• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota secara terus menerus mengalami perkembangan dan pertumbuhan.

Perkembangan dan pertumbuhan kota memiliki dampak positif dan negatif.

Dampak postif yang dapat dirasakan terkait dengan sektor ekonomi sedangkan dampak negatifnya terkait dengan guna lahan yang terbatas. Dampak negatif yang terkait dengan guna lahan menyebabkan berbagai permasalahan perkotaan yang berdampak kepada kondisi sosial. Seiring dengan perkembangan zaman muncul konsep perencanaan kota seperti kota hijau (green city), kota pintar (smart city), kota kompak (compact city), dan kota kreatif (creative city).

Dalam era teknologi dan globalisasi diabad ke-21 saat ini perencanaan kota dengan konsep kota kreatif banyak dikembangkan. Menurut Landry, C &

Bianchini, F (1998) kreativitas menjadi sumber kehidupan dari kota karena kreativitas dapat untuk bekerja diberbagai bidang kreatif maka kota merupakan wadah bagi penduduk didalamnya untuk beraktivitas dan interaksi antar individu yang heterogen sehingga dapat menciptakan ide-ide yang dapat memicu kekreativitasan. Dengan adanya inovasi maka sebuah kota dapat memiliki keunggulan dan daya saing dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Sebuah kota yang maju bukan hanya yang memiliki sumber daya alam yang melimpah tetapi juga inovasi serta kreativitas dalam memanfaatkan potensi yang dimiliki.

Kampung sebagai ruang kota dapat menjadi bagian penting dalam

pengembangan kota kreatif. Kampung kota merupakan bagian yang tidak dapat

dipisahkan dari kota yang merupakan identitas yang khas dalam kota. Kota hanya

bisa hidup karena kampung sementara kampung juga bisa hidup karena berada di

seting kota (Setiawan, 2010). Kampung juga bisa dikatakan sebagai ruang kreatif

kota yang dapat menjadi pusat kegiatan dan perekonomian kreatif. keberadaraan

kampung menjadi pondasi dalam struktur perkembangan kota. Kampung juga

sangat berperan dalam perekonomian kota dengan pendekatan ekonomi kreatif dan

pariwisata. Sebagai salah satu wujud dari ruang kreatif kota, maka kampung harus

(2)

2 memiliki identitas dan kekhasan sebagai tempat yang dapat mandiri dan mendukung konsep dari suatu kota.

Yogyakarta memiliki banyak julukan seperti kota budaya, kota wisata maupun kota pelajar. Tetapi Sejak tahun 2012 Yogyakarta ditetapkan sebagai salah satu nomisasi kota kreatif oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (KEMENPAREKRAF) dibidang kerajinan (bisnis.liputan6.com). Selain itu pada tahun 2015, Yogyakarta juga masuk dalam perencanaan yang dilakukan oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEK) sebagai kota kreatif bersamaan dengan Kota Bandung (finance.detik.com). Dalam mendukung kota kreatif maka diperlukan ruang kreatif.

Kampung sebagai salah satu ruang dapat untuk mewujudkan kota kreatif.

Salah satu indikator kota kreatif adalah terdapatnya ruang-ruang kreatif yang dapat merangsang munculnya ide-ide kreatif dan inovasi. Kampung sebagai salah satu bentuk ruang kreatif di perkotaan. Yogyakarta memiliki banyak kampung yang memiliki karakteristik unik yang dapat dijadikan sebagai kampung kreatif.

Kampung “Seni” Nitiprayan merupakan satu-satunya kampung yang memiliki branding sebagai kampung seni dengan potensi dibidang kesenian yang ada di perkotaan yogyakarta. Pada kampung ini terdapat banyak seniman yang menetap dan berkarya di sini. Seiring dengan perkembangan waktu mulai ada perkembangan dikampung ini terutama dengan munculnya homestay dan fasilitas ruang kreatif lainnya. Jika dikaitkan dengan aspek spasial, maka kota kreatif termasuk didalamnya merupakan kota yang dapat mengembangkan seni dan budaya (Sasaki, 2008). Dengan perkembangan Kampung “Seni” Nitiprayan saat ini, apakah kedepannya kampung ini memiliki prospek menjadi kampung kreatif?

1.2. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu; Seperti apa prospek Kampung “Seni” Nitriprayan menjadi kampung kreatif?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis dan menilai prospek yang

dimiliki Kampung “Seni” Nitiprayan menjadi kampung kreatif.

(3)

3 1.4. Manfaat Penelitian

a) Bagi Pemerintah

Penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang potensi yang dimiliki Kampung Nitiprayan sehingga kedepan pemerintah daerah khususnya Kabupaten Bantul dapat merencanakan Kampung Nitiprayan menjadi kampung kreatif dengan melakukan perbaikan sesuai dengan variabel yang belum terpenuhi. Selain itu, konsep kampung kreatif juga dapat dijadikan salah satu komponen yang dapat membentuk kota kreatif.

b) Bagi Perencana Wilayah dan Kota

Penelitian ini dapat memberikan dasar pengetahuan terhadap kampung kreatif sehingga kedepan dapat dijadikan sebuah konsep perencanaan skala mikro yang sangat memungkinkan dengan kondisi di Indonesia terutama kota-kota besar yang memiliki permasalahan sama.

c) Bagi Masyarakat

Penelitian ini dapat memberikan pemahaman terhadap seluruh masyarakat Kampung Nitiprayan terhadap potensi yang dimiliki kampungnya sehingga dapat diarahkan menjadi kampung kreatif. Dengan menjadi kampung kreatif, masyarakat dapat memperoleh manfaat terutama dalam sektor industri kreatif.

1.5. Batasan Penelitian a) Substansial

Substansi dari penelitian ini terkait dengan prospek dari Kampung “Seni”

Nitiprayan apabila dijadikan sebagai kampung kreatif dengan menggunakan variabel yang sudah ditemukan peneliti sendiri.

b) Areal

Wilayah penelitian secara intensif berada di Kampung Nitiprayan, Desa

Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

(4)

4 Gambar 1.1 Lokasi Amatan Penelitian

Sumber:www.dppka.jogjaprov.go.id, 2004 dan Modifikasi Peneliti

c) Temporal

Waktu yang dialokasikan untuk melaksanakan penelitian ini adalah 5 bulan dimulai dari bulan April-Agustus 2016. Adapun data yang digunakan bersifat time series dan spot data.

1.6. Keaslian Penelitian

Penelitian ini fokus pada prospek Kampung “Seni” Nitiprayan menjadi

kampung kreatif. Sebagian besar penelitian yang ada terkait dengan kota kreatif dan

proses pembentukan kampung kreatif. Oleh karena itu peneliti mencoba melihat

konsep kota kreatif dalam lingkup yang lebih kecil yaitu kampung yang terkait

dengan prospek kedepannya apakah dapat menjadi kampung kreatif. Lokus yang

dipilih peneliti merupakan sebuah kampung yang belum secara resmi direncanakan

atau dicanangkan sebagai kampung kreatif.

(5)

5 Secara umum penelitian yang terkait dengan prospek kampung menjadi kampung kreatif belum banyak dilakukan. Peneliti kesulitan untuk mencari penelitian skripsi, tesis dan jurnal yang memiliki kesamaan dengan tema prospek kampung menjadi kampung kreatif. Tetapi berikut ini yang berhasil ditemukan peneliti dengan memiliki kesamaan lokus atau fokus diantaranya oleh Sekar Utami dan Ir. Tubagus Furqon Sofhani, M.A., Ph.D (2005), Asmorowati (2013), dan Safira (2012):

Tabel 1.1 Daftar Keaslian Penelitian

Sumber : Analisis Peneliti, 2016

Dalam Jurnal Proses Pembentukan Kampung Kreatif (Studi Kasus:

Kampung Dago Pojok dan Cicukang, Kota Bandung) yang dilakukan oleh Sekar Utami dan Ir. Tubagus Furqon Sofhani, M.A., Ph.D berfokus pada proses pembentukan kampung kreatif dengan lokus di Kampung Dago Pojok dan Cicukang, Kota Bandung. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan metode deduktif-kualitatif. Dalam penentuan respoden, peneliti menggunakan pendekatan purposive sampling. Hasil dari penelitian ini, menemukan bahwa dalam

No Nama Jenis

Penelitian

Judul Tahun Lokasi Fokus

1 Sekar Utami dan Ir. Tubagus Furqon

Sofhani, M.A., Ph.D

Jurnal Proses Pembentukan Kampung Kreatif (Studi Kasus:

Kampung Dago Pojok dan Cicukang, Kota Bandung)

2005 Kampung Dago Pojok dan

Cicukang, Kota Bandung

Proses pembentukan kampung kreatif

2 Asmorowati Tesis Creative Cluster or creative Class? A case study of Nitripyan Artist Kampong, Yogyakarta

2013 Kampung

“Seni”

Nitriprayan

Identifikasi creative class dan creative cluster

membentuk ekonomi kreatif

3 Safira Skripsi Kampung

Kreatif;Sebuah Solusi Spasial Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia

2012 Kelurahan Babakan Asih, Bandung dan Kelurahan Kotabaru, Kota Yogyakarta

Pengaruh adanya ruang kreatif pada setting hunian dan

membandingkan tingkat

keberhasilan

(6)

6 proses pembentukan kampung kreatif berdasarkan lokus diatas berdasarkan tahapan sebagai berikut tahapan pembentukan ide kreatif, tahapan realisasi ide kreatif, tahapan penguatan sistem pendukung, tahapan penyedian ruang basis kreatif dan evaluasi. Kemudian pada tesis Creative Cluster or creative Class? A case study of Nitripyan Artist Kampong, Yogakarta yang dilakukan oleh Asmorowati (2013) dengan fokus penelitian membandingkan dua teori yaitu creative class dan creative cluster membentuk ekonomi kreatif dengan lokus di Kampung “Seni” Nitiprayan.

Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan menggunakan metode deduktif kualitatif. Hasil yang diperoleh dalam penelitan ketertarikan Kampung “Seni”

Nitriprayan tidak hanya oleh nilai-nilai dalam teori Florida yaitu creative class tetapi juga oleh beberapa nilai dalam teori Porter yaitu creative cluster. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada penggunaan teori yang lebih luas dan spasial, jadi tidak hanya aspek sosial saja tetapi juga aspek fisik,ekonomi, dan spasial.

Sedangkan pada skripsi Kampung Kreatif;Sebuah Solusi Spasial Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia yang dilakukan oleh Safira (2012) dengan fokus penelitian pengaruh adanya ruang kreatif pada seting hunian dan membandingkan tingkat keberhasilan. Lokus penelitian Kelurahan Babakan Asih, Bandung dan Kelurahan Kelurahan Babakan Asih, Bandung dan Kelurahan Kotabaru, Kota Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini evaluasi pasca huni. Hasil penelitian yang dilakukan adalah terdapat faktor yang mempengaruhi perkembangan kampung kreatif yaitu kontinuitas atau proses yang terus menerus.

Dengan melihat penelitian yang sudah dilakukan diatas maka dapat

disimpulkan penelitian terkait dengan topik peneliti belum banyak terkait dengan

prospek Kampung “Seni” Nitiprayan menjadi kampung kreatif. Oleh karena itu,

penelitian ini sangat menarik untuk dilakukan .

(7)

7 1.7. Sistematika Penelitian

Dalam penelitian penelitian untuk meneliti tentang proses Kampung “Seni”

Nitiprayan menuju Kampung Kreatif sebagai berikut;

1. Bab I Pendahuluan, berisi tentng latar belakang pemilihan tema kampung kreatif.

2. Bab II Tinjauan Pustaka, berisi tentang teori-teori yang mendukung tema kampung kreatif yang kemudian dideduksi menjadi kerangka teori.

3. Bab III Metode Penelitian, berisi tentang penjelasan metode yang digunakan dalam melakukan penelitian. Dalam bab ini terdapat variabel yang digunakan untuk menilai sejauh mana Kampung “Seni” Nitiprayan dapat menjadi kampung kreatif.

4. Bab IV Deskripsi Wilayah, berisi tentang gambaran umum yang meliputi kawasan perkotaan yogyakarta yang didalamnya terdapat potret kampung- kampung tematik, kondisi fisik, kependudukan, sosial , ekonomi, dan lingkungan.

5. Bab V Hasil dan Pembahasan Penelitian, berisi temuan-temuan yang didapatkan dalam survei lapangan yang berisi jawaban atas pertanyaan penelitian.

6. Bab VI Kesimpulan dan Rekomendasi, berisi strategi untuk menyelesaikan

persoalan sesuai dengan hasil dan pembahasan penelitian.

Gambar

Tabel 1.1 Daftar Keaslian Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Psoriasis adalah penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak- bercak eritema berbatas tegas, ditutupi oleh skuama yang tebal berlapis-lapis

BILLY TANG ENTERPRISE PT 15944, BATU 7, JALAN BESAR KEPONG 52100 KUALA LUMPUR WILAYAH PERSEKUTUAN CENTRAL EZ JET STATION LOT PT 6559, SECTOR C7/R13, BANDAR BARU WANGSA MAJU 51750

Penelitian ini difokuskan pada karakteristik berupa lirik, laras/ tangganada, lagu serta dongkari/ ornamentasi yang digunakan dalam pupuh Kinanti Kawali dengan pendekatan

Dalam teks, muncul kata-kata tertentu yang dominan dan dinaturalisasikan kepada pembaca. Kata tersebut selalu diulang-ulang dalam berbagai peristiwa tutur. Kata-kata

Dari hasil perhitungan back testing pada tabel tersebut tampak bahwa nilai LR lebih kecil dari critical value sehingga dapat disimpulkan bahwa model perhitungan OpVaR

L : Ya Tuhan Yesus yang telah mati di kayu salib, hanya oleh karena kasihMu kepada orang berdosa ini. P : Ajarilah kami selalu mengingat Tuhan yang mati di kayu

Dari area bisnis yang ada, ditemukan beberapa hal menyangkut permasalahan yang ada, yaitu: (1) Pihak manajemen dalam melakukan perencanaan penjualan dan produksi memperoleh data dari