SALINAN
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2O2I
TENTANG
PBNYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA DI DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang a
b
C
bahwa
untuk
memberikankepastian
hukum
dalamberusaha, meningkatkan ekosistem
investasi
dankegiatan
berusahaserta
menjagakualitas
perizinanyang dapat
dipertanggungjawabkan,perlu
didukungpenyelenggaraan
perizinan
berusahadi
daerah yangcepat, mudah, terintegrasi, transp aran, efisien, efektif, dan akuntabel;
bahwa penyelenggaraan perizinan berusaha
di
daerahdilaksanakan
secaraterintegrasi merarui
elektronik berdasarkannorma, standar, prosedur, dan kriteria
yang ditetapkan oleh Pemerintah pusat;
bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimanadimaksud dalam
huruf
a
dan
huruf
b
serti
untuk
mengoptimalkan
pelaksanaanketentuan
pasal
176dan
Pasal 185
huruf
b
Undang-UndangNomor
11Tahun
2O2Otentang Cipta Kerja, perlu
menetapkanPeraturan
Pemerintah
tentang
penyelenggaraan Perizinan Berusahadi
Daerah;Pasal
5
ayat
(2)
Undang-Undang
Dasar
NegaraRepublik Indonesia
Tahun
1945;Mengingat
I
2
PRESIDEN
REPUBLIK INBONESIA
-2-Undang-Undang
Nomor
23
Tahun 2OI4
tentangPemerintahan Daerah (Lembaran Negara
RepublikIndonesia
Tahun
2Ol4
Nomor
244,
TambahanLembaran Negara
Republik Indonesia Nomor
5587) sebagaimanatelah
beberapa
kali
diubah
terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2OI5 tentang
Perubahan Kedua
atas
Undang-UndangNomor
23 Tahun 2Ol4 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran NegaraRepublik
IndonesiaTahun
2Ol5
Nomor
58,Tambahan Lembaran Negara
Republik
Indonesia Nomor 5679);Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2O2O tentang Cipta
Kerja
(Lembaran
Negara
Republik
IndonesiaTahun 2O2O Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
MEMUTUSKAN:
PERATU RAN PEM E RI NTAH TENTAN G PENYELEN GGARAAN
PERIZINAN BERUSAHA DI DAERAH. BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah
ini
yang dimaksud dengan:1.
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah adalahkegiatan
perizinan
berusaha
yang
proses pengelolaannya secaraelektronik
mulai dari
tahap permohonan sampai denganterbitnya
dokumen yangdilakukan
secara terpadu dalam satu pintu.2.
Perizinan Berusahaadalah
legalitasyang
diberikankepada
pelaku
usaha untuk
memulai
dan menjalankan usaha danf atau kegiatannya.3.
Pertzinan Berusaha Berbasis Risiko adalah Perizinan Berusaha berdasarkan tingkat risiko kegiatan usaha.3
Menetapkan
4
PRESIDEN
REFUBLIK INDONESIA
-3-Pelayanan
Terpadu
Satu Pintu yang
selanjutnyadisingkat
PTSP adalah pelayanan secara terintegrasidalam
satu
kesatuan proses
dimulai
dari
tahapanpermohonan
sampai dengan
tahap
penyelesaian produk pelayanan terpadu satupintu.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu
yang selanjutnya disingkat
DPMPTSP adalahperangkat daerah
Pemerintah Daerahprovinsi
atau Pemerintah Daerah kabupaten/kota yang mempunyaitugas dan fungsi
menyelenggarakan
urusanpemerintahan
di
bidang
penanaman
modal
yang menjadi kewenangan daerah.Urusan
Pemerintahan
adalah
kekuasaanpemerintahan
yang
menjadi
kewenangan Presidenyang
pelaksanaannyadilakukan oleh
kementeriannegara
dan
penyelenggarapemerintahan
daerahuntuk
melindungi, melayani,
memberdayakan, danmenyej ahterakan masyarakat.
Lembaga
Pengeloladan
PenyelenggaraOSS
yangselanjutnya
disebut
sebagai LembagaOSS
adalah lembaga pemerintah yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan di bidang koordinasi penanaman modal.Sistem
Perrzinan
Berusaha
Terintegrasi
Secara Elektronik (Online Single Submlssion) yang selanjutnyadisebut Sistem OSS adalah sistem
elektronikterintegrasi yang dikelola
dan
diselenggarakan olehLembaga
OSS
untuk
penyelenggaraan
Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.Pelaku Usaha adalah orang perseorangan atau badan usaha yang melakukan usaha
dan/atau
kegiatan pada bidang tertentu. 5 6 7 8 9 1O. Peraturan .PRES IDEN
R.EFUBL!K INDONESIA
-4-10.
Peraturan Daerah yang selanjutnya disebut Perda atau yang disebut dengan namalain
adalah Perda Provinsidan Perda Kabupaten/ Kota.
1
1.
Peraturan
Kepala Daerahyang selanjutnya
disebutPerkada
adalah
PeraturanGubernur
dan
PeraturanBupati/Wali
Kota.12.
Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesiayang
memegangkekuasaan pemerintahan
negara Republik Indonesia yangdibantu
oleh Wakil Presidendan menteri
sebagaimanadimaksud
dalamUndang-Undang
Dasar
Negara Republik
IndonesiaTahun
1945.13.
Pemerintah
Daerah adalah kepala daerah
sebagaiunsur
penyelenggarapemerintahan
daerah
yangmemimpin
pelaksanaanUrusan
Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.14.
Menteri adalah menteri
yang
menyelenggarakan Urusan Pemerintahan dalam negeri.15.
Hari adalahhari
kerja sesuai dengan yang ditetapkan oleh Pemerintah Fusat.Pasal 2
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah yang
diatur
dalam Peraturan Pemerintah
ini
meliputi:a.
kewenangan Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah;b.
pelaksanaanPerizinan Berusahadi
daerah;c.
Perda dan Perkada mengenai Perizinan Berusaha;d.
pelaporan
PenyelenggaraanPerizinan Berusaha
di Daerah;PRES IDEN
REFUBL|K TNDONESIA
-5-e.
pembinaan dan pengawasan;f.
pendanaan; dang.
sanksi administratif. BAB IIKEWENANGAN PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA DI DAERAH
Pasal 3
Penyelenggaraan
Perizinan
Berusaha
di
Daerah dilaksanakanoleh
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerahprovinsi, dan
Pemerintah Daerahkabupatenlkota
sesuai dengan kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturanperundang-undangan.
Pasal 4
(1)
Gubernur
mendelegasikan kewenangan PemerintahDaerah
provinsi dalam
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah kepada kepala DPMPTSP provinsi.(21 Pendelegasian
kewenangan
oleh
gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:a.
penyelenggaraan
Perizinan Berusaha
yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah provinsi sesuai denganketentuan peraturan
perundang-undangan; danb.
penyelenggaraan
Perizinan Berusaha
yangmenjadi
kewenangan
Pemerintah
Pusat
yangdilimpahkan
kepada gubernur berdasarkan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan.PRESIDEN
REFUBLIK it.iDONESIA
-6-Pasal 5
(1)
Bupati/wali
kota
mendelegasikan
kewenanganPemerintah
Daerah
kabupatenlkota
dalam Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah kepada kepala DPMPTSP kabupaten/ kota.(21
Pendelegasiankewenangan
oleh bupati/wali
kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:a.
penyelenggaraan
Perizinan Berusaha
yangmenjadi
kewenangan
Pemerintah
Daerahkabupaten/kota
sesuai
dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; danb.
penyelenggaraan
Perizinan Berusaha
yangmenjadi
kewenangan
Pemerintah
Pusat
yangdilimpahkan
kepada bupati/wali
kota berdasarkan asas tugas pembantuan.BAB III
PELAKSANAAN PERIZINAN BERUSAHA DI DAERAH Bagian Kesatu
Umum Pasal 6
(1)
PenyelenggaraanPerizinan Berusaha
di
Daerahdilakukan
untuk
meningkatkan
ekosistem investasi dan kegiatan berusaha.(2)
Peningkatan
ekosistem
investasi
dan
kegiatanberusaha
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)meliputi:
a.
Perrzinan Berusaha Berbasis Risiko;b.
persyaratan dasar Perizinan Berusaha; danc.
Perrzinan
Berusaha
sektor
dan
kemudahan persyaratan inve stasi.PRES IDEN
REPUBLIK INDONESIA
-7
-(3)
Perizinan Berusaha Berbasis
Risiko
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)huruf
a dilakukan berdasarkanpenetapan
tingkat
risiko
dan peringkat skala
usaha kegiatan usaha.(4)
Persyaratandasar
PertzinanBerusaha
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)huruf
b meliputi:a.
kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang;b.
persetujuan lingkungan; danc.
persetujuan bangunan gedung dansertifikat laik
fungsi.
(5)
PerrzinanBerusaha
sektor
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)huruf
c yang diselenggarakandi
daerahterdiri
atas sektor:a.
kelautan dan perikanan;b.
pertanian;c.
lingkunganhidup
dan kehutanan;d.
energi dan sumber daya mineral;e.
ketenaganukliran;f.
perindustrian;g.
perdagangan;h.
pekerjaan umum dan perumahan ralryat;i.
transportasi;j.
kesehatan, obat dan makanan;k.
pendidikan dan kebudayaan;1.
pariwisata;m.
keagamaan;n.
pos, telekomunikasi, penyiaran,dan
sistem dantransaksi elektronik;
o.
pertahanan dan keamanan; danp.
ketenagakerjaan.PRES IDEN
,QEFUBLIK i^{DONESt.A,
-8-(6) Sektor
ketenaganukliran,
keagamaan
sertapertahanan
dan
keamanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (5)huruf
e,huruf
m, danhuruf
o merupakankewenangan
Pemerintah
Pusat yang
prosesp errzinannya terinte grasi den gan p elayana
n
P erizinanBerusaha di daerah.
(7)
Dalam rangka meningkatkan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha pada sektor sebagaimana dimaksudpada
ayat
(5),
kepada
Pelaku Usaha
diberikankemudahan
persyaratan
investasi
dan
PerizinanBerusaha sesuai dengan ketentuan
peraturanperundang-undangan
mengenai
penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.(8)
Perrzinan Berusaha Berbasis Risiko, persyaratan dasarPertzinan Berusaha,
dan
PerizinanBerusaha
sektordan
kemudahan persyaratan investasi dilaksanakansesuai
dengan
ketentuan peraturan
perundang-undangan
mengenai
penyelenggaraan
PerizinanBerusaha Berbasis Risiko
dan peraturan
perundang-undangan di bidang tata ruang, lingkungan hidup, dan bangunan gedung.Bagian Kedua
Manaj emen Penyelenggaraan Pasal 7
Penyelenggaraan Pertzinan
Berusaha
di
Daerah
provinsi dilaksanakan oleh DPMPTSP provinsi dan PenyelenggaraanPertzinan
Berusaha
di Daerah
kabupatenlkota
dilaksanakan oleh DPMPTSP kabupaten/kota.
PRES IDEN
REFUBUK INDONESIA
-9
-Pasal 8
(1)
DPMPTSPmelakukan
pengintegrasian PTSP antaraperangkat daerah
dan
instansi
vertikal
di
daerah sesuai dengan kewenangannya.(2)
Pembinaan
DPMPTSP
dalam
menyelenggarakan PertzinanBerusaha dalam
satu
pintu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan
oleh Menteri.Pasal 9
(1)
DPMPTSPdalam
melaksanakan pelayanan PerrzinanBerusaha wajib
menerapkan
manajemenPenyelen ggaraan P erizinan B eru saha
di
D aerah.(2)
Manajemen Penyelenggaraan PerizinanBerusaha
diDaerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.
pelaksanaan pelayanan;b.
pengelolaanpengaduanmasyarakat;c.
pengelolaan informasi;d.
penyuluhan kepada masyarakat;e.
pelayanan konsultasi; danf.
pendampingan hukum. Pasal 10(1)
Pelaksanaan
pelayanan Perizinan
Berusaha
oleh DPMPTSP sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
g ayat (2)huruf
a
sesuai denganketentuan
peraturanperundang-undangan
mengenai
penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.PRES I D EN
REPUBLiK {}IDONESI.A.
-10-(2)
Pelaksanaan pelayanan Perizinan Berusahadi
daerahwajib
menggunakan Sistem OSSyang dikelola
oleh Pemerintah Fusatterhitung
sejak Sistem OSS berlakuefektif sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
mengenai
penyelenggaraan
Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.(3)
Pelaksanaan pelayanan Perizinan Berusahadi
daerah sebagaimanadimaksud
pada ayat (2)
dilengkapi dengan layanankhusus
bagi kelompok rentan,lanjut
usia, dan penyandang disabilitas dalam mendapatkan
j asa pelayanan P erizinan Beru saha.
(4)
Pemerintah
Daerah
dapat
mengembangkan sistempendukung
pelaksanaan Sistem OSS sesuai dengannorma,
standar, prosedur,
dan
kriteria
yangditetapkan Pemerintah Pusat.
Pasal 1 1
(1)
PelayananSistem
OSSpada
PerizinanBerusaha
didaerah
dilakukan
secara mandiri oleh Pelaku Usaha.(21
Pelayanan secara
mandiri
sebagaimana dimaksudpada
ayat
(1) dilakukan
dengan perangkat/fasilitassendiri atau yang disediakan oleh DPMPTSP.
(3)
Dalam
hal
pelayanan
Sistem OSS
belum
dapatdilaksanakan secara
mandiri,
DPMPTSP melakukan:a.
pelayanan berbantuan;dan/atau
b.
pelayanan bergerak.(4)
Pelayananberbantuan
sebagaimanadimaksud
padaayat (3)
huruf
a
dilakukan
secarainteraktif
antara DPMPISP dan Pelaku Usaha.(5)
Pelayanan bergerak
sebagaimanadimaksud
padaayat
(3)
huruf
b
dilakukan
dengan
mendekatkanketerjangkauan pelayanan
kepada
Pelaku
Usaha dengan menggunakan sarana transportasi atau sarana lainnya.PRESIDEilI
REPUBLIK INDONESIA
-
11-Pasal 12
(1)
Pelayanan berbantuan sebagaimana dimaksud dalamPasal
11
ayat
(3)
huruf a juga
dilakukan
apabila pelayanan Sistem OSS:a.
belum tersedia; ataub.
terjadi gangguan teknis.(2)
Dalam
hal
diperlukan
pelayanan
berbantuan sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1),
DPMPTSP berkoordinasi dengan Lembaga OSSagar
pelayanan tetap berlangsung.(3)
Dalam
hal
pelayanan Sistem OSS
belum
tersediasebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
huruf
a pelayanan berbantuan dilakukan dengan tahapan:a.
Pelaku Usaha
dapat
mengajukan
permohonan Perizinan Berusaha secaraluring
kepada petugasDPMPTSP;
b.
petugas
DPMPTSPmenghubungkan
pertzinanluring
sebagaimana dimaksud dalamhuruf
a
ke dalam Sistem OSS pada DPMPTSP terdekat; danc.
persetujuan
atau
penolakan
diterbitkannyadokumen Perizinan Berusaha
diinformasikan kepada Pelaku Usaha melalui sarana komunikasi.(4)
Dalam
hal
pelayanan Sistem OSSterjadi
gangguanteknis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
b,pelayanan berbantuan
harus
tersedia
paling
lama1
(satu)Hari
sejak dinyatakan terjadinya
gangguan teknis.(5)
Pernyataan terjadinya gangguan
teknis
pelayananSistem OSS
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(4)disampaikan
kepada
masyarakat
oleh
kepalaDPMPTSP.
PRES iDEN
REPUEUK ;!$DONESIA
-12-Pasal 13
(1)
Bagi
Pelaku Usaha
di
daerah tertinggal,
terdepan,terluar, dan/atau
wilayah
yang belum
memilikiaksesibilitas
yang memadai, permohonan
PertzinanBerusaha
dapat
diajukan
di
kantor
kecamatan ataukantor kelurahan/desa atau nama lain.
(21
Selain mengajukandi
kantor
kecamatanatau
kantorkelurahan/desa
atau
nama
lain
sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1),
Pelaku Usaha
dapatmengajukan permohonan Perizinan Berusaha
padapelayanan
bergerak
yang
diselenggarakan
olehDPMPTSP.
(3)
PengajuanPerizinan Berusaha sebagaimana dimaksudpada ayat (1)
dan
ayat (21, didaftarkandi
Sistem OSSoleh
perangkat
kecamatan
atau
perangkatkelurahan/desa atau nama lain dengan menggunakan
hak akses yang
dimiliki
oleh Pelaku Usaha paling lama3
(tiga)Hari
setelah diterimadari
Pelaku Usaha yangmemberi
kuasa
pengajuan Perizinan Berusaha
di daerah.Pasal 14
(1)
Pelaksanaan
pelayanan
Perizinan Berusaha
oleh DPMPTSP sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
gayat (21huruf a
tidak
dipungut biaya.(2)
Pertzinan Berusaha
tertentu
pada
DPMPTSP dikenakanretribusi
daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undan gan.(3)
DPMPTSPtidak
dibebani target penerimaanretribusi
daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (21.
(4)
Dalam hal pelaksanaan pelayanan Perizinan Berusaha sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
dan ayat
(2)menyebabkan berkurangnya pendapatan
asli
daerah,Pemerintah
Pusat
memberikan
dukungan
insentif
anggaran
kepada daerah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.PRES IDEN
REPUBLIK XNDONESIA
-13-Pasal 15(1)
Pengelolaan pengaduan
masyarakat
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal9
ayat
(2)huruf
b,
dilakukansecara
cepat,
tepat,
transparan,
adil,
tidak
diskriminatif,
dantidak
dipungut biaya.(2)
Pengelolaan pengaduan
masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan tahapan:a.
menerima dan memberikan tanda terima;b.
memeriksa kelengkapan dokumen;c. mengklasifikasi dan
memprioritaskan penyelesaian;d.
menelaah dan menanggapi;e.
menatausahakan;f.
melaporkan hasil; dang.
memantau dan mengevaluasi.(3)
Durasi
waktu
pengelolaan pengaduan sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1) diatur
sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(4)
Pelaksanaan pengelolaan
pengaduan
masyarakatsebagaimana
dimaksud
pada
ayat (1)
terintegrasidengan kementerian/lembaga
dan
perangkat daerahmelalui
Sistem OSS.Pasal 16
(1)
DPMPTSPwajib
menyediakan
sarana
pengaduanuntuk
mengelola pengaduan
masyarakat
terkait
pelayanan P erizinan Berusaha.
(2)
Sarana
pengaduan sebagaimana
dimaksud
padaayat
(1)
harus
mudah diakses
dan
dijangkau
olehmasyarakat
dengan
mengupayakan
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.PRES IDEN
REPUBLIK INDONESIA
-14-Pasal 17
(1)
Pengelolaaninformasi
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal9
ayat (2)huruf
c,dilakukan
secara terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat.(21
Pelaksanaan pengelolaan
informasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling sedikit:a.
menerima permintaan layanan informasi; danb.
menyediakandan
memberikaninformasi terkait
layanan P erizinan Berusaha.
Pasal 18
(1)
Penyediaandan
pemberian
informasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)huruf
b
dilakukanmelalui
subsistem pelayanan
informasi
dalam Sistem OSS.(21 Selain
pelayananinformasi
sebagaimana dimaksudpada ayat (1), Pemerintah Daerah dapat menyediakan
dan
memberikan
informasi
lainnya, paling
sedikitmemuat:
a.
profil kelembagaan perangkat daerah;b.
standar pelayanan Perizinan Berusaha di daerah; danc.
penilaian kinerja PTSP.(3)
Layanan
informasi
sebagaimana
dimaksud
pada ayat (1) dilakukan melalui media elektronik dan media cetak.(4)
Penyediaan
dan
pemberian
informasi
kepada masyarakattidak
dipungut biaya.(5)
Pelaksanaan pemberian informasi dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pasal 19
(1) Penyuluhan kepada masyarakat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal9
ayat (2)huruf
d, meliputi:PRESiDEN
RTPUBL'Ti iNDONESIA
-15-a.
hak
dan
kewajiban Pemerintah
Daerah
danmasyarakat
terhadap pelayanan
Perizinan Berusaha;b.
manfaat Perizinan Berusaha bagi masyarakat;c.
persyaratandan
mekanismelayanan
Perizinan Berusaha;d.
waktu dan tempat pelayanan; dane.
tingkat risiko kegiatan usaha.(2)
Penyelenggaraanpenyuluhan
kepada
masyarakatdilakukan melalui:
a.
media elektronik;b.
media cetak;dan/atau
c.
pertemuan.(3)
Pelaksanaan
penyuluhan
sebagaimana
dimaksud padaayat
(1)dan
ayat (2)dilakukan oleh
DPMPTSP berkoordinasi dengan perangkat daerahteknis
secara periodik.Pasal 20
(1)
Pelayanankonsultasi
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal 9 ayat (2)huruf
e, paling sedikit:a.
konsultasi
teknis
jenis
layanan
Pertzinan Berusaha;b.
konsultasi aspekhukum
Pertzinan Berusaha; danc.
pendampingan teknis.(2)
Pelayanankonsuitasi
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) dilakukan di ruang konsultasi yang disediakandan f atau daring.
(3)
Layanan
konsultasi
sebagaimanadimaksud
padaayat
(1)
dilakukan
oleh
DPMPTSP berkoordinasi dengan perangkat daerah teknis secara interaktif.PRES IDEN
REPUELIK iNDONESIA
-16-Pasal 21
(1)
Pendampinganhukum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal9
ayat (2)huruf
f
dilakukan
dalamhal
terdapat permasalahanhukum
dalam proses dan pelaksanaan perrzinan yang melibatkan DPMPTSP.(21
Pendampinganhukum
sebagaimanadimaksud
padaayat (1)
dilakukan
oleh
perangkat
daerah
yang membidangi hukum.Bagian Ketiga Sarana dan Prasarana
Pasal22
(1)
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha pada DPMPTSP harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana sesuai standar pelayanan.(2)
Saranadan
prasarana sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) paling sedikit:a.
kantor depan;b.
kantor belakang;c.
ruang pendukung; dand.
alat/fasilitas
pendukung.(3)
Sarana
dan
prasarana
untuk
penyelenggaraan pelayanan secara elektronik, paling sedikit:a.
koneksi internet;b.
pusat data dan seruer aplikasi;c.
teleponpintar;
dand.
sistem
keamanan
teknologi informasi
dankomunikasi.
(4)
Pusat data dan seruer aplikasi sebagaimana dimaksudpada
ayat
(3)
huruf
b
dapat
berbagipakai
dengan Pemerintah Fusatdan/atau
Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.PRES IDEN
REPUELiK tr.iDONESIA
-t7-Bagian Keempat
Sumber Daya Manusia Aparatur Pasal 23
(1)
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha pada DPMPTSPharus
didukung
oleh
aparatur
sipil
negara
yangmerupakan pelaksana tugas
dan
fungsi
pelayananPerizinan Berusaha
yang
disediakan
secara proporsionaluntuk
mendukung kinerja DPMPTSP.(2)
Dalam rangka meningkatkan kualitas, jangkauan, dan akses yanglebih luas
kepada masyarakat, DPMPTSPdapat
mendayagunakan
aparatur
sipil
negara
dikecamatan atau kelurahan/desa atau nama
lain
atau perangkat kelurahan/desa atau nama lain.Pasal24
(1)
Aparatur sipil negara yang ditugaskan pada DPMPTSP sebagaimana dimaksud dalam Pasal23
ayat (1) harusmemenuhi
standar kualifikasi
dan
kompetensiyang ditetapkan oleh
kementerian/lembagapemerintah nonkementerian teknis.
(2)
Kompetensi
aparatur
sipil
negara
sebagaimanadimaksud pada
ayat (1) dapat ditingkatkan
melalui pengembangan kompetensi oleh kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian teknis.(3)
Kementerian/lembaga
pemerintah
nonkementeriandalam menyelenggarakan pengembangan kompetensi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2)
berkoordinasi dengan kementerian yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan dalam negeri.(4)
Pegawainegeri
sipil
sebagaipelaksana
tugas
danfungsi
pelayanan Perizinan Berusahadi
daerah pada DPMPTSPdapat dimutasi sesuai
dengan ketentuanperaturan perundang-undangan setelah mendapatkan rekomendasi dari kepala DPMPTSP.
PRES iDEN
REPUBLIK iNDONESIA
-18-Pasal 25
Dalam rangka
meningkatkan
kinerja
pelayananPenyelenggaraan
Perizinan Berusaha
di
Daerah, gubernurlbupatilwali
kota dapat
memberikan tambahanpenghasilan pegawai
kepada aparatur
sipil
negara pada DPMPTSPsesuai
dengan kemampuankeuangan
daerah dan ketentuan peraturan perundang-undangan.Bagian Kelima Tata Hubungan Kerja
Pasal 26
DPMPTSP dalam melaksanakan tugas
memiliki
hubungankerja yang meliputi:
a.
hubungan
kerja
DPMPTSP
dengan
lembagapemerintah
yang
menyelenggarakan
Urusan Pemerintahan di bidang koordinasi penanaman modal selaku Lembaga OSS;b.
hubungan kerja DPMPTSP provinsi dengan perangkat daerah provinsi;c.
hubungan
kerja
DPMPISPkabupatenlkota
denganperangkat
daerah
kabupaten/kota,
termasukkecamatan dan kelurahan/desa atau nama
lain;
dand.
hubungan kerja DPMPTSP provinsi dengan DPMPTSPkabupaten/kota
yang
berada
di
wilayah
provinsi setempat.Pasal 27
(1)
Hubungan
kerja
DPMPTSPdengan Lembaga
OSS sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
26
huruf
a,dilakukan
secara
fungsional
dalam
melaksanakan Perrzinan Berusaha di daerah.(2)
Hubungan
kerja
secara fungsional
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:PRES
'DEN REPUBLIK INDONESIA
-19-a.
pendampingan pelaksanaanPertzinan Berusaha;b.
verifikasi usulan Perizinan Berusaha;c.
pengembangan
kompetensi
sumber
daya manusia;d.
pengadaan perangkat keras dan perangkatlunak
untuk
mendukung pelaksanaan Sistem OSS; dane.
penanganan
pengaduan
layanan
Perizinan Berusaha di daerah.Pasal 28
(1)
Hubungan kerja DPMPTSP provinsi dengan perangkatdaerah provinsi
dan
hubungan
kerja
DPMPTSPkabupaten/kota
dengan perangkat
daerah kabupatenlkota
sebagaimana
dimaksud
dalamPasal
26
huruf
b
dan huruf
c
dilakukan
secarafungsional
dan
koordinatif
dalam
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah.(2)
Hubungan
kerja
secarafungsional
dan
koordinatif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.
pelaksanaan Perizinan Berusaha sesuai dengan kewenan gan masing-masing;b.
verifikasi Perizinan Berusaha;c.
monitoring
dan
evaluasi
dalam
rangka pengawasan Perizinan Berusaha;d.
fasilitasi
penyelesaianpermasalahan
Perrzinan Berusaha; dane.
sinergi program dan kegiatanPerizinan Berusaha. Pasal 29Selain
hubungan
kerja
sebagaimanadimaksud
dalamPasal 28 ayat (2), hubungan kerja
DPMPTSP kabupaten/kota dengan perangkat daerah kabupaten Ikota
dilakukan dalam rangka
pemberian dukungan
Perizinan Berusahadi
wilayah kecamatan dan kelurahan/desa atau nama lain.PRESIDEhI
REFUBL'K iNDONESIA
-20-Pasal 30
(1)
Hubungan kerja DPMPTSP provinsi dengan DPMPISPkabupaten/kota
yang
berada
di
wilayah
provinsi sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
26
huruf
d,dilakukan
secara fungsional dan koordinatif.(2)
Hubungan
kerja
secarafungsional
dan
koordinatif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.
fasilitasi
penyelesaianpermasalahan
Pertzinan Berusaha; danb.
pengawasan Perizinan Berusaha. BAB IVPERDA DAN PERKADA MENGENAI PERIZINAN BERUSAHA Pasal 31
(1)
Penlrusunan
Perda
dan
Perkada
dalam
rangkaPenyelenggaraan
Perizinan Berusaha
di
Daerahberkoordinasi
dengan kementerian
yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan dalam negeridan
melibatkan
ahli
dan/atau instansi vertikal
di daerah yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahandi
bidang
pembentukan
peraturan
perundang-undangan.(2)
Koordinasi
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(1)ditujukan
agar Perda dan Perkadatidak
bertentangandengan
ketentuan peraturan
perundang-undanganyang lebih tinggi,
asas
pembentukan
peraturanperundang-undangan yang
baik,
asasmateri
muatanperaturan
perundang-undangan,
dan
putusan pengadilan.(3)
Koordinasi
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(21dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan
peraturanperundang-undangan.
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESI.A
-2r-Pasal 32
(1)
Pemerintah
Daerah menetapkan kebijakan
daerahmengenai
rencana
tata
ruang yang
mendukung Penyelenggaraan P erizinan Berusahadi
Daerah.(2)
Kebijakan daerah
mengenai
rencana
tata
ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)terdiri
atas:a.
Perda mengenai rencana
tata
ruang
wilayah provinsi;b.
Perda mengenai rencana
tata
rLrang
wilayahkabupaten/kota; dan
c.
Perkada mengenai rencana detail tata ruang.(3)
Perda
dan
Perkada mengenai rencana
tata
ruangsebagaimana
dimaksud pada
ayat
(2) disusun
danditetapkan
sesuai
dengan ketentuan
peraturanperundang-undangan. BAB V
PELAPORAN PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA DI DAERAH Pasal 33
(1) Bupati/wali kota
menyampaikan
laporanPenyelenggaraan
Perizinan
Berusaha
di
Daerahkabupaten/kota
kepada gubernur
sebagai
wakilPemerintah Pusat.
(2)
Gubernur
sebagai
wakil
Pemerintah
Pusatmenyampaikan
laporan
Penyelenggaraan PerizinanBerusaha
di
Daerah
provinsi
dan
kabupatenlkota
kepada Menteri.
(3)
Laporan
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
dan ayat (2) paling sedikit memuat:a.
jumlah
perizinan yang diterbitkan;b.
rencana dan realisasi investasi; danc.
kendala dan solusi.(4)
Laporan
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(3)dilakukan
secara berkala setiap 3 (tiga) bulan.PRES IDEN
REPUBLIK iNDONESIA
-22-(5)
Laporan
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(4)digunakan
sebagaibahan evaluasi
dan
pembinaanuntuk
meningkatkan
kinerja
DPMPTSP
yangdilakukan oleh Menteri
dan/atau
gubernur
sebagaiwakil
Pemerintah
Pusat sesuai
dengan kewenangannya.BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 34
(1)
Pembinaan
dan
pengawasan
Penyelenggaraan Perizinan Berusahadi
Daerahdilakukan
dengan caraterkoordinasi
antara
Pemerintah
Pusat
dan Pemerintah Daerah.(2)
Pembinaan
dan
pengawasan
Penyelenggaraan Perrzinan Berusahadi
Daerah:a.
provinsi, dilakukan oleh:1.
Menteriuntuk
pembinaandan
pengawasan umum; dan2.
menteri teknis/kepala
lembaga pemerintahnonkementerian
untuk
pembinaan
dan pengawasan teknis;b.
kabupatenfkota,
dilakukan
oleh
gubernur sebagaiwakil
Pemerintah Pusatdi
daerahuntuk
pembinaan dan pengawasan umum dan teknis,
sesuai
dengan
ketentuan peraturan
perundang-undangan.PRES IDEN REPUELIK iNDONESIA
-23_
BAB VII PENDANAAN Pasal 35(1)
Pendanaan PenyelenggaraanPerizinan Berusaha
diDaerah
pada
Pemerintah
Fusat
dibebankan
pada anggaran pendapatan dan belanja negara.(2)
Pendanaan PenyelenggaraanPerizinan Berusaha
diDaerah provinsi dibebankan pada
anggaran pendapatan dan belanja daerah provinsi.(3)
Pendanaan Penyelenggaraan PerrzinanBerusaha
diDaerah
kabupaten/kota
dibebankanpada
anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota.(4) Selain
pendanaan
sebagaimana
dimaksud
padaayat (1), ayat (2), dan ayat (3),
pendanaan Penyelenggaraan Perizinan Berusahadi
Daerah dapat berasal dari sumber lain yang sah dan tidak mengikat.BAB VIII
SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 36
DPMPTSP
yang
tidak
memberikan pelayanan
perizinanBerusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10
ayat
(1)dalam
jangka
waktu yang
ditetapkan,
kewenangan penerbitan perizinan diambil alih oleh Lembaga OSS sesuaidengan ketentuan peraturan
perundang-undanganmengenai penyelenggaraan Perizinan
Berusaha
Berbasis Risiko.trRESIDEN
REFUBLiK.NDONESIA
-24-Pasal 37
(1)
Gubernur/bupati/wali
kota dikenai
sanksiadministratif apabila
DPMPTSPdalam
memberikanpelayanan Perizinan Berusaha
tidak
menggunakanSistem OSS sebagaimana
dimaksud dalam
Pasal 10ayat (2).
(2\
Sanksi administratif
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) berupa tegurantertulis
kepada gubernur olehMenteri dan
kepadabupatilwali
kota oleh
gubernur sebagaiwakil
Pemerintah Fusat.(3)
Menteri
teknis
atau
kepala
lembaga
pemerintahnonkementerian
yang
membina
dan
mengawasi Perrzinan Berusaha sektor dapat memberikan sanksiadministratif
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(1)berupa teguran
tertulis
kepada
gubernur
setelah berkoordinasi dengan Menteri.(4)
Dalam
hal
teguran
tertulis
sebagaimana dimaksudpada
ayat (2)dan ayat
(3)telah
disampaikan2
(dua)kali berturut-turut
dan tetaptidak
dilaksanakan oleh gubernur/ bupati/ wali kota:a.
menteri teknis atau
kepala lembaga pemerintahnonkementerian
yang
membinadan
mengawasiPerizinan
Berusaha
sektor
mengambil
alih kewenanganPerizinan Berusaha yang
menjadi kewenangan gubernur; ataub.
gubernur
sebagai
wakil
Pemerintah
Pusat mengambilalih
kewenangan Perizinan Berusaha yang menjadi kewenanganbupati/wali
kota.(5)
Pengenaan
sanksi
administratif
sebagaimana dimaksudpada
ayat (2), ayat (3),dan ayat
(4) sesuaidengan ketentuan
peraturan
perundang-undanganmengenai
penyelenggaraan
Perizinan
Berusaha Berbasis Risiko.PRESIDEN
REPUBLIK iNDONESIA
-25-(6)
Pengambilalihan kewenangan Perizinan Berusaha olehmenteri
teknis
atau
kepala
lembaga
pemerintah nonkementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (4)huruf
a,
dilakukan
setelah berkoordinasi
denganMenteri sesuai
dengan
ketentuan
peraturanperundang-undangan.
(7)
Pengambilalihan kewenangan Perrzinan Berusaha olehgubernur
sebagai
wakil
Pemerintah
Pusatsebagaimana
dimaksud
pada
ayat (4)
huruf
b, dilaporkan kepada Menteri dengan tembusan menteriteknis atau kepala lembaga
pemerintah nonkementerian terkait.BAB IX
KETENTUAN PENUTUP Pasal 38
(1)
Ketentuan
dan tata
cara
pembentukan
DPMPISP provinsidan
DPMPTSPkabupaten/kota
sebagaimana dimaksud dalam Pasal7
dikecualikandari
ketentuan Pasal 18 dan Pasal 40 Peraturan Pemerintah Nomor 18Tahun 2016
tentang
PerangkatDaerah
(Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun
2OL6Nomor
114,Tambahan Lembaran Negara
Republik
IndonesiaNomor
5887)
sebagaimanatelah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2019 tentangPerubahan
atas
Peraturan Pemerintah
Nomor
18Tahun 2016
tentang
PerangkatDaerah
(Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun
2Ol9
Nomor
187,Tambahan Lembaran Negara
Republik
Indonesia Nomor 6402).PRESiDEi.t
REPUBilK. :NDoNESIA
-26-(2)
Pemerintah Daerahprovinsi dan
Pemerintah Daerahkabupaten/kota
wajib
menyesuaikan
DPMPTSP provinsi dan DPMPTSP kabupaten/kota sesuai denganketentuan
Peraturan Pemerintah
ini
paling
lama2
(dua)
bulan terhitung
sejak Sistem
OSS berlakuefektif sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
mengenai
penyelenggaraan
Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.Pasal 39
(1)
Pada saat Peraturan
Pemerintahini
mulai
berlaku Perda dan Perkada yang mengatur Perizinan Berusahadi
daerah
wajib
menyesuaikan
dengan
PeraturanPemerintah
ini
paling larna
2
(dua)bulan terhitung
sejak Peraturan Pemerintah
ini
diundangkan.(2)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)tidak
berlaku
untuk
Perda dan Perkada yang jangka waktupenyesuaiannya
ditentukan lain
berdasarkanketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 40
Peraturan pelaksanaan sebagai pedoman Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah yang ada sebelum Peraturan
Pemerintah
ini
diundangkan
dinyatakan
masih
tetapberlaku
sepanjangtidak
bertentangan dengan ketentuanPeraturan Pemerintah ini.
Pasal 4 1
Peraturan Pemerintah
ini
mulai
berlaku pada
tanggal diundangkan.PRES IDEN REPUBLIK INDONESIA
Agar
setiap pengundangan penempatannya Indonesia.-27
-orang
mengetahuinya,
memerintahkanPeraturan Pemerintah
ini
dengandalam
Lembaran Negara
RepublikDitetapkan di Jakarta
pada tanggal 2 Februari 2O2l
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
JOKO WIDODO Diundangkan di
Jakarta
pada tanggal 2
Februari2O2I
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
YASONNA H. LAOLY
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2O2I NOMOR 16
Salinan sesuai dengan aslinya KEMENTERIAN SEKRETAzuAT NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
Deputi Bidang Perundang-undangan dan
istrasi
Hukum,ttd
PRES IDEN
REPUBLIK INDONESIA
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR
6
TAHUN 2O2ITENTANG
PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA DI DAERAH
I.
UMUMUndang-Undang
Nomor
11
Tahun
2O2O
tentang
Cipta
Kerja (Undang-Undang Cipta Kerja) diundangkan dalam rangka mendukung ciptakerja
yang
memerlukan
penyesuaianberbagai
aspek pengaturan
yangberkaitan
dengan kemudahan,perlindungan, dan
pemberdayaan koperasidan usaha mikro, kecil, dan
menengah, peningkatan ekosistem investasi,dan
percepatan
proyek
strategis nasional,
termasuk
peningkatanperlindungan kesejahteraan pekerja.
Dalam rangka meningkatkan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha, Undang-Undang Cipta Kerja telah memperbarui beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun
2074 tentang Pemerintahan Daerah yangdiarahkan
untuk
memperkuat perandan komitmen
pemerintahan daerah dalam rangka Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah sesuai denganketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai
penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Penguatanperan
Pemerintah Daerahdalam
Undang-Undang
Cipta
Kerja antara
lain
diaturnya
kewajibangubernur/bupati/wali
kota untuk
memberikan pelayanan
PerizinanBerusaha
sesuai
dengan
ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, pelayananPerizinan Berusaha
di
daerah
yang
dilaksanakan oleh
DPMPTSP wajibmenggunakan Sistem OSS
yang
dikelola
oleh
Pemerintah
Pusat,
dan pemberian peluang bagi Pemerintah Daerahuntuk
mengembangkan sistempendukung pelaksanaan Sistem OSS sesuai dengan
norma,
standar, prosedur, dankriteria
yang ditetapkan Pemerintah Pusat.Guna
mengoptimalkan pelaksanaankebijakan
Perizinan Berusaha didaerah,
Peraturan
Pemerintah
ini
memuat
pengaturan
kewenangan PenyelenggaraanPerizinan Berusaha
di
Daerah, pelaksanaan
PerizinanBerusaha
di
daerah,
Perdadan
Perkada mengenaiPerizinan
Berusaha, pelaporan Penyelenggaraan Perizinan Berusahadi
Daerah, pembinaan dan pengawasanserta
pendanaan.
Di
samping
itu,
untuk
mengefektifkan Penyelenggaraale Perizinan Berusahadi
Daerah sesuai semangat Undang-Undang Cipta Kerja, Peraturan Pemerintahini juga
mempertegas ketentuanpemberian
sanksi administratif kepada gubernur/bupati/wali
kota
yangtidak
memberikan pelayanan Perizinan Berusahaatau tidak
menggunakanPRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-2-Berdasarkan Peraturan Pemerintah ini, DPMPISP provinsi dan DPMPTSP
kabupatenlkota dibentuk
untuk
menyelenggarakantugas
dan
fungsiUrusan Pemerintahan
di
bidang penanaman modal,tidak merumpun
ataudirumpunkan dengan Urusan
Pemerintahanyang
menjadi
kewenangan daerah lainnya, dengan tujuanuntuk
mengoptimalisasikan Penyelenggaraan Perizinan Berusahadi
Daerah.
DPMPTSPdi
seluruh daerah
diharapkanmampu
menyelenggarakan manajemen Perrzinan Berusaha secara cepat,mudah,
terintegrasi,
transparan, efisien,
efektif,
dan
akuntabel
sesuaidengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
mengenai penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, yang pada gilirannyamemberikan
kepastian
hukum,
meningkatkan ekosistem investasi
dankegiatan berusaha
serta
menjaga keberlangsungan
kinerja
pelayananPerizinan
Berusaha
di
daerah
sesuai dengan
tujuan
dan
maksuddiundangkannya Undang-Undang Cipta Kerja.
II.
PASAL DEMI PASALPasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2)
Kewenangan Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Pusat
dalam
penyelenggaraanPerizinan Berusaha
sesuai
dengan Undang-Undang Cipta Kerj a.Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESI.A
-3-Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Ayat (2)Kewenangan
Pemerintah
Daerah
kabupatenlkota
dan PemerintahPusat dalam
penyelenggaraan Perizinan Berusaha sesuai dengan Undang-Undang Cipta Kerja.6
Cukup jelas.
7
Dalam rangka optimalisasi
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha diDaerah,
DPMP|SP
provinsi
dan
DPMFTSP kabupaten/kota
menyelenggarakan tugas dan fungsi Urusan Pemerintahan
di
bidangpenanaman
modal,
tidak
merumpun
atau
dirumpunkan
dengan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah lainnya.8 Cukup jelas. 9 Cukup jelas. 10 Cukup jelas. 11 Cukup jelas.
t2
Cukup jelas. 13 Cukup jelas.I4
Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2)Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
-4-Ayat (2)Jenis
retribusi
Perizrnan Berusaha tertentu meliputi:a.
retribusi
Persetujuan Bangunan Gedung;b.
retribusi
Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol;c.
retribusi lzinTrayek;
dand.
retribusi
Izin Usaha Perikanan.Yang dimaksud dengan "peraturan perundang-undangan" adalah
peraturan
perundang-undanganmengenai
pajak
daerah
dan retribusi daerah dalam rangka mendukung kemudahan berusaha dan layanan daerah.Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (a) Cukup jelas. 15 Cukup jelas. 16 Cukup jelas.
t7
Cukup jelas. 18 Cukup jelas. T9 Cukup jelas. 20 Cukup jelas.2t
Cukup jelas. Pasal22PRESIDEN REPUBLIK TNDONESIA
-5
Pasal22 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2)Huruf
aKantor depan paling sedikit
terdiri
atas loket penerimaan,loket
penyerahan,
loket
pembayaran, ruang/tempat
iayanan informasi, ruang/tempat layanan pengaduan, dan ruang layanan konsultasi.
Huruf
bKantor belakang paling sedikit
terdiri
atas ruang rapat dan ruang pemrosesan.Huruf
cRuang pendukung paling sedikit
terdiri
atas ruang tunggu,ruang
laktasi,
ruang penyandang disabilitas dan manula,ruang
arsip dan
perpustakaan, tempat ibadah,
tempatparkir,
dan toilet.Huruf
dAlat/fasilitas
pendukung
paling sedikit
terdiri
atas seragampelayanan,
formulir,
telepon, mesin
faksimili,perangkat komputer,
printer,
alat
pemindai
(scanner),mesin
antrian,
alat
pengukur
kepuasanlayanan,
kotak pengaduan,mesin fotokopi, kamera
pengawas, koneksiinternet,
laman/situs
web, surat elektronik, alat penyediadaya
listrik
atau
uninterntptible
pouer
supplg,
alat pemadam kebakaran, pendingin ruangan, televisi, brosur,banner, dan
petunjuk
arah lokasi. Ayat (3)Cukup jelas. Ayat (a)
Cukup jelas.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
-6-Pasal 23 Cukup jelas Pasal24 Cukup jelas Pasal 25 Pasal 26 Cukup jelas Pasal2T Cukup jelas Pasal 28 Ayat (1) Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas.Yang dimaksud dengan "tambahan penghasilan pegawai
kepadaaparatur
sipil
negara"
adalah
tambahan
penghasilan
pegawai berdasarkan beban kerja dan target investasi yangdiberikan
kepadaaparatur
sipil
negara yang dibebani pekerjaanuntuk
menyelesaikantugas yang
dinilai
melampaui beban
kerja
normal sesuai
denganketentuan
peraturan
perundang-undanganmengenai
pengelolaan keuangan daerah.Hubungan kerja
DPMPISPprovinsi
dengan perangkat daerah provinsi dan hubungan kerja DPMPTSPkabupatenlkota
denganperangkat
daerah kabupaten/kota
yang
dilakukan
secarafungsional
dan
koordinatif adalah sinergitas hubungan
kerjaantara
DPMPTSP dan perangkat daerahlainnya
sesuai dengan kewenangan, tugas, dan fungsinya masing-masinguntuk
salingmendukung
dan
melengkapi dalam rangka percepatan
danoptimalisasi
Penyelenggaraan PerrzinanBerusaha
di
Daerahuntuk
mewujudkan kepuasan masyarakat.PRESIDEN
REPUBUK INDONESTA
Pasal 30 Ayat
(i)
Hubungan
kerja
DPMPTSP
provinsi dengan
DPMPTSPkabupatenlkota
yang
dilakukan
secara fungsional
dankoordinatif
adalah sinergitas hubungankerja
antara DpMpTSpprovinsi
dan
DPMPTSP
kabupaten/kota
sesuai
dengan kewenangan, tugas, dan fungsinya masing-masinguntuk
salingmendukung
dan
melengkapi dalam rangka percepatan
danoptimalisasi
PenyelenggaraanPerizinan Berusaha
di
Daerahuntuk
mewujudkan kepuasan masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3)Yang dimaksud dengan "peraturan perundang-undangan" adalah
peraturan
perundang-undangan
mengenai
penyelenggaraan penataan ruang. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 36PRES IDEN REPUBLIK INDONESIA
-8-Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal 36 Cukup jelas. 37 Cukup jelas. 38 Cukup jelas. 39 Cukup jelas. 40 Cukup jelas. +1 Cukup jelas.