• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI IMPLEMENTASI PENDISTRIBUSIAN ZAKAT FITRAH OLEH AMIL DI KELURAHAN BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA KOTA METRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI IMPLEMENTASI PENDISTRIBUSIAN ZAKAT FITRAH OLEH AMIL DI KELURAHAN BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA KOTA METRO"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

OLEH AMIL DI KELURAHAN BANJARSARI KECAMATAN

METRO UTARA KOTA METRO

Oleh:

VONY PUTRI WULAN NPM. 1502040272

Jurusan : Ekonomi Syariah Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO 1441 H/2019 M

(2)

ii

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagai Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)

Oleh:

VONY PUTRI WULAN

NPM. 1502040272

Pembimbing I : Siti Zulaikha, S.Ag., MH

Pembimbing II : Elfa Murdiana, M.Hum

Jurusan : Ekonomi Syariah

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

(IAIN) METRO

(3)

iii

FITRAH OLEH AMIL DI KELURAHAN BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA KOTA METRO

Nama : Vony Putri Wulan

NPM : 1502040272

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan : Ekonomi Syariah (Esy)

MENYETUJUI

Untuk dimunaqosahkan dalam sidang munaqosah Jurusan Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.

Metro, September 2019

Pembimbing I Pembimbing II

Siti Zulaikha, S.Ag., MH Elfa Murdiana, M.Hum

(4)

iv

Kepada Yth,

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Di -

Tempat

Assalamualaikum Wr.Wb

Setelah kami mengadakan pemeriksaan, bimbingan dan perbaikan seperlunya , maka skripsi saudari:

Nama : Vony Putri Wulan NPM : 1502040272

Jurusan : Ekonomi Syariah (ESy) Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam

Judul : IMPLEMENTASI PENDISTRIBUSIAN ZAKAT

FITRAH OLEH AMIL DI KELURAHAN BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA KOTA METRO

Sudah dapat kami setujui dan dapat diajukan ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam untuk dimunaqosyahkan.

Demikian harapan kami dan atas perhatianya, kami ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Metro, September 2019

Pembimbing I Pembimbing II

Siti Zulaikha, S.Ag., MH Elfa Murdiana, M.Hum

(5)
(6)

vi METRO

Oleh

VONY PUTRI WULAN

Zakat merupakan kewajiban mutlak dari keIslaman seseorang. Zakat ada dua yaitu zakat maal dan zakat fitrah. Pembahasan mengenai zakat fitrah yang dilakukan oleh ulama terdahulu masih perlu dikembangkan, sesuai dengan perkembangan zaman. Sebagian umat Islam yang hidup di zaman sekarang masih kebingungan memahami pemberdayaan pendistribusian zakat fitrah. Upaya untuk mengaplikasikan zakat fitrah secara optimal, maka dibutuhkan pemberdayaan pendistribusian yang tepat. Zakat fitrah dapat diaplikasikan secara optimal jika zakat fitrah tersebut memperoleh dukungan dari berbagai pihak yaitu pihak Muzakki, Mustahiq, Amil Zakat dan dukungan dari pihak Pemerintah.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pendistribusian zakat fitrah oleh amil di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara Kota Metro. Penelitian ini menggnakan teknik pengumpulan data wawancara dan dokumenter. Wawancara dilakukan kepada para Muzakki, Mustahiq, dan Amil Zakat. Dokumenter dilakukan terhadap data – data yang digunakan untuk menelusuri pendistribusian pemberdayaan zakat fitrah. Semua data – data tersebut dianalisis secara induktif.

Berdasarkan hasil penelitian, pendistribusian pemberdayaan zakat fitrah di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro yaitu dilaksanakan pemberdayaan zakat fitrah secara konsumtif. Sedangkan pemberdayaan zakat fitrah secara produktif selama ini belum dilaksanakan. Hal ini disebabkan oleh pemahaman masyarakat yang masih kurang terhadap pendistribusian pemberdayaan zakat fitrah. Sehingga mengakibatkan Amil Zakat mendistribusikan zakat fitrahnya tidak tepat sasaran. Selain itu juga pemberdayaan zakat fitrah belum mampu memberdayakan ekonomi masyarakat karena manfaat zakat hanya dapat dirasakan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya jangka pendek. Sehingga dari tahun ke tahun perekonomian Mustahiq tidak ada perubahan.

(7)

vii Nama : Vony Putri Wulan

NPM : 1502040272 Jurusan : Ekonomi Syariah

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam

Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah asli hasil penelitian saya, kecuali bagian-bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Metro, September 2019 Yang Menyatakan,

VONY PUTRI WULAN 1502040272

(8)

viii



















Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At – Taubah : 60)

(9)

ix

1. Orangtuaku Ibu Tri Suryati dan Bapak Slamet yang senantiasa memberikan dukungan penuh baik dukungan moril berupa doa dan motivasi maupun dukungan materil untuk terus melanjutkan pendidikan dan menggapai impian.

2. Teman-teman jurusan Ekonomi Syariah angkatan 2015 yang telah sama-sama saling menguatkan untuk tetap berjuang menyelesaikan pendidikan ini.

3. Masyarakat dan Amil Zakat di Kelurhan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro yang telah membantu dalam penelitian ini.

(10)

x

Sholawat beserta salam senantiasa tersanjungkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw, seorang Nabi yang patut di teladani baik dalam perkataan maupun perbuatan beliau, dan mudah-mudahan kelak kita akan mendapatkan syafa‟at beliau di yaumil akhir. Aamiin.

Penulisan Skripsi ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro guna mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi (SE).

Di dalam upaya penyelesaian skripsi ini, peneliti telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro

2. Ibu Dr. Widhiya Ninsiana, M. Hum Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

3. Bapah Dharma Setyawan, M.A Selaku Ketua Jurusan Ekonomi Syariah 4. Ibu Siti Zulaikha, S.Ag., MH selaku pembimbing satu dan Ibu Elfa

Murdiana, M.Hum selaku pembimbing dua yang telah memberikan bimbingan dalam mengarahkan dan memotivasi

5. Serta seluruh dosen dan staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Metro

Kritik dan saran sangat peneliti harapkan sebagai upaya perbaikan dalam melakukan penulisan karya ilmiah selanjutnya. Dan pada akhirnya peneliti berharap hasil penelitian yang telah peneliti lakukan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan Ekonomi Syariah dan bagi pihak-pihak yang terkait.

Metro, September 2019 Peneliti

Vony Putri Wulan

(11)

xi

HALAMAN PESETUJUAN ... iii

NOTA DINAS ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

HALAMAN ORISINALITAS PENELITIAN ... vii

HALAMAN MOTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN... ix

HALAMAN KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Penelitian Relevan ... 8

BAB II LANDASAN TEORI A. Zakat ... 11

1. Pengertian Zakat ... 11

2. Dasar Hukum Zakat ... 13

3. Macam – Macam Zakat ... 14

4. Tujuan Zakat ... 16

5. Mustahiq Zakat ... 17

6. Prinsip – Prinsip Zakat ... 22

B. Zakat Fitrah ... 24

1. Syarat / Ketentuan Pendistribusian Zakat Fitrah ... 24

(12)

xii BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Sifat Penelitian ... 34

B. Sumber Data... 35

C. Teknik Pengumpulan Data ... 37

D. Teknik Penjamin Keabsahan Data ... 38

E. Teknik Analisis Data... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Kelurahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro ... 41

B. Gambaran Umum Implementasi Pendistribusian Zakat Fitrah di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro ... 60

C. Pemahaman Masyarakat Terhadap Implementasi Pendistribusian Zakat Fitrah di Kelurahan Banjarsari Kec. Metro Utara Kota Metro ... 62

1. Pemahaman Masyarakat Terhadap Muzakki dan Mustahik ... 62

2. Analisis Pemahaman Masyarakat Terhadap Muzakki dan Mustahik ... 66 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 70 B. Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(13)

xiii 3. Surat Izin Pra Survey

4. Surat Izin Research 5. Surat Tugas Research 6. Surat Balasan Research

7. Formulir Konsultasi Bimbingan Skripsi 8. Kartu Tanda Mahasiswa

(14)

1

A. Latar Belakang

Zakat merupakan rukun Islam yang ke-5 dan zakat mengajarkan agar manusia mempunyai kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama.1 Zakat itu ada yang produktif dan ada juga yang non produktif. Zakat produktif yaitu zakat yang bisa diberdayakan agar bisa menghasilkan nilai tambah. Zakat non produktif itu ada dua macam. Pertama zakat harta atau disebut juga zakat maal

dan kedua zakat diri yang dikeluarkan setiap akhir Ramadhan yang disebut zakat fitrah.2 Dinamakan zakat fitrah karena dilaksanakan menjelang hari Raya Idul Fitri dan merupakan zakat yang dikeluarkan untuk menyucikan diri manusia atau untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya yang suci. Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu.

Urgensi dari zakat fitrah adalah untuk menjalankan prinsip zakat pemerataan dan keadilan antara kaum muslim yang mampu dan kaum muslim yang tidak mampu sehingga pada hari Raya Idul Fitri semua umat muslim bisa merasakan kebahagiaan dengan mendapat bagian dari dana zakat fitrah tersebut.

Adapun nash Al – Qur‟an tentang asas pelaksanaan zakat tercantum dalam perintah Allah SWT:

1 Mahmud Abu Saud, Garis – Garis Besar Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani Pers, 1996), h.21.

(15)



























































































Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.3

Ayat di atas menjelaskan bahwa zakat merupakan alat bantu dalam mengurangi kemiskinan. Dengan zakat dapat menghapus atau menghilangkan jarak antara si kaya dan si miskin. Zakat juga sebagai rukun Islam yang merupakan kewajiban bagi kelompok masyarakat mampu memiliki implikasi individu dan sosial. Untuk itu sudah saatnya zakat tidak semata dilihat dari gugurnya kewajiban seorang muslim yang berkewajiban mengeluarkan zakat, tetapi juga harus dilihat sejauh mana dampak sosial yang ditimbulkan dari pelaksanaan kewajiban zakat tersebut bagi kemaslahatan dan kesejahteraan umat.4

3 QS. At – Taubah (9): 60.

4 Hendra Maulana, “Analisa Distribusi Zakat dalam Meningkatkan Kesejahteraan

(16)

Pendistribusian zakat kepada para mustahik dapat dalam bentuk konsumtif atau produktif. Zakat secara konsumtif sesuai apabila sasaran pendayagunaan adalah fakir dan miskin yang memerlukan makanan dengan segera. Apabila fakir miskin tersebut diberikan zakat produktif maka harta zakat itu tidak akan cepat habis. 5

Setelah kebutuhan tersebut tercukupi maka zakat dapat dipergunakan untuk membekali mereka dengan keterampilan (skill) dan modal kerja, sehingga dapat membuka lapangan kerja baru yang secara ekonomi memberikan nilai tambah dan dapat menyerap mereka. Penghasilan yang diperoleh dari kerja tersebut, dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka dalam jangka panjang. Dengan demikian, jumlah dana yang didistribusikan harus berbeda-beda sesuai dengan tempat, waktu, jenis usaha, dan sifat-sifat penerima zakat.6

Selama ini pemberdayaan distribusi zakat fitrah hanya dikonsumsi sehingga habis dalam waktu relatif singkat, dan akhirnya tidak menghasilkan nilai tambah dan sebagai akibatnya harapan untuk meningkatkan taraf hidup seperti yang dikehendaki tidak pernah menjadi kenyataan. Sehubungan dengan itu, selain yang diberikan hanya sekedar untuk makan pada sehari idul fitri dan agar tidak meminta – minta, maka zakat fitrah bisa diberdayakan dengan dijadikan modal, karena modal tersebut tidak dikonsumsi (habis pakai) untuk

5Idah Umdah Safitritazkiya,Problematika Zakat Fitrah”, Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan & Kebudayaan, vol. 19 No. 1 (Januari-Juni) 2018, h.33.

(17)

menutupi kebutuhan sehari – hari, tetapi diberdayagunakan untuk menghasilkan nilai tambah demi mendapatkan masa depan yang cerah.7

Pemberdayaan zakat fitrah dalam upaya memberdayakan masyarakat, dapat dilihat dari tiga sisi yaitu (1) menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling), karena sesungguhnya tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya, pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memotivasikan dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya; (2) memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering) yang memerlukan langkah-langkah positif, selain dari hanya menciptakan iklim dan suasana, meliputi langkah-langkah nyata, dan menyangkut penyediaan berbagai masukan

(input), serta pembukaan akses ke dalam berbagai peluang (opportunities)

yang akan membuat masyarakat menjadi makin berdaya; dan (3) memberdayakan mengandung pula arti melindungi (saving), yaitu dengan memberikan perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah, namun melindungi tidak berarti mengisolasi atau menutupi dari interaksi, karena melindungi adalah upaya untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah.8

Memberdayakan zakat fitrah dalam bentuk usaha produktif harus seijin fakir miskin, karena zakat fitrah itu adalah hak mereka. Si kurang ilmu dan

7 Tim Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fatwa – Fatwa Tarjih

Tanya Jawab Agama 4., (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2011), Cetakan Keenam, h. 200 - 201.

(18)

keterampilan sehingga kecil sekali kemungkinan untuk berhasil jika mereka diserahi untuk memodalkan harta zakat tersebut menjadi barang yang produktif. Oleh karena itu pengelolaannya haruslah dilakukan oleh orang – orang yang ahli, alim dan terpercaya, dan juga dapat melibatkan para mustahiq tersebut, sehingga dapat mengelola usaha tersebut secara efektif dan efisien. Adapun hasil dari permodalan atau usaha tersebut adalah untuk kepentingan si fakir miskin.9

Maksudnya adalah bahwa zakat fitrah yang sudah sampai di tangan mustahik lalu mereka ingin menggunakan harta zakat tersebut untuk hal-hal produktif maka diperbolehkan selama kebutuhan utamanya sudah terpenuhi. Dalam pemberdayaannya harus diarahkan oleh orang - orang yang ahli dengan melibatkan para mustahiq tersebut.

Berdasarkan hasil pra survey di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro, pemberdayaan distribusi zakat fitrah diaplikasikan secara konsumtif. Sedangkan pemberdayaan zakat fitrah secara produktif belum diaplikasikan. Jumlah masjid dan mushola yaitu ada 6 masjid dan 20 mushola di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro. Ada 3.392 KK (Kepala Keluarga) yang terdiri dari 12 RW (Rukun Warga) dan 59 RT (Rukun Tetangga). Penghimpunan, pengelolaan dan pendistribusian zakat dilakukan oleh Amil Zakat setempat.10

Pada tahun 2018 M / 1439 H, total dana zakat yang terkumpul di salah satu mushola sebesar Rp 1.475.000,- dan sebanyak 515 Kg beras dari 263

9 Tim Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fatwa – Fatwa Tarjih. h. 200 - 201.

(19)

muzakki.11 Kemudian dana zakat tersebut didistribusikan kepada 87 orang mustahiq dengan masing – masing mustahiq mendapat bagian 4 Kg beras.12 Untuk mustahiq yang sangat membutuhkan ada 6 orang mendapatkan 4 Kg beras ditambah dengan uang sebesar Rp 50.000,- per orang. Untuk 16 orang amil zakat mendapat bagian sebanyak 8 Kg beras dan uang sebesar Rp 150.000,- per orang untuk 4 orang amil, dan Rp 20.000,- untuk 12 orang pembantu amil. Untuk Imam Tarawih selama bulan Ramadhan mendapat bagian Rp 200.000,- sehingga dana zakat yang tersisa adalah sebesar Rp 135.000,- yang disimpan sebagai kas masjid dan beras 15 Kg untuk didistribusikan ke daerah lain.13

Berdasarkan kutipan tersebut dilihat dari keadaan masyarakat yang ada di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro maka pemberdayaan zakat fitrah secara konsumtif yang diaplikasikan masih perlu dikaji kembali secara proporsional. Pemberdayaan zakat fitrah secara konsumtif bisa saja masih diperlukan. Namun, ada sebagian zakat fitrah yang pemberdayaannya dilakukan secara produktif. Sebab mayoritas masyarakat di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro merupakan masyarakat yang layak disebut sebagai Muzakki dan bukan lagi disebut sebagai Mustahiq. Pemerataan kesejahteraan secara adil, dapat merubah

11

Wawancara dengan Giran selaku Amil Zakat di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro pada hari Minggu, 1 Juli 2018

12 Wawancara dengan Andi selaku Amil Zakat di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro pada hari Minggu, 1 Juli 2018

13 Data Pengumpulan Zakat Tahun 2018 di Mushola Al – Ikhlas, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro.

(20)

Mustahiq menjadi Muzakki. Tujuan tersebut dapat terwujud, apabila pemberdayaan zakat dikelola secara profesional.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Pendistribusian Zakat Fitrah oleh Amil di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana pemberdayaan distribusi zakat fitrah di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemberdayaan distribusi zakat fitrah di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro. Manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini dapat mencapai hal – hal sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Melalui hasil penelitian, diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran dalam pengembangan keilmuan dan dapat menambah wawasan mengenai pemberdayaan distribusi zakat fitrah.

2. Secara Praktis

Melalui hasil penelitian, diharapkan masyarakat lebih memahami mengenai pemberdayaan distribusi zakat fitrah. Sedangkan bagi Amil

(21)

Zakat diharapkan agar dapat mengaplikasikan pemberdayaan distribusi zakat fitrah secara optimal.

D. Penelitian Relevan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap beberapa sumber kepustakaan, banyak penelitian yang telah membahas topik mengenai zakat, antara lain yaitu sebagai berikut:

Judul skripsi “Pendayagunaan Zakat di Desa Campur Asri, Kec. Baradatu, Kab. Way Kanan” oleh Husnul Hotimah pada tahun 2017, Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di IAIN Metro. Permasalahan di dalam skripsi tersebut yaitu bagaimana pendayagunaan zakat di Desa Campur Asri, Kec. Baradatu, Kab. Way Kanan. Hasil penelitian Husnul Hotimah yaitu pendayagunaan zakat di Masjid At – Taqwa Desa Campur Asri, Kec. Baradatu, Kab. Way Kanan yaitu dilaksanakan pendayagunaan secara konsumtif. Sedangkan pendayagunaan zakat secara produktif selama ini belum dilaksanakan. Hal ini disebabkan oleh pemahaman masyarakat mengenai pendayagunaan zakat. Sehingga mengakibatkan sebagian masyarakat ada yang membayar zakat kepada Amil Zakat dan ada pula yang langsung membayar zakat kepada Musathiq. Selain itu juga pendayagunaan zakat yang diterapkan oleh Amil Zakat tidak sesuai dengan keadaan Mustahiq. Sehingga dari tahun ke tahun perkenomian Mustahiq tidak ada perubahan.14

14 Husnul Hotimah, Pendayagunaan Zakat di Desa Campur Asri, Kec. Baradatu, Kab.

(22)

Judul skripsi “Pemberdayaan Ekonomi Umat Melalui Penyaluran Zakat Produktif” oleh Nur Addini Rahma pada tahun 2015, Program Studi Ekonomi Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Permasalahan di dalam skripsi tersebut yaitu bagaimana mekanisme penyaluran dana zakat produktif BAZIS DKI Jakarta dalam upaya pembrdayaan ekonomi umat dan bagaimana peran BAZIS DKI Jakarta dalam upaya pemberdayaan ekonomi umat. Hasil penelitian Nur Addini Rahma yaitu bahwa keberadaan Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat di DKI Jakarta dirasakan cukup besar manfaatnya oleh masyarakat. Lembaga ini telah bekerjasama oleh Pemda DKI Jakarta dalam menanggulangi masalah sosial dan kemiskinan yang semakin rumit, terutama mereka yang berada di kelas menengah ke bawah, sehingga menumbuh kembangkan masyarakat dengan berjiwa usaha yang gigih dan profesional.15

Judul skripsi “Analisis Pendistribusian Dana Zakat Bagi Pemberdayaan Masyarakat” oleh Afdloluddin pada tahun 2015, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang. Permasalahan di dalam skripsi tersebut yaitu bagaimana pendistribusian dana zakat bagi pemberdayaan masyarakat di Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa Jateng dan apa sajakah faktor penghambat dalam pendistribusian dana zakat bagi pemberdayaan masyarakat di Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa Jateng. Hasil penelitian Afdloluddin yaitu bahwa Pendistribusian dana zakat bagi pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa dilakukan dengan dua cara, yaitu konsumtif dan produktif.

15 Nur Addini Rahma, Pemberdayaan Ekonomi Umat Melalui Penyaluran Zakat

(23)

Pendistribusian zakat dalam bentuk konsumtif diberikan dalam wujud makanan, pengeloalan bencana (seperti air bersih) dan bantuan kepada orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Pendistribusian konsumtif ini diberikan kepada mustahik yang tidak mampu secara fisik untuk melakukan pekerjaan atau tidak bisa diberi keterampilan. Pendistribusian zakat dalam bentuk produktif diwujudkan dalam bentuk program-program pelatihan.16

Berdasarkan penelitian relevan tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti mempunyai kajian yang berbeda. Meskipun mempunyai fokus kajian yang sama pada tema – tema tertentu, namun dalam penelitian yang dikaji lebih ditekankan pada pemahaman mengenai zakat fitrah di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro. Hal ini menegaskan bahwa penelitian dengan judul “Implementasi Pendistribusian Zakat Fitrah Oleh Amil di Kelurahan Banjarsari,

Kecamatan Metro Utara, Kota Metro” belum pernah diteliti sebelumnya.

16 Afdloluddin, Analisis Pendistribusian Dana Zakat Bagi Pemberdayaan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarag, 2015.

(24)

11

A. Zakat

1. Pengertian Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang lima,17 dan zakat mengajarkan agar manusia mempunyai kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama.

Secara bahasa, zakat berarti tumbuh (numuww) dan bertambah (ziyadah). Jika diucapkan, zaka al – zar’, artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan zakat al – nafaqah, artinya nafkah tumbuh dan bertambah jika diberkati.18

Adapun zakat menurut syara’ berarti hak yang wajib dikeluarkan dari harta.19 Mazhab Maliki mendefinisikannya dengan “Mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula yang telah mencapai

nishab (batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang – orang yang berhak menerimanya (mustahiqq) – nya. Dengan catatan, kepemilikan itu pebuh dan mencapai hawl (setahun), bukan barang tambang dan bukan pertanian.20

17 Mahmud Abu Saud, Garis – garis Besar Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani Pers, 1996), h.21.

18

Wahbah Al – Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, (Bandung: PT Remaja Rosakarya, 1995), h. 82.

19Al – ‘Inayah yang terdapat dalam Hamisy al – Fath, I, h. 481; Maraqi al – Falah, h. 121; al – Durr al – Mukhtar, II, h. 2 dan seterusnya; al – Lubab, I, h. 139; al – Syarh al – Kabir, I, h. 430; al – Mughni, II, h. 572; Kasysyaf al – Qanna’, II, h. 191 dan seterusnya.

(25)

Dinamakan zakat fitrah karena merupakan penyucian jiwa yang dibayarkan atas jiwa seseorang setelah menjalankan puasa Ramadhan menjelang hari Raya Idul Fitri. Pengertian zakat fitrah menurut bahasa berasal dari fi’i madhi yakni fatara yang berarti menjadikan, membuat, mengadakan, dan bisa berarti berbuka dan makan pagi.21

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, zakat fitrah adalah zakat yang wajib diberikan oleh tiap orang Islam setahun sekali pada hari raya Idul Fitri yang berupa makanan pokok sehari – hari (beras, jagung, dsb).22

Menurut Drs. Muh. Atha Zhafran, zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan untuk menyucikan diri manusia atau untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya yang suci. Pada setiap hari Raya Fitri wajib atas tiap – tiap orang Islam baik laki – laki maupun perempuan, besar, kecil, merdeka ataupun hamba sahaya, membayar zakat fitrah. Ukuran zakat fitrah yang wajib dikeluarkan bagi tiap orang Islam ialah 1 sha‟ = 3 liter atau 2,5 kg. Zakat fitrah yang harus dikeluarkan itu berupa beras atau makanan pokok bagi suatu daerah tertentu.23

Zakat fitrah mempunyai fungsi antara lain fungsi ibadah, fungsi membersihkan orang yang berpuasa dari ucapan dan perbuatan yang tidak bermanfaat, dan memberikan kecukupan kepada orang – orang miskin pada hari raya Idul Fitri.24

Beberapa definisi zakat di atas dapat ditarik benang merah bahwa zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada orang muslim yang mampu sebagai penyucian jiwa atas perbuatan yang tidak bermanfaat

21 A. Warson Munawwir, Kamus al – Munawwir Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), h. 1063.

22

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), Cet. 3, h. 1017.

23 Muh Atha Zhafran, Pintar Agama Islam, (Solo: CV Beringin 55), h. 151.

24 Mursyidi, Akuntansi Zakat Kontemporer, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), Cet. III, h. 78.

(26)

selama bulan puasa yang ditunaikan pada bulan Ramadhan hingga menjelang shalat Idul Fitri.

2. Dasar Hukum Zakat

Pelaksanaan zakat didasarkan pada firman Allah dalam Surat At – Taubah ayat 103 yaitu:















Artinya: ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.25

Maksud dari ayat di atas adalah bahwa zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda karena zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

Zakat fitrah disyari‟atkan pada tahun kedua Hijriyah, yaitu tahun diwajibkannya puasa Ramadhan. Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh setiap orang muslim yang merdeka, yang mampu mengeluarkannya pada waktunya26.

Zakat fitrah adalah shodaqoh yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramdhan.

25 QS. At – Taubah (9): 103.

26 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu 3, Terjemahan Abdul Hayyic al-Kattani dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2011), Cet, I, h.347.

(27)

Bahkan Ishaq bin Rohuyah menyatakan bahwa wajibnya zakat fitrah seperti ada ijma‟ (kesepakatan ulama) di dalamnya.27

Dalil dari wajibnya zakat fithri adalah hadits Ibnu Umar

radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithri dengan satu sha‟ kurma atau satu sha‟ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki – laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang – orang keluar untuk melaksanakan shalat ied”.28

Berdasarkan dalil di atas bahwa zakat fitri wajib bagi kaum muslim yang mampu dan waktu pelaksanaan zakat fitri tersebut adalah sebelum orang – orang selesai melaksanakan shalat Idul Fitri.

3. Macam – Macam Zakat

Zakat secara umum terbagi menjadi dua kategori, yakni zakat nafs

(jiwa) dan zakat mal (harta), yang termasuk ke dalam zakat nafs adalah zakat fitrah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan, sedangkan zakat mal, terbagi menjadi beberapa jenis zakat yang termasuk di dalamnya adalah terdapat zakat perdagangan, dan juga berbagai macam harta umat Muslim yang wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan tertentu.

a. Zakat Fitrah adalah pengeluaran yang wajib dilakukan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari keperluan keluarga yang wajar pada malam dan hari raya Idul Fitri.29 Jadi zakat fitrah adalah zakat

27 Syarh Shahih Muslim, 7:54.

28 HR. Bukhari no. 1503 dan Muslimno. 984.

(28)

yang dikeluarkan oleh setiap muslim yang mampu pada bulan Ramadhan menjelang hari raya Idul Fitri untuk menyucikan diri.

b. Zakat Mal adalah bagian dari harta kekayaan seseorang yang wajib dikeluarkan untuk golongan orang – orang tertentu setelah dimiliki selama jangka waktu tertentu dan dalam jumlah minimal tertentu.30 Jadi zakat mal adalah zakat harta yang dikeluarkan dari harta setiap Muslim yang mereka miliki. Harta kekayaan yang dizakati akan semakin berkembang berkat dikeluarkan zakatnya dan doa orang yang menerimanya, juga membersihkan dosa dari orang yang menunaikannya, bahkan menjadi saksi atas kesungguhan iman yang menunaikannya.31 Dalam petunjuk pelaksanaan pegumpulan zakat oleh Direktorat Pemberdayaan Zakat RI, harta yang dikenai zakat antara lain emas, perak dan uang, hasil perdagangan dan perusahaan, hasil pertanian, perkebunan dan perikanan, hasil pertambangan, hasil peternakan, hasil pendapatan profesi dan harta rikaz.32

4. Tujuan Zakat

Ada beberapa tujuan – tujuan zakat ditinjau dari berbagai aspek yakni:

a. Hubungan Manusia dengan Allah

30

Ridwan Mas‟ud dan Muhammad, Zakat dan Kemiskinan, (Yoryakarta: UII Press, 2005), h.34.

31 Abd. Aziz Muhammad Azzam dan Abd. Wahab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah,

Tharah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji, (Jakarta: Amzah, 2009), h.343.

32 Direktorat Pemberdayaan Zakat, Petunjuk Pelaksanaan Pengumpulan Zakat, (Jakarta:

(29)

Zakat sebagai sarana beribadah kepada Allah sebagaimana halnya sarana- sarana lain adalah fungsi mendekatkan diri kepada Allah, makin kuat manusia menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT, maka ia makin dekat dengan dirinya.33

b. Hubungan Manusia dengan Dirinya

Adakalanya manusia memandang harta benda itu sebagai alat mencapai tujuan hidup, manusia melaksanakan tugas sehari-harinya beribadah kepada Allah untuk mencapai kehidupan yang diridhoi, Allah menjadi tujuan hidup. Untuk melaksanakan manusia memerlukan harta benda, tapi sebaliknya ia menjadikannya harta benda itu sebagai alat untuk melaksanakan tugas hidupnya. Zakat merupakan salah satu cara memberantas pandangan hidup matrealistis, zakat mempunyai peran menjaga manusia dari kerusakan jiwa.34

c. Hubungan Manusia dengan Masyarakat

Di dalam masyarakat selalu terdapat perbedaan tingkat kemampuan dalam bidang ekonomi, sehingga melahirkan golongan – golongan ekonomi lemah dan golongan ekonomi kuat. Zakat berperan dapat mengecilkan jurang perbedaan ekonomi antara golongan ekonomi lemah dan golongan ekonomi kuat. Zakat dapat mencegah perbuatan hina, seperti pencurian dan menghindarkan mereka dari rasa iri, dengki terhadap yang kaya.35

33 ZISWAF, Vol. 2,No.1,Juni 2015,h.91 34Ibid.,

35

(30)

d. Hubungan Manusia dengan Harta Benda

Zakat apabila dilaksanakan dalam masyarakat, maka hal ini merupakan penegasan bahwa harta kekayaan itu mempunyai fungsi sosial. Zakat menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (Equal Distribution), keseimbangan dalam pemilikan harta (Equal Ownership), dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.

e. Zakat adalah maliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan pendapatan yang merupakan perwujudan solidaritas sosial. Zakat adalah sumber utama yang menjadi kas negara sekaligus merupakan sendi – sendi dari kehidupan ekonomi yang dicanangkan Al-Qur‟an. Zakat yang dikelola dengan baik akan mampu membuka lapangan kerja dan usaha yang luas, sekaligus penguasaan aset – aset oleh umat Islam.36

5. Mustahiq Zakat

Mazhab Syafi‟i mengatakan zakat wajib dikeluarkan kepada delapan kelompok manusia, baik itu zakat fitrah maupun zakat mal, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 60, yaitu:

(31)

























Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.37

Ayat tersebut menisbatkan bahwa kepemilikan semua zakat oleh kelompok – kelompok itu dinyatakan dengan pemakaian huruf lam yang dipakai untuk menyatakan kepemilikan, kemudian masing – masing kelompok memiliki hak yang sama karena dihubungkan dengan huruf wawu

yang menunjukkan kesaman tindakan. Oleh karena itu, semua bentuk zakat adalah milik semua kelompok itu dengan hak yang sama.38

Apabila yang membagikan zakat itu adalah imam, dia harus membaginya menjadi delapan bagian. Yang pertama kali mengambil bagian itu seharusnya adalah panitia zakat, karena dia mengambilnya sebagai ganti atas jerih payah yang dikeluarkannya untuk memungut zakat. Adapun kelompok – kelompok yang lain mengamil zakat atas dasar kesamaan hak di antara mereka. Dan jika yang membagikan zakat itu adalah pemilik harta itu sendiri atau orang yang mewakilinya, gugurlah hak panitia zakat itu, kemudian dibagikan kepada tujuh kelompok yang tersisa jika semua

37 QS. At – Taubah (9): 60.

38

(32)

kelompok itu masih ada, jika tidak ada maka zakat itu hanya dibagikan kepada kelompok yang ada saja. Zakat itu lebih disenangi bila dibagikan kepada semua kelompok yang disebutkan dalam firman Allah swt, dan tidak boleh dibagikan kepada kurang dari tiga kelompok karena yang disebut jamak itu harus sampai kepada tiga. Jika zakat itu hanya dibagikan kepada dua kelompok, kelompok yang ketiga adalah pengurus atau panitia zakat, dan sudah dianggap cukup apabila panitia itu hanya ada satu orang.39

a. Fakir

Yang dimaksud orang fakir adalah orang yang tidak punya penghasilan menentu, dan kebutuhan tiap harinya jauh dari kepatuhan (serba kekurangan).40

Orang fakir diberikan bagiannya dalam jumlah yang dapat menutupi keperluannya masing – masing. Misalnya, orang yang jauh dari hartanya diberikan biaya untuk sampai ketemu hartanya, yang mempunyai piutang diberikan belanja menunggu masa pembayarannya, yang dapat bekerja diberikan peralatan yang dapat digunakannya untuk bekerja, dan yang pandai berdagang diberi modal yang memadai untuk berdagang sesuai dengan keahliannya.41

b. Miskin

Miskin ialah orang yang memiliki harta atau usaha yang dapat menghasilkan sebagian kebutuhannya tetapi tidak mencukupi. Kebutuhan yang dimaksudkan adalah makanan, minuman, pakaian dan

39Ibid.,h.279.

40 Muh. Atha Zhafran, Pintar Agama., h. 153.

(33)

lain – lain menurut keadaan yang layak baginya. Seperti halnya orang fakir, orang miskin pun diberi zakat dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhannya.42

c. Amil

Amil ialah orang – orang yang khusus ditugaskan oleh imam untuk mengurusi zakat, seperti petugas yang mencatat harta yang terkumpul, membagikan dan mengumpulkan para wajib zakat atau para

mustahiq.43

Adapun besarnya zakat zakat yang diberikan kepada pengurus (amil) zakat, menurut kesepakatan fuqaha ialah sebesar yang diberikan oleh imam berdasarkan pertimbangannya atas kerja yang telah dilakukan oleh panitia zakat, atau sebesar biaya transportasi yang diperlukan olehnya selama mengurusi zakat. Akan tetapi, mazhab Hanafi membrikan catatan tambahan atas hal ini, bahwa pemberian yang diberikan kepada panitia zakat hendaknya tidak melebihi setengah dari bagia zakat yang dipungutnya.44

d. Mualaf

Mualaf merupakan orang yang baru masuk Islam dan imannya masih lemah. Mualaf (Al – mu’allafatu qulubuhum) berarti orang yang hatinya dijinakkan atau dibujuk.45

42

Ibid., h.176 43Ibid., h.175

44Wahbah Al – Zuhayly, Zakat Kajian., h. 292.

(34)

e. Riqab

Riqab adalah para budak yang dijanjikan akan merdeka bila membayar sejumlah harta kepada tuannya. Budak yang telah mengikat perjanjian secara sah dengan tuannya, tetapi tidak mampu membayarnya, dapat diberikan bagian dari zakat untuk membantu mereka memerdekakan dirinya.46

f. Gharim

Gharim adalah orang – orang yang berhutang. Bila hutangnya itu tidak untuk maksiat, dan ia tidak mampu membayarnya, ia dapat diberi bagian zakat.47

Bagian yang diberikan kepada kelompok orang yang memiliki hutang ialah sebesar hutangnya apabila hutang itu dia pergunakan untuk kebaikan bukan untuk hidup berlebih – lebihan, tetapi dia pakai betul – betul untuk keperluan yang sangat penting sifatnya.48

g. Sabilillah

Sabilillah adalah para mujahid yang berperang yang tidak mempunyai hak dalam honor sebagai tentara, karena jalan mereka adalah mutlak berperang. Sabilillah diartikan sebagai perjalanan spiritual atau keduniaan yang diupayakan untuk mencapai ridha Allah, baik dalam hal aqidah maupun aplikasi mekanisme nilai Islam.49

46

Ibid., h.178 47

Ibid., h.178

48Wahbah Al – Zuhayly, Zakat Kajian., h. 292.

49 Arief Mufraiani, Akuntansi dan Manajemen Zakat, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. II, 2006, h. 209

(35)

h. Ibnu Sabil

Ibnu Sabil adalah musafir yang mengembara dari negeri satu ke negeri lainya tanpa memiliki apa – apa yang dapat digunakan sebagainpenunjang perjalanannya. Maka ia diberi bagian dari zakat yang cukup membawanya kembali ke negerinya.50

Adapun bagian yang bisa diberikan kepada kelompok orang yang sedang dalam perjalanan ialah sebesar keperluan biaya yang bisa dipakai untuk kembali ke kampung halamannya.51

6. Prinsip – Prinsip Zakat

Menurut M.A. Mannan dalam buku “Islamic Economics Theory and Practice” zakat mempunyai 6 prinsip, yaitu:

a. Keyakinan Agama

Membayar zakat merupakan manifestasi keyakinan keagamaannya untuk menyempurnakan ibadahnya.52

b. Pemerataan dan Keadilan

Pemberian harta zakat merupakan suatu cara untuk memeratakan kekayaan dan dengan lebih adil.53

50

Abu Malik Kamal Ibn Sayyid Salim, Fikih Sunnah Wanita, Terj. Firdaus, Jakarta: Qisthi Press, Cet.2, 2014, h.273

51Wahbah Al – Zuhayly, Zakat Kajian., h. 292.

52digilib.uinsby.ac.id/2410/4Bab%202.pdf, Di akses pada hari Rabu, 7 November 2018 Puku 13.00 WIB

(36)

c. Produktivitas dan Kematangan

Zakat wajar harus dibayar karena merupakan hasil usaha yang produktif, setelah lewat jangka waktu tertentu yang merupakan ukuran normal memperoleh hasil tertentu.54

d. Nalar

Ketentuan zakat merupakan cara ampuh yang dapat mengurangi kesenjangan sosial dan mengembangkan perekonomian.55

e. Kebebasan

Pembayaran zakat dilakukan terhadap orang yang memiliki kekayaan, sehingga tidak mempersulitkan dan hanya untuk orang yang merdeka dan sehat jasmani dan rohani.56

f. Etika dan Kewajaran

Zakat tidak diambil secara semena – mena. Jumlah zakat yang dibayarkan tidak akan mengakibatkan kerugian bagi yang membayarnya, tetapi memiliki manfaat yang sangat besar bagi yang berhak menerimanya.57

Berdasarkan uraian di atas, maka dalam pelaksanaan zakat sebaiknya menggunakan prinsip zakat tersebut karena pada dasarnya dengan membayar zakat, jiwa dan kekayaan orang yang membayarnya menjadi bersih dan bertambah serta untuk mengurangi kesenjangan sosial bagi masyarakat yang kurang mampu.

54Ibid. 55Ibid. 56Ibid. 57Ibid.

(37)

B. Zakat Fitrah

1. Syarat / Ketentuan Pendistribusian Zakat Fitrah

Para fuqaha sepakat bahwa zakat wajib dikeluarkan segera setelah terpenuhi syarat – syaratnya, baik nisab, haul, maupun yang lainnya. Pendapat ini difatwakan oleh mazhab Hanafi. Dengan demikian, barang siapa berkewajiban mengeluarkan zakat dan mampu mengeluarkannya, dia tidak boleh menangguhkannya.58

Zakat fitrah dikeluarkan menjelang Idul Fitri sebab bila dikeluarkan setelah shalat Ied, nilainya hanya sedekah biasa.59

Waktu mengeluarkan zakat fitrah ada dua macam, yaitu:

a. Waktu yang afdhal, yaitu semenjak terbit fajar di hari Raya Idul Fitri hingga saat – saat menjelang dilaksanakannya shalat Idul Fitri. Hal ini berdasarkan dari Hadist :

َلاَق ٍساَّبَع ِنْبا ْنَع

َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ُلوُسَر َضَرَ ف

ِنيِكاَسَمْلِل ًةَمْعُطَو ِثَفَّرلاَو ِوْغَّللا ْنِم ِمِئاَّصلِل ًةَرْهُط ِرْطِفْلا َةاَكَز

ْعَ ب اَهاَّدَأ ْنَمَو ٌةَلوُبْقَم ٌةاَكَز َيِهَف ِة َلََّصلا َلْبَ ق اَهاَّدَأ ْنَم

ِة َلََّصلا َد

ِتاَقَدَّصلا ْنِم ٌةَقَدَص َيِهَف

Artinya “Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari hal yang sia – sia, omongan yang tidak perlu, dan sebagai bantuan makanan bagi orang – orang miskin. Siapa yang meunaikannya sebelum shala „Id, itu merupakan zakat yang diterima. Siapa yang menunaikannya setelah shalat, itu merupakan sedekah biasa”. (HR Abu Dawud).60

58 Wahbah Al – Zuhaily, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), h.119.

59 Muh. Atha Zhafran, Pintar Agama., h. 152. 60 HR. Abu Dawud No. 1609.

(38)

b. Waktu yang diperbolehkan, yaitu satu atau dua hari sebelum hari raya Idul Fitri. Hal ini berdasarkan hadist:

ٍَْع ُبىُّيَأ اََُثَّدَح ٍدْيَس ٍُْب ُداًََّح اََُثَّدَح ٌِاًَْعُُّنا ىُبَأ اََُثَّدَح

ُّيِبَُّنا َضَزَف َلاَق اًَُهَُْع ُ َّاللَّ َيِضَر َزًَُع ٍِْبا ٍَْع ٍعِفاََ

ٌَاَضَيَر َلاَق ْوَأ ِزْطِفْنا َةَقَدَص َىَّهَسَو ِهْيَهَع ُ َّاللَّ ىَّهَص

ُْلاَو ِزَكَّذنا ىَهَع

ٍزًَْم ٍِْي ا عاَص ِ ىُهًًَْْناَو ِّزُرْناَو ىَىَْ

ٍِْي ٍعاَص َفْصَِ ِهِب ُساَُّنا َلَدَعَف ٍزيِعَش ٍِْي ا عاَص ْوَأ

َزًَّْتنا يِطْعُي اًَُهَُْع ُ َّاللَّ َيِضَر َزًَُع ٍُْبا ٌَاَكَف ٍّزُب

َف ا زيِعَش ىَطْعَأَف ِزًَّْتنا ٍِْي ِةَُيِدًَْنا ُمْهَأ َسَىْعَأَف

ٍُْبا ٌَاَك

يِطْعُيِن ٌَاَك ٌِْإ ىَّتَح ِزيِبَكْناَو ِزيِغَّصنا ٍَْع يِطْعُي َزًَُع

اَهيِطْعُي اًَُهَُْع ُ َّاللَّ َيِضَر َزًَُع ٍُْبا ٌَاَكَو َّيَُِب ٍَْع

ْوَأ ٍو ْىَيِب ِزْطِفْنا َمْبَق ٌَىُطْعُي اىَُاَكَو اَهََىُهَبْقَي ٍَيِذَّنا

ٍِْيَيْىَي

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu'man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri, atau katanya zakat Ramadhan bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak satu sha' dari kurma atau satu sha' dari gandum". Kemudian orang-orang menyamakannya dengan setengah sha' untuk biji gandum. Adalah Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma bila berzakat dia memberikannya dengan kurma. Kemudian penduduk Madinah kesulitan mendapatkan kurma akhirnya mereka mengeluarkan gandum. Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma memberikan zakatnya atas nama anak kecil maupun dewasa hingga atas nama bayi sekalipun dan Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya 'Iedul Fithri. (HR Al - Bukhari).61

Ada beberapa waktu dan jenis hukum pembayaran zakat fitrah, antara lain:

a. Waktu dibolehkan yaitu dari awal bulan Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan.

(39)

b. Waktu wajib yaitu selepas terbenamnya matahari pada hari akhir Ramadhan hingga datangnya waktu shalat subuh pada hari raya Idul Fitri.

c. Waktu paling utama yaitu selepas shalat subuh pada hari raya Idul Fitri hingga khatib naik mimbar pada shalat sunah hari raya Idul Fitri.62

d. Waktu makruh yaitu setelah shalat Idul Fitri.

e. Waktu haram yaitu waktu yang dilarang untuk menunda – nunda pembayaran zakat fitrah, yaitu akhir hari raya Idul Fitri ketika matahari telh terbenam. Hal tersebut diharamkan karena tujuan dari zakat fitrah adalah untuk mencukupi kebutuhan golongan mustahiq

pada hari raya Idul Fitri, karena hari tersebut hari gembira ria.63 Berdasarkan uraian di atas, maka zakat fitrah boleh dilaksanakan sejak awal Ramadhan hingga menjelang shalat Idul Fitri. Hal tersebut dijadikan landasan dalam waktu pendistribusiannya pula. Karena tujuan zakat fitrah adalah untuk mencukupi kebutuhan mustahiq agar dapat bergembira ria pada hari raya Idul Fitri sehingga waktu pendistribusiaanya pun tidak boleh melewati hari raya Idul Fitri.

2. Petugas Pendistribusian Zakat Fitrah

Saat ini yang menjadi trend dari Islamization Process yang dikembangkan oleh para pemikir kontemporer ekonomi Islam adalah mengoptimalkan sistem zakat dalam perekonomian. Untuk trend ini sejumlah pemikiran inovatif dikembangkan oleh kesadaran bahwa masyarakat muslim sampai saat ini masih dalam sekatan ekonomi terbelakang.64

62

Hikmat Kurnia dan Ade Hidayat, Panduan Pintar Zakat, (Jakarta: Qultum Media, 2008), h.248-249.

63 Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah, Terj. Kamran As‟ad Irsyady, dkk, (Jakarta: PT Kalola Printing, 2015), Cet. IV, h. 395.

64 M.Arif Mufraini, Lc.,M.Si, Akuntansi dan Manajemen Zakat¸ Jakarta: Prenadamedia Grup, 2018, h.160

(40)

Selama ini zakat fitrah hanya dikonsumsi sehingga habis dalam waktu relatif singkat, dan akhirnya tidak menghasilkan nilai tambah dan sebagai akibatnya harapan untuk meningkatkan taraf hidup seperti yang dikehendaki tidak pernah menjadi kenyataan.65

َع ُهّللا ىَّلَص ِهّللا ُلْوُسَر َضَرَ ف : َلاَق ٍساَّبَع ِنْبا ِنَع

ِرْطِفْلا َةاَكَز َمَّلَسَو ِهْيَل

َلْبَ ق اَهاَّدَا َنَم . ِْيِْك اَسَمْلِل ًةَمْعُطَو ِثَف َّرلاَوِوْغَّلا َنِم ِمِئ اَّصلِل ًةَرْهُط

َنِم ٌةَق َدَص َىِهَف ِةَلاَّصل ا َدْعَ ب اَهاَّدَا ْنَمَو ٌةَل ْوُ بْقَم ٌةاَكَز َىِهَف ِةَلاَّصلا

ِت اَق َدّصلا

“Dari Ibnu Abbas berkata: „Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan diri bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia – sia dan busuk, serta untuk memberi makan kepada orang – orang miskin, maka barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat („Id), itu merupakan zakat yang diterima, sedangkan yang menunaikannya setelah shalat („Id), itu merupakan sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud).66

Dalam hadits Ibnu Abbas di atas yang di suruh adalah memberi makan fakir miskin pada hari raya dan menghilangkan peminta – minta pada hari bahagia itu. Hal ini tidak berarti bahwa masalah memberi makan atau makanan untuk mereka hari berikutnya tidak dihiraukan, tetapi justru untuk hari berikutnya lebih perlu lagi. Jelasnya tentang hari depan mereka harus lebih diperhatikan di samping untuk sehari raya itu juga mereka harus dapat makan dan memenuhi kebutuhan pokok, namun kebutuhan hari depan termasuk prioritas. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al- Hasyr ayat 18:

65 Tim Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fatwa – Fatwa

Tarjih. Tanya Jawab Agama 4 , (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2011),Cetakan Keenam, h. 200

(41)



















Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Hari esok/depan yang disebut dalam ayat di atas bukan hanya hari depan akhirat, tetapi juga hari depan di dunia untuk hari depan akhirat.

Sehubungan degan itu, selain yang diberikan hanya sekedar untuk makan pada sehari idul fitri dan tidak meminta – minta, maka zakat fitrah bisa dijadikan modal yang lazim disebut “sebagai alat penghasil”, karena modal tersebut tidak dikonsumsi (dipakai habis) untuk menutupi kebutuhan sehari – hari, tetapi didayagunakan untuk menghasilkan nilai tambah demi mendapatkan masa depan yang cerah.67

Memodalkan zakat fitrah dalam bentuk usaha produktif itu haruslah seijin fakir miskin tersebut, karena zakat fitrah itu adalah hak mereka. Si kurang ilmu dan keterampilan sehingga kecil sekali kemungkinan untuk berhasil jika mereka diserahi untuk memodalkan harta zakat tersebut menjadi barang yang produktif. Oleh karena itu pengelolaannya haruslah dilakukan oleh orang – orang yang ahli, alim dan terpercaya, dan juga dapat melibatkan para mustahiq tersebut, sehingga

67 Tim Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fatwa – Fatwa

(42)

dapat mengelola usaha tersebut secara efektif dan efisien. Adapun hasil dari permodalan atau usaha tersebut adalah untuk kepentingan si fakir miskin.68

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa zakat fitrah boleh dimodalkan dengan syarat:

a. Seijin fakir miskin, karena itu adalah hak mereka.

b. Kebutuhan mereka di hari raya sudah tercukupi dengan sebagian zakat fitrah yang diberikan.

c. Yang dimodalkan adalah sisanya setelah diberikan kepada fakir miskin. Bentuk usahanya, bisa koperasi, PT atau lainnya.

d. Hasil permodalan zakat fitrah digunakan untuk kepentingan fakir miskin.

e. Pengelolaannya dilakukan oleh orang – orang yang terpercaya, orang ahli yang dibentuk bersama antara mustahiq, muzakki dan ulama.69

3. Implementasi Pendistribusian Zakat Fitrah

Implementasi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yaitu pelaksanaan / penerapan. Sedangkan pengertian umum adalah suatu tindakan atau pelaksana rencana yang telah disusun secara cermat dan rinci (matang).70

Menurut Hanifah Harsono dalam bukunya yang berjudul

Implementasi Kebijakan dan Politik mengemukakan pendapatnya bahwa

68Ibid., 69Ibid.,

70 https://alihamdan.id/implementasi/#, diakses pada hari Sabtu, tanggal 14 Juli 2018, Pukul 5.22 WIB.

(43)

implementasi adalah suatu proses untuk melaksanakan kebijakan menjadi tindakan dari politik ke dalam administrasi, pengembangan kebijakan dalam rangka penyempurnaan suatu program.71

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat di pahami bahwa implementasi merupakan pelaksanaan ataupun penerapan atas suatu kegiatan yang terencana untuk mencapai tujuan dari kegiatan tersebut. Terkait dengan penelitian ini maka yang dimaksud implementasi oleh peneliti adalah pelaksanaan terhadap pendistribusian zakat fitrah oleh Amil di Kelurahan Banjar Sari Kecamatan Metro Utara Kota Metro.

C. Pendistribusian

1. Pengertian Distribusi Zakat

Distribusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembagian pengiriman barang – barang terhadap orang banyak atau ke beberapa tempat.72

Dalam perspektif Ekonomi Islam, distribusi memiliki makna yang luas yaitu mencakup pengaturan kepemilikan, unsur – unsur produksi dan sumber – sumber kekayaan. Oleh karena itu, distribusi merupakan permasalahan utama dalam Ekonomi Islam, karena distribusi memiliki hubungan erat dengan tingkat kesejahteraan suatu masyarakat.73

71

Harsono, Implementasi Kebijakan dan Politik, 2002, h. 67.

72 Deasy Anwar, Kamus Bahasa Indonesia, (Surabaya: Karya Abditama, 2001), Cet. Ke-1, h. 125.

73 Taqiyuddin an – Nabhani, Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, Penerjemah Hafizh Abdurrahman, Sistem Ekonomi Islam, (Jakarta: Hizbuttahrir Indonesia, 2004), Cer. Ke-4, h.16.

(44)

Pendistribusian zakat merupakan penyaluran atau pembagian hasil zakat kepada mereka yang berhak. Distribusi zakat mempunyai sasaran dan tujuan. Sasaran di sini adalah pihak – pihak yang diperbolehkan menerima zakat, sedangkan tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam bidang perekonomian sehingga dapat memperkecil kelompok masyarakat yang kurang mampu, yang pada akhirnya akan meningkatkan kelompok muzaki.74

Berdasarkan pemaparan di atas, distribusi adalah penyaluran barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Dalam hal ini, distribusi yang dimaksud oleh peneliti yang sesuai dengan judul penelitian adalah penyaluran, pembagian, atau pendistribusian dana zakat fitrah yang dilakukan oleh amil zakat kepada mustahiq zakat dalam rangka pemerataan ekonomi umat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi pendistribusian dana zakat fitrah tersebut belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena pengelolaan dan pemberdayaan zakatnya belum optimal. Dana zakat masih disalurkan secara konsumtif sehingga habis dalam waktu relatif singkat.

2. Unsur – Unsur dalam Pendistribusian Zakat

Unsur penting dalam kegiatan pendistribusian zakat mencakup 3 hal, yaitu:

74 Mursyidi, Akuntansi Zakat Kontemporer, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), h. 169.

(45)

a. Muzzaki

Adalah orang yang dikenai kewajiban membayar zakat atas kepemilikan harta yang telah mencapai nisab dan haul.75 Seseorang terkena kewajiban membayar zakat jika memenuhi kriteria sebagai berikut:

1) Beragama Islam

Kewajiban zakat hanya diwajibkan kepada orang Islam. Hadits Rasulullah SAW menyatakan, “Abu Bakar Shidiq berkata, „inilah sedekah (zakat) yang diwajibkan oleh Rasulullah kepada kaum Muslim.” (HR. Bukhari). 76

2) Merdeka

Kewajiban membayar zakat hanya diwajibkan kepada orang – orang yang merdeka. Hamba sahaya tidak dikenai kewajiban berzakat. 77

3) Dimiliki Secara Sempurna

Harta benda yang wajib dibayarkan zakatnya adalah harta benda yang dimiliki secara sempurna oleh seseorang Muslim.78

4) Mencapai Nishab

Seorang Muslim wajib membayar zkat jika harta yang dimilikinya telah mencapai nishab. Nishab zakat harta berbeda – beda, tergantung jenis harta bendanya.79

75https://lazgis.com/ini-pengertian-muzakki-dan-mustahik-kriteria-dan-macam-

macamnya/, di akses hari Jum‟at 25 Oktober 2019 Pukul 21.09 WIB 76Ibid .

77Ibid.

78

(46)

5) Telah Haul

Harta benda wajib dikeluarkan zakatnya jika telah dimiliki selama satu tahun penuh. Hadits Rasulullah SAW menyatakan, “Abdullah Ibnu Umar berkata, „Rasulullah SAW bersabda „Tidak ada zakat pada harta seseorang yang belum sampai satu tahun dimilikinya.” (HR Daruquthni).80

b. Mustahik

Adalah orang – orang yang berhak menerima zakat. Ketentuan tentang siapa saja yang berhak menerima zakat telah diatur dengan jelas dalam QS . At-Taubah ayat 60.81

c. Amil

Adalah orang yang bekerja mengumpulkan zakat dan menyampaikannya kepada yang berhak menerimanya.82

79Ibid. 80Ibid. 81 Ibid. 82

(47)

34

A. Jenis dan Sifat Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan (field research) pada hakikatnya merupakan metode untuk menemukan secara khusus dan realitas apa yang telah dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu objek tertentu dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus.83 Field research yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan secara langsung di Keluarahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro sebagai lokasi penelitian yang telah penulis pilih untuk mengetahui pemberdayaan distribusi zakat fitrah.

2. Sifat Penelitian

Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku dan untuk mendapatkan sebuah hasil penelitian yang baik.84

Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu pola pikir yang berusaha memahami suatu fenomena atau kejadian dengan jalan menjelaskan keadaan fenomena atau kejadian itu seperti apa adanya atau menjelaskan

83 Kartini Kartono, Pengantar Metode Riset Sosial, (Bandung: CV Mandar Maju, 1996), h.32.

Referensi

Dokumen terkait

lampiran Keputusan ini sebagai Pembimbing Akademik Mahasiswa Program Magister Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2020/2021.. Ketiga :

Salah satu contoh enzim induktif yaitu enzim yang dihasilkan karena di dalam media pertumbuhan hanya ada selulosa sebagai satu-satunya sumber karbon, maka untuk

Penapisan kuantitatif merupakan suatu konfirmasi dan hasilnya belum tentu tepat sama dengan penapisan daerah bening Hasil analisis sidik ragam pada penentuan kuantitatif

Pakan yang mengandung campuran minyak jagung, minyak ikan dan minyak kelapa atau hanya minyak kelapa memberikan laju pertumbuhan tinggi dan konversi pakan

Telah disetujui dan disahkan untuk dipertahankan dihadapan Dewan Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Mengetahui

Laporan Keuangan BPTP LAMPUNG Semester II Tahun 2018 ini telah disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar

Dari tabel 6, didapatkan bahwa nilai motilitas yang merupakan akumulasi dari persentase motilitas cepat lurus dan motilitas lambat lurus/tidak lurus, pada hasil pemeriksaan

Berdasarkan proses-proses yang telah dilakukan dalam pengerjaan tugas akhir dengan judul “Rancang Bangun Perangkat Lunak Teenstagram untuk Mengelompokkan Topik Caption