• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol. 9, No. 4, Mei 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Vol. 9, No. 4, Mei 2021"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

575

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Murid Kelas IV Sub Tema Bangga

Menjadi Anak Indonesia Melalui Model Pembelajaran Kolaborasi Pada

SD Negeri 1 Padang Tiji Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie

Salmiati

Guru SD Negeri 1 Padang Tiji Kabupaten Pidie Email : [email protected]

ABSTRAK

Model pembelajaran selama ini yang dipakai guru adalah hanya sekedar ceramah sambil sesekali memberikan pertanyaan pada murid, namun murid juga kurang tanggap terhadap stimulus yang diberikan guru, hal itu mengakibatkan keadaan kelas yang kurang kondusir dan rendahnya hasil belajar murid. Sehingga diperlukannya suatu model pembelajaran yang dapat membangkitkan ketertarikan murid terhadap pelajaran, salah satunya model pembelajaran kolaboratif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Murid pada tema 1 Indahnya Kebersamaan khususnya sub tema 3 Bangga Menjadi Anak Indonesia pada murid kelas IV SD Negeri 1 Padang Tiji Kec.Padang Tiji Kabupaten Pidie Tahun Ajaran 2017/2018. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau action research. Subyek penelitian ini menunjukkan melalui hasil penelitian tindakan kelas pada SD Negeri 1 Padang Tiji Kec.Padang Tiji Kabupaten Pidie, terjadi peningkatan. Pada siklus I hasil evaluasi murid pada sub tema 3 Bangga Menjadi Anak Indonesia mendapatkan nilai rata 72,8 sedangkan pada siklus II mendapatkan nilai rata-rata 78,2, dari penelitian tersebut terjadi peningkatan yang cukup signifikan dan memuaskan serta tingkat keaktifan murid yang aktif dalam proses pembelajaran pada siklus I sebesar 28,57% dan murid yang aktif dalam proses pembelajaran pada siklus II sebesar 92,86%. Berarti terdapat peningkatan hasil belajar murid dan aktifitas proses pembelajaran para murid setelah dilakukan penelitian tindakan kelas.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Bangga Menjadi Anak Indonesia. Kolaborasi PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan telah menjadi salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Penyelenggaraan pendidikan dimaksudkan untuk membekali setiap warga negara dengan ketrampilan, pengetahuan dan wawasan sehingga dapat mengembangkan potensinya. Melalui pendidikan, setiap warga negara dapat bersaing dalam menghadapi globalisasi dan ikut serta dalam meningkatkan pembangunan dan kemajuan bangsa sehingga tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. Tujuan tersebut dapat tercapai bila penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dengan baik dan maksimal.

Peningkatan mutu pendidikan pada era saat ini perlu dilakukan untuk dapat meningkakan sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan berbagai inovasi dalam program pembelajaran seperti

(2)

576

peningatan mutu pendidikan serta tenaga kependidikan melalui berbagai jenis pelatihan, pengadaan buku ajar, peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan manajemen sekolah dan penyempurnaan kurikulum (Ismail, 2018). Berkaitan penyempurnaan kurikulum, kurkulum yang berlaku di Indonesia saat ini yaitu kurikuum 2013 sebagai penyempurnaa dari kurikulum sebelumnya.

Penyempurnaan kurikulum 2013 dari sebelumnya merupakan upaya dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia agar menjadi pribadi yang aktif, beriman, produktif, inovatif, kreatif, dan efektif serta dapat memberikan kontribusi untuk mayarakat dan negara (Febriani dan Wawan, 2018). Pembelajaran pada kurikullum 2013 mengharapkan adanya pengembangan potensi yang murid miliki secara optimal dalam proses pembelajaran. pengembangan pembelajaran pada kurikulum 2013 menggnakan tematik integritas dengan menggabungkan beberapa muatan pelajaran.

Pembelajaran tematik dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran yang didasarkan pada tema-tema sedangkan tema ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik memberikan kesempatan seluas-luasnya terhadap murid untuk dapat mengembangkan pengetahuan dengan menjawab pertanyaan sendiri dan memuaskan rasa keingintahuan dengan mencarinya sendiri didunia sekitar mereka. Pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran termasuk salah satu tipe atau jenis dari model pembelajaran terpadu. Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu menggunakan tema untuk mengkaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada murid (Depdiknas, 2006). Pembelajaran tematik telah dikenal sejak diterapkannya kurikulum satuan pendidikan dan sudah diterapkan di sekolah dasar.

Dengan diterapkannya pembelajaran tematik akan membangun kompetensi murid, dalam pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan murid dalam proses belajar secara aktif pada proses pembelajaran, sehingga murid dapat memperoleh pengalaman langsung yang terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan kegiatan (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar murid. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu murid, karena sesuai dengan tahap perkembangannya murid yang masih melihat sesuatu sebagai satu keutuhan (holistic). Dengan diterapkannya pembelajaran tematik diharapkan pembelajaran yang berlangsung menjadi pembelajaran berpusat pada murid (student center) (Trianto, 2010: 90).

Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya

(3)

577 guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran. Agar hasil ini dapat optimal, guru dituntut untuk mengubah peran dan fungsinya menjadi fasilitator, mediator, mitra belajar anak didik, dan evaluator. Ini berarti, guru harus menciptakan interaksi pembelajaran yang demokratis dan dialogis antara guru dengan anak didik, dan anak didik dengan anak didik (Paul Suparno dkk : 2002).

Sejalan dengan inovasi pembelajaran akhir-akhir ini termasuk di Sekolah Dasar, yaitu Kolaborasi. Interaksi belajar mengajarnya menuntut anak didik untuk aktif, kreatif dan senang yang melibatkan secara optimal mental dan fisik mereka. Tingkat keaktifan, kreatifitas dan kesenangan mereka dalam belajar merupakan rentangan kontinum dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Tetapi idealnya pada kontinum yang tertinggi baik pelibatan aspek mental maupun fisik anak didik. Oleh karena itu, interaksi belajar mengajar dengan paradigma Kolaborasi menuntut anak: berbuat, terlibat dalam kegiatan, mengamati secara visual dan mencerap informasi secara verbal.

Dengan demikian, interaksi belajar mengajar idealnya mampu membelajarkan anak didik berdasarkan problem based learning, authentic instruction, inquiry based learning,

project based learning, service learning, and cooperative learning. Pola interaksi yang

mampu mengemas hal tersebut dapat mengubah paradigma pembelajaran aktif menjadi paradigma pembelajaran reflektif. Dengan interaksi pembelajaran reflektif dapat membuat anak didik untuk menjadikan hasil belajar sebagai referensi refleksi kritis tentang dampak ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap masyarakat; mengasah kepedulian sosial, mengasah hati nurani, dan bertanggung jawab terhadap karirnya kelak. Kemampuan ini dimiliki anak didik, karena dengan pola interaksi pembelajaran tersebut, dapat membuat anak didik aktif dalam berfikir (mind-on), aktif dalam berbuat (hand-on), mengembangkan kemampuan bertanya, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, dan membudayakan untuk memecahkan permasalahan baik secara personal maupun sosial.

Hasil observasi peneliti selama mengajar di kelas IV menunjukkan masih sulitnya menemukan model pembelajaran yang dapat disukai murid sekaligus efektif bagi penyampaian materi. Observasi kelas yang dilakukan peneliti menunjukkan suasana kelas yang kurang dinamis. Model pembelajaran yang dipakai guru adalah hanya sekedar ceramah sambil sesekali memberikan pertanyaan pada murid, namun murid juga kurang tanggap terhadap stimulus guru. Sebagian besar murid membuka buku namun tidak menyimak, ada yang bermain dengan teman sebangku, ada juga yang sibuk membuat mainan atau menggambar sesuatu. Beberapa murid tetap konsentrasi dengan tetap menyimak penjelasan guru. Suasana nyaman dalam belajar akan mendorong tumbuhnya minat belajar murid. Seorang pengajar hendaknya tidak mematikan karakter murid namun seharusnya mampu mengoptimalkan dan memanajemen agar karakter tersebut terarah menjadi potensi positif. Berpijak dari penjelasan di atas, solusi yang dapat dilakukan guru adalah memperbaiki proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang dapat membangkitkan ketertarikan murid terhadap pelajaran. Selain itu murid harus dilatih untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

(4)

578

Alternatif pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaborasi (Colaboration Learning) merupakan model pembelajaran yang menerapkan paradigma baru dalam teori-teori belajar (Yufiarti 2003).

Pembelajaran kolaboratif didefenisikan sebagai falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Para pelajar bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak menyetir kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. (Daniel Muijs & David Reynolds, 2008:89)

Menurut Melvin dalam Gunawan (2007:173) ketika mereka belajar bersama teman, bukannya sendirian, mereka mendapatkan dukungun emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka melampaui ambang pengetahuan dan keterampilan mereka yang sekarang. Metode kolaboratif dalam pembelajaran lebih menekankan pada pembangunan makna oleh murid dari proses sosial yang bertumpu pada konteks belajar. Dasar metode kolaboratif adalah teori interaksional yang memandang belajar sebagai suatu proses membangun makna melalui interaksi sosial.4 Pembelajaran kolaboratif ini dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktik-praktik pembelajaran, dan pembelajaran kolaboratif ini melibatkan partisipasi aktif para murid dan meminimalisasi perbedaan-perbedaan antar-individu. (Suyatno, 2009:46)

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dalam penelitian ini peneliti mengambil judul: “Upaya meningkatkan hasil belajar Murid Kelas IV Tema 1 sub tema 3 Bangga Menjadi Anak Indonesia melalui model pembelajaran kolaborasi pada SD Negeri 1 Padang Tiji Kec.Padang Tiji Kabupaten Pidie” .

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Padang Tiji Kec.Padang Tiji Kabupaten Pidie yaitu pada kelas IV Semester I, selama tiga bulan pada semester I dimulai bulan Oktober s/d bulan Desember Tahun Pelajaran 2017/2018. Subjek yang dimaksud tindakan dalam penelitian ini adalah seluruh Murid kelas IV SD Negeri 1 Padang Tiji Kec.Padang Tiji Kabupaten Pidie yang berjumlah 14 murid.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes formatif siklus I dan siklus II serta catatan pengamatan lapangan pada kondisi awal, siklus I dan siklus II serta hasil pengamatan kelas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik catatan lapangan, lembar kerja murid, tes perbuatan dan dokumen. Anaisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Berdasarkan hasil pengamatan sebagai data awal menunjukkan bahwa proses kegiatan belajar mengajar di kelas IV SD Negeri 1 Padang Tiji Kec.Padang Tiji

(5)

579 Kabupaten Pidie belum efektif dikarenakan pembelajaran masih berpusat pada guru artinya guru masih banyak berperan. Dan murid kurang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Banyak murid yang mengobrol, tidak memperhatikan pelajaran, bercanda dengan teman, dan guru tidak dapat mengkondisikan kelas dengan baik.

Ini telah menyebabkan kurang efektifnya proses belajar mengajar dikelas tersebut. Sehingga menurunkan hasil belajar murid setiap akhir satu proses pembelajaran. Bahkan masih banyak murid yang belum memahami dan mengerti sub tema bangga menjadi anak Indonesia. Maka karena rata-rata mendapatkan nilai di bawah KKM yang sudah ditentukan sekolah yaitu 65, dan ini sangat membuat peneliti tidak puas.

Deskripsi Tindakan dan Hasil Penelitian Siklus I 1. Tahap Perencanaan

Perencanaan tindakan dalam siklus I dapat diuraikan sebagai berikut: Melihat kurikulum, buku paket dan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran kolaborasi Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan seperti: buku paket, buku do’a, dan buku lain yang relevan Menyiapkan lembar kerja yang akan diisi oleh murid. Menyusun tugas/instruksi yang harus dikerjakan oleh murid. Menyusun lembar instrument penggunaan model pembelajaran kolaborasi yang akan digunakan oleh observer sebagai acuan penilaian dan pengamatan tindakan para murid.

2. Tahap Pelaksanaan Pertemuan 1

Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal

Guru-murid memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan

basmallah dan kemudian berdo’a bersama sebelum memulai pelajaran. Murid

menyiapkan kitab suci Al-Qur’an. Secara bersama membaca Al-Qur’an selama 5-10 menit.

Kegiatan Inti Elaborasi

Guru mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan, contohnya: Pernahkah kalian mendengar tentang Indahnya Kebersamaan? Pernahkah kalian membaca tentang bangga menjadi anak Indonesia? Guru meminta beberapa murid untuk menjelaskan pandangannya tentang bangga menjadi anak Indonesia.

Eksplorasi

Membaca literatur tentang Indahnya Kebersamaan. Mendiskusikan tentang bangga menjadi anak Indonesia. Mengidentifikasi tentang Indahnya kebersamaan dan bangga menjadi anak Indonesia. Mempresentasikan hasil diskusi tentang bangga menjadi anak Indonesia.

(6)

580

Konfirmasi

Dalam sub tema bangga menjadi anak Indonesia banyak mengandung nilai-nilai sikap dan perilaku yang utama, yaitu mari saling menerima perbedaan budaya dan jadikan budaya sebagai pemersatu masyarakat bangsa.

Kegiatan Akhir (Penutup)

Guru meminta agar para murid sekali lagi membaca kesimpulan tentang sub tema bangga menjadi anak Indonesia sebagai penutup materi pembelajaran

Pertemuan II

Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal

Guru-murid memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan

basmallah dan kemudian berdo’a bersama sebelum memulai pelajaran. Murid

menyiapkan kitab suci Al-Qur’an. Secara bersama membaca Al-Qur’an selama 5-10 menit.

Kegiatan Inti Elaborasi

Guru mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan, contohnya: Pernahkah kalian mendengar tentang Indahnya Kebersamaan? Pernahkah kalian membaca tentang bangga menjadi anak Indonesia? Guru meminta beberapa murid untuk menjelaskan pandangannya tentang bangga menjadi anak Indonesia.

Eksplorasi

Membaca literatur tentang Indahnya Kebersamaan. Mendiskusikan tentang bangga menjadi anak Indonesia. Mengidentifikasi tentang Indahnya kebersamaan dan bangga menjadi anak Indonesia. Mempresentasikan hasil diskusi tentang bangga menjadi anak Indonesia.

Konfirmasi

Dalam sub tema bangga menjadi anak Indonesia banyak mengandung nilai-nilai sikap dan perilaku yang utama, yaitu mari saling menerima perbedaan budaya dan jadikan budaya sebagai pemersatu masyarakat bangsa.

Kegiatan Akhir (Penutup)

Guru meminta agar para murid sekali lagi membaca kesimpulan tentang sub tema bangga menjadi anak Indonesia sebagai penutup materi pembelajaran.

3. Tahap Observasi dan Monitoring

Disini peneliti bersama observer yang juga teman sejawat menganalisis proses kegiatan pembelajaran dan hasil belajar murid. Analisis ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana pemahaman murid tentang materi, tingkat keaktifan, kerja sama dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran. Pada tahap ini juga menganalisis kekurangan-kekurangan dan kelebihan peneliti dalam mengajar. Hasil pengamatan terhadap kegiatan murid selama kegiatan pembelajaran sudah menunjukkan hasil yang lebih baik, artinya terjadi perubahan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dibandingkan dalam kegiatan belajar sebelumnya.

(7)

581 4. Tahap Refleksi

Setelah guru (peneliti) melaksanakan kegiatan pembelajaran dan telah diamati oleh observer. Kegiatan akhir yang akan dilakukan berikutnya adalah refleksi. Peneliti dan observer melakukan diskusi tentang data-data yang telah diperoleh baik dalam proses pembelajaran berlangsung melalui hasil observasi dan hasil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk membahasa kekurangan dan kelebihan proses kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan observer dan guru, ditemukan beberapa kekurangan yang ditemukan pada pelaksanaan tindakan kelas pada siklus I. Ini terbukti dari tingkat pemahaman murid yang masih rendah dari 14 orang murid hanya 4 orang murid yang benar-benar mengetahui dan memahami sub tema bangga menjadi anak Indonesia dengan baik dan benar, sementara 10 murid lainnya belum mengerti dan belum mampu melakukannya dengan baik dan benar. Dan setelah peneliti mendapat nilai pengolahan data tersebut hanya mendapatkan nilai rata-rata 72,8 sementara Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65. Berikut hasil belajar pada tindakan siklus I.

Tabel 1. Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus I

No Hasil Tes Akhir Jumlah Presentase

1. Murid yang tuntas 4 28,57%

2. Murid yang tidak tuntas 10 71,43%

Tabel 2. Rata-Rata Hasil Tes Siklus I

No Keterangan Nilai

1.. Nilai tertinggi 74

2. Nilai terendah 58

3. Jumlah nilai 132

4. Nilai rata-rata 72.8

Dari data laporan pada tabel 1 dan 2 di atas, ternyata hasil belajar tema 1 sub tema 3 bangga menjadi anak Indonesia belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 65, dikarenakan hanya 8 murid atau 40% s yang tuntas atau mencapai KKM, sedangkan 12 murid atau 60% belum mencapai KKM. Maka Peneliti dan observer menyimpulkan perlu adanya tindak lanjut atau dilanjutkan pada siklus II dengan perbaikan-perbaikan ke arah yang lebih sempurna.

Deskripsi Tindakan dan Hasil Penelitian Siklus II 1. Tahap Perencanaan

Beberapa langkah yang dilakukan guru/peneliti dalam membuat perencanaan tindakan di siklus II ini, yaitu :

a. Melihat kurikulum, buku paket dan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran kolaborasi

(8)

582

c. Membuat lembar kerja yang akan diisi oleh murid

d. Menyusun beberapa soal akhir yang relevan dengan materi pembelajaran

e. Menyusun lembar instrumen dan penggunaan model pembelajaran kolaborasi yang akan digunakan oleh observer sebagai acuan penilaian dan pengamatan tindakan para murid.

2. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti melaksanakan proses pembelajaran juga sesuai dengan rencana pembelajaran. Peneliti menyampaikan materi berdasarkan urutan langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Dimana kalau pada siklus I hanya guru yang melakukan diskusi tapi pada siklus II ini murid ikut terlibat langsung dalam melakukan diskusi sub tema bangga menjadi anak Indonesia dengan menggunakan perlengkapan yang dibawanya sendiri.

Pertemuan 1

Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal

Guru-murid memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan

basmallah dan kemudian berdo’a bersama sebelum memulai pelajaran. Murid

menyiapkan kitab suci Al-Qur’an. Secara bersama membaca Al-Qur’an selama 5-10 menit.

Kegiatan Inti Elaborasi

Guru mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan, contohnya: Pernahkah kalian mendengar tentang Indahnya Kebersamaan? Pernahkah kalian membaca tentang bangga menjadi anak Indonesia? Guru meminta beberapa murid untuk menjelaskan pandangannya tentang bangga menjadi anak Indonesia.

Eksplorasi

Membaca literatur tentang Indahnya Kebersamaan. Mendiskusikan tentang bangga menjadi anak Indonesia. Mengidentifikasi tentang Indahnya kebersamaan dan bangga menjadi anak Indonesia. Mempresentasikan hasil diskusi tentang bangga menjadi anak Indonesia.

Konfirmasi

Dalam sub tema bangga menjadi anak Indonesia banyak mengandung nilai-nilai sikap dan perilaku yang utama, yaitu mari saling menerima perbedaan budaya dan jadikan budaya sebagai pemersatu masyarakat bangsa.

Kegiatan Akhir (Penutup)

Guru meminta agar para murid sekali lagi membaca kesimpulan tentang sub tema bangga menjadi anak Indonesia sebagai penutup materi pembelajaran

Pertemuan II

Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal

Guru-murid memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan basmallah dan kemudian berdo’a bersama sebelum memulai pelajaran. Murid menyiapkan kitab suci Al-Qur’an. Secara bersama membaca Al-Qur’an selama 5-10 menit.

(9)

583 Kegiatan Inti

Elaborasi

Guru mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan, contohnya: Pernahkah kalian mendengar tentang Indahnya Kebersamaan? Pernahkah kalian membaca tentang bangga menjadi anak Indonesia? Guru meminta beberapa murid untuk menjelaskan pandangannya tentang bangga menjadi anak Indonesia.

Eksplorasi

Membaca literatur tentang Indahnya Kebersamaan. Mendiskusikan tentang bangga menjadi anak Indonesia. Mengidentifikasi tentang Indahnya kebersamaan dan bangga menjadi anak Indonesia. Mempresentasikan hasil diskusi tentang bangga menjadi anak Indonesia.

Konfirmasi

Dalam sub tema bangga menjadi anak Indonesia banyak mengandung nilai-nilai sikap dan perilaku yang utama, yaitu mari saling menerima perbedaan budaya dan jadikan budaya sebagai pemersatu masyarakat bangsa.

Kegiatan Akhir (Penutup)

Guru meminta agar para murid sekali lagi membaca kesimpulan tentang sub tema bangga menjadi anak Indonesia sebagai penutup materi pembelajaran.

3. Tahap Observasi/Monitoring

Ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung, peneliti sendiri dan juga observer yang merupakan teman sejawat juga melakukan observasi, untuk mendapatkan bahan-bahan masukan untuk di analisis pada tahap refleksi. Yang berguna untuk mengetahui sejauh mana sudah ketercapaian tujuan yang sudah ditentukan, dan pada tahap ini peneliti bersama observer yang juga teman sejawat menganalisis proses kegiatan pembelajaran dan hasil belajar murid. Analisis ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana tingkat pemahaman, keaktifan, kerja sama dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran.

Selain itu juga menganalisis kekurangan-kekurangan dan kelebihan peneliti dalam mengajar. Hal pengamatan terhadap kegiatan murid selama kegiatan pembelajaran sudah menunjukkan hasil yang lebih baik, artinya terjadi perubahan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dibandingkan kegiatan belajar sebelumnya.

Pengamatan ini dilaksanakan pada saat guru menjelaskan materi dan memberikan contoh secara langsung dengan mendemontrasikan cara membaca do’a setelah perkembangan Islam di Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan rukun dan syaratnya, dan diikuti oleh semua murid sebagai makmumnya. Disini peserta murid juga melakukannya secara berkelompok sesuai dengan kelompoknya masing-masing yang telah dibagikan sebelumnya, dimana salah satu diantara mereka menjadi imam dan yang lainnya menjadi makmum.

Pada siklus ini para murid terlihat lebih aktif hal ini dikarenakan para murid dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran, dibandingkan pada siklus I, pada

(10)

584

siklus II ini para murid terlihat lebih aktif dan memperhatikan dan mencoba mencari tahu sendiri tentang materi tersebut..

4. Refleksi

Setelah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dan telah diamati oleh observer, kegiatan akhir yang akan dilakukan pada tahap berikutnya adalah refleksi. Guru dan observer melakukan diskusi data-data yang telah diperoleh baik dalam proses pembelajaran berlangsung melalui lembar observasi dan hasil belajar murid pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Pada siklus II ini hasil refleksi menunjukkan adanya peningkatan baik dalam proses pembelajaran dan keaktifan para murid menunjukkan kearah yang lebih baik. Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan observer dan guru, ditemukan beberapa kemajuan yang terjadi pada siklus II ini, diantaranya :

a. Proses pembelajaran yang dilakukan lebih efektif dan efesien karena murid sangat aktif dan ikut serta dalam memahami materi bangga menjadi anak Indonesia dengan menggunaan peralatan yang dibawanya sendiri

b. Dibandingkan siklus I, sudah ada kemajuan pada siklus II ini, ini karena murid sudah menunjukkan respon yang positif pada saat proses pembelajaran. Murid sudah mulai aktif, mau memperhatikan pelajaran dan mau melakukan praktek sendiri bersamaan teman-teman di kelompoknya, tidak banyak yang mengobrol dan bercanda, serta mau bertanya dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dari 14 murid hanya 1 orang yang tidak aktif dan tidak memperhatikan guru. c. Dan lembar pengamatan yang disikan oleh observer pada saat guru melakukan

proses belajar mengajar pada siklus II ini sudah ada kemajuan dan perbaikan yang dilakukan oleh guru. Presentasi kualitas pembelajaran sudah sangat baik dan memperoleh nilai rata-rata 78,2.

Berdasarkan hasil refleksi yang dilaksanakan pada siklus II ini, melalui hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer, sudah menunjukkan kemajuan pada hasil belajar para murid di siklus II ini. Yang dinilai dari hasil evaluasi yang telah dilakukan, rata-rata kelas dari hasil evaluasi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan peningkatan nilai dari nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada sub tema 3 Bangga menjadi anak Indonesia yang ditentukan oleh sekolah tersebut yaitu 65. Para murid mendapatkan nilai rata-rata dari hasil evaluasi yang telah dilakukan mendapatkan 78,2 hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I yang hanya mendapatkan nilai rata-rata 72,8 dengan perolehan data sebagai berikut :

Tabel 3 Ketuntasan belajar murid pada siklus II

No Hasil Tes Akhir Jumlah Presentase

1. Murid yang tuntas 13 92,86%

2. Murid yang tidak tuntas 1 7,14%

Tabel 4. Rata-Rata Hasil Tes Siklus II

No Keterangan Nilai

1.. Nilai tertinggi 90

(11)

585

3. Jumlah nilai 1955

4. Nilai rata-rata 78.2

Berdasarkan tabel 3 dan 4 di atas, ternyata hasil belajar ternyata hasil belajar tema 1 sub tema 3 bangga menjadi anak Indonesia telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 65, dikarenakan 13 murid atau 92,86% murid yang tuntas atau mencapai KKM, sedangkan 1 murid atau 7,14% belum mencapai KKM. Dan mengalami peningkatan sebesar 64,29%. Dengan rata-rata yang diperoleh pada siklus II ini adalah 78,2 dan mengalami peningkatan sebesar 5,4 jika dibandingkan siklus I.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Penggunaan model pembelajaran kolaborasi sangat tepat diberikan pada para murid khususnya untuk murid kelas IV SD Negeri 1 Padang Tiji Kec.Padang Tiji Kabupaten Pidie yang cara berfikirnya masih bisa dikatagorikan bersifat kongkret

2. Penggunaan model pembelajaran kolaborasi dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar murid pada sub tema 3 Bangga menjadi anak Indonesia, karena penggunaan metode tersebut menuntut para murid harus melakukannya sendiri kegiatan bangga tersebut baik sendiri maupun secara berkelompok, dan itu akan membuat materi pelajaran tersebut masuk dalam ingatan jangka panjang murid.

DAFTAR PUSTAKA

Daniel Muijs & David Reynolds. 2008. Effective Teaching Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Depdiknas. 2006. Permendiknas No. 23 tahun 2006 Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Depdiknas.

Febriani, Nufan S. dan Wayan Weda Asmara Dewi. 2018. Teori dan Praktis Riset Pemasaran Komunikasi Terpadu.Malang:UB Press.

Gunawan, Adi.W. 2007. Genius Learning Strategy. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ismail,Fajri.2018.Statistika untuk Penelitian Pendidikan dan Ilmu-ilmu Sosial, Jakarta : Prenadamedia Group.

Paul, Suparno dkk, 2002. Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi. Yokyakarta: Kanisius.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Surabaya: Masmedia Buana Pustaka. Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu, Konsep, Strategi dan Implementasinya

dalam KTSP. Jakarta: Bumi Aksara.

Yufiarti. 2003. Karin Vilien tentang: Pembelajaran di Taman Kanak-Kanak Indonesia. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia Edisi Perdana.

Gambar

Tabel 1. Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus I
Tabel 3 Ketuntasan belajar murid pada siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini, menunjukan bahwa PT BPR Syariah Bangun Drajat Warga Yogyakarta dalam mengimplementasikan pembagian laba pada prinsip bagi hasil tidak

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas

Lebih lanjut, Azwar (2017, hal 105) mendefinisikan validitas alat ukur sebagai sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur melakukan fungsinya. Suatu alat

Bangunan ruko (rumah toko) Citra Land Bagya City juga menerapkan prinsip-prinsip International Style antara lain Arsitektur sebagai volume, Keteraturan, Penghindaran

Juga dalam ayat yang mulia ini dijelaskan mengenai balasan bagi orang yang berpuasa.. Mujahid dan selainnya mengatakan, “Ayat ini turun pada orang yang berpuasa”. Barangsiapa

Pada kesempatan itu, tokoh si Hutan (Indra Bangsawan) masuk ke istana menghadap Raja Kabir dengan membawa air susu harimau beranak muda. Akan tetapi, tokoh ini berpura-pura

a) Iterasi 1 : dari Tabel 3.43 diperoleh penghematan terbesar 20,24 yaitu pengabungan rute untuk TPS Samsat Timur dan TPS Garasi Bimo. Dilakukan pengecekan apakah

Dari perikop tentang penghakiman terakhir dapat kita dalami bersama. pilihan merupakan inisiatif kita dan atas penyertaan Tuhan tentunya. Dari perikop ini kita lihat bahwa Allah