• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENTINGNYA ASPEK STANDAR KEAMANAN WISATA BERBASIS KEPETUALANGAN ALAM BEBAS KERTAS KARYA OLEH ANDRE RAKA DEWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENTINGNYA ASPEK STANDAR KEAMANAN WISATA BERBASIS KEPETUALANGAN ALAM BEBAS KERTAS KARYA OLEH ANDRE RAKA DEWA"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

PENTINGNYA ASPEK STANDAR KEAMANAN WISATA BERBASIS KEPETUALANGAN ALAM BEBAS

KERTAS KARYA

OLEH

ANDRE RAKA DEWA 132204095

PROGRAM STUDI D-III PARIWISATA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Kertas Karya : Pentingnya Aspek Standar Keamanan Wisata Berbasis Kepetualangan Alam Bebas

Oleh : Andre Raka Dewa

NIM : 132204095

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dekan,

Dr. Budi Agustono, MS.

NIP. 196000805 198703 1 001

PROGRAM STUDI D-III PARIWISATA Ketua,

Drs. Jhonson Pardosi, M.Si. Ph.D.

NIP. 19640821 199802 2 001

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN

PENTINGNYA ASPEK STANDAR KEAMANAN WISATA BERBASIS KEPETUALANGAN ALAM BEBAS

OLEH

ANDRE RAKA DEWA 132204095

Dosen Pembimbing Dosen Pembaca

Mukhtar, S.Sos., S.Par.,M.A. Drs. Gustanto, M. Hum NIP. 19630805 198903 1 004 NIP. 19630805 198903 1 004

(4)

ABSTRAK

Kegiatan wisata banyak diminati oleh masyarakat, termasuk wisata kepetualangan alam bebas. Namun, tingginya minat masyarakat akan hal ini sering kali tidak dibarengi dengan nilai-nilai keselamatan sehingga terjadi kecelakaan. Kegiatan wisata kepetualangan alam bebas yang merupakan kegiatan berisiko tinggi wajib memiliki standar keamanan yang harus diterapkan atau dipenuhi oleh pelakunya untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan di lapangan.

Adapun tujuan penulisan kertas karya ini adalah untuk menerangkan bagaimana standar keamanan wisata arung jeram yang merupakan salah satu kegiatan wisata alam bebas ini dan bagaimana standar keamanan wisata arung jeram di sungai Bingei. Arung jeram sendiri telah memiliki standar yang telah diatur dalam peraturan pemerintah. Sesuai dengan hal itu, arung jeram sungai Bingei yang dikelolah oleh Explore Sumatera juga telah memenuhi standar keamanan wisata arung jeram sesuai dengan aspek-aspeknya yaitu aspek produk, aspek pelayanan dan aspek pengelolaan.

Keyword : Standar Keamanan Wisata, Wisata Kepetualangan Alam Bebas

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat ALLAH SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini. Shalawat beriring salam penulis ucapkan kepada Nabi besar Muhammad SAW karena beliaulah yang telah membawa umatnya dari zaman kebodohan menuju alam yang diridhoi oleh ALLAH SWT.

Kertas karya ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Diploma III Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Adapun judul kertas karya ini “Pentingnya Aspek Standar Keamanan Wisata Berbasis Kepetualangan Alam Bebas”.

Penulis menyadari bahwa kertas karya ini belum sempurna. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan, kemampuan, pengetahuan, dan sumber bacaan yang diperoleh, untuk itu dengan hati yang terbuka penulis bersedia menerima saran dan keritikan yang sifatnya membangun dari pembaca untuk menyempurnakan kertas karya ini.

Selama penulisan kertas karya ini penulis banyak mendapatkan bantuan, dorongan,bimbingan, serta fasilitas-fasilitas dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, MS. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Jhonson Pardosi, M.Si. Ph.D. selaku Ketua Program Studi Diploma III Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Mukhtar, S.Sos., S.Par.,M.A. selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dalam penyusunan kertas karya.

4. Bapak Drs. Gustanto, M. Hum selaku dosen pembaca yang telah mengarahkan dan memberi saran kepada penulis dalam menyusun kertas karya ini

5. Kakanda Dony Saputra selaku senior pembimbing yang selalu membantu dalam penyusunan kertas karya ini.

(6)

6. Seluruh staff pengajar diploma III Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah membina penulis selama di bangku perkuliahan.

7. Teristimewa dan Terkhusus kepada kedua orang tua penulis, Suyono dan Ibunda Nuriamah Sari Simbolon yang telah memberi motivasi serta dukungan baik dukungan support maupun dukungan materi sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini

8. Teruntuk saudara-saudara penulis sayangi mas Ray Agung Pratama dan Trifahmi Rivaldo ,yang selalu memberikan dorongan motivasinya sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini

9. Teruntuk Fathin Hanana Harahap sebagai teman seperjalanan (Matra Nadhika).

10. Teruntuk KOMPAS USU yang telah memberikan begitu banyak pelajaran dan pengalaman hidup. serta saudara-saudara tercinta di KOMPAS USU dan angkatan Senja Kirana.

11. Teruntuk keluarga besar GALAKSI SMAN 13 Medan yang selalu menjadi bagian dari dalam diri.

12. Serta teman-teman seperjuangan Usaha Wisata 2013 yang sudah lama tamat duluan.

Akhir kata dengan kerendahan hati, penulis mohon maaf yang sebesar- besarnya atas kesalahan- kesalahan yang terdapat pada kertas karya ini, dan kiranya kertas karya ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca semua.

Medan, Juli 2017 Penulis

Andre Raka Dewa NIM. 132204100

(7)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN... i

LEMBAR PERSETUJUAN... ii

ABSTRAK... iii

KATA PENGANTAR... iv

DAFTAR ISI... v

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Batasan Masalah... 4

1.3. Rumusan Masalah... 4

1.4. Tujuan Penulisan... 4

1.5. Manfaat Penulisan... 5

1.6. Metode Penulisan... 5

1.7. Sistematika Penulisan... 5

BAB II URAIAN TEORITIS... 7

2.1. Pengertian Pariwisata... 7

2.2. Pengertian Industri Pariwisata... 8

2.3. Ekowisata... 9

2.4. Wisata Kepetualangan Alam Bebas... 12

2.5. Aspek Standar Kemanan... 14

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI... 18

3.1. Kabupaten Langkat... 18

3.2. Sungai Bingei... 19

BAB IV STANDAR KEAMANAN WISATA ARUNG JERAM... 21

4.1. Standar Keamanan Wisata Arung Jeram... 21

4.2. Standar Keamanan Wisata Arung Jeram Sungai Bingei... 24

4.3. Manajemen Resiko Yang Diterapkan Explore Sumatera... 41

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 45

5.1. Kesimpulan... 45

5.2. Saran... 45 DAFTAR PUSTAKA

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pariwisata merupakan salah satu industri terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat bahwa hampir semua negara-negara di dunia bergantung pada sumber pemasukan yang bersumber dari pajak dan pendapatan dari sektor ini. Munculnya pariwisata tidak terlepas dari adanya dorongan naluri manusia yang selalu ingin mengetahui dan mencari hal-hal yang baru, bagus, menarik, mengagumkan juga menantang. Orang-orang yang ingin mencari hal-hal tersebut biasanya melakukan perjalanan keluar daerah atau keluar dari kebiasannya sehari-hari dalam kurun waktu tertentu. Sering kali perjalanan seperti ini dilakukan pada saat mereka mempunyai waktu luang atau sengaja dilakukan untuk menghabiskan waktu luangnya untuk mengunjungi dan menikmati sesuatu yang menarik seperti keindahan alam, hiburan, budaya, adat istiadat, dan tempat-tempat suci.

Banyak ragam hal yang ditawarkan dalam pariwisata, salah satunya adalah pariwisata dengan mengandalkan keindahan alam yang biasa disebut dengan wisata alam. Wisata alam merupakan kegiatan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam, baik dalam keadaan alami maupun setelah ada usaha budidaya, sehingga memungkinkan wisatawan memperoleh kesegaran jasmaniah dan rohaniah, mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta menumbuhkan inspirasi dan cinta terhadap alam. Bentuk wisata alam pun beragam – ragam, mulai dari sekedar rekreasi seperti pemandian di sungai atau pantai, hingga kegiatan kepetualangan seperti pendakian gunung, arung jeram, penelusuran gua dll yang memiliki risiko tinggi.

Kegiatan wisata kepetualangan alam bebas memang merupakan hal yang menarik dan patut dicoba. Sampai saat ini, kegiatan wisata kepetualangan masih banyak diminati oleh masyarakat khususnya di Indonesia. Bahkan saat ini, kegiatan wisata kepetualangan alam bebas meningkat drastis peminatnya, bisa karena hobi maupun gaya hidup. Meningkatnya minat masyarakat juga dibarengi dengan munculnya acara – acara televisi maupun media sosial yang mengekspos kekayaan alam di dalam maupun luar negeri. Hal itu semakin mendorong orang –

(9)

orang untuk turut serta melakukan kegiatan ini. Meningkatnya minat masyarakat akan wisata kepetualangan alam bebas juga didukung dengan munculnya operator atau penyelia jasa wisata kepetualangan yang menyediakan berbagai macam jenis paket sesuai dengan kebutuhan wisatawan.

Namun, kita harus menyadari dan mengetahui bahwa bagaimana pun ragam dan jenisnya, kegiatan wisata kepetualangan alam bebas memiliki risiko yang tinggi. Banyak kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan terjadi dalam kegiatan wisata kepetualangan di alam bebas. Faktor – faktor penyebab kecelakaan di alam bebas bisa jadi karenakan faktor alam maupun faktor yang disebabkan manusia itu sendiri. Sebagai contoh, pada Februari 2015 lalu, telah terjadi kecelakaan saat bermain flying fox. Seorang anak 8 tahun bernama Riska dinyatakan tewas akibat terjatuh dari menara titik start peluncuran. Riska dinyatakan layak dan memenuhi standar keamanan untuk melakukan flying fox. Namun iya terjatuh dari menara saat pengamannya belum dipasang. Operator menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui bahwa Riska sudah berada di menara karena saat itu belum giliran Riska. Ia pun terjatuh dari ketinggian 4 meter dari menara ke lantai menara dan mengalami luka di kepala. Standar keamanan pada kegiatan flying fox ini dapat dipertanyakan karena tidak terdapat jaring pengaman di bawahnya. Namun operator menyatakan seluruh perlengkapan yang mereka miliki sudah memenuhi standar, dan kejadian ini dianggap kecelakaan. Padahal tetap saja, kesalahan akibat kelalaian operator dan kurang lengkapnya perlengkapan keamanan. Contoh kasus lain, juga terjadi kecelakaan yang menewaskan satu dosen USU dalam perjalanan menuju sabang dengan kapal wisata. Kapal yang mereka tumpangi terbalik akibat ombak besar yang menghantam boat dan membelah dua boat tersebut. Diketahui bahwa 3 dari 14 penumpang tidak memakai pelampung dalam perjalanan tersebut. Dari dua contoh kasus di atas, dapat kita ketahui bahwa prosedur keamanan dalam suatu perjalanan sangat penting untuk diperhatikan guna meminimalisir kecelakaan. Saat berkegiatan di tempat yang tinggi, sudah seharusnya pengaman adalah hal utama yang mutlak harus diperhatikan. Begitu juga saat berkegiatan di air, sudah seharusnya seluruh pelaku kegiatan mengenakan pelampung karena potensi tenggelam sangat mungkin terjadi.

(10)

Memperhatikan hal di atas, kegiatan wisata kepetualangan alam bebas memang merupakan kegiatan yang berisiko. Dalam buku “Jejak Sang Beruang Gunung, Hidup dan Petualangan Norman Edwin” karya Ganesh dijelaskan bahwa Kegiatan alam bebas haruslah dilakukan dengan penuh perhitungan, dengan pembinaan, dan diarahkan secara positif, mengingat risikonya yang tinggi. Untuk melakukannya, dibutuhkan kesiapan mental, fisik dan penguasaan teknik yang baik. Setiap petualang, dimana pun juga, selalu dihadapkan pada pada dua hal yang dapat membahayakan dirinya. Bahaya yang pertama dari pelaku sendiri (subjective danger). Bahaya ini dapat datang apabila pelaku tidak memiliki pengetahuan, kemampuan mental dan fisik, tidak menguasai teknik – teknik hidup di alam terbuka, dan tidak memiliki perlengkapan yang serta kurang memahami medan yang mereka hadapi. Faktor berbahaya kedua bisa datang dari objeknya (objective danger), yakni bahaya yang berasal dari alam itu sendiri. Faktor ini berada di luar para pelakunya, meliputi medan petualangan, cuaca, iklim, yang tidak dapat ditolak ataupun diubah, namun dapat disiasati dengan skill, teknik, kesiapan fisik dan mental. Bila semua syarat itu dapat dipenuhi dengan baik, barulah petualangan dapat dinikmati dengan hati yang gembira. Jangan salahkan para petualang yang mengalami kecelakaan bila ia sebenarnya telah mempersiapkan segalanya dengan baik. Apa yang mereka alami tak jauh beda dengan orang yang menyebrang jalan di zebra cross lagi, namun tiba –tiba ditabrak mobil yang sedang ngebut. (Jejak Sang Beruang Gunung, Hidup dan Petualangan Norman Edwin : 2006)

Akan tetapi seluruh kejadian kecelakaan yang terjadi saat berkegiatan di alam bebas tidak menyurutkan minat masyarakat dalam menggeluti kegiatan tersebut.

bahkan saat ini dapat dilihat bahwa kegiatan wisata kepetualangan alam bebas semakin meningkat. Pendakian gunung, trip perjalanan pulau, arung jeram, outbond dll menjadi kegiatan rutin saat liburan, terutama di kalangan anak muda.

Dapat dihitung dari meningkatnya jumlah pendaki yang tercatat di hampir seluruh taman nasional di Indonesia. Juga semakin banyaknya operator baru yang bermunculan di pasaran menandakan bahwa kebutuhan terhadap jasa wisata kepetualangan alam bebas semakin ramai.

(11)

Untuk wilayah Sumatera utara sendiri, juga terdapat sangat banyak penyelia jasa wisata yang menawarkan jasa wisata kepetualangan alam bebas yang memiliki lokasi ataupun objek andalannya masing – masing. Penyelia tersebut yakni Explore Sumatera yang merupakan penyelia jasa wisata wisata kepetualangan alam bebas yang akan penulis tuliskan sebagai contoh dalam kertas karya ini.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menulis dalam bentuk sebuah Kertas Karya dengan judul ”Pentingnya Aspek Standar Keamanan Pada Wisata Berbasis Kepetualangan Alam Bebas”

1.2. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah pada kertas karya ini adalah :

1. Standar keamanan wisata berbasis kepetualangan alam bebas ini difokuskan pada kegiatan wisata arung jeram di sungai Bingei Kab.Langkat.

1.3. Rumusan Masalah

1. Bagaimana standar keamanan wisata arung jeram?

2. Bagaimana standar keamanan wisata arung jeram di sungai Bingei Kab.Langkat?

3. Bagaimana manajemen risiko yang diterapkan oleh Explore Sumatera sebagai penyelia wisata arung jeram?

1.4. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan kertas karya ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana manajemen risiko yang dilakukan oleh Explore Sumatera untuk meminimalisir kecelakaan.

2. Untuk mengetahui aspek apa saja yang dipertimbangkan oleh Explore Sumatera dalam mengelola manajemen risiko.

3. Untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Program Diploma III jurusan pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

(12)

1.5. Manfaat Penulisan

1. Sebagai referensi ataupun informasi yang berguna bagi mahasiswa, masyarakat, dosen, penyelia wisata sejenis, tentang bagaimana standar keamanan dalam wisata berbasis kepetualangan alam bebas.

1.6. Metode Penulisan

Untuk memperoleh dan pengumpulan data dan informasi dalam penulisan kertas karya, penulis menggunakan teknik :

1. Studi kepustakaan (library research)

Penelitian yang dilakukan melalui keputusan dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku ilmiah yang berkaitan dengan judul kertas karya, mengumpulkan data-data perpustakaan yang bersifat teoritis, artikel,dan internet yang berhubungan dengan pembahasan, serta bahan- bahan perkuliahan yang ada hubunganya dengan objek penelitian

2. Studi Lapangan (Field Research)

Studi lapangan adalah metode pengumpulan data – data pengamatan langsung dan wawancara langsung kepada narasumber atau dengan pihak – pihak yang terkait yang dapat membantu melengkapi isi kertas karya ini.

1.7. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan kertas karya ini adalah : BAB I : PENDAHULUAN

Pendahuluan yang terdiri dari alasan pemilihan judul, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II :URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN, WISATA KEPETUALANGAN ALAM BEBAS, STANDAR KEAMANAN

Membahas tentang tujuan teoritis kepariwisataan, wisata alam bebas, dan standar keamanan kegiatan wisata alam bebas.

(13)

BAB III :GAMBARAN UMUM LOKASI

Di dalam bab ini berisikan tentang lokasi Kabupaten Langkat dan Sungai Bingei.

BAB IV : ISI

Dalam BAB ini penulis akan membahas aspek – aspek yang dipertimbangkan dalam memanajemen risiko dan bagaimana manajemen risiko itu dilakukan oleh Explore Sumatera.

BAB V : Penutup DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(14)

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1. Pengertian Pariwisata

Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Secara etimologi Pariwisata berasal dari dua kata yaitu “pari”

yang berarti banyak/berkeliling, sedangkan pengertian wisata berarti “pergi”.

Pariwisata identik dengan kata “travel” dalam Bahasa Inggris yang diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali dari satu tempat ke tempat lain.

Menurut Kodyat (1983) dalam Spiilane (1994), secara konseptual pariwisata didefinisikan sebagai perjalanan dari suatu tempat ketempat lain yang bersifat sementara, dilakukan oleh perorangan maupun kelompok sebagai usaha untuk mencari keseimbangan atau keserasian dengan lingkungan hidup untuk mencapai kebahagiaan dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu.

Di Indonesia, kata pariwisata pertama kali dikemukakan secara resmi oleh Prof. Priyono (ALM) pada Munas Pariwisata II di Tretes Jawa Timur pada tanggal 12 sampai dengan 14 Juni 1958. Kata pariwisata kemudian disyahkan oleh Presiden Soekarno untuk menggantikan “tourisme”. Atas dasar keputusan tersebut, maka selanjutnya “Dewan Tourisme” di Indonesia dirubah menjadi Dewan Pariwisata Indonesia (DEPARI).

Freuler dalam Pendit (1999) menyatakan bahwa pariwisata merupakan gejala jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar terhadap keindahan alam, kesenangan dan kenikmatan alam semesta, dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas dalam masyarakat manusia sebagai hasil perkembangan perniagaan, industri dan perdagangan serta penyempurnaan alat- alat pengangkutan.

Menurut Pitana (2002:16) pengertian kegiatan pariwisata yaitu kegiatan kepariwisataan merupakan kegiatan yang melibatkan pembangunan sektor seperti sektor pariwisata, sektor keamanan, sektor industri, jasa dan moneter dan lain-lain. Disamping itu kepariwisataan merupakan kegiatan yang mengandalkan

(15)

pemanfaatan potensi sumber daya alam binaan yang ada pada masing-masing daerah dan daya tarik wisata dengan tetap berpedoman pada keseimbangan dan pelestarian (tanpa merusak potensi alam yang dimiliki). Menurut Prof. Salah Wahab dalam Yoeti (1985) pariwisata adalah suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara orang-orang dalam suatu negara itu sendiri/ diluar negeri, meliputi pendiaman orang-orang dari daerah lain untuk sementara waktu mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang di alaminya, dimana ia memperoleh pekerjaan tetap.

Menurut Mathieson & Wall (1982), pariwisata merupakan serangkaian aktivitas yang berupa aktivitas perpindahan orang untuk sementara waktu kesuatu tujuan diluar tempat tinggal maupun tempat kerjanya, aktifitas yang dilakukannya selama tinggal di tempat tujuan tersebut dan kemudahan- kemudahan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhannya baik selama dalam perjalanan maupun dilokasi tujuannya.

Berdasarkan pengertian pariwisata menurut para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pariwisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu , lebih dari 24 jam dan kurang dari 3 bulan dari satu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk mencari pekerjaan atau berbisnis di tempat yang dikunjunginya, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut untuk pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

2.2. Pengertian Industri Pariwisata

Industri Pariwisata adalah industri yang menghasilkan produk dan jasa yang ditujukan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Industri ini memainkan peran sangat penting dalam pengembangan pariwisata. Industri ini dapat berperan sebagai pelaku pariwisata, yakni sebagai pihak yang berperan untuk menghasilkan barang/jasa bagi untuk memenuhi kebutuhan dan harapan wisatawan.

Yoeti (1985:9) Ada beberapa pengertian tentang industri pariwisata, antara lainnya sebagai kumpulan dari macam-macam perusahaan yang secara bersama

(16)

menghasilkan barang-barang dan jasa (goods and service) yang dibutuhkan para wisatawan pada khususnya dan traveler pada umumnya, selama dalam perjalanannya.

Hadinoto (1996:11) menyatakan pengertian tentang industri pariwisata yang lainnya adalah suatu susunan organisasi, baik pemerintah maupun swasta yang terkait dalam pengembangan, produksi produk suatu layanan yang memenuhi kebutuhan dari orang yang sedang bepergian.

Dari pengertian industri pariwisata menurut para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa industri pariwisata merupakan industri yang bergerak di bidang jasa yang menghasilkan produk bagi wisatawan yang hendak bepergian dan industri ini berperan penting dalam pengembangan pariwisata.

Sebagai pelaku wisata, industri pariwisata dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni sebagai pelaku langsung dan pelaku tidak langsung. Disebut pelaku langsung manakala produk yang dihasilkan oleh industri itu secara langsung dibutuhkan oleh wisatawan pada saat melaksanakan kegiatan wisata. Sebagian contoh : hotel, restoran, biro perjalan, pusat informasi wisata, atraksi dan lain- lain. Disebut sebagai pelaku tidak langsung jika produk yang dihasilkan secara tidak langsung dibutuhkan oleh wisatawan, tetapi produknya memang ditujukan untuk mendukung kegiatan pariwisata. Misalnya : pengusaha kerajinan, penerbit buku, penjual makanan dan lain-lain.

2.3. Ekowisata

Ekowisata pada umumnya didefinisikan sebagai aktifitas wisata yang berhubungan dengan alam, seperti trekking,camping, rafting, ataupun berlibur di resor alami yang berhubungan dengan alam. Ekowisata memiliki konsep kegiatan wisata yang bertanggung jawab terhadap alam, memberdayakan masyarakat, meningkatkan kesadaran lingkungan. Definisi ekowisata yang pertama diperkenalkan oleh organisasi The Ecotourism Society (1990) dalam Fennel (1999) sebagai berikut: "Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat".

(17)

Awalnya ekowisata dilakukan oleh para wisatawan yang hobi berkunjung ke tempat yang alami dan mencintai alam, kemudian seiring berjalannya waktu, mereka menyadari bahwa lokasi – lokasi wisata yang alami bisa saja berubah ataupun rusak oleh karena manusia ataupun faktor lainnya. Sampai pada akhirnya, para wisatawan yang gemar akan wisata alam ini mulai menginginkan daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari, di samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga.

Namun dalam perkembangannya ternyata bentuk ekowisata ini berkembang karena banyak digemari oleh wisatawan. Wisatawan ingin berkunjung ke area alami, yang dapat menciptakan kegiatan bisnis. Ekowisata kemudian didefinisikan sebagai berikut : Ekowisata adalah bentuk baru dari perjalanan bertanggung jawab ke area alami dan berpetualang yang dapat menciptakan industri pariwisata (Eplerwood, 1999). Dari definisi ini dapat di mengerti bahwa ekowisata dunia telah berkembang sangat pesat. Ternyata beberapa destinasi dari taman nasional berhasil dalam mengembangkan ekowisata ini. Bahkan di beberapa wilayah berkembang suatu pemikiran baru yang berkait dengan pengertian ekowisata. Fenomena pendidikan diperlukan dalam bentuk wisata ini.

Hal ini seperti yang didefinisikan oleh Australian Department of Tourism (Black, 1999) dalam Fandeli (2002) yang mendefinisikan ekowisata adalah wisata berbasis pada alam dengan mengikutkan aspek pendidikan dan interprestasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekologis. Definisi ini memberi penegasan bahwa aspek terkait tidak hanya bisnis seperti halnya bentuk pariwisata lainya, tetapi lebih dekat dengan pariwisata minat khusus, alternative tourism atau special interest tourism dengan objek dan daya tarik wisata alam.

Ekowisata memiliki beberapa prinsip, seperti yang disebutkan oleh The Ecotousrism Society (Eplerwood, 1999), yaitu :

1) Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan sifat dan karakter alam dan budaya setempat.

(18)

2) Pendidikan konservasi lingkungan, mendidik wisatawan dan masyarakat akan pentingnya arti konservasi, pendidikan ini dapat dilakukan langsung di alam.

3) Pendapatan langsung untuk kawasan, mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan management pengelola kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan.

4) Partisipasi masyarakat dalam perencanaan, masyarakat diajak dalam merencanakan pengembangan ekowisata. Demikian pula di dalam pengawasan peran masyarakat diharapkan ikut secara aktif.

5) Penghasilan masyarakat, keutungan secara nyata terhadap ekonomi masyarakat dari kegiatan ekowisata mendorong masyarakat menjaga kelestarian kawasan alam.

6) Menjaga keharmonisan dengan alam, semua upaya pengembangan termasuk pengembangan fasilitas untuk utilitas harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam.

7) Daya dukung lingkungan, pada umumnya lingkungan alam mempunyai daya dukung yang lebih rendah dengan daya dukung kawasan buatan.

Meskipun mungkin permintaan sangat banyak tetapi daya dukunglah yang membatasi.

8) Peluang penghasilan pada porsi yang besar terhadap negara, apabila suatu kawasan pelestarian dikembangkan untuk ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan didorong sebesar-besarnya dinikmati oleh negara bagian atau pemerintah daerah setempat.

Selain prinsip, hubungan antar ekowisata dengan pariwisata merupakan hal yang penting harus dipahami. Hubungan ekowisata dengan pariwisata adalah sebuah kunjungan suatu daerah untuk menikmati pemandangan alam dan lingkungan yang masih alami tanpa ada unsur-unsur buatan manusia, namun tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan ecotourism cenderung terjadi pada daerah alami dengan binatang-binatang atau populasi lingkungan dimana penduduk asli tinggal. Oleh karena itu diperlukan hubungan kerja sama yang baik antara masyarakat dengan instansi yang mengelola ekowisata di daerah tersebut untuk dapat mengembangkan ecotourism dengan baik.

(19)

Ekowisata memiliki empat hal penting yang harus diperhatikan yaitu:

komunitas, pendidikan, budaya, dan lingkungan. Empat hal yang harus berjalan secara seimbang tersebut adalah :

1) komunitas setempat harus terlibat sejak penyusunan hingga evaluasi wisata.

2) Wisata ini harus menjadi media belajar bagi wisatawan maupun pengelolanya.

3) Budaya setempat harus diberi tempat agar tetap bertahan di tengah derasnya budaya lain.

4) Kegiatan wisata ini harus memperhatikan kelestarian lingkungan.

Ekowisata memiliki segmen pasar wisata berkelanjutan yaitu bisnis travel, wisata alam, dan wisata budaya. Dengan adanya ekowisata, bisnis travel, penyedia wisata alam, dan wisata budaya dapat bersinergis dan menjadi komponen yang saling melengkapi. Selain itu, ekowisata diharapkan dapat memaksimalkan manfaat ekonomi untuk penduduk lokal, dan memastikan bahwa ekowisata yang dijalankan tidak melebihi daya dukung sosial maupun lingkungan sehingga batasan-batasan pemanfaatan ekowisata ditetapkan bersama antara masyarakat setempat dengan stakeholders lain. Pelaksanaan ekowisata pada dasarnya adalah pelibatan komunitas lokal dalam operasinya.

Operator yang berada di lokasi ekowisata diharapkan bisa memberdayakan masyarakat lokal dalam memberikan rambu-rambu dan persiapan edukasi bagi calon pengunjung. Peraturan dan regulasi merupakan hal penting dalam pelaksanaan ekowisata karena ekowisata yang tidak didasari dengan peraturan yang jelas dapat mengakibatkan tercurinya spesies lokal dan kearifan lokal yang ada di lokasi ekowisata.

2.4. Wisata Kepetualangan Alam Bebas

Kepetualangan merupakan suatu kegiatan dimana pelakunya akan mendapatkan pengalaman yang seru dan menantang. Petualangan selalu identik dengan sebuah perjalanan, baik perjalanan dalam arti sesungguhnya seperti pergi ke suatu tempat, ataupun konotasi seperti “perjalanan hidup” yang berarti sebuah kisah kehidupan. Kepetualang secara umum dikenal sebagai sebuah kegiatan

(20)

menarik yang cukup berbahaya, memiliki risiko dengan dampak yang bermacam-macam sepeti bahaya fisik dan mental. Pengalaman petualangan sangat berdampak kepada psikologis seseorang, dan dapat diartikan sebagai negatif (misalnya ketakutan) atau positif (misalnya tantangan). Bagi sebagian orang, petualangan menjadi harapan besar dalam seseorang. Menurut petualang André Malraux, dalam bukunya La Condition Humaine (1933), "Jika seorang pria tidak siap untuk mempertaruhkan nyawanya, di mana harga dirinya?". Demikian pula, Helen Keller menyatakan bahwa "Hidup adalah berani berpetualang atau tidak."

Kegiatan kepetualangan biasanya dilakukan di luar ruangan (outdoor activities) yang kegiatannya ditujukan untuk rekreasi ataupun kegembiraan bahkan ilmu pengetahuan, contohnya adalah penjelajahan hutan, pengarungan sungai, pemanjatan tebing, penelusuran gua, penyelaman laut, serta olahraga ekstrim lainnya, dan juga ekspedisi maupun penelitian ilmiah. Aktifitas seperti itulah yang membuat kegiatan kepetualangan berhubungan dengan pariwisata.

Aktifitas petualangan memiliki kaitan erat dengan aktifitas wisata, tepatnya kegiatan petualangan saat ini sudah menjadi salah satu kegiatan wisata yang biasa disebut wisata kepetualangan alam bebas. Wisata kepetualangan alam bebas merupakan kegiatan yang menawarkan aktifitas petualangan di alam bebas. Di masa sekarang ini, kegiatan wisata petuangan alam bebas sangat banyak diminati oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia, kegiatan berpetualangan sudah menjadi gaya hidup yang cukup populer di masyarakat.

Kegiatan wisata petualangan alam bebas pun bermacam-macam, trip pendakian gunung, pengarungan jeram sungai, penelusuran gua, pemanjatan tebing, penyelaman laut dll, mulai dari kelas amatir sampai yang profesional sekarang ini sudah tersedia paket wisatanya.

Dalam bisnis pariwisata, arung jeram mulai menyita perhatian masyarakat indonesia, begitu diperkenalkan sebagai olahraga wisata yang mengasikkan, berisiko dan menantang. Sebuah perpaduan antara keindahan alam dan olahraga high risk (Soekirno:2006).

Hal yang cukup menyejukkan dewasa ini adalah, seperti kita ketahui, kegiatan arung jeram telah menjadi suatu permainan dalam pelatihan outbond.

(21)

Para pengelola pelatihan outbond di Jakarta, Yogyakarta, dan daerah lain, sudah beramai-ramai memasukkan kegiatan arung jeram sebagai menu utama dalam pelatihan outbond tersebut. bahkan beberapa konsultan SDM sudah mengembangkan arung jeram sebagai alat untuk asesmen dalam mengukur dimensi teamwork, manajemen risiko, leadership, risk taking dan sebagainya (Soekirno:2006).

2.5. Aspek Standar Keamanan Wisata

Dalam aktivitas wisata, wisatawan sering menggunakan jasa Biro Perjalanan Wisata untuk memudahkan perjalanannya. Hal itu merupakan salah satu faktor yang mendorong muncul dan berkembangnya berbagai macam usaha jasa perjalanan wisata. Biro Perjalanan Wisata akan bertugas mengadakan berbagai macam bentuk paket wisata tentunya dengan memberikan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan wisatawan seperti layanan akomodasi hotel, restoran, transportasi, informasi umum dll. Namun tidak menutup kemungkinan dalam aktivitas wisata bisa terjadi kecelakaan ataupun kejadian lainnya yang dapat merugikan wisatawan karena tidak ditunjang dengan faktor perlindungan keselamatan wisatawan yang jelas. Juga kadang sering terjadi tidak adanya perjanjian khusus yang dibuat secara tertulis antara pihak Biro Perjalanan Wisata dengan wisatawan terkait keselamatan wisatawan itu sendiri. Padahal dalam Pasal 26 poin d Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan telah disebutkan dengan jelas bahwa Pengusaha Pariwisata berkewajiban untuk memberikan kenyamanan, keramahan, perlindungan keamanan, dan keselamatan wisatawan.

Biro Perjalanan Wisata memiliki peranan penting untuk ikut berpartisipasi dalam memberikan perlindungan dan keamanan kepada wisatawan, khususnya wisatawan yang menggunakan jasanya. Wisatawan sebagai individu merupakan subjek hukum dengan segala hak dan kewajiban yang melekat padanya, yang harus dihormati dan dilindungi. Oleh sebab itu, pelaku usaha pariwisata terutama Biro Perjalanan Wisata harus semakin tanggap dalam menghadapi permintaan- permintaan pelanggan terhadap daerah tujuan wisata yang aman dan selalu

(22)

mempertimbangkan faktor keselamatan dan keamanan melalui pemilihan alat transportasi yang tepat.

Dalam Global Code of Ethic, dijelaskan bahwa pemerintah berkewajiban untuk memberi perlindungan kepada wisatawan dan harta bendanya, mengingat dimungkinkan adanya tindak kejahatan dan kekerasan yang akan dialami oleh wisatawan tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah wajib untuk menyediakan sarana keamanan, asuransi, dan segala bantuan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan.76 Berkaitan dengan hal tersebut, dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 26 huruf (d), telah diatur tentang kewajiban Pihak pengusaha pariwisata untuk memberikan kenyamanan, keramahan, perlindungan keamanan dan keselamatan kepada wisatawan.

Seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 2012 Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2012 tentang Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Usaha di Bidang Pariwisata, dan dalam ketentuan Pasal 18, yang menyatakan bahwa :

1) Penyusunan Standar Usaha Pariwisata untuk setiap bidang usaha, jenis usaha dan subjenis usaha pariwisata mencakup aspek produk, pelayanan dan pengelolaan usaha.

2) Penyusunan Standar Usaha Pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersamasama oleh instansi pemerintah terkait, asosiasi usaha pariwisata, asosiasi profesi, dan akademisi.

3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Standar Usaha Pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Berdasarkan uraian di atas, sudah jelas bahwa seluruh kegiatan wisata harus memiliki standarisasi keamanan berdasarkan Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Usaha di Bidang Pariwisata. Khususnya kegiatan wisata kepetualangan alam bebas yang memiliki risiko tinggi. seperti yang telah disebutkan dalam ayat 1 di atas, unsur yang wajib dilengkapi oleh Biro Perjalanan Wisata, untuk mendapatkan Sertifikasi Usaha Jasa Perjalanan Wisata, yang secara garis besar terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu :

(23)

1) Aspek produk

Sebagaimana ditentukan dalam Lampiran Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 4 Tahun 2014 tersebut, dikatakan bahwa paket wisata yang diselenggarakan oleh biro perjalanan wisata memuat minimum keterangan tentang nama paket wisata, durasi perjalanan wisata, rute dan kegiatan perjalanan wisata (itinerary), harga paket wisata dalam mata uang rupiah, moda transportasi, jenis akomodasi, dan perlindungan asuransi perjalanan wisata bagi wisatawan. Tujuan dari adanya perlindungan asuransi ini dilihat dari sudut liberalisasi jasa, dapat menjadi alternatif solusi untuk meningkatkan pendapatan pariwisata secara keseluruhan.

2) Aspek pelayan

Standarisasi dalam aspek pelayanan yang diberikan oleh Biro Perjalanan Wisata bertujuan agar setiap biro perjalanan wisata dapat memberikan standar pelayanan yang bagik bagi wisatawan.Pelayanan adalah kunci utama dalam industri pariwisata. Keramah tamahan dan kejelasan informasi akan membuat wisatawan merasa aman dan nyaman saat menggunakan jasa pariwisata tersebut.

3) Aspek Pengelolaan

Penetapan standarisasi dalam aspek pengelolaan ini lebih difokuskan pada sistem administrasi dan manajemen yang dilakukan oleh suatu usaha biro perjalanan wisata. Dengan adanya sistem administrasi dan manajemen pengelolaan yang baik akan memudahkan pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya dengan baik. Dalam sektor pariwisata, aspek pengelolaan ini dikenal dengan prinsip tata kelola pariwisataan yang baik (Good Tourism Governance).

Arung jeram yang mempunyai risiko tinggi membutuhkan pengawasan safety procedures yang cukup tinggi. Hal ini tidak saja demi pertimbangan keselamatan bagi penggiatnya sendiri, namun juga demi perkembangan arung jeram pada umumnya di masyarakat umum. Walaupun arung jeram olahraga yang memiliki risiko tinggi, namun kita bila kita bisa mengindahkan prosedur keselamatan yang berlaku bukan tak mustahil kita akan selalu aman-aman saja

(24)

berkegiatan olahraga arung jeram. Semua ini kembali pada penggiat arung jeram itu sendiri bagaimana menjaga citra arung jeram sebagai olahraga yang cukup mengasyikkan sekaligus menantang (Soekirno:2006).

(25)

BAB III

GAMBARAN UMUM LOKASI

3.1. Kabupaten Langkat

Kabupaten Langkat merupakan kabupaten yang terletak di Sumatera Utara, Indonesia. Ibu Kotanya berada di Stabat. Kabupaten ini memiliki wilayah seluas 6.272 km² dan berpenduduk sejumlah 902.986 jiwa (Tahun 2000). Kabupaten Langkat memiliki Jarak rata-ratanya dari Kota Medan sekitar 60 Km ke arah barat laut, dan berbatasan langsung dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Wilayah Kabupaten Langkat terdiri dari 23 Kecamatan yang tersebar di dalam 3 wilayah yaitu:

1. Wilayah I : Langkat Hulu 2. Wilayah II : Langkat Hilir 3. Wilayah III : Teluk Haru

Kecamatan-kecamatan yang terdapat di Kabupaten Langkat, yaitu :

1. Wilayah Langkat Hulu, meliputi : Kuala, Sei Bingei, Salapian, Bahorok, Serapit, Kutambaru, Selesai, Binjai.

2. Wilayah Langkat Hilir, meliputi: Stabat, Wampu, Secanggang, Hinai, Padang Tualang, Batang Serang, Sawit Seberang, Tanjung Pura.

3. Wilayah Teluk Haru, meliputi: Babalan, Gebang, Brandan Barat, Sei Lepan, Pangkalan Susu, Besitang, Pematang Jaya.

Kabupaten Langkat memiliki letak geografis yaitu terletak pada 3º14’dan 4º13’

Lintang Utara, serta 93º51’ Bujur Timur dengan batas-batas sebagai berikut : a) Sebelah Utara berbatas dengan Selat Malaka dan Prov. D.I. Aceh b) Sebelah Selatan berbatas dengan Dati II Karo

c) Sebelah Timur berbatas dengan Dati II Deli Serdang

d) Sebelah Barat berbatas dengan Dati D.I Aceh (Aceh Tengah)

Selain itu, kondisi wilayah topografi Kabupaten Langkat merupakan Daerah Tingkat II yang dibedakan atas 3 bagian, yaitu :

a) Pesisir Pantai dengan ketinggian 0-4 m diatas permukaan laut b) Daratan Rendah dengan ketinggian 0-30 m diatas permukaan laut c) Daratan Tinggi dengan ketinggian 30-1200 m diatas permukaan laut

(26)

Dalam hal pariwisata, Kabupaten Langkat memiliki potensi yang sangat menjanjikan dan memiliki objek-objek andalannya sendiri seperti Bukit Lawang, Tangkahan, Batu Katak, Masjid Azizi dll. Namun yang tidak kalah menarik, Kabupaten Langkat memiliki 26 aliran sungai yang melintas melalui kecamatan dan desa–desa, diantara sungai-sungai tersebut adalah Sungai Wampu, Sungai Batang Serangan, Sungai Lepan, Sungai Besitang dan lain-lain. Biasanya sungai- sungai tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari seperti untuk pengairan, perhubungan dan lain-lain. Namun, selain untuk kehidupan sehari-hari, sungai juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan industri pariwisata sebagai tempat pemandian maupun lokasi arung jeram.

3.2. Sungai Bingei

3.2.1. Gambaran Umum Sungai Bingei

Sungai Bingei merupakan salah satu sungai yang berada di Kabupaten Langkat. Sungai Bingei memiliki aliran yang deras karena hulunya yang terletak di gunung Sibayak menyebabkan adanya perbedaan elevasi yang cukup curam. Sungai Bingei memiliki air yang cukup bersih, segar dan sejuk sehingga sangat memiliki manfaat bagi masyarakat sekitar yang biasanya digunakan untuk mencuci, mandi, bahkan sebagai sumber irigasi perairan yang mengaliri persawahan hingga ratusan hektar di dua kabupaten yaitu Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang. Sistem irigasi ini merupakan aspek untuk mendukung hidup masyarakat yang memilih komoditi beras sebagai bahan makanan pokok untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Selain itu, sungai Bingei juga terkenal akan potensi wisatanya yaitu pemandian alam dan wisata arung jeram. Arung jeram yang merupakan kegiatan kepetualangan alam bebas, yang sudah mulai banyak diminati oleh masyarakat karena keseruan dan tantangannya. Sungai Bingei memiliki tingkat kesulitan 2 – 3, yang merupakan tingkatan yang cukup menantang namun aman bahkan bagi anak-anak sehingga sangat cocok menjadi lokasi dalam kegiatan arung jeram. Sungai Bingei merupakan sungai yang relatif tidak besar, bebatuan, berair jernih dengan jeram-jeram yang cukup banyak

(27)

dan bervariasi. Kedalaman air bervariasi sehingga pada tempat-tempat tertentu wisatawan diajak untuk berenang maupun loncat dari batuan ke sungai.

Alam sekitar Sungai Bingei menawarkan keindahan hutan tropis. Pohon- pohon tinggi menjulang dan sajauh mata memandang hanya hijau alam yang tampak, rumah-rumah warga pun tidak jauh dari sungai dan memberikan pemandangan yang alami. Kicauan burung dan suara arus menambah suasana menjadi hidup dan bersemangat.

3.2.2. Aksesibilitas Sungai Bingei

Untuk mencapai lokasi arung jeram sungai Bingei. Pengunjung perlu melalui rute Medan – Binjai terlebih dahulu. Jika berangkat dari Medan, pengunjung akan menempuh perjalanan sekitar 1 jam lebih perjalanan untuk mencapai kota Binjai dengan angkutan umum ataupun kendaraan pribadi.

Pengunjung juga dapat menghemat waktu jika menggunakan kereta api menuju Binjai dari kota Medan dengan waktu tempuh hanya 30 menit.

Setibanya di Binjai. Pengunjung melanjutkan perjalanan menuju desa Namu Sira-sira yang merupakan lokasi basecamp penyelia arung jeram yang ada di sungai Bingei. Untuk menuju kesini, pengunjung dapat menggunakan angkutan umum ataupun kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Kondisi jalan menuju Namu Sira-sira ini lumayan bervariasi, mulai dari jalanan yang bagus sampai ada juga yang berlubang. Disepanjang jalan pengunjung dapat melihat areal persawahan, kebun, ladang, sesekali aliran sungai bingei terlihat sekitar puluhan meter. Daerah ini masih cukup asri dan hijau, jumlah kendaraan masing sangat kurang, tidak ada kemacetan, sehingga suasananya masih sangat tenang sebagaimana alam pedesaan pada umumnya.

(28)

BAB IV

STANDAR KEAMANAN WISATA ARUNG JERAM

Kegiatan wisata alam memang menarik untuk dilakukan, selain untuk refreshing, wisata alam juga dapat memberikan pengalaman ataupun pengetahuan menarik bahkan dapat melatih karakter pelakunya. Maraknya minat masyarakat terhadap kegiatan wisata alam memang merupakan kemajuan baik yang dapat meningkatkan perekonomian jika masyarakat setempat bisa mengolahnya dengan baik. Namun, hal terpenting yang harus selalu diketahui adalah setiap kegiatan wisata memiliki risiko terhadap keamanan dan kenyaman wisatawan. Terutama wisata alam yang berbasis kepetualangan. Trip pendakian, arung jeram, berselancar, panjat tebing dan seluruh kegiatan wisata alam berbasis kepetualangan sudah tentu memiliki risiko yang sangat tinggi, yang level risikonya memang berbeda dengan kegiatan wisata lainnya karena terdapat faktor bahaya yang tidak hanya akibat pelaku sendiri melainkan bisa juga karena faktor alam.

4.1. Standar Kemanan Wisata Arung Jeram

Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan alam bebas memang cukup berbahaya, apalagi jika dijadikan kegiatan wisata yang pelakunya adalah wisatawan yang belum tentu memiliki keahlian dalam kegiatan tersebut. maka dari itu standar keamanan wisata alam bebas sangat diperlukan agar penyelia jasa wisata dapat memenuhi standar tersebut untuk meminimalisir risiko. Standar tersebut telah disusun dan harus dipenuhi oleh setiap penyelia wisata. Seperti yang tertulis pada peraturan pemerintah Nomor 52 Tahun 2012 tentang Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Usaha di Bidang Pariwisata, dan dalam ketentuan Pasal 18 ayat 1 mengenai aspek-aspek yang harus dipenuhi adalah aspek produk, aspek pelayanan dan aspek pengelolaan. Selain itu, juga tertulis secara khusus Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014 tentang Standar Usaha Wisata Arung Jeram, yang terlampir sebagai berikut :

(29)

No. Aspek Unsur Sub Unsur 1. Produk A. Paket Arung

Jeram

1. Ketersediaan alur sungai berjeram.

2. Keterediaan akses jalan yang aman ke lokasi memulai pengarungan (put in).

3. Ketersediaan lokasi memulai pengarungan (put in) yang berada di arus tenang.

4. Ketersediaan akses lokasi akhir pengarungan (take out) yang berada di arus tenang.

5. Ketersediaan akses jalan keluar dan lokasi akhir pengaungan.

6. Ketersediaan ruang atau area untuk melakukan pengarahan (briefing) bagi wisatawan.

B. Pemandu Arung Jeram

7. Bersertifikat atau berlisensi yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang.

8. Memiliki pengetahuan dan rekam jejak tentnag lokasi arung jeram dan kemampuan penanganan wisatawan.

C. Peralatan Arung Jeram

9. Memiliki peralatan dalam keadaan baik, terawat dan layak pakai sesuai standar dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan meliputi :

 Perahu karet, kayak, kano atau sarana lainnya

 Dayung

 Pelampung

 helm

10. Jumlah peralatan yang dimiliki sesuai denhgan rasio jumlah wisatawan.

D. Peralatan Penunjang

11. Memiliki peralatan perbaikan (repair kit).

12. Memiliki tali lempar, tali pembalik, peluit, pisau penyelamatan, carabiner, katrol dan pompa.

13. Memiliki alat komunikasi.

14. Memiliki perlengkapan P3K

15. Tersedia sarana transportasi untuk mengantar wisatawan.

2. Pelayanan A. Standar Operasional Prosedur

1. Penerimaan dan pemberian informasi melalui telepon, faksimili, dan email mengenai :

 Paket kegiatan

 Jadwal

 Produk, dan

 harga

2. Reservasi dan registrasi 3. Pembayaran tunai/non tunai 4. Penitipan barang wisatawan 5. Pelaksanaan kegiatan arung jeram

6. Keamanan oleh satuan pengaman di lokasi kantor, yang memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) satuan pengaman yang dikeluarkan oleh kepolisian Republik Indonesia.

7. Keselamatan dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.

8. Penanganan keluhan wisatawan.

(30)

B. Pelayanan Lainnya

9. Pemberian asuransi wisatawan untuk kegiatan arung jeram.

10. Pengelolaan A. Organisasi 1. Profil perusahaan yang terdiri atas :

 Visi dan misi

 Struktur organisasi yang lengkap dan terdokumentasi

 Uraian tugas dan fungsi yang lengkap setiap jabatan dan terdokumentasi

2. Dokumen SOP atau petunjuk pelaksanaan kerja 3. Rencana usaha yang lengkap, terukur, dan

terdokumentasi.

B. Manajemen 4. Pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang terdokumentasi.

5. Kerjasama dengan dokter, klinik atau rumah sakit yang terdokumentasi.

6. Pelaksanaan evaluasi kinerja manajemen yang terdokumentasi.

7. Memiliki laporan pemandu (log book) dan laporan pengarungan (trip report) yang terdokumentasi

C. Sumber Daya Manusia

8. Karyawan menggunakan pakaian seragam yang bersih dan sopan dengan mencantumkan identitas dan/logo perusahaan.

9. Memiliki perencanaan dan pengembangan karir.

10. Memiliki program pelatihan peningkatan kompetensi.

11. Memiliki program pelatihan penyelamatan rutin bagi pekerja lapangan.

D. Sarana dan Prasarana

12. Ruang kantor yang dilengkapi peralatan dan perlengkapan dengan sistem pencahayaan dan sirkulasi udara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

13. Area kantor depan (front office) dilengkapi :

 Meja dan kursi

 Tempat penitipan barang yang aman

 Tempat menyimpan barang berharga yang aman

14. Peralatan komunikasi yang terdiri dari telepon, faksimili, dan /atau fasilitas internet

15. Peralatan komunikasi khusus koordinasi dan keadaan darurat (emergency).

16. Ruang karyawan dilengkapi :

 Ruang ganti karyawan wanita dan laki-laki terpisah

 Tempat penyimpanan pakaian 17. Ruang medis dilengkapi :

 Oksigen

 Tempat tidur

 Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

18. Ruang atau area perbaikan peralatan arung jeram.

19. Ruang atau area penyimpanan peralatan arung jeram.

(31)

20. Ruang/tempat ibadah dengan kelengkapannya, bagi karyawan.

21. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sesuai ketentuan perundang-undangan.

22. Tersedia kamar bilas dan/atau kamar ganti pria dan wanita terpisah dengan sirkulasi dan pencahayaan udara yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dengan jumlah paling sedikit 5 (lima) kamar.

23. Toilet umum pria dan wanita yang terpisah di lokasi kantor, dengan sirkulasi dan pencahayaan udara peraturan perundang- undangan.

24. Instalasi listrik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

25. Instalasi air bersih sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

26. Papan nama :

 Dibuat dari bahan aman dan kuat dengan tulisan yang terbaca dan telihat jelas

 Dipasang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

27. Fasilitas parkir yang bersih, aman dan terawat.

28. Papan himbauan keselamatan dan keamanan.

29. Peta lokasi jeram, daerah berbahaya dan jalur evakuasi yang dipahami seluruh petugas lapangan.

4.2. Standar Keamanan Wisata Arung Jeram Sungai Bingei

Arung jeram merupakan salah satu kegiatan wisata berbasis kepetualangan alam bebas yang cukup seru dan menantang. Untuk melakukan kegiatan ini, diperlukan sungai yang cukup besar, panjang dan memiliki jeram dengan tingkat 2–3. Sungai Bingei yang berlokasi di kabupaten Langkat ini memiliki potensi yang cukup baik sebagai arena arung jeram.

Kegiatan wisata idealnya ditangani oleh pengelolah yang profesional demi keamanan dan kenyamanan wisatawan. Arung jeram yang merupakan wisata kepetualangan alam bebas telah dipahami sebagai kegiatan yang berisiko tinggi.

Kemampuan khusus sangat diperlukan untuk dapat melewati jeram-jeram dengan tingkat kesulitan 2–3. Oleh sebab itu, kegiatan wisata arung jeram wajib ditangai langsung oleh pengelolah yang profesional dari segi produk, pelayanan dan pengelolaan.

Di sungai Bingei sendiri, telah ada 2 penyelia wisata arung jeram yang menawarkan paket arung jeram di sungai Bingei yaitu Explore Sumatera dan Rapid Plus. Sebagai penyelia Explore Sumatera dan Rapid Plus wajib memenuhi

(32)

standar keamanan wisata arung jeram yang sesuai dengan peraturan. Dalam Kertas Karya ini, penulis akan fokus dalam pembahasan standar keaamanan wisata arung jeram yang dimiliki Explore Sumatera. Adapun standar keamanan yang telah di terapkan di sungai Bingei oleh Explore Sumatera adalah :

4.2.1. Aspek Produk

Produk merupakan hal utama yang akan ditawarkan kepada klien. Produk dapat berbentuk barang maupun jasa. Dalam konteks kegiatan wisata, produk merupakan suatu susunan atau rangkaian kompleks yang berisi seluruh informasi mengenai barang dan jasa yang akan diberikan kepada klien.

produk biasanya berupa informasi, jenis – jenis paket, pemandu, peralatan, akomodasi, transportasi, jadwal (itinerary), rute, dan asuransi. Adapun produk yang dimiliki Explore Sumatera berupa :

A. Paket Arung Jeram

Paket wisata merupakan produk perjalanan yang telah disusun secara kompleks dimana biaya telah mencakup beberapa fasilitas seperti transportasi, konsumsi, akomodasi, dan fasilitas lainnya tergantung dengan apa yang telah disusun oleh penyelia. Explore Sumatera sebagai penyelia wisata alam bebas, yang juga berfokus dalam kegiatan arung jeram. Dalam standar usaha wisata arung jeram yang telah disusun oleh Faji tahun 2016, terdapat unsur-unsur penting yang harus menjadi pertimbangan penting dalam paket wisata arung jeram yaitu ketersediaan alur sungai berjeram, aksesibilitas, lokasi titik start pengarungan yang merupakan arus tenang, akses jalan keluar, area pengarahan (briefing area). Berdasarkan unsur-unsur tersebut, Explore Sumatera memiliki paket arung jeram yang cukup bervariasi berdasarkan lokasi maupun fasilitas. Adapun paket yang ditawarkan, yaitu :

1) Paket Sungai Binge

Sungai Binge terletak di desa Namu Sira-Sira Kab.Langkat.

sungai ini memiliki jeram-jeram dengan kelas 2-3 yang cukup menantang dan aman untuk diarungi. Untuk sungai binge ini sendiri, Explore Sumatera menawarkan paket dengan tarif mulai

(33)

dari Rp.250.000/pax–Rp.425.000/pax tergantung keinginan wisatawan dengan fasilitas yang berbeda-beda. Secara umum fasilitas yang diberikan mencakup perlatan pengarungan, pemandu, makan siang, transportasi lokal, retribusi lokasi, toilet, mushalla, parking area, kantin, pondok makan dan souvenir.

Sungai binge memiliki akses yang cukup mudah, jarak tempuh hanya sekitar 30 menit dari area basecamp Explore Sumatera.

Walaupun jalan menuju lokasi titik start pengarungan sedikit berbatu, namun hal akses ini masih layak untuk digunakan. Aliran sungai tak jauh dari perkampungan warga, sehingga sungai ini juga memiliki akses keluar yang cukup mudah, tepatnya di dekat pemandian alam yang juga dikelola oleh masyarakat setempat.

Untuk area briefing, biasanya akan dilakukan di basecamp Explore Sumatera dan di titik start pengarungan. Paket sungai Binge merupakan paket yang paling populer di Explore Sumatera

2) Paket Sungai Wampu

Sungai Wampu adalah sungai yang mengalir melintasi dua kabupaten di Sumatera Utara yaitu Kabupaten Karo di bagian hulu dan Langkat di bagian hilir. Explore Sumatera menawarkan dua jenis paket wisata arung jeram untuk di sungai Wampu dengan harga yang berbeda, Rp.250.000/pax untuk paket Amazing Wampu Experience, dan Rp.350.000/pax untuk paket Full Day Wampu Experience. Untuk pengarungan sungai Wampu, titik start Arung jeram di dimulai dari desa Marike.

Desa Marike dapat ditempuh dalam waktu 2 jam dari kota Medan dan sekitar 1 jam jika dari objek wisata rehabilitasi Orangutan Bahorok.

Fasilitas yang ditawarkan secara umum mencakup mencakup perlatan pengarungan, pemandu, makan siang, retribusi lokasi, tranportasi lokal. Untuk fasilitas camp, Explore Sumatera saat ini masih belum memiliki basecamp di sungai Wampu, namun untuk

(34)

mengatasinya, Sumatera menyewa mes PTPN yang memiliki fasilitas yang persis seperti di basecamp sungai Binge.

Durasi dan panjang pengarungan sungai Wampu dibedakan sesuai dengan jenis paket yang disediakan. Untuk paket Amazing Wampu Experience, waktu pengarungan berkisar 2,5 - 3 jam menempuh jarak lebih kurang 13 km dimulai dari desa Cangkolan hingga finish di Pamah Durian. Sementara, Untuk paket Full Day Wampu Rafting Trip waktu pengarungan berkisar 4,5 - 5 jam menempuh jarak lebih kurang 25 km dimulai dari desa Cangkolan hingga finish di Jembatan Bohorok.

Sungai wampu menyajikan bukan hanya jeram yang menantang, tetapi juga panorama alam yang indah. Terdapat sumber air panas di tepi sungai, yang hanya dapat dicapai dengan berperahu. Selain itu juga kita dapat membasahi badan sambil berperahu di air terjun bertingkat yang terdapat di tepi sungai.

Perjalanan yang melintasi rerimbunan pohon-pohon dan kawasan perkebunan memberikan sajian pemandangan yang bervariasi. Terdapat anak sungai yang mengalir jernih dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, dan beristirahat sejenak sambil berenang merupakan aktifitas yang menyenangkan untuk dilakukan.

3) Paket Sungai Alas

Sungai Alas adalah sungai yang terletak di Provinsi Aceh, dan merupakan sungai terpanjang di Provinsi Serambi Mekkah ini, sungai ini melewati kawasan taman nasional Gunung Leuser, terus mengalir sampai ke Samudera Hindia, sungai ini berada di sepanjang Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Selatan. Sungai ini memiliki arus yang luar biasa menarik perhatian penggemar arung jeram dari seluruh dunia. Salah satu keunggulan Sungai Alas adalah dikelilingi hutan yang masih asri di Taman Nasional Gunung

(35)

Leuser.Terletak di 165 km tenggara Takengon, Sungai Alas mengalir membelah Taman Nasional Gunung Leuser. Daerah ini sangat populer di kalangan anak muda Kabupaten Aceh Tenggara maupun Kabupaten Gayo Lues.

Explore Sumatera juga menawarkan paket wisata arung jeram di sungai Alas. Namun untuk paket ini, Explore Sumatera bekerja sama dengan operator yang beroprasi di sungai Alas. Teknis pengarungan dipercayakan kepada operator tersebut. namun Explore Sumatera tetap menurunkan satu orang crew mereka sebagai pemandu dan pengawas selama kegiatan. Explore Sumatera memfasilitasi transportasi dari medan menuju Ketambe yang merupakan lokasi titik start pengarungan. Selain transportasi, Explore Sumatera juga memfasilitasi kebutuhan konsumsi wisatawan selama berkegiatan.

Paket pengarungan sungai Alas memang terbilang eksklusif dengan harga Rp. 1.850.000/pax. Namun tentunya dengan fasilitas yang sesuai yang akan memuaskan wisatawan. Paket pengarungan sungai Alas memiliki pasar yang berbeda, karena mayoritas wisatawan pengarungan sungai Alas adalah wisatawan mancanegara.

Pengarungan dimulai dari desa Ketambe yang terkenal dengan pusat penelitian Orangutannya. Rute pengarungan pun melewati kawasan Taman Nasional Gunung Leuser sehingga wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan pegunungan dan hutan yang asri dan banyak satwa liar dapat dilihat, terutama monyet dan beragam burung berwarna kaya yang indah. sungai Alas memiliki jeram dengan grade 3 – 4 sehingga menuntut kinerja yang baik dalam pengarungan. Yang lebih menarik, durasi pengarungan paket ini memakan waktu yang lebih dari satu hari, sehingga wisatawan dapat menikmati suasana berkemah di pinggiran sungai Alas. Titik finish pengarungan berada di Kutacane, Kab. Aceh Tenggara.

(36)

B. Pemandu Arung Jeram

Pemandu merupakan hal penting dalam kelangsungan kegiatan wisata. Dalam arung jeram pemandu berperan penting untuk memberikan arahan dan pengawasan serta pertolongan dalam keadaan darurat. Standar pemandu wisata arung jeram ditentukan sesuai dengan standar usaha wisata arung jeram yang telah disusun FAJI 2016 mencakup serifikasi atau lisensi pemandu yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang, dan pengetahuan rekam jejak tentang lokasi arung jeram serta kemampuan penanganan wisatawan. Untuk Explore Sumatera sendiri, sebagai penyelia wisata yang menyediakan paket wisata arung jeram, tentu wajib memiliki pemandu dengan standar seperti yang telah disebutkan di atas.

Pada dasarnya , sertifikasi kompetensi merupakan proses yang dimulai dari permintaan calon peserta atau industri arung jeram kepada LSP untuk melakukan sertifikasi bagi pemandungnya.

Tahapan dari proses sertifikasi pemandu arung jeram adalah :

 Pesertamengajukan permohonan sertifikasi ke LSP.

 Peserta memilih TUK ketika proses pendaftaran.

 LSP menunjuk asesor untuk melakukan asesmen terhadap peserta uji kompetensi.

 Tim asesor kompetensi melakukan asesmen terhadap peserta uji kompetensi.

 Tim asesor kompetensi memberikan laporan asesmen yang telah dilaksanakan kepada LSP.

 LSP membentuk komite teknik untuk mengkaji rekomendasi dari tim asesor.

 Komite teknik memberi rekomendasi hasil sertifikasi kepada LSP.

 LSP memberikan sertifikasi kepada peserta uji kpmpetensi yang dinyatakan kompeten .

 LSP tetap melakukan surveilen/pengawasan terhadap Peserta Uji Kompetensi selama masa berlaku sertifikat (3 tahun).

(37)

Sesuai standar dan prosedur yang berlaku, Explore Sumatera telah memiliki pemandu-pemandu yang telah bersertifikat SKKNI.

Secara teknis, pemandu arung jeram harus memiliki 3 poin penting, yaitu Skill, Pengetahuan dan Attitude.

Explore Sumatera memiliki 15 orang pemandu yang telah memiliki sertifikat SKKNI. Selain sertifikat, dalam segi teknis Explore Sumatera juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yaitu :

1) Trip Leader

Trip Leader merupakan personil yang telah memiliki kecakapan dan pengalaman yang tinggi. Dari segi skill Trip Leader telah mampu mengendalikan perahu, melakukan pertolongan pertama, teknik tali-temali dll. Dari segi pengetahuan, Trip Leader harus mampu membaca situasi, membaca jeram sungai dan yang terpenting dapat mengambil keputusan sebagai pemimpim tertinggi saat berada di lapangan. Trip Leader juga bertugas untuk mengawasi seluruh kinerja guide yang lain saat berada di lapangan. Untuk saat ini, Explore Sumatera memiliki 5 personil Trip Leader.

2) Guide

Guide merupakan personil yang juga memiliki peran memandu, mengawasi wisatawan. Guide juga harus memiliki kemampuan untuk mengendalikan perahu dan melakukan penyelamatan dan pertolongan. Saat berada di lapangan, guide berada di bawah komando Trip Leader. Guide juga memiliki tinggakatan yang diukur berdasarkan kemampuan dan pengalaman yaitu Junior Guide, Guide, dan Senior Guide. Untuk saat ini Explore Sumatera memiliki 10 personil Guide.

3) Rescue

Rescue merupakan personil yang bertugas khusus untuk melakukan penyelamatan dan pertolongan. Tim rescue biasanya bergerak dalam satu perahu khusus yang berada di posisi paling

(38)

depan saat kegiatan pengarungan. Tim rescue biasanya diisi oleh personil guide Explore Sumatera.

C. Peralatan Arung Jeram

Sebagai salah satu kegiatan pecinta alam, arung jeram mempunyai risiko yang tinggi, namun risiko tersebut dapat diantisipasi dengan tersedianya peralatan yang memadai dan dukungan kemampuan berarungjeram yang baik. Dalam kegiatan arung jeram, peralatan dibagi atas 2 kategori yaitu perlatan utama dan pendukung. Peralatan utama adalah perahu, pelampung, dayung, helm, dan tali penambat.

Sementara, peralatan pendukung berupa pompa, webbing, wet suit, drybag, P3K, tali lempar serta peralatan rescue seperti pisau, carabiner, pulley dll. Kegiatan arung jeram yang berisiko tinggi mutlak harus dilaksanakan dengan menggunakan alat-alat tersebut.

Maka sudah menjadi kewajiban bagi penyelia jasa wisata arung jeram untuk menyediakan peralatan dalam keadaan baik, terawat dan layak pakai sesuai dengan standar. Selain itu, jumlah peralatan yang dimiliki oleh penyelia harus sesuai dengan rasio jumlah wisatawan.

Explore Sumatera memiliki peralatan arung jeram yang cukup lengkap dengan kondisi yang cukup baik. Explore Sumatera juga telah menyusun manajemen perawatan alat yang cukup baik dan terorganisir. Untuk saat ini, Explore Sumatera memiliki sekitar 20 unit perahu karet 120–130 set peralatan personal seperti helm, pelampung dan dayung serta seluruh peralatan pendukung lainnya. Explore Sumatera juga melakukan peminjaman atau penyewaan alat dengan operator atau organisasi lain jika terjadi kekurangan peralatan. Sejauh ini Explore Sumatera memiliki peralatan yang jumlahnya sesuai dengan rasio wisatawan.

4.2.2. Aspek Pelayanan

pengertian pelayanan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pelayanan adalah menolong menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain seperti

Gambar

Tabel Standar Keamanan Explore Sumatera

Referensi

Dokumen terkait

Saya akan tinggal beberapa hari di tempat ini.” Dalam hati Indara Pitara tersenyum membayangkan dia dapat melihat lagi para bidadari yang sedang mandi.. Nenek pun merasa

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, diketahui bahwa usaha manisan buah Kak Nong di Desa Teupin Punti Kecamatan Syamtalira Aron Kabupaten

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui prevalensi PJK pada penderita DM tipe 2, karakteristik pasien DM tipe 2 berdasarkan

EIGRP forms neighbor relationships with adjacent routers in the same Autonomous System (AS). EIGRP supports IP, IPX, and Appletalk routing. EIGRP applies an

Berdasarkan Surat Penetapan Penyedia Jasa dari Panitia Pengadaan Langsung Jasa Konstruksi Nomor 06/PAN-PL/RUKO-DM/2012 tanggal 17 Juli 2012 untuk Pekerjaan Pemasangan

Lingkup Pekerjaan : Menyelenggarakan sistem PDE Kepabeanan Impor, BC 2.3 Impor, Ekspor dan Manifes dalam rangka penyelesaian formalitas pabean atas Pemberitahuan Pabean

Formulir Pernyataan Menjual Saham tersebut bisa didapatkan pada Biro Administrasi Efek (BAE) yaitu PT Datindo Entrycom selama Periode Pernyataan Kehendak Untuk Menjual (22 Januari

Hasil penelitian dalam menerapkan bimbingan kelompok teknik self management yang telah dilakukan oleh peneliti untuk meningkatkan sholat dhuha siswa MA