BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang mempunyai kelebihan dana (surplus of fund) dengan pihak-pihak

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pengertian Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan dimaksudkan sebagai perantara pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana (surplus of fund) dengan pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana (lack of fund), juga sebagai perantara keuangan dari transaksi yang terjadi di pasar barang tersebut. Menurut Undang-undang Perbankan No. 14 Tahun 1967 dan diperbaharui Undang-undang No. 7 tahun 1992 lembaga keuangan adalah badan yang melalui kegiatannya di bidang keuangan menarik uang dari dan menyalurkan ke dalam masyarakat.

Dalam perkembangannya, lembaga keuangan secara umum berfungsi sebagai lembaga penghimpun dan penyalur dana, pemberi informasi dan pengetahuan, pemberi jaminan, pencipta dan pemberi likuiditas. Lembaga Keuangan ini bentuknya secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu bank dan bukan bank. Termasuk bank seperti bank umum, perkreditan dan bank koperasi, termasuk non bank seperti perusahaan asuransi, pegadaian, lembaga pembiayaan dan dana pensiun.

Menurut Y. Sri Susilo dan kawan-kawan (Bank dan Lembaga Keuangan lain, 2000:61) keberhasilan suatu bank dalam memenuhi

(2)

maksud di atas (penghimpunan dan penyaluran dana) dipengaruhi oleh hal-hal berikut:

1. Kepercayaan Masyarakat

Gambaran sebuah bank secara umum di mata masyarakat sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat pada bank tersebut. Faktor yang dapat mempengaruhi gambaran sebuah bank di mata masyarakat seperti pelayanan, keadaan keuangan, berita di mass media, pengalaman masyarakat berhubungan dengan bank tersebut, dan lain-lain.

2. Perkiraan tingkat pendapatan

Perkiraan tingkat pendapatan yang akan diperoleh oleh penyimpan dana relatif terhadap pendapatan dari alternatif investasi lain dengan tingkat resiko yang seimbang.

3. Resiko penyimpanan dana

Apabila sebuah bank dapat memberikan tingkat kepastian yang tinggi atas dana masyarakat untuk untuk dapat ditarik lagi sesuai waktu yang telah dijanjikan, maka masyarakat semakin bersedia untuk menempatkan dananya di bank tersebut.

4. Pelayanan yang diberikan oleh bank

Pelayanan yang baik akan membuat penyimpan dana merasa dihargai, diperhatikan, dan dihormati sehingga merasa senang untuk terus bertransaksi keuangan dengan bank tersebut. Pelayanan ini bisa berupa

(3)

pelayanan dari petugas bank, pemberian hadiah, atau pemberian fasilitas lain.

2.1.2. Perilaku Konsumen

1. Pengertian Perilaku Konsumen

Istilah perilaku konsumen erat hubungannya dengan objek yang studinya diarahkan pada permasalahan manusia. Di bidang studi pemasaran konsep perilaku konsumen secara terus-menerus dikembangkan dengan berbagai pendekatan. Perilaku konsumen menurut Engel dkk (1994), adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk keputusan yang mendahului atau menyudahi tindakan ini.

Teori perilaku konsumen muncul tanpa memiliki konsep dasar yang secara khusus berasal dari ilmu perilaku konsumen itu sendiri. Namun teori perilaku konsumen telah mengadopsi teori dari berbagai bidang ilmu yang lain, termasuk: psikologi, ekonomi, geografi, sosiologi dan anthropologi, Mowen (1995). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa studi tentang perilaku konsumen merupakan studi yang sangat kompleks.

The American Marketing Association mendefinisikan perilaku konsumen sebagai berikut: Perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku dan lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka, (Peter

(4)

et.al, 2000 dalam Zia Muhammad, 2011), dari definisi tersebut di atas pertama bahwa perilaku konsumen itu dinamis, yang berarti bahwa seorang konsumen selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu, hal kedua dalam definisi tersebut bahwa perilaku konsumen adalah keterlibatan interaksi antara pengaruh dan kognisi, perilaku dan kejadian disekitar, ini berarti memahami konsumen dan mengembangkan strategi pemasaran yang tepat kita harus memahami apa yang mereka pikirkan (kognisi) dan mereka rasakan (pengaruh), apa yang mereka lakukan (perilaku) dan serta dimana (kejadian di sekitar) yang mempengaruhi serta dipengaruhi oleh apa yang mereka pikirkan, dirasa dan dilakukan oleh konsumen. Dan hal ketiga yang ditekankan dalam definisi perilaku konsumen adalah Pertukaran diantara individu, hal ini membuat definisi perilaku tetap konsisten dengan definisi pemasaran yang juga menekankan pertukaran.

Sedangkan menurut Salomon, 2002 dalam Zia Muhammad, 2011, Perilaku konsumen adalah suatu studi yang dalam prosesnya melibatkan pemilihan individu atau group, service atau jasa-jasa, ide, pengalaman-pengalaman untuk memuaskan kebutuhan, dan hasrat.

Menurut Mowen dan Minor (2002), Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai berikut: Studi tentang unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan barang dan jasa, pengalaman serta ide-ide. Dari definisi tersebut mengandung sejumlah konsep penting yakni Pertama;

(5)

Pertukaran, yang setiap konsumen tidak dapat menghindari dari proses pertukaran dimana setiap sumber daya ditransfer oleh kedua belah pihak. Kedua; definisi yang menggunakan istilah unit pembelian (buying units), hal ini karena pembelian dilakukan oleh kelompok maupun individu, umumnya pada pemasaran bisnis dengan bisnis (bussiness to bussiness), keputusan pembelian dibuat oleh sekelompok orang dalam pusat pembelian dan bukan oleh individu. Dan ketiga definisi tersebut juga menyatakan bahwa proses pertukaran melibatkan serangkaian langkah. Langkah yang dimulai dengan tahap perolehan (akuisisi) lalu ketahap konsumsi dan berakhir dengan tahap disposisi produk atau jasa.

Swastha (2000), mendefinisikan perilaku konsumen adalah sebagai kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa termasuk didalammya proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menyusuli suatu tindakan. Sedang Kotler, 2000 dalam Zia Muhammad, 2011, mengartikan perilaku konsumen adalah ilmu yang mempelajari bagaimana, individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli, memakai serta memanfaatkan barang, jasa, gagasan atau pengalaman memuaskan kebutuhan.

Dari definisi dan pengertian diatas maka kita dapat menyimpulkan bahwa Perilaku konsumen adalah sebuah proses dan tindakan-tindakan konsumen didalam memutuskan pilihan terhadap

(6)

suatu produk barang atau jasa di pasar akibat dari adanya stimuli atau rangsangan pemasaran.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

Setiadi (2005), menyatakan pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain adalah variabel internal (persepsi, sikap, kepribadian, gaya hidup) dan variabel eksternal (situasi, budaya, kelompok rujukan dan lain-lain). Melalui pemahaman variabel-variabel tersebut, diharapkan pemasar dapat menggunakan variabel tersebut untuk mengembangkan strategi pemasaran. Salah satu manfaat yang paling penting dalam memahami perilaku konsumen adalah pemasar dapat membuat strategi segmentasi yang jelas sehingga memungkinkan untuk menentukan pasar sasaran dan memposisikan produk dengan proses komunikasi yang baik kepada konsumen sasaran.

Proses pengambilan keputusan konsumen tidak bisa terjadi dengan sendirinya, sebaliknya masalah kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis secara kuat mempengaruhi proses keputusan tersebut. Mereka memiliki pengaruh dari waktu konsumen menerima ransangan melalui perilaku pasca pembelian. Faktor budaya yang termasuk didalamnya adalah budaya dan nilai, sub-sub budaya dan kelas sosial, secara luas mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Faktor sosial menunjukan interaksi sosial antara konsumen dan mempengaruhi sekelompok orang, seperti pada referensi kelompok,

(7)

opini para pemimpin dan para anggota keluarga. Faktor Individu (pribadi), termasuk jenis kelamin, umur, keluarga dan daur hidup keluarga (family life cycle stage), pribadi, konsep hidup dan gaya hidup adalah unik pada setiap individu dan memerankan aturan utama pada produk dan jasa yang diinginkan konsumen. Faktor psikologis menentukan bagaimana menerima dan berinteraksi dengan lingkungannya dan pengaruh pada keputusan yang diambil oleh konsumen yang didalamnya terdiri dari persepsi, motivasi, pembelajaran, keyakinan, dan sikap.

2.1.3. Pengertian Minat

Minat sebagai aspek kejiwaan bukan hanya mewarnai perilaku seseorang untuk melakukan aktifitas yang menyebabkan seseorang merasa tertarik kepada sesuatu, tetapi juga dapat dikatakan sebagai sikap subyek atas dasar adanya kebutuhan dan keingintahuan untuk memenuhi kebutuhan.

Menurut Winkel (1993:30) pengertian minat adalah kecenderungan yang menetap dan subyek untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam hal itu. Perasaan senang akan menimbulkan pula minat yang diperkuat lagi oleh sikap positif yang sama diantaranya hal-hal tersebut timbul terlebih dahulu, sukar ditentukan secara pasti.

(8)

Masih menurut Winkel (1993:31) secara urutan psikologi tergambar sebagai berikut:

Gambar 2.1 Minat

Sedangkan menurut Fisbein dalam Wantara (1997:38) minat diartikan sebagai komponen konaktif, ini berhubungan dengan komponen afektif dari sikap. Dengan kata lain minat adalah gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktifitas yang menstimulasi perasaan senang pada individu, minat akan timbul jika rangsangan yang ada menarik perhatiannya. Sehingga minat merupakan sesuatu yang sangat penting bagi seseorang sebagai suatu aspek kejiwaan. Minat bukan saja dapat mewarnai perilaku seseorang, tetapi lebih dari itu minat mendorong orang untuk melakukan kegiatan dan menyebabkan seseorang menaruh perhatian dan merelakan dirinya terikat pada suatu kegiatan.

Berdasarkan pengertian di atas maka untuk penelitian ini yang dimaksud dengan minat adalah daya tarik yang ditimbulkan oleh obyek tertentu yang membuat sesorang merasa senang dan mempunyai keinginan berkecimpung atau berhubungan dengan obyek tersebut sehingga timbul suatu keinginan.

(9)

2.1.4. Pengertian Tabungan atau Simpanan

Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan syarat tertentu yang disepakati, dan tidak dengan cek atau bilyet giro atau alat lain yag dapat dipersamakan dengan itu. Cara penarikan tabungan yang paling banyak digunakan saat ini adalah dengan buku tabungan, cash card, atau kartu ATM, dan debet card (Y. Sri Susilo dan kawan-kawan 2000:64).

Sedangkan pengertian tabungan menurut Soetanto Hadinoto (2003:158) tabungan (saving deposit) adalah simpanan yang diperuntukkan bagi perseorangan yang dapat disetor setiap saat dan dapat diambil setelah setoran pertama mengendap satu bulan di bank dengan mendapatkan bunga sesuai ketentuan.

Pengertian tabungan menurut Undang-undang perbankan nomor 10 tahun 1998 adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Oleh Koperasi yang dimaksud Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh anggota, calon anggota, koperasi-koperasi lain dan atau anggotanya kepada koperasi dalam bentuk tabungan, dan simpanan koperasi berjangka.

Sedangkan menurut Undang-undang perbankan nomor 10 tahun 1998 adalah Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat

(10)

kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk Giro, Deposito, Sertifikat Deposito, Tabungan dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.

2.1.5. Pengertian Pelayanan

Pada perusahaan jasa seperti Bank, Lembaga Keuangan, Koperasi dan perusahaan jasa lainnya pelayanan adalah merupakan kunci kesuksesan dan keberhasilan. Karena dengan pelayanan yang baik maka nasabah atau anggota akan dapat menilai dan memberikan citra yang baik kepada masyarakat umum sehingga dapat memberikan keuntungan yang optimal kepada perusahaan tersebut. Beberapa definisi pelayanan yang di kemukakan para ahli adalah sebagai berikut:

Kotler (1997) mengemukakan pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain dan pada dasarnya tidak berwujud dan tidak pula berakibat kepemilikian sesuatu dan produksinya dapat atau tidak dapat dikaitkan dengan suatu produk fisik.

Sementara Lovelock 1991, dalam Zia Muhammad 2011 “Service is a process or a performance, rather than just a thing” atau service merupakan suatu proses atau performance/kinerja bukan hanya satu hal yang terlihat secara fisik.

Sugiarto (2002:36), menyatakan pelayanan adalah “suatu tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan orang lain yang tingkat kepuasan hanya dapat dirasakan oleh yang melayani maupun yang dilayani”.

(11)

Berdasarkan dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa pelayanan adalah kemudahan-kemudahan yang diberikan sehubungan dengan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, baik berupa barang maupun jasa yang berguna bagi orang lain (masyarakat), Negara dan Instansi yang tingkat kepuasannya hanya dapat dirasakan oleh yang melayani maupun yang dilayani.

2.1.6. Pengertian Lokasi

Pemilihan lokasi mempunyai fungsi yang strategis karena dapat ikut menentukan tercapainya tujuan badan usaha. Lokasi lebih tegas berarti tempat secara fisik (Sriyadi,1991:60). Sedangkan menurut Lupiyoadi (2001:61-62) mendefinisikan lokasi adalah tempat di mana perusahaan harus bermarkas melakukan operasi. Dalam hal ini ada tiga jenis interaksi yang mempengaruhi lokasi, yaitu:

1. Konsumen mendatangi pemberi jasa (perusahaan), apabila keadaannya seperti ini maka lokasi menjadi sangat penting. Perusahaan sebaiknya memilih tempat dekat dengan konsumen sehingga mudah dijangkau dengan kata lain harus strategis.

2. Pemberi jasa mendatangi konsumen, dalam hal ini lokasi tidak terlalu penting tetapi yang harus diperhatikan adalah penyampaian jasa harus tetap berkualitas.

3. Pemberi jasa dan konsumen tidak bertemu langsung, berarti service provider dan konsumen berinteraksi melalui sarana tertentu seperti telepon, komputer, dan surat.

(12)

Pertimbangan-pertimbangan yang cermat dalam menentukan lokasi menurut Tjiptono (2000:41-42) meliputi faktor-faktor:

1. Akses, misalnya lokasi yang mudah dilalui atau mudah dijangkau sarana transportasi umum.

2. Visibilitas, misalnya lokasi dapat dilihat dengan jelas dari tepi jalan. 3. Tempat parkir yang luas dan aman.

4. Ekspansi, yaitu tersedia tempat yang cukup luas untuk perluasan usaha dikemudian hari.

5. Lingkungan, yaitu daerah sekitar yang mendukung jasa yang ditawarkan.

Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan lokasi dalam penelitian ini adalah letak yang strategis dari jangkauan anggota meliputi transportasi, lokasi pelayanan, dan jarak antara lokasi BMT dengan rumah.

2.1.7. Pandangan Keyakinan Tentang Bunga

Semenjak dahulu sistem bunga dalam suatu transaksi sudah menjadi polemik di kalangan filosif Yunani dan Romawi. Menurut Plato dan Aristoteles dalam Zulkifli (2003), bunga merupakan alat eksploitasi kaum kaya terhadap kaum miskin. Bahkan sistem bunga menjadi penyebab perpecahan dalam masyarakat dan fungsi uang adalah sebagai alat tukar bukan sebagai alat mengahasilkan tambahan melalui bunga.

Demikian pula di kalangan Yahudi melarang implementasi sistem bunga. Mereka mengecam keras sistem tersebut dalam transaksi apapun,

(13)

seperti termuat dalam kitab-kitab Yahudi. Kitab Eksodus (keluaran) pasal 22 ayat 25 dikatakan jika engkau meminjam uang kepada salah seorang umatku, orang yang miskin diantara kamu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia, janganlah engkau bebankan bunga terhadapnya (Zulkifli, 2002).

Agama Kristen juga berpandangan bahwa menetapkan bunga adalah sebagai tindakan kriminal. Mereka menyatakan dalam kitabnya Lukas pasal 6 ayat 34-35 “Dan, jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu daripadanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuat baik kepada mereka dan pimjamkanlah dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Tuhan Yang Maha tinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang yang jahat” (Mutasowifin, 2003, dalam Zia Muhammad, 2011).

Agama Islam berpandangan bahwa menetapkan bunga adalah riba yang berlipat ganda sebagaimana yang dibahas dalam Al-quran banyak membahas tetang riba, firman Allah Swt. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS:Ali-imron 130), dalam surah lain yaitu surah Ar-rum ayat 39 Allah Swt. berfirman

(14)

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)” (Antonio:2001).

2.2. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Penelitian terdahulu yang dijadikan referensi dalam penelitian ini dapat dilihat dalam table 2.2 sebagai berikut:

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

No Judul Variabel Alat analisis Hasil Penelitian 1. Analisis Minat Menabung Masyarakat Pada Bank Muamalat di Kota Kisaran. (Dita Pertiwi, 2012) Lokasi (X1) Keyakinan (X2) Pelayanan (X3) Analisis deskriptif, dengan bentuk analisis seperti grafik, tabulasi silang, tabel, dan frekuensi.

Variabel keyakinan merupakan faktor yang lebih dominan mendorong masyarakat untuk menabung di Bank Muamalat Indonesia Kisaran. 2. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Menabung di Bank Syariah (Studi Kasus Bank Syariah di Kota Lhokseumawe). (Zia Muhammad, 2011) Pelayanan (X1) Bagi hasil (X2) Keyakinan (X3) Lokasi (X4) Regresi linier berganda Variabel keyakinan dan bagi hasil merupakan faktor yang dominan dalam mendorong

keputusan menabung di

perbankan syariah di Kota Lhokseumawe diikuti oleh variabel pelayanan dan lokasi.

(15)

2.3. Kerangka Pikir

Sikap petugas pelayanan, lokasi BMT yang dekat dengan tempat tinggal atau tempat usaha dan pandangan keyakinan tentang haramnya bunga bank memberikan suatu dorongan kepada masyarakat untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan BMT AL MIZAN Pekalongan Batealit Jepara. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan BMT AL MIZAN untuk memahami dengan seksama kebutuhan dan harapan masyarakat. Dengan demikian BMT AL MIZAN dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan produk jasa yang dimiliki oleh BMT AL MIZAN dengan memaksimumkan pengalaman masyarakat yang menyenangkan dan meminimumkan pengalaman masyarakat yang kurang menyenangkan. Pada gilirannya minat masyarakat dapat menciptakan kepuasan, kesetiaan atau loyalitas anggota kepada BMT AL MIZAN yang memberikan pelayanan yang memuaskan.

Adapun kerangka pemikiran teoritis penelitian ini sacara skematis dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Sikap pelayanan (X1) Lokasi (X2) Keyakinan (X3) Minat Menabung (Y)

(16)

2.4. Pengajuan Hipotesis

Hipotesis menyatakan hubungan yang diduga secara logis antara dua variabel atau lebih dalam rumusan proposisi yang dapat diuji secara empiris (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 1999). Berdasarkan kerangka konsep serta tujuannya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

1. Ada pengaruh positif antara sikap pelayanan terhadap minat masyarakat dalam menabung.

2. Ada pengaruh positif antara lokasi terhadap minat masyarakat dalam menabung.

3. Ada pengaruh positif antara keyakinan terhadap minat masyarakat dalam menabung.

Figur

Tabel 2.2  Penelitian Terdahulu

Tabel 2.2

Penelitian Terdahulu p.14
Gambar 2.3  Kerangka Pemikiran Sikap pelayanan (X1) Lokasi  (X2) Keyakinan  (X3)  Minat Menabung (Y)

Gambar 2.3

Kerangka Pemikiran Sikap pelayanan (X1) Lokasi (X2) Keyakinan (X3) Minat Menabung (Y) p.15

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :