• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti bagi Siswa Tunarungu Di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti bagi Siswa Tunarungu Di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Disusun Oleh:

NADYA SAFIRA NIM. 11150110000004

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2019

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

Nadya Safira (11150110000004). Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti bagi Siswa Tunarungu Di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan

Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan mulai dari kurikulum, metode, media, hingga teknik evaluasi yang diterapkan; 2) untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti bagi siswa tunarungu di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pola pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan kejadian-kejadian pada kegiatan pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama, pengumpulan data yang dilakukan dengan cara wawancara terstruktur, observasi non partisipan, dan dokumentasi. Pemeriksaan atau pengecekan keabsahan data dengan melakukan perpanjangan pengamatan dan proses triangulasi data. Teknik analisis data dilakukan ketika sebelum di lapangan dan setelah di lapangan dengan beberapa tahapan, antara lain 1) organisasi data; 2) koding dan kategorisasi; dan 3) penyajian data.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang digunakan pada pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama yaitu kurikulum 2013 dengan memodifikikasi isi, bahan, dan tujuan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa tunarungu. Penerapan metode serta media khusus untuk pembelajaran PAI dan Budi Pekerti agar dapat lebih efektif dan efisien. Faktor pendukung pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama di antaranya: 1) kegiatan keagamaan; 2) program khusus; 3) program pembinaan guru, 4) tata letak ruang kelas. Di samping itu terdapat faktor penghambat pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di antaranya hambatan dalam berkomunikasi yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus sehingga kesulitan dalam memahami materi PAI dan Budi Pekerti yang bersifat abstrak. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hambatan dalam proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama yaitu memberikan pembinaan kepada guru agar dapat mengembangkan kemampuan serta kreativitas setiap guru.

Kata kunci: Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti, tunarungu

(6)

ii

ABSTRACT

Nadya Safira (11150110000004). Learning Process of Islamic Education and Character for Deaf Children at SLB Santi Rama Cipete South Jakarta

The objectives of this reseacrh are: 1) to find out how the learning process of Islamic Education and Character at SLB Santi Rama Cipete South Jakarta include curriculum, method, media, and evaluation technique used; 2) to know the supporting and inhibiting factors of the learning process of Islamic Education and Character for the deaf children at SLB Santi Rama Cipete South Jakarta.

The method used in this reseacrh is qualitative with descriptive approach.

The result of this study were conducted by describing the events in the learning activities of Islamic Education and Character in SLB Santi Rama, data collection conducted by using structured interviews, non-participant observation, and documentation. Investigating or checking data validation by doing prolongation research and triangulation process. The data analysis technique used begins with analyzing the data before plunging into the field, then analyzing the data while in the field with the stages: 1) data organization; 2) coding and categorized; and 3) present the data.

The result show that the curriculum used in learning Islamic Education and Character in SLB Santi Rama is the Curriculum 2013 by modifying the content, materials, and objectives in accordance with the ability and needs of students with hearing impairment. The method and the special media used for learning Islamic Education and Character, so it will be more effective and efficient. The factors that support learning Islamic Education and Character at SLB Santi Rama are 1) religious activites; 2) special programs; 3) creation teacher’s program; and 4) class spatial. As for inhibiting factors such learning is the difficulty of students in communicating because the sense of hearing that is not functioning properly so make them hard to understand the abstract lesson. The solution offered to resolve the inhibiting of learning Islamic Education and Character at SLB Santi Rama is give a creation programs for the teacher so they can upgrade their knowledge and creativity.

Keywords: Learning Process of Islamic Education and Character, Deaf

(7)

iii

KATA PENGANTAR

هتاكربو الله ةمحرو مكيلع ملاسلا

Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW karena perjuangannya penulis dapat merasakan nikmatnya iman dan ilmu pengetahuan seperti sekarang.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan berbagai pihak, terutama kepada Ayahanda tercinta, Bachtiar dan Ibunda tercinta, Rosidah yang telah banyak memberikan dukungan baik materil maupun moril selama penyusunan skripsi ini. Selain itu, pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Hj. Sururin, M.Ag sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta seluruh staf.

2. Drs. Abdul Haris, M.Ag sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Drs. Rusdi Jamil, M.Ag., sebagai Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4. Yudhi Munadi, M.Ag selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan bimbingan, motivasi, dan dorongan serta ilmu kepada penulis selama berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga penyusunan skripsi ini.

5. Drs. Achmad Gholib, M.Ag, selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan bimbingan, motivasi, dan dorongan serta ilmu kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

6. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak memberikan ilmu yang bermanfaat dan memotivasi penulis dari awal hingga akhir perkuliahan. Semoga ilmu yang telah Bapak dan Ibu berikan mendapat keberkahan dari Allah SWT.

(8)

iv

7. Staf Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan Bu Isti sebagai Staf Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan kemudahan dalam pembuatan surat-surat serta sertifikat.

8. Pimpinan dan staf Perpustakaan Utama, Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, serta Perpustakaan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan pelayanan dan peminjaman buku-buku yang penulis butuhkan dalam penyusunan skripsi.

9. Eko Yono, S.Pd, selaku Kepala SLB Santi Rama yang telah berkenan menerima penulis untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.

10. Suhariyani, S.Pd, selaku Guru SLB Santi Rama yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan bimbingan, motivasi, dan dorongan serta ilmu kepada penulis dalam melakukan penelitian.

11. Adik-adik penulis, Sheila Raidina dan Renna Dian Novita, terima kasih atas semangat dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis selama proses penyusunan skripsi.

12. Mohammad Fajri Nova Riezky, terimakasih atas energi yang tak pernah padam dalam memotivasi penulis dan rela meluangkan banyak waktu untuk berbagi dan bertukar pikiran serta mewarnai hari-hari penulis.

13. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Pendidikan Agama Islam, yang telah memberikan saya ruang untuk terus belajar, berkembang, dan bergerak ke arah yang lebih baik serta membimbing dan memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini.

14. Sahabati-sahabati saya selama berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu Ini Grup (Anna Nurviana, Euis Maylati Azizah, Laely Yuniar, Naila Syamila, Novi Fatonah, dan Mariani Eka Safitri) dan Single Syar’i (Chika Chyntia, Fadhila Athiya Rahmah, Khairunnisa, Maya Jelita Hasibuan, Nazihah, Nursyifa Fauziyah Safari, dan Siti Nurholipah) yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis mulai dari awal perkuliahan hingga proses penelitian dan penyusunan skripsi ini.

(9)

v

15. Seluruh mahasiswa Pendidikan Agama Islam angkatan 2015 umumnya dan teman-teman mahasiswa PAI lokal B khususnya yang telah memberikan dukungan terhadap penulis selama kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sesungguhnya ada begitu banyak nama yang turut berkontribusi dalam penyusunan skripsi yang mungkin tidak tertulis di lembaran ini, tetapi ketahuilah cukuplah Allah SWT yang melihat kerja-kerja kalian. Semoga Allah SWT, memberikan balasan pahala yang berlipat ganda atas segala yang telah diberikan dan senantiasa mendapat rahmat dan hidayah-Nya. Akhirnya, penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca. Aamiin…

هتاكربو الله ةمحرو مكيلع ملاسلاو

Jakarta, 17 Juni 2019 Penulis

Nadya Safira

(10)

vi

DAFTAR ISI

ABSTRAK... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI... vi

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah... 6

C. Pembatasan Masalah... 7

D. Perumusan Masalah... 7

E. Tujuan Penelitian... 8

F. Manfaat Penelitian... 8

BAB II KAJIAN TEORI... 10

A. Kajian Teori... 10

1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam... 10

2. Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu... 20

B. Hasil Penelitian Relevan... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 35

A. Tempat dan Waktu Penelitian... 35

B. Latar Penelitian (Setting)... 35

C. Metode Penelitian... 36

D. Teknik Pengumpulan Data... 37

E. Instrumen Penelitian... 41

F. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data... 42

G. Teknik Analisis Data... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 46

A. Profil SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan... 46

B. Proses Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama... 51

C. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama... 62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 74

(11)

vii

A. Kesimpulan... 74

B. Implikasi... 75

C. Saran... 76

DAFTAR PUSTAKA... 77

LAMPIRAN... 82

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai negara yang cukup potensial dalam perkembangan pendidikan harus bisa menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Keniscayaan akan bentuk pendidikan yang lebih baik merupakan kewajiban bersama untuk mewujudkannya. Dengan memberikan sepenuhnya peluang kepada anak didik dalam rangka pengembangan kemampuan sesuai dengan kemampuannya, akan berimplikasi positif bagi pertumbuhan dan perkembangannya secara alamiah.

Di dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 telah disampaikan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran dan pendidikan. Dan pada ayat 2 juga disampaikan bahwa warga negara yang memiliki kelainan berhak mendapat pendidikan khusus.1 Selanjutnya, pembahasan tentang pendidikan juga dibahas dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam UU tersebut dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.2 Tujuan yang diharapkan adalah peserta didik mampu memiliki kekuatan spiritual keagamaan dari proses pendidikan, salah satunya yaitu yang dilakukan di sekolah. Hal ini didapatkan melalui pendidikan agama yang merupakan proses internalisasi nilai-nilai agama pada diri peserta didik untuk mencapai tujuan yang mengarah kepada ketaqwaan dan akhlak mulia sehingga membentuk pribadi yang sempurna, bertanggungjawab, dan baik dalam setiap perkataan maupun perbuatannya. Hal ini menunjukkan adanya persamaan hak yang harus diterima oleh setiap peserta didik, baik peserta didik yang normal maupun yang

1 UUD 1945 Pasal 31 ayat 1, (www.lpm.uinjkt.ac.id). Diakses tanggal 11 Januari 2019 pukul 12.33 WIB

2 UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Lampiran 1, (www.lpm.uinjkt.ac.id). Diakses tanggal 11 Januari 2019 pukul 13.05 WIB

(13)

memiliki kebutuhan khusus. Pernyataan ini diperkuat dengan UU Nomor 4 Tahun 1997 tentang penyandang cacat yang menyatakan bahwa penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan dan penghidupan.3

Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 157 Tahun 2014 telah dibahas tentang Kurikulum Pendidikan Khusus. Kurikulum untuk peserta didik berkebutuhan khusus dapat berbentuk kurikulum pendidikan reguler atau kurikulum pendidikan khusus. Walaupun banyak sekolah luar biasa yang menggunakan kurikulum pendidikan reguler, namun terdapat modifikasi pada tujuan, proses, materi, maupun evaluasi.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk ke dalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan.

Pada tahun 2017, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia mencapai 1,6 juta anak. Dari jumlah tersebut, baru 18% yang sudah mendapatkan layanan pendidikan inklusi. Sekitar 115 ribu anak berkebutuhan khusus bersekola di SLB, sedangkan ABK yang bersekolah di sekolah reguler pelaksana Sekolah Inklusi berjumlah sekitar 299 ribu. Dari 514 kabupaten/kota di seluruh tanah air, masih terdapat 62 kabupaten/kota yang belum memiliki SLB.4

Di dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan tentang anak berkebutuhan khusus yaitu pada QS.An-Nuur ayat 61:

ْمُكِسُفْنَأ ٰىَلَع َلَ َو ٌج َرَح ِضي ِرَمْلا ىَلَع َلَ َو ٌج َرَح ِج َرْعَ ْلْا ىَلَع َلَ َو ٌج َرَح ٰىَمْعَ ْلْا ىَلَع َسْيَل ِتوُيُب ْوَأ ْمُكِنا َوْخِإ ِتوُيُب ْوَأ ْمُكِتاَهَّمُأ ِتوُيُب ْوَأ ْمُكِئاَبآ ِتوُيُب ْوَأ ْمُكِتوُيُب ْنِم اوُلُكْأَت ْنَأ ْمُكِتا َوَخَأ

ْمُتْكَلَم اَم ْوَأ ْمُكِت َلَاَخ ِتوُيُب ْوَأ ْمُكِلا َوْخَأ ِتوُيُب ْوَأ ْمُكِتاَّمَع ِتوُيُب ْوَأ ْمُكِماَمْعَأ ِتوُيُب ْوَأ ُهَحِتاَفَم

3 UU Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat, (www.lpm.uinjkt.ac.id). Diakses tanggal 11 Januari 2019 pukul 13.15 WIB

4 Desliana Maulipaksi, Sekolah Inklusi dan Pembangunan SLB Dukung Pendidikan Inklusi, 2017, (www.kemendikbud.go.id). Diakses tanggal 12 Januari 2019 pukul 19.49 WIB

(14)

َف اًتوُيُب ْمُتْلَخَد اَذِإَفۚ اًتاَتْشَأ ْوَأ اًعيِمَج اوُلُكْأَت ْنَأ ٌحاَنُج ْمُكْيَلَع َسْيَلۚ ْمُكِقيِدَص ْوَأ ْمُكِسُفْنَأ ٰىَلَع اوُمِِّلَس

َنوُلِقْعَت ْمُكَّلَعَل ِتاَي ْلْا ُمُكَل ُ َّاللَّ ُنِِّيَبُي َكِلَٰذَكۚ ًةَبِِّيَط ًةَك َراَبُم ِ َّاللَّ ِدْنِع ْنِم ًةَّي ِحَت Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau dirumah bapak- bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki- laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian.

Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat- ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.5

Di dalam Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kandungan dari ayat ini berupa teguran untuk orang-orang yang beruzur tersebut dan menyatakan bahwa hal itu bukanlah alasan untuk berinteraksi dengan kaum muslimin lainnya. Perbedaan tersebut bukanlah menjadi penghalang di antara mereka, mereka tetap memiliki kesetaraan dengan kaum muslimin lainnya di mata Allah swt.6

Anak berkebutuhan khusus memiliki jenis yang bermacam-macam, salah satunya adalah anak tunarungu. Menurut Agustyawati, tunarungu adalah suatu kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk mendengar sehingga ia tidak mampu menerima rangsangan melalui indera pendengarnya. Hal yang menarik adalah anak tunarungu tidak memiliki perbedaan dengan anak yang normal secara fisik, perbedaannya hanya akan terlihat pada saat ia berbicara, karema pada umumnya mereka berbicara tanpa suara atau bahkan dengan suara yang kurang jelas artikulasinya, ada pula yang hanya menggunakan bahasa isyarat.7 Meskipun dengan kondisi pendengaran yang kurang, anak tunarungu

5 Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2014)

6 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol. 9 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h.399

7 Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan: Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta:

Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013), h.44

(15)

tetap memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam hal memperoleh pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam. Karena melalui Pendidikan Agama Islam, seorang pendidik dapat mengarahkan peserta didik untuk mencapai pendidikan tauhid, akhlak yang mulia, serta syariat ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya, menurut Muhibbin Syah, faktor internal yang mempengaruhinya di antaranya yaitu: aspek fisiologis (kondisi umum jasmani dan tonus atau tegangan otot, mata dan telinga) serta aspek psikologis (inteligensi, sikap, minat, bakat, dan motivasi).8 Anak dengan gangguan pendengaran memiliki masalah utama, yaitu masalah komunikasi.

Ketidakmampuannya untuk berkomunikasi berdampak luas dalam segala aspek di kehidupannya dan akan mempengaruhi kemampuan serta prestasi di sekolahnya.

Kurangnya tenaga pendidik dalam bidang Pendidikan Agama Islam bagi anak berkebutuhan khusus tunarungu menjadi salah satu sebab yang turut melatarbelakangi pembuatan karya tulis ini, padahal jumlah sarjana pendidikan yang lulus setiap tahunnya terus mengalami peningkatan, namun kepedulian untuk mengabdi kepada bangsa, salah satunya dengan memberikan pengajaran kepada anak tunarungu sangat disayangkan. Padahal mereka juga berhak mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama, di samping itu kesulitan belajar yang dialami oleh anak-anak berkebutuhan khususpun lebih besar dibandingkan oleh anak-anak normal di mana guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti harus lebih mengutamakan proses belajar dalam perspektif

“menjadi” di atas perspektif “memiliki”.9

Pertanyaan penting yang dihadapi oleh guru dalam mendidik anak berkebutuhan khusus tunarungu di antaranya ialah: 1) Di mana seharusnya

8 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosya Karya, 2013), h.130-131

9 Rika Sa’diyah dan Siti Khosiah Rochmah, Problematika Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran Pada Anak Tuna Grahita Usia SD Awal, Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education, 2017, h. 47

(16)

anak tunarungu belajar?, 2) Bagaimana seharusnya mereka belajar?, dan 3) Apa yang harus dipelajari oleh mereka?10 Oleh karena itu, pembinaan untuk guru sangat diperlukan agar mampu mengajar di sekolah luar biasa. Inilah tantangan yang dihadapi guru PAI dan Budi Pekerti untuk mengemas dan mengimplementasikan materi-materi Agama Islam yang tertuang dalam kurikulum kepada anak.11 Sarjana Pendidikan Agama Islam juga harus mampu menguasai metode khusus untuk mendidik anak tunarungu, seperti metode oral, metode isyarat, maupun metode komunikasi total. Seorang guru harus menguasai metode pengajaran yang tepat untuk diterapkan dalam setiap pembelajaran, karena metode pengajaran memiliki kedudukan yang amat strategis dalam mencapai tujuan pembelajaran.12

Selain metode pembelajaran PAI yang diterapkan, media pembelajaran juga turut mendukung proses pembelajaran di dalam kelas mengingat peserta didik yang merupakan anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam pendengaran, maka media pembelajaran yang digunakan lebih banyak memanfaatkan media visual untuk mendukung proses pembelajaran PAI.

Kegiatan belajar mengajar pada anak berkebutuhan khusus membutuhkan metode khusus pula agar materi pelajaran dapat tersampaikan dengan baik.

Pada umumnya, sekolah luar biasa (SLB) menerapkan metode komunikasi total untuk berinteraksi dengan peserta didik yang berkebutuhan khusus.

Metode dan media pembelajaran hanya sebagian aspek yang lebih banyak mempengaruhi proses pembelajaran PAI, namun keseluruhan proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti bagi anak tunarungu di sekolah luar biasa juga belum banyak diketahui oleh pendidik yang bukan berasal dari jurusan pendidikan luar biasa, akan sangat ideal jika mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti diberikan langsung oleh pendidik yang berasal dari

10 Donald F. Moores dan David S. Martin, Deaf Learners: Developments in Curriculum and Instruction, (Washington DC: Gallaudet University Press, 2006), h. 3

11 Rika Sa’diyah dan Siti Khosiah Rochmah, Problematika Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran Pada Anak Tuna Grahita Usia SD Awal, Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education, 2017, h. 47

12 Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 176-177

(17)

jurusan PAI agar materi yang diberikan bisa lebih dalam dan menyeluruh.

Keseluruhan perangkat pembelajaran akan dapat terlaksana dengan baik apabila terdapat sarana dan prasarana yang mendukung.

Beberapa institusi pendidikan telah menyiapkan pelayanan sekolah bagi siswa berkebutuhan khusus, salah satunya yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB).

SLB yang menarik perhatian penulis adalah SLB Santi Rama yang merupakan pusat pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus tunarungu, tidak hanya terfokus pada kegiatan akademik, melainkan pada kegiatan non akademik pula.

Dengan menimbang beberapa permasalahan yang telah dipaparkan di atas, penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah dengan judul “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti bagi Siswa Tunarungu Di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang muncul. Secara garis besar, permasalahan tersebut terbagi menjadi tiga, di antaranya ialah:

1. Pemerintah kurang memperhatikan pentingnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tunarungu.

2. Sebagian orang tua masih bersikap acuh terhadap pendidikan agama bagi anak berkebutuhan khusus tunarungu.

3. Kurangnya pembinaan untuk guru agar mampu mengemas dan mengimplementasikan materi-materi Agama Islam dalam proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus dengan metode dan media yang tepat.

4. Sarana dan prasarana yang disediakan di sekolah luar biasa masih belum memadai.

C. Pembatasan Masalah

(18)

Berdasarkan uraian identifikasi masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, penulis memberikan fokus permasalahan yang akan diteliti yaitu pada poin ketiga dan keempat, di antaranya ialah:

1. Proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti mulai dari kurikulum, metode dan media yang digunakan, hingga teknik evaluasi pembelajaran PAI dan Budi Pekerti bagi siswa tunarungu kelas IV di SDLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan.

2. Identifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di kelas IV SDLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan..

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan sebelumnya, di mana anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama dalam menerima pendidikan, terutama Pendidikan Agama Islam, namun sayangnya dalam pembelajaran ini masih terdapat beberapa permasalahan yang harus diatasi, terkait dengan penerapan metode dan media khusus serta kondisi sarana dan prasarana yang dapat mendukung proses pembelajaran. Di dalam Undang- Undang No.14 Tahun 2005 telah dijelaskan bahwa guru bertugas untung merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.13 Dengan demikan, pertanyaan dalam penelitian yang akan saya teliti di antaranya:

1. Bagaimana proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan mulai dari kurikulum, metode, media, hingga teknik evaluasi yang diterapkan?

2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan?

E. Tujuan Penelitian

13 UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (www.lpm.uinjkt.ac.id). Diakses tanggal 11 Januari 2019 pukul 13.15 WIB

(19)

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dijabarkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan mulai dari kurikulum, metode, media, hingga teknik evaluasi yang diterapkan.

2. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SLB Santi Rama Cipete Jakarta Selatan.

F. Manfaat Penelitian 1. Secara Akademis

Menambah kepustakaan dalam dunia pendidikan, khususnya di jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan umumnya di seluruh universitas yang memiliki jurusan keguruan.

2. Secara Praktis a. Bagi Siswa

Bagi siswa tunarungu di SLB Santi Rama, hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, dan dapat mengimplementasikan nilai-nilai akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

b. Bagi Guru

1) Dapat memberikan dukungan dan pengajaran terhadap siswa penyandang tunarungu untuk semangat melaksanakan belajar dan beribadah serta berperilaku baik di masyarakat.

2) Dapat mempersiapkan diri agar mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif, dengan metode yang menarik sehingga siswa mampu memahami pelajaran yang telah dijelaskan oleh guru.

b. Bagi Lembaga

(20)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kesadaran bagi penyelenggaraan pendidikan mengenai pentingnya pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dan melakukan pembinaan juga motivasi kepada guru PAI dan Budi Pekerti agar dapat mempersiapkan diri baik dari segi mental maupun fisik.

c. Bagi Penulis

Hasil penelitian ini dapat menjadi pelajaran bagi penulis untuk selalu bersyukur dan senantiasa berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri, serta menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk sesama.

(21)

10

BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori

1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti a. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekerti

Proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sengaja untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik adalah target utama peserta didik, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil, dari belum dapat melakukan sesuatu menjadi dapat melakukan sesuatu dan lain sebagainya.

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.1

Sedangkan definisi pembelajaran menurut beberapa ahli di antaranya sebagai berikut:2

1) Tyson dan Caroll memaparkan pembelajaran merupakan ”a way working with student, a process of interaction, the teacher does something to student; the students do something in return”

2) Tardif memaparkan pembelajaran merupakan “any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner)”.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sebagai proses interaktif antara subjek belajar, guru sebagai fasilitator dan motivator, sarana dan media pembelajaran perlu saling bekerjasama agar

1 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 2

2 Rika Sa’diyah dan Siti Khosiah Rochmah, Problematika Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran Pada Anak Tuna Grahita Usia SD Awal, Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education, 2017, h. 49-50

(22)

menghasilkan suatu perubahan yang bermakna pada diri peserta didik sebagaimana ditetapkan sebagai tujuan pembelajaran yang nantinya berdayaguna dan berhasil guna. Untuk itu dapat dianalisis berbagai faktor yang terkait dengan pembelajaran agar menghasilkan suatu pencapaian tujuan jangka pendek maupun jangka panjang yang berdayaguna. Sedangkan pendidikan sering diartikan sebagai pengalaman maupun bimbingan yang diberikan kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal dalam semua aspeknya, terutama dalam pengembangan akhlak yang mulia.3

Agama Islam merupakan rangkaian dua kata yang memiliki arti berbeda. Agama merupakan pedoman aturan hidup yang akan memberikan petunjuk kepada manusia untuk menjalani kehidupannya dengan sebaik-baiknya.4 Sedangkan Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-Nya yang berisi hukum-hukum yang mengatur suatu hubungan antara manusia dengan Allah, maupun dengan sesama manusia serta alam sekitarnya.5

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merupakan salah satu mata pelajaran yang membahas mengenai Agama Islam dan budi pekerti yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Kegamaan BAB I Pasal 1 Ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan agama merupakan pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, serta keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya.6 Menurut Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana untuk menyiapkan peserta didik agar mampu mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, dan

3 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), Cet. 11, h.26-27

4 Rois Mahfud, Al-Islam : Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Erlangga, 2011), h.2

5 Ibid., h. 4

6 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Kegamaan BAB I Pasal 1 Ayat 1

(23)

berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.7

Proses internalisasi pendidikan Islam di sekolah terdapat dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Pendidikan Agama Islam merupakan proses penanaman ajaran Agama Islam.

Mohammad Roqib menegaskan bahwa Ilmu Pendidikan Islam adalah teori-teori kependidikan yang didasarkan pada konsep dasar Islam yang diambil dari penelaahan terhadap Al-Qur’an, Hadits, dan teori-teori keilmuan lainnya yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.8

Pendidikan Agama Islam di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara.9

Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu kegiatan atau usaha pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didiknya sehingga peserta didik dapat mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan Agama Islam serta menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani hidupnya.

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk anak berkebutuhan khusus didasarkan pada teori koginitivisme yang dikembangkan oleh Jean Piaget. Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dapat terbentuk dari individu yang terus-menerus melakukan interaksi dengan lingkungannya, sehingga dari hasil interaksi tersebut dapat menghasilkan suatu pengetahuan yang dapat

7 Rika Sa’diyah dan Siti Khosiah Rochmah, Problematika Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran Pada Anak Tuna Grahita Usia SD Awal, Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education, 2017, h. 48

8 Mohammad Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: LKIS Yogyakarta, 2009), h. 15

9 Sri Sulastri dan Roko Patria Jati, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Tunarungu, Jurnal Kajian Kependidikan Islam, Vol.8, 2016, h. 4

(24)

mengubah pola pikirnya menjadi lebih berkembang.10 Perkembangan kognisi pada anak terbagi menjadi tiga tahap, yakni fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Melalui interaksi yang dilakukan secara terus menerus antara guru dan murid maka keterbatasan kognisi yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus dapat diatasi secara perlahan melalui proses asimilasi dan akomodasi.

b. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kurikulum dalam pandangan modern merupakan semua hal yang secara nyata terjadi di sekolah dalam proses pendidikan, tidak hanya mengenai jumlah mata pelajaran yang harus ditempuh siswa dalam tingkat pendidikan tertentu melainkan keseluruhan proses yang dapat dijadikan pengalaman belajar secara nyata untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.11 Dengan kata lain, kurikulum merupakan seperangkat rencana pelaksanaan pembelajaran yang di dalamnya mencakup tujuan, isi/materi, proses, dan evaluasi.12

Ciri-ciri umum kurikulum Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

1) Agama dan akhlak merupakan tujuan utama.

2) Mempertahankan pengembangan dan bimbingan terhadap semua aspek pribadi siswa.

3) Adanya keseimbangan antara kandungan kurikulum dan pengalaman serta kegiatan pengajaran.13

Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah kurikulum yang diterapkan harus dapat memotivasi peserta didik untuk berakhlak

10 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h.13

11 Ahmad Tafsir, Op.Cit., h.53

12 Irdamurni dan Rahmiati, Pendidikan Inklusif Sebagai Solusi dalam Mendidik Anak Istimewa, (Jakarta: Paedea, 2017), h.120

13 Armai Arief, Pengatar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta; Ciputat Pers, 2002), h. 33

(25)

mulia, baik terhadap Tuhan, terhadap diri sendiri, maupun lingkungan sekitar. Penyusunan materi ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam kurikulum pun harus disesuaikan dengan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, karena tujuan utama Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah untuk membangun individu yang sholeh, sehingga dapat membangun keluarga yang sholeh, dan menjadi masyarakat yang sholeh sehingga terbentuk baldatun thayyibatun wa rabun ghafur, dan senantiasa menyeru kepada kebaikan umat manusia.14

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah pada BAB III dijelaskan mengenai ruang lingkup materi Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tingkat SD/MI/SDLB/PAKET A pada kurikulum 2013 mencakup beberapa materi di antaranya ialah:

1) Al-Qur’an : mengetahui dasar membaca dan menulis Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid, hafalan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.15

2) Aqidah : Menghayati rukun iman dan mengenal asmaul husna.

3) Fiqih : Memahami tata cara beribadah wajib dan sunnah (rukun islam) serta memahami fikih muamalah.

4) Akhlak dan budi pekerti: Memiliki sikap sesuai dengan akhlakul karimah (akhlak mulia) dan budi pekerti serta perilaku hidup sehat seperti yang dicontohkan oleh Nabi-nabi terdahulu beserta wali songo.

14 Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 109-110

15 Lampiran Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 165 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab pada Madrasah, h. 43

(26)

5) Sejarah Peradaban Islam : kisah-kisah sejarah mengenai keteladanan para nabi dan rasul serta orang-orang istimewa yang dipilih oleh Allah SWT.16

Ruang lingkup ini menunjukkan adanya batasan materi yang harus disampaikan kepada peserta didik dan disesuaikan pada kebutuhan serta kemampuan peserta didik dalam memahami materi tersebut, sehingga tidak adanya tumpang tindih pada materi yang akan disampaikan.

c. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Dalam Pendidikan Islam, pencapaian tujuan merupakan hal yang penting, namun pemilihan metode yang tepat juga merupakan hal yang lebih penting agar dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.

Metode merupakan suatu jalan yang dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapainya tujuan pengajaran.17 Menurut Prof. Abuddin Nata, metode mengajar merupakan rencana yang telah dibuat oleh seorang guru sebelum memasuki kelas dan kemudian diterapkan pada saat berada di dalam kelas.18

Pemilihan metode pengajaran harus dipertimbangkan dari beberapa faktor, antara lain: 1) Faktor tujuan dan bahan pelajaran; 2) Faktor peserta didik; 3) Faktor lingkungan; 4) Faktor alat dan sumber belajar; dan 5) Faktor kesiapan guru.19 Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi keberhasilan dari metode yang diterapkan oleh guru di dalam kelas. Melalui metode yang tepat, maka pembelajaran

16 Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah, h. 13-19, (www.lpm.uinjkt.ac.id). Diakses tanggal 12 Januari 2019 pukul 15.00 WIB

17 Armai Arief, Op.Cit, h. 40

18 Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 197

19 Abuddin Nata, Ibid., h. 199-201

(27)

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dapat dengan mudah ditempuh.

Beberapa metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang biasa digunakan, antara lain:

1) Metode ceramah, ialah metode penyampaian materi pelajaran kepada anak didik dengan cara penuturan dan penerangan secara lisan.20 Namun kelemahan dari metode ini ialah guru lebih aktif dibandingkan murid, sehingga murid cenderung pasif karna dipaksa untuk mendengar dan menerima apa yang dibicarakan oleh guru.21 Pada umumnya, penyampaian materi agama dilakukan dengan metode ceramah, terutama pada materi yang tidak dapat diperagakan, seperti materi tentang tauhid.

2) Metode diskusi, sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari bahan atau menyampaikan materi dengan jalan mediskusikannya dengan tujuan dapat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku pada siswa.22 Melalui metode diskusi, siswa diajak bertukar pendapat mengenai topik atau masalah tertentu untuk memperoleh pengertian bersama secara lebih jelas, sehingga siswa terangsang untuk berpikir dan lebih kritis.23 Dalam metode ini guru dapat menjadi pemantik agar diskusi dapat berjalan dengan lebih hidup.

3) Metode demonstrasi, metode yang dilakukan dengan menggunakan alat peraga untuk memperjelas sebuah masalah.

Metode ini sangat penting dalam pembelajaran Fiqih, karena tujuan utama dalam pembelajaran Fiqih adalah seorang siswa dapat mempraktikkan materi yang diajarkan. Melalui metode ini, perhatian siswa dapat lebih terpusat pada apa yang sedang

20 Armai Arief., Op.Cit., h. 136

21 Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 289

22 Armai Arief, Op.Cit., h. 145

23 Zakiah Daradjat, Op.Cit, h. 292

(28)

didemontrasikan, sehingga pengalaman yang diperoleh akan lebih melekat.24

4) Metode pemberian tugas, dengan cara memberi tugas tertentu secara bebas dan bertanggung jawab agar pengetahuan dan kecapakan tertentu dapat dikuasai oleh anak.

5) Metode sosiodrama, metode ini berupaya menunjukkan tingkah laku kehidupan dengan tujuan menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku, dan perasaan dengan penghayatan peran. Metode ini cukup efektif untuk menanamkan nila-nilai sosial, terutama pada materi Sejarah Kebudayaan Islam.

6) Metode drill, suatu metode dalam pengajaran dengan jalan melatik anak didik terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan.25 Metode ini biasanya digunakan pada materi Al-Qur’an Hadits, di mana siswa diminta untuk terus melakukan pengulangan agar dapat menghafal ayat maupun hadits dengan mudah.

7) Metode tanya jawab, metode ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada peserta didik dengan maksud untuk merangsang berpikir dan membimbing dalam mencapai kebenaran. Metode ini memiliki tingkat efektifitas yang lebih besar dibanding metode yang lain.26

8) Metode sorogan, sebuah sistem belajar di mana para santri maju satu persatu untuk membaca dan menguraikan isi kitab di hadapan seorang guru.27

9) Metode mudzakarah, metode yang dilakukan dengan cara mengadakan pertemuan ilmiah yang secara khusus membahas persoalan-persoalan yang bersifat keagamaan.28

24 Zakiah Daradjat, Ibid, h. 297

25 Armai Arief, Op.Cit., h. 174

26 Ibid., h. 141

27 Ibid., h.150

28 Ibid., h. 157

(29)

10) Metode eksperimen, metode ini berupa praktek pengajaran yang melibatkan anak didik pada pekerjaan akademis, latihan, dan pemecahan masalah mengenai suatu topik.29

d. Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Menurut Mohammad Roqib, media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari si pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.30 Media pembelajaran merupakan salah satu unsur dalam keberhasilan sebuah proses pembelajaran di dalam kelas. Penggunaan media pembelajaran bertujuan untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah.31

Media pengajaran mengandung dua unsur yang saling berhubungan, antara lain: 1) pesan atau bahan pelajaran yang akan disampaikan (software); 2) alat yang digunakan untuk menampilkan bahan pelajaran (hardware).32 Di samping hubungan antara unsur yang terkandung, pemilihan media pengajaran juga harus didasarkan pada beberapa prinsip, antara lain: 1) kesesuaian dengan tujuan pengajaran;

2) ketepatan dalam memilih media pengajaran; 3) ojektivitas; 4) program pengajaran; 5) sasaran program; 6) situasi dan kondisi; 7) kualitas teknik; dan 8) keefektifan dan efisiensi.33

Media pendidikan Islam yang efektif untuk diterapkan menurut Said Ali bin Wahf al-Qahthani adalah media pendidikan dengan keteladanan, ibadah, nasihat, pengamatan, dan hukuman. Media visual

29 Ibid., h. 173

30 Mohammad Roqib, Op.Cit., h. 70

31 Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994), Cet. 7, h. 12

32 Abuddin Nata, Op.Cit., h. 299

33 Abuddin Nata, Ibid., h. 305-307

(30)

merupakan salah satu jenis media yang paling mudah dibuat dan memiliki pengaruh besar dalam proses pembelajaran. Selain itu, dengan memberikan teladan yang baik dari para pendidik maka akan memberikan dampak positif pula dalam pembelajaran.

e. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Edwin Wandt dan Gerald W. Brown mengemukakan bahwa

“evaluation refer to the act or process to determining the value of something.”34 Dalam melakukan proses penilaian ini terdapat beberapa aspek yang menjadi sasaran evaluasi hasil belajar, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap. Ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Di dalam kompetensi inti, pada bagian pertama dan kedua memuat tentang sikap spiritual dan sosial, pada bagian ketiga memuat tentang pengetahuan, dan bagian keempat memuat tentang keterampilan.

1) Sikap Spiritual dan Sosial (KI 1 dan KI 2)

Sikap merupakan bagian dari tingkah laku manusia yang memancarkan bagaimana kepribadiannya, ini merupakan hal yang penting bagi setiap tenaga pendidik untuk mengetahui bagaimana perkembangan sikap peserta didik sehingga perlu dilakukan evaluasi baik sebelum maupun setelah mengikuti proses belajar tersebut. Untuk menilai sikap tersebut digunakan alat berupa tes sikap atau yang biasa dikenal dengan skala sikap.35 Penilaian sikap dapat dilakukan dengan cara observasi maupun menyebar angket.

2) Ranah Kognitif (KI 3)

Pengetahuan merupakan salah satu aspek penting yang harus dinilai. Secara khusus, aspek pengetahuan dikategorikan sebagai

34 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 2015), h. 1

35 Anas Sudijono, ibid., h. 27

(31)

konsep, prosedur, fakta, dan prinsip. Melalui aspek-aspek tersebut dapat dirumuskan urutan pelajaran yang akan disampaikan. Teknik penilaian pengetahuan umumnya dilakukan dengan cara tes tertentu.

3) Ranah Keterampilan (KI 4)

Ranah keterampilan dibagi menjadi dua, yaitu keterampilan koginitif, dan keterampilan psikomotorik. Dalam keterampilan kognitif, evaluasi dilakukan dengan metode-metode objektif tertutup. Sedangkan, dalam keterampilan psikomotorik penilaian dilakukan dengan tes tindakan berupa pelaksanaan tugas tertentu sesuai dengan indikator yang ingin dicapai.

2. Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu a. Pengertian Tunarungu

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki kelainan, masalah, dan atau penyimpangan baik secara fisik, sosial, emosi, perilaku, sensomotoris, mental-intelektual, atau keseluruhannya dalam proses pertumbuhan maupun perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan yang khusus.36

Individu dengan hambatan sensori pendengaran atau tunarungu adalah mereka yang mengalami kehilangan kemampuan pendengaran menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi bantuan dengan alat bantu dengar masih tetap membutuhkan penyesuaian layanan pendidikannya.37 Sensitifitas pendengaran diukur dengan decibel (dB), dan orang yang tuli adalah orang yang kehilangan pendengaran sekitar 70 dB atau lebih.38

36 Irdamurni dan Rahmiati, Op.Cit., h.30

37 Hidayat, dkk., Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, (Bandung: UPI Press, 2006), h. 2

38 Irdamurni dan Rahmiati, Op.Cit., h.44

(32)

Pengertian tunarungu menurut beberapa ahli, di antaranya adalah:

1) Andreas Dwijasumarto mengemukakan bahwa tunarungu adalah seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara.

2) Mufti Salim mengemukakan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan yang disebabkan oleh kerusakan atau ketidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya. Ia memerlukan bimbingan pendidikan khusus untuk mencapai kehidupan yang layak.39

Jadi dapat disimpulkan bahwa tunarungu adalah anak yang dalam proses pertumbuhannya mengalami kekurangan pendengaran atau sama sekali tidak mendengar yang disebabkan kerusakan bagian tertentu di dalam telinga, kerusakan tersebut dibawa sejak lahir, ada beberapa yang terjadi karena kecelakaan. Anak penyandang tunarungu mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya yang berdampak pada kesulitan belajarnya. Meskipun demikian, anak penyandang tunarungu tetap memiliki hak pendidikan yang sama seperti anak normal lainnya. Orang tua merupakan sumber belajar pertama dan utama bagi anak penyandang tunarungu di mana mereka harus mampu memahami peran penting dalam mengembangkan kemampuan sosial, bahasa, serta pemahaman anak penyandang tunarungu.40

Terdapat beberapa prinsip pembelajaran untuk anak tunarungu, di antaranya ialah 1) prinsip keterarahan wajah, di mana ketika seorang guru memberikan penjelasan hendaknya ia menghadapkan wajahnya kepada anak, sehingga anak dapat melihat gerak bibir guru, begitupun sebaliknya; 2) prinsip keterarahan suara, dalam proses belajar mengajar, guru hendaknya menggunakan lafal/ejaan yang jelas dan

39 Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan: Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta:

Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013), h.48

40 Marc Marschark dan Patricia Elizabeth Spencer, Deaf Studies, Language, and Education, (New York: Oxford University Press, 2003), h.18

(33)

cukup keras, sehingga anak dapat mengenali darimana arah suara tersebut. 3) prinsip keperagaan, karena anak tunarungu mengalami gangguan pendengaran, sehingga dalam proses belajar mengajar hendaknya disertai dengan peragaan agar dapat lebih mudah dipahami oleh anak.41

b. Klasifikasi Gangguan Pendengaran

Kelompok anak dengan gangguan pendengaran menempati posisi kedua terbesar untuk anak berkebutuhan khusus di Inggris. Gangguan pendengaran bisa diakibatkan oleh penyakit, kelainan atau kecelakaan.

Tuna rungu dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Tuli (deaf), indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendegarannya tidak berfungsi.

2) Kurang dengar (low of hearing), indera pendengarannya mengalami kerusakan, tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik tanpa ataupun melalui alat bantu dengar (hearing aid).42

Terdapat dua jenis gangguan pendengaran:

1) Tunarungu tipe konduktif, disebabkan oleh sesuatu seperti lapisan lilin atau kotoran telinga yang menutup lubang telinga dan menyebabkan penumpukan cairan di telinga luar saat mengalami flu berat, sehingga terjadi hambatan dalam menghantarkan getaran suara.43

2) Tunarungu tipe sensorineural, akibatnya adalah telinga dalam, pada jalur telinga dalam otak. Hal ini sangat serius dan biasanya pendengaran tidak bisa kembali normal. Individu yang mengalami

41 Irdamurni dan Rahmiati, Op.Cit., h.65-66

42 Agustyawati, Op.Cit., h. 48

43 Wardani, dkk., Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Tangerang Selatan:

Universitas Terbuka, 2013), h. 5.8

(34)

ini harus menggunakan alat bantu dengar yang dapat menghasilkan suara yang lebih keras.44

3) Tunarungu tipe campuran, adanya kerusakan yang terjadi pada telinga luar/tengah dengan telinga dalam/syaraf pendengaran.45 Kondisi tunarungu diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok, di antaranya ialah:

1) Klasifikasi secara etimologis, yaitu pembagian berdasarkan sebab- sebab, antara lain:46

a) Pada saat sebelum dilahirkan

i. Salah satu atau kedua orang tua anak menderita tunurungu atau mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal, misalnya dominant genes, recesive gen, dan lain-lain.

ii. Karena penyakit, sewaktu ibu mengandung terserang suatu penyakit, seperti rubella, moribili, dan lain-lain.

iii. Karena keracunan obat-obatan atau alkohol.

b) Pada saat kelahiran

i. Ketika melahirkan, ibu mengalami kesulitan sehingga persalinan dibantu dengan penyedot (tang).

ii. Pemberian oksigen yang terlambat atau pemberian oksigen yang terlampau lama bagi anak yang lahir prematur.

iii. Terjadinya benturan atau infeksi ketika melahirkan.47 c) Pada saat setelah kelahiran (post natal)

i. Ketulian yang terjadi karena infeksi, misalnya infeksi pada otak (meningitis) atau infeksi umum seperti difteri, morilbi, influenza yang berkepanjangan, penyakit gondok, campak, dan lain-lain.48

ii. Pemakaian obat-obatan otoksi pada anak-anak.

44 Jenny Thomson, Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Erlangga, 2010), h. 105

45 Wardani, dkk., Op.Cit., h. 5.8

46 Agustyawati, Op.Cit., h. 48

47 Wardani, dkk., Op.Cit., h. 1.21

48 Wardani, dkk., Ibid., h. 1.22

(35)

iii. Karena kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alat pendengaran bagian dalam, misalnya jatuh.49

2) Klasifikasi menurut taraf intensitas pendengarannya

a) Gangguan pendengaran ringan (27-40 dB), orang yang mengalami gangguan pendengaran dalam rentang ini biasanya mempunyai beberapa kesulitan untuk mendengar pembicaraan terutama jika keadaan sekitar gaduh, sehingga membutuhkan tempat duduk yang letaknya strategis. Mereka masih dapat belajar melalui telinganya, hanya saja ia mengalami sedikit hambatan dalam perkembangan bahasanya sehingga perlu dilakukan terapi bicara.

b) Gangguan pendengaran sedang (41-55 dB), orang dengan gangguan pendengaran dalam rentang ini mungkin akan memiliki kesulitan mengikuti pembelajaran tanpa alat bantu dengar, karena mereka hanya mampu mengerti percakapan secara berhadapan. 50

c) Gangguan pendengaran agak berat (56-70 dB), orang dengan gangguan pendengaran dalam rentang ini sangat bergantung pada kemampuan membaca gerak bibir. Ia hanya dapat mendengar suara dari jarak dekat, bahkan bila orang tersebut menggunakan alat bantu dengar sekalipun.

d) Gangguan pendengaran berat (71-90 dB), orang dengan gangguan pendengaran dalam rentang ini sangat sulit memperoleh kemampuan bicara sekalipun dengan bantuan teknik khusus, ia hanya dapat mendengar suara-suara yang keras dari jarak dekat.

e) Gangguan pendengan berat sekali (di atas 90 dB), orang dengan gangguan pendengaran dalam rentang ini masih dapat

49 Agustyawati, Op.Cit., h. 49

50 Wardani, dkk., Op.Cit., h. 5.7

(36)

mendengar suara yang keras, tetapi ia lebih menyadari suara melalui getarannya daripada melalui pola suara.51

c. Karakteristik Anak Tunarungu 1) Karakteristik Fisiologis

a) Cara berjalan kaku dan agak membungkuk.

b) Gerakan matanya cepat, agak beringas.

c) Gerakan kaki dan tangannya sangat cepat dan lincah.

d) Pernapasannya pendek dan agak terganggu.52

e) Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar.53 2) Karakteristik Sosial

a) Perasaan rendah diri dan merasa diasingkan

b) Perasaan cemburu dan berburuk sangka ataupun merasa diperlakukan tidak adil.

c) Kurang dapat bergaul dan mudah marah serta agresif.54 d) Merasa takut dan tidak aman terhadap lingkungan sekitar.55 3) Karakteristik Psikologis

Kekurangan pemahaman akan bahasa lisan atau tulisan seringkali menyebabkan anak tunarungu mengalami tekanan dalam emosinya,56 sehingga ia cenderung memiliki sifat egosentris yang melebihi anak normal.57 Keadaan seperti ini akan membuat anak tunarungu menampilkan sikap curiga, menutup diri, agresif, kurang percaya diri, dan emosi tidak stabil58 namun cenderung memiliki perhatian terhadap getaran.59

4) Karakteristik Intelegensi

51 Wardani, dkk., Ibid., h. 5.7

52 Agustyawati, Op.Cit., h. 55-56

53 Irdamurni dan Rahmiati, Op.Cit., h.45

54 Agustyawati, Ibid., h. 56

55 Wardani, dkk., Op.Cit., h. 5.32

56 Agustyawati, Op.Cit., h. 57

57Wardani, dkk., Op.Cit., h. 5.31

58 Hidayat, dkk., Op.Cit., h. 4

59 Irdamurni dan Rahmiati, Op.Cit., h. 45

(37)

a) Sama dengan anak pada umumnya (normal dan rata-rata) b) Sedikit tertinggal karena kesulitan dalam memahami bahasa

terutama bahasa lisan.60 5) Karakteristik Bahasa

a) Terlambat perkembangan bahasanya.61 b) Miskin dalam kosakata

c) Sulit memahami arti kias dan kata yang abstrak d) Kurang menguasai irama dan gaya bahasa62

e) Bicara terputus-putus akibat keterbatasan kosakata f) Banyak menggunakan bahasa isyarat.63

Berdasarkan karakteristik anak tunarungu dari beberapa aspek yang sudah dibahas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sebagai dampak dari ketunarunguannya tersebut hal yang menjadi perhatian adalah kemampuan berkomunikasi anak tunarungu yang rendah. Intelegensi anak tunarungu umumnya berada pada tingkatan rata-rata atau bahkan tinggi, namun prestasi anak tunarungu terkadang lebih rendah karena pengaruh kemampuan berbahasanya yang rendah. Maka dalam pembelajaran di sekolah anak tunarungu harus mendapatkan penanganan dengan menggunakan metode yang sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. Anak tunarungu akan berkonsentrasi dan cepat memahami kejadian yang sudah dialaminya dan bersifat konkret bukan hanya hal yang diverbalkan.

Anak tunarungu membutuhkan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya yaitu metode yang dapat menampilkan kekonkretan sesuai dengan apa yang sudah dialaminya.

Metode pembelajaran untuk anak tunarungu haruslah yang kaya akan

60 Hidayat, dkk., Loc.Cit.

61 Irdamurni dan Rahmiati, Op.Cit., h. 45

62 Agustyawati, Op.Cit., h. 59

63 Hidayat, Op.Cit., h. 4

(38)

bahasa konkret dan tidak membiarkan anak untuk berfantasi mengenai hal yang belum diketahui.

d. Kurikulum Sekolah Luar Biasa

Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 157 Tahun 2014 telah dibahas tentang Kurikulum Pendidikan Khusus. Kurikulum untuk peserta didik berkebutuhan khusus dapat berbentuk kurikulum pendidikan reguler atau kurikulum pendidikan khusus. Walaupun pada kenyataannya banyak sekolah luar biasa yang menggunakan kurikulum pendidikan reguler, namun terdapat perubahan maupun pengembangan pada tujuan, proses, materi, maupun evaluasi. Meskipun demikian, secara umum kurikulum untuk tunarungu pada dasarnya terpisah dari kurikulum umum, bahkan terhadap kurikulum untuk pendidikan khusus itu sendiri.64

Pada pasal 9, secara khusus dibahas mengenai muatan kurikulum untuk peserta didik berkebutuhan khusus, di mana muatan kurikulum pendidikan khusus bagi peserta didik tunarungu dari kelas I SDLB- sederajat sampai dengan kelas XII SMALB-sederajat disetarakan dengan muatan kurikulum pendidikan reguler Pendidikan Anak Usia Dini sampai dengan kelas VI SD/MI ditambah program kebutuhan khusus dan program pilihan kemandirian.65

Kurikulum sekolah luar biasa memiliki kesamaan pengembangan dengan kurikulum pendidikan inklusif, di mana keduanya memiliki 4 model pengembangan kurikulum, di antaranya ialah sebagai berikut: 66

64 Donald F. Moores dan David S. Martin, Deaf Learners: Developments in Curriculum and Instruction, (Washington DC: Gallaudet University Press, 2006), h. IX

65 Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 157 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Pendidikan Khusus, 2014, h.5, (www.lpm.uinjkt.ac.id). Diakses tanggal 27 Januari 2019 pukul 13.27 WIB

66 Irdamurni dan Rahmiati, Op.Cit., h. 121

(39)

1) Model duplikasi, yaitu memberlakukan kurikulum untuk anak berkebutuhan khusus sama dengan kurikulum yang digunakan untuk anak normal.

2) Model modifikasi, yaitu melakukan pengembangan atau perubahan pada kurikulum umum agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak berkebutuhan khusus. Modifikasi ini dapat terjadi pada empat komponen pembelajaran, yaitu tujuan, proses, materi, maupun evaluasi.

3) Model substitusi, yaitu mengganti sesuatu dalam kurikulum umum dengan hal lain yang memiliki nilai yang sepadan agar dapat diterapkan pada anak berkebutuhan khusus.

4) Model omisi, yaitu menghilangkan sesuatu dari kurikulum umum tanpa adanya penggantian, hal ini dikarenakan sifatnya terlalu sulit atau tidak sesuai dengan kondisi anak berkebutuhan khusus.67

e. Metode Pembelajaran untuk Anak Tunarungu 1) Metode Manual

Pada abad ke-18, Abbe de L’Eppe, seorang pendidik di Perancis memelopori mengajar dengan bahasa isyarat kepada amak tunrungu.68 Dalam implementasinya, metode ini memiliki dua komponen dasar yaitu bahasa isyarat (sign language) dan ejaan jari tangan (finger spelling).

Bahasa isyarat digunakan untuk menjelaskan kata dan konsep.

Sedangkan ejaan jari tangan dalam implementasinya berupa alfabet secara manual. Finger spelling biasanya digunakan sebagai pelengkap bahasa isyarat jika tidak ada bahasa isyarat untuk satu atau beberapa kata.69

67 Irdamurni dan Rahmiati, Ibid., h. 122-123

68 Agustyawati, Op.Cit., h. 62

69 Ilun Mullifah, dkk, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Learning Assistance Program For Islamic Schools Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 2008), Bab. 15, h. 10 (15-10)

Referensi

Dokumen terkait

Kurikulum 20i3 Pada Pembeiajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi pekerti Dalam Pembinaan Akhlak Peserta Didik Di sMA Negeri 1 Kalianda Lampung. selatan", adalah

Buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti disusun sesuai dengan kompetensi inti yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam kurikulum 2013. Kompetensi inti pada

dengan berbagai perubahan dan dinamika masyarakat. Penyusunan capaian pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti didasarkan pada Kurikulum 2013 yang

Hasil penelitian ini adalah persiapan guru agama dalam implementasi kurikulum 2013 pada bidang studi PAI dan Budi Pekerti di SMPN 8 Padang yaitu membuat prota, promes,

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1 ada perbedaan hasil belajar siswa pada materi pelajaran PAI dan Budi Pekerti antara siswa yang mengikuti model pembelajaran SAVI dan model

CP (Capaian Pembelajaran) dan ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) Fase E Kelas 10 SMA/SMK PAI Budi Pekerti Kurikulum

PROGRAM TAHUNAN Sekolah : SD Negeri 107/VIII Giri Purno Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti Kelas : III Tiga Semester : 2 Tahun Pelajaran : 2023 / 2024 No

Dokumen ini berisi program tahunan kurikulum merdeka untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SD Islam As'ad