• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL PERLINDUNGAN TENAGA KERJA PEREMPUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL PERLINDUNGAN TENAGA KERJA PEREMPUAN"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

i

KEMENTERIAN

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA

PROFIL PERLINDUNGAN TENAGA KERJA

PEREMPUAN

DI PROVINSI JAWA TENGAH 2016

DEPUTI PERLINDUNGAN HAK PEREMPUAN 2016

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan buku tentang Profil Perlindungan Tenaga Kerja Perempuan di Provinsi Jawa Tengah 2016 ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Penyusunan buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara lengkap dan menyeluruh tentang profil perlindungan tenaga kerja perempuan di Provinsi Jawa Tengah khususnya pada Tahun 2015. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendorong, membantu, berpartisipasi dan bekerja sama selama penyusunan publikasi ini.

Kami berharap buku ini dapat berguna bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam rangka menambah informasi serta pengetahuan mengenai perlindungan tenaga kerja perempuan di Provinsi Jawa Tengah. Kami juga menyadari dalam penyusunan buku ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkankritik dan saran guna perbaikan buku ini di masa yang akan datang. Semoga buku ini dapat dipahami oleh siapapun yang membacanya.

Jakarta, Desember 2016

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB I ... 1 PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Tujuan ... 2 C. Sistematika Penyajian ... 2 BAB II ... 4 KEGIATAN PENDUDUK ... 4 A. Angkatan Kerja ... 4

B. Bukan Angkatan Kerja ... 11

BAB III ... 15

PENDUDUK YANG BEKERJA ... 15

A. Karakteristik Umum ... 15

B. Lapangan Pekerjaan Utama ... 19

C. Status Pekerjaan Utama ... 21

D. Jenis Pekerjaan Utama ... 22

BAB IV ... 24

UPAH PEKERJA ... 24

A. Diferensiasi Upah menurut Karakteristik Umum ... 24

B. Diferensiasi Upah menurut Kabupaten/Kota ... 27

C. Diferensiasi Upah menurut Lapangan Pekerjaan ... 29

D. Diferensiasi Upah menurut Jenis Pekerjaan ... 33

BAB V ... 39

JAM KERJA... 39

A. Diferensiasi Jumlah Jam Kerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama ... 39

B. Diferensiasi Jumlah Jam Kerja menurut Status Pekerjaan Utama ... 43

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jawa Tengah merupakan salah satu Propinsi di Pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah letaknya 5o40' dan 8o30' Lintang Selatan dan antara 108o30' dan 111o30'

Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa) dan diapit oleh dua Propinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 Km dan dari Utara ke Selatan 226 Km (tidak termasuk pulau Karimunjawa).

Secara administratif Propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6 Kota. Luas Wilayah Jawa Tengah sebesar 3,25 juta hektar atau sekitar 25,04 persen dari luas pulau Jawa (1,70 persen luas Indonesia). Jawa Tengah terdiri dari 3 (tiga) lingkungan budaya, yaitu Lingkungan budaya Pesisir, Lingkungan budaya Bagelan – Banyumas, dan Budaya Kraton. Jawa Tengah memiliki peninggalan budaya antara lain: Candi Borobudur, Mendut & Pawon, Dieng, Gedongsongo, Prambanan.

Masyarakat Jawa dikenal dengan budaya patriarkis yang memiliki pembatasan-pembatasan tertentu dalam relasi gender yang meperlihatkan kedudukan dan peran laki-laki yang lebih dominan dibanding perempuan. Budaya jawa mengharapkan perempuan menjadi seorang pribadi yang selalu tunduk dan patuh pada kekuasaan laki-laki, yang pada masa dulu terlihat dalam sistem kekuasaan kerajaan (keraton), sehingga menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Istilah wanita itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti wani ditata (berani ditata). Selain itu, dalam perkawinan ada istilah kanca wingking, bahwa perempuan adalah teman di dapur akan mewarnai kehidupan perkawinan pasangan suami isteri Jawa. Konsep swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka pun turut) juga menggambarkan posisi perempuan Jawa yang lemah sebagai seorang isteri. Budaya tersebut tentunya sangat mempengaruhi kondisi dan status perempuan saat ini.

Permasalahan atau isu gender disebabkan karena adanya konstruksi sosial budaya yang telah dianut secara turun temurun. Tidak mudah untuk mengubah mindset yang sudah dianut sejak lama, sehingga untuk mengubah stereotype atau pelabelan yang membedakan peran laki-laki dan perempuan bukan sesuatu yang

(5)

2

mudah untuk dilakukan. Meskipun kondisi sosial ekonomi penduduk telah banyak mengalami kemajuan, tetapi pengaruh budaya yang telah dianut sejak lama diduga tetap mempengaruhi peran dan posisi perempuan pada saat ini. Untuk itu, melalui publikasi ini akan diamati peran dan posisi laki-laki dan perempuan di berbagai bidang pembangunan.

B. Tujuan

Secara umum tujuan penulisan adalah untuk memberikan gambaran secara lengkap dan menyeluruh tentang profil perlindungan tenaga kerja perempuan di Provinsi Jawa Tengah, khususnya untuk:

1. Mengetahui karakteristik umum dan kegiatan penduduk usia kerja (angkatan kerja dan bukan angkatan kerja) di Provinsi Jawa Tengah;

2. Mengetahui karakteristik umum, lapangan, status serta jenis pekerjaan penduduk bekerja di Provinsi Tengah;

3. Mengetahui diferensiasi tingkat upah bagi penduduk bekerja di Provinsi Tengah;

4. Mengetahui diferensiasi jumlah jam kerja bagi penduduk bekerja di Provinsi Jawa Tengah.

C. Sistematika Penyajian

Data yang digunakan dalam publikasi ini adalah data hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Tahun 2015 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), selain data-data pendukung lainnya.

Pendahuluan yang menjelaskan latar belakang dan tujuan penulisan, pembahasan dilanjutkan dengan menguraikan bab kegiatan penduduk. Pada bab ini dicakup penjelasan mengenai kondisi penduduk angkatan kerja secara umum yang diantaranya membahas pengangguran dan kondisi penduduk bukan angkatan kerja yang meliputi penduduk yang mengurus rumah tangga, sekolah serta kegiatan lainnya.

Bagian berikutnya adalah bab penduduk yang bekerja, yaitu bagian dari angkatan kerja yang memenuhi kriteria sedang bekerja. Pembahasan dimulai dengan melihat karakteristik secara umum, yaitu membahas perbedaan berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur dan juga pendidikan. Kemudian dilanjutkan dengan

(6)

3

pembahasan secara khusus menurut lapangan pekerjaan utama, status pekerjaan utama dan jenis pekerjaan utama. Sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan, pembahasan berbagai aspek ini menggunakan pisau “gender analysis”.

Menggunakan pisau analisis yang sama, pembahasan dilanjutkan dengan melihat secara khusus mengenai upah. Pembahasan mengenai upah tentu saja hanya dilakukan pada kelompok penduduk bekerja dengan status pekerjaan utama sebagai “buruh/karyawan/pegawai”. Selain dikupas secara umum, pengupahan juga

diperhatikan diferensiasinya menurut wilayah kabupaten yang dikaitkan dengan tingkat upah minimum, lapangan pekerjaan utama dan jenis pekerjaan utama.

Pada bab berikutnya dibahas mengenai jam kerja, yang merupakan salah satu indikator penting untuk melihat kinerja dari ketenagakerjaan. Jumlah jam kerja menggambarkan apakah seseorang telah bekerja sesuai dengan potensinya atau tidak. Pembahasan mengenai jam kerja juga diperhatikan menurut lapangan pekerjaan utama, status pekerjaan utama, dan jenis pekerjaan utama. Tentu saja tidak meninggalkan pembahasan menurut pendidikan dan jenis kelamin.

(7)

4 BAB II

KEGIATAN PENDUDUK

A. Angkatan Kerja

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2015, penduduk di Jawa Tengah berjumlah 33,8 juta jiwa. Jumlah penduduk di Jawa Tengah merupakan jumlah penduduk terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya manusia di Jawa Tengah sangat besar untuk dijadikan sebagai modal dalam pembangunan. Meskipun demikian, jumlah penduduk yang besar tidak secara otomatis menjadi modal dalam pembangunan, jika kualitas hidupnya tidak memadai. Bahkan jumlah penduduk yang besar justru dapat menjadi beban dalam pembangunan jika kualitas hidupnya rendah. Oleh sebab itu, dalam analisis berikutnya akan diamati karakteristik penduduk yang dilihat dari berbagai variabel seperti kelompok umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir dan partisipasi dalam ketenagakerjaan.

Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk di Jawa Tengah berbeda dengan kondisi di Indonesia yang secara umum lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Jumlah penduduk di Jawa Tengah justru lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki, meskipun dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, yaitu 17,0 juta jiwa untuk perempuan dan 16,8 juta jiwa untuk laki-laki.

Penduduk berumur 15 tahun ke atas disebut sebagai penduduk usia kerja. Penduduk usia kerja di Jawa Tengah lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki atau berbanding lurus dengan jumlah penduduk secara keseluruhan. Dengan demikian, potensi perempuan di Jawa Tengah dalam ketenagakerjaan lebih besar dibandingkan laki-laki, jika dilihat dari jumlah penduduk usia kerjanya. Meskipun demikian, jika dibandingkan menurut jumlah penduduk yang masuk dalam angkatan kerja, ternyata perempuan masih jauh tertinggal. Jumlah angkatan kerja perempuan hanya sekitar 7,0 juta jiwa, sedangkan laki-laki sekitar 10,3 juta jiwa atau dengan kata lain, rasio angkatan kerja perempuan hanya sekitar 70 persen dibandingkan laki-laki.Mengapa perempuan yang mempunyai kuantitas lebih banyak dibandingkan laki-laki dalam kelompok usia kerja tetapi partisipasinya dalam angkatan kerja hanya

(8)

5

sekitar 70 persen dari laki-laki? Tentunya butuh banyak data untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Persentase penduduk dalam angkatan kerja, baik untuk yang bekerja maupun pengangguran, antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan yang signifikan. Persentase untuk laki-laki yang bekerja dari seluruh angkatan kerja adalah 94,4 persen dan 5,6 persen adalah pengangguran. Sedangkan persentase perempuan yang bekerja adalah 95,8 persen dan 4,2 persen adalah pengangguran. Jadi, walaupun persentase angkatan kerja perempuan jauh tertinggal dibandingkan laki-laki, tetapi komposisinya dalam angkatan kerja tidak berbeda jauh dengan laki-laki.

Data menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan usia kerja masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja dengan jumlah sekitar 6 juta jiwa. Perempuan usia kerja yang berjumlah sekitar 13 juta jiwa, 6 juta jiwa diantaranya masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja. Lain halnya dengan laki-laki, dari sekitar 12,5 juta penduduk usia kerja hanya 2,2 juta jiwa yang masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja (Tabel 2.1).

Sebagian besar perempuan yang masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja mempunyai kegiatan mengurus rumah tangga sebanyak 75,5 persen dari seluruh perempuan yang bukan angkatan kerja. Laki-laki yang bukan angkatan kerja, kegiatan terbanyaknya adalah sekolah, yaitu sebanyak 47 persen dan 17 persen diantaranya mengaku mengurus rumah tangga. Perbedaan persentase kegiatan yang dilakukan, dapat diasumsikan bahwa masih ada stereotip yang menempatkan perempuan sebagai pekerja domestik, sehingga sebagian besar dari mereka hanya mengurus rumah tangga, sedangkan laki-laki adalah pekerja publik, sebagian besar dari mereka masuk dalam kelompok angkatan kerja dan laki-laki yang bukan angkatan kerjapun kegiatan terbanyaknya adalah sekolah.

Analisis data tersebut, dapat disimpulkan bahwa budaya patriarki dan stereotip yang menempatkan laki-laki pada sektor publik dan perempuan pada sektor domestik telah mempengaruhi peran dan partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan.

(9)

6 Tabel 2.1

Jumlah Penduduk Provinsi Jawa Tengah Menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin Tahun 2015

Jenis Kegiatan Laki-laki Perempuan Total

Penduduk Berumur 0+Tahun 16.771.172 17.043.836 33.815.008

Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas 12.501.354 12.991.109 25.492.463

Angkatan Kerja 10.298.071 7.000.854 17.298.925

Bekerja 9.725.307 6.709.835 16.435.142

Pengangguran 572.764 291.019 863.783

Bukan Angkatan Kerja 2.203.283 5.990.255 8.193.538

Sekolah 1.034.172 942.204 1.976.376

Mengurus Rumah Tangga 375.425 4.521.057 4.896.482

Lainnya 793.686 526.994 1.320.680

TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja) 82,38 53,89 67,86

TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) 5,56 4,16 4,99

Pekerja Tidak Penuh 1.996.082 2.518.261 4.514.343

Setengah Penganggur 607.152 463.976 1.071.128

Paruh Waktu 1.388.930 2.054.285 3.443.215

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Grafik 2.1 menggambarkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki selalu lebih tinggi dibandingkan perempuan. Fakta ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan yang aktif secara ekonomi masih jauh tertinggal dibandingkan laki-laki. Kesenjangan TPAK antara laki-laki dan perempuan selama tahun 2011 sampai tahun 2015 mengalami perubahan yang cenderung meningkat, yaitu dengan selisih 26,53 poin pada tahun 2011 menjadi 28.49 poin pada tahun 2015. Kesenjangan TPAK antara laki-laki dan perempuan yang semakin melebar pada tahun 2015 disebabkan karena terjadinya penurunan TPAK pada perempuan yang lebih besar dibandingkan penurunan TPAK yang terjadi pada laki-laki. Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, partisipasi dan peran perempuan dalam ketenagakerjaan harus mengalami peningkatan yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Namun pada kenyataannya, kesenjangan cenderung semakin meningkat. Oleh sebab itu, upaya untuk mengurangi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam ketenagakerjaan harus terus dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan, keterampilan dan produktivitas perempuan melalui berbagai kegiatan pemberdayaan.

(10)

7 Grafik 2.1

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 – 2015

Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 – 2015

Grafik 2.2 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) antara laki-laki dan perempuan di Jawa Tengah pada tahun 2011 sampai tahun 2015. mengalami fluktuasi. Hal ini disebabkan karena TPT dipengaruhi oleh beberapa faktor, tidak hanya faktor ekonomi. Data menunjukkan bahwa TPT perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, kecuali pada tahun 2013 dan tahun 2015.

Secara keseluruhan, TPT perempuan lebih mudah berubah dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan karena adanya faktor yang seringkali mempengaruhi atau menghambat perempuan untuk masuk dalam dunia kerja. Akan tetapi akses bagi perempuan untuk memasuki dunia kerja tidak semudah seperti laki-laki.Perbedaan ini menggambarkan adanya ketimpangan yang disebabkan oleh adanya diskriminasi atau perbedaan perlakuan terhadap perempuan sejak masa penerimaan/perekrutan, telah mempengaruhi perempuan untuk mendapatkan pekerjaan. Lebih tingginya TPT perempuan seolah menunjukkan bahwa peluang kerja lebih terbuka lebar bagi laki-laki dibandingkan peluang kerja bagi perempuan. Hal tersebut menyebabkan perempuan lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan laki-laki.

Fluktuasi TPT perempuan menunjukkan bahwa kondisi laki-laki dalam ketenagakerjaan yang relatif lebih stabil dibandingkan perempuan. Kondisi tersebut

disebabkan karena peraturan atau implementasi dari peraturan terkait

ketenagakerjaan yang belum mencukupi kebutuhan dan aspirasi perempuan. Fakta yang terjadi di Provinsi Jawa tengah menunjukkan bahwa sampai saat ini masih

83.68 85.71 83.79 82.93 82.38 57.15 57.37 57.58 56.93 53.89 70.15 71.26 70.43 69.68 67.86 2011 2012 2013 2014 2015

(11)

8

banyak diskriminasi terhadap perempuan dalam ketenagakerjaan, bahkan masih sering terjadi pelanggaran terhadap hak pekerja perempuan. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan peran dan partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan, maka segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dalam ketenagakerjaan harus dihapuskan.

Grafik 2.2

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 – 2015

Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 – 2015

Tabel 2.2 dan Tabel 2.3 serta Grafik 2.3 dan Grafik 2.4 menunjukkan data karakteristik TPT laki-laki dan perempuan menurut kelompok umur dan pendidikan terakhir. Sebagian besar TPT laki-laki dan perempuan adalah penduduk usia kerja muda yaitu usia 15 sampai 29 tahun, yang puncaknya pada usia 20 sampai 24 tahun atau umumnya adalah mereka yang baru menyelesaikan sekolah di jenjang SMA atau perguruan tinggi. TPT pada perempuan usia 15 sampai 19 tahun lebih banyak dibandingkan TPT pada laki-laki (25,51 persen berbanding 33,57 persen). Artinya, perempuan yang lebih banyak mencari kerja adalah perempuan dengan usia 15 sampai 19 tahun. Pada usia yang masih sangat muda tersebut, tentunya bekal pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki belum memadai untuk memasuki dunia kerja.

Persentase TPT pada usia 20 sampai 34 tahun lebih tinggi untuk laki-laki dibandingkan TPT untuk perempuan. Artinya, laki-laki mencari pekerjaan pada kelompok usia yang lebih siap. Sementara itu, perempuan pada usia tersebut biasanya sudah memasuki usia pernikahan, melahirkan dan memiliki bayi/balita,

6.26 5.35 6.12 5.55 5.56 8.20 5.98 5.87 5.86 4.16 7.07 5.61 6.01 5.68 4.99 2011 2012 2013 2014 2015

(12)

9

sehingga tidak jarang diantara mereka memilih untuk mengurus rumah tangga dan mengasuh anak-anaknya.

Kelompok usia yang lebih tua, yaitu usia 35 sampai 54 tahun, TPT untuk perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan TPT untuk laki-laki. Pada usia tersebut, kemungkinan perempuan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan berbagai kegiatan selain mengurus rumah tangga. Pada usia ini anak-anaknya sudah besar dan mandiri, sehingga memberikan peluang bagi perempuan untuk masuk dunia kerja. Meskipun demikian, bukan suatu hal yang mudah bagi perempuan untuk kembali memasuki dunia kerja pada usia tersebut. Kondisi seperti itulah yang diduga menjadi penyebab perbedaan pola pencari kerja antara laki-laki dan perempuan menurut kelompok umurnya.

Tabel 2.2

Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Termasuk dalam Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah

Tahun 2011 – 2015

Kelompok Umur Jenis Kelamin Total

Laki-laki Perempuan 15 - 19 146.093 97.702 243.795 20 - 24 211.693 88.449 300.142 25 - 29 76.673 38.777 115.450 30 - 34 46.983 13.502 60.485 35 - 39 28.500 16.201 44.701 40 - 44 15.984 11.028 27.012 45 - 49 15.475 10.661 26.136 50 - 54 9.400 7.122 16.522 55 - 59 13.268 5.144 18.412 60 + 8.695 2.433 11.128 Jumlah 572.764 291.019 863.783

(13)

10 Grafik 2.3

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 – 2015

Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 – 2015

Berdasarkan Tabel 2.3 menunjukkan bahwa pencari kerja perempuan lebih banyak yang berusia muda. Sedangkan dilihat dari pendidikannya, laki-laki pencari kerja di Provinsi Jawa Tengah umumnya memiliki pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Untuk pencari kerja dengan pendidikan SD, SMP, SMA, SMK, dan D I/II/III, persentasenya lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Sementara pencari kerja dengan pendidikan universitas lebih banyak perempuan dibandikan laki-laki. Dengan demikian, untuk memasuki dunia kerja, perempuan harus mempersiapkan diri dalam hal pendidikan sebagai bekal dalam pekerjaannya nanti.

Tabel 2.3

Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Termasuk Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 – 2015

Pendidikan Jenis Kelamin Total

Laki-laki Perempuan

Tidak/Belum Pernah Sekolah 7.413 6.077 13.490

Tidak/Belum Tamat SD 22.923 11.109 34.032 SD 103.923 38.045 141.968 SMP 136.384 51.004 187.388 SMA 100.438 73.778 174.216 SMK 158.945 72.040 230.985 D I/II/III 18.442 11.859 30.301 Universitas 24.296 27.107 51.403 Jumlah 572.764 291.019 863.783

Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 – 2015

15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 + 25.51 36.96 13.39 8.20 4.98 2.79 2.70 1.64 2.32 1.52 33.57 30.39 13.32 4.64 5.57 3.79 3.66 2.45 1.77 0.84 Laki-laki Perempuan

(14)

11 Grafik 2.4

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 – 2015

Sumber: BPS, Sakernas, Agustus 2011 – 2015

B. Bukan Angkatan Kerja

Penduduk usia kerja yang masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah yang tidak melakukan kegiatan ekonomi, yaitu kelompok penduduk sekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat perbedaan yang sangat mencolok untuk kelompok penduduk yang mengurus rumah tangga antara laki-laki dan perempuan.

Dari seluruh penduduk, yang kegiatan utamanya mengurus rumah tangga sebanyak 92,33 persen adalah perempuan, sedangkan laki-laki hanya 7,67 persen. Adanya laki-laki yang mengaku mengurus rumah tangga meskipun dengan jumlah yang sangat kecil, memberikan tanda tanya besar bagi masyarakat. Kondisi tersebut disebabkan karena adanya stereotip yang menempatkan perempuan sebagai pekerja domestik dan laki-laki sebagai pekerja publik. Tidak mudah mengubah pola pikir yang sudah dianut sejak lama bahwa mengurus rumah tangga adalah urusan perempuan. Padahal sebenarnya mengurus rumah tangga bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan tanpa harus merasa malu.

Tidak/Belum Pernah Sekolah

Tidak/Belum Tamat SD

SD SMP SMA SMK D I/II/III Universitas

1.29 4.00 18.14 23.81 17.54 27.75 3.22 4.24 2.09 3.82 13.07 17.53 25.35 24.75 4.07 9.31 Laki-laki Perempuan

(15)

12 Grafik 2.5

Persentase Penduduk Bukan Angkatan Kerja yang Mengurus Rumah Tangga Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Kegiatan lain yang dilakukan oleh penduduk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah sekolah. Data menunjukkan bahwa lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan yang bersekolah dengan perbandingan 52,33 persen laki-laki dan 47,67 persen perempuan (Grafik 2.6). Bersekolah adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas hidup seseorang. Dengan bersekolah, maka penduduk akan lebih siap untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan, sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja dan mendapatkan pekerjaan serta bersaing untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Rendahnya persentase perempuan usia kerja yang bersekolah menyebabkan minimnya sumber daya perempuan yang berpendidikan tinggi. Hal tersebut karena adanya persepsi orang tua yang beranggapan bahwa perempuan tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi karena pada akhirnya perempuan akan bekerja didapur dan mengurus rumah tangga. Tingginya persentase laki-laki yang bersekolah diduga karena pada umumnya laki-laki berperan sebagai pencari nafkah utama dan penanggungjawab rumah tangga. Oleh sebab itu, laki-laki dituntut untuk memiliki pendidikan yang tinggi agar mendapatkan pekerjaaan yang layak.

7.67

92.33

Laki-laki Perempuan

(16)

13 Grafik 2.6

Persentase Penduduk Bukan Angkatan Kerja yang Sekolah Menurut Jenis Kelamin Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Grafik 2.7 menggambarkan persentase penduduk kelompok bukan angkatan kerja yang melakukan kegiatan lainnya, selain mengurus rumah tangga dan sekolah. Penduduk yang tidak melakukan kegiatan apapun diduga karena sudah tua, atau tidak mampu melakukan kegiatan karena kondisi fisik maupun psikisnya.

Grafik 2.7

Persentase Penduduk Bukan Angkatan Kerja yang Melakukan Kegiatan Lainnya Menurut Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Kelompok penduduk yang melakukan kegiatan lainnya ternyata lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Artinya lebih banyak laki-laki yang tidak melakukan kegiatan apapun, baik mengurus rumah tangga maupun sekolah,

52.33 47.67 Laki-laki Perempuan 60.10 39.90 Laki-laki Perempuan

(17)

14

dibandingkan perempuan. Kondisi ini diduga terkait dengan stereotype yang mengharuskan perempuan untuk melakukan semua kegiatan baik urusan domestik maupun publik, sehingga membuat perempuan lebih terbiasa melakukan berbagai kegiatan. Kondisi inilah yang membuat perempuan tetap melakukan berbagai kegiatan, meskipun tidak aktif secara ekonomi (bukan angkatan kerja).

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah walaupun perempuan tertinggal dalam kegiatan ekonomi, tetapi perempuan memiliki potensi yang besar dalam berbagai kegiatan. Kemungkinan karena adanya stereotype dan diskriminasi terhadap perempuan dalam ketenagakerjaan menyebabkan banyaknya perempuan yang tidak masuk dalam pasar kerja (sebagai angkatan kerja), tetapi lebih banyak memilih untuk masuk dalam kelompok bukan angkatan kerja.

(18)

15 BAB III

PENDUDUK YANG BEKERJA

A. Karakteristik Umum

Penduduk yang bekerja adalah bagian dari angkatan kerja yang sedang memiliki pekerjaan atau dengan kata lain sedang aktif bekerja. Sementara itu, bekerjadiartikan sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pola kegiatan pekerja tak dibayar, yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, sering dipahami bahwa penduduk yang bekerja adalah penduduk yang secara nyata memberikan nilai tambah atau berkontribusi langsung terhadap perekonomian suatu wilayah.

Pada bab ini akan diamati karakteristik penduduk yang bekerja menurut jenis kelamin, usia dan pendidikan yang ditamatkan. Mengetahui karakteristik penduduk yang bekerja merupakan hal yang sangat penting. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan kendala yang ada pada sumber daya manusia di Provinsi Jawa Tengah.

Grafik 3.1

Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin diProvinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Berdasarkan jenis kelamin, persentase perempuan yang bekerja masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Laki-laki yang bekerja adalah sebanyak 59,17 persen, sedangkan perempuan yang bekerja adalah sebanyak 40,83 persen (Grafik

59.17 40.83

Laki-laki Perempuan

(19)

16

3.1). Hal ini menunjukkan adanya ketertinggalan perempuan dibanding laki-laki dari sisi kuantitas. Kondisi ini menjadi data pembuka untuk mengetahui permasalahan dalam ketenagakerjaan antara laki-laki dan perempuan di Jawa Tengah. Berbicara tentang kesetaraan gender, tentunya tidak hanya berfokus pada sisi kuantitas saja, tetapi juga harus melihat dari sisi kualitas.

Perempuan bekerja yang masih tertinggal disebabkan oleh beberapa faktor. Adanya stereotype yang menganggap perempuan sebagai pekerja domestik atau pekerja rumah tangga dan laki-laki sebagai pekerja publik atau pencari nafkah diduga menjadi salah satu faktor yang menghambat partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. Selain itu, adanya diskriminasi atau perbedaan perlakuan terhadap perempuan baik pada masa penerimaan kerja, masa kerja maupun saat purna kerja atau selesai masa kerja juga menjadi faktor yang mempengaruhi partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. Pada saat penerimaan kerja, banyak yang lebih

mempertimbangkan penampilan perempuan dibandingkan kapasitas atau

kemampuannya. Pada saat bekerja seringkali dilaporkan adanya tindakan yang melanggar hak pekerja perempuan, misalnya pelanggaran terhadap hak cuti haid, cuti hamil/melahirkan dan pemberian upah/gaji serta akses atau kesempatan untuk pembinaan dan peningkatan karir yang dibedakan antara pekerja laki-laki dan perempuan. Tidak sedikit pula kasus pemutusan hubungan kerja yang dilakukan secara sepihak oleh perusahaan terhadappekerja perempuan

Tabel 3.1

Penduduk yang Bekerja menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Total

15 – 19 297.619 261.350 558.969 20 – 24 904.839 583.204 1.488.043 25 – 29 1.037.941 590.231 1.628.172 30 – 34 1.086.983 711.518 1.798.501 35 – 39 1.159.298 765.651 1.924.949 40 – 44 1.140.690 839.146 1.979.836 45 – 49 1.094.222 810.111 1.904.333 50 – 54 989.333 750.774 1.740.107 55 – 59 796.331 576.403 1.372.734 60 + 1.218.051 821.447 2.039.498 Jumlah 9.725.307 6.709.835 16.435.142

(20)

17

Banyaknya pelanggaran hak bagi pekerja perempuan menunjukkan bahwa adanya diskriminasi bagi perempuan dalam ketenagakerjaan. Kondisi inilah yang menghambat peran dan partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. Meskipun telah banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang norma kerja, tetapi pada kenyataannya masih banyak terjadi pelanggaran dalam pelaksanaannya. Perlu adanya perhatian khusus dari seluruh pihak yang terkait dengan masalah tersebut. Pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan

tentunya menjadi prioritas untuk mewujudkan hak perempuan dalam

ketenagakerjaan.

Penduduk yang berusia produktif (15 tahun ke atas) disebut sebagai penduduk usia kerja. Dapat terlihat bahwa pekerja perempuan lebih dominan dibandingkan laki-laki pada kelompok usia 40 sampai 59 tahun, sedangkan pada kelompok usia 40 tahun ke bawah dan pada usia 60+, lebih didominasi laki-laki dibandingkan perempuan (Grafik 3.2).

Grafik 3.2

Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Kondisi ini dapat dikaitkan dengan peran reproduksi perempuan. Pada usia muda sampai usia 40 tahun, peran reproduksi bagi perempuan masih sangat kuat. Sebab, pada usia tersebut perempuan telah siap untuk menikah, hamil, melahirkan, menyusui dan mengurus bayi/anak. Oleh sebab itu, banyak perempuan yang memutuskan untuk tidak bekerja. Berbeda dengan laki-laki yang sejak usia muda

15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 + 3.06 9.30 10.67 11.18 11.92 11.73 11.25 10.17 8.19 12.52 3.90 8.69 8.80 10.60 11.41 12.51 12.07 11.19 8.59 12.24 Laki-laki Perempuan

(21)

18

telah berusaha untuk mencari bekal hidup bagi diri sendiri dan keluarga. Selain itu, meskipun sudah menikah, waktu yang dimiliki laki-laki untuk bekerja di luar rumah jauh lebih banyak dibandingkan perempuan. Stereotype yang menganggap perempuan sebagai pekerja domestik dan laki-laki sebagai pekerja publik juga menjadi salah satu penyebab perempuan lebih banyak mengurus rumah tangga pada usia 40 tahun ke bawah.

Penduduk yang bekerja di Provinsi Jawa Tengah sebagian besar berpendidikan SD dengan presentase pekerja laki-laki lebih tinggi (33,33 %) daripada pekerja perempuan (32,15 %). Persentase terendah pendidikan pekerja laki-laki (1,77 %) dan pekerja perempuan (2,74 %) adalah Diploma I/II/III. Kondisi ini sekaligus menggambarkan tingkat pendidikan penduduk Provinsi Jawa Tengah yang rata-rata masih rendah.

Data menunjukkan lebih dari 60 persen penduduk yang bekerja di Provinsi Jawa Tengah berpendidikan SMP ke bawah (Grafik 3.3). Pendidikan seseorang memiliki hubungan dengan produktivitas yang akan didapat oleh seseorang. Hal ini berarti, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi kesempatan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas pekerja di wilayah ini masih sangat rendah.

Grafik 3.3

Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Tidak/Belum Pernah Sekolah

Tidak/Belum Tamat SD

SD SMP SMA SMK D I/II/III Universitas 2.81 13.96 33.22 20.68 12.10 10.46 1.77 5.01 6.84 16.85 32.15 17.08 10.96 7.06 2.74 6.31 Laki-laki Perempuan

(22)

19

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai diberlakukan menjadi tantangan besar bagi pekerja di wilayah ini, sebab tenaga kerja asing bebas memasuki Indonesia (termasuk ke Jawa Tengah). Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan yang matang untuk mengahadapi persaingan yang makin ketat tersebut. Kesiapan dalam hal ini adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan. Hal ini perlu dilakukan mengingat Provinsi Jawa Tengah merupakan wilayah yang strategis dapat dijangkau dari arah manapun, serta memiliki potensi di sektor pertanian yang besar.

B. Lapangan Pekerjaan Utama

Lapangan pekerjaan utama menggambarkan sektor-sektor kegiatan ekonomi tempat masyarakat bekerja atau bermatapencaharian. Lapangan pekerjaan utama diklasifikasikan menjadi 9 kategori, mulai dari sektor primer hingga sektor jasa. Tabel 3.2 menunjukkan jumlah penduduk yang bekerja di Provinsi Jawa Tengah menurut lapangan pekerjaan utama dan jenis kelamin.

Tabel 3.2

Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Lapangan Pekerjaan Utama Laki-laki Perempuan Total

1 2.905.715 1.803.992 4.709.707 2 99.540 25.005 124.545 3 1.645.228 1.622.448 3.267.676 4 31.588 2.337 33.925 5 1.506.207 22.896 1.529.103 6 1.701.252 2.102.511 3.803.763 7 521.031 26.643 547.674 8 242.796 101.074 343.870 9 1.071.950 1.002.929 2.074.879 Jumlah 9.725.307 6.709.835 16.435.142 Catatan:

1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan & Perikanan 2 Pertambangan dan Penggalian

3 Industri

4 Listrik, Gas dan Air Minum 5 Konstruksi

6 Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi 7 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi

(23)

20

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Lapangan pekerjaan utama pada sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan di Provinsi Jawa Tengah di dominasi oleh laki-laki dengan persentase sebesar 29,88 persen. Pekerja perempuan di wilayah ini mendominasi sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi dengan persentase sebesar 31,33 persen (Grafik 3.4). Sementara itu, lapangan pekerjaan utama pada sektor Listirik, Gas, dan Air Minum memiliki persentase yang paling kecil yang berlaku pada pekerja laki-laki (0,32 %) maupun pekerja perempuan (0,03 %). Pada lapangan pekerjaan utama di sektor Konstruksi terdapat presentasi yang cukup jauh antara laki-laki dan perempuan. Data menunjukkan laki-laki yang bekerja di sektor

Konstruksi adalah sebanyak 15,49 persen, sedangkan perempuan hanya sebanyak 0,34 persen. Lapangan pekerjaan pada sektor ini membutuhkan tenaga dan kekuatan fisik yang besar. Oleh sebab itu, laki-laki lebih dominan di jenis pekerjaan ini daripada perempuan.

Grafik 3.4

Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

1 2 3 4 5 6 7 8 9 29.88 1.02 16.92 0.32 15.49 17.49 5.36 2.50 11.02 26.89 0.37 24.18 0.03 0.34 31.33 0.40 1.51 14.95 Laki-laki Perempuan

8 Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan & Jasa Perusahaan 9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan

Catatan:

1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan & Perikanan 2 Pertambangan dan Penggalian

3 Industri

4 Listrik, Gas dan Air Minum 5 Konstruksi

(24)

21

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

C. Status Pekerjaan Utama

Status pekerjaan utama diklasifikasikan menjadi tujuh kategori, yaitu Berusaha sendiri, Berusaha dibantu buruh tidak tetap/tak dibayar, Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar, Buruh/karyawan/pegawai, Pekerja bebas di pertanian, Pekerja bebas di non pertanian, dan Pekerja keluarga/tak dibayar. Data di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan, persentase terbesar yakni sebanyak 34,83 persen laki-laki dan sebanyak 34,57 persen perempuan memiliki status pekerjaan utama sebagai Buruh/karyawan/pegawai (Grafik 3.5). Status pekerjaan utama yang paling kecil presentasinya baik pada laki-laki (4,52 %) maupun perempuan (2,16 %) adalah Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar. Hasil lain menunjukkan bahwa perempuan yang masuk dalam kategori pekerja keluarga/tak dibayar lebih tinggi (24,76 %) daripada laki-laki (5,48 %).

Grafik 3.5

Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Catatan:

1 Berusaha sendiri

2 Berusaha dibantu buruh tidak tetap/tak dibayar 3 Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar

4 Buruh/karyawan/pegawai 1 2 3 4 5 6 7 14.53 21.74 4.52 34.83 4.94 13.97 5.48 18.89 12.22 2.16 34.57 4.68 2.71 24.76 Laki-laki Perempuan 7 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi

8 Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan & Jasa Perusahaan 9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan

(25)

22

5 Pekerja bebas di pertanian 6 Pekerja bebas di non pertanian 7 Pekerja keluarga/tak dibayar

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Fakta ini menggambarkan bahwa masih terdapat penduduk yang bekerja tidak mendapatkan haknya berupa upah karena tidak dibayar. Fenomena ini biasanya terjadi pada sektor usaha keluarga. Contohnya, istri yang membantu suami dalam menjalankan usaha keluarga.Selain itu, kekerabatan di Indonesia yang sudah sangat kuat, menjadikan budaya tolong menolong cukup sulit untuk dihilangkan. Kondisi ini diduga menjadi faktor yang mempengaruhi adanya penduduk yang terkategori pada status pekerja keluar/tak dibayar.

D. Jenis Pekerjaan Utama

Jenis pekerjaan utama yang paling banyak digeluti masyarakat Provinsi Jawa Tengah adalah jenis pekerkaan Tenaga Produksi Op Alat Angkutan dan Pekerja Kasar, yakni sebanyak 42,87 persen laki-laki dan 27,66 persen perempuan. Jenis pekerjaan ini membutuhkan tenaga dan kekuatan fisik lebih besar dibandingkan jenis pekerjaan lainnya. Oleh sebab itu, laki-laki lebih dominan di jenis pekerjaan ini daripada perempuan. Jenis pekerjaan yang juga banyak diminati oleh laki-laki (29,44 %) dan perempuan (26,70 %) adalah jenis pekerjaan Tenaga Usaha Tani, Kebun, Ternak-Ternak, Ikan, Hutan dan Perburuan. Jenis pekerjaan ini tergolong dalam jenis pekerjaan primer atau sektor pertanian. Kondisi ini sesuai dengan karakteristik Provinsi Jawa Tengah yang memiliki potensi besar di sektor pertanian.

Jenis pekerjaan yang didominasi oleh perempuan adalah Tenaga Usaha Penjualan. Pada jenis pekerjaan ini persentase perempuan mencapai 27,60 persen, sedangkan laki-laki hanya 14,57 persen. Jenis pekerjaan ini sesuai dengan karakteristik perempuan yang memiliki peran ganda untuk mengurus rumah tangga, sehingga membutuhkan waktu yang fleksibel untuk bekerja.

(26)

23 Grafik 3.6

Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Catatan:

1. Tenaga Profesional, Teknisi dan Tenaga Lain Yang Berhubungan Dengan Itu 2. Tenaga Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan

3. Pejabat Pelaksana, Tenaga Tata Usaha dan Tenaga Yang Berhubungan Dengan Itu 4. Tenaga Usaha Penjualan

5. Tenaga Usaha Jasa

6. Tenaga Usaha Tani, Kebun, Ternak-ternak, Ikan, Hutan dan Perburuan 7. Tenaga Produksi Op Alat Angkutan dan Pekerja Kasar

8. Lainnya

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

1 2 3 4 5 6 7 8 4.07 1.05 3.36 14.57 4.03 29.44 42.87 0.61 7.00 0.44 3.77 27.60 6.80 26.70 27.66 0.03 Laki-laki Perempuan

(27)

24 BAB IV UPAH PEKERJA

A. Diferensiasi Upah menurut Karakteristik Umum

Upah/gaji bersih adalah imbalan yang diterima oleh buruh/karyawan baik berupa uang atau barang yang dibayarkan Perusahaan/Kantor/Majikan dalam satu bulan. Upah/gaji bersih yang dimaksud adalah imbalan yang diterima setelah dikurangi potongan-potongan iuran wajib, pajak penghasilan dan sebagainya. Imbalan yang diterima dalam bentuk barang, disesuaikan dengan harga daerah

setempat. Hal ini berarti hanya penduduk bekerja dengan status

Buruh/karyawan/pegawai atau yang sering disebut dengan pekerja saja yang menerimanya. Oleh karenanya pembahasan mengenai upah, tentu saja hanya relevan pada golongan pekerja saja.

Rata-rata upah/gaji bersih bagi para pekerja di Provinsi Jawa Tengah masih rendah. Sebagian besar pekerja memiliki gaji di bawah Rp. 200.000 sebulan, dimana laki-laki sebanyak 33,55 persen dan perempuansebanyak 42,83 persen Hal ini karena masih adanya diskriminasi dalam pengupahan. Perempuan akan cenderung diberikan upah yang lebih rendah dari pada laki-laki (Grafik 4.1).

Grafik 4.1

Persentase Buruh/Karyawan Menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Sebulan Dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa TengahTahun 2015

Catatan: 1 = kurangdariRp.200.000 2 = Rp.200.000 sampai Rp.399.999 3 = Rp.400.000sampai Rp.599.999 4 = Rp.600.000sampai Rp.799.999 5 = Rp.800.000sampaiRp.999.999 1 2 3 4 5 6 7 8 33.55 3.82 5.22 7.51 7.61 19.42 10.63 12.23 42.83 8.15 8.46 10.13 6.19 11.15 6.12 6.98 Laki-laki Perempuan

(28)

25

6 = Rp.1.000.000sampai Rp.1.499.999 7 = Rp.1.500.000sampai Rp.1.999.999 8 = Rp.2.000.000danlebih

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Gambaran diskriminasi tersebut semakin terlihat nyata jika diperhatikan tiga kelompok pekerja dengan upah tertinggi, yaitu Rp. 1.000.000 atau lebih. Pada ketiga kelompok tersebut, persentase pekerja laki-laki selalu lebih besar dengan selisih yang sangat besar dari pada persentase pekerja perempuan. Dengan kata lain, pekerja dengan upah/gaji tinggi, didominasi oleh laki-laki. Kalaupun ada pekerja perempuan dengan upah/gaji yang tinggi, jumlahnya tidak lebih dari setengahnya laki-laki.

Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata upah/gaji menurut kelompok umur semakin mengindikasikan adanya diskriminasi pengupahan berdasarkan jenis kelamin. Terlihat jelas bahwa pada hampir semua kelompok umur, rata-rata upah/gaji yang diterima oleh pekerja perempuan nilainya jauh di bawah laki-laki. Hal tersebut dapat terlihat pada Tabel 4.1.

Pada kelompok umur 15-19 tahun dan 20-24 tahun, rata-rata upah pekerja perempuan jauh lebih tinggi di banding laki-laki. Hal ini diduga karena pada kelompok usia tersebut pekerja perempuan masih fokus berkarir dan menghasilkan uang. Hal ini berbanding terbalik pada kelompok usia 25 tahun ke atas, dimana rata-rata upah pekerja laki-laki lebih tinggi. Hal ini diduga karena pada kelompok usia tersebut pekerja perempuan lebih berfokus pada rumah tangga dan keluarga.

Rata-rata upah/gaji mencapai puncak tertinggi pada usia 45-59 tahun. Semakin tinggi usia seseorang, maka semakin tinggi upah/gaji. Hal tersebut dikarenakan semakin tua usia seseorang, semakin berpengalaman, semakin produktif sehingga upah/gaji semakin besar. Upah/gaji yang besar tidak berlaku pada usia 60 tahun ke atas. Hal tersebut dikarenakan kondisi kesehatan fisik pada usia tersebut sudah mulai menurun.

(29)

26 Tabel 4.1

Rata-rata Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan Buruh/KaryawanMenurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

KelompokUmur JenisKelamin Total

Laki-laki Perempuan 15 - 19 822.168 932.128 882.628 20 - 24 1.086.704 1.110.795 1.097.783 25 - 29 1.332.588 1.268.090 1.307.206 30 - 34 1.548.109 1.280.287 1.438.200 35 - 39 1.824.705 1.330.220 1.627.402 40 - 44 1.947.033 1.364.429 1.722.110 45 - 49 2.205.768 1.705.893 2.023.883 50 - 54 2.680.676 2.020.963 2.437.713 55 - 59 2.643.804 2.248.673 2.508.486 60 + 1.363.878 728.297 1.145.192 Jumlah 1.712.887 1.350.743 1.565.697

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Upah/gaji yang diterima oleh seorang pekerja, baik pekerja perempuan maupun laki-laki, umumnya juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang ditamatkan. Semakin tinggi pendidikan pekerja, maka semakin tinggi upah/gaji yang diterima. Oleh karenanya, pendidikan dapat dikatakan sebagai salah satu karakteristik yang menggambarkan kualitas pekerja yang berpengaruh pada besaran upah/gaji yang diterima. Hal tersebut dikarenakan pada umumnya tingkat pendidikan yang semakin tinggi. Tabel 4.2 di bawah menunjukkan gambaran tersebut, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, rata-rata upah yang diterima akan semakin besar, baik pada pekerja laki-laki maupun pekerja perempuan. Hal tersebut dikarenakan tingkat pendidikan pekerja yang semakin tinggi menghasilkan kualitas kinerja yang lebih baik.

Rata-rata upah/gaji apabila diperhatikan pada masing-masing kelompok tingkat pendidikan, terlihat bahwa pada semua kelompok, rata-rata upah/gaji perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal tersebut dikarenakan berbagai hal, diantaranya adalah jam kerja laki-laki lebih panjang dibandingkan perempuan karena perempuan tidak hanya berfokus pada pekerjaan akan tetapi juga mengurus keluarga.

(30)

27 Tabel 4.2

Rata-rata Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan Buruh/KaryawanMenurut Pendidikan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa TengahTahun 2015

PendidikanTerakhir yang Ditamatkan JenisKelamin Total Laki-laki Perempuan Tidak/BelumPernahSekolah 934.834 647.852 753.175 Tidak/BelumTamat SD 1.022.414 661.437 862.735 SD 1.185.822 800.651 1.030.830 SMP 1.260.093 1.003.930 1.161.488 SMA 1.747.879 1.281.411 1.564.532 SMK 1.577.601 1.261.104 1.475.278 D I/II/III 2.579.689 2.172.960 2.358.954 Universitas 3.720.802 2.643.420 3.200.080 Jumlah 1.712.887 1.350.743 1.565.697

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

B. Diferensiasi Upah menurut Kabupaten/Kota

Rata-rata upah/gaji untuk keseluruhan Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp. 1.712.887 untuk pekerja laki-laki, dan untuk perempuan sebesar Rp.1.350.743. Total rata-rata upah tanpa memperhatikan jenis kelamin sebesar Rp. 1.565.697. Berdasarkan data tersebut upah/gaji tersebut terlihat masih terdapat perbedaan antara rata-rata upah/gaji untuk pekerja laki-laki dengan pekerja perempuan. Dengan kata lain secara keseluruhan di Provinsi Jawa Tengah masih terdapat ketimpangan upah/gaji pada perempuan dan laki-laki (Tabel 4.3).

Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa daerah yang memiliki rata-rata upah/gaji paling tinggi pada laki-laki adalah Kota Salatiga, sedangkan perempuan adalah Kota Magelang. Rata-rata upah/gaji bersih di Kota Magelang untuk pekerja perempuan lebih tinggi dari yang diterima pekerja laki-laki, yaitu sebesar Rp.2.389.925 sebulan. Sementara untuk pekerja laki-laki hanya Rp.1.765.434sebulan. Daerah lain yang rata-rata upah/gaji bersih untuk pekerja perempuan lebih tinggi dari pekerja laki-laki adalah Kabupaten Kendal. Untuk daerah lainnya rata-rata upah/gaji bersih yang diterima pekerja perempuan selalu lebih rendah dibandingkan dengan yang diterima pekerja laki-laki.

(31)

28 Tabel 4.3

Rata-rata Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan Buruh/KaryawanMenurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

No. Kabupaten/Kota Laki-laki Perempuan Total

1 Cilacap 2.401.623 1.379.201 2.032.734 2 Banyumas 1.706.595 1.351.043 1.576.871 3 Purbalingga 1.862.719 1.104.508 1.423.251 4 Banjarnegara 1.541.521 959.707 1.283.283 5 Kebumen 1.840.365 1.233.043 1.599.375 6 Purworejo 2.107.692 1.504.911 1.847.198 7 Wonosobo 1.197.735 1.543.695 1.319.246 8 Magelang 1.565.058 1.346.726 1.474.589 9 Boyolali 1.652.508 1.442.063 1.562.616 10 Klaten 1.575.013 1.195.205 1.410.970 11 Sukoharjo 1.644.203 1.398.469 1.537.478 12 Wonogiri 1.992.473 1.834.325 1.935.472 13 Karanganyar 1.468.656 1.375.362 1.425.451 14 Sragen 2.250.976 1.502.713 1.921.781 15 Grobogan 1.875.376 1.268.786 1.687.511 16 Blora 1.896.528 1.572.297 1.787.909 17 Rembang 1.582.113 1.150.997 1.433.222 18 Pati 1.731.752 1.186.067 1.513.859 19 Kudus 1.499.783 902.836 1.198.284 20 Jepara 1.286.961 847.737 1.119.504 21 Demak 1.778.905 1.393.831 1.606.540 22 Semarang 1.631.300 1.507.409 1.568.936 23 Temanggung 1.619.109 1.327.077 1.496.092 24 Kendal 1.640.577 1.806.178 1.700.042 25 Batang 1.490.269 1.178.431 1.378.823 26 Pekalongan 1.423.364 1.069.009 1.282.685 27 Pemalang 1.540.357 1.108.485 1.401.251 28 Tegal 1.567.174 1.175.910 1.431.841 29 Brebes 2.084.988 1.569.397 1.924.339 30 Kota Magelang 1.765.434 2.389.925 2.023.833 31 Kota Surakarta 1.345.597 1.254.737 1.306.940 32 Kota Salatiga 2.306.008 1.770.430 2.070.278 33 Kota Semarang 2.127.352 1.852.019 2.017.255 34 Kota Pekalongan 1.296.939 1.107.162 1.226.795 35 Kota Tegal 1.433.374 1.313.857 1.394.165

Provinsi Jawa Tengah 1.712.887 1.350.743 1.565.697

(32)

29

C. Diferensiasi Upah menurut Lapangan Pekerjaan

Upah/gaji di provinsi Jawa Tengah secara umum masih rendah, terutama di lapangan pekerjaan Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan. Dari seluruh pekerja dilapangan sebanyak 2.905.715 orang, dan sebanyak 1.961.947 orang (67,52 persen) dengan upah/gaji kurang dari Rp. 200.000 sebulan. Dengan kata lain, hanya sebesar 32,48 persen dari pekerja yang upah/gaji lebih dari Rp. 200.000 sebulan. Hal tersebut karena pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan kasar seperti halnya buruh kebun, dan tidak setiap hari ada pekerjaan yang mereka jalankan. Selain itu lapangan pekerjaan lain yang juga banyak memberikan upah/gaji rendah adalah Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi. Dari 1.701.252 orang yang bekerja di sektor ini, sebesar 35,49 persen mendapatkan upah/gaji kurang dari Rp. 200.000 sebulan. Hal tersebut dikarenakan lapangan pekerjaan menyerap hampir seluruh tenaga kerja, namun nilai tambah yang dihasilkan dari sektor tersebut kurang memadai untuk membayar tenaga kerja secara layak.

Lapangan pekerjaan yang memberikan upah cukup baik di Provinsi Jawa Tengah adalah Listrik, Gas, dan Air Minum. Lapangan pekerjaan ini menyerap pekerja sebesar 36,31 persen. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan pada sektor ini dibutuhkan kualifikasi pekerja yang tinggi, sehingga upah/gaji yang diperoleh cukup tinggi.

Kondisi lebih parah dialami oleh mereka yang bekerja pada sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan. Pada lapangan pekerjaan tersebut, dari sebanyak 2.905.715 orang laki-laki yang bekerja pada sektor ini, sebanyak 67,52 persen hanya mendapatkan upah kurang dari Rp. 200.000 sebulan. Hal tersebut dikarenakan dibeberapa kelompok masyarakat yang mempersepsikan beberapa pekerjaan yang dianggap sesuai dengan kapasitas tertentu, salah satunya kapasitas fisik. Sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan merupakan pekerjaan dengan kapasitas fisik yang cenderung tidak membutuhkan keterampilan yang tinggi. Hal ini menjadikan upah/gaji pada sektor tersebut cenderung rendah.

(33)

30 Tabel 4.4

Jumlah dan Persentase Pekerja Menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan dan Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Lapangan Pekerjaan Utama

Upah/Gaji Bersih Sebulan <200000 200000-399999 400000-599999 600000-799999 800000-999999 1000000-1499999 1500000-1999999 2000000+ Total 1 1.961.947 138.507 154.252 177.513 128.075 199.321 88.808 57.292 2.905.715 % 67,52 4,77 5,31 6,11 4,41 6,86 3,06 1,97 100,00 2 13.424 2.067 8.898 10.247 13.959 16.692 13.316 20.937 99.540 % 13,49 2,08 8,94 10,29 14,02 16,77 13,38 21,03 100,00 3 437.824 48.541 77.445 154.197 163.877 506.519 140.169 116.656 1.645.228 % 26,61 2,95 4,71 9,37 9,96 30,79 8,52 7,09 100,00 4 1.463 0 2.533 2.921 2.476 6.027 4.698 11.470 31.588 % 4,63 0,00 8,02 9,25 7,84 19,08 14,87 36,31 100,00 5 51.479 38.664 48.678 98.702 141.572 526.255 399.668 201.189 1.506.207 % 3,42 2,57 3,23 6,55 9,40 34,94 26,53 13,36 100,00 6 603.778 43.603 81.376 134.469 144.447 298.606 165.828 229.145 1.701.252 % 35,49 2,56 4,78 7,90 8,49 17,55 9,75 13,47 100,00 7 53.211 21.769 39.402 62.970 53.379 108.281 82.878 99.141 521.031 % 10,21 4,18 7,56 12,09 10,24 20,78 15,91 19,03 100,00 8 26.112 6.740 7.918 11.097 16.601 60.663 34.710 78.955 242.796 % 10,75 2,78 3,26 4,57 6,84 24,99 14,30 32,52 100,00 9 113.379 71.744 87.626 78.318 75.918 166.529 103.866 374.570 1.071.950 % 10,58 6,69 8,17 7,31 7,08 15,54 9,69 34,94 100,00 Jumlah 3.262.617 371.635 508.128 730.434 740.304 1.888.893 1.033.941 1.189.355 9.725.307 33,55 3,82 5,22 7,51 7,61 19,42 10,63 12,23 100,00 Catatan:

1 Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan 2 Pertambangan dan penggalian

3 Industri

4 Listrik, gas, dan air minum 5 konstruksi

6 Perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi 7 Transportasi, pergudangan , dan komunikasi

8 Lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan, jasa perorangan 9 Jasa kemasyarakatan, sosial, dan perorangan

Sumber: Sakernas Agustus 2015, BPS

Lapangan pekerjaan yang memberikan upah cukup baik pada laki-laki di Provinsi Jawa Tengah adalah Listrik, Gas, dan Air Minum. Lapangan pekerjaan ini menyerap pekerja sebesar 36,31 persen. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan pada sektor ini dibutuhkan kualifikasi pekerja yang tinggi, sehingga upah/gaji yang diperoleh cukup tinggi.

(34)

31 Tabel 4.5

Jumlah dan Persentase Pekerja Laki-laki Menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan dan Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Lapangan Pekerjaan Utama

Upah/Gaji Bersih Sebulan <200000 200000-399999 400000-599999 600000-799999 800000-999999 1000000-1499999 1500000-1999999 2000000+ Total 1 1.961.947 138.507 154.252 177.513 128.075 199.321 88.808 57.292 2.905.715 % 67,52 4,77 5,31 6,11 4,41 6,86 3,06 1,97 100,00 2 13.424 2.067 8.898 10.247 13.959 16.692 13.316 20.937 99.540 % 13,49 2,08 8,94 10,29 14,02 16,77 13,38 21,03 100,00 3 437.824 48.541 77.445 154.197 163.877 506.519 140.169 116.656 1.645.228 % 26,61 2,95 4,71 9,37 9,96 30,79 8,52 7,09 100,00 4 1.463 0 2.533 2.921 2.476 6.027 4.698 11.470 31.588 % 4,63 0,00 8,02 9,25 7,84 19,08 14,87 36,31 100,00 5 51.479 38.664 48.678 98.702 141.572 526.255 399.668 201.189 1.506.207 % 3,42 2,57 3,23 6,55 9,40 34,94 26,53 13,36 100,00 6 603.778 43.603 81.376 134.469 144.447 298.606 165.828 229.145 1.701.252 % 35,49 2,56 4,78 7,90 8,49 17,55 9,75 13,47 100,00 7 53.211 21.769 39.402 62.970 53.379 108.281 82.878 99.141 521.031 % 10,21 4,18 7,56 12,09 10,24 20,78 15,91 19,03 100,00 8 26.112 6.740 7.918 11.097 16.601 60.663 34.710 78.955 242.796 % 10,75 2,78 3,26 4,57 6,84 24,99 14,30 32,52 100,00 9 113.379 71.744 87.626 78.318 75.918 166.529 103.866 374.570 1.071.950 % 10,58 6,69 8,17 7,31 7,08 15,54 9,69 34,94 100,00 Jumlah 3.262.617 371.635 508.128 730.434 740.304 1.888.893 1.033.941 1.189.355 9.725.307 33,55 3,82 5,22 7,51 7,61 19,42 10,63 12,23 100,00 Catatan:

1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan & Perikanan 2 Pertambangan dan Penggalian

3 Industri

4 Listrik, Gas dan Air Minum 5 Konstruksi

6 Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi 7 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi

8 Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan & JasasPerusahaan 9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Kondisi upah/gaji pada pekerja perempuan umumnya lebih banyak yang mendapatkan upah/gaji lebih rendah dibandingkan dengan pekerja laki-laki. Pada lapangan pekerjaan tersebut, sebanyak 78.30 persen mendapatkan upah kurang

(35)

32

dari Rp. 200.000 sebulan. Sama halnya dengan kondisi upah/gaki pada pekerja laki-laki. Hal ini juga dikarenakan dibeberapa kelompok masyarakat yang mempersepsikan beberapa pekerjaan yang dianggap sesuai dengan kapasitas tertentu, yaitu kapasitas fisik. Sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan merupakan pekerjaan dengan kapasitas fisik yang cenderung tidak membutuhkan keterampilan yang tinggi. Hal ini berarti kondisi upah/gaji pada pekerja perempuan tdi sektor pekerjaan utama tidak berbeda dengan upah/gaji pada pekerja laki-laki.

Tabel 4.6

Jumlah dan Persentase Pekerja Perempuan Menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan dan Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Lapangan Pekerjaan Utama

Upah/Gaji Bersih Sebulan <200000 200000-399999 400000-599999 600000-799999 800000-999999 1000000-1499999 1500000-1999999 2000000+ Total 1 1.412.614 152.733 103.644 71.470 28.741 23.534 7.382 3.874 1.803.992 % 78,30 8,47 5,75 3,96 1,59 1,30 0,41 0,21 100,00 2 9.338 4.392 3.196 3.461 1.894 0 2.481 243 25.005 % 37,34 17,56 12,78 13,84 7,57 0,00 9,92 0,97 100,00 3 449.640 158.261 141.154 197.171 116.642 359.946 152.154 47.480 1.622.448 % 27,71 9,75 8,70 12,15 7,19 22,19 9,38 2,93 100,00 4 0 250 0 0 193 1.204 0 690 2.337 % 0,00 10,70 0,00 0,00 8,26 51,52 0,00 29,53 100,00 5 2.954 0 686 3.017 2.674 5.514 5.635 2.416 22.896 % 12,90 0,00 3,00 13,18 11,68 24,08 24,61 10,55 100,00 6 902.498 95.759 169.190 266.398 181.238 233.323 149.321 104.784 2.102.511 % 42,92 4,55 8,05 12,67 8,62 11,10 7,10 4,98 100,00 7 5.106 829 1.447 2.662 3.749 3.914 3.671 5.265 26.643 % 19,16 3,11 5,43 9,99 14,07 14,69 13,78 19,76 100,00 8 6.978 3.321 4.628 6.231 5.029 14.261 19.522 41.104 101.074 % 6,90 3,29 4,58 6,16 4,98 14,11 19,31 40,67 100,00 9 84.458 131.537 143.726 129.167 74.988 106.319 70.525 262.209 1.002.929 % 8,42 13,12 14,33 12,88 7,48 10,60 7,03 26,14 100,00 Jumlah 2.873.586 547.082 567.671 679.577 415.148 748.015 410.691 468.065 6.709.835 42,83 8,15 8,46 10,13 6,19 11,15 6,12 6,98 100,00 Catatan:

1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan & Perikanan 2 Pertambangan dan Penggalian

3 Industri

4 Listrik, Gas dan Air Minum 5 Konstruksi

(36)

33

6 Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi 7 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi

8 Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan & Jasa Perusahaan 9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

D. Diferensiasi Upah menurut Jenis Pekerjaan

Imbalan atau upah/gaji yang diterima oleh pekerja juga bervariasi menurut jenis pekerjaan. Jenis-jenis pekerjaan tertentu menunjukkan pengupahan yang lebih baik dari jenis pekerjaan lainnya. Tabel 4.7 menjelaskan secara umum sistem pengupahan menurut berbagai jenis pekerjaan tanpa membedakan jenis kelamin. Jenis pekerjaan Tenaga Usaha Tani, Kebun, Ternak-Ternak, Ikan, Hutan dan Perburuan adalah yang paling banyak memberikan upah/gaji terendah yaitu tidak lebih dari Rp. 200.000 sebulan sebesar 72,19 persen. Rendahnya upah/gaji menggambarkan bahwa jenis pekerjaan tersebut belum memiliki kualifikasi pekerja yang cukup tinggi sehingga tidak membayar tinggi tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Jenis pekerjaan tersebut adalah pekerjaan lapangan yang membutuhkan banyak tenaga namun minim keahlian dan tidak memerlukan kualifikasi tingkat pendidikan yang tinggi. Mereka seringkali disebut sebagai pekerja kasar yaitu yang terlibat secara langsung dalam pengerjaan. Sebagian besar dari mereka tidak bekerja dengan jam kerja yang pasti, seringkali mereka bekerja hanya pada waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja, sehingga mereka mendapat gaji yang sangat kecil. Perlunya meningkatkankualitaspekerjaandantransisi dari sektor informal kesektorperekonomianformal membutuhkaninvestasi di berbagaibidang,

termasukmengurangihambatandalammembukausahabaru, menanamkan

modaldalamsistemperlindungansosial,

meningkatkanakseskepelatihankerjadanpendidikantinggi,

sertameningkatkanefisiensipasartenagakerja agar dapatmempromosikanformalisasi.

Kebijakanperlidungantentangupah minimum,pesangon, outsourcing

dantunjanganjaminansocialsalingterkaiteratsatusama lain

namunpelaksanaanperundinganbersamamasihterbatas.

Hal berbeda terjadi pada jenis pekerjaan Tenaga Profesional, Teknisi dan Tenaga Lain ybdi yang mendapatkan gaji diatas Rp2.000.000. Kebutuhan keahlian dan keterampilan khusus untuk bekerja menjadi Tenaga Profesional, Teknisi dan Tenaga Lain, menyebabkan tenaga pekerja tersebut mendapatkan gaji/upah yang

(37)

34

sesuai. Selain itu, untuk menjadi Tenaga Profesional, Teknisi dan Tenaga Lain

tersebut sebelumnya dibutuhkan jenjang pendidikan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan adanya harga upah/gaji yang harus dibayar untuk menghargai pendidikan yang telah ditempuh tersebut. Tidak ditemukan adanya perbedaan antara pekerja perempuan dan laki-laki untuk persentase golongan upah pada jenis pekerjaan tersebut.

Tabel 4.7

Jumlah dan Persentase Pekerja menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan dan Jenis Pekerjaan Utama di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Jenis Pekerjaan

Utama

Upah/Gaji Bersih Sebulan <200000 200000-399999 400000-599999 600000-799999 800000-999999 1000000-1499999 1500000-1999999 2000000+ Total 1 60.967 100.971 71.401 44.671 32.109 80.907 74.327 400.252 865.605 % 7,04 11,66 8,25 5,16 3,71 9,35 8,59 46,24 100,00 2 58.270 2.365 2.039 2.153 2.754 8.625 9.470 45.971 131.647 % 44,26 1,80 1,55 1,64 2,09 6,55 7,19 34,92 100,00 3 17.250 17.475 22.882 27.726 32.296 132.437 96.588 233.267 579.921 % 2,97 3,01 3,95 4,78 5,57 22,84 16,66 40,22 100,00 4 1.360.435 123.392 215.717 340.396 262.962 408.766 257.764 299.666 3.269.098 % 41,61 3,77 6,60 10,41 8,04 12,50 7,88 9,17 100,00 5 149.051 60.987 110.508 127.688 101.431 135.525 72.197 90.939 848.326 % 17,57 7,19 13,03 15,05 11,96 15,98 8,51 10,72 100,00 6 3.360.302 288.142 252.564 243.870 152.795 215.386 88.249 53.376 4.654.684 % 72,19 6,19 5,43 5,24 3,28 4,63 1,90 1,15 100,00 7/8/9 1.129.928 324.884 399.702 623.507 571.105 1.654.646 843.886 477.291 6.024.949 % 18,75 5,39 6,63 10,35 9,48 27,46 14,01 7,92 100,00 X/00 0 501 986 0 0 616 2.151 56.658 60.912 % 0,00 0,82 1,62 0,00 0,00 1,01 3,53 93,02 100,00 Jumlah 6.136.203 918.717 1.075.799 1.410.011 1.155.452 2.636.908 1.444.632 1.657.420 16.435.142 37,34 5,59 6,55 8,58 7,03 16,04 8,79 10,08 100,00 Catatan:

1.Tenaga Profesional, Teknisi dan Tenaga Lain bdi 2.Tenaga Kepemimpinan Dan Ketatalaksanaan

3.Pejabat Pelaksana, Tenaga Tata Usaha Dan Tenaga Yang Berhubungan Dengan Itu 4.Tenaga Usaha Penjualan

5.Tenaga Usaha Jasa

6.T U Tani, Kebun, Ternak-ternak, Ikan, Hutan Dan Perburuan 7/8/9.Tenaga Produksi Op Alat Angkutan Dan Pekerja Kasar X/00. Lainnya

(38)

35

Tabel 4.8. menjelaskan tingkat upah/gaji menurut jenis pekerjaan khusus untuk pekerja laki-laki di Provinsi Jawa Tengah. Terlihat bahwa jenis pekerjaan

Tenaga Usaha Tani, Kebun, Ternak-ternak, Ikan, Hutan Dan Perburuan paling banyak memberikan upah/gaji terendah, tidak lebih dari Rp. 200.000 sebulan. Hal tersebut dikarenakan pada sektor tersebut pekerja yang digunakan umumnya untuk pekerjaan buruh yang tidak memerlukan keahlian khusus, sehingga upah/gaji yang didapatan rendah. Dari 2.863.056 orang pekerja laki-laki yang bekerja pada jenis pekerjaan ini terdapat 68,23persen yang menerima upah/gaji kurang dari Rp. 200.000 sebulan. Upah/gaji terendah secara persentase untuk laki-laki adalah jenis pekerjaan Tenaga Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan, dimana sebesar 44,44 persen pekerja laki-lakinya mendapatkan upah/gaji terendah. Contoh pekerjaan

Tenaga Kepemimpinan dan Ketatalaksanaanadalah kader, ketua RT, ketua RW danlain-lain. Pekerjaan-pekerjaan tersebut biasanya tidak mendapatkan pendapatan khusun bahkan beberapa diantanya ada yang bersifat sukarela. Hal ini menyebabkan rendahnya upah/gaji yang didapatkan oleh tenaga kerja tersebut.

Jenis pekerjaan yang banyak memberikan upah/gaji tertinggi secara persentase pada kelompok pekerja laki-laki adalah jenis pekerjaan Lainnya dimana terdapat 92,79persen yang menerima upah/gaji Rp. 2.000.000 sebulan. Upah/Gaji yang tinggi juga banyak dinikmati oleh para pekerja laki-laki yang tergolong dalam

Tenaga Profesional, Teknisi Dan Tenaga Lain Ybdi juga merupakan jenis pekerjaan dengan upah/gaji yang bagus, karena yang menerima upah/gaji Rp. 2.000.000 atau lebih sebulan mencapai 51,08 persen. Hal tersebut dikarenakan Tenaga Profesional, Teknisi Dan Tenaga Lain yang mendapatkan upah/gaji diatas Rp. 2.000.000. Kebutuhan keahlian dan keterampilan khusus untuk bekerja menjadi Tenaga Profesional, Teknisi dan Tenaga Lain, menyebabkan tenaga pekerja tersebut mendapatkan gaji/upah yang sesuai. Selain itu, untuk menjadi Tenaga Profesional, Teknisi dan Tenaga Lain tersebut sebelumnya dibutuhkan jenjang pendidikan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan adanya harga upah/gaji yang harus dibayar untuk menghargai pendidikan yang telah ditempuh tersebut.

(39)

36 Tabel 4.8

Jumlah dan Persentase Pekerja Laki-laki menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan dan Jenis Pekerjaan Utamadi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Jenis Pekerjaan

Utama

Upah/Gaji Bersih Sebulan <200000 200000-399999 400000-599999 600000-799999 800000-999999 1000000-1499999 1500000-1999999 2000000+ Total 1 29.204 32.756 23.231 13.598 21.986 37.931 34.855 202.135 395.696 % 7,38 8,28 5,87 3,44 5,56 9,59 8,81 51,08 100,00 2 45.373 516 293 682 1.491 7.500 8.286 37.962 102.103 % 44,44 0,51 0,29 0,67 1,46 7,35 8,12 37,18 100,00 3 10.385 9.678 15.265 12.929 22.161 77.754 45.467 133.167 326.806 % 3,18 2,96 4,67 3,96 6,78 23,79 13,91 40,75 100,00 4 556.246 34.299 63.312 102.172 109.862 212.597 134.936 203.843 1.417.267 % 39,25 2,42 4,47 7,21 7,75 15,00 9,52 14,38 100,00 5 73.116 16.690 30.513 38.047 33.653 84.142 45.035 71.135 392.331 % 18,64 4,25 7,78 9,70 8,58 21,45 11,48 18,13 100,00 6 1.953.337 135.577 150.744 173.956 124.054 193.898 81.570 49.920 2.863.056 % 68,23 4,74 5,27 6,08 4,33 6,77 2,85 1,74 100,00 7/8/9 594.956 141.618 223.784 389.050 427.097 1.274.455 681.641 436.442 4.169.043 % 14,27 3,40 5,37 9,33 10,24 30,57 16,35 10,47 100,00 X/00 0 501 986 0 0 616 2.151 54.751 59.005 % 0,00 0,85 1,67 0,00 0,00 1,04 3,65 92,79 100,00 Jumlah 3.262.617 371.635 508.128 730.434 740.304 1.888.893 1.033.941 1.189.355 9.725.307 33,55 3,82 5,22 7,51 7,61 19,42 10,63 12,23 100,00 Keterangan:

1.Tenaga Profesional, Teknisi Dan Tenaga Lain Ybdi 2.Tenaga Kepemimpinan Dan Ketatalaksanaan

3.Pejabat Pelaksana, Tenaga Tata Usaha Dan Tenaga Ybdi 4.Tenaga Usaha Penjualan

5.Tenaga Usaha Jasa

6.T U Tani, Kebun, Ternak2, Ikan, Hutan Dan Perburuan 7/8/9.Tenaga Produksi Op Alat Angkutan Dan Pekerja Kasar X/00. Lainnya

(40)

37 Tabel 4.9

Jumlah dan Persentase Pekerja Perempuan menurut Golongan Upah/Gaji Bersih (Rupiah) Selama Sebulan dan Jenis Pekerjaan Utamadi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

Jenis Pekerjaan

Utama

Upah/Gaji Bersih Sebulan <200000 200000-399999 400000-599999 600000-799999 800000-999999 1000000-1499999 1500000-1999999 2000000+ Total 1 31.763 68.215 48.170 31.073 10.123 42.976 39.472 198.117 469.909 % 6,76 14,52 10,25 6,61 2,15 9,15 8,40 42,16 100,00 2 12.897 1.849 1.746 1.471 1.263 1.125 1.184 8.009 29.544 % 43,65 6,26 5,91 4,98 4,27 3,81 4,01 27,11 100,00 3 6.865 7.797 7.617 14.797 10.135 54.683 51.121 100.100 253.115 % 2,71 3,08 3,01 5,85 4,00 21,60 20,20 39,55 100,00 4 804.189 89.093 152.405 238.224 153.100 196.169 122.828 95.823 1.851.831 % 43,43 4,81 8,23 12,86 8,27 10,59 6,63 5,17 100,00 5 75.935 44.297 79.995 89.641 67.778 51.383 27.162 19.804 455.995 % 16,65 9,71 17,54 19,66 14,86 11,27 5,96 4,34 100,00 6 1.406.965 152.565 101.820 69.914 28.741 21.488 6.679 3.456 1.791.628 % 78,53 8,52 5,68 3,90 1,60 1,20 0,37 0,19 100,00 7/8/9 534.972 183.266 175.918 234.457 144.008 380.191 162.245 40.849 1.855.906 % 28,83 9,87 9,48 12,63 7,76 20,49 8,74 2,20 100,00 X/00 0 0 0 0 0 0 0 1.907 1.907 % 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100,00 100,00 Jumlah 2.873.586 547.082 567.671 679.577 415.148 748.015 410.691 468.065 6.709.835 42,83 8,15 8,46 10,13 6,19 11,15 6,12 6,98 100,00 Keterangan:

1.Tenaga Profesional, Teknisi Dan Tenaga Lain Ybdi 2.Tenaga Kepemimpinan Dan Ketatalaksanaan

3.Pejabat Pelaksana, Tenaga Tata Usaha Dan Tenaga Ybdi 4.Tenaga Usaha Penjualan

5.Tenaga Usaha Jasa

6.T U Tani, Kebun, Ternak2, Ikan, Hutan Dan Perburuan 7/8/9.Tenaga Produksi Op Alat Angkutan Dan Pekerja Kasar X/00. Lainnya

Sumber: BPS, Sakernas – Agustus 2015

Jenis pekerjaan utama sebagai Tenaga Produksi Op Alat Angkutan Dan Pekerja Kasarmerupakan jenis pekerjaan utama yang paling banyak (1.855.906 orang) digeluti oleh pekerja perempuan Provinsi Jawa Tengah. Pada jenis pekerjaan utama ini, sebanyak 28,82 persen pekerja perempuan mendapatkan upah kurang dari Rp 200.000 sebulan. Sementara itu, pekerja perempuan yang mendapatkan upah lebih dari Rp 2.000.000 hanya sebanyak 2,20 persen. Hal ini sangat

Gambar

Grafik 2.1 menggambarkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)  laki-laki  selalu lebih  tinggi  dibandingkan  perempuan
Grafik 2.2 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) antara laki-laki  dan  perempuan  di  Jawa  Tengah  pada  tahun  2011  sampai  tahun  2015
Grafik  2.7  menggambarkan  persentase penduduk  kelompok  bukan  angkatan  kerja yang melakukan kegiatan lainnya, selain mengurus rumah tangga dan sekolah
Tabel  4.3  memperlihatkan  bahwa  daerah  yang  memiliki  rata-rata  upah/gaji  paling tinggi pada laki-laki adalah Kota Salatiga, sedangkan perempuan adalah Kota  Magelang

Referensi

Dokumen terkait

Keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi tidak terlepas dari keberhasilan pembangunan d semua bidang yang memberikan, peluang bagi perempuan untuk mendapatkan

memberi perlindungan kepada pekerja, keberpihakan stake holder atau pemangku kepentingan terhadap masalah tenaga kerja informal yang bekerja diluar negeri sangat besar, hal

Pengaturan buruh/pekerja perempuan dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2003 telah banyak mengalami perubahan dari ketentuan sebelumnya yang melarang perempuan diperkerjakan

Pengusaha yang tidak membayar upah pekerja/buruh perempuan yang sedang menjalankan istirahat haid, dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama

Jurusan SMK yang menghasilkan pengangguran perempuan terbanyak tahun 2018 Persentase Pengangguran Jurusan SMK Berdasarkan Lama Mencari Pekerjaan/ Menganggur Berdasarkan Gambar

Pasal 81 ayat 1 pekerja atau buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dam memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua waktu haid Adanya

Beka Engineering Pangkalan Kerinci beliau membenarkan tidak adanya pemberian makanan atau minuman yang begizi pada pekerja/buruh perempuan yang bekerja hingga malam hari, beliau

Perbandingan perlindungan hukum tenaga kerja perempuan di Indonesia dan