• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Tuberkulosis Paru Di Bbkpm Surakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENDAHULUAN Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Tuberkulosis Paru Di Bbkpm Surakarta."

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan

oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), yang menyerang terutama

paru dan disebut juga tuberkulosis paru. Bila menyerang organ selain paru

(kelenjar limfe, kulit, otak, tulang, usus, ginjal) disebut tuberkulosis ekstra

paru (Depkes RI, 2002). Tuberkulosis paru kini bukan penyakit yang

menakutkan sampai penderita harus dikucilkan, tetapi penyakit kronik ini dapat

menyebabkan cacat fisik atau kematian. Penularan TB paru hanya terjadi dari

penderita tuberkulosis aktif (Depkes RI, 2007).

Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB

tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000

(WHO, 2010) dan estimasi insedensi berjumlah 430,000 kasus baru per

tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya

(Menkes, 2011).

Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan

kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara, dan

memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan

menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik,

elektroterapeutis, dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi (KEP.

(2)

2

Di pandang dari segi fisioterapi, ada berbagai tingkat gangguan pada

tuberkulosis yaitu impairment berupa sesak napas, penurunan ekspansi thorak,

adanya spasme pada otot bantu pernapasan, fungsional limitation meliputi

gangguan aktivitas dalam bekerja karena keluhan – keluhan di atas dan pada

tingkat disability tidak terdapat hambatan dalam bersosialisai dengan

lingkungan masyarakat. Peran fisioterapi adalah mengurangi keluhan –

keluhan yang ada dengan pemberian modalitas berupa heating (infrared) dan

thoracic expansion excercise (TEE).

Tujuan penggunaan inframerah pada kondisi tuberkulosis adalah

untuk relaksasi otot-otot pernapasan, meningkatkan suplai darah sehingga

terjadi vasodilatasi pembuluh darah . Penyinaran di daerah dada dan

punggung secara luas akan mengaktifkan kelenjar keringat untuk melakukan

ekskresi melaui keringat (Sujatno, 2002).

Tujuan dari thoracic expansion excercise (TEE) ialah memperbaiki

ventilasi, meningkatkan pertukaran gas, membantu melebarkan jalan udara,

memobilisasi sangkar thorak. Akhirnya memperbaiki pola fungsi pernapasan,

meningkatkan kekuatan, ketahanan serta efisiensi otot – otot pernapasan

sehingga aktivitas sehari – hari menjadi tidak terganggu (Watchie, 2010).

B. Rumusan Masalah

1. Apakah infrared dan TEE (thoracic expantion exercise) dapat

mengurangi sesak nafas pada kasus tuberkulosis?

2. Apakah infrared dan TEE (thoracic expansion excercise) dapat

(3)

3

3. Apakah infrared dan TEE (thoracic expansion excercise) dapat

mengurangi spasme otot bantu pernapasan pada kondisi tuberkulosis?

C. Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai penulis dalam penulisan Karya Tulis

Ilmiah ini adalah :

1. Tujuan Umum

Memberikan gambaran tentang penatalaksanaan fisioterapi pada

kondisi post tuberkulosis dengan menggunakan modalitas infrared dan

thoracic expantion excercise (TEE).

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui manfaat infrared dan TEE dalam mengurangi

sesak napas pada kondisi tuberkulosis

b. Untuk mengetahui pengaruh infrared dan TEE terhadap

peningkatan ekspansi sangkar thorak pada kondisi tuberkulosis

c. Untuk mengetahui pengaruh infrared dan TEE terhadap

pengurangan spasme otot bantu pernapasan pada kondisi

tuberkulosis

D. Manfaat

1. Bagi Penulis

Untuk mengetahui manfaat infrared dan thoracic expansion

(4)

4

meningkatkan ekspansi sangkar thorak serta mengurangi spasme m.

Upper trapezius dan m. Pectoralis mayor pada kondisi tuberkulosis.

2. Bagi Fisioterapis dan Institusi Pelayanan

Sebagai bahan ajaran dalam pemilihan intervensi untuk

membantu mengurangi sesak nafas, meningkatkan ekspansi sangkar

thorak serta mengurangi spasme otot bantu pernafasan pada

tuberkulosis dengan menggunakan modalitas berupa infrared dan

Referensi

Dokumen terkait

Teknologi intervensi fisioterapi yang berikan berupa : (1) Untuk terapi panas menggunakan sinar Infra Red (IR) yang bertujuan untuk memberikan efek rileksasi pada otot

Untuk mengetahui dampak dari pemberian ACBT, Chest PT dan Infra. merah terhadap mengurangi spasme otot-otot pernafasan

Modalitas fisioterapi pada kondisi asma akut yang bertujuan untuk mengurangi derajat sesak napas, mengeluarkan dahak, mengurangi nyeri, dan spasme otot yaitu dengan

Tujuan: mengetahui manfaat pemberian breathing exercise dan terapi latihan pada penderita efusi pleura untuk mengurangi spasme otot bantu bantu pernafasan,

Tujuan : Untuk mengetahui pelaksanaan Fisioterapi dalam mengurangi sesak nafas, meningkatkan ekspansi sangkar thoraks, merelaksasikan otot dada karena spasme, dan

Tujuan: mengetahui manfaat pemberian breathing exercise dan terapi latihan pada penderita efusi pleura untuk mengurangi spasme otot bantu bantu pernafasan,

Tujuan : Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui apakah Infra Red dan Chest Physiotherapy dapat menurunkan spasme otot bantu pernapasan, menurunkan

SIMPULAN Pada penatalaksanaan fisioterapi yang diberikan pada kasus tuberkulosis paru dengan mengguna- kan modalitas infrared dan active cycle of breathing technique dapat disimpulkan