36 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Pada penelitian kali ini, lokasi yang akan dijadikan tempat untuk penelitian yakni pada RS TNI AU dr. M. Munir yang terletak di Komplek TNI AU, Jl. Dr. Munir No. 18, Saptorenggo, Pakis, Krajan, Saptorenggo, Kec.
Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah explanatory research dengan pendekatan penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono, (2012) explanatory research adalah jenis penelitian yang menjelaskan kedudukan antar variabel-variabel diteliti serta hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain melalui pengujian hipotesis yang telah dirumuskan.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Priyono (2016) populasi merupakan keseluruhan dari gejala atau satuan yang ingin diteliti. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perawat yang bekerja di Rumah Sakit TNI AU dr. M. Munir yaitu sebanyak 38 perawat.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2012). Maka dari itu teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling dengan teknik pengambilan sampel yaitu sampel jenuh.
Sugiyono, (2012) menyatakan bahwa teknik pengambilan sampel jenuh adalah sebuah teknik pengambilan sampel bila keseluruhan populasi digunakan sebagai sampel. Maka teknik pengambilan sampel yang digunakan sebagai penelitian sebanyak 38 perawat.
37 D. Definisi Operasional Variabel
Definsi operasional adalah operasionalitas konsep agar dapat diteliti atau diukur melalui gejala-gejala dan fenomena yang ada. Definisi operasional variabel adalah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau menerjemahkan sebuah konsep variabel ke dalam instrumen pengukuran (Kurniawan &
Puspitaningtyas, 2016). Dengan adanya definisi operasional variabel tersebut peneliti dapat mengetahui baik serta buruk pada pengukuran tersebut.
Pada penelitian ini terdapat 3 jenis variabel yang diuji yaitu sebagai berikut:
1. Variabel independen: Stres Kerja (X)
Variabel independen (bebas) adalah variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2012). Variabel independen (X) dalam penelitian ini adalah stres kerja.
Stres kerja adalah sebagai suatu kondisi dinamis dan di dalam diri individu yang dihadapkan oleh suatu kendala, tuntutan atau sumber daya yang terkait dengan kondisi lingkungan, organisasi serta pada diri seseorang (Robbins & Judge, 2017).
Beberapa indikator yang dapat mengukur tingkat stres kerja tersebut adalah sebagai berikut (Wahjono, 2010):
a. Tuntutan tugas dalam hal kondisi kerja atau tata letak kerja fisik.
b. Tuntutan peran yang berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam sebuah organisasi.
c. Tuntutan antar-pribadi, yang merupakan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lain seperti buruknya hubungan antar pribadi para karyawan.
38
d. Struktur organisasi yang menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan dimana keputusan diambil. Aturan yang berlebihan dan kurangnya partisipasi individu dalam pengambilan keputusan merupakan potensi sumber stres.
e. Kepemimpian organisasi yang terkait dengan gaya kepemimpinan atau manajerial dari eksekutif senior organisasi.
Gaya kepemimpian tertentu dapat menciptakan budaya yang menjadi potensi sumber stres.
2. Variabel dependen: Kinerja Perawat (Y)
Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang apabila ada dua variabel yang saling berhubungan, sedangkan bentuk hubungannya adalah bahwa perubahan variabel yang satu mempengaruhi atau menyebabkan perubahan variabel yang lain, maka variabel yang dipengaruhi atau variabel yang disebabkan merupakan variabel tidak bebas atau variabel dependen (Puspitaningtyas, 2016). Variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah kinerja. Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksankan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2013).
Adapun indikator-indikator yang diukur dalam pencapaian kinerja (Mangkunegara, 2013):
1) Kualitas
Menyangkut kerapihan, ketelitian, keterkaitan hasil kerja dengan tidak mengabaikan volume pekerjaan. Kualitas kerja yang baik dapat menghindari tingkat kesalahan dalam penyelesaian suatu pekerjaan yang dapat bermanfaat bagi kemajuan perusahaan.
2) Kuantitas
39
Menyangkut banyaknya jumlah jenis pekerjaan yang dilakukan dalam satu waktu sehingga efisiensi dan efektivitas dapat terlaksana sesuai dengan tujuan perusahan.
3) Tanggung jawab
Menunjukan seberapa besar pegawai dalam menerima dan melaksanakan pekerjaannya, mempertanggungjawabkan hasil kerja serta sarana dan prasarana yang digunakan dan perilaku kerjanya setiap hari.
4) Kerjasama
Kesediaan pegawai untuk berpartisipasi dengan pegawai yang lain secara vertikal dan horizontal baik di dalam maupun di luar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan akan semakin baik
5) Inisiatif
Adanya inisiatif dalam diri anggota perusahaan untuk melakukan pekerjaan serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa menunggu perintah dari atasan atau menunjukan tanggung jawab dalam pekerjaan yang sudah diwajibkan seorang pegawai.
3. Variabel moderasi: Dukungan sosial (Z)
Variabel moderasi atau yang disebut juga variabel independen kedua adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen (Sugiyono, 2012). Variabel moderasi (Z) dalam penelitian ini adalah dukungan sosial. Dukungan sosial adalah suatu informasi dan umpan balik yang diterima individu dari orang lain yang menunjukkan bahwa individu tersebut merasa dicintai, diperhatikan, dihargai dan dihormati yang dilibatkan pada jaringan komunikasi dan kewajiban yang timbal
40
balik (King, 2012). Berikut indikator dari variabel dukungan sosial (Sarafino, E. P., & Smith, 2011) :
1) Dukungan emosional atau penghargaan
Dinyatakan dalam bentuk bantuan berupa dorongan untuk memberikan empati, kasih sayang, perhatian, dan penghargaan positif. Dukungan ini akan menyebabkan penerima dukungan merasa nyaman, tentram kembali, serta merasa dimiliki dan dicintai.
2) Dukungan nyata atau instrumental
Dukungan instrumental mencakup bantuan langsung seperti memberikan pinjaman uang atau menolong dengan melakukan sesuatu pekerjaan guna menyelesaikan tugas-tugas individu.
3) Dukungan Informasi
Memberikan informasi, nasihat, sugesti ataupun feedback mengenai apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang lain yang membutuhkan.
4) Dukungan Persahabatan
Jenis dukungan ini diberikan dengan cara membuat kondisi seseorang agar menjadi bagian dari suatu kelompok yang memiliki persamaan minat maupun aktivitas sosial.
E. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Data primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti secara langsung dari sumber pertama (Puspitaningtyas, 2016). Oleh karena itu, data primer yang diperoleh dari responden perawat RS TNI AU dr. M. Munir dengan menggunakan angket atau kuesioner yang diberikan kepada responden tersebut berupa data pribadi responden
41
serta tiga kuesioner yang terdiri dari kuesioner stres kerja, kuesioner kinerja perawat dan kuesioner dukungan sosial.
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan data yang sudah tersedia sehingga kita tinggal mencari dan mengumpulkan (Sarwono, 2006). Data sekunder berupa profil organisasi/perusahaan, struktur organisasi/perusahaan dan sejenisnya.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner.
Sugiyono, (2012) mengemukakan bahwa kuesioner atau angket merupakan tenk pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Sedangkan Kurniawan & Puspitaningtyas, (2016) menyatakan bahwa kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan secara tidak langsung (peneliti tidak langsung tanya-jawab dengan responden) yang mana instrumen atau alat pengumpulan data tersebut berupa daftar pertanyaan yang telah disusun secara sistematis yang harus dijawab atau direspon oleh responden sesuai dengan persepsinya.
Dalam penelitian sekarang ini kuesioner berupa pertanyaan secara terbuka dengan diberikan kepada responden dengan dikirim melalui internet atau platform google form. Pandemi Covid-19 masih belum usai dan juga masih berlangsung saat ini kemudian juga penerapan social distancing. Maka Pemanfaatan teknologi terutama pada google form merupakan langkah yang tepat dan juga sangat efektif.
G. Teknik Pengukuran Data
Teknik pengukuran data yang akan dipakai dalam penyusunan kuesioner adalah menggunakan skala Likert. Sugiyono, (2012) skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang
42
tentang fenomena sosial. Sehingga pada pengukuran setiap item insrumen yang menggunakan skala tersebut mempunyai tingkatan dari sangat positif sampai sangat negatif. Responden diminta pendapatnya mengenai pernyataan.
Kategori jawaban sangat setuju (SS) diberi nilai paling besar (5) dan jawaban sangat tidak setuju (STS) diberi nilai paling kecil (1).
1. Skor 1 dengan jawaban sangat tidak setuju (STS) ditunjukkan bahwa stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori sangat rendah sedangkan dukungan sosial sangat lemah.
2. Skor 2 dengan jawaban tidak setuju (TS) ditunjukkan bahwa stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori rendah sedangkan dukungan sosial lemah.
3. Skor 3 dengan jawaban netral (N) ditunjukkan bahwa stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori cukup sedangkan dukungan sosial cukup.
4. Skor 4 dengan jawaban setuju (S) ditunjukkan bahwa stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori tinggi sedangkan dukungan sosial kuat.
5. Skor 5 dengan jawaban sangat setuju (SS) ditunjukkan bahwa stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori sangat tinggi sedangkan dukungan sosial sangat kuat.
H. Teknik Analisis Data 1. Rentang Skala
Rentang skala adalah alat yang digunakann untuk mengukur dan memilih variabel yang akan diteliti. Pada penelitian ini rentang skala digunakan untuk mengetahui bagaiamana stres kerja, kinerja perawat, dan dukungan sosial pada RS TNI AU dr. M. Munir.
43 Berikut ini rumus yang digunakan:
𝑅𝑆 = 𝑛 (𝑚 − 1) 𝑚
Keterangan:
RS : Rentang Skala n : Jumlah sampel
m : Jumlah alternatif jawaban sampel
Berdasarkan rumus diatas maka dapat diperoleh rentang skala dengan perhitungan sebagai berikut:
𝑅𝑆 = 38 (5 − 1)
5 = 152
5 = 30,4
Berdasarkan perhitungan skala diperoleh sebesar 30,4 dan dibulatkan menjadi 30. Maka dari itu, hasil perhitungan rentang skala di atas dibuat tabel pengukuran mengenai stres kerja, kinerja perawat dan dukungan sosial sebagai berikut.
Tabel 3.1
Skala Pengukuran Stres Kerja, Kinerja Perawat, Dukungan Sosial Rentang
Skala Stres Kerja Kinerja
Perawat Dukungan Sosial 38-68 Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Lemah
69-99 Rendah Rendah Lemah
100-130 Cukup Cukup Cukup
131-161 Tinggi Tinggi Kuat
162-192 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Kuat
44 Keterangan:
a. Rentang skala 38-68 ditunjukkan bahwa nilai variabel stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori sangat rendah.
Sedangkan pada variabel moderasi yaitu dukungan sosial dalam kategori sangat lemah.
b. Rentang skala 69-99 ditunjukkan bahwa nilai variabel stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori rendah. Sedangkan pada variabel moderasi yaitu dukungan sosial dalam kategori lemah.
c. Rentang skala 100-130 ditunjukkan bahwa nilai variabel stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori cukup. Sedangkan pada variabel moderasi yaitu dukungan sosial dalam kategori cukup.
d. Rentang skala 131-161 ditunjukkan bahwa nilai variabel stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori tinggi. Sedangkan pada variabel moderasi yaitu dukungan sosial dalam kategori kuat.
e. Rentang skala 162-192 ditunjukkan bahwa nilai variabel stres kerja dan kinerja perawat dalam kategori sangat tinggi.
Sedangkan pada variabel moderasi yaitu dukungan sosial dalam kategori sangat kuat.
2. Partial Least Square (PLS)
Analisis data yang akan dilakukan untuk menguji penelitian ini adalah dengan metode Partial Least Square (PLS) atau menggunakan program bantuan software SmartPLS versi 3. PLS adalah salah satu metode statistika Structural Equation Model (SEM) berbasis varian yang di desain untuk menyelesaikan regresi berganda ketika terjadi permasalahan spesifik data, seperti ukuran sampel penelitian kecil,
45
adanya data yang hilang (missing value) dan multikolineritas (Hamid &
Anwar 2019). Tidak hanya itu, Partial Least Square (PLS) memiliki metode analisis yang cukup kuat karena tidak didasarkan pada banyak asumsi. Ghozali & Latan, (2015) berpendapat bahwa PLS adalah metode analisis yang memiliki sifat soft modeling, yang mana tidak mengasumsikan bahwa data harus dengan pengukuran skala tertentu, sehingga jumlah sampel dapat kecil atau dibawah 100 sampel.
Hamid & Anwar, (2019) menyatakan bahwa SEM-PLS terdapat dua tahapan evaluasi model pengukuran yang digunakan, yaitu model pengukuran (outer model) dan model pengukuran (inner model). Tujuan dari dua tahapan evaluasi model pengukuran tersebut dimaksudkan untuk menilai validitas dan realibilitas suatu model. Suatu konsep dan model penelitian tidak dapat diuji dalam suatu model prediksi hubungan relasional dan kausal jika belum melawati tahap purifikasi dalam model pengukuran (Hamid & Anwar, 2019).
a. Model Pengukuran (Outer Model)
Tahapan pertama dalam evaluasi model, adalah model pengukura (outer model). Model pengukuran (outer model) merupakan model pengukuran yang menghubungkan antara variabel laten dan variabel manifest atau variabel indikator. Dalam PLS-SEM model pengukuran ini dikenal dengan uji validitas konstruk. Pengujian validitas konstruk pada PLS-SEM terdiri dari validitas konvergen dan validitas diskriminan. Salah satu cara untuk menguji validitas konstruk (validity construct) adalah dengan adanya korelasi yang kuat antara konstruk dan item-item pertanyaannya dan hubungan yang lemah dengan variabel lainnya.
46 1) Uji Validitas
Uji validitas adalah pengujian yang dilakukan dalam suatu penelitian terhadap isi dari suatu instrumen, dengan tujuan untuk mengukur data tersebut apakah itu valid dan tepat (Sugiyono, 2012). Pengujian tersebut dimaksudkan agar pengukuran tersebut valid yang berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid. Dalam PLS-SEM pengujian validitas terdapat dua pengujian yaitu sebagai berikut:
a) Validitas Konvergen
Validitas konvergen berhubungan dengan prinsip bahwa pengukuran dari suatu konstruk seharusnya berkorelasi tinggi (Hamid & Anwar, 2019). Uji validitas indikator reflektif dengan program SmartPLS dapat dilihat dari nilai loading factor pada tiap indikator konstruk. Suatu indikator dinyatakan sangat baik atau tinggi jika nilai loading factor diatas 0,7, sedangkan nilai loading factor dapat ditoleransi hingga 0,5 dan jika nilai loading factor dibawah dari nilai 0,5 hingga 0,6 dapat dihapus atau didrop dari analisis (Ghozali & Latan, 2015). Selanjutnya, variabel dianggap valid jika memiliki nilai average variance extracted (AVE) > 0,5. (Ghozali & Latan, 2015).
b) Validitas Diskriminan
Validitas diskriminan berhubungan dengan prinsip bahwa pengukuran dari suatu konstruk yang berbeda seharusnya tidak berkorelasi tinggi (Hamid & Anwar, 2019). Cara mengevaluasi validitas diskriminan adalah dengan melihat nilai cross landing dan fornell-larcker, dimana membandingkan nilai pada tabel cross landing dan
47
fornell-larcker. Bila korelasi pada nilai variabel laten lebih besar dibanding semua nilai cross loading variabel lainnya, maka nilai tersebut dianggap valid pada uji validitas diskriminan (Ghozali, 2017). Kriteria nilai untuk validitas diskriminan adalah >0,7 (Ghozali & Latan, 2015).
2) Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi variabel penelitian. Variabel dikatakan reliable jika jawaban dari responden terhadap pertanyaan konsisten dan stabil dari waktu ke waktu. Hamid & Anwar, (2019) mengemukakan bahwa uji reliabilitas digunakan untuk membuktikan akurasi, konsistensi dan ketepatan instrumen dalam mengukur konstruk.
Pengukuran reliabilitas suatu konstruk dengan indikator reflektif dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cronbach’s alpha dan composit reliability. Pada penelitian ini disarankan menggunakan composit reliability dan apabila menggunakan cronbach’s alpha makan nilainya akan lebih rendah. Nilai composit reliability adalah 0,7 untuk setiap konstruk (Ghozali & Latan, 2015)
b. Model Pengukuran (Inner Model)
Dalam PLS-SEM selain pengujian validitas namun juga dilakukan pengujian reliabilitas. Model pengukuran (inner model) adalah pengukuran inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikansi dan R- square dari model penelitian. Hamid & Anwar, (2019) mendefinisikan pengukuran inner model sebagai model struktural yang menghubungkan antara variabel laten berdasarkan nilai
48
koefisien jalur untuk melihat seberapa besar pengaruh antara variabel laten dan perhitungan bootstrapping. Model struktural dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen uji signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural.
1) Uji Signifikansi
Untuk menguji signifikansi pengaruh antar variabel dengan melihat nilai signifikansi t-statistik dan p-values yaitu melalui metode bootsrapping. Taraf signifikansi yang digunakan adalah (two tailed) t-value 1,65 (significance level 10%), 1,96 (significance level 5%), dan 2,58 (significance level 1%) (Ghozali & Latan, 2015). Pada penelitian ini taraf signifikansi adalah sebesar 5% dan menggunakan t table 1,96.
2) R-square
Nilai R-square digunakan untuk menguji atau mengukur tingkat variasi perubahan antara variabel independen (bebas) terhadap variabel (terikat) (Hamid & Anwar, 2019) dependen Nilai R-square mengindikasikan bahwa model kuat, moderate dan lemah apabila nilai tersebut 0.75, 0.5 dan 0.25 (Ghozali &
Latan, 2015).
I. Pengujian Hipotesis
Hipotesis merupakan sebuah jawaban sementara yang sebenarnya jawaban tersebut masih perlu diuji kebenarannya. Pengujian hipotesis dapat diketahui melalui hasil pengujian inner model melalui fitur bootstrapping pada aplikasi SmartPLS 3.0 yang meliputi t-statistc, output r-square, dan p- values Untuk melihat suatu hipotesis dapat diterima atapun ditolak yaitu dengan memperhatikan nilai signifikan antar konstruk, t-statistic, dan p-value yang tertera pada path coefficient.
49
Untuk pengujian hipotesis menggunakan tingkat nilai kepercayaan 95%
serta batas ketidakakuratan (α) sebesar 0,05. Ha diterima dan H0 ditolak jika nilai t-statistik > 1,96 dan p-value lebih kecil dari α (< 0,05), artinya terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variabel yang diuji. H0 diterima dan Ha ditolak jika nilai t-statistik < 1,96 dan p-value α (> 0,05), artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variabel yang diuji.
1. Ha = Stres kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja perawat H0 = Stres kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perawat 2. Ha = Dukungan sosial berpengaruh signifikan terhadap kinerja
perawat
H0 = Dukungan sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perawat
J. Uji Hipotesis Moderasi
Pengujian uji moderasi atau hipotesis moderasi dilakukan menggunakan Moderate Regression Analysis (MRA) yang telah diestimasi melalui SEM- PLS (Ghozali & Latan, 2015). Pengujian moderasi ini dilakukan untuk mengetahui atau menguji pengaruh variabel moderasi terhadap hubungan dari variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini, maka akan menguji bagaimana pengaruh dari dukungan sosial sebagai variabel moderasi apakah variabel tersebut akan memperukat atau justru memperlemah pengaruh dari variabel independen yaitu stres kerja terhadap dukungan sosial.
Kriteria uji hipotesis moderasi pada penelitian ini adalah Ha diterima dan H0 ditolak jika nilai t-statistik > 1,96 dan p-value lebih kecil dari α (<
0,05), artinya variabel moderasi memoderasi pengaruh variabel yang diuji. H0 diterima dan Ha ditolak jika nilai t-statistik < 1,96 dan p-value α (> 0,05), artinya variabel moderasi tidak bisa memoderasi pengaruh variabel yang diuji.
Ha = Dukungan sosial memoderasi pengaruh stres kerja terhadap kinerja
50 perawat
H0 = Dukungan sosial tidak memoderasi pengaruh stres kerja terhadap kinerja perawat