• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa Depan Studi Budaya.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Masa Depan Studi Budaya."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MASA DEPAN STUDI BUDAYA

1

Lina Meilinawati Rahayu2

1.Pengantar

Dalam waktu yang tidak lama lagi Fakultas Sastra Unpad akan berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Nama Fakultas Sastra dirasakan sudah “sempit” sehingga perlu dilakukan perubahan. Menurut

A. Teeuw,3 dalam bahasa Indonesia ‘sastra’ berasal dari bahasa

Sanskerta, śãstra; śãs berarti “mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi.” Akhiran -tra biasanya berarti alat atau sarana. Jadi, sastra adalah “alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku

instruksi, atau buku pengajaran.” Contohnya adalah śilpasãstra, dan

kãmasãstra. Yang pertama berarti buku tentang arsitekstur, yang kedua tentang seni bercinta.

Dalam perkembangan selanjutnya, ‘sastra’ mengalami proses

yang menurut Masinambouw4 telah mengalami penyusutan atau

penyempitan makna. Dalam pengertian kita sekarang, ‘sastra’ adalah tulisan yang tidak langsung berkaitan dengan kenyataan, jadi yang bersifat rekaan, dan secara implisit maupun eksplisit mempunyai nilai estetik. Tidak mengherankan jika Fakultas Sastra ini oleh masyarakat dianggap mendidik mahasiswa untuk menjadi sastrawan atau ilmu yang hanya mempelajari jenis-jenis sastra (puisi, prosa, dan drama)– suatu hal yang tidak jarang menjadikan orang tua merasa was-was dan risau. Padahal, dalam keadaannya sekarang, fakultas ini mengkaji, mengembangkan, dan menawarkan pengetahuan dan ilmu

budaya yang mencakup linguistik, sejarah, filologi, filsafat, dan

sastra.

1 Dipresentasikan dalam Dies Natalis Fakultas Sastra Unpad, Senin, 19 Oktober 2009. 2 Pengajar Jurusan Sastra Indonesia, Unpad.

3 A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, 1984.

4 E.K.M. Masinambouw, Paper yang dipersiapkan untuk BPPS-FSUI dalam rangka

(2)

Mungkin sekali itu semualah yang menjadi dorongan bagi Fakultas Ilmu Budaya pada tahun 2008.

Masinambouw mengajukan ada tiga pilihan nama ketika Fakultas Sastra UI akan berubah, yakni Fakultas Humaniora, Fakultas Ilmu-ilmu Budaya, dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Kita juga tentu bisa memilih nama yang paling indah, tetapi perlu diingat bahwa yang jauh lebih penting dilakukan adalah mengubah isi.

(3)

H.A.R. Tilaar5, selayaknya ditinjau kembali sebab perlu dipertanyakan

apakah masih ada kaitannya dengan perkembangan masyarakat. Di berbagai universitas di negeri lain, visi masing-masing lembaga berbeda-beda pula. Namun, yang perlu adalah bahwa pendidikan tinggi harus mampu melaksanakan apa yang dijanjikan itu.

2.

Perubahan Nama=Perubahan Isi

Perkembangan dan dampak globalisasi memaksa tiap-tiap daerah untuk mempersiapkan tanggapan evaluatif yang berbeda-beda pula, yang pada gilirannya tecermin dalam penyelenggaraan pendidikannya, termasuk pendidikan tinggi. Keunikan sudah seharusnya menjadi ciri khas tiap-tiap lembaga. Universitas Padjadjaran yang terletak di Provinsi Jawa Barat sudah tentu memiliki keunikan tersendiri dilihat dari letak geografis. Hal ini merupakan modal yang dapat dikembangkan dalam satuan kurikulum kelak. Di bawah ini hal-hal yang mungkin harus dilakukan, yaitu

2.1 Perubahan Visi dan Misi

Perubahan nama dari Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya tentu diharapkan mampu mengubah berbagai anggapan umum selama ini. Dari kaca mata masyarakat, nama yang baru itu diharapkan bisa meredam “kekhawatiran” bahwa lembaga ini mendidik mahasiswa menjadi sastrawan atau hanya belajar sastra yang hanya “bermimpi”. Bahwa kemudian di antara lulusannya ada yang menjadi sastrawan, itu soal lain sama sekali. Meskipun kekhawatiran semacam itu hapus, akan muncul pertanyaan baru: apa gerangan ilmu budaya itu? Tugas kita yang mendesak kemudian adalah berusaha menjelaskan, pertama-tama kepada diri sendiri, apa yang dimaksudkan dengan nama itu. Karena berkaitan dengan

5 H.A.R. Tilaar, Beberapa agenda reformasi pendidikan nasional dalam persepsi abad

(4)

kebudayaan, tidak mudah bagi kita untuk melaksanakan tugas itu. Hal inilah yang harus tecermin dalam visi dan misi, seperti sudah dijelaskan di atas, merupakan janji pada masyarakat.

2.2 Perubahan Materi Pengetahuan

Yang dimaksud materi pengetahuan di sini adalah ruang lingkup pengetahuan. Lingkup ilmu budaya tentu lebih luas daripada sastra.

Definisi kebudayaan tidak terbatas jumlahnya6, dan untuk keperluan

ini saya ringkas saja sebagai berikut. Secara khusus, kebudayaan adalah pencapaian estetik dan intelektual orang- seorang atau masyarakat, yang juga merupakan gaya hidup masyarakat yang diwariskan turun-temurun. Kebudayaan berurusan dengan nilai-nilai, yakni prinsip-prinsip moral dan keyakinan yang dianggap penting dalam kehidupan sehingga masyarakat cenderung menjalankan kehidupannya berdasarkan prinsip-prinsip itu. Dalam kaitannya dengan hubungan antara kebudayaan dan perkembangan masyarakat kondisi material hidupnya, yakni sumber energi, teknologi, dan sistem produksi yang ada dalam kelompok-kelompok masyarakat itu. melainkan mesti sampai pada perspektif budaya. Saya ambil contoh novel-novel dan film-film dalam perfektif etnografis

6 Dalam Keywords, 1976, Raymond Williams menyatakan bahwa kata culture merupakan

(5)

Novel Etnografi Film Etnografis tahun 90-an muncul banyak pengarang perempuan. Di satu sisi hal ini sangat menggembirakan karena tiba-tiba bermunculan banyak penulis perempuan. Namun, di sisi lain cukup mengagetkan karena keberanian dalam pemilihan tema, gagasan, juga bahasa yang digunakan. Tema dan gagasan yang selama ini dianggap tabu (seks, perselingkuhan) diungkapkan dengan sangat gamblang. Pilihan kata yang digunakan juga sangat berani bahkan vulgar. Kondisi semacam ini tentu bukan ditempatkan dalam peta perjalanan Sastra Indonesia semata, melainkan dalam perspektif budaya yang melingkupinya.

Selain itu, ada banyak teori yang bisa membantu dalam perluasan konteks studi tadi, misalnya

- Foucault  Discourse (kekuatan wacana)

- Bourdieu  Habitus (kekuatan kebiasaan)

- Derrida  Fonosentrisme (kekuatan wicara)

- James Scott  Hidden transcript (Kekuatan

tersembunyi)

- Homy Bhaba  Mimikri (Kekuatan meniru/mengejek)

Bila dilihat dari penelitian-penelitian sastra (berbagai penelitian dan tulisan para dosen juga judul skripsi) tampaknya kekhususan sastra paling siap dalam menghadapi perubahan nama ini.

2.3 Perubahan Satuan Isi Pengetahuan

(6)

dengan isi pengetahuan. Di Program Studi Sastra Indonesia sudah dilakukan perubahan kurikulum (2008) yang lebih mencerminkan ilmu budaya itu sendiri, misalnya ditawarkan mata kuliah-mata kuliah di bawah ini

- Kajian Sinema (film) - Kajian Teater

- Kajian Komik - Sastra Bandingan

Namun, hal ini belum mengakomodasi semua hal yang berkaitan dengan studi budaya. Masih banyak yang bisa dikembangkan dan digali dalam studi budaya terutama kaitannya dengan letak geografis Unpad di Jawa Barat. Ada banyak hal unik yang dapat dijadikan studi dan objek penelitian. Misalnya berbagai jenis seni pertunjukan di setiap daerah, berbagai jenis cerita rakyat, berbagai jenis kepercayaan dan mitos, berbagai jenis upacara adat, dan lain-lain. Selain itu, Bandung merupakan

pusat industri kreatif7 terbesar di Indonesia.

3.Masa Depan Studi Budaya

Dalam kecenderungan yang terjadi puluhan tahun belakangan ini, batas-batas antara satu bidang ilmu dan bidang ilmu yang lain tampak semakin kabur -- seperti yang jelas tampak pada sejumlah skripsi, tesis, dan disertasi yang telah dipertahankan di lembaga ini atau lembaga-lembaga yang lain. Teori dalam ilmu budaya tentu

7 Penelitian yang berkaitan dengan Industri Kreatif merupakan bidang yang sedang

menjadi prioritas pemerintah.

8 Seperti yang diungkapkan Dekan Fakultas Sastra dalam bincang-bincang tidak formal,

(7)

14 sektor yang masuk kategori industri kreatif yaitu jasa periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, film, video & fotografi, permainan interaktif (games), musik, seni pertunjukan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, tv & radio serta riset & pengembangan. Sastra sudah tentu dapat berperan langsung dalam industri kreatif terutama dalam periklanan, film, dan seni pertunjukkan. Togar M. Simatupang, dalam Seminar “Industri Kreatif Untuk Kesejahteraan Bangsa” (2008), menggambarkan bagaimana industri kreatif, yang berbasis intelektual, seni, budaya, teknologi, dan bisnis, saling mempengaruhi.

INDUSTRI KREATIF

TEKNOLOGI SENI

INDUSTRI KREATIF

MODAL BAKAT & INTELEKTUAL

(8)

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa studi budaya merupakan studi yang tidak akan habis-habisnya digali karena berkaitan

dengan aktivitas manusia. Oleh sebab itu, lahan kita untuk pengajaran

dan penelitian menjadi semakin luas. Namun, harus dipikirkan juga sumber daya manusia dalam arti kepakaran dalam bidang yang bersangkutan.

4.Penutup

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini mengajukan permohonan penggantian dosen pembimbing tugas akhir (Skripsi/Non-Skripsi) dengan Nama Dosen Pembimbing TA : (isi nama dosen pembimbing TA)..

menjadi Fakultas Ilmu Budaya pada Pekan Ilmiah di Aula PSBJ Fak. Sastra

diberikan tanda dengan penambahan pencantuman kata “PENARIKAN”, “PENGGANTIAN”, “ PENGUBAHAN ” atau “PENAMBAHAN”, sesuai dengan isi sampul tanpa mengambil

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta 3 dimensi yang memiliki informasi mengenai fasilitas gedung pada Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sastra &

Berbagai pemikir telah menawarkan „budaya berpikir baru‟ ini, seperti budaya berpikir „holistik‟, yang diusulkan oleh pemikir-pemikir seperti Fritjof Capra dan

mendedahkan nombor telefon dan kemudiannya menerima mesej yang mengandungi iklan yang meminta maklumat perbankan atau kad kredit seperti nama pengguna (username), kata laluan

Jurusan Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya akan melaksanakan proses belajar mengajar dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia di bidang bahasa, sastra, dan budaya

Misalnya, ”Saya mempelajari Bahasa Jepang, Budaya Jepang, dan lain-lain di Fakultas Sastra Jepang.” Dari kalimat yang disebutkan, terdapat kata ”dan lain-lain”, oleh karena itu