• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Pembelajaran Bahasa Berbasis Lingkungan: Perspektif Pendekatan Pragmatik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Evaluasi Pembelajaran Bahasa Berbasis Lingkungan: Perspektif Pendekatan Pragmatik"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

M. Bayu Firmansyah

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Pasuruan

[email protected]

Evaluasi Pembelajaran Bahasa Berbasis Lingkungan: Perspektif Pendekatan Pragmatik

A. Rasional

Evaluasi pembelajaran bahasa merupakan upaya menafsirkan (interpretasi) proses pembelajaran bahasa berdasarkan beberapa informasi penilaian. Informasi penilaian tersebut dapat berupa pengukuran melalui tes maupun nontes dalam pembelajaran bahasa. Istilah evaluasi pembelajaran bahasa mencakup konsep yang paling luas, yakni mencakup serangkaian kegiatan penilaian yang meliputi pengukuran, baik yang menggunakan tes maupun non tes (Wahyuni, 2012). Tujuan penilaian pembelajaran bahasa (Wahyuni, 2012), yakni: (1) mengetahui kedudukan peserta didik dibandingkan dengan peserta didik lain, (2) untuk memisahkan antara peserta didik yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak, (3) untuk menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai kompetensi, (4) untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, (5) menunjukkan kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan (Remidiasi atau pengayaan), (6) untuk mendapatkan informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja peserta didik pada jenjang pendidikan berikutnya, (7) untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode pembelajaran dan komponen-komponen lain yang dipergunakan selama jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, evaluasi memerlukan beberapa tahapan yakni, penilaian, pengukuran serta tes maupun nontes yang dapat dijadikan acuan menafsirkan (interpretasi) proses pembelajaran bahasa.

Dipilihnya basis lingkungan dalam evaluasi pembelajaran bahasa dengan mempertimbangkan faktor kompleksitas (complexity), estetika (aesthetics), tanggung jawab (resonsibility) dan etika (ethics) ( Fachruddin, Cokroaminoto, & Fachruddin, 2016; Hamalik, 2003); “Environmental learning and experience: An interdisciplinary guode for teachers,”

2007) serta kondisi pembelajaran yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan

faktor belajar yang penting. Kompleksitas terkait dengan pemanfaatan lingkungan dan

merupakan bagian dari sistem pembelajaran. Estetika terkait dengan bagaimana peserta didik

melalui kesadarannya terhadap lingkungan mengungkapkan serta mengembangkan apresiasi

(2)

estetisnya. Tanggung jawab terkait keputusan dan tindakan dalam eksplorasi lingkungan di tingkat pribadi dan masyarakat. Etika berkaitan dengan sistem nilai berdasarkan keputusan dan pemahaman dalam pembelajaran. Oleh karena pembelajaran bahasa menggunakan basis lingkungan maka keterampilan berbahasa (berbicara, menulis, membaca dan menyimak) pun menyesuaikan dengan faktor-faktor pembelajaran lingkungan yang tersebut di atas.

Pendekatan pragmatik dalam evaluasi pembelajaran bahasa yakni pendekatan dalam evaluasi keterampilan berbahasa untuk mengukur seberapa baik peserta didik mempergunakan elemen-elemen bahasa sesuai dengan konteks komunikasi yang nyata (Wahyuni, 2012; Nurgiyantoro, 2011). Pendekatan pragmatik mengutamakan peranan penggunaan bahasa senyatanya dalam kajian terhadap bahasa, termasuk tes bahasa.

Pendekatan pragmatik mengaitkan bahasa dengan penggunaan bahasa senyatanya, yang melibatkan tidak saja unsur-unsur kebahasaan seperti kata-kata, frasa, atau kalimat tetapi unsur-unsur di luarnya juga, yang selalu terkait dalam setiap bentuk penggunaan bahasa. Oleh karena pembelajaran bahasa berbasis lingkungan lebih memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan faktor pendukung belajar maka pendekatan pragmatik sesuai untuk dijadikan pendekatan dalam evaluasi pembelajaran bahasa berbasis lingkungan. Hal yang mendasari yakni peranan penggunaan bahasa dalam lingkungan senyatanya dalam kajian terhadap bahasa, termasuk tes bahasa.

B. Landasan Teori

1. Pendekatan Pragmatik dalam Evaluasi Pembelajaran Bahasa

Penyelenggaraan pembelajaran bahasa senantiasa dipengaruhi oleh pendekatan tertentu dalam ilmu bahasa. Penggunaan pendekatan evaluasi dalam pembelajaran bahasa mencerminkan acuan pokok dari pendekatan tersebut. Oleh karena itu, pada akhirnya tercermin pula pada pengembangan dan penggunaan evaluasinya (Djiwandono, 1996;

Wahyuni, 2012; Nurgiyantoro, 2011). Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan dalam evaluasi keterampilan berbahasa untuk mengukur seberapa baik peserta didik mempergunakan elemen-elemen bahasa sesuai dengan konteks komunikasi yang nyata (Wahyuni, 2012; Nurgiyantoro, 2011). Pendekatan pragmatik mengutamakan peranan penggunaan bahasa senyatanya dalam kajian terhadap bahasa, termasuk tes bahasa.

Pendekatan pragmatik mengaitkan bahasa dengan penggunaan senyatanya, yang melibatkan

tidak saja unsur-unsur kebahasaan seperti kata-kata, frasa, atau kalimat, tetapi unsur-unsur di

luarnya juga, yang selalu terkait dalam setiap bentuk penggunaan bahasa. sesuai dengan

pandangannya terhadap bahasa, bentuk-bentuk evaluasi pembelajaran bahasa dalam

pendekatan pragmatik, dianggap sebagai tes yang memenuhi ciri-ciri pragmatik. Bentuk-

(3)

bentuk tes itu selalu menggunakan wacana yang mengandung konteks, bukan semata-mata kalimat atau kata-kata lepas. Mengerjakan tes yang menggunakan wacana mensyaratkan kemampuan memahami unsur-unsur kebahasaan dan non-kebahasaan sebagai bagian dari pemahaman terhadap wacana secara keseluruhan.

2. Evaluasi Pembelajaran Bahasa berbasis Lingkungan

Evaluasi adalah proses penafsiran (interpretasi) serta pembuatan keputusan berkenaan dengan informasi asesmen (Hart, 1994; Wahyuni, 2012). Asesmen merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan mencakup domain yang lebih luas. Saat peserta didik merespon pertanyaan, memberikan komentar, atau mencoba-coba dengan struktur baru, saat itulah sebenarnya pendidik telah melakukan asesmen terhadap performen peserta didik. Pengukuran adalah proses untuk mendapatkan pemerian kuantitatif mengenai tinggi rendahnya pencapaian seseorang dalam suatu pembelajaran bahasa (Wahyuni, 2012). Tes adalah alat, prosedur, atau rangkaian kegiatan yang digunakan untuk memperoleh contoh tingkah laku seseorang yang memberikan gambaran tentang kemampuannya dalam suatu bidang ajaran tertentu (Wahyuni, 2012). Tes merupakan prosedur administratif yang dilaksanakan pada waktu yang telah direncanakan dalam suatu kurikulum ketika pendidik sudah melewati semua proses PBM untuk mengetahui performen akhir. Oleh karena itu, ketika hendak mengadakan evaluasi pembelajaran bahasa maka keempat istilah tersebut tidak dapat dipisah- pisahkan karena keempatnya memiliki hubungan yang erat.

Evaluasi pembelajaran bahasa berbasis lingkungan memiliki beragam alternatif untuk

dilakukan, setidaknya sebelum melakukan evaluasi yang kaitannya dengan asesmen,

pengukuran serta tes maupun nontes ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni: (a)

jenis asesmen tes dan, (b) jenis asesmen non tes. Oleh karena penentuan jenis asesmen

penting untuk dipilih maka selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sebagai

sumber belajar maupun media belajar. Kriteria pembelajaran berbasis lingkungan

mempertimbangkan beberapa faktor berikut ini; (1) kompleksitas (complexity), (2) estetika

(aesthetics), (3) tanggung jawab (resonsibility) dan, (4) etika (ethics) ( Fachruddin,

Cokroaminoto, & Fachruddin, 2016; Hamalik, 2003); “Environmental learning and

experience: An interdisciplinary guode for teachers,” 2007).

(4)

Keempat hal tersebut di atas kemudian menjadi domain dalam menentukan asesmen pembelajaran bahasa setelah pendekatan pragmatik menjadi pijakan utama dalam asesmen.

C. Prosedur

Mengacu pada basis pembelajaran lingkungan maka evaluasi yang dilakukan juga menyesuaikan dengan empat faktor dengan mempertimbangkan, (1) kompleksitas, (2) estetika, (3) tanggung jawab, dan (4) etika. Selanjutnya keempat faktor tersebut diintegrasikan dengan pembelajaran bahasa dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dan faktor penunjang belajar. Kemudian menentukan asesmen berdasarkan pendekatan pragmatik yang telah ditentukan.

Pemilihan asesmen sesuai dengan ciri-ciri pendekatan pragmatik yang mensyaratkan penggunaan bahasa senyatanya baik dari aspek kebahasaan maupun non-kebahasaan maka jenis asesmen yang digunakan adalah tes. Terdapat tiga jenis tes yang dapat digunakan, yakni: (a) tes berdasarkan kriteria cara mengerjakan meliputi tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan (tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, tes petik kerja), (b) berdasarkan cara menjawab tes meliputi tes objektif (benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda) dan tes nonobjektif (isian, jawaban singkat, soal uraian), dan (c) berdasarkan taksonomi Bloom meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor.

D. Pembahasan

Evaluasi pembelajaran bahasa berbasis lingkungan dengan menggunakan perspektif

pendekatan pragmatik merupakan serangkaian kegiatan asesmen yang dirancang untuk

memberikan evaluasi (penafsiran) terhadap peserta didik. Oleh karena itu, keberadaan

(5)

evaluasi sangat penting, sudah selayaknya bila evaluasi pembelajaran bahasa berbasis lingkungan direncanakan sebaik-baiknya. Dalam kaitan itu, pemanfaatan pendekatan pragmatik sebagai proses evaluasi dalam pembelajaran bahasa berbasis lingkungan merupakan salah satu upaya yang bisa ditempuh pendidik untuk melakukan penilaian komprehensif dalam proses evaluasi.

Evaluasi keterampilan berbahasa berbasis lingkungan dengan menggunakan perpektif pragmatik yang terdiri dari membaca, menulis, menyimak dan berbicara dalam proses pembelajaran bahasa dapat berjalan komprehensif dan adil. Komprehensif dimaknai sebagai evaluasi pembelajaran bahasa secara luas dan lengkap dalam arti ruang lingkup atau isi dalam penafsiran (evaluasi) sedangkan luas dimaknai merata secara porsi basis lingkungan dalam pembelajaran bahasa.

Berdasarkan ciri pendekatan pragmatik dalam evaluasi pembelajaran bahasa berbasis lingkungan maka tes yang cocok digunakan yakni tes berdasarkan taksonomi Bloom. Tes berdasarkan taksonomi Bloom menyangkut tiga ranah atau domain dalam penilaian, yakni (a) ranah kognitif, (b) ranah afektif, dan (c) ranah psikomotor (Wahyuni, 2012). Ranah kognitif yaitu segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ranah proses berpikir. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan ranah psikomotor merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas otak, fisik, atau gerakan-gerakan anggota badan. Oleh karena dalam asesmen taksonomi Bloom mensyaratkan tiga ranah tersebut secara bersamaan maka evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia berbasis lingkungan dengan menggunakan perspektif pragmatik yang sesuai adalah menggunakan taksonomi Bloom.

Daftar Rujukan

Environmental learning and experience: An interdisciplinary guode for teachers. (2007).

Djiwandono, M. Soenardi. (1996). Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: Penerbit ITB Fachruddin, S., Cokroaminoto, U., & Fachruddin, S. (2016). Pendidikan Pembelajaran

Pendidikan Lingkungan Hidup.

Hamalik, O. (2003). Perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan sistem. Bumi Aksara.

Hart, D. (1994). Authentic Assessment: A Handbook for Educators. Assessment Bookshelf Series. Dale Seymour Publications, 10 Bank Street, White Plains, NY 10602.

Nurgiyantoro, B. (2011). Pengembangan Model Asesmen Otentik dalam Pembelajaran Bahasa. Cakrawala Pendidikan Edisi November 2009.

Wahyuni, S., & Ibrahim, S. (2012). Asesmen pembelajaran bahasa. Bandung: Refika

Aditama.

Referensi

Dokumen terkait

Karena pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah pembelajaran budaya, maka guru perlu memahami budaya peserta didik, dengan tidak melupakan tujuan pengajaran, yang salah

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik Menyampaikan cakupan materi Menginformasikan teknik penilaian yang digunakan selama proses pembelajaran

Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan oleh guru untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang

Dengan melakukan penilaian, pendidik sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik, ketepatan metode mengajar yang

Teknik penilaian keterampilan menulis yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa indonesia antara lain, penilaian sikap (pengamatan, penilaian diri, penilaian antar peserta didik,

Berangkat dari asumsi awal bahwa pelaksanaan pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, bakat, dan keinginan peserta didik, maka tulisan ini akan mencoba

Penguatan bahasa Indonesia sebagai penghela Ilmu pengetahuan menunjukkan betapa pentingnya bahasa Indonesia dalam kedudukan dan perannya sebagai bahasa nasional termasuk

Penilaian Pengetahuan Kisi-kisi Penilaian Pengetahuan Tujuan Pembelajaran Ranah kognitif Teknik Bentuk Bentuk Instrumen Bahasa Indonesia Peserta didik mampu membaca suku