• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH KABUPATEN ALOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMERINTAH KABUPATEN ALOR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN ALOR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 14 TAHUN 2008

TENTANG

RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

BUPATI ALOR,

Menimbang : a. bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah beserta perubahannya, dalam pelaksanaannya dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dewasa ini sehingga perlu ditinjau kembali;

b. bahwa Kekayaan Daerah merupakan salah satu sumber pendapatan yang perlu dikelola seoptimal mungkin dan didayagunakan agar dapat memberikan kontribusi dalam rangka menunjang Pendapatan Asli Daerah;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649 );

2. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);

4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685 ) yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

(2)

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3852);

6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3373);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4539);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah;

17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Barang Milik Daerah;

(3)

18. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah;

19. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 175 Tahun 1997 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Retribusi Daerah;

20. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 11 Tahun 2003 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Alor (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2003 Nomor 12, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 339);

21. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2006 Nomor 15, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 426);

22. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 4 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kabupaten Alor (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2007 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 436);

23. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 10 Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2007 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 442);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN ALOR dan

BUPATI ALOR

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang di maksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Alor.

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Alor.

3. Bupati adalah Bupati Alor.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Alor.

5. Kekayaan daerah adalah barang dan atau semua kekayaan Pemerintah Daerah baik yang bergerak atau tidak bergerak beserta bagian-bagiannya ataupun merupakan satu kesatuan tertentu yang dapat dinilai atau diukur/ditimbang kecuali uang.

6. Retribusi pemakaian kekayaan daerah yang selanjutnya di sebut retribusi, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang

(4)

khusus di sediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

7. Jasa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang dapat di nikmati oleh orang pribadi atau badan.

8. Jasa usaha adalah sarana, fasilitas dan atau barang lainnya sebagai Kekayaan Daerah yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip Komersil.

9. Surat Setoran Retribusi Daerah yang dapat disebut SSRD, adalah surat yang oleh Wajib Retribusi digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran Retribusi yang terutang keKas daerah atau ke tempat pembayaran lain yang di tetapkan oleh Kepala Daerah.

10. Masa retribusi adalah jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

11. Surat Pendaftaran Obyek Retribusi Daerah selanjutnya disebut SPORD adalah surat yang dipergunakan oleh wajib retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran retribusi yang terhutang menurut Peraturan Perundang-undangan tentang Retribusi Daerah.

12. Surat Ketetapan Retribusi Daerah selanjutnya disebut SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terhutang.

13. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan selanjutnya disebut SKRD-KBT adalah Surat Keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi yang telah ditetapkan.

14. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan selanjutnya disebut SKRD-KBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi yang telah ditetapkan.

15. Surat Retribusi Daerah Lebih Bayar selanjutnya disebut SKRD-LB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran Retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang.

16. Surat Tagihan Retribusi Daerah selanjutnya disebut STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau pemberian sangsi administrasi berupa bunga atau denda.

17. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap SKRD, SKRD KBT, SKRD LB, STRD atau terhadap pemotongan atau pungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Retribusi.

18. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban dari Wajib Retribusi Daerah berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Retribusi Daerah.

19. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu menbuat terng tindak pidana dibidang Retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

(5)

BAB II

NAMA, OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB RETRIBUSI Pasal 2

Dengan nama Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah dipungut retribusi sebagai pembayaran atas penyediaan jasa pelayanan pemakaian kekayaan daerah kepada orang pribadi atau badan.

Pasal 3

(1) Obyek retribusi adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah Daerah berupa pemakaian kekayaan Pemerintah Daerah.

(2) Kekayaan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. tanah;

b. bangunan atau gedung;

c. tanah dan/atau bangunan (gedung);

d. kendaraan bermotor/tidak bermotor dan atau alat berat;

e. kendaraan dinas roda dua dan empat yang digunakan oleh pribadi/pejabat;

f. jembatan timbang;

g. tempat pencucian kendaraan bermotor (TPKB);

h. peralatan selam (diving);

i. radio siaran pemerintah kabupaten (RSPK);

j. peralatan shooting;

k. listrik tenaga surya;

l. listrik tenaga hidro;

m. SSB;

n. asrama mahasiswa;

o. fasilitas dan atau sarana penunjang lain milik Pemerintah Daerah dan/atau yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah.

Pasal 4

(1) Subyek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memakai, memanfaatkan atau menikmati Kekayaan Daerah.

(2) Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yang diwajibkan membayar retribusi pemakaian kekayaan daerah.

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI DAN WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 5

Retribusi pemakaian kekayaan daerah digolongkan sebagai retribusi jasa usaha.

Pasal 6

Wilayah pungutan adalah wilayah daerah tempat pelayanan pemakaian kekayaan daerah.

(6)

BAB IV

PRINSIP DAN SASARAN PENETAPAN TARIF RETRIBUSI Pasal 7

Prinsip dan sasaran penetapan tarif retribusi pemakaian kekayaan daerah didasarkan pada kebijakan Pemerintah Daerah dengan mempertimbangkan biaya penyediaan jasa pelayanan yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak dengan mempertimbangkan :

a. biaya penyediaan fasilitas;

b. biaya pengadaan;

c. biaya asuransi;

d. biaya pemeliharaan;

e. biaya pengawasan dan pengendalian.

BAB V

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 8

(1) Setiap orang atau badan yang memakai tempat atau fasilitas pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2), dikenakan retribusi.

(2) Struktur dan besarnya tarif retribusi di tetapkan sebagai berikut :

No. Jenis Kekayaann yang disediakan

Peruntukan /jenis Fasilitas pelayanan Harga (Rp) 1. Retribusi Pemakaian

Tanah

a.Untuk tempat tinggal 500/bulan/M2

b. Untuk Usaha Dagang :

1. Kios dan Rumah Makan/tempat 2. Toko Besar / unit

3. Rumah Toko (Ruko)

750/bulan/M2 2.500/bulan/M2 2.000/bulan/M2 c. Untuk kegiatan adminsitrasi kantor BUMN,BUMD 500/bulan/M2

d. untuk kegiatan lainnya 500/bulan/M2

2. Retribusi Pemakaian

Bangunan/Gedung a. Untuk penimbunan komuditi antar pulau atau pengeluaran hasil, untuk jangka waktu 5(lima) hari

b. Untuk penimbunan komuditi antar pulau atau pengeluaran hasil, untuk jangka waktu lebih dari 5(lima) hari, hari keenam dan seterusnya

c. Untuk kegiatan tertentu

200/Kg 250/Kg/hari

150.000/hari 3. Retribusi Pemakaian

Tanah dan Bangunan

Untuk tempat tinggal 2.000/bulan/M3

4. Retribusi pemakaian Kendaraan bermotor dan/atau alat berat

1. Dump Truck Hino FC 141. KA-5 ton Rp 350.000,-/hari

2. Dump Truck Isuzu NPR.59 GK -3,5 Ton Rp 250.000,-/hari

3. Bulldoser Caterpiler D6C – 125 HP Rp 200.000,-/jam

4. Bulldoser Fiat Alias FD.9-100 HP Rp 175.000,-/jam

5. Mesin Gilas, Barata MG.6;MV6P.6-8 Ton Rp 50.000,-/jam

6. Tandem Roller, Barata. MGB 7. 6-8 Ton Rp 75.000,-/jam

7. Truck Tangki Air, Toyota Dyna, B-43.400 liter Rp 300.000,-/hari 8. Truck Tangki Minyak, Toyota Dyna, B-43.400 liter Rp 300.000,-/hari 9. Stone Crusher.Bukaka Golden Star BGS,30,30 Ton Rp 175.000,-/jam

10. Wheel Loader. Bumar L-201,1.2 M³ Rp 135.000,-/jam

11. Wheel loader comastu Rp. 110.000,-/jam

12. Motor Grader Linnholf. MG-200-1,75 HP Rp 135.000,-/jam

13. Motor Grader, Mitsubishi. MG.3H-100 HP Rp 135.000,-/jam

14. Asphalt Sprayer, Hottas, 125 liter Rp 35.000,-/jam

15. Kompressor. Atlas Copco,125 liter Rp 35.000,-/jam

16. Vibrater Roller, Barata MCB 1,2 Ton Rp 35.000,-/jam

17. Concrette Mixer, Golden Star, SM 125.125 liter Rp 35.000,-/jam

18. Butas Crusher, Golden Staar Rp 35.000,-/jam

19. Paddle Mixer Rp 60.000,-/jam

20. Vibrator rammer Rp. 35.000,-/jam

21. Pan Mixer

22. Exafator caterpillar 320c.1.0 M³ Rp. 375.000,-/jam

350.000/hari 250.000/hari 200.000/jam 175.000/jam 50.000/jam 70.000/jam 300.000/jam 300.000/jam 175.000/jam 135.000/jam 110.000/jam 135.000/jam 135.000/jam 35.000/jam 35.000/jam 35.000/jam 35.000/jam 35.000/jam 60.000/jam 35.000/jam 35.000/jam 375.000/jsm

(7)

23. Dump truck mitsubisi 120 PS Rp. 350.000,-/hari

24. Vibrator reller caterpillar Rp. 135.000,-/jam

25. Wheel Loader, caterpillar, 9204 Gz, 1,2 M³ Rp. 200.000,-/jam

26. Trailler Treononton Mitsubishi, Fuso 220 PS Rp. 375.000,-/jam

27. Breaker exafotor Rp. 500.000,-/jam

28. Breaker 29. Mobil Koling

350.000/jam 100.000/jam 200.000/jam 375.000/jam 500.000/jam 200.000/jam 250.000/2 kali baca 5. Retribusi Pemakaian

kendaraan Dinas 1. Kendaraan Dinas Roda Dua / Unit

2. Kendaraan Dinas Roda Empat / Unit 10.000/bulan

25.000/bulan 6. Pemakaian jembatan

timbang Kelebihan muatan dikenakan denda 10 % dari tarif

muatan 7. Tempat pencucian

kendaraan 1. Kendaraan roda dua/ unit 2. Kendaraan roda empat/unit 3. kendaraan roda enam/unit

5.000/sekali cuci 25.000/sekali cuci 50.000/sekali cuci

8 Radio siaran

Pemerintah Kabupaten (RSPK)

1. Kartu-Kartu

- Pilihan pendengar

- Radio Gram dan Pengumuman - Berita keluarga/berita duka

- Pengumuman berita pelayaran/penerbangan/BUMN/BUMD

1.000/kartu/lagu 5.000/3 kali baca 2.500/3 kali baca 10.000/3 kali baca 2. Iklan-iklan

a. Kontrak per 3 menit x 4 kali x sehari - kontrak 1 minggu

- kontrak 2 minggu - kontrak 1 bulan

b. Kontrak per 5 menit x 4 kali x sehari - kontrak 1 minggu

- kontrak 2 minggu - kontrak 1 bulan

c. Kontrak per 8 menit x 4 kali x sehari - kontrak 1 minggu

- kontrak 2 minggu - kontrak 1 bulan

100.000 200.000 350.000 150.000 300.000 450.000 250.000 500.000 750.000 9 Peralatan shooting 1. shooting

2. Rekaman CD 250.000/sekali pakai

50.000/keping 10 Tenaga listrik 1. listrik tenaga surya

2. listrik tenaga disel 3. listrik tenaga hidro

6.000/Unit/bulan 6.000/unit/bulan 6.000/unit/bulan 11 perlengkapan 1. Sewa tenda

2. SSB 200.000/hari.

5.000/berita 12 Alat-alat sound

sistym dan teknologi informasi

1. Soud sistym

2. sewa komputer untuk pendidikan 3. sewa komputer design/graphys 4. sewa komputer pengetikan biasa 5. sewa komputer pengetikan tabel/kolom 6. sewa komputer penggandaan naskah 7. sewa internet

8. sewa Home page 9. sewa koneksi dial Up 10. sewa koneksi wearless LAN

250.000/hari 250.000/paket 5.000/jam 2.500/jam 2.500/jam 2.500/halaman 7.500/jam 250.000/bulan 1.000.000/bulan 1.000.000/bulan

BAB VI

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 9

Cara pemakaian jasa reribusi diukur berdasarkan : a. jenis, jumlah, luas, kwalitas kekayaan daerah;

b. biaya total penyediaan jasa yang meliputi administrasi, pemeliharaan, perawatan dan penyusutan Kekayaan Daerah.

(8)

BAB VII

TATA CARA PENETAPAN RETRIBUSI Pasal 10

(1) Penetapan Retribusi didasarkan pada SPTRD dengan menerbitkan SKRD.

(2) Dalam hal SPTRD tidak dipenuhi oleh wajib retribusi sebagaimana mestinya, maka diterbitkan SKRD secara jabatan.

(3) Bentuk dan isi SKRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Pasal 11

Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan data baru yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah retribusi yang terhutang maka dikeluarkan SKRDT.

BAB VIII

TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PEMBAYARAN RETRIBUSI Pasal 12

(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

(2) Tata cara pelaksanaan retribusi akan diatur lebih lanjut oleh Bupati dengan berpedoman kepada Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.

Pasal 13

(1) Pembayaran Retribusi dilakukan di Kas Daerah atau di tempat lain yang ditunjuk sesuai waktu yang ditentukan dengan menggunakan SKRD dan SKRDT.

(2) Dalam hal pembayaran dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, maka hasil penerimaan retribusi harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 (satu) kali 24 jam dan/atau waktu yang ditentukan oleh Bupati.

Pasal 14

(1) Pembayaran Retribusi dilakukan secara tunai/lunas.

(2) Bupati atau pejabat yang ditunjuk dapat memberi izin kepada wajib retribusi untuk mengangsur retribusi terhutang dalam jangka waktu tertentu dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

(3) Tata cara pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

(4) Bupati atau pejabat yang ditunjuk dapat mengijinkan wajib retribusi untuk menunda pembayaran retribusi terhutang sampai batas waktu yang ditentukan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pasal 15

(1) Pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 diberikan tanda bukti pembayaran.

(2) Setiap pembayaran dicatat dalam buku penerimaan.

(3) Bentuk, isi, kualitas, ukuran buku, dan tanda bukti pembayaran retribusi akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

(9)

BAB IX

TATA CARA PENAGIHAN RETRIBUSI Pasal 16

(1) Pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan setelah 7 ( tujuh ) hari sejak jatuh tempo pembayaran dengan mengeluarkan surat bayar/penyetoran/surat lainnya yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan.

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran/peringatan/surat lain yang sejenis, wajib retribusi harus melunasi retribusi terhutang.

(3) Surat teguran/peringatan/surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikeluarkan oleh Bupati.

BAB X

MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERHUTANG Pasal 17

(1) Masa retribusi adalah jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa retribusi dari Pemerintah Daerah.

(2) Retribusi terhutang terjadi pada saat diterbitkannya STRD.

BAB XI

KERINGANAN, PENGURANGAN DAN PENGHAPUSAN RETRIBUSI Pasal 18

(1) Bupati dapat memberikan keringanan, pengurangan dan penghapusan retribusi.

(2) Tata cara pemberian keringanan, pengurangan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

BAB XII KEBERATAN

Pasal 19

(1) Wajib retribusi dapat mengajukan keberatan kepada Bupati atas SKRD atau dokumen yang dipersamakan.

(2) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu yang paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan kecuali apabila wajib retribusi dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.

(3) Pengajuan keberatan tidak dapat menunda kewajiban membayar retribusi pelaksanaan penagihan retribusi.

Pasal 20

(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberi Keputusan atas keberatan yang diajukan.

(2) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya/sebagian, menolak atau menambah besarnya retribusi yang terutang.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak memberikan suatu Keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.

(10)

BAB XIII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 21

(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, wajib retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati.

(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan Keputusan.

(3) Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), setelah dilaporkan dan Bupati tidak memberikan suatu Keputusan, permohonan pengembalian pembayaran retribusi dianggap dikabulkan, SKRD-LB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.

(4) Wajib retribusi yang mempunyai hutang retribusi lainnya, kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu hutang retribusi tersebut.

BAB XIV KADALUARSA

Pasal 22

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak terhutangnya retribusi, kecuali apabila wajib retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi.

(2) Kadaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditangguhkan apabila :

a. diterbitkan surat teguran;

b. ada pengakuan hutang retribusi dari wajib retribusi baik langsung maupun tidak langsung.

BAB XV

KETENTUAN PIDANA Pasal 23

(1) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah retribusi terhutang.

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.

BAB XVI

KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 24

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana terhadap pelanggaran Peraturan Daerah sesuai Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

(2) Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah.

(11)

Pasal 25

(1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) adalah :

a. menerima, mencari, mengumpulkan atau meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;

b. meneliti, mencari dengan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;

d. memeriksa buku–buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;

e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencataan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka melaksanakan tugas penyidikan tindak Pidana di bidang Retribusi Daerah;

g. menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas seseorang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;

h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;

i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. menghentikan penyidikan;

k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah menurut hukum dan dapat dipertanggungjawabkan.

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

BAB XVIII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 26

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Pasal 27

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku maka Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2003 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 334) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 20 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 431) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(12)

Pasal 28

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Alor.

Ditetapkan di Kalabahi

pada tanggal 16 Oktober 2008

Diundangkan di Kalabahi pada tanggal 17 Oktober 2008

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ALOR TAHUN 2008 NOMOR 24

(13)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 14 TAHUN 2008

TENTANG

RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH I. UMUM

Bahwa pemberian Otonomoi Kepada Daerah yang dilegitimasi dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menuntut Pemerintah Daerah untuk terus berbenah diri dengan jalan mengurus rumah tangga Daerahnya secara mandiri dan otonomi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah Pendapatan Asli Daerah merupakan indikator utama untuk mengukur tingkat kemandirian Daerah. Dalam konteks ini, maka sejak Otonomi Daerah diberikan; Pemerintah Kabupaten Alor terus memacu peningkatan Pendapatan Asli Daearah dengan menggali sumber- sumber pendapatan yang potensial sepanjang tidak bertentangan dengan regulasi hukum yang berlaku.

Bahwa Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha. Untuk itu, sejak tahun 2003, Pemerintah Kabupaten Alor telah menetapkan dan mengundangkan berlakunya Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 20 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.

Bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Alor sebagaimana telah disebutkan di atas dalam perkembangannya telah tidak sesuai dengan perekembanagan ekonomi makro dewasa ini. Selain itu setelah dicermati, ternyata terdapat beberapa item pungutan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah yang belum terakomodir dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2003 beserta perubahannya. Dengan demikian adalah rasional jika dilakukan peninjauan kembali terhadap Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 20 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.

Bahwa peninjauan kembali dimaksud terfokus pada 2 aspek : pertama, Penyesuain terhadap tarif pungutan sesuai kondisi ekonomi makro (tingkat inflasi yang berkembang). Kedua, Penambahan beberapa item pungutan.

Bahwa dengan berlakunya Peraturan Daerah ini akan menjadi dasar hukum dan/atau landasan pijak dalam pelaksanaan pemungutan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah di Wilayah Kabupaten Alor.

(14)

II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1

Cukup jelas.

Pasal 2

Cukup jelas.

Pasal 3

Cukup jelas.

Pasal 4

Cukup jelas.

Pasal 5

Cukup jelas.

Pasal 6

Cukup jelas.

Pasal 7

Cukup jelas.

Pasal 8

Cukup jelas.

Pasal 9

Cukup jelas.

Pasal 10

Cukup jelas.

Pasal 11

Cukup jelas.

Pasal 12

Cukup jelas.

Pasal 13

Cukup jelas.

Pasal 14

Cukup jelas.

Pasal 15

Cukup jelas.

Pasal 16

Cukup jelas.

Pasal 17

Cukup jelas.

Pasal 18

Cukup jelas.

Pasal 19

Cukup jelas.

(15)

Pasal 20

Cukup jelas.

Pasal 21

Cukup jelas.

Pasal 22

Cukup jelas.

Pasal 23

Cukup jelas.

Pasal 24

Cukup jelas.

Pasal 25

Cukup jelas.

Pasal 26

Cukup jelas.

Pasal 27

Cukup jelas.

Pasal 28

Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 455

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum pekerjaan dimulai terlebih dahulu dilakukan pembersihan lokasi dari sampah, rumput dan berbagai hal lain yang dapat menganggu pelaksanaan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah lubang distributor terhadap unjuk kerja fluidized bed gasifier, untuk mengetahui kecepatan minimum

Taspen BRIGHT LIFE MANFAAT ASURANSI RIP Meninggal Dunia* Penyakit Kritis* Pengembalian Premi* 100% Jumlah Uang Pertanggungan.. *Alami

Sesuai dengan ontologinya juga paradigma positivisme mengasumsikan adanya external world, epistemologi paradigma positivisme berasumsi bahwa penganut atau  pemegang

Pernyataan yang diutarakan diatas senada dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Basri (2009: 54) menyatakan bahwa “makna pendidikan yang hakiki adalah pembinaan

a) Pada awal pembelajaran, tujuan pembelajaran tidak diungkapkan. Sehingga mahasiswa belum memiliki pemahaman awal mengenai materi yang disajikan. b) Manajemen

Apabila saya dinyatakan sebagai penerima Beasiswa KTI-FKIP maka saya bersedia mentaati peraturan di bawah ini dan ketentuan/peraturan Universitas Kristen Petra lain

Menurut Moleong (1989: 34), paradigma naturalistik bertujuan untuk mengetahui aktualita dan realitas objek penelitian, dan persepsi manusia sebagai subjek pengguna melalui