.5 Uraian Tugas……….. 73

4.2 Deskripsi Data………. 86

4.2.1 Validitas Insrumen……….. 86

(16)

4.2.3 Analisis Data………. 92

4.3 Pengujian Persyaratan Statistik……….. 109

4.3.1 Uji Reliabilitas Instrumen………. 109

4.3.2 Uji Normalitas……… 110

4.4 Pengujian Hipotesis……… 111

4.5 Interprestasi Hasil Penelitian……….. 114

4.6 Pembahasan……… 116

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan………. 123

(17)

DAFTAR TABEL

TABEL 1.1 Jumlah penerima beasiswa PPA dan BBM 2012-2014... 9

TABEL 1.2 Jumlah penerima BBP-PPA 2014……… 10

TABEL 1.3 Daftar nama penerima PPA yang menjadi BBP-PPA….. 12

TABEL 3.1 Skoring item instrument……….. 49

TABEL 3.2 Kisi-kisi instrument penelitian……… 50

TABEL 3.3 Jadwal penelitian……….. 63

TABEL 4.1 Hasil uji validitas instrument……… 87

TABEL 4.2 Uji reliabilitas data……… 109

TABEL 4.3 Uji normalitas……….. 110

TABEL 4.4 Kategori hasil penelitian………. 116

(18)

DAFTAR GAMBAR

(19)

DAFTAR DIAGRAM

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia termasuk negara berkembang dengan sebuah negara dengan

rata-rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relatif terbelakang dan indeks

perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang dibandingkan dengan

norma global. Sumber Daya Manusia atau human recources mengandung dua

pengertian. Pertama adalah usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam proses

produksi. Dalam hal lain sumber daya manusia mencerminkan kualitas usaha yang

diberikan oleh seseorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa.

Pengertian kedua adalah menyangkut manusia yang mampu bekerja untuk

memberikan jasa atau usaha kerja tersebut. Mampu bekerja berarti mampu melakukan

kegiatan yang mempunyai kegiatan ekonomis, yaitu bahwa kegiatan tersebut

menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu, sumber daya

manusia merupakan faktor sentral dalam pengelolaan suatu organisasi. Dimana

menjadi penggerak roda organisasi dalam mencapai dan mewujudkan tujuan dan

sasaran yang ditetapkan. Oleh karena itu, produktivitas organisasi sangat ditentukan

(21)

sumber daya manusia yang bermutu agar tidak menjadi beban, melainkan jadi modal

perusahaan atau organisasi diperlukan dua kriteria, yakni sumber daya manusia yang

mempunyai motivasi kerja tinggi dan kemampuan unggul. Sumber daya manusia

yang mampu bekerja dan berkualitas didasari dengan tingkat pendidikan yang tinggi,

selain itu sumber daya manusia mempunyai peranan yang sangat penting dalam

pembangunan bangsa, sehingga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia

diperlukan pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu faktor dalam memajukan sebuah negara,

untuk itu pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan kita, ini berarti

bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam

pendidikan, mulai dari sejak dini. Pendidikan adalah proses kehidupan dalam

mengembangkan diri setiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan

kehidupan, sehingga pendidikan disebut sebagai prioritas utama. Sesuai dengan yang

tertera dalam pasal 31 UUD 1945 yang menegaskan bahwa setiap warga negara

berhak mendapatkan pendidikan, sehingga Warga Negara Indonesia berhak untuk

mengenyam pendidikan. Selain itu, arah kebijakan pendidikan bangsa Indonesia

dirumuskan sebagai salah satu tujuan dibentuknya Negara Indonesia merdeka, seperti

yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yakni sebagai berikut:

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh

(22)

perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan

Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa

mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara

Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rahmat

Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya

berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini

kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara

Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan

bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,

perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan

Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk

dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat”.

Terutama dalam pembukaan UUD 1945 aline ke empat yaitu: “mencerdaskan

kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Pola kebijakan pendidikan di

Indonesia telah didasarkan pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seperti yang

tertuang pada Pancasila.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

Bab V pasal 12 (1.c), menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan

(23)

tidak mampu membiayai pendidikannya. Pasal 12 (1.d), menyebutkan bahwa setiap

peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan

bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.

Masyarakat memiliki tingkat ekonomi yang berbeda, karena tingkat ekonomi

sangat berpengaruh besar terhadap pendidikan. Tidak semua masyarakat mampu

menempuh pendidikan yang diinginkan terutama untuk menempuh jenjang

pendidikan yang tinggi seperti Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta. Oleh sebab itu

pemerintah memberikan solusi bagi masyarakat yang tidak bisa melanjutkan dalam

menempuh pendidikan, salah satunya yaitu dalam bentuk beasiswa. Beasiswa

merupakan pemberian berupa bantuan keuangan yang bertujuan untuk digunakan

demi keberlangsungannya pendidikan yang ditempuh. Beasiswa dapat diberikan oleh

lembaga pemerintah, perusahaan ataupun yayasan.

Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan,

bagian kelima, Pasal 27 ayat (1), menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah

daerah sesuai kewenangannya memberi bantuan biaya pendidikan atau beasiswa

kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu membiayai

pendidikannya. Pasal 27 ayat (2), menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah

daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberi beasiswa kepada peserta didik

yang berprestasti. Menurut UU 2 tahun 1989, pasal 16, ayat 1: Perguruan tinggi

(24)

mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki

kemampuan akademis dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan

menciptakan ilmu pengethauan, teknologi dan kesenian

Perguruan tinggi merupakan wahana tenaga ahli yang diharapkan mampu

mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas dan memberi

sumbangan kepada pembangunan. Sebagai usaha sistematis untuk meningkatkan

kualitas sumber daya manusia, maka Depdiknas (Departemen pendidikan nasional)

selama ini telah menetapkan empat kebijakan pokok di bidang pendidikan, yaitu:

pemerataan dan kesempatan belajar, relevansi pendidikan dengan pembangunan,

kualitas pendidikan dan efisiensi pendidikan. Khusus untuk perguruan tinggi akan

lebih mengutamakan membahas mengenai relevansi pendidikan dengan

pembangunan yang dalam langkah pelaksanaannya dikenal dengan istilah keterkaitan

dan kesepadaman.

Peraturan Menteri nomor 30 tahun 2010 tentang pemberian bantuan biaya

pendidikan kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu

membiayai pendidikan. Banten merupakan Provinsi yang memiliki beberapa

perguruan tinggi negeri dan swasta, salah satunya ialah (UNTIRTA) Universitas

Sultan Ageng Tirtayasa. UNTIRTA (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) terdiri dari

(25)

ketiga khusus hanya untuk 1 (satu) fakultas yakni, Fakultas Teknik yang berlokasi di

Cilegon dan berada di pusat Kawasan Industri.

Kebijakan pendidikan wajib belajar, diharapkan bahwa setiap warga negara

Indonesia minimal berpendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)

atau sederajat. Selain program Wajib Belajar 12 tahun, pemerintah memberikan

upaya meningkatkan angka partisipasi pendidikan yang terus dikembangkan. Upaya

yang dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan memberikan bantuan kepada siswa dan

sekolah, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Beasiswa Siswa Miskin

(BSM), Beasiswa Khusus Murid Miskin (BKMM). Sedangkan, di tingkat perguruan

tinggi pemerintah juga memberikan beasiswa berupa bantuan beasiswa terhadap

mahasiswa yang kurang mampu di perguruan tinggi, salah satunya termasuk Bantuan

Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) yang diprioritaskan

untuk golongan mahasiswa yang kurang mampu dalam segi ekonomi.

Beasiswa di Untirta terbagi menjadi beberapa macam beasiswa, yaitu

beasiswa yang bersumber dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan (DIKTI) dan beasiswa yang bersumber dari yayasan

atau perusahaan. Beasiswa yang bersumber dari Direktorat Jenderal Pendidikan

Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (DIKTI) terbagi menjadi 3 (tiga),

yang pertama yaitu beasiswa (BIDIK MISI), yang kedua yaitu Beasiswa Peningkatan

(26)

Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA). Selain itu adapula beasiswa yang

bersumber dari yayasan atau perusahaan, misalnya seperti Supersemar (Supersemar

Regular dan Supersemar Unggulan), Bank Mandiri, Chandra Asri Petrochemical

(CAP) , Perusahaan Gas Negara (PGN), Djarum, Baznas Provinsi Banten (Regular

dan Prestasi), Bank Indonesia (BI) dan Krakatau Steel (KS).

Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA),

merupakan bantuan beasiswa terhadap mahasiswa yang kurang mampu dan memiliki

prestasi. Beasiswa ini merupakan program beasiswa yang diberikan oleh pemerintah

melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan berupaya mengalokasikan dana untuk memberikan bantuan biaya

pendidikan kepada mahasiswa yang orang tuanya tidak mampu, dan untuk membiayai

pendidikannya dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang mempunyai

prestasi tinggi, baik kurikuler maupun ekstrakulikuler. program bantuan biaya

pendidikan dan beasiswa dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip 3T, yaitu: Tepat

sasaran, Tepat Jumlah dan Tepat waktu.

Tahun 2012 istilah Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dan

Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) disesuaikan dengan istilah yang sejalan dengan

ketentuan yang ada yaitu menjadi Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik

(Beasiswa-PPA) dan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik

(27)

Sultan Ageng Tirtayasa) yang menjalankan program beasiswa tersebut. Bantuan

Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) diperuntukkan kepada

mahasiswa yang kurang mampu dengan memenuhi persyaratan yang sudah

ditentukan, diantaranya seperti: surat keterangan tidak mampu atau layak mendapat

bantuan yang dikeluarkan oleh Lurah/Kepala Desa, fotokopi transkrip nilai dengan

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) paling rendah 2,50 yang disahkan oleh pimpinan

perguruan tinggi dan fotokopi piagam atau bukti berprestasi lainnya (kurikuler dan

atau ekstra kurikuler) yang diselenggarakan oleh Kemdiknas dan atau organisasi lain

baik pada tingkat Nasional, Regional maupun Internasional. Selain itu ada pula

persyaratan lain seperti slip pembayaran terakhir, slip listrik, slip gaji orang tua, serta

fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), Kartu Hasil Studi (KHS) dan Kartu

(28)

Tabel 1.1

Perkembangan Jumlah Penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) Tahun 2012-2014

No Tahun Angkatan Jumlah Penerima

1 2012 649

2 2013 579

3 2014 475

Sumber: Data penerima Beasiswa PPA dan BBM tahun 2012-2014 Untirta

Tabel 1.1 di atas menjelaskan bahwa Untirta mendapat kuota penerima

Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) dari tahun

2012-2014 sebanyak 1.701 mahasiswa penerima., terdiri dari angkatan tahun 2012

sebanyak 649 mahasiswa penerima, angkatan tahun 2013 sebanyak 579 mahasiswa

penerima dan tahun 2014 sebanyak 475 mahasiswa penerima. Jika dilihat dari jumlah

penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) di

setiap tahunnya, jumlah tersebut mengalami penurunan kuota penerima. Hal ini tentu

mempermudah bagi para pengelola Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi

Akademik (BBP-PPA) dalam melaksanakan penyeleksian terhadap calon penerima

beasiswa tersebut. Selain itu, hal ini menyimpulkan bahwa adanya perubahan yang

(29)

Table 1.2

Jumlah mahasiswa penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tahun 2014 di Untirta

No Fakultas Jumlah Penerima

1 Ilmu Hukum 29

2 FKIP 143

3 Teknik 51

4 Pertanian 53

5 Ekonomi 139

6 Fisip 60

Sumber: Data penerima Beasiswa PPA dan BBM tahun 2014 Untirta

Tabel 1.2 di atas menjelaskan bahwa Untirta mendapat jumlah penerima

Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) dari tahun

2014 sebanyak 475 mahasiswa penerima.. Terdiri dari fakultas ilmu hukum sebanyak

29 penerima, FKIP sebanyak 143 penerima, fakultas teknik sebanyak 51 penerima,

fakultas pertanian sebanyak 53 penerima, fakultas ekonomi sebanyak 139 penerima

dan Fisip sebanyak 60 penerima.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan (observasi) peneliti menemukan

beberapa masalah dan kendala dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan

(30)

(BBP-PPA) di kampus Untirta. Pertama, tidak tepat sasaran pada penerima Bantuan

Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) di kampus Untirta.

Dalam hal ini ditemukan adanya mahasiswa penerima Bantuan Biaya Pendidikan

Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) yang berasal dari kalangan menengah

atas, padahal berdasarkan syarat dari program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan

Prestasi Akademik (BBP-PPA) ini diperuntukkan bagi kalangan tidak mampu.

Berikut hasil wawancara dengan salah satu mahasiswa Untirta angkatan 2011 jurusan

Ilmu Hukum yang mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi

Akademik (BBP-PPA), 2 November 2014, pukul 12.00 WIB.

“Saya emang ngerasa mampu dalam hal ekonomi, apalagi buat bayaran kuliah. Awalnya saya dapet info dari senior saya kalo pembukaan beasiswa BBM lebih banyak kuotanya dibanding beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). Jadi saya coba masukin pendaftaran beasiswa itu dan akhirnya dapet.”

Kedua, kurang selektifnya para pengelola dalam memilih calon mahasiswa

yang berhak mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik

(BBP-PPA). Terlihat dari hasil observasi peneliti sebagai berikut:

“Kalo saya sih karena ngerasa ga punya surat keterangan tidak mampu, jadi coba-coba aja daftar beasiswa BBM. Akhirnya tembus juga.” (Hasil wawancara dengan mahasiswa Untirta jurusan Ilmu Hukum, 4 November 2014, pukul 20.00 WIB).

Ketiga yaitu, tidak tegasnya para pengelola Bantuan Biaya Pendidikan

Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) dalam penentuan pemberian beasiswa

(31)

Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tetapi pada

kenyataannya mendapatkan beasiswa tersebut

Tabel 1.3

Nama mahasiswa Untirta yang mendaftarkan dalam Beasiswa-PPA berubah mendapatkan BBP-PPA

No Nama NIM Fakultas Program Studi IPK

1 Nurlita Amaniyah 6661111919 FISIP Ilmu Adm.Negara 3.49

2 Rijqi Nurjanah 6661111897 FISIP Ilmu Adm.Negara 3.51

3 Silvia Rahma Haninda 5552110042 Ekonomi Akuntansi 3.37

4 Ismayanti Aditya 5552112016 Ekonomi Akuntansi 3.35

5 Anindia Dwi Pratiwi 5552111743 Ekonomi Akuntansi 3.32

6 Siti Haryanti 5552110121 Ekonomi Akuntansi 3.4

7 Bobby Aditya. D 3334110021 Teknik Metalurgi 3.18

Sumber: Peneliti, 2015

Keempat, kurangnya angka kesadaran mahasiswa dalam pencalonan dirinya

mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA)

karena dari hasil pengamatan peneliti di lapangan, terdapat beberapa mahasiswa yang

memang dengan sendirinya mencalonkan sebagai penerima beasiswa Bantuan Biaya

Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) yang sebenarnya tergolong

(32)

keterangan tidak mampu. Dimana dari hasil observasi peneliti di lapangan, peneliti

menemukan beberapa mahasiswa penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan

Prestasi Akademik (BBP-PPA) di Untirta yang memang tergolong dalam mahasiswa

tidak layak menjadi penerima. Peneliti menyimpulkan bahwa banyaknya mahasiswa

yang tergolong tidak layak sebagai penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan

Prestasi Akademik (BBP-PPA) sebesar 20.6%.

Kelima, tidak tepatnya waktu dalam pemberian Bantuan Biaya Pendidikan

Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) yang seharusnya diberikan dalam tiap

semester atau 6 (enam) bulan sekali sesuai dengan pedoman. Akan tetapi pada

kenyataannya tekadang tidak tepat waktu. Dilihat dari pemberian Bantuan Biaya

Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) pada semester genap tahun

2014, sehingga hal ini berpengaruh bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan

perkuliahan karena keterbatasan ekonomi yang hanya mengandalkan Bantuan Biaya

Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) untuk membayar uang

perkuliahan.

Jika dilihat dari beberapa masalah di atas, tentu diperlukan kinerja yang baik

dalam proses pengelolaan program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi

Akademik (BBP-PPA). Sebab efektivitas program ini akan dapat dirasakan apabaila

adanya kierja yang optimal. Dengan demikian peran kinerja yang baik adalah hal

(33)

judul skripsi “Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan

Prestasi Akademik (BBP-PPA) di Untirta.”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, peneliti mengidentifikasi

masalah-masalah penelitian sebagai berikut:

1. Tidak tepat sasaran pada penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan

Prestasi Akademik (BBP-PPA) 2014 di kampus Untirta.

2. Kurang selektifnya para pengelola dalam memilih calon mahasiswa yang

berhak mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi

Akademik (BBP-PPA).

3. Kurang tegasnya para pengelola Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan

Prestasi Akademik (BBP-PPA) dalam penentuan pemberian beasiswa

tersebut.

4. Banyaknya mahasiswa yang memanipulasi data diri untuk mendapatkan

Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA).

5. Tidak tepatnya waktu dalam pemberian Bantuan Biaya Pendidikan

(34)

1.3 Batasan Masalah

Dari uraian-uraian yang ada dalam latar belakang dan identifikasi masalah,

peneliti mempunyai keterbatasan kemampuan dan berfikir secara menyeluruh. Untuk

itu peneliti mencoba membatasi penelitiannya, dimana hasil dari Kinerja Pengelolaan

Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA)

Tahun 2014 di Untirta di lihat berdasarkan hasil penilaian penerima BBP-PPA.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dengan

demikian perumusan masalahnya yaitu Bagaimana Kinerja Pengelolaan Program

Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tahun 2014 di

Untirta?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan peneliti dalam penelitian ini akan mendeskripsikan kondisi objektif

mengenai Kinerja Pengelolaan Program Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan

(35)

1.6 Manfaat Penelitian

1. Manfaat penelitian teoritis:

1) Dapat mengembangkan teori yang sudah ada sebelumnya.

2) Dapat menemukan atau menambah teori baru.

2. Manfaat penelitian praktis:

1) Dapat memecahkan masalah terhadap program Bantuan Biaya

Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tahun 2014

di Untirta.

2) Bagi pihak yang terkait yang berada di Kampus UNTIRTA

diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan dalam upaya

penanganan permasalahan program Bantuan Biaya Pendidikan

Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) tahun 2014 di Untirta.

1.7 Sistematika Penulisan

BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, identifikasi

masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

(36)

BAB II: DESKRIPSI TEORI PENELITIAN

Bab ini mengkaji beberapa teori dan konsep-konsep yang

berkaitan dengan penelitian. Selain itu terdapat pula penelitian

terdahulu, kerangka berfikir dan hipotesis penelitian yang

menggambarkan arah penelitian nantinya.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang metode apa yang akan digunakan

dalam penelitian. Selain itu dalam bab ini juga akan dijelaskan

tentang pendekatan dan metode penelitian,, ruang lingkup atau

fokus penelitian, lokasi penelitian, variabel penelitian,

instrument penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik

pengelolaan dan analisis data dan jadual penelitian.

BAB IV: HASIL PENELTIAN

Hasil penelitian mencangkup deskripsi objek penelitian yang

meliputi lokasi penelitian secara jelas, struktur dari objek yang

diteiti, serta hal lain yang berhubungan dengan objek

penelitian. Selain itu juga mencangkup deskripsi data yang

menjelaskan hasil penelitian yang telah diolah dengan

(37)

dalam bab ini juga terdapat interpretasi hasil penelitian dan

pembahasan lebih lanjut terhadap hasil analisis data.

BAB V: PENUTUP

Bab ini terbagi ke dalam dua bagian yaitu bagian kesimpulan

dan saran. Dalam bab ini akan dikemukakan kesimpulan dari

analisis dan pembahasan yang dikemukakan sebelumnya.

Sedangkan pada bagian saran akan dikemukakan saran demi

perbaikan dan pengembangan Program Beasiswa Bantuan

Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA)

Tahun 2014 Di UNTIRTA.

DAFTAR PUSTAKA

(38)

19

BAB II

DESKRIPSI TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Landasan Teori

Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang

berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan

antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan

fenomena. (Neumen dalam Sugiyono, 2009:80).

Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang

teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian

yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu

dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis

tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat 3

(tiga) variabel independen dan 1 (satu) dependen, maka kelompok teori yang perlu

dideskripsikan ada 4 (empat) kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan

dengan variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak

variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang dikemukakan.

(39)

2.1.1 Konsep Kinerja

Menurut Miner (1992) dalam Umam (2010:187), mengatakan bahwa kinerja

sebagai perluasan dari bertemunya individu dan harapan tentang apa yang seharusnya

dilakukan individu terkait dengan suatu peran dan kinerja tersebut merupakan

evaluasi terhadap berbagai kebiasaan dalam organisasi yang membutuhkan

standardisasi yang jelas.

Menurut Hadipranata (1996) dalam Umam (2010:187), kinerja merupakan

suatu yang lazim digunakan untuk memantau produktivitas kerja sumber daya

manusia, baik yang berorientasi pada produksi barang, jasa maupun pelayanan.

Demikian pula, perwujudan kinerja yang membanggakan juga sebagai imbalan

intrinsik. Hal ini akan terus berlanjut dalam bentuk kinerja berikutnya dan seterusnya.

Agar dicapai kinerja yang professional, hal-hal seperti kesukarelaan, pengembangan

diri pribadi, pengembangan kerja sama yang saling menguntungkan, serta partisipasi

seutuhnya perlu dikembangkan.

Menurut Bastian (2001:329), kinerja ( performance ) sudah menjadi kata

popular yang sangat menarik dalam pembicaraan manajemen publik. Konsep kinerja

pada dasarnya dapat dilihat dari dua segi, yaitu kinerja pegawai (per-individu) dan

kinerja organisasi. Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian

pelaksanaan tugas dalam suatu organisasi, dalam upaya mewujudkan sasaran, tujuan,

(40)

Menurut Rue dan Byars (1980:376), diartikan sebagai tingkat pencapaian

hasil atau “the degree of accomplishmen atau dengan kata lain kinerja merupakan

tingkat pencapaian tujuan organisasi”. Definisi tersebut mengandung pengertian

bahwa melalui kinerja, tingkat pencapaian organisasi dapat diketahui. Pencapaian atas

tujuan-tujuan organisasi tersebut kemudian dijadikan sebagi tolak ukur untuk menilai

baik atau buruknya kinerja organisasi.

Konsep kinerja menurut Osborne dalam Quade (1990:1), berpendapat bahwa:

“Kinerja sebagai tingkat pencapaian misi organisasi. Dapat dikatakan bahwa misi organisasi merupakan langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi (visi). Semakin banyak misi yang dilakukan, maka semakin bagus kinerja dari organisasi yang bersangkutan. Begitu juga sebaliknya, kinerja organisasi dikatakan buruk apabila hanya sedikit misi yang dilakukan oleh organisasi tersebut”.

Konsep kinerja berdasarkan Inpres RI No.7 Tahun 1999 berdasarkan Instruksi

Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja

Instansi Pemerintah, yang dalam pelaksanaannya ditindak lanjuti dengan Keputusan

Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 589/IX/6/1999 tentang Pedoman

Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, kinerja adalah

gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program atau

kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang

dalam perumusan perencanaan strategis (strategic planning) suatu organisasi.

Menurut Amstrong dan Baron (1998:15) dalam Wibowo (2011:7), kinerja

(41)

organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada ekonomi. August

W. Smith dalam suwanto dan Donni (2011:196), juga mengatakan bahwa

performance is output derives from processes, human otherwise (kinerja merupakan

hasil dari suatu proses yang dilakukan manusia).

Konsep kinerja merupakan singkatan dari “kinetika energi kerja yang

padanannya dalam bahasa inggris adalah performance. Arti kata performance

merupakan kata benda dimana salah satu artinya “thing done” (sesuatu hasil yang

telah dikerjakan). Istilah performance sering diindonesiakan sebagai perform.

Menurut The Scribner Bantam English Dictionary tahun 1979, dalam Sedarmayanti

(2010:259) kinerja berasal dari kata “to perform” yang mempunyai beberapa

pengertian:

1. To do or carry out execute, melakukan, menjalankan dan melaksanakan. 2. To discharge of fulfill as a vow, memenuhi atau menjalankan suatu kewajiban

suatu nazar.

3. To portray, as character in a play, menggambarkan suatu karakter dalam suatu permainan.

4. To render by the voice or musical instrument, menggambarkan dengan suatu alat music.

5. To execute or complete an undertaking, melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab.

6. To act a part in a play, melakukan suatu kegiatan dalam suatu permainan. 7. To perform music, memainkan/pertunjukan music.

(42)

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diartikan bahwa kinerja merupakan

sesuatu hasil yang dikerjakan oleh seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi

sesuai dengan tangggung jawab masing-masing. Secara terpisah Harmani Pasolong

dalam Irham Fahmi (2011:5), mengatakan bahwa kinerja mempunyai beberapa

elemen, yaitu:

1. Hasil kerja secara individual atau secara institusi yang berarti kinerja tersebut adalah hasil akhir yang diperoleh secara sendiri-sendiri atau kelompok.

2. Dalam melaksanakan tugas, orang atau lembaga diberikan wewenang dan tanggung jawab yang berarti orang atau lembaga diberikan hak dan kekuasaan untuk ditindaklanjuti, sehingga pekerjaannya dapat dilakukan dengan baik.

3. Pekerjaan haruslah dilakukan secara legal yang berarti dalam melaksanakan tugas individu atau lembaga saja harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

4. Pekerjaan tidaklah bertentangan dengan moral atau etika, artinya selain mengikuti aturan yang telah diteapkan tentu saja pekerjaan tersebut haruslah sesuai moral dan etika yang berlaku umum.

2.1.1.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

Menurut McMann, Nanni dalam tangkilisan (2005:179) faktor yang

mempengaruhi kinerja organisasi yaitu:

1. Menelusuri kinerja organisasi terhadap harapan pelanggan sehingga akan membawa organisasi dekat dengan pelanggannya dan membuat seluruh anggota organisasi terlibat dalam upaya memberi kepuasan kepada pelanggan.

2. Memotivasi pegawai untuk melakukan pelayanan kepada para pelanggan secara maksimal.

3. Mengidentifikasi berbagai faktor yang ada, yang secara langsung mempengaruhi hasil kinerja organisasi yang dapat dicapai.

(43)

5. Membangun kosensus bagi intervensi terencana untuk pengembangan organisasi.

Menurut Robert L. Mathis dan John G. Jackson dalam Umam (2010:189),

faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu:

1. Kemampuan 2. Motivasi

3. Dukungan yang diterima

4. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan 5. Hubungan mereka dengan organisasi.

Berdasarkan pengertian di atas, kami menarik kesimpulan bahwa kinerja

merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun

kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami

atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keinginan untuk berprestasi.

Sedangkan menurut Mangkunegara dalam Umam (2010:186), menyatakan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja, antara lain sebagai berikut:

1. Faktor kemampuan. Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri atas kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan). Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

2. Faktor motivasi. Faktor ini terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakan pegawai ke arah pencapaian tujuan kerja.

(44)

Soesilo (2000) dalam tangkilisan (2005:180-181), bahwa faktor yang

mempengaruhi kinerja organisasi yaitu:

1. Struktur organisasi sebagai hubungan internal yang berkaitan dengan fungsi yang menjalankan aktivitas organisasi.

2. Kebijakan pengelola berupa visi dan misi organisasi.

3. Sumber daya manusia yang berkaitan dengan kualitas karyawan untuk bekerja dan berkarya secara optimal.

4. System informasi manajemen yang berhubungan dengan pengelolaan data base untuk digunakan dalm mempertinggi kinerja organisasi.

5. Sarana dan prasarana yang dimiliki yang berubungan dengan penggunaan teknologi bagi penyelenggaraan organisasi pada setiap aktivitas organisasi.

Berdasarkan uraian di atas dari pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan

bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kinerja atau pencapaian kinerja yaitu,

kualitas dan kuantitas pekerjaan, sistem informasi manajemen, sarana dan prasarana

serta sumber daya manusia yang baik guna mencapai tujuan organisasi yang

diinginkan sesuai dengan ketentuan yang ada.

2.1.1.2 Manfaat penilaian kinerja

Menurut Bastian dalam tangkilisan (2005:173), manfaat dari penilaian kinerja

organisasi yaitu akan mendorong pencapaian tujuan organisasi dan akan memberikan

umpan balik untuk upaya perbaikan secara terus menerus. Berikut peranan penilaian

kinerja organisasi:

1. Memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan untuk pencapaian prestasi.

(45)

3. Memonitor dan mengevaluasi kinerja dengan perbandingan antara skema kerja dan pelaksanaannya.

4. Memberikan penghargaan maupun hukuman yang objektif atas perprestasi pelaksanaan yang telah diukur, sesuai dengan system pengukuran yang telah disepakati.

5. Menjadikannya sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki kinerja organisasi.

6. Mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi. 7. Membantu proses kegiatan organisasi.

8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan telah dilakukan secara objektif.

9. Menunjukan peningkatan yang perlu dilakukan. 10.Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.

Menurut Larry D.Stout dalam Tangkilisan (2005:174), penilaian kinerja

merupakan proses mencatat dan mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam

arah pencapaian misi melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk, jasa

ataupun suatu proses. Sedangkan menurut James B. Whitaker dalam Tangkilisan

(2005:174), bahwa penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk

meningkatkan kualitas penegmbalian keputusan dan akuntabilitas. Menurut Ihyaul

(2009:21-22), manfaat penilaian kinerja yaitu:

1. Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja manajemen.

2. Memberikan arah untuk mencapai target kinerja yang telah ditetapkan.

3. Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian kinerja dengan membandingkannya dengan target kinerja serta melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja.

4. Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan hukuman secara objektif atas pencapaian prestasti yang diukur sesuai dengan system pengukuran kinerja yang telah disepakati.

(46)

6. Membantu mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi. 7. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.

8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakkan secara objektif.

Berdasarkan uraian di atas, maka manfaat penilaian kinerja yaitu

mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi dengan baik, selain itu

mendorong pencapaian tujuan organisasi. Dengan adanya penilaian kinerja

diharapkan Pengelola Program Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik

(BBP-PPA) di UNTIRTA dapat mengidentifikasi masalah dan hambatan kinerja dari

pengelola beasiswa tersebut dalam proses pengelolaan terhadap program beasiswa

Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) agar berjalan dengan

baik.

2.1.2 Pengertian Organisasi

Organisasi merupakan suatu struktur pembagian kerja dan struktur tata

hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara

tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu. Menurut Pradjudi Armosudiro

organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara

sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk

bersama-sama mencapai tujuan tertentu.

Menurut Armosudiro (2006:12), organisasi ialah setiap bentuk persekutuan

(47)

rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana

terdapat seseorang/beberapa orang yang disebut atasan dan seorang/sekelompok

orang yang disebut dengan bawahan.” Menurut Dimock dalam Umam (2010:22),

“organization is the systematic bringing together of interdependent part to form a

unified whole through which authority, coordination and control may be exercised to

achive a given purpose”. (Organisasi adalah perpaduan secara sistematis

bagian-bagian yang saling bergantung/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat

melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang

telah ditentukan).

Menurut Robbins, S.P (1986) dalam Umam (2010:22), “organization is a conciously coordinated social units, composed of two or more people, that function on a relatively continuous basis to achieve a common goal or set of goals”. Organisasi adalah suatu system yang terdiri dari pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.

Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek

seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi

sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik

adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya,

karena memberikan kontribusi seperti pengambilan sumber daya manusia dalam

(48)

2.1.2.1 Prinsip-Prinsip Organisasi

Menurut A.M. Williams dalam bukunya “Organization of Canadian

Governtment Administration” (1965)dalam Umam (2010:24-26), yang menyebutkan

bahwa prinsip-prinsip organisasi meliputi hal berikut:

1) Organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas

Organisasi dibentuk atas dasar adanya tujuan yang ingin dicapai, dan tidak ada satu organisasi pun yang tidak memiliki tujuan.

2) Prinsip skala hierarki

Dalam suatu organisasi harus ada garis kewenangan yang jelas dari pimpinan, pembantu pimpinan sampai pelaksana, sehingga mempertegas pendelegasian wewenang dan pertanggungjawaban dan menunjang efektivitas jalannya organisasi secara keseluruhan.

3) Prinsip kesatuan perintah

Dalam hal ini, seseorang hanya menerima perintah atau bertanggung jawab kepada seorang atasan saja.

4) Prinsip pendelegasian wewenang

Seorang pemimpin mempunyai kemampuan terbatas dalam menjalankan pekerjaannya, sehingga perlu dilakukan pendelegasian wewenang kepada bawahannya. Pejabat yang diberi wewenang harus dapat menjamin tercapainya hasil yang diharapkan. Dalam pendelegasian, wewenang yang dilimpahkan meliputi wewenang dalam pengambilan keputusan, melakukan hubungan dengan orang lain dan mengadakan tindakan tanpa minta persetujuan lebih dahulu kepada atasannya lagi.

5) Prinsip pertanggungjawaban

Dalam menjalankan tugasnya, setiap pegawai harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada atasan.

6) Prinsip pembagian pekerjaan

Suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya melaukn berbagai aktivitas atau kegiatan. Agar kegiatan tersebut berjalan optimal. Dilakukan pembagian tugas/pekerjaan yang didasarkan pada kemampuan dan keahlian masing-masing pegawai. Adanya kejelasan dalam pembagian tugas akan memperjelas dalam pendelegasian wewenang, pertanggung jawaban, serta menunjang efektivitas jalannya organisasi.

7) Prinsip rentang pengendalian

(49)

dengan bentuk dan tipe organisasi. Semakin besar suatu organisasi dengan jumlah pegawai yang cukup banyak, semakin kompleks rentang pengendaliannya.

8) Prinsip fungsional

Seorang pegawai, dalam suatu organisasi secara fungsional, harus jelas tugas dan wewenangnya, kegiatannya, hubungan kerja serta tanggung jawab dari pekerjaannya.

9) Prinsip pemisahan

Beban tugas pekerjaan seseorang tidak dapat dibebankan kepada orang lain. 10)Prinsip keseimbangan

Keseimbangan antara struktur organisasi yang efektif dengan tujuan organisasi. Dalam hal ini, penyusunan struktur organisasi harus sesuai dengan tujuan dari organisasi tersebut. Tujuan organisasi tersebut akan diwujudkan melalui aktivitas/kegiatan yang akan dilakukan.

11)Prinsip fleksibilitas

Organisasi harus senantiasa melakukan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan dinamika organisasi sendiri (internal factor) dan karena adanya pengaruh di luar organisasi (external factor), sehingga organisasi mampu menjalankan fungsi dalam mencapai tujuannya.

12)Prinsip kepemimpinan

Dalam organisasi apapun bentuknyadiperlukan kepemimpin, atau dengan kata lain organisasi mampu menjalankan aktivitasnya karena adanya proses kepemimpinan yang digerakkan oleh pemimpin organisasi tersebut.

2.1.3 Pengertian Kinerja Organisasi

Kinerja organisasi merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai

dan mencerminkan keberhasilan suatu organisasi, serta merupakan hasil yang dicapai

dari anggota organisasi. Kinerja bisa juga dikatakan sebagai sebuah hasil (output) dari

suatu proses tertentu yang dilakukan oleh seluruh komponen organisasi terhadap

sumber-sumber tertentu yang digunakan (input). Kinerja juga merupakan hasil dari

serangkaian proses kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu

(50)

Menurut Surjadi (2009:7), kinerja organisasi adalah totalitas hasil kerja yang

dicapai suatu organisasi tercapainya tujuan organisasi berarti bahwa, kinerja suatu

organisasi itu dapat dilihat dari tingkatan sejauh mana organisasi dapat mencapai

tujuan yang didasarkan pada tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Menurut

Nawawi (2013:243-244), ada beberapa jenis indikator kinerja yang sering digunakan

dalam pelaksanaan pengukuran kinerja organisasi, yaitu: indikator masukan (input),

indikator proses (process),indikator keluaran (output), indikator hasil (outcome),

indikator manfaat (benefit) dan indikator dampak (impact).

1. Indikator masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar

pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran.

Indikator ini dapat berupa dana, sumber daya manusia, informasi,

kebijakan/peraturan perundang-undangan dan sebagainya.

2. Indikator proses adalah segala besaran yang menunjukkan upaya yang

dilakukan dalam rangka mengolah masukan menjadi keluaran. Indikator

proses menggambarkan perkembangan atau aktivitas yang terjadi atau

dilakukan selama pelaksanaan kegiatan berlangsung, khususnya dalam

proses mengolah masukan menjadi keluaran.

3. Indikator keluaran adalah sesuatu yang diharapkan lansgung dicapai dan

sesuatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan/atau nonfisik,

4. Indikator hasil adalah segala sesuau yang mencerminkan berfunsginya

(51)

5. Indikator manfaat adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari

pelaksanaan kegiatan.

6. Indikator dampak adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun

negatif pada setiap tingktan indikator berdasarkan asumsi yang telah

ditetapkan.

2.1.4 Definisi Pengelolaan

Kata “pengelolaan” dapat disamakan dengan manajemen, yang berarti pula

pengaturan atau pengurusan (Suharsimi Arikunto, 1933:31). Banyak orang yang

mengartikan manajemen sebagai pengaturan, pengelolaan, pengadministrasian, dan

memang itulah pengertian yang populer saat ini. Pengelolaan diartikan sebagai suatu

rangakian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk

melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu.

Handoko menyatakan bahwa, “Manajemen merupakan proses perencanan,

pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi

dan pengguna sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang

telah ditetapkan”. Stoner menekankan bahwa, manajemen dititik beratkan pada proses

dan sistem. Oleh karena itu, apabila dalam sistem dan proses perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan, penganggaran, dan sistem pengawasan tidak baik,

proses manajemen secara keseluruhan tidak lancar sehingga proses pencapaian tujuan

(52)

Menurut Andrew F.Sikula dalam Hasibuan (2007:2), “Management is general refers to planning, organizing, controlling, staffing, leading, motivating, communicating and decision making activities performed by any organization in order to coordinate the varied resources of the enterprise so as to bring an efficient creation of some product or service”. (manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien.

Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel dalam Hasibuan (2007:3), “Management is getting things done through people. In bringing about this coordinating of group activity, the manager, as a manager plans, organizes, staffs, direct and control the activities other people”. (manajemen adalah usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dengan demikian manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.

Sedangkan menurut Terry dalam Hasibuan (2007:2), management is a distinct process consisting of plsnning, organizing, actuating and controlling performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources”. Manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.

Menurut Luther Gulick manajemen didefinisikan sebagai suatu bidang ilmu

pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa

dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem

(53)

(manajemen personalia dan sumber daya manusia: 1985) menunjukan bahwa para

manajer menggunakan semua sumber daya organisasi-keuangan, peralatan dan

informasi seperti halnya orang dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Orang (atau sumber daya manusia) adalah sumber daya terpenting bagi setiap

organisasi.

2.1.4.1 Fungsi Manajemen

Menurut Terry (2008:17), manajemen dalam sebuah organisasi pada dasarnya

dimaksudkan sebagai suatu proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan

organisasi melalui pelaksanaan empat fungsi dasar: planning, organizing, actuating

dan controlling dalam penggunaan suberdaya organisasi.

1) Planning (perencanaan)

Planning ialah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh

kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Planning mencakup

kegiatan pengambilan keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan

visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan

tindakan untuk masa mendatang. Menurut Hasibuan (2007:40), perencanaan

adalah proses penentuan tujuan dan pedoman pelaksanaan dengan memilih

(54)

menurut Harold Koontz and Cyril O’Donnel dalam Hasibuan (2007:40),

adalah :

“planning is the function of a manager which the selection from alternatives of objectives policies, procedures and programs”. (Perencanaan adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan memilih tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan program-program dari alternatif-alternatif yang ada).

2) Organizing (Pengorganisasian)

Organizing yaitu proses pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk

mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada

seorang manajer. Tujuan pengorganisasi adalah mencapai usaha

dengan cara menerapkan tugas dan hubungan wewenang.

Pengorganisasian fungsi manajemen dapat dilihat terdiri dari tiga

aktivitas berurutan, seperti membagi-bagi tugas menjadi pekerjaan

yang lebih sempit (spesialisasi pekerjaan), menggabungkan pekerjaan

untuk membentuk departemen (departementalisasi) dan

mendelegasikan wewenang.

Hasibuan (2007:40) mendefinisikan bahwa pengorganisasian yaitu:

(55)

Sedangkan menurut G. R. terry dalam Hasibuan (2007:40) adalah:

“organizing is the establishing of effective behavioral relationship among persons so that they may work together efficiently and again personal satisfactions for the purpose of achieving some goal or objective”. (Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien dan dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran).

3) Actuating (Pelaksanaan)

Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota

kelompok sedemikian rupa, hingga berkeinginan dan berusaha untuk

mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama. Dalam pembahasan

fungsi actuating, aspek kepemimpinan merupakan salah satu aspek yang

sangat penting. Sehingga definisi fungsi actuating selalu dimulai dan

dinilai cukup hanya dengan mendefinisikan kepemimpinan itu sendiri.

Artinya seorang pemimpin itu bertugas untuk memotivasi, mendorong dan

memberi keyakinan kepada orang yang dipimpinnya dalam suatu entitas

atau kelompok, baik itu individu sebagai entitas terkecil sebuah komunitas

ataupun hingga skala besar, untuk mencapai tujuan sesuai dengan kapasitas

kemampuan yang dimiliki. Pemimpin juga harus dapat memfasilitasi

anggotanya dalam mencapai tujuannya. Ketika pemimpin telah berhasil

(56)

dianalogikan bahwa ia telah berhasil menggerakkan organisasinya dalam

arah yang sama tanpa paksaan.

Hasibuan (2007:41) mendefinisikan pengarahan adalah

mengarahkan semua bawahan agar mau bekerja sama dan bekerja efektif

untuk mencapai tujuan. Sedangkan pengarahan menurut G. R. Terry

adalah:

actuating is setting all members of the group to want to achieve and to strike to achieve the objective willingly and keeping with the managerial planning and organizing efforts”. (pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok agar mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian).

4) Controlling (Pegendalian)

Controlling mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah

kegiatan-kegiatan dilaksanakan sesuai rencana. Di aktualisasikan dengan

pelaksanaan kegiatan evaluasi. Sehingga penyimpangan-penyimpangan yang

terjadi dapat diperbaiki agar tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Pengendalian menurut Earl P.Strong dalam Hasibuan (2007:41) adalah:

(57)

Menurut Harold Koontz dalam Hasibuan (2007:41) adalah:

“control is th measurement and correcting of the performance of subordinates in order to make sure that enterprise objectives and the plans devised to attain then are accomplished”. (Pengendalian adalah pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan dapat terselenggara).

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu berfungsi sebagai pendukung untuk melakukan penelitian

serta menjadi acuan dan pedoman bagi peneliti, dan peneliti menemukan jurnal

ilmiah yang serupa dengan judul peneliti. Sebagaimana dengan penelitian yang

dilakukan oleh Amala Nursyaamsi (2014) dengan judul skripsi : Manajemen Program

Beasiswa Bidik Misi (Studi Kasus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa).

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa masalah yang ditemukan

dilapangan antara lain seperti, penetapan penerima beasiswa Bidik Misi yang tidak

tepat sasaran, misalnya adanya mahasiswa penerima Bidik Misi yang berasal dari

kalangan menengah ke atas, keterlambatan penyaluran dana beasiswa dalam batasan

waktu yang tidak bias ditentukan dan dipastikan, adanya mahasiswa Bidik Misi

pengganti yang tidak menerima hak living cost sepenuhnya, banyaknya penerima

Bidik Misi yang tidak lulus tepat waktu dan kurang berfungsinya peran pembinaan

(58)

UNTIRTA. Skripsi dengan judul Manajemen program beasiswa bidik misi (studi

kasus di UNTIRTA) ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan indicator

dalam teori manajemen George R Terry (2008:17) yaitu Planning, Organizing,

Actuating dan Controlling.

Peneliti terdahulu selanjutnya adalah sebagaimana yang dilakukan oleh

Khadijah (2011) dengan judul skripsi: Pengembangan Sistem Informasi Seleksi

Beasiswa Unggulan P3SWOT Kemdiknas Online menggunakan Unified Proccess, di

Universitas Diponegoro.

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa rumusan masalah yang

ditemukan dilapangan adalah, bagaimana mengembangkan Sistem Informasi Seleksi

Beasiswa Unggulan P3SWOT Kemdiknas Online menggunakan Unified Proccess?.

Skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teori Sistem Informasi.

2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian

Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori

hubungan antara berbagai faktor yang telah didefinisikan sebagai masalah yang

penting. Berdasarkan judul penelitian, maka kerangka dalam penelitian ini membahas

mengenai kinerja pengelolaan program Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi

(59)

yang terdapat pada latar belakang masalah, yaitu: (1) Tidak tepat sasaran pada

penerima Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA)

tahun 2014 di Untirta; (2) Kurang selektifnya para pengelola dalam memilih calon

mahasiswa yang berhak mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan

Prestasi Akademik (BBP-PPA); (3) Kurang tegasnya para pengelola Bantuan Biaya

Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA) dalam penentuan pemberian

beasiswa tersebut; (4) Banyaknya mahasiswa yang manipulasi data diri untuk

mendapatkan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik

(BBP-PPA); (5) Tidak tepatnya waktu dalam pemberian Bantuan Biaya Pendidikan

Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA).

Untuk mengukur bagaimana Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi

Akademik (BBP-PPA) tahun 2014 di Untirta, peneliti menggunakan teori kinerja

organisasi menurut Nawawi (2013: 243-244), yaitu terbagi menjadi 6 indikator yang

terdiri dari Indikator masukan (Input), Indikator proses (Process), Indikator keluaran

(Output), Indikator hasil (Outcome), Indikator manfaat (Benefit) dan Indikator

dampak (Impact).

Maka untuk mempermudah memahami alur berfikir, peneliti menggambarkan

Gambar

Tabel 1.1
Table 1.2
Tabel 1.3
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir
+7

Referensi

Dokumen terkait

In this article, the process of developing online courses and organizing teaching for the General Informatics subject for first-year students at the Hue

Monokromator merupakan alat untuk memisahkan dan memilih spektrum sesuai dengan panjang gelombang yang digunakan dalam analisis dari sekian banyak spektrum yang dihasilkan

[r]

Bagi rekanan yang merasa kurang sependapat dengan hasil pengumuman ini, dapat mengajukan sanggahan pada masa sanggah ( 5 hari Kerja ) terhitung sejak dikeluarkan Pengumuman

Pada hari ini, Kamis tanggal Sembilan Belas bulan Juli tahun Dua Ribu Dua Belas,.. kami Kelompok Kerja Konstruksi IV Unit Layanan Pengadaan Barang / Jasa

These games are harmlessly enjoyed regularly by millions of Americans everyday, but some people become addicted to these games so the government is telling all of its citizens that

Sehubungan dengan Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi pada LPSE Kabupaten Deli Serdang untuk Paket Pekerjaan Jasa Konsultansi Pengawasan Jasa Konstruksi Rehabilitasi

- Tidak dalam pengawasan pengadilan, dalam proses penyelidikan kebangkrutan, bisnisnya tidak dalam pembatasanpengadilan atau sedang menunggu keputusan sidang -