• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dahulu sudah dipersiapkan atau sudah dimasak ditempat atau dirumah. Pembuat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dahulu sudah dipersiapkan atau sudah dimasak ditempat atau dirumah. Pembuat"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Jajanan

1. Definisi

Jajanan adalah makanan dan minuman yang disajikan dalam wadah atau sarana penjualan dipinggir jalan, tempat umum atau tempat lainnya yang terlebih dahulu sudah dipersiapkan atau sudah dimasak ditempat atau dirumah. Pembuat jajanan sangat bervariasi mulai dari produsen jenis rumah tangga sampai industri makanan pabrikan. Jajanan terdiri dari makanan dan minuman yang siap saji. Jenis makanan jajanan antara lain : kue kering, kue basah, aneka permen, gulali, manisan dan lain-lain, dan jenis jajanan minuman antara lain es lilin, es krim, es serut, es cincau, dan minuman dingin lainnya.

2. Syarat mutu jajanan

a. Air yang digunakan dalam penanganan makanan jajanan harus air yang memenuhi standar dan persyaratan kesehatan yang berlaku bagi air bersih atau air minum.

b. Semua bahan yang diolah menjadi makanan jajanan harus dalam keadaan baik mutunya, segar dan tidak busuk.

(2)

c. Semua bahan olahan dalam kemasan yang diolah menjadi makanan jajanan harus bahan olahan yang terdaftar di Departemen Kesehatan, tidak kadaluwarsa, tidak cacat atau tidak rusak.

d. Penggunaan bahan tambahan makanan yang digunakan dalam mengolah makanan jajanan harus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

e. Bahan makanan yang cepat rusak atau cepat membusuk harus disimpan dalam wadah terpisah.

f. Makanan jajanan yang disajikan harus dengan tempat/alat perlengkapan yang bersih, dan aman bagi kesehatan.

g. Makanan jajanan yang dijajakan harus dalam keadaan terbungkus dan tertutup, pembungkus yang digunakan dan atau tutup makanan jajanan harus dalam keadaan bersih dan tidak mencemari makanan.

h. Makanan jajanan yang diangkut harus dalam wadah yang terpisah dengan bahan mentah sehingga terlindung dari pencemaran.

i. Makanan jajanan yang siap disajikan dan telah lebih dari 6 jam apabila masih dalam keadaan baik, harus diolah kembali sebelum disajikan.

(Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia) B. Pemanis

Pemanis merupakan salah satu dari Bahan Tambahan Pangan ( BTP ) yang diatur dalam Permenkes RI No 033 tahun 2012 yang dapat menyebabkan rasa manis

(3)

pada produk pangan yang tidak atau sedikit mempunyai nilai gizi atau kalori, hanya boleh ditambahkan ke dalam produk pangan dalam jumlah tertentu (BPOM 2004).

Macam-macam pemanis berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi dua bagian yaitu pemanis alami dan pemanis sintetis.

1. Pemanis alami

Pemanis alami merupakan bahan pemberi rasa manis yang diperoleh dari bahan- bahan nabati maupun hewani. Zat pemanis alami yang sering digunakan yaitu sukrosa, laktosa, maltosa, fruktosa.

Contoh pemanis alami yaitu : a. Gula Tebu

Mengandung zat pemanis fruktosa yang merupakan salah satu jenis glukosa.

Gula tebu atau gula pasir yang diperoleh dari tanaman tebu merupakan pemanis yang paling banyak digunakan. Selain memberi rasa manis, gula tebu juga bersifat mengawetkan.

b. Gula Merah

Merupakan pemanis dengan warna coklat. Gula merah merupakan pemanis kedua yang banyak digunakan setelah gula pasir. Kebanyakan gula merah digunakan untuk makanan tradisional, misalnya pada bubur dodol dan lain- lain.

c. Madu

Merupakan pemanis alami yang dihasilkan oleh lebah madu.

(4)

d. Kulit Kayu Manis

Merupakan kulit kayu yang berfungsi sebagai pemanis. Kayu manis juga berfungsi sebagai pengawet

2. Pemanis sintetis

Pemanis sintetis merupakan bahan tambahan pangan yang menyebabkan rasa manis tetapi tidak mempunyai nilai gizi. Pemanis sintetis dapat menimbulkan rasa manis atau dapat mempertajam penerimaaan terhadap rasa manis sedangkan kalori yang dihasilkannya jauh lebih rendah dari gula atau glukosa, sukrosa dan maltosa.

Contoh pemanis sintetis yaitu sakarin, siklamat, dan aspartam.

Makanan dan minuman yang mempunyai rasa manis juga memiliki dampak positif terhadap kesehatan. Manfaat pemanis bagi kesehatan antara lain :

a. Mengontrol berat badan

Salah satu aspek paling menarik dari pemanis buatan adalah bahwa hampir tidak memiliki kalori. Sebaliknya, setiap gram gula biasa mengandung 4 kalori. Jika sedang mencoba untuk menurunkan berat badan atau mencegah kenaikan berat badan, produk manis dengan pemanis buatan mungkin menjadi pilihan yang menarik. Di sisi lain, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa mengkonsumsi pemanis buatan dapat dikaitkan dengan peningkatan berat badan, namun penyebabnya belum diketahui.

(5)

b. Alternatif bagi penderita diabetes

Pemanis buatan mungkin alternatif yang baik untuk gula jika seseorang memiliki diabetes. Tidak seperti gula, pemanis buatan umumnya tidak meningkatkan kadar gula darah karena bukan merupakan karbohidrat.

c. Tidak menyebabkan gigi berlubang

Tidak seperti gula, pemanis buatan tidak menyebabkan kerusakan gigi.

C. Pemanis Sintetis

Pemanis sintetis adalah pemanis yang diproses secara kimiawi, dan senyawa tersebut tidak terdapat di alam ( BPOM, 2014). Pemanis sintetis yang ditetapkan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2014 yaitu sakarin, siklamat, aspartam, asesulfam-k, dan sukralosa. Pedagang jajanan sering menggunakan pemanis sintetis yang umumnya antara lain sakarin, siklamat dam aspartam.

1. Sakarin.

Sakarin ditemukan oleh Fahbelrg dan Remsen pada tahun 1897, yang digunakan sebagai antiseptik dan pengawet, tetapi sejak tahun 1900 digunakan sebagai pemanis. Sakarin merupakan pemanis buatan dalam bentuk garam berupa kalsium, kalium, dan natrium sakarin. Garam sakarin secara umum berbentuk kristal putih, tidak berbau atau berbau aromatik lemah, dan mudah larut dalam air, serta berasa manis.

Kombinasi penggunaan sakarin dengan pemanis buatan rendah kalori lainnya bersifat sinergis. Intensitas rasa manis garam natrium sakarin cukup tinggi, yaitu kira -kira 200-700 kali sukrosa 10 %, rasa manis sakarin juga mempunyai rasa pahit yang

(6)

disebabkan oleh kemurnian yang rendah dari proses sintetis. Sakarin tingkat kemanisan relatif menurun dengan makin meningkatnya konsentrasi. Sakarin tidak dimetabolisme oleh tubuh, lambat diserap oleh usus, dan cepat dikeluarkan melalui urin tanpa perubahan. Struktur kimia sakarin dapat rusak pada suhu pengolahan, oleh karena itu penambahan sebaiknya dilakukan setelah proses pemanasan. Perubahan kecil pada struktur kimia dapat mengubah rasa suatu senyawa termasuk pada sakarin, yang semula rasanya manis dapat berubah menjadi pahit ataupun menjadi tidak berasa. Sakarin mempunyai titik leleh pada suhu 225 -228⁰C dan panas pembakaran sebesar 4,753 kkal/gram.

Sakarin secara kimiawi merupakan senyawa 2,3-Dihidro-3-Oxobenziso sulfonasol atau Benzosulfimida. Kelarutan Sakarin yaitu satu gram sakarin dapat larut dalam 290ml air pada suhu kamar atau dalam 250ml air mendidih, 1 gr sakarin juga larut dalam 31 ml alkohol, 12ml aseton atau 50ml gliserol, sakarin mudah sekali larut dalam larutan alkali karbonat dan sedikit larut dalam chloroform ataupun eter.

Sakarin mengalami hidrolisa dalam suasana alkalis menjadi asam O-Sulfamoil- Benzoat sedangkan dalam susana asam akan menjadi asam ammonium o-Sulfo- Benzoat.

Rumus molekul sakarin adalah C₇H₅NO₃S dan berat molekulnya 183,18.

Sakarin lebih stabil dalam bentuk garam sehingga sering dijumpai dalam bentuk garam natriumnya dengan rumus bangun sebagai berikut :

(7)

Gambar 1. Rumus bangun Natrium Sakarin (C₇H₅NO₃S) a. Sifat Fisik dan sifat kimia Sakarin yaitu :

1) Pemerian : Berupa serbuk atau hablur putih, tidak berbau atau berb au aromatik lemah, larutan encer sangat manis, larutan bereaksi asam terhadap lakmus.

2) Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, dalam kloroform dan dalam eter, larut dalam air mendidih, sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam larutan amonia encer, dalam larutanalkali hidroksida dan dalam alkali karbonat dengan pembentukan karbondioksida.

b. Sifat sakarin terhadap temperatur : 1) Tidak stabil pada pemanasan

2) Akan pahit bila mengalami pemanasan

3) Pada temperatur sedang sampai tinggi bersifat meninggalkan rasa pahit atau rasa logam (Yusnidar Yusuf, 2013).

c. Dampak sakarin terhadap kesehatan

Sakarin merupakan salah satu zat pemanis buatan yang sering digunakan oleh produsen makanan dan minuman pada produk industri mereka. Kadar yang belebihan dapat merugikan kesehatan terutama terhadap

(8)

anak-anak. Ada beberapa produsen yang menggunakan zat pemanis buatan melebihi batas standar yang diperbolehkan. Pemakaian sakarin yang berlebihan, dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia, anatara lain:

Migran dan sakit kepala, kehilangan daya ingat, insomnia, iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut, alergi, impotensi dan gangguan sexual, kebotakan, kanker otak, kanker kandung kemih.

2. Siklamat

Siklamat pertama kali ditemukan oleh Michael Sveda pada tahun 1937, pada tahun 1950 siklamat ditambahkan ke dalam makanan dan minuman. Siklamat umumnya dalam bentuk garam kalsium, kalium, dan natrium siklamat. Garam siklamat berbentuk kristal putih, tidak berbau, tidak berwarna, dan mudah larut dalam air dan etanol. Kombinasi penggunaan siklamat dengan sakarin bersifat sinergis, dan kompatibel dengan pencitarasa dan sebagai bahan pengawet. Sifat fisik siklamat tahan panas, sehingga sering digunakan dalam makanan yang diproses dalam suhu tinggi misalnya makanan dalam kaleng.

Siklamat mempunyai tingkat kemanisan 30 kali dari gula. Rasa manis siklamat masih dapat dirasakan pada tingkat pengenceran 1 : 10 ( dalam liter ), meskipun memiliki tingkat kemanisan yang tinggi dan rasanya enak (tanpa rasa pahit) tetapi siklamat dapat membahayakan kesehatan.

Rumus molekul siklamat adalah C₆H₁₁NHSO₃Na. Nama lain siklamat dalam perdagangan dikenal dengan sebutan antara lain: Assugrin, Sucaril dan Sucrosa (Indriasari, 2008). Rumus bangun natrium siklamat yaitu :

(9)

Gambar 2. Rumus bangun natrium siklamat (C₆H₁₁NHSO₃Na) a. Sifat fisik dan kimia siklamat antara lain :

1) Struktur : berbentuk kristal putih, tidak berbau, tidak berwarna

2) Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air,etanol, dan praktis tidak larut dalam eter, benzene, dan kloroform.

(Yusnidar Yusuf, 2013)

b. Dampak siklamat terhadap kesehatan

Siklamat mempunyai dampak buruk terhadap kesehatan apabila mengkonsumsi yang berlebihan, dampaknya hampir sama seperti penggunaan sakarin antara lain: Dapat merangsang pertumbuhan kanker kandung kemih, alergi, bingung, diare, hipertensi, impotensi, iritasi, insomnia, kehilangan daya ingat, migrain, sakit kepala, tremor, kebotakan, kanker otak.

3. Aspartam

Aspartam adalah salah satu jenis pemanis buatan yang diizinkan untuk digunakan pada makanan sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Aspartam digunakan sebagai pemanis dalam berbagai makanan dan minuman seperti minuman ringan, makanan penutup, permen, permen karet, yoghurt, pangan kurang energi, dan pangan untuk mengontrol berat badan. Aspartam memiliki daya kemanisan 250 kali sukrosa, pada tubuh manusia aspartam akan dimetabolisme menjadi tiga senyawa

(10)

utama yaitu asam aspartat, fenilalanin dan metanol yang secara alami juga terdapat pada makanan lain dan dalam tubuh manusia. Asam aspartat merupakan asam amino non-esensial yang terdapat secara alami dalam tubuh.

Aspartam ditemukan oleh James Schulter pada tahun 1965. Aspartam bisa disebut dengan senyawa metil ester dipeptida yaitu L-aspartil-L-alanin-metilester.

Aspartam yang dikenal dengan nama dagang equal. Aspartam kurang menguntungkan karena penyimpanan dalam waktu lama akan mengakibatkan turunnya rasa manis. Aspartam tidak tahan panas sehingga tidak baik digunakan dalam bahan pangan yang diolah melalui pemanasan. Aspartam merupakan senyawa yang tidak berbau, berbentuk tepung kristal berwarna putih, sedikit larut dalam air, dan berasa manis. Aspartam tidak cocok untuk produksi makanan kering, roti dan lain-lain, karena kelarutannya dalam air memberikan suasana asam cukup besar.

Aspartam memiliki rumus kimia C₁₄H₁₈N₂O₅, berat molekul 294.31 dan kerapatan 1,347 g/cm3. Aspartam memiliki dua gugus fungsi yang bisa terionisasi dan keduanya ada pada bagian residu asam aspartat. Pada pH netral, aspartam ada dalam dua bentuk terionisasi. Aspartam stabil maksimal pada pH 4,3. Aspartam pada suhu kamar berbentuk bubuk putih yang tidak berbau dan titik leburnya 248-2500C.

Rumus bangun aspartam sebagai berikut :

Gambar 3. Rumus bangun aspartame (C₁₄H₁₈N₂O₅)

(11)

a. Sifat fisik dan kimia aspartam

1) Pemerian : Senyawa yang tidak berbau, berbentuk tepung Kristal berwarna putih

2) Kelarutan : Sedikit larut dalam air dan etanol (Yusnidar Yusuf, 2013)

b. Dampak aspartam terhadap kesehatan

Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh aspartame, seperti : gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, masalah jantung, mual-mual, kebal, pegal-pegal, bertambahnya berat badan, bintik-bintik pada kulit, kelelelahan, insomnia, sulit bernapas, bicara tidak jelas, rasa nyeri ketika menelan makanan, diare, sulit tidur, dan gangguan indera perasa. Aspartame juga dapat menyebabkan masalah psikologis seperti depresi, gelisah, perubahan tingkah laku, phobia, dan berkurangnya daya ingat. Penyakit kronis yang dapat disebabkan oleh penggunaan aspartame yang berlebihan antara lain : tumor pada otak, multiple sklerosis, epilepsi, sindrom kelelahan kronis, parkinson, lupus, alzheimer, cacat mental, limfoma, kelainan pada kelahiran anak, dan bahkan diabetes, yang merupakan penyakit yang ingin dihindari oleh orang-orang yang banyak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung aspartame (Sujarwo Wahyu, 2010).

(12)

Batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan pemanis sintetis yang di ijinkan sesuai dengan Permenkes RI No 033 tahun 2012.

Tabel 2. Batasan penggunaan bahan tambahan pangan pada pemanis sintetis (sakarin, siklamat, aspartam) sebagai berikut :

Kategori Pangan Batas Maksimum (mg/kg)

Sakarin Siklamat Aspartam

Jem, jelly dan marmalad 200 1000

Produk coklat analog / pengganti coklat 500 3000

Cake, kukis, dan pie (isi buah atau custard, vla)

170 Gula dan sirup (missal xilosa, gula hias, gula

kristal, sirup maple)

300 500 3000

Minuman konsentrat (cair atau padat) untuk minuman berbasis air berperisa

300 dihitung terhadap produk siap

konsumsi

600 dihitung terhadap produk siap

konsumsi

Makanan ringan siap santap 100 500

Es untuk dimakan (edible ice) termasuk sherbet dan shorbet

250 1000

Sirup campuran kakao (cacao mixes) 250

dihitung terhadap produk siap

konsumsi

1000

Produk kakao dan coklat 100 500 2500

Kembang gula atau permen 500 3000

Permen karet 2000 3000

Produk buah fermentasi 2000

Sereal untuk sarapan termasuk rolled oats 100 1000

Kepala Badan POM No 4 tahun 2012

(13)

D. Analisis Pemanis

Analisis pemanis dibedakan menjadi dua antara lain analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.

1. Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) untuk pemeriksaan Sakarin dan Siklamat. Kromatografi adalah Teknik pemisahan suatu campuran yang didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua fase yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas). Berdasarkan fase diam kromatografi dibedakan menjadi dua yaitu:

Adsorption Chromatografi ( khromatografi penyerapan ) yaitu kromatografi dimana

fase diam berupa zat padat aktif . Partition Chromatografi (kromatografi pembagian) yaitu khromatografi dimana fase diam berupa zat cair.

Macam – macam kromatografi antara lain : a. Kromatografi Partisi

Kromatografi partisi terjadi ekstraksi berulang-ulang dalam satu kali proses.

Kromatografi partisi mempunyai contoh yang khas adalah kromatografi kolom yang digunakan luas karena sangat efisien untuk pemisahan senyawa organik.

b. Kromatografi Kertas

romatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino. Asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan asam-asam amino larut dalam air

(14)

dan tidak mudah menguap, karena pemisahan asam amino merupakan masalah yang cukup sulit.

c. Kromatografi Gas

Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Metode ini sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan eter.

d. Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang digunakan. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas dan elektroforesis.

Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan dengan kromatografi kolom. Peralatan yang digunakan lebih sederhana dan dapat dikatakan hampir semua laboratorium dapat melaksanakan setiap saat secara cepat (Meronda Rahma G, 2009).

2. Analisis Kuantitatif

a. Analisis kuantitatif dengan menggunakan metode ekstrasi dan titrasi untuk pemeriksaan Sakarin.

(15)

Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan suatu bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Ekstraksi dapat juga diartikan sebagai suatu proses pemisahan kandungan senyawa kimia dari jaringan tumbuhan ataupun hewan dengan menggunakan penyari tertentu. Ekstraksi biasa digunakan untuk memisahkan dua zat berdasarkan perbedaan kelarutan.

Prinsip dari ekstraksi antara lain pemisahan komponen kimia di antara dua fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair, dan komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.

Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar (konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai analit dan biasanya diletakkan didalam erlenmeyer, sedangkan larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai larutan sintesis atau titran dan diletakkan didalam buret.

Prinsip dari metode ekstraksi titrasi adalah residu (kumpulan hasil ekstraksi yang diuapkan) dilarutkan dengan aseton yang bereaksi dengan larutan standar primer dengan penambahan indikator terjadi perubahan warna.

(16)

b. Analisa kuantitatif dengan menggunakan metode Gravimetri untuk pemeriksaan Siklamat.

Gravimetri adalah analisis kimia secara kuantitatif berdasarkan proses pemisahan dan penimbangan suatu unsur atau senyawa tertentu dalam bentuk yang semurni mungkin. Prinsip analisis gravimetri adalah senyawa yang akan dianalisis diendapkan dengan menambahkan pereaksi yang sesuai dan selanjutnya dipisahkan endapannya. Melarutkan sampel dengan aquades, setelah sampelnya dilarutkan sampai terbentuk analit, analitnya kemudian di endapkan kemudian dilakukan penimbangan. Biasanya analit berasal dari garam-garam yang sukar larut yang diendapkan sehingga sebagian besar garam analitnya terendapkan, itupun tidak semua analit yang mengendap, masih ada ion-ion lain yang sukar terendapkan. Cara gravimetri dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

1) Gravimetri cara penguapan, misalnya untuk menentukan kadar air, (air kristal atau air yang ada dalam suatu spesies).

2) Gravimetri elektrolisa, zat yang dianalisa di tempatkan di dalam sel elektrolisa. sehingga logam yang mengendap pada katoda dapat ditimbang.

3) Gravimetri metode pengendapan menggunakan pereaksi yang akan menghasilkan endapan dengan zat yang dianalisa sehingga mudah di pisahkan dengan cara penyaringan. Misalnya Ag⁺ diendapkan sebagai AgCl. Ion besi (Fe₃⁺) diendapkan sebagai Fe(OH)₃ yang setelah dipisahkan, dipijarkan dan ditimbang sebagai Fe₂O₃.

(17)

Syarat-syarat umum dalam gravimetri metode pengendapan :

1) Kelarutan zat yang dibuat endapannya itu harus kecil sehingga zat yang harus dipisahkan mengendap secara kuantitatif.

2) Endapan harus dipisahkan dengan cara penyaringan.

3) Komponen yang diinginkan harus dapat dirubah menjadi senyawa murni dengan susunan kimia yang tepat (Aprila Wiguna, 2011).

E. Kromatografi Lapis Tipis

1. Definisi

Kromatografi lapis tipis adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Komponen KLT akan dipisahkan antara dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.

Fase diam pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika gel atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Fase diam kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus –OH.

Fase gerak kromatografi lapis tipis adalah eluen, yang merupakan fase gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati

(18)

fase diam (absorben). Interaksi antara absorben dengan eluent sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen. Oleh sebab itu pemisahan komponen gula dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluen dan jumlah umpan.

2. RF (Retardation Faktor)

Derajat retensi pada kromatografi lapis tipis dinyatakan dengan RF (Retardation Faktor). Mengindentifikasi noda-noda dalam lempeng sangat lazim menggunakan harga RF yang didefinisikan sebagai :

RF=

Nilai RF sangat karakteristik untuk senyawa tertentu pada eluen, tetapi hal tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya perbedaan senyawa dalam sampel. Senyawa yang mempunyyai RF lebih besar berarti mempunyai kepolaran yang rendah. RF dalam kromatografi lapis tipis yang bagus berkisar antara 0,2 – 0,8 jika RF terlalu tinggi yang harus dilakukan adalah mengurangi kepolaran eluen, sebaliknya jika Rf terlalu rendah maka kepolaran eluen harus ditambah.

Prinsip kerja kromatografi lapis tipis adalah proses pemisahan dengan kromatografi lapis tipis, terjadi hubungan keseimbangan antara fase diam dan fase gerak, dimana ada interaksi antara permukaan fase diam dengan gugus fungsi senyawa organik yang akan diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fase geraknya. Kesetimbangan ini dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : kepolaran fase diam, kepolaran fase gerak, serta kepolaran dan ukuran molekul.

(19)

3. Kelebihan menggunakan kromatografi lapis tipis antara lain : a. Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.

b. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluorosensi atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.

c. Dapat dilakukan elusi secara menaik ( ascending ), menurun ( descending ), atau dengan cara elusi 2 dimensi.

d. Dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid dan hidrokarbon) yang dengan metode kertas tidak bisa

e. Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.

f. Hanya membutuhkan sedikit pelarut.

g. Waktu analisis yang singkat (15-60 menit)

h. Investasi yang kecil untuk perlengkapan (Biaya yang dibutuhkan ringan).

i. Preparasi sample yang mudah

j. Kemungkinan hasil palsu yang disebabkan oleh komponen sekunder tidak mungkin terjadi.

k. Kebutuhan ruangan minimum

Referensi

Dokumen terkait

Karakteristike daju zavisnost struja, aktivnih i reaktivnih snaga, kao i gubitaka i faktora snage asinhronog generatora od klizanja i namenjene su za praktičnu primenu pri

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut berupa evaluasi stabilitas kimia selama masa penyimpanan sediaan mikroemulsi kombinasi ekstrak daun mangkokan (Nothopanax

Pada menjalankan kuasa-kuasa yang diberi oleh Seksyen 168, Kanun Tanah Negara, notis adalah dengan ini diberi bahawa adalah dicadangkan hendak menggantikan dokumen

Jenis daging yang dipergunakan sebagai bahan baku tidak berpengaruh terhadap kadar air bakso, tetapi berpengaruh secara nyata terhadap nilai tekstur (kekerasan) bakso

Hal ini bertujuan mendeskripsikan faktor yang memengaruhi pola hidup pasien setelah operasi CABG meliputi karakteristik responden (usia, jenis kelamin, pendidikan,

Berdasarkan pengamatan terhadap kelompok B tampak jelas bahwa pemberian bFGF menginduksi terjadinya angiogenesis pada CAM, pembuluh darah baru terbentuk dengan pola radial menuju

Untuk dapat menemukan ciri yang khas dari sinyal EEG maka diperlukan metode pengolahan yang tepat, dalam penelitian ini ciri diperoleh dari hasil ekstraksi