112
J. Agroland 15 (2) : 112 - 116, Juni 2008 ISSN : 0854 – 641X
KEMAMPUAN MEMANGSA
DOLICHODERUS THORACICUS
SMITH
(HYMENOPTERA : FORMICIDAE) PADA BERBAGAI STADIUM
PERKEMBANGAN SERANGGA PENGGEREK BUAH KAKAO,
CONOPOMORPHA CRAMERELLA
(SNELLEN)
Oleh :
Edy1), Alam Anshary2), dan Moh. Yunus2)
ABSTRACT
This research aim to know the ability imago D. thoracicus to prey C. cramerella at various growth stadium. This research in executing at April, 2007 up to August, 2007 in Pest Laboratory and Entomological Faculty Of Agriculture of University Tadulako. Research designed in Complete Random Device (RAL), consisted of by four treatment and three replication. As for treatment is gift prey the : P1 ( egg C. cramerella), P2 (final larva instars C. cramerella), P3 (Pupa C. cramerella), P4 (egg mixture, larva, pupa C. cramerella). Result of research indicate that the ability prey D. thoracicus to prey C. cramerella larva stadium is highest comparing treatment of egg and pupa, same thing became of by the mixture treatment (egg, larva, pupa). Along of amount which is prey by D. thoracicus highest at larva treatment that is 2.33 - 8.33 so that big possibility of larva stadium is appropriate prey for D. thoracicus.
Keywords : Predator, dolichoderus thoracicus, conopomorpha cramerella I. PENDAHULUAN
Kakao (Theobroma cacao L) merupakan
salah satu komoditas perkebunan yang
mempunyai peran penting dalam pembangunan. Karena komoditas ini dapat meningkatkan pendapatan petani. Sebagai salah satu sumber
pemasukan bagi pendapatan asli daerah
Sulawesi Tengah dan dapat menambah devisa Negara. Kakao mempunyai prospek yang cukup cerah di Indonesia karena mempunyai nilai ekonomi relatif tinggi, dan sebagai bahan ekspor. Hingga saat ini upaya pengembangan areal pertanaman dan produksi kakao masih terus ditingkatkan baik pemerintah maupun swasta.
Selama kurun waktu lima tahun terakhir luas areal tanaman kakao di Sulawesi Tengah pada tahun 2002 seluas 119.678 ha, tahun 2003 seluas 142.577 ha, tahun 2004 seluas 565.594 ha, tahun 2005 seluas 574.192 ha, dan tahun 2006 seluas 579.217 ha. Sedangkan produksi kakao selama kurun waktu lima tahun terakhir, pada tahun 2002 mencapai 114.779 ton,
tahun 2003 116.032 ton, tahun 2004 246.091 ton, tahun 2005 produksi optimalnya 252.318 ton, dan tahun 2006 mengalami penurunan menjadi 248.845 ton (BPS. 2006). Salah satu penyebab rendahnya produksi kakao di Sulawesi Tengah adalah adanya serangan hama penggerak
buah kakao (Conopomorpha cramerella).
Berdasarkan laporan Dinas Perkebunan Tingkat I Sulawesi Tengah, hingga tahun 2000
luas serangan C. Cramerella mencapai 11.000 ha.
Pada tahun 1991 hanya 14 ha, jadi dalam waktu
sembilan tahun C. Cramerella telah mampu
memperluas daerah serangannya 785 kali dari luas serangan awal. Kerugian petani akibat serangan itu mencapai 118.3 milyar rupiah pada harga kakao rata-rata Rp. 9000/Kg. (Anshary, 2001)
Upaya pengendalian C. Cramerella
telah banyak dilakukan seperti cara kimia, penyelubungan buah, rampasan buah, panen sering dan sistem pemangkasan, namun tingkat keberhasilan belum dilaporkan. pengendalian cara kimia ternyata kurang berhasil. Bahkan diduga cara kimia justru menambah luas
serangan karena berpindahnya C. Cramerella
ke pertanaman sehat sekitarnya. Di Malaysia di laporkan pengendalian cara kimiawi telah menimbulkan fenomena resisten terhadap dosis
1) Alumni Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas
Pertanian Universitas Tadulako, Palu
2) Staf Pengajar pada Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman
113
anjuran (Lim et al.. 1992). Perlu diteliti cara pengendalian yang aman dengan tidak terlepas dari konsep-konsep pengendalian hama terpadu.
Pengendalian hayati adalah salah satu
komponen dalam pengendalian hama secara terpadu (PHT). Pengendalian hayati diartikan
sebagai pengendalian yang memadukan
berbagai macam pengendalian dalam satu strategi pengendalian dengan mengutamakan penggunaan musuh alami yakni predator, parasitoid, patogen, untuk menekan populasi hama dan patogen tanaman sampai pada tingkat populasi yang tidak merugikan (Untung,1993). Semut adalah salah satu predator yang dapat dimanfaatkan untuk agensia hayati.
Semut tergolong dalam famili Formicidae dan termasuk dalam ordo Hymenoptera secara
umum dapat bersifat sebagai predator
(Kalshoven,1981). Lim et al. (1992) melaporkan
beberapa spesies semut dapat memangsa larva dan pupa penggerek buah kakao antara lain,
Dolichoderus thoracicus, Crematogaster spp. dan
Oecophylla smaragdina. Gassa (2002) melaporkan
bahwa Dolichoderus spp. mempunyai potensi
sebagai predator pada penggerek buah kakao.
Hasil penelitian Anshary (2004)
menunjukkan bahwa D. thoracicus paling banyak
memangsa larva penggerek buah kakao dibanding
semut predator lainnya yaitu Anoplolepis longiper
(Jendon), Oecophylla Longinoda Fr Smity dan
Iridomyrmex Anceps Roger. Hal ini menunjukkan
pada D. Thoracicus mempunyai potensi untuk di
manfaatkan sebagai agensi hayati. Khususnya untuk
pengendalian C. cramerella. Untuk mendapatkan
informasi yang lebih akurat khususnya stadium perkembangan mangsa yang sesuai maka perlu di lakukan penelitian tentang kemampuan
memangsa D. thoracicus pada C. cramerella.
II. BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Agustus 2007, di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.
Penelitian dilaksanakan dalam metode eksperimental desain yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan. Adapun perlakuan tersebut adalah pemberian pakan
(mangsa) pada imago semut D. thoracicus yang
berupa : P1: Telur C. cramerella, P2: Larva Instar
empat C. cramerella, P3: Pupa C.
Cramerella, P4 : Mangsa campuran (telur, larva,
pupa) C. cramerella.
Pelaksanaan penelitian dimulai dengan
perbanyakan serangga C. Cramella berupa
telur, larva, dan pupa. Telur C. Cramerella
yang menempel pada buah kakao dari hasil rearing dikumpulkan untuk dijadikan perlakuan. Buah kakao yang terserang diambil dari pertanaman, diinkubasikan dalam stoples plastik (0=25 cm), larva ( instar IV) yang keluar dari buah untuk digunakan dalam perlakuan sebanyak 10 ekor. Larva instar IV yang terbentuk dipelihara hingga menjadi pupa, pupa dengan umur seragam digunakan dalam perlakuan sebanyak 10 ekor. Masing-masing perlakuan ditempatkan dalam stoples kaca dan dalam stoples tersebut masing-masing di masukkan satu ekor imago predator,
D. Thoracicus dan mangsa C. Cramerella
masing-masing berupa telur 10 butir, larva 10 ekor dan pupa 10 ekor. Parameter yang diamati adalah jumlah mangsa yang mati, hal ini dilakukan pada setiap perlakuan dan dilakukan selama 3 hari dengan interval waktu pengamatan satu hari. Data jumlah mangsa yang mati di analisis dengan cara ANOVA, bila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNT 0,05.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kemampuan memangsa D. thoracicus
terhadap berbagai stadium C. cramerella satu hari
setelah aplikasi berbeda nyata pada masing-masing perlakuan (Tabel 1). Perlakuan yang
terbanyak dimangsa oleh D. Thoracicus adalah
stadium larva, dengan rata-rata (3.67 ekor) dan lebih besar dibanding perlakuan telur (2.0 butir) dan perlakuan pupa (1.0 ekor) sedangkan pada perlakuan campuran (telur, larva, pupa) jumlah mangsa larva yang mati rata-rata (2.33 ekor) dan lebih besar dibanding kedua perlakuan yaitu telur (1.67 ekor) dan pupa (1.0 ekor) (Tabel 1).
Tabel 1. Jumlah Mangsa yang Mati dan yang Hidup pada PengamatanSatu Hari Setelah Aplikasi
Perlakuan Rata – rata jumlah yang dimangsa BNT 0.05
Mati Hidup
P1 (telur) 2.0 (butir) b 8.0 (butir) b
0,54 P2 (larva) 3.67 (ekor) c 6.33 (ekor) c
P3 (pupa) 1.0 (ekor) a 9.0 ekor) a P4 (Telur, larva, pupa) Telur = 1.67 (butir) Larva = 2.33 (ekor)d Pupa = 1.0 (ekor) Telur = 8.33 (butir) Larva = 7.67 (ekor)d Pupa = 9.0 (ekor)
Angka sekolom yang di ikuti huruf yang tidak sama menyatakan perlakuan berbeda nyata uji BNT (0,05).
114
Pengamatan satu hari setelah aplikasi menunjukkan bahwa perlakuan larva berbeda nyata dengan perlakuan telur, pupa dan perlakuan campuran (telur, larva, pupa).
Kemampuan memangsa imago D. thoracicus
terhadap berbagai stadium C. cramerella
(jumlah mangsa yang mati) tertinggi terjadi pada perlakuan larva kemudian diikuti oleh perlakuan telur dan perlakuan pupa terendah.
Kemampuan memangsa D. Thoracicus
terhadap berbagai stadium C. Cramerella dua hari
setelah aplikasi berbeda nyata pada masing-masing perlakuan (Tabel 2). Perlakuan yang
terbanyak dimangsa oleh D. Thoracicus adalah
stadium larva, dengan rata-rata (6.0 ekor) dan lebih besar dibanding perlakuan telur (3.67 butir) dan perlakuan pupa (2.0 ekor) sedangkan pada perlakuan campuran (telur, larva, pupa) jumlah mangsa larva yang mati rata-rata (6.67 ekor) dan lebih besar dibanding kedua perlakuan yaitu telur (3.0 butir) dan pupa (1.67 ekor) (Tabel 2).
Kemampuan memangsa D. Thoracicus
terhadap berbagai stadium C. Cramerella tiga
hari setelah aplikasi berbeda nyata pada masing-masing perlakuan (Tabel 3). Perlakuan
yang terbanyak dimangsa oleh D. Thoracicus
adalah stadium larva, dengan rata-rata
(7.33 ekor) dan lebih besar dibanding perlakuan telur (4.67 butir) dan perlakuan pupa (2.67 ekor) sedangkan pada perlakuan campuran (telur, larva, pupa) jumlah mangsa larva yang mati rata-rata (8.33 ekor) dan lebih besar dibanding kedua perlakuan, yaitu telur (5.33 butir) dan pupa (3.67 ekor) (Tabel 3).
Pengamatan pada tiga hari setelah aplikasi menunjukkan bahwa perlakuan larva berbeda nyata dengan perlakuan telur, pupa dan perlakuan campuran (telur, larva, pupa).
Kemampuan memangsa imago D. Thoracicus
terhadap berbagai stadium C. Cramerella
(jumlah mangsa yang mati) tertinggi terjadi pada perlakuan larva kemudian diikuti oleh
perlakuan telur dan perlakuan pupa terendah.
Kemampuan memangsa D. Thoracicus
terhadap berbagai stadium C. Cramerella pada
satu hari sampai tiga hari setelah aplikasi rata – rata tertinggi pada stadium larva, disusul stadium telur, stadium pupa dan demikian juga terjadi pada stadium campuran (telur, larva,
pupa). Hal ini menunjukkan bahwa D. Thoracicus
lebih banyak memilih larva dibanding telur dan pupa. Perbedaan preferensi semut pada larva, pupa dan telur kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain warna, bentuk dan
tekstur permukaan mangsa (C. Cramerella).
Selain itu faktor senyawa kimia terutama kandungan gizi dalam mangsa sangat menentukan disukai atau tidak disukainya mangsa. Widjaja (2007) melaporkan bahwa semut lebih menyukai protein (Gizi) yang diperoleh dari mangsanya. Sedangkan Rahayu (2007) mengemukakan bahwa semut butuh protein sebagai sumber energi dalam aktivitas hidupnya.
Kemungkinan besar larva memiliki kandungan gizi yang lebih baik (kualitas nutrisinya), dibandingkan telur dan pupa. Selain itu tekstur atau faktor fisik mangsa seperti keras dan bentuk permukaan sangat menentukan selera predator. Secara fisik, morfologi telur, larva dan pupa berbeda. Telur terdiri atas korion (corion) yang keras dan ukuran yang relatif kecil dibandingkan larva dan pupa
sehingga sulit dimangsa oleh D. thoracicus,
pupa terbungkus oleh lapisan lilin dan tekstur
permukaan tubuh yang keras karena
mengandung ”khitin” sehingga lebih keras dibandingkan larva. Larva dengan permukaan tubuh yang relatif lunak dibandingkan telur dan pupa sehingga kemungkinan besar tekstur permukaan larva menjadi salah satu faktor mengapa jumlah larva yang dimangsa lebih banyak dibandingkan pupa dan telur.
Tabel 2. Jumlah Mangsa yang Mati dan yang Hidup pada Perlakuan Dua Hari Setelah Aplikasi
Perlakuan Rata – rata jumlah yang dimangsa BNT 0.05
Mati Hidup
P1 (telur) 3.67 (butir) b 6.33 (butir) b
1.21 P2 (larva) 6.0 (ekor) c 4.0 (ekor) c
P3 (pupa) 2.0 (ekor) a 8.0 (ekor) a P4 (campuran)
Telur, larva, pupa
Telur = 3.0 (butir) Larva = 6.67 (ekor)d Pupa = 1.67 (ekor) Telur = 7.0 (butir) Larva = 3.33 (ekor)d Pupa = 8.33 (ekor)
Angka sekolom yang diikuti huruf yang tidak sama menyatakan perlakuan berbeda nyata uji BNT (0,05).
Tabel 3. Jumlah Mangsa yang Mati dan yang Hidup pada Perlakuan Tiga Hari Setelah Aplikasi
Perlakuan Rata – rata jumlah yang dimangsa BNT 0.05
Mati Hidup
P1 (telur) 4.67 (butir) b 5.33 (butir) b
1.09 P2 (larva) 7.33 (ekor) c 2.67 (ekor) a
P3 (pupa) 2.67 (ekor) a 7.33 (ekor) c P4 (campuran) Telur, larva, pupa Telur = 5.33 (butir) Larva = 8.33 (ekor)d Pupa = 3.67 (ekor) Telur = 4.67 (butir) Larva = 1.67 (ekor)d Pupa = 6.33 (ekor) Angka sekolom yang diikuti huruf yang tidak sama menyatakan perlakuan berbeda nyata uji BNT (0,05).
Faktor fisik yang lain yang mempengaruhi predatisme adalah warna mangsa, warna telur orenge, pupa coklat kehitaman, dan larva putih kotor, kemungkinan besar warna putih lebih
menarik bagi D. Thoracicus yang sesuai dengan
warna larva. D. Thoracicus relatif kurang
memangsa pupa karena bentuk dari morfologi pupa yang lebih keras dibanding larva. (Wiryadiputra, 1993), Holling (1996 dalam Pasarai 1996) mengemukakan bahwa komponen utama yang mempengaruhi hubungan antara predator dengan mangsanya yaitu sifat khas dari mangsa (mekanisme pertahanannya), sifat khas dari predator (cara penyerangannya) dan kepadatan populasi mangsa.
Proses memangsa dan perilaku
mangsanya predator dipengaruhi oleh perilaku predator itu sendiri. Frans (1974) melaporkan bahwa proses memangsa predator dipengaruhi antara lain tingkat kelaparan yang merupakan kondisi fisiologi dari serangga tersebut. Faktor
tanggap predator terhadap mangsa merupakan komponen dasar dari predatisme faktor inilah yang kemungkinan besar mempengaruhi jumlah mangsa yang dikonsumsi oleh predator, sehingga jumlah larva yang dikomsumsi oleh
D. thoracicus lebih besar atau lebih banyak
dibandingkan telur dan pupa.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulan sebagai berikut :
1. Investasi berbagai stadium C. Cramerella
(telur, larva dan pupa) berbeda nyata pada
jumlah yang dimangsa oleh D. Thoracicus.
2. Kemampuan memangsa D. Thoracicus
tertinggi terjadi pada hari ketiga yaitu pada
stadium larva C. Cramerella sebanyak
7.33 (ekor).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2000. Pengendalian penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella snellen). Balai penelitian dan pengembangan pertanian, Deptan. Sulawesi Tengah.
Anshary, A. 2001. Perlu keterpaduan dalam pengelolaan hama PBK di Sulawesi Tengah. Harian Mercusuar (Edisi, 18 juli 2001). .2004. Species semut (hymenoptera : formicidae) pada kondisi ekosistem tanaman kakao yang berbeda di
Kabupaten Donggala. J. Agrisains 5 (2) : 74 – 83.
Badan Pusat Statistik. 2006. Sulawesi Tengah dalam angka Palu, Sulawesi Tengah.
Depparaba, F. 2002. Penggerek buah kakao (conopomorpha cramerella snellen) dan penanggulangannya. Jurnal Agroland 21 : 69 – 742 UNTAD, Palu.
Entiwitle, P. F. 1972. Pest of cacao. longmans, London. 342 P.
Ensiklopedi Indonesia. 1992. Ensiklopedi Indonesia seri fauna jilid 5 seri tentang serangga. PT. Ichtiar baru - Van Hoeve, Jakarta. Evans, D. H. dan S. Crossley. 2001. Conopormorpha cranerella (snellen). Abstr. the ohio agriculture Research center. Flint, M. L. and B. Ohlendorf. 2000. Anst (integrated pest management in and around the home). Pest notes, Univ. Of
California, Div. of agriculture and nature resources (Publication 7411). http://www.Ipm. Ucdavis.edu Frans, H. G. 1974. The fungtional respon to prey density in an acarina sistem centre. Agric plubland doc Wageningen. Gakken. 2000. Japanese ant identification key. http: ant.edb.miyakyo-u.ac.jp. gakken, Tokyo-Japan.
Gassa, A. 2002. Survei beberapa semut pada tanaman kakao. Lokakarya Tengah Periode SUCCESS dan pertemuan internasional masa depan pengembangan kakao di Indonesia, Makassar 15 s/d 18 Januari 2002.
116
Lin, G. T., E. B. Tay; T.C. Pang; dan K.Y.Pan., 1992. Biologi, ecology and control of cocoa pod borer, conopomorpha
cramerella (snellen) and its control in Sabah Malaysia. pp. 69-72. Proc. Of The Internasional Confrence Of Plant
Protection In The Tropics MAPPS Kuala Lumpur.
Muljana, W. 2001. Bercocok tanaman kakao. Aneka Ilmu , Yogyakarta.
Pasarai, R.T. 1996. Biologi hrysopa flaveola (neuroptera, chrysopidae) dan kemampuan memangsa kutu A. dispersus pada
tanaman jambu biji (Skripsi), Faperta Untad Palu.
Plowes, N.J.R. dan R. Patrock. 2000. A field key to the ants (hymenoptera : formicidae). Brakerige Field Laboratories, Of Texas at Austin.P.1–21.
Panda, N. dan G.S. Kush. 1995. Host plant esistence to insect CAB. Internasional Accosiation With the IRRI Philiphines. Rahayu, S. 2007. Semut sahabat petani. http://www.blueboard.com/kerengga/pdf/rahuya.pdf.
Schumetterer, H. 1978. Past in tropical/crops. Chischester, Newyork.
Syamsulbahri. 1996. Bercocok tanam tanaman perkebunan tahunan. Gadjah Mada University Press Yogyakarta.
See, Y.A dan Khoo,. K.C. 1996. Influence of dolichoderus thoracicus (hymenoptera ; formicidae) on cacao pod damage By
Conopomorpha cramerella (Lepidaptera : Gracillariidae) In Malaysia. Bull of Entomol. Res. 86 : 467 – 474.
Shattuck, S.O. & N.J. Barnet. 2001. Australia ants online; the giude to the australia ant fauna. CSIRO Australia.
Sulaiman, G., dan M. Na’im. 2002. Penggunaan semut dolichoderus thoracicus dalam pengendalian hama tanaman kakao
(heobroma cacao). Artikel Situs PPI Se – Malaysia. http://www14.brinkster.com/ppim/db/artikel.
Siregar. T.H.S, Riyadi, L. Nuraeni. 2001. Kakao. pembudidayaan, pengolahan, pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta. Taylor. B. 2002. Images of ants from camerun and guinea. 11, Grazingfield, Wilford. Nottingham, NG11, 7FN, U.K.
Untung. K. 1993. Pengantar pengelolaan hama terpadu. Gadjah Mada University Press Yogyakarta.
Usdalifat, S. 1999. Identifikasi fenotip spesies chrysopa (neuroptera crhysopidae) sebagai predator hama tanaman jagung di
Kecamatan Sigi Biromaru (Skripsi) Jurusan BDP Faperta Untad, Palu 48 hal.
Wood, B.J. and C.G. Fee. 1992. Integrated management of pest of cacao pest and diseases management in southeast asia
Australia. FAO Plant Production and Protection Paper. FAO United Nation. Rome.
Wirya Diputra, S. dan Atmawinata. 1998. Pedoman pengendalian hama terpadu tanaman perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor.
1993. Kajian aspek biologi dan metode pengendalian penggerek buah kakao (PBK). Warta Puslit Kopi Dan Kakao. Widjadja, F. 2007. Kisah sang penenun eksklusif. http://klipingut.worpress.com.
Yahya, H. 2002. Keajaiban pada semut; Bagian Kehidupan Sosial. [email protected].
Conopomorpha cramerella, 112, 115, 116
Dolichoderus thoracicus, 113