ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 87 PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGGUNA JASA PARKIR MENURUT PERATURAN
DAERAH KABUPATEN KAPUAS NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI
Rayhani
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Kuala Kapuas Kapuas, Kalimantan Tengah
ABSTRAK
Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) untuk memberikan perlindungan pada konsumen. UUPK mengatur tentang tanggungjawab pelaku usaha sebagaimana disebutkan dalam pasal 19/UUPK berisi tentang pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian kosumen akibat kosumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. UUPK tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha para pelaku, tapi justru sebaliknya yaitu mendorong terciptanya iklim usaha yang sehat, serta lahirnya perusahaan yang tangguh melalui penyedia barang dan jasa yang berkualitas. Pengaturan tentang parkir di Kota Kuala Kapuas telah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2010 tentang Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum. Perlindungan bagi konsumen pengguna jasa parkir merupakan salah satu hal yang penting dalam penyelenggaraan perparkiran seperti mengenai tarif parkir yang tidak sesuai dengan peraturan yang ada dan keamanan kendaraan yang diparkir di tempat parkir. Pengguna jasa parkir tentunya tidak menginginkan mendapat tarif yang tidak sesuai dengan peraturan atau kendaraan yang diparkir mengalami kehilangan, kerusakan. Namun tentu saja kemungkinan tersebut bisa terjadi, sehubungan dengan hal tersebut maka timbulah pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab terhadap pelanggaran mengenai tarif parkir dan kehilangan ata kerusakan kendaraan yang diparkir di temapt parkir. Lalu bagaimana implementasi perlindungan kosumen terhadap pengguna jasa parkir di Kota Kuala Kapuas. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris yaitu mengkonsepsikan hukum sebagai pola perilaku tetap dan hukum sebagai aksi interaksi sosial kemudian penelitian lapangan (Field Research) yaitu penelitian yang secara langsung dilakukan ke obbjek penelitian untuk mendapatkan data yang relevan berkaitan dengan perlindungan hukum. Penelitian ini juga dilengkapi dengan penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang mengunakan data kepustakaan untuk mencari data dengan membaca dan menelaah sumber tertulis yang menjadi bahan dalam penyusunan dan pembahasan, sifat penelitian ini bersifat deskritif analiti, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendidkripsikan suatu data yang terkumpul untuk kemudian dianalisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlindungan hukum bagi pengguna jasa parkir di Kota Kuala Kapuas menurut Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum dikaitkan dengan hukum perlindungan konsumen dan untuk mengetahui kendala atau faktor-faktor apa-apa saja yang dihadapi dalam perlindungan konsumen jasa parkir di Kota Kuala Kapuas. Penelitian ini dilakukan agar tercipta sebuah aturan yang tidak merugikan masyarakat dari kesalahan kecil yang dilakukan berulang-ulang kali setiap hari, tanpa ada penyelesaian yang baik dan jelas, serta tugas dan peranan Pemerintah Daerah maupun lembaga terkait dalam hal membuat aman dan nyaman untuk pengguna jasa parkir yang ada di Kabupaten Kapuas. Serta memberikan masukan bagi para instansi yang mengurus masalah perda perparkiran maupun pihak lain yang berkepentingan pada umumnya.
Kata Kunci: Jasa, Parkir, Konsumen dan Perlindungan Hukum PENDAHULUAN
Pesatnya pembangunan dan
perkembangan perekonomian nasional telah
menghasilkan variasi produk barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. Penghitungan
88 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 pendapatan nasional modern dirancang pada awal
abad ke-20 dengan tujuannya untuk memberikan indikator yang terbilang lebih baik tentang kinerja ekonomi sehingga pembuat kebijakan pemerintah dapat mengontrol perekonomian dengan lebih baik (Holcombe, 2004). Kemajuan
di bidang ilmu pengetahuan, teknologi
telekomunikasi dan informatika juga turut mendukung perluasan ruang gerak transaksi barang dan/atau jasa hingga melintasi batas-batas wilayah suatu negara. Seperti contohnya, negara maju mampu menyebarkan internet secara global yang mengekspansi menembus batas geografis (Evans & Gawer, 2016). Kreatifitas menjadi kunci untuk menciptakan keuntungan kompetitif dalam pasar global untuk negara yang kurang berkembang dan kecil (Daubaraite & Startiene, 2015). Aktivitas entrepreneur secara umum diasumsikan menjadi aspek penting dari organisasi industri hingga aktivitas inovatif dan kompetisi yang tidak terbatas (Stel, Carree, &
Thurik, 2005) yang mengarah pada
perkembangan ekonomi dan transformasi
struktural (Stiglitz, 2003). Kondisi demikian pada satu pihak sangat bermanfaat bagi kepentingan konsumen karena kebutuhannya akan barang dan/atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi serta semakin terbuka lebar kebebasan untuk memilih jenis kualitas barang dan/atau jasa sesuai dengan kemampuannya. Peran pemerintah dalam kondisi ini adalah menjaga kerangka ekonomi makro, untuk menjaga harga tetap benar (Amsden, 1991).
Perkembangan dalam teknologi dan pola kegiatan ekonomi membuat masyarakat di dunia
tidak hanya saling bersentuhan, saling
membutuhkan dan saling menentukan nasib satu sama lain, tetapi juga saling bersaing. Masyarakat sipil mempunyai cakupan global (Eschle, 2001) yang mempunyai hubungan dengan pasar
(Keane, 2005). Proses-proses perubahan
teknologi, seperti inovasi, transfer, adaptasi, dan implementasi, adalah utama untuk perkembangan (Heeks & Stanforth, 2015) sebagaimana teknologi selalu dilihat mempunyai peran penting dala perkembangan sosial-ekonomi (Bell & Pavitt, 1993); (Cavdar & Aydin, 2015). Selain itu, teknologi juga dianggap sebagai bahan penting dari strategi perkembangan di seluruh dunia (Evenson & Westphal, 1995). Realita ini menempatkan negara untuk benar-benar dan
bersungguh-sungguh mengikuti dan
mengembangkan hukum bisnis secara global, terutama dalam pelaksanaannya atau penegakan hukumnya. Pasalnya, kapasitas teknologi antara
negara berbeda-beda (Cimoli & Dosi, 1995). Sementara itu, tidak banyak yang memperhatikan bahwa ada kewajiban dari korporasi dan usaha bisnis lainnya kepada mungkin empat milyar orang yang berada di posisi paling dasar pada piramida ekonomi global (Arnold, 2013).
Di dalam masyarakat orang saling mengadakan hubungan yang jumlah dan sifatnya tak terhingga banyaknya. Dalam konteks ini, ukuran kota diketahui mempunyai peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi yang strukturnya mendasari hubungan interaksi orang-orang dalam masyarakat tersebut (Schlapfer, et al., 2014). Hubungan sosial bisa melintasi tempat-tempat yang berbeda (Fischer, 1982); (Wellman, 1999) yang menunjukkan bahwa tidak ada batas satu sama lain. Orang-orang itu mempunyai kepentingan masing-masing dan
masyarakat memungkinkan
kepentingan-kepentingan itu bertemu dalam suatu kontak yang
erat. Kepentingan-kepentingan ini untuk
mencapai tujuan tertentu dan persyaratan sosial untuk merasakan kehidupan yang baik (Gasper, 2004) serta sebagai motif untuk mencapai kepuasan atau aktualisasi (Guillen-Royo, 2014). Pasalnya, apa yang membuat orang-orang
memikirkan kepentingan-kepentingan atau
kebutuhan-kebutuhan mereka adalah
konsekuensi dari ketidakpuasan mereka
(Rubenstein, 1990). Usaha melindungi dan memperkembangkan kepentingan-kepentingan dapat dicapai karena sebelumnya telah diadakan peraturan-peraturan yang dapat menjadi ukuran bagi tingkah laku orang. Kehadiran hukum dalam
masyarakat di antaranya adalah untuk
mengintegrasikan dan mengkoordinasikan
kepentingan-kepentingan yang bisa bertubrukan antara satu sama lain oleh hukum diintegrasikan sedemikian rupa sehingga tubrukan-tubrukan itu bisa ditekan sekecil-kecilnya.
Dalam bisnis usaha baik usaha
perdagangan barang maupun usaha perdagangan jasa, pelaku usaha memegang peranan yang sangat penting dalam transaksi yang terjadi di dalam usaha perdagangan. Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Pelindungan Konsumen atau biasa disingkat dengan UUPK, Pasal 1 angka 3, pelaku usaha adalah: “pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara republik indonesia, baik sendiri maupun
bersama-sama melalui perjanjian
ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 89 berbagai bidang ekonomi”. Pelaku usaha atau
entrepreneur juga dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mempunyai spesialisasi dalam mengambil tanggung jawab dan membuat keputusan yang mempengaruhi lokasi, bentuk, penggunaan barang, sumber daya, atau institusi-institusi (Hébert & Link, 1989). Sedangkan, bisnis usaha atau entrepreneurship sendiri adalah pembentukan usaha baru yang termasuk penciptaan nilai (value) (Donaldson & Walsh, 2015), menyediakan barang-barang dan servis atau pelayanan tertentu (Shane & Venkataraman,
2000) dan dalam prosesnya mungkin
membutuhkan waktu yang panjang hingga bisa aktif berpartisipasi dalam pasar (Reynolds & Miller, 1992).
Sementara itu, dalam dunia bisnis usaha ada juga yang berperan sebagai konsumen. Tanpa konsumen, pelaku usaha tidak dapat menghasilkan keuntungan. Berdasarkan Pasal 1 angka 2 UUPK, konsumen adalah: “konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”. Pelaku usaha dan konsumen sangat erat kaitannya satu sama lain karena masing-masing mempunyai kewajiban dan hak serta tanggung jawab yang harus terpenuhi. Seperti halnya, konsumen yang melihat pada merk untuk membeli suatu produk (Chovanova,
Korshunov, & Babcanova, 2015) dan
mengkombinasikan informasi dalam membuat keputusan (Pras, 1978). Pasar atau pelaku usaha fokus pada kebijakan dan strategi yang bisa memuaskan kebutuhan dan target kelompok tertentu atau konsumen (van Trijp & Meulenberg, 1996). Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak kewajiban dan hak serta tanggung jawab darinya tidak terpenuhi maka akan menimbulkan kerugian salah satu pihak atau kedua pihak tersebut. Salah satu bidang bisnis usaha dalam jasa yaitu bisnis jasa perparkiran. Dalam jasa parkir tentu tidak lepas dengan kendaraan.
Semua orang yang mempunyai kendaraan pasti akan membutuhkan lahan atau tempat parkir untuk memarkir kendaraannya dalam waktu sementara. Ini adalah kegiatan rutin sehari-hari yang sangat kompleks untuk pengendara dan juga mereka yang terdampak oleh tempat parkir (Beetham, Enoch, Tuuli, & Davison, 2014). Banyak orang mengharapkan area parkir yang bisa secara otomatis diberikan kepada mereka ketika mereka kesusahan mendapatkan tempat parkir (Han, Shan, Wang, & Yang, 2017).
Dengan hal tersebut, banyak pelaku usaha yang membuka bisnis jasa perparkiran. Tentu hal ini
merupakan suatu bisnis yang cukup
menguntungkan, mengingat kendaraan yang demikian banyak, sudah pasti membutuhkan lahan parkir. Tetapi tentu tak mudah membuka bisnis jasa parkir mengingat ada beberapa hal yang harus dipenuhi, diantaranya kewajiban dan tanggung jawab dari bisnis jasa parkir itu sendiri.
Hukum perlindungan konsumen dewasa
ini mendapat cukup perhatian karena
menyangkut aturan-aturan guna
mensejahterahkan masyarakat, bukan saja
masyarakat selaku konsumen saja yang mendapat perlindungan konsumen, namun pelaku usaha juga mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan konsumen, masing-masing ada hak dan kewajiban. Pemerintah berperan mengatur, mengawasi dan mengontrol, sehingga tercipta sistem yang kondusif saling berkaitan satu dengan yang lain dengan demikian tujuan mensejahterahkan masyarakat secara luas dan tercapai (Palombella, 2009). Penulis menemukan adanya pelaku usaha pada bisnis jasa perparkiran, baik milik pemerintah maupun milik swasta yang berusaha mengalihkan beban tanggung jawabnya kepada konsumen atas kehilangan atau kerusakan kendaraan atau barang berharga konsumen di lahan parkir yang dikelola olehnya. Tentu hal demikian bertentangan dengan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Selain itu, perlu juga menjadi perhatian terhadap konsumen dalam melaksanakan kewajibannya sebagai konsumen,
terkadang pelaku usaha sudah membuat
ketentuan atau aturan guna keselamatan, kenyamanan dan keamanan, tapi terkadang juga konsumen tidak melaksanakan ketentuan atau aturan yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha penyedia jasa parkir tersebut.
Adanya kelalaian konsumen dalam
melaksanakan kewajibannya, maka gugurlah hak konsumen untuk meminta ganti rugi yang dideritanya, karena kerugian yang ditimbulkan disebabkan oleh kelalaiannya sendiri (Kim, Wang, & Mattila, 2010). Namun, dalam bisnis jasa perparkiran, kelalaian konsumen tidak menghapuskan beban tanggung jawab dari pelaku usaha bisnis jasa perparkiran. Konsumen masih berhak menuntut ganti kerugian kepada pelaku usaha jasa parkir, tapi apabila kelalaian semata-mata murni dari konsumen itu sendiri, maka pelaku usaha dibebaskan dari tanggung jawabnya, hal demikian dikarenakan hubungan antara pelaku usaha jasa parkir dan konsumen
90 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 pengguna jasa parkir termasuk perjanjian
penitipan barang. Berdasarkan Pasal 1694 BW: “penitipan adalah terjadi, apabila seseorang menerima sesuatu barang dari seorang lain, dengan syarat bahwa ia akan menyimpannya dan
mengembalikannya dalam ujud asalnya”.
Sedangkan, undang-undang perlindungan
konsumen mengatur tentang tanggung jawab pelaku usaha atau jasa usaha sebagaimana disebutkan dalam pasal 19 yang memberikan suautu pelindungan terhadap konsumen. Dalam pasal 19 UUPK berisi tentang pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas
kerusakan, pencemaran dan/atau kerugian
konsumen akibat mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. Undang-undang perlindungan konsumen tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha para pelaku usaha, tapi justru sebaliknya yaitu mendorong terciptanya iklim berusaha yang sehat, serta lahirnya perusahaan yang tangguh melalui penyediaan barang dan/jasa yang berkualitas.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas
penelitian ini mengambil judul
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI
PENGGUNA JASA PARKIR MENURUT
PERATURAN DAERAH KABUPATEN
KAPUAS NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Perlindungan Konsumen Konsumen Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen (Koopman, Mitchell, & Thierer,
2015). Rumusan pengertian perlindungan
konsumen yang terdapat dalam Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) tersebut cukup memadai. Kalimat yang menyatakan “segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum”, diharapkan sebagai benteng untuk meniadakan tindakan sewenang-wenang yang merugikan konsumen hanya untuk kepentingan pelaku usaha. Meskipun Undang-Undang ini disebut
sebagai Undang-Undang Perlindungan
Konsumen namun bukan berarti kepentingan pelaku usaha tidak ikut menjadi perhatian karena keberadaan perekonomian nasional banyak di
tentukan oleh pelaku
usaha.Kesewenang-wenangan akan mengakibatkan ketidakpastian hukum. Oleh karena itu, agar segala upaya
memberikan jaminan akan kepastian hukum, ukurannya secara kualitatif ditentukan dalam UUPK dan Undang-Undang lainnya yang juga dimaksudkan masih berlaku untuk memberikan perlindungan terhadap konsumen, baik dalam bidang Hukum Privat (Perdata) maupun hukum publik (Hukum Pidana dan Hukum Adminisrasi Negara) Keterlibatan berbagai disiplin ilmu sebagaimana dikemukakan diatas, memperjelas kedudukan Hukum Perlindungan Konsumen berada dalam kajian Hukum Ekonomi.
Ada korelasi yang bersifat timbal-balik antara kepastian hukum dan perlindungan
konsumen yang menjadikan inti dari
perlindungan hukum adalah kepastian hukum. Jika kepastian hukum dapat tercapai maka perlindungan hukum juga terpenuhi (Kuner, 2010), dengan demikian berdasarkan ketentuan UUPK ada dua persyaratan utama dalam perlindungan konsumen yaitu: (1) Adanya jaminan hukum (law guarantee), peraturan yang melindungi hak konsumen terhadap perilaku dari pelaku usaha, peraturan tersebut menjamin para subyek hukum. (2) Adanya kepastian hukum (law Certainly), perlindungan hukum pada tingkat normatif dan empiris.
Asas hukum adalah aturan dasar dan prinsip-prinsip hukum yang abstrak dan pada umumnya melatarbelakangi peraturan konkret dan pelaksanaan hukum (Alemanno & Spina, 2014). Kata Hukum ekonomi adalah seluruh peraturan dan pemikiran hukum mengenai cara-cara peningkatan dan pengembangan kehidupan
ekonomi dan cara-cara pembagian hasil
pembangunan ekonomi secara adil dan merata, seusai dengan hak asasi manusia, asas berarti hukum dasar, dasar, dan dasar citacita. Satjipto Rahardjo menyatakan asas hukum, bukan peraturan hukum. Namun, tidak ada hukum yang bisa dipahami tanpa mengetahui asas-asas hukum yang ada di dalamnya. Karena asas hukum ini memberi makna etis kepada peraturan-peraturan hukum dan tata hukum.
Asas-asas dalam hukum dibedakan
menjadi dua tingkatan yaitu asas-asas atau prinsip-prinsip hukum umum (the general principles of law) dan asas-asas hukum khusus (Petersen, 2007). Prinsip-prinsip hukum umum ini berlaku umum pada seluruh bidang hukum dan biasanya merupakan asas tentang perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Algemene bepalingen van wetgeving voor indonesie (Peraturan umum tentang perundang-undangan Indonesia), Staatsblaad 1847, No. 23.15 Asas-asas atau prinsip-prinsip hukum umum (the
ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 91 general principles of law) yang berkenaan dengan
perundang-undangan, antara lain yaitu: (1) Asas lex superior derogat lege inferiori yaitu Undang-Undang yang lebih tinggi tingkatan atau
hierarkinya akan didahulukan berlakunya
daripada Undang-Undang yang lebih rendah dan sebaliknya Undang-Undang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang yang lebih tinggi tingkatannya. (2) Asas lex specialis derogat lege generali, yaitu Undang-Undang yang berifat khusus didahulukan berlakunya daripada Undang-Undang yang bersifat umum. (3) Asas lex posterior derogat lege priori, yaitu Undang-Undang yang lebih baru didahulukan berlakunya daripada Undang-Undang yang terdahulu. (4) Asas lex neminem cogit ad
impossobilia, yaitu Undang-Undang tidak
memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan atau sering disebut sebagai asas kepatutan. (5) Asas lex perfecta, yaitu Undang-Undang tidak saja melarang suatu tindakan tetapi juga menyatakan tindakan terlarang itu batal. (6) Asas non retroactive, yaitu Undang-Undang tidak dimaksudkan untuk berlaku surut karena akan menimbulkan ketidakpastian hukum. (7) Asas keseimbangan kepentingan (the balancing of interests), yaitu keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. (8) Asas kesamaan (equality before the law), yaitu kesamaan di depan hukum, artinya setiap orang harus diperlakukan dan diberi kedudukan yang sama dan tidak boleh dibedakan berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan. (9) Undang-Undang sebagai
sarana yang maksimal untuk mencapai
ksejahteraan untuk itu perlu dipenuhi syarat-syarat seperti keterbukaan dan hak kepada warga masyarakat untuk partisipasi publik.
Asas keseimbangan menjadi salah satu asas dalam UUPK ditetapkan dalam Pasal 2 yang dalam penjelasan dinyatakan, asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti materiil maupun spiritual. Asas-asas dalam UUPK dapat dikualifikasikan sebagai asas umum karena memuat rumusan bersifat umum yang juga dapat diterapkan dalam peraturan perundangundangan lain. Berikut lima asas perlindungan konsumen menurut UUPK, yaitu:
(1) Asas manfaat dimaksudkan untuk
mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
menyelenggarakan perlindungan konsumen
harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha
secara keseluruhan. (2) Asas keadilan
dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat
dapat diwujudkan secara maksimal dan
memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil. (3) Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil
dan spiritual. (4) Asas keamanan dan
keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan
keselamatan kepada konsumen dalam
penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/jasa yang dikonsumsi dan digunakan. (5) Asas kepastian hukum dimaksudkan agar pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum
dan memperoleh keadilan dalam
menyelenggarakan perlindungan konsumen,
serta negara menjamin kepastian hukum.
Lihat Pasal 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen LN No. 42 Tahun 1999. TLN No. 3821 Memperhatikan substansi Pasal 2 UUPK Radbruch menyebutkan keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum sebagai “tiga ide dasar hukum”, yang berarti dapat dipersamakan dengan asas hukum. Di antara ketiga asas tersebut yang menjadi sorotan utama adalah masalah keadilan dimana Friedman menyebutkan bahwa: “In terms of law, justice will be judged as how law treats people and now it distributes it’s benefits and cost, dan dalam hubungan ini Friedman juga menyatakan bahwa every function of law, general or specific, is allocative”.
Sebagai asas hukum, dengan sendirinya menempatkan asas ini yang menjadi rujukan pertama baik dalam peraturan perundang-undangan maupun dalam berbagai aktivitas yang berhubungan dengan gerakan perlindungan konsumen oleh semua pihak yang terlibat di dalamnya. Keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum juga oleh banyak jurist (ahli hukum) disebutkan sebagai tujuan hukum. Tujuan hukum untuk mencapai keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum semuanya tergantung dari kondisi yang ada atau dihadapi di dalam setiap kasus.
Achmad Ali mengatakan masing-masing Undang-Undang memiliki tujuan khusus. Hal itu juga tampak dari pengaturan Pasal 3 UUPK, yang mengatur tujuan khusus perlindungan konsumen,
sekaligus membedakan dengan tujuan
sebagaimana dikemukakan berkenaan dengan Pasal 2 di atas. Tujuan Perlindungan Konsumen menurut UUPK, yaitu: (1) Meningkatkan
92 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911
kesadaran, kemampuan, dan kemandirian
konsumen untuk melindungi diri. (2)
Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses
negatif pemakaian dan/atau jasa. (3)
Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. (4) Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. (5)
Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha
mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan
bertanggung jawab dalam berusaha. (6)
Meningkatkan kualitas barang dan/jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen. Pasal 3 UUPK ini,
merupakan isi pembangunan nasional
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2
sebelumnya, karena tujuan perlindungan
konsumen yang ada itu merupakan sasaran akhir
yang harus dicapai dalam pelaksanaan
pembangunan di bidang hukum perlindungan konsumen.
Konsumen
Konsumen Istilah konsumen berasal dari
kata consumer (Inggris-Amerika), atau
consument/konsument (Belanda). 23 Pengertian tersebut secara harfiah diartikan sebagai “orang atau perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu” (Jahanshahi, Gashti, Mirdamadi, Nawaser, & Khaksar, 2011). Lihat Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Az. Nasution menegaskan beberapa batasan tentang konsumen, yakni: (1) Konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa yang digunakan untuk tujuan tertentu; (2) Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang dan/atau jasa lain untuk
diperdagangkan (tujuan komersial), bagi
konsumen antara barang dan/atau jasa itu adalah barang atau jasa kapitan yang berupa bahan baku, bahan penolong atau komponen dari produk lain yang akan diproduksinya (produsen). Konsumen antara ini mendapatkan barang dan/atau jasa di pasar industri atau pasar produsen. (3) Konsumen akhir adalah setiap orang yang mendapat dan menggunakan barang dan/atau jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi, keluarga
dan/atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (non komersial).
Sementara itu pengertian konsumen menurut Pasal 1 Ayat 2 UUPK, yaitu: Konsumen adalah setiap orang yang memakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Berdasarkan pengertian di atas subjek yang disebutkan sebagai konsumen berarti setiap orang yang berstatus sebagai pemakai barang dan/atau jasa (McGregor, 2007). Akan tetapi yang dapat dikualifikasikan sebagai konsumen sesungguhnya tidak hanya terbatas pada subjek hukum yang disebut “orang” melainkan masih ada subjek lain yang juga dapat disebut sebagai konsumen yaitu “badan hukum”.
Perlindungan Konsumen didasarkan pada pemikiran bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era globalisasi harus dapat mendukung tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka barang dan/atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan kepastian atas barang dan/atau jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian konsumen (Baffour Awuah & Amal, 2011). Semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses globalisasi ekonomi harus tetap menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kepastian atas mutu, jumlah, dan keamanan barang dan/atau jasa yang diperolehnya di pasar, sehingga untuk meningkatkan harkat dan
martabat konsumen perlu meningkatkan
kesadaran, pengetahuan, kepedulian,
kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap perilaku usaha yang bertanggungjawab. Sebagai pemakai barang dan/atau jasa, konsumen
memiliki sejumlah hak dan kewajiban.
Pengetahuan tentang hak-hak konsumen sangat penting agar konsumen dapat mengetahui secara kritis dan mandiri apabila mendapat tindakan yang tidak adil terhadap dirinya. Konsumen kemudian bisa bertindak lebih jauh untuk memperjuangkan hak-haknya. Dengan kata lain, ia tidak hanya tinggal diam saja ketika menyadari bahwa hak-haknya telah dilanggar oleh pelaku usaha. Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengatur bahwa Hak konsumen adalah: (1) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa; (2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau
ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 93 jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi
serta jaminan yang dijanjikan; (3) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa; (4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan; (5) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut; (6) Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; (7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; (8) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; (9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. pada dasarnya terdapat tiga macam hak berdasarkan sumber pemenuhannya, yakni: (a) Hak manusia karena kodratnya, yakni hak yang kita peroleh begitu kita lahir, seperti hak untuk hidup dan hak untuk bernafas. Hak ini tidak boleh diganggu gugat oleh negara, bahkan negara wajib untuk menjamim pemenuhan hak tersebut. (b) Hak yang lahir dari hukum, yakni hak yang diberikan oleh negara kepada warga negaranya. Hak ini juga disebut sebagai hak hukum. Contohnya hak untuk memberikan suara dalam pemilihan umum. (c) Hak yang lahir dari hubunngan kontraktual. Hak ini didasarkan pada perjanjian/kontrak antara orang yang satu dengan orang yang lain. Contohnya pada peristiwa jual beli, hak pembeli adalah untuk menerima barang, dan hak penjual adalah untuk menerima pembayaran.
Konsumen juga mengatur kewajiban yang harus dijalankan oleh konsumen. Pasal 5
Undang-Undang Perlindungan Konsumen
mengatur bahwa: Kewajiban Konsumen adalah: (1) Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan
barang dan/jasa, demi keamanan dan
keselamatan; (2) Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa; (3) Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati; (4) Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada konsumen diharapkan dapat menjadi
pengendali hak-hak yang dimiliki oleh
konsumen, sehingga dalam menggunakan
haknya, konsumen tidak bertindak dengan sewenang-wenang. Hak yang dimiliki oleh
konsumen baru dapat dipenuhi apabila
kewajibannya telah dikerjakan terlebih dahulu. Pelaku Usaha
Pelaku usaha merupakan istilah yuridis dari produsen. Istilah produsen berasal dari bahasa Belanda yakni producent dan dari bahasa Inggris producer yang artinya adalah penghasil. Pengertian pelaku usaha telah diatur menurut pasal 1 angka 3 UUPK, yaitu menyebutkan bahwa: “Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun
bersama-sama melalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi.”
Pada pasal 1 angka 5 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan juga memberikan pengertian pelaku usaha, yaitu pengusaha adalah: (1) Orang perorangan,
persekutuan, atau badan hukum yang
menjalankan suatu perusahaan milik sendiri; (2) Orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan yang
bukan miliknya; (3) Orang perorangan,
persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud angka (1) dan (2) yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. 28 27 Lihat Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen LN No. 42 Tahun 1999. TLN No. 3821 28 Lihat Pasal 1 Angka 5 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. LN No. 42 Tahun 1999. TLN No. 3821 22 1.
Hak Pelaku Usaha Pelaku usaha
melakukan usahanya dengan tujuan memperoleh keuntungan dari produk yang ia tawarkan kepada konsumen, baik itu berupa barang dan/atau jasa (Johnstone, Dainty, & Wilkinson, 2009). Kemudian dalam melakukan hubungan dengan konsumen, pelaku usaha mempunyai hak-hak dan kewajiban yang juga telah diatur didalam UUPK. Mengenai hak-hak pelaku usaha diatur dalam pasal 6 UUPK, yang menyebutkan bahwa hak pelaku usaha adalah: (1) Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan; (2) Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari konsumen yang beritikad tidak baik; (3) Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam
94 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 penyelesaian hokum sengketa konsumen; (4)
Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan; (5) Hak-hak yang diatur dalam peraturan perundangan-undangan lainnya.
Mengenai kewajiban pelaku usaha terdapat dalam pasal 7 UUPK, yang menyebutkan bahwa kewajiban pelaku usaha adalah: (1) Beritikad
baik dalam melakukan usahanya; (2)
Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa serta memberi penjelasan
penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan; (3) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; (4) Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku; (5) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat
dan/atau diperdagangkan; (6) Memberi
kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan
pemanfaatan barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan; (7) Memberi kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Tanggung Jawab Hukum
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tanggung jawab adalah kewajiban menanggung segala sesuatunya bila terjadi
apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, dan
diperkarakan. Dalam kamus hukum, tanggung jawab adalah suatu keseharusan bagi seseorang untuk melaksanakan apa yang telah diwajibkan
kepadanya (Carroll & Shabana, 2010).
Selanjutnya menurut Titik Triwulan
pertanggungjawaban harus mempunyai dasar, yaitu hal yang menyebabkan timbulnya hak hukum bagi seorang untuk menuntut orang lain sekaligus berupa hal yang melahirkan kewajiban
hukum orang lain untuk memberi
pertanggungjawabannya. Secara umum,
tanggung jawab pelaku usaha atas produk yang merugikan konsumen mempunyai beberapa prinsip-prinsip hukum yang dibedakan sebagai berikut:
Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan (Liability Based on Fault). Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur
kesalahan (liability based on fault) ini adalah prinsip yang berlaku dalam hukum pidana dan perdata. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, khususnya pasal 1365, 1366, dan 1367, prinsip ini dipegang secara teguh. Prinsip ini menyatakan seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawaban secara hukum jika ada unsur kesalahan yang dilakukannya. Pasal 1365 KUHPerdata, yang lazim dikenal sebagai pasal
tentang perbuatan melanggar hukum,
mengharuskan terpenuhi empat unsur pokok, yaitu adanya perbuatan, adanya unsur kesalahan, adanya kerugian yang diderita, dan adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dengan kerugian. Mengenai beban pembuktiannya, asas ini mengikuti ketentuan Pasal 163 Herzien Inlandsch Reglement (HIR) atau Pasal 283 Rechtsreglement voor de Buitengewesten (RBG) dan Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dalam ketiga pasal tersebut diatur bahwa barangsiapa yang mengaku mempunyai suatu hak, harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu (actorie incumbit probatio). Ketentuan di atas juga sejalan dengan teori umum dalam hukum acara, yakni asas audi et alterm partem atau asas kedudukan sama antara semua pihak yang berperkara. Pada hal ini hakim harus memberi para pihak beban yang seimbang dan
patut, sehingga masing-masing memiliki
kesempatan yang sama untuk memenangkan perkara tersebut.
Prinsip Praduga untuk Selalu Bertanggung Jawab (Presumption of Liability Principle). Prinsip praduga untuk selalu bertanggung jawab (presumption of liability principle) menyatakan, tergugat dianggap selalu bertanggung jawab, sampai pelaku usaha dapat membuktikan ada pada si tergugat. Saat ini, beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast) masih dapat diterima dengan prinsip praduga untuk selalu bertanggung jawab. Dasar pemikiran dari teori pembalikan beban pembuktian adalah seseorang
yang dianggap bersalah, sampai yang
bersangkutan dapat membuktikan sebaliknya. Hal ini tentu bertentangan dengan asas hukum
praduga tidak bersalah (presumption of
innocence) yang lazim dikenal dalam hukum. Namun, jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak, asas demikian cukup relevan. Jika digunakan teori ini, maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada dipihak pelaku usaha yang digugat. Tergugat ini yang harus menghadirkan bukti-bukti, dirinya tidak bersalah. Tentu saja konsumen tidak lalu berarti dapat sekehendak hati mengajukan gugatan.
ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 95 Posisi konsumen sebagai penggugat selalu
terbuka untuk digugat balik oleh pelaku usaha, jika ia gagal menunjukkan kesalahan tergugat.
Prinsip Praduga untuk Tidak Selalu Bertanggung Jawab. Prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab adalah kebalikan dari prinsip praduga untuk selalu bertanggung jawab. Prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab (presumption of non-liability principle) hanya dikenal dalam lingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas, dan pembatasan demikian biasanya secara dapat dibenarkan. Contoh dari penerapan prinsip ini adalah pada hukum pengangkutan. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin/bagasi tangan, yang biasanya dibawa dan diawasi oleh si penumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang. Dalam hal ini, pengangkut (pelaku
usaha) tidak dapat diminta
pertanggungjawabannya.
Prinsip Tanggung Jawab Mutlak. Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolut (absolute liability). Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua terminologi di atas. Ada pendapat yang mengatakan, strict liability adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang menentukan. Namun,
ada pengecualian-pengecualian yang
memungkinkan dibebaskan dari tanggung jawab,
misalnya dalam keadaan force majeure.
Sebaliknya absolute liability adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya.
Prinsip Tanggung Jawab dengan
Pembatasan. Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan (limitation of liability principle) sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausula eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. Dalam perjanjian cuci cetak film, misalnya ditentukan bila film yang ingin dicuci/dicetak itu hilang atau rusak (termasuk kesalahan petugas), maka si konsumen hanya dibatasi ganti kerugiannya sebesar sepuluh kali harga satu rol film baru. Secara umum, prinsip tanggung jawab ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha. Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengatur bahwa tidak dibolehkan secara sepihak menentukan klausula yang merugikan konsumen, termasuk membatasi
maksimal tanggung jawabnya. Jika ada
pembatasan, mutlak harus berdasarkan pada
peraturan perundangundangan yang jelas.
Menurut Abdulkadir Muhammad teori tanggung jawab dalam perbuatan melanggar hukum (tort liability) dibagi menjadi beberapa teori, yaitu: (1) Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar
hukum yang dilakukan dengan sengaja
(intertional tort liability), tergugat harus sudah melakukan perbuatan sedemikian rupa sehingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan kerugian. (2) Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan karena kelalaian (negligence tort lilability), didasarkan pada konsep kesalahan (concept of fault) yang berkaitan dengan moral dan hukum yang sudah bercampur baur (interminglend). (3) Tanggung jawab mutlak akibat perbuatan melanggar hukum tanpa mempersoalkan kesalahan (stirck liability), didasarkan pada perbuatannya baik secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan kesalahannya tetap bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat perbuatannya.
Istilah perbuatan melawan hukum berasal dari bahasa Belanda disebut dengan istilah (onrechmatige daad) atau dalam bahasa inggris disebut tort (Paparang, 2016). Kata (tort) berkembang sedemikian rupa sehingga berarti kesalahan perdata yang bukan dari wanprestasi kontrak. Kata (tort) berasal dari bahasa latin (orquer) atau (tortus) dalam bahasa Prancis, seperti kata (wrong) berasal dari bahasa Prancis (wrung) yang berarti kesalahan atau kerugian (injury).
Pada prinsipnya, tujuan dibentuknya sistem hukum yang kemudian dikenal dengan perbutan melawan hukum tersebut adalah untuk dapat tercapai sperti apa yang disebut oleh pribahasa latin, yaitu (juris praecepta sunt haec honeste vivere, alterum non leadere, suum cuque tribune) artinya semboyan hukum adalah hidup secara jujur, tidak merugikan orang lain dan memberikan orang lain haknya.
Sebelum tahun 1919 yang dimaksud perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang melanggar peraturan tertulis. Namun sejak tahun 1919 berdasar Arrest HR 31 Januari 1919 dalam perkara Cohen melawan Lindenbaum, maka yang dimaksud perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang melanggar hak orang lain, hukum tertulis dan hukum tidak tertulis, kewajiban hukum serta kepatutan dan kesusilaan yang diterima di masyarakat.
Perbuatan melawan hukum (onrechmatige daad) diatur dalam Buku III KUHPerdata. Rumusan perbuatan melawan hukum terdapat pada Pasal 1365 KUHPerdata yaitu : Tiap
96 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 perbuatan melanggar hukum, yang membawa
kerugian kepada seorang lain mewajibkan orang yang karena kesalahannya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Berdasarkan pengertian perbuatan melawan hukum Pasal 1365 maka dalam melakukan gugatan perbuatan melawan hukum harus dipenuhi unsur-unsur sebagai berikut: (1) Adanya suatu perbuatan, yaitu Suatu perbuatan melawan hukum diawali oleh perbuatan si pelakunya. (2) Perbuatan yang melanggar Hukum, yaitu suatu perbuatan yang melanggar hak subyektif orang lain atau yang bertentangan dengan kewajiban hukum dari si pembuat sendiri yang telah diatur dalam undang-undang. (3) Ada kesalahan, bisa karena kesengajaan atau karena kealpaan. Kesengajaan maksudnya ada kesadaran yang oleh orang normal pasti tahu konsekuensi dari perbuatannya itu akan merugikan orang lain. Kealpaan berarti ada perbuatan mengabaikan sesuatu yang mestinya dilakukan, atau tidak berhatihati atau teliti sehingga menimbulkan kerugian bagi orang lain. Namun demikian adakalanya suatu keadaan tertentu dapat meniadakan unsur kesalahan,
misalnya dalam hal keadaan memaksa
(overmacht) atau si pelaku tidak sehat pikirannya (gila). (4) Ada hubungan sebab akibat antara kerugian dan perbuatan, maksudnya, ada hubungan sebab akibat antara perbuatan yang dilakukan dengan akibat yang muncul. (5) Ada
kerugian, kerugian berupa
materil/imateril.Menurut Munir Faudy,
perbuatan melawan hukum adalah sebagai suatu kumpulan dari prinsip-prinsip hukum yang bertujuan untuk mengontrol atau mengatur perilaku bahaya, untuk memberikan tanggung jawab atas suatu kerugian yang terbit dari interaksi sosial, dan untuk menyediakan ganti rugi terhadap korban dengan suatu gugatan yang tepat.
Tinjauan Tentang Klausula Baku
Klausula Baku Pengertian klausula Baku atau standard contract menurut UUPK yaitu: Setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Pengertian klausula baku menurut E. H. Hondius yaitu konsep janji-janji yang tertulis yang disusun tanpa membicarakan isinya, serta pada umumnya dituangkan dalam
perjanjian-perjanjian yang tidak terbatas
jumlahnya, namun sifatnya tertentu. Menurut
Drion, setidaknya ada tiga aspek negatif dari klausula baku yang terjadi dalam praktik bisnis dan keuangan. Tiga aspek itu yaitu: (a)
Penyusunan sepihak: pihak-pihak yang
menyusun kontrak kurang memperhatikan
kepentingan pihak lainnya. (b) Tidak
diketahuinya isi syarat: pihak-pihak yang ikut serta umumnya tidak maklum terhadap isi kontrak dan tidak mengetahui huruf-huruf kecil di sebelah belakang yang sering terdapat. (c) Kedudukan terjepit: pihak-pihak yang ikut serta berada dalam posisi terjepit. Adanya aspek-aspek negatif dari klausula baku yang tentunya juga membuktikan bahwa ada ketidakadilan yang dilakukan para pelaku usaha terhadap konsumen, jadi sudah sewajarnya bagi UUPK membuat
larangan mengenai klausula baku ini.
Pembahasan mengenai ketentuan pencantuman klausula baku terdapat dalam Pasal 18 UUPK: (1) Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha; (2) Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak menyerahkan kembali barang yang dibeli konsumen; (3) Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen; (4) Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran; (5) Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen; (6) Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual beli jasa; (7) Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh
pelaku usaha dalam masa konsumen
memanfaatkan jasa yang dibelinya; (8)
Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk membebankan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.
Ciri Klausula Baku Secara sederhana, perjanjian baku mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) Perjanjian dimuat secara sepihak oleh produsen yang posisinya relatif lebih kuat dari konsumen. (2) Konsumen sama sekali tidak dilibatkan dalam menentukan isi perjanjian. (3) Dibuat dalam bentuk tertulis dan massal. (4) Konsumen terpaksa menerima isi perjanjian didorong oleh kebutuhan. Namun Hondius juga
ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 97 mengatakan pendapat penulis-penulis Belgia dan
Perancis tentang ciri-ciri Standaard voorwarrden atau adhesie contract yaitu: (a) Mengenal suatu tawaran umum, kadang-kadang ditambahkan syarat waktu tertentu; (b) Syarat-syarat disusun oleh salah satu pihak; (c) Syarat-syarat itu disusun terlebih dahulu; (d) Dengan cara abstrak dan bersifat umum (tentang suatu hubungan hukum yang konkret yang diabstrakkan); (e) Suatu rangkuman janji-janji beberapa pengarang, malah mengatakan semua hal yang sekecil-kecilnya pun telah diatur; (f) Pihak yang menawarkan berada dalam posisi monopoli setidak-tidaknya ia berada dalam situasi ekonomi yang lebih unggul; (g) Tentang penawaran tidak dapat dibantahkan.
Bentuk Klausula baku dan Jenis Perjanjian dengan Klausula baku Jika dicermati berdasarkan pengertian UUPK dapat disimpulkan bahwa klausula baku terdiri atas dua bentuk, yaitu: (1) Dalam Bentuk Perjanjian Konsep dalam suatu perjanjian telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh pelaku usaha. Perjanjian ini biasanya memuat aturan-aturan umum dalam suatu perjanjian,
persyaratan-persyaratan khusus mengenai
pelaksanaan perjanjian, serta hal-hal mengenai berakhirnya perjanjian. Contohnya: kontrak baku, syarat-syarat tentang resiko tertentu, dan lainnya. (2) Dalam Bentuk Persyaratan Perjanjian dalam bentuk ini dapat pula dalam bentuk bentuk lain, yaitu syaratsyarat khusus yang termuat dalam berbagai kuitansi, tanda penerimaan atau tanda penjualan,atau dalam secarik kertas tertentu yang termuat di dalam kemasan atau pada wadah produk yang bersangkutan. Menurut Mariam Darus Badrulzaman, kontrak baku dapat digolongkan dalam jenis yaitu: (a) Kontrak baku sepihak adalah kontrak yang ditentukan oleh pihak yang kuat kedudukannya di dalam kontrak itu. Pihak yang kuat di sini ialah pihak kreditur yang lazimnya mempunyai posisi ekonomi kuat dibandingkan pihak debitur. (b) Kontrak baku timbal balik adalah kontrak baku yang isinya ditentukan oleh kedua pihak misalnya kontrak baku yang pihak-pihaknya terdiri dari pihak kreditur dan pihak lainnya yaitu debitur.kedua pihak lazimnya terikat dalam organisasi. (c) Kontrak baku yang ditetapkan pemerintah ialah kontrak baku yang isinya ditentukan oleh pemerintah terhadap perbuatan-perbuatan hukum
tertentu misalnya kontrak-kontrak yang
mempunyai objek hak-hak atas tanah. (d) Kontrak baku yang ditentukan di lingkungan notaris atau advokat adalah kontrak-kontrak yang konsepnya sejak semula sudah disediakan untuk
memenuhi permintaan dari anggota masyarakat yang minta bantun notaris atau advokat yang bersangkutan. Di dalam perpustakaan Belanda, jenis keempat ini disebut contract model.
Perjanjian Baku dan Asas Kebebasan Berkontrak. Kebebasan berkontrak berlatar belakang pada paham individualime yang secara embrional lahir dalam zaman Yunani, dteruskan oleh Epicuristen dan berkembang pesat dalam zaman Renaissance melalui ajaran-ajaran Hugo de Groot, Thomas Hobbes, John Locke, dan Rousseau. Puncak perkembangannya tercapai dalam periode setelah Revolusi Prancis.
Definisi perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata yaitu “perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan
dirinya terhadap satu orang atau lebih
mengikakan dirinya terhadap satu orang atau lebih”. Di Indonesia hukum perjanjian menganut beberapa asas hukum salah satunya yaitu asas kebebasan berkontrak (freedom of contract) yang di atur dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Dengan adanya asas ini para pihak yang membuat dan mengadakan perjanjian diperbolehkan untuk menyusun dan membuat kesepakatan atau perjanjian yang melahirkan kewajiban apa saja, selama dan sepanjang prestasi yang wajib dilakukan tersebut bukanlah sesuatu yang terlarang.
Menurut Abdulkadir, isi perjanjian terdiri dari; syarat-syarat yang tegas (expers term), syarat yang diam-diam (implied term) dan klausula penyampingan. Syaratsyarat yang tegas
adalah syarat-syarat yang secara khusus
disebutkan dan disetujui oleh pihak-pihak pada waktu membuat perjanjian. Syarat-syarat yang diam-diam adalah syarat yang tidak ditentukan secara tegas mengenai suatu hal dalam perjanjian. Klausula penyanmpingan adalah untuk membatasi tenggung jawab salah satu pihak. Namun, harus dipahami bahwa maksud dari Pasal 1320 KUHPerdata yang merupakan hukum peninggalan kolonial Belanda adalah asas kebebasan berkontrak dapat diterapkan apabila kedudukan para pihak seimbang. Apabila kedudukan para pihak tidak seimbang, penerapan asas kebebasan berkontrak akan membawa kecenderungan terjadinya eksploitasi dari pihak yang kuat (produsen/pelaku usaha) kepada pihak yang lemah (konsumen).51 Di Belanda, tempat KUHPerdata dibuat, untuk mencegah terjadinya eksploitasi pihak yang kuat kepada pihak yang lemah dalam perjanjian baku, telah dilakukan re-interpretasi dari asas kebebasan berkontrak yaitu: (1) Asas kebebasan berkontrak bukan lagi
98 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 dipahami dalam pengertian mutlak seperti yang
terjadi di Indonesia tetapi dalam arti relative. Artinya asas kebebasan berkontreak dapat diterapkan apabila kedudukan para pihak seimbang. Apabila tidak seimbang, asas kebebasan berkontrak dapat diterapkan dengan catatan ada pengawasan dari Departemen Kehakiman. (2) Kedudukan hukum perjanjian tidak lagi selamanya 100% masuk dalam lapangan hukum privat. Hukum perjanjian selain berdimensi privat, dalam hal isinya menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak, juga
berdimensi publik. Untuk melindungi
kepentingan masyarakat konsumen dalam
perjanjian baku, harus ada campur tangan Negara.
Klausula Eksonerasi Kehadiran klausula baku sudah banyak dapat kita temui dalam praktek perekonomian, namun yang perlu dikhawatrikan adalah dicantumkannya klausula eksonerasi pada perjanjian tersebut. Klausula Eksonerasi adalah klausul yang mengandung membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan
kepada pihak produsen/penyalur produk
(penjual). Tidak semua kontrak baku adalah klausula eksonerasi. Jika melihat pada Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, klausula baku dan klausula eksonerasi berbeda. Artinya klausula baku adalah klausula yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha, tetapi isinya tidak boleh mengarah kepada klausula eksonerasi.
Klausula eksonerasi hanya dapat
digunakan dalam pelaksanaan perjanjian dengan itikad baik. Eksonerasi yang timbul karena
kesengajaan pengusaha/penyedia jasa dan
meyebabkan kerugian bagi konsumen
bertentangan dengan kesusilaan. Karena itu pengadilan dapat mengesampingkan klausula
eksonorasi tersebut.55 Penulis Engels
memaparkan bahwa pada umumnya syarat-syarat eksonerasi itu dituangkan dalam 3 (tiga) macam bentuk yuridis, yaitu: Analisis Hukum Terhadap Klausula Baku Pada Kartu Studio Pass di Trans Studio Makassar (Skripsi), (Fakultas Hukum Hasanuddin Makassar, 2015). (1) Bentuk bahwa tanggung jawab untuk akibat hukum karena tidak
atau kurang baik memenuhi
kewajiban-kewajiban, dikurangi atau dihapuskan (misalnya ganti kerugian dalam hal ingkar janji); (2) Bentuk
bahwa kewajiban-kewajiban sendiri, yang
biasanya dibebankan pada pihak untuk mana syarat dibuat, dibatasi atau dihapuskan (misalnya perluasan pengertian keadaan darurat); (3)
Bentuk bahwa kewajiban-kewajiban dicipta
syarat-syarat pembebasan (vrijwarings
bedingen); salah satu pihak dibebankan dengan kewajiban untuk memikul tanggung jawab pihak lain yang mungkin ada untuk kerugian yang
diderita oleh pihak ketiga. syarat-syarat
eksonerasi ini merupakan suatu ketentuan yang dibuat untuk menghindari adanya ketidakadilan yang menyebabkan kerugian bagi salah satu pihak dalam pelaksanaan perjanjian
METODOLOGI
Penelitian ini mengambil sampel
berdasarkan teknik purposive sampling, dengan pertimbangan bahwa hanya yang memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan tujuan penelitian yang dijadikan sebagai sampel penelitian.
Berdasarkan teknik pengambilan sampel
tersebut, maka ditarik 1 (satu) pelaku usaha penyedia jasa parkir milik pemerintah yaitu parkiran dijalan jl letjend Soeprapto (daerah pasar) dan 3 (tiga) pelaku usaha penyedia jasa parkir milik swasta serta konsumen pengguna jasa parkir ditarik 30 (tiga puluh) orang konsumen pengguna jasa parkir milik pemerintah dan 30 (tiga puluh) orang konsumen pengguna jasa parkir milik swasta, jadi total konsumen pengguna jasa parkir sebanyak 60 (enam puluh) orang.
Jenis data yang akan digunakan oleh peneliti dalam proses pelaksanaan penelitian ini yaitu:
Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil penelitian secara langsung di lapangan, yang dilakukan melalui wawancara dengan beberapa sumber yang terkait dengan penelitian ini yaitu Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas, Parkir Jl Letjend Soeprapto (Daerah Pasar) dan pelaku usaha penyedia jasa parkir milik swasta, serta kuisioner di mana respondennya merupakan konsumen pengguna jasa parkir yang disediakan oleh pelaku usaha dan observasi terhadap objek penelitian.
Data sekunder yaitu data yang diperoleh
secara tidak langsung dengan cara
mengumpulkan informasi dari karcis parkir, serta putusan yang berkaitan dengan penulisan ini untuk memeroleh dasar teoritis dalam penulisan tugas akhir.
Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memeroleh data dan informasi adalah:
Wawancara yaitu mengumpulkan data secara langsung melalui tanya jawab berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disiapkan dan
ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 99 melakukan wawancara tidak terstruktur untuk
memperoleh data dan informasi yang diperlukan. Kuisioner yaitu usaha pengumpulan data secara tidak langsung melalui daftar pertanyaan. Kuisioner dilakukan kepada responden yaitu konsumen pengguna jasa parkir di Kota Kuala Kapuas yakni 60 (enam puluh) responden pengguna jasa parkir (konsumen). Selanjutnya diolah dan dianalisis secara kuantitatif
Data kepustakaan dilakukan dengan cara menelaah atau mengkaji karcis parkir dan putusan yang berkaitan dengan penulisan ini untuk memperoleh dasar teoritis dalam penulisan tugas akhir yang berkaitan dengan masalah yang akan di bahas dalam penulisan skripsi ini.
Berdasarkan data yang diperoleh baik data primer maupun sekunder, penulis kemudian mengolah data tersebut kemudian dianalisis dengan teknik kualitatif disajikan secara normatif desktiptif yaitu menjelaskan, menguraikan dan menggambarkan sesuai dengan permasalahan mengenai tanggung jawab jasa parkir dan konsumen pengguna jasa parkir pada bisnis usaha
perparkiran. Hal ini dimaksudkan untuk
memberikan pemahaman yang jelas dan terarah dari hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sumber pendapatan dari suatu daerah dapat berasal dari retribusi daerah. Retribusi ini secara umum dapat berarti pembayaran-pembayaran kepada negara yang dilakukan oleh warga yang menggunakan jasa-jasa yang disediakan negara. Bisa juga iuran kepada pemerintah yang sifatnya dipaksakan. Hal ini maksudnya bagi yang tidak membayar iuran tidak akan mendapatkan jasa balik dari pemerintah. Sesuai dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, yang selanjutnya dalam pelaksanaannya di masing-masing daerah dengan pungutan retribusi daerah dijabarkan dalam bentuk peraturan daerah yang mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu retribusi tersebut adalah retribusi parkir yang diperlukan karena ada banyak yang membawa kendaraan dalam perjalanan mereka dan membutuhkan tempat parkir ketika menepi dan harus ditinggalkan pemiliknya. Retribusi ini menjadi salah satu
kontribusi dari pendapatan asli daerah.
Pendapatan ini dibutuhkan untuk mewujudukan
otonomi yang nyata dan bertanggung jawab kepada daerah, perlu diberikan suatu wewenang untuk melakukan segala urusan rumah tangga daerahnya sendiri dengan semaksimal dan sebaik-baiknya sehingga perlu diberikan sumber-sumber pembiayaan dan tentu saja diwajibkan untuk menggali sumber-sumber tersebut.
Kaitannya dengan retribusi pajak parkir ini ada beberapa pihak yang terlibat. Mereka adalah konsumen dan pelaku usaha serta juga pemerintah. Konsumen adalah mereka yang membeli barang atau menggunakan jasa tertentu. Sementara, pelaku usaha adalah produsen yang merupakan setiap orang perseorangan atau badan usaha yang berbentuk badan hukum maupun yang bukan, didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun
bersama-sama melalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi. Keduanya berada di dalam negara Indonesia dan juga membutuhkan negara dalam pengawasannya. Negara melalui pemerintah menciptakan aturan melalui undang-undang. Oleh karena itu, ada yang namanya undang-undang hukum perlindungan.
Hal ini seperti yang terjadi di Kabupaten Kapuas dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas Nomor 2 Tahun 2010 yang mengatur tentang Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum yang berguna dalam mengatur banyak hal tentang hubungan pelaku usaha dan konsumen jasa parkir. Pada Pasal 2 sampai dengan Pasal 27 disebutkan mengatur tentang nama, obyek, subyek retribusi, golongan retribusi dan wilayah pemungutan, cara mengukur tingkat penggunaan jasa, prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi, masa retribusi, penentuan pembayaran, tempat
pembayaran, angsuran dan penundaan
pembayaran, sanksi administratif, penagihan, keberatan, pengembalian kelebihan pembayaran, penghapusan piutang retribusi yang kedaluwarsa, pemanfaatan, insentif pemungutan, pengawasan dan pemeriksaan, penyidikan, dan terkait ketentuan pidana. Dalam Undang-Undang ini tidak jelas dan tidak disebutkan siapa yang bertugas menjadi penanggung jawab. Namun, dalam Peraturan Bupati Kapuas Nomor 229 tahun 2013 tentang petunjuk pelaksanaan perparkiran di Kabupaten Kapuas disebutkan pada Pasal 4 bahwa Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas adalah pejabat yang ditunjuk untuk
bertanggungjawab. Kemudian, pengelolaan
100 www.jurnalsagacious.net ISSN. 2355-8911 merupakan Dinas Perhubungan karena memang
sesuai tugas pokok dan fungsinya. Berdasar
Perda Nomor 2 Tahun 2020, proses
pengawasannya dilakukan oleh Bupati dengan melibatkan instansi terkait dan diatur juga terkait dengan penyidikan dan pidana. Sedangkan, di dalam Peraturan Bupati Kapuas Nomor 229 tahun 2013 pasal 19 sampai dengan 22 diatur tentang mekanisme pengawasan oleh Dinas Perhubungan serta penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat yang mempunyai wewenang.
Tarif retribusi parkir mengalami perubahan yang semula diatur dalam Perda Nomor 2 Tahun 2010 kemudian diatur oleh Peraturan Bupati Nomor 4 Tahun 2015. Tarif ini diberlakukan sejak April 2015. Untuk sepeda motor yang awalnya seribu rupiah menjadi dua ribu rupiah. Untuk bus, truk, dan sejenisnya dari Rp. 3.500,- menjadi Rp. 5.000,-. Dengan ini, maka konsumen juga harus diberikan pelayann yang baik dalam parkir. Namun, masih ada kendala karena masih banyak juru parkir yang tidak beridentitas, sehingga sering kali dianggap sebagai juru parkir liar, retribusi yang tidak sesuai, ruang parkir yang kurang atau terbatas, kendaraan yang semakin meningkat jumlahnya dengan kapasitas luas jalan yang tidak memadai, begitu pun dengan wilayah parkir.
Berdasarkan hal ini dapat dilihat bahwa pengelolaan dan pengawasan masih lemah. Secara implementasinya, kegiatan pelayanan parkir kurang diberikan perhatian. Belum adanya jumlah personil yang maksimal dan berkualitas untuk melakukan pengawasan agar dapat menerapkan sistem pengelolaan parkir yang benar dan modern, dan belum ada hitungan potensi yang diukur dengan cermat untuk
wilayah-wilayah tertentu dengan kontrak
pengelolaan parkir. Padahal, konsumen
membutuhkan perlindungan dalam menggunakan jasa parkir baik dari biaya parkir maupun keamanan dan keselamatan kendaraan mereka. SIMPULAN DAN SARAN
Kegiatan pelayanan jasa parkir di
Kabupaten Kapuas dinilai masih membutuhkan
usaha lebih keras dari pengwasan dan
pengelolaannya baik dari pelaku usaha maupun pemerintah setempat maupun daerah demi dapat
menjamin perlindungan hukum terhadap
konsumen. Pengwasan dan pengelolaan retribusi parkir masih lemah dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap juru parkir masih rendah karena belum adanya identitas resmi sebagai juru parkir profesional. Dibutuhkan mereka yang
benar-benar mampu dalam mengurus dan mengelola retribusi parkir dan juga mengatur jasa parkir yang dapat membawahi pelaku usaha agar keselamatan dan keamanan kendaraan para konsumen terjamin dan tidak terjadi tindak pidana yang tidak diinginkan.
DAFTAR RUJUKAN
Alemanno, A., & Spina, A. (2014). Nudging legally: On the checks and balances of
behavioral regulation. International Journal
of Constitutional Law, 12(2), 429–456.
doi:10.1093/icon/mou033
Amsden, A. (1991). Diffusion of development: The late-industrializing model and greater
East Asia. The American Economic Review ,
81(2), 282–286.
Arnold, D. G. (2013). Global Justice and
International Business. Business Ethics
Quarterly, vol. 23(1), 125-143.
Baffour Awuah, G., & Amal, M. (2011). Impact
of globalization. European Business Review,
23(1), 120–132.
doi:10.1108/09555341111098026
Beetham, I. F., Enoch, M. P., Tuuli, M. M., &
Davison, L. J. (2014). Stakeholder
perspectives on the value of car parking.
Urban, Planning and Transport
Research, 2:1, 195-214.
Bell, M., & Pavitt, K. (1993). Technological Accumulation and Industrial Growth:
Contrasts Between Developed and
Developing Countries. Industrial and
Corporate Change 2 (2), 157–210.
Carroll, A. B., & Shabana, K. M. (2010). The Business Case for Corporate Social Responsibility: A Review of Concepts,
Research and Practice. International
Journal of Management Reviews, 12(1), 85–
105. doi:10.1111/j.1468-2370.2009.00275.x Cavdar, S. C., & Aydin, A. D. (2015). An
Empirical Analysis about Technological Development and Innovation Indicators. Procedia - Social and Behavioral Sciences,
Vol. 195, 1486-1495.
Chovanova, H. H., Korshunov, A. I., & Babcanova, D. (2015). Impact of Brand on
Consumer Behavior. Procedia Economics
ISSN. 2355-8911 www.jurnalsagacious.net 101 Cimoli, M., & Dosi, G. (1995). Technological
paradigms, patterns of learning and
development: An introductory roadmap. J
Evol Econ 5, 243–268.
Daubaraite, U., & Startiene, G. (2015). Creative Industries Impact on National Economy in
Regard to Sub-sectors. Procedia - Social
and Behavioral Sciences, Vol. 213, 129-134.
Donaldson, T., & Walsh, J. P. (2015). Toward a
theory of business. Research in
Organizational Behavior, Vol. 35, 181-207.
Eschle, C. (2001). Globalizing Civil Society? Social Movements and the Challenge of Global Politics from Below. In Hamel P., Lustiger-Thaler H., Pieterse J.N., Rosen, Globalization and Social Movements. London : Palgrave Macmillan.
Evans, P., & Gawer, A. (2016). The rise of the
platform enterprise: A global survey. In The
Emerging Platform Economy Series No. 1. New York, NY: The Centre for Global Enterprise.
Evenson, R. E., & Westphal, L. E. (1995). Technological Change and Technology
Strategy. In Vol. 3A of Handbook of
Development Economics edited
by J. Behrman and T. N. Srinivasan (pp.
2209-2299). Amsterdam: North-Holland.
Fischer, C. (1982). To dwell among friends:
personal networks in town and country. Chicago, IL: University of Chicago Press. Gasper, D. (2004). Subjective and objective
wellbeing in relation to economic inputs:
puzzles and responses. In WeD Working
paper 09. Bath: University of Bath.
Guillen-Royo, M. (2014). Human Needs. In
Michalos A.C. (eds), Encyclopedia of
Quality of Life and Well-Being Research. Dordrecht: Springer.
Han, Y., Shan, J., Wang, M., & Yang, G. (2017). Optimization design and evaluation of
parking route based on automatic
assignment mechanism of parking lot. Advances in Mechanical Engineering, Vol.
9(7).
Hébert, R., & Link, A. (1989). In search of the
meaning of entrepreneurship. Small Bus
Econ 1, 39-49.
Heeks, R., & Stanforth, C. (2015). Technological change in developing countries: opening the black box of process using actor–network
theory. Development Studies Research, 2:1,
33-50.
Holcombe, R. G. (2004). National Income
Accounting and Public Policy. The Review
of Austrian Economics 17, 387-405.
Jahanshahi, A. A., Gashti, M. A., Mirdamadi, S. A., Nawaser, K., & Khaksar, S. M. (2011). Study the Effects of Customer Service and Product Quality on Customer Satisfaction
and Loyalty. International Journal of
Humanities and Social Science, 1(7),
253-260.
Johnstone, S., Dainty, A., & Wilkinson, A. (2009). Integrating products and services through life: an aerospace experience. International Journal of Operations &
Production Management, 29(5), 520-538.
doi:10.1108/014435709109536
Keane, J. (2005). Eleven theses on markets and civil society. Journal of Civil Society, 1(1), 25–34.
Kim, M. G., Wang, C., & Mattila, A. S. (2010).
The relationship between consumer
complaining behavior and service recovery:
An integrative review. International Journal
of Contemporary Hospitality
Management(17), 22(7), 975-991.
doi:10.1108/09596111011066635
Koopman, C., Mitchell, M., & Thierer, A. (2015). The Sharing Economy and Consumer Protection Regulation: The Case for Policy
Change. The Journal of Business,
Entrepreneurship & the Law, 8(2), 530-545.
Kuner, C. (2010). Data Protection Law and
International Jurisdiction on the
Internet(Part 1). International Journal of
Law and Information Technology, 18(2),
176–193. doi:10.1093/ijlit/eaq002
McGregor, S. (2007). Decade review 1997–2006. International Journal of Consumer Studies,
31, 2-18.
doi:10.1111/j.1470-6431.2006.00566.x
Palombella, G. (2009). The rule of law beyond the state: Failures, promises, and theory.