1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perdagangan atau perniagaan adalah kegiatan tukar menukar barang atau jasa. Pada masa awal sebelum uang ditemukan, tukar menukar barang disebut dengan sistem barter, yaitu menukar barang dengan barang. Pada masa modern seperti saat ini, sistem perdagangan dilakukan dengan kegiatan menukarkan barang dengan uang, artinya setiap barang dinilai dengan sejumlah uang. Pembeli akan menukar barang atau jasa dengan sejumlah uang yang diinginkan penjual (Wikipedia). Dalam kegiatan perekonomian, perdagangan merupakan salah satu usaha untuk dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi bagi masyarakat di suatu daerah atau negara.Perdagangan dapat dibedakan atas perdagangan besar dan perdagangan kecil yang dibedakan berdasarkan oleh ketersediaan modal dan jaringan distribusi produsen ke konsumen. Seiring dengan perkembangan zaman, di era globalisasi jenis perdagangan pun semakin beragam jenisnya. Ada pedagang keliling, pedagang asongan, pedagang kios, pedagang grosir, pedagang supermarket atau swalayan dan lain sebagainya.jenis - jenis pedagang tersebut dibedakan berdasarkan cara menawarkan barang dagangannya. Salah satu jenis perdagangan yang menjadi tren perkembangan bisnis saat ini adalah dengan sistem berdagang waralaba (franchise). Waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa (Peraturan Pemerintah No.42 Tahun 2007 tentang Waralaba). Investasi di bisnis waralaba tersebut dianggap sangat menguntungkan bagi pelaku usahanya karena tidak perlu repot untuk mengurusnya, karena biasanya
2
waralaba tersebut sudah memiliki sistem yang bagus. Begitu pun soal promosi, pelaku usaha bisnis waralaba tidak perlu mengeluarkan biaya promosi yang besar karena rata-rata waralaba yang diperjual-belikan itu sudah mempunyai merek sangat kuat. Istilahnya, kalau kita membeli satu waralaba, tinggal duduk, uang akan mengalir ke tangan pelaku usaha tersebut setiap hari. Namun biaya yang dikeluarkan untuk membeli usaha waralaba tersebut membutuhkan dana yang besar.
Salah satu jenis waralaba yang sangat diminati oleh pelaku usaha adalah jenis waralaba retail mini outlet atau minimarket. Bisnis waralaba ini telah berkembang pesat dan telah menjamur sampai ke berbagai daerah di Indonesia, contohnya adalah Indomaret yang berhasil meningkatkan jaringannya sampai 4500 lebih waralabanya.Hal ini membuktikan bahwa bisnis waralaba merupakan bisnis yang potensial dalam usaha bisnis.Keberadaan minimarket biasanya dimiliki oleh pemegang modal besar, dengan modal yang besar tersebut mereka melakukan penetrasi pasar hingga ke daerah yang paling kecil sekalipun seperti desa dan permukiman. Usaha pengelola minimarket tersebut memperlebar jangkauan bisnisnya hingga ke pelosok desa dan permukiman-permukiman, tentu saja menjadi angin segar bagi konsumen di wilayah tersebut karena konsumen akan memiliki banyak alternatif dalam berbelanja (www.krjogja.com). Barang apa saja tersedia di minimarket tersebut dengan harga yang semakin terjangkau bagi kalangan berkantong pas-pasan sekalipun. Penataannya yang bagus, ruangan ber-AC, bahkan siap melayani konsumen kapan saja alias buka 24 jam, merupakan alasan yang menjadikan masyarakat betah untuk berbelanja di minimarket tersebut. Di balik menjamurnya waralaba minimarket tersebut, ternyata menyisakan ketidakpuasan bagi usaha kecil yang bersebaran di sekitar lokasi minimarket, disaat yang sama ternyata di sana ada karang yang rapuh yang akan terhempas dan hancur diterjang gelombang ekspansi waralaba minimarket tersebut, karang itu adalah “toko kelontong” yang biasanya terdapat di lingkungan tempat tinggal atau permukiman penduduk (Ahmad Fadli, dalam Okezone.com). Karena alasan ini pulalah sebagian masyarakat di Dusun
3
Prayan Kulon, Soropadan, Condongcatur menolak pendirian bisnis waralaba minimarket (dalam hal ini,Alfamart) di wilayah tempat tinggal mereka. Masyarakat yang menolak pendirian gerai tersebut sebagian besar merupakan pengusaha kecil dalam bidang bisnis yang sama. Mereka khawatir sumber pendapatan mereka berkurang atau bahkan mengalami kebangkrutan, padahal warung atau toko rumahan ini telah menjadi andalan hidup bagi rumah tangga yang bersangkutan.Namun tidak sedikit pula pengusaha warung kecil tersebut berpasrah diri terhadap keadaan yang terjadi karena menurut mereka perkembangan zaman memanglah tidak dapat dihindari.Kreativitas dalam berusaha merupakan salah satu bentuk "perlawanan" terhadap serangan bisnis waralaba minimarket tersebut.Pengusaha kecil tersebut tentulah sangat berharap jika pemerintah daerah mampu bersikap selektif dalam memberikan izin minimarket waralaba.Perbedaan perspektif dari masyarakat itu pulalah yang mendorong dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui beragam perspektif masyarakat terhadap bisnis waralaba minimarket.
1.2. Rumusan Masalah
Perkembangan bisnis waralaba minimarket semakin berkembang dari tahun ke tahun.Hal ini ditunjukkan dengan makin maraknya pembangunan gerai - gerai minimarket di lingkungan permukiman baik di perkotaan maupun hingga pelosok perdesaan.Letak lokasi gerai minimarket yang berada di lingkungan masyarakat menjadi dilema tersendiri bagi pengusaha kecil warung, kios, dan toko kelontong yang sudah dahulu berdiri di lingkungan tersebut.Kehadiran minimarket tersebut menimbulkan beragam persepsi dikalangan masyarakat, baik yang pro maupun yang kontra terhadap keberadaan minimarket. Kekhawatiran akan menurunnya omset pendapatan bagi pengusaha kecil usaha sejenis merupakan salah satu alasan penyebab penolakan pendirian Gerai minimarket tersebut.Memperhatikan kondisi diatas, maka salah satu hal yang menarik untuk dikaji adalah dampak apa saja yang ditimbulkan
4
oleh keberadaan bisnis waralaba minimarket terhadap masyarakat di wilayah Dusun Prayan Kulon,Soropadan.
Dari uraian diatas, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini berusaha untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut :
• Bagaimana keragaman persepsi masyarakat terhadap bisnis waralaba minimarket di Dusun Prayan Kulon, Soropadan.
1.3. Tujuan Penelitian
Mengacu pada latar belakang dan rumusan masalah yang ada, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penolakan masyarakat Dusun Prayan Kulon, Soropadan terhadap pembangunan gerai minimarket waralaba. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah:
• Mendeskripsikankeragaman persepsi masyarakat terhadap bisnis waralaba minimarket di Dusun Prayan Kulon, Soropadan.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Pemenuhan salah satu syarat untuk kelulusan sarjana strata satu (S1) pada Program Studi Pembangunan Wilayah, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
2. Manfaat dalam mengembangkan ilmu Pembangunan Wilayah khususnya dalam penentuan lokasi suatu bidang usaha agar tidak terjadi tumpang tindih atau permasalahan terhadap masyarakat.
5
3. Manfaat praktis berupa sumbangan pemikiran dan pertimbangan bagi penentu kebijakan, khususnya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam perencanaan dan penataan ruang.
4. Menjadi sumber informasi dan referensi yang bermanfaat untuk penelitian - penelitian sejenis di masa yang akan datang.
1.5. Tinjauan Pustaka 1.5.1. Ilmu Geografi
Geografi merupakan studi mengenai persamaan dan perbedaan fenomena-fenomena geosfera yang meliputi atmosfer, lithosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer. Dalam studi ini dikenal adanya tiga pendekatan (approach) untuk mengungkapkan persamaan dan perbedaan unsur-unsur geosfera ini yaitu pendekatan spasial (spatial approach), pendekatan ekologi (ecological approach) dan pendekatan kompleks wilayah (regional complex approach).Salah satu ciri yang membedakan Geografi dengan ilmu lainnya adalah pendekatan keruangan yang mempelajari perbedaan mengenai sifat-sifat penting serta faktor-faktor apa saja yang menentukan dalam persepsi masyarakat.
Pendekatan dalam Ilmu Geografi menurut Bintarto (1979) dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Pendekatan Keruangan (spatial approach), yang dibedakan atas:
a. Ruang Fisik yaitu wadah dari berbagai sistem kehidupan dan komponen-komponen alam dan non alam.
b. Ruang sosial merupakan suatu sintesis dari dimensi persepsi dengan persepsi obyektif terhadap ruang.
6
2. Pendekatan Ekologis (ecological approach) yaitu pendekatan yang menekankan pada interaksi dari interdepedensi antar manusia dan antara manusia dengan lingkungan hidupnya.
3. Pendekatan Kompleks Kewilayahan yaitu pendekatan yang merupakan kombinasi dari pendekatan keruangan, ekologis, dan sejarah.
Menurut Bintarto (1988, dalam Lutfi.M 2012), penerapan maupun analisa karakteristik keruangan sangat berkaitan dengan beberapa unsur geografi, diantaranya: (1) Unsur jarak (distance), baik absolut maupun relatif, (2) Site dan situation, (3) aksesibilitas, (4) keterkaitan (interaction) dan (5) pola atau pattern. Unsur tersebut nantinya akan dapat berpengaruh terhadap keakraban, keseganan, rasa asing dan kesenjangan sosial (social gap) di lingkungan sekitar hidup manusia. Ilmu geografi sebagai ilmu murni dan ilmu terapan memiliki kaitan yang erat dengan pembangunan dan pengembangan wilayah.
Menurut Lutfi M (2012), dalam kajian ruang lingkup pembangunan wilayah mencakup beberapa bidang yaitu:
1. Social dan budaya yang meliputi kesejahteraan, partisipasi, pemerataan, pemberdayaan masyarakat.
2. Ekonomi, meliputi pertumbuhan ekonomi, investasi, manajemen sumberdaya.
3. Politik dan administrasi, meliputi kebijakan public, otonomi, desentralisasi, politik dan keamanan.
4. Pengaturan keruangan, yaitu tata ruang, kota-desa, pusat-pinggiran, maju-terbelakang.
7 1.5.2. Ilmu Geografi Ekonomi
Geografi ekonomi merupakan cabang geografi manusia yang bidang kajiannya berupa struktur keruangan aktivitas ekonomi. Titik berat kajiannya pada aspek keruangan struktur ekonomi masyarakat, termasuk di dalamnya bidang pertanian, industri, perdagangan, transportasi, jasa, dan sebagainya.Dalam analisisnya, faktor lingkungan alam ditinjau sebagai faktor pendukung dan penghambat struktur aktivitas ekonomi penduduk (Wikipedia). Dalam geografi ekonomi juga dikenal teori sarang lebah (Central Place Theory), yang artinya sebuah unsur dari teori lokasi yang menitikberatkan pada ukuran dan distribusi tempat sentral (permukiman) di dalam sebuah sistem (Anneahira.com).
Sektor Perdagangan merupakan salah satu bentuk dalam system perekonomian, yaitu pertukaran barang antara produsen dan konsumen baik secara individu maupun kelompok, untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam berbagai tingkat (antar daerah/antar Negara). Kinerja seluruh kegiatan bisnis yang terjadi pada aliran barang dan jasa darititik produksi sampai pada konsumen. Sistem perdagangan dapat dibedakan berdasarkan jenis dan sifatnya yaitu Tradisional atau modern, Real (komoditas/benda) atau maya (jasa perbankan), Bilateral atau multilateral. Adapun faktor – faktor utama terjadinya perdagangan antara lain:
1. Perbedaan keadaan fisik 2. Faktor geografi manusia
3. Perbedaan biaya pengeluaran untuk suatu barang yang sama (comparative cost)
4. Perbedaan kekayaan sumberdaya alam 5. Pembangunan ekonomi
6. Kebudayaan 7. Jumlah penduduk 8. Kerjasama ekonomi
8 1.5.3. Persepsi
Secara Etimologis, persepsi atau Perception (dalam bahasa Inggris) berasal dari bahasa Latin yaitu Perceptio; percipere, yang artinya menerima atau mengambil. Persepsi merupakan suatu respon yang didahului oleh respon penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensioris. Stimulus yang diindera itu kemudian oleh individu diorganisasikan dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diinderakan itu, dan proses ini disebut persepsi. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa stimulus yang diterima oleh alat indera, yaitu yang dimaksud dengan penginderaan, dan melalui proses penginderaan tersebut stimulus menjadi sesuatu yang berarti setelah diorganisasikan dan diinterpretasikan (Davidoff, 1981 dalam Dewi 2007).
Persepsi juga mencakup konteks kehidupan sosial, sehingga dikenallah sebagai persepsi sosial yang merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada di dalam diri orang yang dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek persepsi tersebut (Lindzey dan Aronson).
1.5.4. Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Masyarakat juga diartikan sebuah komunitas yang interdependen atau saling tergantung satu sama lain. Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Sekelompok manusia dapat dikatakan sebuah
9
masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem atau aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesame mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat juga merupakan kumpulan manusia yang relative mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut (Paul B.Harton dan C.Hunt). Antar tiap individu dalam masyarakat tersebut akan memberikan persepsi yang beragam. Faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman persepsi masyarakat terhadap suatu objek tertentu antara lain: kepentingan, pengalaman pribadi, pengaruh orang lain, adat istiadat dan budaya, tingkat pendidikan, dan sebagainya.
1.5.5. Bisnis Waralaba
Waralaba didefinisikan sebagai suatu hubungan strategis antara franchisor (pemilik merek dagang) dan franchisee (pelaku usaha) dimana keduanya mendapat banyak keuntungan dari hubungan ini. Definisi yang umum dari waralaba adalah sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana franchisor (pemilik merek) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur, dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu. Sebagai imbalan bagi kemitraan ini, tentu saja franchisee harus membayarkan sesuatu, yaitu franchise fee dan royalti.Royalti memberikan pemasukan yang dibutuhkan franchisor untuk bekerja dan menyediakan sistem-sistem pendukung, dan juga menyediakan tenaga yang dibutuhkan untuk memenuhi kepentingan semua pemilik waralaba dalam sistem ini.Bisnis ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba.
10
Berdasarkan peraturan ini, waralaba harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
a. Memiliki ciri khas usaha yaitu usaha yang memiliki keunggulan atau perbedaan yang tidak mudah ditiru dibandingkan dengan usaha lain sejenis, dan membuat konsumen selalu mencari ciri khas yang dimaksud. Misalnya, sistem manajemen, cara penjualan dan pelayanan, atau penataan atau cara distribusi yang merupakan karakteristik khusus dari Pemberi Waralaba.
b. Terbukti sudah memberikan keuntungan dengan telah memiliki pengalaman kurang lebih 5 tahun dan telah mempunyai kiat-kiat bisnis untuk mengatasi masalah-masalah dalam perjalanan usahanya, dan ini terbukti dengan masih bertahan dan berkembangnya usaha tersebut dengan ,menguntungkan.
c. Memiliki standar atas pelayanan dan barang/jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis sehingga penerima waralaba dapat melaksanakan usaha dalam kerangka kerja yang jelas dan sama (Standar Operasional Prosedur).
d. Mudah diajarkan dan diaplikasikan sehingga penerima waralaba yang belum memiliki pengalaman atau pengetahuan mengenai usaha sejenis dapat melaksanakannya dengan baik sesuai dengan bimbingan operasional dan manajemen yang berkesinambungan yang diberikan oleh pemberi waralaba. e. Adanya dukungan yang berkesinambungan dari Pemberi waralaba kepada
penerima waralaba secara terus menerus seperti bimbingan operasional, pelatihan, dan promosi.
f. Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang telah terdaftar dan bersertifikat atau dalam proses pendaftaran di instansi yang berwenang. HAKI yang terkait dengan usaha dan atau hak cipta, paten, lisensi, dan rahasia dagang.
11
Terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan tertib usaha dengan cara waralaba serta meningkatkan kesempatan usaha nasional.
1.6. Penelitian Sebelumnya
Penelitian mengenai persepsi pada dasarnya telah dikemukakan oleh penelitian sebelumnya yaitu penelitian oleh Rosana Eri Puspita (2007) yang menjelaskan bagaimana persepsi pengunjung pasar terhadap fungsi dan lokasi pasar tradisional di Kota Yogyakarta, penelitian Septina Fajr’in (2008) tentang persepsi stakeholder terhadap rencana pemanfaatan eks Terminal Umbulharjo sebagai pasar kerajinan. Kemudian penelitian dari Sukma Roza Dewi (2007) yang menjelaskan persepsi stakeholder terhadap pembangunan Ruko Citra Niaga di Kabupaten Lahat dan penelitian Widya Alwarritzi (2008) tentang faktor lokasi persebaran waralaba minimarket di Kota Yogyakarta. Pada dasarnya penelitian ini terlihat hampir memiliki persamaan pada konsep penelitiannya, namun perbedaannya terdapat di Objek yang menjadi kajian penelitian dan Lokasi penelitiannya. Secara lebih detil untuk membedakan antara penelitian ini dengan penelitian – penelitian sebelumnya, diuraikan lebih lanjut pada tabel 1.1 berikut ini.
12
Tabel 1.1 Matriks Penelitian Sebelumnya
No Penyusun Judul Tujuan Unit Analisis Metode
Penelitian
Hasil 1. Widya Alwarritzi
(2008)
Faktor Lokasi Persebaran Waralaba Minimarket Di Perkotaan
Yogyakarta (Kasus: Gerai Indomaret dan Circle K)
1. Mengetahui pola sebaran dan arah perkembangan waralaba minimarket di Perkotaan Yogyakarta. 2. Mengidentifikasi faktor
lokasi berdirinya gerai waralaba minimarket Indomaret dan Circle K dalam wilayah waralaba individual eksklusif 3. Mengkaji mengenai
implikasi kebijakan dari pemerintah, perusahaan waralaba dan persepsi masyarakat dan pengusaha sejenis non waralaba.
Indomaret dan Circle K
Kualitatif dan Kuantitatif
1. Deskripsi pola sebaran dan arah perkembangan gerai Indomaret dan Circle K. 2. Identifikasi faktor lokasi berdirinya gerai waralaba minimarket Indomaret dan Circle K dalam wilayah waralaba individual eksklusif.
3. Rekomendasi
pengembangan lokasi gerai waralaba minimarket di Perkotaan Yogyakarta.
2. Septina Fajr’in (2008)
Persepsi Stakeholder Terhadap Rencana Pemanfaatan Eks Terminal Umbulharjo Sebagai Pasar Pusat Kerajinan.
1. Mengidentifikasi keragaman persepsi stakeholder rencana pemanfaatan eks Terminal Umbulharjo sebagai Pasar Pusat Kerajinan.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi stakeholder rencana pemanfaatan eks Terminal Umbulharjo sebagai Pasar Pusat Kerajinan. Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta Deskriptif Kualitatif 1. Deskripsi keragaman persepsi stakeholder rencana pemanfaatan eks Terminal Umbulharjo sebagai Pasar Pusat Kerajinan.
2. Deskripsi faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi stakeholder rencana pemanfaatan eks Terminal Umbulharjo sebagai Pasar Pusat Kerajinan.
13 3. Rosana Eri
Puspita (2007)
Persepsi Pengunjung Pasar Terhadap Efektivitas Fungsi Dan Lokasi Pasar Tradisional (Kasus: Pasar
Tradisional Kota Yogyakarta)
1. Mengetahui perbedaan antara kondisi sosial ekonomi pengunjung pasar tradisional terhadap pemanfaatan pasar tradisional.
2. Mengetahui persepsi pengunjung pasar
berdasarkan kondisi sosial ekonomi.
3. Mengetahui tingkat efektivitas fungsi dan lokasi pasar tradisional dari sudut pandang konsumen pasar. Pasar Tradisional di Kota Yogyakarta Kualitatif dan Kuantitatif
1. Deskripsi perbedaan antara kondisi sosial ekonomi pengunjung pasar tradisional terhadap pemanfaatan pasar tradisional. 2. Keragaman persepsi pengunjung pasar
berdasarkan kondisi sosial ekonomi.
3. Tingkat efektivitas fungsi dan lokasi pasar tradisional dari sudut pandang
konsumen pasar. 4. Sukma Roza
Dewi (2007)
Persepsi Stakeholder tentang Pembangunan Ruko Citra Niaga (Studi Kasus di Kabupaten Lahat)
1. Mengklasifikasi tema-tema penting yang diperlukan dalam pengembangan fasilitas perdagangan di wilayah frontier. 2. Mendeskripsikan keragaman persepsi stakeholder terhadap pembangunan Ruko Citra Niaga
3. Memberikan alternatif solusi terhadap
pembangunan selanjutnya di Kabupaten Lahat yang dilatarbelakangi oleh persepsi stakeholder. Ruko Citra Niaga, Kabupaten Lahat. Deskriptif Kualitatif 1. Klasifikasi tema-tema penting yang diperlukan dalam pengembangan fasilitas perdagangan di wilayah frontier. 2. Ragam persepsi
stakeholder terhadap pembangunan Ruko Citra Niaga
3. Solusi Alternatif terhadap pembangunan selanjutnya di Kabupaten Lahat yang dilatarbelakangi oleh persepsi stakeholder.
14
No Penyusun Judul Tujuan Unit Analisis Metode Penelitian Hasil
5. Eriza Febriansyah (2012)
Persepsi Masyarakat Terhadap Bisnis Waralaba Minimarket (Indomaret,Alfamart,Circle K) (Studi Kasus: Dusun Prayan Kulon, Soropadan)
Mendeskripsikan keragaman persepsi masyarakat terhadap bisnis waralaba minimarket di Dusun Prayan Kulon,
Soropadan. Rumah Tangga di Wilayah Dusun Prayan Kulon, Soropadan Deskriptif Kualitatif