Dikirimkan 18 September 2018, Diterima 7 Mei 2019, Terbit online 1 Juni 2019 Corresponding Author: Roy P Malau – e-mail –[email protected]
Reduksi Logam Merkuri (Hg) Menggunakan Strain Jamur Lokal yang Diisolasi dari Kawasan Pertambangan Emas tanpa Izin Kuansing, Riau
Mercury(Hg) Reduction by Local Fungal Strain Isolated from Kuansing Illegal Gold Mining Region, Riau
Malau RP1, Martina A2
1Panam, Pekanbaru
2Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau, Pekanbaru, Riau
Malau RP, Martina A. 2019–Reduksi Logam Merkuri (Hg) Menggunakan Strain Jamur Lokal yang Diisolasi dari Kawasan Pertambangan Emas tanpa Izin Kuansing, Riau. Jurnal Mikologi Indonesia 3 (1): 1-9.
Abstrak
Pencemaran lingkungan dari penambangan emas berhubungan dengan kandungan logam berbahaya Hg dari limbah tailing. Aplikasi isolat-isolat jamur di dalam menghilangkan logam berat di dalam air limbah dilaporkan lebih murah dan lebih aman terhadap lingkungan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan isolat-isolat jamur lokal yang diisolasi dari kawasan penambangan emas tanpa izin, Kuansing, Riau, di dalam mereduksi kandungan Hg pada air limbah penambangan emas. Jamur disiapkan pada medium PDA selama 7 hari dan ditumbuhkan dalam medium air sungai yang mengandung limbah Hg pada kondisi agitasi 150 rpm selama 7 hari. Kemampuan pengurangan logam Hg oleh isolat jamur dianalisis dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat mampu mereduksi kadar Hg pada limbah. Isolat jamur LMBO4 dan Penicillium sp. strain PN6 masing-masing memiliki kemampuan tertinggi untuk mengurangi Hg yaitu 0,0492 mg/L (82%) dan 0,0470 mg/L (78,42%).
Kata kunci – bioremediasi – jamur – merkuri – Riau – tambang emas
Abstract
Environmental pollution from gold mining activity is related to mercury (Hg) content in the wastewater from the tailing. Fungal application in removing heavy metals from the wastewater was reported cheaper and eco-friendly. The purpose of this research was to analyze the capability of local fungal isolated from the illegal gold mining region in reducing Hg content in the gold mining waste water. The fungal isolates were cultured in PDA medium for 7 days and were agitated in river water medium concontaining Hg at 150 rpm for 7 days.
The ability of Hg removal by the fungal isolates were determined by the AAS. The results showed that all fungal isolates could remove Hg. Strain LMBO4 and Penicillium sp. strain
JMI
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3 No 1(2019): 1-9
Jurnal Mikologi Indonesia
Available online at: www.jmi.mikoina.or.id
ISSN:2579-8766
Online
2
PN6 exhibited highest Hg-removal activities by 0.0492 mg/L (82%) and 0.0470 mg/L (78.42%), respectively.
Key words – bioremediation– fungi – Mercury –Riau – gold mining
Pendahuluan
Pertambangan Emas tanpa Izin (PETI) adalah kegiatan penambangan yang dilakukan oleh para penambang emas atau yang secara lokal disebut penambang emas tradisional yang tidak memiliki izin penambangan rakyat (IPR) (Bambang 2012). Proses pengolahan biji emas yang dilakukan di Kawasan Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau meliputi proses amalgamasi dimana proses penggilingan dan proses pembentukan amalgam dilaksanakan bersamaan di dalam suatu amalgamator. Umumnya merkuri (Hg) yang dimasukkan ke dalam tromol berkurang pada saat akhir proses karena terbawa pada ampas (Ruslan & Khairuddin 2011).
Dinas Kesehatan Kuansing (2013) menyatakan bahwa air sungai Kuansing telah tercemar Hg dengan kadar mencapai 0.0034 mg/L dan telah melebihi batas baku mutu yaitu 0.001 mg/L. Hg merupakan salah satu jenis polutan yang bersifat toksik sehingga menimbulkan masalah serius bagi kesehatan manusia. Paparan Hg dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan yaitu keracunan akut, seperti peradangan tekak, dyspaghia, muntah, hepatitis, pembengkakan kelenjar ludah, dan keracunan kronis, seperti gigi menjadi tanggal, nephritis, diare, penurunan berat badan, dan jiwa akan tertekan (Widowati et al. 2008).
Bioakumulasi Hg dalam Otak dan Ginjal pada akhirnya mengarah pada penyakit neurologis (Ahyani 2011).
Hg sangat berbahaya terhadap ekosistem apabila kecepatan pembentukan metal-Hg dari Hg anorganik lebih besar daripada demetilasinya. Metilasi terhadap jenis Hg anorganik adalah produk yang terjadi melalui proses yang sangat kompleks. Ketika masuk ke permukaan air, Hg akan masuk ke suatu siklus yang kompleks, dimana suatu jenis dapat dikonversi menjadi berbagai macam jenis. Hg dapat terikat pada partikel, mengendap di dasar perairan, dan terakumulasi dalam sedimen. Konsentrasi karbon organik terlarut, keberadaan bakteri, dan kondisi pH merupakan faktor utama terjadinya metilasi Hg. Semakin besar konsentrasi karbon organik terlarut dan semakin netral pH, akan menyebabkan semakin besar kecepatan terjadinya metal-Hg yang selanjutnya akan terakumulasi di dalam plankton dan ikan untuk kemudian masuk ke rantai makanan (Corwin 2009).
Pada dasarnya logam berat dalam air buangan dapat dipisahkan dengan proses fisika dan kimia, namun hal tersebut mempunyai kelemahan seperti karbon aktif yang digunakan sebagai adsorben harganya mahal, membutuhkan bahan kimia dalam jumlah besar, dan akan menghasilkan lumpur berbahaya yang beracun dalam jumlah yang besar. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengolahan dengan cara lain, seperti biologis dengan memanfaatkan tumbuhan atau mikroorganisme untuk menyerap atau mentransformasi logam berat.
Keuntungan penggunaan jamur di dalam bioremediasi logam berat dibandingkan dengan mikroorganisme lainnya adalah kapasitas penyerapan yang signifikan dengan harga yang murah (Melgar et al. 2010). Jamur memiliki kemampuan mengakumulasi logam Hg melalui pengikatan pada dinding sel jamur (Sujoy et al. 2077). Vimala & Das (2009) juga melaporkan bahwa jamur Aspergillus flavus berpotensi dalam perlindungan lingkungan dan pemulihan logam.
Beberapa isolat jamur yang berasal dari Riau telah diketahui mempunyai kemampuan dalam remediasi minyak bumi dan bersifat ligninolitik (Jatmika 2015), seperti Penicillium sp.
strain PN6 yang mampu mendegradasi minyak bumi sebanyak 89%, Aspergillus sp.2 sebanyak 82%, dan A. fumigates strain KP sebanyak 73%. Minyak bumi diketahui mengandung logam berat sehingga besar kemungkinan isolat-isolat jamur lokal dari area penambangan emas mampu mereduksi logam berat seperti Hg.
3
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan isolat-isolat jamur lokal yang diisolasi dari lokasi penambangan emas di Pertambangan Emas Tanpa Izin di Sungai Singingi, Desa Logas, Kabupaten Kuansing (Provinsi Riau) di dalam mereduksi senyawa logam Hg. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada berbagai stakeholder tentang potensi penggunaan isolat-isolat jamur lokal di dalam pengolahan limbah di Kawasan PETI di Sungai Singingi, Desa Logas, Kuansing, Riau.
Metoda Penelitian Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan di Kawasan PETI di sungai Singingi, Desa Logas, Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau yang merupakan tempat masyarakat melakukan aktivitas penambangan emas tanpa izin. Sampel diambil pada tanggal 24 Februari 2018 saat cuaca cerah atau sebelum pengambilan sampel tidak terjadi hujan. Pengambilan sampel dilakukan pada aliran sungai bekas pencucian emas. Sebanyak 1 jerigen berukuran 5 Liter sampel diambil menggunakan bottle water sampler kemudian dibawa ke laboratorium. Sampel yang telah diambil dimasukkan ke dalam botol kaca lalu disaring dengan kertas saring pada corong penyaring untuk membersihkan sampel dari kotoran seperti lumpur dan pasir, lalu disaring kembali menggunakan kertas Whatman No.42, dan kemudian disimpan dalam refrigerator pada suhu 4ºC (APHA 1995).
Pembuatan Medium Pertumbuhan
Medium pertumbuhan dibuat dengan cara memasukkan 100 mL sampel air sungai kedalam labu Erlenmeyer berukuran 250 mL. pH sampel sebelum pemberian isolat, diatur terlebih dahulu menjadi 6, kemudian ditambahkan glukosa sebanyak 0,01 mg dan diaduk sampai homogen. Medium disterilkan dengan cara filtrasi menggunakan membran filter berukuran 0,45 µm (Shivakumar et al. 2014).
Pembuatan Larutan Standar Hg
Sebanyak 0,1354 g HgCl2 ditimbang dan dimasukkan dalam labu ukur 100 mL, kemudian dilarutkan di dalam 75 mL akuades dan 1 mL HNO3 pekat. Volume labu ukur 100 mL dicukupkan dengan akuades sampai tanda batas (1000 ppm). Larutan Hg 10 ppm dibuat dengan cara memindahkan 10 mL larutan baku 100 mg Hg/L (100 ppm) kedalam labu ukur berukuran 100 mL, kemudian diencerkan dengan akuades sampai tanda batas lalu dikocok hingga homogen. Pembuatan larutan Hg 1 ppm dilakukan dengan cara memindahkan 10 mL larutan standar 10 ppm kedalam labu ukur berukuran 100 mL, lalu diencerkan dengan akuades sampai tanda batas lalu dikocok hingga homogen. Pembuatan larutan Hg 0,1 ppm dilakukan dengan cara memindahkan 10 mL larutan standar 1 ppm kedalam labu ukur berukuran 100 mL, lalu diencerkan dengan akuades sampai tanda batas lalu dikocok hingga homogen (SNI 2011).
Pembuatan Kurva Kalibrasi
Larutan blanko 100 mL dan 3 larutan standar kerja dimasukkan ke dalam masing- masing Erlenmeyer 250 mL kemudian ditambahkan 5 mL H2SO4 pekat dan 2,5 mL HNO3
pekat kedalam masing-masing Erlenmeyer lalu ditambahkan 15 mL larutan KMnO4 dan ditunggu sampai 15 menit (bila warna ungu hilang tambahkan lagi KMnO4 sampai warna ungu tidak hilang). Setelah 15 menit, ditambahkan 8 mL K2S2O8 dan dipanaskan dalam penangas air selama 2 jam pada suhu 95C lalu dinginkan sampai suhu ruang. Setelah dingin, ditambahkan larutan hidroksilamin-NaCl secukupnya untuk mereduksi kelebihan KMnO4 dan 5 mL SnCl2 lalu segera diukur serapannya menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) uap dingin dengan panjang gelombang 253,7 nm yang sudah dioptimasikan sesuai
4
petunjuk alat. Nilai absorbansi maksimum masing- masing larutan standar Hg dibaca serta di buat kurva kalibrasinya atau ditentukan persamaan garis lurusnya (SNI 2011).
Persiapan Inokulum
Isolat jamur yang ditumbuhkan selama 7 hari pada medium PDA, diambil pada bagian pinggir koloni dengan diameter 5 mm. Potongan disk inokulum digunakan sebagai sumber inokulum pada proses reduksi logam Hg.
Reduksi Logam Hg
Metode analisis reduksi logam Hg dilakukan berdasarkan metode Jaeckel et al. (2005) yang telah dimodifikasi. Delapan potongan kultur isolat jamur diinokulasikan kedalam 100 mL medium pertumbuhan pada Erlemeyer berukuran 250 mL. Kultur diinkubasi pada shaker dengan kecepatan150 rpm pada suhu ruang selama 7 hari. Hal yang sama juga dilakukan pada kontrol yang tanpa diberikan perlakuan isolat. Setelah masa inkubasi, dilakukan pengukuran pH. Isolat dipanen dari media pertumbuhan dengan cara disaring menggunakan kertas filter Whatman No 42. Filtrat isolat digunakan untuk pengukuran biomassa dan supernatannya digunakan untuk analisis kadar logam Hg.
Pengukuran Kadar Hg
Pengukuran kadar Hg dilakukan pada saat sebelum dan sesudah pemberian isolat jamur. Medium diambil 100 mL, lalu dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL kemudian ditambahkan 5 mL H2SO4 pekat dan 2,5 mL HNO3 pekat kedalam masing-masing Erlenmeyer, lalu ditambahkan 15 mL larutan KMnO4, dan ditunggu sampai 15 menit (bila warna ungu hilang tambahkan lagi KMnO4 sampai warna ungu tidak hilang). Setelah 15 menit, ditambahkan 8 mL K2S2O8 dan dipanaskan dalam penangas air selama 2 jam pada suhu 95C lalu dinginkan sampai suhu kamar. Setelah dingin, ditambahkan larutan hidroksilamin-NaCl secukupnya untuk mereduksi kelebihan KMnO4 dan 5 mL SnCl2 lalu segera diukur serapannya menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom uap dingin(AAS) dengan panjang gelombang 253,7 nm yang sudah dioptimasikan sesuai petunjuk alat (SNI 2011).
Dalam pengukuran kadar Hg, kemampuan isolat dapat ditentukan dengan cara menghitung kadar Hg pada kontrol dikurangi kadar Hg akhir setelah diberikan perlakuan isolat. Pengurangan dengan kontrol dilakukan karena pada saat proses reduksi terjadi juga pengurangan kadar Hg pada kontrol tanpa diberikan perlakuan isolate jamur. Penentuan kemampuan dan persentasi kemampuan isolat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
KI= (Hg0 – Hg1) - (Hg0 – K) Keterangan:
KI : Kemampuan isolat Hg1 : Hg akhir perlakuan Hg0 : Hg awal perlakuan K : Kontrol
Pengukuran Biomassa
Filtrat yang sudah dikumpulkan pada kertas saring Whatman No.42, dikeringkan di dalam oven pada suhu 80°C. Sampel ditimbang sampai beratnya konstan. Nilai biomassa isolat dihitung dengan mengukur berat kertas saring dengan miselia isolat dikurangi berat kertas saring awal (Chanif 2015).
5 Analisis Data
Hasil dari pengujian pH, kadar Hg, dan biomassa jamur dianalisis menggunakan one- way ANOVA. Jika terdapat pengaruh yang nyata antar perlakuan diuji lanjut dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test).
Hasil Reduksi Hg
Pemberian isolat jamur menyebabkan penurunan kadar Hg pada masing-masing perlakuan. Kadar Hg pada sampel air sungai sebelum perlakuan isolat yaitu 0,0600 mg/L.
Isolat jamur LMBO4 dan Penicillium sp. strain PN6 masing-masing memiliki kemampuan tertinggi untuk mengurangi Hg yaitu 0,0492 mg/L (82%) dan 0,0470 mg/L (78,42%), dimana aktivitas keduanya tidak berbeda nyata secara signifikan, namun berbeda nyata dengan aktivitas mengurangi kadar Hg dari Aspergillus sp.2 dan LMBO7yang masing-masing menunjukkan aktivitas sebesar 0,0334 mg/L (55,77%) dan 0,0186 mg/l (31,13%) selama masa inkubasi 7 hari pada suhu ruang.
Gambar 1 Kemampuan isolat-isolat jamur dalam mereduksi logam Hg pada air sungai setelah 7 hari inkubasi pada suhu ruang. Angka pada kolom dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT taraf 5%.
pH (Derajat keasaman)
Pemberian isolat-isolat jamur menyebabkan penurunan pH pada air sungai, namun perbedaan penurunan pH tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar isolat-isolat jamur(Gambar 2). pH masing-masing perlakuan setelah masa inkubasi 7 hari pada suhu ruang berkisar antara 4,6 – 4,7. pH pada kontrol juga mengalami kenaikan yaitu menjadi 7,22 dan berbeda nyata dengan pH air yang diberi perlakuan isolate-isolat jamur.
Biomassa
Analisis pertumbuhan isolate-isolat jamur menunjukkan penambahan biomassa isolat- isolat jamur setelah inkubasi berkisar antara 55-65 mg. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan biomasss ini tidak berbeda nyata (Gambar 3).
a ab bc
a
0,0000 0,0100 0,0200 0,0300 0,0400 0,0500 0,0600
Aspergillus sp.2
Penicillium PN6
LMBO4 LMBO7
Kemampuan isolat (mg/L)
Jenis isolat Penicillium sp.strainPN6
Aspergillus sp.2 Jamur kode
LMBO4
Jamur kode LMBO7
6
Gambar 2 pH air sungai setelah diberi perlakuan isolat-isolat jamur selama 7 hari inkubasi pada suhu ruang. Angka pada kolom dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT taraf 5%.
Gambar 3 Biomassa isolat-isolat jamur setelah diberi perlakuan logam Hg selama 7 hari inkubasi pada suhu ruang.Angka pada kolom dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT taraf 5%.
Pembahasan
Pemberian empat isolat jamur yang diisolasi dari Kawasan PETI, Riau (Penicillium sp. strain PN6, Aspergillus sp.2, dan dua jamur tidak teridentifikasi strain LMBO4 dan LMBO7) pada air sungai tercemar Hg selama inkubasi 7 hari mampu mengurangi kadar Hg pada air sungai yang tercemar. Akan tetapi, penurunan kadar Hg juga ditemukan pada kontrol. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh terjadinya gesekan antara sesama partikel pada sampel atau pada dinding Erlemeyer pada saat inkubasi sehingga menimbulkan panas dan terjadi penguapan. Hal ini sesuai dengan penelitian Seiler et al. (2008) menyatakan reduksi kadar Hg disebabkan oleh adanya gesekan antara partikel atau ion sehingga menimbulkan panas dan mengakibatkan penguapan logam Hg. Kadar Hg pada air sungai setelah diberi perlakuan isolat jamur berkurang dari 0,06 mg/L menjadikisaran 0,0068-0,0373 mg/L.
Penelitian Suprihatin (2009), menyatakan bahwa kemampuan jamur dalam mengikat ion logam disebabkan karena adanya protein dan polisakarida yang berperan dalam mengikat ion
a
b b b b
0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0
Kontrol Aspergillus sp.2
Penicillium PN6
LMBO4 LMBO7
pH
Perlakuan
Penicillium sp.strain PN6 Aspergillus
sp.2
Jamur kode LMBO4
Jamur kode LMBO7
a a a a
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Aspergillus sp.2 Penicillium PN6 LMBO4 LMBO7
Biomassa (mg)
Jenis isolat
Penicillium sp.strain PN6
Aspergillus sp.2 Jamur kode
LMBO4
Jamur kode LMBO7
7
logam yang terkandung dalam dinding sel. Penyerapan yang berbeda-beda pada masing- masing isolat disebabkan perbedaan gugus fungsi seperti gugus hidroksil dan karboksil dalam pengikatan ion logam Hg tersebut (Volesky & Holan1995). Struktur dan komponen dinding sel sangat menentukan kemampuan biosorpsi logam berat karena dinding sel merupakan struktur pertama yang berinteraksi dengan ion logam (Zimmermann & Wolf 2012). Hasil penelitian ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian Victor et al. (2012) yang melaporkan bahwa Mucor rouxii strain IM-80 mampu menyerap Hg sebesar 95%, M. rouxii mutant sebesar 88,7%, Mucor sp.1 sebesar 80,4%, dan Mucor sp.2 sebesar 78,3%. Menurut Sujoy et al. (2017), jamur A. versicolor juga dapat mereduksi logam Hg sebanyak 95% dari larutan Hg 20 mg/L. Nilai hasil akhir pada proses pengurangan Hg masih belum memenuhi standar yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 yaitu sebesar 0,001 mg/L. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti kemampuan internal sel- sel isolat jamur dalam mereduksi Hg dan faktor kondisi lingkungan (medium, suhu, pH).
Proses inkubasi masing-masing isolat pada sampel air sungai juga menyebabkan penurunan pH pada masing-masing perlakuan. Penurunan pH oleh isolat jamur dapat disebabkan karena naiknya kadar asam pada sampel sebagai hasil dari proses pengikatan gugus-gugus fungsional selama proses inkubasi. Penurunan pH terjadi akibat pada saat pengikatan ion logam Hg oleh gugus-gugus fungsional seperti amina, hidroksil, dan karboksil, terjadi pelepasan ion hidrogen (H+) di dalam sampel sehingga sampel bertambah asam dan mengakibatkan pH sampel menurun (Sujoy et al. 2017). Penurunan pH juga disebabkan oleh bertambanya kadar asam-asam organik yang dihasilkan oleh jamur pada saat inkubasi sehingga pH menjadi asam. Hal ini sesuai dengan penelitian Evi (2014) yang mengatakan jamur A. flavus menunjukkan potensi yang baik untuk menghasilkan berbagai asam organik setelah berikatan dengan logam Hg. Nilai pH medium mempengaruhi kelarutan ion logam dan status ionisasi gugus fungsi (karboksil, fosfat, dan amino) pada dinding sel jamur (Baik et al. 2002). Penelitian Wang & Shen (1994), mengatakan bahwa semakin tinggi nilai konsentrasi ion H+ semakin besar persentase penurunan logam berat, namun pH yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi presipitasi dari kompleks logam.
Peningkatan pH pada kontrol kemungkinan terjadi karena pengaruh proses pengadukan pada saat inkubasi di dalam shaker. Pengadukan tersebut dapat menyebabkan pemecahan nitogen dalam sampel (protein dan urea) menjadi amonia (Dwipayani 2009), sehingga kadar amonia yang ada dalam air limbah dan menyebabkan pH meningkat. NH3
merupakan senyawa yang sangat beracun bagi organisme yang hidup didalam air, sedangkan NH4+ tidak terlalu berbahaya (Ekasari 2013). pH air sungai yang didapatkan setelah perlakuan isolat berbeda dengan penelitian Shivakumar et al. (2014), yang menyatakan A.
flavus dan A. niger dalam menyerap logam berat tumbuh maksimum pada pH 5-6. Penelitian Victor et al. (2012) menyatakan bahwa jamur M. roxii strain IM-80 maksimum menyerap lo- gam sebesar 95,4% pada pH 5,5. Nilai pH air sungai Singingi desa Logas, Kuansing (pH 6- 9) masih memenuhi standar apabila dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Perubahan pH yang terjadi pada masing-masing perlakuan isolat tidak mempengaruhi pertumbuhan isolat jamur dalam sampel air sungai selama proses reduksi. Pertumbuhan isolat jamur optimum jika berada pada pH yang sedikit asam. Hal ini sesuai dengan penelitian Shankar et al.(2007) dalam Shivakumar et al.(2014) yang menyatakan pH optimal untuk penyerapan logam berat oleh jamur pH berkisar 5-5,2.
Pada proses reduksi kadar Hg, terjadi peningkatan biomassa masing-masing isolat jamur. Hal ini dapat dilihat dari hubungan korelasi antara penyerapan Hg oleh isolat jamur dengan biomassa yang sangat kuat dengan koefisien determinasinya sebesar 0,7534, dan penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan kadar Hg dan peningkatan masing-masing biomassa isolat jamur tidak berbeda nyata secara signifikan.
8
Gambar 4 Bentuk hifa atau miselium isolat Penicillium sp.strain PN6 a) sebelum inkubasi selama 7 hari, b) setelah inkubasi selama 7 hari
Menurut Moore& Landecker (2006), menyatakan bahwa pH berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur. Ada dua pengaruh yang pertama adalah terdapatnya ion logam yang dapat berbentuk kompleks dan pada tingkat pH tertentu sulit dipecahkan atau diuraikan.
Pengaruh kedua adalah pada permeabilitas sel yang dapat berubah pada tingkat keasaman atau kebasaan yang berbeda yang mengakibatkan senyawa-senyawa dapat mengalami ionisasi. Hidayat (2005) menyatakan bahwa konsentrasi ion hidrogen pada medium dapat mempengaruhi pertumbuhan secara tidak langsung, yaitu melalui efek terhadap tersedianya nutrisi atau secara langsung melalui aktivitas pada permukaan sel. Selain itu pH mempunyai efek terhadap proses metabolik, sehingga jamur mampu menggunakan zat tertentu untuk mendapatkan kebutuhan nutrisinya.
Pustaka
Ahyani M. 2011– Pengaruh kegiatan penambangan emas terhadap kondisi kerusakan tanah pada wilayah pertambangan rakyat di Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara.
Universitas Diponegoro, Semarang.
APHA. 2012– Standard method for the examination of water and wastewater. In: Andrew DE, Lenore SC, Arnold EG (eds.). American Public Health Association, Washington.
Baik WY, Bae JH, Cho KM, Hartmeier W. 2002– Biosorption of heavy metals using whole mold mycelia and parts there of. Bioresearch Technology81:167-170.
Bambang S. 2012– Penambangan Emas Tanpa Ijin didaerah Aliran Sungai (DAS) Arut Kecamatan Arut Utara ditinjau dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Jurnal Fakultas Hukum Universitas Antakusuma 4(1):31-41
Chanif I, Syamsuddin D, Luqman QA. 2015– Uji potensi jamur pelapuk putih dalam bioremediasi insektisida karbofuran. Jurnal Hama dan Penyakit tumbuhan 3(2):83-91.
Corwin EJ. 2009– Patofisiologi: Buku Saku. Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta p. 56-57
Dinas Kesehatan Kuansing. 2013– Hasil uji lab, Sungai Kuantan positif tercemar air raksa.
http://kuansingterkini.com (Diakses pada tanggal 26 September 2017 pukul 11.42).
Dwipayani. 2009– Studi penyisihan gas amonia (NH3) menggunakan teknik biofiltrasi di bawah kondisi anaerob. Fakultas Teknik Lingkungan, Bandung.
Ekasari SR. 2013–Penyisihan ammonia dari air limbah menggunakan gabungan proses membran dan oksidasi lanjut dalam reaktor hibrida ozonplasma menggunakan larutan penyerap asam sulfat. Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok.
Evi K. 2014– Bioremediation of mercury contaminated soil using Aspergillus flavus strain KRP1.Yamaguchi University, Japan.
Firda D, Tripanji, Suharyanto. 2011– Biosorpsi ion Hg menggunakan jamur pelapuk putih imobil. Menara Perkebunan 85(1):28-36.
Hidayat AP. 2005– Studi fisiologi isolat Pleurotus spp. secara in vitro. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
a
400 x b
400 x
9
Jaeckel P, Krauss GJ, Krauss G. 2005– Cadmium and zinc response of the fungi Heliscuslugdunensis and Verticillium cf. alboatrum isolated from highly polluted water. Science of the Total Environment 346: 274-279.
Jatmika ES. 2015– Uji kemampuan isolat lokal jamur ligninolitik dalam mendegradasi hidrokarbon minyak bumi. Universitas Riau, Pekanbaru.
Melgar MJ, Alonso J, Garcia MA. 2010– Removal of toxic metals from aqueous solutions by fungal biomass of Agaricus macrosporus. Science of The Total Environment 385: 12- 19.
Moore E, Landecker, 2006– The Fungi. Prentice-Hall of Canada, Ltd, Toronto.
Ruslan, Khairuddin, 2011– Studi potensi pencemaran lingkungan dari kegiatan pertambangan emas rakyat Poboya Kota Palu. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Seiler HG, Astrid S, Helmut. 2008– Handbook on metalsin clinical and analytical chemistry.
New York: Marcel Dekker. Inc.
Shivakumar CK, Thippeswamy B, Khrisnappa M. 2014– Optimization of heavy metals bioaccumulation in Aspergilus niger and Aspergillus flavus. International Journal of environmental Biology 4(2): 188-195.
Standar Nasional Indonesia, SNI 6989.78. 2011– Air dan air limbah – Bagian 78: Cara uji raksa (Hg) secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) – Uap Dingin atau Mercury Analyzer.
Sujoy K, Das, Akhilr, Das, Andarunk, Guha. 2017– A Study on the adsorption mechanism of Mercury on Aspergillus versicolor biomassa. Environment Science Technology 41:
8281–8287.
Suprihatin, Erriek A. 2009– Biosorpsi logam Cu (ii) dan Cr (vi) pada limbah elektroplating dengan menggunakan biomasa Phanerochaete chrysosporium. Jurnal Teknik Kimia 4(1):11-17.
Vimala R, Das N. 2009– Biosorption of cadmium (II) and lead (II) from aqueous solution using mushrooms: A comparative study. Journal of Hazardous Materials 168: 376- 382.
Victor M, Martinez J,Juan F. Cardenas G, Maria E, Torre B,Ismael AR. 2012– Biosorption of mercury (II) from aqueous solutions onto Fungal biomass. Bioinorganic Chemical Application, Article ID 156190: 5 pages. doi:10.1155/2012/156190.
Volesky B, Holan ZR. 1995– Biosorption of heavy metals. Biotechnol Prog. 11: 235-250.
Wang Y, Shen H. 1994– Modelling Cr (IV) reduction by pure Bacterial cultures. Water Research 31: 727-731.
Widowati, Sastiono, Jusuf, 2008– Efek toksik logam: Pencegahan dan penanggulangan pencemaran. Andi Offset, Yogyakarta.
Zimmermann M, Wolf K. 2012– Biosorption of Metals. The Mycota, Industrial Application 10: 355-364.