• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3. Matriks rekapitulasi hasil penelitian

Setelah hasil analisa penerapan konsep CPTED dijabarkan secara detil pada subbab sebelumnya, berikut adalah tabel matriks rekapitulasi penilaian penerapan konsep CPTED pada perumahan Taman Setiabudi Indah 1.

Tabel 5.7 Matriks rekapitulasi penilaian

Konsep CPTED Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3

Tabel 5.7 (Lanjutan)

Tabel 5.7 (Lanjutan)

BAB VI KESIMPULAN

Perumahan merupakan salah satu tempat yang paling sering dijadikan oleh pelaku tindak kriminal untuk melakukan aksi kejahatan. Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, maka penulis menyimpulkan bahwa:

1. Skor terakhir dalam penerapan konsep CPTED dan dampaknya terhadap rasa aman penghuni dari ketiga lokasi sampel yang diambil dari perumahan Taman Setiabudi Indah 1 yakni lokasi sampel 1 dengan skor 2.11 (cukup aman) pada rasa aman penghuni dan 41 (baik) pada penerapan konsep CPTED. Lokasi sampel 2 mendapatkan skor 2.21 (cukup aman) pada rasa aman penghuni dan 38 (baik) pada penerapan konsep CPTED dan lokasi sampel 3 dengan skor 1.91 (tidak aman) pada rasa aman penghuni dan 35 (cukup) pada penerapan konsep CPTED.

2. Pada aspek public space, lokasi sampel 1 mendapatkan skor 6 dengan penempatan public space di tengah-tengah hunian warga dan memilki akses yang terbatas, namun tidak ada parkir yang disediakan khusus untuk pengguna public space. Pada lokasi sampel 2 yang mendapatkan skor 3 dengan tidak tersedianya public space yang berfungsi. Lalu pada lokasi sampel 3 mendapatkan skor 7 dengan penempatan public space yang berada di tengah-tengah hunian warga dan memilki akses yang hanya dapat digunakan oleh warga sekitar, namun juga tidak disediakan tempat parkir khusus untuk pengguna public space.

Peletakan public space seharusnya berada di dekat hunian dan dapat mempermudah pengawasan warga terhadap lingkungan sekitar. Penambahan outdoor seating dapat mempermudah warga untuk melakukan pengawasan dan menambah aspek kenyamanan.

3. Pada aspek footpaths, lokasi sampel 1 mendapatkan skor 11 dengan lokasi yang berdekatan dengan jalan utama namun tidak memungkinkan untuk terciptanya jalan pintas karena area sampel 1 dibatasi dengan portal pembatas.

Terdapat 3 akses masuk dan keluar yang masing-masingnya dilengkapi dengan pos jaga, namun trotoar dan polisi tidur tidak tersedia pada lokasi ini.

Pada lokasi sampel 2 yang mendapatkan skor 12 dengan lokasi yang berdekatan dengan jalan utama namun tidak memungkinkan untuk terciptanya jalan pintas. Terdapat hanya satu akses masuk dan keluar yang dijaga oleh petugas keamanan. Tidak terdapat trotoar dan hanya sedikit polisi tidur yang juga tidak membantu mengurangi kecepatan kendaraan yang berlalu lalang. Lalu pada lokasi sampel 3 mendapatkan skor 6 dengan lokasi yang berdekatan dengan jalan utama dan lokasi sering dijadikan sebagai jalan pintas karena tidak ada portal yang membatasi akses masuk. Setidaknya terdapat sembilan akses masuk dan keluar dan tidak tersedianya trotoar, pos jaga maupun polisi tidur pada lokasi ini.

Penyediaan pos jaga dan portal pembatas dapat meningkatkan keamanan lingkungan komplek namun memakan biaya yang cukup banyak. Altternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan polisi tidur sebagai alat

yang dapat mengurangi kecepatan kendaraan yang melintas di lingkungan warga.

4. Pada aspek car parking, masing-masing lokasi sampel 1, 2, dan 3 mendapatkan skor 5 dengan masing-masing lokasi memilki hunian yang sudah dilengkapi dengan area parkir penghuninya sendiri, yakni garasi rumah yang dapat mencakup satu atau dua mobil. Namun, tidak disediakan area parkir khusus untuk tamu non-penghuni sehingga menyebabkan kendaraan tamu memarkirkan kendaraannya di sisi jalan yang memungkinkan untuk mengurangi visibilitas warga untuk melakukan pengawasan alami.

Memiliki garasi sebagai tempat parkir kendaraan sendiri merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan keamanan terhadap benda kepemilikan masing-masing. Sebaiknya disediakan lahan parkir khusus untuk kendaraan tamu non-penghuni agar tidak mengganggu kenyamanan dan proses pengawasan warga.

5. Pada aspek external lighting, lokasi sampel 1 dengan skor 5 menghasilkan area yang cukup gelap dengan hanya 31% hunian yang terkena paparan cahaya dari lampu jalan yang sudah tersebar hampir di seluruh area komplek.

Pada lokasi sampel 2 dengan skor 5 menghasilkan area yang juga cukup gelap dengan hanya 47% hunian yang terkena paparan cahaya. Pada lokasi sampel 3 dengan skor 6 sudah menghasilkan daerah yang cukup terang dengan 61%

hunian terkena paparan cahaya lampu jalan. Ini juga disebabkan oleh letak

sampel 3 yang berdekatan dengan area komersil yang membutuhkan penerangan yang cukup.

Pemerataan lampu jalan dapat dilakukan dengan menempatkan lampu jalan secara selang-seling. Lalu hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah tinggi tiang lampu, jarak antar tiang dan tingkat lumen/LUX lampu yang digunakan agar intensitas cahaya yang didapatkan lebih maksimal.

6. Pada aspek landscaping, lokasi sampel 1 dengan skor 5 menghasilkan area dengan tata letak vegetasi yang cukup baik dengan pepohonan yang tidak mengganggu visibilitas penghuni. Pada lokasi sampel 2 dengan skor 4 menghasilkan area dengan tata letak vegetasi yang cukup baik, namun masih terdapat beberapa area yang pepohonannya masih mengganggu visibilitas penghuni. Pada lokasi sampel 3 dengan skor 2 menghasilkan daerah yang cukup rindang namun masih banyak pepohonan tinggi yang mengganggu visibilitas warga terhadap lingungan sekitar.

Penataan vegetasi yang baik adalah yang tidak menghalangi visibilitas warga terhadap lingkungannya. Pepohonan rindang dan tinggi lebih baik diletakkan di tepi halaman dan tanaman jenis semak yang tingginya kurang dari 1.5 m dapat diletakkan di depan halaman. Selain itu pemilihan jenis tanaman dengan volume dahan yang kecil dapat membantu intensitas penerangan lampu menjadi lebih maksimal.

7. Pada aspek territorial reinforcements, lokasi sampel 1, 2, dan 3 mendapatkan skor 9 dengan masing-masing hunian yang terdadpat di seluruh lokasi

memilki style dan penggunaan material yang berbeda-beda. Lalu setiap hunian sudah diberikan pagar tersendiri dan sudah memiliki penomoran yang jelas. Penemuan lainnya adalah pada lokasi sampel 3, rumah-rumah yang berbatasan langsung dengan jalan utama cenderung memilki pagar yang lebih tinggi daripada rumah-rumah lainnya yang berada agak jauh dari jalan utama.

Perbedaan material dan styel tiap hunian merupakan suatu bentuk kepedulian penghuni terhadap rumahnya sendiri. Selain itu pemberian pagar merupakan salah satu langkah yang baik untuk meningkatkan keamanan di dalam rumah.

8. Pada aspek maintenance and target hardening, lokasi sampel 1 mendapatkan skor rata-rata 2.21 pada aspek pos jaga dan portal dengan 21.4% warga menyatakan sangat aman dan 78.6% lainnya menyatakan cukup aman tinggal di area yang dibatasi portal dan pos jaga. Pada lokasi sampel 2 mendapatkan skor rata-rata 2.00 dengan 100% warga menyatakan cukup aman tinggal di area yang dibatasi portal dan pos jaga pada bagian depan yang berbatasan langsung dengan jalan utama. Lalu untuk lokasi sampel 3 mendapatkan skor rata-rata 1.79 dengan 78.6% warga menyatakan cukup aman dan 21.4%

warga menyatakan kurang aman tinggal di area yang sama sekali tidak dibatasi oleh portal atau pos jaga.

9. Selanjutnya pada aspek sistem keamanan/siskamling, lokasi sampel 1 mendapatkan skor rata-rata 2.11 dengan 10.7% warga menyatakan bahwa sistem siskamling berjalan dengan sangat baik dan 89.3% lainnya menyatakan cukup baik. Pada lokasi sampel 2 mendapatkan skor rata-rata

2.17 dengan 16.7% menyatakan sistem siskamling berjalan dengan sangat baik pada area ini dan 83.3% lainnya menyatakan cukup baik. Pada lokasi sampel 3 mendapatkan skor 2.00 dengan 100% warga menyatakan sistem siskamling berjalan dengan cukup baik pada area ini.

Sistem siskamling merupakan pilihan yang baik apabila suatu area tidak memiliki pos jaga atau portal pembatas di areanya. Petugas yang berkeliling secara rutin juga merupakan salah satu bentuk pengawasan atas tindak kriminalitas yang kemungkinan dapat terjadi.

10. Pada aspek sistem pembuangan sampah, lokasi sampel 1 mendapatkan skor 2.11 dengan 10.7% warga menyatakan sistem pembuangan sampah berjalan dengan sangat baik dan 89.3% lainnya menyatakan cukup baik. Pada lokasi sampel 2 mendapatkan skor 2.08 dengan 8.3% warga menyatakan sistem pembuangan sampah berjalan dengan sangat baik di lokasi ini dan 91.7%

lainnya menyatakan cukup baik. Pada lokasi sampel 3 mendapatkan skor 2.00 dengan 100% warga menyatakan sistem pembangan sampah berjalan dengan cukup baik di lokasi ini.

Lingkungan yang bersih menandakan bahwa warga masih peduli dengan lingkungannya sehingga pelaku tindak kriminal akan berpikir dua kali untuk melakukan aksinya. Selain itu pengadaan kegiatan seperti gotong royong sebaiknya dilakukan secara rutin karena selain dapat meningkatkan kebersihan lingkungan, juga dapat membantu interaksi yang berlangsung antar warga.

11. Yang terakhir yakni aspek interaksi antar warga, lokasi sampel 1 mendapatkan skor rata-rata 2.00 dengan 100% warga menyatakan interaksi antar warga yang terjadi di lokasi ini berlangsung cukup baik. Pada lokasi sampel 2 mendapatkan skor rata-rata 2.58 dengan 66.7% warga menyatakan interaksi antar warga yang terjadi berlangsung sangat baik, 25% warga menyatakan cukup baik, dan 8.3% lainnya menyatakan tidak baik. Pada lokasi sampel 3 mendapatkan skor rata-rata 1.86 dengan 85.7% warga menyatakan interaksi antar warga yang terjadi berlangsung cukup baik dan 14.3% lainnya menyatakan tidak baik.

Interaksi antar warga yang baik dapat meningkatkan pengawasan alami yang terjadi antar tetangga. Interaksi antar warga dapat ditingkatkan dengan adanya kegiatan rutin yang melibatkan warga sekitar seperti gotong royong, pengajian dan kegiatan rohani, atau pun penyuluhan tentang bahaya tindak kriminalitas dan pencegahannya.