• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

1

Kepala Dinas

Bidang Pemberdayaan Perempuan

Bidang Perlindungan Hak Perempuan,

Bidang Perlindungan & Tumbuh Kembang Anak Sekretariat

Bidang Partisipasi Masyarakat dan data

Seksi Pengarusutamaan Gender;

Seksi Ketahanan Keluarga Seksi Kualitas Hidup Perempuan;

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Seksi Kualitas Hidup Perempuan merupakan salah satu subbagian di Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau. Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau dibentuk berdasarkan Perda Nomor 04 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah Provinsi Riau. Berdasarkan Peraturan Gubernur Riau Nomor 72 tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi, Serta Tatakerjadinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau menjelaskan bahwa Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau terdiri atas 1 sekretariat dan 4 (empat) bidang yaitu : Bidang Pemberdayaan Perempuan, Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Bidang Perlindungan dan Tumbuh Kembang Anak, Bidang Partisipasi Masyarakat dan data.

(2)

2

Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau memiliki visi yaitu “Terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender, terlindunginya hak-hak perempuan dan anak”. Misi Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau adalah :

1. Mewujudkan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan

2. Mewujudkan upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari segala tindakan kekerasan

3. Mewujudkankan peran serta masyarakat dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak

4. Mewujudkan Kapasitas Pengarustamaan Gender (PUG) menuju Keadilan dan Kesetaraan Gender

Berdasarkan Peraturan Gubernur Riau Nomor 72 tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi, Serta Tatakerja Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau menjelaskan Seksi Kualitas Hidup Perempuan mempunyai tugas sebagi berikut:

1. merencanakan program/kegiatan dan penganggaran pada Seksi Kualitas Hidup Perempuan;

2. membagi tugas, membimbing, memeriksa dan menilai hasil pelaksanaan tugas bawahan di lingkungan Seksi Kualitas Hidup Perempuan;

3. menyiapkan bahan perumusan pelaksanaan kebijakan kualitas hidup perempuan;

4. melaksanakan forum koordinasi penyusunan pelaksanaan kebijakan kualitas hidup perempuan;

(3)

3

5. melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan kualitas hidup perempuan;

6. melaksanakan fasilitasi, sosialisasi, distribusi dan advokasi kebijakan kualitas hidup perempuan;

7. melaksanakan penguatan kelembagaan dan jejaring kualitas hidup perempuan;

8. melaksanakan pemantauan penerapan kebijakan kualitas hidup perempuan;

9. melakukan pemantauan, evaluasi dan membuat laporan pelaksanaan tugas dan kegiatan pada Seksi Kualitas Hidup Perempuan; dan

10. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan atasan sesuai tugas dan fungsinya.

Untuk mengurus uraian tugas seperti yang tertera diatas khusnya yang terkait dengan pemantauan penerapan kebijakan maka diperlukan SOP dan format pemantauan. Data kebijakan yang lengkap dan akurat sangat diperlukan untuk mempercepat proses pencapaian dampak kebijakan dan mempercepat responsifitas terhadap kendala kebijakan.

Tupoksi ini sudah berjalan, namun masih belum optimal pada proses manajemen kerjanya, karena beberapa hal sebagai berikut:

1. Belum ada SOP Pemantauan 2. Belum ada format pemantauan

3. Masih redahnya pemahaman SDM terkait pemantauan 4. Keterbatasan kuantitas dan kualitas pegawai Seksi Kualitas

Hidup Perempuan

(4)

4

Kebijakan Kualitas Hidup Perempuan menjadi salah satu prioriras kebijakan Nasional. Hal itu didorong oleh beberapa peraturan antara lain :

1. Kepmen Pemberdayaan Perempuan No.

58/SK/MENEG.PP/XII/2004 tanggal 30 Desember 2004 Tentang Kebijakan dan Strategi Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP)

2. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan (PKHP)

3. Permendagri Nomor 26 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelaksanaan Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera di Daerah

4. Kepmenneg Pemberdayaan Perempuan RI Nomor 41/KEP/MENEG.PP/VIII/2007 Tentang Pedoman Umum Revitalisasi Program Terpadu Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera.

Kebijakan atas upaya peningkatan kualitas hidup perempuan merupakan upaya peningkatan produktivitas perempuan dan pengurangan beban keluarga miskin terhadap beban biaya pendidikan dan kesehatan dalam rangka otonomi daerah. Salah satunya pemerintah pusat melakukan fasilitasi dan advokasi kepada pemerintah daerah untuk mengembangkan suatu model desa/kelurahan yang mencerminkan upaya jaminan sosial ekonomi bagi keluarga miskin, khususnya pada perempuan dan anak melalui Model Desa Prima.

Model “Desa Prima” (Perempuan Indonesia Maju Mandiri) atau “Desa Mandiri” yaitu suatu model yang melibatkan seluruh masyarakat

(5)

5 Penduduk Miskin Perempuan Miskin Perempuan tidak Miskin Kesehatan Pendidikan Usaha

Pening

katan

Kesejah

teraan

K

K

G

Partisipasi

m

a

s

y

a

r

a

k

a

t

untuk ikut membangun desa, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan sekaligus mengentaskan kemiskinan desa melalui subsidi silang antar kelompok masyarakat yang berekonomi baik kepada masyarakat yang kurang beruntung. Upaya ini dimaksudkan untuk mengurangi beban keluarga miskin dalam biaya kesehatan dan pendidikan karena sampai saat ini kedua hal tersebut paling dirasakan sangat membebani kehidupan masyarakat miskin.

Gambar.1.1 Pola Pikir Model Desa Prima

Pengembangan model Desa Prima berlandaskan pada prinsip masyarakat membangun, artinya dalam pelaksanaannya pengembangan model desa prima akan bertumpu pada kekuatan masyarakat itu sendiri, dan dilaksanakan melalui proses yang sesuai dengan dinamika masyarakat itu sendiri, untuk mencapai tujuan dengan kesepakatan masyarakat bersama. Dengan menyadari keragaman sosial budaya masyarakat, maka pengembangan Desa Prima sepenuhnya diserahkan pada komitmen masyarakat sendiri. Kriteria Desa Prima yaitu

(6)

6

1. Desa/kelurahan yang mempunyai penduduk miskin (Pra Ks dan KS 1) relatif seimbang dengan penduduk cukup tinggi (10%)

2. Secara geografis tertinggi, tidak meiliki atau belum dapat memanfaatkan sumber daya alam, akses terbatas,

3. Secara ekonomis pendapatan perkapita pertahun dibawah standar minimum, tidak memiliki akses terhadap pekerjaan dan termasuk daerah desa miskin

4. Telah disepakati bersama untuk ditunjuk oleh pemerintah provinsi/kabupaten sebagai lokasi Desa Prima dengan surat keputusan.

Tugas dan fungsi terkait pelaksanaan Desa Prima melekat pada tugas dan fungsi Kepala Seksi Kualitas Hidup Perempuan sebagaimana tertera dalam Peraturan Gubernur Riau Nomor 72 tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi, Serta Tatakerja Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau menjelaskan Seksi Kualitas Hidup Perempuan. Peraturan Gubernur tersebut menjelaskan bahwa salah satu Rincian Tugas Seksi Kualitas Hidup Perempuan adalah melaksanakan pemantauan penerapan kebijakan kualitas hidup perempuan.

Pemantauan adalah prosedur penilaian yang secara deskriptif dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan/atau mengukur pengaruh dari kegiatan yang sedang berjalan. Monitoring adalah suatu kegiatan observasi yang berlangsung terus menerus untuk memastikan dan mengendalikan keserasian pelaksanaan program dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Pemantauan harus dilakukan secara berkala dengan melibatkan lintas sektor, untuk memastikan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh masing-masing sektor/lembaga terkait dapat bersinergi seperti yang diharapkan.

(7)

7

Biasanya Institusi atau lembaga pelaksana kegiatan lebih mengandalkan institusi penyandang dana untuk melaksanakan monitoring sekaligus evaluasi. Jadi, asas desentralisasi belum sepenuhnya dipahami. Disamping itu, tim pemantau yang diharapkan dapat sekaligus bertindak sebagai peer review tidak dapat terpenuhi, oleh karena substansi kegiatan seringkali tidak serasi dengan kepakaran tim yang jumlahnya terbatas. Akibatnya, alokasi dana yang tersedia pada umumnya hanya memungkinkan aktivitas monitoring dan evaluasi menyentuh sisi administrasi saja, namun belum sisi substansinya. Apalagi jika monitoring dan evaluasi dimaksimalkan dengan mencakup sisi manfaat dan dampak kegiatan itu sendiri. Hal yang sama juga terjadi dalam Desa Prima yang diterapkan. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk format pemantauan dan SOP monitoring dan evaluasi.

Identifikasi Permasalahan

1. Analisa strategis lingkungan internal dan ekternal 1.1. Analisa strategis lingkungan internal

a. Belum ada SOP Pemantauan b. Belum ada format pemantauan

c. Masih redahnya pemahaman SDM terkait pemantauan

d. Keterbatasan kuantitas dan kualitas pegawai Seksi Kualitas Hidup Perempuan

e. Keterbatasan kuantitas dan kualitas tim pendampingan

1.2. Permasalahan utama

Permasalahan utama pada proyek perubahan ini adalah: 1. Proses manajemen kegiatan yang dinilai belum optimal

khusunya pada tahapan pemantauan, sementara pemantauan adalah tahapan yang sangat penting sebagai salah satu bagian dalam manajemen.

(8)

8

2. Indikator kinerja yang diperlukan sukar ditemukan. Kalaupun ditemukan, masih sulit untuk diukur, dibebani lagi oleh ketidak cukupan dana pendukung, maka aktivitas tersebut acapkali tidak dilaksanakan secara disiplin dan konsekuen.

3. Faktor lain yang turut tereduksi nilai pelaksanaan monitoring dan evaluasi adalah tumpang tindihnya berbagai program kegiatan.

B. AREA DAN FOKUS PROYEK PERUBAHAN

1. Deskripsi Singkat Tugas dan Fungsi Unit Kerja

Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau merupakan Dinas yang dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Riau Nomor 72 tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi, Serta Tatakerja Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau. Salah satu seksi adalah Seksi Kualitas Hidup Perempuan dengan uraian tugas sebagai berikut :

1. merencanakan program/kegiatan dan penganggaran pada Seksi Kualitas Hidup Perempuan;

2. membagi tugas, membimbing, memeriksa dan menilai hasil pelaksanaan tugas bawahan di lingkungan Seksi Kualitas Hidup Perempuan;

3. menyiapkan bahan perumusan pelaksanaankebijakan kualitas hidup perempuan;

4. melaksanakan forum koordinasi penyusunan pelaksanaan kebijakan kualitas hidup perempuan;

5. melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan kualitas hidup perempuan;

(9)

9

6. melaksanakan fasilitasi, sosialisasi, distribusi dan advokasikebijakan kualitas hidup perempuan;

7. melaksanakan penguatan kelembagaan dan jejaring kualitas hidup perempuan;

8. melaksanakan pemantauan penerapan kebijakan kualitas hidup perempuan;

9. melakukan pemantauan, evaluasi dan membuat laporan pelaksanaan tugas dan kegiatan pada Seksi Kualitas Hidup Perempuan; dan

10. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan atasan sesuai tugas dan fungsinya.

Berdasarkan tugas dan fungsi tersbut maka area dan fokus proyek perubahan meliputi proses manjemen, indikator pemantauan, dan prosedur pemantauan.

2. Area Organisasi Yang Bermasalah

 Melaksanakan pemantauan penerapan kebijakan kualitas hidup perempuan

 Belum optimalnya pemantauan pemnerapan kebijakan hidup perempuan

 Belum sempurnanya sistem pelaporan pemantauan dan evaluasi terpadu tentang kondisi desa prima

3. Area Organisasi Yang Menjadi Area Perubahan

 Pelaksanaan penyusunan SOP monitoring dan evaluasi dan format pemantauan

 Aspek perubahannya adalah administrasi dan manajemen

C. TUJUAN DAN MANFAAT PROYEK PERUBAHAN 1. TUJUAN PROYEK PERUBAHAN

(10)

10

Berdasarkan Latar Belakang Uraian Tugas dan Fungsi pada Sub Bagian Akuntabilitas Kinerja maka tujuan yang akan dicapai adalah:

 Memudahkan dalam memantau desa prima  Tersedianya Data Desa prima yang update.

 Memudahkan dalam mengumpukan data capaian Desa Prima;  Tersedianya format untuk pemantauan

2. MANFAAT PROYEK PERUBAHAN

Adapun manfaat proyek perubahan adalah sebagai berikut: 1. Terpantaunya Pelaksanaan kegiatan Desa Prima

2. Peningkatan dan perbaikan terhadap Desa Prima bisa lebih cepat dilakukan

3. Memudahkan Tim untuk merespon apabila ada kendala dan hambatan pelaksanaan desa prima

D. RUANG LINGKUP PROYEK PERUBAHAN

Ruang lingkup proyek perubahan yang dilakukan adalah Proses Monitoring dan Evaluasi dan FGD stakeholder yang terkait Desa Prima.

E. KRITERIA KEBERHASILAN

Dalam proyek perubahan ini ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan proyek perubahan diantaranya :

NO KRITERIA KEBERHASILAN INDIKATOR (OUTPUT)

1.

2.

Tersedianya SOP monitoring dan evaluasi

Tersedianya format

pemantauan

Dokumen SOP monitoring dan evaluasi

Dokumen Format Pemantauan Keterlibatan Tim pendampingan

(11)

11 NO KRITERIA KEBERHASILAN INDIKATOR (OUTPUT)

3.

Terlaksananya FGD terkait pemantauan

dalam penyusunan SOP dan format pemantauan

BAB II

DESKRIPSI PROYEK PERUBAHAN A. OUTPUT KUNCI PROYEK PERUBAHAN

(12)

12

Adapun output kunci pada proyek perubahan terdiri dari beberapa tahapan diantaranya tahapan jangka pendek dan tahapan jangka panjang dengan uraian sebagai berikut

NO TAHAPAN OUTPUT DESKRIPSI

1 2 Jangka Pendek Jangka Panjang Tersedianya SOP monitoring dan evaluasi serta format pemantauan Meningkatnya kesejahteraan masyarakat

SOP monitoring dan evaluasi terdiri informasi Uraian Prosedur , Pelaksana, waktu dan output. Sedangkan format pemantauan berupa kusioner tentang evaluasi monitoring optimalisasi desa prima.

(13)

13 B. PENTAHAPAN PROYEK PERUBAHAN

1. Pentahapan Milestone Proyek Perubahan

Untuk terlaksananya proyek perubahan ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

No Tahapan Proses Pencapaian Tahapan

Waktu Output / Hasil

A TAHAP PERSIAPAN

1 Melapor kepada kepala Dinas dan mentor tentang rencana pelaksanaan proyek perubahan Mendiskusikan hasil seminar rancangan proyek perubahan dan implementasinya Minggu ke 4 bulan Mei Kepala Dinas dan mentor mendukung terhadap proyek perubahan Hasil : Dokumentasi 2 Membentuk tim kerja untuk melaksanakan proyek perubahan

Menyusun draft SK Minggu ke 4 bulan Mei Draft SK tim 3 Rapat persiapan pelaksanaan proyek perubahan Rapat dilaksanakan di ruang rapat Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau Minggu ke 4 bulan Mei Notulen B TAHAP PELAKSANAAN 1 Permintaan kesedian tenaga Pendampingan untuk mengikuti proyek perubahan Membuat surat permintaan kesedian tenaga pendamping Minggu ke 4 bulan Mei Surat permintaan kesedian tenaga pendampingan 2 Melaksanakan koordinasi dengan Diskusi tentang proyek perubahan Minggu pertama Dokumentasi

(14)

14 No Tahapan Proses Pencapaian

Tahapan

Waktu Output / Hasil

dinas terkait tentang proyek perubahan

bulan Juni

3 Rapat dengan tim kerja untuk

kegiatan selanjutnya

Rapat dilaksanakan di ruang rapat Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Minggu pertama bulan Juni Notulen 4 Koordinasi dengan tim pendampingan terkait penyusunan SOP dan Format

Diskusi tentang proyek perubahan Minggu ke 2 bulan Juni Dokumentasi 5 Membuat kesepakatan dengan tim pendampingan terkait penyusunan SOP dan Format

Kesepakatan

Pembuatan SOP dan Format Minggu ke 2 bulan Juni Dokumentasi 6 Rapat persiapan pelaksanaan FGD Rapat dilaksanakan di ruang rapat Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau Minggu ke 3 bulan Juni Dokumentasi 7 Permintaan peserta pelaksanaan FGD Membuat surat permintaan peserta Minggu ke 3 bulan Juni Surat permintaan peserta 8 Melaksanakan (FGD) penyusunan SOP dan Format

Pelatihan (FGD) dilaksanakan di ruang rapat Dinas Pemberdayaan Minggu ke 4 bulan Juni Peserta menyusun dan menggunakan SOP dan format

(15)

15 No Tahapan Proses Pencapaian

Tahapan

Waktu Output / Hasil

Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau pemantauan 9 Permintaan kepada tim pendampingan untuk melakukan pemantauan Proses pemantauan desa prima Minggu ke 4 bulan Juni Diterimanya data Desa Prima oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau 10 Verifikasi capaian data oleh tim kerja

Proses verifikasi capaian data oleh tim kerja

Minggu pertama bulan Juli

Data terverifikasi

C TAHAP EVALUASI & PELAPORAN

1 Monitoring dan evaluasi Melakukan monitoring dan evaluasi Minggu ke 3 bulan Juli Teridentifikasinya permasalahan dan hambatan yang ditemui dalam menyusun proyek perubahan 2 Penyusunan laporan pelaksanaan Pembuatan laporan dan konsultasi ke mentor dan coach

Minggu ke 3 bulan Juli Laporan hasil proyek perubahan

(16)

16 MILESTONE

No Kegiatan Mei Juni Juli Ket

I II III IV I II III IV I II III IV A TAHAP PERSIAPAN

1

Melapor kepada kepala dinas dan mentor tentang rencana pelaksanaan proyek perubahan

2 Membentuk tim kerja untuk

melaksanakan proyek perubahan

3 Rapat persiapan pelaksanaan

proyek perubahan

B TAHAP PELAKSANAAN

1

Permintaan kesedian tenaga Pendampingan untuk mengikuti proyek perubahan

2

Melaksanakan koordinasi dengan dinas terkait tentang proyek perubahan

3 Rapat dengan tim kerja untuk

kegiatan selanjutnya

4

Koordinasi dengan tim pendampingan terkait

penyusunan SOP dan Format

5

Membuat kesepakatan dengan tim pendampingan terkait penyusunan SOP dan Format

6 Rapat persiapan pelaksanaan

FGD

7 Permintaan peserta pelaksanaan

FGD

8 Melaksanakan (FGD)

(17)

17

9

Permintaan kepada tim

pendampingan untuk melakukan

pemantauan

10 Verifikasi capaian data oleh tim

kerja

C TAHAP EVALUASI &

PELAPORAN

1 Monitoring dan evaluasi

2 Penyusunan laporan

pelaksanaan

2. Rencana Aksi

Rencana aksi yang akan dilakukan dalam melaksanakan Proyek Perubahan ini adalah sebagai berikut :

a. Membuat kesepakatan area perubahan dengan cara berkonsultasi dengan mentor, coach dan stakeholder selanjutnya menentukan area perubahan b. Membuat rencana kegiatan perubahan

c. Melaksanakan Benchmarking to best practice di Bali d. Menyusun rancangan proyek perubahan

e. Pelaksanaan kegiatan melalui sosialisasi dalam bentuk FGD untuk menyusun SOP dan format pemantauan

f. Pelaksanaan pemantauan oleh tim pelaksana g. Evaluasi dan Pelaporan

(18)

18 NO PIHAK YANG TERKAIT DALAM PROYEK PERUBAHAN

PERANAN TIM DALAM PROYEK PERUBAHAN

1 Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan

Mentor dan penanggung jawab dalam pelaksanaan proyek perubahan

2 Kepala Seksi Kualitas Hidup Perempuan

Pemimpin proyek perubahan

3. Tim Pendampingan sebagai penyusun dan pengguna format pemantauan

Membuat Format Pemantauan dan SOP

4. Staf Seksi Kualitas Hidup Perempuan

Membantu pelaksanaan dalam proyek perubahan

1. bertugas membantu ketua dalam Menyusun format pemantauan bersama tim pendampingan,

2. Membimbing/melatih tim

pendampingan,

3. Mengkoreksi data capaian desa prima

(19)

19

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan

Kepala Seksi Kualitas Hidup Perempuan dan staf

Tim Pendampingan sebagai penyusun dan pengguna format pemantauan

Masyarakat desa

(Perempuan), Dinas/Badan Lainnya seperti UMKM, Disperindag, Dinas Sosial, Koperasi, dan organisasi lainnya

D. STAKHOLDER PROYEK PERUBAHAN 1. Skema stakeholder (eksternal dan internal)

2. Peran dan pengaruh stakeholder

Proyek perubahan ini melibatkan Stakeholder internal diantaranya Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan, Kepala Seksi Kualitas Hidup Perempuan dan Staf Seksi Kualitas Hidup Perempuan. Berikut ini dijelaskan peran stakeholder sebagai berikut:

1. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan.

Sebagai Mentor dan penaggung jawab dalam pelaksanaan proyek perubahan 2. Kepala Seksi Kualitas Hidup Perempuan sebagai Pemimpin proyek

perubahan

3. Tim Pendampingan sebagai penyusun dan pengguna SOP dan Format pemantauan

4. Staf Seksi Kualitas Hidup Perempuan bertugas menyusun format pemantauan bersama tim pendampingan, membimbing/melatih tim pendampingan, dan mengoreksi data capaian desa prima .

5. Masyarakat desa (Khususnya perempuan) sebagai penerima kebijakan Desa Prima

(20)

20

6. Dinas/Badan Lainnya seperti UMKM, Disperindag, Dinas Sosial, Koperasi, dan organisasi lainnya sebagai penerima kebijakan Desa Prima sebagai instansi terkait

E. Faktor Kunci Keberhasilan Proyek Perubahan 1. Faktor kunci keberhasilan

Dalam pelaksanaan proyek perubahan ini ada beberapa faktor-faktor yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan proyek perubahan diantaranya :

NO FAKTOR INDIKATOR KEBERHASILAN

1

2

3

Terkumpulnya data Desa Prima yang lengkap

Terkumpulnya data capaian yang akurat

Tersedianya SOP monitoring dan Evaluasi

serta format

pemantauan

Data yang terkumpul harus lengkap.

Data yang terkumpul harus benar,tepat /diakui

Dokumen SOP Monitoring dan evaluasi serta format pemantauan yang disusun dengan keterlibatan tim pendamping

F. TARGET CAPAIAN PROYEK KINERJA

Outcome dan output dari Proyek Perubahan yang ingin dicapai

1. Output dari proyek perubahan yang ingin dicapai

Adapun output yang dicapai dalam area proyek perubahan ini adalah: 1. Tersedianya SOP monitoring dan Evaluasi

2. Tersedianya format pemantauan

3. Tersedianya data yang lengkap dan akurat akurat 4. Tersedianya data desa Prima

2. Outcome dari proyek perubahan

Sedangkan outcome yang dihasilkan adalah :

1. Peningkatan kualitas hidup perempuan melalui program ekonomi 2. Memudahkan Tim dalam memantau capaian Desa Prima

(21)

21

3. Terlaksananya tugas pokok dan fungsi seksi Kualitas Hidup Perempuan dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan

4. Mempercepat responsifitas terhadap hambatan dan kendala di lapangan

NO AREA

BERMASALAH

AREA PERUBAHAN YANG DIINGINKAN/ TARGET CAPAIAN OUTPUT 1 Belum optimalnya pemantau Desa Prima

Mewujudkan data capaian desa yang lengkap dan akurat Adanya data capaian yang lengkap dan akurat 2 Pemantauan Desa Prima masih belum tertata dan tersistematis

Terciptanya SOP monitoring dan evaluasi serta format pemantauan

Pemantauan berjalan secara efektif dan efisien.

(22)

22 BAB III

PELAKSANAAN PROYEK PERUBAHAN

A. CAPAIAN PROYEK PERUBAHAN

Untuk efektifitas, efisiensi pekerjaan seksi Kualitas Hidup Perempuan maka dilaksanakan optimalisasi pemantauan penerapan kebijakan terhadap desa prima untuk peningkatan kualitas hidup perempuan dalam bidang ekonomi. Optimalisasi dilakukan berupa 2 output proyek perubahan yaitu SOP Pemantauan dan Format Pemantauan.

Dalam proyek perubahan ini , desa prima tersebar di 12 Kabupaten/Kota di Provinsi Riau di pantau dengan menggunakan format pemantauan yang telah disediakan dan telah diuji coba ke 3 kabupaten/kota yaitu Siak, Meranti dan Dumai. Format pemantauan berupa kuisoner yang terdiri dari beberapa pertanyaan pokok meliputi:

1. Data Diri penerima Bantuan desa prima 2. Bentuk bantuan yang diterima

3. Dampak/hasil penerapan bantuan desa prima

4. Data dukungan lingkungan baik keluarga atau pihak lainnya 5. Komparatif program desa prima sebelum dan sesudah

Format Dokumen tersebut memudahkan dalam mengefektif dan mengefisienkan pemantauan desa prima sehingga urusan pemantauan mempunyai standar baku bagi pelaksana (tim pendampingan). Format yang seragam akan memudahkan bagi pengambil kebijakan untuk menentukan rekomendasi kebijakan selanjutnya.

Berdasarkan sampel penggunaan format pemantauan di 3 Kabupaten/Kota menunjukkan beberpaa hal yang dirangkup dalam tabel ringkasan pemantauan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Ringkasan Pemantauan Desa Prima

No Identitas Diri Bentuk Peningkatan keuntungan (Rp/hari) Waktu Dukungan Lingkungan Kendala Dampak Perubahan Keluarga Lainnya Siak

(23)

23 No Identitas Diri Bentuk Peningkatan keuntungan (Rp/hari) Waktu Dukungan Lingkungan Kendala Dampak Perubahan Keluarga Lainnya membuat kue Modal dan keahlian

2. Sri Ayu Peralatan

membuat kue 50.000 1 thn  - - Peningkatan Modal dan keahlian 3. Merwanawati Pelatihan dan modal membuat kue 50.000 1 thn  RT/RW - Teman/ kelompok kerja 4. Herlinda Pelatihan menjahit 100.000 2 thn  - - Peningkatan keahlian 5. Isdiwati Peningkatan Modal 50.000 1 thn  - - Peningkatan Modal dan keahlian 6. Lismawati Pelatihan dan modal membuat kue 50.000 1 thn  - - Peningkatan keuntungan 7. Santi Peralatan membuat kue 25.000 1 thn  - - Peningkatan keuntungan 8. Sulastri Peningkatan Modal 25.000 1 thn  - - Peningkatan keuntungan 9. Arimis Peralatan membuat kue 25.000 1 thn  - - Peningkatan keuntungan 10. Merwana Peningkatan Modal 25.000 1 thn  - - Motivasi kewirausaha an 11. Sutiwi Peningkatan Modal 25.000 1 thn  - - Peningkatan manajemen keuangan Dumai

12. Eka Sari Pelatihan

dan modal

menjahit

100.000 1.5 thn  - - Peningkatan

(24)

24 No Identitas Diri Bentuk Peningkatan keuntungan (Rp/hari) Waktu Dukungan Lingkungan Kendala Dampak Perubahan Keluarga Lainnya 13. Wati Pemberian Modal 50.000 1 thn  - - Peningkatan Modal 14. Suwarti Pelatihan menjahit 100.000 2 thn  - - Peningkatan keahlian 15. Misdawati Pelatihan menjahit 70.000 6 bulan  Koperas i - Peningkatan keahlian dan pemasaran 16. Imaymuroh Pelatihan dan modal menjahit 100.000 1 thn  Koperas i - Memiliki mesin jahit 17. Syafira Pelatihan menjahit 100.000 1 thn  Koperas i - Memiliki mesin jahit dan keahlian 18. Lisa Pemberian Modal 80.000 6 bulan  - - Peningkatan Modal Meranti 19. Dahlia Peralatan membuat kue 50.000 1 thn  - - Peningkatan keahlian dan kepemilikan alat 20. Juwita Pemberian modal membuat kue 20.000 1 thn  - Perlu tambahan modal Memiliki alat pembuat kue 21. Pelatihan dan modal membuat kue 20.000 1 thn  - - Peningkatan keahlian dan kepemilikan alat 22. Salbiah Pelatihan memasak dan menjahit 100.000 2 thn  Koperas i - Peningkatan keahlian dan kepemilikan alat

23. Saf Modal 100.000 1 thn  - - Peningkatan

keuntungan 24. Noriana Pelatihan dan modal 25.000 1 thn  Koperas i - Peningkatan keahlian dan

(25)

25 No Identitas Diri Bentuk Peningkatan keuntungan (Rp/hari) Waktu Dukungan Lingkungan Kendala Dampak Perubahan Keluarga Lainnya membuat kue kepemilikan alat 25. Mastuti Yurnani Peralatan membuat kue 50.000 1 thn  - - Peningkatan keahlian dan kepemilikan alat 26. Jumaiah Peralatan membuat kue 50.000 1 thn  - - Motivasi kewirausaha an 27. Juli Peralatan membuat kue dan modal 25.000 1 thn  - - Peningkatan keahlian dan kepemilikan alat

28. Astuti Modal dan

alat jahit 50.000 1 thn  - - Motivasi kewirausaha an 29. Desmawati Pelatihan menjahit 50.000 1 thn  - - Peningkatan keahlian 30. Yuli Pelatihan dan modal menjahit 100.000 1.5 thn  - - Peningkatan Modal

Dokumen yang sudah diisi oleh penerima bantuan program desa prima tersebut dihimpun kembali oleh pegawai seksi Kualitas Hidup Perempuan dalam map file. Dalam penyusunan file Desa Prima dibedakan berdasarkan Kabupaten/Kota. Kabupaten Meranti map warna hijau, Kabupaten Siak map warna kuning, dan Kota Dumai di beri warna biru. File dalam map disusun berdasarkan urutan waktu pemantauan. Apabila data pemantauan menunjukkan perlunya penanganan khusus maka data dalam map tersebut dipisahkan kedalam map tindak lanjut.

Map tindak lanjut berisi data pemantauan yang memerlukan penanganan khusus misalnya bamtuan yang diberikan dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak terjadi peningkatan aset, tidak ada perubahan kondisi antara

(26)

26

sebelum dan sesudah dilaksanakan desa prima atau ada kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan desa prima.

Selain format pemantauan, dilaksanakan juga penyusunan Standar Operasioanal Prosedur (SOP) terkait Monitoring dan Evaluasi Desa Prima. SOP ini disusun dengan melibakan stakeholder terkait sehingga SOP yang disusun sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. SOP yang tidak sesuai dengan kondisi akan hanya menjadi sebuah dokumen tanpa manfaat bagi kemajuan organisasi maka keterlibatan stakeholder sangat dibutuhkan.

(27)

27

(28)

28

B. KENDALA INTERAL DAN EKSTERNAL

Pada saat melaksanakan Proyek perubahan ini kendala yang yang dirasa oleh project leader adalah :

 Internal

Beban kerja rutin yang harus diselesaikan baik oleh pribadi sebagai leader maupun tim sehingga menyita waktu. Selain itu, kurangnya Sumber Daya Manusia yang ada menajdi kendala dalam pelaksanaan proyek perubahan ini. Sehingga tidak seluruh Kabupaten/Kota dapat dijadikan sampel untuk menguji coba format pemantauan.

 Eksternal

 Susahnya mendapatkan waktu dari masyarakat penerima bantuan desa prima. Sehingga beberapa kali terjadi penolakan.

 Data yang diisi oleh masyarakat tidak lengkap sehingga proses monitopring dan evalausi tidak lengkap. Misalnya tidak mengisi peningkatan keuntungan ataupun jika mengisi berupa data kualitatif seperti tidak menentunya kuntungan dan sebagainya

 Tempo waktu dua bulan pengumpulan data proyek perubahan cukup singkat dibandingkan lokasi kabupaten/kota yang tersebar dan banyak.

C. STRATEGI MENGATASI KENDALA

Strategi yang dilakukan untuk menghadapi kedala yang dihadapi pada saat pelaksanaan proyek perubahan :

1. Melakukan jam kerja tambahan (lembur) dengan tim

2. Melakukan komunikasi yang intensif kepada masyarakat dan tim monitoring

3. Memberikan pelatihan singkat bagi tim monitoring tentang kelengkapan data dan prosedur dalam SOP Monitoring Dan Evaluasi Desa Prima

(29)

29 BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Proyek Perubahan yang dilaksanakan dapat memaksimalkan proses kebijakan. Tahapan kebijakan meliputi perencanaan ,pelaksanaan , monitoring dan evaluasi. Namun biasanya hanya terfokus pada perencanaan dan pelaksanaan tetapi mengabaikan monitoring dan evaluasi. Proyek perubahan ini memfokuskan pada tahapan monitoring(pemantauan) dan evaluasi tersebut.

Pemantauan Desa Prima bertujuan untuk memastikan pelaskanaan berjalan sesuai dengan perencanaan, menemukan hambatan dan kendala dan mempercepat respon /penanggulanggan terhadap hambatan dan kendala yang ditemukan. Output proyek perubahan berupa format pemantauan dan SOP Monitoring dan Evaluasi pada Seksi Kualitas Hidup Perempuan .

Dokumen format pemantauan disusun dengan FGD stakeholder terkait dan menyesuaikan kebutuhan evaluasi. Format pemantauan berupa kuisoner yang terdiri dari beberapa pertanyaan pokok meliputiData Diri penerima Bantuan desa prima, Bentuk bantuan yang diterima, Dampak/hasil penerapan bantuan desa prima, Data dukungan lingkungan baik keluarga atau pihak lainnya, Komparatif program desa prima sebelum dan sesudah. Selain itu, proyek perubahan menghasilkan SOP pelaksanaan monitoring dan evaluasi.

Pelaksanaan proyek perubahan ini memerlukan dukungan dari pimpinan langsung baik kepala dinas, kepala bidang, mentor, staf, dan

(30)

30

memerlukan komitmen yang tinggi serta kedisiplinan yang baik dari tim untuk mencapai hasil yang diharapkan.

B. REKOMENDASI

Pelaksanaan proyek perubahan ini dapat terlaksana dengan baik apabila seluruh stakeholder konsisten. Pekembangan konsep monitoring dan evaluasi dapat ditingkatkan melalui penggunaan tekhnologi. Misalnya dokumen format pemantauan dibuat sebuah aplikasi pengisian evaluasi berdasarkan format Pemantauan dan Standar Operasional Prosedur yang sudah di buat tersebut agar kegunaanya lebih mudah dan lebih efesien.

Pekanbaru, Juli 2017

Peserta Diklatpim Tingkat IV Angkatan I Tahun Anggaran 2017

Loly Febrina.

(31)

31 DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang No.5 Tahun 2014 Tentang Ap aratur Sipil Negara

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah 3. Kepmen Pemberdayaan Perempuan No. 58/SK/MENEG.PP/XII/2004

tanggal 30 Desember 2004 Tentang Kebijakan dan Strategi Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP)

4. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan (PKHP)

5. Permendagri Nomor 26 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelaksanaan Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera di Daerah

6. Kepmenneg Pemberdayaan Perempuan RI Nomor

41/KEP/MENEG.PP/VIII/2007 Tentang Pedoman Umum Revitalisasi Program Terpadu Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera.

7. Perda Nomor 04 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah Provinsi Riau

8. Peraturan Gubernur Riau Nomor 72 tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi, Serta Tatakerjadinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Riau

(32)

32 Lampiran I Lembar Kesepakatan

Lampiran II Formulir Project Chapter Lampiran III Laporan Benchmarking

Lampiran IV Kuisioner Pemantauan Desa Prima Lampiran V Canvas Model Inovasi

Gambar

Tabel 3.1 Ringkasan Pemantauan Desa Prima

Referensi

Dokumen terkait

3. Klik pada tombol next setelah memilih install. Pada license agreement klik next. Setelah tahap installasi selesai akan tampil window Creating a Profil dan secara

Sistem smart home dirancang dengan Pengembangan sistem kontrol dalam implementasinya, menggunakan modul NodeMCU V3 sebagai penghubung ke internet via wifi, modul, relay

menunjukkan bahwa pemberian EM4 menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada semua umur amatan, jumlah cabang produktif, dan jumlah polong per

Penelitian ini diarahkan pada identifikasi potensi keunggulan atau keunikan pada kawasan / area terminal tersebut untuk pembangunan pusat niaga, dari sekian banyak kepentingan

sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 (< 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian sesuai dengan model penelitian yang menyebutkan bahwa ada

Biaya bersama yang dikeluarkan dalam proses produksi produk bersama berbahan baku susu kambing meliputi biaya bahan baku langsung (susu kambing dan bibit kefir), biaya tenaga kerja

Dalam proses pengukuran bila cuaca hujan kegiatan pengukuran tidak bisa berjalan dengan maksimal bahkan cenderung terhenti karena lokasi dan jalan yang dilewati menjadi berat

Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Gubernur terkait dengan tugas dan fungsinya Berdasarkan Peraturan Gubernur Riau Nomor 95 Tahun 2016, tugas dan fungsi masing-masing unit