PEMBUKTIAN DALAM PERADILAN PIDANA
3. Sistem dan Teori Pembuktian dalam Peradilan Pidana
Berbicara mengenai sistem pembuktian bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara meletakkan hasil pembuktian terhadap perkara yang sedang diperiksa.hasil dan kekuatan pembuktian yang bagaimana yang dapat dianggap cukup memadai membuktikan kesalahan terdakwa.
a. Pembuktian berdasarkan keyakinan hakim (Conviction intime) Pembukitan berdasarkan keyakinan hakim menentukan salah dan tidaknya terdakwa yang ditentukan oleh penilaian keyakinan hakim. Hakim menarik dan menyimpulkan keyakinannya dalam memutuskan perkara di pengadilan. Memberikan kepercayaan yang terlalu besar kepada hakim sehingga menimbulkan subjektivitas berlebihan yang akan menyulitkan terdakwa dalam melakukan pembelaannya.demikian pula, terhadap putusan hakim akan sulit untuk melakukan pengawasan karena tidak diketahui pendapat dan alasan hakim dalam menjatuhkan putusan tersebut. Karena teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim (conviction intime) ini menganut ajaran bahwa bersalah atau tidaknya terdakwa terhadap perbuatan yang didakwakan, sepenuhnya bergantung pada penilaian “keyakinan” hakim. Keyakinan hakim tidak harus timbul atau didasarkan pada alat bukti yang ada. Sekalipun alat bukti sudah cukup,tetapi hakim tidak yakin,hakim tidak boleh menjatuhkan pidana.demikian pula sebaliknya, meskipun alat bukti tidak ada, tetapi hakim sudah yakin, terdakwa dapat dinyatakan bersalah. Akibatnya, hakim menjadi subjektif dalam memutuskan perkara.78
b. Pembuktian berdasarkan keyakinan hakim yang logis (Conviction raissonnee)
Sistem atau teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis (conviction in raisone) mengutamakan penilaian keyakinan hakim sebagai satu-satunya alasan untuk menghukum terdakwa, tetapi keyakinan hakim sebagai satu-satunya alasan untuk menghukum terdakwa, tetapi keyakinan hakim harus disertai pertimbangan yang logis. Keyakinan hakim tidak perlu didukung oleh alat bukti sah karena tidak diisyaratkan. Dengan
77 Ridwan Eko Prasetyo, Op.Cit.,hlm 109.
78Ibid., hlm 112.
54 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia
demikian,meskipun alat-alat bukti telah ditetapkan oleh undang-undang, hakim dapat menggunakan alat-alat bukti diluar ketentuan undang-undang.teori pembuktian ini muncul sebagai jalan tengah.menurut teori ini, hakim dapat memutuskan seseorang bersalah berdasarkan keyakinannya dengan pembuktian disertai dengan kesimpulan (conclusie) yang berlandaskan peraturan pembuktian tertentu.dengan demikian,keputusan hakim dijatuhkan dengan suatu motivasi.79
Dalam sistem ini pun dapat dikatakan “keyakinan hakim” tetapi memegang peranan penting dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Akan tetapi,dalam sistem pembuktian ini, faktor keyakinan hakim “dibatasi”. Jika dalam sistem pembuktian conviction-in time peran “keyakinan hakim” leluasa tanpa batas maka pada sistem conviction-raisonee, keyakinan hakim harus didukung dengan dengan “alasan-alasan yag jelas”. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Tegasnya, keyakinan hakim dalam sistem conviction-raisonee, harus dilandasi reasoning atau alasan-alasan, dan reasoning itu harus “reasonable”
yakni berdasar alasan yang dapat diterima. Keyakinan hakim harus mempunyai dasar-dasar alasan yang logis dan benar-benar dapat diterima akal. Tidak semata-mata dasar keyakinan yang tertutup tanpa uraian alasan yang masuk akal.80
c. Pembuktian menurut undang-undang secara positif
Pada dasarnya, sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif berkembang pada abad pertengahan.menurut teori ini, sistem pembuktian positif bergantung kepada alat-alat bukti sebagaimana disebut secara limitatif di dalam undang-undang. Secara singkat, undang-undang telah menentukan mengenai alat-alat bukti apa saja yang dapat digunakan oleh hakim, cara hakim menggunakan alat-alat bukti tesebut dan bagaimana caranya hakim harus memutus terbukti atau tidaknya perkara yang sedang diadili. Menurut ajaran ini, hakim terikat dengan adagium kalau alat-alat bukti tersebut telah dipakai sesuai dengan ketentuan undang-undang, hakim harus menentukan terdakwa bersalah, walaupun hakim berkeyakinan bahwa sebenarnya terdakwa tidak bersalah, begitupun sebaliknya, apabila tidak dapat dipenuhi cara meempergunakan alat bukti sebagaimana ditetapkan undang-undang, hakim harus menyatakan tidak bersalah walaupun menurut keyakinannya sebenarnya terdakwa bersalah.
Di dalam sistem pembuktian menurut ajaran ini, keyakinan hakim tidak ikut ambil bagian dalam membuktikan ada atau tidaknya kesalahan terdakwa dan tidak ikut berperan dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang. Untuk membuktikan salah atau tidaknya terdakwa
semata-79 Ibid., hlm 113.
80 M.Yahya harahap, Op.Cit., hlm 278.
Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 55 mata digantungkan kepada alat-alat bukti yang sah. Apabila syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang sudah terpenuhi, hakim sudah dapat menentukan ada atau tidaknya kesalahan terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan hakim. Sistem ini hanya didasarkan kepada undang-undang saja, artinya jika telah terbukti sesuatu perbuatan sesuai dengan alat-alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang, maka keyakinan hakim tidak diperlukan sama sekali, sistem ini disebut juga dengan teori formal.81
d. Pembuktian menurut undang-undang secara negatif (negatief wettelijk stelsel)
Sistem pembuktian menuru undang secara negatif merupakan teori antara sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif dengan sistem pembuktian menurut keyakinan hakim atau conviction-in time. Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan keseimbangan antara kedua sistem yang saling bertolak belakang secara ekstrem.dari keseimbangan tersebut, sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif “menggabungkan” kedalam dirinya secara terpadu sistem pembuktian menurut keyakinan dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif. Dari hasil penggabungan kedua sistem yang saling bertolak belakang itu, terwujudlah suatu “sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif”, rumusannya berbunyi: salah atau tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.
Berdasarkan rumusan di atas, untuk menyatakan salah atau tidaknya seorang terdakwa, tidak cukup berdasarkan keyakinan hakim semata-mata.atau hanya semata-mata didasarkan atas keterbuktian menurut ketentuan dan cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang.seorang terdakwa baru dapat dinyatakan bersalah apabila kesalahan yang didakwakan kepadanya dapat dibuktikan dengan cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang serta sekaligus keterbuktian kesalahan itu “dibarengi”
dengan keyakinan hakim.bertitik tolak dari uraian diatas,untuk menentukan salah atau tidaknya seorang terdakwa menurut sistem pembuktian undang-undang secara negatif, terdapat dua komponen:
1. Pembuktian harus dilakukan menurut cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.
2. Dan keyakinan hakim yang juga harus didasarkan atas cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.82
81 Aristo Pangaribuan,dkk, Op.Cit., hlm 276.
82 M.Yahya harahap, Op.Cit., hlm 279.
56 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia 4. Sistem pembuktian dalam KUHAP
Pasal 183 KUHAP, yang berbunyi “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”, dari bunyi pasal tersebut menganut sistem “pembuktian menurut undang-undang secara negatif”
dengan demikian Pasal 183 KUHAP mengatur, untuk menentukan salah atau tidaknya seorang terdakwa dan untuk menjatuhkan pidana kepada terdakwa, harus:
1. Kesalahannya terbukti dengan sekurang-kurangnya “dua alat bukti yang sah”.
2. Dan atas keterbuktian dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, hakim “memperoleh keyakinan” bahwa tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.83 Hukum acara pidana indonesia (KUHAP) indonesiaa menganut sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif atau negatief wettelijk bewijsteorie. Dengan dasar teori ini,hakim dapat menjatuhkan pidana kepada terdakwa berdasarkan keyakinan dengan alat bukti yang sah berdasarkan undang-undang dengan didasari minimum 2 (dua) alat bukti yang sah.84
B. Barang Bukti dan Alat Bukti