• Tidak ada hasil yang ditemukan

KASUS LUMPUR LAPINDO DALAM BINGKAI MEDIA MASSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KASUS LUMPUR LAPINDO DALAM BINGKAI MEDIA MASSA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KASUS LUMPUR LAPINDO DALAM BINGKAI MEDIA MASSA

Putri Aisyiyah Rachma Dewi1

dan Suprihatin

ABSTRACT

Lapindo mudflow disaster in the Porong, Sidoarjo last May 29, 2006, leaving a lot of problems. Starting from the issue of compensation, relocation and infrastructure, the legal status Lapindo in this case, until the disposal of sludge that cause unrest around the Porong River residents. The news about the Lapindo still often appears in various media, both local and national media. This indicates that the Lapindo mud disaster was a public issue that must be guarded continue its development. Then, how the media interpret these events? In the process of making the news - from a decent selection of events which cover, who is about to be used as sources, gathering facts on the ground until the selection of diction used in the writing-makers rely on the subjectivity of news and policies applicable in their respective media . These issues are going to look for the answer through this study.

Key Words:

Lumpur Lapindo, Mass Media, Framing Analysis

ABSTRAK

Bencana lumpur panas Lapindo yang menimpa daerah Porong, Sidoarjo 29 Mei 2006 lalu, menyisakan banyak persoalan. Mulai dari masalah ganti rugi, relokasi warga dan infrastruktur, status hukum Lapindo pada kasus ini, hingga pembuangan lumpur yang menimbulkan keresahan warga sekitar Kali Porong. Berita-berita mengenai Lapindo pun masih kerap muncul di berbagai media massa, baik media lokal maupun nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa bencana lumpur lapindo adalah isu publik yang harus dikawal terus perkembangannya. Lalu, bagaimana media massa memaknai peristiwa ini? Samakah antara media satu dengan lainnya? Dalam proses pembuatan berita – mulai dari pemilihan peristiwa mana yang layak liput, siapa yang hendak dijadikan narasumber, pengumpulan fakta-fakta di lapangan hingga pemilihan diksi yang digunakan dalam penulisan- bergantung pada subjektifitas pembuat berita dan kebijakan-kebijakan yang berlaku di masing-masing media. Persoalan-persoalan inilah yang hendak dicari jawabannya lewat penelitian ini.

Kata Kunci:

Lumpur Lapindo, Media Massa, Analisis Framing

1 Putri Aisyiyah Rachma Dewi adalah Dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya. Penulis dapat dihubungi melalui email: [email protected].

(2)

Latar Belakang

Isi media merupakan hasil dari para pekerja media mengonstruksikan bagaimana realitas yang dipilihnya. Karena fakta dan sifatnya pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality). Pembuatan berita di media pada dasarnya tidak lebih dari penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah “cerita” (Tuchman dalam Sobur 2002:88). Realitas tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga diturunkan oleh Tuhan. Ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan pemahaman seperti ini, realitas berwajah ganda atau plural.

Ketika berita sampai pada pembaca, secara tidak sadar pembaca juga dipengaruhi pada realitas yang dibentuk oleh pembuat berita, bukan pada realitas yang sebenarnya. Untuk itulah kami melakukan penelitian agar dapat mengetahui bagaimana media-media Indonesia mengkonstruksi berita-berita yang berkait dengan lumpur Lapindo.

Penelitian ini dilakukan terhadap 3 media nasional, yaitu: Harian Kompas, Media Indonesia, dan Seputar Indonesia, dan 3 media lokal yaitu: Jawa Pos, Surya, dan Surabaya Post. Kami mengamati berita-berita seputar lumpur Lapindo yang dimuat oleh enam media tersebut dalam kurun waktu 6 (enam) bulan, mulai 14 Juli hingga 19 Desember 2008.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka penelitian ini dilakukan guna menjawab permasalahan berikut “Bagaimanakah media massa Indonesia membingkai kasus lumpur Lapindo dalam pemberitaan mereka?”

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimanakah kasus lumpur lapindo dibingkai oleh media massa Indonesia dalam pemberitaan-pemberitaan mereka.

2. Untuk mengetahui isu-isu apa sajakah yang muncul dalam media massa berkaitan dengan lumpur lapindo setelah dua tahun peristiwa semburan terjadi.

(3)

Metodologi

i. Tipe Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat sebuah deskripsi yang sistematis mengenai sebuah fenomena.

ii. Fokus Penelitian

Yang menjadi fokus/objek dalam penelitian ini adalah seluruh teks berita mengenai lumpur Lapindo yang dimuat di Kompas, Seputar Indonesia, Media Indonesia, Jawa Pos, Surya, dan Surabaya Post. Tiga media, Kompas, Seputar Indonesia, dan Media Indonesia dipilih karena dianggap merupakan representasi koran nasional, dan tiga media lain adalah media lokal atau yang berkantor pusat di Jawa Timur. Selain itu, 6 media massa inilah yang memiliki tiras terbesar dalam kelas mereka. Adapun periodesasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mulai tanggal 14 Juli hingga 19 Desember 2008.

iii. Pengumpulan Data

Langkah pertama dalam mengumpulkan data adalah mendokumentasikan (kliping) berita Lumpur Lapindo dari media-media yang telah ditentukan. Setelah data terkumpul, selanjutnya digunakan lembar koding untuk memasukkan temuan-temuan data. Lembar koding dibuat berdasarkan perangkat framing yang dikemukakan oleh William A. Gamson. Langkah terakhir adalah data-data dalam lembar koding dianalisis dan diinterpretasikan. Proses ini dilakukan setiap dua minggu (dwi mingguan) selama periodesasi riset 6 bulan.

iv. Analisis dan Interpretasi Data

Untuk menganalisis data yang terkumpul, peneliti menggunakan model analisis framing model William A. Gamson dan Modigliani (Eriyanto, 2004: 225). Skema yang diberikan oleh Gamson & Modigliani adalah sebagai berikut:

Frame

Central organizing idea for making sense of relevant events, suggesting what is at issues

(4)

Framing Devices (Perangkat Framing)

Reasoning Devices (Perangkat Penalaran) Metaphors

Perumpamaan atau Pengandaian

Roots

Analisis kausal atau sebab akibat

Catchphrases

Frase yang menarik, kontras, menonjol dalam sebuah wacana.

Appeals To Principle

Premis dasar, klaim-klaim moral

Exemplaar

Mengaitkan bingkai dengan contoh, uraian yang memperjelas bingkai

Consequences

Efek atau konsekuensi yang didapat dari bingkai

Depiction

Penggambaran atau pelukisan suatu isu yang bersifat konotatif. Umumnya berupa kosakata, leksikon, atau pelabelan (labelling)

Visual Images

Gambar, grafik, citra yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Berupa foto, karikatur, maupun grafik untuk menekankan dan mendukung pesan yang ingin disampaikan.

Temuan dan Analisis Data

Setelah proses koding dilakukan, berikut adalah hasil penelitian mengenai framing/bingkai media massa terhadap isu-isu seputar semburan lumpur Lapindo dalam kurun waktu penelitian 14 Juli hingga 19 Desember 2008 atau dalam periode 6 bulan terakhir.

I. Ganti Rugi Korban Lumpur

Tabel 1

Frame Isu “Ganti Rugi Korban Lumpur”

(5)

JP SP Surya Kompas Sindo MI 1. Blokade Bekas jalan tol menuntut revisi Perpres No. 14/ 2008 Blokade jalan sebagai bentuk perjuangan nasib korban lumpur - Blokade jalan memacet-kan arus lalu lintas dan merugikan pengguna jalan lain Aksi blokade harus dimaklumi pengguna jalan lain Aksi warga merugikan kepentinga n umum - 2. Pembangu-nan Kahuripan Nirwana Village Pembangun an KNV menyisa-kan berbagai masalah Pembang unan KNV, komitme n Lapindo yang mengun-tungkan bagi warga - (adv) Pembangun an KNV bentuk kepedulian Bakrie terhadap korban lumpur KNV tidak siap huni Warga puas dengan fasilitas yang dimiliki perumah an KNV 3. Pembayaran ganti rugi yang tidak sesuai jadwal Lapindo ingkari komitmen - Lapindo Ingkari Komitmen Lapindo Ingkari komitmen Lapindo ingkari komitmen PT. MLJ (Lapindo ) tetap berkomit men pada korban lumpur 4. Cash & Carry VS Cash & Resettle-ment Cash & Carry sesuai dengan Perpres - Cash & Carry sesuai dengan Perpres Cash & carry sesuai dengan Perpres Cash & carry sesuai dengan Perpres - 5. Aksi Blokade Tanggul oleh Warga Demo warga menggangg u pengerjaan tanggul - - Demo warga menggangg u penger-jaan tanggul Demo warga menggangg u pengerjaan tanggul - 6. Skema Pembaya-ran angsuran Sistem angsuran merugikan warga dan menyalahi perpres Lapindo terpaksa karena terkena krisis global, dan semua pihak harus memaklu Sistem angsuran tidak sesuai dengan Perpres dan merugikan warga Sistem angsuran merugikan warga dan menyalahi perpres - -

(6)

mi 7. Unjuk Rasa Korban Lumpur Ke Jakarta Sebab aksi adalah karena nasib korban lumpur hingga kini belum jelas Aksi warga sia-sia dan tidak tepat dilaku-kan Aksi korban disebab-kan mereka menolak skema angsuran yang ditawarkan oleh Lapindo Aksi korban lumpur ke Jakarta untuk meminta bantuan Pemerin-tah Pusat, karena Pemkab dan Pemprov tidak mampu membantu mereka Aksi warga ke Jakarta adalah aksi anarkis -

a)Blokade Bekas jalan tol menuntut revisi Perpres No. 14/ 2007

Hampir seluruh media massa yang diteliti –kecuali Surabaya Post dan Media Indonesia- meliput peristiwa ini. Namun, ada perbedaan media dalam membingkai peritiwa tersebut menjadi sebuah karya jurnalistik. Surya dan Seputar Indonesia mengambil frame yang senada, yaitu aksi blokade sebagai sesuatu yang merugikan kepentingan masyarakat umum. Pada Surya hal ini tampak dari kutipan berikut (exemplaar):

Jalan Raya Porong macet. Akibatnya, kendaraan baik truk sirtu maupun kendaraan pribadi yang semula melewati jalur alternatif tersebut menjadi terhalang. Bahkan, jalan Raya Porong menjadi macet, karena penumpukan kendaraan di jalan propinsi tersebut.

Selain memblokade jalur alternatif di tol, warga secara serentak juga menutup sejumlah jalur alternatif yang melintas di kawasan Desa Besuki, Pejarakan, dan Kedungcangkring,Kecamatan Jabon.

(Warga Tiga Desa Tuntut Pemberian Ganti Rugi, Surya, 17 Juli 2007)

Selain kutipan di atas, Surya juga memperkuat bingkai “merugikan kepentingan umum” dengan pernyataan dari Kasatlantas Polres Sidoarjo, AKP Andi Yudianto bahwa blokade jalan membuat jalan raya Porong macet. Dari uraian di atas, tampak bahwa Surya memberi penekanan pada bagaimana aksi tersebut dilakukan, bukan pada apa yang menjadi tuntutan warga.

Bingkai yang sama ditunjukkan oleh harian Seputar Indonesia dalam memaknai aksi blokade eks jalan tol Porong-Gempol oleh warga korban lumpur. Sindo memaknainya sebagai tindakan yang merugikan kepentingan umum. Indikasi tersebut tampak pada pemilihan judul “Lagi, Warga Tiga Desa Blokade Jalan” (Kamis, 17 Juli 2007), penggunaan kata “lagi” dalam

(7)

judul menunjukkan blokade jalan hal yang sering dilakukan dan membuat jenuh bahkan jengkel masyarakat lainnya.

Foto (visual images) yang menampilkan gambar pipa besar melintang di tengah jalan dan deretan kendaraan yang terhenti perjalanannya, digunakan untuk mendukung bingkai bahwa aksi warga tersebut merugikan. Sindo juga membangun sebuah reasoning bawa aksi blokade tersebut bersifat negatif dan tidak terlalu penting untuk dilakukan karena sebagian warga telah melakukan aksi di Jakarta dengan tuntutan yang sama.

Sementara itu, Kompas dan Jawa Pos mengajak pembaca untuk lebih memaklumi aksi warga, karena meski aksi tersebut mendatangkan kerugian bagi orang yang akan melewati jalur Porong, namun itu adalah cara warga agar nasib mereka diperhatikan (Catchphrases).

b) Pembangunan Kahuripan Nirwana Village (KNV)

Kahuripan Nirwana Village (KNV) adalah nama kompeks perumahan yang disiapkan oleh PT Minarak lapindo Jaya untuk korban lumpur yang bersedia resettlement. Ketika diresmikan, banyak pro dan kontra akan keberadaan KNV. Media massa pun memandang persoalan tersebut dengan kacamata mereka sendiri. Ada 4 media yang memuat berita seputar KNV. Pertama mengenai kunjungan Aburizal Bakrie ke KNV. Jawa Pos membangun sebuah perangkat penalaran (reasoning devices) bahwa apa yang dikerjakan Bakrie di KNV hanyalah siasat menghindari panggilan Komnas HAM berkait dengan bencana lumpur.

“Bukan Aburizal Bakrie jika tidak pandai bermanuver. Saat dipanggil Komnas HAM untuk dimintai keterangan soal Lapindo, mantan pengusaha yang kini menjabat Menko Kesra itu justru mengunjungi korban lumpur, itu adalah kunjungan pertama Ical ke korban lumpur Lapindo setelah bencana itu 2 tahun berlalu”.

(Pertama, Ical Kunjungi Korban Lumpur: Jawa Pos, 17 Juli 2007).

Jawa Pos juga menyorot persoalan ijin lokasi perumahan yang belum tuntas. Disebutkan PT Mutiara Masyhur Sejahtera (MMS) selaku pengembang KNV belum mengembalikan site plan (berisi peta bidang). Padahal itu merupakan syarat utama untuk memastikan tanah itu sudah digarap atau belum.

Hingga kini masalah perijinan Perumahan Kahuripan Nirvana Village (KNV) belum selesai. Padahal ribuan rumah telah terbangun. Bahkan, kunci rumah tersebut sudah diserahkan kepada warga yang memilih resettlement (JP, 23/7).

(8)

Di Jawa Pos, kunjungan Ical –panggilan akrab Aburizal Bakrie- diberitakan sebagai manuver seorang politisi belaka, dalam berita Surabaya Post dikemas sebagai sebuah peristiwa istimewa dan dibingkai sebagai upaya Ical yang memiliki perhatian dan kesungguhan untuk membantu korban Lapindo.

Dari pemilihan judul, “Ical disambut antusias warga KNV” (Kamis, 17 Juli 2007), Surabaya Post berusaha menunjukkan bahwa kedatangan Ical memang telah dinanti-nanti oleh warga korban semburan lumpur. Beberapa frasa yang menonjol (catchphrase) juga memperkuat kesan tersebut:

Menko Kesra Aburizal Bakrie mengunjungi warga korban lumpur yang kini menghuni perum KNV, Rabu (16/7) malam. Sementara sejumlah penghuni menyambutnya dengan penuh antusias.

(Ical Disambut Antusias Warga KNV: 17 Juli 2007)

Pembangunan KNV dengan segala fasilitasnya dipandang Surabaya Post sebagai kemurah-hatian dari Lapindo kepada korban Lumpur, dan semata karena kepedulian belaka, bukan sebagai tanggung jawab yang seharusnya mereka lakukan (exemplaar).

Hasyim Ahmad (salah seorang warga) mengatakan, dengan adanya KNV dan dihibahkannya uang muka 20% bagi penerima relokasi, warga korban lumpur sudah diuntungkan. Pasalnya, selain mendapat rumah dengan tipe sepadan ada warga yang menerima keuntungan lebih dari hasil kompensasi yang diberikan PT. Minarak lapindo Jaya.

(Ical Disambut Antusias Warga KNV: 17 Juli 2008)

Dahulu dihujat, seolah Lapindo Brantas Inc, tidak akan peduli dengan korban lumpur… …Bahkan, apa yang yang dilakukan keluarga Bakrie jauh lebih besar dari apa yang yang sebenarnya menjadi tanggungjawabnya.

(Keluarga Bakrie Buktikan Komitmen Tidak Tinggalkan Korban Lumpur: 19 Juli 2008)

Dibingkai dengan tampilnya Lapindo sebagai ‘pahlawan’ karena pemberian Kahuripan Nirvana Village (KNV) kepada korban Lumpur, Kompas menyediakan satu halaman penuh advertorial mengenai kunjungan Menteri Sekretaris Negara, Hatta Radjasa, dan Aburizal Bakrie--dalam advertorial ini diposisikan sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra)-- ke lokasi KNV. Yang janggal dari advertorial ini adalah pilihan kata “Sidoarjo Bangkit” di sudut kanan atas. Walhasil, advertorial tersaji layaknya sebuah berita yang ditulis oleh wartawan media yang bersangkutan. Sehingga bisa jadi orang/pembaca tidak tahu bahwa tulisan tersebut adalah iklan, bukan berita.

Tiga hari berselang, Sabtu (19/7), giliran Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa mengunjungi kawasan KNV. Ini merupakan kunjungannya yang pertama kali. Dia mengaku terkejut setelah melihat bangunan dalam KNV yang menurutnya melebihi rumah sehat.

(9)

c) Lapindo Ingkari Batas Waktu Ganti Rugi

Berkait dengan ganti rugi yang tak kunjung dibayarkan, baik itu sisa 80% atau bahkan 20% pembayaran awal, empat media massa (Kompas, Seputar Indonesia, Surya, dan Jawa Pos), memiliki bingkai yang sama bahwa Lapindo mengingkari komitmen yang telah disepakati. Hal ini tampak dari berbagai judul berita yang mereka tampilkan.

Perjuangan Panjang Warga Pemilik Tanah Letter C (Jawa Pos, 11/8).

Warga Tagih Uang Pelunasan 80% (Jawa Pos, 14/8).

Warga Larang Penanggulan: Ganti Rugi Belum Dibayar (Surya, 10/8).

Pagar Rekontrak Tuntut Pembayaran 20% Bulan Depan (Sindo, 5/8).

Pencairan Ganti Rugi 80% Molor (Sindo, 14/8).

Suara berbeda muncul dari Media Indonesia. Dari berita yang berjudul “Minarak Taati Perpres” (15/8), Media Indonesia menilai bahwa PT Minarak Lapindo Jaya tetap berkomitmen dengan membayar pelunasan ganti rugi 80% bagi korban lumpur sesuai dengan Perpres No. 14/2007.

d) Perpres 14/ 2007: Cash & Carry atau Cash & Resettlement

PT Lapindo melalui PT Minarak bersikukuh menerapkan persyaratan hanya berkas bersertifikat yang dibayar tunai. Sedangkan berkas yang tidak bersertifikat (letter C atau pethok D) diselesaikan dengan resettlement. Hasil penelitian menunjukkan Kompas, Seputar Indonesia, Jawa Pos, dan Surya cenderung menyuarakan nada sumbang kepada Lapindo. Media-media tersebut banyak mengutip narasumber dari pihak warga yang menginginkan Cash & Carry (C&C). Bagi media, C&C adalah pengejawantahan yang pas dari Perpres No. 14 Tahun 2007, bukan C&R.

Ganti rugi cash and resettlement muncul dari kesepakatan PT Minarak dan korban lumpur yang tergabung dalam Gabungan Korban Lumpur Lapindo (GKLL) tanpa persetujuan BPLS dan pemerintah.

(Jawa Pos, 6/8)

Dari berita ini, Jawa Pos mencoba membingkai bahwa sebenarnya cash and carry adalah kebijakan yang paling sesuai dengan keputusan pemerintah melalui Perpres No. 14/2007. Pola cash and resettlement dibuat oleh Lapindo bersama sebagian warga, tanpa sepengetahuan pihak berwenang. Bingkai yang sama juga diambil tiga media lain (Surya,

(10)

Kompas, dan Seputar Indonesia). Berikut adalah kutipan-kutipan yang menjadi representasi bingkai pro cash and carry:

Dia (Untung, warga Renokenongo) menambahkan, bersama warga yang meminta cash and carry tetap akan melakukan aksi blokade tanggul. Sebab, sesuai Perpres No. 14 Tahun 2007, pembayaran ganti rugi dibayar cash and carry, tapi kini oleh Minarak dibayar cash and resettlement bagi berkas bersertifikat.

(Seputar Indonesia, 11/8)

Surat-surat bukti kepemilikan tanah selain sertifikat hak milik dan sertifikat hak guna bangunan milik korban lumpur Lapindo, seperti letter C dan Petok D bisa dibuatkan Akta Jual Beli atau AJB tanah, sehingga sah sebagai bukti untuk mendapatkan ganti rugi.

“Dalam perpres tersebut memang tidak diatur bukti kepemilikan non sertifikat bisa dibuatkan AJB. Namun, pada Perpres itu juga tidak diatur tentang resettlement, warga bisa menolak itu” katanya (Wakil Ketua DPRD Sidoarjo, Jalaludin Alham).

(Kompas, 06/08)

Di sisi lain Jawa Pos juga menurunkan berita yang menunjukkan bahwa Perpres No. 14/2007 dipersepsi secara berbeda oleh PT Lapindo. Menurut Lapindo, skema resettlement yang mereka tawarkan sudah berpedoman pada perpres yaitu pembayaran melalui akta jual beli. Dalam hal ini akta jual beli yang dimaksud adalah tanah bersertifikat.

Yuniwati (Vice President Relation PT Lapindo) menambahkan, pihaknya tetap berpedoman pada perpres, yakni pembayaran melalui AJB. Sementara itu, berdasar peraturan agrarian, tanah bisa di AJB jika memiliki sertifikat hak milik (SHM) atau sertifikat hak guna bangunan (SHGB). Solusinya (bagi yang tak bersertifikat), kami tawarkan resettlement. Kemudian bagi warga yang menolak, ada alternatif lain yaitu cash and resettlement. Itu jalan terakhir. Kami harap warga bisa menerima opsi itu.

(Jawa Pos, 30/8)

Kata jalan terakhir (depiction) dalam berita ini sebetulnya memberi kesan penegasan bahwa tak ada pilihan lagi bagi warga. Cash and resettlement tampaknya dianggap solusi terbaik meskipun warga tak puas. Secara kontras, Media Indonesia justru membingkai beritanya tentang tuntutan ganti rugi dari sudut pandang Lapindo. Mengutip kalimat Vice President Relation Lapindo Brantas, Yuniwati Teryana, bahwa pembelian tanah dan bangunan warga korban lumpur Lapindo dilakukan atas dasar kepedulian. MI juga menyoroti kompleksitas yang harus dihadapi PT Minarak Lapindo Jaya yang harus mengurus ribuan berkas. Termasuk besarnya beban biaya yang harus ditanggung Lapindo.

(11)

e) Aksi Blokade Tanggul oleh Warga

Demonstrasi yang dilakukan oleh warga Besuki Timur, Kecamatan Jabon pada tanggal 28 Oktober 2008 dengan cara menutup akses ke tanggul ternyata tak terlalu menarik simpati media. Sebagian besar media massa dalam pemberitaan lebih berfokus pada aksi warga yang dibubarkan polisi karena mengganggu kepentingan umum, daripada apa yang menjadi tuntutan warga atau latar belakang dilakukannya aksi. Hal ini tampak dari judul-judul yang dipilih media, seperti Kompas: “Tutup Akses ke Tanggul, Warga Dibubarkan”; kemudian Seputar Indonesia: “Demo Warga Besuki Dibubarkan Polisi”; dan terakhir Jawa Pos dengan judul: “Aksi Warga Berlanjut”. Selain itu ketiga media yang menurunkan berita tentang peristiwa tersebut, memilih lead berita yang menggambarkan bagaimana demo tersebut dilakukan, bukan pada apa yang menjadi tuntutan warga.

Perjuangan warga rupanya akan terus didukung oleh media bila dilakukan dengan cara-cara yang simpatik pula. Namun, bila aksi warga telah merugikan kepentingan umum, maka tak hanya pihak kepolisian saja yang melarang dengan cara membubarkan, namun media massa pun enggan menyuarakan tuntutan mereka.

f) Skema Pembayaran angsuran

Surya, Jawa Pos, dan Kompas sepakat bahwa apa yang dilakukan oleh Lapindo dengan tidak menggunakan skema 20:80 persen dalam pembayaran ganti rugi, menyalahi Perpres No. 14 Tahun 2007, dan merugikan warga karena jumlah yang diterima sangat kecil dibanding yang seharusnya mereka (warga) terima.

Meski sudah dibayar Rp. 15 juta oleh PT. Minarak, warga Renokenongo, Kecamatan Porong, mengaku jengkel. Sebab, jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan uang muka yang seharusnya mereka terima.

(Warga Terpaksa Terima Angsuran 15 Juta; Jawa Pos, 26/11)

Tidak hanya menyalahkan Lapindo, Jawa Pos dan Kompas juga mengkritisi sistem pembayaran via transfer, karena membuat warga tidak dapat menolak. Padahal harusnya Lapindo membayar secara tunai. Transfer ke rekening warga adalah salah satu cara Lapindo untuk memaksakan skema angsuran mereka.

(12)

Lapindo menggunakan sistem transfer untuk pembayaran ganti rugi. Namun, jumlah yang ditransfer tidak sesuai (lebih kecil) dari yang ditentukan Perpres 14 Tahun 2007. Warga pun tak bisa mengembalikan uang tersebut.

Jika pembayaran dilakukan secara tunai, tentu Sunarto (warga) akan menolaknya. Sebab, dia sudah menolak saat ditawari PT. Minarak. ”Karena melalui transfer,saya tidak bisa mengembalikannya,”ungkapnya.

(Warga Terpaksa Terima Angsuran Rp. 15 Juta: Jawa Pos, 26/11/2008)

Harian Surabaya Post, membingkai beritanya dengan citra positif bagi Lapindo. Menurut SP, tidak ada niat buruk dari Lapindo Brantas. Semua masalah yang terjadi hanyalah karena krisis finansial yang terjadi di dunia dan berimbas pada Lapindo Brantas.

g) Unjuk Rasa Korban Lumpur Ke Jakarta

Dalam berita, Korban Lumpur akan Temui Presiden: Pejabat dan Wakil Rakyat di Sidoarjo Tidak Bisa Lagi Membantu”, Kompas melihat bahwa aksi warga yang berbondong-bondong ke Jakarta untuk menyampaikan uneg-uneg mereka pada Presiden, adalah akibat dari ketidakmampuan Pemerintah Daerah Sidoarjo ketika mereka berhadapan dengan Bakrie. Mereka pun mencari dukungan dari penguasa yang lebih tinggi yaitu Presiden, dengan harapan dapat membantu mereka mem-pressure Lapindo.

Korban lumpur akan menemui SBY di Jakarta untuk mengadukan masalah ganti rugi 80%. Mereka terpaksa ke Jakarta karena pejabat dan wakil rakyat di Sidoarjo tidak bisa lagi membantu.

(Korban Lumpur akan Temui Presiden: Pejabat dan Wakil Rakyat di Sidoarjo Tidak Bisa Lagi Membantu, Kompas, 25/11)

Dengan gaya bahasa yang penuh metafora, Kompas ingin menunjukkan pada pembacanya bahwa korban lumpur begitu menderita, kepergian mereka ke Jakarta pun bukan bermaksud anarkis, bahkan mereka rela menderita agar suara mereka didengar, agar ketidakberdayaan mereka mengadapi kaum bermodal didukung oleh Presiden, pemegang kuasa tertinggi di Indonesia.

Bingkai yang digunakan Jawa Pos dalam memaknai keberangkatan korban lumpur pun hampir sama dengan Kompas. Koran terbesar di Jawa Timur ini, juga bersimpati pada penderitaan warga selama berada di Jakarta.

Para warga berkumpul di lantai 1 masjid Istiqlal. Dengan beralaskan tikar dan berselimut sarung, mereka mengisi waktu dengan mengobrol ataupun makan. Beberapa wanita dan anak-anak tampak diantara mereka.

(Kembali Nglurug Jakarta:Korban Lapindo Tagih Ganti Rugi 80% Jawa Pos, 2/12)

(13)

Pemikiran yang berbeda juga datang dari Seputar Indonesia. Media ini membangun sebuah penalaran bahwa kedatangan korban lumpur ke Jakarta lebih tampak sebagai aksi kemarahan warga, alih-alih sebagai salah satu upaya memperjuangkan nasib mereka.

Habis sudah kesabaran warga korban lumpur Lapindo menanti pembayaran ganti rugi tersisa. Untuk kesekian kali mereka bakal datang ke Jakarta untuk menggelar aksi demonstrasi menuntut pencairan 80%.

Tak tanggung-tanggung, kali ini aksi akan dikonsentrasikan ke Wisma Bakrie yang jadi markas bisnis keluarga Bakrie.

(Ratusan Korban Lumpur Geruduk Wisma Bakrie; Sindo, 1/12)

Dari kalimat-kalimat di atas, seolah warga datang ke Jakarta dengan amarah yang meluap (bukan karena putus asa seperti di Kompas, atau pengharapan seperti di Jawa Pos). Penggunaan kata “Geruduk”, “Habis sudah kesabaran”, “Tak tanggung-tanggung”, dan “dikonsentrasikan” membuat pemaknaan bahwa aksi warga akan berlangsung anarkis. Apalagi di paragraf-paragraf lain, Sindo memfokuskan pada jumlah kekuatan warga yang mencapai ribuan, mereka datang berkelompok dengan menggunakan berbagai kendaraan, seolah korban lumpur adalah sekelompok suporter bola atau sekumpulan preman yang perlu diwaspadai.

Bingkai berbeda ditunjukkan juga oleh Surabaya Post. Dari sekian banyak pilihan bingkai, media ini memilih melihat aksi warga sebagai suatu tindakan yang sia-sia dan kurang tepat. Mereka meminjam pernyataan Bupati Sidoarjo yang menyarankan sebaiknya warga tidak usah ke Jakarta.

Melalui pernyataan Win, berita ini membangun sebuah penalaran bahwa sikap warga yang mendatangi Jakarta bukanlah sikap yang tepat pada saat ini, hal tersebut akan memperkeruh suasana karena Lapindo bisa meninggalkan kewajiban utang-utangnya jika warag tak berbaik-baik pada Lapindo. Apalagi, saat ini krisis global membuat Lapindo kesulitan menyelesaikan pembayaran ganti rugi.

“Memang Pemkab Sidoarjo adalah ujung tombak pelaksanaan Perpres 14/2007, tetapi karena krisis finansial global, Pemkab jadi tidak dapat berbuat banyak, “ ujar Bupati Sidoarjo.

(14)

Surabaya Post tak lelah mengajak pembacanya berempati pada Lapindo Brantas Inc. Media lain, menganggap keterlambatan pembayaran hanyalah siasat Lapindo untuk mengulur waktu, dan tidak berkait dengan krisis global, apalagi beberapa waktu yang lalu Lapindo menarik surat permohonan talangan biaya dan menyatakan kesanggupan membayar ganti rugi. Namun, tak demikian dengan Surabaya Post. Media ini menganggap bahwa bukanlah hal yang disengaja oleh Lapindo mengulur pembiayaan, krisis global menjadi kambing hitam yang lebih patut disalahkan daripada menimpakannya kepada Lapindo.

II. Komitmen Pemerintah dan Kinerja BPLS

Tabel 2

Frame: Isu “Komitmen Pemerintah dan Kinerja BPLS”

No Peristiwa Frame

JP SP Surya Kompas Sindo MI

1. Pernyataan Jusuf Kalla bahwa Pemerintah menyerah Pemerintah tidak dapat memastikan kapan masalah lumpur tertangani - Pemerintah berpangku tangan pada kehendak alam Pemerintah tidak serius menangani bencana lumpur Pemerintah tidak serius menangani bencana lumpur - 2. Renovasi Pasar Baru Porong Saling lempar tanggungjawab antara eksekutif, legislatif, dan PT. Lapindo - - Pasar Baru Porong bukan tangung jawab Pemkab Sidoarjo, tetapi akan tetap diusulkan dalam PAK Pemkab enggan mengeluarka n dana untuk renovasi Pasar Baru Porong - 3. Bantuan Sosial Pemerintah Warga kecewa karena tidak semua menerima bantuan - Warga harus segera pindah dari Pasar Baru Porong setelah menerima paket bantuan Warga kecewa karena bantuan tidak merata Bantuan Bagi Tiga Desa Sudah Cair - 4. Pengaliran lumpur dan normalisasi Kali Porong BPLS telah melakukan upaya-upaya untuk normalisasi meski hasilnya BPLS hanya menghambu r-hambur-kan uang, tetapi BPLS gagal normalisasi. Dalih kesulitan eksaponton adalah alasan BPLS telah berusaha keras, tetapi Kali Porong masih berpotensi BPLS tidak maksimal dalam menjalankan tugasnya -

(15)

belum maksimal kinerjanya dalam menangani lumpur sangat buruk yang dibuat-buat oleh BPLS banjir 5. Munculnya bubble di wilayah Siring Hendaknya pemerintah tidak menunggu jatuh korban untuk menentukan Siring sebagai wilayah terdampak - Siring tidak layak huni, dan BPLS harus segera mengambil langkah untuk menyelamatk an warga Pemerintah tidak acuh terhadap keselamatan warga Siring. Padahal berbagai bukti menunjukkan bahwa Siring tidak layak huni - Bubble tidak berbahaya, akan tetapi warga bertindak anarkis dengan memaksa Humas BPLS menandatang ani pernyataan bahwa wilayah Siring tak layak huni

a) Pernyataan Jusuf Kalla bahwa Pemerintah menyerah

Djoko Kirmanto, Ketua Dewan Pengarah BPLS dalam rapat dengar pendapat umum dengan Pansus DPR (11/9) menyatakan bahwa semburan tidak bisa dihentikan. Pernyataan ini dipersepsi sebagai kegagalan pemerintah yang telah angkat tangan terhadap persoalan lumpur. Hal ini diperkuat dengan ucapan Jusuf Kalla dalam jumpa pers, bahwa untuk kasus Lapindo pemerintah mengharapkan bantuan tangan Tuhan.

Seluruh media yang dijadikan objek pengamatan, kecuali Media Indonesia dan Surabaya Post (keduanya tidak memuat pernyataan Jusuf Kalla), secara umum menganggap pemerintah tidak serius dalam menangani persoalan itu. Media menyayangkan sikap pemerintah.

Kompas mencoba membandingkan dengan optimisme beberapa pakar yang menganggap lumpur bisa dihentikan dengan cara-cara tertentu, tetapi memang biaya yang dibutuhkan tidaklah murah. Berikut adalah catchphrase Kompas yang menyusun bingkai tersebut:

(16)

Di tengah optimisme beberapa pihak bahwa semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur, bisa dihentikan, pemerintah ”menyerah” dan menganggap semburan lumpur tidak bisa dihentikan.

(Kompas, 12/9).

Seputar Indonesia, juga menganggap pemerintah tidak serius dalam menangani bencana lumpur. Ini terbukti dari dua tahun pascabencana, tetapi berbagai persoalan berkait lumpur panas di wilayah Porong yang menenggelamkan ribuan rumah warga dan puluha pabrik tidak terselesaikan hingga saat ini.

Jawa Pos dan Surya, memiliki frame yang senada dengan dua media di atas. Bahwa pemerintah sendiri tidak memiliki prediksi kapan lumpur dapat dihentikan.

Pemerintah/BPLS tidak bisa memastikan kapan lumpur berhenti menyembur

(Jawa Pos, 14/9)

b) Renovasi Pasar Baru Porong

Salah satu isu yang dikaitkan dengan komitmen pemerintah adalah mengenai renovasi Pasar Baru Porong. Yang menjadi persoalan adalah tidak adanya pihak yang mau bertanggungjawab untuk renovasi pasar. Di media massa terjadi perang wacana antara pihak-pihak yang bersangkutan mengenai siapa yang harus menanggung biaya renovasi Pasar Baru Porong. Jawa Pos, menangkap gejala “saling lempar tanggung jawab” ini, media yang intens memberitakan perkembangan lumpur ini menampilkan kutipan pernyataan dari berbagai pihak. Kutipan pertama berasal dari narasumber Bupati Sidoarjo, Win Hendrarso:

Menurut Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, renovasi PPB merupakan tanggung jawab PT Lapindo. Sebab, kerusakan terjadi setelah PPB ditempati pengungsi korban lumpur Lapindo. “Jadi sudah seharusnya menjadi tanggung jawab PT Lapindo,” tegasnya.

(Jawa Pos, 18/9)

Dari pihak legislatif, Jawa Pos memeroleh suara berbeda. Jalaluddin Alham, Ketua DPRD Sidoarjo mengatakan bahwa anggaran untuk biaya renovasi akan diusulkan dalam PAK yang akan dibahas Oktober 2008. Melalui kutipan pernyataan narasumber, Jawa Pos mengajak pembacanya melihat persoalan dari banyak sudut. Hal ini dapat diamati dari pemberitaan yang menjelaskan bahwa baik pihak pemerintah mapun PT Lapindo tidak bersedia mengeluarkan biaya untuk renovasi.

(17)

Harian Sindo yang juga menurunkan berita dengan tema renovasi PBP, hanya mengulas dari sudut pandang pemerintah. Berita Sindo berjudul “Pemkab Ajukan Dana Rehab PBP ke Lapindo” tampak kontradiktif dengan berita Jawa Pos, meski sama-sama mengutip narasumber Bupati Sidoarjo.

Pemkab Sidoarjo tidak akan menganggarkan dana untuk perbaikan Pasar Baru Porong (PBP) yang sebentar lagi ditinggalkan pengungsi korban lumpur. Pemkab akan mengajukan bantuan dana perbaikan PBP kepada PT Lapindo Brantas. Bupati Sidoarjo Win Hendrarso menyatakan bahwa Lapindo bersedia membantu perbaikan PBP.

(Sindo, 18/9)

Media lain yang juga menurunkan berita mengenai renovasi Pasar Baru Porong adalah Kompas. Dalam berita berjudul “PASAR BARU PORONG: Biaya Renovasi Pasar Sulit Cair”, Kompas mengutip pernyataan Bupati Sidoarjo yang secara tegas menyebutkan bahwa biaya renovasi PBP merupakan tanggung jawab PT Lapindo dan bukan tanggung jawab Pemkab Sidoarjo.

Bupati Sidoarjo, Win Hendrarso mengatakan biaya renovasi Pasar Baru Porong tidak bisa diambil dari PAK Kabupaten Sidoarjo. “Itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT Lapindo Brantas, bukan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Sidoarjo,” tutur Win

(Kompas, 18/9). c) Bantuan Sosial Pemerintah Untuk Korban Lumpur

Dalam masalah pemberian uang kontrak bagi pengungsi PPB, hanya Jawa Pos yang menurunkan berita bahwa uang kontrak tersebut diberikan dalam bentuk transfer. Artinya, untuk mengambil uang tersebut, warga harus punya rekening dan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Sehingga, kesannya warga yang sudah dirugikan justru harus menghadapi prosedur yang begitu rumit dan merepotkan.

Bantuan uang kontrak untuk pengungsi Pasar Porong Baru sudah dibagikan. Namun warga pengungsi mengalami kendala untuk mencairkan bantuan tersebut. Sebab, hampir semua pengungsi tidak memiliki rekening dan kartu anjungan tunai mandiri (ATM). Akibatnya warga terpaksa membuka rekening baru. Padahal untuk membuka rekening baru, dibutuhkan dana sebagai saldo awal tabungan tersebut. Warga yang tidak mampu mulai kelimpungan mencari dana

(Jawa Pos, 18/9)

d) Pengaliran Lumpur dan Normalisasi Kali Porong

Salah satu alternatif untuk menormalisasi Kali Porong adalah dengan mengalirkan lumpur ke laut. BPLS yang bertanggungjawab terhadap penanganan lumpur pun mengambil

(18)

langkah tersebut, karen pond-pond penampungan lumpur yang dibangun juga sudah penuh. Permasalahan muncul ketika lumpur tidak mengalir seperti yang diharapkan, Sungai Porong justru terhambat alirannya karena endapan lumpur semakin menumpuk dan menghalangi aliran air. Banjir pun mengancam warga yang tinggal di sekitar aliran sungai.

Ancaman banjir bandang yang muncul karena kondisi Kali Porong tampaknya menggugah media untuk memberikan sorotan tajam pada kinerja BPLS. Tiga media: Surya, Sindo, dan Jawa Pos menurunkan berita tentang pentingnya normalisasi Kali Porong.

Dalam berita Surya berjudul “Lucu, BPLS Kesulitan Eskaponton”, alasan BPLS yang kesulitan mendatangkan alat berat disebut sebagai hal yang lucu dan sekadar dalih BPLS.

Soal alasan kesulitan mencari eskaponton, menurut Basukiono, hal itu semata-mata dalih saja. Lantaran banyak penyedia eskaponton yang sanggup mengadakan sesuai keinginan BPLS. “Lucu jika lembaga setingkat BPLS kesulitan mencari eskaponton. Saya rasa kami siap untuk menyediakan eskaponton, berapapun jumlahnya...” tukas Basukiono.

(Surya, 14/10)

Bagaimana dengan Seputar Indonesia? Koran dari grup MNC ini menganggap BPLS tak akan berhasil memenuhi target Bupati Sidoarjo dalam menormalisasi Kali Porong. Dalam berita berjudul “Normalisasi Kali Porong Tak Cukup Dua Pekan,” terkesan sorotan Sindo terhadap kinerja BPLS yang tidak maksimal dan hanya mengandalkan air hujan untuk menggelontor endapan lumpur di Kali Porong.

Tidak hanya menyalahkan BPLS, Sindo berusaha menyajikan penalaran mengapa BPLS mereka anggap gagal. Sindo membuat daftar tugas-tugas BPLS yang belum terselesaikan, dalam berita ”Lima PR BPLS belum Beres” (13/9). Bingkai berbeda disuguhkan Jawa Pos. Jawa Pos mencoba memberikan wacana kepada pembaca tentang upaya-upaya BPLS dalam menormalisasi Kali Porong, tidak sekadar menghakimi BPLS karena kinerja yang kurang maksimal.

Sementara Kompas membingkai beritanya dengan bersikap netral terhadap kinerja BPLS yang sudah berusaha menambah jumlah ekskavator pengeruk untuk mencairkan endapan lumpur di Kali Porong. Meski demikian, Kompas tetap memberikan peringatan bahwa endapan lumpur tetap berpotensi menyebabkan banjir (Kompas, 20/10).

(19)

Yang menarik adalah bingkai Surabaya Post, selain menimpakan kesalahan pada BPLS dan menuding lembaga ini hanya menghamburkan uang, juga tak lupa memberikan pujian kepada Bakrie sebagai pemilik PT. Minarak Lapindo Jaya melalui kutipan narasumber.

Media Indonesia menurunkan berita berjudul “Semua Kolam Lumpur Sudah Penuh”. Dalam berita pendek ini Media Indonesia terkesan menyetujui kebijakan BPLS untuk kembali membuang lumpur ke Kali Porong, tanpa melihat dampak yang ditimbulkan dari kondisi endapan lumpur di Kali Porong.

e) Munculnya bubble di wilayah Siring

Salah satu peristiwa yang menarik untuk disimak adalah terbakarnya semburan gas di Desa Siring. Jawa Pos, Surya, dan Kompas membingkai peristiwa ini sebagai peringatan bagi pemerintah bahwa Siring sudah tidak layak huni. Menurut ketiga media diatas, sesudah peristiwa semburan gas yang terbakar itu, mestinya pemerintah melalui BPLS lebih tanggap dan mengevakuasi penduduk di daerah itu karena terbukti wilayah Siring tidak lagi aman untuk dihuni. Dalam berita berjudul “Jangan Tunggu Jatuh Korban”, Jawa Pos mengingatkan pemerintah untuk mengevakuasi warga sebelum ada korban. Banyaknya semburan, adanya penurunan tanah, dan gas yang menyebabkan sesak napas merupakan bukti bahwa daerah itu tidak layak untuk dihuni lagi.

Berita lain berjudul “Siring Tak Layak Huni” memuat pernyataan humas BPLS yang melemparkan tanggung jawab pada Dewan Pengarah. Menurut BPLS, kondisi di Siring sudah lama berbahaya. Namun kewenangan BPLS hanya menyampaikan laporan. Sedangkan kebijakan ada di Dewan Pengarah.

Dalam bingkai yang sama, harian Surya menurunkan berita berjudul “Warga Tolak Padamkan Semburan Api”. Dalam berita ini Surya menunjukkan kekhawatiran warga yang tempat tinggalnya dekat dengan lokasi semburan liar. Agar pemerintah tahu bahwa kawasan Siring Barat sudah tidak layak huni, warga melarang petugas memadamkan semburan api tersebut.

Masih dengan bingkai Desa Siring yang tak layak huni, Kompas menurunkan tiga berita: Semburan gas Terbakar, Warga Tolak Pemadaman (20/8), Segera Evakuasi Warga Siring (21/8), dan Mereka yang Dihapus dari Peta (25/8).

(20)

Ketiga berita ini menyoroti Desa Siring yang tak lagi layak huni karena kondisi lingkungan yang tak lagi ramah. Kompas bahkan menuding pemerintah tak mempedulikan penderitaan warga Desa Siring Barat. Terbukti perpres No. 14 Tahun 2007 tak memasukkan desa mereka dalam wilayah terdampak yang berhak mendapatkan ganti rugi dari Lapindo.

Bingkai berbeda dalam mengemas isu yang sama dipilih oleh harian Media Indonesia. MI membingkai berita ini dengan tekanan pada aksi warga yang memaksa humas BPLS menandatangani pernyataan bahwa kawasan Siring tak layak huni.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terlihat bagaimana masing-masing media membingkai beritanya dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Tanpa malu-malu Surabaya Post yang memang dimiliki oleh Bakrie Group membela kepentingan pemiliknya melalui pemberitaan-pemberitaan yang ditampilkan. Jawa Pos dan Surya memilih posisi sebagai pihak yang kritis mewakili korban Lapindo, sementara Media Indonesia memilih bersikap netral dan memang tampak bagaimana posisinya sebagai media yang berada di luar arena menjadikan MI kerap menulis berita-berita yang kurang peka terhadap penderitaan warga korban lumpur. Hal ini terlihat jelas ketika dengan ‘enteng’nya MI mengambil solusi untuk menjadikan daerah bencana lumpur sebagai tempat wisata.

Referensi

Dokumen terkait

Departemen pendidikan Lithuania yang telah mengimplementasikan pendidikan antikorupsi di negaranya sejak 2005 mengatakan bahwa tugas utama dari pendidikan anti

Penentuan ciri adjektiva yang dikemukakan oleh Keraf (1982) tidak terlalu jauh berbeda dengan uraian di atas. Pada dasarnya dalam bahasa Indonesiaa ciri adjektiva ini dapat

Namun dalam proses membantu menyelesaikan perselisihan yang terjadi di Provinsi Aceh khususnya Kepolisian Resor Kota Banda Aceh memberikan warna baru dalam fungsi

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran I Keterangan : : Variabel Independen : Variabel Kontrol Proporsi Komisaris Independen Keberadaan RMC yang Tergabung dengan

Pada penelitian ini dilakukan pengembangan produksi bioplastik dari selulosa asetat dengan metode solution casting dan membandingkan sifat mekanik berdasarkan ukuran

Hasil penelitian menujukan bahwa, 1 Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut oleh peserta didik kelas VII di SMP Brawijaya Smart School

Tumbuhan umumnya tidak dapat menyintesis asam lemak omega 3 atau 6 yang memiliki atom karbon lebih dari 18, sedangkan mikroorganisme dapat.... Ikan laut dalam merupakan sumber

Untuk itu, diperlukan sebuah teknologi baru yang bisa memanfaatkan jaringan komputer yang sudah ada di Universitas Sam Ratulangi agar komunikasi lokal antar warga