KAJIAN IMPLEMENTASI KONSEP CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED) PADA KAWASAN PERUMAHAN DI PERKOTAAN
Bebas
125
0
0
Teks penuh
(2) i. KAJIAN IMPLEMENTASI KONSEP CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED) PADA KAWASAN PERUMAHAN DI PERKOTAAN Studi Kasus: Perumahan Taman Setiabudi Indah 1. SKRIPSI. OLEH. YULINDA EKA MAHWANI 140406081. DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019. Universitas Sumatera Utara.
(3) ii. KAJIAN IMPLEMENTASI KONSEP CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED) PADA KAWASAN PERUMAHAN DI PERKOTAAN Studi Kasus: Perumahan Taman Setiabudi Indah 1. SKRIPSI. Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Dalam Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Oleh. YULINDA EKA MAHWANI 140406081. DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019. Universitas Sumatera Utara.
(4) iii. PERNYATAAN. KAJIAN IMPLEMENTASI KONSEP CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED) PADA KAWASAN PERUMAHAN DI PERKOTAAN Studi Kasus: Perumahan Taman Setiabudi Indah 1. SKRIPSI. Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar pustaka.. Medan, 19 Juli 2019. (Yulinda Eka Mahwani) iv. Universitas Sumatera Utara.
(5) Universitas Sumatera Utara.
(6) v. Telah diuji pada Tanggal:. Panitia Penguji Skripsi Ketua Komisi Penguji. : Dr. Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc, IPM. Anggota Komisi Penguji. : 1. Hajar Suwantoro, ST., MT 2. Wahyuni Zahrah, ST., MS. Universitas Sumatera Utara.
(7) Universitas Sumatera Utara.
(8) vii. ABSTRAK Rumah sebagai tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan utama manusia, dengan fungsi sebagai tempat yang paling aman untuk manusia. Kebutuhan akan rasa aman merupakan aspek krusial untuk kehidupan manusia dan selanjutnya yang menjadi penghalang akan terpenuhinya kebutuhan ini adalah terjadinya tindak kejahatan yang bisa terjadi dimana saja termasuk di kawasan perumahan di perkotaan. Dengan segala kerugian yang bisa ditimbulkan dari terjadinya tindak kriminal, diperlukan sebuah upaya pencegahan pada kawasan perumahan di perkotaan dengan menerapkan konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED). Penelitian mengambil perumahan Tasbih 1 sebagai studi kasus sebagai salah satu kawasan perumahan terencana di kota Medan. Penelitian bertujuan untuk menguji penerapa teori CPTED pada kawasan perumahan Tasbih 1 dan menyusun strategi pengamanan berdasarkan konsep CPTED dan implementasinya di kawasan perumahan. Penelitian akan didasarkan terhadap variabel yang telah ditentukan, yakni elemen public space, footpaths, car parking, external lighting, landscaping, territoriality dan maintenance and target hardening. Untuk itu dilakukan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif yang diperoleh dari teknik pemetaan kawasan serta wawancara dan metode kuantitatif yang diperoleh dari tabel skoring dan peringkat pada setiap sampel penelitian. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini akan menunjukkan bagaimana kondisi penerpaan konsep CPTED pada kawasan perumahan Tasbih 1 Medan dengan rekomendasi penerapan konsep CPTED yang sesuai untuk kawasan perumahan di perkotaan.. Kata kunci: crime prevention through environmental design, kriminalitas, perkotaan, perumahan. Universitas Sumatera Utara.
(9) viii. ABSTRACT Home as a place to live is one of the main needs of humans, with its function as the safest place for them. The need for security is a crucial aspect for human life and the thing that will be a barrier to fulfill this need is the occurrence of crimes that can occur anywhere including in residential areas in urban areas. With all the losses that can result from criminal acts, a preventive effort is needed in urban housing areas by applying the concept of Crime Prevention through Environmental Design (CPTED). The study took Perumahan Tasbih 1 as a case study as one of the planned housing areas in Medan. The research aims to examine the implementation of the CPTED theory in the Perumahan Tasbih 1 and develop a security strategy based on the CPTED concept and its implementation in a residential area. Research will be based on predetermined variables, namely elements of public space, footpaths, car parking, external lighting, landscaping, territoriality and maintenance and target hardening. For this reason, descriptive research was conducted with qualitative methods obtained from regional mapping techniques as well as interviews and quantitative methods obtained from the scoring table and ranking in each study sample. The results obtained from this study will show how the conditions of the CPTED implementation in the Perumahan Tasbih 1 Medan with recommendations for the application of the CPTED concept that is suitable for urban housing.. Keywords: crime, crime prevention through environmental design, housing, urban area. Universitas Sumatera Utara.
(10) ix. KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dalam memenuhi kewajiban untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses penyusunan skripsi ini, yaitu: 1.. Bapak Marwan dan ibu Nursaniah, kedua orang tua penulis yang tidak pernah berhenti memberikan dukungan dalam berbagai bentuk, serta Muhammad Fadli dan Muhammad Rizki Khoiri, adik yang memberikan semangat bagi penulis. Serta keluarga besar yang senantiasa mendukung dan mendoakan penulis.. 2.. Ibu Dr. Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc., IPM selaku dosen pembimbing, bapak Hajar Suwantoro, ST., MT, dan ibu Wahyuni Zahrah, ST., MS selaku dosen penguji yang telah membantu penulis dengan bimbingan dan masukannya.. 3.. Ibu Dr. Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc., IPM selaku ketua Departemen Arsitektur, dan ibu Beny OY Marpaung, ST., MT., Ph.D selaku sekretaris Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, yang telah banyak memberikan kritik dan saran kepada penulis.. 4.. Seluruh dosen dan pegawai Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara yang turut membantu penyelesaian studi penulis.. Universitas Sumatera Utara.
(11) x. 5.. Teman-teman terdekat penulis, Syera, Tias, Rere, Iras, Lele, Redhe. Pinul, Niswa, Zili, Saras, Hani, Sonia, Febi, Ejak, Rofi, Odel, Akbar, Susu, Raudah, dan juga Putri yang selalu memberikan dukungan, semangat beserta doa.. 6.. Segenap stambuk 2014 yang telah berjuang bersama selama masa perkuliahan, dan kakak stambuk 2011, 2012, dan 2013, serta adik-adik stambuk 2015, 2016, dan 2017 yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu penulis dalam menyelesaikan studi.. 7.. Teman seperjuangan penulis selama proses penyusunan skripsi, Oki Wibowo Halim, Lidya Nathasia Napitupulu, Kenny Joe, dan Putri Ayu Nur Handayani.. 8.. Fandy Tjahya yang mendukung dan memberikan bantuan bagi penulis dalam melaksanakan penelitian.. 9.. Serta semua pihak yang telah menjadi motivasi dan inspirasi bagi penulis yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya di kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1.. Medan, 19 Juli 2019. Yulinda Eka Mahwani. Universitas Sumatera Utara.
(12) xi. DAFTAR ISI PERNYATAAN ................................................................................................................... iii ABSTRAK ............................................................................................................................. vii ABSTRACT ......................................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ix DAFTAR ISI.......................................................................................................................... xi DAFTAR TABEL ............................................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................... xvii DAFTAR DIAGRAM ........................................................................................................ xx BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ........................................................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah .................................................................................................. 5 1.3. Tujuan Penelitian ....................................................................................................... 5 1.4. Manfaat Penelitian..................................................................................................... 6 1.5. Sistematika Penelitian .............................................................................................. 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 8. Universitas Sumatera Utara.
(13) xii. 2.1. Latar Belakang Terbentuknya Konsep Crime Prevention Through Environmental Design ................................................................................................ 8 2.2. Konsep-konsep Crime Prevention Through Environmental Design ............ 14 2.2.1. Crime Prevention Through Housing Design Process—Site................. 19 2.2.1.1. Public Space ......................................................................................... 19 2.2.1.2. Footpaths ............................................................................................... 20 2.2.1.3. Car Parking........................................................................................... 21 2.2.1.4. External Lighting ................................................................................ 22 2.2.1.5. Landscaping ......................................................................................... 22 2.2.2. Teori CPTED Berdasarkan Pengawasan Bersama (Neighborhood Watch)................................................................................................................ 23 2.2.2.1. Access Control..................................................................................... 24 2.2.2.2. Natural Surveillance ........................................................................... 24 2.2.2.3. Territoriality Reinforcement ............................................................ 24 2.2.2.4. Maintenance and Target Hardening ............................................... 25 2.2.2.5. Support Activity .................................................................................. 25 2.3. Studi Banding ............................................................................................................ 26 2.4. Definisi Konseptual .................................................................................................. 27. Universitas Sumatera Utara.
(14) xiii. 2.4.1. Kajian Implementasi ...................................................................................... 27 2.4.2. Perumahan........................................................................................................ 28 2.4.3. Perkotaan .......................................................................................................... 28 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................................ 30 3.1. Jenis Penelitian .......................................................................................................... 30 3.2. Variabel Penelitian ................................................................................................... 31 3.3. Populasi/Sampel ........................................................................................................ 33 3.4. Metode Pengumpulan Data .................................................................................... 34 3.5. Metode Analisa Data................................................................................................ 36 BAB IV KAWASAN PENELITIAN ......................................................................... 45 4.1. Gambaran Umum Kawasan.................................................................................... 45 4.2. Profil Kawasan .......................................................................................................... 46 4.3. Aksesibilitas Kawasan Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 ....................... 47 4.4. Fasilitas Kawasan Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 ................................ 47 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 51 5.1. Penilaian Penerapan Konsep CPTED .................................................................. 51 5.1.1. Analisa Hasil Penelitian CPTED ........................................................ 52. Universitas Sumatera Utara.
(15) xiv. 5.1.1.1. Public Space ......................................................................................... 53 5.1.1.2. Footpaths ............................................................................................... 58 5.1.1.3. Car Parking........................................................................................... 63 5.1.1.4. External Lighting ................................................................................ 65 5.1.1.5. Landscaping ......................................................................................... 69 5.1.1.6. Territorial Reinforcement ................................................................. 73 5.1.1.7. Maintenance and Target Hardening ............................................... 74 5.2. Analisis Hubungan ................................................................................................... 85 5.3. Matriks Rekapitulasi Hasil Penelitian .................................................................. 87 BAB VI KESIMPULAN ................................................................................................ 90 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 97 LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara.
(16) xv. DAFTAR TABEL No. Judul. Hal. 1.1. Kasus tindak Kriminal yang terjadi di perumahan Indonesia .................... 2. 3.1. Variabel Penelitian ............................................................................................ 31. 3.2. Populasi dan Sampel ......................................................................................... 33. 3.3. Batasan Penelitian Konsep CPTED ............................................................... 37. 3.4. Keterangan Skor Penilaian Konsep CPTED ............................................... 40. 3.5. Nilai Tertinggi dan Terendah untuk Setiap Variabel................................. 41. 3.6. Kategori Skala Penilaian .................................................................................. 41. 3.7. Indikator Penilaian Kuisioner ......................................................................... 42. 3.8. Kategori Rekapitulasi Nilai Rata-rata Kuisioner ........................................ 43. 5.1. Hasil Skoring Penerapan Konsep CPTED pada Setiap Sampel ............. 52. 5.2. Nilai Rata-rata Aspek Kondisi Keamanan dengan/tanpa Portal pada. Setiap Sampel ..................................................................................................... 76 5.3. Nilai Rata-rata Aspek Kondisi Sistem Keamanan (Siskamling) pada. Setiap Sampel ..................................................................................................... 78 5.4. Nilai Rata-rata Aspek Kondisi Sistem Pembuangan Sampah pada Setiap. Sampel.................................................................................................................. 81 5.5. Nilai Rata-rata Aspek Interaksi Antar Warga pada Setiap Sampel ........ 84. Universitas Sumatera Utara.
(17) xvi. 5.6. Hubungan Antara Persepsi Keamanan dan Penerapan CPTED.............. 85. 5.7. Matriks Rekapitulasi Penilaian ....................................................................... 87. Universitas Sumatera Utara.
(18) xvii. DAFTAR GAMBAR No. Judul. Hal. 2.1. Nilai-nilai yang Diabaikan Jacobs Mengenai Konsep CPTED ............... 10. 2.2. Tabel Korelasi Spearman’s Rho oleh Siti dan Aldrin (2010) .................. 26. 3.1. Populasi dan Sampel ......................................................................................... 34. 4.1. Lokasi Penelitian ................................................................................................ 46. 4.2. Aksesibilitas Kawasan Penelitian .................................................................. 47. 4.3. Titik-titik Portal pada Perumahan Taman Setiabudii Indah 1 ................. 48. 4.4. Tipologi Hunian pada Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 .................. 48. 4.5. Sarana dan Prasarana pada Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 ......... 49. 4.6. Masjid dan Yayasan Pendidikan pada Perumahan Taman Setiabudi. Indah 1.................................................................................................................. 50 5.1. Sampel Penelitian .............................................................................................. 51. 5.2. Peta Analisa Public Space pada Lokasi Sampel 1...................................... 53. 5.3. Peta Analisa Public Space pada Lokasi Sampel 2...................................... 54. 5.4. Peta Analisa Public Space pada Lokasi Sampel 3...................................... 55. 5.5. Rekomendasi Peletakan Public Space........................................................... 57. Universitas Sumatera Utara.
(19) xviii. 5.6. Rekomendasi Outdoor Seating untuk Mempermudah Pengawasan. Alami .................................................................................................................... 58 5.7. Peta Analisa Footpaths pada Lokasi Sampel 1 ........................................... 59. 5.8. Peta Analisa Footpaths pada Lokasi Sampel 2 ........................................... 60. 5.9. Peta Analisa Footpaths pada Lokasi Sampel 3 ........................................... 61. 5.10. Rekomendasi Peletakan Polisi Tidur............................................................. 62. 5.11. Hunian yang Memiliki Garasi ......................................................................... 64. 5.12. Peta Analisa Titik Lampu pada Lokasi Sampel 1 ...................................... 65. 5.13. Peta Analisa Titik Lampu pada Lokasi Sampel 2 ...................................... 66. 5.14. Peta Analisa Titik Lampu pada Lokasi Sampel 3 ...................................... 67. 5.15. Rekomendasi Peletakan Lampu Jalan ........................................................... 68. 5.16. Penyesuaian Lampu Jalan dengan Gangguan Dahan ................................ 69. 5.17. Peta Analisa Tara Letak Vegetasi pada Lokasi Sampel 1 ........................ 70. 5.18. Peta Analisa Tata Letak Vegetasi pada Lokasi Sampel 2 ........................ 70. 5.19. Peta Analisa Tata Letak Vegetasi pada Lokasi Sampel 3 ........................ 71. 5.20. Rekomendasi Tata Letak Landscaping ......................................................... 72. Universitas Sumatera Utara.
(20) xix. 5.21. Jenis Tanaman Peneduh (Kiara Payung, Ketapang, Kersen)................... 73. 5.22. Hunian yang Sudah memiliki Pagar dan Garasi Sendiri........................... 73. Universitas Sumatera Utara.
(21) xx. DAFTAR DIAGRAM No. Judul. Hal. 5.1. Kondisi Keamanan Dengan/Tanpa Portal pada Lokasi Sampel 1 .......... 75. 5.2. Kondisi Keamanan Dengan/Tanpa Portal pada Lokasi Sampel 2 .......... 75. 5.3. Kondisi Keamanan Dengan/Tanpa Portal pada Lokasi Sampel 3 .......... 76. 5.4. Kondisi Sistem Keamanan (Siskamling) pada Lokasi Sampel 1 ............ 77. 5.5. Kondisi Sistem Keamanan (Siskamling) pada Lokasi Sampel 2 ............ 77. 5.6. Kondisi Sistem Keamanan (Siskamling) pada Lokasi Sampel 3 ............ 78. 5.7. Kondisi Sistem Pembuangan Sampah pada Lokasi Sampel 1 ................. 80. 5.8. Kondisi Sistem Pembuangan Sampah pada Lokasi Sampel 2 ................. 80. 5.9. Kondisi Sistem Pembuangan Sampah pada Lokasi Sampel 3 ................. 81. 5.10. Interaksi Antar Warga pada Lokasi Sampel 1 ............................................. 83. 5.11. Interaksi Antar Warga pada Lokasi Sampel 2 ............................................. 83. 5.12. Interaksi Antar Warga pada Lokasi Sampel 3 ............................................. 84. Universitas Sumatera Utara.
(22) 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sebagai tempat tinggal merupakan salah satu dari kebutuhan paling utama manusia, dengan fungsi sebagai tempat untuk kembali dari aktifitas seharihari, tempat bersantai dengan keluarga, tempat beristirahat, dan tempat untuk merasa aman. Sebagaimana yang disebutkan Abraham Maslow (1970) dalam teori Hierarchy of Need, kebutuhan akan rasa aman menempati urutan ke dua setelah kebutuhan fisik yakni kebutuhan akan pangan, sandang dan papan. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan keselamatan menjadi aspek yang penting dalam berlangsungnya hidup manusia. Selanjutnya yang menjadi penghalang akan terpenuhinya kebutuhan ini adalah terjadinya tindak kejahatan yang tentunya menyebabkan banyak kerugian. Sementara pada kenyataannya tindak kriminal selalu terjadi dengan waktu, tempat dan kasus yang berbeda-beda dan tidak jarang menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindari. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, angka tingkat kriminalitas yang terjadi di Indonesia pada tahun 2016 meningkat dari tiga tahun sebelumnya menjadi 357.197 kasus. Menurut Data Kriminalitas tahun 2017, provinsi Sumatera Utara menempati urutan pertama dalam wilayah yang rawan terjadi tindak kriminalitas di Indonesia, dan kota Medan menjadi urutan pertama kota paling tidak aman di Indonesia berdasarkan data survey Indonesia Research Center dengan angka keamanan hanya 3,2%.. Universitas Sumatera Utara.
(23) 2. Di kota-kota besar tindak kriminal bisa terjadi di berbagai tempat dimana manusia biasa melakukan aktifitas sehari-hari. Di ruang publik, kantor, instansi pendidikan, jalan raya, maupun di daerah perumahan. Begitu banyak kasus-kasus kriminal yang terjadi di kawasan perumahan di Indonesia. Berikut adalah contohcontoh kasus tindak kriminal yang terjadi di perumahan yang ditelusuri dari media daring; Tabel 1.1 Kasus tindak kriminal yang terjadi di perumahan di Indonesia. No. 1.. Lokasi. Kasus. Perumahan Royal Wahidin. Kasus pembunuhan seorang janda beranak. Blok E, Jalan Danau Batur. satu yang ditemukan tewas bersimbah darah. Kelurahan Sumber Mulyo. tanpa busana. Pelaku pembunuhan menikam. Rejo, Binjai Timur. korban dengan 18 tusukan di beberapa bagian tubuh dan 5 tusukan di bagian leher.. 2.. Perumahan kawasan. Perampokan denagn modus khusus hanya. Sunggal dan Helvetia, kota. mencari rumah yang kosong. Pertama. Medan. pelaku akan mengetuk pintu, apabila ada yang keluar, maka pelaku akan berpura-pura menawarkan kartu kredit atau menanyakan alamat. Kerugian yang didapat mencapai lebih dari 2 miliar rupiah.. Universitas Sumatera Utara.
(24) 3. Tabel 1.1 (Lanjutan). 3.. Perumahan Mutia Kirana,. Pencuri. menggunakan. dupikat. kunci. kota Bekasi. pengaman untuk mebobol rumah. Salah satu ruangan berantakan dan brankas uang terbuka. Kerugian mencapai 26 juta rupiah.. 4.. Perumahan komplek. Perampokan harta benda dengan modus. Medan Taman Setiabudi. mengambil. Indah, kota Medan. dengan merusak kuncinya lalu mengambil. dan. membongkar. brankas. barang-barang di dalamnya seperti uang dan emas. Pelaku sudah delapan kali beraksi di komplek Taman Setiabudi Indah. 5.. Perumahan komplek. Perampokan hasil brankas, perhiasan, surat. Medan Taman Setiabudi. tanah dan jam tangan.. Indah, kota Medan. Kasus-kasus di atas hanyalah beberapa contoh dari seluruh tindakan kriminalitas yang terjadi di kawasan perumahan. Dengan banyaknya kerugian yang ditimbulkan sampai merenggut nyawa seseorang, tentunya diperlukan cara untuk menghindari kejadian seperti ini terulang kembali dan meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh kejadian tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan tindakan kriminalitas di kawasan perumahan di perkotaan adalah dengan penerapan konsep Crime Prevention Through. Universitas Sumatera Utara.
(25) 4. Environmental Design (CPTED) yang mengkaji aspek-aspek dalam mencegah terjadinya tindak kejahatan di lingkungan aktifitas manusia dalam pendekatan desain. Seperti yang dilansir dari City Lab, Michael Friedrich (2018) mengatakan bahwa pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana ruang-ruang ini ditata dapat membantu kota-kota menghasilkan sumber daya yang dapat membantu untuk perkembangan kota dan berinvestasi dalam fitur desain juga meningkatkan potensi sebuah tempat dibandingkan menghabiskan lebih banyak uang untuk kebijakan-kebijakan setempat. Setelah melakukan analisa beberapa kasus kriminalitas yang terjadi di atas, ditemukan juga bahwa kejadian yang serupa juga terjadi di perumahan Taman Setiabudi Indah 1. Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 merupakan salah satu kawasan perumahan terencana yang terletak di kawasan berkembang di kota Medan. Terdapat beberapa kriteria sehingga kawasan ini diambil sebagai studi kasus, salah satunya adalah sistem keamanan yang berbeda-beda pada beberapa blok yang ada di perumahan ini dan pola penataan lingkungan yang diterapkan. Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 adalah salah satu perumahan terencana yang mempunyai sistem keamanan namun masih tidak dapat terhindar dari tindak kriminal yang terjadi. Dengan beberapa kasus di atas, maka diperlukannya strategi pencegahan tindakan kriminalitas yang tentunya lebih baik agar kejadian ini tidak terjadi lagi dan penghuni perumahan Taman Setiabudi Indah 1 dapat merasakan keamanan di rumah mereka sendiri.. Universitas Sumatera Utara.
(26) 5. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis membatasi pembahasan yang akan diteliti dalam rumusan masalah sebagai berikut: 1.. Bagaimana penerapan teori Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) pada kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1.. 2.. Bagaimana strategi pengamanan kawasan yang seharusnya diterapkan berdasarkan konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) di kawasan perumahan.. 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. Menguji penerapan teori Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) pada kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1. 2. Menyusun strategi pengamanan berdasarkan konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) dan implementasinya di kawasan perumahan.. Universitas Sumatera Utara.
(27) 6. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi: 1.. Untuk Developer Perumahan. Sebagai referensi merencanakan perumahan terencana yang menerapkan konsep CPTED sebagai sistem pengamanan kawasan berbasis desain. 2.. Untuk Masyarakat. Sebagai referensi sistem pengamanan dari tindak kriminalitas yang sesuai dan layak diterapkan pada kawasan perumahan di perkotaan.. Universitas Sumatera Utara.
(28) 7. 1.5. Sistematika Penelitian KAJIAN IMPLEMENTASI KONSEP CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED) PADA KAWASAN PERUMAHAN DI PERKOTAAN (Studi Kasus: Perumahan Taman Setiabudi Indah 1). LATAR BELAKANG Pentingnya strategi pencegahan tindakan kriminalitas seusia konsep CPTED demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan penghuni pada kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1. TINJAUAN PUSTAKA Perumahan, perkotaan, konsep Crime Preverntion Through Environmental Design (CPTED). VARIABEL Konsep CPTED; Design Site Housing. LOKASI KAJIAN Perumahan Taman Setiabudi Indah 1, Kota Medan. PENGUMPULAN DATA Studi literatur, obsevasi, kuesioner. ANALISA DATA Dilakukan secara deskriptif berdasarkan data-data yang diperoleh serta mengaitkan variabel yang ditetapkan. TEMUAN Rekomendasi implementasi konsep CPTED pada kawasan perumahan. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana penerapan teori Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) pada kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1. 2. Bagaimana strategi pengamanan kawasan yang seharusnya diterapkan berdasarkan konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) di kawasan. perumahan. TUJUAN PENELITIAN 1. Menguji penerapan teori CPTED pada kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1. 2. Menyusun strategi pengamanan berdasarkan konsep CPTED dan implementasinya di kawasan perumahan.. METODOLOGI Deskriptif kualitatif dan kuantitatif. KESIMPULAN DAN SARAN. Universitas Sumatera Utara.
(29) 8. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Latar Belakang Terbentuknya Konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) Istilah CPTED pertama kali dikenalkan oleh C. Ray Jeffery pada tahun 1971 dalam bukunya yang berjudul sama, Crime Prevention through Environmental Design. Jeffery (1971) berpendapat bahwa para sosiolog dan kriminolog terlalu melebih-lebihkan penyebab sosial dari sebuah tindak kejahatan tanpa memperhatikan keadaan faktor penentu lingkungan. Jeffery memperluas asumsi bahwa desain yang tepat dan penggunaan lingkungan yang efektif dapat menyebabkan pengurangan ketakutan akan kejahatan dan insiden kejahatan serta dapat meningkatkan kualitas kehidupan. Teori ini mengambil contoh yang serupa dengan sejarah pada dunia perawatan kesehatan, yang menekankan pentingnya perbaikan lingkungan. Hal ini telah terbukti secara signifikan mengubah situasi kesehatan dan harapan hidup di negara-negara barat dalam beberapa abad terakhir. Kemajuan besar dalam dunia kesehatan ini disebabkan oleh para insinyur dalam beberapa aspek seperti air bersih, dan sistem pembuangan limbah yang baik. Contoh lain dari gagasan di balik teori CPTED adalah pencegahan potensi kebakaran dan kecelakaan lalu lintas. Dari abad ke 16, potensi terjadinya kebakaran terus berkurang berkat perencanaan kota, dan arsitektur. Lalu pengurangan jumlah orang yang tewas dan terluka dalam insiden lalu lintas. Universitas Sumatera Utara.
(30) 9. sebagai hasil dari solusi teknis, perencanaan kota, dan desain jalan (arus lalu lintas, bundaran, polisi tidur, penutupan jalan, dan baru-baru ini konsep ruang komunal). Jane Jacobs (1961) berfokus pada tempat-tempat di mana kejahatan dilakukan dan karakteristik fisik dari tempat-tempat itu. Bagian penting dari teori Jacobs sederhana, seperti yang dikatakan Jacobs, jalanan tidak aman karena sepi. Masalah ini bisa diselesaikan dengan memberi tiga kualitas utama pada jalanan: . Batas yang jelas antara ruang publik dan pribadi.. . Harus ada mata di jalanan - mata penduduk dan mata orang yang baru saja lewat.. . Bangunan harus berorientasi ke jalan.. Jalanan harus digunakan terus menerus, baik untuk menambah jumlah pengawasan yang efektif juga untuk mengajak penghuni yang ada di gedung untuk mengawasi jalanan yang ada. Bagi Jacobs, pencegahan kejahatan dan pengawasan alami kurang lebih sama. Itu sebabnya dia menaruh harapan besar pada toko-toko malam, restoran, pub, bar, dan sejenisnya karena fasilitas seperti ini dapat menarik perhatian orangorang ke jalanan. Kemudian orang-orang akan memperhatikan jalanan yang ramai dan sibuk dan ni akan menghasilkan pengawasan alami dan tindakan kejahatan tidak akan terjadi. Pada titik ini teori Jacobs gagal dari sudut pandang kejahatan pencegahan. Beberapa temuan penelitian menunjukkan pub, bar, dan restoran pada malam hari. Universitas Sumatera Utara.
(31) 10. menjadi titik masalah tertentu (Ramsay, 1982). Seperti yang disebutkan sebelumnya, hal yang sama berlaku untuk pusat kota yang sibuk. Dalam pemikirannya, Jacobs jelas mengabaikan dua garis pemikiran lain yang juga berlaku (Gambar 2.1). Setelah itu, Jacobs tampaknya tidak hanya melebihlebihkan pengaruh pengawasan alami terhadap pelaku kejahatan; dia juga melebih-lebihkan pengaruh lingkungan fisik pada perilaku manusia. Menciptakan lebih baik peluang untuk pengawasan alami tidak secara otomatis menghasilkan kontrol efektif yang nyata.. Gambar 2.1 Nilai-nilai yang diabaikan Jacobs mengenai konsep CPTED (Sumber: Crime Prevention Through Environmental Design [p.235]). Pendekatan kedua untuk berada di bawah CPTED adalah teori Defensible Space oleh seorang arsitek bernama Oscar Newman. Newman menerbitkan bukunya secara independen dan pada waktu yang hampir bersamaan Jeffery (1972). Dalam bukunya Defensible Space (1972), Newman, seperti Jacobs, memegang melihat bahwa kejahatan dibiarkan berkembang karena desain perumahan mencegah warga melakukan kontrol informal terhadap lingkungan. Universitas Sumatera Utara.
(32) 11. mereka (Newman, 1973). Newman berpendapat, kontrol informal muncul terutama dari pengawasan alami, ditambah dengan perasaan teritorialitas jauh di dalam jiwa penghuni. Newman menyalahkan tata letak dan desain perumahan atas tingginya tingkat kejahatan yang terjadi. Dia berpandangan bahwa karakteristik arsitektur dan perencanaan kota, bangunan atau bangunan kompleks memiliki pengaruh langsung pada sifat dan luasnya kejahatan lokal (Newman, 1973). Konsep sentral Newman, disebut sebagai Defensible Space, termasuk empat elemen desain yang berbeda: Territorial Definition (Definisi Wilayah), Visibility/Surveillance (Visibilitas/Pengawasan), Stigmatization (Stigmatisasi), dan Adjacent Areas (Area yang Berdekatan). Keempat elemen ini berkontribusi baik secara individu dan bersama-sama untuk menciptakan keamanan lingkungan (Newman, 1972 dan 1973). . Territorial Definition Dengan menggunakan penghalang nyata atau simbolis, lingkungan hunian tertentu dapat dibagi lagi menjadi zona yang lebih mudah dikelola untuk penghuni, merangsang penghuni untuk mempunyai hak milik atas suatu wilayah. Poin utama di sini adalah transisi dari ruang pribadi (mudah dikelola) ke ruang publik (sulit dikelola).. . Visibility/Surveillance Warga harus dapat mensurvei apa yang terjadi di dan sekitar ruang publik di dalam dan di luar gedung. Ini salah satu syarat untuk territorial definition.. Universitas Sumatera Utara.
(33) 12. . Stigmatization Penggunaan material yang tepat, desain arsitektur yang baik, dan yang terakhir perencanaan struktural yang baik dapat mencegah penghuni bangunan atau kompleks agar tidak terlihat rentan dan distigmatisasi, karena keduanya dapat menyebabkan perasaan terisolasi.. . Adjacent Areas Keamanan daerah yang berdekatan sebagian ditentukan oleh lokasi geografis yang strategis dari fasilitas komunal yang digunakan secara intensif.. Newman membuktikan teorinya dalam dua cara. Pertama, dia melakukan analisis kejahatan di 133 kompleks perumahan umum di kota New York dengan menggunakan angka yang diperoleh dari Departemen Kepolisian Otoritas Perumahan Kota New York. Untuk sejumlah pelanggaran, angka-angka ini menunjukkan dengan tepat di mana pelanggaran dilakukan di dalam dan di sekitar kompleks perumahan. Lift terbukti menjadi lokasi paling berbahaya di dalam bangunan, diikuti oleh aula dan lobi, dan tangga. Namun Newman melampirkan bukti kedua pada teorinya, dengan membandingkan dua kompleks perumahan yang berdekatan. Salah satunya, menurut Newman, memiliki banyak fitur ruang pertahanan yang bagus; yang satu lagi tidak. Kejahatan tidak banyak dalam kompleks yang "baik", sedangkan kejahatan tinggi kompleks yang "buruk". Menurut Newman, perbedaan ini tidak. Universitas Sumatera Utara.
(34) 13. dapat dihilangkan karena perbedaan karakteristik penghuni dua kompleks (Newman, 1975). Newman dikritik keras atas dasar metodologi dan karena kegagalannya dalam mempertimbangkan asal sosial kontrol informal dan asal mula tindakan kejahatan. Terlepas dari kritik ini, gagasan Newman menjadi sangat populer di Amerika. Teori Jacobs dan Newman keduanya sangat penting dan mereka telah membawa diskusi ke perbatasan yang baru. Namun, Jacobs dan Newman membangun teori-teori mereka di atas pasir isap yang terdiri dari konsep pengawasan alami, atau kontrol informal. Kontruksi teoritis mereka menekankan pentingnya menciptakan kemungkinan fisik yang lebih baik untuk kontrol informal. Tetapi menciptakan kemungkinan itu sebenarnya tidak menghasilkan kontrol yang efektif dilakukan, karena: . Warga harus memanfaatkan kemungkinan yang diberikan (yang sering kali tidak mereka lakukan atau tidak mau melakukan).. . Pelaku kriminal harus memahami kontrol dan mereka tidak mampu "melarikan diri" (misalnya, dengan bersembunyi).. Crime Prevention through Environmental Design (CPTED) bukan lah konsep yang baru. Ungkapan ini diciptakan oleh C. Ray Jeffery pada tahun 1971, tetapi kontributor signifikan terhadap konsep CPTED terkenal kriminolog Timothy D. Crowe, seorang legenda dalam industri keamanan. Bukunya, Crime Prevention Through Environmental Design (1991), adalah sumber daya utama. Universitas Sumatera Utara.
(35) 14. bagi para praktisi pencegahan kejahatan di bidang industri keamanan untuk membantu mereka lebih memahami hubungan antara desain dan perilaku manusia. CPTED bukan disiplin reaktif. Sebaliknya, ini adalah pendekatan proaktif untuk memanipulasi lingkungan fisik dan membawa perilaku yang diinginkan dari kegiatan kriminal yang berkurang serta mengurangi rasa takut akan terjadinya tindak kejahatan. 2.2. Konsep-konsep Crime Prevention through Environmental Design (CPTED) Hanya sedikit orang yang memiliki gagasan yang jelas tentang sifat dan ruang lingkup sebenarnya dari tindak kejahatan dan perilaku kriminal. Definisi tindak kejahatan dikutip dari Kamus Baru Collegiate Webster memberikan beberapa wawasan tentang pemahaman masalah yang lebih luas. Menurut Webster, kejahatan adalah suatu tindakan atau komisi dari suatu tindakan yang dilarang atau dihilangkan dari kewajiban yang diperintahkan oleh hukum publik dan yang membuat pelaku dapat dihukum oleh hukum tersebut. Definisi ini memberikan deskripsi luas tentang tindak kejahatan yang mencakup perilaku yang dilarang serta perilaku atau tindakan yang diwajibkan oleh hukum. Aspek terkait penegakan hukum dan keamanan termasuk setidaknya enam fungsi utama. Sangat berguna untuk memeriksa setiap elemen secara individual untuk melihat kaitannya dengan pencegahan kejahatan:. Universitas Sumatera Utara.
(36) 15. 1.. Pencegahan kejahatan dalam konteks yang terbatas ini adalah proses penghapusan atau mengurangi peluang untuk melakukan pelanggaran atau penolakan akses ke target kejahatan.. 2.. Deteksi adalah proses kritis untuk memantau aktivitas dan fungsi masyarakat untuk mengumpulkan intelijen tentang kegiatan dan asosiasi pelanggar yang dikenal dan untuk mengidentifikasi dan menemukan aktivitas kriminal yang akan luput dari perhatian. Proses ini adalah dasar pencegahan kejahatan dan pengendalian kejahatan.. 3.. Penindasan. adalah. tindakan. atau. metode. menahan. atau. mengendalikan kegiatan pelaku kriminal. Contoh sederhana dari penindasan adalah pemantauan dan pengawasan ketat terhadap kebiasaan pelaku. Objek strategi pengendalian masyarakat ini adalah untuk mencegah kejahatan. 4.. Investigasi adalah prosedur tindak lanjut untuk memeriksa seorang penjahat insiden dengan tujuan menyelesaikan kejahatan dan menyelesaikan masalah. Kasus resolusi dan tindak lanjut korban adalah pencegahan kejahatan yang baik.. 5.. Pemahaman adalah langkah pertama dalam penerapan sanksi hukum untuk pelaku yang didakwa. Nilai-nilai tradisional menyerukan penggunaan pencegahan dan penindasan kejahatan, menggunakan penangkapan dan proses berturut-turut hanya di mana hukuman diperlukan.. Universitas Sumatera Utara.
(37) 16. 6.. Penuntutan adalah presentasi resmi dari fakta ke pengadilan dengan niat menyangkal hak dasar kebebasan individu karena kegiatan kriminal. Pengadilan digunakan di mana kontrol sosial lainnya gagal. Pencegahan kejahatan dapat ditingkatkan dengan memberikan dukungan khusus untuk penuntutan pelanggar peraturan yang telah terbukti melakukan pelanggaran.. Meskipun tindak kejahatan, atau ketakutan akan tindak kejahatan, dapat memiliki efek dramatis dan keterpurukan pada kehidupan masyarakat setiap hari, sering kali persepsi yang dimiliki oleh masyarakat berlebihan dan tidak akurat tentang sifat sejati dan tingkat kejahatan. Arsitek, perencana dan pengelola perumahan harus bekerja bersama dengan penduduk dan masyarakat setempat untuk mengembangkan gambaran yang akurat tentang apa yang terjadi dan untuk mencoba dan mengidentifikasi alasannya sesuatu masalah muncul, sebelum mereka dapat merumuskan solusi. Sebelum tahun 1980, sebagian besar informasi tentang kejahatan berasal statistik kejahatan resmi, yang hanya memasukkan kejahatan yang dilaporkan dan direkam oleh polisi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir lokal dan survei kejahatan nasional telah sangat meningkat. Konsep CPTED telah dan sedang digunakan di proyek perumahan umum. Properti sekolah dan universitas menggunakan aplikasi CPTED yang awalnya dirintis di Broward County, Florida, yang didanai oleh pemerintah federal. Ini hanyalah. masalah. melihat. lingkungan. dari. perspektif. yang. berbeda,. mempertanyakan segalanya, dan belajar dari berbagai profesi yang terlibat dalam. Universitas Sumatera Utara.
(38) 17. pengambilan keputusan tentang konsep ini. Mempelajari bahasa berarti mampu berkomunikasi dengan orang lain dan memahami tujuan mereka. Ini adalah alasan utama bahwa perencana CPTED dilatih untuk berbagi konsep dan mengajukan pertanyaan yang tidak akan dipikirkan orang lain. Ada banyak contoh aplikasi konsep CPTED. Penerapan konsep ini dimaksudkan untuk perancang memikirkan adaptasi terhadap pengaturan di lingkungan mereka sendiri. Tidak ada dua lingkungan yang memiliki strategi pengamanan yang persis sama, meskipun mungkin kawasan dengan fungsi yang sama. Karenanya, penerapan konsep CPTED harus menyesuaikan strategi yang paling masuk cocok untuk di setiap lokasi yang berbeda. Berikut adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam lingkungan rumah tinggal/residensial (Fennelly and Crowe, 2013); 1.. Access control. Memberikan penghalang aman untuk mencegah orang yang tidak berwenang untuk mengakses ke gedung, bangunan, dan / atau bangunan khusus.. 2.. Surveillance through physical design. meningkatkan peluang untuk pengawasan oleh mekanisme desain fisik yang berfungsi untuk meningkatkan risiko bagi pelanggar untuk terdeteksi.. 3.. Mechanical surveillance devices. Menyediakan tempat tinggal dengan perangkat keamanan untuk mendeteksi dan memberi sinyal upaya entri ilegal.. Universitas Sumatera Utara.
(39) 18. 4.. Design and construction. Merancang, membangun, dan / atau memperbaiki tempat tinggal dan perumahan untuk meningkatkan keamanan dan meningkatkan kualitas.. 5.. Land use. Menetapkan kebijakan untuk mencegah tanah yang keliru dan penggunaan bangunan yang berdampak negatif.. 6.. Resident action. Mendorong warga untuk menerapkan perlindungan sendiri untuk membuat rumah kurang rentan terhadap kejahatan.. 7.. Social interaction. Mendorong interaksi oleh penghuni untuk ditumbuhkan kohesi dan kontrol sosial.. 8.. Private security services. menentukan profesional yang direkrut sesuai dan / atau layanan warga untuk meningkatkan perumahan kebutuhan keamanan.. 9.. Police services. Meningkatkan layanan polisi untuk memberikan efisiensi danefektivitas.. 10. Police/community relations. Meningkatkan hubungan polisi / masyarakat untuk melibatkan warga dalam upaya kerja sama dengan polisi untuk mencegah dan melaporkan kejahatan. 11. Community awareness. Membuat pencegahan kejahatan lingkungan / kesadaran komunitas untuk membantu memerangi kejahatan di area perumahan. 12. Territorial identity. Membedakan area pribadi dari ruang publik untuk mencegah pelanggaran oleh pelaku tindak kriminal.. Universitas Sumatera Utara.
(40) 19. 2.2.1. Crime Prevention Through Housing Design, Design Process—Site Selama proses desain, arsitek dan perencana harus menyadari konsekuensi keamanan jangka panjang dan jangka pendek keputusan mereka. Dalam jangka pendek mereka harus memastikan bahwa proses peningkatan sesederhana mungkin. Prinsip-prinsip ini perlu diterapkan pada setiap aspek desain. Dalam jangka panjang mereka perlu mempertimbangkan bagaimana perbaikannya. Ini akan melibatkan perancangan untuk mengurangi jumlah perawatan yang diperlukan dan untuk melakukan perbaikan dan penggantian yang sederhana dan murah. 2.2.1.1. Public Space Pengalaman menunjukkan bahwa ruang komunal biasanya hanya berfungsi jika dikelola oleh atau atas nama penghuni yang menggunakannya, tetapi ini tidak berarti bahwa ketentuan seperti itu harus selalu dihindari. Ruang komunal terkadang sesuai, dan ada banyak kasus di mana tidak mungkin untuk mengubahnya menjadi milik pribadi atau ruang public (mis. area komunal dalam blok). Setiap ruang publik harus berada di bawah pengawasan dari tempat tinggal di sekitarnya. Secara tradisional, penyediaan area bermain telah dikaitkan dengan perumahan umum, meskipun beberapa pengembang swasta menjadi terlibat dalam apa yang sebelumnya milik umum. Jika kawasan direncanakan dengan culs-de-sac dan melalui jalan menggabungkan langkah-langkah 'menenangkan lalu lintas', anak-anak akan didorong untuk bermain di jalanan dan langkah-langkah yang. Universitas Sumatera Utara.
(41) 20. tepat harus diambil untuk memastikan bahwa ketentuan yang memadai dibuat sehingga mereka tidak akan didorong untuk bermain-main dengan mobil yang diparkir. Bermain di area disediakan mereka harus tetap di bawah pengawasan alami, meskipun tidak terlalu dekat dengan tempat tinggal. 2.2.1.2. Footpaths Harus ada sejumlah jalan setapak yang digunakan dengan baik dan cukup terang, idealnya yang jauh dari sejumlah tempat tinggal atau pintu masuk gedung. Kendaraan yang melintas juga dapat menyediakan pengawasan kasual pada jalan setapak di samping jalan dan menjadikannya jaminan keamanan untuk pejalan kaki, asalkan beberapa langkah diambil untuk memastikan kecepatan dan volume kendaraan berkurang. Di mana mengakses rute jangan menghasilkan banyak titik macet. Dalam perkembangan baru, jalan setapak yang tidak perlu, terutama yang tidak mengikuti rute kendaraan dan yang mungkin membiarkan penyusup dengan akses yang tidak teramati dan melarikan diri rute melalui dan di sekitar kawasan, harus dihindari. Jika pilihan tata letak membuat jalan setapak terpisah diperlukan, mereka harus dijaga tetap dekat, langsung dan terang menyala dengan baik Gang yang panjang dan gelap harus dihindari dengan cara apa pun. Proporsi vandalisme yang tinggi dapat dikaitkan dengan orang yang memakai jalan pintas di antara jalur sirkulasi. Perubahan arah harus dihindari, dan di mana barang-barang seperti tempat sampah atau dinding rendah sebaiknya tidak digunakan untuk mengubah arah. Perubahan material, level, atau lansekap. Universitas Sumatera Utara.
(42) 21. bisa digunakan untuk menghasilkan perubahan gerakan yang menarik dan logis; lansekap dan penanaman yang terkait dengan jalan setapak harus memperkuat keamanan. Sebagai aturan umum lansekap tidak boleh melebihi satu meter di mana berbatasan dengan trotoar, sehingga memastikan bahwa itu tidak menghalangi pencahayaan atau 'semak' karena akan membentuk tempat persembunyian. 2.2.1.3. Car Parking Ketentuan parkir untuk penghuni harus ditempatkan sedekat mungkin untuk pemilik tempat tinggal, untuk memastikan pengawasan mobil yang diparkir. Jika mungkin parkir mobil harus terletak di garasi individu dalam kurungan tempat tinggal, dengan pendekatan dan pintu masuk yang terlihat oleh penghuni. Posisi garasi mobil seharusnya tidak mengaburkan pandangan umum. Di mana tidak ada alternatif untuk penyediaan area yang lebih luas parkir jalan umum komunal harus dibagi menjadi kelompok kecil. Kelompok ini harus berada di luar jalan, pribadi, dan cukup terang di bawah pengawasan dan sedekat mungkin dengan tempat tinggal. Kompleks parkir dan lapangan garasi terpencil jauh dari ruang terlindung di mana anak-anak bisa bermain atau penjahat bisa menyerang, terutama karena daerah seperti itu jarang di bawah pengawasan. Namun, beberapa sumber berpendapat bahwa di mana komponen parkir dan pintu masuk terletak di bawah pengawasan alam maka fakta bahwa ini ruang pribadi, tidak untuk digunakan. Universitas Sumatera Utara.
(43) 22. sebagai area bermain, menjadi jelas. Di mana pun berada, semua pintu garasi harus memiliki baut dan kunci. 2.2.1.4. External Lighting Penting. untuk. mempertimbangkan. jenis,. intensitas,. dan. lokasi. pencahayaan. Keseragaman pencahayaan adalah penting dan perawatan harus dilakukan untuk memastikan bahwa alat kelengkapan lampu diatur untuk mendapatkan distribusi yang merata atas suatu area. Cahaya yang dibiaskan ke wajah orang lain membantu identifikasi dari kejauhan, dan sangat penting di daerah seperti tempat parkir bawah tanah dan trotoar pejalan kaki. Oleh karena itu lampu harus ditempatkan di sepanjang dinding dan bukan di langit-langit. Lampu sorot yang intens mungkin menawarkan efek jera, tetapi juga bisa membuatnya efek „Colditz‟ yang keras yang menurut penghuni mungkin menindas. Penting untuk menyediakan lingkungan yang aman. Dimana ada konflik kepentingan antara kendaraan dan pejalan kaki, kebutuhan pejalan kaki harus mendapat prioritas. Misalnya tinggi lampu jalan monokromatik cocok untuk jalan tetapi kemungkinan besar untuk memberikan pencahayaan yang tidak memadai untuk jalan setapak dan dapat membuat bayangan di mana pejalan kaki bisa terdeteksi keberadaannya pada malam hari. 2.2.1.5. Landscaping Lansekap memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan menyenangkan. Namun, area yang ditanam seringkali tidak dirawat. Universitas Sumatera Utara.
(44) 23. dengan baik atau dirusak. Lansekap tidak boleh mengurangi visibilitas pejalan kaki, juga tidak harus menciptakan area terpencil untuk penyusup mengintai. Lansekap dan penanaman harus dikaitkan dengan jalan setapak yang memperkuat keamanan dan sebagai aturan umum tidak boleh melebihi 1 m apabila berbatasan dengan trotoar. Semak dan pohon yang tumbuh lebih tinggi harus dihindari di daerah yang pintu pagar, pintu masuk dan jendela. Menerobos masuk akan dapat dilakukan dengan relatif mudah oleh pelaku kejahatan di belakang tanaman yang tinggi dan padat. Untuk keamanan umum bangunan, pohon tidak boleh memberi penyembunyian dan semua yang berada di lokasi kritis haruslah spesies tanpa cabang di bawah 1,5 m. 2.2.2. Teori CPTED berdasarkan pengawasan bersama (Neighborhood Watch) Teori CPTED pada prinsipnya mengungkapkan bahwa suatu tindak kriminal lebih cenderung terjadi pada kawasan dengan tingkat pengawasan yang rendah. Hal ini yang mendasari pelaksanaan CPTED dengan memaksimalkan desain. lingkungan. yang. bersifat. “mengawasi”.. Konsep. ini. berusaha. meminimalisasi peran keamanan petugas secara formal melalui pertanyaan yang berlebihan terhadap orang luar (intimidasi) dan penggunaan gerbang yang terlalu mencolok (tidak ramah). Pelaksanaan CPTED dilakukan berdasarkan 5 komponen utama, yaitu:. Universitas Sumatera Utara.
(45) 24. 2.2.2.1. Access Control Dapat dilakukan dengan cara membatasi akses tanpa mengurangi koneksitas antar bagian lingkungan perumahan, pembatasan akses dengan cara membatasi jumlah jalan masuk dan keluar (maksimal 2), merancang jalan lingkungan yang mendorong kendaraan agar memperlambat kecepatannya, melakukan penanaman pohon atau elemen arsitektur seperti kolom-kolom yang bertujuan mengarahkan orang (nonpenghuni) menuju pintu masuk dan menghalanginya ke area privat, membuat jalur jalan di lokasi yang aman untuk pedestrian dan merancang batasannya dengan tegas. 2.2.2.2. Natural Surveillance Dapat dilakukan dengan cara dekat dengan fasilitas keamanan (kantor polisi/pos satpam), menghindari penataan lingkungan yang justru menciptakan ruang yang tidak jelas dan tempat-tempat tersembunyi, meletakkan ruang terbuka hijau dan area rekreasi yang dekat dan terawasi dari hunian dan jalan, pemanfaatan lampu penerangan jalan, khususnya di sepanjang jalur pedestrian yang sering digunakan (ramai) pada malam hari. 2.2.2.3. Terrioriality Reinforcement Perkuatan teritorial seperti merancang tatanan lahan, hunian dan jalan yang bersifat membangkitkan interaksi antar penghuni, memberikan aksen pada pintu masuk dengan pengelompokan nama, perbedaan material, perubahan level jalan dan rancangan arsitektural serta lansekap lainnya, penomoran unit-unit hunian dengan angka arab (minimal tinggi angka 3 inch dan lebar 0,5 inch) yang jelas. Universitas Sumatera Utara.
(46) 25. sehingga mudah terlihat dari jalan, membuat garis tegas atas kepemilikan unit hunian dengan pagar, tanaman dan lainnya untuk mengarahkan akses pejalan kaki. 2.2.2.4. Maintenance and Target Hardening Bentuk penjagaan seperti pos jaga dan portal, pembatasan terhadap ruang dan fasilitas umum, penghadiran petugas keamanan, pengaturan parkir yang mengharuskan penempatan kendaraan di dalam kawasan rumah. Lokasi yang memperlihatkan bahwa terdapat upaya untuk memelihara lingkungan, seperti tidak adanya sampah yang berserakan, minimnya tingkat vandalisme, serta upaya perawatan lingkungan dari masyarakat akan memberikan citra bahwa lingkungan tersebut masih ada tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Kesadaran masyarakat yang tinggi akan lingkungan juga akan memperlihatkan adanya upaya perlindungan terhadap tindak kriminal. Pelaku tindak kriminal akan lebih cenderung memilih lokasi sasaran tindak kriminal dengan citra lingkungan yang masyarakatnya cenderung memiliki tingkat kesadaran lingkungan yang rendah. 2.2.2.5. Support Activity Adanya support activity berupa rambu-rambu atau signage pada ruang publik tidak memberikan pengaruh yang besar pada upaya pencegahan tindak kriminalitas. Pelaku tindak kriminal akan melihat aspek-aspek lain terkait dengan upaya keamanan yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya dari segi pengawasan (surveillance) seperti misalnya ada tidaknya pengawasan baik secara alami dari masyarakat sekitar, ada tidaknya perangkat pengamanan atau CCTV, adanya portal dengan penjagaan dari petugas keamanan, dsb.. Universitas Sumatera Utara.
(47) 26. 2.3. Studi Banding Sebelumnya telah dilakukan banyak penelitian tentang bagaimana penerapan Crime Prevention through Environmental Design (CPTED) pada kawasan perumahan maupun perkotaan sebagai strategi pencegahan tindak kriminalitas. Salah satunya yang telah dilakukan oleh Siti Rasidah Md Sakip dan Aldrin Abdullah (2010) yang meneliti bagaimana penerpaan konsep CPTED pada perumahan berpagar di jalan Burmah di Bukit Jambul, Penang, Malaysia. Siti dan Aldrin (2010) menganalisa hubungan antara Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) dengan komponen Fear of Crime (FOC) dan Sense of Community (SOC), dengan fokus pada aspek Support Activity. Korelasi diantara semuanya diukur dengan menggunakan metode tes korelasi Spearman‟s rho.. Gambar 2.2 Tabel korelasi Spearman‟s Rho oleh Siti dan Aldrin (2010) (Sumber: Measuring Crime Prevention through Environmental Design in a Gated Residential Area: A Pilot Survey. [p.345]). Penelitian ini membuktikan bahwa ditemukan kelemahan dari penerapan program komunitas yang ditujukan untuk membangun interaksi antar komunitas. Universitas Sumatera Utara.
(48) 27. pada area ini. Kelemahan ini disebabkan oleh kurangnya antusiasme dari warga sekitar area perumahan. Disamping itu, ada beberapa area perumahan yang berbagi area komunal dengan blok-blok lain untuk tujuan rekreasi. Keadaan ini diperparah dengan fakta bahwa ruang terbuka ini berjarak jauh di antara satu dan lainnya. Situasi ini menyebabkan terbentuknya pembatasan untuk para penghuni untuk mengambil bagian dalam aktifitas rekreasi. Secara umum, menggunakan kuisioner untuk mengukur reaksi responden terharap komponen CPTED adalah efektif dan sensistif dalam waktu yang bersamaan. Cara ini memudahkan untuk mengetahui hubungan antara banyak variabel penelitian yang telah ditentukan. 2.4. Definisi Konseptual 2.4.1. Kajian Implementasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kajian berasal dari kata dasar „kaji‟ yang artinya pelajaran atau penyelidikan tentang sesuatu. Sementara kajian adalah hasil mengkaji. Menurut Nurdin Usman (Usman, 2002: 70) dalam bukunya dengan judul Konteks. Implementasi. Berbasis. Kurikulum. mengemukakan. pendapatnya. mengenai implementasi atau pelaksanaan. Implementasi adalah nermuara pada aktivitas, aksi, tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, implemantasi bukan sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan. Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci.. Universitas Sumatera Utara.
(49) 28. Dapat disimpulkan bahwa kajian implementasi adalah hasil studi penerapan dari sebuah aturan-aturan terhadap sesuatu yang akan maupun yang sudah direncanakan 2.4.2. Perumahan Berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Pemukiman. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan. Menurut Abrams (1964) perumahan merupakan salah satu bentuk sarana hunian yang memiliki kaitan yang sangat erat dengan masyarakatnya. Hal ini berarti perumahan di suatu lokasi sedikit banyak mencerminkan karakteristik masyarakat yang tinggal di perumahan tersebut. 2.4.3. Perkotaan Di dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 disebutkan bahwa kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.. Universitas Sumatera Utara.
(50) 29. Kerangka Konsep. Crime Prevention Through Environmental Design. Public Space. Footpaths. Car Parking External Lighting. Landscaping Terriotorial Reinforcement. Maintenance and Target Hardening. Kajian Implementasi Konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) pada Kawasan Perumahan di Perkotaan. Universitas Sumatera Utara.
(51) 30. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Kajian Implementasi Konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) pada Kawasan Perumahan di Perkotaan yakni di Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 dilakukan untuk mengidentifikasi penerapan strategi pengamanan berdasarkan konsep CPTED yang selanjutnya dapat dijadikan pertimbangan dalam upaya pengembangan strategi pengamanan pada kawasan perumahan guna meningkatkan rasa aman bagi para penghuni. Untuk dapat mengetahui sejauh mana penerapan konsep CPTED yang dikaji, diperlukan indikator penilaian untuk mengetahui implementasi konsep CPTED pada kawasan perumahan serta pengamatan langsung di perumahan Taman Setiabudi Indah 1. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif guna menjawab pertanyaan bagaimana penerapan konsep CPTED pada kawasan perumahan. Penelitian bersifat studi kasus karena mengambil suatu kasus nyata yang terjadi di lapangan dan memperoleh suatu solusi dari masalah yang terjadi. Penelitian menggunakan metode analisis campuran, dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang menghasilkan suatu kesimpulan dari kasus yang diamati. Pendekatan kualitatif merupakan analisa deskriptif yang berdasarkan hasil observasi dan pemetaan kondisi lapangan, sedangkan pendekatan kuantitatif merupakan penelitian berbasis angka-angka yang diperoleh.. Universitas Sumatera Utara.
(52) 31. 3.2. Variabel Penelitian Sugiyono (2009) menyatakan bahwa variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel dalam penelitian ini sebelumnya telah dikaji melalui tinjauan pustaka terkait penerapan konsep crime prevention pada kawasan perumahan. Dari tinjauan yang dilakukan, adapun indikator dari variabel tersebut disimpulkan dari indikator yang telah diperoleh dari studi pustaka sebelumnya ditunjukan pada tabel berikut; Tabel 3.1 Variabel penelitian. No. 1.. 2.. Teori Aspek-aspek desain. Variabel Public space. Sub-variabel a. Lokasi public space. pencegahan. b. Akses public space. kriminalitas pada. c. Area parkir public space. kawasan perumahan berdasarkan konsep. Footpaths. a. Kontrol akses masuk dan keluar kawasan. CPTED oleh Dr. Paul. b. Letak jalan utama. Stollard pada buku. c. Letak trotoar. Crime Prevention. d. Pos jaga. Through Housing. e. Portal/pagar. Design (1990). f. Polisi tidur. Universitas Sumatera Utara.
(53) 32. Tabel 3.1 (Lanjutan). 3.. Car Parking. a. Lokasi parkir penghuni b. Lokasi parkir pengunjung non-penghuni. 4.. External Lightinga. Tersedianya lampu jalan b. Intensitas cahaya lampu jalan. 5.. Landscaping. a. Tata letak vegetasi b. Jenis vegetasi. 6.. Konsep CPTED oleh. Territorial. Lawrence Fennelly. Reinforcement. and Timothy Crowe pada buku Crime Prevention Through. a. Hunian yang memiliki pagar tersendiri b. Keseragaman material dan style antar hunian c. Penomoran rumah yang jelas. Environmental Design (2013) 7.. Maintenance & a. Adanya kegiatan Target Hardening pemeliharaan lingkungan b. Sistem siskamling dan pengangkutan sampah. Universitas Sumatera Utara.
(54) 33. 3.3. Populasi/Sampel Sugiyono (2011) menyatakan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteritik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Berdasarkan pengertian di atas, maka populasi yang diambil pada penelitian ini adalah keseluruhan kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1. Untuk lokasi sampel penelitian dimabil dari teknik Cluster Random Sampling, yakni dengan mengambil sampel berdasarkan area tertentu. Dalam hal ini sampel diambil berdasarkan area cluster dengan perbedaan jumlah instalasi portal yang terpasang. Tabel 3.2 Populasi dan Sampel. No. 1.. Populasi Perumahan Indah 1. Taman. Sampel Setiabudi 1. Cluster 1 (Blok VV, TT, SS, UU) 2. Cluster 2 (Blok RR) 3. Cluster 3 (Blok D, E). Universitas Sumatera Utara.
(55) 34. Gambar 3.1 Populasi dan Sampel (Sumber: Olahan Pribadi). Arikunto (2012) menyatakan bahwa apabila populasi kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar, maka dapat diambil antara 10-25% atau 20% - 50% atau lebih tergantung sedikit banyaknya populasi. Populasi x 10% = sampel 540 x 10% = 54 sampel 3.4. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur, observasi lapangan dan kuisioner.. Universitas Sumatera Utara.
(56) 35. 1. Studi literatur Studi Literatur merupakan suatu proses pengkajian akan referensi teori yang relefan dengan kasus yang sedang diteliti. Studi literatur dapat menjadi landasan dan acuan untuk memulai sebuah penelitian. Sumber literatur dapat berupa tulisan-tulisan dari buku, jurnal, ataupun hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. 2. Teknik Observasi dan Pemetaan Wilayah Observasi adalah salah satu teknik yang dilakukan dalam penelitian, berupa sebuah aktivitas yang dilakukan terhadap suatu proses atau objek dengan tujuan memahami dan merasakan pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan teori yang sudah diketahui. Teknik Observasi dilakukan dengan survey dan mengamati kondisi kualitas eksisting studi kasus yakni bagaimana kualitas ruang public koridor jalan, lokasi parkir, pencahayaan eksterior maupun penataan tanaman pada kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1. Selain itu juga ditinjau bagaimana keadaan penguatan wilayah dan perawatan terhadap sarana dan prasarana pencegahan tindak kriminalitas yang terdapat di perumahan Taman Setiabudi Indah 1. Setelahnya dilakukan pemetaan dengan menandai letak-letak elemen variabel untuk mempermudah proses penelitian. Dengan dilakukannya pengamatan ini, diharapkan dapat disimpulkan dengan jelas tentang kondisi kualitas eksisting.. Universitas Sumatera Utara.
(57) 36. 3. Kuisioner Data yang diperoleh melalui kuisioner ini diperlukan guna mengidentifikasi variabel maintenance and target hardening di dalam penerapan konsep Crime Prevention Through Environmental Design pada kawasan perumahan. Pertanyaan yang diajukan sudah sesuai dengan indikator dari.kajian yang telah dilakukan Penyebaran kuisioner dilakukan untuk memperoleh penilaian yang objektif karena dengan teknik ini penulis dapat mencari informasi yang tidak terlihat oleh observasi maupun studi dokumentasi dan literasi. 3.5.. Metode Analisa Data Analisis dilakukan terhadap data fisik dan non fisik yang telah didapatkan. dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Data-data fisik diperoleh dari teknik observasi lapangan dengan merekap daftar ceklis elemen fisik dengan mengambil dari konsep CPTED yang telah dijadikan variabel penelitian yang menunjukkan bagaimana implementasi konsep CPTED pada perumahan Taman Setiabudi Indah 1. Metode tersebut telah diterapkan pada penelitian sejenis oleh Linda Puspita Sari (2012).. Universitas Sumatera Utara.
(58) 37. Berikut adalah tabel batasan penilaian penerapan konsep CPTED pada kawasan perumahan: Tabel 3.3 Batasan penilaian konsep CPTED. No. Variabel. 1.. Public Space. Sub-Variabel. Indikator. Lokasi public Dekat, yakni berada satu jalan space. Bobot 3. dengan dengan hunian (akses langsung) Sedang, yakni public space. 2. berada di jalan yang berbeda, namun masih satu zona dengan hunian Jauh, yakni public space berada. 1. di zona yang berbeda dengan hunian Akses public. Khusus penghuni komplek. 2. space. Untuk penghuni komplek dan. 1. umum Area parkir. Public space memiliki area parkir. 2. tersendiri Area parkir public space di. 1. daerah hunian (misalnya di depan hunian). Universitas Sumatera Utara.
(59) 38. Tabel 3.3 (Lanjutan). 2.. Footpaths. Kontrol akses Hanya ada satu akses keluar dan masuk dan. 2. masuk kawasan komplek. keluar Ada lebih dari satu akses keluar. 1. dan masuk kawasan komplek Letak jalan utama. Jauh, yakni hunian berada di. 3. zona yang berbeda dengan jalan utama komplek Sedang, yakni hunian berada. 2. tidak jauh dari jalan utama komplek Dekat, yakni hunian berada di. 1. areal jalan utama komplek Trotoar. Pos jaga. Portal. Polisi tidur. Ada dan berfungsi. 3. Ada dan tidak berfungsi. 2. Tidak ada. 1. Ada dan berfungsi. 3. Ada dan tidak berfungsi. 2. Tidak ada. 1. Ada dan berfungsi. 3. Ada dan tidak berfungsi. 2. Tidak ada. 1. Ada dan berfungsi. 3. Ada dan tidak berfungsi. 2. Tidak ada. 1. Universitas Sumatera Utara.
(60) 39. Tabel 3.3 (Lanjutan). 3.. 4.. Car Parking. Parkir. 50% - 100% Penghuni memiliki. penghuni. garasi sendiri. 3. 25% - 50%. 2. 0% - 25%. 1. Parkir. Ada dengan lokasi khusus. 3. pengunjung. Ada tanpa lokasi khusus (di. 2. non-. pinggir jalan). penghuni. Tidak ada. 1. External. Tersedianya. Ada dan berfungsi. 3. Lighting. lampu jalan. Ada dan tidak berfungsi. 2. Tidak ada. 1. 50% - 100% hunian terkena. 3. Intensitas. cahaya lampu intensitas cahaya lampu jalan. 5.. Landscaping. 25% - 50%. 2. 0% - 25%. 1. Tata letak. Ada dan tidak mengganggu. 2. vegetasi. pandangan ke daerah hunian Ada dan mengganggu pandangan. 1. ke daerah hunian Jenis vegetasi Pepohonan tanpa cabang dengan. 3. tinggi kurang dari atau sama dengan 1.5 m Pepohonan tidak bercabang. 2. dengan tinggi lebih dari 1.5 m atau pepohonan bercabang dengan tinggi kurang dari 1,5 m Pepohonan bercabang dengan. 1. tinggi lebih dari 1.5 m. Universitas Sumatera Utara.
(61) 40. Tabel 3.3 (Lanjutan). 6.. Territorial. Keseragaman. 0% - 25% hunian memiliki. Reinforceme. material dan. material dan style hunian yang. nt. style hunian. identic. 3. 25% - 50%. 2. 50% - 100%. 1. Hunian. 50% - 100% hunian dilengkapi. 3. dengan pagar. dengan pagar tersendiri. tesendiri. 25% - 50%. 2. 0% - 25%. 1. Hunian. 50% - 100% hunian memiliki. 3. dengan. penomoran yang jelas. penomoran. 25% - 50%. 2. yang jelas. 0% - 25%. 1. Lalu sesuai dengan indikator yang telah ditentukan pada setiap variabelnya, akan dilakukan sistem skoring dan peringkat untuk setiap sampel penelitian. Setelah itu silakukan analisis kuantitatif berdasarkan hasil skoring tersebut untuk menarik kesimpulan sementara. Tabel 3.4 Keterangan skor penilaian konsep CPTED. Skor. Keterangan. 1. Kurang. 2. Cukup. 3. Baik. Universitas Sumatera Utara.
(62) 41. Lalu setelah ditentukannya konversi penilaian dengan peringkat yang ada, maka ditentukan nilai tertinggi dan terendah untuk setiap variabel. Misalnya aspek public space memiliki tiga (3) indikator penelitian, maka apabila nilai baik dan diberi skor tiga (3) berarti nilai tertinggi untuk variabel public space adalah 3 x 3 poin = 9 poin. Begitu pula dengan variabel yang lain. Tabel 3.5 Nilai tertinggi dan terendah untuk setiap variabel. Nilai. Konsep CPTED. (3)Baik. (2) Cukup. (1)Kurang. Public space. 9. 6. 3. Footpaths. 18. 12. 6. Car parking. 6. 4. 2. External lighting. 6. 4. 2. Landscaping. 6. 4. 2. Territorial reinforcement. 9. 6. 3. 54. 36. 18. Dengan acuan pada tabel di atas, maka ditentukan sklaa penilaian menjadi lima kategori sehingga lebih terperinci. Tabel 3.6 Kategori skala penilaian. Sangat baik. 42 – 54. Baik. 37 – 41. Cukup. 22 – 36. Kurang. 11 – 21. Tidak baik. 0 – 10. Universitas Sumatera Utara.
(63) 42. Skala penilaian ini dapat digunakan untuk menerjemahkan skor nilai penerapan konsep CPTED di masing-masing sampel sehingga pembahasannya lebih kualitatif. Sistem CPTED tidak terlepas dari kehadiran penghuni, oleh karena itu, perlu adanya penilaian elemen fisik tersebut dari sudut pandang penghuni kompleks untuk kemudian dijadikan pertimbangan di akhir penelitian. Data ini didapatkan dari kuesioner yang dibagikan kepada para penghuni setiap sampel penelitian. Hasil kuesioner digunakan sebagai acuan penilaian persepsi keamanan penghuni. Adapun nilai skala likert yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1.. Kurang baik. 2.. Cukup baik. 3.. Sangat baik Tabel 3.7 Indikator penilaian kuisioner. Variabel. Maintenance and Target hardening. Indikator. Data yang diperlukan. Metode. Kondisi. Kualitas keamanan pada. Kuisioner. keamanan. setiap sampel dengan atau. dengan/tanpa. tanpa adanya portal. portal Sistem siskamling Kualitas dan bagaimana. Kuisioner. sistem siskamling yang diterapkan pada setiap sampel. Universitas Sumatera Utara.
(64) 43. Tabel 3.7 (Lanjutan). Sistem. Kualitas dan bagaimana. pembuangan. sistem pembuangan sampah. sampah. yang diterapkan pada setiap. Kuisioner. sampel Interaksi antar. Kualitas interaksi antar. warga. warga yang terjadi pada. Kuisioner. setiap sampel. Setiap indikator kemudian dicari rata-ratanya untuk menyederhanakan hasil rekapitulasi kuisioner yang telah dibagikan. Tabel 3.8 Kategori rekapitulasi nilai rata-rata kuisioner. Nilai. Keterangan. 3. Sangat aman. 2 - 2.99. Cukup aman. 1 - 1.99. Kurang aman. Kompilasi setiap nilai yang didapatkan oleh setiap indikator kemudian akan dirata-daratakan kembali dengan skala penilaian yang sama seperti pada tabel di atas. Setelah didapatkan nilai rata-ratanya, kemudian dilakukan analisis hubungan antara penerapan konsep CPTED yang telah diterpakan dengan persepsi rasa aman penghuni yang tinggal di perumahan Taman Setiabudi Indah 1. Apabila masing-masnng penilaian mendapatkan nilai yang sama dan tidak bertolak belakang, maka hubungan anatra penerapan CPTED dan persepsi rasa aman penghuni, maka dinyatakan ada hubungan positif.. Universitas Sumatera Utara.
(65) 44. Hasil analisa yang dilakukan bertujuan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan yakni, implementasi konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) pada kawasan perumahan di perkotaan.. Universitas Sumatera Utara.
(66) 45. BAB IV KAWASAN PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Kawasan Lokasi penelitian terletak di kawasan perumahan Taman Setiabudi Indah 1, atau yang biasa dikenal dengan Perumahan Taman Setiabudi Indah 1, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara. Lahan eksisting terletak di jalan Arteri Ring Road Kota Medan. Terletak di daerah kawasan berkembang Kota Medan. Dengan luas mencapai 1.146.649,78 m², Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 merupakan salah satu perumahan terencana dengan kawasan yang luas yang terdapat di kota Medan yang memiliki sarana ruang publik dan pengelolaan tata guna lahan dengan fungsi yang cukup lengkap. Adapun kawasan penelitian ini dibatasi oleh: . Utara. : Jalan Perjuangan. . Selatan. : Jalan Kenanga Raya/Perumahan Bukit Hijau Regency. . Timur. : Jalan Setiabudi. . Barat. : Kawasan Komersil Ringroad. Universitas Sumatera Utara.
(67) 46. Lokasi penelitian. Gambar 4.1 Lokasi penelitian (Sumber: https://www.google.com/maps/search/medan +tasbih/). 4.2. Profil Kawasan Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 merupakan proyek dari PT. Ira Building yang mulanya bernama PT. Ira Corporation, pada tahun 1983, lalu berganti nama menjadi PT. Ira Widya Utama pada tahun 1986. Proyek Taman Setiabudi Indah 1 mulai dibangun pada tahun 1985, namun karena krisis moneter yang terjadi pada 1997, proyek ini sempat terhenti dan dilanjutkan kembali pada tahun 2000. Developer dari perumahan ini bernama Yopie S Batubara, yang pernah menjadi Konsul Kehormatan Sri Lanka di Sumatera Utara pada tahun 2003. Ia adalah pengusaha yang bernaung dalam PT.Ira Widya Utama & Group 1984-2004 dan PT Sarana Modal Sumut Ventura 2004. Rencana perencanaan perumahan Taman Setiabudi Indah 1 ini akan terus berjalan karena proses pembeliannya tidak dimulai denngan membeli rumah, namun membeli lahan. Sehingga lahan kosong yang masih tersedia di perumahan Taman Setiabudi Indah bisa terus digunakan untuk proses pengembangan. Universitas Sumatera Utara.
(68) 47. perumahan. Pada tahun 2003, jumlah unit hunian yang tercatat di perumahan Taman Setiabudi Indah 1 adalah sebanyak 2800 unit. 4.3. Aksesibilitas Kawasan Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 memliki tiga pintu akses masuk, yakni akses utama dari jalan Setiabudi, akses dari jalan arteri Ringroad, dan akses dari jalan Perjuangan. Jarak yang ditempuh untuk mencapai ke lokasi, jika diurut dari Univeristas Sumatera Utara, yakni sejauh 4,3 km atau setara dengan perjalanan 15 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Untuk mencapai ke lokasi, juga bisa menggunakan moda transportasi umum seperti angkutan umum. Kondisi jalan raya telah menggunkan aspal dan cukup lebar, dan kondisi jalan di kawasan perumahan pun baik dengan menggunakan paving block.. Gambar 4.2 Aksesibilitas kawasan penelitian (Sumber: https://www.google.com/maps/dir/usu/komplek+tasbih/). 4.4.. Fasilitas Kawasan Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 Perumahan Taman Setiabudi Indah 1 merupakan salah satu perumahan. terencana dengan kawasan yang luas yang terdapat di kota Medan yang memiliki sarana ruang publik dan pengelolaan tata guna lahan dengan fungsi yang cukup. Universitas Sumatera Utara.
(69) 48. lengkap. Terdapat lebih dari 2800 unit rumah dengan tipologi rumah yang beragam. Mulai dari rumah tinggal berlantai 1 sampai berlantai 3, hingga ruko.. Gambar 4.3 Titik-titik portal pada perumahan Taman Setiabudi Indah 1 (Sumber: Olahan Pribadi). Gambar 4.4 Tipologi Hunian pada perumahan Taman Setiabudi Indah 1 (Sumber: Dokumentasi Pribadi). Universitas Sumatera Utara.
(70) 49. Sarana dan prasarana yang tersedia di perumahan ini cukup lengkap, mulai dari area komersil yang tersebar di beberapa area. Area komersil ini berupa supermarket, food park, hingga ATM center. Lalu tersedia juga lapangan sepak bola, lapangan golf dan driving range, serta kolam renang.. Gambar 4.5 Sarana dan prasarana pada perumahan Taman Setiabudi Indah 1 (Sumber: Dokumentasi Pribadi). Universitas Sumatera Utara.
Dokumen terkait