• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 60/PUU-XI/2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 60/PUU-XI/2013"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 60/PUU-XI/2013

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2012

TENTANG PERKOPERASIAN

TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA

REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN

(I)

J A K A R T A

SENIN, 24 JUNI 2013

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 60/PUU-XI/2013 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian [Pasal 1 angka 1, Pasal 1 angka 11, Pasal 1 angka 18, Pasal 3, Pasal 5 ayat (1), Pasal 50 ayat (1) huruf a, Pasal 50 ayat (2) huruf e, Pasal 55 ayat (1), Pasal 56 ayat (1), Pasal 63, Pasal 65, Pasal 66 ayat (2) huruf b, Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON

1. Yayasan Bina Desa Sadajiwa 2. Koperasi Karya Insani

3. Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga, dkk.

ACARA

Pemeriksaan Pendahuluan (I)

Senin, 24 Juni 2013, Pukul 13.38 – 14.04 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Maria Farida Indrati (Ketua)

2) Arief Hidayat (Anggota)

3) Anwar Usman (Anggota)

(3)

Pihak yang Hadir: A. Pemohon:

1. Suroto

2. Wigatiningsih

B. Kuasa Hukum Pemohon:

1. Edy H. Gurning 2. Pratiwi Febri

(4)

1. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

Ya, sidang Perkara Nomor 60/PUU-XI/2013 dinyatakan dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Selamat siang Para Pemohon yang hadir di sini. Hari ini adalah permohonan … pengujian permohonan Nomor 60/PUU-XI/2013, untuk Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian. Ada beberapa pasal, antara Pasal 1 angka 1, Pasal 1 angka 11, sampai yang terakhir Pasal 119.

Untuk pertama kali, saya mempersilakan Para Pemohon untuk menjelaskan siapa yang hadir di sini. Silakan!

2. KUASA HUKUM PEMOHON: EDY H. GURNING

Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang untuk kita semua. Terima kasih, Yang Mulia. Sebelumnya, kami memperkenalkan diri, di sini telah hadir Kuasa serta beberapa Pemohon di ruang sidang ini. Perkenalkan, nama saya, Edy H. Gurning, saya salah satu Kuasa Hukum dari Pemohon. Sebelah kiri saya, ada Pratiwi Febri, Kuasa Hukum juga. Serta yang paling pojok kiri adalah Rambo Veronica Tampubolon, dia asisten dari Kuasa Hukum. Hanya dua orang yang hadir dari Kuasa Hukum, sedangkan yang sebelah kanan saya ada Pemohon yaitu Pemohon keenam, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Koperasi, yang salah satunya diwakili oleh Pak Suroto, di sebelah kanan saya, serta Pemohon individual pada Pemohon VII, Ibu Wigatiningsih, dia adalah Pemohon individu. Demikian, Yang mulia. Terima kasih.

3. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

Ya, terima kasih. Sidang pada hari ini adalah sidang pemeriksaan pendahuluan, dimana Para Pemohon diminta untuk menjelaskan apa yang dimohonkan di sini. Silakan!

4. KUASA HUKUM PEMOHON: EDY H. GURNING

Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Nanti dalam penjelasan, mungkin kita akan bersama-sama menjelaskan, tapi saya akan mengawalinya. Pada pokoknya, sebenarnya ada empat hal yang kita uji terhadap

SIDANG DIBUKA PUKUL 13.38 WIB

(5)

pemberlakuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012. Pertama, mengenai frasa badan hukum. Itu yang tercantum di Pasal 1 angka 1, serta Pasal 3, serta Pasal 5 ayat (1), itu mengenai definisi dari koperasi.

Terus yang kedua, mengenai modal penyertaan koperasi, itu ada di Pasal 11 ayat (11) … angka 11, maaf. Terus Pasal 66 ayat (2) huruf b, Pasal 75, 76, dan 77. Itu yang kedua, mengenai modal penyertaan.

Terus yang ketiga, mengenai pengawas di koperasi. Ini Pasal 50 ayat (1) huruf a, Pasal 50 ayat (2) huruf e, Pasal 55 ayat (1), Pasal 56 ayat (1), Pasal 63, dan Pasal 65. Ini mengenai pengawas.

Dan yang terakhir adalah mengenai dewan koperasi. Ini tercantum di Pasal 1 angka 18, Pasal 115, 116, 117, 118, dan 119.

Nah, dari keempat hal ini, saya akan coba mendetailkan satu per

satu kenapa kita menguji mengenai frasa badan hukum di pasal yang

tadi saya sebutkan. Pertama, secara histori ya, dari munculnya undang-undang tentang Koperasi, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1967, terus muncul kembali di Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992, tidak didefinisi mengenai koperasi itu tidak muncul istilah badan hukum. Justru yang dikedepankan adalah sekumpulan orang. Ini secara histori. Lalu, kami mengujinya terhadap apa? Kami setelah coba berdiskusi di antara Pemohon, kita munculkan ini ketidakpastian hukum.

Karena kenapa? Pertama, ini akan menimbulkan interpretasi karena selama ini, terutama juga Pemohon individu yang memang dia intens di koperasi, begitu ya, mereka memahami bahwa koperasi awalnya adalah perkumpulan orang, karena prinsip asas kekeluargaan. Banyak koperasi-koperasi yang memang tidak berbadan hukum, lalu faktual di lapangan kalau dia berbadan hukum, bagaimana ini ribuan koperasi itu harus berbadan hukum, padahal secara geografis, mereka akan kesulitan. Banyak koperasi-koperasi itu di pulau-pulau kecil. Ini juga akan mengalami kendala pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012.

Tadi juga saya sebutkan yang kedua mengenai semangat … apa namanya … kekeluargaan karena dari definisi yang dikeluarkan oleh … apa namanya … internasional, tidak ada istilah badan hukum. Yang ada memang kumpulan orang. Ini merujuk pada Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Itu prinsip asas kekeluargaan. Maka

undang-undang … frasa badan hukum di pasal-pasal yang kami sebutkan, kami

uji dengan Pasal 33 ayat (1), Pasal 33 ayat (4) mengenai kemandirian, serta Pasal 28 huruf d Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Itu mengenai yang pertama.

Terus yang kedua, mengenai modal penyertaan, lagi-lagi kita uji dengan Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Di sini ada … apa namanya … prinsip kemandirian. Sebagaimana kita ketahui, prinsip koperasi itu adalah kumpulan orang dan … dari orang untuk orang. Kalau ada modal penyertaan dari pihak luar, ya pihak luar ini kan modal penyertaan istilahnya dari luar pihak ketiga, ya pihak ketiga

(6)

masuk memberikan ... apa namanya … modal dan lain-lain bentuk modal kepada koperasi, ini justru mengebiri, ya mengebiri semangat dari koperasi itu sendiri. Ya, dari anggota untuk anggota, dan kekhawatiran kita memang selama ini sudah terjadi, banyak koperasi hancur karena modal penyertaan ya. Faktual di lapangan seperti itu, maka kita uji dengan Pasal 33 ayat (4).

Yang ketiga mengenai pengawas, nah ini kita uji dengan Pasal 28 huruf d ayat (1) mengenai kepastian, kepastian hukum, mengapa demikian karena kita melihat kewenangan pengawas. Kewenangan pengawas ini bisa sampai dia mengangkat ... apa namanya … pengurus dan memberhentikan pengurus salah satunya. Dan padahal selama ini yang terjadi adalah pengurus itu, itu diangkat oleh anggotanya. Dan kewenangan ini diberikan kepada pengawas dan ini bentuk intervensi … maaf, ini bentuk pengebirian dari ... apa namanya … semangat dari anggota-anggotanya, kontribusi dari anggota-anggotanya, ya.

Jadi, kalau misalnya dia dikasih satu saja ... apa namanya … kewenangan ini kepada pengawas … dikhawatirkan ... apa namanya … apa …. pengurus ini ya, itu adalah bentukan dari pengawas itu sendiri dan beberapa ... apa namanya … dan juga Pasal 33 ayat (4) ini menjaga keseimbangan, prinsip menjaga keseimbangan. Karena kita ketahui di situ, kalau kita menganalogikan dengan negara gitu ya, ada eksekutif, ada legislatif, dan kita melihat bahwa pengawas itu adalah fungsi kontrol. Ya, dia hanya mengawasi saja, tidak sampai mengintervensi atau mengambil kewenangan dari eksekutif, atau bahkan dari anggota-anggotanya, maka kita ajukan juga batu ujinya adalah Pasal 33 ayat (4) khususnya pada klausul keseimbangan.

Dan yang terakhir adalah mengenai dewan koperasi. Kita ketahui bahwa ketika kita membaca dewan koperasi ini, kita melihat bahwa arah dari pembentukan klausul atau pasal ini adalah membentuk wadah tunggal, wadah tunggal, dan ini kegundahan dari pelaku-pelaku koperasi bahwa ketika ini menjadi wadah tunggal, maka ada kekhawatiran ini bisa di ... apa namanya … bisa menjadi kendaraan-kendaraan politik. Ini yang disampaikan sendiri dari Pemohon dan berharap bahwa dewan koperasi di Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012, ini tidak menjadi wadah tunggal bagi koperasi karena saya merasa, bagi kami aspirasi dari ribuan koperasi ini tidak melulu harus bermuara kepada satu wadah. Mungkin itu dari saya atau ada dari rekan-rekan lain menambahkan. Terima kasih.

5. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

(7)

6. PEMOHON: SUROTO

Nama saya Suroto, saya Pemohon dari Lepek. Saya hanya ingin menambahkan bahwa undang-undang ini secara prinsip sudah melanggar jati diri koperasi, dan saya kira undang-undang yang melanggar jati diri koperasi karena visi dari negara ini juga dibangun dari visi yang mensejahterakan, yang menempatkan manusia lebih tinggi dari fungsi modal atau pun badan hukum dan sebagainya, maka dari itu saya juga menganggap bahwa undang-undang ini juga melanggar Undang-Undang Dasar Tahun 1945, per definisi. Jadi dari definisi ini saya ingin menambahkan bahwa kelompok-kelompok arisan, kalau dia sudah menjalankan satu prinsip koperasi yang seharusnya dia disebut koperasi, itu menurut undang-undang ini sudah tidak dianggap menjadi koperasi.

Sementara, koperasi-koperasi yang ada sekarang ini, yang akibat juga dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 sebelumnya, yang dimana banyak tebaran koperasi-koperasi fiktif atau koperasi-koperasi yang sebetulnya rentenir berbaju koperasi, itu juga karena akibat definisi bahwa koperasi itu adalah sebagai badan usaha dan kemudian sekarang dipertegas lagi koperasi adalah badan hukum sebagai subyek.

Ini jelas sekali bahwa ada di dalam proses teoritikal penyusunan teoritikal Undang-Undang Perkoperasian itu tiga hal yang harusnya dilakukan adalah memberikan pengakuan, pengakuan terhadap jati diri koperasi atau prinsip-prinsip itu (best practices) koperasi-koperasi di lapangan.

Yang kedua adalah melindung. Yang ketiga adalah memberikan distingsi, tapi ini mau disamaratakan dengan korporasi, artinya distingsinya tidak ada. Dilindungi juga tidak dilakukan karena apa, banyak koperasi malah justru sekarang ini dengan adanya undang-undang ini, itu diberikan satu legitimiasi terhadap apa … koperasi-koperasi fiktif.

Dan yang ketiga adalah dia juga melanggar yang saya sebut apa ... prinsip pengakuan, sebagai pengakuan best practices di lapangan. Kenapa kami juga mengusulkan di permohonan kami, Yang Mulia, itu di sana saya sebutkan dan apa … kami sebutkan ada best practices dari koperasi di Indonesia, yang dari tahun 1970 itu dibangun, baru tahun 1998 diberikan badan hukum oleh pemerintah, yaitu induk koperasi konsum apa … induk koperasi kredit dan member apa ... dulu mereka bahkan memberi nama itu kredit (suara tidak terdengar jelas) karena itu terminologi internasional, itu baru dikasih badan hukum tahun 1998 dari tahun 1970. Tapi mereka sekarang ini diakui oleh pemerintah sendiri sebagai koperasi-koperasi terbaik. Dari 100 koperasi terbaik, 36-nya adalah dari koperasi-koperasi mereka ini. Dan ini fakta bahwa kalau koperasi itu bisa saja berbentuk paguyuban-paguyuban, kelompok-kelompok arisan, asal dia menjalankan prinsip-prinsip dan nilai-nilai koperasi itu di dalam praktiknya.

(8)

Sehingga apa? Ini berurutan dengan apa ... tidak menyalahi apa yang menjadi keinginan pendiri republik ini dan juga di dalamnya.

Terus kemudian yang mengenai modal penyertaan. Di sini kemandirian koperasi terusik. Karena apa? Ini juga saya ingin mengutip sedikit apa yang disampaikan oleh Bung Hatta bahwa sesungguhnya kenapa koperasi itu muncul, itu ada sejarahnya. Sejarah dari munculnya koperasi itu karena dia ingin melawan sistem kapitalisme, dia menentang sistem kapitalisme, dia menjadi counter filling dari sistem kapitalisme. Bahkan Bung Hatta mengatakan secara fundamental itu koperasi itu mengoposisi apa ... sistem kapitalisme.

Kalau ada perbedaan yang mendasar kemudian muncul koperasi, ya harus dibedakan. Di dalam undang-undang ini itu pun harus mengakui itu. Di mana rusaknya modal penyertaan ini, bilamana terjadi modal penyertaan yang dimaksud dengan terminologi modal penyertaan kita tahu secara akuntansi itu ada di kolom pasiva.

7. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

Ya, Anda menjelaskan yang tidak ada di sini saja. Karena ini semua sudah kita baca, jadi kalau nanti ada penjelasan lebih lanjut, itu nanti pada waktu apa ... pemeriksaan ahli-ahli, ya?

8. PEMOHON: SUROTO

Oke, terima kasih, Yang Mulia.

9. KUASA HUKUM PEMOHON: EDY H. GURNING

Yang Mulia, satu lagi. Mungkin kami langsung memperbaiki pada permohonan yang pertama begitu, khususnya di butir 112, sebenarnya kita tidak sedang menguji Pasal 3 dan Pasal 5 ayat (1). Jadi khusus mengenai istilah badan hukum yang kita uji adalah Pasal 1 angka 1. Sedangkan di Pasal 3 dan Pasal 5 ayat (1) itu, itu kita tidak ... kita akan perbaiki, kita tidak memohonkan pasal tersebut karena memang tidak mencantumkan istilah badan-badan hukum.

10. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

Ya, ini nanti memang ... sidang pertama, ini akan berikan semua penjelasan mengenai permohonan Anda. Jadi nanti Anda diberikan waktu untuk memperbaiki permohonan ini, ya.

(9)

11. KUASA HUKUM PEMOHON: EDY H. GURNING

Sudah pernah.

12. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

Sudah. Ya, ini selain permohonan Anda, itu ada permohonan yang sudah masuk ke Pleno ya, tapi ada beberapa pasal yang berbeda di sini, nanti Anda melihat permohonan yang sebelumnya jadi disatukan nanti, dilihat mana yang belum itu Anda masukkan. Pasal 1 angka 1 sudah. Pasal 50 ayat (1) huruf a, Pasal 50 ayat (2) huruf e, Pasal 55 ayat (1), Pasal 56 ayat (1), Pasal 66, Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77 itu sudah dimohonkan, ya.

Nah, di sini dari permohonan ini ada beberapa hal yang Anda apa ... secara sistematik sudah sesuai, tetapi Anda perlu mengumpulkan lagi karena di sini pokok permohonan dengan alasan-alasan permohonan Anda itu kadang-kadang di sana ada, di sini ada, kemudian jadikan satu

saja. Jadi Pemohon, kemudian kewenangan Mahkamah, legal standing,

dan posita perkara apa yang Anda muat ... yang Anda mohonkan di situ. Dan di sini kebanyakan Anda mengulas lebih dahulu, baru kemudian memunculkan pasal yang dimohonkan. Jadi Anda lebih baik memutuskan Pasal yang dimohonkan lebih dahulu, baru kemudian ulasannya, begitu. Pasal ini, isinya ini, ya. Isinya apa? Karena kita menguji mengenai norma itu dan sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 atau tidak. Jadi rumuskan normanya dulu, kemudian bertentangan dengan pasal berapa, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai batu ujinya, baru per argumentasi-argumentasi yang dikemukakan. Ini kebanyakan seperti itu, bahkan ada yang apa ... sama mungkin ya. Nomor 88 dengan Nomor 97 ini mirip sekali begitu, ya. Jadi Anda jangan mengulang-ulang karena kalau mengulang-ulang Hakimnya bingung, ini kok di sini, ini di sini begitu, jadi Anda satu persatu mengemukakan.

Kemudian, saya mau menanyakan kepada Anda, apa gunanya Pasal 1 angka 1? Kalau Anda melihat di dalam Pasal 1 angka 1, suatu definisi dalam suatu peraturan perundang-undangan adalah dia memberikan satu makna bagi keseluruhan yang ada di dalam pasal-pasal itu semuanya. Jadi saya agak heran kalau ada petitum Anda, Anda meminta Pasal 1 angka 1 itu bertentangan dengan konstitusi dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, berarti semua pasal itu berkaitan di sana.

Nah, jadi di sini Anda jangan langsung mengatakan Pasal 1 angka 1 bertentangan dengan konstitusi dan itu enggak ada. Terus ini

undang-undang apa gitu kan? Nah, jadi Anda harus me ... Anda

mempertanyakan tadi bahwa kenapa ini dijadikan badan hukum. Nah, apakah keseluruhan pasal itu salah atau kata badan hukumnya saja. Nah, tapi kalau Anda mengatakan Pasal 1 angka 1 itu bertentangan

(10)

dengan konstitusi dan kemudian dinyatakan tidak berlaku ya enggak perlu ada koperasi, enggak ada undang-undang ini gitu kan?

Nah, seperti ini … jadi Anda melihat … maka perlu dirumuskan pasalnya lebih lanjut. Satu, pasal yang dimohonkan. Kemudian, kenapa pasal itu dianggap bertentangan dengan konstitusi? Itu yang perlu diberikan argumentasi. Ya, jadi saya rasa dari saya itu.

Kemudian nanti jangan disatukan karena permohonan … nanti kalau Anda buat lagi perbaikan, nanti se-gini lagi, enggak perlu. Anda lepaskan saja nanti permohonan ini dibuat perbaikan permohonan ya. Tapi, saya rasa masih ada Bapak-Bapak Hakim yang akan memberikan masukan, Pak Arief.

13. HAKIM ANGGOTA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih, Yang Mulia Ketua. Saya hanya kembali menegaskan bahwa undang-undang ini dalam beberapa pasal yang minta dimohonkan untuk diuji, itu sudah ada beberapa yang meminta untuk pengujian, sudah sampai pada keterangan atau penjelasan dari para ahli dan saksi. Oleh karena itu, penting sekali Anda untuk mempelajari. Sehingga permohonan Anda bisa lebih fokus ke arah yang belum. Atau kalau ya, dengan posita yang lain itu bisa dilakukan ya.

Kemudian, kalau Anda tidak setuju dengan koperasi itu badan hukum, coba Anda bisa menjelaskan, memberikan apa … keterangan yang lebih meyakinkan. Karena ada konsekuensi-konsekuensi kalau itu badan hukum, itu ada konsekuensi harta yang terpisah antara ... apa namanya … kalau di dalam badan hukum itu kan terpisah harta pribadi dengan harta yang dipakai untuk perusahaan, atau apa itu ya. Tapi, kalau dalam koperasi itu tidak dipisahkan begitu apakah tanggung jawab, kemudian bisa sampai secara keseluruhan dan sebagainya itu, tolong bisa dijelaskan di dalam posita Anda. Sehingga lebih memungkinkan kita itu ... apa namanya … mempertimbangkan apa yang Saudara mohon.

Kemudian yang terakhir, ada keterangan-keterangan ahli yang sangat banyak yang sudah kami himpun. Sehingga, kami pun sudah mengetahui persis di mana kedudukan Undang-Undang Koperasi ini diukur dari batu uji konstitusi kita, Undang-Undang Dasar Tahun 1945 kita.

Nah, mungkin ada pemikiran-pemikiran lain dari Pemohon sekarang ini dalam Perkara 237 ini … eh, dalam Perkara 60/PUU-XI/2013 ini, sehingga bisa memperkaya, sekaligus nanti putusan itu menyangkut pengujian terhadap undang-undang ini yang menyangkut pasal-pasal yang juga akan Saudara tambahkan dalam pengujian ini. Saya kira itu, Ibu. Terima kasih.

(11)

14. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

Ya, terima kasih Prof. Arief. Saya persilakan Bapak Dr. Anwar.

15. HAKIM ANGGOTA: ANWAR USMAN

Terima kasih, Yang Mulia. Ya, saya hanya ingin menambah sedikit ya mengenai Petitum juga tadi sudah disampaikan oleh Yang Mulia Ibu Ketua. Tapi, saya melihat Petitum nomor 3 tidak mempunyai kekuatan … itu kalimat terakhir, “Tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan segala akibat hukumnya.” Ini biasanya itu kan, “Tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,” itu sudah cukup sebenarnya.

Kemudian, saya meneliti kembali, memang yang disampaikan oleh Yang Mulia Ibu Ketua tadi memang banyak pasal, ayat, atau norma yang ingin diuji oleh Para Pemohon. Tetapi kalau dikaitkan dengan kerugian konstitusional Para Pemohon ya, atau paling tidak berpotensi merugikan Para Pemohon, itu tidak nampak dari bunyi pasal ya. Kalau kita simak misalnya ya, tadi mengenai Pasal 1 itu kan pengertian umum itu ya, itu sudah jelas kalau Pasal 1 ini dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat atau bertentangan dengan konstitusi. Maka pengertian koperasi ya, yang dikehendaki oleh Saudara ya, katakanlah tidak ada lagi koperasi seperti yang disampaikan oleh Ibu Ketua. Jadi, mungkin ada beberapa frasa atau kata yang ada di dalam pasal ini yang katakanlah ya harus ya dihilangkan, ya istilah ya konstitusional bersyarat.

Kemudian, menurut Pasal 3 juga, “Koperasi berdasar asas kekeluargaan,” ya lalu maunya apa? Kalau ini dinyatakan bertentangan dengan konstitusi, ya kan?

Begitu juga Pasal 5 ini, ayat (1), “Nilai yang ... dari kegiatan koperasi, yaitu A. Kekeluargaan juga kan itu. Ya, mungkin di antara huruf-huruf berikutnya ada yang tidak sesuai dengan kehendak Para Pemohon ya silakan, tetapi kalau saya lihat Pasal 5 ayat (1) ini kan ada hal-hal yang masa ya dinyatakan inkonstitusional, ya. Ya, jadi Saudara supaya dielaborasi lebih lanjut.

Terima kasih, Yang Mulia.

16. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

Ya, terima kasih. Itu hal-hal yang perlu ditinjau kembali, dilihat apakah yang Anda mohonkan sama dengan yang dimohonkan oleh Pemohon yang terdahulu. Mungkin Anda tetap akan meminta menguji pasal itu, tapi dengan batu uji yang berbeda enggak apa-apa, boleh. Tapi kalau batu ujinya sama dengan permohonan yang lalu, Anda harus memberikan argumentasi yang berbeda dengan yang lalu itu, ya.

Kemudian dalam cara penulisan ada beberapa, tidak semua, tapi ada beberapa yang mengatakan Pasal 1 ayat (1). Kalau untuk

(12)

undang-undang biasanya Pasal 1 angka (1), tapi kalau untuk Undang-Undang Dasar Tahun 1945 memang Pasal 1 ayat, ya. Jadi itu dilihat itu, ya, semuanya.

Dan kemudian juga petitum, petitumnya itu enggak usah pakai menerima dan mengabulkan. Ini sudah diterima, tapi dikabulkannya

yang belum, gitu ya. Jadi itu yang perlu dilihat dan Anda boleh

memperbaikinya dan diberikan waktu 14 hari. Ini memang yang diperintahkan oleh undang-undang, jadi kalau Anda tidak mau memperbaiki, ini dianggap sebagai permohonan yang telah diperbaiki. Baik, Anda diberikan waktu 14 hari kalau akan menggunakan kesempatan itu dan perbaikan permohonan diserahkan ke Kepaniteraan. Sesudah itu nanti akan kita lihat apakah kemudian akan disertakan dengan permohonan yang terdahulu karena permohonan terdahulu sudah mulai dua kali apa … sidang Pleno, jadi kita akan lihat nanti. Tapi yang penting adalah Anda mengajukan perbaikan dalam waktu 14 hari ini, untuk selanjutnya nanti akan kita lihat kembali.

Ada yang perlu disampaikan di sini?

17. KUASA HUKUM PEMOHON: EDY H. GURNING

Kami pikir cukup, Yang Mulia. Dan kami akan segera memperbaikinya. Terima kasih.

18. KETUA: MARIA FARIDA INDRATI

Karena tidak ada sesuatu yang perlu disampaikan lagi, maka sidang ini saya nyatakan selesai dan ditutup.

Jakarta, 24 Juni 2013 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d.

Rudy Heryanto

NIP. 19730601 200604 1 004

SIDANG DITUTUP PUKUL 14.04 WIB KETUK PALU 3X

Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.

Referensi

Dokumen terkait

Pemanfaatan sistem informasi berbasis komputer di dalam suatu perusahaan diharapkan mampu untuk mengelola data-data perusahaan dengan baik agar dapat mengurangi

Hasil estimasi lokasi sumber pencemar yang dilakukan untuk faktor smoke pada partikulat halus Bandung tahun 2006 menggunakan HYSPLIT ataupun PSCF memberikan hasil yang sama.

Sasaran pelatihan gender adalah memungkinkan para peserta memahami peranan dan kebutuhan wanita dan pria yang berbeda dalam masyarakat, menentang perilaku dan struktur yang

1) Pertama-tama keluarga calon mempelai laki-laki akan mengutus seseorang untuk menemui keluarga calon mempelai perempuan dalam rangka merundingkan tentang berapa nilai

Bagi ketentuan Pasal 4 ayat (1) huruf e, f dan g yang menyatakan mereka memiliki kewenangan atau kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengendalikan perseroan terbatas tanpa harus

Rata- rata kecepatan pertumbuhan panjang dari Siganus javus Betina yaitu sebesar 0,0172cm/hari, dimana pendugaan umur nol dari ikan Siganus javus Betina memiliki

Secara hukum, pengelolaan keuangan daerah yang dimaksudkan dalam rangka perwujudan kewajiban pemerintah daerah harus dilakukan dengan sejumlah prinsip, yakni: efisien, efektif,

Salah satu material yang berpotensi adalah komposit matriks keramik, keramik dipilih sebagai matriks karena ketahanan terhadap tekanan tinggi dan titik leleh