RANCANGAN PERATURAN DAERAH
KOTA BATAM
TENTANG
DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
Kota Batam Universitas Maritim Raja Ali Haji
Kerjasama :
Sekretariat DPRD Kota Batam dengan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji
2021
WALIKOTA BATAM PROVINSI KEPULAUAN RIAU
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR…TAHUN…
TENTANG
DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATAM,
Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan pemerataan akses layanan Pendidikan, Pemerintah Daerah perlu mengalokasikan dan menyalurkan dana bantuan operasional sekolah daerah bagi satuan Pendidikan yang diselenggarakan masyarakat;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5670);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4864);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5157);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA BATAM dan
WALIKOTA BATAM
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksudkan dengan : 1. Daerah adalah Kota Batam.
2. Pemerintah Daerah adalah Walikota sebagai unsur Penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah Otonom.
3. Walikota adalah Walikota Batam Bupati.
4. Dinas adalah perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang pendidikan di daerah.
5. Kementerian adalah kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang pendidikan.
6. Satuan Pendidikan adalah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang diselenggarakan Masyarakat.
7. Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan Yang diselenggarakan Masyarakat adalah bantuan operasional yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang dialokasikan untuk membantu kebutuhan belanja operasional seluruh peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah yang didirikan oleh masyarakat.
8. Sekolah Dasar yang selanjutnya disingkat SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar.
9. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disingkat SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar.
10. Data Pokok Pendidikan yang selanjutnya disingkat Dapodik adalah suatu sistem pendataan yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memuat data satuan pendidikan, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, dan substansi pendidikan yang datanya bersumber dari satuan pendidikan yang terus menerus diperbaharui secara online.
11. Nomor Induk Siswa Nasional yang selanjutnya disingkat NISN adalah kode pengenal siswa yang bersifat unik dan membedakan satu siswa dengan siswa lain yang diterbitkan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan.
12. Rekening Sekolah adalah rekening yang digunakan sekolah untuk menerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan Yang diselenggarakan Masyarakat.
13. Peserta Didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
14. Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.
15. Data Terpadu Kesejahteraan Sosial yang selanjutnya disingkat DTKS adalah sistem data elektronik yang memuat informasi sosial, ekonomi dan demografi penduduk dengan status kesejahteraan terendah.
16. Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Daerah adalah sistem data elektronik yang memuat informasi sosial, ekonomi, dan demografi individu dengan status kesejahteraan terendah di Daerah yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota.
BAB II
ASAS DAN TUJUAN Pasal 2
Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat berasaskan :
a. Keadilan;
b. Efisiensi;
c. Transparansi; dan d. Akuntabilitas publik.
Pasal 3
Tujuan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat adalah:
a. meringankan beban biaya operasional sekolah bagi peserta didik;
b. membebaskan pungutan peserta didik yang orangtua/walinya tidak mampu dari beban biaya operasional sekolah;
c. peningkatan daya saing sekolah; dan
d. terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana sekolah.
BAB II
PENERIMA DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
Pasal 4
(1) Satuan Pendidikan Penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat terdiri atas:
a. SD; dan b. SMP.
(2) Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. mengisi dan melakukan pemutakhiran Dapodik sesuai dengan kondisi riil di sekolah sampai dengan tanggal 31 Agustus;
b. memiliki nomor pokok sekolah nasional yang terdata pada Dapodik;
c. memiliki izin untuk menyelenggarakan pendidikan yang terdata pada Dapodik;
d. tidak dalam kondisi digabung (merger);
e. bukan merupakan sekolah yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal;
f. memiliki jumlah Peserta Didik kurang dari 60 (enam puluh) Peserta Didik selama 3 (tiga) tahun terakhir; dan
g. sekolah tidak sedang menerima dana bantuan operasional sekolah yang diselenggarakan Kementerian.
Pasal 5
(1) Satuan Pendidikan penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ditetapkan melalui Keputusan Walikota setiap tahun pelajaran.
(2) Penetapan Satuan Pendidikan penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan data pada Dapodik setiap tanggal 31 Agustus.
BAB III
KEWAJIBAN PENERIMA DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
Pasal 6
(1) Satuan Pendidikan yang telah ditetapkan sebagai penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1), wajib membebaskan segala pungutan kepada Peserta Didik dengan persyaratan sebagai berikut:
a. terdaftar sebagai Peserta Didik pada Satuan Pendidikan Yang diselenggarakan Masyarakat di Daerah;
b. berdomisili dan memiliki Kartu Keluarga Kota Batam; dan c. termasuk dalam kategori:
1. anak dari keluarga yang terdaftar dalam DTKS daerah dan/ atau DTKS;
2. anak yang terdaftar sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar;
3. anak yang tinggal di panti asuhan; atau
4. anak dari keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi.
(2) Kriteria keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c angka 4:
a. kehilangan pekerjaan karena pemutusan hubungan kerja;
b. kehilangan usaha dan/atau penghasilan yang berkurang secara signifikan;
c. berpenghasilan tidak tetap;
d. dirumahkan tanpa diberikan/dipotong penghasilan; dan/atau
e. ahli waris dalam satu Kartu Keluarga dari kepala keluarga yang meninggal dunia dan berhak mendapatkan bantuan.
(3) Kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuktikan dengan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak Kesulitan Ekonomi dari Orang Tua.
Pasal 7
Satuan Pendidikan yang telah ditetapkan sebagai penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1), wajib membatasi segala pungutan kepada Peserta Didik Daerah yang berstatus diluar ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 Ayat (1) huruf c, Ayat (2), dan Ayat (3).
Pasal 8
Satuan Pendidikan penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat yang melanggar ketentuan Pasal 6 dan Pasal 7, tidak berhak menerima Hibah Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat pada tahun-tahun berikutnya.
BAB IV
BESARAN ALOKASIDANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
Pasal 9
(1) Besaran alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat dihitung berdasarkan besaran satuan biaya daerah dikalikan 60 (enam puluh) Peserta Didik.
(2) Satuan biaya daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan pada kemampuan keuangan Daerah, dan ditetapkan dalam Keputusan Walikota.
BAB V
PENYALURAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
Pasal 10
(1) Mekanisme penyaluran Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat dapat mengadopsi tata cara penyaluran pada Dana BOS Reguler yang diselenggarakan oleh Kementerian.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme penyaluran Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Walikota.
Pasal 11
Dalam hal ada sisa Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat pada akhir Tahun Anggaran, maka sisa dana dimaksud wajib disetor ke kas Daerah.
Pasal 12
Satuan Pendidikan dapat langsung menggunakan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat untuk membiayai penyelenggaraan operasional sekolah setelah Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat disalurkan dan masuk ke Rekening Sekolah.
Pasal 13
(1) Dalam hal sekolah yang telah ditetapkan sebagai penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat dan telah disalurkan melalui Rekening sekolah:
a. menolak menerima Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat; atau
b. sekolah ditutup pada tahun berjalan, sekolah harus melakukan pengembalian Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat tahun berjalan.
(2) Pengembalian Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
BAB VI
KOMPONEN PENGGUNAAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN
MASYARAKAT Pasal 14
(1) Sekolah menggunakan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat untuk membiayai operasional penyelenggaraan pendidikan di sekolah meliputi komponen:
a. penerimaan Peserta Didik baru;
b. pengembangan perpustakaan;
c. pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler;
d. pelaksanaan kegiatan asesmen dan evaluasi pembelajaran;
e. pelaksanaan administrasi kegiatan sekolah;
f. pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan;
g. pembiayaan langganan daya dan jasa;
h. pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah;
i. penyediaan alat multimedia pembelajaran;
j. penyelenggaraan kegiatan peningkatan kompetensi keahlian;
k. penyelenggaraan kegiatan dalam mendukung keterserapan lulusan;
dan/atau
l. pembayaran honor.
(2) Sekolah menentukan komponen penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kebutuhan sekolah.
(3) Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat tidak dapat digunakan untuk komponen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila untuk komponen tersebut sebelumnya telah mendapat alokasi dari Pemerintah dan / atau Pemerintah Daerah.
Pasal 15
(1) Pembayaran honor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf l digunakan paling banyak 50% (lima puluh persen) dari keseluruhan jumlah alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat yang diterima oleh sekolah.
(2) Pembayaran honor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada guru dengan persyaratan:
a. berstatus bukan aparatur sipil negara;
b. tercatat pada Dapodik;
c. memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan; dan d. belum mendapatkan tunjangan profesi guru.
(3) Persentase pembayaran honor paling banyak 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan pada masa penetapan status bencana alam/non-alam yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah.
(4) Pembayaran honor sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan kepada guru dengan persyaratan:
a. berstatus bukan aparatur sipil negara;
b. tercatat pada Dapodik;
c. belum mendapatkan tunjangan profesi; dan
d. melaksanakan proses pembelajaran secara tatap muka atau pembelajaran jarak jauh.
Pasal 16
(1) Dalam hal pembayaran honor guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (3) terdapat sisa dana, pembayaran honor dapat diberikan kepada tenaga kependidikan.
(2) Tenaga kependidikan yang dapat diberikan honor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. berstatus bukan aparatur sipil negara; dan
b. ditugaskan oleh kepala sekolah yang dibuktikan dengan surat penugasan atau surat keputusan.
Pasal 17
Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat untuk pengadaan barang dan/jasa dilaksanakan melalui mekanisme pengadaan barang dan/atau jasa di sekolah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pengadaan barang/jasa oleh satuan pendidikan.
BAB VII
PENGELOLAAN DAN PELAPORAN
PENGGUNAAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
Pasal 18
(1) Pengelolaan dan pelaporan penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat dilakukan oleh sekolah dan Pemerintah Daerah.
(2) Tata cara pengelolaan dan pelaporan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengadopsi tata cara pengelolaan dan pelaporan pada Dana BOS Reguler yang diselenggarakan oleh Kementerian.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengelolaan dan pelaporanDana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dalam Peraturan Walikota.
BAB VIII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 19
(1) Kepala Dinas melakukan pembinaan kepada kepala Sekolah pada Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat dalam pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat.
(2) Pembinaan kepada kepala sekolah sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan paling sedikit melalui:
a. sosialisasi;
b. edukasi;
c. pelatihan; dan d. bimbingan teknis.
Pasal 20
Walikota melakukan pengawasan pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat sesuai dengan kewenangannya.
BAB IX PENDANAAN
Pasal 21
Sumber pendanaan Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP Pasal 22
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Batam.
Ditetapkan di Batam
pada tanggal ...
WALIKOTA BATAM
Diundangkan di Batam pada tanggal...
SEKRETARIS DAERAH KOTA BATAM, ttd
LEMBARAN DAERAH KOTA BATAM TAHUN... NOMOR...
PENJELASAN ATAS
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR…….TAHUN……..
TENTANG
DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DAERAH BAGI SATUAN PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN MASYARAKAT
I. UMUM
Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, status ekonomi, suku, etnis, agama, dan gender. Pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup (life skills) sehingga mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 Ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan Ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Hal ini juga diatur pada Pasal 28 C Ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia.
Setiap bangsa memliki sistem pendidikan nasional, pendidikan nasional masing-masing bangsa berdasarkan pada dan dijiwai oleh kebudayaannya.
Kebudayaan tersebut sarat dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang melalui sejarah sehingga mewarnai seluruh gerak hidup suatu bangsa.
Demikian halnya bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Negara, yaitu Pancasila dan UUD 1945, yang ditegaskan juga dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), pasal 11 menyatakan secara eksplisit bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang berkualitas bagi setiap warga Negara tanpa diskriminasi. Namun demikian, tanggung jawab pemerintah atas pendidikan ini dibatasi dan diutamakan dalam jenjang pendidikan dasar.
Dijelaskan pada pasal 34 ayat (2) UU Sisdiknas, bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggarakannya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
Biaya pendidikan merupakan salah satu komponen masukan instrumental (instrumental input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan (di sekolah). Hampir tidak ada upaya pendidikan yang dapat mengabaikan peranan biaya, sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa biaya, proses pendidikan (di sekolah) tidak akan berjalan.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan belum dapat memenuhi kebutuhan sistem Pendidikan saat ini, sehingga perlu diganti melalui Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional Pendidikan (SNP) menjelaskan secara garis besar biaya pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal.
Biaya satuan Pendidikan sebagaimana di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan juga diatur dalam Peraturan Daerah No.3 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dasar. Perda ini juga mencantumkan misi pendidikan daerah yaitu mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau dengan dukungan sumber daya manusia yang professional dengan misi: (a) menciptakan pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual dengan dukungan sarana dan prasarana yang berkualitas; (b) menciptakan tenaga pendidik dan kependidikan yang professional; (c) menciptakan lulusan yang berkualitas; (d) mengupayakan partisipasi seluruh komponen masyarakat agar penyelenggaraan pendidikan memiliki standar kualitas yang tinggi dan terjangkau; (e) mewujudkan kebijakan pendidikan terpadu dan berkualitas;dan (f) membangun budaya sekolah berbasis budaya lokal (Melayu) dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan serta mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tahun 2021, Pemerintah menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Reguler, dalam ketentuan Pasal 3 ayat (2) huruf d tentang syarat penerima dana BOS reguler yaitu memiliki jumlah Peserta Didik paling sedikit 60 (enam puluh) Peserta Didik selama 3 (tiga) tahun terakhir. Bagi sekolah yang tidak dapat memenuhi syarat tersebut maka tidak akan mendapatkan Dana BOS Reguler. Pengecualian syarat tersebut hanya pada (a) sekolah Terintegrasi, SDLB, SMPLB, SMALB, dan SLB; (b) sekolah yang berada di Daerah Khusus yang ditetapkan oleh Kementerian; dan (c) sekolah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah yang berada pada wilayah dengan kondisi kepadatan penduduk yang rendah dan secara geografis tidak dapat digabungkan dengan sekolah lain.
Tahun 2021 bahwa sebanyak 23 Sekolah Dasar (SD) dan 35 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di berbagai kecamatan di Kota Batam yang jumlah peserta didik kurang dari 60 murid. Program BOS yang secara khusus diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat yang bertujuan untuk menggratiskan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik di sekolah negeri maupun swasta serta meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa di sekolah swasta, tidak akan di peroleh bagi 23
Sekolah Dasar (SD) dan 35 Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta yang ada di Kota Batam karena dikecualikan sebagai penerima Dana BOS berdasarkan Permdikbud Nomor 6 Tahun 2021. Sehingga yang terlihat adalah akan ada ketidak merataan akses layanan Pendidikan khususnya dikota Batam.
Berdasarkan kondisi di atas, maka Pemerintah Daerah Kota Batam perlu menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat khususnya bidang Pendidikan untuk mengalokasikan anggaran bagi sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan sebuah payung hukum oleh Pemerintah Kota Batam dalam wujud Rancangan Peraturan Daerah tentang Dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah Bagi Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan Masyarakat.
II PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Cukup jelas Pasal 2
Huruf a
Yang dimaksud dengan prinsip “keadilan” adalah dilakukan dengan memberikan akses pelayanan pendidikan yang seluas-luasnya dan merata kepada peserta didik atau calon peserta didik, tanpa membedakan latar belakang suku, ras, agama, jenis kelamin, dan kemampuan atau status sosial- ekonomi.
Huruf b
Yang dimaksud dengan prinsip “efisiensi” adalah dilakukan dengan mengoptimalkan akses, mutu, relevansi, dan daya saing pelayanan pendidikan.
Huruf c
Yang dimaksud dengan prinsip “transparansi” adalah dilakukan dengan memenuhi asas kepatutan dan tata kelola yang baik oleh Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat, dan satuan pendidikan sehingga:
a. dapat diaudit atas dasar standar audit yang berlaku, dan menghasilkan opini audit wajar tanpa perkecualian; dan b. dapat dipertanggungjawabkan secara transparan kepada
pemangku kepentingan pendidikan.
Huruf d
Yang dimaksud dengan prinsip “akuntabilitas publik” adalah dilakukan dengan memberikan pertanggungjawaban atas kegiatan yang dijalankan oleh penyelenggara atau satuan pendidikan kepada pemangku kepentingan pendidikan sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Pasal 3
Cukup jelas Pasal 4
Cukup jelas Pasal 5
Cukup jelas Pasal 6
Cukup jelas Pasal 7
Cukup jelas Pasal 8
Cukup jelas Pasal 9
Cukup jelas Pasal 10
Cukup jelas Pasal 11
Cukup jelas Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup Jelas Pasal 14
Cukup Jelas Pasal 15
Cukup Jelas Pasal 16
Cukup Jelas
Pasal 17
Cukup jelas Pasal 18
Cukup jelas Pasal 19
Cukup Jelas Pasal 20
Cukup jelas Pasal 21
Cukup jelas Pasal 22
Cukup jelas