• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Umum Pembuktian

PEMBUKTIAN DALAM HUKUM ACARA PERDATA

A. Prinsip Umum Pembuktian

Dalam literatur-literatur hukum acara perdata, ada berbagai macam definisihukum acara perdata dari para ahli yang satu sama lain memberikan rumusan yang berbeda-beda, namun pada prinsipnya mengandung tujuan yang sama. Misalnya saja Wirjono Prodjodikoro menyatakan bahwa: “Hukum acara perdata adalah rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap dandi muka pengadilan dan bagaimana cara pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata.”123

Berbeda dengan Sudikno Mertokusumo memberi batasan hukum acara perdata yaitu:

Peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata material dengan perantaraan hakim. Dengan perkataan lain hukum acara perdata merupakan peraturan yang menentukan bagaimana caranya menjamin pelaksanaan hukum perdata material. Lebih konkret lagi dapatlah dikatakan, bahwa hukum acara perdata mengatur tentang bagaimana caranya mengajukan tuntutan hak, memeriksa serta memutusnya dan pelaksanaan daripada putusannya.124

R. Soepomo tanpa memberikan suatu batasan tertentu, tapi melalui visi, tugas, dan peranan hakim menjelaskan bahwasanya: “Dalam peradilan perdata, tugas hakimialah mempertahankan tata hukum perdata (burgerlijk rechtsorde), menetapkan apayang ditentukan oleh hukum dalam suatu perkara”. 125 Sedangkan menurut pendapat Lilik Mulyadi dalam bukunya disebutkan bahwa:

Hukum acara perdata adalah: a) peraturan hukum yang mengatur danmenyelenggarakan bagaimana proses seseorang mengajukan perkara perdata (burgerlijk vordering, civil suit) kepada hakim/pengadilan; b) peraturan hukum yangmenjamin, mengatur dan menyelenggarakan bagaimana proses hakim mengadiliperkara perdata (burgerlijk vordering, civil suit); c) peraturan hukum yang mengaturproses bagaimana caranya

123 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata di Indonesia, (Bandung: Sumur Bandung, 1975), hlm 13.

124 Sudikno Mertokusumo II, Op.Cit., hlm 23.

125 R. Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: Pradnya Pramita, 1994), hlm 13.

90 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia

hakim “memutus” perkara perdata (burgerlijk vordering,civil suit) tersebut; d) peraturan hukum yang mengatur bagaimana tahap dan prosespelaksanaan putusan hakim (executie).126

Dengan melihat beberapa pengertian yang telah dikemukakan oleh beberapaahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Hukum acara perdata bertujuan untuk menjamin ditaatinya hukum perdata materiil. Dengan demikian hukum acara perdatapada umumnya tidak membebani hak dan kewajiban seperti yang termuat dalam hukum perdata materiil, tetapi memuat aturan tentang cara melaksanakan dan mempertahankan atau menegakkan kaidah-kaidah yang termuat dalam hukum perdata materiil, atau dengan perkataan lain untuk melindungi hak perseorangan.

Yang dimaksud dengan prinsip umum pembuktian adalah landasan penerapan pembuktian. Semua pihak,termasuk hakim harus berpegang pada patokan yang digariskan prinsip dimaksud.memang disamping itu masih terdapat lagi prinsip-prinsip khusus yang berlaku untuk setiap jenis alat bukti, sehingga,harus juga dijadikan patokan dalam penerapan sistem pembuktian.namun apa yang dibicarakan dalam prinsip umum, merupakan ketentuan yang berlaku bagi sistem hukum pembuktian secara umum

Sistem pembuktian yang dianut hukum acara perdata, tidak bersifat stelsel negatif menurut undang-undang (negatief wettelijk stelsel) seperti dalam proses pemeriksaan pidana yang menuntut pencarian kebenaran:

1. Harus dibuktikan berdasarkan alat bukti yang mencapai batas minimal pembuktian, yakni sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dalam arti memenuhi syarat formil dan materil;

2. Dan diatas pembuktian yang mencapai batas minimum tersebut, harus didukung lagi oleh keyakinan hakim tentang kebenaran keterbuktian kesalahan terdakwa (beyond a reasonable doubt).

Tidak demikian dalam proses peradilan perdata.kebenaran yang dicari diwujudkan hakim, cukup kebenaran formil (formeel wearheid). Dari diri dan sanubari hakim, tidak dituntut keyakinan. Para pihak yang berperkara dapat mengajukan pembuktian berdasarkan kebohongan dan kepalsuan, namun fakta yang demikian secara teoritis harus diterima hakim untuk melindungi atau mempertahankan hak perorangan atau hak perdata pihak yang bersangkutan.127

126 Lilik Mulyadi, Hukum Acara Perdata Menurut Teori dan Praktik Peradilan Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1999), hlm 3-5.

127 M.Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan, (Jakarta:Sinar Grafika, 2017), hlm 567-568.

Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 91 Dalam kerangka pembuktian yang demikian,sekiranya tergugat mengakui dalil penggugat, meskipun hal itu bohong dan palsu, hakim harus menerima kebenaran itu dengan kesimpulan bahwa berdasarkan pengakuan itu, tergugat dianggap dan dinyatakan melepaskan hak perdatanya atas hal yang diperkarakan.meskipun hakim berpendapat kebenaran dalil gugat yang diakui tergugat itu setengah benar dan setengah palsu, secara teoritis dan yuridis, hakim tidak boleh melampaui batas-batas kebenaran yang diajukan para pihak di persidangan. Sikap yang demikian ditegaskan dalam putusan Mahkamah Agung Nomor: 3136K/Pdt/1983 yang mengatakan, tidak dilarang pengadilan perdata mencari dan menemukan kebenaran materil.namun apabila kebenaran materil tidak ditemukan dalam peradilan perdata, hakim dibenarkan hukum mengambil putusan berdasarkan kebenaran formil.

Hakim hanya terbatas menerima dan memeriksa sepanjang mengenai hal-hal yang diajukan penggugat dan tergugat.oleh karena itu, fungsi dan peran hakim dalam proses perkara perdata, hanya terbatas:

1. Mencari dan menemukan kebenaran formil;

2. Kebenaran itu diwujudkan sesuai dengan dasar alasan dan fakta-fakta yang diajukan oleh para pihak selama proses persidangan berlangsung.128

Sehubungan dengan sifat tersebut, sekiranya hakim yakin bahwa apa yang digugat dan diminta penggugat adalah benar, tetapi penggugat tidak mampu mengajukan bukti tentang kebenaran yang diyakininya, maka hakim harus menyingkirkan keyakinan itu, dengan menolak kebenaran dalil gugatan, karena tidak didukung dengan bukti dalam persidangan. Makna pasif yang harus ditegakkan, sepanjang mengenai hal-hal yang diajukan dalam persidangan, hakim berwenang untuk menilai apakah yang diajukan memenuhi prinsip pembuktian. Demikian penegasan putusan Mahkamah Agung Nomor:

288K/Sip/1973. Berdasarkan yurisprudensi tentang sistem pembuktian dalam acara perdata, khususnya tentang pengakuan, hakim berwenang menilai suatu pengakuan sebagai alat bukti yang tidak mutlak apabila pengakuan itu tidak benar, judex facti berwenang menilainya. Dalam kasus perkara ini PT berpendapat, pengakuan tergugat I yang memihak kepada penggugat, tanpa disertai alasan yang kuat, pengakuan tersebut tidak dapat dipercaya. Sehubungan dengan itu, hakim tidak boleh melanggar asas ultra vires atau ultra petitum partium yang digariskan pasal 178 ayat (3) HIR. Hakim dilarang memberi lebih banyak dari yang diminta. Sekiranya yang dituntut penggugat Rp.100 juta, tetapi di persidangan terbukti kerugian yang dialami Rp.200 juta, maka yang boleh

128 Ibid., hlm 568-569.

92 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia

dikabulkan hanya terbatas RP.100 juta sesuai dengan tuntutan yang disebut dalam petitum gugatan.129