• Tidak ada hasil yang ditemukan

ULTISOL PADA BEBERAPA VEGETASI DI DESA GUNUNG DATAS KECAMATAN RAYA KAHEAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ULTISOL PADA BEBERAPA VEGETASI DI DESA GUNUNG DATAS KECAMATAN RAYA KAHEAN"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN TEKSTUR, C-ORGANIK, DAN pH TANAH ULTISOL PADA BEBERAPA VEGETASI DI DESA GUNUNG DATAS

KECAMATAN RAYA KAHEAN

(Study Kasus : Lahan Agak Kritis di Wilayah Sub Das Bah Sumbu)

SKRIPSI

OLEH:

EGIYA MUSPA TARIGAN 130301273

AGROTEKNOLOGI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2017

(2)

KAJIAN TEKSTUR, C-ORGANIK, DAN pH TANAH ULTISOL PADA BEBERAPA VEGETASI DI DESA GUNUNG DATAS

KECAMATAN RAYA KAHEAN

(Study Kasus : Lahan Agak Kritis di Wilayah Sub Das Bah Sumbu)

SKRIPSI

OLEH:

EGIYA MUSPA TARIGAN 130301273

AGROTEKNOLOGI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2017

(3)

Judul Penelitian :Kajian Tekstur, C-Organik dan pH Tanah Ultisol Pada Beberapa Vegetasi Di Desa Gunung Datas Kecamatan Raya Kahean. Study Kasus : Lahan Agak Kritis Sub Das Bah Sumbu Nama :Egiya Muspa Tarigan

NIM :130301273

Program Studi :Agroteknologi

Disetujui Oleh:

Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

( Dr. Kemala Sari Lubis, SP, MP) ( Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP NIP. 197008311995102001 NIP.

) 196905021994032005

Mengetahui

Ketua Program Studi Agroekoteknologi

( Dr. Ir. Sarifuddin, MP NIP. 196509031993031014

)

(4)

ABSTRACT

Bah Sumbu Sub Watershed is one of the sub watersheds of the Padang Watershed.

Land area with criteria critically / semi critically in the Bah Sumbu sub watershed area is 8742.949 hectares or 79.41% of the total entire sub-das Bah Sumbu.

This aims of this study is to examine some of the physical and chemical properties of the soil in a rather critical area of land in the Bah Sumbu sub Watershed, Gunung Datas , Raya Kahean Subdistrict, so that field data can be obtained and soil conditions in the land. Soil analysis was conducted at Chemical Laboratory of Agriculture Faculty of University of Sumatera Utara and Socfindo Seed Production and Laboratory. Implemented from July to September 2017. This study took 36 soil samples in some vegetation and slope level as research material. The research used Survey method with sampling using Purposive Random Sampling based on Vegetation type and slope. Analysis of soil pH data by electrometry method, soil organic matter content with Walkley and Black method, and soil texture with Hydrometer Bouyoucos method.

The results of research on soil of critical land area indicated that soil pH is acid dominant , low dominant of c-organic, sandy loam soil texture

Keywords: Soil Chemical Properties, Soil Physical Properties, Land Critical, Sub Das Bah Sumbu, Vegetation

(5)

ABSTRAK

Sub DAS Bah Sumbu merupakan salah satu sub DAS dari DAS Padang.

Luas lahan dengan kriteria agak kritis/semi kritis di sub DAS Bah Sumbu seluas 8742.949 hektar atau 79,41 % dari total seluruh wilayah sub das Bah Sumbu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji beberapa sifat fisika dan kimia tanah pada wilayah lahan agak kritis di wilayah sub das Bah Sumbu desa Gunung Datas Kecamatan Raya Kahean sehingga dapat diperoleh data lapangan dan keadaan tanah di lahan tersebut. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Socfindo Seed Production and Laboratory. Dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2017. Penelitian ini mengambil 36 sampel tanah pada beberapa vegetasi dan tingkat kemiringan lereng sebagai bahan penelitian. Penelitian menggunakan metode Survei dengan pengambilan sampel menggunakan Purposive Random Sampling berdasarkan jenis Vegetasi dan kemiringan lereng. Analisis data pH tanah dengan metode Elektrometri, kandungan bahan organik tanah dengan metode Walkley and Black, serta tekstur tanah dengan metode Hydrometer Bouyoucos.

Hasil penelitian pada tanah wilayah lahan kritis menunjukkan bahwa ph tanah dominan masam, C organik dominan rendah, tekstur tanah lempung berpasir Kata kunci: Sifat Fisika Tanah, Sifat Kimia Tanah, Lahan Kritis, Sub DAS Bah Sumbu, Vegetasi

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 21 Mei 1995 dari ayah Paten Tarigan dan ibu Mesty br Ginting. Penulis merupakan anak tunggal.

Pendidikan yang pernah ditempuh hingga saat ini adalah: menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Swasta Assisi Medan pada tahun 2007, menyelesaikan pendidikan SLTP di SMP Santo Thomas 1 pada tahun 2010, menyelesaikan pendidikan SLTA di SMA Negeri 2 Medan pada tahun 2013.

Terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian di Jurusan Agroteknologi pada tahun 2013.

Semasa kuliah, penulis pernah aktif sebagai kepala Departemen Informasi dan komunikasi Forum Komunikasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Indonesia (FOKUSHIMITI) Wilayah I dan Koordinator Konsumsi Natal Agroekoteknologi tahun 2016.

Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di PT. Karya Tanah Subur di Kecamatan Kaway XVI, Kota Meulaboh, Provinsi Aceh pada tahun 2016.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Adapun judul skripsi ini adalah “Kajian Tekstur, C-Organik, Dan pH Tanah Ultisol Pada Beberapa Vegetasi Di Desa Gunung Datas Kecamatan Raya Kahean (Study Kasus : Lahan Agak Kritis Di Wilayah Sub Das Bah Sumbu)”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Ibu Dr. Kemala Sari Lubis, SP. MP selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. Hamidah Hanum, MP selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberi ilmu, bimbingan dan saran sehingga skripsi ini dapat selesai. Penulis juga berterima kasih kepada Ayahanda Paten Tarigan dan Ibunda Mesty br Ginting untuk doa, kepercayaan, kasih sayang, dukungan dan nasehat yang tak pernah lelah diberikan kepada penulis, juga kepada saudara-saudari yang saya kasihi untuk dukungan, semangat, perhatian dan sayang yang begitu besar.

Di samping itu, penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua Dosen Staf Pengajar dan Pegawai di Program Studi Agroekoteknologi serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga penelitian ini bermanfaat.

Medan, September 2017

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRACT ...i

ABSTRAK ...ii

RIWAYAT HIDUP ...iii

KATA PENGANTAR ...iv

DAFTAR ISI ...v

DAFTAR TABEL ...vii

DAFTAR GAMBAR ...viii

DAFTAR LAMPIRAN ...ix

PENDAHULUAN Latar Belakang ...1

Tujuan Penelitian ...3

Kegunaan Penulisan ...3

TINJAUAN PUSTAKA Daerah Aliran Sungai ...5

DAS Padang ...7

Sub DAS Bah Sumbu ...8

Tanah Ultisol……… ...10

Lahan Kritis……… ...12

Drajat Kemasaman Tanah (pH) ...14

Karbon Organik (C-organik) ...14

Tekstur Tanah...15

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 17

Bahan dan Alat Penelitian ... 17

Metode Penelitian ... 18

Pelaksanaan Penelitian ... 18

Persiapan ... 18

Penetapan Lokasi Pengambilan Contoh Tanah ... 18

Tahap Kegiatan Di Lapangan ... 18

Pengambilan Contoh Tanah ... 18

Analisa Di Laboratorium ... 19

Parameter yang Diukur ... 19

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil ... 20

Kondisi Umum Wilayah Penelitian... 20

pH Tanah ... 21

Kadar C-organik ... 23

Tekstur Tanah ... 25

Pembahasan ... 27

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 30

Saran ... 30 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

No Keterangan Hal

1 Pembagian dan Luas Sub DAS di Wilayah DAS Padang 8

2 Luas Penutupan dan Penggunaan Lahan 9

3 Kriteria Lahan Kritis 13

4 Luas Penutupan dan Penggunaan Lahan 20

5 Hasil Analisis pH Tanah 21

6 Hasil Analisis C-organik Tanah 24

7 Hasil Analisis Tekstur Tanah 26

(11)

DAFTAR GAMBAR

No Keterangan Hal

1 Peta DAS Padang 7

2 Peta Sub DAS Bah Sumbu 9

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No Keterangan Hal

1 Hasil analisis pH Tanah 34

2 Hasil analisis C-organik 35

3 Hasil analisis Tekstur Tanah 36

4 Koordinat Pengambilan Sampel Tanah 37

5 Kriteria pH Tanah 38

6 Kriteria C-Organik 38

7 Pengelompokan Tekstur Tanah 38

8 Lokasi pengambilan Sampel 39

9 Peta Tingkat Kekritisan Sub DAS Bah Sumbu 39 10 Peta Fungsi kawasan di Sub DAS Bah Sumbu 40 11 Peta Penggunaan Lahan di Sub DAS Bah Sumbu 40 12 Letak Desa Gunung Datas Di Sub DAS Bah Sumbu 41

13 Peta Administrasi Kecamatan Raya Kahean 41

14 Lampiran Foto 42

(13)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Tanah merupakan salah satu faktor terpenting dalam pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah tersedianya unsur hara untuk tanaman tersebut, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman berfungsi pula sebagai pemasok unsur hara, kandungan unsur hara dalam tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah.

Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK, kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lain meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara.

Pertumbuhan tanaman dipegaruhi oleh sifat kimia tanah tempat tanaman tersebut tumbuh. Salah satunya adalah kemasaman tanah(pH). pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman.

(14)

Selain sifat kimia tanah, sifat fisika tanah juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Salah satu sifat fisika tanah yang berperan penting dalam pertumbuhan tanaman adalah tekstur. Tekstur tanah mempengaruhi ukuran pori- pori tanah tersebut. Menurut Hanafiah (2007), tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro (besar) disebut lebih poreus, tanah yang didominasi debu akan banyak mempunyai pori-pori meso (sedang) agak poreus, sedangkan yang didominasi liat akan mempunyai pori-pori mikro (kecil) atau tidak poreus. Pori-pori tanah berperan dalam drainase dan aerase tanah tersebut.

Tanah yang memiliki drainase dan aerase yang baik mendukung pertumbuhan tanaman karena mempunyai pergerakan air dan udara yang leluasa di dalam tanah, sehingga kebutuhan tanaman akan air dan udara dapat terpenuhi.

Wilayah DAS Padang terdiri dari tujuh sub DAS yakni sub DAS Bah Hilang, Bah Kaliat, Bah Sumbu, Sei Kalembah, Sei Padang, Sei Padang Hilir dan Sibarau (BPDAS Wampu, 2010). Ketujuh sub DAS ini membentang melewati tiga (3) wilayah administratif yakni Kabupaten Simalungun, Kabupaten Sergei dan Kotamadya Tebing Tinggi.

Daerah Sub DAS Bah Sumbu terletak di Kecamatan Serdang Bedagai dan memiliki luas sebesar 11.009,56 Ha. Sub DAS Bah Sumbu memiliki lahan agak kritis seluas 8742.949 Ha (BPDAS Wampu, 2017).

Desa Gunung Datas merupakan salah satu desa yang ada di wilayah Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun. Desa Gunung Datas termasuk dalam wilayah Sub Das Bah Sumbu, dengan kriteria lahan agak kritis. Desa Gunung Datas memiliki wilayah dengan topografi yang bergelombang dengan berbagai kemiringan dan ketinggian yang berbeda-beda.

(15)

Mayoritas penduduk Desa Gunung Datas merupakan petani. Sebagian besar lahan digunakan untuk kegiatan perkebunan dan pertanian lainnya.

Komoditas utama desa Gunung Datas adalah kelapa sawit, meskipun masih banyak dijumpai komoditas lainnya, seperti karet, jeruk nipis, kakao, dan komoditas lainnya.

Berdasarkan peta Sub DAS Bah Sumbu, tingkat kekritisan lahan dikelompokkan berdasarkan penggunaan lahan tersebut dan vegetasi yang terdapat pada lahan tersebut. Oleh karena itu perlu diketahui bebrapa sifat kimia dan fisika dari lahan tersebut sehingga dapat ditentukan teknik pengelolaan serta manajemen dari lahan tersebut agar dapat dimanfaatkan secara efisien dan efektif.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai beberapa sifat kimia dan fisika tanah serta keadaan lahan pada lahan agak kritis di Desa Gunung Datas, Kecamatan Raya Kahean yang termasuk wilayah sub DAS Bah Sumbu Kabupaten Simalungun.

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bebrapa sifat fisika dan kimia tanah ultisol pada beberapa vegetasi di desa Gunung Datas kecamatan Raya Kahean yang termasuk lahan agak kritis di Sub DAS Bah Sumbu Kabupaten Simalungun.

Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan usulan penelitian ini adalah:

- Untuk memperoleh dasar pengelolaan tanah melalui teknik konservasi tanah di lahan sub DAS Sibarau berdasarkan kajian beberapa sifat kimia dan fisika tanah serta data di lapangan

(16)

- Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

(17)

TINJAUAN PUSTAKA Daerah Aliran Sungai (DAS)

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan ruang di mana sumberdaya alam,terutama vegetasi, tanah dan air, berada dan tersimpan serta tempat hidup manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai wilayah, DAS juga dipandang sebagai ekosistem dari daur air, sehingga DAS didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan,dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. Batasdi darat merupakan pemisah topografi dan batas di laut sampai dengandaerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No. 7 Tahun2004). Dengan demikian DAS merupakan satuan wilayah alami yangmemberikan manfaat produksi serta memberikan pasokan air melaluisungai, air tanah, dan atau mata air, untuk memenuhi berbagaikepentingan hidup, baik untuk manusia, flora maupun fauna. Untukmemperoleh manfaat yang optimal dan berkelanjutan perlu disusun sistem perencanaan pengelolaan DAS yang obyektif dan rasional. Perencanaan pengelolaan DAS bersifat dinamis karena dinamika proses yang terjadi di dalam DAS, baik proses alam, politik, sosial ekonomi kelembagaan, maupun teknologi yang terus berkembang (Paimin et al, 2012).

Menurut Jamilah (2011), DAS merupakan ekosistem, dimana unsur organisme dan lingkungan biofisik serta unsur kimia berinteraksi secara dinamis dan di dalamnya terdapat keseimbangan inflow dan outflow dari material dan energi. Selain itu pengelolaan DAS dapat disebutkan merupakan suatu bentuk

(18)

pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara umum untuk mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian dan kehutanan yang optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan upaya menekan kerusakan seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun.

Jumlah DAS di Indonesia sangat banyak dengan luasan yang sangat beragam dan terletak pada hamparan wilayah administrasi yang berada dalam satu kabupaten, lintas kabupaten maupun lintas provinsi, bahkan lintas negara. Dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 511/MenhutV/2011 tentang Penetapan Peta Daerah Aliran Sungai disebutkan bahwa jumlah DAS di Indonesia meliputi 17.088 DAS dengan ukuran luas sangat beragam mulai kurang dari 100 Ha hingga lebih dari empat juta hektar.Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2009 –2014 ditetapkan DAS yang berada dalam kondisi kritis dan memerlukanprioritas penanganan mencakup 108 DAS (Keputusan Menteri KehutananNo. SK. 328/Menhut-II/2009).

Sebuah DAS ditandai dengan adanya sungai utama yang langsung bermuara ke danau atau ke laut. Ke dalam sungai utama sungai tersebut bermuara anak sungai yang airnya berasal dari tangkapan air hujan dari wilayah yang dibatasi pembatas topografi menuju ke anak sungai tersebut. Batas wilayah hingga ke pembatas topografi yang mengalirkan air hujan yang ditangkapnya menuju anak sungai itu disebut sebagai kawasan Sub DAS.

Selanjutnya, pada setiap anak sungai yang menjadi pengaliran air dari sebuah sub DAS akan dikontribusi dari anak-anak sungai yang mendapatkan air

(19)

hujan dari daerah tangkap di seluruh wilayah topografis anak-anak sungai tersebut dan mengalirkannya (bermuara) ke anak sungai (Rauf et al, 2011).

DAS Padang

Daerah Aliran Sungai Padang merupakan salah satu dari sembilan DAS di wilayah Provinsi Sumatera Utara yang ditetapkan sebagai DAS Prioritas I melalui Keputusan Menteri Kehutanan No.328/Menhut-II/2009 tentang Penetapan DAS Prioritas dalam rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2010-2014. Hal tersebut dapat diartikan bahwa DAS Sei Padang tergolong sebagai salah satu DAS yang prioritas pengelolaannyapaling tinggi karena menunjukkan kondisi dan permasalahan biofisik dan sosial ekonomi DAS yang paling kritis atau tidak sehat (Departemen Kehutanan, 2008).

Secara administrasi Daerah Aliran Sungai Padang berada pada tiga Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Serdang Bedagai seluas 62,197,35 Ha, Kabupaten Simalungun seluas 44,571,13 Ha dan Kota Tebing Tinggi seluas 3.903,37 Ha (BPDAS Wampu, 2010).

Gambar 1. Peta DAS Padang

(20)

Wilayah DAS Padang terdiri dari tujuh sub DAS yakni sub DAS Bah Hilang, Bah Kaliat, Bah Sumbu, Sei Kalembah, Sei Padang, Sei Padang Hilir dan Sibarau (BPDAS Wampu, 2010). Ketujuh sub DAS ini membentang melewati tiga (3) wilayah administratif yakni Kabupaten Simalungun, Kabupaten Sergei dan Kotamadya Tebing Tinggi. Wilayah Sub DAS Padang sebahagian besar berada di bagian hulu dengan luas 30.275,87 hektar dan sisanya berada di hilir dengan luas 17.677,27 hektar. Wilayah hulu Sub DAS Padang berada di Kecamatan Raya dan Raya Kahean Kabupaten Simalungun dengan tutupan lahan berupa hutan skunder, perkebunan, pertanian lahan kering dan persawahan.

Perambahan hutan akhir-akhir ini kian marak terjadi di kawasan hutan lindung (hutan register) kawasan Siporkas dan hutan Register II SM Sibatu Loting Kecamatan Raya. Alih fungsi lahan hutan ini terutama untuk perkebunan kelapa sawit dan peruntukan lahan lainnya.

Tabel 1.1 Pembagian dan Luas Sub DAS di Wilayah DAS Padang

No. Sub DAS Luas (Ha) Persentase (%)

1 2 3 4 5 6 7

Bah Hilang Bah Kaliat Bah Sumbu Sei Kalembah

Sei Padang Sei Padang Hilir

Sibarau

9.541,12 12.803,10 11.008,44 4.360,15

30.275 17.677,27 25.005,89

8,62 11,57

9,95 3,94 27,36 15,97 22,59 Total Luas DAS Padang 110.671,85 100,00

Sumber data : Hasil Analisa GIS Peta Administrasi DAS Padang

Sub DAS Bah Sumbu

Sub DAS Bah Sumbu terletak di kawasan DAS Padang. Sub DAS Bah Sumbu mencakup tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Tebing Tinggi (873,95 Ha), Kecamatan Sipis-pis (6.939,02 Ha), dan Kecamatan Raya Kahean (3.195,47 Ha) (BPDAS Wampu, 2010).

(21)

Gambar 2. Peta Sub DAS Bah Sumbu

Pada daerah Sub DAS Bah Sumbu terdapat beberapa penggunaan lahan, antara lain digunakan untuk pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran, perkebunan, permukiman, sawah, semak/belukar, dan tanah terbuka.

Adapun luas penutupan dan penggunaan lahan di Sub DAS Bah Sumbu disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1.2 Luas Penutupan dan Penggunaan Lahan

No. Penggunaan Lahan Luas Penutupan (Ha) 1

2 3 4 5 6 7

Pertanian Lahan Kering

Pertanian Lahan Kering Campuran Perkebunan

Permukiman Sawah

Semak/Belukar Tanah Terbuka

744,65 7.960,85 1.620,86 180,96

7,79 434,25

60,21

Total 11.009,56

Sumber : BPDAS Wampu

(22)

Tanah Ultisol

Ultisol adalah jenis tanah yang umum pada iklim tropis, secara pedogenesis sudah matang (tingkat perkembangan senil). Tanah yang sudah berkembang mempunyai kedalaman (solum tanah) yang baik untuk diolah (> 90 cm). Kelemahan tanah berkembang (tingkat senil) seperti ultisol adalah kemasaman yang tinggi karena basa-basa pendukung kesuburan tanah seperti Ca, K, dan Mg sudah tercuci (leached) selama perkembangan ultisol atau terpakai oleh tanaman yang tumbuh diatasnya. Tanah ini selalu dijumpai dengan pH < 5.5.

Komposisi fraksi utama liat yang tinggi sehingga dapat mengurangi daya resap air dan tanah cepat padu (padat) sehingga akar sulit berkembang untuk mendapatkan oksigen dan elemen hara (Bintang, dkk, 2012).

Tanah ultisol sering diidentikkan dengan tanah yang tidak subur, tetapi sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian (potensial), asalkan dilakukan pengelolaan yang memperhatikan kendala yang ada pada tanah ultisol sehingga dapat menjadi yang siap dimanfaatkan untuk budidaya tanaman apabila iklimnya mendukung. Tanah ultisol memiliki tingkat kemasaman sekitar 5,5 (Walhi, 2008).

Tanah adalah hasil pelapukan batuan induk yang tidak sederhana. Tanah adalah produk kombinasi dari berbagai faktor fisik yang dikendalikan iklim dan vegetasi yang dapat mempengaruhi sifat-sifat tanah melalui berbagai macam perlakuan yang diberikan kepada tanah. Ditinjau dari sifat fisiknya, tanah adalah benda alami yang bersifat kompleks, heterogen, tersusun dari tiga fase yaitu fase padat (butir-butir bahan anorganik dan lapukan bahan organik), fase gas (udara), dan fase cair (air tanah). Bagian padat terdiri dari bahan anorganik dan bahan

(23)

organik. Bagian gas adalah udara tanah, sedang bagian cair adalah tanah yang mengandung bahan-bahan terlarut di dalamnya. Top soil merupakan lapisan tanah bagian atas sampai kedalaman 20 cm yang kaya akan bahan organik tanah serta zat-zat mineral tanah lain yang sangat diperlukan tanaman (Yulipriyanto, 2010).

Tanah ultisol yang terdegradasi ditandai dengan kesuburan rendah dan keasaman tinggi yang mungkin karena erosi atau pencucian. Petani dalam upaya untuk mengatasi tantangan ini menggunakan aplikasi pupuk kimia. Pendekatan petani terhadap penggunaan pupuk kimia telah menjadi ancaman besar untuk status mutu fisik tanah. Kurangnya perhatian yang diberikan kepada status fisik tanah tanpa mempertimbangkan fakta bahwa baik kimia dan fungsi biologis dari tanah dengan mengacu produksi tanaman dikendalikan oleh status fisik tanah.

Struktur tanah yang buruk dan keasaman adalah efek jangka panjang dari aplikasi berkelanjutan dari pupuk kimia (Anikwe dkk, 2015).

Upaya meningkatkan produktivitas ultisol, dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan, penambahan bahan organik, penanaman tanah adaptif, penerapan tekhnik budidaya tanaman lorong (atau tumpang sari), terasering, drainase dan pengolahan tanah yang seminim mungkin. Pengapuran yang dimaksudkan untuk mempengaruhi sifat fisik tanah, sifat kimia dan kegiatan jasad renik tanah. Pengapuran pada ultisol di daerah beriklim humid basah seperti di Indonesia tidak perlu mencapai pH tanah 6,5 (netral), tetapi sampai pada pH 5,5 sudah dianggap baik sebab yang terpenting adalah bagaimana meniadakan pengaruh racun dari aluminium dan penyediaan hara kalsium bagi pertumbuhan tanaman (Hakim dkk, 1986).

(24)

Ultisol bersifat lebih lekat dan lebih berat kalau diolah. Kandungan pasir yang tinggi pada tanah ultisol menyebabkan jumlah pori yang berukuran besar lebih banyak dibandingkan jumlah pori yang berukuran kecil. Pori yang berukuran kecil berfungsi untuk menahan air, sedangkan pori yang berukuran besar merangsang pergerakan air dan udara. Kondisi ini mengakibatkan sebagian besar air hujan yang jatuh di atas permukaan tanah akan cepat mengalir ke bawah dan tidak sempat ditahan oleh tanah (Sanchez, 1992).

Lahan Kritis

Defenisi lahan kritis atau tanah kritis , adalah :

a. Lahan yang tidak mampu secara efektif sebagai unsur produksi pertanian, sebagai media pengatur tata air, maupun sebagai pelindung alam lingkungan, b. Lahan yang tidak sesuai antara kemampuan tanah dan penggunaannya, akibat kerusakan secara fisik, kimia, dan biologis sehingga membahayakan fungsi hidrologis, sosial–ekonomi, produksi pertanian ataupun bagi pemukiman. Hal ini dapat menimbulkan erosi dan longsor di daerah hulu serta terjadi sedimentasi dan banjir di daerah hilir( Zain, 1998).

Istilah kritis dapat mengandung berbagai makna. Kritis dapat berkaitan dengan keadaan biofisik. Kekritisan biofisik dapat menyangkut fungsi produksi, fungsi lingkungan, fungsi konstruksi, fungsi lain-lain, atau semua fungsi lahan.

Keadaan ini dapat merupakan bawaan alami lahan (misalnya lahan gurun), atau karena kerusakan oleh laku alami (bencana alam) atau oleh laku orang (salah menggunakan lahan) (Notohadiprawiro, 2006).

Lahan kritis merupakan suatu lahan yang fungsinya kurang baik sebagai media produksi untuk menumbuhkan tanaman yang dibudidayakan atau yang

(25)

tidak dibudidayakan. Laju kerusakan hutan termasuk perubahan tutupan vegetasi hutan salah satu indikasi menyebabkan bertambahnya luas lahan kritis baik di dalam maupun diluar kawasan hutan (Kadir, 2015).

Tabel 1.3 Kriteria Lahan Kritis

Sumber: Penyusunan lahan kritis kriteria Kementerian Lingkungan Hidup.

Lahan kritis adalah lahan atau tanah yang saat ini tidak produktif karena pengelolaan dan penggunaan tanah yang tidak atau kurang memperhatikan syarat- syarat konservasi tanah dan air sehingga menimbulkan erosi, kerusakan- kerusakan kimia, fisik, tata air dan lingkungannya. Pengelolaan lahan merupakan suatu upaya yang dimaksudkan agar lahan dapat berfungsi optimal sebagai media pengatur tata air dan produksi. Bentuk pengelolaan lahan yang baik adalah dapat menciptakan suatu keadaan yang mirip dengan keadaan alamiahnya (Wirosoedarmo dkk, 2007).

Kriteria Keterangan

Tidak Kritis Lahan yang kondisi aktualnya sesuai dengan peruntukannya atau daya dukung fisik, vegetasi penutupan lahan berupa hutan, hutan sekunder, perkebunan,pertanian intensif, dan semak belukar.

Potensial Kritis Lahan dimana kondisi aktualnya sesuai dan/atau tidak sesuai dengan pola ruang,kondisi topografi landai, dikaki bukit atau lereng curam, tutupan vegetasi berupakegiatan pertanian yang intensif, semi intensif, tanah terbuka, dan pemukiman.

Agak Kritis Lahan aktual tidak sesuai peruntukannya, kelerengan agak miring sampai berbukit, didominasi vegetasi tanaman pertanian intensif, semak belukar.

Kritis lahan yang kondisi aktualnya tidak sesuai dengan peruntukannya, kelerengan berbukit sampai curam, vegetasi penutupan lahan kurang dari 50% meliputi perkebunan, pemukiman, dan kebun campuran.

Sangat Kritis Lahan yang kondisi aktualnya tidak sesuai dengan peruntukannya, kelerengan curam sampai sangat curam, tutupan vegetasi sangat rendah, penggunaan lahan berupa tanaman pertanian intensif, semi intensif, kebun campuran, semak belukar, tanah terbuka.

(26)

Luas lahan dengan kriteria agak kritis/semi kritis di sub DAS Bah Sumbu seluas 8742.949 hektar atau 79,41 % dari total seluruh wilayah sub das Bah Sumbu (BPDAS Wampu,2010).

Derajat Kemasaman Tanah (pH)

Reaksi tanah yang penting adalah masam, netral atau alkalin. Hal tersebut didasarkan pada jumlah ion H+ dan OH- dalam larutan tanah. Reaksi tanah yang menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah dinilai berdasarkan konsentrasi H+ dan dinyatakan dengan nilai pH. Bila dalam tanah ditemukan ion H+ lebih banyak dari OH-, maka disebut masam (pH <7). Bila ion H+ sama dengan ion OH- maka disebut netral (pH=7), dan bila ion OH- lebihbanyak dari pada ion H+

pH tanah merupakan suatu ukuran intensitas kemasaman, bukan ukuran total asam yang ada di tanah tersebut. Pada tanah-tanah tertentu, seperti tanah liat berat, gambut, yang mampu menahan perubahan pH atau kemasaman yang lebih besar disbanding tanah yang berpasir (Mukhlis, 2014).

maka disebut alkalin atau basa (pH >7) (Hakim et al,1986).

Pengukuran pH tanah dapat memberikan keterangan tentang kebutuhan kapur, respon tanah terhadap pemupukan, proses kimia yang mungkin berlangsung dalam proses pembentukan tanah, dan lain-lain (Hardjowigeno, 2003).

C-Organik

Bahan organik tanah adalah semua bahan organik didalam tanah baik yang mati maupun yang hidup, walaupun organisme hidup (biomassa tanah) hanya menyumbang kurang dari 5 % dari total bahan organic. Pada terminology tertentu, biomassa tidak dimasukkan sebagai bahan organic tanah, dan beberapa penulis

(27)

menggunakan istilah humus dan bahan organic secara sinonim; sehingga sering menimbulkan kerancuan. Secara praktek, analisis bahan organic dilakukan pada bahan tanah kering udara yang lolos dari ayakan 2 mm dan termasuk semua materi hidup maupun mati yang ada di dalam tanah (Mukhlis, 2014).

Secara umum karbon dari bahan organik tanah terdiri dari 10-20%

karbohidrat, terutama berasal dari biomasa mikroorganisme, 20% senyawa mengandung nitrogen seperti asam amino dan gula aminom 10-20% asam alifatik, alkane, dan sisanya merupakan karbon aromatik. Karena fungsinya yang sangat penting, maka tidak mengherankan jika dikatakan bahwa faktor terpenting yang mempengaruhi produktifitas baik tanah yang dibudidayakan maupun tanah yang tidak dibudidayakan adalah jumlah dan kedalaman bahan organik tanah (Paul and Clark 1989).

Penambahan bahan organik dalam tanah dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah seperti meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang dapat melepaskan asam organik yang tersedia dalam tanah, meningkatkan total ruang pori tanah, menurunkan kepadatan tanah yang dapat menyebabkan kemampuan mengikat air dalam tanah tinggi. Bahan organik juga dapat menyumbangkan unsur hara N, P, K, Ca, Mg serta mengurangi fiksasi fosfat oleh Al dan Fe dalam tanah (Sutanto, 2002).

Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif butir-butir fraksi utama di dalam tanah. Penamaan tekstur tanah berdasarkan kelas tekstur secara mudah didasarkan pada perbandingan massa dari ketiga fraksi yakni fraksi pasir, debu dan liat.

(28)

Tanah dengan perbandingan pasir, debu, dan liat yang berbeda ditetapkan ke dalam kelas yang berbeda berdasarkan segitiga tekstur USDA (Lubis, 2015).

Winarso (2005) menyatakan tekstur mempunyai arti kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, tekstur dapat dirasakan apakah tanah tersebut kasar dan tajam atau halus dan lembut. Secara kuantitatif, sebutan tekstur menunjukkan distribusi ukuran-ukuran partikel yang terdapat dalam tanah tersebut. Dengan demikian, tekstur tanah merupakan suatu ciri tanah yang permanen dan alami yang paling sering dipergunakan untuk mengelompokkan susunan fisiknya Bahan-bahan padatan tanah berdasarkan sifat dan ukurannya dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu pasir (ukuran >2 mm dan bersifat kasar dan tidak lekat), debu (ukuran 0,05 hingga 0,002 mm dan bersifat licin tetapi tidak lekat), an liat (ukuran <0,002 mm dan bersifat licin dan lekat). Sedangkan bagian tanah yang berukuran <0,001 mm disebut koloid. Tekstur adalah perbandingan relatif dari pasir, debu, dan liat di dalam tanah. Selanjutnya perbandingan antara fraksi pasir, debu, dan liat suatu tanah berdasarkan Departement Pertanian Amerika Serikat (USDA) dikelompokkan menjadi 12 kelas yang disebut kelas tekstur tanah.

Menurut Hanafiah (2007), tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro (besar) disebut lebih poreus, tanah yang didominasi debu akan banyak mempunyai pori-pori meso (sedang) agak poreus, sedangkan yang didominasi liat akan mempunyai pori-pori mikro (kecil) atau tidak poreus.

(29)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Sub Das Bah Sumbu Desa Gunung Datas Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun dan analisis tanah dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan serta Socfindo Seed Production & Laboratory.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2017 hingga bulan September 2017.

Bahan dan Alat Penelitian

Adapun bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sampel tanah dari Sub Das Bah Sumbu sebagai objek penelitian, bahan-bahan kimia untuk kebutuhan analisa sampel tanah, label nama untuk memberi tanda pada setiap wadah sampel. Serta bahan lain yang mendukung penelitian.

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peta Sub Das Bah Sumbu, Peta Penggunaan Lahan Sub Das Bah Sumbu, Peta Tingkat Kekritisan Lahan Sub Das Bah Sumbu yang telah di overlay, wadah plastik sebagai wadah sampel tanah, GPS sebagai penentu titik koordinat lokasi pengambilan sampel tanah, tabung cincin (ring sample) untuk pengambilan contoh tanah tidak terganggu, cangkul serta bor tanah untuk mengambil sampel tanah terganggu, Hydrometer bouyoucos untuk menetapkan tekstur tanah, pH meter untuk mengukur pH tanah goni sebagai tempat sampel tanah, spidol untuk memberi tanda serta alat lain yang mendukung penelitian ini.

(30)

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Survei. Untuk pengambilan contoh tanah dilakukan secara acak sederhana

Pelaksanaan Penelitian a. Persiapan

Sebelum penelitian dilakukan, terlebih dahulu dilakukan konsultasi dengan komisi pembimbing, pengadaan peralatan, studi literature dan penyusunan usulan penelitian serta pengambilan data sekunder berupa peta daerah survey.

b. Penetapan Lokasi Pengambilan Contoh Tanah

Lokasi pengambilan contoh tanah ditentukan berdasarkan hasil overlay dari beberapa peta antara lain peta penggunaan lahan, peta tingkat kekritisan lahan dan peta administrasi. Berdasarkan hasil overlay peta tersebut, lokasi penelitian berada di desa Gunung Datas, Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun.

c. Tahap Kegiatan di Lapangan

• Pelaksanaan kegiatan di lapangan dimulai dengan mengadakan survey pendahuluan untuk orientasi lapangan penelitian.

• Pelaksanaan survey utama yang tujuannya untuk pengambilan contoh tanah yang akan dianalisis

• Pengambilan contoh tanah pada lokasi yang ditentukan dengan vegetasi yang berbea.

d. Pengambilan Contoh Tanah

Pengambilan contoh tanah dilakukan secara acak berdasarkan vegetasi dan kemiringan untuk analisis sifat fisika dan kimia tanah. Untuk analisis sifat kimia

(31)

dan fisika tanah, diambil beberapa contoh tanah dalam satu areal kemudian contoh tanah dikompositkan dan diambil hasil komposit sebanyak 1,5 kg.

e. Analisa di Laboratorium

Sampel tanah yang telah diambil dari daerah penelitian, selanjutnya dianalisis di laboratorium. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data pH, kandungan bahan organik serta tekstur tanah.

f. Parameter yang Diukur

Adapun Parameter sifat fisika tanah yang diukur adalah:

- Tekstur tanah dengan metoda Hydrometer Bouyoucos Adapun parameter sifat kimia yang tanah yang diukur adalah:

- pH tanah dengan metoda Elektrometri

- C-Organik dengan metoda Walkley and Black

(32)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Kondisi Umum Wilayah Penelitian

Sub DAS Bah Sumbu terletak di kawasan DAS Padang. Sub DAS Bah Sumbu mencakup tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Tebing Tinggi (873,95 Ha), Kecamatan Sipis-pis (6.939,02 Ha), dan Kecamatan Raya Kahean (3.195,47 Ha)

Di wilayah Sub DAS Sibarau terdapat berbagai penggunaan lahan yaitu Hutan lahan kering sekunder, Pertanian Lahan Kering, Pertanian Lahan Kering Campuran, Perkebunan, Permukiman, Sawah, Semak/ Belukar dan Tanah Terbuka. Luas penggunaan lahan akan dijelaskan pada table berikut ( BPDAS Wampu, 2010).

Tabel 2.1 Luas Penutupan dan Penggunaan Lahan

No. Penggunaan Lahan Luas Penutupan (Ha) 1

2 3 4 5 6 7

Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering Campuran

Perkebunan Permukiman Sawah

Semak/Belukar Tanah Terbuka

744,65 7.960,85 1.620,86 180,96

7,79 434,25

60,21

Total 11.009,56

Sumber : BPDAS Wampu

Desa Gunung Datas merupakan salah satu desa pada kecamatan Raya Kahean yang menjadi lokasi pengambilan sampel tanah yang akan dianalisis tekstur, c-organik dan pH tanahnya. Sampel tanah diambil secara acak menggunakan metode survey secara acak sederhana. Sampel diambil dari setiap vegetasi yang ada di wilayah tersebut pada kedalaman 0-10 dan 10-20 cm.

Desa Gunung Datas memiliki topografi yang bergelombang dengan

(33)

Datas antara lain kelapa sawit, karet, jeruk nipis, dan kebun campuran dengan vegetasi durian dan kakao.

pH Tanah

Analisis pH tanah dilakukan terhadap 36 sampel tanah dari tiap – tiap vegetasi setelah tanah dikering udarakan. Hasil analisis pH tanah dapat dilihat pada Tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2 Hasil Analisis pH Tanah

Vegetasi Kedalaman pH Kriteria Kebun Campuran 1 0-10 cm 4.17 Sangat Masam

10-20 cm 4.23 Sangat Masam Kebun Campuran 2 0-10 cm 4.51 Masam

10-20 cm 4.23 Sangat Masam Kebun Campuran 3 0-10 cm 4.37 Sangat Masam 10-20 cm 4.36 Sangat Masam Jeruk nipis 1 0-10 cm 4.81 Masam

10-20 cm 4.88 Masam

Jeruk nipis 2 0-10 cm 4.29 Sangat Masam 10-20 cm 4.31 Sangat Masam Jeruk nipis 3 0-10 cm 4.9 Masam

10-20 cm 4.64 Masam

Karet 1 0-10 cm 5.12 Masam

10-20 cm 4.36 Sangat Masam Karet 2 0-10 cm 4.14 Sangat Masam 10-20 cm 4.17 Sangat Masam Karet 3 0-10 cm 4.18 Sangat Masam 10-20 cm 3.85 Sangat Masam Karet 4 0-10 cm 3.73 Sangat Masam 10-20 cm 3.77 Sangat Masam Karet 5 0-10 cm 3.97 Sangat Masam 10-20 cm 3.96 Sangat Masam Karet 6 0-10 cm 4.04 Sangat Masam 10-20 cm 3.83 Sangat Masam

Sawit 1 0-10 cm 4.55 Masam

10-20 cm 4.32 Sangat Masam

Sawit 2 0-10 cm 5.17 Masam

10-20 cm 5.24 Masam

(34)

Vegetasi Kedalaman pH Kriteria

Sawit 3 0-10 cm 4.61 Masam

10-20 cm 5.38 Masam

Sawit 4 0-10 cm 5.45 Masam

10-20 cm 5.82 Agak Masam

Sawit 5 0-10 cm 4.69 Masam

10-20 cm 4.37 Sangat Masam Sawit 6 0-10 cm 4.48 Sangat Masam 10-20 cm 4.46 Sangat Masam

Dari Tabel 2.3 diatas dilihat bahwa lahan dengan vegetasi durian dan kakao pada kebun campuran memiliki kriteria kemasaman tanah sangat masam.

Hal ini dapat dilihat dari pH sampel tanah tersebut yang memiliki nilai pH tanah sekitar 4,31. Pada tanah dengan kedalaman 0-10 cm dan 10-20 cm di kebun campuran memiliki pH tanah yang cenderung sangat masam. Hal ini bisa terjadi karena tanah pada lahan tersebut merupakan tanah Ultisol yang cenerung memiliki kemasaman yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Bintang dkk (2012) yang menyatakan bahwa kelemahan tanah berkembang seperti Ultisol adalah kemasaman yang tinggi karena basa-basa pendukung kesuburan tanah seperti Ca, K, dan Mg sudah tercuci (leached) selama perkembangan ultisol atau terpakai oleh tanaman yang tumbuh di atasnya.

Pada lahan dengan vegetasi jeruk nipis, pH tanah cenderung dalam kriteria masam. pH tanah pada lahan tersebut berkisar antara 4,29 sampai 4,9. Pada kedalaman 0-10 cm dan 10-20 cm pada titik pengambilan yang sama cenderung memiliki kriteria kemasaman yang sama. Kemasaman pada lahan ini dapat terjadi sebagai akibat dari erosi atau pencucian, yang merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan rendahnya kesuburan tanah ataupun kemasaman tanah pada tanah Ultisol. Hal ini sesuai dengan literatur Anikwe dkk (2015) yang menyatakan

(35)

bahwa tanah Ultisol yang terdegradasi ditandai dengan kesuburan yang rendah dan keasaman yang tinggi yang mungkin karena erosi atau pencucian.

pH tanah pada lahan dengan vegetasi Karet termasuk dalam kriteria sangat masam. Dari sampel yang diambil pada kemiringan 21°, dapat dilihat bahwa pH tanah cenderung termasuk kriteria sangat masam, hanya terdapat satu sampel yang memiliki kriteria masam, yaitu tanaman Karet 1 dengan kedalaman 0-10 cm. pH tanah pada lahan karet dengan kemiringan 21 ° berkisar antara 3,85 sampai 5,12.

Sedangkan pada lahan dengan kemiringan 6° , lahan tersebut termasuk dalam lahan dengan kriteria kemasaman sangat masam. Setiap sampel yang diambil pada kedalaman 0-10 cm dan 10-20 cm di semua titik memiliki kriteria kemasaman sangat masam. pH tanah pada lahan tersebut berkisar antara 3,83 sampai dengan 4,04.

Lahan dengan vegetasi kelapa sawit memiliki kriteria kemasaman yang berbeda pada kemiringan yang berbeda. Pada lahan dengan kemiringan 7°, lahan termasuk dalam kriteria masam. pH tanah pada lahan tersebut berkisar antara 4,32 sampai 5,38. Sedangkan pada lahan dengan kemiringan 6° pH tanah berkisar antara 4,47 hingga 5,82.

Kadar C-Organik

Kadar C organik tanah pada lahan kritis dianalisis setelah tanah dikering udarakan. Dari kandungan C organik tanah dapat diketahui kandungan bahan organic pada tanah tersebut. Kadar C organik tanah pada lahan agak kritis dapat dilihat pada Tabel 2.3 di bawah ini.

(36)

Tabel 2.3. Hasil Analisis C-organik Tanah

Vegetasi Kedalaman C-organic Kriteria Kebun Campuran 1 0-10 cm 1.68 Rendah

10-20 cm 1.73 Rendah

Kebun Campuran 2 0-10 cm 1.89 Rendah

10-20 cm 1.64 Rendah

Kebun Campuran 3 0-10 cm 1.46 Rendah

10-20 cm 1.66 Rendah

Jeruk nipis 1 0-10 cm 1.44 Rendah

10-20 cm 1.37 Rendah

Jeruk nipis 2 0-10 cm 1.97 Rendah

10-20 cm 1.15 Rendah

Jeruk nipis 3 0-10 cm 1.32 Rendah

10-20 cm 1.66 Rendah

Karet 1 0-10 cm 1.1 Rendah

10-20 cm 1.62 Rendah

Karet 2 0-10 cm 2.02 Sedang

10-20 cm 1.79 Rendah

Karet 3 0-10 cm 1.97 Rendah

10-20 cm 1.7 Rendah

Karet 4 0-10 cm 1.82 Rendah

10-20 cm 1.64 Rendah

Karet 5 0-10 cm 1.06 Rendah

10-20 cm 1.39 Rendah

Karet 6 0-10 cm 1.33 Rendah

10-20 cm 1.68 Rendah

Sawit 1 0-10 cm 1.46 Rendah

10-20 cm 1.04 Rendah

Sawit 2 0-10 cm 1.44 Rendah

10-20 cm 1.61 Rendah

Sawit 3 0-10 cm 1.06 Rendah

10-20 cm 0.77 Sangat Rendah

Sawit 4 0-10 cm 1.03 Rendah

10-20 cm 1.44 Rendah

Sawit 5 0-10 cm 1.35 Rendah

10-20 cm 0.85 Sangat Rendah

Sawit 6 0-10 cm 1.46 Rendah

10-20 cm 1.17 Rendah

Berdasarkan Tabel 2.3 dapat dilihat bahwa lahan dengan vegetasi kakao dan durian ( kebun campuran) memiliki kandungan bahan organik yang rendah.

Hal ini dapat dilihat dari kandungan bahan organik tanah yang hanya berkisar

(37)

antara 1,46% – 1,89%. Antara tanah pada kedalaman 0-10 cm dan 10-20 cm tidak memiliki perbedaan kandungan bahan organik yang signifikan. Kandungan bahan organik pada kedalaman 0-10 cm dan 10-20 cm relatif memiliki kriteria sama.

Pada lahan jeruk nipis juga memiliki kandungan bahan organik yang rendah. Kandungan bahan organik tanah yang berkisar antara 1,15% – 1,97%.

Antara tanah pada kedalaman 0-10 cm dan 10-20 cm tidak memiliki perbedaan kandungan bahan organik yang signifikan. Kandungan bahan organik pada kedalaman 0-10 cm dan 10-20 cm relatif memiliki kriteria sama.

Kandungan bahan organik pada lahan karet termasuk dalam kriteria rendah. Pada kemiringan 21° dan 6° tidak menunjukkan perbedaan kandungan bahan organic yang signifikan. Pada kemiringan 21° kandungan bahan organik tanah berkisar antara 1,10% sampai 2,02%, sedangkan pada kemiringan 6°

kandungan bahan organik berkisar antara 1,06% sampai 1,82%.

Pada kebun kelapa sawit dengan kemiringan 7 °, kandungan bahan organik cenderung rendah meskipun satu sampel termasuk dalam kriteria sangat rendah.

Sampel Sawit 3 dengan kedalaman 10-20 cm memiliki kandungan bahan organik yang sangat rendah, yaitu 0,77 %. Sedangkan pada pada kebun kelapa sawit dengan kemiringan 6°, kandungan bahan organik cenderung rendah meskipun satu sampel termasuk dalam kriteria sangat rendah. Sampel Sawit 5 dengan kedalaman 10-20 cm memiliki kandungan bahan organik yang sangat rendah, yaitu 0,85 %.

Tekstur Tanah

Tekstur tanah pada lahan kritis dianalisis setelah tanah di kering udarakan.

Tekstur tanah pada lahan kritis dapat dilihat pada Tabel 2.4 di bawah ini

(38)

Tabel 2.4 Hasil Analisis Tekstur Tanah

Vegetasi Kedalaman Fraksi

Tekstur

% Pasir % Debu % Liat

Kebun Campuran 1 0-10 cm 64.60 10.60 24.80 Lempung Liat Berpasir 10-20 cm 71.60 10.60 17.70 Lempung Berpasir Kebun Campuran 2 0-10 cm 71.50 7.10 21.40 Lempung Liat Berpasir

10-20 cm 64.60 10.60 24.80 Lempung Liat Berpasir Kebun Campuran 3 0-10 cm 71.80 10.60 17.70 Lempung Berpasir

10-20 cm 68.10 17.70 14.20 Lempung Berpasir Jeruk nipis 1 0-10 cm 61.20 21.20 17.60 Lempung Berpasir

10-20 cm 68.30 10.60 21.10 Lempung Liat Berpasir Jeruk nipis 2 0-10 cm 64.40 17.80 17.80 Lempung Berpasir

10-20 cm 64.90 7.00 28.10 Lempung Liat Berpasir Jeruk nipis 3 0-10 cm 71.80 17.60 10.60 Lempung Berpasir

10-20 cm 71.70 14.20 14.20 Lempung Berpasir Karet 1 0-10 cm 75.50 10.50 14.00 Lempung Berpasir

10-20 cm 50.40 21.20 28.30 Lempung Liat Berpasir Karet 2 0-10 cm 64.30 14.30 21.40 Lempung Liat Berpasir 10-20 cm 60.90 17.80 21.30 Lempung Liat Berpasir Karet 3 0-10 cm 67.90 14.30 17.80 Lempung Berpasir

10-20 cm 71.60 14.20 14.20 Lempung Berpasir Karet 4 0-10 cm 71.60 17.80 10.70 Lempung Berpasir

10-20 cm 50.40 21.20 28.30 Lempung Liat Berpasir Karet 5 0-10 cm 61.50 17.50 21.00 Lempung Liat Berpasir

10-20 cm 61.20 21.10 17.60 Lempung Berpasir Karet 6 0-10 cm 64.80 21.10 14.10 Lempung Berpasir

10-20 cm 46.80 24.80 28.40 Lempung Liat Berpasir Sawit 1 0-10 cm 71.80 7.10 21.20 Lempung Liat Berpasir

10-20 cm 72.00 14.00 14.00 Lempung Berpasir Sawit 2 0-10 cm 75.30 7.10 17.60 Lempung Berpasir

10-20 cm 46.90 17.70 35.40 Liat Berpasir Sawit 3 0-10 cm 68.50 3.50 28.00 Lempung Liat Berpasir

10-20 cm 65.20 13.90 20.90 Lempung Liat Berpasir Sawit 4 0-10 cm 61.50 17.50 21.00 Lempung Liat Berpasir

10-20 cm 54.10 31.70 14.10 Lempung Berpasir Sawit 5 0-10 cm 71.80 10.60 17.60 Lempung Berpasir 10-20 cm 72.10 14.00 14.00 Lempung Berpasir Sawit 6 0-10 cm 64.70 10.60 24.70 Lempung Liat Berpasir

10-20 cm 71.90 14.00 14.00 Lempung Berpasir

*) Menurut Segitiga USDA

(39)

Pembahasan

Dari 36 sampel tanah yang dianalisis, 52,78% sampel memiliki tekstur tanah lempung berpasir, 44,44% sampel memiliki tekstur tanah lempung liat berpasir dan sisanya meiliki tekstur liat berpasir. Kandungan pasir yang tinggi pada lahan tersebut menyebabkan kapasitas tanah untuk mengikat air menjadi rendah, ruang antar partikel ini dikatakan longgar shingga air cepat diteruskan.

Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo dan Kartasapoetra (2002) yang menyatakan partikel pasir berbentuk bulat dan tidak beratur dan jika tidak diliputi oleh liat ataupun debu maka keadaannya akan mudah dipencarkan. Kapasitas mengikat airnya rendah, ruang-ruang antar letak partikel-partikel ini dikatakan longgar sehingga kemampuannya dalam meneruskan air adalah demikian cepat.

. Dari hasil tabel 2.2 dapat dilihat bahwa pH tanah termasuk dominan dalam kriteria masam dan sangat masam. Hal ini disebabkan oleh kawasan daerah merupakan wilayah lahan kritis yang menyebabkan lahan tersebut memiliki sifat kimia tanah yang kurang baik. Salah satu yang menyebakan lahan menjadi degradasi ialah erosi. Hal ini sesuai dengan literatur Kurnia dkk (1997) yang menyatakan erosi menyebabkan hilangnya tanah lapisan atas yang relatif lebih subur dibandingkan dengan lapisan tanah di bawahnya. Kandungan bahan organik dan unsur-unsur hara di dalam tanah lapisan atas umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah lapisan bawah. Apabila terjadi hujan, tanah akan kehilangan bahan organik dan unsur-unsur hara tanah yang cukup besar bersama- sama dengan tanah yang tererosi dan terangkut aliran permukaan. Kehilangan hara dan bahan organik tanah yang cukup besar umumnya terjadi pada areal hutan

(40)

yang baru dibuka untuk penggunaan lain, seperti perkebunan, pemukiman dan transmigrasi, serta dari lahan pertanian garapan petani.

Berdasarkan hasil analisis tanah pada ketiga tabel di atas dapat dinyatakan bahwa lahan wilayah tersebut tergolong lahan kritis dengan amatan parameter sifat fisika dan kimia tanah yang menunjukkan data bahwa sifat fisika dan kimia tanah di wilayah tersebut tergolong rendah. Hal ini sesuai dengan literatur Zain (1998) yang menyatakan bahwa lahan kritis adalah lahan yang tidak sesuai antara kemampuan tanah dan penggunaannya, akibat kerusakan secara fisik, kimia, dan biologis sehingga membahayakan fungsi hidrologis, sosial–ekonomi, produksi pertanian ataupun bagi pemukiman. Hal ini dapat menimbulkan erosi dan longsor di daerah hulu serta terjadi sedimentasi dan banjir di daerah hilir.

Rendahnya kandungan bahan organik pada setiap vegetasi yang ada di kawasan Desa Gunung Datas menyebabkan kemasaman tanah yang rendah juga.

Penambahan bahan organik pada tanah mampu meningkatkan ph tanah meskipun peningkatannya masih dalam katagori masam. Hal ini sesuai dengan literatur Suntoro (2003) yang menyatakan bahwa pengaruh pemberian bahan organik dapat meningkatkan pH tanah meskipun peningkatannya masih dalam kategori masam.Tingkat kemasaman tanah akibat dari pemberian bahan organik bergantung pada tingkat kematangan dari bahan organik yang diberikan, batas kadaluarsa dari bahan organik dan jenis tanahnya. Jika penambahan bahan organik yang masih belum matang akan penyebabkan lambatnya proses peningkatan pH tanah dikarenakan bahan organik masihbelum terdekomposisi dengan baik dan masih melepaskan asam-asam organik.

(41)

Dari hasil tabel 2.3 dapat dilihat bahwa kandungan C-Organik di tanah termasuk dalam kriteria rendah dan sangat rendah. dilihat kadar C-organik terendah pada Sampel Sawit 3 pada kedalaman 10-20 cm dengan nilai 0.77% dan tertinggi pada Karet 2 dengan kedalaman 0-10 cm dengan nilai 2,02. Untuk meningkatkan c-organik tanah yang termasuk dalam kriteria rendah pada setiap lahan dengan vegetasi yang berbeda di kawasan desa Gunung Datas, perlu dilakukan pemberian bahan organik. Pemberian bahan organik juga dapat memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah lainnya sehigga lahan yang termasuk dalam kriteria lahan agak kritis tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Hal ini sesuai dengan literatur Utami dan Handayani (2003) yang menyatakan bahwa dengan pemberian bahan organik dapat meningkatkan kandungan C-organik tanah dan juga dengan peningkatan C-organik tanah juga dapat mempengaruhi sifat tanah menjadi lebih baik secara fisik, kimia dan biologi.

Karbon merupakan sumber makanan mikroorganisme tanah, sehingga keberadaan C-organik dalam tanah akan memacu kegiatan mikroorganisme sehingga meningkatkan proses dekomposisi tanah dan juga reaksi-reaksi yang memerlukan bantuan mikroorganisme, misalnya pelarutan P, dan fiksasi N.

(42)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Pada beberapa penggunaan lahan di Desa Gunung Datas kawasan Sub-DAS Bah Sumbu dapat disimpulkan bahwa:

a. Nilai pH tanah termasuk dalam kriteria sangat masam sampai agak masam dengan rentang pH 3,73 sampai dengan 5,82.

b. Nilai C-organik termasuk dalam kriteria sangat rendah sampai sedang dengan rentang kandungan c-organik antara 0,77 sampai dengan 2,02.

c. Rata-rata fraksi pasir sebesar 65,48%, fraksi debu sebesar 14,81%, dan fraksi liat sebesar 19,71% dengan tekstur tanah lempung berpasir.

Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kajian wilayah lahan kritis di sub Das Bah Sumbu sehingga permasalahan produksi pertanian dapat diatasi.

2. Perlu penambahan bahan organik untuk memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah di wilayah tersebut sehingga produksi pertanian dapat ditingkatkan.

(43)

DAFTAR PUSTAKA

Anikwe, M. A. N., J. C. Eze and A. N. Ibudialo, 2015. Influence of lime and gypsum application on soil properties and yield of cassava (Manihot

esculenta Crantz.) in a degraded Ultisol in Agbani, Enugu Southeastern Nigeria. Soil & Tillage Research 158, 32-38.

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Wampu. 2010. Rencana Pengelolaan DAS Terpadu DAS Padang. Departemen Kehutanan.Medan.

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Wampu. 2017. Peta Sub Das Bah Sumbu . Departemen Kehutanan. Medan.

Bintang, H. Guchi dan G. Simanjuntak, 2012. Perubahan Sifat Tanah Ultisol Untuk Mendukung Perumbuhan Tanaman Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)oleh Perlakuan Kompos dan Jenis Air Penyiram. Diakses dari http://digilib.unimed.ac.id

BPS Pusat. 2010.Sensus Penduduk Indonesia 2010.Jakarta.

Departemen Kehutanan dan Lingkungan, 2008. Laporan Penelitian dan Uji Kelayakan Pada Lingkungan sekitar DAS.http://Dephutsumut.go.id.

Diakses pada April 2017

Gardner FP, Pearce RB, Mitcell RL. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.

Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.

Hakim N, Yusuf N, Am Lubis, Sutopo GN, M Amin D, Go BH, HH Bailley.

1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hanafiah K A. 2007. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada.

Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta.

Jamilah. 2011. Degradasi Lahan Di Daerah Aliran Sungai Batang Gadis. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Kadir, S. 2015. Penutupan Lahan Untuk Pengendalian Tingkat Kekritisan DAS Satui , provinsi Kalimantan Selatan. Fakultas Kehutanan. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.

Kurnia, U., Nono Sutrisno, dan Iwa Sungkawa. 2010. Membalik Kecendrungan Degradasi Sumber Daya Lahan dan Air. Badan Litbang Pertanian. Jakarta.

(44)

Kurniasari, M. dan Putu G.A. 2014. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Sebagai Upaya Prediksi Perkembangan Lahan Pertaniandi KabupatenLamongan. Institut Teknologi Sepuluh November.

Surabaya.

Lubis, K. S. 2015. Pengantar Fisika Tanah. USU Press. Medan.

Maryono, Agus. 2005. Menangani Banjir,Kekeringan, dan Lingkungan, Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

Mas’ud, P. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa. Bandung.

Mauli, R.L. 2008. Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tanah Akibat Sistem Rotasi Penggunaan Lahan Tembakau Deli. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Mukhlis. 2014. Analisis Tanah Tanaman Edisi Kedua. USU Press. Medan.

Muttaqin, T. 2014. Evaluasi Kekritisan Lahan Di Kawasan Lindung Kecamatan Pujon Kabupaten Malang Jawa Timur Dengan Teknologi Sistem Informasi Geografis. Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Notohadiprawiro, T. 2006. Lahan Kritis dan Bincangan Pelestarian Lingkungan Hidup. Ilmu Tanah Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Paul, E. A., and F.E. Clark. 1989. Soil microbiology and biochemistry. Acad.

Press, Inc. Boston.

Paimin, Irfan Budi P., Purwanto, dan Dewi Retna I. 2012. Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi(P3KR).Bogor.

Pairunan A.K, Nenere J,L, Arifin.Samusir S.S.R, Tangkai sari PIoloplus JR, Ibrahim Asmadi H, 1985.Dasar Dasar Ilmu Tanah. Badan perguruan Tinggi Indonesia Bagian Timur, Makassar.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. P.42/Menhut-II/2009 tentang Pola Umum, Kriteria dan Standar Pengelolaan DaerahAliran Sungai Terpadu.

Priyono. 2011. Alih Fungsi Lahan Pertanian Merupakan Suatu Kebutuhan Atau Tantangan. Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian. Bengkulu.

Rauf, A., Kemala Sari Lubis dan Jamilah. 2011. Dasar-Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. USU Press. Medan.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah.Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian

(45)

Sanchez, P.A. 1992. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika, Jilid 2; Terjemahan Amir Hamzah. Penerbit ITB. Bandung.

Suntoro, 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya Pengelolahannya. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Sebelas Maret university Press. Jakarta

Syamsuddin. 2012. Fisika Tanah. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Tan, K. H. 1992. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Gadja Madah University Press.

Yogyakarta.

Utami, S.N. dan Handayani, S. 2003. Sifat kimia Entisol pada sistem pertanian organik. Ilmu Pertanian 10 ( 2), 63-69.

Walhi, 2008.Pertanian Terpadu Suatu Strategi untuk Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan. Artikel Pertanian, Jawa Barat.

Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah: Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Gava Media. Yogyakarta.

Wirosoedarmo,R., Bambang Rahadi., dan Dony Anggit Sasmito. 2007.

Penggunaan Sistem Informasi Geografi (SIG) Pada Penentuan Lahan Kritis di Wilayah Sub DAS Lesti Kabupaten Malang ISSN 1411 – 0067 Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia.

Yulipriyanto, H. 2010. Biologi Tanah dan Strategi Pengelolaannya. Graha Ilmu, Yogyakarta

Zain, A.S, 1998, Aspek Pembinaan Kawasan Hutan dan Sertifikasi Hutan Rakyat, Rineka Cipta, Jakarta .

(46)

LAMPIRAN

Lampiran I : Hasil Analisis Tanah a. pH Tanah

Sampel Vegetasi Kemiringan Ketinggian pH Kriteria KC I (1)(0-10) Durian, Kakao 4° 189 4.17 Sangat Masam KC I (1)(10-20) Durian, Kakao 4° 189 4.23 Sangat Masam

KC I (2)(0-10) Durian, Kakao 4° 193 4.51 Masam KC I (2)(10-20) Durian, Kakao 4° 193 4.23 Sangat Masam

KC I (3)(0-10) Durian, Kakao 4° 199 4.37 Sangat Masam KC I (3)(10-20) Durian, Kakao 4° 199 4.36 Sangat Masam

KJ I (1)(0-10) Jeruk nipis 0° 150 4.81 Masam

KJ I (1)(10-20) Jeruk nipis 0° 150 4.88 Masam KJ I (2)(0-10) Jeruk nipis 0° 155 4.29 Sangat Masam KJ I (2)(10-20) Jeruk nipis 0° 155 4.31 Sangat Masam

KJ I (3)(0-10) Jeruk nipis 0° 149 4.9 Masam

KJ I (3)(10-20) Jeruk nipis 0° 149 4.64 Masam

KR I (1)(0-10) Karet 21° 158 5.12 Masam

KR I (1)(10-20) Karet 21° 158 4.36 Sangat Masam

KR I (2)(0-10) Karet 21° 154 4.14 Sangat Masam

KR I (2)(10-20) Karet 21° 154 4.17 Sangat Masam

KR I (3)(0-10) Karet 21° 158 4.18 Sangat Masam

KR I (3)(10-20) Karet 21° 158 3.85 Sangat Masam

KR II (1)(0-10) Karet 6° 139 3.73 Sangat Masam

KR II (1)(10-20) Karet 6° 139 3.77 Sangat Masam

KR II (2)(0-10) Karet 6° 160 3.97 Sangat Masam

KR II (2)(10-20) Karet 6° 160 3.96 Sangat Masam

KR II (3)(0-10) Karet 6° 159 4.04 Sangat Masam

KR II (3)(10-20) Karet 6° 159 3.83 Sangat Masam

KS I (1)(0-10) Sawit 7° 157 4.55 Masam

KS I (1)(10-20) Sawit 7° 157 4.32 Sangat Masam

KS I (2)(0-10) Sawit 7° 157 5.17 Masam

KS I (2)(10-20) Sawit 7° 157 5.24 Masam

KS I (3)(0-10) Sawit 7° 169 4.61 Masam

KS I (3)(10-20) Sawit 7° 169 5.38 Masam

KS II (1)(0-10) Sawit 6° 155 5.45 Masam

KS II (1)(10-20) Sawit 6° 155 5.82 Agak Masam

KS II (2)(0-10) Sawit 6° 155 4.69 Masam

KS II (2)(10-20) Sawit 6° 155 4.37 Sangat Masam

KS II (3)(0-10) Sawit 6° 157 4.48 Sangat Masam

KS II (3)(10-20) Sawit 6° 157 4.46 Sangat Masam

(47)

b. C-Organik

Sampel Vegetasi Kemiringan Ketinggian C-organik Kriteria KC I (1)(0-10) Durian, Kakao 4° 189 1.68 Rendah KC I (1)(10-20) Durian, Kakao 4° 189 1.73 Rendah KC I (2)(0-10) Durian, Kakao 4° 193 1.89 Rendah KC I (2)(10-20) Durian, Kakao 4° 193 1.64 Rendah KC I (3)(0-10) Durian, Kakao 4° 199 1.46 Rendah KC I (3)(10-20) Durian, Kakao 4° 199 1.66 Rendah

KJ I (1)(0-10) Jeruk nipis 0° 150 1.44 Rendah

KJ I (1)(10-20) Jeruk nipis 0° 150 1.37 Rendah

KJ I (2)(0-10) Jeruk nipis 0° 155 1.97 Rendah

KJ I (2)(10-20) Jeruk nipis 0° 155 1.15 Rendah

KJ I (3)(0-10) Jeruk nipis 0° 149 1.32 Rendah

KJ I (3)(10-20) Jeruk nipis 0° 149 1.66 Rendah

KR I (1)(0-10) Karet 21° 158 1.1 Rendah

KR I (1)(10-20) Karet 21° 158 1.62 Rendah

KR I (2)(0-10) Karet 21° 154 2.02 Sedang

KR I (2)(10-20) Karet 21° 154 1.79 Rendah

KR I (3)(0-10) Karet 21° 158 1.97 Rendah

KR I (3)(10-20) Karet 21° 158 1.7 Rendah

KR II (1)(0-10) Karet 6° 139 1.82 Rendah

KR II (1)(10-20) Karet 6° 139 1.64 Rendah

KR II (2)(0-10) Karet 6° 160 1.06 Rendah

KR II (2)(10-20) Karet 6° 160 1.39 Rendah

KR II (3)(0-10) Karet 6° 159 1.33 Rendah

KR II (3)(10-20) Karet 6° 159 1.68 Rendah

KS I (1)(0-10) Sawit 7° 157 1.46 Rendah

KS I (1)(10-20) Sawit 7° 157 1.04 Rendah

KS I (2)(0-10) Sawit 7° 157 1.44 Rendah

KS I (2)(10-20) Sawit 7° 157 1.61 Rendah

KS I (3)(0-10) Sawit 7° 169 1.06 Rendah

KS I (3)(10-20) Sawit 7° 169 0.77

Sangat Rendah

KS II (1)(0-10) Sawit 6° 155 1.03 Rendah

KS II (1)(10-20) Sawit 6° 155 1.44 Rendah

KS II (2)(0-10) Sawit 6° 155 1.35 Rendah

KS II (2)(10-20) Sawit 6° 155 0.85

Sangat Rendah

KS II (3)(0-10) Sawit 6° 157 1.46 Rendah

KS II (3)(10-20) Sawit 6° 157 1.17 Rendah

(48)

c. Tekstur Tanah

Sampel Fraksi

Tekstur

% Pasir % Debu % Liat

KC I (1)(0-10) 64.60 10.60 24.80 Lempung Liat Berpasir KC I (1)(10-20) 71.60 10.60 17.70 Lempung Berpasir

KC I (2)(0-10) 71.50 7.10 21.40 Lempung Liat Berpasir KC I (2)(10-20) 64.60 10.60 24.80 Lempung Liat Berpasir

KC I (3)(0-10) 71.80 10.60 17.70 Lempung Berpasir KC I (3)(10-20) 68.10 17.70 14.20 Lempung Berpasir KJ I (1)(0-10) 61.20 21.20 17.60 Lempung Berpasir KJ I (1)(10-20) 68.30 10.60 21.10 Lempung Liat Berpasir

KJ I (2)(0-10) 64.40 17.80 17.80 Lempung Berpasir KJ I (2)(10-20) 64.90 7.00 28.10 Lempung Liat Berpasir

KJ I (3)(0-10) 71.80 17.60 10.60 Lempung Berpasir KJ I (3)(10-20) 71.70 14.20 14.20 Lempung Berpasir KR I (1)(0-10) 75.50 10.50 14.00 Lempung Berpasir KR I (1)(10-20) 50.40 21.20 28.30 Lempung Liat Berpasir

KR I (2)(0-10) 64.30 14.30 21.40 Lempung Liat Berpasir KR I (2)(10-20) 60.90 17.80 21.30 Lempung Liat Berpasir

KR I (3)(0-10) 67.90 14.30 17.80 Lempung Berpasir KR I (3)(10-20) 71.60 14.20 14.20 Lempung Berpasir KR II (1)(0-10) 71.60 17.80 10.70 Lempung Berpasir KR II (1)(10-20) 50.40 21.20 28.30 Lempung Liat Berpasir

KR II (2)(0-10) 61.50 17.50 21.00 Lempung Liat Berpasir KR II (2)(10-20) 61.20 21.10 17.60 Lempung Berpasir

KR II (3)(0-10) 64.80 21.10 14.10 Lempung Berpasir KR II (3)(10-20) 46.80 24.80 28.40 Lempung Liat Berpasir

KS I (1)(0-10) 71.80 7.10 21.20 Lempung Liat Berpasir KS I (1)(10-20) 72.00 14.00 14.00 Lempung Berpasir

KS I (2)(0-10) 75.30 7.10 17.60 Lempung Berpasir KS I (2)(10-20) 46.90 17.70 35.40 Liat Berpasir

KS I (3)(0-10) 68.50 3.50 28.00 Lempung Liat Berpasir KS I (3)(10-20) 65.20 13.90 20.90 Lempung Liat Berpasir KS II (1)(0-10) 61.50 17.50 21.00 Lempung Liat Berpasir KS II (1)(10-20) 54.10 31.70 14.10 Lempung Berpasir

KS II (2)(0-10) 71.80 10.60 17.60 Lempung Berpasir KS II (2)(10-20) 72.10 14.00 14.00 Lempung Berpasir

KS II (3)(0-10) 64.70 10.60 24.70 Lempung Liat Berpasir KS II (3)(10-20) 71.90 14.00 14.00 Lempung Berpasir

(49)

Lampiran II : Koordinat Pengambilan Sampel Tanah

Sampel Vegetasi X Y

KC I (1) 0-10 Durian, Kakao 98.955425 3.161375 KC I (1) 10-20 Durian, Kakao 98.955425 3.161375 KC I (2) 0-10 Durian, Kakao 98.955497 3.161416 KC I (2) 10-20 Durian, Kakao 98.955497 3.161416 KC I (3) 0-10 Durian, Kakao 98.955582 3.161317 KC I (3) 10-20 Durian, Kakao 98.955582 3.161317 KJ I (1) 0-10 Jeruk nipis 98.960509 3.161545 KJ I (1) 10-20 Jeruk nipis 98.960509 3.161545 KJ I (2) 0-10 Jeruk nipis 98.960549 3.161218 KJ I (2) 10-20 Jeruk nipis 98.960549 3.161218 KJ I (3) 0-10 Jeruk nipis 98.960597 3.161267 KJ I (3) 10-20 Jeruk nipis 98.960597 3.161267 KR I (1) 0-10 Karet 98.969791 3.162214 KR I (1) 10-20 Karet 98.969791 3.162214 KR I (2) 0-10 Karet 98.969495 3.162412 KR I (2) 10-20 Karet 98.969495 3.162412 KR I (3) 0-10 Karet 98.969555 3.162773 KR I (3) 10-20 Karet 98.969555 3.162773 KR II (1) 0-10 Karet 98.975400 3.162717 KR II (1) 10-20 Karet 98.975400 3.162717 KR II (2) 0-10 Karet 98.975332 3.162636 KR II (2) 10-20 Karet 98.975332 3.162636 KR II (3) 0-10 Karet 98.975354 3.162898 KR II (3) 10-20 Karet 98.975354 3.162898 KS I (1) 0-10 Sawit 98.973299 3.159823 KS I (1) 10-20 Sawit 98.973299 3.159823 KS I (2) 0-10 Sawit 98.972899 3.159788 KS I (2) 10-20 Sawit 98.972899 3.159788 KS I (3) 0-10 Sawit 98.973312 3.159922 KS I (3) 10-20 Sawit 98.973312 3.159922 KS II (1) 0-10 Sawit 98.969503 3.160078 KS II (1) 10-20 Sawit 98.969503 3.160078 KS II (2) 0-10 Sawit 98.969356 3.160588 KS II (2) 10-20 Sawit 98.969356 3.160588 KS II (3) 0-10 Sawit 98.968867 3.161024 KS II (3) 10-20 Sawit 98.968867 3.161024

(50)

Lampiran III : Kriteria pH Tanah

Kriteria pH H2O pH KCl Sangat Masam < 4,5 < 2,5 Masam 4,5 – 5,5 2,5 - 4,0 Agak Masam 5,6 – 6,5 --- Netral 6,6 – 7,5 4,1 – 6,0 Agak Alkalis 7,6 – 8,5 6,1 – 6,5 Alkalis > 8,5 > 6,5

Menurut : 1. Staf Pusat Penelitian Tanah, 1983 2. BPP Medan, 1982

Lampiran IV : Kriteria C-Organik Sifat

Tanah

Satuan Sangat Rendah

Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi C (Karbon) % < 1,00 1,00 – 2,00 2,01 – 3,00 3,01 – 5,00 > 5,00

Lampiran V : Pengelompokan Tekstur Tanah

Kelompok Tekstur Kelas Tekstur

Tanah bertekstur kasar Pasir, pasir berlempung, lempung berpasir, lempung berpasir halus

Tanah bertekstur sedang Lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu, lempung liat berpasir, lempung liat, lempung liat berdebu

Tanah bertekstur halus Liat berpasir, liat berdebu, dan liat Sumber : Konhke (1968)

(51)

Lampiran VI : Lokasi pengambilan sampel

Lampiran VII : Peta Tingkat Kekritisan Sub DAS Bah Sumbu

(52)

Lampiran VIII : Peta Fungsi kawasan di Sub DAS Bah Sumbu

Lampiran IX : Peta Penggunaan Lahan di Sub DAS Bah Sumbu

(53)

Lampiran X : Letak Desa Gunung Datas Di Sub DAS Bah Sumbu

Lampiran XI : Peta Administrasi Kecamatan Raya Kahean

(54)

Lampiran XII : Lampiran Foto

Lahan dengan Vegetasi Sawit pada Kemiringan 6°

Lahan dengan Vegetasi Sawit pada Kemiringan 7°

Lahan dengan Vegetasi Karet pada Kemiringan 21°

(55)

Lahan dengan Vegetasi Karet pada Kemiringan 6°

Lahan dengan Vegetasi Jeruk Nipis pada Kemiringan 0°

Pengambilan Sampel Tanah pada Lahan dengan Vegetasi Jeruk Nipis

Gambar

Gambar 1. Peta DAS Padang
Gambar 2. Peta Sub DAS Bah Sumbu

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian direkomendasikan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang untuk memperbaiki sifat fisika, kimia, maupun biologi tanah, dengan dosis penggunaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan kritis dengan pengelolaan sistem usahatani konservasi telah dapat memperbaiki dan mempertahankan beberapa sifat

2009 Konservasi Lahan Kritis Bahorok Langkat Dengan Berbagai Bahan Organik Terhadap Perbaikan Sifat Fisik dan kimia Tanah Ultisol dan Produksi Tanaman Jagung (Zea mays

SISCA CHRISTINE PRATIWI PARDOSI : Kajian sifat fisika dan kimia tanah pada lahan karet dengan beberapa jenis vegetasi yang tumbuh di kebun PTP.Nusantara III Gunung Para,

PRETTY : Kajian sifat fisika dan kimia tanah ultisol pada lahan kelapa sawit tahun tanam 2003 dengan beberapa jenis vegetasi yang tumbuh di kebun PTP.. Nusantara II Pagar

PRETTY : Kajian sifat fisika dan kimia tanah ultisol pada lahan kelapa sawit tahun tanam 2003 dengan beberapa jenis vegetasi yang tumbuh di kebun PTP.. Nusantara II Pagar

Biourine termasuk bahan organik sehingga hanya memiliki sedikit unsur hara yang diperlukan untuk tanaman bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi

Pemberian bahan organik kedalam tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah yaitu memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah, tetapi bahan organik yang telah digunakan seperti pupuk