Semenjak digulirkannya otonomi daerah tahun 2001 sampai dengan akhir Maret
2010, Menteri Keuangan telah menerima 13.622 Perda PDRD. Dari jumlah perda
yang diterima tersebut sebanyak 13.252 perda telah dievaluasi dan sebayak 4.885
perda diantaranya atau sekitar 37% direkomendasikan pembatalannya oleh Menteri
Keuangan kepada Menteri Dalam Negeri karena tidak sesuai dengan kepentingan
umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Dalam rangka pelakanaan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, Raperda PDRD harus dievaluasi terlebih dahulu oleh
pemerintah sebelum ditetapkan menjadi Perda. Sejak tahun 2005 sampai dengan
31 Maret 2010, Menteri Keuangan telah menerima dan mengevaluasi 2.625 Raperda
dari Pemerintah Daerah. Dari jumlah tersebut, hanya 363 Raperda atau sekitar 33%
yang dapat secara langsung disetujui dan 67% lainnya harus direvisi terlebih dahulu
sebelum dapat ditetapkan menjadi Perda. Kondisi ini merupakan indikasi bahwa
kemampuan daerah dalam penyusunan Perda PDRD masih perlu ditingkatkan dan
memerlukan pembinaan secara terus menerus.
Berdasarkan ikhtisar hasil evaluasi Perda dan Raperda PDRD yang dilakukan oleh
Pemerintah, jenis pungutan daerah yang banyak bermasalah terutama dari sektor
perhubungan, industri dan perdagangan, energi dan sumber daya mineral, serta
kebudayaan dan pariwisata. Pungutan daerah untuk sektor-sektor ini perlu mendapat
perhatian agar tidak kontra produktif dalam upaya pengembangan kegiatan ekonomi
dan pembangunan potensi fiskal.
5.6 sANKsi TERHAdAP PElANGGARAN KETENTUAN
di bidANG PdRd
Pelanggaran terhadap ketentuan di bidang perpajakan daerah dikenakan sanksi
berupa penundaan atau pemotongan DAu dan/atau dana bagi hasil atau restitusi.
Nomor 11/PMK.07/2010 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi terhadap Pelanggaran
Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Secara umum, pelanggaran di bidang pajak daerah dan retribusi daerah dapat dibagi
dua bagian, yaitu:
a. Pelanggaran terhadap prosedur penetapan Perda, yang dapat berupa:
• Penetapan perda tanpa melalui proses evaluasi,
• Penetapan Perda tanpa mengikuti hasil evaluasi, atau
• Tidak menyampaikan Perda yang telah ditetapkan kepada Pemerintah.
Atas pelanggaran prosedur ini dikenakan sanksi berupa penundaan DAu atau DBH
pajak penghasilan sebesar 10 % untuk setiap periode penyaluran.
b. Pelanggaran terhadap substansi pungutan yaitu pemungutan PDRD berdasarkan
perda yang telah dibatalkan. Atas pelanggaran substansi ini dikenakan sanksi
berupa pemotongan DAu dan/atau DBH pajak penghasilan sebesar perkiraan
penerimaan PDRD yg telah dipungut berdasarkan perda yang telah dibatalkan.
5.7 KEsAlAHAN-KEsAlAHAN PERdA PdRd YANG
sERiNG dilAKUKAN dAERAH
Beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh daerah terkait dengan penetapan
perda tentang PDRD dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Masih terdapat pungutan yang dilakukan oleh daerah tanpa didasarkan pada
peraturan daerah, misalnya dengan Peraturan/Keputusan Kepala Daerah, Nota
Kesepahaman, atau dokumen selain Perda;
2. Materi pengaturan dalam perda tidak memenuhi standar ketentuan sebagaimana
diatur dalam undang-undang;
3. Substansi pungutan tidak sesuai dengan undang-undang, misalnya ada perluasan
objek pungutan, tarif tidak ditetapkan secara definitif, tarif melampaui tarif
maksimum yang ditetapkan dalam undang-undang; dan
5.8 PElAKsANAAN UNdANG-UNdANG PdRd
Dengan berlakunya undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tersebut, maka
undang-undang Nmor 34 Tahun 2000 beserta peraturan pelaksanaanya (seperti
Peraturan Pemerintah Nomor 65 dan 66 Tahun 2001) dinyatakan tidak berlaku
lagi. Pemberlakuan beberapa jenis pajak daerah yang baru dimunculkan dalam
undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tidak secara otomatis dapat langsung
diimplementasikan oleh pemerintah daerah. BPHTB dan Pajak Air Tanah Baru dapat
diberlakukan pada 1 Januari 2011 serta PBB Perdesaan dan Perkotaan dan Pajak
Rokok pada 1 Januari 2014. Meskipun demikian, pemerintah memberikan peluang
kepada pemerintah daerah yang sudah siap untuk mengambil alih pemungutan PBB
Perdesaan dan Perkotaan dan Pajak Rokok sebelum 1 Januari 2014.
Terkait dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009, beberapa hal yang perlu di
dilakukan dan diperhatikan oleh pemerintah daerah, yaitu:
a. Memilih jenis pungutan yang akan diberlakukan dengan mempertimbangkan
potensi daerah (tidak harus memberlakukan semua jenis pungutan yang ada);
b. Tidak mengadakan jenis pungutan selain yang ada dalam undang-undang Nomor
28 Tahun 2009;
c. Jenis pungutan yang tidak terdapat dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009
masih dapat diberlakukan sampai dengan 31 Desember 2010 kecuali perdanya
sudah dibatalkan oleh pemerintah pusat;
d. Penerimaan terhadap jenis pungutan yang tidak terdapat dalam undang-undang
Nomor 28 Tahun 2009 tidak dianggarkan lagi dalam APBD tahun 2011;
e. Perda yang berlaku saat ini yang mengatur jenis pajak dan retribusi yang terdapat
dalam undang Nomor 28 Tahun 2009 harus disesuaikan dengan
undang-undang dimaksud paling lambat 31 Desember 2012;
f. Menyusun dan menerbitkan perda tentang BPHTB dan Pajak Air Tanah pada tahun
g. Menyusun dan menerbitkan perda tentang PBB Perdesaan dan Perkotaan dan Pajak
Rokok sebelum 1 Januari 2014 atau sebelum pengambilalihan kedua jenis pajak
dimaksud;
h. Mendahulukan perubahan atau penyesuaian perda yang diperluas objeknya agar
potensi penerimaan dapat dioptimalkan;
i. Perda tentang PDRD harus memuat seluruh ketentuan yang sekurang-kurangnya
harus diatur dalam perda tentang PDRD;
j. Dalam menyusun perda harus mengikuti proses dan prosedur penyusunan perda
sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009;
k. Terkait dengan PBB Perdesaan dan Perkotaan, BPHTB dan Pajak Rokok, pemerintah
daerah perlu melakukan konsultasi/koordinasi/sosialisasi dengan intansi terkait
(kanwil pajak, badan pertanahan, bea dan cukai, notaris/pejabat pembuat akta
tanah, dan lain-lain); dan
l. Terkait dengan PBB Perdesaan dan Perkotaan, pemerintah daerah perlu
memperpersiapkan SDM khususnya tenaga administrator, pendataan, penilaian,
dan penetapan.
Beberapa peraturan pelaksanaan terkait dengan undang-undang Nomor 28 Tahun
2009 yang harus disiapkan oleh Pemerintah adalah:
1. Peraturan Pemerintah tentang Sistem Pemungutan Pajak Daerah yang harus
diterbitkan pada tahun 2010;
2. Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Pemberian Insentif Pemungutan yang
harus diterbitkan pada tahun 2010;
3. Peraturan Pemerintah tentang Penetapan Retribusi Daerah Tambahan yang
penerbitannya disesuaikan dengan kebutuhan;
4. Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pemungutan dan Penyetoran Pajak
Rokok yang harus diterbitkan pada tahun 2010;
5. Peraturan Menteri Keuangan tentang Badan atau perwakilan Internasional yang
6. Peraturan Menteri Keuangan tentang Badan atau perwakilan Internasional yang
dikecualikan sebagai Subjek BPHTB;
7. Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pelaksanaan Sanksi Pelanggaran
Ketentuan PDRD;
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB),
dan
9. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri tentang Tahapan
Pengalihan PBB Perdesaan dan Perkotaan dan BPHTB menjadi Pajak Daerah.
Penyiapan peraturan pelaksanaan tersebut tidak menghambat daerah dalam
perumusan Perda PDRD sebagai implementasi dari undang-undang Nomor 28 Tahun
2009, karena sebagian besar pokok-pokok pengaturan Perda PDRD telah tercantum
bAb Vi
bAb Vi
dANA dEKONsENTRAsi dAN TUGAs
PEmbANTUAN
6.1. PENdAHUlUAN
Dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia dikenal 3 (tiga) asas
penyelenggaraan pemerintahan, yaitu Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas
Pembantuan (medebewind). Desentralisasi adalah penyerahan wewenang/urusan pemerintahan dari pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang/urusan pemerintahan dari
pemerintah pusat kepada gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah dan/atau
kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Tugas Pembantuan adalah penugasan
dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah provinsi kepada
kabupaten, atau kota dan/atau desa, serta dari pemerintah kabupaten, atau kota
kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban melaporkan dan
mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.
Penyelenggaraan dan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan melibatkan
beberapa instansi pemerintah di pusat dan daerah dalam suatu pola hubungan
penyelenggaraan tugas dan wewenang. Pada tingkat pemerintah pusat, instansi yang
terlibat terdiri dari Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, Kementerian Keuangan, dan
Kementerian Teknis yang berkoordinasi dalam perumusan kebijakan, perencanaan,
dan evaluasi. Kementerian Dalam Negeri mempunyai tugas dan wewenang dalam
hal penataan urusan pemerintahan sejalan dengan ketentuan undang-undang
Bappenas mempunyai tugas dan wewenang dalam hal penetapan dan sinkronisasi
program sejalan dengan ketentuan undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Kementerian Keuangan mempunyai
tugas dan wewenang dalam hal pengelolaan pendanaan sejalan dengan
undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, undang-undang-undang-undang Nomor 1
tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, undang-undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah,
dan aturan pelaksanaannya. Sementara kementerian teknis mempunyai tugas dan
wewenang dalam hal pelimpahan/penugasan urusan kepada Daerah yang berkaitan
dengan program/kegiatan.
Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, pelimpahan dan penugasan urusan
pemerintahan dimaksud didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
melalui bagian anggaran kementerian/lembaga (K/l). Hal ini berarti dekonsentrasi
dan tugas pembantuan merupakan penyelenggaran sebagian urusan pemerintah
pusat di daerah yang dilaksanakan oleh aparat pemerintah daerah, sedangkan
pertanggungjawabannya kepada K/l yang memberikan Dana Dekonsentrasi/ Dana
Tugas Pembantuan
Pengalokasian dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di Kementerian Keuangan
dilaksanakan oleh beberapa unit Eselon I yang mempunyai peranan dalam siklus
pendanaan. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan mempunyai tugas dalam
pengelolaan informasi, evaluasi, dan perumusan rekomendasi Dana Dekonsentrasi
dan Tugas Pembantuan sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008
tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan. Direktorat Jenderal Anggaran mempunyai tugas dalam penelaahan
RKA-Kl, penerbitan RABPP dan SAPSK sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor
21 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga
mengenai Standar Biaya. Direktorat Jenderal Perbendaharaan mempunyai tugas dalam
pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), penerbitan Surat Rincian Alokasi
Anggaran (SRAA), pencairan dana, pengenaan sanksi, pembinaan dan koordinasi sistem
akuntansi instansi (SAI) dan pelaporan keuangan sejalan dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, Peraturan Pemerintah
Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah,
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.06/2007 tentang Sistem Akuntansi
dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat, serta aturan pelaksanaannya. Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara mempunyai tugas dalam bidang pengelolaan barang milik
negara/daerah sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang
gambar 6.1
Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
6.2 PENGElOlAAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs
PEmbANTUAN
6.2.1 PENGERTiAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs
PEmbANTUAN
Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa dana Dekonsentrasi adalah dana yang
berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah pusat
dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat
di daerah; sedangkan Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN
yang dilaksanakan oleh daerah dan desa yang mencakup semua penerimaan dan
pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan.
Sebagai salah satu unsur dalam sistem perimbangan keuangan antara pemerintah
pusat dan pemerintahan daerah yang bertujuan untuk mewujudkan suatu sistem
pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan
bertanggung jawab dalam rangka penyelengaraan desentralisasi; maka pada tataran
implementasi, penyelenggaraan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan
mempertimbangkan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah serta besaran pendanaan
yang tersedia bagi penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
Dalam sistem perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan
daerah sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 ditegaskan
bahwa:
1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dalam rangka pelaksanaan
Desentralisasi didanai dari APBD;
2) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur selaku
wakil Pemerintah di daerah dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi didanai dari
APBN;
3) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur/bupati/
walikota selaku kepala daerah otonom dalam rangka Tugas Pembantuan didanai
dari APBN.
Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, pelimpahan kewenangan dalam
rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
diikuti dengan pemberian dana. Dana yang diberikan untuk mendanai sebagian
APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah pusat, tidak
termasuk dana yang dialokasikan untuk Instansi Vertikal Pusat di daerah.
Demikian pula dengan Tugas Pembantuan, dimana setiap adanya penugasan dari
kementerian/lembaga kepada kepala daerah akan diikuti dengan pemberian dana.
Dana yang diberikan untuk mendanai penugasan merupakan Dana Tugas Pembantuan
yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh perangkat daerah dan/atau desa yang
mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas
Pembantuan tersebut. Hal ini berarti bahwa Dana Tugas Pembantuan merupakan
bagian anggaran kementerian negara/lembaga yang dialokasikan untuk daerah
provinsi/ kabupaten/kota dan/atau desa sesuai dengan beban dan jenis penugasan
yang diberikan.
6.2.2.
PRiNsiP
PENdANAAN
dEKONsENTRAsi/TUGAs
PEmbANTUAN
Sesuai dengan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, Peraturan Pemerintah Nomor 7
tahun 2008, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008, pendanaan
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
a. Pendanaan Dekonsentrasi dilaksanakan setelah adanya pelimpahan wewenang dari
Pemerintah Pusat melalui kementerian negara/lembaga kepada gubernur (sebagai
wakil Pemerintah Pusat di daerah);
b. Pendanaan Tugas Pembantuan dilaksanakan setelah adanya penugasan dari
Pemerintah Pusat melalui kementerian negara/lembaga kepada gubernur/bupati/
walikota (sebagai kepala daerah);
c. Pelimpahan/penugasan wewenang dimaksud dijabarkan dalam bentuk program
d. Pendanaan kegiatan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan oleh pemerintah pusat
disesuaikan dengan beban dan besar/kecilnya wewenang yang dilimpahkan/
ditugaskan;
e. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran
kementerian/lembaga yang dialokasikan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian/lembaga (RKA-K/l);
f. Kegiatan yang didanai dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan adalah lingkup kewenangan yang sudah menjadi tupoksi kementerian/
lembaga;
g. Kegiatan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan di daerah dilaksanakan oleh Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku kuasa pengguna anggaran/barang (KPA/B);
h. Pendanaan dalam rangka Dekonsentrasi dialokasikan untuk kegiatan bersifat
non-fisik, yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang tidak menambah aset
tetap, antara lain sinkronisasi dan koordinasi perencanaan, fasilitasi, bimbingan
teknis, pelatihan, penyuluhan, supervisi, penelitian dan survey, pembinaan dan
pengawasan, serta pengendalian. Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan
Dekonsentrasi, sebagian kecil Dana Dekonsentrasi dapat dialokasikan sebagai
dana penunjang untuk pelaksanaan tugas administratif dan/atau pengadaan input
berupa barang habis pakai dan/atau aset tetap;
i. Pendanaan dalam rangka Tugas Pembantuan dialokasikan untuk kegiatan bersifat
fisik, yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang menambah aset tetap, antara
lain pengadaan tanah, bangunan, peralatan dan mesin, jalan, irigasi dan jaringan,
serta dapat berupa kegiatan yang bersifat fisik lainnya (antara lain pengadaan
barang habis pakai, seperti obat-obatan, vaksin, pengadaan bibit dan pupuk, atau
sejenisnya, termasuk barang bantuan sosial yang diserahkan kepada masyarakat,
serta pemberdayaan masyarakat). Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan
Tugas Pembantuan, sebagian kecil Dana Tugas Pembantuan dapat dialokasikan
sebagai dana penunjang untuk pelaksanaan tugas administratif dan/atau
j. gubernur memberitahukan RKA-K/l yang telah diterima dari kementerian/
lembaga kepada DPRD pada saat pembahasan RAPBD berkaitan dengan kegiatan
Dekonsentrasi di daerahnya;
k. gubernur/Bupati/Walikota memberitahukan RKA-Kl yang telah diterima dari
kementerian/lembaga kepada DPRD setempat pada saat pembahasan RAPBD
berkaitan dengan rencana kegiatan TP di daerah provinsi/kabupaten/kota.
6.2.3. PENGANGGARAN dANA dEKONsENTRAsi/TUGAs
PEmbANTUAN
Sesuai definisi dan prinsip pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan,
Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran
kementerian/lembaga yang dialokasikan untuk mendanai program dan kegiatan
yang merupakan urusan pemerintah di daerah dan disusun berdasarkan Rencana
Kerja dan Anggaran Kementerian/lembaga (RKA-Kl). Dengan demikian mekanisme
pengganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tersebut dilakukan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku bagi APBN.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008, proses perencanaan
dan penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan disusun dengan
memperhatikan kemampuan keuangan negara, keseimbangan pendanaan di daerah,
dan kebutuhan pembangunan di daerah. Ketiga parameter penyusunan perencanaan
dan penganggaran itu mengandung makna bahwa pengalokasian Dana Dekonsentrasi
dan Tugas Pembantuan disesuaikan dengan kemampuan APBN dalam mendanai
urusan pemerintah pusat serta mempertimbangkan besarnya transfer belanja Pusat ke
daerah dan kemampuan keuangan daerah, agar alokasi dana dekonsentrasi dan tugas
pembantuan menjadi lebih efektif, efisien, dan tidak terkonsentrasi di suatu daerah
tertentu. Selain itu, penyusunan perencanaan dan penganggaran Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan juga seyogyanya disesuaikan dengan prioritas pembangunan
a. Keseimbangan Pendanaan di daerah dalam Rangka
Perencanaan lokasi dan Alokasi dana dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan
Keseimbangan pendanaan di daerah dalam rangka perencanaan lokasi dan alokasi
Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan telah diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 sebagai berikut:
• Keseimbangan pendanaan dilakukan secara proporsional agar sebaran alokasi
Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tidak terkonsentrasi pada daerah
tertentu.
• Pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan
mempertimbangkan Kemampuan Fiskal Daerah yang terdiri dari besarnya
transfer ke daerah dan kemampuan keuangan daerah.
• Hasil rumusan keseimbangan pendanaan di daerah dimaksud dituangkan
dalam Rekomendasi Menteri Keuangan.
• Rekomendasi Menteri Keuangan menjadi dasar pertimbangan bagi
kementerian/lembaga dalam rangka perencanaan lokasi dan anggaran
kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
• Rekomendasi Menteri Keuangan disampaikan kepada kementerian/ lembaga
dengan tembusan kepada Kepala Bappenas selambat-lambatnya bulan Maret
sebelum penyusunan Renja-Kl.
Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 tersebut
di atas sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (1) undang-undang Nomor 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengamanatkan bahwa Keuangan Negara
dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis,
efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan
dan kepatutan. oleh karena itu, Dana dekonsenstrasi dan Tugas Pembantuan sebagai
Selanjutnya dalam Penjelasan umum poin (5) Kekuasaan atas pengelolaan
keuangan negara dalam undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 dikatakan bahwa
Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam bidang keuangan (pengelola
fiskal) pada hakekatnya adalah Chief Financial Officer (CFo) Pemerintah Republik Indonesia, sementara setiap menteri/pimpinan lembaga pada hakekatnya adalah
Chief Operational Officer (Coo) untuk suatu bidang tertentu pemerintahan. Prinsip
ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan dalam pembagian
wewenang dan tanggung jawab, terlaksananya mekanisme checks and balances serta untuk mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam penyelenggaraan tugas
pemerintahan.
gambar 6.2
Pola Hubungan Kementerian Keuangan dengan K/l dalam pendanaan Dekosentrasi
dan Tugas Pembantuan
Secara umum aspek pengelolaan fiskal meliputi beberapa fungsi yaitu pengelolaan kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro, penganggaran, administrasi
Terkait dengan fungsi pengelolaan kebijakan fiskal dan penganggaran dalam rangka
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, Menteri Keuangan mempunyai kewenangan
untuk mengarahkan kementerian/lembaga dalam perencanaan lokasi dan alokasi
dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan melalui indikator umum berupa peta
keseimbangan pendanaan di daerah yang disampaikan dalam bentuk rekomendasi,
sedangkan kementerian/lembaga (teknis) berwenang merencanakan lokasi dan
besaran alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan berdasarkan indikator
teknis yang dimiliki setelah mempertimbangkan rekomendasi Menteri Keuangan.
Maksud dan tujuan rekomendasi ini adalah untuk mewujudkan transparansi dan
akuntabilitas, serta proporsional dalam pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan; meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan Dana
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan; dan memberikan masukan bagi kementerian/
lembaga dalam merencanakan lokasi dan alokasi Dana Dekonsentrasi/Tugas
Pembantuan agar tepat sasaran dan tidak terkonsentrasi di daerah tertentu.
Variabel yang digunakan dalam formulasi keseimbangan pendanaan di daerah
adalah Variabel Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) dan Indeks Pembangunan
Manusia (IPM). Variabel KFD diukur berdasarkan besaran: Pendapatan Asli Daerah,
lain-lain Pendapatan yang Sah, Dana Alokasi umum, Dana Alokasi Khusus, Dana
Bagi Hasil, Dana otonomi Khusus, Dana Penyesuaian, dan Belanja PNSD (sebagai
pengurang). Sementara IPM merupakan cerminan tingkat pendidikan, kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat yang dibentuk dari 4 (empat) indikator, yaitu: angka melek
huruf penduduk dewasa, rata-rata lama sekolah, angka harapan hidup, serta Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita.
langkah-langkah formulasi keseimbangan pendanaan adalah sebagai berikut:
i. Menentukan Indeks Kemampuan Fiskal Daerah:
a. Menghitung besaran transfer daerah (jumlah dana perimbangan: DAu, DAK,
b. Menghitung kemampuan keuangan daerah (jumlah PAD dan lain-lain
Pendapatan yang sah dikurangi Belanja PNSD).
c. Menentukan Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) yang merupakan hasil
penjumlahan dana transfer daerah dan kemampuan keuangan daerah.
d. Menghitung KFD per kapita yang didapat dari KFD dibagi dengan jumlah
penduduk.
e. Menghitung KFD Riil yang didapat dari KFD per kapita dibagi Indeks
Kemahalan Konstruksi (IKK) sebagai proxy perbedaan tingkat harga antar daerah.
f. Menentukan Indeks KFD sebagai hasil dari pembagian KFD Riil terhadap
rata-rata KFD Riil nasional sehingga diperoleh Peta KFD (lampiran I).
ii. Mengkaitkan KFD dengan IPM:
a. Membandingkan indeks KFD daerah dengan rata-rata KFD Nasional sehingga
menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah rata-rata nasional.
b. Membandingkan IPM daerah dengan rata-rata IPM Nasional sehingga
menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah rata-rata nasional.
(lampiran II).
c. Hasil kedua perbandingan KFD dan IPM tersebut di atas tersusun dalam 4
cluster daerah sebagai berikut:
Cluster 1: Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di atas rata-rata nasional
Cluster 2: Kelompok daerah yang mempunyai KFD di bawah rata-rata nasional namun IPM di atas rata-rata nasional.
Cluster 3: Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di bawah rata-rata nasional
Berdasarkan hasil formulasi tersebut, prioritas daerah yang akan direkomendasikan
sebagai penerima dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan sebagai berikut:
a. Prioritas I: Daerah pada Cluster 3;
b. Prioritas II: Daerah pada Cluster 2.
Selanjutnya untuk menentukan besaran alokasi dana dekonsentrasi/tugas pembantuan
ke masing-masing daerah digunakan indikator teknis yang disusun oleh kementerian/
lembaga terkait.
b. Proses Penganggaran dana dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan
Pengangaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dituangkan dalam
penyusunan RKA-Kl yang setelah melalui proses pembahasan dan penelaahan dengan
K/l terkait kemudian ditetapkan menjadi Satuan Anggaran Per Satuan Kerja (SAPSK).
SAPSK dimaksud kemudian disampaikan kepada gubernur/Bupati/Walikota. Setelah
menerima RKA-Kl tersebut, gubernur/Bupati/walikota menyampaikan usulan
pejabat pengelola keuangan dana dekonsentrasi/tugas pembantuan yang terdiri dari
SKPD selaku Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pembuat Komitmen, Pejabat Penguji
Tagihan/Penandatangan Surat Perintah Membayar, dan Bendahara Pengeluaran
dan menyampaikannya kepada kementerian/lembaga selambat-lambatnya minggu
pertama bulan Desember pada tahun berjalan. RKA-Kl tersebut juga diberitahukan
oleh gubernur/Bupati/ Walikota kepada DPRD pada saat pembahasan RAPBD untuk
tujuan sinkronisasi program dan kegiatan yang akan didanai dari APBN dan APBD
RKA-Kl yang telah ditetapkan menjadi SAPSK sebagai dasar dalam penyusunan
DIPA. Tata cara penyusunan RKA-Kl dan penetapan/pengesahan DIPA mengacu pada
6.2.4.
PENYAlURAN
dANA
dEKONsENTRAsi/TUGAs
PEmbANTUAN
Berdasarkan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, Dana Dekonsentrasi dan Dana
Tugas Pembantuan disalurkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)
melalui Rekening Kas umum Negara. Sedangkan mekanisme penyaluran Dana
Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan dilaksanakan sesuai ketentuan dalam
Peraturan Menteri Keuangan No. 134/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara..
6.2.5. PERTANGGUNGjAWAbAN dAN PElAPORAN
Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan disebutkan bahwa pertanggungjawaban dan pelaporan Dekonsentrasi
dan Tugas Pembantuan mencakup aspek manajerial dan aspek akuntabilitas. Aspek
manajerial terdiri dari perkembangan realisasi penyerapan dana, pencapaian target
keluaran, kendala yang dihadapi, dan saran tindak lanjut sejalan dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Sementara aspek akuntabilitas terdiri dari
laporan realisasi anggaran, neraca, catatan atas laporan keuangan, dan laporan barang
sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.
Secara rinci pertanggungjawaban dan pelaporan Dana Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan adalah sebagai berikut :
a. dana dekonsentrasi
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 dijelaskan bahwa Kepala
SKPD provinsi selaku Kuasa Pengguna Anggaran/ Barang dekonsentrasi wajib
penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang. Penyusunan dan
penyampaian laporan dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/
PMK.07/2008 yang secara garis besar dapat disajikan sebagai berikut:
a) Setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran, kepala SKPD provinsi atas
nama gubernur menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban
keuangan dan barang kepada menteri/pimpinan lembaga pemberi dana
dekonsentrasi dengan tembusan kepada SKPD yang membidangi pengelolaan
keuangan daerah;
b) gubernur menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud dan
menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan setiap berakhirnya
tahun anggaran. untuk melaksanakan penggabungan laporan tersebut, gubernur
menugaskan/ menetapkan SKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah
sebagai Koordinator unit akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah
(Koordinator uAPPA-W) dan SKPD yang membidangi pengelolaan barang/ kekayaan
daerah sebagai Koordinator unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah
(Koordinator uAPPB-W);
c) Menteri/ pimpinan lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi menyampaikan
laporan pertanggungjawaban dimaksud kepada Presiden melalui Menteri Keuangan
setiap berakhirnya tahun anggaran;
d) laporan pertanggungjawaban keuangan secara tahunan atas pelaksanaan
dekonsentrasi oleh gubernur dilampirkan dalam laporan Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBD kepada DPRD.
b. dana Tugas Pembantuan
Penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang
atas pelaksanaan Tugas Pembantuan secara garis besar dapat diuraikan sebagai
berikut :
a) Setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran, Kepala SKPD provinsi
keuangan dan kepada menteri/pimpinan lembaga pemberi dana tugas pembantuan,
dengan tembusan kepada SKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah;
b) Setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran, Kepala SKPD kabupaten/
kota atas nama bupati/walikota menyusun dan menyampaikan laporan
pertanggungjawaban keuangan dan barang kepada menteri/pimpinan lembaga
pemberi dana dan tugas pembantuan, dengan tembusan kepada SKPD yang
membidangi pengelolaan keuangan daerah;
c) gubernur menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud dan
menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan setiap berakhirnya
tahun anggaran. untuk melaksanakan penggabungan laporan tersebut, gubernur
menugaskan/menetapkan SKPD yang mebidangi pengelolaan keuangan daerah
sebagai Koordinator unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah
(Koordinator uAPPA-W) dan SKPD yang membidangi pengelolaan barang/kekayaan
daerah sebagai Koordinator unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah
(Koordinator uAPPB-W);
d) Bupati/walikota menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud dan
menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan setiap berakhirnya
tahun anggaran, dengan tembusan kepada gubernur. untuk melaksanakan
penggabungan laporan tersebut, bupati/walikota menugaskan/menetapkan
SKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah sebagai Koordinator unit
Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (Koordinator uAPPA-W) dan
SKPD yang membidangi pengelolaan barang/kekayaan daerah sebagai Koordinator
unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (Koordinator uAPPB-W);
e) Menteri/ pimpinan lembaga yang mengalokasikan dana Tugas pembantuan
menyampaikan laporan pertanggungjawaban dimaksud kepada presiden melalui
Menteri Keuangan setiap berakhirnya tahun anggaran;
f) laporan pertanggungjawaban keuangan secara tahunan atas pelaksanaan tugas
pembantuan setiap berakhirnya tahun anggaran dilampirkan dalam laporan
Adapun bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban keuangan atas barang dan jasa
Dana Dekonsentrasi/ Tugas Pembantuan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku,
khususnya Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai Sistem Akuntansi
dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.
6.2.6. PENGElOlAAN bARANG miliK NEGARA
a. status barang Hasil Pelaksanaan dekonsentrasi
Peraturan Pemerintah Nomor. 7 tahun 2008 juga mengamanatkan bahwa semua
barang yang dibeli atau diperoleh dari pelaksanaan Dana Dekonsentrasi merupakan
barang milik negara (BMN). Namun, barang-barang dimaksud sifatnya hanya berupa
penunjang dari pelaksanaan Dekonsentrasi, dan SKPD wajib melakukan penatausahaan
atas BMN sesuai ketentuan yang berlaku. Barang tersebut dapat dihibahkan
kepada daerah dan apabila sudah dihibahkan, maka daerah wajib mengelola dan
menatausahakannya sebagai barang milik daerah (BMD). Konsekuensinya ialah
daerah wajib menganggarkan seluruh kebutuhan operasi dan pemeliharaannya di
dalam APBD melalui SKPD provinsi yang bersangkutan.
b. status barang dalam Pelaksanaan Tugas Pembantuan
Mengingat dana tugas pembantuan digunakan untuk mendanai kegiatan yang bersifat
fisik, maka dalam pelaksanaan dan penyelenggaraannya bisa menghasilkan output
berupa BMN. BMN yang diperoleh dari hasil pelaksanaan Tugas Pembantuan juga
dapat dihibahkan kepada daerah. Barang yang sudah dihibahkan kepada daerah wajib
dikelola dan ditatausahakan oleh daerah, dengan konsekuensi bahwa penatausahaan,
penggunaan dan pemanfaatan barang tersebut dilaksanakan oleh daerah provinsi/
kabupaten/kota sebagai BMD dengan dukungan dana dari APBD yang bersangkutan.
Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme penghibahan BMN mengikuti Peraturan
Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan,
6.3. PEmbiNAAN, PENGAWAsAN dAN
PEmERiKsAAN
6.3.1. PEmbiNAAN dAN PENGAWAsAN dEKONsENTRAsi/
TUGAs PEmbANTUAN
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008, pembinaan dan pengawasan
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dapat dilaksanakan sesuai ketentuan sebagai
berikut:
a) Menteri Negara/Pimpinan lembaga melakukan pembinaan dan pengawasan dalam
penyelenggaraan urusan pemerintah yang dilimpahkan kepada gubernur terhadap
pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
b) Menteri Keuangan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penggunaan
Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan
c) Pembinaan tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja, transparansi,
dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi dan tugas Pembantuan yang
meliputi pemberian pedoman, fasilitasi dan bimbingan teknis, serta pemantauan
dan evaluasi.
d) Pengawasan tersebut dilaksanakan dalam rangka pencapaian efisiensi dan
efektivitas pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan serta
mengikuti ketentuan yang berlaku bagi APBN.
6.3.2. PEmERiKsAAN dANA dEKONsENTRAsi dAN dANA
TUGAs PEmbANTUAN
Pemeriksaan atas Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan meliputi pemeriksaan
keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu:
• Pemeriksaan keuangan pemeriksaan yang dapat berupa pemeriksaan atas laporan
• Pemeriksaan kinerja berupa pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara
yang terdiri dari pemeriksaan atas aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas atas
pelaksanaan kegiatan;
• Pemeriksaan dengan tujuan tertentu meliputi pemeriksaan atas hal-hal lain dibidang
keuangan, pemeriksaan investigatif dan pemeriksaan atas sistim pengendalian
intern pemerintah.
Pemeriksaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan oleh unit
pemeriksaan internal kementerian/lembaga dan/atau unit pemeriksaan Eksternal
Pemerintah. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemeriksaan keuangan, kinerja dan
tujuan tertentu berpedoman pada peraturan perundangan-undangan.
6.4. sANKsi
Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 diatur bahwa SKPD
penerima Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan yang secara sengaja atau lalai tidak
menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan dana dimaksud kepada
kementerian/lembaga dikenakan sanksi berupa:
a). Sanksi penundaan pencairan, apabila SKPD tidak melakukan rekonsiliasi laporan
keuangan dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara setempat sesuai
ketentuan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi
dan pelaporan keuangan pemerintah Pusat. Pengenaan sanksi penundaan pencairan
dimaksud tidak membebaskan SKPD dari kewajiban menyampaikan laporan Dana
Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan.
b). Penghentian pembayaran dalam tahun berjalan, dapat dilakukan apabila:
i. SKPD tidak menyampaikan laporan keuangan triwulanan kepada
kementerian/lembaga yang memberikan Dana Dekonsentrasi dan/atau Dana
Tugas Pembantuan secara berturut-turut 2 (dua) kali dalam tahun anggaran
ii. ditemukan adanya penyimpangan dari hasil pemeriksaan BPK, BPKP,
Inspektorat Jenderal kementerian/lembaga yang bersangkutan, atau aparat
pemeriksa fungsional lainnya.
c). Kementerian/lembaga tidak diperkenankan mengalokasikan Dana Dekonsentrasi
dan/atau Dana Tugas Pembantuan untuk tahun berikutnya apabila SKPD penerima
dana dimaksud:
i. tidak memenuhi target kinerja pelaksanaan kegiatan tahun sebelumnya yang
telah ditetapkan;
ii. tidak pernah menyampaikan laporan keuangan dan barang sesuai ketentuan
yang berlaku pada tahun anggaran sebelumnya; dan/atau
iii. melakukan penyimpangan sesuai hasil pemeriksaan BPK, BPKP, Inspektorat
Jenderal kementerian/lembaga yang bersangkutan atau aparat pemeriksa
fungsional lainnya.
6.5. PERAN KEPAlA dAERAH dAlAm
PENYElENGGARAAN dEKONsENTRAsi dAN TUGAs
PEmbANTUAN
Berdasarkan butir-butir penjelasan mengenai Dana Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan di atas, dapat kita garis bawahi bahwa kepala daerah (gubernur/bupati/
walikota) mempunyai peran yang sangat besar dalam penyelenggaraan Dekonsentrasi
dan Tugas Pembantuan baik pada tataran perencanaan, penganggaran maupun
pembinaan dan pengawasan. Pada aspek perencanaan, sinkronisasi pengalokasian
Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan antara kepala daerah (gubernur, bupati,
walikota) dengan kementerian/lembaga sebagaimana diatur dalam Pasal 12 Peraturan
Pemerintah No. 7 Tahun 2008 dilaksanakan sejak tahap penyusunan Renja K/l dan
pelaksanaan Musrenbangnas. Selanjutnya, setelah K/l menerima pagu sementara dan
meyusun RKA-Kl maka kementerian/lembaga berkewajiban untuk menyampaikan
kepada pemerintah daerah tentang indikasi kegiatan Dekonsentrasi atau Tugas
kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang akan dilaksanakan oleh daerah
disampaikan oleh Kementerian/ lembaga kepada pemerintah daerah dengan Surat
Keputusan / Penetapan Menteri/ Pimpinan lembaga berkenaan setelah ditetapkannya
Keppres tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP). Selanjutnya
sesuai dengan pasal 22 Peraturan Pemerintah tersebut, pada tahap penganggaran,
setelah menerima RKA-Kl yang ditetapkan menjadi SAPSK kepala daerah (gubernur,
bupati, walikota) melakukan penyiapan perangkat daerah yang akan melaksanakan
program dan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Selain itu kepala daerah
(gubernur/bupati/walikota) juga melakukan koordinasi, pengendalian, pembinaan,
pengawasan dan pelaporan pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
dengan Kementerian/lembaga terkait seperti diatur dalam Pasal 72 dan Pasal 73
Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 2008.
Ketentuan dalam Pasal 72 dan Pasal 73 Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 2008
tersebut telah sejalan dengan ketentuan dalam pasal 3 ayat (1) huruf i Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan
Wewenang serta Kedudukan Keuangan gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah
Provinsi, yang menyatakan bahwa gubernur sebagai wakil pemerintah memiliki tugas
melaksanakan urusan pemerintah yang antara lain meliputi koordinasi pembinaan dan
pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/
kota. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2010 dimaksud juga menggaris-bawahi
bahwa salah satu peran dan tugas utama gubernur adalah melakukan koordinasi
dan sinkronisasi dalam setiap tahap dan dengan seluruh stakeholder agar tujuan
6.6. PENdANAAN URUsAN bERsAmA PUsAT dAN
dAERAH
Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah merupakan suatu pola baru dalam
pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan khususnya dalam pelaksanaan
program PNPM Mandiri sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 13
Tahun 2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun
2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
Sebagaimana diketahui, pendanaan program PNPM Mandiri pada mulanya
dialokasikan melalui mekanisme dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Hal tersebut
tentu tidak tepat karena dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan hanya digunakan
untuk mendanai urusan pusat sehingga tidak diperlukan dana pendamping dari
daerah. Di sisi lain, program PNPM Mandiri ditetapkan sebagai urusan bersama pusat
dan daerah sebagaimana ditegaskan dalam Perpres 13 Tahun 2009 dan Perpres 15
Tahun 2010 dan oleh karenanya dapat didanai bersama dari APBN dan APBD.
Program PNPM Mandiri merupakan salah satu bagian dari proses pembangunan
dimana pemerintah pada hakikatnya, meyakini bahwa pembangunan suatu bangsa
seyogyanya bersifat inklusif; menjangkau dan mengangkat derajat seluruh lapisan
masyarakat Indonesia, diseluruh wilayah nusantara. Pembangunan yang bersifat
inklusif ini mensyaratkan adanya keserasian dan keseimbangan antara pertumbuhan
dan pemerataan, atau sering disebut juga sebagai growth with equity. untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah telah menetapkan triple track strategy, yaitu strategi pembangunan yang pro growth, pro job dan pro poor.
Secara umum, salah satu cara untuk mengantisipasi tantangan pembangunan yang
inklusif yang merupakan harmonisasi antara keserasian dan keseimbangan, adalah
dengan meningkatkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung
kesinambungan pembangunan nasional yang berdimensi kewilayahan. Dengan sinergi
atau pada sedikit daerah/wilayah tertentu saja, namun lebih merata dan menyebar
serta tidak terfokus pada wilayah tertentu saja.
Issue yang sifatnya crosscutting baik karena sifatnya yang memerlukan koordinasi dan sinkronisasi antar kementerian dan juga tiap tingkatan pemerintahan, seperti
issue terkait penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dalam rangka menurunkan
tingkat pengangguran dan kemiskinan merupakan salah satu agenda capaian
kinerja pemerintah. Namun mengingat kemampuan ekonomi untuk menciptakan
lapangan kerja masih terbatas, maka diperlukan strategi kebijakan yang tepat dengan
menempatkan prioritas pada sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda tinggi
terhadap penciptaan kesempatan kerja.
Selanjutnya untuk memenuhi capaian kinerja tersebut, maka pemerintah
mencantumkan salah satu agenda program pembangunan dalam Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) tahun 2010 yaitu pemeliharaan kesejahteraan masyarakat, serta
penataan kelembagaan dan pelaksanaan sistem perlindungan sosial. Kegiatan yang
diprioritaskan untuk menjalankan agenda penanggulangan program kemiskinan
tersebut, yaitu penurunan jumlah persentase penduduk miskin menjadi 12.0-13.5
persen pada tahun 2010 dibandingkan pada tahun 2009 yang sebesar 14,15 persen
dengan melalui upaya peningkatan pembangunan pertanian, pembangunan pedesaan,
dan program-program pro rakyat.
PNPM Mandiri merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan yang
berbasis pemberdayaan masyarakat, yaitu suatu program yang merupakan harmonisasi
dan konsolidasi program-program pemberdayaan masyarakat yang diperlukan untuk
mempercepat penanggulangan kemiskinan dan mempercepat penciptaan lapangan
kerja. Harmonisasi dan konsolidasi program-program penanggulangan kemiskinan
yang tersebar di beberapa kementerian/lembaga ke dalam satu program PNPM
Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan
Bappenas, dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan, alokasi anggaran
untuk program PNPM Mandiri terus ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir.
Alokasi anggaran Bantuan langsung Masyarakat (BlM) PNPM Mandiri Perkotaan
dan PNPM Mandiri Perdesaan, baik yang bersumber dari APBN maupun APBD, pada
tahun 2007 adalah sebesar Rp3,84 triliun, kemudian pada tahun 2008 dan tahun 2009
berturut-turut meningkat menjadi Rp6,69 triliun dan Rp11,01 triliun. Sementara pada
tahun 2010 kembali mengalami peningkatan menjadi Rp11,83 triliun.
Data dari Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan juga menunjukan
Tabel 6. 1
Rekapitulasi Alokasi Dana PNPM
Per lokasi (Se-Provinsi*) Tahun 2008-2009
(Miliar Rp)
Keterangan
- Sumber data : DJA RKA/Kl 2008-2009; Se-Provinsi = Konsolidasi Provinsi dan Kab/Kota di Provinsi bersangkutan
Namun demikian, pelaksanaan program PNPM Mandiri tersebut hingga tahun 2009
masih menemui beberapa kendala, utamanya dalam aspek pendanaan. Sebagaimana
diketahui, program PNPM Mandiri, khususnya PNPM Mandiri Perkotaan dan PNPM
Mandiri Perdesaan memiliki karakteristik tertentu yaitu:
urusan yang ditangani merupakan urusan bersama pemerintah pusat dan
pemerintah daerah;
Mensyaratkan cost-sharing atau dana pendamping dari Daerah dalam bentuk sebutan apapun yang bersumber APBD;
Dana cost-sharing tersebut diikat dalam naskah kesepahaman;
Mendanai kegiatan yang bersifat Bantuan langsung kepada Masyarakat;
Jenis belanja yang dialokasikan lebih dominan dipenuhi dengan Belanja Bantuan
Sosial;
Sementara itu fund chanelling yang digunakan saat itu adalah mekanisme dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
Hal ini tentu saja belum tepat, karena sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun
2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan
Dana Tugas Pembantuan disebutkan bahwa kegiatan yang didanai melalui mekanisme
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan adalah:
Kegiatan yang merupakan urusan yang ditangani merupakan urusan Pemerintah
Pusat;
Kegiatan dilaksanakan oleh gubernur selaku wakil Pemerintah Pusat untuk Dekon
dan gubernur/bupati/walikota untuk TP;
Kegiatan bersifat Non Fisik untuk Dekon dan Fisik untuk TP;
Tidak diperkenankan mensyaratkan dana pendamping atau sebutan lain yang
membebani APBD;
Menggunakan surat pelimpahan sebagai dasar pelaksanaan Dekon dan surat
penugasan sebagai dasar pelaksanaan TP.
Dengan demikian, aspek legalitas dalam penyediaan sharing pendanaan dari
pemerintah daerah dalam pendanaan PNPM Mandiri pun perlu untuk terus
disempurnakan. Hal tersebut didasarkan atas pemikiran bahwa apabila PNPM Mandiri
tetap meneruskan pola pendanaan melalui mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan maka
Pendanaan urusan Bersama terhadap program penanggulangan kemiskinan
(PNPM Mandiri) menyalahi aturan karena tidak sesuai dengan ketentuan
Pendanaan yang ada;
Pendanaan urusan Bersama dinyatakan tidak transparan dan akuntabel;
laporan Keuangan Pemerintah Pusat menjadi Disclaimer pada saat dilakukan pemeriksaaan oleh BPK
Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, pada tanggal 27 Maret 2009,
Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang
Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang kemudian diubah dengan Perpres 15
Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan yang merupakan payung
hukum bagi penanganan urusan bersama antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam
penanggulangan kemiskinan. Dalam Pasal 34 dan Pasal 36 Perpres 13 Tahun 2009
tersebut diatur sistem pendanaan urusan bersama yang bersumber dari APBN dan
APBD.
Selanjutnya berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Anggota Tim Koordinasi
Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Nasional, Melalui Surat Nomor B.122/MENKo/
KESRA/VI/2009 tanggal 12 Juni 2009, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan
Rakyat selaku Ketua TKPK menugaskan Menteri Keuangan untuk menyiapkan aturan
pelaksanaan tentang Pendanaan urusan Bersama Pemerintah Pusat dan Daerah untuk
Penanggulangan Kemiskinan, dan menambah 1 (satu) kode tingkat kewenangan
pelaksanaan kegiatan (diluar KP, KD, DK, TP) yang selama ini belum diakomodir di
Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004.
–
Dalam rangka melaksanakan Peraturan Presiden tersebut diatas Menteri Keuangan
selaku Pengelola Fiskal dan Bendahara umum Negara perlu mengatur penyediaan dan
tata cara pengelolaan dana program Nasional penanggulangan kemiskinan khususnya
mengenai Dana urusan Bersama pusat dan daerah. Sesuai dengan hal tersebut, maka
dengan ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2009 tentang
Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan
Kemiskinan, yang hanya diperuntukkan bagi pendanaan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan,
pemerintah telah memberikan dasar hukum bagi daerah untuk menyediakan dana
pendamping dari APBD untuk program PNPM Mandiri atau yang disebut Dana
Daerah untuk urusan Bersama (DDuB). Disamping itu Peraturan Menteri Keuangan
dimaksud juga merupakan upaya untuk menyempurnakan mekanisme pendanaan
yang digunakan untuk program PNPM Mandiri selama ini.
6.6.1. PENGERTiAN PENdANAAN URUsAN bERsAmA PUsAT
dAN dAERAH
Urusan Bersama Pusat dan Daerah dapat didefinisikan sebagai urusan pemerintahan
di luar urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan sepenuhnya Pemerintah,
yang diselenggarakan bersama oleh Pemerintah, Pemda Provinsi, dan Pemda
Kabupaten/Kota. Seperti telah dijelaskan pada paragraf-paragraf sebelumnya,
urusan bersama pusat dan daerah difokuskan untuk penanggulangan kemiskinan
yang merupakan kebijakan dan program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang
dilakukan secara sistematis, terencana, dan bersinergi dengan dunia usaha dan
masyarakat untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan
derajat kesejahteraan rakyat.
Lebih spesifik pada aspek pendanaan, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendanaan
urusan Bersama adalah pendanaan yang bersumber dari APBN dan APBD yang
penanggulangan kemiskinan. Berdasarkan sumber pendanaannya, dibedakan menjadi
Dana urusan Bersama yang selanjutnya disebut DuB, yaitu dana yang bersumber dari
APBN; serta Dana Daerah untuk urusan Bersama yang selanjutnya disebut DDuB,
yaitu dana yang bersumber dari APBD. gambar dibawah ini memberikan penjelasan
singkat mengenai hal tersebut.
gambar 6. 3
Sumber Pendanaan urusan bersama
6.6.2. PRiNsiP-PRiNsiP PENdANAAN URUsAN bERsAmA
PUsAT dAN dAERAH
Sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/
PMK.07/2009 Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan
Pendanaan urusan Bersama untuk Penanggulangan Kemiskinan dapat didanai
dari APBN, APBD, dan/atau didanai bersama APBN dan APBD.
Dalam hal Program Penanggulangan Kemiskinan didanai bersama pendanaan yang
bersumber dari APBN dialokasikan melalui bagian anggaran kementerian/lembaga
dalam bentuk DuB dan pendanaan yang bersumber dari APBD dialokasikan
melalui SKPD dalam bentuk DDuB.
Pendanaan dilakukan setelah adanya kesepakatan kedua belah pihak yang
dituangkan dalam naskah perjanjian antara Pemerintah dan Pemerintahan
Daerah.
Pengelolaan DuB dan DDuB dilakukan dengan prinsip tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan
ditujukan untuk kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan berbasis
pemberdayaan masyarakat yang terdiri atas program-program yang bertujuan
untuk mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat
miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip
pemberdayaan masyarakat.
Kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan dirinci dalam bentuk kegiatan
yang komponen bantuan langsung masyarakatnya adalah belanja bantuan sosial.
6.6.3. PERENCANAAN dAN PENGANGGARAN dANA URUsAN
bERsAmA PUsAT dAN dAERAH
Sesuai definisi dan prinsip pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, dapat
dikemukakan bahwa Dana urusan Bersama Pusat dan Daerah merupakan bagian
anggaran kementerian/lembaga dan anggaran pemerintah daerah yang dialokasikan
untuk mendanai program dan kegiatan yang berkaitan dengan penanggulangan
kemiskinan. Terkait dengan hal tersebut, sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 168/PMK.07/2009 terhadap proses perencanaan dan penganggaran
berlaku ketentuan sebagai berikut:
Perencanaan Program Penanggulangan Kemiskinan merupakan bagian dari sistem
perencanaan pembangunan nasional.
Kebijakan dan Program Penanggulangan Kemiskinan dikoordinasikan oleh Tim
Penanggulangan Kemiskinan Nasional/ Provinsi/ Kabupaten/Kota.
Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan yang akan didanai dari APBN
wajib mengacu pada RKP dan dituangkan dalam Renja-Kl
Kementerian/lembaga memberitahukan indikasi Program/Kegiatan
Penanggulangan Kemiskinan yang akan diselenggarakan bersama antara pusat
dan daerah kepada kepala daerah paling lambat pertengahan bulan Juni atau
setelah ditetapkannya pagu sementara dengan tembusan kepada Ketua Tim terkait
Penanggulangan Kemiskinan tingkat Nasional.
Pemberitahuan tentang indikasi program tersebut, disertai dengan informasi
mengenai ketentuan/persyaratan penyelenggaraan urusan bersama yang akan
dituangkan dalam naskah perjanjian.
Menteri/Pimpinan lembaga dan Kepala Daerah menandatangani naskah
perjanjian penyelenggaraan urusan bersama pusat dan daerah untuk program
penanggulangan kemiskinan paling lambat minggu pertama bulan Desember
atau setelah ditetapkannya Peraturan Presiden tentang Rincian Anggaran Belanja
Pemerintah Pusat.
Naskah perjanjian penyelenggaraan urusan bersama sekurang-kurangnya
memuat:
a. subyek kerja sama;
b. rincian alokasi dan lokasi dana program/ kegiatan yang diselenggarakan
bersama;
c. sumber dan besaran pendanaan;
d. penetapan penanggungjawab dalam pengelolaan DuB;
e. klausul komitmen daerah untuk tertib pelaporan keuangan DuB oleh daerah
kepada kementerian/ lembaga; dan
f. jangka waktu kerja sama.
Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan yang akan didanai dari APBD
wajib mengacu pada RKPD dan dituangkan dalam Renja-SKPD.
Dalam hal pemberitahuan indikasi program/kegiatan penanggulangan kemiskinan
tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah, Kepala Daerah meneruskan
indikasi program/kegiatan dimaksud kepada SKPD sebagai bahan penyusunan
Renja-SKPD dan rencana penyediaan DDuB, serta pembahasan dengan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Kepala Daerah menyampaikan usulan nama SKPD yang akan melaksanakan
program/kegiatan Penangulangan Kemiskinan kepada Kementerian/lembaga.
Dalam hal pemberitahuan indikasi program/kegiatan penanggulangan kemiskinan
tersebut diatas tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah, kepala daerah
dapat menolak pelaksanaan program/kegiatan dimaksud.
Rencana daerah penyelenggara urusan Bersama Pusat Dan Daerah untuk
Penanggulangan Kemiskinan dan alokasi anggaran DuB disusun dengan
mempertimbangkan kemampuan keuangan negara, indeks fiskal dan kemiskinan
daerah, serta indikator teknis.
Kemampuan keuangan negara dimaksudkan bahwa pengalokasian DuB untuk
program/kegiatan penanggulangan kemiskinan disesuaikan dengan kemampuan
APBN melalui bagian anggaran Kementerian/lembaga.
Secara umum, proses tersebut diatas dapat dijelaskan dalam gambar siklus dibawah
ini.
–
–
–
–
–
gambar 6.4
Proses Perencanaan dan Penganggaran urusan Bersama
6.6.4.
iNdEKs
fisKAl
dAN
KEmisKiNAN
dAERAH
dAlAm RANGKA PERENCANAAN PENdANAAN URUsAN
bERsAmA PUsAT dAN dAERAH UNTUK PENANGGUlANGAN
KEmisKiNAN
Salah satu perwujudan dari upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam penguatan
sinergi antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, adalah dengan
disusun dan ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.07/2010
tanggal 9 Maret 2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Dalam Rangka
Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan
Kemiskinan TA 2011. Peraturan Menteri Keuangan tersebut merupakan pengaturan
lebih lanjut ketentuan dalam Pasal 7 ayat (6) Peraturan Menteri Keuangan 168/
Penanggulangan Kemiskinan, yang menyatakan bahwa “Indeks fiskal dan kemiskinan
daerah disusun dan ditetapkan oleh Menkeu, serta disampaikan kepada Bappenas
dan K/l penyelenggara urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan dengan
tembusan kepada TKPK Nasional paling lambat Bulan Maret sebelum penyusunan
Renja-Kl”. Secara umum Peraturan Menteri Keuangan tersebut bertujuan untuk
mewujudkan transparansi dan akuntabilitas, serta proporsional dalam pendanaan
urusan bersama; serta mendukung K/l penyelenggara dalam merencanakan
pendanaan urusan bersama agar tepat sasaran dan tujuan yang nantinya diharapkan
akan bermuara pada peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan Dana
urusan Bersama (DuB).
Proses penyusunan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.07/2010 dilakukan
melalui beberapa tahap, yaitu :
A. formulasi indeks fiskal dan Kemiskinan daerah
Formulasi indeks fiskal dan kemiskinan daerah dilakukan melalui 4 (empat) tahap,
yaitu:
1. Penghitungan Ruang Fiskal Daerah
a. Penghitungan ruang fiskal daerah dilakukan dengan menghitung besaran
kemampuan keuangan daerah dan Transfer ke Daerah dikurangi dengan
belanja wajib;
b. Besaran kemampuan keuangan daerah meliputi Pendapatan Asli Daerah dan
lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah;
c. Besaran Transfer ke Daerah meliputi Dana Alokasi umum, Dana Bagi Hasil,
Dana Penyesuaian, dan Dana otonomi Khusus.;
d. Hasil penghitungan ruang fiskal daerah tersebut dibagi dengan jumlah
penduduk dan Indeks Kemahalan Konstruksi agar tercermin kemampuan
fiskal daerah riil per kapita; dan
2. Penghitungan Indeks Fiskal Daerah
Penghitungan Indeks Fiskal Daerah dilakukan dengan menghitung ruang fiskal masing-masing daerah dibagi dengan rata-rata ruang fiskal seluruh daerah.
3. Penghitungan Indeks Kemiskinan Daerah;
a. Penghitungan Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan dengan menghitung
persentase jumlah penduduk miskin masing-masing daerah dibagi dengan
rata-rata persentase jumlah penduduk miskin seluruh daerah (nasional); dan
b. Persentase jumlah penduduk miskin tersebut adalah persentase jumlah
penduduk miskin berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada tahun
terakhir.
4. Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah.
a. Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan dengan
mengkaitkan hasil penghitungan Indeks Fiskal Daerah dan Indeks Kemiskinan
Daerah masing-masing sebagai sumbu tegak dan sumbu mendatar dalam peta
kuadran.
b. Berdasarkan hasil pengkaitan tersebut, daerah sasaran dikelompokkan ke
dalam 4 (empat) kelompok, sebagai berikut:
i. Kelompok 1 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase
penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional;
ii. Kelompok 2 adalah daerah yang indeks fiskalnya di bawah rata-rata
nasional, namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas rata-rata
nasional;
iii. Kelompok 3 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase
penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional; dan
iv. Kelompok 4 adalah daerah yang indeks fiskalnya di atas rata-rata
nasional, namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah
b. formulasi Penghitungan Persentase besaran Penyediaan
ddUb Per Kelompok dan Per daerah
DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan indeks fiskal dan
kemiskinan daerah, dengan rincian tingkatan:
Kelompok 1 adalah daerah yang indeks ruang fiskal dan indeks persentase
penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional (IRFD dan IPPMD > 1);
menyediakan DDuB Sangat Tinggi;
Kelompok 2 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di bawah rata-rata
nasional, namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional
(IRFD < 1, IPPMD > 1); menyediakan DDuB Sedang;
Kelompok 3 adalah daerah yang indeks ruang fiskal dan indeks persentase
penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional (IRFD < 1, IPPMD < 1);
menyediakan DDuB Rendah; dan
Kelompok 4 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di atas rata-rata nasional,
namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional
(IRFD> 1, IPPMD < 1);menyediakan DDuB Tinggi.
Persentase untuk menentukan besaran penyediaan DDuB untuk masing-masing
tingkatan tersebut ditetapkan lebih lanjut melalui Keputusan Ketua TKPK
Nasional atau berdasarkan pertimbangan Menteri Keuangan.
Skema berikut memberikan gambaran mengenai alur pikir formulasi indeks fiskal dan
kemiskinan daerah.
–
–
–
–
gambar 6.5
Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah
6.6.5. PENCAiRAN dAN PENYAlURAN
Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168
tahun 2009, pencairan dan penyaluran DuB dan DDuB mengikuti ketentuan sebagai
berikut :
1. Pencairan DuB secara umum dilakukan sesuai dengan mekanisme yang berlaku
dalam pembayaran atas beban APBN, sedangkan ketentuan lebih lanjut diatur
dengan Perdirjen Perbendaharaan;
2. DuB disalurkan secara langsung kepada masyarakat, kelompok masyarakat dan/
atau lembaga partisipatif masyarakat dalam bentuk uang;
3. DuB yang telah ditransfer ke rekening masyarakat, kelompok masyarakat dan/atau
lembaga partisipatif masyarakat harus telah dimanfaatkan sesuai dengan rencana
4. Apabila dalam jangka waktu sebagaimana tersebut di atas, dana tersebut belum
dimanfaatkan maka dana tersebut harus disetorkan ke Rekening Kas umum Negara;
dan
5. Mekanisme pencairan dan penyaluran DDuB berpedoman pada peraturan yang
mengatur mengenai pengelolaan keuangan daerah.
6.6.6 PElAPORAN dAN PERTANGGUNGjAWAbAN
Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 tahun 2009 Bab VI Pasal 16 sampai
dengan Pasal 18 diuraikan ketentuan mengenai Pelaporan dan Pertanggungjawaban
DuB dan DDuB yaitu :
1. SKPD yang menjadi pelaksana kegiatan penanggulangan kemiskinan (DuB dan
DDuB) wajib menyusun laporan Keuangan berupa:
a. Neraca;
b. laporan Realisasi Anggaran; dan
c. Catatan atas laporan Keuangan.
2. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan DuB mengacu pada
Peraturan Menteri Keuangan tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Pusat;
3. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan DDuB mengacu
ketentuan peraturan mengenai pengelolaan keuangan daerah dan Sistem Akuntansi
Pemerintah Daerah; dan
4. Kepala daerah melampirkan laporan keuangan tahunan atas pelaksanaan DuB
dalam laporan Pertanggungjawaban APBD kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas DuB dan DDuB.
6.6.7 PEmbiNAAN
Selanjutnya dalam Bab VIII Pasal 22 dan Pasal 23 Peraturan Menteri Keuangan
tersebut menyebutkan bahwa pembinaan DuB dan DDuB adalah meliputi :
1. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Nasional melakukan koordinasi
untuk penanggulangan kemiskinan sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan
sekali;
2. Bappenas melakukan pembinaan terhadap efektivitas perencanaan dan pelaksanaan
program;
3. Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah melakukan pembinaan terhadap
efektivitas pengelolaan kegiatan urusan bersama untuk penanggulangan
kemiskinan;
4. Menteri Keuangan melakukan pembinaan terhadap pengelolaan DuB dalam hal:
efisiensi dan efektivitas alokasi anggaran;
pela