• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Fecl3 Dan Lama Waktu Pengadukan Terhadap Kadar Melanin-Fe Tinta Cumi (Loligo Sp.) Yang Berasal Dari Hasil Samping Pabrik Pt. Dharmindo Samudra Abadi, Rembang, Jawa Tengah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Fecl3 Dan Lama Waktu Pengadukan Terhadap Kadar Melanin-Fe Tinta Cumi (Loligo Sp.) Yang Berasal Dari Hasil Samping Pabrik Pt. Dharmindo Samudra Abadi, Rembang, Jawa Tengah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)20. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1. Hasil Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi tinta. cumi berdasarkan uji proksimat, uji AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) bertujuan untuk mengetahui kadar Fe pada sampel tinta cumi, melanin dan melanin Fe kemudian diuji spektrofotometri FTIR untuk melihat senyawa yang terkandung dalam sampel. 4.1.1. Rendemen Tinta Cumi (Loligo sp.) Analisis rendemen dari tinta cumi (Loligo sp.) dapat dilihat pada Tabel 2. sebagai berikut : Tabel 2. Rendemen Tinta Cumi (Loligo sp.) Parameter Rendemen tinta cumi Rendemen tinta cumi (Fitrial dan Khotimah, 2017). Hasil (%) 1,35 0,5. Rendemen tinta cumi diperoleh berdasarkan perbandingan berat badan cumi perekor terhadap berat kantung tinta. Berat badan utuh cumi-cumi (Loligo sp.) yaitu 111 gram dan berat kantung 1,5 gram. Persentase rendemen tinta cumi yaitu sebesar 1,35%. Hal ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian dari Fitrial dan Khotimah (2017), Sepia sp memiliki kantung tinta yang panjang dan besar, sedangkan Loligo sp memiliki kantung tinta yang berukuran kecil sehingga yang dihasilkan juga lebih sedikit. Berat utuh Loligo sp yaitu 116,6 gram dan besar kantung tinta 0,6 gram. Hasil rendemen tinta dari jenis Loligo sebesar 0,5%. Tinta yang terdapat dalam kantung tinta cumi sangat ditentukan oleh kondisi terakhir sebelum cumi ditangkap, jika sebelum ditangkap sudah banyak tinta yang dikeluarkan maka hanya sedikit yang tersisa dikantung..

(2) 21. 4.1.2. Proksimat Tinta Cumi (Loligo sp.) Tinta cumi dikarakterisasi terhadap beberapa parameter seperti kadar air,. kadar protein, kadar abu, kadar lemak dan karbohidrat. Karakterisasi bertujuan untuk mengetahui kualitas dari tinta cumi yang dihasilkan. Berikut hasil uji proksimat dari tinta cumi (Loligo sp.) yang berasal dari hasil samoing pabrik PT. Dharmindo Samudra Abadi, Rembang, Jawa Tengah dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Proksimat Tinta Cumi (Loligo sp.) Parameter Hasil Literatur Pembanding Air (%) 55,52 87* Protein (%) 18,79 12* Abu (%) 5,68 0,1* Lemak (%) 0,04 0,2* Karbohidrat (%) 19,97 0,7* Sumber : *Kandungan gizi tinta cumi (Lopez-Gonzalez et al., 2014) Tabel 3 diatas menunjukkan hasil analisa proksimat tinta cumi. Dari data diatas diketahui bahwa rata-rata kadar protein sebesar 18,79%, kadar lemak sebesar 0,04%, kadar air 55,52%, kadar abu 5,68% dan kadar karbohidrat 19,97%. Sedangkan berdasarkan penelitian Agusandi et al., (2013), tinta cumi mengandung kadar air 78,46%, kadar protein 10,88% dan kadar karbohidrat 77,2%. Lopez-Gonzalez et al., (2017) menyatakan tinta cumi mengandung kadar protein sebesar 12%, kadar lemak 0,2%, kadar air 87%, kadar abu 0,1% dan kadar karbohidrat 0,7%. Rendahnya kadar air yang diteliti pada tinta cumi disebabkan tinta cumi yang digunakan berasal dari pabrik dan endapan melanin pada tinta cumi yang digunakan, sehingga kadar air menjadi rendah. Kadar abu memperlihatkan kandungan abu atau mineral yang terdapat dalam melanin tinta cumi. Tingginya kadar abu disebabkan komponen tinta yaitu melanin mampu mengkelat logam. Menurut Hong dan Simon (2008), kation logam yang lebih berat seperti Fe (III) dan Cu (II) dapat mengikat erat pada melanin. Sedangkan menurut Chen et al., (2009) melanin pada tinta cumi memiliki kemampuan.

(3) 22. menyerap Cd(II) dan Pb(II) oleh gugus fungsi yang terdapat di molekul melanin. Fitrial dan Khotimah (2017), menyatakan bahwa melanin tinta cumi mengandung gugus fenolik (OH), amina (NH) dan karboksil (COOH). 4.1.3. Hasil Uji AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) Hasil pengujian tinta cumi (Loligo sp.), kontrol melanin dan kontrol melani-. Fe dengan uji AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil Uji AAS Tinta Cumi, Melanin dan Melanin Fe (Loligo sp.) Parameter Hasil (ppm) Kadar Fe tinta cumi 15,57 Kadar Fe melanin 16,94 Kadar Fe melanin-Fe 87,32 AAS Fe Wang et al., (2014) Kadar Fe melanin Fe 85 Dari tabel hasil pengujian AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) diatas kandungan Fe teringgi pada sampel melanin Fe dan terendah pada sampel tinta cumi. Pada sampel melanin Fe dihasilkan kadar zat besi sebesar 87,32 ppm, tingginya kadar zat besi dikarenakan dalam proses pembuatan melanin Fe dilakukan penambahan FeCl3 pada melanin yang telah diisolasi. Pada sampel melanin dihasilkan kadar zat besi sebesar 16,94 ppm, rendahnya kadar zat besi dikarenakan tidak adanya penambahan larutan FeCl3 pada melanin. Sedangkan sampel tinta cumi dihasilkan kadar zat besi sebesar 15,57 ppm, rendahnya kadar zat besi dikarenakan sampel tinta cumi merupakan tinta cumi murni tanpa adanya perlakuan isolasi melanin dan penambahan larutan FeCl3. Berdasarkan penelitian Wang et al., (2014), penambahan FeCl3 konsentrasi 10 mmol dengan lama waktu pengadukan 24 jam menghasilkan kadar zat besi sebesar 85 ppm. Hasil kadar zat besi dari sampel melanin-Fe lebih besar dari sampel tinta cumi dan melanin dikarenakan adanya penambahan.

(4) 23. FeCl3 pada melanin-Fe sehingga mempengaruhi kadar zat besi pada melaninFe. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Falandysz (1991), dihasilkan kandungan Fe didalam tinta cumi sebesar 7,1 ± 2,4 ppm. Spesies cumi yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah jenis Loligo opalescens yang ditangkap dari perairan laut pasifik didekat wilayah California. Jika dibandingkan dengan kadar Fe dari tinta cumi dari penelitian ini hasilnya tidak jauh beda. 4.1.4. Hasil Spectrophotometry FT-IR (Fourier Transform Infra Red) Hasil pengujian tinta cumi (Loligo sp.) dengan spectrophotometry FT-IR. (Fourier Transform Infra Red) pada sampel tinta cumi, melanin dan melanin Fe dapat dilihat pada Gambar 4, 5 dan 6.. Gambar 4. Hasil FT-IR Tinta Cumi Berdasarkan spektra inframerah sampel tinta cumi pada gambar diatas dapat dilihat bahwa spektra pada panjang gelombang 3374.03 cm-1 adalah gugus fungsi NH amina dengan puncak spektra melebar dan memiliki intensitas 58.005. Pada panjang gelombang 3246.74 cm-1 adalah gugus fungsi OH fenolik dengan.

(5) 24. puncak spektra melebar dan memiliki intensitas 59.324. Hal ini dukung oleh Fitrial. dan. Khotimah. (2017),. hasil. pengamatan. menggunakan. FTIR. spektrofotometer dari melanin tinta Sepia sp dan Loligo sp menunjukkan kedua melanin memiliki pola spektrum yang sama, yaitu mengandung gugus fenolik, amina dan karboksil.. Gambar 5. Hasil FTIR Melanin Berdasarkan spektra inframerah sampel kontrol melanin pada gambar 5 diatas dapat dilihat bahwa spektra pada panjang gelombang 3354.74 cm-1 adalah gugus fungsi NH amina dengan puncak spektra yang melebar dan memiliki intensitas 24.49. Pada panjang gelombang 3242.88 cm-1 adalah gugus fungsi OH fenolik dengan puncak spektra yang melebar dan memiliki intensitas 25.017. Pada panjang gelombang 1632.43 cm-1 adalah gugus fungsi COOH karboksil dengan spektra yang melebar dan memiliki intensitas 15.846. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fitrial dan Khotimah (2017), hasil uji dengan FTIR spektrofotometer dari melanin tinta cumi Sepia sp dan Loligo sp memiliki pola.

(6) 25. spektrum yang sama, yaitu mengandung gugus fenolik (OH), amina (NH) dan karboksil (COOH).. Gambar 6. Hasil FTIR Melanin-Fe. Gambar 7. Spektrum Melanin-Fe dalam Wang et al., (2014) Berdasarkan spektra inframerah kontrol melanin-Fe pada gambar 6 dapat dilihat bahwa spektra melanin-Fe pada bilangan gelombang 3393.32 cm-1 adalah gugus fungsi NH amina dengan spektra yang melebar dan memiliki intensitas.

(7) 26. 43.003. Pada gelombang bilangan 2901.50 cm-1 adalah gugus fenolik OH dengan spektra yang melebar dan memiliki intensitas 69.394. Pada gelombang bilangan 1636.29 cm-1 adalah gugus fungsi karboksil COOH dengan spektra yang melebar dan memiliki intensitas 55.502. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fitrial dan Khotimah (2017), hasil uji dengan FTIR spektrofotometer dari melanin tinta cumi Sepia sp dan Loligo sp memiliki pola spektrum yang sama, yaitu mengandung gugus fenolik (OH), amina (NH) dan karboksil (COOH). Sedangkan menurut Wang et al., (2014), bahwa serapan pada bilangan gelombang 3200 cm-1 merupakan gugus NH, pada gelombang bilangan 3400 cm-1 merupakan gugus fenolik OH dan kelompok COOH pada bilangan gelombang 1710 cm-1 pita menurun pada melanin Fe yang mengindikasikan kandungan kimia mengikat ion Fe dengan melanin. 4.2. Hasil Penelitian Utama Penelitian utama bertujuan untuk mempelajari pengaruh perbedaan. konsentrasi FeCl3 dan lama waktu pengadukan terhadap melanin-Fe dengan melakukan pengujian AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) untuk mengetahui kadar Fe dan hasil kadar Fe tertinggi diuji FTIR. 4.2.1. Hasil Uji AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) Hasil pengujian AAS melanin tinta cumi (Loligo sp.) dengan perlakuan. penambahan konsentrasi FeCl3 dan lama waktu pengadukan yang berbeda. Perbedaan konsentrasi FeCl3 yang digunakan adalah 5 mmol, 10 mmol dan 15 mmol. Sedangkan lama waktu pengadukan yang digunakan adalah 18 jam, 24 jam dan 30 jam. Grafik rata-rata kadar melanin-Fe dapat dilihat pada Gambar 8..

(8) 60 50. 78,03 ± 0,85b. 73,06 ± 0,09b. 86,4 ± 0,78b. 67,8 ± 0,94b. 55,3 ± 0,52a. Kadar Fe (ppm). 70. 40,23 ± 0,06a. 80. 49,84 ± 0,54a. 90. 83,69 ± 0,57b. 100. 81,12 ± 0,96b. 27. 18 jam 24 jam 30 jam. 40 30 20 10 0 5 mmol. 10 mmol Konsentrasi FeCl3. 15 mmol. Gambar 8. Grafik Rata-rata Kadar Fe pada Sampel Melanin-Fe Dari gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa perlakuan yang menghasilkan kadar Fe dari sampel melanin-Fe tertinggi adalah pada perlakuan konsentasi FeCl3 10 mmol dengan lama waktu pengadukan 30 jam, dimana menghasilkan kadar Fe sebesar 86,4 ± 0,78 ppm dan terendah pada konsentrasi FeCl3 5 mmol dengan lama waktu pengadukan 18 jam yang menghasilkan kadar Fe 40,23 ± 0,06 ppm. Hasil ANOVA (Lampiran 7) menunjukkan interaksi antar perlakuan berbeda nyata (P<0.05) terhadap kadar zat besi melanin-Fe, hal ini membuktikan bahwa perlakuan penambahan konsentrasi FeCl3 dengan lama waktu pengadukan yang berbeda berpengaruh terhadap kandungan zat besi melanin-Fe. Hal ini sesuai dengan penelitian Wang et al., (2014), dimana dalam penelitian tersebut juga dilakukan pembuatan melanin Fe dengan penambahan konsentrasi FeCl3 10 mmol menghasilkan kadar zat besi sebesar 85 ppm. Hasil kadar zat besi dari sampel melanin-Fe lebih besar dari sampel tinta cumi dan melanin dikarenakan adanya penambahan FeCl3 pada melanin sehingga mempengatuhi kadar zat besi pada melanin Fe..

(9) 28. Dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa kadar Fe dari sampel melanin Fe semakin bertambahnya konsentrasi dan lama waktu pengadukan maka akan menghasilkan kadar Fe yang semakin naik. Namun terdapat penurunan pada sampel konsentrasi 10 mmol dan 15 mmol. Berdasarkan penelitian Krismatuti et al., (2008), pengadukan bertujuan untuk memberikan kesempatan partikel masuk kedalam matrik untuk mengendap dan mendapatkan bentuk penyebaran partikel yang seragam. Waktu pengadukan atau waktu interaksi ion logam dan absorben merupakan parameter yang penting untuk mengetahui kecepatan reaksi absorpsi. Semakin sedikit waktu interaksi, laju reaksi makin cepat yang berarti juga laju absorpsi makin tinggi. Menurut Harisman dan Djarot (2014), semakin lama pengadukan, tabrakan antara kedua partikel akan semakin sering terjadi dan menghasilkan energi kinetik yang cukup untuk mengaktifasi reaksi antara solute dengan solvent. Menurut Dewi et al., (2010), Pengadukan bertujuan untuk memperbanyak kontak antara bahan dengan pelarut dan mendapatkan derajat homogenitas yang tinggi. Semakin lama pengadukan maka semakin besar perpindahan panas yang terjadi pada waktu tertentu dan semakin besar kontak bahan dengan pelarut maka hasil yang diperoleh akan semakin meningkat..

(10) 29. 4.2.2. Hasil Spectrophotometry FT-IR (Fourier Transform Infra Red) Hasil pengujian FT-IR menunjukkan bahwa kandungan Fe yang terdapat. pada melanin-Fe konsentrasi FeCl3 10 mmol dan lama waktu pengadukan 30 jam dapat dilihat pada Gambar 9.. Gambar 9. Hasil FTIR Melanin-Fe Berdasarkan hasil uji AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) melanin-Fe tertinggi pada konsentrasi 10 mmol dengan lama waktu pengadukan 30 jam dilanjutkan uji FTIR dapat dilihat pada gambar diatas pada bilangan gelombang 3360.53 cm-1 adalah gugus fungsi NH amina dengan spektra yang melebar dan memiliki intensitas 40.754. Pada gelombang bilangan 3252.52 cm -1 adalah gugus fungsi COOH karboksil dengan spektra yang melebar dan memiliki intensitas 41.787. Pada gelombang bilangan 2911.15 cm-1 adalah gugus fungsi OH fenolik dengan spektra yang melebar dan memiliki intensitas 63.313. Hal ini didukung oleh Wang et al., (2014), bahwa serapan pada bilangan gelombang.

(11) 30. 3200 cm-1 merupakan gugus NH, pada gelombang bilangan 3400 cm-1 merupakan gugus fenolik OH dan kelompok COOH pada bilangan gelombang 1710 cm-1 pita menurun pada melanin Fe yang mengindikasikan kandungan kimia mengikat ion Fe dengan melanin. Menurut melanin Fitrial dan Khotimah (2017), yang terdapat pada tinta cumi-cumi memiliki kemampuan menyerap atau mengikat logam. Gugus fungsi tersebut adalah fenolik hidroksil (OH), karboksil (COOH) dan amina (NH)..

(12)

Gambar

Tabel 2. Rendemen Tinta Cumi (Loligo sp.)
Tabel 3 diatas menunjukkan hasil analisa proksimat tinta cumi. Dari data  diatas  diketahui  bahwa  rata-rata  kadar  protein  sebesar  18,79%,  kadar  lemak  sebesar  0,04%,  kadar  air  55,52%,  kadar  abu  5,68%  dan  kadar  karbohidrat  19,97%
Tabel 4. Hasil Uji AAS Tinta Cumi, Melanin dan Melanin Fe (Loligo sp.)
Gambar 4. Hasil FT-IR Tinta Cumi
+5

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum, berdasarkan hasil analisis statistik dapat ditegaskan bahwa untuk meningkatkan partisipasi petani muda dalam pertanian ramah lingkungan hanya

Berdasarkan data dari informan di atas, dapat dijelaskan bahwa pimpinan dan bawahan di Kantor Urusan Agama Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok

Oleh karena itu suhu rendah dan oksigen renah dipergunakan dalam praktek penyimpanan buahbuahan, karena akan dapat memperpanjang daya simpan dari buah-buahan

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tatnrn 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor a4l6); sebagaimana

Data Primer, yaitu data diperoleh secara langsung dari sumbernya mengenai masalah-masalah yang menjadi pokok bahasan. Dalam penelitian ini melalui putusan No. 145

Berdasarkan komposisi kelamin, jumlah penduduk perempuan di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014 sebesar 98 persen, mengalami penurunan dari tahun 2013 sex ratio sebesar

Dengan beban total listrik sebesar 711 Ah/hari yang dibutuhkan sistem BTS, dimana baterai dengan kapasitas 490 Ah dan tegangan nominal 2 Volt per blok, sebanyak 24

4 Dari persoalan inilah penyelidik memilih persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Headcount dalam pengurusan akademik pelajar sebagai skop kajian penyelidik kerana