Sambutan dan Dialog Presiden RI - Peluncuran Program Sinergi Aksi untuk ..., Brebes, 11 April 2016
Senin, 11 April 2016
SAMBUTAN DAN DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PELUNCURAN PROGRAM SINERGI AKSI UNTUK EKONOMI RAKYAT
BREBES, JAWA TENGAH
11 APRIL 2016
Â
Â
Â
Presiden:
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum
warahmatullah wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Â
Yang
saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Yang
saya hormati Gubernur BI beserta Ketua Otoritas Jasa Keuangan,
Yang
saya hormati Gubernur Jawa Tengah beserta seluruh Bupati dan Wali Kota yang hadir, khususnya Bupati Brebes,
Yang
saya hormati para Direktur Perbankan, BUMN yang hadir,
Bapak-Ibu sekalian, Hadirin yang berbahagia,
Â
Tadi, sebelum datang ke sini, saya mampir di persawahan kira-kira 6 km dari sini. Saya mendapatkan banyak dari ini dan juga dari petani. Nanti saya cerita.
Â
Tapi saya ingin memberikan tekanan untuk Program Sinergi Aksi Untuk
Ekonomi Rakyat
pada siang hari ini. Intinya,
ini adalah kerja gotong royong antara pemerintah pusat, pemerintah
provinsi, pemerintah kabupaten, BUMN, swasta, dan juga masyarakat, baik petani, nelayan, usaha mikro, usaha kecil, dan
yang lain-lainnya.
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
Â
Kenapa
ini kita lakukan? Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian, karena kita biasanya bekerjanya sendiri-sendiri, dewek-dewek,
piyambak-piyambak. Pemerintah daerah
kerja sendiri. Pemerintah provinsi kerja sendiri. Kerjanya benar. Pemerintah pusat program sendiri. Ini tidak boleh, sekarang
tidak boleh.Â
Â
Dan
Brebes menjadi percontohan pertama untuk kerja sinergi, kerja gotong royong yang tadi saya sampaikan, juga Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Akan bersama-sama kita lihat
apakah gotong royong, sinergi ini berhasil, setengah berhasil, atau hampir berhasil. Tetapi, saya meyakini, kalau bareng- bareng semuanya, berhasil. Kita
harus optimis.
Â
Setelah acara ini, nanti akan saya cek terus, saya cek sendiri,
saya cek terus dengan cara-cara saya, baik dengan intelijen, baik saya datang langsung, atau baik saya
akan mengutus siapa. Tapi akan saya cek semuanya karena, begitu yang di Brebes ini berhasil, kerja semuanya, hasilnya kelihatan
semuanya, langsung semua kabupaten akan kita kerjakan dengan cara yang sama. Ini menjadi contoh, menjadi contoh untuk nantinya di kabupaten dan kota yang lain.
Â
Apa
yang harus dikerjakan? Yang pertama, kita
sudah lama sekali, sudah lama, sudah ngerti masalahnya, sudah tahu masalahnya, sudah tahu problemnya, ngerti semua.
Enggak usah ditanya, “Brebes masalahnya apa?― Ngerti semuanya. Bertahun-tahun.
Â
Ini harus selesai, harus rampung. Jangan dipelihara
masalah itu, tapi diselesaikan. Kalau orang Jawa, jangan di-imbuh.
Di-imbuh itu
apa? Jangan dibiarkan,
“Biar matang sendiri lo.― Ndak. Harus diselesaikan, harus diselesaikan.
Â
Oleh
sebab itu, yang pertama, masalahnya
jelas. Ada masalah, satu,
masalah tanah, masalah sertifikat. Kenapa petani,
nelayan, usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, tidak bisa akses ke bank, banyak yang lari ke rentenir? Karena tidak punya agunan
salah satunya. Agunan itu harus berupa sertifikat, benar? Tadi sudah ada yang diberi sertifikat, betul?
Nah.
Â
Dan
urusan sertifikat, saya kira juga tidak
harus rakyat sendiri yang urus.
Perbankan kita juga harus ikut cawe-cawe. Rakyat enggak punya, bayar dulu perbankan.
Nanti minjamnya
kan juga ke bank, iya kan?
Â
Tadi
sudah diurus oleh BRI, BNI ya.
Semuanya memang harus seperti itu. Kalau petani ini feasible,
memungkinkan untuk diberi pinjaman, enggak punya sertifikat, ya sudah
diurus.
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
Â
BPN
sendiri—hati-hati,
saya berikan peringatan kepada BPN—urusan sertifikat, saya tidak mau dengar lagi, “Terlalu lama, ruwet.― Kalau
saya ngomong seperti ini, rakyat, “Betul, betul,― gitu karena memang betul-betul ruwet.
Â
Akan saya cek langsung nanti. Suatu saat, akan saya cek langsung: problemnya ada di mana, masalahnya ada di mana.
Dari saya lahir sampai sekarang, ngurus sertifikat lama. Apa-apaan ini? Enggak bisa, enggak bisa. Jangan diterus- teruskan.
Â
Sekarang zamannya zaman IT. Semuanya bisa cepat. Enggak ada lagi urusan berbulan-bulan, bertahun-tahun ngurus sertifikat. Enggak mau saya. Harus dibangun sistem yang cepat.
Rakyat biar senang, rakyat biar cepat berusaha, gampang meminjam uang di bank.
Â
Masih jutaan yang belum disertifikatkan karena ruwetnya
urusan di BPN. Saya tanya, rakyat merasakan tidak seperti itu? Kalau ada yang bilang, “Tidak,― saya suruh maju. Saya bisa merasakan karena
saya selalu bertanya pada rakyat.
Â
Jadi, kalau sudah dapat sertifikat, pegang. Kalau enggak pinjam ke bank enggak apa-apa, tapi punya pegangan, benar ndak?
Kalau suatu saat ingin berusaha, ada peluang, bisa pinjam ke BRI, bisa pinjam ke BNI, bisa pinjam ke Bank Mandiri, bisa pinjam ke bank swasta.
Â
Sekarang, yang namanya KUR—supaya tahu semuanya—bunganya tidak 22 persen, tetapi 9 persen. Per tahun lo ini, per tahun, bukan per bulan.
Kalau rentenir, 9 persen per bulan.
Ini per tahun.
Â
Bahkan
BPD—Pak Gubernur tadi sampaikan—BPD Jawa Tengah 7 persen. Betul, Pak Gub? Silakan ngantre. Jangan pinjam ke rentenir lagi. Sudah disiapkan,
hanya 9 persen.
Â
7
persen itu artinya per bulan itu hanya berapa? Enggak ada 1 persen. Kecil sekali itu. Gunakan.
Â
Tapi sekali lagi, sertifikat ini memang sangat diperlukan. Yang pertama tadi masalah sertifikat.
Â
Yang
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
kedua masalah modal.
Tadi saya sudah cerita. Sudah ada 7 persen
dari Pak Gubernur Jawa Tengah, BPD. Ada bank-bank BUMN. 9 persen untuk yang KUR. Yang sebelumnya 22 persen sekarang 9 persen. Gunakan
ini. Jangan lari ke rentenir lagi.
Â
Kalau sulit pinjam di bank, BRI, BNI, atau
Mandiri, sulitnya apa? Sampaikan. Kalau yang mempersulit, tahu sendiri. Sudah, kita enggak ada waktu lagi untuk ngurus-ngurus yang sulit-sulit. Ganti, copot,
taruh yang baru, yang mau bekerja untuk rakyat.
Â
Yang ketiga yang berkaitan dengan bibit. Tadi saya bertanya ke petani di sawah tadi, “Problemnya apa?― “Bibit, Pak.
Bibitnya harganya mahal.― Benar ya?
Â
“Terus yang kedua apa?― “Ini,
Pak. Jadi di dalamnya ini ada hama, hama ulat.― Saya buka, betul
ada ulatnya, benar. Saya buka yang lain, juga ulatnya sama. Ada semuanya.
Â
Artinya saya tahu. Kalau yang ngomong petani, itu
pasti benar. Kalau yang ngomong rakyat, itu pasti betul. Enggak mungkin apus-apusan, mboten.
Mesti benar. Tak cek, “Betul ya?― “Betul.―
Saya sudah dengar ini.
Saya tadi mampir, “Coba saya minta.― Betul, ada ulatnya semuanya.
Â
Ini yang pertama, saya minta Dinas Pertanian di daerah selesaikan. Kalau enggak bisa selesaikan, ngomong ke Kementerian Pertanian biar hal-hal seperti ini jangan
menjalar ke mana-mana.
Yang namanya
hama, yang namanya penyakit tanaman harus cepat diselesaikan sebelum melebar ke mana-mana.
Â
Yang keempat yang berkaitan dengan alat produksi. Sekarang
ini kerja bareng-bareng semuanya sehingga Kementerian Pertanian juga
konsentrasi. apa yang dibutuhkan rakyat? Traktor, anggaran APBN belikan traktor. Yang dibutuhkan apa? Bibit, anggaran APBN konsentrasi ke bibit.
Â
Jangan
yang dibutuhkan bibit, yang dibelikan pupuk, misalnya. Yang dibutuhkan traktor, yang dibelikan bibit, misalnya. Jangan dibolak-balik seperti itu. Petani itu mengerti apa yang dibutuhkan dalam
berproduksi.
Â
Jadi
alat-alat produksi itu sangat diperlukan. Disampaikan apa adanya: apa yang kurang, apa yang perlu
dibeli untuk kebutuhan produksi di lapangan.
Â
Yang kelima yang berkaitan dengan pascapanen. Ini tidak nelayan, tidak petani, pascapanen ini yang betul-betul harus menjadi perhatian semuanya: pemerintah kabupaten/kota, pemerintah
provinsi, pemerintah pusat, semuanya. Lihatlah ini. Ini problem-problem dari dulu sampai sekarang, yang tidak bisa terselesaikan dengan baik,
padahal anggarannya ada.
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
Â
Contoh
di Brebes. Kalau pas musim kayak gini, bawangnya bisa harga mahal, benar
ya? 1 kg—tadi
saya tanya petani—30 sampai 35, benar? Di pasar, harganya 48 sampai 50 ribu. Saya sudah tanya di pasar.
Â
Kalau pas mahal gini, siapa yang senang? Petani senang.
Tapi
konsumennya, masyarakat yang lain, teriak-teriak ke saya,
“Pak, niki,
ini bawangnya gimana?
Bawang merahnya gimana? Harganya kok sampai 60 ribu?
Harganya kok sampai 50 ribu?― Jadi
belum tentu petaninya senang, masyarakat yang lain senang.
Â
Itu yang kita cari. Petaninya senang, masyarakat yang beli juga senang. Itu yang kita cari. Keseimbangan itu yang kita cari. Oleh sebab itu, saat panen raya harus ada yang menampung, gudang
yang menampung, cold storage yang
menampung. Siapa? Kalau ada swasta, silakan. Kalau enggak ada, BUMN harus siap.
Â
Sekarang
sudah kita bagi BUMN sudah. Pokoknya yang sembilan bahan pokok sekarang tanggung jawabnya BUMN. Misalnya beras, jagung, kedelai, Bulog sudah.
Perpresnya sudah keluar bulan yang lalu. Daging, ada lagi: RNI, PPI, ada yang BGR. Semuanya harus tangung jawab sehingga rakyat berproduksi ini ada yang menampung.
Â
Jangan
sampai: berproduksi, panennya banyak, harganya jatuh. Ongkos produksinya 20 ribu, iya kan? Dijual
hanya 15 ribu, malah tekor. Ini yang tidak boleh. Oleh sebab itu, harga harus dijaga pada posisi yang,
keseimbangan yang baik.
Â
Ini
memang hal yang tidak mudah, menjaga keseimbangan ini. Petaninya senang semuanya, tapi konsumennya, masyarakat
demo
tiap hari ke saya. Enggak bisa seperti itu. Semuanya harus, sini senang, sini ya senang.
Â
Kalau harganya jatuh, yang demo petani, “Pak,
pribun iki? Gimana, Pak? Harganya jatuh. Pemerintah enggak tanggung jawab.― Itu yang harus diatur. Oleh sebab itu, pascapanen
ini juga harus dikerjakan.
Ini masuk di dalamnya urusan logistik.
Â
Bapak-Ibu, Hadirin yang berbahagia.
Urusan
logistik ini juga menyangkut hal yang berkaitan dengan infrastruktur. Kenapa ada jalan tol? Kenapa jalur kereta api dibuat dua? Kenapa di luar Jawa juga
dibangun tol, dibangun jalur kereta? Karena, tanpa itu, barang ini untuk dibawa ke kota, dibawa ke konsumen, ini akan menjadi mahal, dimakan oleh biaya transportasi, dimakan oleh
biaya logistik. Ini
yang sekarang ini kita fokus dan kita berikan prioritas pada pekerjaan-pekerjaan di kementerian.
Â
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
Saya
kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Â
Saya
mau ngecek yang pelajar tiga tadi.
Mana?
Coba ke sini.
Â
Sini
tabungannya. Buka, ambil.
Â
Ini
anak-anak, Ibu-ibu
dan Bapak-bapak sekalian,
anak-anak harus diajari nabung, nabung, nabung, nabung. Jangan diajari beli pulsa.
Â
Saya
mau cek, nabungnya
berapa. Tabungannya 100 ribu. Ini coba, 100 ribu. Sama semua? Ini juga 100 ribu, sama.
Â
Kamu
nabung untuk apa sih?
Â
Pelajar 1:
Untuk
kebutuhan sehari-hari.
Â
Presiden:
Untuk
kebutuhan sehari-hari? Untuk
kebutuhan sekolah. Kok kebutuhan sehari-
hari. Kayak ibu-ibu aja.
Â
Kamu?
Â
Pelajar 2:
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
Untuk
persiapan Kelas 9.
Â
Presiden:
Untuk
persiapan Kelas 9.
Â
Ini
nabung untuk apa? Kebutuhan sehari-hari juga?
Â
Pelajar 3:
Kebutuhan pelajaran.
Â
Presiden:
Kebutuhan pelajaran.
Â
Ya Anak-anak harus nabung ya, nabung, nabung. Enggak apa-apa 10 ribu, tabung. Ada 50 ribu, tabung.
Â
Ini
bapaknya kerja di mana?
Â
Pelajar 1:
Guru.
Â
Presiden:
Guru.
Â
Pelajar 2:
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
Di rumah sakit.
Â
Presiden:
Di rumah sakit.
Â
Pelajar 3:
Wiraswasta.
Â
Presiden:
Wiraswasta ya.
Â
100
ribu, 100 ribu, 100 ribu. Ya sudah, saya tambahi 500, 500, 500 sudah. Langsung ditabung lo ya.
Â
Yang
sertifikat tadi, saya mau lihat. Yang BNI tadi, coba.
Â
Tapi
ini enggak ditambahi. Jangan minta ditambahi. Kalau disuruh naik, langsung minta ditambahi.
Â
Pak
Darkam ini ngurus sertifikat sendiri?
Â
Darkam:
Sendiri.
Â
Presiden:
Sendiri
ke BPN, tapi yang bayar BNI.
Â
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
Habis
berapa, katanya?
Â
Darkam:
1 juta.
Â
Presiden:
1 juta.
Â
Terus
dengan sertifikat ini mau dipakai apa?
Â
Darkam:
Disimpan.
Â
Presiden:
Oh
disimpan. Ndak diberikan ke bank untuk pinjam?
Â
Darkam:
Nanti
sewaktu butuh.
Â
Presiden:
Oh
sewaktu butuh, serahin di bank.
Â
Kalau pinjam di bank, nyicil yang tepat waktu sehingga nanti lunas, bisa tambah lagi.
Â
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46
Ini
habis berapa? 1 juta? Benar?
Â
Pak
Menteri, ngurus sertifikat seperti ini habis 1 juta, benar? Mahal benar. Berapa harusnya? Ini 1
juta. Gimana?
Â
Lewat
orang ngurusnya jangan-jangan? Lewat orang atau ngurus sendiri?
Â
Darkam:
Lewat lurah.
Â
Presiden:
Lewat
lurah? Mana lurahnya? Oh sedang mondok di Semarang. Ya sudah.
Â
Terima kasih, Pak Darkam. Sudah punya sertifikat, enggak usah ditambahi.
Â
Ya
saya kira itu, Ibu dan Bapak sekalian yang saya hormati. Saya akan pantau proses dari Aksi Untuk Ekonomi Rakyat ini.
Â
Dan terakhir,
dengan mengucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’, saya
luncurkan Program Sinergi Aksi Untuk Ekonomi Rakyat di Brebes pada siang hari ini.
*****
Biro
Pers, Media dan Informasi
Sekretariat Presiden
http://www.setneg.go.id www.setneg.go.id DiHasilkan: 16 January, 2017, 09:46