HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Penilaian Penerapan Konsep CPTED
5.1.1. Analisa hasil penilaian CPTED
5.1.1.7. Maintenance and target hardening
Setelah lima aspek sebelumnya dinilai beradasarkan pengamatan langsung oleh peneliti, maka untuk aspek maintenance and target hardening didata dengan menggunakan kuesioner. Dengan data yang diperoleh untuk mengetahui persepsi keamanan oleh penghuni.
Pos jaga/portal
Bentuk penjagaan seperti pos jaga dan portal, pembatasan terhadap ruang dan fasilitas umum, penghadiran petugas keamanan, pengaturan parkir yang mengharuskan penempatan kendaraan di dalam kawasan rumah (Fennelly and Crowe, 2013). Portal dan pos jaga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kondisi keamanan pada sebuah lingkungan.
Dengan adanya portal yang dapat membatasi siapa saja yang bisa memilki akses untuk masuk dan keluar suatu kawasan dapat mempengaruhi rasa aman yang dirasakan oleh penghuni.
Diagram 5.1 Kondisi keamanan dengan/tanpa portal pada lokasi sampel 1
Diagram 5.2 Kondisi keamanan dengan/tanpa portal pada lokasi sampel 2 Kondisi keamanan dengan/tanpa portal
(Sampel 1)
Sangat aman Cukup aman Kurang aman
Kondisi keamanan dengan/tanpa portal (Sampel 2)
Sangat aman Cukup aman Kurang aman 78.6%
21.4%
100%
Diagram 5.3 Kondisi keamanan dengan/tanpa portal pada lokasi sampel 3
Sampel 1 menujukkan 21.4% (6 dari 28 suara) warga menyatakan bahwa kondisi keamanan dengan/tanpa adanya portal sudah sangat baik, dan 78.6% (22 dari 28 suara) lainnya menyatakan cukup baik. Pada sampel 2, 100% (12 suara) warga menyatakan bahwa kondisi keamanan dengan/tanpa adanya portal sudah cukup baik. Lalu pada sampel 3, sebanyak 78.6% (11 dari 14 suara) menaytakan bahwa kondisi keamanan dengan/tanpa portal sudah sangat baik dan 21.4% (3 dari 14 suara) lainnya menyatakan kurang baik.
Tabel 5.2 Nilai rata-rata aspek kondisi keamanan dengan/tanpa portal pada setiap sampel Lokasi sampel Nilai rata-rata
Sampel 1 2.21
Sampel 2 2.00
Sampel 3 1.79
Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa kawasan yang aksesnya dibatasi dengan portal pernghalang (sampel 1 dan 2) membuat warga merasa cukup aman tinggal di kawasan tersebut. Lalu dengan kawasan yang tidak dibatasi
Kondisi keamanan dengan/tanpa portal (Sampel 3)
Sangat aman Cukup aman Kurang aman 21.4%
78.6%
portal penghalang membuat warga merasa tidak aman tinggal di kawasan tersebut dengan nilai rata-rata 1.78.
Sistem siskamling
Selanjutnya cara yang lain dalam meningkatkan keamanan kawasan adalah dengan adanya sistem khusus penjagaan keamanan seperti siskamling. Sistem seperti ini akan membantu apabila pengawasan alami dari penghuni dinilai masih kurang (Fennelly & Crowe, 2013).
Diagram 5.4 Kondisi sistem keamanan (siskamling) pada lokasi sampel 1
Diagram 5.5 Kondisi sistem keamanan (siskamling) pada lokasi sampel 2 Sistem siskmaling
(Sampel 1)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik
Sistem siskmaling (Sampel 2)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik 89.3%
10.7%
16.7%
83.3%
Diagram 5.6 Kondisi sistem keamanan (siskamling) pada lokasi sampel 3
Sampel 1 menujukkan 10.7% (3 dari 28 suara) warga menyatakan bahwa sistem keamanan (siskamling) sudah sangat baik, dan 89.3% (25 dari 28 suara) lainnya menyatakan cukup baik. Pada sampel 2, 16.7% (2 dari 10 suara) warga menyatakan bahwa sistem keamanan (siskamling) sudah csangat baik dan 83.3% (10 dari 12 suara) lainnya menayatakan cukup baik. Lalu pada sampel 3, sebanyak 100% (14 suara) menyatakan bahwa sistem keamanan (siskamling) sudah cukup baik.
Tabel 5.3 Nilai rata-rata aspek kondisi sistem keamanan (siskamling) pada setiap sampel
Lokasi Nilai rata-rata
Sampel 1 2.11
Sampel 2 2.17
Sampel 3 2.00
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa sistem siskamling yang berjalan di masing-masng sampel mendapatkan nilai rata-rata cukup baik. untuk sampel 3, dengan tidak adanya portal, sistem siskamling yang baik dapat
Sistem siskmaling (Sampel 3)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik 100%
Perbedaan dari ketiga sampel ini terletak pada sistem siskamlingnya.
Untuk sampel 1, petugas siskamling merupakan warga di luar komplek yang disediakan oleh pihak developer perumahan. Sementara untuk sampel 2 dan 3, petugas siskamling merupakan warga di luar komplek yang dibiayai oleh iuran warga komplek itu sendiri.
Sistem siskamling yang berjalan dengan baik merupakan salah satu alternatif yang baik dalam menjaga keamanan lingkungan apabila tidak adanya fungsi portal pembatas dan pos jaga khusus. Sistem keamanan ini akan berkeliling mengecek kondisi rumah-rumah yang kosong, atau pun dapat menghentikan kegiatan mencurigakan yang terjadi pada sebuah perumahan. Petugas sistem siskamling dapat berupa orang luar komplek yang dibayar dangan iuran atau warga komplek itu sendiri.
Sistem pembuangan sampah
Lokasi yang memperlihatkan bahwa terdapat upaya untuk memelihara lingkungan, seperti tidak adanya sampah yang berserakan, minimnya tingkat vandalisme, serta upaya perawatan lingkungan dari masyarakat akan memberikan citra bahwa lingkungan tersebut masih ada tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan (Fennelly & Crowe, 2013).
Diagram 5.7 Kondisi sistem pembuangan sampah pada lokasi sampel 1
Diagram 5.8 Kondisi sistem pembuangan sampah pada lokasi sampel 2 Sistem pembuangan sampah
(Sampel 1)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik
Sistem pembuangan sampah (Sampel 2)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik 10.7%
89.3%
8.3%
91.7%
Diagram 5.9 Kondisi sistem pembuangan sampah pada lokasi sampel 3
Sampel 1 menujukkan 10.7% (3 dari 28 suara) warga menyatakan bahwa sistem pembuangan sampah sudah sangat baik, dan 89.3% (25 dari 28 suara) lainnya menyatakan cukup baik. Pada sampel 2, 8.3% (1 dari 12 suara) warga menyatakan bahwa sistem pembuangan sampah sudah sangat baik dan 91.7% (11 dari 12 suara) lainnya menayatakan cukup baik. Lalu pada sampel 3, sebanyak 100% (14 suara) menyatakan bahwa sistem pembuangan sampah sudah cukup baik.
Tabel 5.4 Nilai rata-rata aspek kondisi sistem pembuangan sampah pada setiap sampel
Lokasi Nilai rata-rata
Sampel 1 2.11
Sampel 2 2.08
Sampel 3 2.00
Pada seluruh sampel sistem pembuangan sampah berjalan cukup baik dengan adanya petugas sampah khusus yang merupakan warga luar yang dibiayai oleh iuran tetap dari warga komplek. Kebersihan masing-masing hunian memang
Sistem pembuangan sampah (Sampel 3)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik 100%
terjaga dengan baik, namun untuk kebersihan lingkungan dapat dikatakan tidak terlalu terawa dengan baik. Hal ini disebabkan karena tidak adanya aksi gotong royong atau aksi membersihkan lingkungan dari warga sekitar komplek.
Sistem pembuangan sampah yang baik dapat menimbulkan citra yang bersih pada suatu lingkungan. Lingkungan yang bersih menandakan bahwa warganya masih peduli dan memiliki kesadaran yang baik terhadap lingkungan sekitar dan ini membuat pelaku tindak kriminal berpikir untuk melakukan aksinya. Sistem pembuangan sampah yang rutin diangkut setiap harinya merupakan usaha yang baik untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan menghindari adanya tumpukan sampah dan dapat dijadikan tempat tersembunyi.
Selain itu kegiatan gotong royong yang rutin juga dapat dijadikan alternatif untuk upaya membersihkan lingkungan dan meningkatkan interaksi antar warga.
Interaksi antar penghuni
Selanjutnya aspek yang paling penting adalah interaksi antar penghuni komplek karena untuk mewujudkan pengawasan alami yang baik, antar penghuni harus memiliki kesadaran akan lingkungannya (Fennelly & Crowe, 2013).
Diagram 5.10 Interaksi antar warga pada lokasi sampel 1
Diagram 5.11 Interaksi antar warga pada lokasi sampel 2 Interaksi antar warga
(Sampel 1)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik
Interaksi antar warga (Sampel 2)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik 100%
66.7%
8.3%
25%
Diagram 5.12 Interaksi antar warga pada lokasi sampel 3
Sampel 1 menujukkan 100% (28 dari 28 suara) warga menyatakan interaksi antar warga sudah berlangsung cukup baik. Pada sampel 2, 66.7% (8 dari 12 suara) warga menyatakan bahwa interaksi antar warga sudah sangat baik, 25% (3 dari 12 suara) menyatakan cukup baik dan 8.3% (1 dari 12 suara) lainnya menayatakan kurang baik.
Lalu pada sampel 3, sebanyak 85.7% (12 dari 14 suara) menyatakan bahwa interaksi antar warga sudah cukup baik dan 14.3% (2 dari 14 suara) lainnya menyatakan kurang baik..
Tabel 5.5 Nilai rata-rata aspek interaksi antar warga pada setiap sampel Lokasi Nilai rata-rata
Sampel 1 2.00
Sampel 2 2.58
Sampel 3 1.86
Interaksi antar warga yang terjadi pada lokasi sampel 1 dan 2 sudah berjalan cukup baik. selanjutnya pada sampel 3, interaksi yang berlangsung antar warga komplek tidak berlangsung dengan baik (dengan skor 1.86). Namun
Interaksi antar warga (Sampel 3)
Sangat baik Cukup baik Kurang baik 85.7%
14.3%
diketahui bahwa tidak ada kegiatan khusus seperti gotong royong yang diadakan untuk memungkinkan antar penghuni untuk berinteraksi.
Interaksi antar warga yang baik dapat meningkatkan pengawasan alami yang terjadi antar tetangga. Hal ini dapat menimbulkan simpati dan empati sehingga penghuni tidak hanya peduli dengan lingkungannya sendiri, tapi juga lingkungan tetangganya. Interaksi antar warga dapat ditingkatkan dengan adanya kegiatan rutin yang melibatkan warga sekitar seperti gotong royong, pengajian dan kegiatan rohani, atau pun penyuluhan tentang bahaya tindak kriminalitas dan pencegahannya.