LEMBARAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 38 TAHUN 2001 SERI B NOMOR 25 PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 38 TAHUN 2001 TENTANG

Teks penuh

(1)

LEMBARAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 38 TAHUN 2001 SERI B NOMOR 25

PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 38 TAHUN 2001

TENTANG

RETRIBUSI PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA PALU,

Menimbang : a. bahwa dengan adanya kebijakan Pemerintah dalam pelaksanaan Otonomi Daerah, dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada Daerah, serta dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya yang ada di Daerah;

b. bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan, kebakaran, peledakan dan penyakit akibat pekerjaan di tempat kerja perlu dilakukan pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja yang merupakan salah satu kewenangan Daerah Kota / Kabupaten di bidang ketenagakerjaan;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b perlu ditetapkan Peraturan Daerah Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja;

Mengingat : 1. Undang–Undang (Stoom Ordonantie/Verordening ) Stoom Ordonantie 1930 atau dengan kata dalam Bahasa Indonesia Undang–Undang Uap Tahun 1930 (Stb Tahun 1930 Nomor 225);

2. Peraturan Uap (Stoom Verordening) Stoom Verordening 1930 atau dengan kata dalam Bahasa Indonesia Peraturan Uap Tahun 1930; 3. Undang–Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan–ketentuan

Pokok Mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2912);

4. Undang–Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918);

(2)

5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

6. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1994 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Palu (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3555);

7. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685);

8. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

9. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 10. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara

Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851);

11. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1973 tentang Pengaturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3003);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3692);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

16. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden ;

(3)

17. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Palu Nomor 23 Tahun 1998 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Palu.

Dengan persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALU MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALU TENTANG RETRIBUSI PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kota Palu ;

2. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan eksekutif Daerah ;

3. Pemerintahan Daerah adalah Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut azas Desentralisasi;

4. Kepala Daerah adalah Walikota Palu ;

5. Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang Retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang - undangan yang berlaku;

6. Kas Daerah adalah Kas Daerah Kota Palu ;

7. Bendaharawan Khusus Penerima adalah Bendaharawan Khusus Penerima pada Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Palu ;

8. Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan ; 9. Retribusi Jasa Umum adalah yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan;

10. Retribusi Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disebut retrubusi adalah pembayaran atas jasa pengawasan yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah;

(4)

11. Pengawasan adalah kegiatan pemeriksaan dan / atau pengujian secara langsung yang dilakukan oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan terhadap syarat – syarat keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan Peraturan Perundang – undangan yang berlaku;

12. Pemeriksaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan dan / atau ahli keselamatan dan kesehatan kerja di Perusahaan untuk melihat dan mendengar guna memperoleh data tentang keadaan tempat kerja, tenaga kerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja;

13. Pengujian adalah kegiatan penilaian terhadap obyek pengawasan yang bersifat teknis dan mempunyai resiko bahaya dengan cara memberikan beban atau dengan teknik pengujian lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

14. Pemeriksaan dan / atau pengujian pertama adalah pemeriksaan dan / atau pengujian terhadap obyek pengawasan yang baru atau yang belum pernah diperiksa;

15. Pemeriksaan Berkala dan / atau pengujian berkala adalah pemeriksaan dan / atau pengujian yang dilakukan secara periodik untuk mengetahui dipenuhinya syarat keselamatan dan kesehatan kerja sesuai ketentuan yang berlaku;

16. Pemeriksaan dan / atau pengujian ulang adalah pemeriksaan dan / atau pengujian kembali oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan atau ahli keselamatan dan kesehatan kerja yang lebih senior atas permintaan pengusaha;

17. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan adalah pengawas teknis berkeahlian khusus dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang telah memperoleh penunjukan dari pejabat yang berwenang;

18. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Dinas Pendaftaran Penduduk, Catatan Sipil dan Tenaga Kerja Kota Palu yang telah memperoleh penunjukan dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengawasi ditaatinya Undang – undang tentang Keselamatan Kerja;

19. Pengusaha adalah :

a. Orang, persekutuan atau badan yang secara sendiri menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;

b. Orang, persekutuan atau badan yang secara sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;

c. Orang, persekutuan atau badan yang berada di Indonesia sebagaimana disebut pada huruf a dan b yang berkedudukan di luar Wilayah Indonesia;

20. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang memperkerjakan tenaga kerja dengan tujuan mencari untung atau tidak baik milik swasta maupun milik Negara;

21. Tempat Kerja adalah setiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber – sumber bahaya;

(5)

22. Tempat kerja untuk setiap Bangunan adalah setiap ruangan dalam tiap–tiap bangunan dimana tenaga kerja bekerja atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dimana terdapat sumber–sumber bahaya;

23. Mesin, Pesawat, Instalasi dan Bahan adalah peralatan – peralatan dan bahan yang digunakan dalam dunia usaha yang merupakan sebagian sarana teknologi sebagai perintis pertumbuhan industri;

24. Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpun data objek dan subjek retribusi, penentuan besarnya retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan retribusi kepada Wajib Retribusi serta pengawasan penyetorannya;

25. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan ;

26. Surat Setoran Retribusi Daerah,yang dapat disingkat SSRD, adalah surat yang oleh wajib Retribusi digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran retribusi yang terutang ke Kas Daerah atau ke tempat pembayaran lain yang ditetapkan oleh Kepala Daerah;

27. Surat ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang ;

28. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah untuk melakukan tagihan Retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda ;

29. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi Daerah berdasarkan Peraturan Perundang – undangan Retribusi ;

30. Penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik untuk mencari serta mengumpukan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana dibidang Retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 2

Dengan nama retribusi pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja dipungut retribusi atas jasa pengawasan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk mencegah terjadinya kecelakaan, kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja.

(6)

Pasal 3

(1) Obyek retribusi adalah pemberian pelayanan jasa pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja yang meliputi tempat kerja, mesin–mesin, pesawat–pesawat, instalasi–instalasi dan bahan–bahan berbahaya termasuk gambar rencana;

(2) Dikecualikan dari obyek retribusi keselamatan dan kesehatan kerja adalah perusahaan yang bergerak dibidang sosial.

Pasal 4

Subyek retribusi adalah pengusaha atau perusahaan yang memperoleh jasa pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja.

BAB III

JENIS- JENIS PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Pasal 5

(1) Pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja untuk tempat kerja sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 meliputi pemeriksaan dan pengujian pertama, berkala dan ulang terhadap suhu kerja, kebisingan, kelembaban, cahaya penerangan, debu, sanitasi, kantin atau sarana keselamatan dan kesehatan kerja;

(2) Pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja untuk mesin–mesin, pesawat– pesawat, instalasi–instalasi dan bahan–bahan berbahaya sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 meliputi pemeriksaan dan pengujian pertama, berkala dan ulang terhadap ketel (uap, air panas, minyak, listrik), bejana uap, pemanas air, super heater dan ekonomiser yang berdiri sendiri, bejana tekan, instalasi pemipaan, dapur atau tanur, pesawat pembangkit gas karbit, pembangkit listrik atau generator, lokomotif, jalan rel industri, konveyor, escalator, mesin perkakas, mesin produksi, pesawat angkat (crane), gondola, forklift, sky lift, perancah, tangki apung, instalasi listrik, instalasi alarm kebakaran otomotic, instalasi springkler, instalasi pemadam otomatic, instalasi pemancar radio, instalasi menara kontrol, instalasi elektromedic, pesawat penerima gelombang elektronik, instalasi penyalur petir, lift, kipas tekanan udara, instalasi pengolah limbah, instalasi radiasi dan bahan kimia berbahaya;

(3) Pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja untuk gambar rencana sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 meliputi gambar rencana pembuatan / perakitan atau reparasi atau modifikasi dari ketel (uap, air panas, minyak, listrik) bejana uap, pemanas air, super heater dan ekonomiser yang berdiri sendiri, bejana tekan, instalasi pemipaan, dapur atau tanur, pesawat pembangkit gas karbit, pembangkit listrik atau generator, lokomotif, jalan rel industri, konveyor, escalator, mesin perkakas, mesin produksi, pesawat angkat (crane), gondola, forklift, sky lift, perancah, tangki apung, instalasi listrik, instalasi alarm kebakaran otomatic, instalasi pemadam kebakaran, alat pemadam api ringan, instalasi hydrant, instalasi springkler, instalasi pemadam kebakaran, alat pemadam api ringan, instalasi

(7)

pemancar radio, instalasi menara kontrol, instalasi elektromedic, pesawat penerima gelombang elektronik, instalasi penyalur petir, lift, kipas tekanan udara, instalasi pengolah limbah, instalasi radiasi dan bahan kimia berbahaya.

BAB IV

GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 6

Retribusi pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja digolongkan sebagai retribusi jasa umum.

BAB V

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 7

(1) Tingkat penggunaan jasa pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja untuk tempat kerja berdasarkan luas lantai per meter persegi perbangunan;

(2) Tingkat penggunaan jasa pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja untuk mesin–mesin, pesawat–pesawat, instalasi–instalasi dan bahan–bahan berbahaya diatur dengan Keputusan Kepala Daerah;

(3) Tingkat penggunaan jasa pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja untuk gambar rencana dihitung menurut per satuan permohonan.

BAB VI

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN, STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI

Pasal 8

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi dimaksudkan untuk biaya penyelenggaraan pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja;

(2) Biaya penyelenggaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan label, biaya pengujian dan pemeriksaan biaya operasional, dalam rangka pengawasan dan pengendalian.

(8)

BAB VII

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 9

(1) Struktur dan besarnya tarif digolongkan berdasarkan jenis obyek pengawasan yang terdiri atas tempat kerja, mesin–mesin, pesawat–pesawat, instalasi–instalasi dan bahan–bahan berbahaya, klasifikasi, gambar rencana dan pemeriksaan dan pengujian;

(2) Struktur dan besarnya tarif ditetapkan sebagaimana tercantum pada lampiran Peraturan Daerah ini.

Pasal 10

(1) Untuk pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja baik terhadap pemeriksaan dan / atau pengujian berkala atau ulang dikenakan retribusi sebesar 75% dari tarif pemeriksaan dan / atau pengujian pertama yang disesuaikan dengan kondisi hasil pemeriksaan / pengujian yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan / pengujian;

(2) Pengawasan terhadap obyek pengawasan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dan Pasal 5 tetap berlangsung selama pengusaha atau perusahaan tidak melaporkan penghentian atau penutupan obyek pengawasan.

BAB VIII

WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 11

Retribusi yang terutang dipungut di wilayah Daerah.

BAB IX

MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 12

Masa Retribusi Jangka Waktu tertentu yang lamanya ditetapkan oleh Kepala Daerah sebagai dasar untuk menghitung besarnya Retribusi.

(9)

Pasal 13

Saat Retribusi Terutang adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB X

TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 14

(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SSRD atau dokumen lain yang dipersamakan;

(2) Hasil pungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9, pada lampiran Peraturan Daerah ini disetor ke Kas Daerah melalui Bendaharawan Khusus Penerima.

BAB XI

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 15

(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus;

(2) Retribusi yang terutang dilunasi selambat–lambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan;

(3) Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran retribusi diatur dengan Keputusan Kepala Daerah.

BAB XII

SANKSI ADMINISTRASI Pasal 16

Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua Persen) setiap bulan kelambatan dari retribusi yang terutang atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.

(10)

BAB XIII

TATA CARA PENAGIHAN RETRIBUSI Pasal 17

(1) Surat teguran / surat peringatan / surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan Retribusi dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran;

(2) Sejak jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran / surat peringatan / surat lain yang sejenis disampaikan, wajib retribusi harus melunasi retribusi yang terutang;

(3) Surat teguran / surat peringatan / surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikeluarkan oleh Pejabat yang ditunjuk.

BAB XIV

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 18

(1) Kepala Daerah berdasarkan permohonan wajib retribusi dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi;

(2) Tata cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BAB XV

KADALUWARSA PENAGIHAN Pasal 19

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila wajib retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi;

(2) Kadaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila :

a. Diterbitkan Surat Teguran; atau

b. Ada pengakuan utang retribusi dari wajib retribusi baik langsung maupun tidak langsung.

(11)

BAB XVI PENGAWASAN

Pasal 20

Pengawasan untuk pelaksanaan Peraturan Daerah ini dilakukan oleh Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk.

BAB XVII KETENTUAN PIDANA

Pasal 21

(1) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak–banyaknya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) dan atau sesuai Peraturan Perundang–undangan yang berlaku;

(2) Tindak pidana yang dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.

BAB XVIII PENYIDIKAN

Pasal 22

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang–undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana, dibidang Retribusi Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas ;

b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi Daerah;

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah;

(12)

d. Memeriksa buku–buku, catatan–catatan dan dokumen–dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen–dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut ;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah;

g. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e ; h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi Daerah ;

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi ;

j. Menghentikan penyidikan ;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini memberi tahukan dimulainya

penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang–undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.

BAB XIX

KETENTUAN PENUTUP Pasal 23

Hal–hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah.

Pasal 24

(13)

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palu.

Disahkan di Palu

pada tanggal 26 September 2001 WALIKOTA PALU,

Ttd

H. BASO LAMAKARATE Diundangkan di Palu

pada tanggal 26 September 2001 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALU

Ttd

Ir. MAULIDIN LABALO, S.Sos, M.Si PEMBINA UTAMA MUDA

NIP. 010 110 453

LEMBARAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 38 TAHUN 2001 SERI B NOMOR 25 Disalin sesuai dengan aslinya

KEPALA BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH KOTA PALU

Ttd

R. NOLLY MUA, SH PEMBINA NIP. 570 006 277

(14)

PENJELASAN

PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 38 TAHUN 2001

TENTANG

RETRIBUSI PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

I. PENJELASAN UMUM

Dengan berlakunya Undang–undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang–undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, maka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada Daerah dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya yang ada di Daerah.

Peraturan Daerah ini dimaksudkan untuk menggali / menambah sumber– sumber pendapatan asli Daerah guna peningkatan pembangunan pada umumnya dan pada khususnya pembangunan di Daerah Kota Palu sebagaimana dimaksud dalam Undang–undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang– undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 18 Undang–undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang–undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka Daerah dapat menetapkan jenis Retribusi Daerah sesuai kewenangan Daerah Otonom dengan memperhatikan kriteria yang ada.

Bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan, kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja di tempat kerja perlu dilakukan pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 maka kewenangan pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu kewenangan Daerah Kota / Kabupaten di bidang ketenagakerjaan.

Berdasarkan hal–hal yang diuraikan diatas maka dipandang perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

II. PASAL DEMI PASAL

(15)

LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR : 38 TAHUN 2001

TANGGAL : 26 SEPTEMBER 2001

TENTANG : RETRIBUSI PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF

TARIF

No PENGAWASAN JENIS OBYEK KLASIFIKASI RENCANA GAMBAR

(Rp)

PERTAMA

(Rp) BERKALA (Rp)

1 2 3 4 5 6

A TEMPAT KERJA UNTUK TIAP Dengan luas lantai

BANGUNAN a. 01 s/d 500 m2 25.000 18.750 b. 501 s/d 2000 m2 50.000 37.500 c. 2001 s/d 5000 m2 75.000 56.250 d. 5001 s/d 10.000 m2 100.000 75.000 e. 10.001 s/d 20.000 m2 125.000 93.750 f. Diatas 20.000 m2 150.000 112.500

B MESIN, PESAWAT, INTALASI

DAN BAHAN BERBAHAYA

1 Dengan Ketel uap, air panas minyak luas pemanasan 200.000

untuk setiap ketel a. 01 s/d 50 m2 300.000 225.000

b. 51 s/d 100 m2 500.000 375.000

c. 101 s/d 500 m2 700.000 525.000

d. 501 s/d 1000 m2 900.000 675.000

e. Diatas 1000 m2 1.100.000 825.000

2 Ketel listrik Dengan kapasitas 200.000

a. 01 s/d 2.5 ton uap/jam 250.000 187.500

b. 2.6 s/d 5 ton uap/jam 350.000 262.500

c. 5.1 s/d 25 ton uap/jam 450.000 337.500

d. Diatas 25 ton uap/jam 550.000 412.500

3 Dengan luas pemanasan 200.000

a. 01 s/d 20 m2 60.000 45.000

Bejana uap/ pemanas air atau ekonomizer yang

berdiri sendiri / penguap b. 21 s/d 50 m2 100.000 75.000

c. 51 s/d 100 m2 150.000 112.500

d. 101 s/d 500 m2 250.000 187.500

e. Diatas 500 m2 400.000 300.000

Atau dengan Volume

a. 01 s/d 1000 liter 50.000 37.500

b. 1001 s/d 10.000 liter 100.000 75.000

c. 10.001 s/d 50.000 ltr 150.000 112.500

d. Diatas 50.000 liter 300.000 225.000

4 Dengan Pengering uap (super heater) luas pemanasan 100.000

yang berdiri sendiri a. 01 s/d 50 m2 100.000 75.000

b. 51 s/d 100 m2 150.000 112.500

c. 101 s/d 500 m2 250.000 187.500

d. Diatas 500 m2 400.000 300.000

5 a. Botol baja Dengan Unit 50.000

a. 01 s/d 10 unit 20.000 15.000 b. 11 s/d 100 unit 80.000 60.000 c. 101 s/d 500 unit 150.000 112.500 d. 501 s/d 1000 unit 200.000 150.000 e. Diatas 1000 unit 300.000 225.000

(16)

1 2 3 4 5 6

b. Bejana transport Per unit 50.000 50.000 37.500

c. Bejana stasioner Per unit 50.000 37.500

d. Bejana pendingin Per unit 100.000 75.000

6 Instalasi pemipaan Jaringan Pemipaan 50.000

a. Jaringan pipa uap 50.000 37.500

b. Jaringan pipa minyak 50.000 37.500

c. Jaringan pipa air 50.000 37.500

d. Jaringan pipa gas 50.000 37.500

7 Dapur atau tanur Dengan Kapasitas

a. 01 s/d 25 ton 60.000 45.000

b. 26 s/d 100 ton 100.000 75.000

c. 101 s/d 200 ton 150.000 112.500

d. Diatas 200 ton 200.000 150.000

8 Pesawat pembangkit gas Dengan kapasitas pengisian 50.000

Karbit a. 01 s/d 10 kg 20.000 15.000 b. 11 s/d 50 kg 30.000 22.500 c. 51 s/d 100 kg 50.000 37.500 d. Diatas 100 kg 80.000 60.000 9 Dengan Daya 100.000 a. 01 s/d 100 pk 60.000 45.000 b. 101 s/d 500 pk 100.000 75.000 Pesawat pembangkit listrik(generator) yg digerakkan Tubin (uap,

air, atau motor Diesel) c. 501 s/d 1000 pk 150.000 112.500

d. 1001 s/d 10.000 pk 250.000 187.500

e. Diatas 10.000 pk 400.000 300.000

10 Lokomotif yg digerakkan Dengan satuan unit 100.000 80.000 60.000

Mesin uapatau Motor Diesel

11 Jalan/Jaringan rel industri Dengan panjang 100.000

a. 01 s/d 2 km 60.000 45.000

b. 3 s/d 5 km 100.000 75.000

c. Diatas 5 km 150.000 112.500

12 Konveyor Dengan kapasitas 100.000

a. 01 s/d 25 kg/jam 40.000 30.000

b. 26 s/d 50 kg/jam 60.000 45.000

c. Diatas 50 kg/jam 80.000 60.000

13 Escalator Per unit 50.000 100.000 75.000

14 a. Mesin perkakas/mesin Dengan kapasitas 50.000

Produksi yg digerakkan Motor listrik / motor

bensin/ motor diesel / motor gas untuk setiap PK

a. 01 s/d 6 pk b. 7 s/d 20 pk c. 21 s/d 50 pk d. 51 s/d 100 pk e. Diatas 100 pk 20.000 30.000 50.000 80.000 120.000 15.000 22.500 37.500 60.000 90.000 Dengan kapasitas 50.000 a. 01 s/d 6 ton 20.000 15.000 b. 7 s/d 20 ton 30.000 22.500

b. Mesin perkakas / mesin Produksi yg digerakkan Dengan hidraulik

(pneumatik) c. 21 s/d 50 ton 50.000 37.500

d. Diatas 50 ton 80.000 60.000

15 Perancah Dengan luas bidang 75.000

a. 01 s/d 5000 m2 50.000 37.500

b. 5001 s/d 10.000 m2 80.000 60.000

(17)

1 2 3 4 5 6

16 Pesawat angkat (crane) Dengan kapasitas 100.000

a. 01 s/d 5 ton 40.000 30.000 b. 6 s/d 10 ton 80.000 60.000 c. 11 s/d 30 ton 100.000 75.000 d. 31 s/d 50 ton 120.000 90.000 e. 51 s/d 100 ton 150.000 112.000 f. 101 s/d 500 ton 180.000 135.000 g. Diatas 500 ton 220.000 165.000

17 Gondola Per unit 50.000 100.000 75.000

18 Forklift Dengan kapasitas 100.000

a. 01 s/d 5 ton 40.000 30.000

b. 6 s/d 10 ton 50.000 37.500

c. 11 s/d 30 ton 80.000 60.000

d. 31 s/d 50 ton 120.000 90.000

e. Diatas 50 ton 160.000 120.000

19 Sky-lift Per unit 50.000 75.000 56.250

20 Tangki apung Dengan kapasitas 50.000

a. 01 s/d 10 ton 80.000 60.000

b. 11 s/d 30 ton 100.000 75.000

c. Diatas 30 ton 150.000 112.500

21 Instalasi listrik Dengan kapasitas 100.000

a. 01 s/d 100 KVA 100.000 75.000

b. 101 s/d 500 KVA 200.000 150.000

c. 501 s/d 1000 KVA 300.000 225.000

d. 1001 s/d 10.000 KVA 400.000 300.000

e. Diatas 10.000 KVA 500.000 375.000

22 Instalasi alarm kebakaran Tiap zone atau tiap 40 titik 50.000 75.000 56.250

otomatic

23 Instalasi hydrant Tiap box hydrant 50.000 20.000 15.000

(hydrant pilar)

24 Instalasi springkler Tiap pipa pembagi atau 50.000 20.000 15.000

Max. 48 titik

25 Hydri static hydrant a. Tiap springkler 20.000 15.000

b. Tiap hydrant 20.000 15.000

26 Instalasi pemadam otomatic Tiap unit 20.000 15.000

Integrotite System

27 Kipas tekanan udara Tiap unit 20.000 15.000

28 Alat Pemadam Api Ringan

(APPAR) Tiap pembuatan sample 01 s/d 200 unit 50.000 50.000 37.500

29 Instalasi pemancar radio Dengan satuan unit 50.000 100.000 75.000

30 Instalasi menara kontrol Dengan satuan unit 60.000 100.000 75.000

31 Instalasi pelayanan medis

per unit Dengan satuan unit 60.000 100.000 75.000

32 Pesawat antena penerima Dengan satuan unit 60.000 100.000 75.000

Gelombang elektronik

(18)

1 2 3 4 5 6

34 Instalasi pengolah limbah Dengan satuan unit 60.000 100.000 75.000

35 Instalasi radiasi Dengan satuan unit 60.000 100.000 75.000

36 Bahan kimia berbahaya Dengan kapasitas

a. 01 s/d 500 kg 20.000 15.000

b. 501 s/d 1000 kg 20.000 15.000

c. Diatas 1000 kg 40.000 30.000

37 Instalasi Penangkal Petir 50.000 50.000 37.500

WALIKOTA PALU, Ttd

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :