• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, media massa juga melakukan banyak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, media massa juga melakukan banyak"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Komunikasi dan media massa saat ini memegang peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, media massa juga melakukan banyak transformasi sosial dan berfungsi untuk menyiarkan informasi, mendidik, dan menghibur (Widhiastuti, 2012: 1). Salah satu media massa yang dekat dengan masyarakat adalah film.

Film membawa banyak fenomena maupun gejala sosial dan dianggap efektif sebagai media komunikasi karena menggunakan bahasa verbal dan nonverbal.

Film dipahami dari lambang-lambang atau tanda yang terdapat pada bahasa gambar (audio visual) dan disampaikan dengan dialog atau gambar (Shahab, 2010: 19-20). Bahasa audio visual film dikemas dalam sistem tanda sehingga dapat menciptakan sebuah representasi. Representasi adalah hubungan antara konsep-konsep dan bahasa yang menunjuk pada dunia dari suatu obyek, realita atau pada dunia imajinasi tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa (Rosyid, 2012: 2).

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam meneliti film adalah analisis semiotik. Pada kajian semiotik, film dianggap sebagai hasil dari media massa yang menciptakan atau mendaur ulang tanda untuk suatu tujuan (Taqqiya, 2011:

28). Pada dasarnya, film sebagai media massa merupakan alat atau sarana yang diciptakan untuk meneruskan pesan-pesan komunikasi (Shahab, 2010: 14). Pesan-

(2)

pesan komunikasi tersebut disampaikan dalam film melalui tanda verbal dan nonverbal (Widhiastuti, 2012: 7). Penelitian ini akan mengeksplorasi film dalam menyampaikan representasi yang dilihat dari tanda, karena tanda dianggap mewakili sesuatu yang lain (Wibowo, 2011: 5).

Film “47 Rounin” karya Carl Rinsh merupakan sebuah film yang terinspirasi dari kisah 47 Gishi1 di Akou. Sebuah cerita masyarakat Jepang mengenai pembalasan dendam yang dilakukan oleh 47 rounin pada zaman feodal Jepang (Nitobe, 2015: 44). Pembalasan dendam tersebut disebabkan oleh ketidakadilan yang dirasakan oleh para rounin atas hukuman mati untuk tuan mereka, Asano Takumi no Kami. Perintah hukuman mati itu diberikan oleh Shogun karena Tuan Asano menyerang pejabat tinggi istana Kira Kozuke no Suke Yoshihisa dengan pedang pendek (wakizashi)2 dalam Istana Edo. Tidak diketahui pasti alasan Tuan Asano menyerang Tuan Kira dan tidak ada orang yang tahu kejadian sebenarnya.

Atas penyerangan itu, Shogun memberikan hukuman mati dengan cara seppuku pada sore harinya. Di hari yang sama, maka semua samurai di Akou berubah statusnya menjadi rounin. Rounin atau roushi adalah sebutan untuk samurai yang kehilangan atau terpisah dari tuannya pada zaman feodal Jepang (Ali, 2015). Pemberian hukuman mati kepada Tuan Asano kemudian menimbulkan rasa tidak puas dari para rounin karena hal itu tidak sesuai dengan

1 Gishi 「義士」adalah orang yang jujur (Nitobe, 2015: 44).

2 Wakizashi adalah pedang tradisional Jepang dengan panjang mata bilah antara 30-60 cm, serupa dengan katana tetapi lebih pendek.

(3)

hukum prinsip Kenka ryouseibai ho 3 pada kelas samurai. Hal tersebut menyebabkan para rounin merencanakan pembalasan dendam terhadap Tuan Kira dengan tujuan untuk membunuhnya. Pembunuhan tersebut menjadi tujuan akhir tugas para rounin yang mereka anggap akan seimbang dengan kematian tuannya.

Penyerangan ke kediaman Tuan Kira dilakukan beberapa kali karena mengalami kegagalan, namun hal itu tidak mematahkan tekad para rounin untuk mencapai tujuan mereka.

Pada saat para rounin berhasil membunuh Tuan Kira dan memenggal kepalanya, kemenangan berhasil didapatkan maka mereka menganggap sudah menuntaskan tugas. Kejadian tersebut dikenal masyarakat dengan sebutan「元禄 赤穂事件」Genroku Akou Jiken (Kobayashi, 2015: 1). Setelah pembunuhan itu, kepala Kira Kozuke no Suke Yoshihisa diletakkan di atas makam Asano Takumi no Kami, kemudian ke-47 rounin menyerahkan diri kepada pemerintah atas tindakan pembunuhan tersebut.

Sejak awal rencana, para rounin sebenarnya sudah mengetahui hukuman mati yang pasti akan diberikan saat mereka menyerahkan diri setelah melakukan pembalasan tersebut. Akan tetapi, mereka tidak peduli karena mengembalikan nama baik tuan mereka adalah hal yang paling utama dibandingkan hidup mereka sendiri. Untuk menghormati Tuan Asano dan kesetiaan para rounin, Shogun akhirnya menjatuhkan hukuman mati dengan cara seppuku kepada semua rounin.

Peristiwa ini dalam sekejap menjadi pembicaraan masyarakat Akou bahkan

3 Kedua belah pihak yang bertengkar harus dihukum. http://kazuno.in.coocan.jp/99kotowaza/99ke/Kenka-ryouseibai.htm.

Diakses pada 07 Januari 2016. Pukul. 10.26 WIB.

(4)

sampai kota Edo. Masyarakat memuji tindakan 47 rounin sebagai samurai yang setia.

Kisah tentang kesetiaan para rounin terhadap tuannya kemudian dikemas oleh Carl Rinsch ke dalam film dengan judul 47 Rounin. Ditayangkan pertama kali di Amerika Serikat pada tanggal 25 Desember 2013 dan pada tanggal 6 Desember 2013 di Jepang. Film ini mendapatkan banyak kritik mengenai adanya penyihir, siluman, dan kekuatan sihir yang dimiliki oleh beberapa tokoh dilihat dari pandangan orang Barat. Hal tersebut dimaksudkan agar film ini tetap dapat dijual di negara mereka sendiri dan pasar internasional. Terlepas dari kritik terhadap film, Carl Rinsch sebagai orang Barat juga berusaha untuk lebih menonjolkan budaya Jepang dibandingkan budaya Barat pada film tersebut. Ia tetap menampilkan kehidupan samurai pada zaman feodal dengan baik. Salah satunya, Carl Rinsch berusaha menampilkan kehidupan samurai yang identik dengan bushido.

Bushido berasal dari kata „bu’ yang berarti beladiri, ‘shi’ yang berarti samurai (orang), dan ‘do’ yang berarti jalan, secara sederhana bushido berarti jalan terhormat yang harus ditempuh samurai dalam pengabdiannya (Benedict, 1982: 335). Setelah zaman Kamakura usai, pada periode Muromachi hingga periode Edo, etika bushido semakin gencar dilakukan. Pada masa Tokugawa, etika bushido dijadikan etika dasar masyarakat hingga masa modern Jepang (Suliyati, 2013).

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana usaha yang dilakukan oleh Carl Rinsch dalam merepresentasikan budaya Jepang dalam film

(5)

47 Rounin? Apakah sesuai dengan etika bushido yang sebenarnya? Tentu hal ini perlu dilakukan cross check lebih lanjut. Cross check dalam penelitian ini membutuhkan kajian yang meliputi dua hal, yaitu film itu sendiri sebagai wilayah analisis mengenai etika bushido dan data-data sejarah maupun etnografi Jepang yang dibutuhkan dalam penelitian sebagai sumber fakta mengenai etika bushido tersebut. Pemahaman tentang etika bushido yang digunakan dalam penelitian adalah etika bushido menurut Inazo Nitobe, sehingga pada analisis data penelitian akan ditemukan 7 etika bushido sesuai dengan penjelasan Nitobe.

Untuk menganalisis film 47 Rounin, peneliti akan mengeksplorasi film dalam menyampaikan makna yang dilihat dari tanda dalam film. Selain itu, sistem semiotika yang penting dalam film adalah digunakannya tanda ikonis, yakni tanda yang menggambarkan sesuatu. Tanda-tanda tersebut dapat berupa tanda audio (suara, bahasa, dialog tokoh, musik) dan tanda visual (gambar, bahasa nonverbal, mimik wajah, serta latar) (Widhiastuti, 2012: 6).

Teori semiotik yang akan digunakan pada penelitian ini adalah teori semiotik Roland Barthes, yang menekankan relasi antara ekspresi dan konteks atau relasi antara ekspresi dan isi. Teori tersebut memunculkan adanya makna denotasi dan konotasi. Fiske menyebutnya sebagai „two order of dignification‟

(Wibowo, 2011: 16). Barthes menyebutnya dengan makna denotasi sebagai makna awal yang dipahami, sedangkan makna konotasi adalah proses memaknai tanda lebih dalam karena memiliki latar belakang budaya. Pada signifikansi kedua inilah Barthes menamainya dengan pencarian mitos (mitologi) (Wibowo, 2011:

17).

(6)

1.2 Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang penelitian di atas, maka perumusan masalah yang didapat adalah :

1. Apa makna denotasi dan makna konotasi dalam film 47 Rounin?

2. Mitos apa yang ingin disampaikan film 47 Rounin dilihat dari makna denotasi dan konotasinya?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan tanda yang merepresentasikan etika bushido sebagai makna awal (denotasi dan konotasi).

Berdasarkan tanda tersebut, peneliti akan mengungkapkan makna kedua yang tidak dapat dilihat secara eksplisit. Makna kedua ini berupa ideologi yang dianggap Barthes sebagai mitologi dari sebuah tanda pada makna awal. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bahwa tanda secara verbal maupun nonverbal merupakan bentuk dari suatu makna tersembunyi yang ingin disampaikan melalui film.

1.4 Landasan Teori

Teori semiotika yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika Roland Barthes. Barthes beranggapan bahwa film bersinggungan dengan tanda- tanda melalui verbal maupun nonverbal. Model semiotika Barthes mengacu pada dua tahap pemaknaan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih tepat. Di tangan Barthes semiotik digunakan secara luas dalam banyak bidang sebagai alat untuk berfikir kritis. Hal ini kemudian memunculkan adanya makna tambahan (konotatif) dan arti penunjuk (denotatif) sebagai kunci analisa semiotikanya. Salah

(7)

satu tujuan analisis semiotika adalah menyediakan metode dan kerangka berpikir untuk mencegah terjadinya salah baca (misreading) atau salah dalam mengartikan makna suatu tanda.

Pada signifikansi tahap kedua berhubungan dengan isi, tanda akan bekerja melalui mitos (Wibowo, 2011: 17). Tanda ini ditemukan saat mitologi ditemukan sehingga akan ditemukan makna sesungguhnya dari tanda tersebut. Dalam konteks mitologi lama, mitos bertalian dengan sejarah dan bentukan masyarakat pada masanya, tetapi Barthes memandangnya sebagai bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakini kebenarannya walau tidak dapat dibuktikan. Bukan hanya berbentuk tuturan oral melainkan dapat pula berbentuk tulisan, fotografi, film, laporan ilmiah, olah raga, pertunjukan, bahkan iklan dan lukisan. Penjelasan mengenai teori semiotika Roland Barthes akan dijelaskan lebih lanjut pada landasan teori bab II.

1.5 Tinjauan Pustaka

Berkaca dari perkembangan media massa, film menjadi salah satu sarana konsumsi masyarakat yang penting saat ini. Pustaka yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya buku tentang metode penelitian studi media dan kajian budaya oleh Rachmah Ida (2014) yang menjelaskan banyaknya konsep-konsep kajian budaya dan area kajian komunikasi (media dan budaya).

Pustaka mengenai bushido yang digunakan dalam penelitian adalah buku karya Nitobe, yang berjudul “Bushido The Soul of Samurai”. Dalam bukunya, Nitobe menjelaskan sumber-sumber bushido, bagaimana bushido dilakukan, dan dampak etika bushido pada masyarakat Jepang. Selain itu, ada pula skripsi

(8)

“Analisis Semiotik terhadap Film In The Name Of God” oleh Hani Taqqiya (2011) mahasiswi Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Pada skripsi ini dijelaskan bahwa, analisa Roland Barthes dapat dipakai untuk mencari representasi konsep jihad Islam dalam film tersebut.

“Representasi Nasionalisme dalam Film Merah Putih (Analisis Semiotika Roland Barthes)” oleh Christina Ineke Widhiastuti (2012) mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pada skripsi ini film Merah Putih dianalisis hingga mendapatkan beberapa scene yang merepresentasikan nasionalisme bangsa Indonesia.

Perbedaan skripsi ini dengan skripsi yang lain adalah objek material yang digunakan, yaitu film 47 Rounin dan dilakukannya analisis mitologi Barthes.

1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan teori semiotika Roland Barthes.

Objek penelitian ini diambil dari film 47 Rounin yang diproduksi pada tahun 2013 dan dipublikasikan oleh Universal Studio. Film 47 Rounin berdurasi 119 menit dan disutradarai oleh Carl Rinsch. Peneliti juga mengumpulkan data etnografi dan sejarah Jepang untuk menghubungkan cerita film dengan fenomena dari hasil tinjauan pustaka.

1.6.2 Metode Analisis Data

Data yang berhubungan dengan penelitian akan diseleksi, diklasifikasi, dianalisis, dan ditarik kesimpulannya. Langkah yang akan dilakukan peneliti, diantaranya :

(9)

1. Dilakukan pemotongan film menjadi menjadi beberapa scene.

2. Mengindentifikasi makna awal (denotasi) pada scene yang sudah ada.

3. Menetapkan hubungan makna denotasi pada scene dengan realita kisah 47 Rounin.

4. Mencari makna kedua (konotasi) untuk menghasilkan sebuah mitos dalam film.

1.7 Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pemahaman terhadap isi penelitian ini, peneliti membuat sistematika penyajian sebagai berikut:

Bab I adalah pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penelitian. Bab II membahas landasan teori yang akan digunakan dalam penelitian. Bab III membahas analisis data dari pembagian scene, leksia, analisis 5 kode, dan pencarian makna denotasi dan konotasi Roland Barthes. Bab IV berupa kesimpulan.

Referensi

Dokumen terkait

kepada faktor permintaan pasaran pekerjaan dan keuntungan ekonomi, matlamat utama pendidikan untuk membina nilai-nilai murni kemanusiaan tidak dapat dicapai (Rosnani, 2007).

Oleh karena itu dengan kondisi pelemahan ekonomi global yang berdampak pada kondisi ekonomi domestik Indonesia, sehingga mengakibatkan Pemerintah Republik

Berkembangnya motif geometris mulai dari titik, garis maupun bidang yang disusun secara berulan-ulang sehingga menjadi sebuah motif geometris dari yang sederhana sampai yang rumit,

 Terwujudnya inovasi teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala kecil  Terwujudnya Rintisan Technopark Baron  Terwujudnya inovasi teknologi

Sedangkan pengambilan data untuk sistem keseluruhan dilakukan dengan pengukuran sampel yang telah diketahui kadar besinya secara perhitungan, kemudian diukur dengan

16.930.985.137 yang di dapat dari penerapan perencanaan pajak yaitu memberikan kompensasi secara tunai kepada karyawan dalam pos pengobatan dan dokter,

L adalah halusinasi pendengaran yang didukung dengan data subjektif: Sdr.L mendengar bisikan – bisikan yang menyuruhnya untuk mengamuk orang tuanya, dan linkungan rumahnya,

hasil klasifikasi tema pendekatan-pendekatan perancangan bangunan yang sejalan dengan standar kompetensi yang ditetapkan hasil analisis seluruh metode-metode membangun yang