PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP
PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 11 TAHUN 2008
TENTANG
RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI CILACAP,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyederhanaan dan perbaikan sistem, jenis dan struktur Retribusi Daerah serta upaya peningkatan pendapatan daerah khususnya dari sektor Retribusi Daerah maka berdasarkan Pasal 3 ayat (2) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah yang menyebutkan salah satu jenis Retribusi Jasa Usaha yang menjadi kewenangan Daerah Kabupaten/Kota adalah Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, maka perlu mengatur Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah ;
b. bahwa terhadap pemakaian kekayaan daerah di Kabupaten Cilacap telah diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 3 Tahun 2001 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, namun saat ini Peraturan Daerah dimaksud dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan sehingga perlu dicabut;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan b diatas perlu diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah - daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah (Berita Negara Republik Indonesia tanggal 8 Agustus 1950) ;
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043) ;
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);
5. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
6. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
7. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
8. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
9. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia RI Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia RI Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) ; 10. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438 );
13. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Pinjaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575).
14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578).
15. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara / Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609 );
16. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Nomor 2 Tahun 1988 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap (Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Nomor 2 Tahun 1988 Seri D Nomor 3) ;
17. Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 9 Tahun 2007, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 9);
18. Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 17, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 25 Seri D);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN CILACAP dan
BUPATI CILACAP MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP TENTANG RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Daerah Kabupaten Cilacap ;
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah ;
3. Bupati adalah Bupati Cilacap ;
4. Pejabat yang ditunjuk adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang retribusi sesuai dengan Peraturan Perundang - undangan yang berlaku ;
5. Instansi yang ditunjuk adalah Dinas/Instansi yang ditunjuk oleh Bupati Cilacap ;
6. Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan ;
7. Kekayaan Daerah adalah barang - barang bergerak dan/atau tidak bergerak yang dimiliki dan/atau dibawah penguasaan Pemerintah Kabupaten Cilacap yang disediakan untuk dan / atau dapat dimanfaatkan oleh masyarakat guna menunjang berbagai keperluan yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umum ;
8. Badan adalah suatu bentuk Badan Usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, Persekutuan, Perkumpulan, Firma, Kongsi, Koperasi atau Organisasi yang sejenis, Lembaga, Dana Pensiun, Bentuk Usaha Tetap serta bentuk Badan Usaha lainnya ;
9. Surat Pemberitahuan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SPTRD adalah surat yang digunakan oleh Wajib Retribusi untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran retribusi yang terutang ;
10. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang - undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu ;
11. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang ;
12. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDKB adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang dan jumlah yang masih harus dibayar ;
13. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda;
14. Pendaftaran dan pendataan adalah serangkaian kegiatan untuk memperoleh data/informasi serta penatausahaan yang dilakukan oleh Petugas Retribusi dengan cara penyampaian STRD kepada Wajib Retribusi secara lengkap, jelas dan benar ;
15. Perhitungan Retribusi Daerah adalah perincian besarnya retribusi yang harus dibayar oleh Wajib Retribusi (WR) baik pokok retribusi, bunga, kekurangan pembayaran retribusi, kelebihan pembayaran retribusi, maupun sanksi administrasi ;
16. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKRDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi daerah yang telah ditetapkan ;
17. Pembayaran Retribusi Daerah adalah besarnya kewajiban yang harus dipenuhi oleh Wajib Retribusi sesuai dengan SKRD,SKRDKB,SKRDKBT dan STRD ke Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk dengan batas waktu yang telah ditentukan ;
18. Penagihan Retribusi Daerah adalah serangkaian kegiatan pemungutan retribusi daerah yang diawali dengan penyampaian Surat Peringatan, Surat Teguran yang bersangkutan melaksanakan kewajiban untuk membayar retribusi sesuai dengan jumlah retribusi yang terutang ;
19. Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara RI atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi tugas wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan ; 20. Penyidik Pegawai Negeri Sipil adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan
Pemerintah Daerah yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan terhadap penyelenggaraan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap 21. Penyidikan Tindak Pidana adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana dibidang Retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
BAB II
NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI
Pasal 2
Dengan nama Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah dipungut retribusi atas pemakaian kekayaan daerah.
Pasal 3 Obyek Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah adalah : a. Pemakaian Tanah ;
b. Pemakaian Bangunan ; c. Pemakaian Ruangan ; d. Pemakaian Kendaraan ; e. Pemakaian Alat Berat/Besar ;
f. Pemakaian fasilitas - fasilitas penunjang lainnya ;
g. Pemakaian Sarana dan Prasarana Olah Raga Milik Pemerintah Daerah diluar obyek retribusi tempat rekreasi di Kabupaten Cilacap.
Pasal 4
Subyek Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan /menikmati pelayanan atau pemakaian barang kekayaan milik Pemerintah Daerah.
BAB III
GOLONGAN RETRIBUSI
Pasal 5
Retribusi Pemakaian Kekayaan daerah digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha.
BAB IV
CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA
Pasal 6
Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jangka waktu, luas, jumlah dan jenis Pemakaian Kekayaan Daerah.
BAB V
PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF
Pasal 7
Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi pemakaian kekayaan daerah didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana pelayanan yang pantas diterima oleh pengusaha/perusahaan swasta sejenis yang beroperasi secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
BAB VI
STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF
Pasal 8
Struktur dan besarnya tarif retribusi sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Daerah ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB VII
WILAYAH PEMUNGUTAN
Pasal 9 Retribusi yang terutang dipungut di wilayah Daerah.
BAB VIII
TATA CARA PEMUNGUTAN
Pasal 10 (1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.
(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
BAB IX MASA RETRIBUSI
Pasal 11
Masa retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa usaha dari Pemerintah Daerah.
BAB X
TATA CARA PEMBAYARAN
Pasal 12
(1) Pembayaran retribusi dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk .
(2) Dalam hal pembayaran dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, maka hasil penerimaan retribusi harus disetor ke Kas Daerah selambat - lambatnya 1 x 24 jam ;
(3) Tatacara pembayaran retribusi yang dilakukan di tempat lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini ditetapkan oleh Bupati.
Pasal 13
(1) Pembayaran retribusi harus dilakukan secara tunai / lunas.
(2) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat memberi ijin kepada Wajib Retribusi untuk mengangsur retribusi terutang dalam jangka waktu tertentu dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
(3) Tatacara pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini ditetapkan oleh Bupati.
(4) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat mengijinkan Wajib Retribusi untuk menunda pembayaran retribusi sampai batas waktu yang ditentukan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
BAB XI
SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 14
Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari besarnya retribusi yang terutang yang tidak atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.
BAB XII
TATA CARA PENAGIHAN RETRIBUSI
Pasal 15
(1) Pengeluaran surat teguran / peringatan / surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran.
(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran/peringatan / surat lain yang sejenis, Wajib Retribusi harus melunasi retribusinya yang terutang.
(3) Surat teguran / peringatan / surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini dikeluarkan oleh Pejabat yang ditunjuk.
BAB XIII
TATACARA PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI
Pasal 16
(1) Bupati dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi.
(2) Tatacara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini ditetapkan oleh Bupati.
BAB XIV
TATACARA PEMBETULAN, PENGURANGAN KETETAPAN, PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN
SANKSI ADMINISTRASI DAN PEMBATALAN
Pasal 17
(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pembetulan SKRD, SKRDKB SKRDKBT, dan STRD yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan / atau kekeliruan penerapan peraturan perundang - undangan Retribusi Daerah.
(2) Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan ketetapan retribusi yang tidak benar.
(3) Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan, pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa bunga dan kenaikan retribusi yang terutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena bukan kekhilafan Wajib Retribusi atau bukan karena kesalahannya.
(4) Permohonan pembetulan, pengurangan ketetapan, penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3) Pasal ini harus disampaikan secara tertulis oleh Wajib Retribusi kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima SKRD, SKRDKB SKRDKBT, dan STRD dengan memberikan alasan yang jelas dan meyakinkan untuk mendukung permohonannya.
BAB XV
KEDALUWARSA RETRIBUSI DAN PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI KARENA KEDALUWARSA PENAGIHAN
Pasal 18
(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi kedaluwarsa setelah melalui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila Wajib Retribusi melakukan tindak pidanan dibidang retribusi.
(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tertangguh apabila :
a. Diterbitkan surat teguran ;
b. Ada pengakuan utang retribusi baik langsung maupun tidak langsung.
BAB XVI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 19
(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah retribusi yang terutang.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini adalah pelanggaran.
BAB XVII PENYIDIKAN
Pasal 20
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah.
(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini adalah :
a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas.
b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang keberatan perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana retribusi.
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang retribusi.
d. Memeriksa buku - buku, catatan - catatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi.
e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen - dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut.
f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang retribusi.
g. Menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana huruf e tersebut diatas.
h. Memotret orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.
i. Menghentikan penyidikan.
j. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang retribusi menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
BAB XVIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 21
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 3 Tahun 2001 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah ( Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap Tahun 2001 Nomor 3 Seri B Nomor 2, dinyatakan tidak berlaku dan dicabut.
Pasal 22
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh Bupati.
Pasal 23
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap.
Disahkan di Cilacap
pada tanggal 14 Agustus 2008
BUPATI CILACAP, Cap ttd
PROBO YULASTORO Diundangkan di Cilacap
pada tanggal 14 Agustus 2008
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN CILACAP, Cap ttd
SOEPRIHONO
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CILACAP TAHUN 2008 NOMOR 11
PENJELASAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH NOMOR 11 TAHUN 2008
TENTANG
RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH
I. PENJELASAN UMUM
Dengan berlakunya Undang - undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang pada dasarnya memberikan keleluasaan kepada Daerah Kabupaten/Kota untuk menggali dan meningkatkan pendapatan asli daerah seoptimal mungkin baik dari sektor Pajak Daerah maupun sektor Retribusi Daerah guna menunjang laju roda Pemerintahan Daerah dan Pembangunan.
Bahwa Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah disebutkan jenis-jenis Retribusi Jasa usaha yang merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota yaitu :
a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah ; b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan ; c. Retribusi Tempat Pelelangan ;
d. Retribusi Terminal ;
e. Retribusi Tempat Khusus Parkir ;
f. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa ; g. Retribusi Penyedotan Kakus ;
h. Retribusi Rumah Potong Hewan ; i. Retribusi Pelayanan Pelabuhan Kapal ; j. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga ; k. Retribusi Penyeberangan di Atas Air ; l. Retribusi Pengolahan Limbah Cair ;
m. Retribusi Penuualan Usaha Produksi Daerah.
Selanjutnya dalam rangka penyederhanaan dan perbaikan sistem, jenis dan struktur Retribusi Daerah serta upaya peningkatan pendapatan daerah khususnya dari sektor Retribusi Pemakaian kekayaan Daerah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001, Pemerintah Kabupaten Cilacap memandang perlu untuk mengatur Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.
Pemakaian Kekayaan Daerah di Kabupaten Cilacap sebelumnya telah diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 3 Tahun 2001 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, namun Peraturan Daerah dimaksud saat ini dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan sehingga perlu untuk diadakan peninjauan kembali dan penyesuaian tarif Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.
Bahwa atas dasar pertimbangan sebagaimana dimaksud diatas maka memberikan kepastian hukum perlu mengatur kembali Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap.
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1 : Cukup jelas
Pasal 2 : Cukup jelas
Pasal 3 : Cukup jelas
Pasal 4 : Cukup jelas
Pasal 5 : Retribusi Jasa Usaha adalah Retribusi atas jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta.
Pasal 6 : Tingkat penggunaan jasa adalah kuantitas penggunaan jasa sebagai dasar alokasi beban biaya yang dipikul untuk penyelenggaraan jasa yang bersangkutan.
Pasal 7 : Cukup jelas
Pasal 8 : Tarip retribusi adalah nilai rupiah atau prosentase tertentu untuk menghitung besarnya retribusi yang terutang.
Pasal 9 : Cukup jelas
Pasal 10
ayat (1) : Yang dimaksud dengan tidak dapat diborongkan adalah bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan retribusi tidak dapat diserahkan kepada Pihak Ketiga. Namun dalam pengertian ini bukan berarti bahwa Pemerintah Daerah tidak boleh bekerjasama dengan Pihak Ketiga. Dengan sangat selektif dalam proses pemungutan Retribusi Pemerintah Daerah dapat mengajak bekerjasama badan - badan tertentu yang karena profesionalismenya layak dipercaya untuk ikut melaksanakan sebagian tugas pemungutan jenis retribusi secara lebih efisien. Kegiatan pemungutan retribusi yang tidak dapat dikerjasamakan dengan Pihak Ketiga adalah kegiatan penghitungan besarnya retribusi yang terutang, pengawasan penyetoran retribusi dan penagihan retribusi.
ayat (2) : Dokumen lain yang dipersamakan adalah karcis, kuitansi pembayaran atau nota perhitungan .
Pasal 11 : Cukup jelas
Pasal 12
ayat (1) s/d ayat (3) : Cukup jelas
Pasal 13
Ayat (1) s/d ayat (4) : Cukup Jelas
Pasal 14 : Pengenaan sanksi administrasi berupa bunga, dimaksudkan untuk mendidik Wajib Retribusi dalam melaksanakan kewajibannya dengan tepat waktu.
Pasal 15
Ayat (1) s/d ayat (3) : Cukup jelas
Pasal 16
Ayat (1) s/d ayat (2) : Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1) s/d ayat (4) : Cukup Jelas Pasal 18
Ayat (1) s/d ayat (2) : Cukup jelas
Pasal 19
ayat (1) : Pengajuan tuntutan ke Pengadilan Pidana terhadap Wajib Retribusi dilakukan dengan penuh kearifan serta memperhatikan kemampuan Wajib Retribusi dan besarnya retribusi yang terutang yang mengakibatkan kerugian keuangan daerah.
ayat (2) : Cukup Jelas
Pasal 20
ayat (1) s/d ayat (2) : Cukup Jelas
Pasal 21 : Cukup jelas
Pasal 22 : Cukup jelas
Pasal 23 : Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CILACAP TAHUN 2008 NOMOR 19
LAMPIRAN : Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 11 Tahun 2008
Tanggal 26 Juni 2008
JENIS DAN TARIF RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH KABUPATEN CILACAP
Satuan Tarif Retribusi
No Jenis Kekayaan Daerah
Pemakaian
1 2 3 4
I
Pemakaian Tanah Pemerintah
Kabupaten
1.
Pemakaian tanah untuk papan
reklame
a. Jalan Arteri Primer & Lokal M2 / tahun Rp 30,000
b. Jalan kolektor. M2 / tahun Rp 25,000
c.
Non jalan Arteri Primer,
Lokal dan kolektor. M2 / tahun Rp 20,000 2.
Pemakaian untuk keperluan
pertanian
a. Tanah Sawah Teknis M2 / tahun Rp 500
b. Tanah Sawah Semi Teknis M2 / tahun Rp 400
c. Tanah Sawah Tadah Hujan M2 / tahun Rp 200
d. Tanah Tegal Kotak M2 / tahun Rp 150
e. Tanah Tegal Kering M2 / tahun Rp 100
f. Tanah untuk kolam M2 / tahun Rp 500
3. Pemakaian untuk keperluan perkebunan a. Tanah Subur : - Tanaman Perkebunan ha / tahun Rp 150,000 - Tanaman Keras ha / tahun Rp 150,000 b. Tanah sedang : - Tanaman Perkebunan ha / tahun Rp 125,000 - Tanaman Keras ha / tahun Rp 125,000 c. Tanah kritis : - Tanaman Perkebunan ha / tahun Rp 100,000 - Tanaman Keras ha / tahun Rp 100,000 4. Untuk tenda darurat/tratag dan sejenisnya M2/hari Rp 1,000 II Pemakaian Rumah Dinas dan Gedung - gedung. 1. Rumah Dinas Pejabat yang terletak di Ibukota Kabupaten / Distrik M2 / bulan Rp 400
2. Rumah Dinas Pejabat yang terletak di Ibukota Kecamatan M2 / bulan Rp 300
3. Rumah Dinas Pejabat yang terletak di desa M2 / bulan Rp 200
4. Gedung Graha Pemuda Bercahaya
a.
Resepsi, Komersial,
pertemuan siang hari/malam
hari / hari Rp 850,000
b.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 400,000
5. Gedung Diklat.
AULA
a.
Resepsi, Komersial,
pertemuan / hari Rp 300,000
b.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 200,000
KAMAR
- AC / hari Rp 80,000
- Non AC / hari Rp 40,000
6. Gedung Griya Praja I
- Penginapan. / hari Rp 1,000,000
-
Untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 750,000
7. Gedung Balai Latihan Kerja Luar Negeri.
AULA
a.
Resepsi, Komersial,
pertemuan siang hari/malam
hari / hari Rp 300,000
b.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 200,000
KAMAR
- Untuk Pelatihan Calon TKI org / hari Rp 5,000
- Untuk Non Calon TKI org / hari Rp 20,000
8. Kantin M2/Tahun Rp 20,000
9. Asrama milik Pemkab ( non Fasilitas )
a. Untuk pelajar/mahasiswa kamar/bulan Rp 150,000
b. Untuk umum/komersil kamar/hari Rp 25,000
III. Penggunaaan Sarana dan Prasarana Olah Raga
1.
Gelanggang Olah Raga Wijayakusuma untuk kegiatan Tingkat
Nasional
a.
Untuk kegiatan badan
swasta/kegiatan Ormas / hari Rp 1,000,000
b.
Untuk pertandingan olah
raga / hari Rp 1,500,000
c. Untuk pertunjukan musik / hari Rp 1,750,000
d.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 750,000
2. Gelanggang Olah Raga Wijayakusuma untuk Tingkat Provinsi
a.
Untuk kegiatan badan
swasta/kegiatan Ormas / hari Rp 750,000
b.
Untuk pertandingan olah
raga / hari Rp 1,000,000
c. Untuk pertunjukan musik / hari Rp 1,250,000
d.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 500,000
3. Gelanggang Olah Raga Wijayakusuma Tingkat Kabupaten
a.
Untuk kegiatan badan
swasta/kegiatan Ormas / hari Rp 350,000
b.
Untuk pertandingan olah
raga / hari Rp 500,000
c. Untuk pertunjukan musik / hari Rp 750,000
d.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 250,000
d.
Untuk kegiatan rutin (Latihan
Seni/Olah Raga)
Pagi ( 07,00 s/d. 10,000
WIB )
1. Satu kali seminggu /bln Rp 55,000
2. Dua kali seminggu /bln Rp 75,000
3. Tiga kali seminggu /bln Rp 95,000
4. Empat kali seminggu /bln Rp 105,000
Siang ( 10,00 s/d. 14,000
WIB )
1. Satu kali seminggu /bln Rp 40,000
2. Dua kali seminggu /bln Rp 50,000
3. Tiga kali seminggu /bln Rp 60,000
4. Empat kali seminggu /bln Rp 70,000
Sore ( 14,00 s/d. 16,00
WIB
1. Satu kali seminggu /bln Rp 50,000
2. Dua kali seminggu /bln Rp 70,000
3. Tiga kali seminggu /bln Rp 90,000
4. Empat kali seminggu /bln Rp 100,000
Malam ( 16,00 s/d. 20,000
WIB )
1. Satu kali seminggu /bln Rp 60,000
2. Dua kali seminggu /bln Rp 80,000
3. Tiga kali seminggu /bln Rp 100,000
4. Empat kali seminggu /bln Rp 120,000
2. Stadion Wijayakusuma
A. Untuk Kegiatan Tingkat Nasional
a.
Untuk kegiatan badan
swasta/kegiatan Ormas / hari Rp 1,000,000
b.
Untuk pertandingan olah
raga / hari Rp 1,500,000
c. Untuk pertunjukan musik / hari Rp 1,750,000
d.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 750,000
B. Untuk Kegiatan Tingkat Provinsi
a.
Untuk kegiatan badan
swasta/kegiatan Ormas / hari Rp 750,000
b.
Untuk pertandingan olah
raga / hari Rp 1,000,000
c. Untuk pertunjukan musik / hari Rp 1,250,000
d.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 500,000
C. Untuk Kegiatan Tingkat Kabupaten
a.
Untuk kegiatan badan
swasta/kegiatan Ormas / hari Rp 350,000
b.
Untuk pertandingan olah
raga / hari Rp 500,000
c. Untuk pertunjukan musik / hari Rp 750,000
d.
Rapat-rapat untuk kepentingan
sosial/keagamaan / hari Rp 250,000
e
Untuk kegiatan rutin (Latihan
Seni/Olah Raga)
- Pagi ( 07.00 s/d. 12.000
WIB )
1. Satu kali seminggu /bln Rp 60,000
2. Dua kali seminggu /bln Rp 120,000
3. Tiga kali seminggu /bln Rp 180,000
4. Empat kali seminggu /bln Rp 240,000
- Sore ( 12.00 s/d. 18.00
WIB )
1. Satu kali seminggu /bln Rp 60,000
2. Dua kali seminggu /bln Rp 120,000
3. Tiga kali seminggu /bln Rp 180,000
4. Empat kali seminggu /bln Rp 240,000
3. Lapangan Bulutangkis Indoor
a. Kegiatan Tingkat Nasional
untuk Satu lapangan / hari Rp 1,500,000
b. Kegiatan Tingkat Provinsi
untuk Satu lapangan / hari Rp 1,000,000
c. Kegiatan Tingkat Kabupaten untuk Satu
lapangan / hari Rp 5,000,000
d. Untuk kegiatan rutin
(Latihan Seni/Olah Raga)
Pagi ( 07,00 s/d. 10,000
WIB )
1. Satu kali seminggu perban/bln Rp 55,000
2. Dua kali seminggu perban/bln Rp 75,000
3. Tiga kali seminggu perban/bln Rp 95,000
4. Empat kali seminggu perban/bln Rp 105,000
Siang ( 10,00 s/d. 14,000
WIB )
1. Satu kali seminggu perban/bln Rp 40,000
2. Dua kali seminggu perban/bln Rp 50,000
3. Tiga kali seminggu perban/bln Rp 60,000
4. Empat kali seminggu perban/bln Rp 70,000
Sore ( 14,00 s/d. 16,00
WIB
1. Satu kali seminggu perban/bln Rp 50,000
2. Dua kali seminggu perban/bln Rp 70,000
3. Tiga kali seminggu perban/bln Rp 90,000
4. Empat kali seminggu perban/bln Rp 100,000
Malam ( 16,00 s/d. 20,000
WIB )
1. Satu kali seminggu perban/bln Rp 70,000
2. Dua kali seminggu perban/bln Rp 90,000
3. Tiga kali seminggu perban/bln Rp 120,000
4. Empat kali seminggu perban/bln Rp 140,000
4. Lapangan Tenis
a.
Untuk pertandingan olah
raga tingkat Nasional perban/bln Rp 1,500,000
b.
Untuk pertandingan olah
raga tingkat Provinsi perban/bln Rp 750,000
c.
Untuk pertandingan olah
raga tingkat Kabupaten perban/bln Rp 500,000
d.
Untuk kegiatan rutin (Latihan
Seni/Olah Raga)
Pagi ( 07,00 s/d. 10,000
WIB )
1. Satu kali seminggu perban/bln Rp 45,000
2. Dua kali seminggu perban/bln Rp 60,000
3. Tiga kali seminggu perban/bln Rp 75,000
4. Empat kali seminggu perban/bln Rp 90,000
Siang ( 10,00 s/d. 14,000
WIB )
1. Satu kali seminggu perban/bln Rp 30,000
2. Dua kali seminggu perban/bln Rp 45,000
3. Tiga kali seminggu perban/bln Rp 60,000
4. Empat kali seminggu perban/bln Rp 75,000
Sore ( 14,00 s/d. 16,00
WIB
1. Satu kali seminggu perban/bln Rp 45,000
2. Dua kali seminggu perban/bln Rp 60,000
3. Tiga kali seminggu perban/bln Rp 75,000
4. Empat kali seminggu perban/bln Rp 90,000
Malam ( 16,00 s/d. 20,000
WIB )
1. Satu kali seminggu perban/bln Rp 60,000
2. Dua kali seminggu perban/bln Rp 75,000
3. Tiga kali seminggu perban/bln Rp 90,000
4. Empat kali seminggu perban/bln Rp 110,000
5. Komplek Olah Raga Dr. Sutomo
a.
Penggunaan Gedung insidentil Tingkat
Nasional per hari Rp 1,500,000
b.
Penggunaan Gedung insidentil Tingkat
Provinsi per hari Rp 750,000
c.
Penggunaan Gedung insidentil Tingkat
Kabupaten per hari Rp 500,000
d.
Untuk kegiatan Olah Raga secara
berlangganan
- Pagi ( 07,00 s/d. 10,000 WIB ) perban/jam Rp 15,000
- Siang ( 10,00 s/d. 14,000 WIB ) perban/jam Rp 17,500
- Sore ( 14,00 s/d. 16,00 WIB perban/jam Rp 20,000
- Malam ( 16,00 s/d. 20,000 WIB ) perban/jam Rp 25,000
IV. Penggunaan Peralatan Milik Pemda
1. Three Whell Roller 8 - 10 Ton Rp 120,000
2. Three Whell Roller 6 - 8 Ton Rp 100,000
3. Tendem Roller 2 - 3 Ton Rp 80,000
4. Baby Roller 1 Ton Rp 80,000
5. Mesin Kompresor Unit / hari Rp 200,000
6. Water Pump Unit / hari Rp 60,000
7. Genset Unit / hari Rp 100,000
8. Dump Truk Unit / hari Rp 150,000
9. Truk Unit / hari Rp 125,000
10. Escavator / Beghoe Unit / hari Rp 120,000
11. Sound System Unit / hari Rp 100,000
12. Molen Unit / hari Rp 50,000
13. Mesin tamper Unit / hari Rp 40,000
14. Mesin Rumput Unit / hari Rp 40,000
15. Pompa Air Unit / hari Rp 40,000
16. Aspal Sprayer Unit / hari Rp 50,000
17. Mesin Las Unit / hari Rp 100,000
18. Beton Konkrit Unit / hari Rp 50,000
19. Aspal Copco Unit / hari Rp 150,000
20. Vibro lorer Unit / hari Rp 50,000
BUPATI CILACAP, Cap ttd
PROBO YULASTORO