126
EKSPLOITASI BAHASA PADA PENGAJARAN ANAK AUTIS
Djatmika, Sugini, Maryadi
Universitas Sebelas Maret ,Jl. Ir. Sutami No.36 A Kentingan Surakarta
Abstrak: Eksploitasi Bahasa Pada Pengajaran Anak Autis. Penelitian ini melihat kualitas
olah bahasa para guru penyandang autis di Surakarta untuk menemukan olah bahasa guru dari
sudut pandang linguistik sistemik fungsional. Tiga pembelajaran oleh guru yang berbeda dan tiga penyandang autis yang berbeda diambil sebagai sasaran penelitian. Analisis dilakukan dengan melihat kualitas olah konstruksi gramatika, pemilihan kosa kata, aspek non verbal dan mengikuti aspek verbal yang digunakan untuk pembelajaran pada penyandang autis. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa konstruksi gramatika dan pemilihan kosa kata disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik dengan olah bahasa non verbal yang suportif.
Kata kunci: anak autis, multimodal, verbal, non verbal, systemic
Abstract: Language Exploitation in the Instructional of children with autism. The research
investigates the quality of language exploitation systemically as strategies conducted by three
teachers of autism centre in Surakarta. The aims of the discussion are to describe the language
exploitation in stimulate the children to communicate performed by such teachers. Data for the
discussion were collected from the parenting session carried out by the teachers for children
with autism. The analysis searched the multimodal strategies carried out by the teacher to set up
interactions with the child. The results show that in addition to the verbal resources,
interactions were established through the non-verbal behavior. The teachers equipped their
utterances with body movements, facial gestures as well as paralinguistic resource.
Keywords: child with autism, multimodal, verbal, non-verbal, systemic
PENDAHULUAN
Mengasuh dan mengawal proses terapi dan pembelajaran bagi anak autis itu memerlukan beberapa kompetensi. Salah satu keterampilan yang diperlukan guru dalam
127 efektif seorang guru akan dapat menginisiasi
sebuah komunikasi verbal dengan para penyandang autis, selanjutnya komunikasi yang sudah terbangun tersebut akan menjadi jalan masuk untuk proses transfer ilmu atau keterampilan hidup bagi anak autis. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa pada
umumnya penyandang autis itu akan mengalami keadaan mutism atau cara berbicara yang tidak komunikatif (lihat Wenar, 2004) dan hambatan komunikasi
pada autism yang muncul mempengaruhi beberapa aspek perkembangan yang lain (Landa, 2007). Lebih lanjut dijelaskan oleh Safaria (2005) bahwa ciri umum yang terlihat
pada anak autis di antara beberapa ciri yang mereka miliki adalah ketidakmampuan berinteraksi secara verbal dengan orang lain. Secara kebahasaan para penyandang autis ini
menunjukkan kebiasaan menirukan apa yang dikatakan orang lain (Fletcher dan Schuler, 2003), tanpa mempertimbangkan apakah orang lain mengikuti pembicaraan tersebut
atau tidak (Shulman, 2003), kesalahan penggunaan kata ganti, dan kurang terampil dalam melakukan interaksi yang sifatnya resiprokal.
Membantu penyandang autis agar berkomunikasi dengan lebih baik merupakan
pekerjaan yang tidak mudah, sebab umumnya anak-anak ini tidak benar-benar memahami
inti dari sebuah komunikasi. Kesulitan
berinteraksi dengan penyandang autis disebabkan oleh perilaku komunikasi mereka yang menyulitkan. Beberapa perilaku menyulitkan yang ditunjukkan mereka, perlu dipahami sebagai usaha untuk menghadapi masalah keterbatasan berkomunikasi (Schuler
dan Fletcher: 2003). Perilaku-perilaku tersebut diantaranya agresi, menyakiti diri sendiri yang kemungkinan mereka gunakan untuk mengkomunikasikan kebutuhan, ingin
mendapatkan kenyamanan dan perhatian, ingin keluar dari situasi tertentu, untuk memprotes atau menentang perubahan rutinitas atau jadwal dan lain sebagainya.
Mereka menolak struktur dari sebuah kalimat. Volden et al (2009) menunjukkan bahwa baik bahasa pragmatic dan struktur bahasa ekspresive berkontribusi secara
signifikan pada autism yang terkait dengan perilaku sosial.
Untuk melihat kualitas olah bahasa yang dilakukan oleh para guru anak autis, teori
Systemic Functional Linguistics (SFL) dapat digunakan sebagai sebuah pendekatan yang efektif. Teori linguistik ini disebut fungsional karena dirancang untuk mengkaji cara sebuah
bahasa itu digunakan dan tidak hanya melihat bagaimana proses pembentukan bahasa itu
128 penggunaan bahasa yang sifatnya fungsional
itu dilihat dari cara para guru anak autis itu mengolah dan merekayasa tata gramatika dan
pemilihan kosa kata bahasa Indonesia untuk
mengakomodasi keperluan mereka di dalam proses transfer keterampilan kepada anak penyandang autis. Aspek-aspek yang
dilihat berkaitan dengan olah bahasa adalah olah tata gramatika dan olah pemilhan kosa kata yang digunakan oleh guru di dalam
proses belajar mengajar di kelas anak autis. Berangkat dari kenyataan ini, olah bahasa sistemis yang efektif diperlukan oleh para guru atau orang tua untuk membuat para
penyandang autis dapat tertarik dan dapat diajak membuka sebuah interaksi dengan komunikasi verbal. Dengan terbukanya komunikasi dua arah antara para guru dan
penyandang autis tersebut, maka proses transfer keterampilan hidup yang lain kemudian dapat dilangsungkan. Oleh karena itu, penelitian ini akan melihat kualitas olah
bahasa yang sudah dimiliki para guru selama ini,dengan mendeskripsikan kualitas olah bahasa, mendeskripsikan kualitas olah tata gramatika, mendeskripsikan kualitas olah
pemilihan kosa kata yang digunakan oleh para guru/pengasuh anak autis.
METODE
Penelitian ini dilakukan di Pusat Terapi penyandang Autis di Surakarta. Yang
menjadi sumber data penelitian adalah interaksi belajar mengajar yang dilakukan
oleh 3 guru dengan anak didik penyandang autis. Dari interaksi tersebut data dikumpulkan dalam bentuk aneka dimensi olah bahasa yang berkaitan dengan olah tata
gramatika dan olah pemilihan kosa kata yang digunakan di dalam proses pembelajaran anak penyandang autis. Selain itu, data dalam bentuk informasi berkaitan dengan data
kebahasaan tersebut juga akan dikumpulkan dari para guru anak autis tersebut.
Teknik cuplikan dilakukan untuk memilih guru/pengasuh anak autis sebagai
sumber data/responden dengan kriteria; yang bersangkutan berprofesi sebagai pengajar anak penyandang autis dari sebuah lembaga pendidikan luar biasa negeri/pusat terapi autis
yang mendapatkan ijin dari pemerintah di Surakarta; memiliki pengalaman minimal selama 2 tahun; memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan profesi yang
dimiliki; bersedia menjadi sumber data/responden.
Interaksi verbal antara para guru dengan anak penyandang autis direkam
kemudian dianalisis dengan cara memotong teks-teks tersebut dalam bentuk klausa per
129 untuk melihat kualitas konstruksi gramatika
setiap klausa. Selain itu, dari setiap teks interaksi dilihat olah pemilihan kosa kata yang digunakan. Analisis ini melihat kualitas kosa kata yang digunakan dalam interaksi tersebut. Dari dua analisis ini terlihat kualitas olah bahasa yang dilakukan para guru di
dalam proses pembelajaran kepada anak penyandang autis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses pengajaran yang dilakukan oleh Bu Tyas sebagai sebuah transaksi dengan Farid, anak didik penyandang autis, dibangun atas 75 pertukaran. Transaksi ini
berisi tentang transfer keterampilan berhitung kepada anak didik. Meskipun di dalam setiap pertukaran itu guru hanya memiliki satu giliran bicara, di dalam giliran
bicara tersebut Bu Tyas dapat melakukan lebih dari satu tindak tutur di dalamnya. Pada sisi lain, Farid sebagai anak didik hanya melakukan sebuah giliran bicara
untuk setiap pertukaran, dan di sebagian
besar hanya dia isi dengan sebuah tindak
tutur.
Untuk setiap pertukaran yang dimiliki, Bu Tyas selalu melakukan langkah inisiasi- dalam interaksi untuk mengawali sebuah pertukaran dan siswa memberikan respon terhadap langkah inisiasi tersebut. Langkah
inisiasi dan langkah respon keduanya dilakukan melalui dua moda, yaitu bahasa verbal dan non verbal secara simultan. Di dalam interaksi tersebut ditemukan beberapa
ciri eksploitasi bahasa yang menarik yang dilakukan oleh Bu Tyas seperti jenis-jenis tindak tutur yang dieksekusi dalam giliran-giliran bicara yang dilakukan, konstruksi
gramatika dari klausa-klausa yang merepresentasikan ujaran, pemilihan kosa kata, aspek-aspek suprasegmental dan juga perilaku non verbal yang mengiringi
tindakan verbal yang dibuat. Tabel di bawah ini menyajikan elemen percakapan yang terjadi antara Bu Tyas dan Farid di dalam proses belajar mengajar dengan transfer
keterampilan berhitung. Tabel 1 Elemen Percakapan Interaksi Satu
Guru Anak Didik
Pertukaran Giliran Berbicara
Tindak Tutur
Pertukaran Giliran Berbicara
Tindak Tutur
75 79 177 75 76 75 (20
130 Karakteristik eksploitasi bahasa yang
paling menarik di dalam interaksi ditunjukkan oleh jenis-jenis tindak tutur yang dipilih oleh guru dan anak didik dalam proses belajar mengajar ini. Guru di dalam interaksi ini hanya memilih tiga jenis dari lima jenis tindak tutur seperti yang
kebanyakan ahli Pragmatik menyarankan (lihat Thomas, 1995; Verchueren, 1999), yaitu assertive, directive, dan expressive. Tindak tutur dalam klasifikasi commissive
dan performative tidak digunakan. Di dalam klasifikasi assertive, tindak tutur yang dilakukan guru kelas hanya memberitahu dan menerima informasi. Dua
jenis tindak tutur ini hampir digunakan dalam semua pertukaran di dalam percakapan. Sebagian besar tindak tutur memberitahu dilakukan guru untuk
memberikan informasi tentang kegiatan yang akan segera dilakukan setelah sebuah kegiatan selesai, sedangkan menerima informasi dilakukan sebagai respon
terhadap jawaban yang diberikan oleh anak didik. Terdapat tiga jenis tindak tutur yang
berada dalam klasifikasi tindak tutur
expressive yang dipilih oleh guru di dalam
interaksinya dengan anak didik dalam kelas ini, yaitu memuji, bersorak, dan mengucapkan selamat atas keberhasilan anak didik. Tindak tutur yang pertama dilakukan oleh guru untuk memberikan
apresiasi terhadap sesuatu yang telah berhasil diselesaikan oleh anak didik dan pada saat yang sama guru memberikan semangat kepada anak didik dalam proses
belajar tersebut. Jenis tindak tutur ini digunakan hampir sepanjang percakapan. Lebih lanjut, guru melakukan tindakan bersorak atas keberhasilan yang
ditunjukkan anak didik dalam mengapresiasi. Tindak tutur ini seringkali dilakukan sebelum memberikan ucapan selamat kepadanya dengan cara mengajak
toss. Tiga jenis tindak tutur yang dipilih
oleh guru di atas seringkali digunakan dalam sebuah pertukaran. Tabel di bawah ini menyajikan jenis-jenis tindak tutur yang
digunakan oleh guru di dalam interaksi belajar-mengajar dengan anak didik. Tabel 2 Jenis-jenis Tindak Tutur yang Dilakukan Guru Bu Tyas
Assertive Directive Commissive Expressive Performative - Menerima
jawaban - Memberitahu
- Bertanya - Memerintah - Mengajak
--- -Memuji -Bersorak -Mengucapkan
selamat
131 Pada sisi lain, sepanjang interaksi yang
terjadi anak didik hanya melakukan tiga jenis tindak tutur yang berada di bawah klasifikasi assertive. Sementara itu, respon terhadap
tindakan memerintah dari guru itu ada dua bentuk. Pertama adalah tindakan mengikuti perintah yang bersifat verbal dimana anak
didik menghitung jumlah jari-jari sebagai soal matematika yang disodorkan oleh guru
kepadanya. Adapun, respon yang bersifat non
verbal dilakukan untuk mengikuti perintah yang menuntut tindakan fisik anak didik, misalnya memegang pena, menulis jawaban, dan sebagainya. Tabel yang berikut ini menampilkan jenis-jenis tindak tutur yang dilakukan oleh anak didik di dalam interaksi
yang terjadi.
Tabel 3 Jenis-jenis Tindak Tutur yang Dilakukan Farid sebagai Anak Didik
Assertive Directive Commissive Expressive Performative - menjawab
- mengikuti perintah secara verbal
- mengikuti perintah secara non verbal
--- --- --- ---
Sebagian besar tindak tutur yang dilakukan oleh guru tersebut direalisasikan
dalam struktur mood yang berupa konstruksi elipsis. Sebagai contoh, untuk melontarkan sebuah pertanyaan dari sebuah soal matematika yang seharusnya dituturkan secara lengkap sebagai Berapa empat tambah empat?, guru mengatakannya dengan Berapa
ini?. Meskipun kalimat pertanyaan ini
berbentuk elipsis, makna yang dimaksudkan di dalamnya secara sistemik dapat disediakan melalui dukungan tindakan non verbal yang
dilakukan, yaitu dengan menyodorkan sejumlah jari-jari tangan sebagai bentuk soal matematika kepada anak didik pada saat guru menuturkan pertanyaan elipsis tadi. Pada
kasus lain, bentuk elipsis tersebut dapat diterima secara sistemik oleh anak didik
sebagai sebuah pertanyaan melalui intonasi yang menyertainya, misalnya menggunakan intonasi yang naik untuk ujaran Empat tambah empat?
Berkaitan dengan tindakan non verbal di dalam interaksi ini, baik guru maupun
anak didik menggunakan tiga jenis, yaitu bahasa tubuh, raut muka, dan aspek paralinguistik yang digunakan bersamaan dengan tindakan verbal. Tindakan non verbal
132 selalu tersenyum sepanjang interaksi. Semua
tindakan non verbal ini menjadi salah satu faktor eksploitasi bahasa yang membuat proses transfer keterampilan itu menjadi efektif. Untuk membuat interaksinya menjadi lebih efektif, guru juga mengeksploitasi aspek paralinguistik untuk sebagian besar tindakan
yang dilakukan. Ekspresi-ekspresi yang digunakan membangun interaksi dituturkan dengan kecepatan yang normal, namun untuk bagian-bagian komunikasi yang penting,
seperti hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan berhitung, guru menuturkannya secara lebih perlahan yang disesuaikan dengan kemampuan anak didik menangkap pesan
yang dikandung dari tuturan tersebut. Sebagai contoh, guru akan memotong kata-kata yang dianggap penting itu dalam beberapa suku kata seperti ma-te-ma-ti-ka, em-pat, li-ma, dan
sebagainya. Sebagai dukungan guru memilih sapaan sayang dan menggunakan jarak proximity yang dekat.
Interaksi yang kedua adalah proses
pengajaran yang dilakukan oleh Bu Dini sebagai sebuah transaksi dengan Aditya. Isi pembelajaran di kelas guru ini adalah mengenalkan angka, mengenalkan warna dan
melatih keterampilan motorik anak didik melalui perintah verbal. Percakapan ini
terbangun atas 68 pertukaran. Seperti yag
dilakukan oleh guru sebelumnya, Bu Dini di dalam interaksi ini meskipun di hanya memiliki satu giliran bicara, di dalam giliran bicara tersebut ia dapat melakukan lebih dari satu tindak tutur di dalamnya. Sebagai lawan bicaranya, Aditya sebagai anak didik di
dalam proses pengajaran itu juga dalam beberapa pertukaran melakukan lebih dari satu giliran bicara sebagai respon dari giliran bicara ganda yang dilakukan oleh guru di
dalam sebuah pertukaran.
Bu Dini di dalam proses pengajaran ini selalu melakukan langkah inisiasi dan Aditya sebagai subjek respon. Langkah inisiasi dan
langkah respon keduanya dilakukan melalui dua moda, yaitu bahasa verbal dan non verbal secara simultan. Beberapa karakteristik olah bahasa yang menarik ditunjukkan oleh dua
partisipan di dalam interaksi ini. Aspek-aspek yang merepresentasikan kualitas olah bahasa itu adalah dalam bentuk jenis tindak tutur, konstruksi gramatika, pemilihan kosa kata,
aspek suprasegmental, dan juga perilaku non verbal yang mengiringi tindakan verbal yang dibuat. Tabel di bawah ini menyajikan elemen percakapan yang terjadi antara Bu
133 Tabel 4.4 Elemen Percakapan Interaksi Dua
Guru Anak Didik
Pertukaran Giliran Berbicara
Tindak Tutur
Pertukaran Giliran Berbicara
Tindak Tutur
68 110 237 68 89 115
Fenomena ini menunjukkan bahwa guru harus bekerja agak keras, yaitu dengan mengulang-ulang tindak tutur dalam sebuah
giliran bicara atau menggunakan lebih dari satu giliran bicara di dalam sebuah pertukaran. Untuk memberikan respon kepada guru, anak didik kadang-kadang
harus melakukan lebih dari satu giliran bicara dalam sebuah pertukaran dan di dalam giliran bicara tersebut juga terjadi tindak tutur ganda. Selain moda bahasa, setiap pertukaran, giliran bicara dan tindak
tutur yang dilakukan oleh dua partisipan tersebut juga dibarengi oleh eksploitasi non verbal sebagai unsur pendukung. Bahkan, anak didik beberapa kali hanya melakukan
giliran bicara secara non verbal.
Yang membuat interaksi ini lebih menarik adalah bahwa guru hanya menggunakan tiga jenis tindak tutur dari lima
jenis yang disarankan para ahli pragmatik, yaitu assertive, directive, dan expressive. Dari tiga jenis tindak tutur ini, tindak tutur directive lah yang mendominasi penggunaan.
Namun begitu, sebenarnya pemilihan jenis tindak tutur di dalam percakapan tersebut
terjadi merata antara jenis assertive, directive, dan expressive. Tindak tutur dalam
klasifikasi commissive dan performative tidak
digunakan. Di dalam klasifikasi assertive, tindak tutur yang dilakukan guru kelas adalah memberitahu, menyalahkan, mengiyakan,
memberi petunjuk.
Klasifikasi tindak tutur yang kedua direalisasikan dalam bentuk tindak bertanya, memerintah, mengajak, melarang, menyuruh datang, dan menyuruh melanjutkan tugas dari sejumlah tindak tutur ini, tindak bertanya dan
memerintah adalah dua jenis tindak tutur ini
yang digunakan dalam semua pertukaran sepanjang percakapan. Jenis tindak tutur melarang digunakan satu kali untuk membuat
anak didik menghentikan tindakan fisik yang seharusnya dia lakukan dalam interaksi itu. Dua jenis tindak tutur lain juga hanya terjadi sekali, yaitu menyuruh datang, dan menyuruh
melanjutkan tugas.
Sementara itu, tindak tutur jenis expressive yang mendominasi percakapan
yang dilakukan guru dengan anak didik
134 guru untuk memberikan apresiasi terhadap sesuatu yang telah berhasil
diselesaikan oleh anak didik dan pada saat yang sama guru memberikan semangat kepada anak didik dalam proses belajar tersebut. Jenis tindak tutur ini digunakan hampir sepanjang percakapan. Lebih lanjut, untuk mengapresiasi apa yang telah
dihasilkan oleh anak didik dan pada saat yang sama mengucapkan selamat kepadanya dengan cara mengajak toss. Selain itu, di dalam pertukaran tertentu guru juga
menggunakan tindak tutur expressive jenis lain, misalnya memberi salam dan berdoa.
Tindak tutur dalam klasifikasi assertive, directive, dan expressive yang dipilih oleh
guru di atas seringkali digunakan dalam sebuah pertukaran. Tabel di bawah ini
menyajikan jenis-jenis tindak tutur yang digunakan oleh guru di dalam interaksi belajar-mengajar dengan anak didik.
Tabel 5 Jenis-jenis Tindak Tutur yang Dilakukan Guru Bu Dini
Assertive Directive Commissive Expressive Performative - Memberitahu
- Membenarkan - Menyalahkan - Memberi
petunjuk
- Bertanya - Memerintah - Mengajak - Melarang - Menyuruh
datang - Menyuruh
melanjutkan tugas
--- Memuji Berdoa Salam Merayakan Keberhasilan
Menunjukan kegemasan
---
Dari sisi anak didik, jenis tindak tutur yang muncul sepanjang interaksi sebenarnya juga ada tiga klasifikasi, yaitu assertive, directive, dan expressive. Akan tertapi jenis
yang mendominasi penggunaan adalah assertive, dan di dalam jenis tindak tutur ini
pun anak didik hanya memiliki dua jenis tindak tutur yang digunakan, yaitu
menjawab dan melakukan perintah secara non verbal sebagai jawaban dari sebuah tindak tutur directive yang diberikan guru. Anak didik dalam proses pembelajaran ini
menunjukkan tindak tutur dalam klasifikasi directive dan juga expressive. Jenis tindak
tutur yang berada dalam klasifikasi pertama ditunjukkan oleh anak didik dengan
bertanya kepada guru. Hal ini terjadi ketika anak didik merasa kurang jelas dengan tugas yang diberikan oleh guru. Sementera itu, tindak tutur jenis expressive adalah
135 Tabel yang berikut ini menampilkan
jenis-jenis tindak tutur yang dilakukan oleh anak
didik di dalam interaksi yang terjadi.
Tabel 6 Jenis-jenis Tindak Tutur yang Dilakukan Aditya sebagai Anak Didik
Assertive Directive Com missive
Expre ssive
Perfor mative menjawab
melakukan perintah secara verbal melakukan perintah secara non verbal
- bertanya
--- -
merayakan keberhasilan
---
Struktur mood yang banyak muncul
dalam tuturan guru adalah bentuk imperatif. Guru selalu membuat kalimat perintah ini dengan konstruksi verba plus objek. Hal ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa salah satu
keterampilan yang dilatihkan kepada anak didik adalah latihan tindak motorik, sehingga guru cenderung menyuruh anak didik melakukan sesuatu dengan objek yang
dikemas dalam konstruksi itu. Sebagai misal, dalam banyak pertukaran guru melontarkan kalimat-kalimat sebagai berikut, Ambil bukumu, Turunkan tasnya, masuskan sendok, dan sebagainya. Dalam kesempatan lain, guru
menyebutkan tindakannya dan jumlah benda yang harus dihitung oleh anak didik, misalnya ambil dua, ambil lima, dan sebagainya. Konstruksi lain dari kalimat
perintah direspresentasikan oleh kemunculan tunggal verba dalam kalimat itu, misalnya dihitung, masukan, dan sebagainya. Untuk struktur pertanyaan, guru membuat beberapa
konstruksi yang sederhana, misalnya hanya
menyebutkan kata ganti tanya berapa?, apa? atau berapa Dit?, atau menyebutkan kata yang ditanyakan misalnya warna?, dan sebagainya. Namun begitu, ada pula
beberapa kalimat tanya yang berkonstruksi lengkap, misalnya Ada berapa warna putih? Empat ditambah empat sama dengan?, dan sebagainya.
Meskipun banyak kalimat pertanyaan ini berkontruksi tidak lengkap, makna yang dimaksudkan di dalamnya secara sistemik dapat disediakan melalui dukungan tindakan non verbal yang dilakukan, yaitu dengan
menyodorkan sejumlah jari-jari tangan sebagai bentuk soal matematika kepada anak didik pada saat guru menuturkan pertanyaan elipsis tadi. Pada kasus lain, bentuk elipsis
136 menggunakan intonasi yang naik untuk
ujaran Berapa? Berkaitan dengan tindakan non verbal di dalam interaksi ini, baik guru maupun anak didik menggunakan tiga jenis, yaitu bahasa tubuh, raut muka, dan aspek paralinguistik yang digunakan bersamaan dengan tindakan verbal. Guru menggunakan
jari-jarinya dan objek mainan dalam hampir semua pertukaran yang dia lakukan untuk mendukung latihan mengenah angka dan mengenal warna. Tindakan non verbal bentuk
lain adalah raut muka. Guru selalu melakukan kontak mata dengan anak didik pada saat dia menginisiasi pertukaran dan berinteraksi dengannya dan selalu tersenyum
sepanjang interaksi. Semua tindakan non verbal ini menjadi salah satu faktor eksploitasi bahasa yang membuat proses transfer keterampilan itu menjadi efektif.
Untuk membuat interaksinya menjadi lebih efektif, guru juga mengeksploitasi aspek paralinguistik untuk sebagian besar tindakan yang dilakukan. Ekspresi-ekspresi
yang digunakan membangun interaksi dituturkan dengan kecepatan yang normal, namun untuk bagian-bagian komunikasi yang penting, seperti hal-hal yang berkaitan
dengan keterampilan berhitung, guru menuturkannya secara lebih perlahan yang
disesuaikan dengan kemampuan anak didik
menangkap pesan yang dikandung dari
tuturan tersebut. Sebagai contoh, guru akan berhenti sejenak pada suku pertama kata lima, menjadi li.... dengan menaikan intonasinya. Tindakan ini mengirimkan pesan kepada anak didik untuk meneruskan atau melengkapi kata itu sebagai representasi
sebuah angka.
Untuk mendukung semua strategi yang dilakukan di atas, guru juga berusaha untuk membuat proses belajar-mengajar itu lebih
efektif. Dia memilih sapaan yang berkesan dekat kepada anak didik dengan memanggilnya sayang dengan jarak proximity yang dekat dengan anak didik dan
sering memegang tangannya untuk menunjukkan perhatian selama proses belajar berlangsung.
Interaksi yang ketiga adalah Bu Ratna
dan Marcel, bu Ratna sebagai guru di sini lebih memerlukan upaya yang lebih keras. Tujuan pengajaran yang diakomodasi oleh interaksi ini lebih banyak terfokus pada
pelatihan keterampilan motorik siswa. Interaksi antara bu Ratna dan Marcel ini terbangun atas 48 pertukaran. Pada sisi lain, di dalam 48 pertukaran yang dimiliki, anak
didik ini melakukan 48 giliran bicara dan di dalam setiap giliran bicara itu hanya dia isi
137 Bu Ratna di dalam percakapan ini selalu
membuat inisiasi dari setiap pertukaran yang terjadi. Tidak ada satupun pertukaran yang diinisiasi oleh anak didik yang kebutuhan khususnya. Lebih daripada itu, respon dari anak didik yang diharapkan terjadi untuk sebuah pertukaran tersebut selain harus
diinisiasi oleh guru, juga harus dipancing dengan menggunakan banyak tindak tutur yang dikemas di dalam lebih dari satu giliran bicara untuk sebagian besar pertukaran yang
terjadi.
Sebagai pemahaman latar belakang interaksi, anak didik di dalam interaksi ini bernama Marcel, adalah penyandang autis
non verbal. Marcel merupakan anak autis yang masih pada tahap-tahap awal perkembangan meskipun usia kronologisnya menunjukkan masa akhir anak. Pada tahapan
perkembangan yang Marcel tunjukkan adalah sering memukul, mendorong, mencubit jika sedang marah, takut atau mempertahankan diri. Marcel masih menggunakan tubuhnya
karena memang ia belum mampu
mengungkapkan apa yang ia rasakan.. Marcel
juga mengalami keterlambatan bahasa reseptif dan ekspresif yang membuatnya tidak menanggapi kata-kata maupun gerak isyarat yang rumit. Dia belum dapat membuat sebuah siklus komunikasi dua arah. Kecenderungan perlaku agresif pada Marcel
disebabkan menginginkan dunia mereka tetap sama.
Berkaitan dengan kondisi kelas di atas, terdapat beberapa fitur olah kebahasaan yang
menarik adalah jenis tindak tutur, konstruksi gramatika, pemilihan kosa kata, aspek suprasegmental, dan perilaku non verbal yang dilakukan bersamaan dengan tindak
verbal atau perilaku non verbal sebagai ganti tindakan verbal yang seharusnya dilakukan. Elemen-elemen interaksi yang terjadi antara bu Ratna dan Marcel di dalam proses
pengajaran disajikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 4.7 Elemen Percakapan Interaksi Tiga
Guru Anak Didik
Pertukaran Giliran Berbicara
Tindak Tutur
Pertukaran Giliran Berbicara
Tindak Tutur
138 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
sebuah pertukaran itu mengakomodasi sebuah upaya guru melatihkan sebuah tindak motorik, yang sebagian besar harus dilakukan secara berulang-ulang dalam giliran bicara lebih dari satu di dalam sebuah pertukaran. Pada sisi sebaliknya, anak didik di dalam
proses pembelajaran ini hanya memberikan respon sekali untuk setiap pertukaran yang dilontarkan, meskipun respon tersebut muncul setelah guru mengulang-ulang tindak
tutur yang sama, atau yang sejenis dan dalam giliran bicara yang lebih dari satu. Bahkan, respon yang diberikan itu hanya sebagian yang dikemas dalam bentuk verbal. Hal ini
terlihat dari tabel yang menunjukkan jumlah pertukaran, giliran berbicara, dan tindak tutur yang sama.
Guru di dalam interaksi ini hanya
melakukan tiga jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur dalam klasifikasi assertive, directive, dan expressive. Dua klasifikasi
lain, commissive dan performative, tidak
muncul di dalam interaksi ini. Berkaitan dengan kondisi autis anak didik dan tujuan pembelajaran yang diakomodasi oleh interaksi ini, maka jenis tindak tutur yang
mendominasi penggunaan adalah tindak tutur klasifikasi directive diikuti oleh tindak tutur
assertive dan tindak tutur expressive. Namun
demikian, kalau dilihat dari ragam tindak
tuturnya, maka tindak tutur assertive yang
digunakan guru dalam interaksi ini paling beragam dibandingkan dengan dua klasifikasi tindak tutur lain. Dalam proses pembelajaran ini, guru menggunakan tujuh tindak tutur klasifikasi assertive, yaitu menyalahkan, mengomentari, menarik perhatian anak,
memberitahu, mengiyakan, membenarkan
jawaban, dan menyemangati.
Sementara itu, klasifikasi tindak tutur directive direalisasikan dalam bentuk tindak
tutur memerintah, memanggil, mengajak, melarang, dan bertanya. Dari lima jenis
tindak tutur directive ini, tindak tutur memerintah mendominasi penggunaan di
dalam interaksi. Guru di dalam percakapan ini selalu memberikan perintah di dalam setiap pertukaran yang terjadi. Bahkan perintah yang dilontarkan di dalam setiap
pertukaran itu selalu dilakukan lebih dari satu kali atau bahkan berkali-kali untuk sebuah perintah yang sama. Sekali lagi strategi ini berkaitan dengan kondisi autis yang
disandang oleh anak didik. Tentu saja tindak tutur memerintah itu tidak sendirian terjadi. Pola umum yang terjadi dari sebuah pertukaran adalah bahwa guru memberikan
sebuah perintah yang didahului dan/ atau diikuti oleh tindak tutur directive jenis lain
139 Sebagian besar pertukaran di dalam interaksi
ini dilakukan dengan tiga jenis tindak tutur secara kombinasi, yaitu tindak tutur dalam klasifikasi assertive, directive, dan expressive. Dengan kata lain, ketiganya sangat sering digunakan secara simultan dalam sebuah giliran bicara, misalnya sebelum dia
memberikan perintah, dia menarik perhatian
anak dulu, dan setelah perintah yang diberikan
dan setelah anak didik melakukan perintah yang diberikan dengan sukses, maka guru kemudian memberikan pujian. Tabel di bawah ini menyajikan jenis-jenis tindak tutur yang digunakan oleh guru di dalam interaksi belajar-mengajar dengan anak didik.
Tabel 8 Jenis-jenis Tindak Tutur yang Dilakukan Guru Bu Ratna
Assertive Directive Commissive Expressive Performative - Menyalahkan
- Mengomentari - Menarik perhatian
anak
- Memberitahu - Mengiyakan - Membenarkan - Menyemangati
Memerintah Memanggil Mengajak toss Mengajak Melarang Bertanya
--- - Memuji - Bersorak - Mengaduh - memberi
salam
---
Pada sisi lain, anak didik di dalam interaksi ini hanya melakukan tindak tutur klasifikasi tindak tutur merayakan keberhasilan, menangis, dan merengek. Hanya tindak tutur expressive yang dilakukan dalam
bentuk verbal, yaitu menangis, merengek, dan merayakan keberhasilan dengan toss. Tabel yang berikut ini menampilkan jenis-jenis tindak tutur yang dilakukan oleh anak didik di dalam interaksi yang terjadi.
Tabel 9 Jenis-jenis Tindak Tutur yang Dilakukan Aditya sebagai Anak Didik
Assertive Directive Commissive Expressive Performative
--- merayakan keberhasilan menangis merengek
---
Dikarenakan muatan proses pengajaran ini adalah melatih tindak motorik anak didik, maka tindak tutur yang mendominasi
125 yang dikemas dalam konstruksi imperative.
Semua perintah yang dilontarkan oleh bu Ratna di kelas ini dikemas dengan sebuah verba saja, tanpa complement yang mengikutinya. Sebagai gambaran, kalau bu Dini lebih spesifik memerintah anak didiknya
untuk melakukan sesuatu terhadap sebuah benda, misalnya ambil bukumu, maka bu Ratna hanya menyebutkan apa yang harus dikerjakan oleh Marcell, misalnya duduk,
berdiri, dan sebagainya. Kalau bu Ratna menggunakan lebih dari satu kata untuk kalimat perintahnya, maka yang muncul hanya kata-kata yang bersifat konten—kata yang
bersifat gramatikal tidak digunakan. Sebagai misal, kalimat duduk kursi, digunakan dengan hanya menyebutkan tindakan yang diperintahkan (duduk) dan tempat dari
tindakah itu (kursi). Bu Ratna tidak memunculkan preposisi di untuk kata kursi agar menjadi duduk di kursi. Muatan proses pembelajaran ini bisa menunjukkan bahwa
secara kognitif anak didik bu Dini lebih bagus dibandingkan anak didik bu Ratna di dalam pembelajaran ini.
Dalam interaksi ini, guru hanya membuat
sebuah pertanyaan dengan konstruksi yang sangat sederhana, yaitu hanya dengan sebuah
kata ganti tanya apa? Tentu saja pertanyaan
yang dilontarkan guru ini tidak mendapatkan respon dari anak didik.
Bu Ratna di dalam proses pengajaran ini juga menggunakan tindakan non verbal untuk mendukung eksploitasi verbal yang digunakan untuk mentransfer materi pengajaran. Bahkan,
tindakan non verbal yang dilakukan oleh bu Ratna di dalam kelas ini terkesan lebih dibandingkan dengan dua guru di kelas sebelumnya. Strategi ini dapat dikaitkan
dengan kondisi autis anak didik dan dengan muatan pembelajaran yang ditransferkan. Di dalam interaksi ini, guru menggunakan bahasa tubuh, raut muka, kontak mata, dan ditambah
dengan tindakan fisik yang terkesan “memaksa” anak didik melakukan perintah yang diberikan kepadanya disertai intonasi yang tinggi.
Kesimpulan
Dua anak didik yang terlibat dalam penelitian ini memiliki kondisi autis yang
hampir sama, sementara satu anak yang lain menunjukkan keadaan yang lebih serius. Jika dilihat dari jenis tindak tutur yang digunakan, para guru dalam penelitian ini menggunakan
tiga jenis, yaitu dari klasifikasi assertive, directive, dan expressive. jenis directive yang paling banyak digunakan oleh para guru dan seringkali sebuah tindak tutur itu dilakukan
berulang-ulang.
125 Jika dilihat dari konstruksi struktur mood dari
setiap klausa yang dilontarkan kepada anak didik, para guru didalam penelitian ini sudah terampil dalam memilih bagian yang paling penting dari struktur itu untuk melakukan negosiasi dengan anak didik. Semua olah bahasa verbal yang dilakukan oleh para guru
tersebut didukung oleh olah perilaku non verbal yang berupa facial gesture, body language, proximity, kontak mata, dan bisa
juga berbentuk sentuhan-sentuhan kepada
anak didik.
Akhirnya, secara umum, tiga guru ini sudah melakukan pekerjaannya secara profesional. Tujuan dan target pembelajaran sudah mampu membuat anak bereaksi dan merepson setiap inisiasi yang dilakukan guru.
Semua itu didukung oleh olah bahasa dan tindak non verbal yang bersinergi dalam penyelenggaraan kelas.
__________________________________________________________________________
DAFTAR PUSTAKA
Fletcher, E. Cheryl & Schuler, A.L. 2003. Making Communication Meaningful (Cracking The Language Interaction Code) di dalam Autism-From Research to Individualized Practice.
(ed. Gabriels, Robin,L dan Hill, Dina, E). London dan New York : Jessica Kingsley
Publishers.
Halliday, M.A.K. 1994. An Introduction to Functional Grammar. London: Edward Arnold. Halliday, M.A.K. dan Hasan, R. 1985. Language, Context and Text: Aspects of Language in A
Social Semiotic Persperctive. Victoria: Deaking University.
Landa, Rebecca. 2007. Early Communication Development and Intervention for Children with Autism. Mental Retardation and Developmental Disabilities Research Riviews. 13: 16-25
Safaria, T. 2005. Autisme:Pemahaman Baru untuk Hidup Bermakna bagi Orang Tua. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Shulman, Cory. 2003. Bridging the Process Between Diagnosis and Treatment di dalam Autism-From Research to Individualized Practice. (ed. Gabriels, Robin,L dan Hill, Dina, E).
London dan New York : Jessica Kingsley Publishers..
Volden, J.,Coolican, J., Garon, N., White, J., dan Bryson, S. 2009. Brief Report: Pragmatic Language in Autism Spectrum Disorde: Relationships to Measures of Ability and
Disability. Journal Autism Devisit Disorder. 39:388-393
Wenar, Charles.1994.Developmental Psychopathology: From Infancy through Adoleslence. New