• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi 3. Dinamika Perumusan Dan Perjalanan Hidup Pancasila

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Materi 3. Dinamika Perumusan Dan Perjalanan Hidup Pancasila"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Materi 3. Materi 3.

DINAMIKA DINAMIKA

PERUMUSAN DAN PERJALANAN HIDUP PANCASILA PERUMUSAN DAN PERJALANAN HIDUP PANCASILA 1.

1. PendahuluanPendahuluan

Walaupun Pancasila sudah ditetapkan sebagai dasar negara sejak tahun 1945 namun Walaupun Pancasila sudah ditetapkan sebagai dasar negara sejak tahun 1945 namun dimensi kesejarahan Pancasila itu sendiri tetap relevan untuk diperbincangkan. Sudah dimensi kesejarahan Pancasila itu sendiri tetap relevan untuk diperbincangkan. Sudah  barang tentu

 barang tentu ada baada banyak persoalan nyak persoalan yang dapat yang dapat dibahas bila dibahas bila kita berbicara kita berbicara tentang sejarahtentang sejarah Pancasila. Sekedar menyebut beberapa contoh, pembahasan dapat kita lakukan mulai dari Pancasila. Sekedar menyebut beberapa contoh, pembahasan dapat kita lakukan mulai dari  persoalan

 persoalan (a) (a) asal-usul asal-usul nilai nilai Pancasila, Pancasila, (b) (b) penggali penggali Pancasila, Pancasila, (c) (c) bagaimana bagaimana sila-silasila-sila Pancasila digali dan dirumuskan, sampai ke persoalan (d) bagaimana dinamika perjalanan Pancasila digali dan dirumuskan, sampai ke persoalan (d) bagaimana dinamika perjalanan hidup Pancasila selama ini.

hidup Pancasila selama ini.

Uraian berikut ini akan membatasi diri pada dua persoalan yang disebut terakhir Uraian berikut ini akan membatasi diri pada dua persoalan yang disebut terakhir yaitu (a) proses perumusan Pancasila, dan (b) dinamika perjalanan hidup Pancasila dalam yaitu (a) proses perumusan Pancasila, dan (b) dinamika perjalanan hidup Pancasila dalam sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia.

sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia.

Tentang asal-usul nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila cukup kiranya kalau Tentang asal-usul nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila cukup kiranya kalau dikatakan bahwa Pancasila itu bersumber dari khasanah budaya Indonesia, yang diterangi dikatakan bahwa Pancasila itu bersumber dari khasanah budaya Indonesia, yang diterangi oleh ide-ide besar dunia. Pernyataan itu menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung oleh ide-ide besar dunia. Pernyataan itu menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila ada yang bersumber dari kultur bangsa Indonesia sendiri namun ada pula dalam sila-sila ada yang bersumber dari kultur bangsa Indonesia sendiri namun ada pula yang berasal dari budaya luar Indonesia.

yang berasal dari budaya luar Indonesia.

Sedang mengenai penggali Pancasila dasar negara dapatlah dikatakan bahwa dalam Sedang mengenai penggali Pancasila dasar negara dapatlah dikatakan bahwa dalam  proses

 proses penggalian penggalian dan dan perumusan perumusan Pancasila Pancasila sebagai sebagai dasar dasar negara negara itu, itu, Ir. Ir. SoekarnoSoekarno mengemukakan pandangan-pandangan yang cukup dominan pengaruhnya.

mengemukakan pandangan-pandangan yang cukup dominan pengaruhnya. 2.

2. Dinamika Perumusan Dasar NegaraDinamika Perumusan Dasar Negara

Proses perumusan dasar negara Pancasila berlangsung dalam sidang-sidang Proses perumusan dasar negara Pancasila berlangsung dalam sidang-sidang  Dokuritu

 Dokuritu Zyunbi Zyunbi TyoosakaiTyoosakai  (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan,  (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan, selanjutnya disebut BPUPK) yang dilanjutkan dalam sidang-sidang Panitia Persiapan selanjutnya disebut BPUPK) yang dilanjutkan dalam sidang-sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, (selanjutnya disebut PPKI).

Kemerdekaan Indonesia, (selanjutnya disebut PPKI).

Walaupun BPUPK bukan lembaga perwakilan partai-partai politik, namun karena Walaupun BPUPK bukan lembaga perwakilan partai-partai politik, namun karena  pikiran-pikiran

 pikiran-pikiran tentang tentang berbagai berbagai persoalan persoalan dasar dasar hidup hidup bernegara bernegara yang yang kemudiankemudian dijawab melalui Pancasila telah lama berkembang di kalangan partai politik yang ada di dijawab melalui Pancasila telah lama berkembang di kalangan partai politik yang ada di masa penjajahan Belanda, maka untuk memahami dinamika perumusan dasar negara masa penjajahan Belanda, maka untuk memahami dinamika perumusan dasar negara Pancasila kita perlu memperhatikan aliran-aliran politik yang berkembang selama masa Pancasila kita perlu memperhatikan aliran-aliran politik yang berkembang selama masa  pergerakan

 pergerakan nasional, nasional, di di mana mana persoalan persoalan prinsip-prinsip prinsip-prinsip kehidupan kehidupan bernegara bernegara di di alamalam Indonesia merdeka mulai diperbincangkan.

Indonesia merdeka mulai diperbincangkan.

Secara ideologis dan corak aspirasi politik mereka (bukan atas dasar agama yang Secara ideologis dan corak aspirasi politik mereka (bukan atas dasar agama yang dipeluk oleh anggotanya) berbagai partai politik yang berkembang di masa pergerakan dipeluk oleh anggotanya) berbagai partai politik yang berkembang di masa pergerakan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu (a) golongan Marxis/ Komunis, (b) golongan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu (a) golongan Marxis/ Komunis, (b) golongan  Nasionalis, dan

 Nasionalis, dan (c) golongan (c) golongan Islam. Islam. Dari Dari puluhan partai puluhan partai politik yang hidup, politik yang hidup, berkembangberkembang dan bahkan mati di masa pergerakan dapatlah kita sebut beberapa di antaranya sebagai dan bahkan mati di masa pergerakan dapatlah kita sebut beberapa di antaranya sebagai ilustrasi tentang pengelompokkan di atas (Pringgodigdo, 1980; Margono, 1971) sebagai ilustrasi tentang pengelompokkan di atas (Pringgodigdo, 1980; Margono, 1971) sebagai  berikut ini.

 berikut ini. a)

a) Partai-partai beraliran Marxis/Sosialis KiriPartai-partai beraliran Marxis/Sosialis Kiri Termasuk dalam kategori ini adalah (a)

Termasuk dalam kategori ini adalah (a)  Indische Sociaal  Indische Sociaal Democratische VereenigingDemocratische Vereeniging (ISDV)

(2)

lahir tahun 1917, dan (c)

lahir tahun 1917, dan (c)  Perserikatan  Perserikatan Komoenis Komoenis di di India India (PKI)(PKI)  yang merupakan  yang merupakan  perubahan bentuk dari ISDV pada tahun 1920.

 perubahan bentuk dari ISDV pada tahun 1920.  b)

 b) Partai-partai beraliran Nasionalis/KebangsaanPartai-partai beraliran Nasionalis/Kebangsaan Termasuk dalam kelompok ini adalah (a)

Termasuk dalam kelompok ini adalah (a)  Indische  Indische PartijPartij  yang lahir tahun 1912, (b)  yang lahir tahun 1912, (b) Perhimpoenan Indonesia (PI, 1924) yang merupakan hasil evolusi dari

Perhimpoenan Indonesia (PI, 1924) yang merupakan hasil evolusi dari  Indische Indische Vereeniging 

Vereeniging  (1908) (1908) dandan  Indonesische  Indonesische Vereeniging Vereeniging   (1922), (c) Partai Nasional  (1922), (c) Partai Nasional Indonesia (semula Perserikatan Nasional Indonesia) yang lahir tahun 1927, dan (d) Indonesia (semula Perserikatan Nasional Indonesia) yang lahir tahun 1927, dan (d) Parindra (1935) yang merupakan hasil fusi dari Boedi Oetomo (1908) dan Persatuan Parindra (1935) yang merupakan hasil fusi dari Boedi Oetomo (1908) dan Persatuan Bangsa Indonesia (1924).

Bangsa Indonesia (1924). c)

c) Partai-partai beraliran IslamPartai-partai beraliran Islam

Termasuk di sini adalah (a) Sarekat Islam 1912 yang semula adalah Sarekat Dagang Termasuk di sini adalah (a) Sarekat Islam 1912 yang semula adalah Sarekat Dagang Islam (1911), (b) Partai Sarikat Islam Indonesia (1930) dan Partai Islam Indonesia Islam (1911), (b) Partai Sarikat Islam Indonesia (1930) dan Partai Islam Indonesia (1931).

(1931).

Golongan Marxis/Komunis memperjuangkan terwujudnya negara komunis, Golongan Marxis/Komunis memperjuangkan terwujudnya negara komunis, golongan Islam ingin mewujudkan ne

golongan Islam ingin mewujudkan negara Islam, sedang golongan nasionalis/ kebangsaangara Islam, sedang golongan nasionalis/ kebangsaan ingin mewujudkan negara kebangsaan.

ingin mewujudkan negara kebangsaan.

Dalam proses pergumulan persoalan-persoalan dasar kehidupan menegara, Dalam proses pergumulan persoalan-persoalan dasar kehidupan menegara, partai- partai

 partai Islam Islam cenderung cenderung menonjolkan menonjolkan dimensi dimensi vertikal vertikal berdasarkan berdasarkan agama agama Islam,Islam, sedangkan kaum kebangsaan mengajukan gagasan persatuan, kebangsaan, kekeluargaan, sedangkan kaum kebangsaan mengajukan gagasan persatuan, kebangsaan, kekeluargaan, kolektivisme dan gotong-royong. Di dalam tubuh golongan nasionalis ini terdapat pula kolektivisme dan gotong-royong. Di dalam tubuh golongan nasionalis ini terdapat pula  para

 para penganut penganut ideologi-ideologi ideologi-ideologi modern, modern, yang yang mulai mulai berkembang berkembang di di dunia dunia Barat Barat tetapitetapi cepat menyebar luas di seluruh Asia (Jepang, Tiongkok dan India pada waktu itu), dan cepat menyebar luas di seluruh Asia (Jepang, Tiongkok dan India pada waktu itu), dan menyumbangkan gagasan kerakyatan, hak-hak dasar dan sosialisme.

menyumbangkan gagasan kerakyatan, hak-hak dasar dan sosialisme.

Cita-cita untuk mewujudkan negara komunis secara formal padam pada tahun 1927 Cita-cita untuk mewujudkan negara komunis secara formal padam pada tahun 1927 seiring diberangusnya PKI oleh pemerintah penjajah Belanda, setelah partai itu seiring diberangusnya PKI oleh pemerintah penjajah Belanda, setelah partai itu melakukan pemberontakan. Oleh karena itu ketika BPUPK dibentuk pada tahun 1945 melakukan pemberontakan. Oleh karena itu ketika BPUPK dibentuk pada tahun 1945 hanya kaum nasionalis dan Islamlah yang menduduki kursi keanggotaan badan yang hanya kaum nasionalis dan Islamlah yang menduduki kursi keanggotaan badan yang  bertugas menyelidiki persiapan bangsa Indonesia untuk merdeka itu.

 bertugas menyelidiki persiapan bangsa Indonesia untuk merdeka itu. Pranarka (1985:

Pranarka (1985: 47) menyebutkan bahw47) menyebutkan bahwa di dalam a di dalam tubuh BPtubuh BPUPK terdapat tigUPK terdapat tigaa kelompok ideologi yaitu Islam, kebangsaan dan Barat Modern Sekular. Dalam masalah kelompok ideologi yaitu Islam, kebangsaan dan Barat Modern Sekular. Dalam masalah hubungan antara negara dan agama golongan kebangsaan berbeda pandang dengan hubungan antara negara dan agama golongan kebangsaan berbeda pandang dengan golongan Islam, sedang dalam hal jaminan hak-hak dasar manusia dan sistem golongan Islam, sedang dalam hal jaminan hak-hak dasar manusia dan sistem  pemerintahan

 pemerintahan golongan golongan kebangsaan kebangsaan berbeda berbeda pandang pandang dengan dengan golongan golongan modern modern BaratBarat sekuler.

sekuler.

Secara lebih analitis Abdullah (1999) menyebutkan anggota BPUPK semula Secara lebih analitis Abdullah (1999) menyebutkan anggota BPUPK semula  berjumlah

 berjumlah 63 63 orang orang (termasuk (termasuk seorang seorang Wakil Wakil Ketua Ketua bangsa bangsa Jepang) Jepang) namun namun kemudiankemudian menjadi 68 orang menjelang sidang tanggal 10 Juli 1945 (karena ditambah dengan enam menjadi 68 orang menjelang sidang tanggal 10 Juli 1945 (karena ditambah dengan enam orang anggota baru dan dikurangi satu orang yaitu Wakil Ketua dari bangsa Jepang). orang anggota baru dan dikurangi satu orang yaitu Wakil Ketua dari bangsa Jepang). Secara sosiologis komposisi anggota BPUPK itu terdiri atas (a) 23 orang dari kalangan Secara sosiologis komposisi anggota BPUPK itu terdiri atas (a) 23 orang dari kalangan  birokrat fungsional, (b) 1

 birokrat fungsional, (b) 17 orang da7 orang dari golongan pergerakan ri golongan pergerakan kebangsaan, (c) kebangsaan, (c) 11 orang dari11 orang dari kalangan birokrat pemerintahan, (d) 10 orang dari golongan „independen‟ atau sw kalangan birokrat pemerintahan, (d) 10 orang dari golongan „independen‟ atau swasta,asta, dan (e) tujuh orang dari kalangan ulama (guru dan mubaligh).

dan (e) tujuh orang dari kalangan ulama (guru dan mubaligh).

Dari segi status sosialnya komposisi anggota BPUPK itu terdiri atas (a) 37 orang Dari segi status sosialnya komposisi anggota BPUPK itu terdiri atas (a) 37 orang  bangsawan

 bangsawan lokal lokal (28 (28 orang orang dari dari suku suku Jawa Jawa dan dan sembilan sembilan orang orang dari dari suku suku Sunda), Sunda), (b)(b) delapan orang bangsawan keraton, (c) tujuh orang ulama (tiga orang dari delapan orang bangsawan keraton, (c) tujuh orang ulama (tiga orang dari Muhammadiyah, dan dua orang dari Nahdlatul Ulama, serta seorang dari PUI Muhammadiyah, dan dua orang dari Nahdlatul Ulama, serta seorang dari PUI

(3)

lahir tahun 1917, dan (c)

lahir tahun 1917, dan (c)  Perserikatan  Perserikatan Komoenis Komoenis di di India India (PKI)(PKI)  yang merupakan  yang merupakan  perubahan bentuk dari ISDV pada tahun 1920.

 perubahan bentuk dari ISDV pada tahun 1920.  b)

 b) Partai-partai beraliran Nasionalis/KebangsaanPartai-partai beraliran Nasionalis/Kebangsaan Termasuk dalam kelompok ini adalah (a)

Termasuk dalam kelompok ini adalah (a)  Indische  Indische PartijPartij  yang lahir tahun 1912, (b)  yang lahir tahun 1912, (b) Perhimpoenan Indonesia (PI, 1924) yang merupakan hasil evolusi dari

Perhimpoenan Indonesia (PI, 1924) yang merupakan hasil evolusi dari  Indische Indische Vereeniging 

Vereeniging  (1908) (1908) dandan  Indonesische  Indonesische Vereeniging Vereeniging   (1922), (c) Partai Nasional  (1922), (c) Partai Nasional Indonesia (semula Perserikatan Nasional Indonesia) yang lahir tahun 1927, dan (d) Indonesia (semula Perserikatan Nasional Indonesia) yang lahir tahun 1927, dan (d) Parindra (1935) yang merupakan hasil fusi dari Boedi Oetomo (1908) dan Persatuan Parindra (1935) yang merupakan hasil fusi dari Boedi Oetomo (1908) dan Persatuan Bangsa Indonesia (1924).

Bangsa Indonesia (1924). c)

c) Partai-partai beraliran IslamPartai-partai beraliran Islam

Termasuk di sini adalah (a) Sarekat Islam 1912 yang semula adalah Sarekat Dagang Termasuk di sini adalah (a) Sarekat Islam 1912 yang semula adalah Sarekat Dagang Islam (1911), (b) Partai Sarikat Islam Indonesia (1930) dan Partai Islam Indonesia Islam (1911), (b) Partai Sarikat Islam Indonesia (1930) dan Partai Islam Indonesia (1931).

(1931).

Golongan Marxis/Komunis memperjuangkan terwujudnya negara komunis, Golongan Marxis/Komunis memperjuangkan terwujudnya negara komunis, golongan Islam ingin mewujudkan ne

golongan Islam ingin mewujudkan negara Islam, sedang golongan nasionalis/ kebangsaangara Islam, sedang golongan nasionalis/ kebangsaan ingin mewujudkan negara kebangsaan.

ingin mewujudkan negara kebangsaan.

Dalam proses pergumulan persoalan-persoalan dasar kehidupan menegara, Dalam proses pergumulan persoalan-persoalan dasar kehidupan menegara, partai- partai

 partai Islam Islam cenderung cenderung menonjolkan menonjolkan dimensi dimensi vertikal vertikal berdasarkan berdasarkan agama agama Islam,Islam, sedangkan kaum kebangsaan mengajukan gagasan persatuan, kebangsaan, kekeluargaan, sedangkan kaum kebangsaan mengajukan gagasan persatuan, kebangsaan, kekeluargaan, kolektivisme dan gotong-royong. Di dalam tubuh golongan nasionalis ini terdapat pula kolektivisme dan gotong-royong. Di dalam tubuh golongan nasionalis ini terdapat pula  para

 para penganut penganut ideologi-ideologi ideologi-ideologi modern, modern, yang yang mulai mulai berkembang berkembang di di dunia dunia Barat Barat tetapitetapi cepat menyebar luas di seluruh Asia (Jepang, Tiongkok dan India pada waktu itu), dan cepat menyebar luas di seluruh Asia (Jepang, Tiongkok dan India pada waktu itu), dan menyumbangkan gagasan kerakyatan, hak-hak dasar dan sosialisme.

menyumbangkan gagasan kerakyatan, hak-hak dasar dan sosialisme.

Cita-cita untuk mewujudkan negara komunis secara formal padam pada tahun 1927 Cita-cita untuk mewujudkan negara komunis secara formal padam pada tahun 1927 seiring diberangusnya PKI oleh pemerintah penjajah Belanda, setelah partai itu seiring diberangusnya PKI oleh pemerintah penjajah Belanda, setelah partai itu melakukan pemberontakan. Oleh karena itu ketika BPUPK dibentuk pada tahun 1945 melakukan pemberontakan. Oleh karena itu ketika BPUPK dibentuk pada tahun 1945 hanya kaum nasionalis dan Islamlah yang menduduki kursi keanggotaan badan yang hanya kaum nasionalis dan Islamlah yang menduduki kursi keanggotaan badan yang  bertugas menyelidiki persiapan bangsa Indonesia untuk merdeka itu.

 bertugas menyelidiki persiapan bangsa Indonesia untuk merdeka itu. Pranarka (1985:

Pranarka (1985: 47) menyebutkan bahw47) menyebutkan bahwa di dalam a di dalam tubuh BPtubuh BPUPK terdapat tigUPK terdapat tigaa kelompok ideologi yaitu Islam, kebangsaan dan Barat Modern Sekular. Dalam masalah kelompok ideologi yaitu Islam, kebangsaan dan Barat Modern Sekular. Dalam masalah hubungan antara negara dan agama golongan kebangsaan berbeda pandang dengan hubungan antara negara dan agama golongan kebangsaan berbeda pandang dengan golongan Islam, sedang dalam hal jaminan hak-hak dasar manusia dan sistem golongan Islam, sedang dalam hal jaminan hak-hak dasar manusia dan sistem  pemerintahan

 pemerintahan golongan golongan kebangsaan kebangsaan berbeda berbeda pandang pandang dengan dengan golongan golongan modern modern BaratBarat sekuler.

sekuler.

Secara lebih analitis Abdullah (1999) menyebutkan anggota BPUPK semula Secara lebih analitis Abdullah (1999) menyebutkan anggota BPUPK semula  berjumlah

 berjumlah 63 63 orang orang (termasuk (termasuk seorang seorang Wakil Wakil Ketua Ketua bangsa bangsa Jepang) Jepang) namun namun kemudiankemudian menjadi 68 orang menjelang sidang tanggal 10 Juli 1945 (karena ditambah dengan enam menjadi 68 orang menjelang sidang tanggal 10 Juli 1945 (karena ditambah dengan enam orang anggota baru dan dikurangi satu orang yaitu Wakil Ketua dari bangsa Jepang). orang anggota baru dan dikurangi satu orang yaitu Wakil Ketua dari bangsa Jepang). Secara sosiologis komposisi anggota BPUPK itu terdiri atas (a) 23 orang dari kalangan Secara sosiologis komposisi anggota BPUPK itu terdiri atas (a) 23 orang dari kalangan  birokrat fungsional, (b) 1

 birokrat fungsional, (b) 17 orang da7 orang dari golongan pergerakan ri golongan pergerakan kebangsaan, (c) kebangsaan, (c) 11 orang dari11 orang dari kalangan birokrat pemerintahan, (d) 10 orang dari golongan „independen‟ atau sw kalangan birokrat pemerintahan, (d) 10 orang dari golongan „independen‟ atau swasta,asta, dan (e) tujuh orang dari kalangan ulama (guru dan mubaligh).

dan (e) tujuh orang dari kalangan ulama (guru dan mubaligh).

Dari segi status sosialnya komposisi anggota BPUPK itu terdiri atas (a) 37 orang Dari segi status sosialnya komposisi anggota BPUPK itu terdiri atas (a) 37 orang  bangsawan

 bangsawan lokal lokal (28 (28 orang orang dari dari suku suku Jawa Jawa dan dan sembilan sembilan orang orang dari dari suku suku Sunda), Sunda), (b)(b) delapan orang bangsawan keraton, (c) tujuh orang ulama (tiga orang dari delapan orang bangsawan keraton, (c) tujuh orang ulama (tiga orang dari Muhammadiyah, dan dua orang dari Nahdlatul Ulama, serta seorang dari PUI Muhammadiyah, dan dua orang dari Nahdlatul Ulama, serta seorang dari PUI

(4)

Majalengka dan seorang dari A Ittihadiyatul Islamiyah Sukabumi), (d) delapan orang dari Majalengka dan seorang dari A Ittihadiyatul Islamiyah Sukabumi), (d) delapan orang dari luar Jawa (tiga orang dari Sumatera Barat yaitu Hatta, Yamin dan HA Salim, satu dari luar Jawa (tiga orang dari Sumatera Barat yaitu Hatta, Yamin dan HA Salim, satu dari Tapanuli, yaitu wartawan terkemuka Parada Harahap, satu dari Maluku yaitu Tapanuli, yaitu wartawan terkemuka Parada Harahap, satu dari Maluku yaitu Latuharhary, satu dari Kalimantan Selatan, Pangeran M Noor, satu dari Minahasa, Latuharhary, satu dari Kalimantan Selatan, Pangeran M Noor, satu dari Minahasa, Maramis, dan satu dari Lampung, Dasaad), serta (e) enam orang keturunan asing (satu Maramis, dan satu dari Lampung, Dasaad), serta (e) enam orang keturunan asing (satu Arab, satu Indo dan empat Tionghoa).

Arab, satu Indo dan empat Tionghoa).

Uraian di bawah ini akan menggambarkan bagaimana proses perumusan sila-sila, Uraian di bawah ini akan menggambarkan bagaimana proses perumusan sila-sila, yang pada hakikatnya hendak menjawab lima persoalan dasar hidup bernegara. Kelima yang pada hakikatnya hendak menjawab lima persoalan dasar hidup bernegara. Kelima masalah pokok itu adalah (a) bagaimana hubungan antara negara dan agama, (b) masalah pokok itu adalah (a) bagaimana hubungan antara negara dan agama, (b)  bagaimana

 bagaimana hubungan hubungan antar antar bangsa, (c) bangsa, (c) apakah apakah hakikat negara hakikat negara yang hendayang hendak k didirikan itu,didirikan itu, (d) siapakah pemilik kedaulatan dalam negara, dan (e) apakah tujuan negara yang hendak (d) siapakah pemilik kedaulatan dalam negara, dan (e) apakah tujuan negara yang hendak didirikan itu.

didirikan itu.

Dalam sidang pertama, yang berlangsung pada tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Dalam sidang pertama, yang berlangsung pada tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945, BPUPK membahas soal dasar negara, yaitu suatu „

Juni 1945, BPUPK membahas soal dasar negara, yaitu suatu „ philosophische  philosophische grondslaggrondslag atau dasar falsafah, yaitu pikiran yang sedalam-dalamnya, untuk di atasnya didirikan atau dasar falsafah, yaitu pikiran yang sedalam-dalamnya, untuk di atasnya didirikan  gedung

 gedung Indonesia Indonesia Merdeka Merdeka yang yang kekal kekal dan dan abad abad i‟i‟ (Bahar, 1995). Dasar seperti itu(Bahar, 1995). Dasar seperti itu dipandang perlu karena negara sebagai suatu organisasi hanya akan berfungsi dengan dipandang perlu karena negara sebagai suatu organisasi hanya akan berfungsi dengan  baik apabila terdapat suatu gambaran yang jelas tentang hakekat, dasar dan tujuannya.  baik apabila terdapat suatu gambaran yang jelas tentang hakekat, dasar dan tujuannya.

Oleh sebab itu, para pendiri negara pertama-tama harus mempunyai gambaran yang Oleh sebab itu, para pendiri negara pertama-tama harus mempunyai gambaran yang  jelas

 jelas tentang tentang negara negara yang yang dimaksud dimaksud dan dan tempat/peranan tempat/peranan warga warga negara negara di di dalamnya.dalamnya. Berdasarkan agenda itu, beberapa anggota BPUPK mengemukakan pendapatnya Berdasarkan agenda itu, beberapa anggota BPUPK mengemukakan pendapatnya mengenai dasar negara. Mengenai hal itu, ada tiga anggota yang mengemukakan mengenai dasar negara. Mengenai hal itu, ada tiga anggota yang mengemukakan  pendapat,

 pendapat, yaitu yaitu Muh. Muh. Yamin Yamin (tanggal (tanggal 29 29 Mei Mei 1945), 1945), Soepomo Soepomo (tanggal (tanggal 31 31 Mei Mei 1945),1945), dan Soekarno yang berpidato pada hari terakhir masa sidang pertama BPUPK, 1 Juni dan Soekarno yang berpidato pada hari terakhir masa sidang pertama BPUPK, 1 Juni 1945.

1945.

2.1. Masalah Hubungan Negara dan Agama. 2.1. Masalah Hubungan Negara dan Agama.

Dalam sejarah

Dalam sejarah kenegaraan Indonesia, kenegaraan Indonesia, hubungan antara negara dengan hubungan antara negara dengan agama agama barubaru dipersoalkan

dipersoalkan ketika ketika bangsa bangsa kita kita memasuki memasuki masa masa pergerakan naspergerakan nasional. ional. Sebelum Sebelum itu, itu, baikbaik  pada ma

 pada masa Hindu sa Hindu maupun kerajaanmaupun kerajaan-kerajaan -kerajaan Islam sesudahnya, peIslam sesudahnya, persatuan antara rsatuan antara negara- negara-agama bukan merupakan hal yang dipersoalkan. Raja-raja pada masa lampau dipandang agama bukan merupakan hal yang dipersoalkan. Raja-raja pada masa lampau dipandang sebagai penjelmaan, penitisan atau inkarnasi dari Dewa Wisnu dan Sywa. Raja Airlangga sebagai penjelmaan, penitisan atau inkarnasi dari Dewa Wisnu dan Sywa. Raja Airlangga

dari

dari Kediri Kediri misalnya, misalnya, disamakan disamakan dengan dengan dewa dewa Wisnu, Wisnu, sedang sedang Hayam Hayam Wuruk Wuruk disebutdisebut oleh Prapanca s

oleh Prapanca sebagai ebagai Dewa Dewa segala Dewsegala Dewa (Noer, a (Noer, 1982). Ken A1982). Ken Arok pun rok pun setelah berhasilsetelah berhasil merebut ma

merebut mahkota kerajaan hkota kerajaan Singosari dari Singosari dari raja raja Tunggul Ametung Tunggul Ametung dianggap dianggap sebagaisebagai  penjelmaan

 penjelmaan Bethara Bethara Guru. Guru. Meskipun Meskipun ia ia sebenarnya sebenarnya memiliki memiliki latar latar belakang belakang kehidupankehidupan  pribadi yang buram, teta

 pribadi yang buram, tetapi keburaman latar belakapi keburaman latar belakang ng itu justru diyakini itu justru diyakini sebagai ekspresisebagai ekspresi kekuatan gaibnya yang tidak memperoleh penyaluran yang tepat. Kalau kemudian di kekuatan gaibnya yang tidak memperoleh penyaluran yang tepat. Kalau kemudian di tanah air ini tumbuh negara-negara Islam, maka raja-raja mereka juga akan bergelar tanah air ini tumbuh negara-negara Islam, maka raja-raja mereka juga akan bergelar Khalifatullah, Panotogomo atau pelindung agama Islam yang merupakan agama rakyat. Khalifatullah, Panotogomo atau pelindung agama Islam yang merupakan agama rakyat. Penyatuan antara negara dan agama

Penyatuan antara negara dan agama memang tidak memang tidak dipersoalkan pada waktu itu.dipersoalkan pada waktu itu.

Masalahnya menjadi lain ketika pada masa pergerakan kaum terpelajar (kebanyakan Masalahnya menjadi lain ketika pada masa pergerakan kaum terpelajar (kebanyakan  belajar di

 belajar di atau dari atau dari dunia Barat), dunia Barat), mulai memikirkan rencana mulai memikirkan rencana mendirikan negara mendirikan negara merdemerdekaka lepas dari penjajah

lepas dari penjajah Belanda. Hubungan antara Belanda. Hubungan antara negara dan agama pun negara dan agama pun kemudian menjadikemudian menjadi  persoalan yang hangat untuk dibicarakan.

(5)

Hal itu dipicu oleh peristiwa "Jawi Hisworo" tahun 1916, ketika surat kabar milik Boedi Oetomo ini memuat tulisan yang menyatakan antara lain bahwa „nabi Muhammad  soeka minum gin dan arak‟ . Tulisan itu barang tentu menimbulkan kemarahan dari kalangan Islam. Kecaman yang diarahkan kepada pihak yang dianggap bertanggung- jawab dan polemik yang mengikutinya menyiratkan perbedaan pandang antara kaum  priyayi nasionalis dan kalangan Islam. Sejak itu polemik tentang hubungan negara/politik

dengan agama berlangsung, baik antara golongan Islam dengan golongan Komunis maupun antara golongan Islam dengan golongan Nasionalis.

Dari polemik itu tampak bahwa kelompok Islam menghendaki adanya persatuan antara negara dan agama (Islam) seperti tersirat dari ungkapan-ungkapan yang dikemukakan para tokohnya antara lain: ,‟.... hanya kemerdekaan yang berazaskan keIslamanlah yang sesungguhnya melepaskan segala rakyat daripada perhambaan macam apapun juga‟ atau, „ Ideologi kaum Muslimin dipadatkan oleh Qur‟an‟. Di samping itu sering dikutipkan pula ayat suci Al Qur‟an seperti „ Dan tidak Kujadikan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdikan diri kepadaku.  Kesemua itu berarti bahwa  pengabdian untuk memperoleh kemenangan di dunia ini adalah untuk memperoleh

kebahagiaan di akhirat. Kehidupan dunia tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan batin (agama) dalam ideologi seorang Muslim‟ (Noer, 1982). Di lain pihak, golongan komunis menghendaki adanya pemisahan antara agama dan organisasi. Mereka mengan- jurkan agar jangan mencampurkan agama dengan perserikatan. Sementara itu kaum nasionalis menghendaki agar negara tidak disatukan dengan agama tertentu (negara dipisahkan dari agama)

Menurut Soekarno (dari kubu nasionalis) rencana Undang-Undang Dasar yang memuat persatuan agama dan negara tentu akan ditolak oleh badan perwakilan, atau apabila dipaksakan juga persatuan itu, berarti demokrasi ditinggalkan. Bagi Soekarno hanya ada dua alternatif dalam hubungan ini yaitu "Persatuan staat-agama tetapi  zonder democratie, atau democratie tetapi staat dipisahkan dari agama?" 

Sejak itulah persoalan hubungan antara negara dan agama menjadi bahan wacana antara golongan nasionalis dan Islam. Dari sisi kelompok Islam wacana tersebut mengarahkan mereka kepada cita-cita mendirikan negara Islam. Pada akhir 1920-an  pemimpin Sarekat Islam seperti Surjopranoto dan Sukiman Wirjosandjojo mulai  berbicara tentang “een Islamietische Regeering ” (suatu pemerintahan Islam) atau “een eigen Islamietische bestuur onder een eigen vlag ” (suatu kekuasaan Islam di bawah  benderanya sendiri). Sukiman kemudian dikenal sebagai tokoh Masyumi dengan

kalimatnya yang khas: “menciptakan negara Islam di Indonesia adalah tujuan kemerdekaan”.

Polemik mengenai hal di atas menghangat lagi di paroh kedua 1930-an serta awal 1940-an. Kala itu Natsir, tokoh Sarekat Islam, berupaya menghidupkan lagi gagasan tentang keharusan memperjuangkan Islam sebagai dasar bagi Indonesia di masa depan.  Natsir menentang gagasan Soekarno mengenai pemisahan antara urusan agama dan

urusan negara.

Ada dua alasan Natsir dalam memperjuangkan Islam sebagai ideologi negara. Pertama, karena Islam mengatur tidak saja soal hubungan manusia dengan Tuhan melainkan juga mengatur kehidupan sosial, politik atau bahkan ekonomi. Adalah tugas kaum Muslim untuk menjalankan amru bil ma‟ruf wannahyu „anil mungkar   (lakukan kebaikan dan hindari kejahatan). Semua aspek kehidupan haruslah dijalankan atas dasar

(6)

 prinsip tersebut, dengan Al Qur‟an dan Hadist Nabi sebagai ukurannya. Kedua, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sehingga ada kewajiban bagi mereka untuk menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Pengangkatan ideologi non Islam di Indonesia berarti memberi rakyat Indonesia ideologi asing.

Di lain pihak Soekarno, seperti sudah disebut di atas, tetap pada pandangannya  bahwa agama haruslah dipisahkan dari negara karena di masyarakat terdapat sejumlah ideologi seperti nasionalisme, Islam dan komunisme. Di samping itu terdapat pula sejumlah agama yang dianut warga masyarakat. Soekarno juga menekankan pentingnya  persatuan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah Belanda. Dalam rangka persatuan  bangsa itu maka negara tidak boleh didasarkan pada agama tertentu. Soekarno tidak menghendaki Islam sebagai dasar negara karena hal itu akan membahayakan persatuan  bangsa.

Pada persidangan I BPUPK (29 Mei –  1 Juni) hanya gagasan kaum kebangsaanlah yang muncul ke permukaan. Pada tanggal 31 Mei 1945 Prof Soepomo mengemukakan usulan tentang dasar negara yang antara lain menegaskan bahwa urusan negara harus dipisahkan dari urusan agama. Alasannya (a) secara geografis Indonesia tidak terletak di lingkungan negara keIslaman (corpus Islamicus); (b) kita tidak perlu mewarisi pertikaian yang masih timbul di kalangan negara-negara Islam sendiri; dan (c) jika kita mendirikan negara Islam maka berarti kita tidak mendirikan negara persatuan (Bahar, 1995).

Pada tanggal 1 Juni Ir. Soekarno juga mengemukakan usulan dasar negara yang salah satu silanya adalah Ketuhanan. Mengenai hal ini Soekarno antara lain berkata “  Prinsip Indonesia  Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Prinsip  Ketuhanan!. Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan tetapi masing-masing orang  Indonesia hendaknya Tuhan. Tuhannya sendiri. ... marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tu-hannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya berTuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada „Egoisme agama‟. Dan hendaknya Negara Indonesia  satu negara yang ber-Tuhan”.

Dari usulan-usulan dasar negara di atas, tampak bahwa aspirasi golongan Islam  belum dikemukakan oleh para pendukungnya. Oleh karena itu seusai persidangan I

golongan Islam (yang merupakan minoritas, hanya 15 orang dari 62 anggota BPUPK)  berupaya memperjuangkan aspirasi mereka di luar persidangan. Hasil upaya tersebut

adalah diadakannya pertemuan antara Panitia Delapan (yang dibentuk pada akhir Sidang BPUPK tanggal 1 Juni 1945) dengan beberapa anggota BPUPK yang tinggal di Jakarta  pada tanggal 22 Juni 1945.

Dalam pertemuan itu diupayakan kompromi antara pihak kebangsaan dan Islam mengenai rumusan dasar negara. Pada kesempatan itu sebuah panitia yang kemudian dikenal dengan sebutan Panitia Sembilan, dibentuk untuk merumuskan kesepakatan antara kedua belah pihak. Panitia itu beranggotakan Drs. Moh. Hatta, Mr. Muh. Yamin, Mr. Ahmad Subardjo, Mr. A.A. Maramis, Ir. Soekarno (dari golongan nasionalis), K.H. Abdul Kahar Moezakhir, K.H. Wahid Hasyim (dari golongan ulama) dan, Abikusno Tjokrosuyoso dan H. Agus Salim (dari golongan „nasionalis Islam‟).

Panitia itu berhasil menetapkan Rancangan Pembukaan UUD yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta. Di dalam rancangan itu termuat rumusan kompromi antara pihak Islam dan pihak Kebangsaan tentang hubungan antara negara dan agama.

(7)

Rumusan itu berbunyi “ Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari‟ at Islam bagi  pemeluk-pemeluknya”. Di samping itu dimuat pula rumusan sila sila Pancasila yang lain.

Kompromi dalam Piagam Jakarta itu ternyata tidak dengan sendirinya mengakhiri  pertentangan ideologis antara golongan kebangsaan dan Islam. Ketika Piagam Jakarta

dibawa ke sidang II BPUPK tanggal 10 Juli s/d 17 Juli 1945 persaingan itu justru tambah memuncak. Pada waktu itu timbul usul-usul yang hakikatnya mementahkan kembali kompromi melalui Piagam Jakarta.

Sudah sejak pembahasan Rancangan Pembukaan UUD, Ki Bagoes Hadikoesoemo mempersoalkan rumusan kompromis Piagam Jakarta. Ia mengusulkan agar kata-kata “bagi pemeluk-pemeluknya” dalam rumusan Piagam Jakarta dihapus. Agumentasinya karena hal itu akan menyulitkan pelaksanaan prinsip kewajiban menjalankan syariat Islam itu sendiri. Usulan itu ditolak sidang dengan alasan bahwa Piagam Jakarta sudah merupakan kompromi maksimal di antara dua belah pihak.

Persoalan muncul kembali saat sidang BPUPK tanggal 15 Juli 1945 melanjutkan  pembahasan tentang pasal-pasal Rancangan UUD. Seorang anggota BPUPK,

Pratalikrama, mengusulkan agar dalam UUD dirumuskan pula syarat Presiden yang harus “berusia minimal 40 tahun, bangsa Indonesia asli dan beragama Islam”. Usulan ini menggugah semangat Ki Bagoes Hadikoesoemo untuk mempersoalkan lagi apa sesungguhnya maksud dari rumusan “ Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat  Islam bagi pemeluk- pemeluknya”.

Persoalan itu dipertajam dengan usulan KH Masykur untuk mensinkronkan rumusan syarat tentang Presiden dengan bunyi pasal 28 ayat 1 (29 ayat 1 sekarang). Bagi Masykur sulit diharapkan bahwa seorang Presiden non Muslim (yang dimungkinkan adanya oleh ketentuan pasal 6 ayat 1 tentang syarat Presiden) dapat menjalankan syariat Islam sebagaimana ditentukan pasal 28 ayat 1. Oleh karena itu Masykur mengusulkan agar rumusan pasal 28 ayat 1 diganti menjadi “ Agama resmi bagi Republik Indonesia adalah agama Islam”.

Pihak kebangsaan bersikukuh pada rumusan Piagam Jakarta sebagai rumusan maksimal yang tak dapat diganggu gugat. Soekardjo bahkan menolak usulan syarat Presiden di atas dengan alasan bahwa hal itu bertentangan dengan prinsip persamaan hak di depan hukum dan pemerintahan. Terhadap berbagai usulan perubahan Piagam Jakarta dan pasal-pasal yang berkaitan, pihak kebangsaan bahkan mendesak diadakannya  pemungutan suara (voting ) untuk mengambil keputusan. Namun demikian pihak Islam

menentang upaya pengambilan keputusan melalui voting  itu.

Ketika pembicaraan menjadi berlarut-larut, karena jengkel KH Moezakir, yang kemudian didukung oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo menantang (sambil menggebrak meja) agar sidang bersikap tegas, mendasarkan negara pada agama Islam atau menghapuskan sama sekali hal-hal yang berbau Islam. Ketika sidang memanas maka Ketuapun menskors sidang sampai keesokan harinya. Malam itu tampaknya terjadi loby-loby antara anggota BPUPK sehingga ketika persidangan dibuka kembali esok harinya, Soekarno justru meminta golongan kebangsaan untuk mengalah dan menerima usulan kelompok Islam.

Pada akhirnya Sidang BPUPK tanggal 16 Juli 1945 bersepakat bahwa: (a) rumusan sila I dasar negara yang terdapat dalam Piagam Jakarta tetap dipertahankan. (b) rumusan syarat Presiden menjadi berbunyi “ Presiden Indonesia haruslah orang Indonesia asli  yang beragama Islam”, (c) rumusan pasal 28 ayat 1 (kini pasal 29 ayat 1) tetap berbunyi

(8)

“ Negara berdasar atas ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi  pemeluk-pemeluknya”

Kesepakatan di atas menunjukkan bahwa sampai akhir persidangan BPUPK II  pihak Islam mendapat kemajuan besar dalam memperjuangkan aspirasi mereka. Namun, keberhasilan pihak Islam tersebut hanya bersifat sementara. Sebab ketika kemudian  bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945,

kesepakatan kesepakatan di atas di ubah lagi sesuai dengan perkembangan keadaan waktu itu.

Sesuai kesepakatan antara Moh Hatta dengan empat tokoh Islam anggota PPKI  pada pagi hari menjelang Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, maka (1) rumusan sila I Pancasila dikembalikan menjadi “ Ketuhanan Yang Maha Esa” (2) syarat Presiden cukup “ ...haruslah orang Indonesia asli”, sedang (3) rumusan pasal 28 ayat 1 (kini pasal 29 ayat 1) diubah menjadi “ Negara berdasar atas ke-Tuhanan Yang Maha Esa”.

2.2. Masalah Hubungan Antar Bangsa

Berbeda dengan masalah hubungan antara negara dan agama, perbincangan tentang hubungan antar bangsa tidak begitu kontroversial dalam wacana politik di masa  pergerakan. Aspirasi mengenai hubungan antar bangsa ini hanya secara implisit muncul  pada saat terjadi polemik antara Soekarno (dari kelompok kebangsaan) dan Salim (dari

kelompok Islam) tentang kebangsaan.

Dalam hubungan ini Noer (1982) mencatat bahwa kebangsaan dalam pengertian Soekarno tidaklah sama dengan kebangsaan yang terdapat di negeri-negeri Barat melainkan kebangsaan yang toleran, yang berperi-kemanusiaan, yang tidak membenci  pada bangsa-bangsa lain. Soekarno dikutip sebagai mengatakan:

“ H.A.Salim lupa mengatakan, bahwa beliau tahu bahwa rasa kebangsaan yang dimaksudkan oleh Ir. Soekarno ialah rasa kebangsaan yang tidak agressief, tidak menyerang-nyerang, tidak timbul daripada keinginan akan meraja-lela di atas dunia, .. nationalisme kita .... bukanlah nationalisme yang timbul dari kesombongan bangsa belaka; ia adalah nationalisme yang lebar ..., ia bukanlah “jinggo nationalisme” atau chauvinisme, dan bukanlah copie atau tiruan dari pada nationalisme Barat. Nationalisme kita adalah suatu nationalisme yang menerima rasa hidupnya sebagai suatu wahyu, dan menjalankan rasa hidupnya itu sebagai suatu bakti ... nationalisme yang di dalam lain -lain bangsa, sebagai lebar dan luasnya udara, yang mengasih tempat pada segenap sesuatu  yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup ... nationalisme yang membuat  kita

menjadi “perkakasnya Tuhan” dan membuat kita menjadi “hidup dalam Roh ”  (Fajar Asia18 dan 20 Agustus 1928)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa hubungan antar bangsa yang dikehendaki oleh Soekarno adalah hubungan yang sama derajat, tidak saling meniadakan atau saling menyerang, dan tidak dilandasi oleh chauvinisme.

Dalam Sidang I BPUPK, tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945, prinsip hubungan antar  bangsa juga dikemukakan sebagai salah satu unsur dasar negara. Walaupun diberi catatan kaki bahwa “ Naskah Pidato Mr. M Yamin tidak ditemukan dalam „Koleksi Mr. M Yamin‟ maupun „Koleksi Pringgodigdo‟ yang tersimpan di Arsip Nasional ”, Saafroedin Bahar dkk (1995) tetap mencantumkan naskah Pidato M Yamin, yang disebut-sebut diucapkan tanggal 29 Mei 1945 ke dalam buku karya mereka. Satu kalimat menarik dalam naskah  pidato Yamin itu berbunyi “ Kedaulatan rakyat Indonesia dan Indonesia Merdeka adalah

(9)

berdasar perikemanusiaan yang universieel berisi humanisme dan internasionalisme bagi segala bangsa” (Bahar, 1995)

Sementara itu dalam pidato tanggal 1 Juni 1945, Soekarno antara lain menyatakan  prinsip perhubungan antara bangsa itu sebagai berikut:

"Tetapi ... tetapi memang prinsip kebangsaan ini ada bahayanya. Bahayanya mungkin orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga berpaham 'Indonesia uber Alles'. Inilah bahayanya. Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi tanah air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil  saja dari dunia. Ingatlah akan hal ini!.

"... Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa, y ang mengatakan „Deutschland uber Alles‟, tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya bangsa yang minulyo, berambut jagung, dan bermata biru, „bangsa Aria‟, yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain-lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas asas demikian, Tuan-tuan jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagoes dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju pula persatuan dunia,  persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia merdeka, tetapi

kita harus menuju kepada kekeluargaan bangsa bangsa.'

“Justru inilah  prinsip saya kedua. Inilah filosofisch principe yang nomor dua, yang saya usulkan kepada tuan-tuan, yang boleh saya namakan 'Internasionalisme'. Tetapi jikalau  saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud kosmopolitanisme, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon ... dan seterusnya.

“Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman  sarinya internasionalisme. Jadi dua hal ini saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2", yang  pertama-tama saya usulkan kepada Tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu  sama lain(Bahar, 1995)

Tampak bahwa dalam konsepsi Soekarno, sila internasionalisme ia kemukakan setelah dasar nasionalisme. Hal itu mengandung maksud agar nasionalisme tidak jatuh ke paham chauvinisme dan internasionalisme, juga tidak jatuh ke paham kosmopolitisme yaitu ajaran yang beranggapan bahwa seluruh kosmos (dunia) adalah satu. Penganut kosmopolitisme cenderung mengabaikan batas-batas negara dan yang ekstrim cenderung mengabaikan tanggung jawabnya sebagai warga negara.

Harus diakui bahwa uraian Soekarno tentang prinsip Internasionalisme adalah uraian terpendek dibanding uraiannya tentang sila-sila yang lain. Namun demikian secara nalar kita pahami bahwa pola hubungan antar negara yang dikehendaki oleh Soekarno adalah yang didasari oleh sikap hormat-menghormati sesama bangsa. Sehingga tidak ada kesombongan antar bangsa di dunia ini. Secara lebih dalam dapat kita pahami  pula bahwa sikap hormat-menghormati akan tumbuh kalau ada keyakinan yang sama  bahwa bangsa-bangsa yang ada di dunia ini pada hakikatnya adalah sama sederajat, sama merdeka dan hanya karena perkembangan kebudayaan mereka sajalah maka mereka terpisah ke dalam satuan-satuan kebangsaan tersebut.

Keyakinan tersebut secara implisit mencerminkan pula keyakinan tentang harkat martabat manusia sebagai mahluk yang sama derajat dan sama merdeka, karena yang hidup membangsa atau yang disebut bangsa itu tidak lebih dari manusia-manusia yang oleh karena ikatan tertentu kemudian disebut sebagai satu bangsa.

(10)

Ketika Piagam Jakarta disusun tanggal 22 Juni 1945 ternyata rumusan sila kedua tidak berbunyi internasionalisme atau perikemanusiaan, tetapi " Kemanusiaan yang adil dan beradab". Sampai sejauh ini tidak ada petunjuk yang jelas tentang mengapa sila peri-kemanusiaan atau internasionalisme berubah menjadi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Satu-satunya komentar Soekarno sewaktu melaporkan Piagam Jakarta kepada sidang II BPUPK adalah sebagai berikut:

" di dalam Preambule itu ternyatalah seperti saya katakan tempo hari (tanggal 1 Juni 1945-pen.) segenap pokok-pokok pikiran yang mengisi dada sebagian besar daripada anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai.... dan seterusnya .... masuk di dalamnya kemanusiaan atau Indonesia merdeka di dalam susunan peraturan kemanusiaan dunia ... dan seterusnya" (Bahar 1995)

Sumber lain mengatakan bahwa perubahan itu disebabkan oleh karena:

"...  setelah tercapai kata sepakat tentang penegasan mengenai pemeluk-pemeluk agama  Islam, maka perumusannya (Piagam Jakarta) diserahkan Ir. Soekarno. Kemudian Ir. Soekarno minta bantuan kepada sahabat karibnya sejak adanya Partai Nasional  Indonesia (1927) yaitu Mr. Muhammad Yamin. Kiranya sudah wajar bahwa untuk mudahnya Mr. Muh Yamin mengambil perumusannya yang berisi 5 dasar negara ... dan  seterusnya." (Darmodihardjo, 1979)

Rumusan sila kedua itu tidak mengalami perubahan ketika sila sila Pancasila dibahas dan ditetapkan dalam sidang PPKI tang 18 Agustus 1945.

2.3. Masalah Kebangsaan/Hakikat Negara Bangsa

Kesadaran tentang kebangsaan Indonesia sesungguhnya sudah tersirat dari lahirnya  berbagai organisasi pergerakan sejak tahun 1908. Organisasi-organisasi itu lahir atas kesadaran bahwa perjuangan yang bersifat kedaerahan, kesuku-bangsaan atau golongan saja tidaklah mencukupi untuk mengusir penjajah. Oleh karena itu muncul kemudian organisasi-organisasi yang berjuang secara nasional dan mencakup berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia. Sudah barang tentu kesadaran itu tidak terbentuk secara tiba-tiba dan langsung jadi, melainkan tumbuh dan berkembang setahap demi setahap.

Kita catat misalnya bahwa pada mulanya Boedi Oetomo organisasi yang lahir pada awal tahun 1900-an merumuskan tujuan mereka masih sebatas pada “ hendak memajukan „Jawa Raya‟, bukan Indonesia. Pada awalnya kaum muda juga mengorganisasikan diri dalam organisasi-organisasi kepulauan, semacam  Jong Sumatranen  Bond, Jong Java,  Jong Celebes, dan lain sebagainya, bukan bersifat nasional, Indonesia. Dengan demikian kesadaran tentang kebangsaan Indonesia itu tumbuh di kalangan bangsa Indonesia sejalan dengan pertumbuhan gerakan-gerakan perjuangan yang semula bersifat kepulauan/kesukuan.

Di samping itu konsep bangsa dan kebangsaan itu memang juga masih digumuli oleh berbagai pihak di tubuh kaum pergerakan. Noer (1982) mencatat bahwa polemik antara kelompok kebangsaan dan kelompok Islam mengenai persoalan tersebut sudah  berkembang sejak tahun 1920an dan bahkan berlangsung lagi menjelang akhir tahun

1930an. Perbedaan pandang di antara kedua kelompok mengenai soal bangsa dan kebangsaan itu terkait erat dengan masalah perbedaan faham mengenai hubungan antara negara agama, seperti yang sudah dibahas di muka.

Kesadaran kebangsaan, kesadaran bahwa suku-suku yang berbeda beda itu adalah satu bangsa, kemudian terkristal dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Melalui Sumpah

(11)

Pemuda generasi muda Indonesia mengakui bahwa mereka adalah bagian satu bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia, yang menggunakan satu bahasa persatuan, bahasa Indonesia, dan hidup di wilayah yang satu yaitu tanah air Indonesia.

Walaupun kesadaran sebagai kesatuan bangsa sudah diikrarkan namun bukan  berarti kesatuan bangsa itu sudah dengan sendirinya terwujud. Polemik antar dua kelompok di atas, yang masih berlangsung pada tahun-tahun menjelang kita merdeka menunjukkan bahwa masalah kesatuan bangsa memang tetap menjadi tantangan yang harus dijawab oleh bangsa Indonesia secara tepat. Oleh karena itulah persoalan tersebut  juga mengemuka kembali ketika sidang BPUPK berlangsung.

Di dalam sidang I BPUPK gagasan negara kebangsaan muncul lagi melalui usulan dasar negara dari Ir. Soekarno. Dalam pidato tanggal 1 Juni 1945 Soekarno antara lain menyatakan:

“Pertama-tama, saudara-saudara, saya bertanya apakah kita hendak mendirikan Negara  Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan,? Mendirikan Negara  Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?.

 Apakah maksud kita begitu?, Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam,  semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan.  Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya, tetapi “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi.  Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa

hari di dalam sidang Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918 25 tahun lebih, ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat Negara Indonesia, ialah dasar kebangsaan. Kita mendirikan suatu Negara Kebangsaan Indonesia .(Bahar, 1995)

Dalam perkembangan kemudian ternyata bahwa di dalam Piagam Jakarta sila kebangsaan itu berubah menjadi sila Persatuan Indonesia. Mengenai perubahan rumusan itu Yayasan Idayu (1987) mencatat bahwa perubahan itu terjadi dalam rapat Panitia Sembilan tanggal 22-Juni-1945, tepatnya ketika Piagam Jakarta disusun. Pada saat itu muncul kekhawatiran terhadap niat dari beberapa aliran di kalangan pemerintah Jepang yang hendak memecah Indonesia menjadi tiga atau empat negara merdeka. Kekhawatiran itu dapat dipahami mengingat pada masa penjajahan Jepang wilayah nusantara di bagi menjadi tiga bagian, yang masing-masing dibawah penguasa yang berlainan. Daerah Indonesia bagian Timur misalnya dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang.

Penggunaan rumusan sila Persatuan Indonesia sebagai pengganti sila kebangsaan, dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Indonesia itu satu, tidak terbagi-bagi.

2.4. Masalah Pemilik Kedaulatan Dalam Negara

Cita-cita kehidupan bernegara di mana rakyat menjadi pemilik kedaulatan dalam negara, cita cita demokrasi, sudah mulai berkembang di kalangan pemimpin bangsa kita, ketika mereka berjuang mengusir penjajah melalui organisasi sosial politik. Dalam catatan Haris (1995) perkembangan aspirasi mengenai kehidupan demokrasi di masa  pergerakan ditandai oleh tiga hal pokok yaitu (a) kebangkitan kesadaran akan hak kebebasan untuk menyatakan pendapat, (b) berkembangnya aspirasi mengenai sistem kepartaian, dan (c) berkembangnya aspirasi mengenai sistem pemerintahan.

(12)

Gejala kebangkitan kesadaran akan hak kebebasan untuk menyatakan pendapat tampak dari begitu banyaknya penerbitan pers pada masa pergerakan. Hampir semua organisasi pergerakan mempunyai surat kabar sendiri sebagai corong aspirasi politik mereka. Beberapa organisasi pergerakan bahkan mempunyai lebih dari satu penerbitan  pers. Seperti tampak dalam uraian-uraian terdahulu polemik di surat-kabarpun menjadi

hal yang wajar pada saat itu.

Mengenai aspirasi tentang sistem kepartaian Haris (1995) mencatat bahwa “  polarisasi organisasi dan kepartaian yang tumbuh itu menggambarkan dengan jelas ke

arah mana cita-cita tentang partai, yaitu kecenderungan untuk (1) menciptakan suatu  sistem banyak partai; dan (2) mempertahankan basis dan struktur partai yang bersifat  primordial ” Oleh karena itu ia menyimpulkan bahwa “kecuali Soekarno dan secara longgar juga Soepomo serta Sutatmo Suriokusumo, tak seorangpun menghendaki  pembatasan kebebasan berserikat. Arus utama gagasan mengenai partai pada waktu itu

menghendaki pola banyak partai katimbang pengelompokkan atasnya, apalagi partai tunggal”.

Masalah sistem pemerintahan (parlementer atau presidensiel) sebenarnya telah menjadi pergumulan organisasi-organisasi pergerakan di masa pergerakan nasional. Sejak Volksraad   didirikan aspirasi bangsa Indonesia tentang pemerintahan negara menjadi semakin jelas terumuskan. Pada mulanya tuntutan kaum pergerakan lebih terpusat pada  bagaimana caranya membuat Volksraad   agar dapat benar-benar menjadi parlemen atau

DPR yang sesungguhnya.

Dalam perkembangan aspirasi itu berkembang menjadi aspirasi tentang sistem  pemerintahan yang cocok bagi Indonesia Merdeka. Haris (1995) mencatat pula bahwa

aspirasi tentang sistem pemerintahan itu dapat digolongkan menjadi dua yaitu (1) yang menginginkan sistem pemerintahan parlementer, dan (2) yang menginginkan sistem  pemerintahan presidensiel. Kecuali Soekarno, Soe pomo dan Sutatmo yang menginginkan

sistem pemerintahan presidensiel, mayoritas pemimpin pergerakan waktu itu dan juga  beberapa organisasi pergerakan (GAPI, misalnya) menginginkan sistem pemerintahan  parlementer.

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa cita-cita atau keinginan untuk mendirikan negara yang demokratis sudah cukup berkembang di kalangan kaum pergerakan. Lebih dari itu di dalam kehidupan partai politik dewasa itu sudah dijalankan pula cara-cara  berorganisasi yang demokratis.

Dalam persidangan I BPUPK, gagasan dasar tentang hidup bernegara secara demokratis pertama kali disampaikan oleh Soekarno dalam pidato tanggal 1 Juni 1945. Sesudah itu masalah demokrasi dibicarakan pula dalam sidang -sidang BPUPK terutama  pada saat membicarakan isi/pasal-pasal Rancangan UUD yang disusun oleh Panita

Hukum Dasar.

Sila kerakyatan dalam usulan Soekarno dinyatakan sebagai mufakat, perwakilan,  permusyawaratan. Mengenai sila ini Soekarno berkata :

" Kemudian apakah dasar yang ketiga ? Dasar itu yalah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya, tetapi kita mendirikan negara „semua buat semua', satu buat semua, semua buat satu. Saya yakin bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan perwakilan.

.... Dengan cara mufakat kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan  jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa

(13)

 yang belum memuaskan kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan Perwakilan inilah tempat mengemukakan tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada  pemimpin-pemimpin rakyat apa-apa yang kita rasakan perlu perbaikan.

„Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya  sebagaian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan diduduki oleh utusan-utusan Islam." .... Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian agar supaya sebagaian besar daripada utusan-utusan yang masuk badan  perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil-fair play!" (Bahar, 1995)

Uraian Soekarno di atas menunjukkan bahwa dalam negara Indonesia merdeka semestinya (1) dianut prinsip kedaulatan rakyat, (2) dianut sistem perwakilan dalam  pelaksanaan kedaulatan rakyat, dan (3) dianut prinsip musyawarah untuk mufakat dalam

lembaga perwakilan rakyat.

Pada saat Piagam Jakarta terbentuk ternyata sila mufakat atau demokrasi itu diberi rumusan  Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  permusyawaratan-perwakilan. Rumusan tersebut menurut hemat penulis tidak membawa  perubahan prinsipiil terhadap makna sila demokrasi seperti yang dikemukakan oleh

Soekarno di atas.

Prinsip kedaulatan rakyat, permusyawaratan dan perwakilan justru semakin mendapat penjabaran melalui pembahasan pasal-pasal Rancangan Undang-Undang Dasar dalam sidang II BPUPK. Salah satu masalah yang muncul adalah persoalan lama yaitu apakah negara Indonesia akan menganut sistem pemerintahan presidensil atau  parlementer. Dalam sidang II BPUPK persoalan tersebut muncul kembali, walau tidak menyita waktu panjang. Pembahasan persoalan tersebut secara garis besar adalah sebagai  berikut ini.

a) Pada tanggal 15 Juli 1945, ketika menanggapi Rancangan UUD Muh. Yamin mengusulkan agar negara Indonesia menggunakan “sistem Menteri yang bertanggung- jawab”.  Usulan semacam itu juga datang dari Moh. Hatta yang secara tegas mengajukan pentingnya pemerintahan yang bertanggung-jawab kepada rakyat/wakil rakyat.

 b) Atas usulan itu Prof. Soepomo menjelaskan bahwa :

(a) UUD yang disusun mempunyai sistem tersendiri yaitu Presiden bertanggung- jawab kepada MPR, bukan kepada DPR, dan para Menteri bertanggung-jawab

kepada Presiden bukan kepada DPR.

(b)  jika Menteri bersalah apakah Menteri itu harus mundur ataukah tidak sangat  bergantung pada kebijaksanaan (political feeling)  Kepala Negara dan juga

kebijaksanaan Menteri yang bersangkutan.

c) Akhirnya sidang menyetujui bahwa sistem pertanggung-jawaban para menteri/sistem parlementer tidak dianut dalam Rancangan UUD 1945.

Demikianlah aspirasi dalam sidang BPUPK yang menyangkut penyelenggaraan demokrasi di negara Indonesia merdeka. Ketika prinsip kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan diajukan ke sidang PPKI, ternyata prinsip ini langsung disetujui oleh para anggota sidang tanpa pembahasan terlebih dulu.

(14)

2.5. Masalah Tujuan Negara

Berbeda dengan persoalan hubungan antara negara dan agama yang menimbulkan kontroversi, masalah tujuan negara justru tidak menyita banyak perdebatan selama proses  perumusan dasar negara Pancasila. Hal itu dapat kita pahami karena cita-cita tentang

kesejahteraan hidup bersama sebenarnya merupakan hal yang selalu berkembang dalam kehidupan manusia di segala jaman.

Banyak prasasti yang menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan Hindu, Budha maupun Islam di Nusantara masa lampau juga mencita-citakan adanya kemakmuran hidup dalam negara. Mitos tentang Ratu Adilpun selalu berkembang dari masa ke masa, hidup di hati sanubari rakyat yang pada hakikatnya mengungkapkan harapan tentang kehidupan yang adil dan sejahtera. Dalam suasana penindasan, mitos Ratu Adil bahkan sering menjadi penggerak utama gerakan-gerakan rakyat melawan penguasa yang menindas.

Lahirnya organisasi – organisasi yang ingin memerdekakan bangsa Indonesia pada masa pergerakan nasional secara implisit sudah menyiratkan aspirasi tentang kesejahteraan rakyat. Cita-cita kemerdekaan sebagai antithesa penjajahan menyiratkan aspirasi kesejahteraan sebagai antithesa kemiskinan yang diciptakan kaum penjajah.

Tak mengherankan jika aspirasi tentang kesejahteraan bersama waktu itu  berkembang seiring dengan aspirasi tentang pengelolaan kekuasaan sendiri dan sekaligus diwarnai kuat oleh sentimen-sentimen terhadap segala sesuatu yang melekat pada diri  penjajah (kapitalisme, liberalisme, demokrasi Barat, dsb). Soekarno dan Hatta, misalnya  berbicara tentang kesejahteraan dalam bingkai demokrasi ekonomi yang merupakan  pasangan dari demokrasi politik.

Menurut catatan Noer (1982), bagi Soekarno, juga bagi Hatta, demokrasi dalam urusan ekonomi itu akan dapat direalisasikan dengan menempatkan “semua perusahaan- perusahaan besar menjadi miliknya staat (negara) ... semua hasil-hasil perusahaan itu

digunakan bagi keperluan Rakyat, semua pembagian hasil itu di bawah pengawasan  Rakyat ”.

Masalah kesejahteraan bersama, kesejahteraan sosial, kembali mengumandang dalam sidang I BPUPK, saat usulan dasar negara sedang dikemukakan. Dalam pidato tanggal 1 Juni 1945, Ir Soekarno antara lain menyatakan: “ Prinsip No. 4 sekarang saya usulkan. Saya di dalam tiga hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka” Lebih lanjut Soekarno menyatakan:

“ Apakah kita mau Indonesia Merdeka  yang kaum kapitalnya meraja-lela, ataukah yang  semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang- pangan kepadanya? Mana yang kita pilih saudara-saudara? Jangan saudara kira kalau  Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropa adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire-democratie. Tetapi tidakkah di Eropa justru kaum kapitalis meraja-lela?”

“Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politike economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial. Rakyat  Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan faham  Ratu-Adil, ialah sociale rechvaardigheid, rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang

(15)

didalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu-Adil. Maka oleh karena itu jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan persamaan politiek,  saudara-saudara, tetapipun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan  persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik- baiknya‟ (Bahar, 1995)

Dari kutipan pidato Soekarno di atas dapat kita simpulkan bahwa :

a) Menurut Soekarno demokrasi yang dijalankan di negara-negara Eropa dan Amerika hanya demokrasi di bidang politik saja dan tidak mencakup demokrasi di bidang ekonomi. Oleh karena itu di dalamnya tidak ada sociale rechtsvaardigheid , tidak ada keadilan sosial.

 b) Prinsip kesejahteraan sebagai prinsip dasar keempat dalam Indonesia merdeka yang diusulkan Soekarno merupakan prinsip demokrasi di bidang ekonomi yang menghendaki serta menuju tercapainya kesejahteraan bersama melalui persamaan di  bidang ekonomi.

c) Apabila prinsip demokrasi dikaitkan dengan prinsip keadilan sosial, maka selain menghendaki persamaan politik demokrasi Indonesia juga menghendaki persamaan ekonomi. Inilah ciri khas demokrasi di Indonesia merdeka yang diusulkan Soekarno.

Dalam Piagam Jakarta sila kesejahteraan dari Soekarno itu dirumuskan menjadi “ Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia” Dalam sidang PPKI tidak terdapat  pembahasan secara khusus mengenai sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Demikianlah secara ringkas kita telah melihat bagaimana dinamika perumusan sila-sila Pancasila-sila. Berikut akan kita bahas proses finalisasi rumusan dasar negara Pancasila-sila. 2.6. Rumusan Definitif Dasar Negara Pancasila

Rumusan definitif dasar negara Pancasila baru terbentuk dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Namun demikian proses pematangan Pancasila sesungguhnya sudah dimulai sehari sebelumnya, tepatnya sore hari tanggal 17 Agustus 1945 sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan.

Dengan mengutip Hatta, Heuken SJ, dkk (1988) melukiskan kejadian itu sebagai  berikut ini.

 Menurut keterangan M Hatta, seorang opsir kaigun (A.L. Jepang) mengunjungi beliau dan memberitahukan “ bahwa wakil -wakil Protestan dan Katholik dalam daerah yang dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang berkeberatan sangat terhadap bagian kalimat  Pembukaan Undang Undang Dasar  yang berbunyi „Ketuhanan dengan kewajiban

menjalankan syari‟at Islam bagi pemeluk - pemeluknya‟. Mereka mengakui bahwa bagian kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya mengenai rakyat yang beragama Islam. Tetapi tercantumnya ketetapan seperti itu di dalam suatu dasar yang menjadi pokok Undang Undang Dasar berarti mengadakan diskriminasi terhadap mereka golongan minoritas.  Jika „diskriminasi‟ itu ditetapkan juga, mereka lebih suka berdiri di luar Republik  Indonesia”

“Karena begitu serius rupanya, esok paginya tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang  Panitia Persiapan bermula, saya ajak Ki Bagoes Hadikusumo, Wahid Hasjim, Mr.  Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Hasan dari Sumatera mengadakan suatu rapat  pendahuluan untuk membicarakan masalah itu. Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan mengganti dengan Ketuhanan Yang Maha Esa”

Dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, ketika menyampaikan perubahan rumusan sila pertama dari Ketuhanan d engan kewajiban menjalankan syari‟at Islam bagi

(16)

 pemeluk-pemeluknya  menjadi  Ketuhanan Yang Maha Esa, Moh. Hatta antara lain menyatakan:

“Oleh karena hasrat kita semua ialah menyatakan bangsa Indonesia seluruhnya, supaya dalam masa yang genting ini kita mewujudkan persatuan yang bulat maka pasal-pasal  yang bertentangan dikeluarkan dari Undang Undang Dasar. Oleh karena itu maka dapat

disetujui, misalnya pasal 6 alinea 1 menjadi „Presiden ialah orang Indonesia asli‟.

„Yang beragama Islam‟ dicoret, oleh karena   penetapan yang kedua: Presiden Republik  Indonesia orang Islam, agak menyinggung perasaan dan pun tidak berguna, oleh karena mungkin dengan adanya orang Islam 95% jumlah di Indonesia ini dengan sendirinya barangkali orang Islam yang akan menjadi Presiden, sedangkan dengan membuang ini maka seluruh Hukum Undang Undang Dasar dapat diterima oleh daerah-daerah  Indonesia yang tidak beragama Islam umpamanya yang pada waktu sekarang diperintah

oleh kaigun. Persetujuan dalam hal ini juga sudah didapat antar berbagai golongan,  sehingga memudahkan pekerjaan kita pada waktu sekarang ini”

“Berhubung dengan itu juga berubah pasal 29, ini bersangkutan pula dengan preambule.  Pasal 29 ayat 1 menjadi begini: „Negara berdasar atas ke -Tuhanan Yang Maha Esa‟.  Kalimat yang dibel akang itu yang berbunyi: „dengan keajiban‟ dan lain -lain dicoret  saja”. “Inilah perubahan maha penting menyatukan segara bangsa ” (Bahar, 1995)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa semua perubahan rumusan dalam rancangan  pembukaan maupun pasal-pasal UUD dilakukan demi menjaga persatuan kesatuan  bangsa Indonesia. Dengan demikian selain menyangkut soal sila Ketuhanan yang Maha

Esa, sesungguhnya perubahan itu juga menekankan pentingnya sila Persatuan Indonesia. Sejauh menyangkut sila II Pancasila, sidang PPKI hanya membahas teknis  perumusan sila itu dalam kaitannya dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam alinea IV draft Pembukaan UUD yang dikemukakan oleh Soekarno-Hatta, antara lain disebutkan bahwa

“maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang Undang  Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia  yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada ke-Tuhanan Yang Maha Esa,

menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, ..dst”

Kata sambung “menurut dasar ” itulah yang diusulkan oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo untuk dicoret karena dianggap kurang baik. Usulan tersebut disetujui oleh sidang sehingga kalimat dalam alinea IV Pembukaan itu berbunyi “...dengan berdasar kepada ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan  Indonesia, ..dst”

Dalam sidang PPKI persoalan demokrasi sebagai dasar hidup bernegara tidaklah terlalu diperdebatkan. Hal ini dapat kita pahami karena masalah ini sudah menjadi  bahan perbincangan bahkan sejak masa pergerakan nasional. Demikian juga beberapa  persoalan yang menyangkut operasionalisasi ide itu sudah terbahas dalam sidang-sidang

BPUPK II tanggal 10 s/d 16 Juli 1945.

Ketika prinsip kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  permusyawaratan-perwakilan (sebagai bagian dari Pembukaan UUD 1945) diajukan ke sidang PPKI, tanpa pembahasan lebih lanjut prinsip ini langsung disetujui oleh para anggota sidang. Lebih dari itu ketika Rancangan UUD disahkan menjadi UUD 1945 melalui sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, persoalan sistem pemerintahan juga tidak muncul kembali.

Hal yang sama juga terjadi pada sila kelima Pancasila. Dalam sidang PPKI tidak terdapat pembahasan secara khusus mengenai sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat

(17)

Indonesia. Pasal-pasal yang menyangkut kesejahteraanpun (pasal 33 dan 34) langsung disetujui oleh anggota sidang tanpa adanya pembahasan.

Dapat dikatakan bahwa berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai  baik dalam sidang-sidang BPUPK maupun sebelum sidang PPKI, maka pembahasan dasar negara maupun UUD negara dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 menjadi lancar.

Pada hari itu selain berhasil memilih Presiden dan Wakil Presiden PPKI juga  berhasil menetapkan Pancasila sebagai dasar negara sebagaimana termuat dalam

Pembukaan UUD 1945 dan menetapkan UUD 1945 itu sendiri. Rumusan Pancasila dasar negara yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 adalah:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Dengan ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945 itu, maka selesailah sudah satu babakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk merumuskan dasar bagi penyelenggaraan negara merdeka yang sudah lama dicita-citakannya.

Silahkan buru Rini masuk disini!!!!! 3. Dinamika Implementasi Pancasila

Setelah resmi ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila dicoba dilaksanakan oleh bangsa Indonesia. Upaya mengimplementasi-kan Pancasila dalam kehidupan bernegara ternyata tidak mudah. Sejarah ketatanegaraan Indonesia menunjukkan bahwa Pancasila selalu diperhadapkan kepada tantangan-tantangan dari ideologi alternatif.

Uraian berikut akan menggambarkan bagaimana keberadaan Pancasila di dalam sejarah ketata-negaraan Republik Indonesia.

3.1. Masa berlakunya UUD 1945 I (18-8-1945 27 - 12 - 1949)

Implementasi Pancasila dalam kehidupan bernegara di awal kemerdekaan ternyata tidak lancar. Gagasan dasar tentang hidup bernegara itu mendapat „tantangan‟ baik dari  penggagasnya sendiri maupun dari ideologi pesaing.

Belum genap dua bulan usia Pancasila, Presiden Soekarno justru melontarkan gagasan untuk membentuk satu partai tunggal (sistem mono party), yang notabene  bertentangan dengan prinsip sila ke empat Pancasila. Walau keinginan itu bisa dipahami

dari sudut kebutuhan praktis dalam rangka menggalang persatuan bangsa menghadapi Belanda, namun hal itu tidak dapat dibenarkan oleh dasar negara Pancasila. Beruntunglah  bahwa yang kemudian lahir justru Maklumat Pemerintah tanggal 1 Nopember 1945 yang  berisi anjuran agar rakyat membentuk partai-partai politik.

Salah satu partai politik yang kemudian muncul adalah partai Komunis Indonesia (PKI). Kelahiran partai pendukung idelogi komunisme ini memandai telah terkonsolidasikannya kekuatan pendukung ideologi pesaing Pancasila itu. Namun pada

Referensi

Dokumen terkait

Informasi yang ada dalam rekam medis harus mudah diakses oleh petugas yang bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada pasien, agar informasi tersebut dapat digunakan

Demikian pula dalam partisipasi penyusunan anggaran, jika tujuan kelompok dengan kohesivitas tinggi tidak sesuai dengan tujuan manajemen organisasi maka hal

M asalah ini juga mengakibatkan kemungkinan kesalahan penyampaian informasi permohonan cuti dari karyawan kepada Manager bagiannya atau bahkan kepada Personnel staff

Dua buah benda dengan berat yang berbeda bila dijatuhkan tanpa kecepatan awal dari ketinggian dan waktu yang sama, maka percepatan yang dialami oleh kedua benda tersebut adalah

Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kapasitas produksi pada usaha mikro keripik singkong di desa Sumberjati kecamatan Jatirejo

Peramalan permintaan merupakan tingkat permintaan suatu produk atau jasa yang diharapkan terpenuhi di masa yang akan datang., Salah satu contoh adalah permintaan

Karakteristik lovebird jantan dan betina spesies Agapornis fischeri varian hijau standar tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap bentuk tubuh,

Penelitian umur simpan produk Miki Cyclamate ini dilakukan dengan metode ASLT ( Accelerated Shelf Life Test ) karena produk Miki Cyclamate termasuk salah satu bahan