MANIFESTASI
KLINIK
DAN
PENDEKATAN
PADA PASIEN
DENGAN
KELAINAN
SISTEM
PERNAPASAN
ZulkifliAmin
Gangguan napas
sering
merupakankeluhan
mengapa seseorang datang berobatke
dokter.Di
sini
akan bahas tentang diagnosis dan tatalaksana empat keluhan utama sistim pernapasan: dispnea/rasa sesak, batuk,nyeri
dada dan batuk darah.DISPNEA(RASASESAK)
Dispnea
(breathlessness) adalahkeluhan yang
seringmemerlukan
penanganandarurat tetapi intensitas
dan tingkatannya dapat berupa rasa tidak nyaman di dada yang bisa membaik sendiri: yang membutuhkan bantuan napas yang serius (severeair
hunger) sampai yang fatal. Tabel di bawah mencantumkan sebagian besar penyebabsesak-Hal
ini
dapat diketahui dengan anamnesis
teliti,
pemeriksaan
fisik
dan pemeriksaan penunjang foto toraks dan spirometri.DIAGNOSIS
Anamnesis
Keluhan
awal.
Keluhan awal akutmungkin
disebabkan adanya gangguanfisiologis
akut, seperti serangan asma bronkial, emboli paru, pneumotoraks atau infark miokard. Seranganberkepanjangan
selamaberjam-jam hingga
berhari-hari lebih
sering
akibat
eksaserbasipenyakit
paru yangkronik
atau perkernbangan proses sedikit demisedikit
seperti pada
efusi pleura
atau
gagaljantung
kongestif.352
Gejala yang
menyertal
a). Nyeri dadayang disertai dengan sesak kemungkinan disebabkan oleh emboli paru,infark
miokmd atau penyakitplerna; b). Batukyang disertai dengmsesak, khususnya sputum purulen rmmgkin disebabkan oleh infeksi napas atau proses radang laonik (misalnya bronkitis
atau radangmukosa saluran napas lainnya); c). Demam dan menggigil mendukung adanya suatu infeksi; d). Hernoptisis mengisyaratkan rupttrr kapiler/vaskular,
misahya
karena emboli paru, tumor atatradamg saluran napas.Terpajan
keadaanlingkungan
atau obat
tertentu'
a). Alergen seperti settuk, jamur ata,u zatt'tmiamengakibatkanterjadinya bronkospasme dengan
berhlk
keluhan sesak. Anamnesis harus mencakupriwayat
terpapar penyebab alergi; b). Debu, asap, dan bahan kimia yang menimbulkan iritasi jalan napas berakibat te{adinya bronkospasme pada pasien yang sensitif. Menghindari penyebab alergi tersebut mencegah terjadinya penyakitini;
c).
Obat-obatan yangdimakan atau
injeksi
dapat menyebabkan reaksi
hipersensitivitas yang menyebabkan sesak'
Penyakit Saluran Napas Asma
Bronkitis kronis Emfisema Sumbatan laring Tertelan benda asing Penyakit Parenkimal
Fneurnonia
Gagal jantung kongestif
Ad u lt Re spi ratory d i stre ss syndrome (ARDS) P u I mona ry infiltrate s w ith
eosinophilia (PIE)
Penyakit Vaskular Paru Emboti paru Kor pulrnonal Hipertensi paru Primer
Penyakit veno-oklusi Paru
Penyakit Pleura Pneumotoraks
Eftsi pleura, hemotoraks Fibrosis
Penyakit Dlnding Paru Trauma
Penyakit neurologik Kelainan tulang
2190
PtJLI'ONOIIIGIRiwayat gangguan yang sama dapat menyingkat daftar penyebab
penyakit,
khususnyabila
pasientahu
nama penyakitnya dan dapat menceritakan bentuk pengobatan terdahulu. Riwayat penyakit pada tabel berikut sebaiknya otomatis ditanyakan karena mungkin pasien tidak khusus menceritakan kecuali bila dokter menanyakannya.Pemeriksaan Fisik
Tanda
Vital.
Tekanan darah, temperatur, frekuensi nadi dan frekuensi napas menenhrkan tingkat keparahan penyakit. Seorang pasien sesak dengan tanda-tandavital
normal biasanya hanya menderitapenyakit
kronik
ata.uringan,
sementara pasien yang memperlihatkan adanya perubahan ny a|a p ada tanda-tanda vital b iasanya menderita gangguan akut yang memerlukan evaluasi dan pengobatan segera.a
Temperatur di
bawah 35"C(95'F)
ataudi
atas4loC
(105.8'F)
atau tekanan darah sistolik di bawah 90mm
Hg menandakan keadaan gawat darurat.h
Pulsus paradoksus-pada fase inspirasi terjadi
peningkatan tekanan arterial lebih besar dari 10 mm
Hg-tanda
ini
bermanfaat dalam
menentukan
adanyakemungkinan udara terperangkap
(air
trapping)
pada keadaan asma danPPOK
eksaserbasiakut. Ketika
obstruksi saluran
napas
memburuk,
variasi
itu
meningkat;
danketika
obstruksi membaik, pulsus
paradoxus menurun.c.
Frekuensi napas kurang
dari
5
kali/menit
mengisyaratkan hipoventilasi dan kemungkinan besar
respiratory aruest.
Bila
lebih dari 35kali/menit
menunjukkan gangguan
yang
parah, frekuensi yang lebih cepat dapat terlihat beberapajam
sebelum otot-otot napas menjadi lelah dante{adi
gagal napas.Pemeriksaan Umum
Tampilan umum. Pasien dapatmemberikan isyarat atas
di-agnosis tersebut. Seorang pasien yang mengantuk dengan napasyang lambat
dan pendekbisa
disebabkan: obat tertentu,retensi
CO,
atao gangguan sistem saraf pusat (misalnya strok, edema serebral, pendarahan subaraknoid). Seorang pasienyang
gelisah dengan napasyang
cepat dan dalam bisa disebabkan hipoksemia berat karena primerpenyakit
paru/saluran
napas,jantung
atau bisa
juga
serangan cemas
(awiety
attack),histerical
attack. Kontraksi otot bantu napas. Dapat mengungkapkan adanya tandaobstruksi
saluran napas.Otot
bantu
pernapasan (accessory muscles) di leher dan otot-otot interkostal akan berkontraksi/digunakan pada keadaan adanya
obstruksi saluran napas moderat hingga parah.Asimetri
gerakandinding
dada ataudeviasi trakeal
dapatpula
dideteksiselama
pemeriksaan otot-otot
napas. Pada tension
pneumothorax-
suatu keadaangawat darurat-sisi
yang terkena akan membesar pada setiap inspirasi dan trakea akan terdorong kesisi yang sebelahnya.Tekanan
venajugularis harus
dicatat.
Peninggiannya menandakan adanyapeningkatan tekanan atrium kanan. Palpasi. a). Tertinggalnya pengembangan suatu hemitoraks yang dirasakan dengan palpasi bagian lateral bawah rib cagep
aru
bersangkutan
menunjukkan
adanya
gang guan pengembangan pada hemitoraks tersebut. Hal ini bisa akibat obstnrksi salah satubronkus utama, pneumotoraks atau efusi pleura; b). Fremitus taktil. Menurunnya fremitus taktil yang diperoleh dengan memerintahkan pasien menyebutkan tujuh puluh tujuh (77) berulang-ulang terpalpasi padaareayatg
mengalami atelektasis seperti yang terjadi pada bronkus yang tersumbat atao area yang ada efusi pleura. Meningkabrya fremitus disebabkan oleh konsolidasi parenkim pada suatuarea yang mengalami inflamasi.
Perkusi.
a). Hipersonor akan ditemukan pada hiperinflasi paru seperti teq'adi selama serangan asma akut, emfisema, juga pada pneumotoraks. b). Redup (dullness) padaperkusimenunjukkan konsolidasi paru atau efusi pleura.
Auskultasi.
a). Berkurangnya intensitas suara napas pada kedua bidang paru menunjukkan adanya obstruksi saluran napas. Keadaanini
dapat terdengar pada konsolidasi, efusipleura
atau pneumotoraks.b).Ronki
kasar dan nyaring (coarse rales andwheezing) sesuai dengan obstuksi parsial atau penyempitan saluran napas. c). Ronki basahhahs (fine, moist rales) terdengar pada parenkim paru yang berisi cairan. Ronki bilateral (bilateral rales) disertai dengan irama gallop sesuai dengan gagaljantung
kongestif.Ronki
setempat sesuai dengan adanya konsolidasi parudi
tempatitu.
d).Adanya egofoni
(diucapkanhuruf
'll'
seperti"e"
datar) menandakan konsolidasi. e). Pada pasien dengan sesak dan rasa sakitdi
dada harusdipikirkan
kemungkinan adanyafriction
rub,bila
2 komponen merupakanciri
pleuritis dan suara 3 komponen seperti perikarditis.Evaluasi Laboratorium
Pemeriksaan dahak . pemeriksaan dahak harus mencakup
pemeriksaan bilasan sputum gram (gram-stained smear) trnhrk membuktikan adanyarudang saluran napas bawah dan penentuanjenis gram patogen. 2.
Analisis
gas daraharterial.
Pengukuran gas daraharterial dilakukan
pada evaluasi awal seluruh pasien sesak yang memperlihatkantekanan darah
sistolik
kurang
dari 90 mm Hg,
suatu frekuensi napas lebih dari 35 kali/menit atau kurang daril0
kali/menit
atau sianosis.Apabila
gas darah arterialtidak
diukw
pada tahap awal dan kondisi pasien memburukdi
bawah perawatan; analisis gas darah tersebut harus tetapperlu diperiksa.
Nilai
ini
berguna sebagai
petunjuk
penggunaao suplemen oksigen dan keputusan untuk
penggunaanventilasi
mekanis. 3. Spirometri/Pe ak F low Meter (PeakExpiratory Flow Rate-
PEFR). Pada pasien yang mengalami eksaserbasi asma atau PPOK, spirometrimemberi
kita informasi
beratnya obstruksi dan
dapat digunakan untuk menentukan seriusnya keadaan penyakit2l9l
MANIFESTASIKLIMKDANPENDEKAf,ANPADAPASIENDENGANKELAINAT{SISTEMPERNAPASAN
tersebut. Pengukuran PEFR
bisa
menggantikan
pengukuran spirometri unflrk menenhrkan berat ringannya obstruksi, hasilnya dinyatakan dalam liter per menit.
Nilai
normal
ditentukanuntuk
setiapindividu
menurutjenis
kelamin, usia dan tinggibadan.Nilai kurangdan50%
danyang diperkirakan
menunjukkan obstruksiyang
parah. Pemeriksaan PEFR ini harus diulangi setiap 30 menit untuk menentukan perj alanan penyakit.Pencitraan
(imaging).
Pembuatanfoto
torakspostero-anterior
danlateral dilakukan
apabiladicurigai
adanya kelainan pada pleura, parenkim paru atau jantung. Adanya bula, kista, paru emf,rsematus atau diafragma yang mendatar (/lattened diagrapft) mendukung diagnosis PPOK. Adanya kardiomegali mendukung kemungkinan penyebab sesak yang berkaitan dengan jantung.TATALAKSANA SESAK NAPAS
Penanganan sesak pada dasarnya mencakup tatalaksana yang tepat atas penyakit yang melatarbelakanginya.
Akan
tetapi, apabila kondisi pasien memburuk hingga mungkinterjadi
gagal napas
akut,
maka
lebih baik
perhatian
ditujukan
pada keadaan daruratnyadulu
sebelum dicari penyebabyang
melatar belakanginya.Diagnosis
gagal napasakut
dengan anal,isis gas darah ditentukan ketika PaO, kurang dari 50 mm Hg atau PaCO, lebih besar dari 50 mm Hg denganpHdibawahnormal.
Saluran Napas
Periksalah orofaring untuk memastikan salurarl napas tidak
tersumbat
karenapembengkakan (edema) atau
suatu benda asing. Intubasi endotrakeal dapat dilakukan apabila pasien mengalami henti napas atau mengarah kepada gagal napas progresif.Oksigen
Oksigen harus diberikan kecuali apabila ada
bukti
bahwa0-70 mm Hg dengan kenaikan minimal pada PaCOr. Ventilasi mekanis. Pasien yang diintubasi untuk sementara
dapat
diberi
oksigen
melalui Ambu bag
sambil
mempersiapkan suatu ventilator sebagai kelanjutannya '
BATUK
Batuk
adalah suaturefleks
napasyang
terjadi
karena adanya rangsangan reseptor iritan yang terdapat di seluruh saluran napas. Batuk juga dapat merupakan akibat penyakittelinga
atau gangguan perut yang mengakibatkaniritasi
diafragma.Diagnosis Batuk
Anamnesis.
Di
sini
dijelaskan deskripsi
mengenai
permulaan,
lamanya
dan ada dahak atautidak,
paparanlingkungan, toksin atau
alergen
dan gejala terkait'
Anamnesis
penyakit
sebelumnya dapat mengarahkanpada
diagnosis
sePerti sakit
telinga, hidungte
, nYeri ulu hatiatau sakit
perut
temPat
iritasi
tersebut.
Batuk
yang
terjadi
kadang-kadang
danberhubungan
dengan
paparat
sesuatu
keadaan
lingkungan (hawa dingin, debu, asap, angin dan lainnya) akan menggiring
kita
kepada penyebab batukitu'
Batuk berdahak (sputummukopurulen) menunjukkan
adanya kelainan saluran napas bawah.Penyakit Saluran NaPas Akut Faringitis
Laringitis Bronkitis Bronkiolitis
Penyakit Saluran NaPas Kronis Bronkitis Bronkiektasis Penyakit Parenkimal Pneumonia Abses Parasit Penyakit interstisial granulomas fibrosing alveolitis alveolar proteinosis Penyakit Kardiovaskular Edema paru lnfark paru lritan Lingkunga-n^ gas debu perubahan temPeratur Benda Asing Saluran naPas Membran timPanik Neoplasma Karsinoma Paru Metastasis tumor Alergi
Demam karena alergi jerami
Rinitis vasomotor Asma bronkial
Pemeriksaan
Fisis.
1). Telinga. Periksalah adanya benda asing pada saluran telinga luar. Periksajugaadanyatadang
membrantimpani;
2).Nasofaring'
Sinus harus dipalpasiuntuk
mencarinyeri
dan ostia diperiksauntuk
mencari adanya ingus yang menyumbat. Edema mukosa hidung dan rinorea dapat disebabkaninfeksi, alergi
ataurinitis
vasomotor yang kemudian
dapat menyebabkanbatuk
karena drainase
posterior di hipofaring. Faring
danhipofaring
encariperadanganatau masa;3).
gnya
vena-vena leher(neckvein
terlihat pada pasien dengan masamed
karena tekanan Pada saraf2192
PI.JLI'OIU.OGIAuskultasi pada keadaan ini akan terdengar suatu ekspirasi
napas yang memanjang;
ronki
kasar atau
mengi
(wheezing).
b.
Penyakit parenkim seperti
pneumonia, fibrosis interstisial dan edema paru biasanya menimbulkansuara
ronki.
Pneumonia
jluga
dapat
menyebabkan
melernahnya suara napas, pekak (dullness) pada perkusi danfremitus yang
mengeras.Edema
paru dan fibrosis interstisial biasanya menyebar meluas di kedua parenkim paru dan menimbulkan bunyironki;
5). Abdomen. adanya masa atau peradangan subdiafragma dapat menyebabkaniritasi
pada diafragma. Banrk pada keadaanini
biasanya subakut atau kronis. Pemeriksaan abdomen harus dilakukan denganteliti
agar tak terlewatkan kelainan ini.Pemeriksaan dahak. l).Pewamaan gram dan pemeriksaan basil tahan asam
(BTA)
adalah suatu tindakanrutin;2).
Kultur
mikobakteri dan jamur. Pemeriksaanini
dilakukan pada pasien yang didapatkan adanya kelainan foto toraks berupainfilfrat di
apeks ataukavitas
atau pada pasien imunokompromis; 3). Pemeriksaan sitologi dilakukan pada pasien batuk yang dicurigaijuga
menderita kanker paru;4).
Pewarnaan
silver
pada dahak
untuk
mencari
Pneumocystis
carinii
pada pasien imunokompromis.Pencitraan. l.Foto
toraksdilakukan
pada setiap kasus dimana dicurigai adanya kelainan di pleura, parenkim atau mediastinum. 2. Foto sinus dianjurkan dibuat pada pasien yang merasanyeri
pada palpasi sinus atau adanya ingus purulendari
ostium.Hal ini juga
harus dilakukan ketika mencari sinusitis kronik pada pasien dengan bronkospasme karena sinusitis kronik sering memicubronkospasme yang menetap karena mekanisme yang belum diketahui.Tatalaksana Batuk
Akut
Bila bahrk diperkirakan bisa berkomplikasi (Tabet 2), maka pemberian obat penekan batuk dapat diberikan misalnya kodein
fosfat l5-30
mg dan dapat diulangi setiap 6 jam.Tatalaksana Batuk Kronik
Pengobatan terhadap penyebabnya adalah terapi terbaik,
tetapi
menekan batuknya
untuk
sementara
akan
mengurangi pasienan pasien.
Antitusif.
I ). Obat yang beket'a di sentral, bekerja denganmenekan batuk di bidang integratif medula alau area
yang
lebih tinggi. Obat yang paling sering dipakai adalah kodeinfosfat, diberikan
15-30
mg
secaraoral
setiap
6jam.
Dekstrometorfan, 15-30mg
setiap 4-6 jam, juga
dapatdiberikan.
2).
Obaf yang bekerjadi
perifer,
menaikkan ambang-rangsang reseptoriritan di
saluran napas denganmenganestesi atau menutupnya
(coating). Agen
ini
(benzonatat, anestetik
topikal
)
tersedia sebagaiobat-obatan tanpa-resep,
tetapi hanya dianjurkan untuk
mengontrol batuk yang parah.
Mukolitik.
Pemberian asetilsistein telah terbukti
bermanfaat mencairkan sekret yang kental. Tiga hingga 5
mL
larutan 20%o dapat diuapkan dengan nebulizer setiap 4-6 jam. Satu hingga 2rnllarutan20%
dapat diinfus secaralangsung
ke dalam
selang
trakeostomi
atau
denganbronkoskopi untuk
membantu melarutkanplak
mukus.Berhati-hati
dengan pasienhiperreaktif
bronkus karena asetilsistein bersifat mengiritasi dan dapat menyebabkan bronkospasme akut.Hidrasi
secara oral(minum air)
ataumelalui infus
amatmembantu mengencerkan dahak sehingga
mudah
dibatukkan.
Ekspektoran
secara luas tersedia sebagai obat yang dapat dibeli tanpa resep.Muskuloskeletal Patah iga Ruptur M. rektus abdominis Peninggian kreatin kinase serum Paru Pneumotoraks Pneumomediastinum Kardiovaskular Bradiaritmia Sinkop
Ruptur pembuluh darah supervisial
Lain-Lainnya
lnkontinen urin dan feses Disrupsi luka bedah lritasi mukosa saluran nafas
HEMOPTISIS
Batuk
darah(hemoptisis)
atau dahak bercampur darahharus
dibedakan
dari muntah
darah
(hematemesis), hematemesis disebabkanlesi
pada saluran cerna (tukak peptik, gastritis, varises esofagus); sedangkan hemoptisis lesi di paru-paru atau bronkus/bronkioli.Klasifikasi/Berat
Ringan
nya
Didasarkan dari perkiraan
jumlah
darah yang dibatukkan:B er cak (Str e a king). D ar ah bercampur dengan sputum hal
yang sering
terjadi,
paling umum pada bronkitis.
Volume darah kurang dari 15-20
mll24
jam.Hemoptisis.
Hemoptisis dipastikanketika total
volume darah yang dibatukkan 20-600 mL di dalam waktu 24 jam. Walaupuntidak spesifft untuk
penyakit tertentu,hal
ini
berarti pendarahan dari pembuluh darah lebih besar dan biasanya karena
kanker paru, pneumonia (necrotizing
pneumonia),TB atau emboli paru.Hemoptisis
Masif
. Darahyang dibatukkan dalamwaktu24j am lebih dari 600
mL-
biasanya karena kanker paru, kavitas padaTB
atau bronkiektasis.Pseudohemoptisis. Pseudohemoptisis adalah batuk darah dari struktur saluran napas bagian atas (di atas laring) atau dari saluran cema atas (gastrointestinal) atau hal
ini
dapat2t93
MANIFESTASIKLINIKDANPENDEKAf,ANPAT'APASIENDENGANI(ELAINANSISTEMPERNAPASAN
berupa pendarahan buatan
(factitious).
Perdarahan yang terakhir biasanya karenaluka
disengajadi
mulut,
faring atau rongga hidung.Diagnosis
Anamnesis. 1). Volume dan frekuensi batuk
darahmenentukan kegawatannya dan
hal
tersebut
dapatmengarahkan ke suatu penyebab spesifft; 2). Sumber pal-ing umum berupa nasofarpal-ing (mimisan). Darah menetes ke faring, mengiritasi laring dan dibahrkkan. Pasien sering dapat menjabarkan rangkaian ini, maka kesan pasien atas sumber perdarahan umumnya benar. Misalnya, ketika darah berasal dari salah satu paru, maka pasien akan menunjukkan bagian paru tersebut dan dapat merasakannya seolah-olah darah berasal
dari paru
kanan ataukiri.
Pastikan pasien bisa membedakan dibatukkan dengan dimuntahkan; 3). Riwayat penyakit sebelumnya yang dapat mempengaruhi perdarahansaluran
napasjuga
dicari; 4).
Gejala lainnya
yang
berhubungan/terkait dapat membantu dalam mendiagnosis : a). Demam dan batuk produktif mengisyaratkan infeksi. b).Timbul tiba-tiba
karena sesak dan
sakit
di
dadamengindikasikan kemungkinan
emboli paru
atauinfark
miokard yang disertai dengan gagaljantung kongestif. c). Kehilangan berat badan yangsignifftan
mengisyaratkan kanker paru atauinfeksi kronik
seperti tuberkulosis atau bronkieldasis.Pemeriksaan fisis. Tanda-tanda penting' Ketidakstabilan sirkulasi dengan tanda hipotensi dan takikardia merupakan suatu tanda darurat. Sebabnya dapat berupa kehilangan darah yang akut pada hemoptisis masif atau penyakit yang menyebabkan/menyertainya:
emboli
paru, sepsis,infark
miokard dengan edema paru.Perneriksaan
nasofaring ditujukan untuk
untuk
rnencari sumber perdarahan dan pada hemoptisis
masif
untuk
memastikan bahwa saluran
napasmasih
paten
(terbuka)-Pemeriksaan
jantung
dibutuhkanuntuk
mengevaluasikemungkinan
adanya
hipertensi paru akut
(terdapat
peninggian komponen paru suara jantung kedua) ,kegagalan ventrikel
kiri
alart (adanya srz mmation gallop) atau penyakitkatup jantung seperti stenosis mitral. Endokarditis sebelah kanan dapat dideteksi dengan adanya bunyi desiran karena
insufisiensi
trikuspid,
sering pada penyalah guna obatintravena dan
dapat menyebabkanhemoptisis
karena emboli septik.Pemeriksaan
dinding
dan rongga dada. Kelainan disinisecara tersendiri jarang menjadi penyebab hemoptisis; akan tetapi, temuan tertentu bisa
jadi
petunjuk..
Traumadindingdada,cobacariadanyamemarparenkim paru (pulmonary contusion) atau laserasi bronkial..
Adanya ronki setempat, berkurangnya suara napas danperkusi
redup/peka (dullness) menunjukkan adanyakonsolidasi (disebabkan pneumonia,
infark
paru atau atelektasis pascaobstruksi dari benda asing atau kankerparu)-.
Pleuralfriction
rub
dapat didengar pada areadi
atasinfarkparu.
.
Ronki
merata(
difus), kardiomegali
dan nyaring
menunjukkan
adanya
kemungkinan
edema paru
kardiogenik.
Laboratorium.
l).Pemeriksaan darah
tepi
lengkap.
Peningkatanhemoglobin
danhematokrit
menunjukkan adanyakehilangan datahyang akut. Jumlah sel
darahputih
yang meninggi mendukung adatya infeksi'
Trombositopenia mengisyaratkan
kemungkinan
koagulopati; trombositosis mengisyaratkan kemungkinan kanker paru; 2). Kajian koagulasi, pemeriksaan hemostase berupa waktu
protrombin (PT)
danwaktu
tromboplastinparsial (aPTT) dianjurkan apabila dicurigai
adanyakoagulopati atau apabila
pasien tersebut menerima
warfarin/heparin;
3). Analisis
gas darah arterial
harus
diukur
apabila pasien
itu
sesakyang
jelas
dansianosis;
4).
Pemeriksaan dahak- Pasien
dengandarah bercampur dahak, pewarnaan gram,
BTA
ataupreparasi
kalium hidroksida
dapat
mengurilkapkan
penyebab
infeksi
dan pemeriksaansitopatologik untuk
kanker.Pencitraan
(Imaging).
1).
Radiografi
dada
akan
menunjukkan adanya massa paru, kavitas atau infiltrat yang
mungkin menjadi
sumber pendarahan;2).
Arteriografr
bronkial selektif dilakukan bila bronkoskopi (lihat bawah)tidak
dapat
menunjukkan lokasi
pendarahan
masif'
Embolisasi arteri
bronkial
selektifuntuk
mengendalikan perdarahan dapat berfungsi sebagai terapi yangdefrnitif
atau sebagai
tindakan
antarahingga torakotomi
dapat dilalarkan.Bronkoskopi.
Saluran napas dapat divisualisasi denganmenggunakan
bronkoskop kaku
atau
fiberoptik.
1)'Bronkoskopi frberoptik
dengan anestesiatopikal
palingsering
digunakan karenainstrumen
fleksibel
ini
dapatmemvisualiasi
bronki
subsegmentaldan
saluran napas sentral sertalebih
rryarflanbagi
pasien. Satu kelemahan alat ini adalah diameter tempat menghisap c akatperdaruhan(suction port)yang kecil (<2 mm). Jika pendarahan itubesar, maka sistem
ini
tidak
dapat mengevakuasi darah dengan cepat untuk mempertahankan sistem lensa ini tetap bersih.Hemoptisis Hematemesis Darah yang dibatukkan
Darah biasanya merah muda Darah bersifat basa Darah dapat berbusa Didahului dengan perasaan
ingin batuk
Darah dimuntahkan Darah biasanya hitam Darah bersifat asam Darah tidak pernah berbusa
Didahult+i dengan rasa mual dan muntah
2194
PT,JIIUOiU.OGIlnfeksi: Tuberkulosis, abses paru, bronkitis,
bronkiektasis, infeksi jamur, parasil, necrotizing
pneumon@.
Neoplasma: Karsinoma bronkogenik, lesi metastatis, adenoma bronkus
Penyakit kardiovaskular: emboli paru, stenosis
mitral, malformasi arteriovena, aneurisme aorta, edema paru
Lain-lainnya: Bronkolitiasis, hemosiderosis idiopatik, sindrom Goodpasture, terapi
antikoagulan, adenoma bronkus
600/o
20% 5-10%
5-t0%
Kebanyakan benda asing
tidak
bisa dipindahkan denganinstrumen
ini; 2).
Bronkoskopi kaku perlu bagi
pasien dengan hemoptisis masifdan ketika dicurigai terjadi aspirasi benda asing. Kekurangarmya adalah biasanya dibutuhkan anestesiaumum
dan hanya saluran napas sentral dapat divisualisasikan.Tatalaksana
Darurat Hemoptisis
A. Hemoptisis
Masif
Risiko utama hemoptisis masif adalah aspiksia dari darah di dalam saluran napas. Eksanguinasi jarang terjadi.
Terapi
umum.
a). Mempertahankan terbukanya saluran napas. Pemasangan selang endotrakeal memungkinkankita
melakukan pengisapan darahdari
saluran napas dan dan kemudian menghubungkamya dengan suatu ventilator. Yang ideal adalah selang endotrakeal dengan lumen-ganda; b). Apabila diketahui lokasi pendarahan, maka pasien harus ditempatkan dengan paru yang mengalami pendarahandi
bawah untuk melindungi paru yang baik; c). Menekan batuk dengan kodein fosfat 30-60 mg secara intramuskular; d). Mempertahankan tekanan darah dengan darah segar dan plasma ekspander.Apabila dicurigai
terjadi koagulopati, maka dapatdiberikan
plasma segarbeku
(fresh-frozen plasma).Terapi
bedah. Apabila pendarahan pada pasien tersebuttidak
berhenti, maka biasanya diperlukan torakotomi
darurat. Operasi
ini
tidak
bisa dilakukan
apabila
penyebabnya adalah karsinoma yang tidak dapat direseksiatau apabila
cadangan/sisaparenkim paru yang baik
(pulmonary reserve)
tidak
memadai andai dilakukan
pneumonektomi. Pasien dengan perkiraan volume ekspirasi paksa waktuI
detik (FEV,,,) pasca operasi kurang dari 800 mL biasanya tidak dapat mentolerir pneumonektomi. Terapi adj uvantibus. Bronku s utarna (main-st em bronchus) paru yang terkait dapat tersumbat karena intubasiselektif
atau
dengan
memakai kateter Carlen. Darah
yang
menggumpal
di
belakang kateter akan berflrngsi sebagai hemostasis. Halini
dapat berfungsi sebagai suatu langkahdarurat
sementara,sambil pasien dipersiapkan untuk
operasi. Pada pasien
yang toleransi
operasinya buruk,intubasi merupakan
terapi yang
definitif
di
samping embolisasi arteri bronkial selektif.B. Streaking dan Hemoptisis
Ringan
l.
Terapi dasar. Pasien harus istrirahat total, dengan posisi paru yang mengalami pendarahandi
bawah. Refleks batuk ini harus ditekan dengan kodein fosfat 30-60 mg intra mulkular setiap 4-6jam
selama 24 jam.2.
Terapi spesifik. Terapi spesifik adalah pengobatan ataspenyakit dasar penyebab perdarahan tersebut.
NYERIDADA
Nyeri
dada dapat disebabkan oleh penyakitjantung, paru ataunyeri alih dari
abdomen.Ada
duajenis nyeri
dada karena penyakit paru:pleuritik
dan trakeobronkial.Nyeri Pleuritik
Berupa nyeri tajam, menusuk, pada umumnya
terlokalisir
ke
suatutitik
di
toraks
danmakin memburuk
dengan bernapasdalam
ataupunbatuk.
Penyebabnyeri
dada dirangkum dalam Tabel di bawah.Gangguan Mekanis Pneumotoraks Hemotoraks Gangguan Peradangan lnfeksi lnfark paru Neoplasma Paru Primer Metastasis Penyakit Otoimun
Lupus eritematosus sistemik Artritis reumatoid
Skleroderma
Diagnosis
Anamnesis. a). Nyeri pleuritik yang terjadi tiba-tiba terutama setelah batuk atau bersin menandakan kemungkinan
te{adi
pneumotoraks. Kejadian ini sering disertai sesak; b). Demam dan baflrk produktifyang mendahului nyeri dada menandai terjadinya infeksi parenkim dan pleura; c). Hemoptisis yang terjadi tiba-tibadicurigai
adanya emboli paru, sedangkan nyeri semakin meningkat pasca hemoptisis lebih cenderung kepada kanker paru; d). Penyakit autoimun sering dikaitkan dengan radangpleura non-spesifik yang
mengarah ke pleuritis.Pemeriksaan
fisik.
a). Melemahnya bunyi napas; pekald redup pada perkusi dan melemahnya fremitus merupakan tanda efusi pleura; b).Adanyafriction
rub pada inspirasi dan ekspirasi menandakantefadinya
peradangan pleura.\
Pencitraan (imaging).
Pneumotoraks, efusi pleura atau penebalan pleura dapat diidentifrkasi denganfoto
toraks posterioanterior, lateral dan dekubitus lateral. Sedangkan2t95
MANIFESTASI KLINIK DAT{ PENDEKATAN PAT'A PASIEN DENGAN KELAIII,AN SISTEM PERNAPASAN
diagnosis
etiologi
efusi pleura memerlukan pemeriksaanlebihlanjut.
Tatalaksana nyeri
pleuritik.
Nyeri dapat dikurangi dengan indometasin 25 mg, oral, 3 kali sehmi. Sedangkan cara terbaikuntuk
menghilangkannyeri
adalah mengobati penyakit dasarnya.Nyeri Trakeobronkitis
Nyeri
trakeobronkitis adalah sensasi terbakardi
daerahsubsternal yang makin memburuk dengan batuk.
Hal
ini
disebabkan oleh radang akut pada
cabangtrakeobronkial.
Diagnosis
Rasa
Sakit Trakeobronkitis
Ananmnesis. Nyeri dapat berlangsung bet'am-jam hingga berhari-hari. Perburukan nyeri karena batuk dan lokasinya pada daerah substernal yang membedakan dengan nyeri pleuritik.
Pemeriksaan fisis
biasanyatidak
ditemukan
apa-apa kecuali berupa ronki kasar pada auskultasi.Tatalaksana nyeri frakeobronkial.
Pengobatan ataspenyebabnya adalah terapi utama. Terapi simptomatik dapat diberikan penekan batuk dengan kodein
fosfat l5-30
mg, 3-4 kali sehari.REFERENSI
Bourke SJ dan Brewis RAL. Symptoms and Signs in Respiratory Diseases. In: Lectures Notes on Respiratory Medicines. Blackwell
Sciences. Hongkong 2000. 8-17
Fishman AP. Approach to the patient. In: Fishman AP, Elias JA, Grippi MA,Kaiser LR, Senior RM ed'Fishman's manual of Pul-monary diseases and disorders. Mc Graw-Hill. New York'2002' 3-30.
Friedman PJ dan Stark P. Radiographic evaluation of lung disease. In:
Bordow RA, Ries
AI,
Morris TA eds. Manual of Clinical Prob-lems in h-rlmonary Medicine. 6b ed. Lippincott Williams&Wilkins, Philadelphia.2005.3 -6.Harris GD.Common Pulmonary Symptoms. In: Stein JH, ed. Inter-nal Medicine. Norwalk, Connecticut 1993' 90-9.
Yernault JC dan Pison CH. Approach to respiratory patienns: Hystory, symptoms and physical examinations. In: Grassy D dkk eds. McGraw-Hill Intemational(UK)Ltd, London, 1999.
353
PNEUMONIA
ZulDahlan
PENDAHULUAN
Pada masa yang lalu pneumonia diklasifikasikan sebagai pneumonia
tipikal
yang disebabkan oleh Str pneumoniae dan atipikal yang disebabkan kumanatipik
seperti halnyaM.
pneumoniae. Kemudian ternyata manifestasi dari
patogen
lain
sepertiH.
influenzae, S. aureus dan bakteri Gramnegatif
memberikan sindromklinik
yang identik
dengan pneumoniaoleh
Str. Pneumoniae, danbakterilain
dan
virus
dapat
menirnbulkan
gambaran
yang
samadengan
pneumonia oleh
M.
pneumoniae. Sebaliknya
Legionella spp.
danvirus
dapat memberikan gambaran pneumonia yang bervariasi luas. Karena itu istilah tersebut tidak lagi dipergunakan.Pada perkembangannya pengelolaan pneumonia telah
dikelompokkan pneumonia yang
terjadi
di
rumah
sakit-Pneumonia Nosokomial
(PN)
kepadakelompok
pneumonia yang berhubungan
dengan pemakaian
ventilator
(PBV)
(v entil ator as s o ciatedpneumonia-y.Lp)
dan
yang
didapatdi
pusat perawatan kesehatan(ppK)
(healthcare-associated pneumonia-HCAP)
(2005).
Dengan demikian pneumonia saat ini dikenal 2 kelompok utama
yaitu
pneumoniadi
rumah perawatan(pN)
danPneumonia
Komunitas (PK) (2001) yang
didapat
di
masyarakat.
Di
samping kedua bentuk utamaini
terdapatpula pneumonia bentuk khusus yang masih
sering
dijumpai.
DEFINISI
Infeksi saluran napas bawah akut
(ISNBA)
menimbulkan angka kesakitan dan kematian yangtinggi
serta kerugian produktivitas kerja.ISNBA
dapat dijumpai dalam berbagaibentuk, tersering
adalah
dalam bentuk
pneumonia.
Pneumonia
ini
dapat terjadi secara primer atau merupakantahap lanjutan manifestasi
ISNBA
lainnya misalnya sebagai perluasan bronkiektasis yang terinfeksi. Pneumonia adalah peradanganyang
mengenaiparenkim paru,
distal
daribronkiolus terminalis
yang mencakup bronkiolus
respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi
jaringan
paru
dan gangguanpertukaran
gas setempat.Pada pemeriksaan
histologis terdapat pneumonitis
atau reaksi inflamasi berupa
alveolitis
dan pengumpulaneksudat
yang
dapat
ditimbulkan oleh
berbagai
penyebab dan
berlangsung
dalamjangka waktu
yang bervariasi.Istilah pneumonia lazim dipakai bila peradangan terjadi oleh proses
infeksi akut yang
merupakan penyebabnyayang tersering,
sedangkanistilah
pneumonitis
seringdipakai
untuk
prosesnon
infeksi.
Bila
prosesinfeksi
teratasi, terjadi resolusi
dan biasanya
struktur
paru normal kembali. Namun pada pneumonia nekrotikans yang disebabkananlaralain
oleh staphylococcus atau kumangram
negatif
terbentuk
jaringan parut
atau fibrosis.
Diagnosis pneumonia harus didasarkan kepada pengertianpatogenesis
penyakit hingga
diagnosis
yang
dibuat
mencakup bentuk manifestasi, beratnya proses penyakitdan
etiologi
pneumonia. Cara
ini
akan
mengarahkan dengan baik kepada terapi empiris dan pemilihan antibiotikyang paling
sesuai
terhadap
mikroorganisme
penyebabnya.
PK adalah pneumonia yang terjadi akibat infeksi diluar RS, sedangkan PN adalah pneumonia yang terjadi >48
jam
atau lebih setelah dirawat di RS, baik di ruang rawat umum ataupun ICU tetapi tidak sedang memakai ventilator.PBV
adalah pneumonia yangte{adi
setelah 48 - 72 jam ataulebth setelah intubasi tracheal. Pada PPK termasuk pasien yang dirawat oleh perawatan akut di RS selama 2 hari atau lebih dalam waktu 90 hari dari proses infeksi,tinggal
dirumah perawatan(nursing
homeatau long-term
carefacility),
mendapatAB
intravena, kemoterapi, atau perawatan luka2r97
PNEINilOI{IA
dalam waktu 30 hari proses infeksi ataupun datang ke
klinik
RS atauklinik
hemodialisa.Di
bawahini
disampaikan uraian pneumonia secara umum yang kemudiandiikuti
dengan uraiandari
kedua kelompok pneumonia tersebut. Kemudian disampai uraian mengenai pneumonia bentuk khusus.EPIDEMIOLOGI
lnsidens
Penyakit saluran napas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan yang
tinggi
di
seluruh dunia. Sekitar 80%dari
seluruh
kasusbaru praktek
umum
berhubungan denganinfeksi
saluran napas yangterjadi di
masyarakat(PK)
atau
di
dalam rumah sakit/ pusat
perawatan
(pneumonia nosokomial/PN
ataupnuemonia
di
pusat perawaatan/PPP). Pneumoniayang
merupakan bentukinfeksi
saluran napas bawah akutdi
parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15-20%.Kejadian PN di ICU lebih sering daripada PN di ruangan umum, yaitu dijumpai pada h ampilr 25Yio dari semua infeksi di
ICU,
dan9}%olerjadi pada saat ventilasi mekanik.PBV
didapat pada 9-27o/odari
pasien yang diintubasi.Nsiko
PBV tertinggi pada saat awal masukke ICU.
Pneumonia dapat
terjadi
pada orangnormal
tanpa kelainan imunitas yangjelas.
Namun pada kebanyakan pasien dewasa yang menderita pneumonia didapati adanya satu ataulebih penyakit
dasaryang
mengganggu daya tahan tubuh.Pneumonia semakin sering dijumpaipada orang orang
lanjut
usia (lansia) dan sering terjadi pada penyakit paruobstmktif kronik
(PPOK). Juga dapatte{adi
pada pasien dengan penyakit lain seperti diabetes mellitus@M),
payahjantung, penyakit
arteri koroner, keganasan, insufisiensi renal, penyakit syaraflaonik, dan penyakit hati kronik. Faktor predisposisilain
antaralain
berupa kebiasaan merokok,pasca
infeksi virus,
Diabetes
melitus,
keadaanimunodefisiensi, kelainan atau kelemahan struktur organ dada dan penurunan kesadaran. Juga adanya tindakan invasif seperti infus, intubasi, hakeostomi, atau pemasangan ventilator. Perlu diteliti faktor lingkungan khususnya tempat kediaman misalnya di rumah jompo, penggunaan antibiotik
(AB)
dan obatsuntik
IY
serta keadaanalkoholik
yang meningkatkan kemungkinan terinfeksi kuman gram negatif' Pasien-pasien PK juga dapat terinfeksi oleh berbagai jenis patogen yang baru.Anamnesis epidemiologi haruslah mencakup keadaan lingkungan pasien, tempat
yang dikunjungi
dan kontak dengan orang ataubinatang yang menderita penyakit yang serupa. Pneumonia diharapkan akan sembuh setelahterapi 2-3 minggu. Bila lebih lama perlu dicurigai adanya infeksikronik
oleh bakteri anaerob atau non bakteri seperti oleh jamur, mikobakterium atau parasit.PATOGENESIS
Proses patogenesis pneumoni terkait dengan 3 faktor yaitu keadaan (imunitas) inang, mikroorganisme yang menyerang pasien dan tingkungan yang berinteraksi satu sama lain.
Interaksi
ini
akan menentukanklasifikasi
danbentuk
manifestasidari pneumotia,
betat ringannya penyakit, diagnosisempirik,
rencanaterapi
secaraempiris
serta prognosis dari pasien.Cara terjadinya peuularan
berkaitan
denganjenis
kuman, misalnya infeksi melalui droplet sering disebabkan Streptococcus pneumoniae, melalui slang infus oleh S/a-phylococcus aureus sedangkaninfeksi
pada pemakaianventilator oleh Paeruginosa dan Enterobacter. Padamasa
kini
terlihat
perubahanpola
mikroorganisme penyebabISNBA
akibat adanya perubahan keadaan pasien sepertigangguan kekebalan dan penyakit
kronik,
polusi
lingkungan, dan penggunaan
antibiotik
yangtidak
tepatyang menimbulkan
perubahan
karakteristik
kuman.Dijumpai
peningkatan patogenitas/jeniskuman
akibat adanyaberbagai mekanisme, terutama oleh S. aureus, B.catarrhalis,
H.
inJluenzae dan Enterobacteriacae. Juga oleh berbagai bakteri enterik gramnegatif.
Patogenesis PK
Gambaran interaksi dari ketiga faktor tersebut tercermin pada kecendrungan terjadinya
infelsi
oleh kuman tertentu olehfaktor
perubah (modifyingfactor),
sepertiterlihat
pada TabelL.Pneumokokkus yang resisten penisilln dan obat lain Usia > 65 tahun
Pengobatan B-lactam dalam 3 bulan terakhir Alkoholisme
Penyakit imunosupresif (termasuk terapi menggunakan kortikosteroid)
Penyakit penyerta yang multiPel
Kontak pada klinik lansia Patogen gram negatif
Tinggal di rumah jompo
Penyakit kardiopulmonal penyerta Penyakit penyerta yang jamak
Baru selesai mendapatkan terapi antibiotika Pseudomonas aeruginoasa
Penyakit paru struktural (bronchiektasis) Terapi kortikosteroid (>10m9 prednisone /hari) Terapi antibiotik spektrum luas > 7 hari pada bulan
sebelumnYa
Malnutrisi
Patogenesis
PNPatogen
yang
sampaike
trakhea terutama berasal dari aspirasi bahan orofaring, kebocoran melalui mulut saluran endotrakheal, inhalasi, dan sumber bahan patogen yang mengalami kolonisasi di pipa endotrakeal. PN terjadi akibat2198
REI,'MTTIOI.OGIproses
infeksi bila
patogenyang
masuk saluran napas bagian bawah tersebut mengalami kolonisasi setelah dapatmeliwati
hambatan mekanisme pertahanan inang berupadaya tahan mekanik
(epitel
cilia
dan
mukus),
humoral (antibodi
dan komplemen) dan selular (lekositpolinuklir,
makrofag,limfosit
dan sitokinnya). Kolonisasite{adi
akibat adanya berbagai faktor inang dan terapi yang telah dilakukan yaitu adanya penyakit penyerta yang berat, tindakan bedah, pemberian antibiotik, obat-obatan lain dan tindakan invasif pada saluran pernapasan. Mekanismelain
adalah pasasibakteri
pencernaanke
paru, penyebaran hematogen, dan akibat tindakan intubasi.Faktor risiko terjadinya PN dapat dikelompokkan atas
2 golongan
yaittyang
tidak bisa dirubah yaitu berkaitan dengan inang (seks pria, penyakit parukronik,
ata:u gagal organjamak), dan terkait tindakan yang diberikan (intubasi atau slang nasaogastrik). Padafaktor
yang dapat dirubahdapat dilakukan
upaya
berupa mengontrol infeksi,
disinfeksi
dengan alkohol, pengawasan patogen resisten(multidrug
resistent-MDR),
penghentian dini pemakaian alat y ang invasif, dan pengatur an tatacara pemakaianAB.
Faktorrisiko kritis
adalahventilasi
mekanik>
48jam,
lamanya perawatan di ICU,skorAPAClIE,
adanyaARDs (acuterespiratory
distress syndrome).PN dan
PBV
onsetdini terjadi
dalam 4 hari pertama masuk RS, biasanya disebabkan oleh bakteri yangsensitif
terhadap
AB,
kecuali
bila
telah
pernah
sebelumnya mendapatAB atau dirawat di RS dalam waktu 90 hari. PN dan PBV onset lanjut (hari ke 5 atau lebih) lebih mungkin disebabkanoleh
patogenMDR
yang
berkaitan denganmortalitas
dan
morbiditas yang tinggi. Faktor risiko
terjadinya infeksi pada PBV dapat dilihat pada Tabel 2.
Terapi dalam 90 hari sebelumnya Perawatan RS dalam 5 hari atau lebih
Frekuensi
tinggi
kuman resistensAB di
RS
atau lingkungan pasienFaktor risiko PPK:
o
rawat di RS 2 hari atau lebih dalam 90 hari terakhiro
berdiam di rumah jompoo
terapi infus dirumah (termasuk antibiotika)o
dialisis kronik dalam 30 hario
perawatan luka di rumaho
anggota keluarga terinfksi patogenmultiresisten Penyakit imunosupresif +/- terapiETIOLOGI
eari-te4adlnya
penularan berkaitanpula
denganjenis
kq(nan, misalnya infeksi melalui droplet sering disebabkanpneumoniae,
melalui
slang
infus
oleh
aureus sedangkan infeksi pada pemakaian ventilator olehP
aeruginosa dan Enterobacter. Padamasakini
terjadi
perubahanpola mikroorganisme
penyebabISNBA
akibat adanya perubahan keadaan pasien sepertigangguan kekebalan dan penyakit
kronik,
polusi
lingkungan, dan penggunaan
antibiotik
yangtidak
tepathingga menimbulkan
perubahankarakteristik
kuman. Te{adilah peningkatan patogenitas /jenis kuman. terutamaS.
aureus,
B.
cataruhalis,
H.
influenzae
danEnterobacteriacae oleh adanya berbagai mekanisme. Juga dijumpai pada berbagai bakteri enterik gram negatif.
Etiologi
pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia, danhalini
berdampak kepada obat yang akan diberikan. Mikroorganisme penyebab yang tersering adalah bakteri, yangjenisnya berbeda antar rregara, anlara satu daerah dengan daerahlain
pada satu negara,di
luar RS dandi
dalam RS, antara RS besar/ tersier dengan RS yang lebihkecil.
Karenaitu
perlu diketahui denganbaik
pola kuman di suatu tempat. Indonesia belum mempunyaidata mengenai pola kuman penyebab secara umum, karena itu meskipun pola kuman di luar negeri tidak sepenuhnya cocok dengan pola kuman
di
Indonesia, maka pedoman yang berdasarkan pola kuman diluar negeri dapat dipakai sebagai acuan secara umum.Etiologi Pneumoni Komunitas
Diketahui berbagai patogen yang cendrung dijumpai pada
faktor risiko
tertentu misalnyaH.
inJluenza pada pasien perokok, patogen atipikal pada lansia, gram negatifpada pasien dari rumahjompo, dengan adanya PPOK, penyakitpenyerta kardiopulmonal/ jamak,
atau pasca terapi
antibiotika
spekrum luas. Ps.Aeruginosa
pada pasien denganbronkiektasis,
terapi steroid (>10 mg/
hari),
malnutrisi dan imunosupresi dengan disertai lekopeni.Pada PK rawat jalan jenis patogen tidak diketahui pada 40olo kasus.
Dilaporkan
adanyaStr
Pneumoniae
pada9-20o/o), M. pneumoniae (13-37%), Chlamydia pneumoniae (sp
t7%).
Patogen pada PK rawat inap diluar ICU.
Pada2}-
70%otidak
diketahui penyebabnya. Str Pneumoniaedijvrnpai
pada20-60Yo,H.
influenzae (3-10%), dan oleh S. aureus,gram
negatif
enterik, M. pneumoniae,
C. pneumoniaeLegionella
danvirus
sebesarsp
l0%.
Kejadian infeksi
kuman atipikal mencapai 40-60%.Infeksi
patogen gram negatif bisa mencapai l0%o terutamapada pasien dengankomorbiditas
penyakit
lain
seperti disebut
di
atas. Ps. Aeruginosa dilaporkan sebesar 4ol0.Patogen pada PK Rawat Inap
di ICU.
Sebanyaklloh
dari PK
dirawat
di ICU,
50-60%
tidak
diketahui
penyebabnya, sekitar
33%
disebabkan Str. pneumoniae.Di
samping patogen yang didapatkan pada paBien rawatinap non
ICU,
didapatkan peningkataninfeksi
patogen Gram negatif. Enterobacteriacae dijttrnpai pada 20Yo,l0-20%
di
antaranya oleh Ps. Aeruginosa terutama pasien dengan bronkiektasis.2199
PNEI.N'ONIA
resisten
methisilin (Methycilline
resistant S.
aureus-MRSA), bakteri Gram negatif,M.
tuberculosrs dan virus tertentu.(adenovirus, cyncytial virus (RSV) dan influenza. Secarain
vitro di
negarabarat
dilaporkan
adanya resisten pneumokokkus terhadappenisillin
(drug
resis-tant
Str. Pneumoniael DRSP) sampai sebesar 40olo kasus, yang biasanya disertai juga resisten terhadap sefalosporin, makrolid, doksisiklin, dan trimethoprim/sulpametoksazol.Berbagai
AB
lain
aktif
terhadap DRSP
ini
yaitu
fluoroquinolone antipneumokokus yang
baru
(sepertigatifloksasin, levofloksasin,
atau moksifloksasin),juga
ketolide, vankomisin atau linezolid. Patogen tertentu yang sering mengenaitiap
kelompok
di USA
dan sekaligus terapinya dapatdilihat
pada tabel 6. Penelitian PK rawatinap
di
Asia
misalnya Indonesia atau Malaysia
mendapatkan patogen
yang bukan
Str.pneumoniae
sebagai penyebab
tersering
PK,
antara
lain
Kl.
pneumoniae.
Etiologi Kelompok Pneumonia Nosokomial
Etiologi tergantun gpada 3 faktor yaitu: tingkat berat sakit, adanya
risiko
untuk
jenis
patogen tertentu,
dan masa menjelangtimbul
onset pneumonia.Hal
ini
dapatdilihat
pada Tabel 3.Patogen Faktor Risiko
Anamnesis. Ditujukan untuk
mengetahui kemungkinan kuman penyebab yang berhubungan dengan faktor infeksi:a. Evaluasi
faktor
pasien/predisposisi: PPOK
(H.
influenzae),penyakit
kronik
(kuman jamak), kejang/tidaksadar (aspirasi Gram negatif, anaerob), penurunan imunitas
(kuman Gram
negatif),
Pneumocystic
carinii,
CMY,
Legionella,jamur,
Mycobacterium), kecandtan obat bius(St ap hy I o c o c cus
).
b. B edakan lokasi infeksi : PK (S tr ept o-coccus pneumoniae, H. inJluenzae, M. pneumoniae),
nxnah
jompo, PN (Srap hylococcus aureus), Gram negatif. c. Usia pasien:bayi (virus),
muda (M. pneumoniae), dewasa (S.pneumoniae). d. Awitan: cepat, akut dengar, rusty coloured sputum (5.
Pneumoniae);perlahan
dengan batuk, dahak sedikit (M. pneumoniae).Pemeriksaan fisis.
Presentasibervariasi
tergantung etiologi, usia dan keadaanklinis.
Perhatikan gejalaklinis
yang mengarah padatipe
kuman penyebab/ patogenitas kuman dan tingkat berat penyakit: a). Awitan akut biasanya oleh kuman patogen seperti S. pneumoniae. Streptococ-cus spp, StaphylocStreptococ-cus. Pneumoniavirus
ditandai dengan mialgia, malaise, batuk kering dan nonproduktif; b). Awitan lebih insidious dan ringan pada orang tua,/imunitas menurun akibat kuman yang kurang patogerVoporhrnistik, nlisalnya;Klebsiella,
Pseudomonas,Enterobacteriaceae,
kumananaerob, jamur; c). Tanda-tanda fisis pada tipe pneumonia klasik bisa didapatkan berupa demam, sesak napas, tanda-tanda konsolidasi paru (perkusi paru yang pekak,
ronki
nyaring, suara pernapasanbronkial).
Bentukklasik
padaPK
primer berupa bronkopneumonia, pneumonia lobarisatau pleuropneumonia. Gejala atau bentuk yang tidak khas dijumpai pada PK yang sekunder (didahului penyakit dasar paru) ataupun PN. Dapat diperoleh bentuk manifestasi
lain
infeksi
paru
seperti
efusi
pleura, pneumotoraksi
hidropneumo toraks.
Pada
pasien PN atau
dengangangguan imun dapat dijumpai gangguan kesadaran oleh
hipoksia; d).
Warna, konsistensi
danjumlah
sputum penting untuk diperhatikanPemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan radiologis. Polaradiologis
dapat berupa pneumonia
alveolar
dengangambaran airbronkhogram ( airspace disease) misalnya oleh Streptococcus pneumoniae, bronkopneumonia
(segmen-tal
disease)oleh
antaralair.
staphylococcus,virus
ataumikoplasma;
dan pneumonia
interstisial (interstitial
disease) oleh virus dan mikoplasma.
Distribusi infiltratpada segmen apikal lobus bawah atau
inferior
lobus atas sugestif untuk kuman aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasiini
bisa di mana saja.Infiltrat di
lobus atas sering ditimbulkanKlebsiella
spp, tuberkulosis atauamiloidosis.
Pada lobus bawah dapat terj adiinfiltrat
at'rbat St ap hy lo c o c cus atau bakteriemia.Bentuk lesi
berupakavitasi
denganair-fluid level
sugestif
untuk
abses paru,infeksi
anaerob, Gramnegatif
atau amiloidosis. Efusi pleura dengan pneumonia seringditimbulkan
S.pneumoniae.
Dapatjuga oleh
kumanStaphylococcus
aureus
Koma, cedera kepala,influenza, Methicillin resistenS.
pemakaian obat lV, DM, gagalaureus
ginjalPs. aeruginosa Pernah dapat antibiotik, ventilator > 2 hari
Lama dirawat di lCU, terapi steroid/ antibiotik,
Kelainaan struktur Paru (bronkiektasis,kistik fibrosis), malnutrisi
Anaerob
Aspirasi, selesai operasi abdomenAcinobachter
spp.
Antibiotik sebelum onset pneumonia dan ventilasi mekanikDIAGNOSIS
Penegakan Diagnosis
Penegakan diagnosis dibuat dengan maksud pengarahan kepada pemberian
terapi
yaitu
dengan cara mencakupbentuk
danluas penyakit,
tingkat
beratpenyakit,
danperkiraan
jenis
kuman penyebab
infeksi.
Dugaan
mikroorganisme
penyebabinfeksi
akan mengarahkankepada
pemilihan terapi empiris
antibiotik
yang
tepat (Tabel 6). Seringkali
bentuk pneumonia
mirip
meskipun disebabkan oleh kuman yang
berbeda'
Diagnosis pneumonia didasarkan kepada riwayat
penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisis yang
teliti
dan pemeriksaan penunj ang.2200
REI,'MANqOGIanaerob,
S.pyogenes,
E.
coli
dan Staphylococcus
(pada anak). Kadang-kadang oleh K.
pneumoniae,
P.pseudomallei.
Pembentukan
kista
terdapat pada pneumonia
nekrotikans/ supurativa,
abses
dan
fibrosis
akibat
terjadinya nekrosis
jaringan
paru oleh kuman S. aureus, K. pneumoniae dan kuman-kuman anaerob (Streptococcus anaerob, B acteroides, Fus obacterium). IJlangan foto perludilakukan
untuk
melihat kemungkinan
adanyainfeksi
sekunder/tambahan, efu si pleura penye rta y angterinfeksi atau pembentukan abses. Pada pasien yang mengalami perbaikanklinis
ulanganfoto
dada dapat ditunda karena resolusi pneumonia berlangsung 4-12 mingga.Pemeriksaan laboratorium.
Leukositosis urnumnya
menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normaVrendah dapat disebabkan oleh infeksi virus/mikoplasma atau pada infeksi yang berat sehingga tidak terjadi respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia menunjukkan depresi imunitas, misalnya neutropenia pada infeksi kuman Gram negatifatau S. aureus pada pasien dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu. Pemeriksaan
bakteriologis.
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasijarum
transtorakal,
torakosentesis,bronkoskopi,
ataubiopsi.
Untuk
tujuan terapi empiris dilakukan pemeriksaan apus Gram, Burri Gin, QuellungtestdanZ. Nielsen. Kumanyangpredominan pada
sputum
yang disertai PMN
yang
kemungkinan merupakan penyebab infeksi. Kultur kuman merupakan pemeriksaan utama pra terapi dan bermanfaat untuk evaluasi terapi selanjutnya.
Pemeriksaan khusus. Titer antibodi
tertiadap virus,
legionella, dan mikoplasma.Nilai
diagnostik bila titer tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai tingkat hipoksia dan kebutuhan oksigen.Pada
pasien PN/PK yang dirawat nginap perlu
diperiksakan analisa gas darah, dan
kultur
darah.KLASIFIKASI
Klasifikasi
pneumoniayanglazim dipakai
adalah seperti terlihat pada Tabel 4 yang didasarkan kepada faktor inang danlingkungan.
Klasifikasi ini
membantu pelaksanaan terapi pneumonia secara empirik.Pneumonia
komunitas
Sporadis atau endemik; muda atau orang tuaPneumonia nosokomial Didahului perawatan di RS
Pneumoniarekurens
Terjadiberulangkali,berdasarkan penyakit paru kronik Pneumoniaaspirasi
Alkoholik, usia tuaPneumonia
pada
pada pasien transplantasi, onkologi, gangguanlmun
AIDSPneumonia Komunitas
Stratifikasi
pada pneumonia
komunitas.
PORT
(Pneumonia Patient Outcome Research Team) mengajt*arr faktor risiko berkaitan yang berkaitan dengan peningkatan angka mortalitas atau komplikasi yang dapat terjadi. Faktor risiko tersebut adalah:
l).
Usia di atas 65 tahun 2). Adanyainfeksi
padaparu yang multilober/nekrotikans,
pascaobstruktif,
atauaspirasi;
3).
penyakit penyerta
seperti PPOK, bronkiektasis, keganansan, DM, gagal ginjal, kronik, gagaljantung,
sirosis hepatic,
penyakit
serovaskular, alkoholik, malnutrisi, gangguan imun dan pasca spelektomi; 3). Manifestasi infeksi organ jamak atau komplikasi organekstrapulmoner; 4).
Tanda
fisik
yang
memprediksi
mortalitas, peningkatan mobiditas, dan komplikasi, berupa: Respirasi >30x/menit; tekanan diastolik <60 atau sistolik <90 mmHg nadi > l25x/m; suhu < 350C atau > 4ffC, bingung atau
penurunan kesadaran; and
bukti
adanyainfeksi
ekstraparu.
4. Hasil
laboratorium lekosit
<
4.000
atau >30.000/mm3;PaO2 <60 mmHg atauPaCO2>50 mmHg; kreatinin >1,2 mgo/o atauBUN
>20 mg%o; gambaran foto torakterlihat
lesi lobusjamak,
adanya rongga, perluasan yang cepat atau adanya efusi pleura; hematokrit <3 |Yo atauHb
<
9 gf/o;
adanya tanda sepsis ataudisfungsi
organberupa asidosis
metabolik
atau koagulopati;pH
arterial <7 15Indikasiperawatan
diRS. Hal-hal di atas merupakan dasar unhrk perawatan di rumah sakit. Pasien berindikasi dirawatdi ICU
menurutAmerican
Thoracic Sociaty adalahbila
pasienPK
sakit berat yaitubila
terdapatI
dan 2 kreteriarnayor,atat2
dari 3 kreteria minor. Kreteria mayor adalah: kebutuhan akan ventilator dan syok septik, kreteriaminor
berupa tensi sistolik <90 mmHg, mengenai multilobar,PaO2/FI
02
ratio
>250. Kreteria rawat
ICU
dari British
Thoracic
Society adalah Frekuensi napas>
30/m, tensi diastolik <60 mmHg, BUN >19, 1 mg/dl, dan adanya birrgung (confusion).Pasien
dibagi
atas4
kelompok
berdasarkan kepada tempat perawatafi (rawatjalan,
rawat inap, perawatan diunit
intensif/ ICU);
adanya
penyakit
penyerta
kardiopulmonal
-
PKP
(PPOK, payahjantung);
adanya "faktor perub ah"(modifiingfactor-MF)
yailtt faktorrisiko
oleh pneumokokkus resisten,faktor
risiko
infeksi
Gram negatif (termasuk di rumah perawatan flrmahjompo),
dan adanyafaktor
risiko
PAeruginosa-RPA (terutama pada rawat di ICU). Pada cara pendekatan stratifikasi ini tempatterapi
merupakanrefleksi dari
beratnya
sakit
dengankeharusan
rawat
inap
dan
rawat
ICU
ditentukan
berdasarkan kreteria terteritu. Secara garis besar pasien dibagi atas Rawat jalan dan rawat inap. Rawat inap dibagi
atas a). Sakit berat sampai sedang, dengan atau tanpa risiko
PKP
atau"faktor
perubah" danb).
Sakit berat, denganata;.ltanpa disertai
risiko P
Aeruginosa.2201
PNEI.IMOI{IA
pasien didefinisikan sebagai berikut:
Kelompokl.
Rawat
Jalanyang
tidak
disertai riwayat
penyakit kardiopulmonal
ataupun"faktor
perubah"Kelompokll.
Rawat Jalan yang disertai riwayat penyakit kardipulmonal
danJ atau"faktor
perubah" (faktor unnrk DRSP atau bakteri Gram negatif KelompokIII.
Rawat Inap RS non ICU, yang disertaia.riwayat
penyakit kardipulmonal dan/ atau "faktor perubah" (termasuk asaldari rumahjompo)KelompoklV
Rawat di ICUyalg
a.tidak disertairisiko
Ps.Aeruginosa- RPA,b.
disertairisiko
Ps. Aeruginosa-RPA
Untuktiap kelompok diidentifikasi jenis patogen secara bertingkat yang paling sering menjadi penyebab pneumonia.
Patogen penyebab pada rumah
jompo
lebih
sering
disebabkan oleh patogen seperti disebutkan pada uraian etiologi.Pneumonia Nosokomial
Kreteria pneumonia nosokomial Mengingat gambaran PN
yang tidak khas
dan berbeda
dari PK,
maka
untuk
diagnosis
PN
digunakan
kriteria
diagnosis
PN
yangdiajukan oleh
Centers
for
Disease
Control
and
Prevention (CDC), USA, seperti terlihat pada Tabel 5.
Ronki atau dullness pada perkusi torak. Ditambah salah satu:
a. Onset baru sputum purulen atau perubahan karakteristiknya
b. lsolasi kuman dari isolasi kuman dari bahan yang didapat dari aspirasi transtrakeal, biopsi atau sapuan bronkus Gambaran radlologis berupa infiltrat baru yang progresif, konsolidasi, kavitasi, atau efusi pleura. dan salah satu dari a,
b, atau c diatas
a.
lsolasi virus atau deteksi antigen virus dari sekretresprrasr.
b. Titer antibodi tunggal yang diagnostik (lgM), atau peningkatan 4x titer lgG dari kuman
c.
Bukti histopatologis pneumoniaPasien sama atau< 12 tahun dengan 2 dari gejala- gejala berikut: apnea, takipnea, bradikardia, wheezing, ronki, atau batuk, disertai salah satu dari:
a.
Peningkatan produksi sekresi respirasi atau salah satu dari kriteria no. 2 di atas.Pasien sama alau <12 tahun yang menunjukkan infiltrat baru atau ogresif, kavitasi, konsolidasi atau efusi pleura pada foto torak. Ditambah salah satu dari kriteria No.3 di atas.
PENATALAKSANAAN
Pneumonia Komunitas
Indikasi Perawatan
Antibiotik
empirik.
Pasien pada awalnya diberikan terapi empirik yang ditujukan pada patogen yang paling mungkinmenjadi penyebab seperti tercantum padabagan 1.
Bila
telah ada hasil
kultur
dilakukan penyesuaian obat.Di
luar negeri terhadap semua pasien dianjurkan kemungkinan terapi patogenatipik
yang berdasarkanfaktor
risikonya disertailtanpaAB
lain. Pada pasien rawat inapAB
harus diberikan dalam 8 jam pertama di rawat di RS. Stratifikasikelompok
ini
menjadi dasar dari pengarahan pemberian terapi pada PK. (Tabel 6)Pada
prinsipnya terapi
utama pneumonia
adalahpemberian
antibiotik
(AB)
tertentu
terhadap kuman
tertentu pada sesuatutipe
dari
ISNBA
baik
pneumonia ataupunbentuk
lain,
danAB ini
dimaksudkan sebagaiterapi kausal
terhadap
kuman
penyebab
temaksud.Berdasarkan perbedaan tempat perawatan (rawat jalan, rawat ruang umum dan di ruang intensif), adanya penyakit kardiopulmoner dan
"faktor
perubah" (modifyingfactor)
maka PKterbagiatas4 grup dengan kumanpenyebab yang berbeda. Pada tabel6 terlihat
grup-grup termaksud dan antibiotika yang dianjurkan untuk diberikan.Faktor- faktor yang dipertimbangkan pada
pemilihanAB:
Faktor
Pasien. Yaitu urgensilcara pemberian
obatberdasarkan tingkat berat sakit ISNBA dan keadaan umum/ kesadaran,
mekanisme
imunologis, urnur, dtfi
siensi genetik/organ, kehamilan, alergi. Pasien berobatjalan dapatdiberikan obat
oral,
pasien sakit berat diberikan
obat intravenaFaktor Antibiotik.
Tidak mungkin mendapatkan 1 jenisantibiotik yang ampuh untuk semua jenis kuman. Karena
itu
penting
dipahami berbagai aspek tentangAB
untuk efisiensi pemakaianAB.
Secara praktisdipilih AB
yang ampuh dan secara empirik telah terbukti merupakan obatpilihan
utama dalam mengatasikuman
penyebab yang paling mungkin pada pneumonia atau bentuk lainISNBA
berdasarkan data antibiogram miiaobiologi dalam 6- 1 2 bulanterakhir. Efektivitas AB tergantung kepada kepekaan kuman terhadap
AB ini,
penetrasinyake
tempat
lesi
infeksi,
toksisitas,Interaksi
dengan obatlain
dan reaksi pasien misalnya alergi atau intoleransi.Faktor Farmakologis. FarmakokinetikAB mempertimbang-kan proses bakterisidal dengan Kadar Hambat
Minimal
(MIC)
yang
sama denganKadar Bakterisidal
Minimal
(KBM),
dan bakteriostatik denganKBM
yangjauh
lebih tinggi daripadaKHM.
Untuk mencapai efektivitas optimal, obatyang tergolong mempunyai sifat
dose dependent(misalnya sefalosporin) perlu diberikan
dalam 3-4
pemberian/hari sedangkan golongan conc entration depen-dent (misalnya aminoglikosida,
kuinolon)
cukup 1-2kali
sehari namun
dengan
dosis
yang
lebih
besar.Farmakodinamik menilai kemampuan AB rurtuk melakukan penetrasi ke lokasi infeksi di jaringan dan keampuhannya
AB
hingga obatini
ampuh untuk dipakai terhadap patogen penyebab.Obat
dengan kadarintraselular yang
tinggi
seperti makrolid akan lebih efektif dalam membunuh kuman