• Tidak ada hasil yang ditemukan

Index of /ProdukHukum/kehutanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Index of /ProdukHukum/kehutanan"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

LOKAKARYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dipandang penting untuk memulihkan,

mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan, untuk menjamin terjaganya daya

dukung, produktivitas dan peranan dalam mendukung sistem penyangga kehidupan.

Terkait dengan RHL, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu Opak Progo pada

tanggal 28 Mei 2009 diYogyakarta menyelenggarakan Lokakarya Rehabilitasi Hutan dan

Lahan dengan Tema “ Merekatkan Masyarakat dengan RHL”. Maksud diadakannya acara

tersebut adalah untuk mengadakan komunikasi, koordinasi dalam rangka perumusan

kebijakan RHL antar berbagai lapisan masyarakat, instansi dan lembaga terkait di Provinsi

Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan tujuannya untuk sinkronisasi

kegiatan antar para pihak dan terumuskannya komitmen dari para pihak serta solusi tindak

lanjut penanganan RHL. Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan

dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan (Ir. Indriastuti, MM), Kepala UPT lingkup

Departemen Kehutanan di Yogyakarta, Kepala Instansi Pemerintah dan swasta, perguruan

tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat, media cetak dan elektronik di wilayah fasilitasi

BPDAS Serayu Opak Progo.

Ir. Indriastuti, MM dalam

sambutannya mengatakan

bahwa sasaran RHL

untuk memulihkan fungsi

hutan dan lahan dalam

mendukung sistem

penyangga kehidupan

merupakan tujuan jangka

panjang karena tidak

dapat dicapai dalam

waktu yang singkat. Lebih lanjut disampaikan bahwa RHL harus mengacu kepada Sasaran

Teknis, Sasaran Ekonomi dan Sasaran Sosial. Dengan demikian tujuan RHL dapat tercapai

dengan baik apabila ekosistem dapat terbentuk sesuai dengan daya dukungnya dan adanya

(2)

Hasil dari Lokakarya RHL tersebut tertuang dalam rumusan sebagai berikut :

RUMUSAN

HASIL LOKAKARYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN (RHL)

DENGAN TEMA “MEREKATKAN MASYARAKAT DENGAN RHL,

BPDAS SERAYU OPAK PROGO,

Memperhatikan sambutan pengarahan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial,

Departemen Kehutanan dan paparan para pembicara yang terdiri dari:

1. Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat melalui Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL), oleh

Direktur Jenderal RLPS,

2. Pembangunan Daerah di Provinsi DIY dalam konteks Pengelolaan DAS/RHL oleh BAPPEDA

Provinsi DIY,

3. Pembangunan Daerah di Propinsi Jawa Tengah dalam konteks Pengelolaan DAS/RHL , oleh

BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah,

4. Konsepsi Kegiatan RHL dan Implementasinya, oleh Kepala BPDAS Serayu Opak Progo,

5. Keterpaduan Pengelolaan DAS (Kasus tindak penataan dan pemulihan kawasan DIENG), oleh

Fakultas Geografi UGM,

6. Pemberdayaan masyarakat dalam RHL, oleh USAID.

Serta catatan diskusi lokakarya pada tanggal 28 Mei 2009, yang secara umum menggambarkan

pemberdayaan masyarakat melalui Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL), maka Lokakarya yang

dihadiri oleh para pemangku kepentingan ini menghasilkan rumusan sebagai berikut:

1. Diperlukan kesepahaman dan kerangka dasar yang sama antar instansi, organisasi dan

masyarakat tentang pemberdayaan masyarakat di bidang Rehabilitasi Hutan dan Lahan.

a. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya yang ditempuh dalam rangka meningkatkan

kemampuan dan kemandirian masyarakat melalui (1) penciptaan suasana atau iklim

yang memungkinkan berkembangnya potensi atau daya yang dimiliki masyarakat, (2)

memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat, dan (3) melindungi

masyarakat melalui pemihakan kepada masyarakat untuk memperkuat daya saing.

b. Rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) adalah upaya untuk memulihkan,

mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung,

produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap

terjaga. Kegiatan RHL merupakan tahapan prakondisi bagi pemberdayaan

(3)

c. Kegiatan RHL ini dilaksanakan baik di dalam kawasan hutan maupun diluar kawasan

hutan (dalam bentuk Hutan Kemasyarakatan /HKm, Desa Konservasi, Hutan

Tanaman Rakyat/HTR dan Hutan Desa) .

2. Pemberdayaan masyarakat pada hakikatnya dapat dilakukan melalui beberapa sektor dan

komponen aktivitas, yang salah satunya adalah melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.

Hal ini merupakan suatu proses yang relatif panjang dan sangat ditentukan oleh jenis kegiatan

yang ada dan peran serta para pihak yang terkait langsung dengan pemberdayaan masyarakat

di lapangan.

3.a. Implementasi pemberdayaan masyarakat melalui RHL ini dapat dilaksanakan melalui

pembangunan areal model di daerah. Areal model ini diselenggarakan berdasarkan prinsip

keterpaduan program dan kegiatan instansi sektoral di pusat dan daerah dengan kegiatan

pelaku usaha dan masyarakat setempat yang dikoordinir oleh Bappeda. Tujuan

pembangunan areal model ini antara lain mengoptimalkan pengelolaan potensi sumber

daya hutan dan lahan melalui sistem agribisnis yang berbasis komoditas kehutanan dan

pertanian, guna peningkatan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat yang

berwawasan kelestarian lingkungan sesuai dengan kaidah kaidah RHL.

b. Areal model yang dibuat merupakan pencerminan pengelolaan DAS secara terpadu

berdasarkan variabel spesifik seperti tinggi tempat dan kelerengan. Areal yang

direncanakan merupakan satuan pemetaan wilayah terkecil yang disebut dengan Desa

Model Pertanian Terpadu.

4. Mengharapkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota yang berada dalam wilayah BPDAS

SOP mencadangkan areal model yang dapat dijadikan pengembangan pemberdayaan

masyarakat melalui RHL.

5. Guna meningkatkan fungsi dan manfaat pembangunan areal model di daerah dapat

mengoptimalkan atau membentuk Forum DAS di setiap kabupaten/kota.

Yogyakarta, 28 Mei 2009

Tim Perumus

Sumber.

Referensi

Dokumen terkait

(Abu Su’ud. Menurut sejarahnya, Agama Hindu mempunyai usia yang cukup tua dan panjang, dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh umat manusia. Agama Hindu pada

Koperasi yang berdiri pada 13 Juni 2001 ini dibubarkan karena tidak melakukan RAT (Rapat Anggota Tahunan) lebih dari tiga tahun yang disebabkan oleh masalah kelembagaan

Sebagai wujud dari negara demokrasi dalam hal ini, Dewan Prwakilan Rakyat adalah insiator pengagas lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang

(2) Rencana Induk Menara Telekomunikasi (Cell Plan) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk mengarahkan, menjaga dan menjamin agar pembangunan dan pengoperasian

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana hasil pemahaman membaca mahasiswa, bagaimana kemampuan menulis paragraf mahasiswa, apakah ada hubungan yang

Hasil ini menunjukkan F hitung lebih besar dari F tabel dan nilai probabilitas jauh lebih kecil dari alpha 0,05 maka dapat dikatakan bahwa dimensi dalam store atmosphere

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 ayat (4) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) observasi langsung yang bersifat partisipasi pasif maupun aktif dimana peneliti dapat mengamati obyek penelitian; (2)