PENANDA ANAFORA DALAM BAHASA INDONESIA

Teks penuh

(1)

PENANDA ANAFORA DALAM BAHASA INDONESIA

NI PUTU N. WIDARSINI I MADE SUIDA

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR 2016

(2)

PENANDA ANAFORA DALAM BAHASA INDONESIA 1. PENDAHULUAN

Kata atau kalimat bukanlah satuan bahasa yang lengkap sebagaimana dianggap oleh beberapa orang dewasa ini. Satuan bahasa terlengkap adalah wacana (Kridalaksana, 1982:179).

Dalam hierarki gramatikal, wacana merupakan satuan gramatikal yang tertinggi atau terbesar.

Wujud wacana ini dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk.

Di atas telah disebutkan bahwa kata atau kalimat bukanlah merupakan satuan bahasa terlengkap, walaupun demikian, sebuah kata dari segi bentuknya dapat dikatakan sebagai suatu wacana. Sebuah kata dapat disebut sebagai wacana jika kata tersebut membawa amanat yang lengkap dan berintonasi final. Amanat dimaksudkan adalah keseluruhan makna (isi) wacana;

konsep dan perasaan yang hendak disampaikan pembicara untuk dimengerti dan diterima pendengar. Jadi, asal amanat yang hendak disampaikan pembicara sudah lengkap dan intonasinya final maka sebuah kata dapat dikatakan sebagai wacana. Inilah salah satu bentuk wacana. Selain itu, wujud wacana juga dapat direalisasikan dalam bentuk kalimat, paragraf, dan karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya). Dengan demikian bentuk- bentuk wacana dapat berupa (1) kata, (2) kalimat, (3) paragraf, dan (4) karangan yang utuh.

Keempat bentuk ini dapat dikatakan sebagai wacana apabila ia membawa amanat yang lengkap.

Bentuk wacana yang berupa paragraf dan karangan yang utuh akan memperlihatkan rentetan kalimat. Rentetan kalimat di sini bukanlah sekedar mengurutkan beberapa kalimat, melainkan rentetan kalimat yang berkaitan sehingga membentuk makna yang serasi di antara kalimat itu. Dalam hal ini akan bisa terjadi salah satu unsur dalam kalimat atau klausa terdahulu yang ditunjuk oleh ungkapan dalam suatu kalimat atau klausa berikutnya. Misalnya “Dusun itu lebih kurang lima kilo meter dari Muntilan hawanya sejuk. Pemandangannya indah.

Penduduknya ramah-ramah”. Nya dalam hawanya, pemandangannya, dan penduduknya, menunjuk atau mengacu pada dusun itu dalam kalimat terdahulu. Hal menunjuk kembali salah satu unsur dalam kalimat terdahulu atau klausa terdahulu diistilahkan dengan anteseden. Jadi, dusun itu merupakan anteseden dari nya dalam hawanya, pemandangannya, dan penduduknya.

(3)

Menurut Harimurti Kridalaksana, anteseden dapat bersifat anaforis dan bisa juga kataforis.

Apabila unsur yang ditunjuk telah disebutkan sebelumnya dalam suatu wacana maka ia dikatakan bersifat anaforis, sedangkan jika unsur yang ditunjuk berada di belakangnya akan dikatakan bersifat kataforis. Anteseden yang bersifat kataforis tidak akan dibahas di sini. Adapun masalah yang akan dibahas adalah anteseden yang bersifat anaforis; tepatnya penanda anafora dalam bahasa Indonesia. Bagaimanakah bentuknya? Apa saja macam-macam penanda anafora dalam bahasa Indonesia?

Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Tujuan tersebut diklasifikasikan atas tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk ikut serta dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, hasilnya diharaokan dapat dipakai sebagai bahan pengajaran bahasa Indonesia. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengangkat data penanda anafora dalam bahasa Indonesia dan selanjutnya mengolah data tersebut serta mendeskripsikannya.

Data yang ingin diangkat dalam tujuan khusus di atas diperoleh dengan metode studi pustaka dan dibantu dengan teknik catat. Data yang dikumpulkan itu kemudian dianalisis dengan metode deskriptif. Selanjutnya hasil analisis disajikan dengan metode formal dan informal yaitu penyajian dengan tanda-tanda dan dengan uraian kata-kata biasa.

Teori yang diacu dalam penelitian ini adalah teori atau konsep yang dikemukakan oleh Harimurti Kridalaksana tentang anafora. Selain itu, juga digunakan teori kohesi dan koherensi yang diungkapkan dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

(4)

2. PEMBAHASAN 2.1 Konsep

Wacana yang baik pada umumnya memiliki kohesi dan koherensi. Kohesi merujuk ke perpautan bentuk, sedangkan koherensi pada perpautan makna. Kalimat atau kata yang dipakai dalam wacana berkaitan; pengertian yang satu menyambung pengertian yang lain secara berturut-turut. Contoh wacana yang mengandung kohesi dan koherensi adalah sebagai berikut.

“Pak Ali pergi ke kota naik bus PPD. Ia pergi membeli sepatu baru. Karena ada pajak impor, maka harga sepatu buatan dalam negeri juga ikut naik. Sepatu yang dipeli Pak Ali itu harganya lima belas ribu rupiah” (Tata Bahasa Buku Bahasa Indonesia, 1988:34).

Meskipun kohesi dan koherensi umumnya berpautan, tidaklah berarti bahwa kohesi harus ada agar wacana menjadi koheren. Mungkin ada percakapan yang jika ditinjau dari segi kata- katanya sama sekali tidak kohesif, tetapi jika dilihat dari segi maknanya koheren.

Dalam bahasa Indonesia ada kata-kata tertentu yang dapat dipakai untuk menjadikan sebuah wacana yang kohesif, sehingga tercapai koherensi. Kata-kata itu adalah dia, tetapi, meskipun,dan waktu itu.

Kohesi, seperti telah disebutkan di atas, merujuk ke perpautan bentuk. Ini berarti ada wujud/bentuk tertentu dalam wacana dapat dilihat secara nyata, untuk mencapai makna yang koheren.

Rentetan kalimat dalam wacana bukanlah sembarang rentetan kalimat, tetapi rentetan kalimat yang saling berkaitan. Dalam keterkaitannya ini, ada sesuatu hal yang telah diungkapkan sebelumnya ditunjuk kembali dalam kalimat berikutnya. Hal seperti ini diistilahkan anafora oleh Harimurti Kridalaksana. Untuk lebih lengkapnya, inilah pengertian anafora yang dikemukakan Harimurti: hal atau fungsi sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau subtitusi.

Misalnya nya dalam bahasa Indonesia berfungsi anaforis dalam wacana berikut.

“Pak Karta supir kami. Rumahnya jauh”

Nya menunjuk kembali kembali pada Pak Karta.

(5)

Melihat kenyataan di atas, dapatlah dikatakan bahwa nya dalam wacana tersebut merupakan penanda anafora. Akan tetapi, ada kalanya penanda anafora dihilangkan. Dengan kata lain, penunjukan kepada kata yang telah disebutkan lebih dulu dengan penghilangan kata anaforisnya. Misalnya dalam wacana berikut ini.

“Katanya sudah melahirkan. Mana?”.

Unsur yang dihilangkan dalam wacana di atas adalah unsur atau kata bayinya. Secara lengkap mestinya wacana di atas berbunyi: Katanya sudah melahirkan. Mana bayinya? Wacana yang seperti ini oleh Harimurti Kridalaksana disebut dengan istilah wacana yang memiliki anafora zero (zero anaphora) (1982:10).

2.2 Bentuk Penanda Anafora dalam Bahasa Indonesia

Berbicara masalah bentuk, berarti ada sesuatu yang dapat dilihat oleh indra penglihatan.

Berdasarkan data yang terkumpul dapatlah diungkapkan bentuk-bentuk penanda anafora itu.

Adapun bentuk-bentuknya adalah sebagai tertera di bawah ini.

2.2.1 Kata

Penanda anafora dalam bahasa Indonesia ada yang berupa kata. Perhatikan wacana- wacana berikut ini.

(1) Ia seorang yang besar jiwanya, berkobar-kobar semangatnya dan teguh keras kemauannya.

(2) Ada beberapa kata yang berisi kadar tugas semata. Tugasnya pun bermacam-macam.

(3) Wati duduk termenung di serambi muka, wajahnya sayu dan matanya tergenang oleh air mata kepedihan.

Wacana (1) memperlihatkan nya dalam semangatnya dan kemauannya memiliki sifat anaforis. Nya dalam wacana (1) ini adalah penanda anafora dengan “Ia seorang yang besar jiwanya” sebagai anteseden. Begitu halnya juga dengan wacana (2) dan (3). Dalam wacana (2), nya juga merupakan penanda anafora dengan “beberapa kata yang berisi kadar tugas” sebagai anteseden, sedangkan dalam wacana (3) nya juga merupakan penanda anafora dengan ”Wati”

sebagai anteseden. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nya dalam wacana ini pada posisi seperti di atas merupakan penanda anafora. Nya dalam posisi yang lain, barangkali tidak

(6)

memiliki kemungkinan sebagai penanda anafora. Nya seperti ini tidak akan dibahas. Sebagai ilustrasi, nya yang bukan sebagai penanda anafora itu adalah dalam posisi seperti berikut.

a. Di rumah itu ada hantunya.

b. Ia menyanyi dengan merdunya.

Selanjutnya perhatikanlah wacana berikut ini.

(4) Peserta seminar yang diharapkan berjumlah hanya 100 orang, ternyata membengkak. Mereka berharap, agar kegiatan semacam ini diadakan secara berkala, sehingga alumni di luar Unud memiliki kesempatan yang besar untuk bergaul kembali dengan almamaternya.

(5) Jakarta memang merupakan kota metropolis. Di sana berbagai suku bangsa dapat ditemukan.

Mereka hidup bertetangga meskipun sehari-hari memakai bahasa yang berbeda-beda.

Mereka dalam wacana (4) dan (5) adalah penanda anafora.

Mereka adalah penanda anafora dalam wacana (4) dengan “peserta seminar” sebagai anteseden, sedangkan mereka dalam wacana (5) merupakan penan anafora dengan “berbagai suku bangsa”

sebagai anteseden. Jadi, selain nya, mereka juga merupakan penanda anafora.

Perhatikan pula wacana berikut ini.

(6) Masa taman kanak-kanak sering dianggap tidak penting oleh banyak orang. Ia hanya dianggap sebagai anak-anak bermain-main.

(7) Pukul 2.00 malam Ardi baru pulang 1). Dengan berjingkat dia memasuki kamarnya 2). Tentu saja dia mengharap ibunya tidak terbangun 3) Tetapi memang dasar sial, Bu Halimah terbangun juga 4) Dia bangkit dari ranjangnya dan dengan mata yang masih setengah tertutup menyalakan lampu 5).

Ia dalam wacana (6) adalah penanda anafora dengan “masa taman kanak-kanak” sebagai anteseden. Selanjutnya memperhatikan wacana (7) di atas terlihatlah dua orang pelaku perbuatan. Pelaku pertama adalah Ardi yang baru pulang, sedangkan pelaku kedua adalah Bu Halimah yang terbangun. Masing-masing pelaku tersebut diungkapkan kembali dalam kalimat berikutnya dalam wacana di atas dengan kata dia. Jadi, dalam wacana (7) di atas terdapat penanda anafora dia dengan anteseden yang berbeda. Dia pada kalimat 2) dan 3) adalah penanda

(7)

anafora dengan Ardi sebagai anteseden, sedangkan dia pada kalimat 5) adalah penanda anafora dengan “Bu Halimah” sebagai anteseden.

Penanda anafora ia pada wacana (6) dapat saling menggantikan dengan penanda anafora dia pada wacana (7). Dikatakan demikian, karena pemakaian ia ataupun dia tidak mengubah makna yang terkandung dalam wacana-wacana tersebut. Berdasarkan hal ini, dapatlah dikatakan bahwa ditemukan penanda anafora ia/dia pada wacana di atas.

Perhatikan lagi wacana (8),(9),dan (10) di bawah ini.

(8) Berkali-kali hadirin tertawa mengejek. Itulah yang menyebabkan pembicara naik darah.

(9) Pembendaan memang dapat memperjelas penuturan, itu pun jika dipakai dengan hemat dan cermat.

Itu dalam wacana (8) dan (9) merupakan penanda anafora. Anteseden dari penanda anafora tersebut adalah sebagai berikut. Anteseden pada wacana (8) adalah “hadirin tertawa”, sedangkan pada wacana (9) Itu memiliki anteseden “pembendaan dapat memperjelas penuturan”.

(10) Ashar menceritakan pengalamannya bekerja di kapal. Ini sangat menarik perhatian teman- temannya.

Memperhatikan wacana (10) di atas, terlihatlah penanda anafora. Penanda anafora tersebut adalah ini dengan “Ashar menceritakan pengalamannya bekerja di kapal” sebagai anteseden.

Dengan melihat letak penanda anafora yang berupa kata pada wacana-wacana di atas, dapatlah diketahuai sifat penanda anafora itu. Pertama penanda anafora bersifat intratekstual (menghubungkan kalimat dengan kalimat dalam wacana). Penanda anafora yang intratekstual antara lain terdapat pada wacana (8), (9), dan (10). Kedua, penanda anafora bersifat intrakalimat (menghubungkan kata dengan kata dalam wacana). Penanda anfora yang bersifat seperti ini antara lain terdapat pada wacana (1) dan (3).

2.2.2 Frase

Penanda anafora yang berupa frase terdapat pada wacana yang akan diungkapkan di

(8)

(11) Kalau kamu tidak bisa masuk Universitas Indonesia, itu tidak berarti kamu bodoh. Kamu tahu Einstein, bukan? Sarjana pemenang hadiah nobel itu pernah gagal masuk universitas.

Dalam wacana (11) di atas terdapat frase sarjana pemenang hadiah nobel. Frase tersebut menunjuk kembali pada Einstein yang telah diungkapkan sebelumnya. Jadi, frase sarjana pemenang hadiah nobel merupakan penanda anafora dengan “Einstein” sebagai anteseden.

(12) Jakarta memang merupakan kota metropolis. Di sana berbagai suku bangsa dapat ditemukan. Mereka hidup bertetangga meskipun sehari-hari memakai bahasa yang berbeda.

Frase di sana dalam wacana (12) di atas adalah penanda anafora dengan “Jakarta” sebagai anteseden.

(13) Usul penelitian itu akan dikirimkan minggu depan.

Pada saat itu engkau harus mengambilnya.

Frase pada saat itu dalam wacana (13) merupakan penanda anafora dengan “minggu depan”

sebagai anteseden.

2.2.3 Zero

Bentuk penanda anafora yang ketiga ini adalah zero. Bentuk zero dimaksudkan adalah tidak ada wujud anaforisnya dalam wacana, tetapi ketidakadaan wujud itu pada hakikatnya menunjuk kembali kata yang telah disebutkan lebih dulu. Lihatlah wacana berikut ini.

(14) Kemarin Amir pergi ke Jakarta, sekarang ǿ ke Jakarta.

Tanda ǿ dalam wacana (14) menunjukkan tempat penanda anafora yang dihilangkan.

Penghilangan penanda anafora tersebut menunjukkan kembali kata yang telah disebutkan sebelumnya. Kata yang ditunjuk kembali itu adalah Amir pergi. Dengan demikian, ǿ adalah penanda anafora dalam wacana (14) dengan “Amir pergi” sebagai anteseden.

2.3 Macam-Macam Anafora Bahasa Indonesia

Melihat bentuk-bentuk penanda anafora yang telah dikemukakan di atas serta data lain yang telah terkumpul dapatlah dibuat klasifikasi atau macam-macam anafora bahasa Indonesia.

(9)

Macam-macam anafora bahasa Indonesia dapat digolongkan atas tiga jenis, yaitu 1) anafora dengan substitusi/penggantian, 2) anafora dengan ellipsis/zero/penghilangan, 3) anafora dengan pengulangan.

2.3.1 Anafora Substitusi

Anafora substitusi dimaksudkan adalah anafora yang penandanya merupakan penggantian dari anteseden. Penggantian itu dapat berupa kata dan dapat pula berupa frase.

Contoh wacana (15) di bawah ini adalah wacana yang mengandung anafora substitusi kata.

Wacana (16) memiliki anafora substitusi frase. Kata ataupun frase yang dimaksud di bawah ini dicetak miring.

(15) Riza bekerja keras sekali semester ini agar ia dapat menyelesaikan studinya akhir tahun ini.

(16) Angga dipromosikan pagi tadi. Pada kesempatan itu hadir dua orang temannya dan pimpinannya.

2.3.2 Anafora Zero

Anafora macam ini dijumpai juga dalam bahasa Indonesia.

Dikatakan zero karena unsur penandanya dihilangkan.

Contoh:

(17) Kemarin Amir duduk, sekarang ǿ berdiri.

2.3.3 Anafora Pengulangan

Anafora macam ini memiliki penanda dan anteseden sama (penandanya merupakan pengulangan dari anteseden).

Contoh:

(18) Hai, Pemuda, harapan bangsa.

(19) Hai, Pemuda tiang negara.

(10)

(21) Marilah membangun.

3. SIMPULAN

Berdasarkan kajian di atas dapat disimpulkan hal-hal berikut ini.

1) Bentuk penanda anafora dalam bahasa Indoensia ada tiga, yaitu berupa kata (seperti ini, itu, ia, dia, mereka, dan nya). Selain itu, penanda anafora juga dapat berupa frase dan zero.

2 Macam-macam anafora dalam bahasa Indonesia ada tiga buah yaitu anafora subtitusi, anafora zero, dan anafora pengulangan.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Poerwadarminta, W.J.S. 1967. Bahasa Indonesia untuk KarangMengarang. Jogja: U.P.

Indonesia.

“Wahana” No. 6 Th. III Februari 1989.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :