1
Tradisi Sang Ahli
yang Mengalir dalam Nadi
MENINGKATKAN KETAHANAN
SEKTOR RIIL DALAM MENDUKUNG
PEMULIHAN EKONOMI
BAB
144 Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 145
Meningkatkan Ketahanan Sektor
Riil dalam Mendukung Pemulihan
Ekonomi
Di tengah kontraksi perekonomian dunia yang cukup dalam, ketahanan sektor riil masih cukup kuat dalam merespons tekanan ekonomi dunia sehingga mampu mendukung kinerja perekonomian Indonesia tahun 2009.99 Dampak krisis ekonomi dunia terhadap sektor riil terutama melalui jalur perdagangan sebagaimana tercermin pada penurunan kinerja ekspor yang cukup tajam. Selanjutnya penurunan ekspor tersebut menyebabkan dunia usaha mengurangi kegiatannya dan pada gilirannya menyebabkan penurunan investasi dan konsumsi. Meskipun terkena dampak krisis ekonomi global, ekonomi Indonesia dapat tumbuh mencapai 4,5% (yoy), lebih baik jika dibandingkan dengan perkiraan awal tahun sebesar 4,0% (yoy). Hal tersebut idak terlepas dari masih kuatnya permintaan domesik, khususnya konsumsi rumah tangga. Masih ingginya konsumsi rumah tangga tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, terutama masih cukup kuatnya daya beli masyarakat, cukup besarnya pengeluaran terkait dengan kegiatan Pemilu, dan kebijakan simulus iskal untuk menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, masih ingginya pertumbuhan ekonomi domesik juga didukung oleh cukup dominannya peran UMKM dalam perekonomian Indonesia. Sampai saat ini, mengingat peran ekspor dan impor pada sektor UMKM masih terbatas, dampak krisis ekonomi global terhadap sektor tersebut menjadi relaif kecil.
99 Deinisi sektor riil mengacu kepada segala sesuatu yang terkait dengan produksi barang dan jasa serta distribusinya. Kegiatan sektor riil tersebut juga termasuk produksi, konsumsi, dan investasi di seluruh kegiatan ekonomi.
Sementara itu, masih ingginya konsumsi rumah tangga juga didukung oleh inlasi yang rendah. Tingkat inlasi yang rendah tersebut menyebabkan daya beli masyarakat terjaga dan mendorong terpeliharanya ingkat kepercayaan dan ekspektasi konsumen. Selain itu, terjaganya daya beli
masyarakat juga didukung oleh berbagai paket kebijakan Pemerintah seperi: penurunan pajak penghasilan orang pribadi dan peningkatan batas penghasilan idak kena pajak.
Keberhasilan dalam menjaga daya tahan perekonomian domesik masih menyisakan
beberapa permasalahan yaitu pertumbuhan sektor industri pengolahan yang cenderung menurun dan terkendalanya beberapa proyek infrastruktur. Tantangan ini semakin berari mengingat
kesepakatan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) mengharuskan sektor industri pengolahan meningkatkan daya saing. Untuk itu, pembangunan sektor industri ke depan harus didukung ketersediaan infrastruktur yang memadai dan pembangunan industri tersebut perlu memperhaikan aspek daerah, yaitu membangun industri dengan memerhaikan sektor unggulan di daerah tersebut.
146 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 147
5.1
Ketahanan Konsumsi Rumah Tangga
Di tengah tekanan pengaruh negaif krisis ekonomi global, konsumsi rumah tangga muncul sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Masih relaif ingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga – yang memiliki pangsa terbesar yaitu sekitar 58% dari PDB- mampu menopang pertumbuhan ekonomi untuk idak turun lebih dalam. Pada tahun 2009, konsumsi rumah tangga dapat tumbuh cukup inggi yaitu sebesar 4,85%, hanya sedikit menurun dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya (5,34%). Pada paro pertama tahun 2009 keika dampak krisis sangat terasa pada perekonomian Indonesia, konsumsi rumah tangga masih dapat tumbuh posiif dengan pertumbuhan yang cukup inggi. Bahkan pada triwulan I 2009 pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih dapat tumbuh sebesar 5,95%. Tingginya pertumbuhan konsumsi pada paro pertama tahun 2009 ini terutama terkait dengan besarnya pengeluaran sehubungan dengan kegiatan Pemilu, baik yang dilakukan oleh partai poliik maupun calon anggota legislaif dalam pelaksanaan kampanye legislaif dan pemilihan presiden. Pengeluaran konsumsi rumah tangga terkait kegiatan Pemilu ini oleh Badan Pusat Staisik (BPS) tercatat pada pengeluaran lembaga swasta nonproit. Dari data BPS, selama triwulan I 2009, pengeluaran konsumsi lembaga nonproit tersebut tercatat sebesar Rp26,58 triliun.
Di samping itu, relaif ingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada tahun 2009 juga didukung oleh ingkat inlasi yang rendah. Hal tersebut berbeda bila dibandingkan dengan gejolak eksternal yang terjadi pada tahun 2005, dampak gejolak eksternal tersebut sangat berpengaruh menurunkan pertumbuhan konsumsi rumah
tangga akibat ingginya ingkat inlasi di tahun tersebut. Kenaikan inlasi yang cukup inggi – sebesar 17,11% - akibat kenaikan harga BBM pada Maret dan Oktober 2005 menyebabkan daya beli dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi perekonomian memburuk, sehingga konsumsi rumah tangga pada tahun tersebut turun cukup signiikan (Graik 5.1). Pada tahun 2009, inlasi yang cukup rendah mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus membawa terpeliharanya ekspektasi masyarakat, terutama terpeliharanya ingkat kepercayaan dan
ekpektasi konsumen. Hal tersebut pada gilirannya mampu mempengaruhi indeks kepercayaan dan ekspektasi konsumen pada tahun 2009 yang pesimis sampai dengan triwulan I 2009 secara berangsur berubah menjadi opimis di periode sesudahnya sampai dengan akhir tahun 2009 (Graik 5.2). Kondisi tersebut mengakibatkan konsumsi rumah tangga pada tahun 2009 idak banyak terpengaruh dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Graik 5.1).
Secara fundamental kuatnya konsumsi rumah tangga ditopang oleh masih ingginya daya beli masyarakat.Secara umum ingginya daya beli masyarakat bersumber dari beberapa faktor utama. Pertama, peningkatan penghasilan masyarakat secara umum. Pada tahun 2009 pendapatan per kapita masyarakat yang dihitung berdasarkan PDB per kapita atas harga berlaku menunjukkan peningkatan dari Rp21,7 juta per tahun pada tahun 2008 menjadi Rp24,3 juta per tahun atau meningkat sekitar 12%. Hal tersebut didukung oleh data penghasilan di sektor formal dan informal yang semakin meningkat. Di sektor formal, survei yang dilakukan oleh BTI Consultants mengindikasikan bahwa rata-rata kenaikan gaji pada tahun 2009 sebesar 8,39% dengan peningkatan gaji terbesar pada iga sektor yaitu sektor asuransi (9%-13%), sektor minyak dan gas (8%-12%) dan fast moving consumer goods (3%-11%).100 Di sektor informal, kenaikan penghasilan tersebut tercermin dari meningkatnya upah buruh tani riil dari Rp.29.063 per hari pada tahun 2008 menjadi Rp.30.473 per hari pada tahun 2009. Kenaikan penghasilan di sektor formal dan informal tersebut sangat membantu daya beli masyarakat, terutama di tengah ingkat inlasi yang rendah. Kedua, adanya indikasi pemanfaatan tabungan oleh sektor swasta untuk mendukung ingkat konsumsi yang ada. Hal tersebut terkait dengan keputusan antar waktu (intertemporal) konsumen untuk menjaga kesinambungan daya beli yaitu dengan mengalihkan sebagian potensi konsumsi yang akan datang ke konsumsi saat ini. Keputusan antar waktu seperi itu pada gilirannya mampu mendukung konsumsi domesik tetap stabil dalam jangka waktu yang panjang. Tingginya potensi tabungan masyarakat tersebut terkait dengan ingginya
100 Majalah SWA, edisi Mei 2009
Graik 5.1 Inlasi dan Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga
Graik 5.3 Survei Konsumen – Danareksa
Graik 5.2 Survei Konsumen Bank Indonesia Sumber: BPS
persen, yoy
Konsumsi Rumah Tangga (Skala Kanan) IHK
persen, yoy
Sumber: Danareksa indeks
Keyakinan Konsumen Kondisi Saat Ini Ekspektasi Konsumen
indeks
Indeks Keyakinan konsumen Ekspektasi Konsumen Kondisi Ekonomi Saat Ini
optimis
148 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 149 Negara Urbanisasi (juta) % dari total populasi Rata-rata pertumbuhan
tahunan (%)
2000 2007 2000 2007 1990-2007 Indonesia 54,5 113,6 31 50 4,3
Brazil 111,8 163,1 75 85 2,2
China 311,0 556,3 27 42 3,4
India 216,6 329,1 26 29 2,5
pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam empat tahun terakhir yaitu sekitar 6%.
Selain itu, untuk melindungi daya beli masyarakat bawah Pemerintah terus menyalurkan dana bantuan langsung tunai (BLT). Terkait dengan paket simulus, Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan berupa penurunan tarif pajak penghasilan orang pribadi, peningkatan batas penghasilan idak kena pajak (PTKP) maupun melalui pemberian berbagai subsidi seperi subsidi minyak goreng. Kemudian, pada triwulan II 2009, Pemerintah juga memberikan gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil. Berbagai program tersebut sangat membantu terutama bagi masyarakat kelompok menengah bawah. Di samping itu, kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga juga turut membantu daya beli masyarakat.
Opimisme konsumen akan pendapatan yang akan datang juga mendorong akivitas konsumsi. Hasil survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa ekspektasi masyarakat akan pendapatan ke depan masih tetap inggi meskipun menghadapi krisis ekonomi global (Graik 5.2). Opimisme tersebut mendorong indeks keyakinan konsumen berada di level opimis pada triwulan II 2009. Opimisme konsumen pada kondisi yang akan datang juga terlihat pada survei Danareksa. Survei tersebut menunjukkan bahwa pada bulan Mei indeks ekspektasi konsumen sudah mulai opimis (Graik 5.3). Tingkat konsumsi rumah tangga yang memperhitungkan ingkat ekspektasi pendapatannya di masa yang akan datang merupakan indikasi dari perilaku rumah tangga yang cenderung mengikui teori Life Cycle Hypothesis (LCH) Permanent Income Hypothesis (PIH) yang mengatakan bahwa teori LCH dan PIH pada hakikatnya menyatakan bahwa keputusan seorang individu dalam melakukan konsumsi idak hanya didasarkan pada
pendapatannya saat ini, melainkan juga memperhitungkan ekspektasi pendapatannya di masa depan. Berdasarkan
premis ini, adanya peningkatan ataupun penurunan pendapatan dari seorang individu yang dianggap bersifat temporer hanya akan memberi efek terbatas terhadap kegiatan konsumsi individu tersebut. Secara konseptual, teori LCH dan PIH berkebalikan dengan teori Keynes yang beranggapan bahwa konsumsi seorang individu pada suatu waktu akan sangat terkait dengan pendapatannya pada waktu tersebut.
Masih kuatnya neraca rumah tangga memudahkan akses pembiayaan untuk konsumsi. Berdasarkan peneliian BIS (2009)101, dibandingkan dengan negara lain, ingkat utang rumah tangga di Indonesia relaif kecil, yaitu masih berkisar 7%. Sementara itu, di Korea sebesar 82% dan di AS serta Inggris melebihi 100%. Rendahnya rasio tersebut, menyebabkan sektor rumah tangga masih memiliki kemudahan terhadap akses
101 Gounan Ma, Eli Remoluna, and Ilhyock Shim (2009), Bank for Internaional Setlement paper 46, Household Debt : Implicaion for Monetary Policy and Financial Stability.
Graik 5.4 Rasio Usia Awal dan Puncak Karier dalam Populasi
Indonesia
Sumber: BPS (diolah)
persen persen
Rasio Usia Puncak karier/Populasi Rasio Usia Awal Karier/Populasi, skala kiri
Tabel 5.1 Perkembangan Urbanisasi di Indonesia dan Beberapa Negara Berkembang
Sumber: BNP Paribas, 2009
pembiayaan konsumsi. Berdasarkan data Desember 2009, pertumbuhan kredit konsumsi mencapai 17,3% (yoy), jauh di atas pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja. Sumber pembiayaan lainnya yang juga menunjukkan peningkatan yakni pertumbuhan pemberian pinjaman pegadaian. Pada posisi September 2009, pertumbuhan pinjaman yang diberikan pegadaian meningkat sekitar 47,5%. Peningkatan tersebut diduga sebagai indakan rumah tangga yang cenderung memanfaatkan tabungan berbentuk barang seperi emas dan kendaraan untuk mempertahankan ingkat konsumsinya.
Dalam jangka panjang, ingkat konsumsi masyarakat akan dipengaruhi oleh struktur demograi dalam masyarakat. Peningkatan rasio penduduk usia puncak karier terhadap penduduk usia awal karier meningkatkan penghasilan rumah tangga dengan kemampuan untuk melakukan konsumsi dan menabung yang lebih inggi (Graik 5.4). Di
samping itu, perubahan demograi berupa peningkatan urbanisasi juga mendorong konsumsi yang lebih inggi. Data dari tahun 2000-2007, menunjukkan bahwa
perpindahan penduduk dari desa ke kota tumbuh rata-rata sebesar 4,3% per tahun, jauh lebih inggi dibandingkan dengan negara lain seperi Brazil, China, dan India yang masing-masing rata-rata tumbuh sebesar 2,2%, 3,4%, dan 2,5% per tahun (Tabel 5.1). Pertumbuhan urbanisasi tersebut menjadi salah satu sumber pertumbuhan konsumsi mengingat rata-rata pengeluaran penduduk di perkotaan jauh lebih inggi dibandingkan dengan pedesaan. Berdasarkan data BPS, rata-rata pengeluaran penduduk perkotaan pada tahun 2008 sebesar Rp.496.000 per bulan, lebih inggi sekitar 75% dibandingkan dengan pengeluaran penduduk pedesaan.102
150 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 151
5.2
Peran UMKM sebagai Peredam
Dampak Krisis Ekonomi Global
Ketahanan perekonomian domesik terhadap krisis ekonomi global idak bisa dilepaskan dari peran pening UMKM. Hal tersebut utamanya disebabkan oleh peran kegiatan ekspor dan impor pada sektor ini relaif terbatas. Di samping itu, sumber bahan baku UMKM juga lebih banyak mengandalkan sumber domesik serta pangsa pasar utamanya adalah pasar domesik. Kegigihan para pengusaha UMKM dalam mempertahankan usahanya melalui eisiensi dan pasokan tenaga kerja yang berlimpah dan murah turut membantu meminimalkan dampak krisis tersebut ke sektor UMKM. Di samping itu, tenaga kerja UMKM yang pada umumnya berpendidikan rendah menyebabkan leksibilitas perpindahan tenaga kerja antara sektor UMKM, terutama di sektor informal, karena sektor ini idak memerlukan spesiikasi keahlian yang inggi. Subbab ini menganalisis peran UMKM dalam struktur perekonomian Indonesia.
g
Peran UMKM dalam Perekonomian
Peranan UMKM dalam perekonomian Indonesia cukup besar. Dilihat dari kontribusinya terhadap pembentukan PDB (atas harga berlaku) tahun 2008, UMKM menyumbang sekitar 55,56% dari total PDB. Secara sektoral, pada tahun 2008 peran UMKM di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa-jasa cukup besar yaitu masing masing sebesar 95,26%, 96,34%, dan 95,66%. Kemudian diikui oleh sektor keuangan dan jasa perusahaan; jasa-jasa; konstruksi; dan pengangkutan/ komunikasi. Sementara kontribusi UMKM terhadap sektor pertambangan, industri, dan listrik relaif kecil. Di samping itu, kontribusi UMKM juga terlihat dominan dari sisi
banyaknya unit usaha yang terserap. Jumlah unit usaha dalam yang terserap dalam UMKM mencapai 99,99% dari total unit usaha, dengan sumbangan 3 sektor terbesar mencapai 85%. Tiga sektor terbesar tersebut - sektor pertanian, perdagangan, dan jasa-jasa - masing-masing menyumbang sebesar 26,40 juta, 14,79 juta, dan 2,18 juta unit usaha (Tabel 5.2)103.
Selain itu, UMKM turut berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja secara nasional. Jumlah tenaga kerja yang diserap UMKM mencapai 90,9 juta orang atau 97,10% dari total jumlah tenaga kerja nasional. Sebagian besar tenaga kerja tersebut terkonsentrasi pada UMKM kategori mikro yaitu sebesar 81,74% dari total tenaga kerja UMKM. Jika dilihat secara sektoral, tenaga kerja UMKM menyebar pada seluruh sektor dan sebagian besar memberikan
103 Berdasarkan UU No.20 tahun 2008 tentang UMKM, (1) kriteria usaha mikro yaitu memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50 juta (idak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 juta, (2) kriteria usaha kecil yaitu memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50 juta sampai dengan paling banyak Rp500 juta (idak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300 juta sampai dengan paling banyak Rp2,5 miliar, (3) kriteria usaha menengah yaitu memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500 juta sampai dengan paling banyak Rp10 miliar (idak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha), atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2,5 miliar sampai dengan paling banyak Rp50 miliar.
kontribusi signiikan pada penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut. Dari sisi jumlah tenaga kerja, UMKM menyumbang tenaga kerja terbanyak pada sektor pertanian dan perdagangan yaitu masing-masing 42,46 juta dan 24,31 juta tenaga kerja atau sekitar 73% dari total tenaga kerja di sektor UMKM.
Dari sisi perbankan, jumlah kredit yang disalurkan ke UMKM juga cukup inggi. Selama tahun 2009, jumlah kredit yang disalurkan kepada UMKM mencapai 51,28% dari total kredit perbankan. Berdasarkan pangsa kredit UMKM tersebut terlihat bahwa perbankan memandang UMKM sebagai unit usaha yang layak dibiayai dan menguntungkan secara komersial. Pada periode data yang sama, kredit usaha kecil memiliki pangsa paling besar mencapai 37%, diikui oleh kredit mikro sebesar 32% dan kredit menengah sebesar 31% dari total kredit yang disalurkan perbankan kepada UMKM.
g
Keunggulan UMKM dalam
Menghadapi Krisis Ekonomi
Secara umum, hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengetahui krisis dan merasakan dampak krisis ekonomi Tabel. 5.2. Peranan UMKM dalam Perekonomian Domesik Tahun 2008
Sumber: Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil & Menengah No. Sektor
PDB Harga Berlaku (Miliar Rp) Unit Usaha Tenaga Kerja
UMKM PDB
6 Perdagangan, hotel,
dan restoran 666.809,1 692.118,8 96,34 14.789.950 14.791.206 99,99 24.314.062 24.494.057 99,27
7 Pengangkutan dan
152 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 153
global terhadap usahanya104. Hasil survei tersebut
menunjukkan bahwa sekitar 92% responden mengetahui adanya krisis ekonomi global, sementara sisanya idak (Graik 5.5). Selain itu, adanya krisis ekonomi global tersebut juga berpengaruh terhadap kegiatan usaha UMKM sebagaimana tercermin dari jawaban 74,8% responden yang merasakan dampak krisis, sementara hanya 25,2% responden yang idak merasakan dampak krisis pada usahanya (Graik 5.6).
Meskipun merasakan dampak krisis, daya tahan sektor UMKM masih relaif cukup baik sehingga dampaknya ke kinerja UMKM relaif terbatas. Sebagaimana yang terjadi pada gejolak ekonomi yang pernah dialami terdahulu – pada tahun 1997 dan tahun 2005 -, keberadaan sektor UMKM merupakan salah satu faktor utama penyelamat ekonomi Indonesia. Beberapa faktor utama yang menyebabkan ingginya daya tahan sektor ini antara lain, orientasi pemasaran produk-produk UMKM pada pasar domesik dan relaif kecil yang diekspor. Selain itu, pelaku UMKM mempunyai moivasi yang kuat untuk mempertahankan usahanya dan kegiatan produksi yang mengandalkan bahan-bahan baku lokal. Keunggulan lainnya yakni karakterisik tenaga kerja di sektor ini yang tersedia cukup besar dan murah serta berpendidikan rendah sehingga mempunyai mobilitas yang inggi untuk berpindah ke sektor lain.
Produk UMKM yang lebih banyak dipasarkan di domesik menjadi nilai lebih dalam menghadapi penurunan kinerja ekspor sebagai dampak krisis. Dalam kurun waktu 10
104 Quick Survey dilakukan oleh Bank Indonesia pada pertengahan tahun 2009 dengan target sampel sebesar 1000 responden di hampir seluruh wilayah Indonesia dengan proporsional berdasarkan kontribusi masing-masing PDRB-nya. Deinisi UMKM menggunakan kriteria omset berdasarkan UU UMKM No.20 tahun 2008.
tahun terakhir (1999-2008), porsi ekspor UMKM terhadap ekspor total relaif kecil yaitu rata-rata sebesar 15.40 % (Graik 5.7). Oleh karena itu, keika terjadi penurunan ekspor seperi tahun 2009, UMKM relaif lebih dapat bertahan mengingat produknya lebih banyak memenuhi kebutuhan domesik dan hanya sedikit yang berorientasi ekspor. Secara sektoral, terdapat dua sektor utama UMKM yang memberikan sumbangan besar terhadap PDB yaitu sektor pertanian dan sektor perdagangan. Rata-rata sumbangan masing-masing sektor selama kurun waktu 10 tahun terakhir (1999-2008) sebesar 94,76% dan 96,43% (Tabel 5.3). Pada tahun 2009, kedua sektor tersebut masing-masing tumbuh sebesar 4,1% dan 1,1%. Selain itu, sektor lain dengan porsi cukup besar – di atas 50% terhadap UMKM - seperi sektor kontruksi, pengangkutan dan komunikasi; keuangan dan jasa perusahaan; dan jasa-jasa, pada tahun 2009 tumbuh cukup inggi yaitu masing-masing sebesar 7,1%, 15,5%, 5,0%, dan 6,4%. Hal ini membukikan bahwa UMKM dapat bertahan menghadapi krisis.
Graik 5.5. Survei Adanya Krisis Ekonomi Graik 5.6. Survei Dampak Adanya Krisis Ekonomi
Mengetahui
Graik 5.7. Porsi Ekspor UMKM Sumber: Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil & Menengah persen
Porsi Ekspor UMKM
Faktor tenaga kerja pada UMKM menjadi kunci dari daya tahan UMKM. Pada umumnya tenaga kerja UMKM memiliki karakterisik berupa upah dan pendidikan yang rendah(unskilled labor).Berdasarkan hasil penelitan Bank Indonesia, ingkat upah yang rendah sejalan dengan keahlian tenaga kerja UMKM yang rendah sehingga ingkat produkivitas tenaga kerja UMKM relaif rendah. Kondisi ini menyebabkan tenaga kerja UMKM relaif murah dan dapat menjadi perimbangan terakhir bagi pengusaha UMKM untuk mengurangi tenaga kerjanya. Biaya tenaga kerja yang murah tersebut mendorong pengusaha UMKM idak melakukan PHK secara cepat namun lebih cenderung mempertahankan sambil menunggu momentum
pemulihan permintaan terjadi. Sementara bagi tenaga kerja UMKM yang terkena PHK, karakterisik tenaga kerja yang murah dan berpendidikan rendah tersebut mendorong pergerakan tenaga kerja atau labor shiting di antara UMKM cukup besar. Sehingga begitu salah satu UMKM turun atau jatuh usahanya, maka tenaga kerjanya relaif lebih mudah untuk “swing” atau berpindah. Dalam model migrasi Todaro ditunjukkan bahwa perpindahan tenaga kerja dalam usaha informal, yang mayoritas adalah UMKM, relaif sangat mudah mengingat lapangan kerja dalam sektor informal cukup luas dan idak memerlukan tenaga kerja dengan keahlian yang inggi.105 Indikasi
perpindahan tenaga kerja ke sektor informal tersebut dikonirmasi oleh data ketenagakerjaan BPS yang menunjukkan bahwa tenaga kerja di sektor informal mengalami peningkatan dari 71,35 juta tenaga kerja pada
105 Todaro, Michael P., and Smith, Stephen C.,”Economic Development”, Tenth Ediion, Addison Wesley, 2009
Agustus 2008 menjadi 72,61 juta pada Februari 2009 dan posisi terakhir adalah 72,72 juta pada Agustus 2009.
Perilaku sektor UMKM dalam mempertahankan usahanya juga turut membantu kinerja di sektor ini.Dari hasil quick survey yang dilakukan Bank Indonesia, dampak krisis ekonomi global terlihat dari penurunan rata-rata omset per bulan. Namun demikian, penurunan omset tersebut idak direspons langsung sepenuhnya dengan penurunan produksi dan tenaga kerja. Salah satu faktor penyebab penurunan terbatas pada produksi dan tenaga kerja tersebut diduga terkait dengan pelaku usaha UMKM yang berupaya melakukan eisiensi terlebih dahulu sebelum melakukan PHK atau menurunkan kapasitas produksi (Graik. 5.8). Hal tersebut tercermin dari hasil survei tersebut yang menunjukkan mayoritas responden menggunakan strategi eisiensi dalam rangka meredam dampak krisis, sementara mengurangi tenaga kerja dan mengurangi produksi bukan pilihan prioritas bagi mereka.
Selain langkah-langkah yang diambil oleh pengusaha UMKM, Pemerintah juga melakukan berbagai upaya dalam membantu pengembangan UMKM. Melalui Departemen Koperasi, Pemerintah membuat beberapa kebijakan yang dapat membantu pergerakan UMKM, idak hanya dalam rangka upaya meredam krisis, namun juga untuk membantu pengusaha UMKM agar terus tumbuh dan berkembang. Kebijakan Pemerintah seperi pemberdayaan UMKM melalui pemberian penyuluhan atau pelaihan tetap terus dilakukan oleh Departemen Koperasi. Upaya pengembangan pasar bagi produk-produk UMKM juga terus dilakukan oleh Pemerintah.
Tabel. 5.3 Rata-Rata Sumbangan UMKM Terhadap PDB (1999-2008)
No Sektor
Rata-rata Sumbangan UMKM terhadap PDB
1999-2008 (%)
1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 94,76
2 Pertambangan dan Penggalian 12,77
3 Industri Pengolahan 32,02
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 8,98
5 Konstruksi 54,93
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 96,43
7 Pengangkutan dan Komunikasi 54,66
8 Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 63,21
9 Jasa-Jasa 59,17
154 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 155
Pameran produk-produk UMKM di berbagai daerah terus dilakukan oleh Pemerintah untuk memperkenalkan produk UMKM sekaligus membuka dan memperluas pemasaran. Selain itu, perhaian Pemerintah untuk membantu pengembangan UMKM tertuang dalam program 100 hari dan rencana 5 tahun ke depan yang mencakup antara lain : perluasan program diklat dan pendidikan bagi pelaku UKM, perluasan One Village One Product (OVOP), percepatan pembangunan atau revitalisasi pasar tradisional sebanyak 90 pasar, di samping itu Pemerintah juga merencanakan penambahan anggaran Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri).
Salah satu upaya untuk meningkatkan akses UMKM kepada perbankan, Pemerintah mengeluarkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR), dengan skema ini UMKM dapat memperoleh pembiayaan dengan persyaratan yang ringan dan didukung oleh fasilitas penjaminan oleh pemerintah. Dalam skema tersebut UMKM dan Koperasi yang memiliki usaha yang layak namun belum bankable karena keterbatasan agunan memperoleh kesempatan untuk mendapatkan kredit dari bank, karena 70% dari nilai kredit dijamin oleh Lembaga Penjamin Kredit milik Pemerintah. Dalam pelaksanaan KUR tersebut Bank Indonesia berindak sebagai mitra kerja bagi Pemerintah, dalam hal ini menerbitkan ketentuan untuk mendukung pelaksaaan penjaminan, monitoring pelaksaan program KUR, dan melakukan koordinasi dengan perbankan dan instansi terkait. Pada posisi akhir 2009, plafon KUR mencapai Rp17,18 triliun dengan baki debit sebesar Rp8,15 triliun dengan total debitur sebesar 8.153.345. Sementara risiko dari penyaluran kredit tersebut cukup rendah sebagaimana tercermin dari ingkat NPL sebesar 4,92%. Dilihat dari sektornya, penyaluran KUR paling
banyak ditujukan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) dan pertanian.
Peran Bank Indonesia melalui pelaksanaan kebijakan moneter juga berpengaruh terhadap perkembangan UMKM. Kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga BI Rate dan upaya mengendalikan kestabilan nilai tukar memberikan peluang bagi pengusaha UMKM untuk meningkatkan akses kredit serta membentuk opimisme pelaku usaha UMKM. Selain itu, upaya Bank Indonesia untuk meningkatkan akses UMKM terhadap kredit perbankan juga dilakukan baik melalui himbauan kepada perbankan untuk membantu pengembangan UMKM melalui pemberian kredit, maupun melalui bentuk pelaihan bagi pengusaha UMKM seperi pelaihan pembuatan proposal kredit. Pelaihan tersebut sangat pening untuk menjadikan usaha UMKM lebih mudah mendapatkan kredit perbankan (bankable).
Graik. 5.8 Respons Pengusaha UMKM (Hasil Quick Survey) responden
Tabel.5.4 Perkembangan Kredit Modal Kerja dan Investasi UMKM
jutaan rupiah
No Sektor Kredit Modal Kerja Kredit Investasi
2008 2009 2008 2009
1 Pertanian 13.548.786 15.860.458 5.875.700 6.731.565
2 Pertambangan 3.023.641 3.624.215 702.703 636.684
3 Industri pengolahan 39.099.768 37.334.323 6.959.461 6.748.235
4 Listrik,Gas dan Air 384.833 416.919 175.089 288.218
5 Konstruksi 14.223.747 15.990.977 2.893.445 3.300.093
6 Perdagangan 138.331.809 163.558.675 18.818.021 24.421.565
7 Pengangkutan 4.691.147 4.785.247 3.949.499 4.520.721
8 Jasa Dunia Usaha 28.633.538 30.195.279 12.218.683 13.932.720
9 Jasa Sosial Masyarakat 5.034.939 5.666.125 2.551.786 3.080.270
Secara umum, penyaluran kredit UMKM pada tahun 2009 oleh perbankan masih meningkat. Jumlah kredit modal kerja di seluruh sektor - kecuali sektor industri pengolahan - masih menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2008. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh perkembangan kredit investasi. Secara umum hampir seluruh sektor menunjukan posisi kredit investasi yang meningkat (Tabel 5.4). Hal tersebut menunjukkan dua
156 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi
5.3
Peran Industri Pengolahan sebagai
Motor Pertumbuhan Ekonomi
g
Potret Industri Pengolahan
Peran sektor industri pengolahan nonmigas sangat
pening dalam perekonomian Indonesia.106 Dilihat
dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi, sumbangan sektor ini masih yang paling besar dalam
pembentukan PDB. Bila dilihat dari kontribusinya terhadap
ekspor, peran sektor ini lebih besar dibandingkan dengan
ekspor sektor pertanian dan sektor pertambangan. Jika
dilihat kontribusinya terhadap tenaga kerja, sektor ini
rata-rata menyerap sekitar 12% dari total tenaga kerja. Sektor
industri memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan
(backward dan forward linkage) yang besar sehingga peningkatan kinerja industri pengolahan dapat berefek
pada sektor industri lainnya.107
Di tengah perannya yang pening dalam perekonomian domesik, kinerja sektor industri pengolahan nonmigas terus mengalami tren penurunan dalam 5 tahun terakhir.
Dilihat dari kontribusinya terhadap PDB, sejak tahun 2005 kinerja sektor industri tersebut terus mengalami
penurunan meskipun relaif terbatas, yaitu dari 28,07% pada tahun 2005 menjadi sekitar 26% pada tahun 2009.
106 Deinisi dan konsep yang digunakan mengacu pada deinisi dari BPS mengenai industri pengolahan nonmigas yakni suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi/setengah
jadi, dan atau barang yang kurang nilainya menjadi yang lebih inggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir.
Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 157
Dilihat dari pertumbuhannya, dalam 5 tahun terakhir
industri pengolahan mencatat rata-rata 5% per tahun,
jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelum krisis tahun 1997 yang dapat tumbuh rata-rata 10% per
tahun. Penurunan tersebut menyebabkan pertumbuhan
sektor industri menjadi lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, padahal sebelumnya pertumbuhan sektor ini selalu berada di atas
pertumbuhan nasional.
Untuk keseluruhan tahun 2009, sektor industri
pengolahan nonmigas hanya tumbuh sebesar 2,5% (yoy),
lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurunnya permintaan eksternal akibat krisis
perekonomian global memberikan pengaruh yang cukup signiikan terhadap sektor industri pengolahan terutama pada subsektor yang berorientasi ekspor. Subsektor yang memiliki pangsa tujuan ekspor yang cukup besar antara lain: barang kayu, teksil, dan kimia menunjukkan
pertumbuhan yang relaif rendah bahkan subsektor barang kayu mengalami kontraksi pada tahun 2009. Sementara itu, subsektor yang berorientasi domesik seperi industri makanan, minuman dan tembakau menunjukkan pertumbuhan yang inggi pada tahun 2009 yaitu tumbuh sebesar 11,3%. Tingginya pertumbuhan di subsektor ini diduga akibat dari masih ingginya daya beli
masyarakat dan juga meningkatnya permintaan terkait
dengan Pemilu Legislaif dan Pemilu Presiden (Tabel 5.5).
Dilihat subsektornya, secara umum terdapat beberapa
industri yang mengalami kontraksi antara lain yaitu subsektor barang kayu dan hasil hutan, subsektor semen dan barang galian bukan logam, subsektor logam dasar besi dan baja, serta subsektor alat angkut,
mesin, dan peralatannya. Sementara subsektor lainnya masih menunjukkan kinerja yang posiif (Tabel 5.5). Jika dilihat dari strukturnya, subsektor alat angkutan,
mesin dan peralatannya, subsektor makanan, minuman dan tembakau, serta subsektor kimia dan barang dari karet masih merupakan pangsa terbesar sektor industri
pengolahan (Graik 5.9). Sementara itu, subsektor
makanan, minuman dan tembakau, subsektor kertas
dan barang cetakan, merupakan penyumbang utama pertumbuhan sektor industri pengolahan (Graik 5.10).
g
Beberapa Karakterisik Industri
Pengolahan
Penurunan kinerja sektor industri pengolahan nonmigas
terkait dengan beberapa karakterisik utama sektor industri. Pertama, penggunaan input impor dalam kegiatan sektor industri pengolahan cukup inggi sehingga
Tabel 5.5 Kinerja Industri Pengolahan Nonmigas Tahun 2009
Sumber: BPS
Graik 5.9 Distribusi Subsektor PDB Industri Pengolahan
Sumber: BPS persen
Makanan, minuman dan tembakau Barang kayu dan hasil hutan lainnya Kimia dan barang dari karet
Logam dasar besi dan baja Teksil barang kulit dan alas kaki Kertas dan barang cetakan
Semen & barang galian bukan logam Alat angkutan, mesin & peralatannya
Subsektor Industri Pengolahan Pertumbuhan 2009
(yoy)
Pangsa Thp Industri
nonmigas (%)
1 Makanan, minuman dan tembakau 11,3 29,8
2 Teksil barang kulit dan alas kaki 0,5 9,8
3 Barang kayu dan hasil hutan lainnya -1,5 3,8
4 Kertas dan barang cetakan 6,3 5,2
5 Kimia dan barang dari karet 1,5 13,3
6 Semen & barang galian bukan logam -0,6 3,0
7 Logam dasar besi dan baja -4,5 1,5
8 Alat angkutan, mesin & peralatannya -2,9 32,9
158 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi rentan terhadap gejolak nilai tukar. Kedua, orientasi
ekspor sektor industri ke negara maju masih inggi. Sekitar
44% ekspor sektor industri pengolahan masih ditujukan
ke iga negara utama yaitu Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Kondisi tersebut menyebabkan sektor industri
sangat rentan terhadap gejolak eksternal yang terjadi pada
negara utama tujuan ekspor tersebut. Keiga, daya saing
sebagian besar produk industri yang lemah, sebagaimana terindikasi dari rendahnya nilai Revealed Comparaive
Advantage (RCA).108 Indikasi lemahnya daya saing industri Indonesia juga didasarkan pada hasil survei yang dilakukan
oleh World Economic Forum dalam bukunya yang berjudul
Global Compeiiveness Report 2009-2010 menunjukkan
bahwa posisi daya saing Indonesia masih berada pada urutan ke 54 dari 130 negara yang ditelii idak berbeda dengan tahun sebelumnya. Posisi daya saing Indonesia
masih jauh di bawah beberapa negara pesaing di kawasan
ASEAN lainnya seperi Singapura (3), Malaysia (21), Thailand (36) (Tabel 5.7). Daya saing yang rendah tersebut terkait dengan karakterisik industri pengolahan yang cenderung terkonsentrasi pada beberapa perusahaan
dan banyaknya penggunaan mesin yang sudah tua,
yang umurnya di atas 10 tahun. Keempat, sebagian
108 RCA dapat dirumuskan sebagai berikut: RCA=(Xik/Xi/Wk/
Wt). Apabila nilai RCA suatu negara untuk komoditas tertentu
lebih besar dari satu (1), maka negara bersangkutan memiliki
keunggulan komparaif di atas rata-rata dunia untuk komoditas tersebut. Demikian sebaliknya apabila lebih kecil dari satu (1). Analisis menggunakan data yang bersumber dari UNCOMTRADE berdasarkan SITC 2 digit yang terdiri dari 69 kelompok barang.
Keterangan:
Xik = nilai ekspor komoditas k dari negara i Xi = nilai ekspor total dari negara i Wk = nilai ekspor komoditas k di dunia Wt = nilai ekspor total dunia
Graik 5.10 Kontribusi Subsektor PDB Industri Pengolahan
Sumber: BPS
Makanan, minuman dan tembakau Teksil barang kulit dan alas kaki Barang kayu dan hasil hutan lainnya Kertas dan barang cetakan Kimia dan barang dari karet Semen & barang galian bukan logam Logam dasar besi dan baja Alat angkutan, mesin & peralatannya Barang lainnya Industri Pengolahan (rhs)
Tabel.5.6 Beberapa Karakterisik Utama Industri Pengolahan Nonmigas
Karakterisik Kondisi Terkini Implikasi
1. Berdasarkan tabel IO 2005, ketergantungan terhadap bahan baku impor masih cukup inggi.
- Terutama pd industri alat angkut, logam dasar
besi dan baja, kimia, kertas, dan teksil. Relaif sensiif terhadap perubahan nilai tukar.
2. Pangsa pasar ekspor ke negara maju masih cukup besar. (rata-rata 2005 - 2009)
- Pangsa pasar ke negara maju (AS, Eropa, Jepang) sekitar 44,1%.
Kinerja ekspor industri sangat rentan terhadap perubahan
ekonomi di negara maju .
- Pangsa pasar ke negara berkembang (Singapore,
China, India) sekitar 22,8%.
3. Daya saing produk industri masih relaif rendah. Hanya produk TPT memiliki daya saing yang cukup inggi.
- Nilai RCA komoditas TPT: 1,88, kimia : 0,47, mesin
dan peralatannya : 0,37, produk elektronik : 0,37
(sumber : UNComtrade, diolah).
Peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekspor akibat adanya
pemulihan ekonomi global relaif terbatas.
4. Berdasarkan Survei Pemetaan Sektor Ekonomi (SPSE) BI, masih cukup banyak
industri yang menggunakan mesin berusia
tua.
- Mesin yang perlu digani (usia >15 thn) mencapai : 18%.
Peningkatan produksi yang lebih
cepat relaif sulit dilakukan.
- Mesin yang lama (usia 13 thn) : 35%. 5. Berdasarkan Survei Produksi BI, rata-rata
kapasitas uilisasi industri pada tahun 2009 mencapai 72,9%.
- Kapasitas uilisasi teringgi pada subsektor semen
dan barang galian bukan logam, kimia, serta
kertas.
Peningkatan produksi yang lebih
cepat relaif sulit dilakukan
6. Struktur pasar pada sektor industri hanya
terkonsentrasi pada beberapa perusahaan
saja.
- Dengan pendekatan concentraion raio 4 (CR4), pangsa pasar dari 4 perusahaan sudah menguasai
lebih dari 75% dari total pangsa pasar.
Kurang kompeiif.
Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 159
besar industri mempunyai kapasitas uilisasi yang inggi sehingga dikhawairkan kurang responsif apabila terdapat peningkatan permintaan. Berdasarkan hasil Survei Produksi Bank Indonesia, kapasitas uilisasi sektor industri masih relaif inggi yaitu berada di atas 70%, bahkan beberapa subsektor kapasitas uilisasinya mencapai di
atas 90% yaitu subsektor kimia, subsektor semen, serta
subsektor logam dasar (Tabel 5.6).
g
Kesiapan Sektor Industri dalam
Menghadapi ASEAN-China Free Trade
Agreement (ACFTA)
Selain karakterisik industri yang telah disebutkan
di atas, tantangan sektor industri bertambah akibat
mulai diterapkannya kesepakatan ACFTA. Kesepakatan
perdagangan bebas ASEAN-China ini diawali dengan adanya kerangka persetujuan Comprehensive Economic
Cooperaion pada tahun 2002 di Pnom Penh. Negara-negara anggota ASEAN dan China menyepakai untuk
membentuk perdagangan bebas pada tahun 2010 antara
China dan negara ASEAN-6 yaitu Indonesia, Brunei, Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina, serta negara
ASEAN-4 lainnya (Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar)
pada tahun 2015.
Dalam tahap implementasi perjanjian perdagangan
bebas tersebut, penghapusan tarif bea masuk disepakai untuk dilakukan secara bertahap. Penurunan atau penghapusan tarif bea masuk ACFTA terbagi ke dalam
empat skema yaitu Early Harvest Program (EHP), Normal Track (NT) Sensiive Track (ST) dan Highly Sensiive
Track (HST). Dalam skema EHP, disepakai penghapusan
tarif bea masuk secara bertahap mulai 1 Januari 2004
hingga menjadi 0% pada 1 Januari 2006. Dalam skema NT, penurunan tarif bea masuk dimulai sejak tanggal 20 Juli 2005 dan terbagi lagi ke dalam NT I dan NT II. Untuk skema NT-I, penurunan tarif bea masuk menjadi 0% pada 1 Januari 2010, sementara untuk NT-II penurunan tarif bea masuk menjadi 0% pada tahun 2012. Pada skema ST, tarif bea masuk menjadi 20% pada tahun 2012 dan menjadi 0-5% pada tahun 2018. Pada skema terakhir yaitu HST, tarif bea masuk menjadi maksimal 50% pada tahun 2015. Jumlah komoditas yang masuk ke dalam ACFTA mencapai 8.738 barang dimana sebagian besar masuk ke dalam skema NT1 yaitu sebanyak 6.682 komoditas (Tabel 5.8). Hingga tahun 2009, jumlah pos tarif komoditas yang sudah turun ke nol persen mencapai 5.709 barang atau mencapai 65,3% dari total seluruh komoditas. Sementara
pada tahun 2010, jumlah komoditas dengan tarif bea
masuk nol persen bertambah sebanyak 1.597 komoditas sehingga jumlahnya mencapai 7.306 atau sebesar 83,61% dari total pos tarif ACFTA.
Penerapan ACFTA memberikan peluang bagi peningkatan ekspor Indonesia berbasis SDA. Pemetaan peluang
ekspor berdasarkan indikator RCA serta berdasarkan kinerja pertumbuhan ekspor nonmigas dalam lima tahun
terakhir.109 Kombinasi antara indikator RCA dan kinerja
ekspor tersebut membagi komoditas ke dalam empat
kuadran. Berdasarkan hasil pemetaan, sebagian besar
komoditas yang berpotensi dapat memanfaatkan pasar China dan ASEAN adalah komoditas berbasis sumber daya
alam. Beberapa komoditas industri berbasis SDA seperi
CPO, karet, dan kertas menjadi penyumbang utama
109 Analisis berdasarkan SITC 2 digit yang terdiri dari 69 kelompok barang. Batasan pertumbuhan berdasarkan rata-rata ekspor nomigas Indonesia dalam periode tahun 2004-2008 sebesar 17,2%.
Tabel. 5.7 Peringkat Daya Saing Indonesia
Global Compeiiveness Index
Negara 2006-2007 2007-2008 2008-2009 2009-2010
Indonesia 50 54 55 54
Malaysia 26 21 21 21
Vietnam 77 68 69 69
Thailand 35 28 34 36
China 54 34 30 29
Filipina 71 71 70 87
Singapura 5 7 5 3
160 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi kuadran I, yaitu kuadran dengan RCA lebih besar dari satu
dan pertumbuhan di atas rata-rata komoditas lainnya. Meskipun dari sisi jumlah komoditas pada kuadran I relaif
sedikit dibandingkan dengan kuadran lainnya, namun dari sisi nilai ekspor mempunyai pangsa paling besar
yaitu 47,4% (Graik 5.11 dan 5.12). Oleh karena dukungan komoditas berbasis SDA dalam kuadran I tersebut relaif besar, perlu dicermai sejak dini untuk pengembangan
pada kelompok komoditas kuadran potensial yaitu pada
kuadran II dan IV. Hal itu disebabkan komoditas pada kuadran tersebut berbasis industri sehingga diversiikasi ekspor menjadi lebih baik.
Distribusi sebaran komoditas ekspor Indonesia pada kuadran II dan IV berpotensi untuk dapat dikembangkan lebih lanjut. Dari gambaran kinerja selama lima tahun, komoditas dalam kelompok II telah menunjukkan kinerja yang menggembirakan dengan mencatat pertumbuhan di
Tabel 5.8 Pembagian Komoditas berdasarkan Skema Penurunan Harga dan Sektoral
Sumber: Departemen Perdagangan (diolah)
Keterangan:
A = Pertanian G = Hasil Hutan & Perkebunan M = Aneka B = Kelautan & Perikanan H = Kimia Hulu N = Alat Angkut C = Energi & Sumber Daya Mineral I = Kimia Hilir O = Elektronika D = Pengawasan Obat & Makanan J = Logam P = Maritim
E = Kehutanan K = Mesin Q = Kerajinan
F = Makanan & Minuman L = Tekstil & Produk Tekstil
No. Kategori
Sektor Industri
Jml Per
Kategori Keterangan
A B C D E F G H I J K L M N O P Q
Pos Tarif
1 EHP 1 343 182 20 545
Early Harvest Programme)
: bea masuknya telah diturunkan/dihapuskan menjadi 0% sejak tanggal
01 Januari 2004 s/d 01 Januari 2006
2 EHP 2 2 35 1 1 9 48
3 NT – I 185 9 186 123 114 411 299 749 405 764 1,245 838 302 166 723 49 114 6,682
Normal Track1 : bea
masuknya mulai diturunkan/dihapuskan
sejak tanggal 20 Juli 2005
dan akan menjadi 0% pada
01 Januari 2010
4 NT – II 1 6 3 19 16 14 117 66 14 107 41 48 6 16 474
Normal Track2 : bea
masuknya akan diturunkan/ dihapuskan menjadi 0% pada tahun 2012
Usulan penundaan 2 7 2 114 10 58 7 22 6 228
5 ST 1 4 15 85 152 119 13 73 22 128 23 7 642
Sensiive Track :
penurunan/penghapusan tarif bea masuknya hingga 0% - 20% akan dilakukan pada tahun 2012 s/d 2017,
dan 0% - 5% tahun 2018
6 HST 20 4 4 15 2 206 251
Highly Sensiive Track :
penurunan/penghapusan tarif bea masuknya hingga menjadi 0% - 50% dilakukan mulai pada tahun 2015
GEL 96
General Exepion List (GEL) yaitu datar produk yang dikecualikan dari skema CEPT oleh suatu negara karena dianggap pening
untuk alasan perlindungan keamanan nasional, moral masyarakat, kehidupandan kesehatan dari manusia, binatang atau tumbuhan, nilai barang-barang seni,
Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 161
atas rata-rata. Beberapa komoditas utama dalam kuadran II tersebut antara lain komoditas besi dan baja, kendaraan, permesinan, dan peralatan transportasi. Sementara itu, kelompok komoditas kuadran IV mempunyai keunggulan
comparaive namun masih tumbuh terbatas antara lain
terdiri dari komoditas TPT, produk kayu, kertas dan bubur kertas, serta perabotan rumah.
Penerapan ACFTA juga berpotensi menurunkan tekanan inlasi. Peningkatan produk China sejak bergabung dengan WTO di satu sisi memberi ancaman pada persaingan komoditas di pasar global yang semakin inggi, di sisi
lain, banjirnya produk China ke berbagai negara dengan
harga relaif murah telah memberikan sumbangan bagi penurunan tekanan inlasi. Demikian juga dengan Indonesia, beberapa produk dalam skema EHP dan NT yang telah menurunkan tarif secara bertahap sejak tahun
2004 memberikan pilihan barang yang lebih banyak bagi
masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau. Hasil konirmasi dari pelaku bisnis juga menyatakan dampak posiif dengan adanya berbagai pilihan alternaif mesin
industri dari China yang selama ini mengandalkan mesin
dari negara maju dengan harga relaif mahal.
Di samping peluang, penerapan ACFTA tersebut memberi ancaman bagi perkembangan industri domesik. Dari sisi barang ekspor secara umum, tantangan yang berat akan dihadapi industri yang idak berbasis SDA. Dengan
dukungan skala ekonomi dan sumber daya manusia
yang besar, China relaif mempunyai keunggulan pada produk industri dibandingkan dengan negara lainnya. Komoditas industri domesik khususnya yang bersifat padat karya cenderung mempunyai tantangan yang lebih besar dalam bersaing dengan produk serupa dari China.
Potensi ancaman secara lebih khusus dihadapi oleh komoditas ekspor yang terdapat pada kuadran III. Dari hasil ideniikasi, sebagian besar komoditas pada kuadran III terdiri dari industri peralatan listrik dan elektronik, bahan kimia organik, serta mesin perkantoran. Dilihat
dari kinerja impor barang industri pengolahan China, nilai impor hampir seluruh subsektor dalam industri menunjukkan peningkatan dari tahun 2006 sampai dengan
2008. Sementara pada tahun 2009 sektor industri China menurun, terkait dengan krisis ekonomi global (Graik 5.13 dan Graik 5.14). Di antara sembilan subsektor dalam
industri pengolahan, terdapat empat subsektor industri
yang peningkatan impornya cukup besar yaitu subsektor
alat angkut, mesin, dan peralatannya; logam dasar besi
dan baja; kimia dan barang dari karet; dan teksil. Pelaku usaha, dengan orientasi pasar domesik, pada subsektor
ini diperkirakan akan paling terpukul dari penerapan
ACFTA tersebut
.
g
Tantangan Pengembangan Industri
Ke Depan
Pembangunan sektor industri pengolahan sebagai motor
pertumbuhan ekonomi sangat pening untuk menjamin pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pengalaman dari beberapa negara maju seperi Amerika, Inggris, Perancis, Jepang, dan Korea Selatan menunjukkan
peran sektor industri yang besar dalam memajukan
perekonomian negara-negara tersebut. Dalam struktur ekonomi Indonesia, sektor ini merupakan sektor terbesar di dalam PDB Indonesia. Sekitar 26% dari keseluruhan produksi barang dan jasa berasal dari sektor ini. Selain itu, peningnya sektor ini juga terlihat dari perannya
terhadap ekspor, penyerapan tenaga kerja dan juga
Graik 5.11 Sebaran Komoditas RCA VS Pertumbuhan Ekspor Graik 5.12 Pangsa terhadap Nilai Ekspor
Sumber: UN Comtrade (diolah) -20
Kuadran II Kuadran I
Kuadran III Kuadran IV
162 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi keterkaitannya yang cukup luas dengan sektor-sektor
lainnya di dalam perekonomian. Untuk itu, perkembangan
sektor ini menjadi sangat menentukan gerak dinamika
perekonomian Indonesia ke depan.
Salah satu tantangan utama yang saat ini dihadapi oleh industri pengolahan yakni perlunya peningkatan nilai
tambah dari produk-produk berbasis SDA. Pada saat ini
beberapa subsektor yang menjadi andalan sektor industri
pengolahan lebih banyak berbasis SDA seperi subsektor
makanan minuman (terkait dengan CPO), subsektor barang dari karet (terkait karet alam), dan subsektor
kertas dan barang cetakan (terkait dengan hasil hutan).
Dilihat dari daya saingnya, komoditas tersebut memiliki
indikator RCA yang inggi serta mempunyai kinerja yang cukup posiif. Selama tahun 2009, keiga sektor ini masih tumbuh posiif, bahkan sektor makanan minuman masih
tumbuh di atas 10% terkait dengan ekspor CPO yang
cukup inggi. Namun demikian, nilai tambah dari produk tersebut relaif rendah karena proses pengolahan produk tersebut masih cenderung minimal. Ke depan, salah satu
tantangan dari sektor ini ialah bagaimana mengupayakan agar produk-produk turunan yang menggunakan bahan dasar SDA lebih dikembangkan sehingga memiliki nilai
tambah yang lebih besar.
Selain itu, pembangunan industri ke depan harus juga
memerhaikan subsektor yang idak berbasis SDA, terutama untuk menghadapi persaingan ACFTA. Kondisi saat ini, secara umum produk sektor industri yang idak berbasis SDA mempunyai daya saing yang relaif rendah. Kondisi tersebut cukup mengkhawairkan mengingat
penerapan perdagangan bebas kawasan yang saat ini
diterapkan menunjukkan bahwa barang-barang impor
yang masuk ke Indonesia umumnya produk-produk nonSDA dengan harga yang lebih kompeiif. Ke depan, kebijakan pemerintah harus memberikan insenif dan
kondisi yang kondusif agar pelaku industri berbasis
nonSDA dapat lebih berdaya saing inggi. Dengan demikian diharapkan industri domesik yang berbasis nonSDA dapat tumbuh semakin kuat.
Kapasitas produksi sektor industri pengolahan perlu
diingkatkan, sebagai anisipasi pemulihan ekonomi global dan pemberlakukan ACFTA. Perbaikan terhadap kapasitas industri menjadi suatu hal yang krusial. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia, kapasitas uilisasi
mesin di sektor industri pengolahan rata-rata di atas 70%
dan relaif sudah berumur tua. Apabila hal tersebut idak diperhaikan maka peluang produk industri Indonesia
menjadi terbatas dalam memanfaatkan peningkatan
permintaan dunia.
Selain itu, pembangunan sektor industri ke depan
juga perlu memerhaikan aspek daerah yaitu lebih mengandalkan basis ekonomi lokal. Pembangunan
industri berbasis ekonomi lokal merupakan suatu langkah
pening untuk membangun ekonomi lokal. Ekonomi lokal
diharapkan dapat mengembangkan industri pendukung yang menyediakan bahan baku dan penolong bagi industri
lainnya. Dengan demikian, industri pengolahan dapat
mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku
dan penolong. Dengan semakin tersebarnya industri di
berbagai wilayah, diharapkan akan meningkatkan aspek
pemerataan antar wilayah. Untuk itu, daerah harus diberi kesempatan, dorongan, dan insenif agar dapat
Graik 5.13 Perkembangan Impor Makanan, Kertas, Semen dan Barang Kayu dari China
Graik 5.14 Perkembangan Impor Teksil, Logam, Kimia,
Alat Angkut dari China
juta dolar AS
Makanan, minuman dan tembakau Kertas dan barang cetakan
Barang kayu dan hasil hutan lainnya
Barang lainnya
Semen dan barang galian bukan logam Teksil barang kulit dan alas kaki
Logam dasar besi dan baja juta dolar AS
Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 163
mengembangkan inisiaif untuk membangun sektor
riil berbasis potensi lokal dan mengaitkannya pada
kebutuhan pasar nasional dan global. Terkait dengan
hal tersebut, Pemerintah daerah perlu mengupayakan
peningkatan produkivitas sektoral di daerahnya dengan beberapa kebijakan yang dapat mendukung pencapaian produkivitas yang inggi. Salah satu upaya pening
yaitu peningkatan kemampuan pendidikan terutama di
daerah-daerah. Dengan modal sumber daya manusia dengan ingkat pendidikan yang lebih baik, maka ingkat produkivitas dapat diingkatkan (Mankiw, Romer, dan Weil, 1992). Dengan basis industri yang kuat di
masing-masing daerah, pada akhirnya akan teragregasi menjadi
industri pengolahan yang kokoh.
Pembangunan industri perlu memerhaikan keunggulan
ekonomi daerah terkait dengan struktur ekonomi
masing-masing daerah. Wilayah Jawa memiliki keunggulan sektor industri pengolahan yang dikuatkan oleh ingkat
penguasaan teknologi lebih inggi dibandingkan dengan daerah di luar Jawa (Tjahjono dan Anugrah, 2006). Sementara itu, daerah luar Jawa seperi Sumatera
memiliki keunggulan pada sektor pertanian dengan
produk utamanya karet dan kelapa sawit. Sedangkan
daerah di wilayah Kalimantan memiliki kelebihan di sektor pertambangan yang produk utamanya berupa
batubara. Faktor disparitas tersebut menjadi nilai lebih dalam meredam dampak krisis keuangan global. Peneliian Anugrah dan Prasmuko (2009) membukikan
bahwa dampak krisis pada penurunan kinerja ekspor daerah berbeda besarannya, mengingat komoditas
unggulan masing-masing daerah bervariasi. Oleh
karena itu, keragaman daerah perlu dipertahankan dan dikembangkan sesuai dengan teori comparaive
advantage (Ricardo, 1817) yang menyebutkan bahwa
suatu daerah memiliki comparaive advantage bila daerah tersebut mampu memproduksi barang dengan biaya yang
164 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 165
5.4
Peningkatan Ketersediaan
Infrastruktur yang Memadai
g
Peranan Infrastruktur Dalam
Perekonomian
Ketersediaan infrastruktur merupakan salah satu faktor pening dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inggi dan berkesinambungan. Berdasarkan peneliian Stéphane Straub, dkk (2008), investasi infrastruktur telah berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di beberapa negara.110 Ketersediaan infrastruktur mempunyai peran yang erat dalam perekonomian dalam beberapa hal. Pertama, infrastruktur yang memadai akan mendorong investor untuk menanamkan modalnya pada suatu sektor mengingat ketersediaan infrastuktur menjadi salah satu perimbangan utama dalam keputusan berinvestasi. Kedua, kepasian ketersediaan infrastruktur –khususnya infrastruktur energi dan logisik- akan menjamin kelangsungan produksi, sementara ketersediaan infrastruktur seperi jalan, pelabuhan, bandara akan memasikan distribusi dan mobilitas barang dan jasa secara baik. Hal tersebut pada akhirnya akan mendukung upaya perekonomian untuk menjadi lebih berdaya saing inggi. Peningnya peranan infrastruktur tersebut ditunjukkan oleh studi yang dilakukan LPEM UI yang menunjukkan bahwa elasisitas pembangunan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi cukup inggi (Tabel 5.9).
Ketersediaan infrastruktur yang memadai mempunyai pengaruh pening bagi kinerja sektor industri pengolahan.
110 Infrastructure and Economic Growth in East Asia Stéphane Straub Charles VelluiniMichael Warlters “The World Bank, April 2008.
Hasil peneliian yang dilakukan Bank Indonesia dengan menggunakan data input output tahun 2005 menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur seperi listrik
mempunyai keterkaitan yang cukup pening terhadap berbagai sektor industri. Sektor listrik mempunyai keterkaitan ke depan terbesar terhadap berbagai sub sektor industri, terutama industri semen, teksil, logam dan kertas. Hal tersebut menunjukkan peran pening listrik sebagai sumber energi dalam proses produksi. Sementara itu, subsektor mesin dan subsektor produk kimia memiliki keterkaitan ke belakang yang paling inggi dengan sektor listrik (Tabel 5.10).
g
Permasalahan Infrastruktur di
Indonesia
Kondisi infrastruktur di Indonesia saat ini masih
mengalami banyak keterbatasan. Dari hasil survei terbaru yang dilakukan oleh World Economic Forum dalam bukunya yang berjudul Global Compeiiveness Report 2009-2010, kualitas infrastruktur di Indonesia menempai peringkat 96 dari 133 negara yang ditelii. Peringkat kondisi infrastruktur Indonesia tersebut masih jauh di bawah beberapa negara di kawasan ASEAN lainnya seperi Singapura (2), Malaysia (27), Thailand (41) dan China (66) (Graik 5.15).
Tabel. 5.9 Elasisitas Pembangunan Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi (10% Pertumbuhan Stok)
Tabel 5.10 Keterkaitan Ke belakang dan Ke depan Sektor Listrik Terhadap Industri Pengolahan
Sumber : Tabel Input Output 2005, diolah*
* Dilakukan agregasi dari 66 sektor menjadi 24 sektor Tabel Input Output 2005 (Atas Dasar Harga Produsen Domesik).
Sektor Keterkaitan ke
Belakang
Keterkaitan ke Depan
Industri Pengolahan
1 Industri Rokok 0,000 0,007
2 Industri Makanan dan Minuman 0,002 0,009
3 Industri Pemintalan, Teksil, Kulit dan Pakaian 0,001 0,048
4 Industri Produk Kayu 0,001 0,022
5 Kertas dan Produk Kertas 0,006 0,033
6 Industri Barang dari Karet 0,002 0,020
7 Industri Produk Kimia 0,020 0,013
8 Industri Semen dan Galian Bukan Logam 0,001 0,062 9 Industri Logam Dasar, Besi dan Baja 0,003 0,040
10 Alat Pengangkutan 0,001 0,016
11 Industri Lainnya 0,000 0,045
12 Industri Mesin, Mesin Listrik 0,027 0,019
Lokasi Jalan Listrik
Telekomu-nikasi Air Pelabuhan Irigasi
Nasional 0,884 0,839 0,610 0,220 0,259 1,264
Sumatera 0,143 0,119 0,092 0,043 0,087 0,374
Jawa Bali 0,590 0,641 0,437 0,149 0,104 0,541
Kalimantan 0,044 0,032 0,027 0,011 0,041 0,070
Sulawesi 0,039 0,036 0,023 0,013 0,014 0,155
166 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 167 Salah satu masalah infrastruktur yang saat ini masih
dirasakan menghambat perkembangan sektor riil yakni masalah pasokan listrik yang terbatas. Daya mampu pasokan listrik diperkirakan sudah kurang memadai untuk memenuhi permintaan konsumsi listrik terutama pada saat beban puncak pada pukul 16.30 – 21.00 (Graik 5.16). Dalam kondisi yang ideal, daya mampu (realisasi daya yang dapat dihasilkan pembangkit) harus 30% lebih besar dibandingkan dengan kondisi beban puncak. Dilihat dari perkembangannya, sejak tahun 2004 daya mampu listrik sudah terlihat kurang dapat memenuhi kebutuhan beban puncak listrik (Graik 5.17). Dalam kondisi seperi ini, adanya gangguan pasokan dan kerusakan jaringan listrik akan berdampak pada pemadaman listrik secara bergiliran, sehingga menggangu kelangsungan proses produksi dan akiitas ekonomi secara umum.
Permasalahan lain dalam infrastruktur yaitu kinerja logisik yang masih relaif rendah. Berdasarkan survei yang dilakukan World Bank tahun 2009, indeks kinerja logisik Indonesia masih relaif rendah dibandingkan dengan negara tetangga. Berdasarkan perhitungan indeks kinerja logisik yang merupakan komposit dari 6 komponen yaitu : (1) Eisiensi, yang mencakup kecepatan dan kemudahan proses perijinan, (2) Kualitas transportasi yang berkaitan dengan infrastruktur, (3) Kemudahan pengaturan harga pengiriman internasional , (4) Kualitas pelayanan logisik, (5) Kemampuan untuk melacak dan menelusuri pengiriman dan (6) Ketepatan waktu pengiriman internasional, peringkat Indonesia masih jauh di bawah negara regional lainnya (Graik 5.18).
Selain itu, survei yang dilakukan oleh World Economic Forum tahun 2009 juga menunjukkan bahwa kualitas
logisik Indonesia masih kurang baik. Peringkat kualitas jalan, rel kereta api, pelabuhan, dan transportasi udara di Indonesia masih jauh di bawah beberapa negara di kawasan regional lainnya (Tabel 5.11). Di samping itu, hasil studi yang dilakukan LPEM UI menunjukkan juga bahwa biaya logisik di Indonesia cukup inggi. Secara keseluruhan biaya operasional kendaraan untuk truk angkutan barang di Indonesia sebesar Rp.3.093 per kilometer, atau sekitar 34 sen dolar AS per kilometer. Angka ini lebih inggi daripada biaya rata-rata di negara kawasan Asia sebesar 22 sen dolar AS per kilometer.111
Biaya angkutan barang domesik yang sangat inggi merupakan salah satu hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, khususnya sektor industri
pengolahan.
111 Biaya Distribusi Barang Angkutan, Regulasi, dan Pungutan Jalan di Indonesia, The Asia Foundaion dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM-FEUI), April 2008
Graik. 5.15 Peringkat Kualitas Infrastruktur Negara Regional Graik.5.16 Kurva Beban Harian Daya Listrik Jawa-Madura – Bali
Graik 5.17 Perkembangan Kapasitas Terpasang, Daya Mampu dan Beban Puncak
Sumber: World Economic Forum, 2009
Singapura, 2
Rumah Tangga Komersial Industri Total
Sumber: PLN, 2008 MW
Kapasitas Terpasang Daya Mampu Beban Puncak
Keterbatasan infrastruktur di Indonesia terkait dengan masih rendahnya realisasi proyek-proyek infrastruktur yang ditawarkan oleh Pemerintah. Upaya Pemerintah untuk mendorong pembangunan infrastruktur tercatat dilakukan melalui 3 kegiatan dalam kurun 5 tahun terakhir. Pertama, penawaran melalui Indonesia Infrastructure Summit (IIS) 2005, yang kemudian dilanjutkan pada Indonesia Infrastructure Conference and Exhibiion (IICE) 2006, dan Public Private Partnership (PPP) Book 2008. Dari berbagai proyek yang ditawarkan dalam kegiatan tersebut, realisasinya cukup rendah yaitu hanya 4% dari total proyek yang ditawarkan sudah beroperasi. Sementara yang masih dalam tahap konstruksi, realisasinya baru mencapai 9% (posisi per Mei 2009). Secara keseluruhan, proyek yang sudah beroperasi merupakan proyek pada sektor transportasi, air minum dan jalan tol (Tabel 5.12). Sementara, untuk pembangunan listrik, pada tahun 2009 terdapat 3 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang telah beroperasi yaitu PLTU Labuan, PLTU Rembang dan PLTU Indramayu. Keiga proyek tersebut
merupakan bagian dari rencana pembangunan proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama. Pada tahun 2010, terdapat beberapa proyek pembangkit listrik yang akan beroperasi dan ditargetkan setengah dari rencana pembangunan 10.000 MW tahap pertama akan terselesaikan.
g
Tantangan Pembangunan
Infrastruktur Ke depan
Dalam rangka penyediaan infrastruktur yang memadai, tantangan terbesar yaitu menghilangkan hambatan yang dihadapi dalam pembangunan proyek infrastruktur (debotlenecking). Perbaikan infrastruktur diharapkan dapat membantu peningkatan akivitas di sektor riil sehingga lebih produkif dan berdaya saing inggi dan pada gilirannya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Untuk itu, tantangan ke depan yakni mengupayakan terciptanya iklim investasi yang kondusif untuk pembangunan infrastruktur. Terkait dengan itu, upaya-upaya seperi pembenahan/penyederhanaan prosedur perijinan, kepasian hukum, hubungan ketenagakerjaan menjadi hal yang perlu mendapat perhaian ke depan.
Selain itu, tantangan utama lainnya bagi pengembangan infrastruktur ke depan yaitu perlunya dukungan
pembiayaan yang memadai. Berdasarkan perhitungan Bappenas terhadap rencana pembangunan infrastruktur 5 tahun ke depan (tahun 2010-2014), dukungan pembiayaan yang dibutuhkan sekitar Rp1.429 triliun. Dari total biaya yang dibutuhkan tersebut, hanya 31 % atau Rp451 triliun yang berasal dari Pemerintah. Sementara sisanya yaitu 69% atau Rp978 triliun berasal dari swasta. Mengingat besarnya dukungan pembiayaan dari sektor swasta
Tabel 5.11 Peringkat Infrastruktur dan Komponennya
Sumber: World Economic Forum, 2009
Graik 5.18 Indeks Kinerja Logisik
Sumber: World Bank, 2009 Peringkat Kualitas Logisik
Malaysia 3,44 Filipina 3,14
China 3,49
Thailand 3,29
Vietnam 2,96
Indonesia 2,76
No Negara Kualitas
Infrastruktur
Kualitas Jalan Kualitas Jalan KA
6 Filippina 98 104 92 112 100 87
168 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi maka tantangan ketersediaan infrastruktur ke depan
ialah bagaimana menarik investor swasta untuk mau berparisipasi dalam pembangunan proyek infrastruktur.
Keseriusan Pemerintah untuk menghilangkan hambatan dalam upaya membangun infrastruktur terlihat jelas dalam program 100 hari Pemerintah. Beberapa program yang terkait dengan infrastruktur yang termasuk dalam program 100 hari tersebut antara lain pembentukan perusahaan pembiayaan infrastruktur untuk mendukung pembiayaan infrastruktur, jaminan pasokan energi terutama listrik melalui upaya penerbitan Perpres tentang
proyek percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 MW tahap kedua, upaya peningkatan arus barang dan daya saing melalui penerapan sistem informasi dan perizinan investasi secara elektronik di kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Batam, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur strategis. Sementara terkait dengan upaya untuk menyederhanakan perijinan, dalam program tersebut juga terdapat upaya percepatan pelayanan publik yang ininya melakukan koordinasi dengan instansi terkait terhadap penyederhanaan persyaratan memulai usaha dan percepatan waktu penyelesaian perijinan.
Tabel 5.12 Perkembangan Realisasi Proyek Infrastruktur (Mei 2009)
Tahun 2005 (Indonesian
Infrastructure Summit)
2006 (Indonesian Infrastructure Conference
Exhibiion)
2008 (Public Private
Partnership Book)
Total Proyek yang sudah beroperasi s/d
Mei 2009
Sektor Proyek yang
ditawarkan Kontruksi Tahap Sudah Operasi
Proyek yang
ditawarkan Kontruksi Tahap Sudah Operasi
Proyek yang
ditawarkan Kontruksi Tahap Sudah Operasi
Proyek yang
ditawarkan Kontruksi Tahap Sudah Operasi
Listrik/Pem-bangkit Listrik 12 0 0 2 0 0 1 0 0 15 0 0
Pipa Gas 6 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0
Transportasi 10 3 1 2 0 0 1 1 0 13 4 1
Kereta Api 0 0 0 0 0 0 2 0 0 2 0 0
Air Minum 24 1 2 3 0 0 1 0 0 28 1 2
Jalan Tol 38 5 1 2 0 0 3 0 0 43 5 1
Telekomunikasi 1 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 0
Total 91 9 4 10 0 0 8 1 0 109 10 4
Rasio thd Jumlah yang
Ditawarkan 10% 4% 0% 0% 13% 0% 9% 4%
Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi | BAB V 169
5.5
Penutup
Meskipun krisis ekonomi global memberikan dampak yang cukup signiikan bagi perekonomian Indonesia, ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh dengan cukup baik mengingat daya tahan sektor riil yang cukup inggi. Penopang utama dari daya tahan sektor riil yang cukup inggi tersebut ialah struktur ekonomi yang lebih berorientasi domesik, yaitu peran konsumsi rumah tangga yang masih dominan. Selain faktor struktur ekonomi, daya tahan perekonomian Indonesia juga di dukung oleh berbagai kebijakan iskal dan moneter yang telah ditempuh dalam upaya memiigasi dampak krisis ekonomi global serta menciptakan kondisi makroekonomi yang kondusif, terutama upaya menjaga inlasi yang rendah. Hal tersebut menciptakan ekspektasi masyarakat yang tetap opimis akan prospek ekonomi yang akan datang.
170 BAB V | Meningkatkan Ketahanan Sektor Riil dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi industri tersebut dapat dilakukan dengan memerhaikan
keunggulan ekonomi suatu daerah.
Upaya mendorong sektor industri sebagai motor utama pendorong ekonomi Indonesia memerlukan beberapa hal utama. Pertama, kebijakan Pemerintah harus difokuskan untuk menghilangkan berbagai hambatan yang selama ini menggangu pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur pening (debotlenecking) seperi menyederhanakan perijinan, iklim investasi dan kepasian hukum. Hal tersebut sangat berpengaruh bagi pihak swasta yang ingin berparisipasi dalam membiayai proyek infrastruktur. Hal ini pening mengingat harapan pembiayaan dari sektor swasta cukup besar. Dengan menghilangkan hambatan-hambatan tersebut diharapkan infrastruktur