• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Jurnal Electroconvulsive Therapy. Kelompok 10

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Seminar Jurnal Electroconvulsive Therapy. Kelompok 10"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Jurnal

Electroconvulsive Therapy

(2)

Anggota Kelompok 10:

 Adhin Al Kasanah 13971

 Nur Aini Febriana 13973

 Nindy Ayu Pangestu 13974

 Rachmat Hidayat 13977

 Gabi Ceria 13979

 Mochammad Rizqi Abdillah 13983

 Ipang Fitria Wanti 13986

(3)

Kasus

 Seorang laki-laki usia 35 tahun dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Sudah 3 hari tidak mau keluar dari

kamar, diam saja, tidak mau mandi, makan, dan minum. Berdasarkan pengkajian diketahuibahwa pasien mengalami depresi berat. Pasien sudah diberikan obat anti depresan namun tetap tidak menunjukkan perbaikan. Karena pasien tidak

menunjukkan perbaikan maka Ners A memilih

alternatif terapi lain yaitu ECT. Ners A mencari tahu bagaimana evidence based terkait penggunaan ECT pada pasien.

(4)

Latar belakang

Diperkirakan penduduk Indonesia yang mengalami gangguan jiwa sebesar 2-3% jiwa setahun. Zaman dulu penanganan

pasien gangguan jiwa adalah dengan dipasung, dirantai atau diikat, lalu ditempatkan dirumah atau hutan jika gangguan jiwa berat.

Tetapi bila pasien tersebut tidak berbahaya , dibiarkan berkeliaran di desa sambil mencari makanan dan menjadi tontonan masyarakat.

Terapi dalam gangguan jiwa tidak hanya pengobatan dengan farmakologitetapi juga dengan psikoterapi, serta terapi modalitas yang sesuai dengan gejala atau penyakit pasien. Pada terapi modalitas ini perlu adanya dukungan keluarga dan dukungan sosial yang akan memberikan peningkatan penyembuhan kepada pasien.

(5)

Cont’

Terapi dalam gangguan jiwa tidak hanya

pengobatan dengan farmakologitetapi juga

dengan psikoterapi, serta terapi modalitas

yang sesuai dengan gejala atau penyakit

pasien. Pada terapi modalitas ini perlu adanya

dukungan keluarga dan dukungan sosial yang

akan memberikan peningkatan penyembuhan

kepada pasien.

(6)

Cont’

Electro Convulsive Therapy (ECT) merupakan suatu pengobatan untuk penyakit psikiatri berat dimana pemberiaan arus listrik singkat pada kepala

digunakan untuk kejang tonik klonik umum. Electro Convulsive Therapy pertama kali dikenalkan oleh Carietti dan Bini pada tahun 1937 sebagai terapi yang bersifat somatic terhadap pasien dengan

gangguan mental. ECT juga dikenal sebagai terapi kejut listrik, digunakan sebagai perawatan akut

rumah sakit pada pasien depresi perilaku yang agitasi atau pasien yang bunuh diri psikotik, atau berbahaya bagi orang lain.

(7)

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka

dapat dirumuskan rumusan maslah ini adalah

bagaimana aspek legal tentang pemberian

ECT pada pasien yang mengalami gangguan

jiwa?

(8)

Tujuan

Untuk mengetahui bagaimana aspek

legal dalam pemberian ECT pada

pasien yang mengalami gangguan

jiwa.

(9)

Manfaat

Laporan ini diharapkan mampu menambah

wawasan perawat mengenai penanganan

pasien jiwa terutama yang menggunakan ECT.

Laporan ini diharapkan bisa menambah

informasi dan pengetahuan tentang

penggunaan ECT pada pasien jiwa

(10)
(11)

Electroconvulsive Therapy

(ECT)

Electroconvulsive

therapy

(ECT)

adalah

sebuah terapi dimana aliran listrik dijalarkan

menuju otak dan memicu kejang singkat. ECT

nampaknya dapat menyebabkan perubahan

kimia otak yang dapat memperbaiki penyakit

mental tertentu. Terapi ini seringkali bekerja

ketika terapu lain sudah tidak berhasil.

(12)

Indikasi ECT

 Pasien dengan penyakit depresif mayor yang tidak

berespons terhadap antidepresan atau yang tidak dapat meminum obat.

 Pasien dengan gangguan bipolar yang tidak berespons terhadap obat.

 Pasien bunuh diri akut yang cukup lama tidak menerima pengobatan untuk mencapai efek terapeutik.

 Ketika efek samping ECT yang diantisipasi kurang dari efek samping yang berhubungan dengan terapi obat, seperti pada pasien lansia, pasien dengan blok jantung, dan selama kehamilan.

(13)

Kontraindikasi ECT

Tidak ada kontraindikasi absolut pada ECT,

namun ada beberapa kondisi medis yang

berkaitan dengan peningkatan morbiditas.

Kondisi yang dimaksud yaitu, peningkatan TIK,

tumor otak, infark miokard, pendarahan

intracerebral,

unstable

aneurysm,

dan

malformasi vaskular, dan resiko tinggi dari efek

pemberian anestesi.

(14)

Mekanisme ECT

 Depresi dipercaya merupakan hasil dari ketidakseimbangan senyawa kimia otak, oleh karena itu ECT bekerja untuk menyeimbangkannya. Ada beberapa teori yang menjelaskan bahwa ECT efektif,namun belum ada alasan/penjelasan spesifik bagaimana ECT bisa mempengaruhi otak. Salah satu teori menjelaskan bahwa aktivitas kejang sendiri menyebabkan perubahan susunan kimia di otak yang disebut neurotransmitter. Teori lain menunjukkan bahwa treatment ECT berpengaruh terhadap regulasi hormon otak yang mempengaruhi energi, tidur, nafsu makan dan mood.

(15)

Jenis ECT

Right unilateral ECT

Bilateral ECT

(16)

Efek Samping

Pasca ECT

(17)
(18)

Professional accounts of

electroconvusive therapy : a discourse

analysis

(19)

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan tenaga

professional melakukan ECT secara rutin dengan

menggunakan investigasi yang sistematis.

Peserta

Wawancara dilakukan di kota besar yang ada di Inggris

Raya. Peserta yang diwawancarai mewakili keterlibatan

lintas -profesional dalam administrasi ECT , termasuk pra -

dan pasca - prosedur ( kejiwaan perawat ) , resep dan

pengiriman pengobatan ( psikiater ) dan administrasi

anestesi dan relaksan otot ( anestesi ) .

(20)

Metode

Delapan klinisi yang terlibat dalam pemberian ECT

diwawancarai kemudian transkrip wawancara ditafsirkan

mnggunakan analisis wacana sehingga dapat ditemukan

wacana kunci. Saran dari Wetherell analisis digambarkan

dengan discursive psychology dan analisis tradisi

Foucauldian discourse. Discursive psychology merupakan

cara sistematik dalam menggambarkan perckapan

(21)

Hasil

 ECT diberikan untuk pasien yang ' tidur terikat , bergerak , tidak makan , tidak minum akibat dari depresi berat atau dalam depressive stupor  ECT digunakan untuk mencapai perbaikan secara cepat pada

keadaaan yang parah dan sudah tidak berespon terhadap intervensi yang adekuat dan kondisi pasien berpotensi mengancam nyawa, misalnya penyakit depresi, katatonia dan episode manic berat yang memanjang.

 ECT darurat yang tidak mempertimbangkan persetujuan dari partisipan tidak diperbolehkan

 ECT tidak mencegah bunuh diri dan untuk sejumlah kecil dapat memicu itu.

 ECT merupakan intervensi yang cepat dan efektive

 Ada alternative lain selain ECT misalnya terapi obat dan psikoterapi, namun sulit bagi pasien untuk menolak ECT apabila mereka percaya bahwa ECT adalah satu-satunya jaln menuju kesembuhan.

(22)

Hasil

 ECT masih dipandang controversial bagi masyarakat dan tenaga medis

tetap melakukan karena ECT memang efektive dan penderita merasa efek positive setelah ECT meski banyak kritik pada pemberian ECT.

 Dalam pemberian ECT mempertimbangkan resiko dan keuntuingan.

 ECT di kalangan medis sering dididskusikan tentang bagaimana prosedur,

proses dan efeknya apakah sesuai dengan aturan medis yang sudah berlaku.

 Para klinisi melakukan pembicaraan hangat untuk meningkatkan

pngetahuan tentaang ECT dan menjadikan bukti penyelesaian masalah

 Orang yang pernah malakukan atau menerima ECT memiliki hak lebih besar

(23)

Electroconvulsive therapy in

adolescence

(24)

ECT bagi orang muda : masalah etika

Sikap yang sesuai dari pendekatan etika

klinis terhadap masalah pengobatan

menantang seperti ECT harus terbuka dan

bebas dari prasangka . semua argumen

yang mendukung atau menentang ECT

harus dinilai atas dasar yang sama dan

didiskusikan berdasarkan prinsip-prinsip etika

biomedis.

(25)

Prinsip Etika Biomedis

 Prinsip otonomi

Prinsip otonomi menyatakan bahwa pasien bersifat mandiri dan dapat memutuskan secara bebas tentang kehidupa dan pengobatan mereka. Aturan ini merupakan warisan dari etika reflection yang mengikuti Holocaust dan percobaan Nuremberg. Hubungan dokter-pasien sekarang dipandang sebagai suatu kemitraan , dan bukan sebagai hubungan ayah – anak lagi. Sayangnya , aturan ini sangat susah untuk diterapkan di psikiatri dan pediatri karena pasien dalam keadaan tidak berdaya akibat gangguan mental yang sedang terjadi atau karena usia yang relatif muda.

(26)

Prinsip Etika Biomedis

Prinsip nonmaleficience

Prinsip nonmaleficience menyoroti perlunya melakukan

perawatan dengan sedikit mungkin kesalahan. Sebagian

besar kritik terhadap penggunaan ECT pada remaja

didasarkan pada adanya kemungkinan efek sekunder,

khususnya gangguan kognitif . Selain itu, telah bukti

bahwa ECT dapat menyebabkan kerusakan otak.

(27)

Prinsip Etika Biomedis

Prinsip kehati-hatian

 Prinsip kehati-hatian mengungkapkan bahwa obat harus dipraktekkan dengan hati-hati. Pengetahuan tentang

treatmen spesifik perlu terus diperbarui dan percobaab

ekperimen seharusnya dihindari jika tanpa persetujuan tenaga profesional dan pasien. Fokus pada praktek pelaksanaan

ECTdokter telah membuat standar prantek, prosedur, edukasi pasien , dan informed consent.

Prinsip keadilan

 Justice ( atau ekuitas ) merupakan dimensi penting dalam pertanyaan etis . Dalam konteks indualisme saat ini, prinsip ini yang menyeimbangkan nilali – nilai yang berkembang. Anak atau remaja di satu sisi mengalami gangguan mental dan di sisi lain merupakan subyek yang sangat rentan. Kareana hal ini

mereka tidak mungkin mendapatkan perhatian yang sama dengan pasien lain.

(28)

Hasil

 isu-isu etika dalam hal ini sangat komplek, konflik dapat diselesaikan

dengan analisis kasus per kasus. Pilihan etik pada praktek

klinisseharusnya dievaluasi secara empiris sesuai dengan konsekuensi pada pasien. Dalam kondisi pengetahuan saat ini, kami

mempertimbangkan ECT sebagai pilihan pengobatan umum pada pasien remaja.

 Menimbang bahwa kontroversi masih aktif, disarankan rekomendasi

berikut:

1. Anak dan psikiater remaja harus memberitahukan tentang literatur tentang ECT.

2. ECT harus diberikan dalam lembaga yang hati-hati dan

menghormati pedoman internasional, tentang parameter teknis tertentu dan persetujuan pasien.

3. Meminta second opinion sebelum merekomendasikan ECT pada remaja.

4. Penelitian empiris pada ECT orang muda harus dilaksanakan termasuk dalam penelitian internasional dan laporan semua kasus ECT

(29)

Kesimpulan

Electroconvulsive therapy (ECT) merupakan terapi dengan aliran listrik ke otak

dan memicu kejang singkat.

 Terapi ECT direkomendasikan apabila pasien pada kondisi parah yang

mengancam nyawa dan sudah tidak berespon terhadap intervensi adekuat yang diberikan (seperti depresi mayor, bipolar, bunuh diri akut, depresi psikotik, depresi dengan retardasi/stupor psikomotor hebat, depresi dengan ide bunuh diri yang parah, katatonia, dan episode manik berat yang memanjang).

 Pemberian ECT sekarang lebih aman daripada dahulu karena dilakukan dengan

anestesi dan lebih terkontrol sehingga memberikan keuntungan yang lebih besar dan meminimalkan resiko.

 Aspek legal pemberian ECT pada pasien yang mengalami gangguan jiwa.

 Bagi tenaga medis terapi ECT dilakukan karena memang terbukti efektif dan

pasien merasakan efek positif setelah pemberian ECT.

(30)

Saran

 Perawat jiwa atau pasien yang pernah terlibat dalam terapi ECT diharapkan dapat memberikan kritik

membangun dalam pelaksanaan ECT.

 Perawat diharapkan dapat mengetahui indikasi kategori pasien yang dapat diberikan ECT.

 Perawat diharapkan dapat menambah wawasan mengenai penanganan pasien jiwa dengan

menggunakan ECT.

 Perawat diharapkan dapat mendidik masyarakat luas

dengan memberikan pengetahuan mengenai pemberian ECT pada pasien jiwa untuk mengurangi kontroversi.

(31)

Implikasi Keperawatan

 Bagi Peneliti

Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengeksplor strategi untuk lebih mendalami alasan tenaga professional melakukan ECT atau intervensi medis lain.

 Tenaga kesehatan mental

Adanya training tentang ECT meliputi resiko, manfaat,

pandangan dan diharapkan tenaga kesehatan mental dapat membuat katagori mana yang harus diberi ECT atau yang

tidak harus diberi ECT

 Pengguna Jasa kesehatan

Membangun pelatihan tentang ECT secara umum sehingga penerima jasa dapat menerima dan mengetahui efek dari dilakukannya ECT.

(32)

Daftar pustaka

 Stuart, G.W. (2007) Buku Saku : Keperawatan Jiwa. Jakarta :

EGC

 George, M.S., Sackeim, H.A., Rush, A.J. (2000) Introduction to

Electroconvulsive Therapy. Biological Psychiatry, 26, 611-621.

 Reti, I. M. (n.d.). In-Depth Report Electroconvulsive Therapy

Today, 22–38. Retrivied from

http://www.hopkinsmedicine.org/psychiatry/specialty_areas/b rain_stimulation/images/DepBulletin407_ECT_extract.pdf (15 April 2014)

 Maixner, D., (2014) Electroconvulsive Therapy Program.

Retrivied from http://www.psych.med.umich.edu/ect/ (15 April 2014)

Referensi

Dokumen terkait

Nyeri akut pada persalinan kala 1 aktif dapat dikontrol dengan teknik non farmakologi, aromaterapi merupakan salah satu metode nonfarmakologi yang dapat mengurangi

Use Case diagram, Class diagram, dan Activity diagram, serta perancangan arsitektur aplikasi. 3) Perancangan aplikasi, pada tahap ini dilakukan pembuatan aplikasi Sistem

Penelitian ini menggunakan desain ADDIE (Analysis- Design-Develop-Implement-Evaluate).Perangkat dibuat dengan menganalisis KI-KD materi rangkaian listrik.Kemudian disusun

Analisis putusan hakim terhadap kasus asusila pada anak dengan nomor perkara 226/Pid.B/2011/PN.Grtlo, setelah putusan ditingkat pertama pada pengadilan Negeri

Penelitian yang akan dilakukan Annisa Kesuma Larasati dengan judul Analisis Potensi Sebaran Harga Lahan di Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta dengan

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Natalia dan Wahidahwati (2016) mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Sustainability

Hal inilah yang menyebabkan terdorongnya minat masyarakat untuk mengupayakan transaksi pada akhir tahun di samping adanya keengganan masyarakat untuk menunggu terbitnya

IPK Kategori 1 2 3 4 4.3 Menentukan konstanta pegas dari hasil  pengukuran Jika siswa melaksanakan 1 kegiatan dari seluruh kegiatan  berikut ini:  Siswa membaca  panduan