BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin meningkat tiap tahun sehingga banyak daerah baru yang dimekarkan menjadi provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa terutama di Papua. Daerah – daerah tersebut membutuhkan infrastrukur yang memadai agar kegiatan perekonomian dan pemerintahan dapat berjalan dengan lancar dan bisa sejajar dengan daerah lain. Keberhasilan pembangunan suatu daerah diikuti dengan peningkatan infrastruktur diberbagai bidang. Salah satunya yakni sarana dan prasarana air bersih. Sarana dan prasarana air bersih dibutuhkan karena air bersih merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia. Kemudahan akan akses untuk memperoleh air bersih dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik sangat penting sehingga masyarakat dapat terlayani dengan baik dalam pemenuhan kebutuhan air.
Kabupaten Intan Jaya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua, sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Paniai. Kabupaten Intan Jaya telah diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, pada 29 Oktober 2008, sesuai Undang Undang RI No. 54 Tahun 2008 ( Pramono, 2011). Sebagai kabupaten yang baru berumur 5 tahun sangat membutuhkan infrastruktur terutama di bidang air bersih karena air merupakan kebutuhan pokok manusia.
Kecamatan Sugapa Kabupaten Intan Jaya terletak di daerah pegunungan dan masyarakat hanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari – hari sehingga di musim kemarau masyarakat kesulitan untuk mendapat air bersih. Pemerintah Kabupaten Intan Jaya melihat hal tersebut dan pada tahun 2011 dibangun jarigan air bersih berupa perpipaan dengan unit pelayanan melalui Sambungan Rumah (SR) dan Hidran Umum (HU) dengan harapan kebutuhan masyarakat akan air bersih dapat terlayani.
Masalah yang terjadi adalah pada akhir tahun 2012 desa Puyagiya dan desa Kumblagupa yang merupakan lokasi pipa transmisi terjadi longsor menyebabkan pipa transmisi dari reservior sampai bandara Bilogai rusak/ putus dengan pipa sepanjang 726,389 meter. Pada tahun 2013 Dinas Pekejaan Umum Kabupaten Intan Jaya melakukan rehabilitas pada pipa transmisi (HDPE) yang rusak dan menggantinya dengan jaringan pipa baru jenis GIP (galvanis iron pipe). Jaringan distribusi air bersih yang ada ini belum optimal dalam pelayanannya kerena jaringan air bersih tersebut belum dikelola dengan baik dalam operasi dan pemeliharaannya. Sampai saat ini belum dibentuk / didirikan kelembagaan yang bertanggungjawab mengelola jaringan air bersih Kecamatan Sugapa.
Untuk itu perlu dilakukan pengkajian ulang pada Jaringan Air Bersih tersebut dan dilakukan optimalisasi, pengembangan serta pengelolaan dilihat dari aspek teknis, aspek investasi ekonomi maupun kelembagaan.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk menilai Kondisi hidroulika eksisting pada komponen-komponen sistem jaringan distribusi air dengan model simulasi menggunakan program software WaterNet versi 2.2 karena sampai saat ini belum ada pengkajian ulang serta perbaikan jaringan air bersih tersebut dari Dinas Pekerjaan Umum Intan Jaya.
2. Pertumbuhan penduduk yang meningkat tiap tahun maka perlu proyeksi pertumbuhan penduduk 9 (sembilan) tahun mendatang (2022) adalah tahun perencanaan. Belum adanya prediksi jumlah penduduk dan perencanaan dalam optimalisasi dan pengembangan Jaringan Air Bersih 9 tahun mendatang
3. Belum adanya perhitungan analisa ekonomi investasi jaringan air bersih dan pengembangannya di Kecamatan Sugapa.
4. Jaringan air bersih yang dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum hingga saat ini belum di bentuk kelembagaan pengelola Jaringan Air Bersih tersebut
sehingga perlu dikaji apakah perlu dibentuk kelembagaan pengelolaannya berupa Lembaga Masyarakat, Dinas PU, UPTD-AM.
1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui kondisi sistem jaringan yang sudah ada (eksisting) dan dikaji ulang serta dikembangkan dengan menggunakan program software WaterNet Versi 2.2.
2. Untuk mengetahui perkiraan proyeksi pertumbuhan penduduk dan kebutuhan air bersih di wilayah Kecamatan Sugapa 9 tahun mendatang (2022) adalah tahun perencanaan.
3. Mengkaji pembentukan kelembagaan pengelola jaringan air bersih Kecamatan Sugapa dan investasi pembangunannya dengan sistem pengelolaan yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat, Dinas PU dan Dinas PU ke UPTD-AM.
1.4 Batasan Masalah
Batasan Penelitian ini adalah:
1. Lokasi penelitian ini adalah Kecamatan Sugapa Kabupaten Intan Jaya Propinsi Papua.
2. Objek Penelitian yang dilakukan adalah sistim jaringan stransmisi dari sumber air baku dan pipa- pipa distribusi air bersih Kecamatan Sugapa. 3. Untuk pengembangan diperlukan proyeksi kebutuhan air dimasa yang akan
datang dan proyeksi pertumbuhan penduduk di Kecamatan Sugapa.
4. Simulasi dan evaluasi pada pendistribusian jaringan pipa dilakukan dengan menggunakan software WaterNet versi 2.2. berdasarkan data kebutuhan air pengguna Jaringa Air Bersih Kecamatan Sugapa dari DPU Intan Jaya. 5. Analisa ekonomi hanya menghitung kelayakan investasi pembangunan
jaringan air bersih dengan alternatif pengelolaan yang dilakukan oleh 3 lembaga yang berbeda yakni, Swadaya Masyarakat, Dinas Pu, UPTD-AM.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Memberikan konstribusi dan pemahaman analisis hidroulika sistem jaringan pipa air bersih, berdasarkan kondisi nyata dilapangan dengan menggunakan model komputer sebagai alat bantu simulasi
2. Memberikan masukkan bagi pemerintah daerah mengenai pengelolaan jaringan distribusi air dilihat dari aspek teknis, aspek investasi ekonomi dan aspek kelembagaannya.
1.6 Keaslian Penelitian
Penelitian ini tidak mengandung hal yang baru baik secara metode, manajemen pengelolaan maupun tentang finansial yang berkaitan dengan investasi. Namun ada beberapa masalah baru atau yang belum pernah dikaji sebelumnya, sehingga penelitian ini memperkaya cara penyelesaian masalah pengelolaan jaringan air bersih oleh 3 bentuk lembaga pengelola yang berbeda berkaitan dengan kelayakan ekonomi. Selain itu penelitian tentang kajian optimalisasi, pengembangan dan pengelolaan jaringan air bersih Kecamatan Sugapa belum pernah dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari metode dan analisa pemecahan masalahnya yang merupakan aplikatif.
1.7 Penelitian sejenisnya
Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan masalah jaringan distribusi air bersih antara lain:
1. Benu (2006) melakukan Kajian tentang Sistem Jaringan Pipa Untuk Optimasi Pengelolaannya Kecamatan Kualin Timor Tengah Selatan. Dalam melakukan simulasi pada penelitian ini digunakan software WaterNet. Hasil penelitiannya didapatkan bahwa ada beberapa jaringan pipa distribusi air bersih yang tidak bekerja secara optimal bila menggunakan fluktuasi kebutuhan. Penelitian ini juga memprediksi pengembangan jaringan hingga tahun 2016.
2. Santi (2011) melakukan Kajian Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum Oleh UPTD-AM menuju PDAM Kota Parigi Kabupaten Parigi Moutang. Hasil penelitiannya didapatkan bahwa kapasitas sistem yang ada terbatas untuk melayani penambahan jumlah pelanggan. Kondisi keuangan UPTD-AM pada tahun 2010 masih mengalami defisit karena belum ada pendapatan dari aktifitas operasi. Pengembangan kelembagaan UPTD-AM dapat diawali dengan peningkatan status melalui pola pengelolaan keuangan BLU. Penelitian ini juga memprediksi pengembangan jaringan hingga tahun 2020. 3. Fadly (2013) mengkaji tentang Evaluasi dan Strategi Pengembangan Sistem
Distribusi Air Bersih Kabupaten Halmahera Barat. Dalam melakukan simulasi pada penelitian ini digunakan software WaterNet Versi 2.2. Hasil penelitiannya didapatkan bahwa kinerja jaringan disribusi air bersih eksisting tidak bekerja baik karena banyak node yang tekanannya kurang karena pompa yang melayani sistem distribusi langsung tidak mampu mengalirkan air dengan kecepatan maksimum sesuai rencana, pipa yang digunakan berdiameter kecil. Penelitian ini juga mengkaji recana pengembangan sistem jaringan distribusi air bersih di kecamatan Jalaiholo sampai dengan tahun 2021.
4. Ratnanik (2014) melakukan Kajian tentang Optimalisasi Jaringan Distribusi Air Bersih PDAM Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Dalam melakukan simulasi pada penelitian ini digunakan software WaterNet Versi 2.2. Hasil penelitiannya didapatkan bahwa sistem jaringan distribusi air bersih pada kondisi eksisting tidak optimal. Karena banyaknya node mempunyai tekanan yang kurang dari 10 meter H2O. Hal tersebut disebabkan karena pompa yang melayani sistem distribusi langsung tidak mencukupi kapasitasnya. Penelitian ini juga memprediksi pengembangan sistem jaringan pada PDAM kecamatan Krian sampai tahun 2020.
Namun penelitian optimalisasi dan pengembangan serta pengelolaan jaringan distribusi air bersih di lihat dari apek teknis, aspek investasi ekonomi dan aspek
kelembagaan di Kecamatan Sugapa Kabupaten Intan Jaya Papua belum pernah diteliti.