PEMBUKTIAN DALAM HUKUM ACARA PERDATA
C. Alat-Alat Bukti
2. Jenis Alat Bukti
Dalam acara pidana, titik berat alat bukti untuk membuktikan kesalahan yang dilakukan terdakwa, diarahkan kepada alat bukti keterangan saksi, yaitu mengaalkan kepada orang yang mengalami, mlihat atau mendengar sendiri secara langsung tindak pidana yang terjadi. Namun demikian tidak mengurangi pentingnya alat bukti surat dalam bentuk pidana tertentu, seperti pemalsuan, tindak pidana korupsi, tindak pidana ha katas kekayaan Intelektual dan sebagainya. Mengenai alat bukti yang diakui dalam acara perdata diatur secara enumerative dalam Pasal 1866 KUH Perdata, Pasal 164 HIR, yang terdiri dari:
a. Bukti tulisaan, b. Bukti dengan saksi, c. Persangkaan,
137 Ibid., hlm 530-531.
104 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia d. Pengakuan, dan
e. Sumpah.
Alat bukti tulisan ditempatkan dalam urutan pertama. Hal ini sesuia dengan kenyataan jenis surat atau akta dalam perkara perdata, memegang peran yang terjadi. Semua kegiatan yang menyangkut bidang perdata, sengaja dicatat atau dituliskan dalam surat atau akta. Setiap perjanjian transaksi jual-beli, sewa-menyewa, penghibaan, pengangkutan, asuransi, perkawinan, kelahiran dan kematian, sengaja dibuat dalam bentuk tertulis dengan maksud sebagai alat bukti atau tansaksi atau peristiwa hubungan hukum yang terjadi.Apabila satu ketika timbul sengketa atas peristiwa itu, dapat dibuktikan permasalahan dan kebenarannya oleh akta yang besangkutan. Atas kenyataan itu dalam perkara perdata alat bukti yang dianggap paling dominan dan determinan adalah alat bukti surat. Sedangkan saksi, pada dasarnya tidak begitu berperan, terutama dalam perkara transaksi bisnis.Barangkali lebih berperan lagi alat bukti persangkaan disbanding dengan saksi.
Seperti yang dijelaskan, sampai sekarang belum ada pembaruan atau perubahan mengenai jenis atau alat bukti yang disebut Pasal 1866 KUH Perdata, Pasal 164 HIR. Berarti jika KUH Perdata (burgerlijk wetboek) diundangkan 30 April 1847. (S 1847-23) umur ketentuan alat bukti tersebut sekitar satu setengah abad. Begitu juga HIR, hampir berumur satu abad, karena diundangkan kepada 1941 dengan S. 1941-44. Padahal perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bejalan terus dan sekaligus memperkenalkan jenis atau bentuk alat bukti baru yang lebih canggih, seperti tape recorder, atau E-mail dan sebaginya.
Namun demikian, oleh karena pada dasarnya ketentuan mengenai jenis atau bentuk alat bukti bersifat enumerative dan imperatif, para pihak maupun hakim tidak boleh mengesampingkan maupun menambahnya dengan alat bukti baru yang lain, kecuali para pihak menyepakatinya. Sepintas lalu perubahan hukum pembuktian yang terjadi di Belanda, antara lain:
a. Menghapuskan penyebutan satu per satu secara enumerative jenis atau bentuk alat bukti;
b. Menerima jenis atau bentuk baru alat bukti yang dihasilkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti foto, film, pita suara, dan pemeriksaan darah;
c. Para pihak yang berperkara dapat diperiksa sebagai saksi dengan nilai kekuatan pembuktian yang bersifat bebas (vrij bewijskracht), tidak sampai mempunyai kekuatan memaksa (dwingend bewijskracht).138 a. Alat bukti tulisan
138 Ibid., hlm 554-557.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 105 Pada pasal 1866 KUH Perdata,urutan pertaman alat bukti disebut bukti tulisan (schrifftelijke bewijs,written evidence).ada juga yang menyebut alat bukti surat. Bukankah tulisan pada dasarnya sama dengan surat? Tulisan ditinjau dari segi yuridis dalam kaitannya sebagai alat bukti memerlukan penjelasan ditinjau dari berbagai aspek:
1) Tanda bacaan, berupa aksara. Inilah syarat pertama.tulisan atau surat terdiri dari tanda bacaan dalam bentuk aksara.
2) Disusun berupa kalimat sebagai pernyataan. Agar aksara tersebut dapat berbentuk menjadi tulisan ataupun surat ataupun akta,harus disusun berbentuk kalimat:
a) Sebagai ekspresi atau pernyataan cetusan pikiran atau kehendak orang yang menginginkan pembuatannya;
b) Rangkaian kalimat itu sedemikian rupa disusun dan isinya,dapat dimengerti dengan jelas oleh orang yang membacanya sesuai dengan apa yang dikehendaki dalam surat itu.
3) Ditulis pada bahan tulisan. Pada umumnya ditulis pada kertas.
4) Ditandatangani pihak yang membuat. Syarat lain yang dianggap penting, tulisan itu ditanda tangani pihak yang terlibat dalam pembuatannya.suatu surat atau tulisan yang memuat pernyataan atau kesepakatan yang jelas dan terang, tetapi tidak ditanda tangani ditinjau dari sehi hukum pembuktian, tidak sempurna sebagai surat atau akta sehingga tidak sah dipergunakan sebagai alat bukti tulisan
5) Mencantumkan tanggal. Surat yang dianggap sempurna bernilai sebagai alat bukti tulisan atau akta, selain terdapat tanda tangan, juga mencantumkan tanggal penandatanganannya.139
b. Alat bukti saksi
Pembuktian dengan saksi diatur dalam pasal 168-172 HIR dan Pasal 306 sampai dengan 309 RBG, serta pasal 1895, 1902 sampai dengan pasal 1908 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal 168 HIR, menunjuk kepada hukum adat. Pasal 1895 Kitab undang-Undang Hukum Perdata, menunjuk pada undang-undang lain, dimana terdapat ketentuan pembuktian dengan saksi tidak diperbolehkan. Hal demikian tidak begitu berarti, karena dengan dicabutnya pasal 1895, 1899, 1900, 1901 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, melalui Stb 1925-525, serta pencabutan pasal 1897 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, melalui Stb 1938-276, sehingga pembuktian dengan saksi, selalu diperbolehkan.
Adapun kekuatan pembuktian dengan saksi, hanya diatur dalam Pasal 169 HIR, atau pasal 306 RBG atau pasal 1905 Kitab Undang-Undang Hukum
139 M.Yahya harahap, Op.Cit., hlm 633-634.
106 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
Perdata. Bahwa kesaksian seseorang saksi tidak cukup untuk membuktikan hal sesuatu. Dalam praktik diketahui, bahwa apabila beberapa orang saksi. Masing-masing menceritakan suatu keadaan yang berlainan tetapi dapat dihubungkan satu dengan yang lain, maka hakim leluasa untuk menganggap terbukti suatu keadaan-keadaan tersebut. Hakim harus percaya kepada pada keterangan saksi, dalam hal dua orang menentukan secara minimum. Hakim harus waspada dan bijaksana terhadap keterangan saksi, dengan mencocokkannya satu dengan yang lain, bahkan memeriksa cara hidup dan dan kesusilaan, adat istiadat, martabat yang pada umumnya segala hal ikhwal yang dapat berpengaruh, sehingga saksi dengan keterangannya itu, dapat dipercaya atau tidak.
Alat bukti saksi, menjangkau segala bidang dan jenis sengketa perdata, kecuali apabila undang-undang menentukan sendiri sengketa, hanya dapat dibuktikan dengan akta atau tulisan, maka alat bukti saksi tidak dapat diterapkan. Posisi saksi adalah menyempurnakan permulaan pembuktian tulisan, dan menjadi saksi merupakan suatu kewajiban yang bersifat memaksa.140Tidak selamanya sengketa perdata dapat dibuktikan dengan alat bukti tulisan atau akta.
Dalam kenyataan biasa terjadi:
1) Sama sekali penggugat tidak memiliki alat bukti tulisan untuk membuktikan dalil gugatan, atau
2) Alat bukti tulisan yang ada, tidak mencukupi batas minimal pembuktian karena alat bukti tulisan yang ada, hanya berkualitas sebagai permulaan pembuktian tulisan.
Seperti halnya pada alat bukti pada umumnya, alat bukti keterangan saksi mempunyai syarat formil dan materil. Antara kedua syarat itu bersifat kumulatif, bukan alternatif. Menurut undang-undang, terdapat beberapa syarat formil yang melekat pada alat bukti saksi, yang terdiri dari:
1) Orang yang cakap menjadi saksi;
2) Keterengan disampaikan disidang pengadilan;
3) Diperiksa satu per satu;
4) Mengucapkan sumpah.
Syarat materil yang dijelaskan pada uraian ini bersifat kumulatif bukan alternatif. Apabila salah satu diantaranya tidak terpenuhi, mengakibatkan keterangan yang diberikan saksi mengandung cacat materil, oleh karena itu keterangan tersebut tidak sah sebagai alat bukti. Sehubungan dengan itu, perlu diperhatikan syarat-syarat materiil apa saja yang melekat pada alat bukti saksi, yaitu:
1) Keterangan seorang saksi tidak sah sebagai alat bukti;
2) Keterangan berdasarkan alasan dan sumber pengetahuan;
140 Syaiful Bakhri, Op. Cit., hlm 124-125.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 107 3) Hal hal yang tidak sah menjadi alat bukti keterangan.
Unsur-unsur yang dilarang dimasukkan menjadi alat bukti keterangan saksi, meliputi:
1) Pendapat pribadi saksi;
2) Dugaan pribadi saksi;
3) Perasaan pribadi saksi;
4) Kesan pribadi saksi.
Alat bukti saksi yang dijelaskan di atas tentunya harus terdapat persesuaian kesaksiannya antara satu dengan yang lainnya. Pengertian saling persesuaian antara keterangan saksi yang satub dengan yang lain atau antara keterangan saksi dengan alat bukti yang lain, terdapat kecocokan, sehingga mampu memberi dan membentuk suatu kesimpulan yang utuh tentang peristiwa atau fakta yang disengketakan.141
c. Alat bukti persangkaan
Alat bukti urutan ketiga dalam Pasal 164 HIR, Pasal 1886 KUH Perdata, adalah persangkaan.baik Pasal 173 HIR atau Pasal 310 RBG, tidak mengatur klasifikasi bentuk dan jenis persangkaan. Hal itu dijelaskan dalam pasal 1915 KUH Perdata.
1) Persangkaan menurut undang-undang
Disebut juga persangkaan hukum (rehtsvermoeden) atau persangkaan undang-undang (wettelijke vermoeden). Dalam penulisan sering juga disebut presumtiones juris (presumption of law). Bentuk persangkaan undang-undang terbagi dua,yaitu
a) Persangkaan menurut undang-undang yang tidak dapat dibantah atau irrebuttable presumption of law;
b) Persangkaan,menurut undang-undang yang dapat dibantah atau rebuttable presumption of law.
2) Persangkaan hakim
Bentuk persangkaan ini diatur dalam pasal 1912 KUH Perdata, berupa persangkaan berdasarkan kenyataan yang biasa disebut fetelijke vermoeden atau presumptions of fact.bentuk persangkaan ini tidak berdasarkan undang-undang, tetapi diserahkan kepada pertimbangan hakim, dengan syarat asal bersumber dari fakta-fakta yang penting. Sebagaimana maksud ketentuan pasal 162 HIR Pasal 282 Rbg yang berbunyi bahwa: “Pengadilan Negeri dalam soal pembuktiandan soal penerima atau menolak menerimaalat bukti dalam perkara perdata hendaklah memperhatikan aturan pokok sebagai berikut”. Tentang aturan pokok sebagaimanabunyi pasal tersebut diatas, tidak lain yaitu
ketentuan-141 Ibid., hlm 712-737.
108 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
ketentuan yang berhubungan dengan beban pembuktian dalam Pasal 163HIR/Pasal 283 Rgb, jenis alat bukti dalam pasal 164 HIR/Pasal 284 Rgb dan seterusnya. Dengan demikian, maka merupakan kewajiban hakim yang memeriksa dan mengadili perkara untuk menilai kekuatan alat bukti yang diajukan oleh pihak-pihak yang berperkara, bahwa apakah alat bukti yangdiajukan tersebut mempunyai kekuatan hukum pembuktian, sebgai contoh bahwa di dalam penerapan alat bukti saksi misalnya, menurut hukum sekurang-kurangnya harus dua orang saksi karena bila mana pembuktian tersebut diajukan hanya satu orang saksi, maka kekuatan pembuktian satu orang saksi tersebut dipandang sebagai bukan saksi (unus testis nullus testis).142
Dengan demikian pula bahwasaksi-saksi yang diajukan sebagai alat bukti untuk membuktikan suatu peristiwa atau hak, atau menyangga suatu peristiwa atau sesuatuhak, harus merupakan kesaksian yangdirasakan/dialami (misalnya dilihat dan didengar) oleh karena saksi yang diajukan tersebut, bukan misalnya keterangan yang dibeberkan dipersidangan oleh saksi tersebut perkiraan dan hasil informasi yang diterima/didengar saksi dan orang lain, kecuali apabila pembuktian dengan satu orang saksi didukung dengan alat bukti lainnya seperti surat, pengakuan dan lain-lain. Contoh sebagaian bahan banding yang dikemukakan di atas, dalam penerapan alat bukti persangkaan untuk membuktikan sesuatu dalil, bukan merupakan alat bukti yang berdiri sendiri, melainkan alat bukti dan hasil kesimpulan undang-undang dan kesimpulan oleh hakim yang memeriksa dan mengadili perkara, sebagaimana dikemukakan oleh Abdulkadir Muhammad sebagai berikut: “Maksud pasal ini melarang hakim memutuskan suatu perkara hanyaberdasarkan pada persangkaan yang berdiri sendiri lepas satu sama lain dan melarang mendasarkan putusannya hanya pada satu persangkaan saja”.
Pasal yang dimaksud Oleh Abdulkadir Muhammad di atas yaitu pasal 172 HIR/Pasal 310 Rbg yang menegaskan bahwa: “Persangkaan yang tidak didasarkan pada ketentuan perundang-undangan hanyadapat diperhatikan oleh hakim dalam memberikan keputusannya terhadap perkara itu apabila persangkaan itu berbobot, cermat dan tertentu serta bersesuaian satu dengan yang lainnya”.
Lain halnya dengan pandangan Wirjonoprodjokoro yang menilai alat bukti persangkaan bukan sebagai alat bukti sepertiterurai dibawah ini:
Oleh karena persangkaan adalah kesimpulan belaka, maka dalam hal ini yang dipakai sebagai alat bukti sebetulnya bukan persangkaan itu, melainkan alat-alat bukti lain, yaitu misalnya kesaksian atau surat-surat
142 Boby Prasetya. “Tinjauan Yuridis Tentang Syarat Dan Penerapan Penggunaan Persangkaan Sebagai Alat Bukti Dalam Perkara Perdata”. Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion Edisi 2, Volume 2, Tahun 2014, hlm 74-75.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 109 atau pengakuan suatu pihak, yang membuktikan bahwa suatu peristiwa adalah terang ternyata (peristiwa). Baru kemudian disimpulkan dan adanya peristiwa a ini penganggapan adanya juga peristiwa b. Dan kesimpulan ini dapat ditarik oleh Undang-undang atau oleh hakim.143
Berdasarkan pada pandangan Wirjono, tersebut tampaknya kurang mendapat respondan pakar hukum lainnya yang masih memandang persangkaan sebagai alat bukti, sekalipun penerapan alat bukti persangkaan tidak berdiri sendiri sebagai alat bukti, melainkan harus didukung dengan alatbukti lainnya, sebagaimana dikemukakan oleh Haryanto Hakim Pengadilan Negeri Palu menyatakan bahwa: “Secara yuridis formal, persangkaan harus diakui sebagai alat bukti, yang dapatdipergunakan oleb hakim dalam penyelesaian suatu perkara yang belum jelas pembuktiannya dengan alat bukti lain”.144
d. Alat bukti pengakuan
Pasal 1866 KUH Perdata, Pasal 164 HIR, meletakkan “pengakuan” pada urutan keempat sebagai alat bukti. Pengertian pengakuan yang bernilai sebagai alat bukti menurut pasal 1923 KUH Perdata, Pasal 174 HIR, adalah:
1) Pernyataan atau keterangan yang dikemukakan salah satu pihak kepada pihak lain dalam proses pemeriksaan suatu perkara;
2) Pernyataan atau keterangan itu dilakukan di muka hakim atau dalam siding pengadilan;
3) Keterangan itu merupakan pengakuan (bekentenis,confession), bahwa apa yang didalikan atau yang dikemukakan pihak lawan benar untuk keseluruhan dan sebagian.
e. Alat bukti sumpah
Pengangkatan sumpah harus dilakukan oleh orang yang bersangkutan sendiri dan tidak dapar dibuktikan, oleh orang lain meskipun ahli waris. Kecuali apabila saat ada surat kuasa untuk itu. Bahwa tergugat tidak dapat mengajukan alat-alat bukti untuk membuktikan kebenaran bantahannya, sehingga hanya sumpahlah satu-satunya, sarana untuk menggantungkan putusan dalam sengketa kedua belah pihak. Pembuktian dengan surat, dimaksudkan dengan surat adalah akta autentik, yang dibuat dengan maksud untuk dijadikan bukti, atau di muka pejabat umum notaries. Sebagaimana ditentukan dalam pasal 165 HIR, dan 285 Rbg, bahwa suatu surat-surat atau akta autentik, merupakan bukti yang sempurna bagi para pihak, ahli waris, dan orang yang mendapatkan suatu hak.
Kekuasaan pembuktian tersebut, sebagai kekuatan keterangan dari notaries. Selanjutnya akta atau surat di bawah tangan pasal 1875 Kitab
Undang-143 Ibid., hlm 75.
144 Ibid., hlm 75-76.
110 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
Undang Hukum Perdata, sama dengan surat biasa, karena tidak ditujukan khusus untuk pembuktian, hanya untuk menunjukkan sesuatu hal saja, sehingga pengadilan leluasa untuk menilainya, meski ditambah dengan bukti lainnya.145
Pengertian sumpah sebagai alat bukti,adalah suatu keterangan atau pernyataan yang dikuatkan atas nama Tuhan, dengan tujuan:
1) Agar orang yang bersumpah dalam memberi keterangan atau pernyataan itu, takut atas murka tuhan, apabila dia berbohong;
2) Takut kepada murka atau hukuman tuhan, sebagai daya pendorong bagi yang bersumpah untuk menerangkan yang sebenarnya.
Agar sumpah sebagai alat bukti yang sah, harus dipenuhi syarat formil sebagai berikut:
1) Ikrar diucapkan dengan lisan;
2) Diucapkan di muka hakim dalam persidangan;
3) Dilaksanakan di hadapan pihak lawan;
4) Tidak ada alat bukti lain.146
Hukum mengatur hubungan hukum. itu terdiri dariikatan-ikatan antara individu dan masyarakat dan antara individu itu sendiri. Ikatan-ikatan itu tercermin padahak dan kewajiban. Dalam melakukan pembuktian, pihak-pihak yang beperkara di persidangan harus mengindahkan ketentuan-ketentuan dalam hukum pembuktian, dimana telah diatur tentang cara pembuktian, beban pembuktian, macam-macam alat bukti serta kekuatannya dan sebagainya.
Hukum pembuktian ini termuat dalam pasal 162-177 Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR), pasal 282-319 Rechtsreglement Buitengewesten (RBg) dan pasal 1865-1945 buku IV Bargelijk Wetboek (BW) atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).147
Menurut sistem HIR, dalam persidangan perkara perdata hakim terikat pada alat-alat bukti yang sah, yang berarti bahwa hakim hanya boleh alat-alat bukti yang ditentukan oleh Undang-Undang. Alat-alat bukti dalam hukum acara perdata yang disebutkan oleh undang-undang yaitu pada pasal 164HIR atau 284 RBg. atau 1866 BW, terdiri atas alat bukti surat atau tulisan, saksi-saksi, persangkaan, pengakuan dan sumpah. Selain 5 (lima) alat bukti yang disebutkan dalam pasal terdahulu, makadi luar Pasal 164 HIR atau 284 RBg, atau 1866 BW tersebut masih terdapat alat-alat bukti yang dapat dipergunakan untuk memperoleh kepastian mengenai kebenaran suatu peristiwa yang menjadi sengketa, yaitu alat bukti pemeriksaan setempat (descente, gereclitelijkplaats
145 Syaiful Bakhri, Op. Cit, hlm 123.
146 Ibid., hlm 832-837.
147Arkisman. “Effektifitas Alat Bukti Pemeriksaan Setempat Pada Sidang Perkara Perdata Di Pengadilan Negeri Gresik.” Jurnal Pro Hukum, Vol. V, No. 1, Juni 2016, hlm 1.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 111 opening enbezichtinging) yang diatur dalam Pasal 153 HIR atau 180 RBg. Serta alat bukti keterangan ahli (expertise) yang diatur dalam Pasal 154 HIR atau 181 RBg.148
Yang dimaksud dengan pemeriksaan setempat ialah pemeriksaan mengenai perkara oleh hakim karena jabatannya yang dilakukan di luar gedung atau kedudukan pengadilan supaya hakim dengan melihat sendiri memperoleh gambaran atau, keterangan. Hakim karena jabatannya, secara ex officio dapat menetapkan atau memerintahkan diadakan pemeriksaan setempat, apabila hal itu dianggapnya penting untuk mengetahui secara pasti keadaan yang berkenaan dengan obyek gugatan. Dengan demikian, pemeriksaan setempat ini bukanlah pemeriksaan oleh hakim secara pribadi, tetapi pemeriksaan oleh hakim karena jabatannya, oleh karena pemeriksaan yang bersifat pribadi oleh hakim itu tidak boleh dijadikan bukti. Sehubungan dengan hal itu, maka hakim perlu memperhatikan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 2001 tentang Pemeriksaan Setempat.
Apabila dari hasil proses persidangan, terdapat kesan atau indikasi barang obyek gugatan masih kabur. maka sangat tepat dan beralasan melaksanakan ketentuan dalam Surat Edaran Mahkamah Agung untuk melakukan pemeriksaan setempat guna menghindari kesulitan pelaksanaan eksekusi putusan di kemudian hari. Mengenai sejauh mana kewenangan hakim dalam menetapkan atau memerintahkan pemeriksaan setempat, tidak hanya terbatas pada hakim tingkat pertama (Pengadilan Negeri). Dapat juga oleh hakim tingkat banding dan kasasi. Jadi, pengertian hakim berdasarkan jabatannya meliputi semua hakim secara instansional.149
Apabila ada ketidakjelasan mengenai obyek sengketa, terlebih lagi ada perbedaan yang sangat signifikan antara apa yang didalilkan oleh penggugat maupun yang didalilkan oleh tergugat, maka hakim akan mengambil inisiatif sendiri untuk melakukan pemeriksaan setempat baik diminta atau pun tidak oleh para pihak. Mengenai apabila pada pengadilan tingkat pertama tidak melaksanakan pemeriksaan setempat, kemudian perkara sudah masuk pada tingkat banding atau kasasi, dan pada pengadilan tingkat banding atau kasasi Majelis Hakim memandang perlu untuk dilakukan pemeriksaan setempat terhadap obyek sengketa, maka Majelis Hakim pada tingkat banding atau kasasi dapat memerintahkan kepada pengadilan negeri untuk membuka kembali persidangan dalam perkara a quo dan selanjutnya melakukan sidang pemeriksaan setempat secara langsung di lokasi obyek sengketa guna melakukan pemeriksaan tambahan terhadap tanah obyek sengketa baik menyangkut luas, batas-batas, letak tanah obyek sengketa secara jelas, tegas, dan terperinci.
148 Ibid.
149 Ibid., hlm 8-9.
112 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
Kemudian nanti selanjutnya juga diperintahkan kepada pengadilan negeri agar setelah selesai melakukan pemeriksaan setempat terhadap tanah obyek sengketa yang dimaksud segera mengirimkan Berita Acara Hasil Pemeriksaan Setempat kepada pengadilan tingkat banding atau kasasi untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap materi pokok perkaranya. Pendapat tersebut Sejalan dengan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 274 K/Sip/1976,34 dalam perkara ini hakim tingkat kasasi memerintahkan Pengadilan Negeri melakukan pemeriksaan setempat. Mengenai pelaksanaan pemeriksaan setempat berpedoman pada ketentuan Pasal 153 HIR. Pasal 180 RBg.150 dan Pasal 211 Rv. Ada beberapa syarat dalam melakukan pemeriksaan setempat, yaitu sebagai berikut:
a. Pemeriksaan tersebut dihadiri para pihak
Pemeriksaan setempat atau lapangan tersebut tentu harus dihadiri para pihak Pada prinsipnya, pemeriksaan setempat adalah sidang resmi pengadilan.
Hanya saja tempat persidangannya yang berpindah dari ruang sidang pengadilan ke tempat letaknya barang yang menjadi obyek sengketa. Oleh karena itu, meskipun tempatnya berpindah secara formil harus lengkap dihadiri para pihak, yaitu penggugat dan tergugat. Karena secara formil harus dihadiri oleh para pihak, maka dari itu pelaksanaan sidang pemeriksaan setempat harus diberitahukan secara resmi kepada para pihak, baik penggugat maupun tergugat.
Apabila pemberitahuan tersebut sudah dilakukan, akan tetapi kemudian yang bersangkutan tidak hadir tanpa alasan yang sah (default without reason), maka sidang pemeriksaan setempat dapat dilangsungkan secara op tegenspraak atau tanpa bantahan dari pihak yang tidak hadir berdasarkan Pasal 127 HIR.
Dengan demikian, sebagai syarat formil. sidang pemeriksaan setempat harus dihadiri para pihak. Namun apabila salah satu pihak tidak hadir tanpa alasan yang sah, pemeriksaan dapat dilangsungkan tanpa hadirnya pihak tersebut.
Pemeriksaan tidak boleh digantungkan kepada kehadiran para pihak, terlebih lagi apabila ketidakhadiran itu tanpa alasan yang sah.151
Suatu hal yang perlu diingat, pemeriksaan setempat bukan hanya terbatas pada benda tidak bergerak seperti tanah atau kapal. Menurut Pasal 211 ayat (2) Rv, pemeriksaan setempat dapat juga diperintahkan terhadap benda bergerak (movable goods) dengan syarat apabila barang tersebut sulit atau tidak mungkin dibawa atau diajukan di sidang pengadilan. Proses sidang pemeriksaan setempat mesti dilangsungkan di tempat lokasi barang itu terletak. Pejabat yang diangkat atau ditunjuk datang langsung ke tempat barang yang hendak diperiksa terletak.
Setelah sampai di tempat, hakim yang memimpin pemeriksaan membuka secara
Setelah sampai di tempat, hakim yang memimpin pemeriksaan membuka secara