1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Emoji merupakan representasi grafis dari ekspresi wajah yang diaplikasikan oleh banyak pengguna pesan teks dalam pesan mereka. Simbol-simbol ini dikenal luas dan pada umumnya dimengerti oleh pengguna computer mediated communication (Weiquan Wang et al., 2014). Emoji dengan emotikon merupakan sesuatu yang berbeda. Tak seperti emotikon, emoji dapat berupa gambar, yang mewakili berbagai hal, selain ekspresi wajah, hewan, makanan, buah-buahan, dan sebagainya. Jika emotikon diciptakan untuk menggambarkan emosi dengan berbasis teks dasar, emoji merupakan hal yang lebih modern, barisan karakter yang dipakai kebanyakan sistem operasi saat ini dari Unicode (Giannoulis & Wilde, 2019).
Gambar 1. 1 Ragam Emoji (Sumber : blog.mailup.com)
Beragam studi menyatakan adanya berbagai fungsi yang ditimbulkan dari penggunaan emoji pada pesan teks salah satunya adalah memberikan suasana pada komunikasi yang terjadi melalui CMC. Dilansir dari instisarigrid.com (diakses pada 3 Februari 2021) menyatakan bahwa beberapa fungsi penggunaan emoji antara lain adalah mencairkan komunikasi yang formal, memperhalus
2 kritik, dan membuat kesan lebih terbuka. Sebuah penelitian dari Universitas Missouri menyimpulkan bahwa penggunaan emoji yang tepat pada saat melamar kerja dapat menghasilkan hasil yang lebih maksimal.
Survei yang dilakukan terhadap pengguna internet di Amerika Serikat tentang alasan menggunakan emoji pada bulan Agustus 2015 menghasilkan sebagai berikut (Aluja et al., 2020):
1. Emoji membantu mengekspresikan kata kata dengan lebih akurat.
2. Memudahkan seseorang untuk memahami sebuah pesan.
3. Emoji membantu menciptakan hubungan yang lebih hangat dengan lawan bicara.
Berdasarkan hasil survei berikut maka dapat disimpulkan bahwa faktor- faktor yang menyebabkan seseorang menggunakan emoji adalah untuk memudahkan komunikasi sehingga komunikan dapat lebih paham mengenai isi dan maksud pesan tersebut. Emoji dapat memberikan penekanan terhadap isi pesan, serta membuat penyampaian yang lebih akurat.
Penelitian eksperimen yang dilakukan Ganster (2012) tentang efek emotikon terhadap komunikan menunjukan hasil yaitu penggunaan emotikon dapat berpengaruh terhadap persepsi dan interpretasi komunikan terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator. Penelitian ini dilakukan dengan menampilkan teks-teks yang berisi emotikon disandingkan dengan teks-teks yang tidak termuat emotikon, dan responden yang memperoleh teks disertai emotikon cenderung lebih mampu menginterpretasikan pesan secara berbeda daripada responden yang hanya menerima pesan teks tanpa emotikon. Pada penelitian yang dilakukan Wibowo (2007) juga menunjukan hasil bahwa penggunaan emoji terhadap pesan teks dapat mempengaruhi persepsi penerima pesan terhadap sebuah isi dan makna pesan yang dapat disimpulkan menjadi penggunaan emoji dapat mempengaruhi suatu umpan balik.
Pada penelitian ini peneliti akan mengembangkan studi emoji, menerapkan teori disonansi kognitif, dimana penggunaan emoji menjadi kognisi atau pemahaman untuk menghadapi sebuah disonansi yang pada penelitian ini diasumsikan sebagai persepsi komunikan atas umpan balik negatif. Penelitian ini akan diujikan kepada mahasiswa sebagai komunikan tentang seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dari penggunaan emoji terhadap persepsi komunikan
3 atas umpan balik negatif. Dimensi umpan balik negatif telah dikemukakan oleh Geddes & Linnehan (1996) dan telah diidentifikasi dalam jurnal ‘Feedback and Fairness: The Relationship Between Negative Performance Feedback and Organizational Justice’ (2009) karya Rebecca M. Chory dan Catherine Y.
Kingsley Westerman. Dimana hasil penelitian tersebut memaparkan empat dimensi yang mempengaruhi umpan balik negatif yaitu eksplisit versus ambigu (Clarity), kritik destruktif versus kritik konstruktif (Constructiveness), memiliki pengetahuan yang rendah versus pengetahuan tinggi (Cognizance), dan tidak konsisten versus standar evaluasi yang jelas (Consistancy) (Chory & Kingsley Westerman, 2009).
1.2 Latar Belakang
Kehadiran butir-butir emoji pada computer mediated communication merupakan bentuk atau upaya dalam mengantisipasi keterbatasan bahasa non verbal pada pesan teks. Emoji merupakan representasi grafis dari ekspresi wajah yang diaplikasikan oleh banyak pengguna pesan teks dalam pesan mereka, simbol-simbol ini juga dikenal luas dan pada umumnya dimengerti oleh pengguna komunikasi yang dimediasi komputer (Weiquan Wang et al., 2014).
Sehingga dalam hal ini, pengguna emoji nantinya diharapkan dapat meminimalisir atau mengurangi peluang mendapatkannya umpan balik yang dipersepsikan negatif dikarenakan keterbatasan bahasa nonverbal yang terjadi pada transaksi pesan teks. Dikemukakan oleh Susanne K. Langer bahwa kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia ‘ekspresi simbolik dan pemahaman simbolik’
(Dryden, 2007).
Berdasarkan hasil survey pada penelitian Startle reflex modulation by affective face “Emoji” pictographs (Aluja et al., 2020) menyatakan bahwa adanya faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menggunakan emoji diantaranya adalah emoji dapat memberikan penekanan terhadap isi pesan dan membuat isi dari sebuah kalimat lebih akurat tersampaikan, namun belum dapat dipastikan setiap butir emoji memiliki fungsi atau manfaat yang sama. Pada penelitian ini peneliti melandasi teori disonansi kognitif yang dirasakan oleh mahasiswa sehingga mahasiswa dianggap akan menggunakan butir emoji untuk mengurangi efek disonansi atau rasa mencari kepastian, ragu dan janggal yang
4 dirasakan oleh mahasiswa sebelum mengirim pesan teks kepada dosen pembimbing. Penggunaan emoji pada penelitian ini diklasifikasikan menjadi 4 butir emoji liking dan 4 butir emoji disliking serta seberapa besar pengaruh dari penggunaan emoji tersebut terhadap persepsi komunikan atas umpan balik negatif. Komunikan pada penelitian ini diasumsikan sebagai seseorang yang berpartisipasi dalam kegiatan komunikasi, pada penelitian ini peneliti membatasi komunikan sebagai mahasiswa. Survei penelitian disebar kepada 380 Mahasiswa Universitas Telkom.
Urgensi pada karya tulis ilmiah ini, peneliti bertujuan untuk melangkapi serta mengembangkan penelitian milik Weiquan Wang (2014) yang berjudul
‘Effects of Emoticons on the Acceptance of Negative Feedback in Computer- Mediated Communication’ penelitian tersebut meneliti penggunaan emotikon yangmana pada penelitian ini emotikon tersebut dimaknai sebagai emoji.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap mahasiswa Hongkong University. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap butir emoji memiliki efek berbeda terhadap didapatkannya umpan balik pada pesan teks. Pada jurnal tersebut, Weiquan Wang (2014) menyarankan agar penelitian selanjutnya dilakukan pada sampel dengan demografi serta latar belakang budaya yang berbeda dari penelitian sebelumnya guna menguji apakah ada perbedaan yang signifikan terkait besar pengaruh yang ditimbulkan dari penggunaan emoji terhadap didapatkannya umpan balik negatif. Penelitian ini juga bermaksud untuk memperlengkap penelitian yang telah dilakukan Subakti (2019) dengan menguji studi penggunaan emoji menggunakan sampel yang lebih besar. Namun pada penelitian ini peneliti lebih memfokuskan penelitian tentang penggunaan emoji yang digunakan dalam konteks pesan tekstual dari mahasiswa kepada dosen, sehingga diharapkan penggunaan emoji tersebut dapat mereduksi disonansi yang dialami mahasiswa agar terminimalisirnya didapatkan umpan balik yang dipersepsikan mahasiswa sebagai negatif.
Menambahkan butir emoji pada pesan teks merupakan salah satu keterampilan dalam computer mediated communication yaitu komunikasi yang dimediasi oleh komputer dengan media seperti handphone, laptop dan teknologi lainnya yang berbasis komputer dengan format pesan seperti instant messanging, email, forum online dan lainnya. Keterampilan ini tentunya perlu dimiliki oleh
5 mahasiswa melihat dari saat penelitian ini dirancang (2020/2021), terjadi sebuah fenomena wabah virus COVID-19. Dimana kegiatan masyarakat khususnya kegiatan belajar-mengajar terpaksa dilaksanakan secara daring. Hal ini tentunya berdampak kepada mahasiswa, khususnya pada mahasiswa semester akhir (semester 7/8) tahun 2020/2021, yang mana mayoritas kegiatan diskusi seperti bimbingan mengenai tugas akhir atau karya tulis ilmiah (skripsi) dengan dosen pembimbing diberlangsungkan secara daring memanfaatkan platform CMC yang mana platform CMC memiliki keterbatasan yakni tidak tersampaikannya bahasa nonverbal. Maka keterbatasan bahasa nonverbal tersebut juga merupakan salah satu urgensi sehingga penelitian mengenai penggunaan emoji perlu diteliti.
Selain itu, pada tahun penelitian ini dirancang muncul beragam artikel mengenai etika pengiriman pesan kepada dosen yang menjadikan fenomena ini sebagai salah satu alasan penelitian dilakukan.
Gambar 1.2 Artikel Etika Mengirim Pesan Kepada Dosen (Sumber : Liputan6, Suara, Kompas, Berita Jatim)
Dilansir dari Hootsuite (Kemp, 2020) yaitu situs layanan manajemen konten yang menyediakan layanan media daring dengan berbagai situs jejaring sosial yang terhubung (Youtube, Facebook, Instagram, Whatsapp dan lain lain). Pada Januari tahun 2020 menyatakan bahwa dari total populasi penduduk Indonesia yaitu 272,1 juta jiwa terdapat 160 juta jiwa yang menjadi pengguna aktif pada CMC, artinya ada sekitar 58% penduduk aktif berkirim pesan atau
6 berkomunikasi menggunakan media sosial. Menurut sumber yang sama, whastapp menjadi pilihan utama atau paling populer digunakan sebagai platform media sosial yang difungsikan untuk bertukar pesan text yang digunakan oleh masyarakat Indonesia (84% dari jumlah populasi), sehingga penggunaan emoji pada pesan teks di whatsapp dipilih menjadi aplikasi CMC yang diuji oleh peneliti pada penelitan ini.
Penelitian ini memiliki sampel mahasiswa/i angkatan 2017 (Semester 7/8) di Universitas Telkom. Pemilihan mahasiswa/i Universitas Telkom Angkatan 2017 dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, Universitas Telkom merupakan perguruan tinggi swasta terbaik menurut Times Higher Education (THE) World University Rankings (WUR) per tahun 2021. Kedua, Universitas Telkom merupakan perguruan tinggi dengan basis ICT University (Sumber : telkomuniversity.ac.id. diakses pada 28 April 2021).
Gambar 1. 3 Pencapaian Universitas Telkom
(Sumber : Instagram @telkomuniversity & www.telkomuniversity.ac.id)
Ketiga, Universitas Telkom merupakan perguruan tinggi yang berlokasi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia dengan populasi mahasiswa yang berasal dari latar belakang budaya yang beragam. Mahasiswa Universitas Telkom berasal dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia.
7 Gambar 1. 4 Peta Populasi Mahasiswa Universitas Telkom
(Sumber : https://telkomuniversity.ac.id/ diakses pada 20 Mei 2021)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswa/i Universitas Telkom dapat dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai acuan pada penelitian ini dikarenakan kampus tersebut sudah mendapat berbagai penghargaan hingga diakui sebagai universitas swasta terbaik serta sudah beradaptasi dengan e-learning yang tentunya hal ini berkaitan dengan CMC, selain itu dapat disimpulkan bahwa sampel pada penelitian ini memiliki demografi serta latar belakang budaya yang berbeda dari jurnal milik Weiquan Wang (2014).
Pemilihan mahasiswa semester akhir 7/8 (tahun 2020/2021) sebagai sampel merupakan batasan yang diuji pada penelitian ini melihat dari terdampaknya seluruh kegiatan bimbingan tugas akhir maupun skripsi sehingga mayoritas diskusi antara mahasiswa dengan dosen pembimbing dilakukan secara daring, sehingga diperlukannya keterampilan berkomunikasi melalui CMC dalam membangun hubungan dengan dosen pembimbing.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zubaidah (2018) bahwa US- based Partnership for 21st Century Skills (P21) telah mengidentifikasi kompetensi yang perlu dimiliki pada abad-21 sebagai 4C. Salah satunya yaitu keterampilan komunikasi (communication skills). Secara sederhana keterampilan ini termasuk kedalam keterampilan mendengarkan, memperoleh informasi, dan menyampaikan gagasan di hadapan individu maupun kelompok, dengan tujuan mencapai pengertian yang sama. Dalam definisi lain, komunikasi merupakan sebuah proses sistemik dimana individu maupun kelompok menciptakan proses transaksi informasi agar terhubung dengan seseorang maupun kelompok lain, komunikasi menciptakan sebuah balasan yang disebut feedback atau umpan balik, sebuah umpan balik dipengaruhi dari bagaimana cara pesan tersebut
8 tersampaikan (Mulyana, 2014).
Berdasarkan pemaparan fenomena diatas, maka pada penelitian ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai ‘’Pengaruh Penggunaan Emoji Terhadap Persepsi Komunikan Atas Umpan Balik Negative Pada Whatsapp’’ Dengan Mahasiswa Universitas Telkom Angkatan 2017 semester 7/8 yang dirujuk sebagai sampel. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat menjadi rujukan data apabila nantinya dibutuhkan data mengenai hal yang serupa.
1.3 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang tertera, maka identifikasi masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:
1. Berapa besar pengaruh liking emoji terhadap persepsi komunikan atas umpan balik negatif?
2. Berapa besar pengaruh disliking emoji terhadap persepsi komunikan atas umpan balik negatif?
3. Berapa besar pengaruh penggunaan emoji liking dan disliking mempengaruhi persepsi komunikan atas umpan balik negatif?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah, Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Mengetahui seberapa besar liking emoji berpengaruh terhadap persepsi komunikan atas umpan balik negatif.
2. Mengetahui seberapa besar disliking emoji berpengaruh terhadap persepsi komunikan atas umpan balik negatif.
3. Mengetahui seberapa besar emoji dapat mempengaruhi persepsi komunikan atas umpan balik negatif.
1.5 Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian ini terdapat manfaat yang peneliti harapkan berguna untuk memberikan informasi dari hasil penelitian tersebut :
1. Kegunaan Teoritis
9 Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dan menambah ilmu serta wawasan khususnya dalam membahas komunikasi yang bermediasi komputer serta seberapa besar pengaruh emoji terhadap persepsi komunikan atas umpan balik negatif, dan diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti yang selanjutnya meneliti bidang kajian serupa.
Penelitian ini mencoba melengkapi beberapa penelitian rujukan dengan menguji sampel yang lebih besar dan berasal dari berbagai latar belakang budaya.
2. Kegunaan Praktis a. Bagi Peneliti
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan lebih serta melengkapi studi tentang penggunaan emoji terhadap persepsi komunikan atas umpan balik negatif.
b. Bagi Khalayak
Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya pembaca agar dapat menjadi data dasar untuk dijadikan sebagai rujukan tentang pengaruh emoji terhadap persepsi komunikan atas umpan balik negatif melalui komunikasi bermediasi komputer.
1.6 Waktu dan Periode Penelitian
Tabel 1. 1 Waktu dan Periode Penelitian
No Tahap Penelitian
Tahun 2020 – 2021
Februari Maret April Mei Juni Juli 1 Mencari
topik dan tema yang akan dibahas pada
penelitian
10 2 Pencarian,
pengumpulan data (jurnal- jurnal, penelitian terdahulu, dan teori lainnya) untuk dijadikan rujukan penelitian 3 Penyusunan
proposal karya tulis ilmiah (skripsi)
(Sumber : Olahan Penulis)