• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUKTIAN DALAM PERADILAN PIDANA

2. Alat Bukti

Menurut sistem HIR, dalam acara perdata/pidana hakim terikat pada alat-alat bukti yang sah, yang berarti bahwa hakim hanya boleh mengambil keputusan berdasarkan alat-alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang saja.

Berdasarkan Pasal 184 ayat (1) KUHAP, bahwa yang termasuk alat bukti yang sah adalah:

a. Keterangan saksi;

b. Keterangan ahli;

c. Surat;

d. Petunjuk;

e. Keterangan terdakwa.

Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan satu persatu alat bukti sebagaimana yang dimaksud pasal 184 ayat (1) KUHAP, sebagai berikut:

a. Keterangan saksi

Dalam pengertian tentang keterangan saksi, terdapat beberapa pengertian lainnya yang perlu dikemukakan, yaitu pengertian saksi dan kesaksian, sebagai berikut:

1) Saksi, dalam pengertian saksi,terdapat beberapa pengertian yang dapat dikemukakan, yaitu:

a) Seseorang yang mempunyai informasi tangan pertama menganai suatu kejahatan atau kejadian dramatis melalui indra mereka (penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan) dan dapat menolong memastikan pertimbangan-pertimbangan penting dalam suatu kejahatan atau kejadian. Seorang saksi yang melihat suatu kejadian secara langsung dikemal juga sebagai saksi mata.

b) Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterengan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu

86 Ibid., hlm 79.

Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 59 perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri (Pasal 1 angka 26 KUHAP).

c) Saksi adalah seseorang yang menyampaikan laporan dan/atau orang yang dapat memberikan keterangan dalam proses penyelesaian tindak pidana berkenaan dengan peristiwa hukum yang ia dengar,lihat dan alami sendiri dan/atau orang yang memilki keahlian khusus tentang pengetahuan tertentu guna kepentingan penyelesaian tindak pidana.

2) Kesaksian, dalam pengertian kesaksian, terdapat beberapa pengertian dapat dikemukakan, yaitu:

a) Menurut R. Soesilo, adalah “suatu keterangan dimuka hakim dengan sumpah, tentang hal-hal mengenai kejadian tertentu yang ia dengar, lihat, dan alami sendiri.”

b) Menurut Sudikno Mertokusumo, adalah kepastian yang diberikan kepada hakim di persidangan tentang peristiwa dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan dilarang atau tidak diperbolehkan oleh undang-undang, yang dipanggil di pengadilan.

3) Keterangan saksi, yang dimaksud dengan keterangan saksi menurut Pasal 1 angka 27 KUHAP adalah “adalah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri,ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu”.87

4) Syarat dan penilian keterangan saksi, untuk keterangan saksi supaya dapat dipakai sebagai alat bukti yang sah, maka harus memenuhi dua syarat, yaitu:

a. Syarat formil, bahwa keterangan saksi hanya dapat dianggap sah, apabila diberikan memenuhi syarat formil, yaitu saksi memeberikan keterangan dibawah sumpah, sehingga keterangan saksi yang tidak disumpah hanya boleh digunakan sebagai penambahan penyaksian yang sah lainnya.

b. Syarat materiel, bahwa keterangan seorang atau saksi saja tidak dapat dianggap sah sebagai alat pembuktian (unus testis nulus testis) karena tidak memenuhi syarat materil, akan tetapi keterangan seorang atau satu orang saksi, adalah cukup untuk alat pembuktian salah satu unsur kejahatan yang dituduhkan.

Untuk suatu penilaian keterangan saksi sebagaimana menurut Pasal 185 KUHAP, bahwa:

87 Andi Sofyan, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantai, (Jakarta:Kencana, 2014), hlm 238-239.

60 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia

1) Keterangan saksi sebagaimana alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan (testimony).

2) Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya . 3) Ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku

apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.

4) Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa,sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.

5) Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi,hakim harus dengan sungguh-sungguh memperhatikan:

a) Persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain;

b) Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;

c) Alasan yang mungkin digunakan oleh saksi untuk memberikan keterangan tertentu;

d) Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat memengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.

6) Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain,tidak merupakan alat bukti,namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat digunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.88

1) Hak-hak saksi

Saksi di dalam memberikan kesaksian atau keterangan dalam suatu perkara pidana undang-undang telah memberikan hak-hak, sebagaimana diatur dalam KUHAP, sebagai berikut:

a. Hak untuk diperiksa tanpa hadirnya terdakwa pada saat saksi di periksa (Pasal 173 KUHAP).

b. Hak untuk mendapatkan penerjamah atas saksi yang tidak paham bahasa indonesia (Pasal 177 ayat (1) KUHAP)

c. Hak saksi yang bisu atau tuli dan tidak bisa menulis untuk mendapatkan penerjemah (Pasal 178 ayat (1) KUHAP).

d. Hak untuk mendapatkan pemberitahuan sebelum selambat-lambatnya 3 hari sebelum menghadiri sidang (Pasal 227 ayat (1) KUHAP).

e. Hak untuk mendapatkan biaya pengganti atas kehadiran di sidang pengadilan (Pasal 229 ayat (1) KUHAP).

88 Ibid., hlm 239-240.

Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 61 2) Dapat didengar sebagai saksi

Pada umumnya semua orang atau siapa saja dapat didengar keterangannya atau menjadi saksi, kecuali sebagaimana yang dimaksud menurut Pasal 168 KUHAP, bahwa yang tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi, adalah:

a) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus keatas atau kebawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.

b) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa,saudara ibu atau saudara bapak,juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga.

c) Suami atau istri terdakwa maupun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.

Jadi orang-orang tersebut berdasarkan Pasal 168 KUHAP, ialah mempunyai hak untuk mengundurkan diri dari kesaksian,namun dapat memberikan kesaksian apabila menurut Pasal 169 (1) KUHAP, apabila saksi itu menghendakinya sendiri dan penuntut umum dan terdakwa secara tegas menyetujuinya, maka dapat memberikan keterangan dengan sumpah, tetapi sebaliknya apabila penuntut umum dan terdakwa tidak menyetujuinya, maka menurut pasal 169 (2) KUHAP tetap boleh memberikan keterangan tanpa sumpah.89

3) Yang tidak dapat didengar sebagai saksi

Selain itu,orang yang sama sekali tidak dapat didengar atau memberikan keterangannya atau sebagai saksi atau dapat mengundurkan diri dalam suatu perkara pidana menurut pasal 170 ayat (1) KUHAP, yaitu “mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat diminta dibebaskan dari kewajiban untuk memberikan keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.” Demikian pula terdapat saksi-saksi yang dapat memberikan keterangan tapi tidak disumpah sebagaimana menurut Pasal 171 KUHAP, yaitu: Anak yang umurnya belum cukup lima belas tahun dan belum pernah kawin dan Orang sakit ingatan atau sakit jiwa meskipun kadang-kadang ingatannya baik kembali.

4) Jenis-jenis saksi

Saksi menurut sifatnya dapat dibagi atas dua bagian, yaitu:

a) Saksi A charge (saksi yang memberatkan terdakwa), saksi ini adalah saksi yang telah dipilih dan diajukan oleh penuntut umum,dengan

89 Ibid., hlm 240-241.

62 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia

keterangan atau kesaksian yang diberikan akan memberatkan terdakwa,demikian menurut Pasal 160 ayat (1) huruf c KUHAP,bahwa: “Dalam hal ada saksi yang memberatkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan perkara dan/atau yang di minta oleh terdakwa atau penasihat hukum atau penuntut umum selama berlangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkannya putusan, hakim ketua sidang wajib mendengar keterangan saksi tersebut”.

b) Saksi A de Charge (saksi yang meringankan/menguntungkan terdakwa), saksi ini dipilih atau diajukan oleh penuntut umum/terdakwa atau penasihat hukum,yang mana keterangan kesaksian yang diberikan akan meringankan/menguntungkan terdakwa,demikian menurut Pasal 160 ayat (1) huruf c KUHAP,

“Dalam hal ada saksi yang menguntungkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan perkara dan/atau yang diminta oleh terdakwa atau penasihat hukum atau penuntut umum selama berlangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkannya putusan,hakim ketua sidang wajib mendengar keterangan saksi tersebut”.90

5) Sanksi terhadap saksi

Seorang saksi yang telah dipanggil secara wajar untuk memberikan keterangannya dipengadilan, bila mengabaikannya, maka menurut Pasal 224 KUHPidana, bahwa “apabila diperlukan kesaksiannya oleh penyidik atau pengadilan dengan sengaja tidak menjalankan suatu kewajiban menurut undang-undang yang harus ia penuhi, misalnya kewajiban untuk datang pada sidang dan memberikan keterangan keahliannya, dapat dikenakan perkara pidana dengan ancaman pidana penjara selama-lamanya 9 (sembilan) bulan atau dikenakan perkara lain dengan ancaman pidana penjara selama-lamanya 6 (enam) bulan.

Jadi untuk dapat dikenakan Pasal 224 KUH Pidana diatas,orang atau ahli tersebut telah dipanggil menurut undang-undang oleh hakim untuk menjadi saksi, baik dalam perkara pidana maupun perdata, dan dengan sengaja tidak memenuhi suatu kewajiban yang menurut undang-undang harus ia penuhi.

Di dalam pasal 552 KUH Pidana, bahwa “barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda.” Maka, menurut R Soesilo, bahwa pengertian dari pasal tersebut, adalah sebagai berikut: dipanggil sebagai saksi dan sebagainya

“menurut undang-undang” artinya dipanggil untuk menjadi dan saksi dan sebagainya dimuka pengadilan (hakim). jadi bukan dimuka jaksa(penuntut umum) atau polisi (penyelidik/penyidik). Jadi apabila saat saksi dijemput dan

90 Ibid., hlm 242-243.

Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 63 akan dibawanya itu “segan dan “melawan” dengan tenaga kepada petugas (polisi) yang akan membawanya, maka orang itu dapat dituntut berdasarkan Pasal 212 KUHPidana, secara lengkap isinya sebagai berikut:

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah, atau orang yang menurut kewajiban undang-undang atau atas permintaan pejabat memberi pertolongan kepadanya, diancam karena melawan pejabat, dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Demikian pula saksi ini dapat dikenakan menurut Pasal 216 ayat (1) KUH Pidana, bahwa:

Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana;

demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah,menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan orang pejabat tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

Saksi-saksi yang telah dipanggil secara sah untuk hadir dipersidangan, namun saksi menolak untuk hadir di persidangan, namun saksi menolak untuk hadir dipersidangan atau menolak bersumpah atau berjanji tanpa alasan yang sah didepan sidang sebelum memberikan kesaksian atau keteranga, maka menurut Pasal 161 KUHAP, yaitu:

1) Dalam hal saksi tanpa alasan yang sah menolak untuk bersumpah atau berjanji sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 160 ayat (3) dan ayat (4), maka pemeriksaan terhadapnya tetap dilakukan, sedang ia dengan surat penetapan hakim ketua sidang dapat dikenakan sandera ditempat rumah tahanan negara paling lama empat belas hari.

2) Dalam hal tenggang waktu penyanderaan tersebut telah lampau dan saksi tetap tidak mau disumpah atau mengucapkan janji, maka keterangan yang telah diberikan merupakan keterangan yang dapat menguatkan keyakinan hakim.

Demikian pula saksi yang telah memberikan keterangan palsu di persidangan,sebagaimana menurut Pasal 174 KUHAP, yaitu:

1) Apabila keterangan saksi di sidang disangka palsu,hakim ketua sidang memperingatkan dengan sungguh-sungguh kepadanya memberikan

64 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia

keterangan yang sebenarnya dan mengemukakan ancaman pidana yang dapat dikenakan kepadanya apabila ia tetap memberikan keterangan palsu.

2) Apabila saksi tetap pada keterangannya itu, hakim ketua sidang karena jabatannya atau atas permintaan penuntut umum atau terdakwa dapat memberi perintah supaya saksi itu ditahan untuk selanjutnya dituntut perkara dengan dakwaan sumpah palsu.

3) Dalam hal yang demikian oleh panitera segera dibuat berita acara pemeriksaan sidang yang memuat keterangan saksi dengan menyebutkan alasan persangkaan, bahwa keterangan saksi itu adalah palsu dan berita acara tersebut ditandatangani oleh hakim ketua sidang serta panitera dan segera diserahkan kepada penuntut umum untuk diselesaikan menurut ketentuan undang-undang ini.

4) Jika perlu hakim ketua sidang menangguhkan sidang dalam perkara semula sampai pemeriksaan perkara pidana terhadap saksi itu selesai.91

b. Keterangan Ahli

Pada masa HIR keterangan ahli tidak termasuk alat bukti dalam pemeriksaan perkara pidana. HIR tidak memandang keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah, tetapi menganggapnya sebagai keterangan keahlian yang dapat dijadikan hakim menjadi pendapatnya sendiri,jika hakim menilai keterangan ahli tersebut dapat diterima. Pasal 184 KUHAP menetapkan, keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah. Malah tempatnya diletakkan pada urutan kedua sesudah alat bukti keterangan saksi. Melihat letak urutannya, pembuat undang-undang menilainya sebagai salah satu alat bukti yang penting artinya dalam pemeriksaan perkara pidana. Menempatkan keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah, dapat dicatat sebagai salah satu kemajuan dalam pembaharuan hukum.mungkin pembuat undang-undang menyadari, sudah tak dapat dimungkinkan lagi, pada saat perkembangan ilmu dan teknologi keterangan ahli memegang peranan dalam penyelesaian kasus pidana. Perkembangan ilmu dan teknologi sedikit banyak membawa dampak terhadap kualitas metode kejahatan, memaksa kita untuk mengimbanginya dengan kualitas dan metode pembuktian yang memerlukan pengetahuan dan keahlian.92

1) Tata cara pemberian keterangan ahli

Pada pemeriksaan penyidikan demi kepentingan peradilan, penyidik berwenang mengajukan permintaan seorang ahli. Hal ini ditegaskan pada Pasal 133, yang memberi wewenang kepada penyidik mengajukan permintaan

91 Ibid., hlm 244-245.

92 M.Yahya harahap, Op.Cit., hlm 296.

Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 65 keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter maupun ahli lainnya, jika keterangan ahli sangat diperlukan untuk kepentingan peradilan.

Jikalau keterangan ahli bersifat “diminta”, ahli tersebut membuat “laporan”

sesuai dengan yang dikehendaki penyidik. Laporan keterangan ahli dimasukkan dalanm berita acara penyidikan, hal ini ditegaskan pada Pasal 186, keterangan ahli juga dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

Pasal 186, menegaskan: “Jika hal itu tidak diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum,pada pemeriksaan di sidang,diminta untuk memberi keterangan dan dicatat dalam berita acara pemeriksaan.keterangan tersebut diberikan setelah ia mengucapkan sumpah atau janji di hadapan hakim.” Dari ketentuan Pasal 133 dihubungkan dengan penjelasan pasal 186, jenis dan tata cara pemberian keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah dapat melalui prosedur sebagai berikut:

a) Diminta penyidik pada taraf pemeriksaan penyidikan, tata cara dan bentuk atau jenis keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah pada bentuk ini

• Diminta dan diberikan ahli pada saat pemeriksaan penyidikan jadi, pada saat penyidikan demi untuk kepentingan peradilan, penyidik meminta keterangan ahli. Permintaan itu dilakukan penyidik

“secara tertulis” dengan menyebut secara tegas untuk hal apa pemeriksaan ahli itu dilakukan. Misalnya apakah untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat ataupun untuk pemeriksaan bedah mayat dan sebagainya;

• Atas permintaan penyidik, ahli yang bersangkutan membuat

“laporan” laporan itu bisa berupa “surat keterangan” yang lazim disebut “visum et repertum.”;

• Laporan atau visum et repertum itu dibuat oleh ahli yang bersangkutan “mengingat sumpah” diwaktu ahli menerima jabatan atau pekerjaan;

• Dengan tata cara bentuk laporan ahli yang seperti itu, keterangan yang dituangkan dalam laporan atau visum et repertum, mempunyai sifat dan nilai sebagai “alat bukti yang sah” menurut undang-undang.93

b) Keterangan ahli yang diminta dan diberikan di sidang, tata cara dan bentuk kedua ialah keterangan yang diberikan ahli dalam pemeriksaan persidangan pengadilan. Pemeriksaan keterangan ahli dalam

93 Ibid., hlm 296-297.

66 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia

pemeriksaan di sidang pengadilan diperlukan apabila pada waktu pemeriksaan penyidikan belum ada diminta keterangan ahli.akan tetapi bisa juga terjadi, sekalipun penyidik atau penuntut umum waktu pemeriksaan penyidikan telah menerima keterangan ahli, jika ketua sidang dan terdakwa maupun kuasa hukum menghendaki dan menganggap perlu didengar keterangan ahli disidang pengadilan, dapat meminta kepada ahli yang mereka tunjuk memberi keterangan disidang pengadilan. Memperhatikan uraian di atas, tata cara dan bentuk keterangan ahli pada jenis kedua:

• Apabila dianggap perlu dan dikehendaki baik oleh ketua sidang karena jabatan, maupun atas permintaan penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum, dapat meminta pemeriksaan keterangan ahli dalam pemeriksaan di sidang pengadilan.

• Keterangan ahli menurut tata cara ini berbentuk “keterangan lisan”

dan “secara langsung” diberikan dalam pemeriksaan di sidang pengadilan.

• Bentuk keterangan lisan secara langsung dicatat dalam “berita acara” pemeriksaan sidang pengadilan oleh panitera.

• Dan untuk itu,ahli yang memberi keterangan terlebih dahulu

“mengucapkan sumpah” atau janji sebelum memberi keterangan jadi, dalam tata cara dan bentuk keterangan ahli disidang pengadilan, tidak dapat diberikan hanya berdasar sumpah atau janji pada waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan, tapi harus mengucapkan sumpah atau janji di sidang pengadilan sebelum ia memberi keterangan.

• Dengan dipenuhinya tata cara dan bentuk keterangan yang sedemikian dalam pemeriksaan di sidang pengadilan, bentuk keterangan ahli tersebut menjadi “alat bukti yang sah” menurut undang-undang,dan sekaligus keterangan ahli yang seperti ini yang mempunyai nilai kekuatan pembuktian.

2) Pengertian keterangan ahli sebagai alat bukti

Keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah menurut undang-undang, hanya diatur dalam satu pasal saja pada bagian keempat BAB XVI sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 186. Akibatnya kalau hanya bertitik tolak pada pasal dan penjelasan Pasal 186 saja, sama sekali tidak memberikan pengertian apa-apa kepada kita. Untuk mencari dan menemukan pengertian yang lebih luas, tidak dapat hanya bertumpu berlandaskan pasal dan penjelasan Pasal 186.

Terpaksa dan menghubungkannya dari beberapa ketentuan yang terpencar dalam pasal-pasal KUHAP, mulai dari Pasal 1 angka 28, Pasal 120, Pasal 133, Pasal 179, dan Pasal 180. Dengan jalan merangkai pasal-pasal itu baru jelas arti dan selak-beluk pemeriksaan keterangan ahli. Hal ini sudah diterangkan satu per satu

Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia - 67 pada saat menguraikan hal yang bersangkutan dengan pasal-pasal tersebut.

Sedang apa yang dirumuskan pada Pasal 186 khusus mengatur masalah keterangan ahli ditinjau dari segi alat bukti dan pembuktian. Akan tetapi nyatanya harus diakui pasal 186 itu sendiri sebagai pasal yang mengatur keterangan ahli sebagai alat bukti dan pembuktian, tidak mampu menjelaskan masalah yang dikandungnya sekalipun pasal tunggal ini dihubungkan dengan penjelasannya.

Apalagi orang awam di bidang hukum, sulit memahami apa dan bagaimana keterangan ahli sebagai alat bukti ditinjau dari segi pembuktian.

Untuk menguatkan pendapat diatas mari kita baca bunyi Pasal 186 tersebut

“keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan”, hanya itu saja rumusannya dan tidak dirinci lagi dalam pasal-pasal berikutnya, sehingga Pasal 186 sebagai ketentuan yang mengatur keterangan ahli dari sudut pembuktian, benar-benar merupakan pasal tunggal yang berdiri sendiri.itu sebabnya dikatakan, untuk memahami keterangan ahli sebagai alat bukti dan pembuktian, pasal itu dihubungkan dengan pasal-pasal lain yang terdapat berserakan dalam KUHAP.94

3) Nilai kekuatan pembuktian keterangan ahli

Mengenai nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan ahli, pada prinsipnya alat bukti keterangan ahli tidak mempunyai kekuatan nilai pembuktian yang mengikat dan menentukan.dengan demikian nilai kekuatan pembuktian keterangan ahli sama halnya dengan nilai pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan saksi,nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan ahli:

a) Mempunyai nilai kekuatan pembuktian “bebas” atau “vrij bewijskracht”. Didalam dirinya tidak ada melekat nilai pembuktian yang sempurna dan menentukan. Terserah pada penilaian hakim.

Hakim bebas menilainya dan tidak terikat kepadanya.tidak ada keharusan bagi hakim untuk mesti menerima kebenaran keterangan ahli dimaksud.akan tetapi, seperti apa yang telah pernah diutarakan,hakim dalam mempergunakan wewenang kebebasan dalam penilaian pembuktian,harus benar-benar bertanggung jawab, atas landasan moral demi terwujudnya kebenaran sejati dan demi tegaknya hukum serta kepastian hukum.

b) Di samping itu, sesuai dengan prinsip minimum pembuktian yang diatur Pasal 183, keterangan ahli yang berdiri saja tanpa didukung oleh salah satu alat bukti yang lain, tidak cukup tidak memadai membukti kesalahan terdakwa. Apalagi Pasal 183 KUHAP dihubungkan dengan ketentuan Pasal 185 ayat (2), yang menegaskan

94 Ibid., hlm 297-298.

68 – Hukum Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia

seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa,prinsip ini pun, berlaku untuk alat bukti keterangan ahli.

seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa,prinsip ini pun, berlaku untuk alat bukti keterangan ahli.