• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data perkembangan LPD di Kota Denpasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Data perkembangan LPD di Kota Denpasar"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan

LPD di Kota

Denpasar

April 25

2012

LPD merupakan wadah kekayaan ekonomi desa dan telah mengalami

perkembangan yang cukup pesat serta telah memberikan kontribusi positif bagi

(2)

Pendahuluan

Pembentukan LPD didasari oleh adanya warisan budaya berupa desa pakraman yg

merupakan suatu bentuk/wadah sistem pemerintahan tingkat desa yang terdiri dari ikatan

kekeluargaan. Prof.Dr I B Mantra sebagai tokoh yang sangat memperhatikan kelangsungan adat dan

budaya serta perekonomian masyarakat Bali telah menciptakan gagasan ide untuk mengembangkan

pola sekaa simpan pinjam menjadi sebuah lembaga yang dapat mendorong pembangunan

perekonomian masyarakat sekaligus dapat melestarikan adat dan budaya yaitu LPD (Lembaga

Perkreditan Desa).

Pendirian LPD merupakan tindak lanjut dari hasil seminar kredit pedesaan di semarang pada

20 – 21 Pebruari 1981 yang dilanjutkan dengan study banding di Lumbung Pitik Negari Sumatra Barat

lalu ditindaklanjuti dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Nomor 2 tahun 1984

tgl. 1 Nopember tentang Pendirian LPD dan Tahun 1985 dibentuk 8 LPD ditiap Kabupaten di Bali.

DESA pakraman di Bali yang hingga kini memiliki Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sebanyak

LPD di Bali mencapai 1.418 buah dari 1.68 Desa pakraman yang ada di Bali atau 96%. Dalam

perkembangannya LPD telah cukup terbukti mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan dan

kesejahteraan krama desa pakraman setempat. Dilain pihak perkembangan LPD juga dipengaruhi

oleh kondisi masyarakat setempat yang berkaitan dengan kemampuan dan potensi ekonomi

masyarakat, perhatian masyarakat sebagai pemilik dan profesionalisme pengelolaan LPD oleh

pengurus. Perekembangan perekonomian pada tingkat regional maupun nasional bahkan global

menuntut kinerja LPD yang semakin kompetitif pada masa-masa mendatang, hal ini hanya dapat

terjawab dengan sinergis antar pengurus LPD dengan profesionalismenya, badan pengawas,

masyarakat dan pemerintah untuk berkomitmen menjadikan LPD sebagai pusat informasi usaha

strategis dan produktifitas masyarakat yang diarahkan untuk meningkatkan dan memberdayakan

potensi ekonomi lokal yang pada gilirannya mampu meningkatkan daya saing dan kesejahteraan

masyarakat desa pakraman

LPD mempunyai peran yang sangat strategis karena selama ini telah melayani usaha mikro

kecil (UMK) dan masyarakat pedesaan (krama desa) di Bali melalui pelayanan jasa keuangan yang

dilakukan sesuai dengan kebutuhan nasabah, yaitu prosedur yang sederhana, proses yang singkat,

pendekatan personal, serta kedekatan lokasi dengan nasabah. Pertumbuhan LPD yang relatif tinggi

dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa keberadaan LPD memang dibutuhkan oleh masyarakat

pedesaan termasuk UMK yang selama ini dilayani.

Spesifikasi LPD yang memiliki kedekatan budaya dan psikologi dengan nasabahnya,factor

(3)

merupakan kekuatan lembaga ini untuk bertahan dan memiliki daya saing terhadap lembaga sejenis

terlebih dalam kondisi perekonomian dewasa ini. Kemajuan LPD yang diharapkan dapat menjadi

lembaga pembiyaan yang efektif di masyarakat desa, akan berdampak positif terhadap

pengembangan kawasan pedesaan, sebaga masyarakat akan terbantu dalam pendanaan untku

mengembangkan potensi usaha diwilayahnya yang akan menjadikan pedesaan kompetitif dalam

tatanan perekonomian global.

Fungsi LPD

Sejak digagasnya pada bulan November 1984 oleh Gubernur Bali, yang pada waktu itu

dijabat oleh Ida Bagus Mantra (alm), LPD telah mengemban fungsi untuk mendorong pembangunan

ekonomi masyarakat melalui tabungan yang terarah, serta penyaluran modal yang efektif. Di

samping itu, LPD juga diharapkan dapat memberantas sistem ijon dan gadai gelap, yang saat itu

kerap terjadi di masyarakat. Fungsi lain yang juga diemban adalah menciptakan pemerataan dan

kesempatan kerja bagi warga pedesaan, baik yang bisa bekerja secara langsung di LPD maupun yang

bisa ditampung oleh usaha-usaha produktif masyarakat yang dibiayai oleh LPD. Menciptakan daya

beli, serta melancarkan lalu lintas pembayaran dan pertukaran di desa, juga menjadi tugas pokok

LPD.

Bila dikaitkan dengan indikator ekonomi makro yang terdiri atas peningkatan pendapatan

nasional, penyediaan kesempatan kerja, menjaga stabilitas harga dengan menekan inflasi, serta

memperkuat perdagangan internasional dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Maka apa yang

ingin dicapai oleh LPD, sebetulnya sangat selaras dengan tujuan penguatan ekonomi makro.

Penyaluran dana kepada usaha-usaha produktif di daerah pedesaan, tentu akan berkontribusi

terhadap peningkatan pendapatan regional daerah Bali. Di samping itu, dengan semakin

berkembangnya usaha-usaha masyarakat yang dibiayai oleh LPD, maka usaha tersebut akan

menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Ini berarti, pengangguran dapat diatasi dan inflasi dapat

ditekan. Sebagaimana telah diketahui, sebagaian besar masyarakat pedesaan di daerah Bali,

berprofesi sebagai perajin yang pasarnya berorientasi ekspor. Dengan peran aktifnya dalam

membiayai perajin, berarti LPD juga telah berkontribusi dalam memperkuat perdagangan

internasional.

Dari sudut pandang masyarakat, keberadaan LPD yang sehat, akan sangat membantu, baik

secara ekonomi maupun sosial. Secara ekonomis, masyarakat memiliki alternatif untuk menyimpan

dananya secara produktif dengan memperoleh pendapatan bunga yang bersaing dengan lembaga

keuangan lainnya. Sementara bagi masyarakat yang membutuhkan dana, LPD biasanya merupakan

(4)

Dampak sosial dari keberadaannya, tercermin dari taatnya setiap LPD dalam memenuhi isi peraturan

daerah dan surat keputusan gubernur, yang mewajibkan LPD untuk menyumbangkan 20%

keuntungannya untuk dana pembangunan desa dan 5% untuk dana sosial. Fungsi sosial ini akan

meringankan beban masyarakat, karena mereka tidak perlu memikirkan iuran pembangunan desa

dan dana sosial, setidak-tidaknya, sebesar yang telah disumbang oleh LPD.

Dengan fungsi LPD yang sedemikian rupa, maka LPD yang terbangun dari sinergi budaya lokal

dengan perkembangan zaman yang terpola dan ditingkatkan kapasitasnya berbasis pada konsep

Agama Hindu kini dikuatkan dengan menajamkan fungsi LPD kepada Fungsi Ekonomi; (pembiayaan

dan aktivitas ekonomi masyarakat desa), Fungsi Kultural; (menguatkan nilai/norma sosial/yadnya),

Fungsi Spiritual; (keseimbangan dalam mencapai tujuan agama)

Perkembangan LPD di Kota Denpasar

Lembaga Perkeditan Desa (LPD) menempati posisi yang straegis dalam tataran

pembangunan desa untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi desa pakraman

dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat desa. Sebagai wadah kekayaan ekonomi desa

LPD diharapkan dapat berprean dalam meningkatkan efisiensi ekonomi desa, mendorong

produktivitas masyarakat serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan Kota Denpasar pada

umumnya. Dengan peran LPD yang sedemikian rupa maka sasaran umum LPD Kota Denpasar

diarahkan pada:

1. Meningkatnya produktivitas LPD

2. Meningkatnya profesionalisme pengelolaan LPD

3. Meningkatnya produktivitas masyarakat desa pakraman

4. Meningkatnya daya saing LPD

5. Meningkatnya kualitas kelembagaan LPD

Dalam kurun waktu kurang lebih 20 (dua puluh) tahun Lembaga Perkreditan Desa (LPD) telah

menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik dari sisi jumlah maupun dari sisi

perkembangan usahanya. Sebagai salah satu lembaga keuangan mikro, LPD telah cukup berperan

dalam mendorong pembangunan ekonomi dan menciptakan kesempatan berusaha bagi masyarakat

desa serta ikut serta berperan dalam menunjang program pemerintah dalam hal pengentasan

kemiskinan.

Di Kota Denpasar terdapat 35 buah Desa Pakraman dan secara keseluruhan telah terdapat

35 LPD yang berarti seluruh Desa pakraman di Kota Denpasar memiliki LPD. Perkembangan LPD di

Kota Denpasar 5 tahun terakhir menunjukkan trend positif baik dari sisi asset, kredit yang dsalurkan

maupun laba yang diperoleh. Hasil usaha LPD tersebut telah di kontribusikan sesuai dengan fungsi

(5)

pembangunan Desa Pakraman sedangkan 60% untuk modal LPD, 5% untuk dana sosial, 5% untuk

dana pembinaan, pengawasan dan perlindungan serta 10% untuk jasa produksi. Berikut ini disajikan

perkembangan LPD Kota Denpasar.

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Asset

Perkembangan Pinjaman Yang Diberikan LPD Kota Denpasar

1

(6)

Gambar 3

Perkembangan Laba LPD 2002-2011 (Dalam Ribuan Rupiah)

Sumber : PLPDK Kota Denpasar

Tabel 1

Perkembangan LPD Kota Denpasar 2002-2011

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

1 Asset 96,363,776 128,056,286 165,283,652 196,117,500 220,516,810 286,908,372 357,977,099 436,333,652 525,290,553 666,944,950

2 Pinjaman Diberikan 73,464,411 87,937,375 106,805,039 139,665,348 162,862,196 188,813,185 234,497,151 314,944,623 393,788,974 475,600,009

3 Dana Pihak Ketiga 96,363,777 324,173,786 126,709,862 148,272,087 162,847,277 240,229,635 221,386,343 347,959,885 420,091,136 540,339,913

4 Laba 8,772,890 9,391,142 10,826,468 13,011,054 13,702,251 13,328,681 15,512,438 19,157,225 24,528,170 29,989,467

Sumber : PLPDK Kota Denpasar

TAHUN URAIAN

NO

Perkembangan LPD saat ini sudah barang tentu diikuti oleh berbagai tugas berat yang

harus di selesaikan yang menyangkut tantangan, hambatan maupun kedala, tidak saja dari

faktor internal LPD itu sendiri tetapi juga dari faktor eksternal. Sejalan dengan perkembangan

ekonomi masyarakat, hal ini merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan guna meningkatkan

peran LPD dalam menyediakan / memberikan pelayanan kepada masyarakat desa.

8,772,8909,391,142

10,826,468

13,011,05413,702,25113,328,681 15,512,438

19,157,225 24,528,170

29,989,467

-5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Perkembangan Laba LPD Kota Denpasar

(7)

Disamping adanya peluang-peluang bagi LPD, ada juga tantangan-tantangan yang

dihadapi oleh LPD ke depan.

Adapun peluang dan tantangan tersebut, sebagai berikut:

Peluang

1. Keunggulan Komparatif;

Keunggulan yang dimiliki oleh LPD dibandingkan dengan lembaga keuangan lain, terutama

prosedur pelayanan yang sederhana, proses yang cepat, lokasi LPD dekat dengan nasabah,

dan adanya skim kredit yang fleksibel. Disamping itu LPD juga melayani nasabah dengan

pendekatan personal dan ada pelayanan ”jemput bola”. Disamping itu LPD memiliki

kompetensi inti (core competency) yakni nasabah LPD adalah warga Desa Pakraman yang

sekaligus adalah pemilik LPD; sehingga loyalitas nasabah terhadap LPD cukup baik.

2.

Adanya ikatan pemersatu (common bond) Desa Pakraman dengan adanya awig-awig desa

serta pararem dapat mendukung kinerja LPD, disamping hukum formal berupa Peraturan

Daerah dan Peraturan Gubernur.

3. Potensi Kerjasama Keuangan dengan Lembaga lain

LPD dapat mengadakan kerjasama dengan LPD yang lain, dan juga dengan PT. Bank

Pembangunan Daerah Bali.

4. Karakteristik sosial & ekonomi nasabah diketahui/dikenali oleh pengurus/ pengawas LPD,

sehingga dapat membantu mempercepat pengambilan keputusan berkaitan dengan

permohonan pinjaman.

5. Dalam upaya pengentasan kemiskinan dapat bekerjasama dengan Desa Dinas dan instasi

yang terkait lainya dengan program yang di sinergikan.

6. Dukungan Kebijakan Pemerindah Daerah

Pemerintah Provinsi Bali dan Pemda. Kabupaten/Kota memberikan perhatian yang sangat

besar dalam memajukan LPD. Program pembinaan, dan pengawasan terhadap LPD menjadi

tanggung-jawab Pemerintah Daerah. Berbagai bentuk pelatihan, bantuan modal serta

dukungan sarana-prasarana banyak disediakan oleh pemerintah daerah.

Tantangan

1. Persaingan yang semakin ketat dimasa yang akan datang, sehingga dibutuhkan

peningkatan pelayanan serta diversifikasi produk sesuai kebutuhan krama desa (nasabah)

2.

Wilayah operasional yang relatif terbatas; Sesuai peraturan daerah tentang LPD, wilayah

operasi LPD terbatas pada satu Desa Pakraman saja, sehingga ada beberapa LPD yang

(8)

disiasati dengan berbagai cara, seperti misalnya pengembangan usaha produktif warga

desa (sektor riil).

3. Peningkatan Efisiensi LPD; meskipun secara umum kinerja LPD sudah baik berdasarkan

indikator keuangan seperti ROA, ROE, efisiensi LPD masih peru ditingkatkan terutama dari

sisi produktivitas SDM, mengingat salah satu sumber efisiensi LPD adalah rendahnya

keterampilan dan profesionalisme SDM LPD

4. Supervisi LPD belum optimal; masih banyak ditemui belum optimalnya supervisi LPD,

terutama supervisi internal pada beberapa LPD.

5. Belum adanya program perlindungan khusus bagi nasabah (deposan)

6. Masih sering terjadi permasalahan karena konflik kepentingan, misalnya pergantian

pengurus karena alasan yang tidak rasional.

Manfaat LPD bagi Masyarakat dan Peran Penting Masyarakat dalam Pengembangan LPD

Manfaat LPD bagi Masyarakat

Keberadaan LPD di Desa Pakraman memberikan manfaat yang sangat besar bagi

pembangunan di desa. Dari segi ekonomi keberadaan LPD memberikan manfaat yang besar,

antara lain Krama Desa Pakraman memiliki fasilitas untuk menyimpan dananya secara

produktif, dengan memperoleh imbalan bunga yang bersaing bila dibandingkan dengan

lembaga keuangan mikro lainnya; sedangkan bagi Krama Desa Pakraman yang membutuhkan

dana, dapat meminjam di LPD dengan tingkat bunga yang bersaing sesuai tingkat bunga pasar

serta dengan prosedur dan persyaratan yang mudah dipenuhi.

Manfaat nyata dari keberadaan LPD dapat dilihat dari kontribusi sebesar 20% dari

keuntungan bersih tiap tahun untuk dana pembangunan desa, serta 5% untuk dana sosial.

Penggunaan Keuntungan LPD;

Sesuai dengan Keputusan Gubernur Bali No. 4 Tahun 2003 tentang Penyetoran dan

Penggunaan Keuntungan Bersih LPD, ditentukan sebagai berikut:

Alokasi Keuntungan Bersih (Setiap Tahun);

(9)

Kontribusi nyata LPD (berupa dana/uang) untuk menunjang pembangunan desa di Kota

Denpasar jumlahnya relatif besar dan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Penyaluran kredit dari LPD kepada masyarakat ikut mendorong laju pertumbuhan industri

kecil / mikro sehingga pertumbuhan ekonomi masyarakat desa semakin maju, hal ini juga

berarti dapat mempengaruhi peningkatan pendapatan masyarakat (multiplier effect).

Disamping semua hal diatas, LPD telah ikut memperluas kesempatan kerja, serta telah ikut

menunjang program pemerintah dalam hal pengentasan kemiskinan.

Peran Penting Masyarakat dalam Pengembangan LPD

Masyarakat / warga Desa Pakraman adalah ”pemilik” LPD dan sekaligus sebagai

”nasabah” LPD. Perkembangan/kemajuan LPD sangat ditentukan oleh partisipasi aktif warga

Desa Pakraman dalam memanfaatkan produk-produk LPD, seperti: produk tabungan, deposito

dan pinjaman.

Motivasi masyarakat menempatkan dananya di LPD dalam bentuk tabungan dan deposito

cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari keberhasilan LPD menghimpun dana masyarakat

mengalami peningkatan dari tahun-ketahun. Hal ini juga menunjukkan bahwa kepercayaan

masyarakat untuk menempatkan dananya di LPD cukup tinggi. Demikian juga halnya dengan

pilihan masyarakat dalam mendapatkan dana pinjaman di LPD dari tahun-ketahun mengalami

peningkatan.

Startegi pengembangan LPD

Sesuai dengan Blue Print LPD Bali, strategi penguatan dan peningkatan peran LPD dalam

melayani kebutuhan pelayanan keuangan warga Desa Pakraman, mencakup hal-hal sebagai

berikut:

Strategi 1. Meningkatkan kualitas pengaturan

Strategi 2. Memperkuat struktur industri dan permodalan LPD

Strategi 3. Meningkatkan efektivitas sistem pengawasan

Strategi 4. Mendorong kualitas tata kelola (governance), manajemen dan operasional yang

sehat dan profesional.

Strategi 5. Secara bertahap mewujudkan infrastuktur pendukung industri LPD

Strategi 6. Mewujudkan perlindungan terhadap LPD, serta mengupayakan pemberdayaan

serta perlindungan terhadap nasabah.

Arah Kebijakan pengembangan LPD di Kota Denpasar

Dalam rangka mewujudkan dan mencapai sasaran tersebut Program LPD Mandiri di Kota

(10)

1. Mengembangkan LPD yang diarahkan untuk memberikan kontribusi positif terhadap

pembangunan ekonomi desa pakraman

2. Memperluas kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru dilingkungan desa

pakraman

3. Mengembangkan daya saing LPD melalui peningkatan pemanfaatan teknologi informas,

peningkatan kualitas sumber daya manusia dan inovasi produk dan layanan

4.

Memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential) dan manajemen resiko dengan mengembangkan prinsip TARIF (Transparancy, Accountable,

Responsibilities, Indepedency dan Fairness).

5. Memperkuat hubungan harmonisasi antara pengurus, badan pengawas masyarakat esa

pakraman dan pemerintah

6. Keseimbangan antara orientasi profit (keuntungan) dengan orientasi sosial kemasyarakatan

(yadnya) terhadap pembangunan desa

Sasaran dan arah kebijakan program LPD mandiri tersebut dijabarkan atau

diimplementasikan pada kegiatan yang diarahkan pada upaya-upaya sebagai berikut:

1. Akses peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk sistem pengelolaan SDMnya

2. Akses penguatan teknologi dengan memanfaatkan teknologi informasi secara bertahap

3. Akses pengembangan dan peningkatan produk-produk unggulan terutama produk-produk yang

berkaitan dengan yadnya

4.

Akses penguatan terhadap financial management dan sumber pembiayaan yang murah bagi LPD 5. Akses terhadap pembinaan, monitoring dan evaluasi serta pengawasan yang lebih profesional

Implementasi Pembinaan, Penguatan kapasitas dan pengembangan LPD di Kota Denpasar

Kebijakan/progam strategis Pemerinth Kota Denpasar thd perkembangan LPD adalah

menjadikan LPD sebagai pusat informasi usaha strategis dan produktifitas masyarakat dengan

melaksanakan pola pembinaan berupa :

1. Pelatihan kepemimpinan dan Badan pengawas LPD

2. Penyaluran Dana Bergulir dan bantuan sarana/prasarana operasional LPD

3. Penerapan system operasi berbasis IT

4. Monitoring dan evaluasi dalam rangka pembenahan LPD secara teknis (tim terdiri dari

Pemerintah Kota Denpasar, BPD cabang Utama Denpasar dan PLPDK Kota Denpasar.

(11)

6. Stock Opname terhadap LPD dengan kategori cukup sehat

Peraturan Perundangan-undangan tentang LPD

1. Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman (Lembaran Daerah Propinsi Bali Tahun 2001 Nomor 29 seri D Nomor 29), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman (lLembaran Daerah Propinsi Bali Tahun 2003 Nomor 11);

2. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa

(Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2002 Nomor 20, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 3 ), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2007 Nomor 3);

3. Peraturan Gubernur Bali tanggal 15 Mei 2008 Nomor 16 Tahun 2008 tentang Pengurus

dan Pengawas Internal Lembaga Perkreditan Desa (Berita Daerah Provinsi Bali Tahun 2008 Nomr 16;)

4. Peraturan Walikota Denpasar tanggal 29 Desember 2006 Nomor 40 Tahun 2006 tentang

Pedoman Pembinaan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Kota Denpasar (Berita Daerah Kota Denpasar Tahun 2006 Nomor 37).

Nama LPD di Kota Denpasar

Kec. Denpasar Utara

1. LPD Desa pakraman Tonja

2. LPD Desa pakraman Oongan

3. LPD Desa Pakraman Ubung

4. LPD Desa pakraman Pohgading

5. LPD Desa Pakraman Peguyangan

6. LPD Desa Pakraman Peraupan

7. LPD Desa Pakraman Peninjauan

8. LPD Desa Pakraman Kedua

9. LPD Desa Pakraman Jenah

10. LPD Desa Pakraman Cengkilung

Kec. Denpasar Timur

1. LPD Desa pakraman Sumerta

2. LPD Desa Pakrman Kesiman

3. LPD Desa Pakraman Yangbatu

4. LPD Desa pakraman Pagan

5. LPD Desa Pakraman Tanjung Bungkak

6. LPD Desa Pakraman Tembawu

(12)

8. LPD Desa Pakraman Penatih

9. LPD Desa Pakraman Laplap

10. LPD Desa Pakraman Angabaya

11. LPD Desa Pkraman Bekul

12. LPD Desa Pakraman Pohmanis

Kec. Denpasar Selatan

1. LPD Desa Pakraman Kepaon

2. LPD Desa Pakraman Pemogan

3. LPD Desa Pakraman Pedungan

4. LPD Desa Pakraman Sesetan

5. LPD Desa Pakraman Panjer

6. LPD Desa Pakraman Sidakarya

7. LPD Desa Pakraman Intaran

8. LPD Desa Pakraman Sanur

9. LPD Desa Pakraman Renon

10. LPD Desa Pakraman Serangan

11. LPD Desa Pakraman Penyaringan

Kec. Denpasar Barat

1. LPD Desa Pakraman Denpasar

2. LPD Desa Pakraman Padang Sambian

Sumber :

Blue Print LPD Bali,

PLPDK Kota Denpasar,

I Wayan Ramantha (LPD dan Pembangunan Ekonomi Desa)

Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Denpasar

Gambar

Gambar 2
Gambar 3Perkembangan Laba LPD 2002-2011

Referensi

Dokumen terkait

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4016) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor

2000 Nomor 197, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4018) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir

Kabupaten Sigi Tahun 2011 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sigi Nomor 10) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sigi Nomor 6

Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kota Surabayi Tahun 2008 Nomor 8 Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 8) sebagaimana telah diubah kedua kali dengan

Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman yang diubah menjadi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003 dengan jelas mendefinisikan desa