32 BAB II
PENYAJIAN DATA
Pada bab 2 penulis akan menampilkan data berupa kompilasi statement Pemerintah Korea Selatan terkait produk makanan asal Jepang, pemberitaan media terkait produk makanan dan radiasi Jepang pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi, publikasi penelitian terkait efek bencana nuklir Fukushima Daiichi pada sektor makanan, serta data interaksi publik Korea Selatan di media Twitter.
A. Sejarah Hubungan Korea Selatan dan Jepang
Hubungan antara Korea Selatan dengan Jepang telah terjalin sejak ditandatanganinya agreement tentang basic relation pada tahun 1965 xxviii. Pasca treaty on basic relations, mulai banyak kerjasama-kerjasama diplomatik dan ekonomi yang terjalin antara kedua negara. Meskipun demikian, seiring berjalannya waktu, mulai ada beberapa sengketa sejarah yang kemudian menghasilkan ketegangan antara Jepang dan Korea Selatan serta menjadi perdebatan di dalam masyarakat bahkan hingga sekarang.
Salah satu dari konfilk kedua negara yang masih menjadi discourse di masyarakat Korea Selatan hingga sekarang adalah issue mengenai comfort women.
Comfort Women (慰安婦) atau ianfu adalah para wanita (umumnya yang berumur belasan hingga awal dua puluh tahun) yang dipersiapkan, dibujuk, dijual maupun diculik untuk melayani kebutuhan seks para tentara commit to user
33
Jepang selama Perang Pasifik xxix. Tidak ada bukti pasti dalam mengetahui berapa jumlah wanita yang telah menjadi comfort women. Namun diperkirakan ada sekitar 50.000 hingga 300.000 wanita berstatus sebagai comfort women dengan mayoritas (sebanyak 80%) adalah warga Korea xxx. Discourse mengenai comfot women tidak banyak berkembang setelah perang dunia berakhir, baru setelah tahun 1988, perdebatan publik mengenai issue comfort women mulai muncul. Dimulai dari temuan penelitian oleh Yun Cheong-Ok dalam konferensi yang diselenggarakan oleh the Korean Church Women United on sex tourism tentang comfort women selama Perang Pasifik serta mulai adanya penyintas comfort women (Kim Hak Sun) yang berbicara pada dunia mengenai apa yang mereka alami pada tahun 1991 xxxi.
Sejak mulai berkembangnya issue mengenai comfort women, Pemerintah Jepang telah beberapa kali meminta maaf baik melalui surat yang dikirimkan kepada penyintas maupun melalui kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan. Namun permintaan maaf yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jepang tidak serta merta menghentikan kritik yang berkembang di masyarakat Korea Selatan. Adanya anggapan bahwa permintaan maaf tidak tulus serta kesalahan alih bahasa di dalam surat membuat masalah ini masih terus berkembang di dalam publik Korea Selatan. The Korean Council yang tidak puas dengan Jepang ini kemudian terus melayangkan protes baik melalui protes yang masih terus dilakukan di depan gedung Kedutaan Besar Jepang untuk Korea Selatan, menginisiasi commit to user
34
pertemuan dengan organisasi lain di Asia maupun di dunia, memberikan tekanan pada Jepang melalui UN Human Rights Commission, mengadakan pertemuan tingkat dunia, dan menggalang dana untuk diberikan kepada para penyintas comfort women xxxii.
Sentimen mengenai comfort women tidak lagi menjadi sentimen pribadi maupun kelompok tertentu, tapi telah menjadi urusan terkait dengan harga diri Bangsa Korea Selatan. Disebutkan oleh Yang (dikutip oleh Aniko Varga), discourse comfort women bukan lagi untuk dan atau tentang penyintas saja, penggalangan dana secara nasional dilakukan untuk menjaga harga diri penyintas serta menjaga harga diri Negara Korea Selatan
xxxiii. Penelitian yang dilakukan oleh Aniko Varga dalam jurnal artikelanya yang berjudul, “National bodies: The Comfort Woman Discouse and its Controversies in South Korea” menyebutkan bahwa perdebatan mengenai comfort women telah membawa banyak pesan nasionalis, seperti yang dikutip dari Yang, adanya narasi tentang “Why should we forgive the Japanese People, who abused the dignity of Korean women?” dalam salah satu bagian surat pembaca di koran Seoul Daily membuktikan bagaimana masyarakat Korea Selatan memandang comfort women sebagai persoalan terkait harga diri bangsa. Adanya collective identity membuat masyarakat Korea Selatan kemudian ikut merasakan penderitaan dari para penyintas.
Fenomena seperti ini kemudian ikut mengonstruksi pikiran masyarakat Korea Selatan dalam memandang Jepang bahkan hingga sekarang.
Dilaporkan oleh Al- Jazeera, protes terkait comfort women yang dilakukan commit to user
35
di depan Kedutaan Besar Jepang di Korea Selatan adalah protes dengan durasi terlama yang pernah ada di dunia. Protes ini telah berlangsung dari tahun 1992 dan diikuti oleh para penyintas comfort women serta organisasi kemanusiaan seperti Foundation for Justice and Remembrance for the Issue of Military Sexual Slavery by Japan xxxiv. Protes tidak hanya berlangsung dengan cara demonstrasi, tetapi juga melalui media sosial yakni dengan kampanye dengan judul The Uncomfort Project yang menyasar para perempuan muda di Korea Selatan xxxv. Hal ini kemudian membuktikan bahwa stigma terkait dengan sejarah masa lalu Jepang masih lekat ada di benak mayoritas masyarakat Korea Selatan. Seperti yang telah disebutkan dalam teori konstruktivisme, sejarah adalah salah satu faktor krusial dalam pembentukan konstruksi pikiran masyarakat. Adanya stigma-stigma tertentu kemudian membuat masyarakat cenderung lebih keras dalam memandang satu negara dibandingkan negara lain, dalam hal ini cara pandang masyarakat Korea Selatan terhadap Jepang terbentuk dari sejarah yang melatar belakangi kedua negara.
B. Statement Pemerintah Korea Selatan
Pada tahun 2011, tidak lama pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi terjadi, Pemerintah Korea Selatan telah melakukan pengetatan impor produk makanan yang berasal dari prefektur terdampak sesuai instruksi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jepang. Pada 2 September 2013, Pemerintah Korea Selatan pada akhirnya melakukan total ban terhadap commit to user
36
seluruh produk laut dari Prefektur Aomori, Iwate, Miyagi, Fukushima, Ibaraki, Gunma, Tochigi dan Chiba. Total ban yang dilakukan oleh Pemerintah merupakan dampak atas berita bocornya air terkontaminasi di lautan yang berada di sekitar PLTN Fukushima Daiichi xxxvi. Dibawah ini adalah kompilasi statement yang pernah dikeluarkan oleh Pemerintah Korea Selatan terkait bencana nuklir Fukushima Daiichi maupun terkait produk makanan asal Jepang pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi pada tahun 2011.
3 minggu pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi, pemerintah Korea Selatan telah menunjukan kekhawatiran terhadap resiko bocornya air dengan tingkat zat radioaktif tinggi ke Samudera Pasifik. Dilansir oleh The Korea Herald pada tanggal 06 April 2011, Seoul menuding bahwa Jepang telah melepaskan sebanyak 11.500 ton air dengan radioaktif tinggi ke samudera xxxvii. Pemerintah Korea Selatan khawatir jika tindakan dari Jepang ini akan mengontaminasi ekosistem laut dan berdampak pada terganggunya rantai makanan. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan melalui kedutaan besar Korea Selatan di Jepang mengungkapkan kekhawatiran mereka dengan kemungkinan adanya air dengan radiasi 100 kali lebih tinggi dari yang telah diatur oleh hukum internasional berada di lautan. Pemerintah Korea Selatan juga menuntut langkah yang akan dilakukan oleh Pemerintah Jepang untuk mengatasi masalah ini. xxxviii
Dilansir dari NHK World, sejak Juli 2013, Pemerintah Korea Selatan telah mempertanyakan informasi detail mengenai kebocoran air commit to user
37
terkontaminasi tetapi tidak mendapatkan respon apapun. Hwang Woo-Yea, pemimpin dari Partai Saenuri kemudian menekan Pemerintah untuk melakukan further measure untuk memastikan makanan yang berasal dari Jepang aman untuk dikonsumsi xxxix. Hwang juga berharap pemerintah mempertimbangkan untuk melakukan pembatasan impor produk makanan dari Jepang hingga terkonfirmasi aman untuk dikonsumsi. Tekanan yang berasal dari Partai yang disampaikan melalui konferensi pers ini kemudian dikabulkan oleh Pemerintah Korea Selatan pada tanggal 2 September 2013.
Per 2 September 2013 Pemerintah Korea Selatan pada akhirnya melakukan total ban terhadap seluruh produk laut dari Prefektur Aomori, Iwate, Miyagi, Fukushima, Ibaraki, Gunma, Tochigi dan Chiba. Total ban yang dilakukan oleh Pemerintah merupakan dampak atas berita bocornya air terkontaminasi di lautan yang berada di sekitar PLTN Fukushima Daiichi xl. Keputusan perluasan pembatasan impor dilakukan karena adanya kekhawatiran publik mengenai kebocoran air terkontaminasi radioaktif di laut. Seperti yang disampaikan oleh Sun Dong-Don, South Korean Government Spokesman dalam konferensi pers:
“the sharply increased concern in the public about the flow of hundreds of tons of contaminated water into the ocean” xli
Kebijakan terkait pembatasan ini kemudian disampaikan oleh Wakil Menteri Kelautan Korea Selatan pada saat itu, Son Hae-Jak.
Seperti dilansir melalui South China Morning Post:
commit to user
38
"The measure comes as our people's concerns are growing over the fact that hundreds of tonnes of radiation-contaminated water leak every day from the site of Japan's nuclear accident in Fukushima. The government has concluded that the information provided by Japan so far has failed to make it clear how the incident will develop in the future. Under the new measure, all fisheries products from this region will be banned regardless of whether they are contaminated or not." xlii Pasca Pemerintah Korea Selatan memberlakukan kebijakan total ban produk maritim di 8 prefektur Jepang pada 2013, Pemerintah Jepang akhirnya mengambil langkah dengan membawa kebijakan ini ke World Trade Organization (WTO) dengan tuntutan pelanggaran perjanjian Sanitary and Phytosanitary (SPS) pada 2015 xliii. Menanggapi langkah Jepang ini, Pemerintah Korea Selatan mengeluarkan “joint statement” yang berasal dari beberapa kementerian terkait yang menyatakan bahwa import ban yang mereka lakukan merupakan tindakan untuk melindungi keselamatan masyarakat dan merupakan langkah penting yang harus dilakukan oleh Pemerintah xliv. Dalam pernyataannya, Pemerintah Korea Selatan juga menyatakan bahwa pihak Korea Selatan akan terus bertindak kooperatif sesuai dengan prosedur penyelesaian sengketa yang telah diatur oleh WTO guna menyelesaikan sengketa dengan Jepang terkait import ban produk maritim dari 8 Prefektur di Jepang pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi.
Pada 22 Februari 2018 World Trade Organization akhirnya menyetujui gugatan Jepang terhadap Korea Selatan xlv. Gugatan terkait pelanggaran perjanjian SPS ini diajukan oleh Jepang pada tahun 2015. Setelah melalui prosedur yang ada di WTO, panel akhirnya memutuskan bahwa tindakan commit to user
39
yang dilakukan oleh Korea Selatan merupakan “blanket ban” dan tidak merupakan selective ban pada produk yang beresiko saja. Maka dari itu panel menganggap bahwa kebijakan yang diambil Korea Selatan pada tahun 2013 itu merupakan pelanggaran terhadap beberapa poin yang ada di WTO karena dianggap sewenang-wenang dan tidak adil xlvi. Menanggapi keputusan ini, Pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa Pemerintah akan secepatnya mengajukan banding dan akan tetap mempertahankan kebijakan yang sudah ada demi menjaga kesehatan masyarakat sampai keputusan final dari WTO benar-benar dikeluarkan.
Dilansir dari Yonhap News Agency pada 09 April 2018, Menteri Perdagangan Korea Selatan menyatakan bahwa Pemerintah Korea Selatan telah mengajukan appeal terhadap keputusan World Trade Organization terkait pengetatan impor terhadap produk laut asal Jepang pada tahun 2013
xlvii. Pada 2015, Jepang menggugat Korea Selatan atas pelanggaran beberapa
poin perjanjian WTO dengan melakukan perluasan pembatasan impor terhadap 8 prefektur terdampak bencana nuklir Fukushima Daiichi. 3 tahun setelah itu, WTO mengabulkan permintaan Jepang dengan memutuskan Korea Selatan telah melanggar Perjanjian SPS dan WTO memberikan waktu pada Korea Selatan selama beberapa hari untuk mengajukan banding kepada badan banding WTO. Pemerintah Korea Selatan sendiri menyatakan bahwa mereka tidak akan melakukan pelonggaran pembatasan sampai keputusan akhir dibuat dengan mempertimbangkan keamanan publik commit to user xlviii.
40
Setelah kalah pada putusan pertama WTO Februari 2018, Pemerintah Korea Selatan kemudian mengajukan banding pada April 2018 xlix. Banding yang diajukan oleh Korea Selatan dikabulkan oleh WTO pada 11 April 2019
l. WTO menilai bahwa pembatasan yang dilakukan oleh Korea Selatan tidak diskriminatif dan tidak melanggar pasal apapun di WTO. Keputusan ini disambut baik oleh Pemerintah Korea Selatan. Yoon Chang-yul, perwakilan dari Government Policy Coordination menyatakan bahwa Pemerintah Korea Selatan menyambut keputusan final WTO. Sejak kalah di keputusan pertama, disebutkan bahwa Pemerintah Korea Selatan dengan cepat membentuk tim yang terdiri dari beberapa kementerian terkait untuk menyusun banding dengan tambahan follow-up measure li. Pemerintah Korea Selatan percaya bahwa keputusan final ini adalah hasil dari usaha yang telah dilakukan selama ini. Dengan adanya keputusan final dari WTO ini, Pemerintah Korea Selatan akan tetap mempertahankan semua kebijakan terkait import ban yang ada sejak tahun 2013. lii
Pemerintah Korea Selatan melalui Presidential aide menyatakan bahwa Korea Selatan akan semakin mengetatkan syarat atau kontrol impor pada produk laut dan agrikultur dari Fukushima (04 Agustus 2019) liii. Keputusan ini dinilai sebagai langkah non politik yang dilakukan oleh Korea Selatan pasca Jepang menghapus Korea Selatan dari preferential “whitelist” of trusted trade partners liv. Meskipun dinilai sebagai serangan balasan, Pemerintah Korea Selatan melalui Menteri Ekonomi dan Keuangan, Hong Nam-Ki menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah commit to user
41
Korea Selatan ini merupakan upaya untuk melindungi “people’s safety”
terutama karena adanya ancaman kontaminasi radioaktif pada produk makanan dan perikanan yang berasal dari daerah terdampak bencana nuklir Fukushima Daiichi. lv
Pada 23 Agustus 2019, melalui Ministry of Food and Drug Safety, Korea Selatan menyatakan akan melakukan pengetatan pengecekan terhadap produk agrikultura Jepang yang masuk ke pasar Korea Selatan lvi. Pengetatan dilakukan dengan memberlakukan double checking terutama terkait tingkat kontaminasi radiasi yang berada di dalam produk makanan.
Produk agrikultura yang akan dilakukan double checking diantaranya adalah beberapa jenis teh, blueberry, kopi dan beberapa bahan tambahan makanan lvii.
Berikut ini adalah pembatasan impor beberapa bahan makanan asal Jepang yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan per Mei 2011 hingga September 2020.
Tabel 1. Data pembatasan impor beberapa produk asal Jepang oleh Korea Selatan (per Mei 2011)
commit to user
42
Fu Ib Tc Gu Ch Sa My Ni Na Tk Yg Yn Kn Sh Iw Ak Ao Hy Eh Ho Ai Me Ku Kg Other Beras
Sayuran & buah Teh
Tanaman obat Susu & produk susu Daging (sapi, babi, unggas) Produk ikan
Processed food
Produk Prefektur
Tabel 1
(Sumber: Food Industry Affairs Bureau Ministry of Agriculture, Foresty, and Fisheries (MAFF) Japan)
Tabel 2. Data pembatasan impor beberapa produk asal Jepang oleh Korea Selatan (per September 2020)
Fu Ib Tc Gu Ch Sa My Ni Na Tk Yg Yn Kn Sh Iw Ak Ao Hy Eh Ho Ai Me Ku Kg Other Beras
Sayuran & buah Teh
Tanaman obat Susu & produk susu Daging (sapi, babi, unggas) Produk ikan
Processed food
Prefektur Produk
Tabel 2
(Sumber: Food Industry Affairs Bureau Ministry of Agriculture, Foresty, and Fisheries (MAFF) Japan)
Keterangan : commit to user
43
: Certificate of pre-export testing of radionuclides : Ceritificate of production place
: Import ban in accordance with the restriction of distribution in Japan : Import ban
C. Pemberitaan Media
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan dua portal berita besar korea, Yonhap News Agency, dan The Korea Times untuk melihat bagaimana media Korea Selatan melakukan pemberitaan terhadap produk makanan Jepang pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi. Yonhap News Agency merupakan salah satu portal berita yang memiliki klaim untuk menyajikan semua berita dari dalam dan luar negeri secara real time.
Yonhap News Agency menjadi salah satu portal berita terbesar karena menyumbang hampir 25% dari total keseluruhan berita yang ada di dua portal berita utama Korea Selatan, Naver dan Kakao lviii. Selain Yonhap News Agency, penulis juga menggunakan data dari berita The Korea Times yang berada dibawah naungan Donghwa Group bersama portal berita Hankook Ilbo.
Dalam melakukan penelitian pada Yonhap News Agency, penulis menggunakan 3 kata utama dalam mencari kata kunci berita, yakni 수산물
atau hasil produk laut, 일본 식품 atau produk makanan Jepang dan 일본
방사능 atau radiasi Jepang. Berita yang dipilih adalah berita yang
commit to user
44
berhubungan dengan bencana nuklir Fukushima Daiichi dan mengambil rentang waktu 2011 hingga 2020.
Dalam penelitian ini penulis tidak akan menuliskan semua berita yang dirilis oleh Yonhap News Agency terkait 수산물 (hasil produk laut), 일본
방사능 (radiasi Jepang) maupun 일본 식품 (produk makanan Jepang)
karena adanya beberapa berita yang merupakan follow-up dari berita sebelumnya sehingga memuat kesamaan informasi. Selain itu, karena ketiadaan informasi pada tahun 2013 (untuk Yonhap News Agency, link berita tidak bisa diakses) maka penulis hanya akan mengambil beberapa sample berita yang dapat mewakili Yonhap News Agency dan The Korea Times dalam melakukan pemberitaan terhadap produk makanan asal Jepang pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi.
“日 세슘 쇠고기 사실상 전국 유통 파문 (Cesium beef in Japan is a nationwide distribution scandal)” artikel dirilis pada 12 Juli 2011.
Daging sapi dengan kandungan cesium ditemukan di 11 beef cattle, 6 diantaranya berasal dari peternakan yang sama. Telah dikonfirmasi bahwa daging-daging tersebut telah didistribusikan ke retailer yang berada di Tokyo, Kanagawa, Osaka, Shizuoka dan Ehime. Beberapa diantaranya juga didistribusikan di vendor yang berada di Hokkaido, Chiba, Aichi, Tokushima, dan Koji. Pemerintah Jepang dinilai tidak terlalu peduli untuk melakukan tes material radioaktif secara sistematis pada produk commit to user
45
agrikultura, hewan ternak dan produk laut. Hal ini tentu saja bertentangan dengan usaha yang Pemerintah Jepang lakukan untuk mendesak negara- negara yang melakukan import ban pada produk Jepang mengangkat kebijakan import ban nya. Federasi Konsumen Jepang mendesak Pemerintah Jepang untuk melakukan tes pada sapi-sapi yang berasal dari Prefektur Fukushima yang sekiranya terkena internal ataupun external exposure untuk menjamin rasa aman pada konsumen lix.
日 식품업계 "정부 못믿겠다" 직접 세슘 검사 (Japan’s food industry personally tested cesium, “I don’t trust the Government”) artikel dirilis pada 26 Juli 2011.
Industri makanan di Jepang mulai melakukan inspeksi mandiri terkait tingkat material radioaktif yang terkandung dalam produk makanan yang ada di Jepang. Dirilis oleh NHK, Perusahaan food-delivery yang memiliki basis di Tokyo telah membeli alat untuk mengukur kandungan radioaktif untuk melakukan pengecekan terhadap semua produk sayuran dan ikan.
Pengecekan mandiri ini dilakukan oleh para distributor makanan untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen terutama terkait food safety lx.
“일본산 명태·고등어에서 세슘 미량 검출” (Detection of Cesium in Japanese pollack and mackerel) artikel dirilis pada 11 Januari 2012.
The Minsitry of Agriculture, Foresty and Fisheries Korea Selatan menemukan kandungan cesium pada ikan kembung dan ikan pollack beku commit to user
46
yang berasal dari Jepang. Disebutkan bahwa meskipun memiliki kandungan cesium, kedua item tersebut tidak terlalu membahayakan kesehatan manusia karena kandungan cesium yang masih berada dibawah standar yang telah ditentukan lxi.
“일본, 한국의 수산물 금수조치 WTO에 제소” (Japan to fill complaint to
the WTO against South Korea’s embargo on marine products) artikel dirilis pada 21 Mei 2015.
Pemerintah Jepang akhirnya melayangkan protes ke World Trade Organization setelah usaha untuk melakukan negosiasi dengan Pemerintah Korea Selatan terkait pembatasan impor produk laut yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan terus menemui jalan buntu. Menteri agrikultur, kehutanan dan perikanan Jepang, Yoshimasa Hayashi menjelaskan bahwa langkah dari Pemerintah Jepang ini diambil karena Pemerintah Korea Selatan yang enggan untuk mencabut kebijakannya meskipun kedua negara telah melalui negosiasi. Maka dari itu Pemerintah Jepang akhirnya memilih menggunakan penyelesaian masalah melalui WTO dispute settlement process lxii.
“원전사고후 日수산물 13만t 수입…초중고 급식에도 사용” (Importing 130,000 tons of Japanese fisheries products after the nuclear accident...
Used for elementary, middle and high school meal) artikel dirilis pada 22 Mei 2015.
commit to user
47
Sejak Maret 2011 hingga April 2015, total 139,973 ton ikan dari Jepang telah diimpor oleh Pemerintah Korea Selatan. Meskipun jumlah impor terus menurun setiap tahunnya, hal ini tetap menjadi perhatian publik apalagi jika memperhatikan audit data yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan. Sebanyak 4.327 kilogram ikan yang berasal dari Jepang digunakan sebagai bahan baku untuk makanan sekolah mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas sejak Maret 2011 hingga Agustus 2013 lxiii.
“한일, 후쿠시마산 수산물 금수 분쟁 24일 양자협의” (South Korea and
Japan hold bilateral talks on Monday on the dispute over the ban on fisheries products from Fukushima) artikel dirilis pada 15 Juni 2015.
Pemerintah Korea Selatan dan Pemerintah Jepang akan mengadakan pertemuan bilateral terkait ban produk ikan dari 8 Prefektur di Jepang oleh Pemerintah Korea Selatan. Pertemuan ini dilaksanakan di kantor World Trade Organization, Jenewa, Swiss atas permintaan Jepang. Pertemuan bilateral ini adalah salah satu proses penyelesaian sengketa yang harus dijalani oleh kedua negara
“후쿠시마 수산물 수입금지 유지한다…WTO 분쟁서 예상깬
승소(종합2보)” (Maintaining a ban on Fukushima seafood imports of
Fukushima marine products. WTO dispute expected winning) artikel dirilis pada 12 April 2019. commit to user
48
Setelah kalah pada hasil pertama dan mengajukan banding, Korea Selatan akhirnya memenangkan sengketa yang dilayangkan oleh Jepang pada tahun 2015. Dalam keputusannya, WTO menegaskan bahwa alasan Pemerintah Korea Selatan melakukan pembatasan impor bukanlah tindakan yang berlebihan. Dengan hasil ini kebijakan pelarangan impor terhadap 28 jenis ikan yang berasal dari 8 prefektur termasuk Prefektur Fukushima sejak tahun 2013 akan terus dipertahankan oleh Pemerintah Korea Selatan lxiv.
“후쿠시마 수산물 수입금지 WTO 분쟁서 한국 1심 패소” (South Korea
lost its first trial in the WTO dispute over the ban on imports of Fukushima marine products) artikel dirilis pada 23 Februari 2018.
World Trade Organization mengeluarkan keputusan pertama terkait sengketa import ban produk laut yang dilaporkan oleh Jepang terhadap Korea Selatan pada 2015. Hasil dari WTO menegaskan bahwa kebijakan Korea Selatan dulu bisa untuk dijustifikasi, tetapi mempertahankan import ban hingga sekarang melanggar perjanjian WTO. Pemerintah Korea Selatan masih bisa mengajukan banding dalam jangka waktu 60 hari. Apabila Korea Selatan mengajukan banding, keputusan final dari WTO kemungkinan akan dikeluarkan tahun depan lxv.
“日관방 "WTO판정 유감이나 패소 아냐…韓에 규제해제 계속
요구"(종합)” artikel dirilis pada 12 April 2019. commit to user
49
(Japan’s official “We are sorry for the WTO ruling and not yet lost...
Continued demand for deregulation from Korea)
Meskipun WTO telah memutuskan bahwa kebijakan yang diambil oleh Korea Selatan terkait pembatasan impor produk laut dari 8 prefektur di Jepang tidak melanggar pasal yang ada di WTO dan “reasonable”, namun Pemerintah Jepang akan terus meminta Korea Selatan untuk mengangkat kebijakan pembatasan impor. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga menyatakan bahwa Pemerintah Jepang belum kalah. Mereka akan terus melakukan konsultasi dengan Korea Selatan agar tercapainya pelonggaran atau bahkan penghapusan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Korea Selatan sejak tahun 2013 itu lxvi.
“산케이 "日, 韓수산물 검사 강화…日수산물 수입규제 대응조치" (Sankei said, “Japan strengthened inspection of Korean marine products..
Countermeasures against import regulations on marine products) artikel dirilis pada 30 Mei 2019.
Dikutip dari Sankei Shimbun, Pemerintah Jepang akan melakukan inspeksi yang ketat pada ikan halibut dan shellfish beku yang berasal dari Korea Selatan. Sankei melaporkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Jepang ini bisa dibilang sebagai “respon tidak langsung” terkait keputusan Pemerintah Korea Selatan yang melanjutkan pembatasan impor produk laut dari 8 Prefektur di Jepang setelah keputusan WTO yang memihak Korea Selatan pada final appeal yang dibacakan pada bulan April. commit to user
50
Sejak keputusan itu Pemerintah Jepang terus berusara untuk mendapatkan
“reform” dan mengatakan bahwa WTO sama sekali tidak membantu dalam menyelesaikan sengketa lxvii.
“서울시, 시중 유통 日농수산물 방사능 조사…실시간 공개” (Seoul City to investigate the radioactivity of agricultural and fisheries products distributed on the market... real time disclosure) artikel dirilis pada 29 Agustus 2019.
Pemerintah Kota Seoul mengumumkan bahwa mereka akan melakukan pengujian kandungan radioaktif pada semua produk agrikultur, produk ikan (termasuk ikan hidup), makanan impor, dan snack yang menggunakan bahan baku dari Jepang maupun yang berasal dari Jepang. Inspeksi dilakukan di pasar-pasar besar di Seoul dan hasilnya akan langsung dipublikasikan oleh Pemerintah di website Kota Seoul. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran terhadap kontaminasi radioaktif yang berasal dari makanan asal Jepang lxviii
"아베, 자료 제시하며 문대통령에 후쿠시마 원전 '배출수' 설명" (Abe, presenting data and explaining to President Moon the 'emission water' of the Fukushima nuclear power plant) artikel dirilis pada 29 Desember 2019.
Pada pertemuannya dengan President Korea Selatan Moon Jae-in di Chengdu (China), Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meminta scientific discussion dengan Pemerintah Korea Selatan terutama terkait pelarangan commit to user
51
impor ikan disekitar Prefektur Fukushima yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan sejak tahun 2013. Abe juga menyinggung kritik yang dilayangkan oleh Pemerintah Korea Selatan terkait rencana Jepang yang berencana untuk mengalirkan air limbah nuklir di Laut Pasifik. Shinzo Abe mengatakan bahwa jumlah tritium yang dikeluarkan oleh sub-drain PLTN Fukushima Daiichi pada tahun 2016 sebesar 130 miliar becquerel per tahun sedangkan jumlah tritium yang dilepaskan oleh PLTN 월성 (Wolseong) milik Korea Selatan mencapai 17 trilium becquerel atau sekitar 130 kali lebih tinggi. Analis menyatakan bahwa informasi yang disampaikan oleh Shinzo Abe kepada Presiden Moon Jae-in kurang faktual karena angka yang diberikan berbeda dengan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Korea Selatan maupun oleh NGO lingkungan. Air yang disebut oleh Pemerintah Jepang sebagai “air yang telah diolah” adalah air yang pada awalnya beradioaktif tinggi karena bertugas untuk mendinginkan inti reaktor yang sempat mengalami meltdown karena gempa bumi Jepang tahun 2011. Meskipun kandungan radioaktif telah dihilangkan hingga hanya menyisakan tritium yang tidak berbahaya bagi mahluk hidup, namun diyakini bahwa data yang dirujuk oleh Perdana Menteri Shinzo Abe adalah air bawah tanah yang belum mencapai inti polusi (bahan bakar nuklir di dalam reaktor nuklir).
Bahkan jika karakteristik yang dimiliki oleh PLTN Fukushima Daiichi dan PLTN Wolseong memiliki kesamaan, cukup berlebihan jika membandingkannya dengan PLTN yang kemungkinan mengandung polutan radioaktif lain akibat kebocoran masif yang sempat terjadi commit to user lxix.
52
“日각료, 수산물 금수조치 한국 겨냥 "그쪽보다 깨끗해" 비난” (Japan’s Cabinet Minister criticized South Korea “cleaner than that side” for banning fisheries product) artikel dirilis pada 19 Februari 2020.
Kazunori Tanaka, perwakilan dari Pemerintah Jepang mengkritik Korea Selatan dalam wawancaranya yang dilakukan dengan media Jepang. Ia mengatakan bahwa “Jepang lebih bersih dan lebih aman dibandingkan negara ‘itu’ (Korea Selatan)” wawancara ini membahas mengenai pelarangan impor yang dilakukan oleh Korea Selatan terhadap produk ikan dari Prefektur Fukushima. Dia juga mengatakan bahwa makanan asal Fukushima telah rendah kontaminasi radioaktif dan syarat distribusi makanan yang dimiliki oleh Jepang merupakan yang paling ketat di dunia.
Kalimat yang diucapkan oleh Kazunori Tanaka ini seolah memperlihatkan bahwa Pemerintah Jepang belum sepenuhnya menerima kekalahan di World Trade Organization pada dispute yang terjadi antara Jepang dan Korea Selatan terkait kebijakan pelarangan impor produk laut dari 8 Prefektur di Jepang pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi. Kekalahan Jepang ini juga diperkirakan akan memperburuk hubungan Tokyo dan Seoul lxx.
Untuk The Korea Times, penulis menggunakan kata kunci “Fukushima Food” dalam melakukan penelitian, data akan disajikan menurut timeline waktu dikeluarkannya berita dari tahun 2011 hingga tahun 2020.
commit to user
53
“Seoul halts food imports from 4 Japan Prefecture” artikel dirilis pada 25 Maret 2011.
Pelarangan sementara impor produk agrikultura (sawi, kubis, brokoli, kol bunga, lobak) dan susu dari Prefektur Fukushima, Ibaraki, Tochigi dan Gunma akhirnya diberlakukan oleh Pemerintah Korea Selatan seperti arahan yang telah disampaikan oleh Pemerintah Jepang terkait radioaktif di produk makanan. Selain itu, Pemerintah Korea Selatan juga melakukan pengecekan level radioaktif pada semua produk makanan impor asal Jepang. Perusahaan pengimpor produk makanan juga telah menghentikan sementara impor produk dari Jepang untuk mengurangi kekhawatiran konsumen terkait kandungan radioaktif pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi lxxi.
“Korea to check Japanese fish, meat for radiation” artikel dirilis pada 28 Maret 2011.
Pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi, Pemerintah Korea Selatan dengan segera melakukan langkah untuk mencegah produk makanan asal Jepang yang mengandung radioaktif masuk ke pasar. The Ministry for Food, Agriculture, Foresty and Fisheries menyatakan bahwa Pemerintah Korea Selatan akan melakukan cek produk dengan detail dan berjanji untuk menghancurkan produk atau mengembalikannya ke penjual apabila ditemukan adanya kandungan radioaktif. Kebijakan ini diambil untuk
commit to user
54
mengurangi kepanikan publik terkait kontaminasi radioaktif pada produk makanan asal Jepang lxxii.
“Korea finds traces of cesium in Japanese food imports” artikel dirilis pada 30 Maret 2011.
Korea Selatan menemukan adanya kandungan radioaktif cesium pada produk-produk impor dari Jepang seperti melon, beras, wine, biskuit, roti, permen, saos, vitamin dan penguat rasa makanan. Meskipun masih dalam level yang rendah dan belum sampai ke pada tahap yang membahayakan kesehatan, Korea Selatan tetap akan terus memberikan info kandungan radioaktif yang terus dirilis di laman www.kfda.go.kr untuk menghindari kepanikan pada konsumen dan masyarakat Korea Selatan lxxiii “Ban on Japanese broadened” artikel dirilis pada 14 April 2011.
Korea Selatan melalui Korea Food and Drug Administration (KFDA) menyatakan bahwa Korea Selatan akan menghentikan impor produk agrikultura dari daerah sekitar PLTN Fukushima Daiichi. Pemerintah Korea Selatan juga menghimbau Pemerintah Jepang untuk memberikan sertifikat yang menunjukan bahwa produk agrikultura dari 13 Prefektur aman untuk dikonsumsi. Ke-13 Prefektur yang dimaksud adalah Prefektur Fukushima, Ibaraki, Tochigi, Gunma, Chiba, Miyagi, Yamagata, Niigata, Nagano, Saitama, Kanagawa, Shizuoka dan Tokyo lxxiv.
“Imports of Japanese fishery product dip” artikel dirilis pada 21 Februari
2012. commit to user
55
Ketakutan akan kandungan radionuklida dalam produk laut Jepang pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi mulai menyerang Korea Selatan.
Ministry for Food, Agriculture, Foresty and Fisheries Korea Selatan menyatakan bahwa jumlah impor produk laut dari Jepang untuk tahun 2011 adalah 40.466 ton atau turun hampir 47% dari tahun sebelumnya lxxv. “Gov’t to expand country-of origin labeling at restaurant” artikel dirilis pada 18 Agustus 2012.
Pemerintah Korea Selatan mengeluarkan kebijakan terkait pemberian label asal negara produk yang dijual di restoran. Pemilik restoran wajib untuk memberi label pada daging babi yang mereka jual dan juga wajib untuk mencantumkan label darimana produk ikan yang diolah berasal pada restoran dengan bahan baku ikan. Kebijakan ini berlaku untuk 12 produk agrikultur dan produk ikan dengan denda sebanyak 100 juta won atau 5 juta kurungan penjara apabila melanggar. Kebijakan ini dilakukan karna banyaknya desakan dari publik untuk mengetatkan regulasi terkait produk ikan dari Jepang pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi pada tahun 2011 lxxvi.
“Japanese fish worry consumers” artikel dirilis pada 29 Agustus 2013.
Kekhwatiran konsumen pada produk laut meningkat pasca Tokyo Electric Power (TEPCO) menyatakan bahwa 300 ton air dengan radioaktif tinggi bocor dari storage tank yang berada di pltn. Hal ini semakin meningkatkan desakan publik Korea Selatan pada Pemerintah untuk commit to user
56
mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan masyarakat. Lee Bo-ah, perwakilan dari Green Party Korea Selatan menekan pemerintah untuk menghentikan impor produk perikan dari Jepang dan menghentikan sekolah-sekolah menyedikan menu ikan dari Jepang di makanan sekolah. Pemerintah Korea Selatan telah dikritik karena dianggap tidak melakukan upaya untuk menghentikan impor dan konsumsi produk perikanan pada makanan sekolah. Yoo Eun-hye, perwakilan dari partai oposisi Democratic Party mengungkapkan bahwa 2.231 kilogram produk perikanan telah dikonsumsi oleh 705 primary dan secondary school di Korea Selatan dari Maret 2011 hingga Agustus 2012. Hal ini meningkatkan kekhawatiran para orang tua karena anak-anak sangat rentan terhadap efek dari cesium, iodine, dan plutonium lxxvii.
“Gov’t fails to calm down worries over food safety” artikel dirilis pada 09 September 2013.
Setelah mendapatkan desakan dari publik melalui rally protes, Pemerintah Korea Selatan akhirnya memberlakukan ban produk ikan dari 8 Prefektur terdampak bencana nuklir Fukushima Daiichi. Kim Yeon-hwa, ketua dari Korea National Council of Consumers Organization menyatakan bahwa Pemerintah Korea Selatan memang harus melakukan upaya untuk melindungi keselamatan masyarakat dengan menghentikan impor produk ikan dari Jepang tidak peduli berapa banyak radionuklida yang terkandung, memberikan kebijakan pembatasan yang jelas pada produk ikan dari commit to user
57
Jepang serta melakukan transparansi informasi ke publik. Nada yang sama juga disampaikan oleh Kim Cheon-ju, presiden dari Korea Federation of Housewives Clubs yang siap untuk memboikot seluruh produk dari Jepang apabila Pemerintah Korea Selatan tidak segera mengambil langkah terkait produk ikan dari Jepang. Pengakuan Tokyo Electric Power Co. (TEPCO) yang menyatakan bahwa 300 ton air kontaminasi radioaktif telah bocor dari PLTN Fukushima Daiichi cukup membuat konsumen Korea Selatan khawatir. Hal ini bahkan menyebabkan penjualan produk ikan dari Lotte Mart turun sebesar 18 persen dibandingkan tahun lalu lxxviii.
“Japanese fishery imports banned” artikel dirilis pada 06 September 2013.
Pemerintah Korea Selatan akan memberlakukan import ban terhadap semua produk ikan dari prefektur yang terdampak bencana nuklir Fukushima Daiichi. Tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan ini sebagai salah satu upaya untuk meredam kekhawatiran publik pasca berita bocornya air terkontaminasi radionuklida dari PLTN Fukushima Daiichi ke Laut Pasifik. Sebelumnya Korea Selatan hanya memberlakukan pelarangan terhadap 50 spesias diantaranya adalah ikan croaker, ikan kod, belut, ikan bass, dan ikan carp yang ditangkap di laut pada area sekitar timur laut Jepang. Park Ji-ho, perwakilan dari Citizen’s Coalition for Economic Justice menyambut baik kebijakan dari Pemerintah Korea Selatan ini apalagi jika mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan masyarakat Korea Selatan lxxix.
commit to user
58
“Where did fish come from?” artikel dirilis pada 10 September 2013.
Pemberitaan mengenai produk laut asal Jepang yang tercemar radionuklida cukup membuat konsumen berpikir dua kali sebelum membeli ikan atau produk laut. Noryangjin Fisheries Wholesale Market, salah satu dari pasar ikan terbesar di Korea Selatan biasanya akan ramai pembeli ketika memasuki bulan September karena telah mendekati hari raya Chuseok. Namun keadaan jauh berbeda tahun ini, Noryangjin Market terlihat lebih sepi pembeli dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Seo, salah satu dari pemilik kios ikan di Noryangjin Market mengatakan bahwa situasi ini adalah situasi terburuk para pemilik kios ikan karna mereka tidak pernah mengalami penjualan yang sangat rendah seperti ini sebelumnya.
Disebutkan oleh Seo, beberapa konsumen tampak khawatir dengan darimana ikan berasal. Meskipun ia mengatakan bahwa ia hanya menjual ikan yang berasal dari perairan Korea, namun itu tidak lantas membuat pembeli berkurang rasa khawatirnya. Tidak hanya Noryangjin market, pemilik di Hyosung Seaweed juga mengalami hal serupa. Meskipun Pemerintah Korea Selatan telah mengeluarkan ban terhadap ikan dari 8 Prefektur terdampak bencana nuklir Fukushima Daiichi, namun konsumen tetap memilih untuk tidak membeli seafood maupun produk laut sama sekali. Penurunan penjualan ini juga menimpa Lotte Mart, salah satu dari 3 discount chain terbesar di Korea Selatan. Lotte Mart mengalami penurunan penjualan produk ikan sebanyak 18.3 persen year on year dari 1 Agustus hingga 25 Agustus lxxx. commit to user
59
“Is it safe to eat fish?” artikel dirilis pada 25 Oktober 2013.
Sejak bencana nuklir menimpa PLTN Fukushima Daiichi pada tahun 2011, mayoritas warga Korea Selatan telah mengurangi konsumsi mereka terhadap ikan dan produk laut. Hal ini menimbulkan banyak discourse berkembang terutama perdebatan dalam dunia penelitian. Dr. Chin Young- woo, direktur dari Korea Institute of Radiological and Medical Sciences mengatakan bahwa konsumen Korea Selatan terlalu “over reacting” karena potensi kanker tidak hanya ada pada produk ikan asal Jepang yang tercemar radionuklida, tapi juga datang dari daging yang dibakar (Masyarakat Korea Selatan memiliki kegemaran untuk memakan BBQ). Pernyataan yang berbeda kemudian datang dari Yang-Lee Won-Young, direktur dari Korea Federation for Environmental Movements. Dia menegaskan alasan konsumen Korea Selatan mengalami ketakutan meskipun Pemerintah sudah memberikan data penelitian terkait tingkat radionuklida pada produk laut asal Jepang. Yang berpendapat bahwa radiasi bersifat karsinogenik yang sebisa mungkin harus dihindari. Ia bahkan menyebutkan dalam kasus karsinogen lainnya seperti Malachite green, makanan yang mengandung bahan tersebut telah dilarang untuk beredar. Pemerintah Korea Selatan seharusnya tidak memberikan perlakuan khusus pada makanan dengan kontaminasi radionuklida dalam bentuk apapun lxxxi.
“Fukushima sake raises health concerns” artikel dirilis pada 14 September 2014.
commit to user
60
Korea Selatan telah mengimpor 25 ton sake (minuman beralkohol tradisional asal Jepang) sejak Maret 2011. Hal ini menimbulkan kekhawatiran publik Korea Selatan karena sejak bencana nuklir Fukushima Daiichi terjadi pada tahun 2011, Pemerintah Korea Selatan telah memutuskan untuk menghentikan impor beras asal prefektur terdampak namun masih meneruskan untuk mengimpor sake yang juga berasal dari beras. Rhee Mok-hee, perwakilan dari New Politics Alliance for Democracy mengungkapkan bahwa tidak ada sake asal Jepang yang aman untuk dikonsumsi karena bahan baku (beras dan air) yang digunakan juga tidak bisa dipastikan darimana asalnya. Ia menambahkan bahwa masyarakat Korea Selatan perlu untuk khawatir karena Prefektur Fukushima sendiri terkenal dengan Prefektur penghasil sake di Jepang lxxxii.
“Officials hook more Japanese fishery exports with false label” artikel dirilis pada 15 Januari 2016.
National Fishery Product Quality Management Service menemukan bahwa banyak produk ikan asal Jepang yang tidak mencantumkan label
“made in Japan”. 46 dari 1.237 dikabarkan tidak memiliki label meskipun berasal dari Jepang dan 41 dari 281 produk perikanan asal Jepang memberikan tanda label yang salah. Hal ini meningkatkan kekhawtiran dari konsumen Korea Selatan. Dakan survei yang dilakukan oleh Ministry of Food and Drug Safety Korea Selatan pada tahun 2015, sebanyak 89.5 persen responden mengatakan bahwa Pemerintah Korea Selatan harus tetap mempertahankan mempertahankan kebijakan ketetatan impor pada commit to user
61
produk dari Jepang meskipun hal tersebut akan menyebabkan perselisihan dagang dengan Jepang lxxxiii.
“Korea, Japan start legal battle over fish imports” artikel dirilis pada 10 Feburari 2016.
World Trade Organization (WTO) telah dengan resmi membentuk badan panel untuk menangani sengketa import ban antara kedua negara.
Hal ini artinya, Korea Selatan dan Jepang akhirnya secara resmi telah memulai sengketa terkait import ban yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan terhadap produk laut dari 8 Prefektur terdampak bencana nuklir Fukushima Daiichi lxxxiv.
“Gov’t opts not to disclose radiation test result of Japanese fishery goods”
artikel dirilis pada 06 April 2016.
Pemerintah Korea Selatan menolak permintaan untuk mengungkapkan hasil penelitian tingkat radiasi dari produk makanan Jepang karena menganggap informasi seperti ini dapat membuat Jepang mengetahui strategi Korea Selatan dalam menghadapi sengketa di WTO
lxxxv.
“Korea may import seafood from Fukushima” artikel dirilis pada 18 Oktober 2017.
Worls Trade Organization (WTO) kemungkinan besar akan mengabulkan permintaan Jepang terkait sengketa dengan Korea Selatan
commit to user
62
perihal food ban yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan terhadap produk laut yang berasal dari 8 prefektur terdampak bencana nuklir Fukushima Daiichi. Minister of Food and Drug Safety, Ryu Young-Jin berjanji Pemerintah Korea Selatan akan tetap mengajukan banding terjadap Jepang demi melindungi kesehatan masyarakat lxxxvi.
“Gov’t to appeal to WTO over Fukushima fisheries dispute” artikel dirilis pada 23 Februari 2018.
Korea Selatan berencana untuk mengajukan banding terkait hasil kemenangan Jepang atas Korea Selatan di sengketa World Trade Organization lxxxvii.
“Instan noodles imported from Fukushima unnerve consumers” artikel dirilis pada 05 Desember 2018.
Produk makanan Otaru Shio Ramen yang diimpor oleh WeMakePrice dan HomePlus menimbulkan keresahan di publik karena ternyata dibuat oleh pabrik yang berasal dari Fukushima. Label “made in Fukushima” yang ditulis dengan huruf Jepang membuat publik tidak mengetahui asal dari produk makanan tersebut. Hal ini menimbulkan kemarahan publik karena hanya label made in Japan yang tertulis dalam bahasa Korea. Setelah info terkait asal produk tersebar, banyak konsumen yang membatalkan pesanan mereka sebelum barang dikirim. Homeplus memberikan klarifikasinya bahwa mie instan yang mereka impor berasal dari Kitakata, kota yang berasal dari Prefektur Fukushima yang berjarak commit to user
63
100km dari PLTN. Pihak perusahaan juga mengatakan bahwa mereka telah memenuhi syarat dari Ministry of Food and Drug Safety terkait pemasangan label produk yang mengaharuskan untuk menuliskan negara dimana produk dibuat. Selain itu, produk juga telah melewati cek radioaktif sebelum diimpor masuk ke Korea Selatan. Untuk semakin meyakinkan konsumen, Perusahaan WeMakePrice dan Homeplus akhirnya memutuskan untuk menghentikan impor mereka terhadap Otaru Shio Ramen lxxxviii
“Korea to restrict imports from Japan’s Fukushima” artikel dirilis pada 04 Agustus 2019.
Pemerintah Korea Selatan mengungkapkan bahwa Korea Selatan telah mempertimbangkan langkah untuk mengontrol kuota impor dari Fukushima menanggapi langkah Jepang yang akan menghapus Korea Selatan dari daftar whitelist preferential trade. Hong Nam Ki, wakil perdana menteri ekonomi dan keuangan mengungkapkan bahwa langkah yang diambil oleh Korea Selatan ini adalah sebagai upaya untuk melindungin
“people safety”
“Lawmaker calls for import ban on processed foods from Fukushima”.
Artikel dirilis pada 19 Agustus 2019.
Kim Kwang-soo, perwakilan dari partai oposisi Democracy and Peace mendesak Pemerintah Korea Selatan untuk mengambil langkah tegas terkait produk makanan olahan dari 8 prefektur di Jepang karena radiasi commit to user
64
telah ditemukan sebanyak 16.8 ton makanan olahan dari 8 prefektur di Jepang sejak 5 tahun yang lalu. Kim Kwang-soo menyebutkan bahwa pemerintah harus mengambil langkah ini sebagai upaya untuk melindungi public health lxxxix.
D. Publikasi Penelitian
Bencana nuklir memiliki karakteristik khusus jika dibandingkan dengan bencana lainnya, salah satunya adalah adanya dampak yang bisa mengganggu lingkungan dalam jangka waktu puluhan hingga ratusan tahun. Bencana nuklir Fukushima Daiichi yang dikategorikan sebagai level 7 atau major accident berdasarkan International Nuclear and Radiological Event Scale (INES) membuat banyak peneliti khawatir dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan karena kontaminasi radionuklida dari Fukushima Daiichi. Sejak tahun 2011, telah banyak penelitian yang mengambil fokus pada dampak bencana nuklir Fukushima Daiichi pada lingkungan seperti pada kontaminasi di tanah, hutan, rantai makanan hingga kontaminasi radionuklida di Laut Pasifik. Dalam data terkait dampak pada lingkungan dan produk makanan, penulis mengumpulkan data penelitian dengan kata kunci “Fukushima Food” dengan mengambil jurnal artikel sebanyak 1 jurnal untuk tiap tahunnya. Jurnal artikel dan penelitian yang digunakan sebagai data adalah jurnal yang memiliki jumlah sitasi paling banyak pada mesin pencari google scholar dengan rentang waktu mulai dari tahun 2011 hingga tahun 2019. Penulis tidak memasukkan jurnal tahun publikasi 2020 karena belum ditemui jurnal yang relevan commit to user
65
mengenai dampak bencana nuklir Fukushima Daiichi pada sektor makanan yang dipublikasikan pada tahun 2020.
1. Yasunari, T. J., Stohl, A., Hayano, R. S., Burkhart, J. F., Eckhardt, S.,
& Yasunari, T. (2011). Cesium-137 deposition and contamination of Japanese soils due to the Fukushima nuclear accident. Proceedings of the National Academy of Sciences, 108(49), 19530–19534
Disitasi sebanyak 589 kali.
Penelitian terkait kontaminasi radioaktif ini dilakukan pada tanggal 20 Maret 2011 hingga 19 April 2011. Penelitian yang dilakukan oleh National Academy of Science ini mengambil fokus terkait pencemaran yang terjadi pada tanah dan laut pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi. Setelah dilakukan observasi selama kurang lebih satu bulan, terlihat bahwa sebelum 20 Maret 2011, udara yang mengandung radioaktif tinggi (kebanyakan Cesium 137) bergerak menuju Laut Pasifik xc. Meskipun endapan Cesium 137 banyak ditemukan di Laut Pasifik tetapi kosentrasi tanah dengan kandungan Cs-137 juga masih berada diatas 100Bq-1. Dalam kesimpulannya, penelitian ini mengungkapkan bahwa produksi pangan dan agrikultura yang khususnya berada di Fukushima timur akan terganggu oleh adanya kandungan Cesium-137 karena telah berada diatas batas atas dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah terkait food safety xci. Tidak hanya Prefektur Fukushima, prefektur lain yang berada di dekatnya pun juga mengalami kontaminasi Cs 137 (Iwate, Miyagi, Yamagata, Niigata, Tochigi, Ibaraki dan Chiba) yang meskipun kandungan Cs-137 tidak commit to user
66
sebanyak Fukushima, namun tetap tidak bisa untuk diabaikan xcii. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi dasar untuk Pemerintah Jepang maupun pemerintah lain dalam merencanakan kebijakan terutama terkait rantai makanan asal Fukushima pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi.
2. Hamada, N., & Ogino, H. (2012). Food safety regulations: what we learned from the Fukushima nuclear accident. Journal of
Environmental Radioactivity, 111, 83–
99. doi:10.1016/j.jenvrad.2011.08.008
Disitasi sebanyak 157 kali
Dalam artikel jurnal yang ditulis oleh Nobuyuki Hamada dan Haruyuki Ogino, mereka menyoroti bagaimana kebijakan Pemerintah Jepang terkait regulasi food safety pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi. Dalam penelitiannya, peneliti memonitor sebanyak 24.685 sample baik makanan maupun air yang dikonsumsi oleh masyarakat terdampak bencana nuklir.
Sample makanan yang dimonitor kemudian dikaitkan dengan kebijakan emergency yang diambil pasca bencana xciii. Penelitian ini memiliki tujuan sebagai bahan pertimbangan pemerintah untuk memperbaiki regulasi keamanan pangan terutama dalam kebijakan pasca bencana tidak terduga seperti bencana nuklir. Dalam akhir penelitiannya, peneliti mengharapkan perbaikan kesiap siagaan darurat nuklir di seluruh dunia. Kesiap siagaan ini mencakup penanggulangan bencana yang harus bisa dijalankan secara komperhensif segera setelah bencana terjadi, sehingga kerusakan dan resiko di masa depan bisa diminimalisir. commit to user
67
3. Wada, T., Nemoto, Y., Shimamura, S., Fujita, T., Mizuno, T., Sohtome, T., … Igarashi, S. (2013). Effects of the nuclear disaster on marine products in Fukushima. Journal of Environmental Radioactivity, 124, 246–254. doi:10.1016/j.jenvrad.2013.05.008
Disitasi sebanyak 134 kali
Penelitian yang dilakukan sejak April 2011 hingga Oktober 2012 ini bertujuan untuk menginspeksi kandungan radionuklida (Iodine 131, Cesium 134 dan Cesium 137) pada 6462 specimens yang terdiri dari 169 spesies laut yang ditangkap di pesisir Prefektur Fukushima xciv. Hasil yang mereka dapatkan dari penelitian ini adalah tingkat radioaktif cesium 134 dan 137 pada produk laut sudah menurun secara drastis sejak pertama kali dilakukan penelitian xcv. Tingkat radionuklida tidak bisa untuk disamakan pada semua spesies karena perbedaan taxa, habitat, dan spatial distributions yang bisa membuat kosentrasi cesium berbeda pada setiap spesiesnya xcvi. Disebutkan bahwa radioaktif cesium menurun dengan sangat cepat pada pelagic fishes dan spesies invertebrata serta menurun secara konstan pada rumput laut, beberapa jenis kerang dan organisme lainnya.
4. Steinhauser, G., Brandl, A., & Johnson, T. E. (2014). Comparison of the Chernobyl and Fukushima nuclear accidents: A review of the environmental impacts. Science of The Total Environment, 470-471, 800–817.
Disitasi sebanyak 531 kali. commit to user
68
Telah disebutkan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) bahwa bencana nuklir Fukushima Daiichi yang terjadi pada 11 Maret 2011 memiliki skala yang sama dengan bencana nuklir Chernobyl yang terjadi di Ukraina pada 26 April 1986. Berdasarkan International Nuclear and Radiological Event Scale (INES), bencana nuklir Fukushima Daiichi dan bencana nuklir Chernobyl berada pada level 7 atau bisa disebut major accident. Disebutkan dalam penelitian ini, meskipun memiliki level yang sama menurut INES, bencana nuklir Fukushima Daiichi memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan bencana nuklir Chernobyl. Meskipun bencana nuklir Fukushima Daiichi melibatkan kerusakan pada 4 reaktor dan bencana nuklir Chernobyl hanya pada 1 reaktor, namun jumlah radionuklida yang dikeluarkan oleh Chernobyl jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan Fukushima Daiichi. Kontaminasi terhadap lingkungan juga jauh berbeda karena jumlah kontaminasi radionuklida yang juga telah berbeda. Selain itu, banyaknya kampanye food safety pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi juga turut menyumbang pencegahan persebaran makanan dengan kandungan radionuklida di pasaran. Hal ini jauh berbeda dengan situasi yang berada di Chernobyl dulu yang masih mengkonsumsi makanan lokal (terutama susu) hingga muncul beberapa dampak kesehatan dan pemerintah yang terlambat untuk mengeluarkan kebijakan terkait peringatan konsumsi beberapa produk makanan xcvii.
commit to user
69
5. Merz, S., Shozugawa, K., & Steinhauser, G. (2015). Analysis of Japanese Radionuclide Monitoring Data of Food Before and After the Fukushima Nuclear Accident. Environmental Science &
Technology, 49(5), 2875–2885.
Disitasi sebanyak 89 kali.
Penelitian ini berfokus pada kontaminasi radionuklida pada makanan terutama setelah satu tahun pasca terjadinya bencana nuklir Fukushima Daiichi. Dijelaskan dalam penelitian ini bahwa tidak lama setelah bencana terjadi, tingkat radionuklida pada sayuran mengalami angka yang cukup tinggi tetapi bisa menurun dengan cepat sehingga pada awal musim panas 2011 hanya beberapa sample saja yang masih mengandung radionuklida diatas regulasi Pemerintah Jepang. Namun hal ini tidak berlangsung permanen, disebutkan bahwa jamur dan produk yang dikeringkan sempat mengalami kenaikan jumlah radionuklida kembali. Selain jamur, daging sapi yang sempat mencapai puncak tingkat radionuklida nya pada Juli 2011 dan kemudian menurun serta kembali berubah tinggi pada September 2011 xcviii. Pada akhir penelitiannya, peneliti mengkritik langkah Pemerintah Jepang yang menurunkan batas regulasi radionuklida pada makanan per April 2012.
Langkah ini dianggap sebagai langkah yang salah dan mendesak Pemerintah Jepang untuk mengembalikan batas regulasi ke batas lama demi terciptanya food safety pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi.
commit to user
70
6. Wada, T., Fujita, T., Nemoto, Y., Shimamura, S., Mizuno, T., Sohtome, T., … Igarashi, S. (2016). Effects of the nuclear disaster on marine products in Fukushima: An update after five years. Journal of Environmental Radioactivity, 164, 312–324.
Disitasi sebanyak 45 kali
Salah satu dampak terbesar dari Fukushima Daiichi adalah kontaminasi laut yang diakibatkan karena letak pembangkit listrik yang berada di pesisir pantai. Para peneliti secara berkala melakukan uji kelayakan pada hasil laut yang berada di sekitar PLTN Fukushima Daiichi untuk melihat tingkat radionuklida yang terkandung setelah bencana. Penelitian ini menunjukan update yang terjadi terhadap kontaminasi laut 5 tahun pasca bencana. Dijelaskan dalam penelitian bahwa tingkat radionuklida di laut sekitar Prefektur Fukushima telah menurun sejak 5 tahun terakhir. Karena adanya tingkat penurunan ini, angka percobaan penangkapan ikan juga meningkat sejak 2012. Angka yang menunjukan penurunan ini tidak lantas membuat ketakutan konsumen akan produk dari daerah terdampak bencana nuklir Fukushima Daiichi menjadi menghilang. Maka dari itu, di akhir penelitiannya, peneliti berharap Pemerintah Jepang untuk terus melakukan pemantauan terhadap kandungan radionuklida dengan lebih cermat, agar upaya rekonstruksi kegiatan perikanan di Prefektur Fukushima bisa dengan lekas membaik.
commit to user
71
7. Buesseler, K., Dai, M., Aoyama, M., Benitez-Nelson, C., Charmasson, S., Higley, K., … Smith, J. N. (2017). Fukushima Daiichi–Derived Radionuclides in the Ocean: Transport, Fate, and Impacts. Annual Review of Marine Science, 9(1), 173–203. doi:10.1146/annurev- marine-010816-060733
Disitasi sebanyak 122 kali
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi yang berada di pesisir pantai membuat mayoritas kandungan radionuklida bergerak dan berjatuhan ke permukaan Laut Pasifik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terutama pada para pengamat lingkungan tentang keberlangsungan ekosistem di laut. Penelitian ini menyajikan keadaan terkini terkait radionuklida dari PLTN Fukushima Daiichi yang dilepaskan ke laut di sekitar PLTN, dampak yang terjadi pada atmosfir dan kontaminasi yang berasal dari darat. Selain itu, jurnal artikel ini juga membahas tentang dampak yang terjadi pada biota laut dan kemudian penarikan kesimpulan dengan memperhatikan aspek kesehatan masyarakat dan aspek sosial yang merupakan dampak panjang dari bencana nuklir Fukushima Daiichi.
8. Vives i Batlle, J., Aoyama, M., Bradshaw, C., Brown, J., Buesseler, K.
O., Casacuberta, N., … Nishikawa, J. (2018). Marine radioecology after the Fukushima Dai-ichi nuclear accident: Are we better positioned to understand the impact of radionuclides in marine
commit to user
72
ecosystems? Science of The Total Environment, 618, 80–
92. doi:10.1016/j.scitotenv.2017.11.005
Disitasi sebanyak 11 kali
Penelitian ini didasarkan pada komplektisitas dampak yang ditimbulkan oleh bencana nuklir Fukushima Daiichi pada kehidupan biota laut. Peneliti memberikan kritik terhadap penelitian terdahulu yang tidak memperhatikan aspek-aspek spesifik sehingga situasi laut pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi tidak bisa diselidiki dengan baik. Penelitian terdahulu dianggap tidak memperhatikan aspek pemodelan yang pasti tentang radionuklida yang diserap oleh biota laut, assasement terhadap dampak radiologi serta evaluasi dari serapan air tanah terkontaminasi yang terus menerus bisa mencemari lautan xcix. Selain itu penelitian ini juga mengkritik pada penelitian yang telah ada terdahulu yang tidak terlalu memperhatikan kandungan Uranium-236 dan Isotop Plutonium (PU) c. Maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan penghitungan waterbone radionuclides pada sedimen di laut, biokinetic uptake, dan perubahan radionuklida serta dosis radiasi yang timbul karenanya ci. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan model yang pasti terkait penghitungan dampak bencana nuklir pada biota laut apabila kejadian seperti ini terjadi lagi dimasa mendatang.
9. Wada, T., Konoplev, A., Wakiyama, Y., Watanabe, K., Furuta, Y., Morishita, D., … Nanba, K. (2019). Strong contrast of cesium commit to user
73
radioactivity between marine and freshwater fish in Fukushima.
Journal of Environmental Radioactivity, 204, 132–
142. doi:10.1016/j.jenvrad.2019.04.006
Disitasi sebanyak 19 kali
Dampak negatif radioaktif dari bencana nuklir Fukushima Daiichi tidak hanya dikhawatirkan pada biota laut saja, tetapi ikan air tawar Prefektur Fukushima juga dikhawatirkan mengandung radionuklida, utamanya adalah radiocesium. Penelitian ini bertujuan untuk mengklarifikasi level kontaminasi radiocesium pada ikan laut dan ikan air tawar. Dalam hasilnya, peneliti berhasil mengambil kesimpulan bahwa ikan air laut memiliki kandungan radionuklida yang lebih sedikit karena penurunan intensitas transfer radiocesium pada rantai makanan dan kemampuan fisiologis ikan yang cenderung rendah untuk mempertahankan radiocesium cii. Sebaliknya, disebutkan bahwa ikan air tawar memiliki kandungan radiocesium yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan kontaminasi radiocesium pada rantai makanan (ikan air tawar cenderung memiliki mangsa yang berasal dari ekosistem hutan, yang mana telah banyak terpapar cesium 137) dan ukuran ikan (size effect) ciii.
E. Discourse di sosial media (Twitter dan YouTube)
Pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi, discourse juga terjadi pada kanal media sosial seperti Twitter dan YouTube. Sebagai aplikasi yang commit to user
74
menyediakan wadah untuk mengungkapkan emosi, gagasan bahkan informasi secara real-time, twitter banyak digunakan sebagai sarana penelitian discourse karena sifat dari twitter sendiri sebagai platform media sosial dimana semua orang akan berada pada titik atau derajat yang setara. Tidak adanya batas pada twitter membuat semua orang bisa dengan bebas menyebarkan dan mengakses informasi secara real-time.
Penelitian terkait kekuatan twitter telah banyak dilakukan seperti yang ditulis oleh Constance Duncombe dalam penelitiannya yang berjudul
“The politics of Twitter : Emotions and the power of social media” ia menyebutkan bahwa kekuatan dari twitter adalah pengguna yang bisa menulis pesan singkat untuk pengguna lainnya yang mana pesan tersebut tidak hanya bisa diakses oleh satu sama lain saja, tetapi juga bisa diakses oleh orang lain yang mengunjungi laman tersebut. Hal ini bisa membuat pengguna menghubungin siapa saja tidak terkecuali pimpinan politik dan membuat percakapan dinamis yang juga terbuka untuk dibaca siapa saja civ.
Discourse pasca bencana nuklir Fukushima Daiichi yang mengambil tempat di twitter telah diteliti oleh Seung-Hoi Kim, Yu-I Ha, Meeyoung Cha, Jiyon Lee, Byoung-Jik Kim, dan Dong-Myung Lee dalam jurnal artikelnya yang berjudul Public Discourse on Environmental Pollution and Health in Korea : Tweets Following the Fukushima Nuclear Accident. Dalam penelitiannya, mereka menganalisis sebanyak 158.964 tweet dalam bahasa Korea selama kurun waktu 1 Januari 2011 hingga 14 commit to user
75
Desember 2014 dengan pencarian menggunakan keywords : radioactive, radiation, nuclear power, dan variasi keywords lainnya.
Pencarian yang mereka lakukan menghasilkan 4 klasifikasi topik besar yang dibahas oleh pengguna twitter di Korea Selatan. 4 topik tersebut adalah Location (18,6%), Health (20,9%), Environment (23,3%) dan Nuclear Power (37,2%) cv. Angka tersebut telah secara tidak langsung memperlihatkan pola discourse yang terjadi pada pengguna media sosial twitter di Korea Selatan dalam menanggapi bencana nuklir Fukushima Daiichi.
Discourse melalui media audio visual seperti konten berita pada laman YouTube juga banyak mendapatkan perhatian dari publik Korea Selatan. Penulis menyajikan data dari salah satu segment channel berita JTBC (Insight) terkait pemberitaan terhadap bencana nuklir Fukushima Daiichi 5 tahun pasca bencana. Series ini di unggah dengan judul [스포트라이트] 끝나지 않은 재앙, 후쿠시마 5년 현장을 가다 (Unfinishied disaster, go to Fukushima 5 year-site) sebanyak 3 video dan [스포트라이트] 후쿠시마 사고 5년, 한국은 안전한가? (Five year after
the Fukushima accident, is Korea safe?) sebanyak 3 video. Total engagement dalam series ini mencapai 3.738.965 views dengan total komentar mencapai 9.644 komentar (data diambil pada tanggal 1 Oktober 2020).
commit to user
76
Narasi yang disajikan dalam series ini diantaranya membahas mengenai dampak radiasi pada lingkungan, termasuk pada laut disekitar Prefektur Fukushima, tingkat radioaktif di tanah dan juga dampak yang terjadi pada hewan-hewan ternak yang terpapar zat radioaktif secara internal maupun eksternal. Selain mengenai dampak yang terjadi pada lingkungan, series JTBC ini juga membahas mengenai air limbah radiasi yang menjadi concern masyarakat dan Pemerintah Korea Selatan terlebih lagi dengan adanya wacana Pemerintah Jepang dan TEPCO yang hendak mengalirkan air bekas limbah nuklir ke Laut Pasifik. Untuk memperkuat argumen, Spotlight melaksanakan penelitian dengan pendampingan Greenpeace dan beberapa NGO lokal dan internasional yang bergerak di bidang lingkungan. Series ini juga melakukan wawancara dengan penduduk asli Fukushima, peternak, dokter dan para ahli mengenai pendapat mereka terhadap efek radiasi pada lingkungan dan kesehatan. Beberapa scene dari Spotlight menyoroti bahwa hewan-hewan yang terpapar kontaminasi radiaoaktif telah mengalami penyakit misterius (dengan diperlihatkan kuda yang berada di peternakan yang berjarak 40 kilometer dari PLTN Fukushima Daiichi collapse dengan indikasi “penyakit karena radiasi”). Situasi yang diperlihatkan ini seolah kontradiktif dengan beberapa cuplikan klip mengenai pernyataan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe yang mengatakan bahwa makanan dari Fukushima telah aman untuk dikonsumsi serta seruan untuk kembali ke rumah dari Pemerintah Jepang untuk warga yang dahulu berada di zona evakuasi pasca bencana commit to user