Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - i MHD. TEGUH SYUHADA LUBIS, SH., MH
HUKUM PEMBUKTIAN
DALAM PERADILAN DI INDONESIA
ii – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
Medan, Pustaka Prima, 2021, hlm 295, 16x24 cm ISBN: 978-623-95667-2-2
Penulis: Mhd. Teguh Syuhada Lubis, SH., MH Editor : Fajaruddin, SH., MH
Desain/Layout : Tim Pustaka Prima Diterbitkan oleh:
CV. Pustaka Prima (Anggota IKAPI)
Jalan Pinus Raya No.138 Komplek.DPRD Tk.I Medan Email : [email protected]
Website : www.pustaka-prima.com
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk fotokopi, merekam atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.
persembahan
Karya dalam bentuk Buku ini saya persembahkan buat orang-orang yang sangat dicintai
Ibunda, Ibunda, Ibunda saya Almarhuma Misriana Ningsih Ayahanda H. Drs Hakimuddin Lubis, M.MPd Isteriku tercinta Siska Ramadhani, SH Serta putriku tersayang Azalea Khaliqa Dzahin Lubis Kepada Para guru-guruku, sahabat-sahabat ku
dan almamaterku
Almarhumah
HUKUM PEMBUKTIAN
“Konsekuensi hukum”
Orang dihukum bukan karena ia bersalah, tetapi
karena terbukti bersalah, dan orang dibebaskan
bukan karena benar, tapi karena terbukti benar.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - iii KATA PENGANTAR
Tiada kata yang seantiasa terucap di dalam hati dan keluar melalui ucapan satu nama selain nama Allahu Akbar (allah Maha Besar). Kemudian Syalawat berangkaian salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Semoga kita tergolong sebagai hambanya yang mendapat syafa’at agar kita dapat terus mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah bahwa dimana kita banyak diberikan kesehatan, keberkahan umur, tenaga dan pikiran hingga akhirnya saya mampu dalam menyelesaikan penyusunan buku ini, dengan judul; “Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia”.
Dalam Kamus Besar Bahas Indonesia kata “bukti” merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yaitu “bewijs” yang artinya dapat diartikan sebagai suatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa, bewijs diartikan sebagai sebagai segala sesuatu yang memperlihatkan kebenaran fakta tertentu atau ketidakbenaran fakta lain oleh para pihak dalam perkara pengadilan, guna memberi bahan kepada hakim dalam melakukan penilainnya. Berdasarkan pengertian pembuktian dapat diambil kesimpulan bahwa pembuktian merujuk pada proses mencari, menggali, mengumpulkan bukti dan menyampaikan, memperlihatkan bukti kepada pengadil yaitu hakim dari para pihak yang berkepentingan dalam suatu permasalahan hukum di hadapan pengadilan dalam rangka pembenaran peristiwa hukum yang dihadapi agar teranglah peristiwa hukum yang dimaksud.
Pembuktian dan pemahaman tentang hukumnya memiliki arti penting dalam rangka menemukan kebenaran suatu peristiwa hukum. arti penting pada pembuktian yang dikemukakan tersebut ialah bersifat universal yang dapat dilihat dari konteks hukum apapun baik peristiwa pidana maupun peristiwa perdata dan peritiwa hukum lainnya, yakni suatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa hukum. Peristiwa hukum adalah peristiwa yang mempunyai akaibat hukum. Dalam konteks hukum pidana, pembuktian merupakan inti mencari persidangan perkara pidana karena yang dicari dalam hukum pidana adalah kebenaran materil. Pembuktian merupakan masalah yang memegang peranan dalam proses pemeriksaan pengadilan. Melalui pembuktian ditentukan nasib terdakwa. Selain itu Konteks Hukum pembuktian pada hukum acara perdata juga memperlihatkan dimana hukum pembuktian juga memiliki peran yang sama dengan hukum yang lainnya yaitu menduduki tempat yang sangat penting. Dapat ketahui bahwa hukum acara atau hukum formal bertujuan hendak memelihara dan mempertahankan hukum material. Jadi secara formal hukum pembuktian itu mengatur cara bagaimana mengadakan pembuktian seperti terdapat di dalam RBg dan HIR. Kitab Undag-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) maupun Hukum Formil lainnya yang di atur dalam Undang-undang tersendiri. Sedangkan secara materil, hukum pembuktian itu mengatur dapat
iv – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
tidaknya diterima pembuktian dengan alat-alat bukti tertentu di persidangan serta kekuatan pembuktian dari alat-alat bukti tersebut.
Dari uraian yang tergambarkan di atas, maka peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas itu harus disertai pembuktian secara yuridis.
maka terjelaskanlah yang dimaksud dengan pembuktian adalah penyajian alat- alat bukti yang sah menurut hukum kepada hakim yang memeriksa suatu perkara guna memberikan kepastian tentang kebenaran peristiwa yang dikemukakan. Pembuktian diperlukan dalam suatu perkara yang mengadili suatu sengketa di muka pengadilan (juridicto contentiosa) maupun dalam perkara- perkara permohonan yang menghasilkan suatu penetapan (juridicto voluntair).
Penting nya hukum pembuktian ini dengan berbagai ragam peradilan yang ada di Indonesia menjadi konsep dasar awal penulis dalam membuat dan menulis buku ini, dengan Judul Hukum Pembuktian dalam peradilan di Indonesia agar diharapkan buku sedarhana ini bisa dapat memperkaya literatur tentang Hukum Pembuktian pada Peradilan di Indonesia, menambah Khazanah tetang Pengantar hukum pembuktian, Perkembangan hukum pembuktian pada peradilan di indonesia, Pembuktian dalam peradilan pidana, Pembuktian dalam hukum acara perdata, Pembuktian dalam praktik peradilan tata usaha negara, Pembuktian pada Peradilan etik profesi hukum, Ragam pembuktian dalam peradilan di mahkamah konstitusi.
Merupakan suatu anugrah yang luar biasa bagi seorang akademisi untuk dapat mengahasilkan karya berupa buku dan hasil karya tersebut dapat digunakan sebagai penambah wawasan bagi pembaca, baik mahasiswa rekan- rekan dosen, para akademisi, praktisi hukum, penegak hukum dan masyarakat pada umumnya yang membaca buku ini.
Selesainya penyusunan buku ini tidak terlepas dari bantuan dan peran serta dari berbagai pihak, untuk itu penulis ucapkan banyak ribuan terima kasih dan semoga segala kebaikan menjadi amal ibadah dan berbalas dengan kebaikan pula. Dalam kesempatan ini penulis juga menyadari buku ini masih jauh dari harapan dan perlu untuk disempurnakan maka untuk itu penulis menerima keritikan dan saran untuk penyempurnaannya di kemudian hari. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara tempat Penulis mengabdikan diri dan tidak lupa pula ucapan terimaksih tersampaikan kepada Penerbit CV. Pustaka Prima atas kerjasamanya untuk menerbitkan buku ini. Semoga Allah swt., membalas atas kebaikan. Akhirnya semoga buku ini bermanfaat buat saya dan kita semua, Amin!
“Selamat Membaca”
Medan, Februari 2021
Mhd. Teguh Syuhada Lubis, SH. MH
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENGANTAR HUKUM PEMBUKTIAN ... 1
A. Pengertian, Istilah dan Arti Penting dalam Hukum Pembuktian ... 1
B. Asas-Asas Terkait pembuktian ... 6
C. Tujuan Hukum Pembuktian ... 17
D. Teori Hukum Pembuktian ... 20
1. Berdasarkan Undang-Undang Secara Positif ... 21
2. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim ... 21
3. Sistem Aaau Teori Pembuktian Bebas ... 22
4. Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Sampai Batas Tertentu ... 23
BAB II PERKEMBANGAN HUKUM PEMBUKTIAN PADA PERADILAN DI INDONESIA ... 25
A. Perkembangan Hukum Pembuktian ... 25
B. Problematika Pembuktian Terbalik Penyelesaian Sengketa Konsumen di Indonesia ... 32
1. Pendahuluan ... 32
2. Perlindungan Konsumen ... 35
3. Pemeriksaan dalam Pembuktian Terbalik Sengketa Konsumen ……… ... 40
C. Decentee Sebagai Salah Satu Alternatif Pembukti Pada Peradilan di Indonesia ... 42
1. Pendahuluan ... 42
2. Subyek Hukum yang Dapat Meminta Decentee ... 45
3. Landasan Hukum Pemeriksaan Setempat ... 47
BAB III PEMBUKTIAN DALAM PERADILAN PIDANA ... 51
A. Pendahuluan ... 51
1. Pengertian ... 51
2. Tujuan Pembuktian ... 52
3. Sistem dan Teori Pembuktian dalam Peradilan Pidana ... 53
4. Sistem Pembuktian dalam KUHAP ... 56
vi – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
B. Barang Bukti dan Alat Bukti ... 56
1. Barang Bukti ... 56
2. Alat-alat Bukti ... 58
C. Pembuktian dalam Tindak Pidana Khusus ... 71
1. Pengantar Hukum Tindak Pidana Khusus ... 71
2. Pembuktian Tindak Pidana Korupsi ... 75
3. Pembuktian Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Lounudring) ... 82
4. Beban Pembuktian Terbalik ... 84
5. Pembuktian Tindak Pidana Terorisme ... 85
BAB IV PEMBUKTIAN DALAM HUKUM ACARA PERDATA ... 89
A. Prinsip Umum Pembuktian ... 89
B. Beban Pembuktian ... 92
1. Beban Prinsip Pembuktian ... 94
2. Pedoman Pembagian Beban Pembuktian ... 95
C. Alat-alat Bukti ... 103
1. Pengertian Alat Bukti ... 103
2. Jenis Alat Bukti ... 103
BAB V PEMBUKTIAN DALAM PRAKTIK PERADILAN TATA USAHA NEGARA ... 117
A. Hubungan Hukum Tata Negara dalam Penerapan Praktik Peradilan Tata Usaha Negara ... 117
B. Asas-asas dan Teori Pembuktian pada Peradilan Tata Usaha Negara ... 126
1. Asas Pembuktian PTUN ... 126
2. Teori Pembuktian PTUN ... 132
C. Prosedur Pemeriksaan Sengketa Peradilan Tata Usaha Negara ……… ... 134
1. Acara Cepat ... 135
2. Acara Singkat ... 137
3. Acara Biasa ... 139
4. Prosedur Dismissal ... 141
5. Pemeriksaan Persiapan ... 145
D. Mekanisme Pembuktian oleh Hakim PTUN ... 147
1. Pendahuluan ... 147
2. Pengertian Pembuktian ... 149
3. Alat Bukti dalam Peradilan Tata Usaha Negara ... 151
4. Tahap Pembuktian dalam PTUN ... 156
5. Beban Pembuktian di Peradilan Tata Usaha Negara ... 158
6. Penilaian Atas Alat Bukti di Peradilan Tata Usaha Negara ... 159
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - vii
BAB VI PEMBUKTIAN PADA PERADILAN ETIK PROFESI HUKUM .. 163
A. Pengertian Profesi ... 163
B. Kode Etik Profesi dan Profesi Hukum ... 166
1. Etika Profesi ... 166
2. Profesi Hukum ... 169
C. Pemeriksaan dan Pembuktian Pelanggaran Kode Etik Hakim ... 170
1. Pendahuluan ... 170
2. Kode Etik Profesi Hakim ... 175
3. Komisi Yudisial ... 180
4. Penegakan Kode Etik Hakim ... 181
D. Pemeriksaan dan Pembuktian Pelanggaran Kode Etik Kepolisian ... 185
1. Pendahuluan ... 185
2. Kode Etik Kepolisian ... 189
3. Prosedur Pemeriksaan Pelanggaran Kode Etik Kepolisian ... 192
4. Pengawasan Putusan Sidang Kode Etik Kepolisian ... 199
E. Pemeriksaan dan Pembuktian Pelanggaran Kode Etik Advokat ... 202
1. Pendahuluan ... 202
2. Kode Etik Advokat ... 205
3. Penegakan dan Pemeriksaan dalam Kode Etik Advokat ... 210
F. Pemeriksaan dan Pembuktian Pelanggaran Kode Etik Jaksa ... 216
1. Pendahuluan ... 216
2. Kode Etik Perilaku Jaksa ... 220
3. Pemeriksaan Pelanggaran Kode Etik Jaksa ... 223
BAB VII RAGAM PEMBUKTIAN DALAM PERADILAN DI MAHKAMAH KONSTITUSI ... 227
A. Pengantar Hukum Acara Mahkamah Konstitusi ... 227
B. Asas-asas Hukum yang Berlaku Pada Mahkamah Konstitusi ... 232
1. Asas Ius Curia Novit ... 234
2. Asas Persidangan Terbuka Untuk Umum ... 237
3. Asas Independent dan Imparsial ... 238
4. Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan ... 240
5. Asas Hak Untuk Didengar Secara Seimbang (Audit Et Alteram Partem) ... 241
6. Asas Hakim Aktif dalam Persidangan ... 242
7. Asas Praduga Keabsahan (Praesumtio Instae Causa) ... 243
C. Ketentuan Hukum Acara Umum di Mahkamah Konstitusi ... 243
1. Pengajuan Permohonan ... 244
viii – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
2. Pendaftaran dan Penjadwalan Sidang ... 245
3. Alat Bukti ... 246
4. Pemeriksaan Pendahuluan ... 247
5. Pemeriksaan Persidangan ... 247
6. Putusan ... 248
D. Proses Persidangan dan Pembuktian Pengujian Undang- Undang Terhadap Undang-Undang Dasar di MK ... 250
1. Proses persidangan ... 250
2. Pembuktian ... 254
E. Pemeriksaan Perkara Sengketa Kewenangan Lembaga Negara di MK ... 256
1. Pemeriksaan Pendahuluan ... 256
2. Pemeriksaan Persidangan ... 257
3. Pembuktian ... 258
4. Penarikan Kembali Permohonan ... 258
F. Proses Persidangan dan Pembuktian Pembubaran Partai Politik di MK ... 260
1. Pendahuluan ... 260
2. Pemeriksaan Persidangan Pembubaran Partai Politik ... 261
3. Pembuktian Persidangan Pembubaran Partai Politik ... 261
G. Proses Persidangan dan Pembuktian Perselisihan Hasil Pemilihan Umum di MK ... 262
1. Pendahuluan ... 262
2. Pemohon, Materi Permohonan dan Tenggang Waktu Pengajuan ... 264
3. Pembuktian ... 265
H. Proses Persidangan Memutus Pendapat DPR dalam Proses Pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden di MK ... 267
1. Pemohon dan Materi Permohonan ... 267
2. Proses Persidangan ... 269
3. Putusan ... 270
4. Penutup ... 272
DAFTAR PUSTAKA ... 275
GLOSARIUM ……… 289
INDEKS ……….. 294
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 1
BAB I
PENGANTAR HUKUM PEMBUKTIAN
A. Pengertian, Istilah dan Arti Penting dalam Hukum Pembuktian Dalam Kamus Besar Bahas Indonesia kata “bukti” merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yaitu “bewijs” yang artinya dapat diartikan sebagai suatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa. Dalam kamus hukum, bewijs diartiakan sebagai sebagai segala sesuatu yang memperlihatkan kebenaran fakta tertentu atau ketidakbenaran fakta lain oleh para pihak dalam perkara pengadilan, guna memberi bahan kepada hakim bagi penilainnya.1 Selanjutnya kata bukti sering dikaitkan dengan istilah membuktikan dimana membuktikan berarti memperlihatkan bukti dan pembuktian diartikan sebagai proses, perbuatan atau cara membuktikan.2
Dalam hukum pidana Islam, bukti dikenal dengan istilah “al-bayyinah”, merupakan sinonim dari kata “al-Dalil wa al-Hujjah”, yang artinya petunjuk dari suatu argumentasi. Ada beberapa pandangan yang dikemukakan tentang arti pembuktian, antara lain. Pembuktian adalah segala hal yang menampakkan kebenaran, baik merupakan saksi atau sesuatu yang lain.3 Menurut Subhi Mahmasani, pembuktian adalah mengajukan alasan dan memberikan dalil atau petunjuk sampai pada batas meyakinkan.4
Al-bayyinah (bukti) adalah semua hal yang bisa membuktikan sebuah dakwaan.Bukti juga hujjah bagi orang-orang yang mendakwa atas dakwaanya.5 Bukti juga penjelas untuk menguatkan dakwaannya. Sesuatu tidak bisa menjadi bukti kecuali jika sesuatu itu bersifat pasti dan meyakinkan.Seseorang tidak boleh memberikan kesaksian kecuali kesaksiannya itu didasarkan pada ilmu pengetahuan tanpa persangkaan atau didasarkan pada sesuatu yang meyakinkan.Kesaksian tidak dianggap sah jika dibangun atas keraguan atau kebimbangan. Bukti-bukti yang didapat dari jalan tertentu, atau jalan yang bisa mengantarkan kepada keyakinan, seperti diperoleh dari proses pengamatan atau menyaksikan secara langsung peristiwa hukum atau diperoleh dari alat-alat
1 Andi Hamzah, Kamus Hukum, (Jakarta: Ghlmia Indonesia, 1986), hlm 83.
2 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1990), hlm 133.
3 T.M Hasbi Ash Shidiqie, Filsafat Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm.
139.
4 Subhi Mahmashani, Filsafat Hukum dalam Islam, (Bandung: PT. Al-Ma’arif), hlm 321.
5 Abdurrahman Al-Maliki dan Ahmad Ad-Daur, Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian dalam Islam, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2004), hlm 303.
2 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
teknologi baik Informasi Teknologi ataupun Balistik, kemudian dari hasil analisis ahli bisa dibuktikan kebenaran materilnya, maka bukti semacam itu termasuk bukti yang bisa meyakinkan.
Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa pembuktian adalah segala yang dapat memberikan keterangan tentang suatu perkara kejadian, sehingga dengan adanya pembuktian tersebut, Hakim memutuskan perkara sesuai dengan fakta hukum di persidangan.
R. Subekti berpendapat bahwa membuktian ialah menyakinkan hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan.6 Anshoruddin dengan mengutip beberapa pendapat mengartikan pembuktian sebagai berikut:
1. Menurut Muhammad at Thohir Muhammad Abd Al’Aziz membuktikan suatu perkara adalah memberikan keterangan dan dalil hingga dapat meyakinkan orang lain.
2. Menurut Sobhi Muhmasoni, membuktikan suatu perkara adalah mengajukan alasan dan memberikan dalil sampai kepada batas yang meyakinkan. Artinya, hal yang menjadi ketetapan atau keputusan atas dasar penelitian dan dalil-dalil itu.7
Berdasarkan pengertian pembuktian dapat diambil kesimpulan bahwa pembuktian merujuk pada proses mencari, menggali, mengumpulkan bukti dan menyampaikan, memperlihatkan bukti kepada pengadil yaitu hakim dari para pihak yang berkepentingan dalam suatu permasalahan hukum di hadapan pengadilan dalam rangka pembenaran peristiwa hukum yang dihadapi agar teranglah peristiwa hukum yang dimaksud. Mengenai pengertian hukum pembuktian M. Yahya Harahap tidak memberikan defenisi hukum pembuktian secara univesal atau umum melainkan memberikan defenisi hukum pembuktian sebagai ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat- alat bukti yang dibenarkan undang-undang dan mengatur mengenai alat bukti yang boleh digunakan hakim guna membuktikan kesalahan terdakwa.8
Syaiful Bakhri dalam kesempatan yang lain juga memberikan pengertian pembukian sebagai ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarakan undang-undang, membuktikan kesalahan
6 R. Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2008), hlm 1.
7 H. Anshoruddin, Hukum Pembuktian Menurut Hukum Acara Islam dan Hukum Positif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm 25-26.
8 M. Yahya harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding Kasasi dan Peninjauan Kembali, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), hlm 252.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 3 yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian merupakan suatu ketentuan yang mengatur alat bukti yang dibenarkan oleh undang-undang yang digunakan oleh hakim dalam membuktikan kesalahan yang didakwakan didalam persidangan, dan tidak dibenarkan membuktikan kesalahan terdakwa dengan tanpa alasan yurudis dan berdasar keadilan.9
Defenisi hukum pembuktian juga secara eksplisit disampaikan oleh Bambang Poernomo dimana hukum pembuktian merupakan keseluruhan aturan hukum atau peraturan undang-undang mengenai kegiatan untuk rekonstruksi suatu kenyataan yang benar pada setiap kejadian masa lalu yang relevan dengan persangkaan terhadap orang yang diduga melakukan perbuatan pidana dan pengesahan setiap sara bukti menurut ketentuan hukum yang berlaku untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana.
Pandangan atau penjelasan tentang defenisi hukum pembuktian yang disampaikan oleh M. Yahya harap dan Syaiful Bakhri sebagai pembuktian, demikiaan juga defenisi hukum pembuktian menurut Bambang Poernomo secara khusus berada dalam lapangan hukum pidana, padahal hukum pembuktian merupakan terminologi yang bersifat universal, baik dalam lapangan hukum pidana, perdata maupun dalam lapangan hukum administrasi.10
Penulis Sendiri memberikan defenisi hukum pembuktian adalah HukuM pembuktian merupakanseperangkat instrumen sistem kaidah hukum yang mengatur tentangpembuktian, yakni menyangkut segala proses dan mekanisme terkait menggunakan alat- alat bukti yang sah, mulai dari mengumpulkan dan menyampaikan alat bukti tersebut dan dilakukan tindakan- tindakan dengan prosedur khusus guna mengetahui fakta-fakta yuridisdi persidangan mempertahankan kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan agar terangnya suatu peristiwa hukum yang dipersengketakan. Maka dalam bentuk kesimpulan sederhana ruang pada hukum pembuktian sesuai defenisi yang telah dijelaskan diatas maka hukum pembuktian yangsebenarnyaitu hanya diperlukan dalam perkara maupunpersengketaan di muka hakim atau pengadilan. Pembuktian merupakan suatu rangkaian dari proses pemeriksaan di depan persidangan.
Dalam hal ini hakim diharapkan betul-betul cermat, teliti dan matang dalam menilai serta mempertimbangkan seluruh bukti-bukti yang diajukan di depan persidangan.
Pada arti penting pembuktian R. Supomo memberikan pendapatnya bahwa pembuktian mempunyai dua artti. Petama dalam arti yang luas, pembuktian membenarkan hubungan hukum. Misalnya juka hakim mengabulkan gugatan penggugat, maka gugatan yang dikabulkan mengandung
9 Syaiful Bakhri, Hukum Pembuktian Dalam Peraktik Peradilan, (Jakarta: P3IH dan Total Media).
10 Eddy O.S. Hiariej, Teori dan Hukum Pembuktian, (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm 5.
4 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
arti hakim telah menarik kesimpilan bahwa hal yang dikemukan oleh penggugat sebagai hubungan hukum antara penggugat dan tergugat adalah benar. Oleh karena itu, membuktikan membuktikan dalam arti luas berarti memperkuat kesimpulan hakim dengan syarat-syarat bukti yang sah. Kedua dalam arti yang terbatas , pembuktian hanya dipoerlukan apabila hal yang dikemukakan oleh penggugat itu dibantah oleh tergugat. Sementara itu hal yang tidak dibantah tidak perlu dibuktikan.11
Subekti berpendapat bahwa pembuktian memiliki arti penting atau hanya diperlukan jika terjadi persengketaan atau perkara dipengadilan.12 Maka kalau ditarik suatu kesimpulan dari pendapat diatas bahwa arti penting pada pembuktian yang dikemukakan tersebut ialah bersifat universal yang dapat dilihat dari konteks perkara pidana maupun perkara perdata, yakni suatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa hukum.
Peristiwa hukum adalah peristiwa yang mempunyai akaibat hukum.Dalam konteks hukum pidana, pembuktian merupakan inti mencari persidangan perkara pidana karena yang dicari dalam hukum pidana adalah kebenaran materil. Pembuktian merupakan masalah yang memegang peranan dalam proses pemeriksaan pengadilan. Melalui pembuktian ditentukan nasib terdakwa.. Apabila hasil pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang “tidak cukup” membuktikan kesalahan terdakwa yang didakwakan kepada terdakwa, terdakwa “dibebaskan” dari hukuman.Oleh karena itu hakim harus hati-hati, cermat dan matang menilai dan mempertimbangkan nilai pembuktian, Meneliti sampai dimana batas minimum
“kekuatan pembuktian” atau bewijs kracht dari setiap alat bukti yang disebut dalam pasal 184 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.
Pembuktian dilihat dari segi hukum formil, yakni ketentuan hukum yang membatasi sidang pengadilan dalam usaha mencari, menemukan dan mempertahankan kebenaran peristiwa hukum baik oleh hakim sebagai pengadil atau pihak lain yang bersengketa atau terlibat dalam peristiwa hukum tersebut yang semuanya terikat pada ketentuan dan tata cara, serta penilaian alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang dan tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan yang melebihi kapasitasnya dalam menilai alat bukti dan tidak boleh bertentangan dengan undang-undang.
Dalam konteks Hukum pembuktian pada hukum acara perdata dimana hukum pembuktian perannya sama dengan hukum yang lainnya yaitu menduduki tempat yang sangat penting. Dapat ketahui bahwa hukum acara atau hukum formal bertujuan hendak memelihara dan mempertahankan hukum material. Jadi secara formal hukum pembuktian itu mengatur cara bagaimana
11 R. Subekti. Op.Cit., hlm 7.
12 Ibid.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 5 mengadakan pembuktian seperti terdapat di dalam RBg dan HIR. Sedangkan secara materil, hukum pembuktian itu mengatur dapat tidaknya diterima pembuktian dengan alat-alat bukti tertentu di persidangan serta kekuatan pembuktian dari alat-alat bukti tersebut. Pada proses agenda persidangandipengadilam tidak dapat dihindarkan agenda jawab menjawab di muka sidang pengadilan, pihak-pihak yang berperkara dapat mengemukakan peristiwa-peristiwa yang dapat dijadikan dasar untuk meneguhkan hak perdatanya ataupun untuk membantah hak perdata pihak lain. Peristiwa- peristiwa tersebut sudah tentu tidak cukup dikemukakan begitu saja, baik secara tertulis maupun lisan. Tetapi hendaklah harus diiringi atau disertai bukti-bukti yang sah menurut hukum agar dapat dipastikan kebenarannya.
Dari uraian yang tergambarkan di atas, maka peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas itu harus disertai pembuktian secara yuridis.
maka terjelelaskanlah, yang dimaksud dengan pembuktian adalah penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum kepada hakim yang memeriksa suatu perkara guna memberikan kepastian tentang kebenaran peristiwa yang dikemukakan.
Pembuktian diperlukan dalam suatu perkara yang mengadili suatu sengketa di muka pengadilan (juridicto contentiosa) maupun dalam perkara- perkara permohonan yang menghasilkan suatu penetapan (juridicto voluntair).
Dalam suatu proses perdata, salah satu tugas hakim adalah untuk menyelidiki apakah suatu hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak. Adanya hubungan hukum inilah yang harus terbukti apabila penggugat menginginkan kemenangan dalam suatu perkara. Apabila penggugat tidak berhasil untuk membuktikan dalil-dalil yang menjadi dasar gugatannya, maka gugatannya tersebut akan ditolak, namun apabila sebaliknya maka gugatannya tersebut akan dikabulkan.Pasal 283 RBg/163 HIR menyatakan:
“Barangsiapa mengatakan mempunyai suatu hak atau mengemukakan suatu perbuatan untuk meneguhkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain, haruslah membuktikan adanya perbuatan itu.” Dalam kaitannya dengan pasal tersebut hal yang harus dipahami adalah tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan harus dibuktikan kebenarannya, sebab dalil-dalil yang tidak disangkal, apalagi diakui sepenuhnya oleh pihak lawan tidak perlu dibuktikan lagi.
Dalam praktek peradilan, sebenarnya seorang hakim dituntut mencari kebenaran materiil terhadap perkara yang sedang diperiksanya, kerena tujuan pembuktian itu adalah untuk meyakinkan hakim atau memberikan kepastian kepada hakim tentang adanya peristiwa-peristiwa tertentu, sehingga hakim dalam mengkonstatir, mengkualifisir dan mengkonstituir serta mengambil keputusan berdasarkan kepada pembuktian tersebut. Kebenaran formil yang dicari oleh hakim dalam arti bahwa hakim tidak boleh melampaui batas-batas yang diajukan oleh pihak yang berperkara.Maka dengan demikian memberikan pengertian bahwa pembuktian merupakan usaha yang dilakukan oleh masing-
6 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
masing pihak untuk meyakinkan hakim tentang kebenaran suatu perkara yang diajukan dalam suatu sidang. Terjelaskanlah bahwa masing-masing pihak mempunyai hak yang sama dalam melaksanakan dan mencari kebenaran di muka hakim.
B. Asas-Asas Terkait Pembuktian
Pada bagian ini akan disampaikan beberapa asas yang memiliki korelasi atau hubungan dengan pembuktian. Asas-asas yang dimaksud tidak hanya yang tersurat namun memungkinkan adanya yang tersirat tetapi memiliki pengaruh terhadap hukum pembuktian. Berikut adalah beberapa asas-asas yang terkait dengan hukum acara yang mengarah pada pembuktian.
1. Due Process of law
Due Process of law diartikan sebagai seperangkat prosedur yang diisyaratkan oleh hukum sebagai standar beracara yang berlaku universal. Due Process of lawlahir dari amandemen ke-5 dan 14 konstitusi Amerika untuk mencegah penghilangan atas kehidupan, kebebasan dan hak milik oleh tanpa suatu proses hukum.13 Due Procees of law mengahasilkan prosedur dan substansi perlindungan terhadap individu.14 Due Process of law memiliki hubungan yang erat dengan masalah bewijsvoering, yaitu cara memperoleh, mengumpulkan, dan menyampaikan bukti sampai kepengadilan. Di Negara- negara yang menjunjung tinggi Due Process of law dalam hukum acaranya perlindungan terhadap individu dari tindakan sewenang-wenang aparat negara mendapat perhatian khusus. Di Amerika sebagai Negara yang menjunjung tinggi Due Process of law seorang tersangka yang ketika ditangkap tidak disebutkan hak-haknya oleh penyidik dapat mengakibatkan tersangka tersebut dibebaskan, hal ini dikenal dengan istilah Miranda Warning atau Miranda Rule.15
Prinsip-prinsip Miranda rule atau lebih popular dengan istilah Miranda rights meliputi:
a) Hak untuk diam dan menolak untuk menjawab pertanyaan polisi atau yang menangkap sebelum diperiksa oleh penyidik;
b) Hak untuk menghubungi penasehat hukum dan mendapatkan bantuan hukum dari penasehat hukum/advokat yang bersangkutan;
c) Hak untuk memilih sendiri penasehat hukum/advokat;
13 Eddy O.S. Hiariej. Op.Cit., hlm 30.
14 Rhonda Wasserman, Procedural Due Process: A Refernce Guide to the United States Constitution, (Santa Barbara: Greenwood Publishing Group, 2004), hlm 1.
15 Eddy O.S. Hiariej. Op.Cit., hlm 31.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 7 d) Hak untuk disediakan penasehat hukum jika tersangka tidak mampu
menyediakan penasehat hukum/advokat sendiri.
Miranda rule atau Miranda rights adalah suatu aturan yang mengatur tentang hak-hak seseorang yang dituduh atau disangka melakukan tindak pidana/criminal, sebelum diperiksa oleh penyidik atau instansi yang berwenang.16
2. Presumption of innocent
Presumption of innocent dikenal dengan sebutan asas praduga tidak bersalah. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana selanjutnya disebut KUHAP, asas Presumption of innocent dijelaskan dalam penjelasan umum KUHAP butir ke-3 huruf c yaitu: “Setiap oang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka siding pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap”. Di bagian yang lain Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman juga menjelaskan Presumption of innocentdiatur dalam Pasal 8 Ayat 1 yang berbunyi: “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.
Asas hukum praduga tidak bersalah telah ada dari abad ke-11 di sistem hukum Common Law di negara Inggris di Bill of Rights. Asas ini muncul karena latar belakang pemikiran individualistik-liberalistik yang di pertengahan abad ke-19 berkembang ketika itu. Pada sistem peradilan pidana (Criminal Justice System), menurut sistem hukum Common Law, asas hukum ini adalah syarat utama dalam penetapan bahwa suatu proses sudah berlangsung jujur, adil dan tidak berpihak (due process of law).
Dalam artikel Asas Praduga Tak Bersalah Tidak Bisa Diartikan Secara Letterlijk, Guru Besar Hukum Pidana Universitas Trisakti Prof. Andi Hamzah berpendapat bahwa asas presumption of innocent (praduga tidak bersalah) tidak bisa diartikan secara letterlijk (apa yang tertulis). Menurutnya, kalau asas tersebut diartikan secara letterlijk, maka tugas kepolisian tidak akan bisa berjalan. Prof. Andi berpandangan, presumption of innocent adalah hak-hak tersangka sebagai manusia diberikan. Hak-hak yang dia maksud misalnya kawin dan cerai, ikut pemilihan dan sebagainya.
Selain Asas Praduga Tak Bersalah (presumption of innocent) disisi yang lain dikenal juga asas praduga bersalah (presumption Of guilt) artinya seseorang
16 M. Sofyan Lubis, Prnisip “Miranda Rule”, Hak Tersangka Sebelum Pemeriksaan, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010), hlm 14-18.
8 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
dianggap bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan dia bersalah. Khusus mengenai asas praduga bersalah dan asas praduga tidak bersalah perlu dipahami bahwa kedua asas tersebut tidaklah bertentangan antara satu dengan yang lain. Bahkan packer dengan tegas mengatakan bahwa keliru jika memikirkan asas praduga bersalah sebagaimana yang dilaksanakan dalam crime control model sebagai suatu yang bertentangan dengan asas praduga tidak bersalah yang menempati posisi pentimg dalam due process model. Ibarat kedua bintang kutup dari proses criminal, asas praduga tidak bersalah lawannya. Dua konsep tersebut berbeda tapi tidak bertentangan.
Asas praduga tidak bersalah adalah pengarahan bagi aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. Intinya, praduga tidak bersalah bersifat legal normative dan tidak berorientasi pada hasil akhir. Sementara itu asas praduga bersalah bersifat dekriptif factual artinya berdasarkan fakta-fakta yang ada, si tersangka pada akhirmya akan dinyatakan bersalah. Oleh sebab itu terhadapnya dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai pada tahap pengadilan.17
Maka dalam konteks hukum acara pidana di Indonesia secara universal asas praduga tidak bersalah diakui dan dijunjung tinggi secara legal formal namun dalam pelaksanaanya biaralah hukum yang membuktikan itu semua. Dimana jaksa bertugas mendakwa/menuntut dan membuktikan dakwaan/tuntutannya.
Penasehat Hukum atau Pengacara membela kliennya dan yang membuktikan kepentingan pembelaanya dan Hakimlah yang memutuskan perkara.
3. Legalitas
Nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali yang berarti tidak ada perbuatan pidana atau tidak ada pidana tanpa undang-undang pidana sebelumnyaadalah salah satu prinsipat dalam hukum pidana yang dikenal dengan asas legalitas.18 Prinsip berlakunya hukum pidana menurut ruang waktu terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana selajutnya disingkat KUHP. Prinsip yang ditentukan dalam Pasal 1 ayat (1) mensyaratkan bahwa harus terlebih dahulu adanya aturan tentang suatu perbuatan tertentu yang dilarang agar perbuatan itu dapat dipidana, dan inilah yang dikenal dengan “asas legalitas” atau “Principle of legality”. Asas ini telah berlaku mutlak bagi Negara-negara yang hukum pidananya telah dikodifikasi dalam suatu wetboek seperti Negara-negara yang menganut sistem hukum Eropa Kontinental
17 Eddy O.S. Hiariej. Op.Cit., hlm 33-34.
18 Ibid.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 9 misalnya Belnda, Prancis, dan Jerman, termasuk Indonesia. Asas ini juga termuat dalam Deklarasi Universal Hak-hak asasi manusia 1948 (Pasal 11).19
Asas legalitas ini berlatar belakang pada sejarah yang panjang yang di perjuangkan oleh pendekar-pendekar hukum dalam abad XVIII di Eropa Barat sebagai reaksi atas berlakunya hukum pidana pada zaman monarki absoulut dengan menjalankan hukum pidana secara sewenag-wenang, sekehendak dan menurut kebutuhan raja sendiri. Kesewenang-wenangan dalam memberlakukan hukum pidana itu dapat terjadi karena sistem berlakunya hukum pidana ketika itu masih menganut “Criminal Extra Ordoneria” dari sistem hukum romawi yaitu suatu sistem hukum yang untuk menentukan suatu kejahatan tidak didasarkan pada peraturan perundang-undangan melainkan sesuai dengan keperlukan pemegang kekuasaan yakni raja.20
Pasal 1 (1) merumuskan “Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan ketentuan-ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada terlebih dahulu” (geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan vooragegane wettelijke strafbepaling). Ada tiga pengertian dasar dalam asas legalitas itu, yaitu:
i. Ketentuan hukum pidana irtu harus ditetapkan terlebih dahulu secara tertulis.
ii. Dalam hal untuk menentukan suatu perbuatan apakah berupa tindak pidana ataukah bukan tidak boleh menggunakan penafsiran analogi iii. Ketentuan hukum pidana tidak berlaku surut (terugwerkend atau retro
aktif).
Dari tiga pengertian dasar diatas, tampak betul bahwa asas legalitas ini berlatar belakang pada kepastian hukum yang berkaitan dengan perlindungan yang lebih kongkret terhadap hak-hak warga yang berhadapan dengan kekuasaan pemerintah Negara, yang kongkretnya ialah untuk mencegah kesewenang-wenangan penguasa dalam bidang peradilan pidana.21
4. Adversary System
Adversary system diartikan sebagai sistem peradilan dimana pihak-pihak yang bersebrangan mengajukan bukti-bukti yang saling berlawanan dalam usahanya memenangkan putusan yang menguntungkan pihaknya.22 Berkaitan dengan pembuktian, adversial system bertalian dengan beban pembagian pembuktian. Dalam konteks persidangan perdata, pembuktian tidak selamanya
19 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001) hlm 169-170.
20 Ibid.
21 Ibid., hlm 172-173.
22 Eddy O.S. Hiariej. Op.Cit., hlm 40.
10 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
menjadi kewajiban penggugat, namun dapat saja menjadi kewajiban tergugat jika dalam persidangan timbul klaim dari tergugat atas suatu hak. Dalam persidangan pidana, baik jaksa penuntut umum maupun terdakwa dapat saling mengajukan bukti dalam rangka memberatkan atau meringankan dakwaan.
Pihak yang berperkara di pengadilan dalam mengajukan bukti yang saling berlawanan atau tegen bewijs.
Jadi, dalam Adversary system peranan hakim dalam “sengketa” (dispute) adalah mengamati para pihak sebagai wasit yang tidak memihak. Hakim akan berperan aktif apabila ada salah satu pihak yang mengajukan keberatan atas argumentasi atau cara yang digunakan pihak lain dalam menunjang fakta yang diajukan dimuka siding. Setelah proses persidangan selesai, hakim diharapkan dapat mementukan putusannya. Kebenaran dalam Adversary system hanya dapat diperoleh dengan memberikan kesempatan yang sama kepada masing-masing pihak (tertuduh dan penuntut umum) untuk mengajukan argumentasi disertai bukti penunjangnya.
Sistem pembuktian berdasarkan Adversary system sesungguhnya ditujukan untuk mengurangi kemungkinan dituntutnya seseorang yang nyata-nyata tidak bersalah. Selain itu juga,lebih membatasi ruang gerak aparat penegak hukum tertutama pihak kepolisian bahkan, termasuk hakim pengadilan masih dibatasi oleh ketentuan
5. Clear and Convincing Evidence
Clear and convincing evidence sangat berkaitan dengan minimum bukti dan kekuatan pembuktian. Clear and convincing evidence diartikan sebagai standar pembuktian antara standar preponderance of evidence dan beyond a reasonable doubt.preponderance of evidence, yakni kecukupan bukti yang biasanya digunakan dalam perkara perdata. Disini yang akan diputuskan menang adalah pihak yang bisa membuktikan lebih banyak. Sementara itu, standar beyond a reasonable doubt (diluar tingkat keraguanyang masuk akal) digunakan dalam perkara pidana. disini alat bukti saja tidaklah cukup menjatuhkan pidana kepada terdakwa tanpa keyakinan dari hakim.
6. Beyond a Reasonable Doubt
Beyond a reasonable doubtadalah standar pembuktian yang digunakan di dalam pengadilan pidana. pengambilan putusan yang menyatakan bahwa terdakwa bersalah, juri atau hakim harus dapat diyakinkan (tanpa keraguan yang masuk akal) bahwa terdakwa bersalah untuk tindak kejahatan yang dituduhkan kepadanya. Jaksa penuntut umum harus membuktikan dan tanpa keraguan yang masuk akal kepada juri atau hakim mengenai kesalahan terdakwa, beban pembuktian berada di tangan jaksa penuntut umum.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 11 7. Actori In Cumbit Probatio
Asas actori in cumbit probation secara harfiah berarti siapa yang menggugat dialah yang wajib membuktikan, dalam hukum acara perdata dan secara eksplisit diatur dalam pasal 163 Herzine Indische Reglement, Pasal 283 Reglement op de Burgerlijke dan Pasal 1865 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa yang diembani kewajiban untuk membuktikan adalah pihak yang mendalihkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak atau untuk mengukuhkan haknya sendiri ataupun membantah suatu hak orang lain yang menunjukan pada suatu peristiwa.23
8. Actori Incumbit Onus Probandi
Hukum acara pidana dikenal asas actori incumbit onus probandi. Artinya, siapa yang menuntut dialah yang wajib membuktikan. Dalam konteks hukum pidana yang melakukan penuntutan adalah jaksa penuntut umum sehingga jaksa penuntut umumlah yang diwajibkan membuktikan kesalahan terdakwa.
Kelanjutan asas actori incumbit onus probandi adalah asas actore non probante, reus absolvitur yang berarti jika tidak dapat dibuktikan, terdakwa harus dibebaskan. Tegasnya, jika jaksa penuntut umum dalam perkara pidana tidak dapat membuktikan kesalahan terdakwa (actore non probante), terdakwa harus diputus bebas (reus absolvitur). Pertama, terdakwa diputus bersalah dan dijatuhi pidana jika dakwaan jaksa penuntut umum terbukti secara sah dan meyakinkan. Kedua, terdakwa akan diputus bebas (vrijspraak) jika jaksa penuntut umum tidak berhasil membuktikan secara sah dan meyakinkan bahwa terdakwa telah melakukan suatu tindak pidana. Ketiga, terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum (onslag van rechtsvervolging) jika perbuatan yang didakwakan terbukti, tetapi perbuatan tersebut bukanlah perbuatan pidana. 24
9. Secundum Allegat Iudicare
Asas secundum allegat iudicare berarti hakim tutwuri terhadap peristiwa- peristiwa yang diajukan oleh para pihak. Asas ini dikenal dalam hukum acara perdata yang menandakan bahwa hakim dalam perkara perdata bersifat pasif.
Kaitannya dengan hukum pembuktian, sangat terkait asas pembagian beban pembuktian. Berdasarkan peristiwa-peristiwa yang diajukan oleh para pihak kemudian ditentukan peristiwa mana yang harus dibuktikan.
Tidak selamanya penggugat yang harus membuktikan suatu peristiwa yang diajukan dalam persidangan. Dapat saja berdasarkan peristiwa yang diajukan kemudian ditentukan yang harus membuktikan adalah tergugat. Intinya siapa
23 Ibid., hlm 41-42.
24 Ibid., hlm 43.
12 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
yang membuktikan atas peristiwa yang diajukan di persidangan adalah pihak yang mengaku mempunyai suatu hak atau mengukuhkan hak sendiri atau membantah hak orang lain.25
10. Judex Ne Procedat Ex Officio
Asas ini dikenal dalam hukum acara perdata yang menandakan hakim perdata bersifat pasif menunggu gugatan dari para pihak. Dalam konteks hukum pembuktian Judex Ne Procedat Ex Officio berkaitan dengan kewajiban membuktikan dalam persidangan perdata. Judex Ne Procedat Ex Officio secara pengertian bahwa tidak ada perkara maka tidak ada hakim. Dalam penjelasannya bahwa Bahwa perkara yang akan diputus tentunya harus ada hakim sebagai penengah. Seseorang tidak dapat meminta hakim dengan alasan apapun untuk memberikan putusan terhadap perkara yang tidak ada.
11. Actus Dei Nemini Facit Injuriam
Asas ini memberikan pengertian bahwa tidak seorang pun dapat dipertangungjawabkan atas kerugian akibat kecelakaan yang tidak dapat dihindari. Lebih lanjut asas ini menjelaskan bahwa tidak dapat dipertanggungjawabkan disini adalah disebabkan seperti adanya bencana alam misalnya banjir, gempa bumi, gunung meletus, keadaan-keadaan yang demikian tidak perlu dibuktikan. Asas ini tidak berkaitan langsung dengan hukum pembuktian namun jikakerugian diakibatkan kecelakaan yang tidak dapat dihindari maka dalam kondisi yang demikian tidak perlu dibuktikan.
Kecelakaan adalah sebuah peristiwa yang tidak diharapkan terjadinya.
Kecelakaan yang terjadi bukan keinginan dari seseorang. Seseorang tentunya ingin keselamatan bagi dirinya setiap saat. Jadi orang yang mengalami kecelakaan tidak dapat dimintakan ganti rugi. Asas ini memberikan Batasan bahwa tidak semua kerugian yang ditimbulkan oleh seseorang dapat diminta ganti kerugian. Ganti kerugian hanya dapat dimintakan selain dari asas ini.
12. Negativa Non Sunt Probanda
Negativa Non Sunt Probanda dikenal dalam hukum acara pidana, dimana asas ini sebagai hal dalam membuktikan sesuatu yang negative dan itu dianggap sebagai sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Asas ini memili kaitan dengan beban pembuktian. Sebagai contoh digambarkan dalam suatu kasus jika seseorang dituduh melakukan tindak pidana atau suatu kejahatan maka yang harus membuktikan adalah jaksa penuntut umum. Namun asas ini mengisyaratkan yang harus membuktikan adalah sesorang yang dituduh tersebut, bahwa dia tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan, hal ini
25 Ibid., hlm 44.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 13 dianggap lebih sulit sebab dia harus membuktikan sesuatu yang negative yaitu perbuatan yang tidak dia lakukan.
Secara filosfis untuk hal yang negative akan susah dibuktikan. Parameternya adalah pada diri sendiri. Anggap saja diri kita melakukan suatu kesalahan, maka hal yang kita lakukan pertama adalah menutupinya. Kita akan berusaha untuk sebisa mungkin untuk merahasiakan terhadap apa yang kita perbuat tersebut.
Perbuatan yang kita buat tersebut kita mengetahui bahwa itu salah, tapi secara naluriah seseorang itu pasti akan mghindari dari tuduhan tersebut.
Jadi, untuk membuktikan hal yang negative itu sangat sulit, seseorang tidak akan pernah memberikan keterangan dengan senang hati terhadap kejahatan yang telah dilakukannya. Orang akan berusaha bersembunyi, tidak hanya sendiri, bahkan meminta orang lain yang berkaitan dengan perbuatannya untuk tidak memberikan keterangan, dengan arti kata membungkam fakta yang telah ada.
13. Unus Testis Nullus Testis
Asas ini sejauh ini diketahui, merupakan salah satu asas hukum yang paling sering dijadikan dalil dalam proses pembuktian, khususnya dalam proses persidangan di Pengadilan. Dalam mencari arti asas ini mengutip uraian arti asas ini menurut kamus hukum yang paling lazim dipergunakan, yakni Black’s Law Dictionary, yang menyatakan bahwa Unus Nullus Rule:
“The rule of evidence which obtains in the civil law, that the testimony of one witness, is equivalent to the testimony of none.”
Dalam prakteknya diartikan menjadi: kesaksian satu orang, dianggap sebagai bukan kesaksian, atau tidak ada kesaksian. Itulah sebabnya dalam proses hukum, keterangan saksi yang dapat dipergunakan sebagai alat bukti, harus diajukan oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi. Adanya “syarat minimal” jumlah saksi, sebagaimana diamanatkan oleh asas ini, merupakan hal yang menarik, bahkan untuk dipelajari secara lebih mendalam, selain syarat kuantitatif tersebut, tentunya keterangan yang disampaikan oleh para saksi juga harus saling menguatkan, sehingga keterangan yang diberikan oleh para saksi, juga harus dinilai dari sisi kualitatif, bahwa keterangan yang diberikan oleh seorang saksi, dibenarkan atau dikuatkan oleh saksi lainnya, sehingga keterangan tersebut baru dapat dipergunakan sebagai alat bukti. Penerapan asas Unus Testis Nullus Testis ini bukanlah sekadar hal yang sederhana hanya dilihat dari jumlah saksi minimal dua orang, melainkan hal penting yang perlu dipelajari dan diterapkan lebih seksama, mengenai penilaian keterangan yang bagaima
Secara tegas asas ini menyatakan bahwa untuk membuktikan suatu peristiwa hukum baik dalam pidana maupun perdata dibutuhkan miniman dua orang saksi, sebab seorang saksi bukan lah saksi. Dalam konteks pidana Menurut Pasal 1
14 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
angka 26 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang dimaksud dengan saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Maka Keterangan saksi merupakan salah satu alat bukti yang terdapat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP.
Unus Testis Nullus Testis (satu saksi bukanlah saksi) merupakan asas yang menolak kesaksian dari satu orang saksi saja. Dalam hukum acara perdata dan acara pidana, keterangan seorang saksi saja tanpa dukungan alat bukti lain tidak boleh dipercaya atau tidak dapat digunakan sebagai dasar bahwa dalil gugatan secara keseluruhan terbukti. Prinsip ini secara tegas dianut oleh KUHAP dalam pembuktian (Pasal 185 ayat (2)).
Keharusan pembuktian dengan adanya dua orang saksi juga terdapat dalam firman Allah SWT, Q.S. Al-Baqarah (2): 282 yang artinya sebagai berikut:
“…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari oramg-orang lelaki diantaramu jika tak ada dua orang saksi, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-sasksi itu enggan (member keterangan) apabila mereka dipanggil.”26
Konteks pembuktian asas Unus Testis Nullus Testis berkaitan dengan bukti minimum yang dibutuhkan untuk memperoses suatu perkara.
14. Persona Standi In Judicio
“Persona Standi In Judicio”: setiap orang dapat berperkara, misal karena seseorang menuntut di pengadilan maka dirinya harus bisa membuktikan bahwa dirinya menderita kerugian/legal standing. Berarti asas ini menjelaskan tentang orang yang berwenang dan cakap hukum yang berperkara dipengadilan. Dalam hal berperkara dipengadilan seseorang harus mengajukan dalil-dalil yang membuktikan bahwa orang tersebut mempunyai kewenangan atau kepentingan untuk mengajukan gugatan atau berperkara dipengadilan.
Dalam perkara perdata, surat gugatan pada umumnya terdiri dari tiga bagian. Pertama, bagian yang disebut persona standi judicio, yakni bagian yang memuat identitas para pihak (nama dan tempat tinggal). Kedua, bagian yang disebut posita atau fundamentum petendi. Ketiga, adalah tuntutan atau petitum.Fundamentum petendi adalah sebutan lain dari posita dalam sebuah gugatan. Ia merupakan dalil yang menggambarkan adanya hubungan yang menjadi dasar atau uraian dari suatu tuntutan. Untuk mengajukan suatu tuntutan,
26 H. Anshoruddin. Op. Cit., hlm 33.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 15 seseorang harus menguraikan dulu alasan-alasan atau dalil sehingga ia bisa mengajukan tuntutan seperti itu. Karenanya, fundamentum petendi berisi uraian tentang kejadian perkara atau duduk persoalan suatu kasus.
15. Plaintiff
Plaintiff diartikan sebagai pihak yang mengajukan perkara perdata karena menderita kerugian. Pihak tersebut mendapat beban pembuktian terkait dengan kerugian yang diderita olehnya. Pada dasarnya Plaintiff ini sesuai dengan asas actori in cumbit probatio, yaitu bahwa ketika seseorang menggugat dan karena menderita kerugian, dialah yang diembani kewajiban untuk membuktikan. 27
16. Discovery
Discovery diartikan sebagai prosedur untuk mengungkapkan informasi diantara pihak-pihak yang berperkara. Penggugat diharuskan mengungkapkan dokumen-dokumen dan fakta-fakta yang relevan dengan kasusnya kepada pihak lawan sesuai aturan dan prosedur yang ditetapkan. Beban pembuktian berada pada penggugat, hanya fakta-fakta yang relevan dengan kasus yang harus dibuktikan yang dikenal dengan istilah Factum probandum.28
17. Directed Verdict
Directed Verdict adalah lahirnya putusan yang dijatuhkan hakim dalam persidangan akibat ketidakmampuan salah satu pihak yang bersengketa atau berperkara untuk menghadirkan dan menyodorkan bukti-bukti yang cuykup untuk menyatakan kebenaran peristiwa hukum. Asas ini mengisyaratkan tidak selalu yang wajib membuktikan itu adalah penggugat, tetapi dalam kondisi tertentu ketika hakim memerintahkan tergugat untuk membuktikan sesuatu ternyata pihak tersebut tidak memiliki kemampuan menghadirkan bukti-bukti yang cukup untuk mendukung posisinya, makim diharuskan memberkan keputusan atas sengketa atau perkara tersebut.
18. Unlawful legal Evidence
Unlawful legal Evidencese secara harfiah berarti perolehan bukti yang tidak sah. Dalam asas ini menggambarkan apabila bukti diperoleh dengan cara yang tidak sah, maka hal tersebut dapat mengakibatkan berakhirnya perkara. Asas ini sangat berkaitan dengan pembuktian khususnya menyangkut proses atau cara mendapatkan dan memperoleh serta menghadirkan bukti-bukti dihadapan persidangan. Dalam perkembangan peraktik peradilan pidana mengenai pembuktian dalam kaitannya memperoleh dan menghadirkan alat bukti kini
27 Eddy O.S. Hiariej. Op.Cit., hlm 46.
28 Ibid., hlm 47.
16 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
mengalami banyak perkembangan diantaranya dalam pembuktian terhadap Alat bukti elektronik dimana alat bukti elektronik ialah Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memenuhi persyaratan formil dan persyaratan materil yang diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang sangat memungkinkan dalam upaya memperolehnya dilakukan dengan cara yang tidak sah.
19. Audi Et Alteram Partem
Audi Et Alteram Partem adalah asas yang menuntut agar setiap orang diperlakukan sama. Asas audi et alteram partem diterapkan pada proses beracara di persidangan, yaitu selama persidangan, hakim harus memperhatikan dan mendengarkan kedua belah pihak secara bersama-sama.Dalam asas hukum acara perdata asas ini menjelaskan hakim harus mendengarkan kedua belah pihak (audi et alteram partem) dimana asas ini merupakan asas yang penting terutama bagi pihak-pihak yang berperkara. Karena asas tersebut merupakan suatu tolak ukur bagi kinerja hakim dalam menjalankantugasnya sehingga hakim tidak dapat menyalahgunakan kewenangannya.
Asas ini memiliki dua aspek, yaitu mengakui adanya hak seorang tergugat
untuk membela diri, dan adanya jaminan baik langsung maupun tidak langsung oleh ketentuan undang-undang mengenai pengakuan tentang kesamaan kedudukan
para pihak. Maksudnya adalah bahwa para pihak yang bersengketa haruslah diberi
kesempatan yang sama untuk mempertahankan hak atau kepentingannya, singkatnya secara prosesual para pihak mempunyai kedudukan yang sama.
Penerapan asas kesamaan ini mulai diterapkan pada acara jawab menjawab, di mana tergugat diberi kesempatan untuk menjawab gugatan dari penggugat baik dalam bentuk eksepsi, bahkan dalam bentuk rekonvensi atau gugat balik. Kemudian penggugat juga diberi kesempatan untuk menjawab jawaban tergugat dalam bentuk replik dan sebagainya tergugat dapat menjawab replik dengan mengajukan duplik. Dalam acara jawab-menjawab ini hakim harus mendengar secara bersama-sama peristiwa yang diajukan oleh kedua pihak.Dalam pembuktian pada perkara perdata, asas audi et alteram partemdiwujudkan dalam pemeriksaan alat bukti, di mana hakim harus sama- sama memeriksa alat-alat bukti yang diajukan oleh kedua belah pihak, tidak boleh hanya memeriksa alat bukti dari satu pihak saja. Hal ini juga berarti hakim tidak boleh menerima keterangan satu pihak sebagai yang benar, tanpa mendengarkan pihak lain terlebih dahulu atau tanpa memberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 17 C. Tujuan Hukum Pembuktian
Dalam praktik peradilan, sebenarnya seorang Hakim dituntut mencari kebenaran materiil terhadap perkara yang sedang diperiksanya, karena tujuan pembuktian itu adalah untuk meyakinkan hakim atau memberi kepastian kepada hakim tentang adanya peristiwa-peristiwa tertentu, sehingga hakim dalam mengambil keputusan berdasarkan kepada pembuktian tersebut. Kebenaran formal yang dicari oleh hakim dalam arti bahwa hakim tidak boleh melampui batas-batas yang diajukan oleh pihak yang berperkara. Jadi, baik kebenaran formal maupun kebenaran materiil hendaknya harus dicari secara bersamaan dalam pemeriksaan suatu perkara yang diajukan kepadanya. Pembuktian bertujuan untuk mendapatkan kebenaran suatu peristiwa atau hak yang diajukan kepada Hakim. Dalam hukum perdata, kebenaran yang dicari oleh hakim adalah kebenaran formal, sedangkan dalam hukum pidana, kebenaran yang dicari oleh hakim adalah kebenaran materiil.
Dalam hal pembuktian hakim dibolehkan untuk tidak meyakini alat-alat bukti yang dikemukakan oleh jaksa penuntut umum, dengan ketentuan hakim harus menyebutkan alasan ketidak yakinannya itu serta pasal peraturan perundang-undang yang menjadi dasar putusan. Apapun yang telah ditentukan oleh Pasal 183 KUHAP dan Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman serta sistem pembuktian yang negatif dalam KUHAP, tidak lain tujuannya agar keputusan hakim yang mengandung pemidanaan betul-betul sesuai dengan kenyataan, dalam arti betul- betul telah terjadi tindak pidana dan terdakwa pelakunya, dengan kata lain tidak terjadi penghukuman terhadap orang yang tidak bersalah dalam hal ini hukum acara pidana mengakui pendapat yang menyatakan bahwa “lebih baik melepaskan seratus orang yang bersalah dari pada menghukum satu orang yang tidak bersalah”.Sehubungan dengan hal tersebut, acara pidana sebetulnya hanya merupakan jalan untuk mendapatkan kebenaran yang sejati yang intinya adalah pembuktian, maka dalam acara pidana dikenal tiga bagian hukum pembuktian, yaitu:
1. Penyebutan alat bukti yang dapat dipakai oleh hakim untuk mendapatkan gambaran dari peristiwa pidana yang sudah lampau 2. Penguraian cara bagaimana alat-alat bukti dipergunakan.
3. Kekuatan pembuktian dari masing-masing alat bukti.
Dalam hukum, yang dimaksud dengan membuktikan berarti member kepastiam kepada hakim tentang adanya suatu peristiwa atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.Dengan demikian, tujuan pembuktian adalah untuk dijadikan dasar dalam menjatuhkan putusan hakim kepada terdakwa tentang bersalah atau tidaknya sebagaimana yang telah didakwakan oleh penuntut umum. Namun tidak semua hal harus dibuktikan, sebab menurut Pasal 184 ayat
18 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
(2) KUHAP, bahwa “hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.”
Dengan demikian, hakim di dalam memeriksa suatu perkara pidana dalam sidang pengadilan senantiasa berusaha membuktikan:
i. Apakah betul suatu peristiwa itu terjadi?
ii. Apakah betul peristiwa tersebut merupakan suatu tindak pidana?
iii. Apakah sebab-sebabnya peristiwa itu terjadi?
iv. Siapakah orangnya yang telah bersalah berbuat peristiwa itu?
Maka tujuan pembuktian diatas, adalah untuk mencari, menemukan, dan menetapkan kebenaran-kebenaran yang ada dalam perkara itu, bukanlah semata- mata mencari kesalahan seseorang.29
Dalam konteks hukum pidana,pembuktian merupakan inti persidangan perkara pidana, karena yang dicari adalah kebenaran materiil.Pembuktiannya telah dimulai sejak tahap penyelidikan guna menemukan dapat tidaknya dilakukan penyidikan dalam rangka membuat terang suatu tindak pidana dan menemukan tersangkanya.Menurut Munir Fuadydalam bukunya bahwa Sistem Pembuktian dalam Hukum Acara Pidana, hampir seragam di negara manapun bahwa beban pembukian diletakkan pada pundak pihak Jaksa Penuntut Umum.
Berdasarkan hal tersebut maka tujuan dan guna pembuktian bagi para pihak yang terlibat dalam proses pemeriksaan persidangan adalah sebagai berikut:
a. Bagi Penuntut umum,Pembuktian adalah merupakan usaha untuk meyakinkan Hakim yakni berdasarkan alat bukti yang ada,agar menyatakan seseorang terdakwa bersalah sesuai surat atau cacatan dakwaan.
b. Bagi terdakwa atau penasehat hukum, pembuktian merupakan usaha sebaliknya untuk meyakinkan hakim yakni berdasarkan alat bukti yang ada, agar menyatakan terdakwa dibebaskan atau dilepas dari tuntutan hukum atau meringankan pidananya.Untuk itu terdakwa atau penasehat hukum jika mungkin harus mengajukan alat alat bukti yang menguntungkan atau meringankan pihaknya, Biasanya bukti tersebut disebut kebalikannya.
c. Bagi Hakim atas dasar pembuktiantersebut yakni dengan adanya alat-alat bukti yang ada dalam persidangan baik yang berasal dari penuntut umum atau penasehat hukum/terdakwa dibuat dasar untuk membuat keputusan.
29 Andi Sofyan dan Abd Asis, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, (Jakarta:
Kencana Premedia Group, 2014), hlm 231-232.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 19 Secara ringkasnya, pembuktian adalah suatu proses membuktikan dan meyakinkan hakim tentang kebenaran peristiwa yang menjadi dasar gugatan dengan menggunakan bukti-bukti yang diatur oleh undang-undang. Dalam hukum perkara perdata Yang harus dibuktikan oleh pihak-pihak yang berperkara perdata bukanlah hukumnya, melainkan peristiwanya atau hubungan hukumnya.Dalam perkara perdata hakim harus melakukan pengkajian terhadap peristiwa-peristiwa yang disampaikan pihak-pihak berperkara, kemudian memisahkan mana peristiwa yang penting (relevant) dan mana yang tidak (irrelevant). Peristiwa yang penting itulah yang harus dibuktikan, sedangkan peristiwa yang tidak penting tidak perlu dibuktikan. Hal-hal yang harus dibuktikan adalah hal yang menjadi perselisihan atau persengketaan yang diajukan oleh pihak, akan tetapi dibantah atau disangkal oleh pihak lain.
Hukum pembuktian (law of evidence) dalam berperkara merupakan bagian yang sangat kompels dalam proses liigasi. Keadaan kompleksitasnya makin rumit, karena pembuktian berkaitan dengan kemampuan merekonstruksi kejadian atau peristiwa masa lalau (past event) sebagai suatu kebenaran yang bersifat absolute (ultimate truth), tetapi bersifat kebenaran relative atau bahkan cukup bersifat kemungkinan (probable), namun untuk mencari kebenaran tang demikian pun, tetap menghalangi kesulitan. 30 Kesulitan menemukan dan mewujudkan kebenaran, terutama disebabkan beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:
1. Pertama, faktor sistem Adversaria SystemSistem ini mengharuskan member hak yang sama kepada para pihak yang berperkara untuk saling mengajukan kebenaran masing-masing, serta mempunyai hak untuk saling membantah kebenaran yang diajukan pihak lawan sesuai dengan proses adversarial adversarial proceeding
2. Kedua, pada prinsipnya, kedudukan hakim dalam proses pembuktian, sesuai dengan sistem adversarial adalah lemah dan pasif. Tidak aktif mencari dan menemukan kebenaran di luar apa yang diajukan hakim dalam proses perdata sesuai dengan sistem adversarial atau kontentionsa tidak boleh melangkah kea rah sistem inkusittorial.
Hakim perdata dalam menjankan fungsi mencari kebenaran, dihalangi oleh berbagai tembok perbatasan. Minsalnya tidak bebas memilih sesuatu apabila hakim dihadapkan dengan alat bukti yang sempurna dan mengikat (akta otentik, pengakuan dan sumpah). Dalam hal itu, sekalipun kebenarannya diragukan, hakim tidak mempunyai kebebasan untuk menilainya.31
30 John J, dkk. Civil Prosedure: Case & Material, (West Publishing: St. Paul Minn, 1985), hlm 867.
31 Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1987), hlm 9.
20 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
3. Ketiga, mencari dan menemukan kebenaran semakin lemah dan sulit, disebabkan fakta dan bukti yang diajukan para pihak tidak dianalisis dan dinilai oleh ahli (not analyzed and appraid by experst).
Terkadang bukti keterangan yang disampaikan saksi penuh emosi atau prasangka (huch) yang berlebihan. Bahkan dalam kenyataan, kebenaran yang dikemukakan dalam alat bukti, sering mengandung dan melekat unsur:
1. Dugaan dan prasangka 2. Factor kebohongan, dan 3. Unsure kepalsuan.
Akibat keadaan ini, dalam putusan yang dijatuhkan hakim tidak terkandung kebenaran hakiki, tetapi kebenaran yang mengandung prasangka, kebohongan, dan kepalsuan.
Banyak orang bertanya, kenapa hukum tidak mengambil dan menganut sistem pembuktian yang lebih efesien, yaitu mencari kebenaran berdasarkan perkembangan modern di bidang kesehatan, ilmu pengetahuan (scientific experts) dan rekayasa (engineering). Kenapa tidak dicari kebenaran itu melalui psikoanalisis, atau dengan teknik yang relevan dengan ilmu pengetahuan?
Namun hal itu pada umumnya, baru berupa wacana.Belum direalisasu dalam kenyatan perundang-undangan, apalagi dalam penerapan. Meskipun beberapa Negara seperti swedia, telah meningkatan pendapat para ahli sebagai alat bukti, namun dalam kenyataan, sampai sekarang kebanyakan Negara masih banyak menitikberatkan peembuktian kebenaran secara manual berdasarkan alat bukti arkais (archais) dariupada kebenaran berdasarkan infoermasi elektronis (electronic information).32 Keadaan tersebut masih meliputi sistem pembuktian mencari kebenaran yang dianut peradilan Indonesia.Belum ada perubahan kea rah penemuan kebenaran yang lebih modern dan rasional.
Sekadar upaya menyaring atau mengontrol putusan yang mengandung kebenaran yang berisi kepalsuan dan kebohongan, hakim harus menolak alat bukti yang secara inheren tidak di percaya (inherently unreliable) dan menyisihkan alat bukti yang tidak berharga (eliminating worthless evidence).33
D. Teori Hukum Pembuktian
Pembuktian pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara meletakan hasil pembuktian terhadap perkara yang sedang diperiksa. Dalam sistem atau teori pembuktian secara umum terbagi atas 3 (tiga) teori sebagai berikut:
32 John J. Cound, dkk. Op., Cit, hlm 868.
33Ibid.